Berita Terkini
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima.
Sederhana.
Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?"
Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan?
Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?"
Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri.
Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan
Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan.
Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat.
Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya.
Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama.
Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?"
Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh.
Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi?
Di sinilah perspektifnya perlu dibalik.
Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan.
Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang?
Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu.
Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan.
Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan.
Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan
Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan.
Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut.
Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”
Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan.
Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan
Bayangkan dua bentuk bantuan.
Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari.
Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan.
Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat.
Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?”
Inilah inti dari pemberdayaan.
Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan.
Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri.
ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan
Di sinilah masyarakat memiliki peran.
Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia.
Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?”
Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima
Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang.
Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita.
Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian.
Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi.
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut:
Ketua: Aceng Najmudin Nawawi
Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin
Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan
Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh
Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS
Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031.
Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi.
Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik.
BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS
Jangan Abaikan Khusyuk, Karena Inilah Ruh Salat
Salat merupakan ibadah yang menjadi tiang agama dan pembeda antara seorang Muslim dengan kekafiran. Namun, tidak sedikit orang yang melaksanakan salat hanya sebagai rutinitas harian tanpa menghadirkan hati di hadapan Allah SWT. Gerakan dilakukan dengan benar, bacaan dilafalkan dengan fasih, tetapi pikiran justru melayang ke urusan dunia. Inilah sebabnya mengapa khusyuk menjadi ruh salat yang tidak boleh diabaikan.
Tanpa khusyuk, salat hanya menjadi rangkaian gerakan fisik. Sebaliknya, dengan khusyuk, salat menjadi sarana komunikasi yang penuh makna antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami pentingnya menjaga kekhusyukan agar salat benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan.
Apa Itu Khusyuk dalam Salat?
Khusyuk adalah keadaan hati yang penuh ketundukan, rasa takut, harap, dan pengagungan kepada Allah SWT saat melaksanakan salat. Khusyuk membuat seseorang fokus pada ibadah yang sedang dikerjakannya serta menjauhkan diri dari gangguan pikiran yang tidak bermanfaat.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”
(QS. Al-Mu’minun: 1-2)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri utama orang beriman yang beruntung adalah mereka yang menjaga kekhusyukan dalam salatnya.
Mengapa Khusyuk Disebut Ruh Salat?
Salat Tanpa Khusyuk Kehilangan Maknanya
Tujuan utama salat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika hati tidak hadir, maka hikmah dan pengaruh salat dalam kehidupan sehari-hari menjadi berkurang.
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya seseorang selesai dari salatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari salatnya.”
(HR. Abu Dawud)
Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas salat sangat dipengaruhi oleh tingkat kekhusyukan seseorang.
Khusyuk Membawa Ketenangan Jiwa
Di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, salat yang khusyuk menjadi tempat terbaik untuk menenangkan hati. Saat seseorang benar-benar menghadapkan diri kepada Allah SWT, ia akan merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tanda-Tanda Salat yang Khusyuk
Hati Fokus kepada Allah SWT
Orang yang khusyuk menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini membuatnya lebih tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan salat.
Memahami Bacaan Salat
Ketika memahami arti bacaan yang diucapkan, hati akan lebih mudah tersentuh dan meresapi makna setiap doa serta ayat yang dibaca.
Menjaga Gerakan dengan Tenang
Salat yang khusyuk tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap rukuk, sujud, dan duduk dilakukan dengan tuma'ninah serta penuh penghayatan.
Cara Meningkatkan Khusyuk dalam Salat
Persiapkan Diri Sebelum Salat
Datang lebih awal ke masjid atau menenangkan diri sebelum takbiratul ihram dapat membantu mengurangi gangguan pikiran.
Pahami Makna Bacaan
Luangkan waktu untuk mempelajari arti bacaan salat. Semakin memahami maknanya, semakin mudah hati menghadirkan kekhusyukan.
Jauhkan Gangguan
Matikan atau senyapkan ponsel, pilih tempat yang tenang, dan hindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian saat salat.
Perbanyak Doa dan Istighfar
Memohon pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan hati yang khusyuk merupakan salah satu ikhtiar terbaik. Karena pada hakikatnya, kekhusyukan adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya.
Khusyuk yang Melahirkan Kepedulian
Salat yang khusyuk tidak hanya berdampak pada hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga memengaruhi sikapnya terhadap sesama manusia. Orang yang benar-benar memahami makna salat akan lebih mudah bersyukur, lebih rendah hati, dan lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman:
“Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.”
