Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
24/08/2026 | Penulis: Baznas Kota Sukabumi
Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
Kita Sering Tidak Kekurangan Pengetahuan
Kita hidup di zaman ketika hampir semua informasi tersedia dalam hitungan detik.
Kita tahu bahwa menabung itu penting. Kita tahu utang konsumtif dapat menjadi beban. Kita tahu membeli sesuatu hanya karena sedang flash sale belum tentu keputusan yang bijak. Kita juga tahu bahwa menyisihkan sebagian penghasilan untuk kebaikan adalah sesuatu yang bernilai.
Namun, mengetahui tidak selalu membuat kita melakukan.
Kita bisa membuka video tentang cara mengatur keuangan pada pagi hari, lalu tetap membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan pada sore harinya.
Kita bisa memahami pentingnya dana darurat, tetapi tetap menggunakan penghasilan untuk memenuhi keinginan hari ini.
Kita tahu bersedekah adalah kebaikan, tetapi mengatakan “Nanti saja kalau sudah ada lebih.”
Masalahnya menjadi menarik ketika kita menyadari bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan apa yang diketahuinya benar.
Lalu, kalau kita sudah tahu mana yang benar, mengapa kita masih sering memilih yang salah?
Pengetahuan dan Perilaku Tidak Selalu Berjalan Bersama
Dalam perilaku manusia terdapat apa yang sering disebut knowledge–behavior gap yaitu jarak antara apa yang seseorang ketahui dan apa yang benar-benar ia lakukan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa olahraga baik untuk kesehatan, tetapi tetap malas berolahraga.
Mengetahui bahwa tidur cukup penting, tetapi tetap begadang.
Mengetahui bahwa mengelola uang dengan baik diperlukan, tetapi tetap boros.
Artinya, masalah manusia tidak selalu terletak pada kurangnya informasi.
Kadang masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi informasi tersebut ketika harus membuat keputusan nyata.
Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Tetapi kita juga memiliki keinginan, emosi, kebiasaan, dan dorongan sesaat yang ikut berbicara.
Mengapa Kita Lebih Memilih yang Enak Sekarang?
Salah satu konsep dalam ekonomi perilaku adalah present bias yaitu sebuah kecenderungan manusia memberikan nilai lebih besar terhadap sesuatu yang bisa dinikmati sekarang dibandingkan manfaat yang baru dirasakan di masa depan.
Contohnya sederhana.
Menyimpan Rp100.000 hari ini mungkin memberikan manfaat beberapa bulan kemudian.
Tetapi membeli makanan, pakaian, atau barang yang diinginkan memberikan kepuasan sekarang.
Secara logika, kita mungkin memahami bahwa menabung lebih penting.
Namun secara emosional, manfaat yang bisa dirasakan hari ini sering terasa lebih nyata.
Hal yang sama dapat terjadi dalam sedekah.
Kita mungkin tahu bahwa menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi ketika uang tersebut berada di tangan kita, kebutuhan dan keinginan pribadi terasa lebih mendesak.
Akhirnya muncul kalimat “Nanti kalau sudah lebih banyak.”
Masalahnya, “nanti” bisa menjadi kebiasaan.
Bukan Selalu Karena Tidak Peduli
Ini penting untuk dipahami.
Ketika seseorang terus menunda bersedekah, belum tentu ia tidak peduli terhadap orang lain.
Bisa jadi ia terjebak dalam cara berpikir yang sangat manusiawi seperti pola pikir yang mengatakan “saya akan memberi ketika kondisi saya lebih nyaman.”
Padahal kebutuhan manusia juga terus berkembang.
Ketika pendapatan meningkat, standar kehidupan sering ikut meningkat. Ketika kebutuhan terpenuhi, muncul keinginan baru.
Akibatnya, kondisi “nanti kalau sudah lebih” tidak pernah benar-benar tiba.
Di sinilah kebiasaan menjadi penting.
Sebab perilaku baik tidak selalu lahir dari keputusan besar. Sering kali ia terbentuk dari keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.