(QS. Al-Baqarah: 43)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan kepedulian sosial melalui zakat memiliki hubungan yang erat. Ibadah yang baik akan melahirkan kepedulian yang nyata kepada sesama.
Jadikan Salat sebagai Jalan Menuju Keberkahan
Saat kita berusaha memperbaiki kualitas salat, jangan lupa bahwa masih banyak saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan adalah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
05/08/2026 | BAZNAS
Berita Pendistribusian
Artikel Terbaru
Ketika Utang Mulai Membebani Kehidupan: Bisakah Zakat Menjadi Bagian dari Jalan Keluar?
Utang terkadang bukan hanya persoalan angka. Ia bisa menjadi beban pikiran, mengganggu ketenangan keluarga, bahkan membuat seseorang sulit tidur karena memikirkan bagaimana cara melunasinya.
Di tengah kondisi tersebut, Islam tidak membiarkan orang yang terlilit utang berjalan sendirian. Salah satu bentuk kepedulian Islam dapat ditemukan dalam zakat untuk orang yang memiliki utang, yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai gharimin.
Lantas, bisakah zakat menjadi bagian dari jalan keluar dari beban utang?
Islam Memberi Ruang bagi Orang yang Terlilit Utang
Allah SWT telah menjelaskan dengan sangat jelas siapa saja yang berhak menerima zakat. Salah satunya adalah orang-orang yang terlilit utang.
Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60:
Artinya:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang terlilit utang (gharimin) termasuk salah satu dari delapan golongan penerima zakat.
Namun, penyalurannya tentu perlu melalui proses verifikasi agar zakat benar-benar diberikan kepada pihak yang memenuhi ketentuan sebagai mustahik.
Apa yang Dimaksud dengan Gharimin?
Ketika Utang Menjadi Beban yang Sulit Diselesaikan
Secara sederhana, gharimin adalah orang yang memiliki tanggungan utang dan berada dalam kondisi yang membuatnya kesulitan untuk melunasinya.
Utang bisa muncul karena berbagai keadaan. Ada seseorang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan penting, membantu keluarga, menjalankan usaha, atau menyelesaikan kebutuhan mendesak. Ketika kemampuan ekonominya tidak lagi mencukupi, utang tersebut dapat berubah menjadi beban yang semakin berat.
Di sinilah zakat memiliki fungsi sosial yang luar biasa.
Zakat bukan sekadar kewajiban individu kepada Allah, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Mengangkat Beban
Bayangkan seseorang yang setiap bulan menerima penghasilan, tetapi sebagian besar penghasilannya harus digunakan untuk membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Setiap tanggal gajian seharusnya menjadi kabar yang menggembirakan. Namun bagi sebagian orang, tanggal tersebut justru menjadi pengingat bahwa masih ada kewajiban yang harus diselesaikan.
Gaji masuk, cicilan menunggu.
Penghasilan datang, kebutuhan rumah tangga sudah lebih dulu mengantre.
Belum selesai membayar satu kewajiban, muncul kebutuhan lain yang tidak bisa ditunda.
Pada akhirnya, seseorang bisa bekerja keras setiap hari, tetapi tetap merasa tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran utang.
Utang Tidak Hanya Membebani Dompet, tetapi Juga Pikiran
Utang bukan hanya tentang nominal yang harus dibayar. Di balik angka tersebut, ada pikiran yang terus berjalan, malam yang dipenuhi kekhawatiran, dan perasaan tidak tenang ketika seseorang belum mengetahui dari mana pembayaran berikutnya akan diperoleh.
Ada seorang ayah yang tetap bekerja meski tubuhnya sudah lelah karena tidak ingin anak-anaknya mengetahui bahwa keluarganya sedang mengalami kesulitan.
Ada seorang ibu yang berusaha mengatur pengeluaran rumah tangga sedemikian rupa agar kebutuhan makan, pendidikan, dan kesehatan tetap terpenuhi.
Ada pula pelaku usaha kecil yang sebenarnya ingin kembali mengembangkan usahanya, tetapi keuntungan yang diperoleh harus digunakan untuk menutup kewajiban yang sebelumnya menumpuk.
Mereka mungkin tidak terlihat sedang mengalami kesulitan.
Mereka tetap bekerja.
Tetap tersenyum.
Tetap menjalani kehidupan seperti biasa.
Namun di balik itu semua, ada beban yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.
Dalam kondisi seperti inilah kepedulian dari sesama menjadi sangat berarti.
Bantuan zakat yang diberikan kepada mereka yang benar-benar memenuhi kriteria sebagai gharimin dapat menjadi bagian dari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi.
Bukan sekadar memberikan uang.
Bukan sekadar mengurangi angka utang.
Tetapi memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali bernapas, menata kehidupannya, dan perlahan bangkit dari keadaan yang sulit.
Zakat Mengajarkan Kita untuk Tidak Menutup Mata
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya memikirkan keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri.
Di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Ketika zakat ditunaikan, manfaatnya tidak berhenti pada hubungan antara seorang muzaki dengan kewajibannya. Zakat juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan membantu orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit.
Ada orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ada yang kehilangan sumber penghasilan.
Ada yang memiliki tanggungan keluarga yang besar.
Dan ada pula mereka yang terlilit utang hingga kesulitan menemukan jalan keluar.
Bagi sebagian orang, bantuan yang kita keluarkan mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi mereka yang sedang berada di titik sulit, bantuan tersebut bisa terasa sangat berarti.
Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan banyak hal untuk kembali berdiri. Ia hanya membutuhkan satu kesempatan.
Dan bisa jadi, kesempatan itu datang melalui zakat yang kita tunaikan.
Ada Harapan di Balik Setiap Zakat
Islam mengajarkan bahwa kesulitan tidak selamanya menjadi akhir dari perjalanan.
Setiap masalah memiliki jalan keluar yang Allah kehendaki. Karena itu, ketika seseorang berada dalam kesulitan, ia tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah.
Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar seorang Muslim memohon perlindungan kepada Allah dari beratnya utang:
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan sifat pengecut, lilitan utang dan tekanan orang lain.”
Doa tersebut menggambarkan bahwa persoalan utang bukanlah sesuatu yang ringan. Lilitan utang dapat menghadirkan kegelisahan, tekanan, bahkan memengaruhi ketenangan seseorang dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, ketika kita mengetahui ada saudara yang benar-benar berada dalam kesulitan karena utang dan memenuhi ketentuan sebagai penerima zakat, jangan buru-buru menghakimi keadaannya.
Bisa jadi kita tidak mengetahui seluruh perjuangan yang telah ia lalui.
Kita tidak tahu berapa malam yang ia habiskan dengan memikirkan keluarganya.
Kita tidak tahu berapa kali ia menahan keinginan karena harus mendahulukan kewajiban.
Dan kita tidak tahu seberapa keras ia berusaha untuk keluar dari kondisi tersebut.
Yang kita tahu adalah bahwa Islam membuka ruang kepedulian melalui zakat.
Saat Zakat Kita Menjadi Jalan Pulang bagi Mereka yang Terlilit Utang
Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian
Di sekitar kita mungkin ada orang yang sedang berjuang melunasi utang, tetapi memilih diam karena malu bercerita.
Mereka mungkin takut dianggap tidak mampu.
Takut dinilai gagal mengelola kehidupan.
Takut menjadi beban bagi orang lain.
Atau bahkan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Ada orang tua yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya meski pikirannya penuh kecemasan.
Ada kepala keluarga yang setiap hari bekerja dari pagi hingga malam karena ingin memastikan keluarganya tetap bisa makan.
Ada pelaku usaha kecil yang ingin bangkit, tetapi modal dan penghasilannya habis untuk menutup kewajiban.
Ada keluarga yang harus memilih antara membayar utang atau memenuhi kebutuhan lain yang sama-sama penting.
Mereka tidak selalu membutuhkan belas kasihan.
Mereka membutuhkan kesempatan untuk bangkit.
Kesempatan untuk kembali menata keuangan.
Kesempatan untuk mengurangi beban yang selama ini menghimpit.
Kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang.
Dan zakat dapat menjadi salah satu bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kesempatan tersebut kepada mereka yang berhak menerimanya.
Dari Zakat Menjadi Harapan
Bayangkan ketika seseorang yang selama berbulan-bulan merasa tidak memiliki jalan keluar akhirnya mendapatkan bantuan yang tepat.
Beban yang tadinya terasa begitu berat mulai berkurang.
Kecemasan perlahan berubah menjadi harapan.
Keputusasaan mulai digantikan dengan semangat untuk kembali bekerja.
Itulah mengapa zakat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar memberikan sebagian harta.
Zakat dapat menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kemampuan dan mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Di satu sisi, ada muzaki yang menunaikan kewajibannya.
Di sisi lain, ada mustahik yang membutuhkan dukungan untuk kembali berdiri.
Ketika keduanya dipertemukan melalui pengelolaan zakat yang amanah dan tepat sasaran, lahirlah manfaat yang jauh lebih besar.
Mari Jadikan Zakat sebagai Jalan Kebaikan
Kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup.
Mungkin zakat yang kita tunaikan hari ini menjadi sebab seorang ayah bisa kembali bernapas lebih lega.
Mungkin menjadi sebab sebuah keluarga mampu melewati masa sulit.
Mungkin menjadi awal seseorang terbebas dari beban yang selama ini membuatnya kehilangan ketenangan.
Dan mungkin, di balik harta yang kita keluarkan, Allah sedang membuka pintu keberkahan yang tidak pernah kita sangka.
Karena itu, jangan biarkan zakat hanya menjadi kewajiban yang selesai ditunaikan.
Jadikan zakat sebagai bagian dari kepedulian kita terhadap sesama.
Jika Anda memiliki kewajiban zakat, tunaikan melalui lembaga zakat yang terpercaya agar manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan memenuhi ketentuan sebagai mustahik.
21/08/2026 | BAZNAS
Apakah Kemiskinan Selalu Berarti Tidak Punya Uang?
Apakah Kemiskinan Selalu Berarti Tidak Punya Uang?
Ketika mendengar kata kemiskinan, gambaran yang muncul biasanya sederhana: seseorang memiliki sedikit uang, pendapatan rendah, atau bahkan tidak memiliki penghasilan.
Lalu solusi yang paling cepat terpikirkan pun sederhana, berikan uang.
Seseorang kesulitan membeli makanan, kita membantu dengan uang. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kita memberikan bantuan. Ketika terjadi musibah, donasi dikumpulkan dan disalurkan.
Semua itu penting. Bahkan dalam situasi tertentu, bantuan uang atau kebutuhan dasar dapat menjadi penyelamat.
Namun, mari berhenti sejenak pada satu pertanyaan, "jika seseorang diberi uang hari ini, tetapi alasan mengapa ia miskin tidak pernah berubah, apakah kemiskinannya benar-benar selesai?"
Di sinilah kita mulai menyadari bahwa kemiskinan mungkin tidak sesederhana persoalan tentang berapa banyak uang yang ada di dompet.
Seseorang Bisa Kekurangan Lebih dari Sekadar Uang
Bayangkan dua orang yang sama-sama memiliki penghasilan rendah.
Orang pertama tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Orang kedua sebenarnya memiliki keterampilan, tetapi tinggal di lingkungan dengan kesempatan kerja yang terbatas.
Masalah keduanya sama-sama terlihat sebagai kekurangan uang. Namun, akar persoalannya berbeda.
Kemiskinan dapat berkaitan dengan pendidikan yang terbatas, akses kesehatan yang sulit, kesempatan kerja yang sempit, tempat tinggal yang tidak layak, keterbatasan modal, hingga lingkungan yang tidak memberikan kesempatan untuk berkembang.
Seseorang mungkin menerima bantuan uang, tetapi tetap kesulitan karena sakit dan tidak mampu bekerja. Ada keluarga yang mendapatkan bantuan kebutuhan pokok, tetapi anak-anaknya tetap menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Ada pula seseorang yang memiliki kemampuan untuk bekerja, tetapi tidak memiliki alat, modal, atau akses untuk memulai.
Karena itu, memberikan uang kepada orang miskin tidak pernah otomatis menjadi tindakan yang salah.
Yang menjadi persoalan adalah ketika kita menganggap uang selalu menjadi satu-satunya jawaban.
Bantuan Bisa Menyelamatkan Hari Ini, tetapi Bagaimana dengan Esok?
Ketika seseorang sedang lapar, kita tentu tidak bisa mengatakan, “tunggu, kami akan membuat program pemberdayaan terlebih dahulu.”
Ia perlu makan hari ini.
Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan bantuan sekarang, bukan setelah proses pelatihan selesai.
Inilah mengapa charity atau bantuan langsung tetap memiliki peran penting. Bantuan dapat menjadi penyelamat dalam kondisi darurat dan membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar.
Namun, ketika situasi mulai pulih, pertanyaannya dapat berubah.
Bukan lagi hanya “apa yang bisa kita berikan?”. Tetapi, “apa yang dapat membantu mereka memiliki kesempatan untuk bangkit?”
Di sinilah bantuan dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih panjang yakni pemberdayaan.
Dari Bantuan Menuju Kesempatan
Pemberdayaan sering disederhanakan dengan kalimat “ajari mereka bekerja.”
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Bagaimana seseorang dapat memulai usaha jika tidak memiliki modal? Bagaimana seseorang meningkatkan pendapatan jika tidak memiliki keterampilan atau akses pasar? Bagaimana seseorang bekerja secara konsisten jika kondisi kesehatannya tidak mendukung?
Karena itu, pemberdayaan dapat berarti banyak hal bisa pendidikan, pelatihan keterampilan, dukungan kesehatan, bantuan modal, alat kerja, pendampingan, hingga membuka akses terhadap kesempatan ekonomi.
Tujuannya bukan sekadar membuat seseorang menerima bantuan dalam bentuk yang berbeda.
Tujuannya adalah menciptakan kemungkinan untuk menjadi lebih berdaya.
Sebuah perjalanan yang ideal dapat dimulai dari bantuan ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, kemudian dilanjutkan dengan pemulihan, peningkatan kemampuan, kesempatan ekonomi, hingga secara perlahan menuju kemandirian.
Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Karena itu, jalan menuju kemandirian pun tidak dapat disamakan.
Islam dan Tanggung Jawab untuk Melihat Lebih Dalam
Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang berada dalam kesulitan. Allah SWT berfirman:
“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”(QS. Adz-Dzariyat: 19)
Ayat ini mengingatkan bahwa persoalan kemiskinan bukan sesuatu yang seharusnya diabaikan oleh mereka yang memiliki kemampuan.
Namun, kepedulian tidak hanya berarti memberikan sesuatu lalu berhenti melihat.
Jika kita benar-benar ingin membantu, kita juga perlu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang.
Mungkin seseorang membutuhkan makanan.
Tetapi mungkin setelah itu ia membutuhkan pekerjaan.
Mungkin seseorang membutuhkan biaya berobat.
Tetapi setelah pulih, ia membutuhkan kesempatan untuk kembali produktif.
Mungkin seseorang membutuhkan bantuan hari ini.
Tetapi yang lebih ia butuhkan untuk masa depan adalah kesempatan.
ZIS Bukan Sekadar Memindahkan Uang
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat memiliki peran yang lebih luas.
ZIS tentu dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Namun, ketika dikelola dan disalurkan secara terarah sesuai ketentuan, dana tersebut juga dapat menjadi bagian dari berbagai upaya sosial dan pemberdayaan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat mengambil bagian dalam proses tersebut dengan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh persoalan kemiskinan seorang diri.
Tetapi sebagian harta yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari sebuah proses dari membantu seseorang bertahan, pulih, memperoleh kesempatan, dan perlahan membangun kemandiriannya.
Mungkin yang Perlu Kita Ubah Bukan Hanya Jumlah Bantuan
Pada akhirnya, kemiskinan bukan hanya pertanyaan tentang “berapa rupiah yang tidak dimiliki seseorang?”
Tetapi juga, “kesempatan apa yang belum mereka miliki?”
Bantuan tetap penting. Memberi uang kepada orang yang membutuhkan tetap merupakan kebaikan. Tetapi jika kita ingin berbicara tentang perubahan yang lebih besar, kita perlu mulai melihat kemiskinan dengan cara yang lebih utuh.
Tunaikan zakat jika harta telah memenuhi kewajiban. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena mungkin, apa yang kita berikan hari ini bukan hanya membantu seseorang memiliki sesuatu.
Mungkin, ia sedang membantu seseorang memiliki kesempatan untuk menjadi sesuatu.
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Sakit Bukan Pilihan, Tapi Kesembuhan Bisa Kita Perjuangkan Bersama BAZNAS
Sakit Bukan Pilihan, Tapi Kesembuhan Bisa Kita Perjuangkan Bersama BAZNAS
Tidak ada seorang pun yang memilih untuk jatuh sakit. Namun, bagi sebagian masyarakat, sakit bukan hanya tentang rasa nyeri dan perjuangan untuk pulih. Keterbatasan ekonomi sering membuat biaya pengobatan menjadi beban yang berat. Ada yang harus menunda pemeriksaan, membeli obat seadanya, bahkan memilih antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membayar biaya kesehatan.
Di tengah kondisi tersebut, BAZNAS melalui program kesehatan hadir sebagai bagian dari ikhtiar membantu masyarakat yang membutuhkan akses layanan kesehatan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan masyarakat, harapan untuk mendapatkan layanan kesehatan dapat terus diperluas.
Ketika Sakit Menjadi Perjuangan yang Berat
Kesehatan adalah nikmat yang sering baru terasa begitu berharga ketika seseorang kehilangan kondisi sehatnya. Bagi keluarga yang berkecukupan, biaya pemeriksaan dan pengobatan mungkin dapat dipersiapkan. Namun, bagi keluarga prasejahtera, biaya kesehatan bisa menjadi tantangan besar.
Mereka Tidak Hanya Membutuhkan Pengobatan
Di balik seorang pasien, ada keluarga yang ikut berjuang. Ada orang tua yang khawatir melihat anaknya sakit, seorang ibu yang menunggu kesembuhan keluarganya, atau seorang pencari nafkah yang ingin kembali sehat agar dapat bekerja.
Karena itu, bantuan kesehatan bukan sekadar memberikan layanan medis. Bantuan tersebut adalah bentuk kepedulian yang memberikan kesempatan bagi seseorang untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli
Islam sangat mendorong umatnya untuk membantu dan meringankan kesulitan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
Dalil Al-Qur’an tentang Tolong-Menolong
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa membantu sesama merupakan bagian dari kebaikan yang dianjurkan dalam Islam. Salah satunya dengan membantu saudara yang sedang menghadapi kesulitan kesehatan.
Kebaikan Kecil Bisa Menjadi Harapan Besar
Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, kebaikan tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal. Ketika dilakukan dengan ikhlas dan tepat sasaran, bantuan yang sederhana pun dapat memberikan arti besar bagi penerimanya.
Sedekah untuk Membantu Mereka yang Sakit
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim)
Hadis tersebut mengajarkan betapa mulianya membantu meringankan kesulitan orang lain. Ketika kita membantu saudara yang sedang sakit, kita tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian.
Bersama BAZNAS, Perjuangkan Harapan Kesembuhan
Melalui program kesehatan BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan. Dukungan tersebut dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan kesehatan sesuai dengan program dan ketentuan yang berlaku.
Satu Donasi, Satu Langkah Menuju Kesembuhan
Bayangkan ketika bantuan yang kita berikan membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan. Bayangkan ketika dukungan tersebut membuat seorang ibu tidak lagi terlalu khawatir memikirkan biaya pengobatan anaknya.
Mungkin bagi kita hanya sejumlah uang, tetapi bagi mereka bisa menjadi jalan untuk mendapatkan harapan.
Jangan Tunggu Sampai Kita Mengalami Hal yang Sama
Hari ini kita mungkin sehat. Esok, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, selagi Allah memberikan kemampuan, mari gunakan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang sedang diuji dengan sakit.
Mari Jadi Bagian dari Kebaikan
Sakit memang bukan pilihan. Namun, membantu mereka mendapatkan kesempatan untuk sembuh adalah pilihan yang bisa kita ambil.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS untuk mendukung program kesehatan dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Yuk, Hadirkan Harapan Hari Ini
Jangan biarkan keterbatasan ekonomi membuat seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan layanan kesehatan. Ulurkan tangan, sisihkan rezeki, dan jadilah bagian dari perjuangan mereka menuju kesembuhan.
Bersama BAZNAS, satu kepedulian kita hari ini dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang untuk kembali sehat.
21/08/2026 | BAZNAS
BAZNAS TV
Profil BAZNAS Kota Sukabumi
Penulis: BAZNAS
titipan Donasi para Donatur untuk anak pengidap Hydrosifalus
Penulis: BAZNAS