Islam Tidak Hanya Mengajarkan Kita untuk Tahu, tetapi untuk Bertindak
Al-Qur'an berkali-kali menghubungkan iman dengan amal.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik...”
(QS. Al-Baqarah: 267)
Pesannya menarik.
Kebaikan tidak berhenti pada pengakuan bahwa berbagi adalah sesuatu yang baik. Ada tindakan nyata yang mengikuti keyakinan tersebut.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan perspektif penting tentang kebiasaan.
Kita tidak harus menunggu menjadi orang yang sangat kaya untuk mulai membangun kebiasaan memberi.
Justru, konsistensi dapat dimulai dari kemampuan yang kita miliki sekarang.
ZIS: Mengubah Niat Menjadi Kebiasaan
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat dilihat bukan hanya sebagai aktivitas mengeluarkan uang, tetapi sebagai latihan mengelola keputusan finansial berdasarkan nilai yang kita yakini.
Zakat memiliki ketentuan tersendiri dan wajib ditunaikan ketika syaratnya terpenuhi.
Sementara infak dan sedekah dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan berbagi sesuai kemampuan.
Dengan begitu, kita tidak hanya bertanya “Apakah saya tahu bahwa berbagi itu baik?”. Tetapi, “Apakah cara saya mengelola harta sudah mencerminkan apa yang saya yakini?”
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat serta menyalurkan infak dan sedekah melalui lembaga pengelola ZIS.
Kemudahan tersebut dapat membantu mengurangi satu hambatan sederhana yaitu menunda keputusan untuk berbuat baik.
Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan Lebih Banyak Pengetahuan
Kita mungkin tidak selalu membutuhkan artikel lain yang memberi tahu bahwa menabung itu penting, berutang harus bijak, atau sedekah adalah kebaikan.
Mungkin yang lebih kita butuhkan adalah keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan.
Karena pada akhirnya, tahu tidak sama dengan melakukan.
Dan mengetahui bahwa sesuatu itu benar tidak akan banyak mengubah kehidupan jika kita terus memilih untuk menundanya.
Jika telah memenuhi kewajiban zakat, tunaikanlah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dan jangan menunggu memiliki “kelebihan” untuk mulai membiasakan diri berinfak dan bersedekah. Sebab kebaikan tidak selalu gagal karena kita tidak tahu apa yang benar. Kadang, ia gagal karena kita terlalu sering berkata “nanti.”
Artikel Lainnya
Ternyata, Bantuan Kecil Bisa Mengubah Banyak Hal
Tak Hanya Meringankan, Zakat Juga Menyehatkan: Kebaikan Dahsyat yang Jarang Disadari
7 Aksi Kemanusiaan Inspiratif BAZNAS yang Mengubah Hidup dan Menebar Harapan
Dari Tangan Muzaki, Tumbuh Harapan bagi Pelaku Usaha Kecil
Banyak yang Dicari, Satu yang Sering Dilupakan: Rahasia Menemukan Ketenangan
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan, Saatnya Meneladani dan Berbagi
Cinta Kepada Rasulullah SAW: Makna yang Hidup di Balik Maulid Nabi
Satu Kebaikan Dahsyat untuk Mereka yang Terdampak Bencana: Saatnya Hadirkan Harapan
Tak Harus Menunggu Banyak untuk Membantu Sesama
Berapa Banyak Keputusan Buruk yang Sebenarnya Bisa Dicegah oleh Pendidikan?
7 Hikmah Maulid Nabi BAZNAS yang Menguatkan Cinta kepada Rasulullah
Berapa Harga yang Harus Dibayar Ketika Seorang Anak Berhenti Sekolah?
Kapan Kebaikan Berhenti Menjadi Pilihan dan Mulai Menjadi Identitas?
Berbagi Bukan Hanya Tentang Apa yang Kita Berikan, tetapi Juga Tentang Ketulusan dan Manfaat yang Kita Hadirkan
Sedekah Kecilmu Bisa Jadi Berarti Besar bagi Seseorang

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →