WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini
Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini
Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini Pernahkah kamu merasa sedih ketika melihat orang lain lebih dulu mencapai apa yang selama ini kamu impikan? BAZNAS Kota Sukabumi Temanmu sudah memiliki pekerjaan impian. Ada yang usahanya berkembang pesat. Ada yang menikah lebih dulu. Ada yang rumahnya sudah jadi. Bahkan ada yang tampak begitu mudah meraih apa yang sedang kamu perjuangkan bertahun-tahun. Di era media sosial seperti sekarang, perasaan itu semakin mudah muncul. Setiap hari kita melihat kabar bahagia orang lain. Tanpa sadar, hati mulai bertanya, "Kenapa mereka bisa lebih dulu? Kenapa aku masih di sini?" Jika kamu pernah merasakan hal itu, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak orang pernah mengalaminya. Namun sebagai seorang muslim, ada satu hal penting yang perlu selalu diingat: Allah memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Hidup Bukan Perlombaan Siapa yang Paling Cepat Salah satu kesalahan yang sering membuat hati gelisah adalah membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan hidup orang lain. Padahal, setiap orang memiliki cerita, ujian, kemampuan, dan takdir yang berbeda. Bayangkan sebuah taman yang penuh dengan berbagai bunga. Ada bunga yang mekar lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Namun ketika waktunya tiba, masing-masing akan menunjukkan keindahannya sendiri. Begitu pula kehidupan manusia. Hanya karena seseorang berhasil lebih dulu bukan berarti kamu tertinggal. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membutuhkan proses lebih panjang agar hasilnya lebih baik. Sering kali kita hanya melihat hasil akhir seseorang, tetapi tidak melihat perjuangan, air mata, kegagalan, dan doa-doa yang telah mereka lalui. Karena itu, jangan jadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk meragukan dirimu sendiri. Allah Sudah Menentukan Porsi Rezeki Setiap Hamba Ketika melihat orang lain mendapatkan apa yang kita inginkan, hati terkadang menjadi sempit. Muncul rasa iri, kecewa, bahkan putus asa. Padahal rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah dengan penuh hikmah. Allah berfirman: Artinya: "Dan di langit terdapat rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz-Dzariyat: 22) Ayat ini mengingatkan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Apa yang Allah tetapkan untukmu akan datang kepadamu pada waktu yang telah Dia tentukan. Tugas kita bukan sibuk menghitung keberhasilan orang lain, melainkan terus memperbaiki diri dan berikhtiar sebaik mungkin. Jangan Biarkan Perbandingan Merampas Kebahagiaanmu Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Hari ini kamu mungkin belum memiliki apa yang mereka miliki. Namun bisa jadi kamu memiliki nikmat lain yang tidak mereka miliki. Mungkin penghasilanmu belum sebesar mereka, tetapi keluargamu harmonis. Mungkin bisnismu belum berkembang pesat, tetapi kesehatanmu masih terjaga. Mungkin impianmu belum tercapai, tetapi Allah masih memberimu kesempatan untuk beribadah dan memperbaiki diri. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita yang tinggi. Namun, kita diajarkan untuk tidak kehilangan rasa syukur hanya karena melihat keberhasilan orang lain. Mungkin Allah Sedang Menyiapkan Sesuatu yang Lebih Baik Ada kalanya kita merasa doa belum terkabul karena melihat orang lain sudah lebih dulu berhasil. Namun siapa yang tahu isi masa depan? Bisa jadi apa yang kamu minta saat ini belum Allah berikan karena waktunya belum tepat. Bisa jadi Allah sedang melindungimu dari sesuatu yang tidak kamu ketahui. Atau bahkan Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kamu bayangkan. Terkadang penundaan bukanlah penolakan. Allah tahu kapan hati kita siap menerima nikmat tersebut. Allah juga tahu kapan sebuah keberhasilan akan menjadi kebaikan bagi dunia dan akhirat kita. Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah melupakanmu hanya karena jalanmu lebih panjang. Terus Melangkah, Waktumu Juga Akan Tiba Saat melihat orang lain lebih dulu berhasil, jadikan itu sebagai inspirasi, bukan sumber kesedihan. Doakan kebaikan untuk mereka. Ambil pelajaran dari perjuangan mereka. Lalu lanjutkan perjalananmu dengan penuh keyakinan. Ingatlah, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tetap istiqamah berjalan di jalan yang benar. Jika hari ini kamu masih berjuang, jangan menyerah. Jika hari ini kamu masih menunggu, jangan putus asa. Jika hari ini kamu merasa tertinggal, jangan berkecil hati. Karena bisa jadi, Allah sedang menulis kisah yang indah untukmu. Dan ketika waktunya tiba, kamu akan memahami mengapa semua itu harus menunggu. Maka saat melihat orang lain lebih dulu berhasil, ingatlah satu hal: Allah tidak pernah terlambat dalam memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Yang perlu kamu lakukan hanyalah terus berusaha, bersabar, dan tetap percaya kepada-Nya. Terkadang kita melihat orang lain lebih dulu berhasil, usahanya berkembang, kariernya melesat, atau kehidupannya terlihat lebih baik. Di saat seperti itu, hati bisa merasa tertinggal. Namun ingatlah, Allah tidak pernah salah dalam membagikan rezeki dan waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Kesuksesan orang lain bukanlah tanda bahwa jatah kita berkurang. Justru itu bisa menjadi pengingat bahwa Allah Maha Mampu memberikan keberkahan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Daripada sibuk membandingkan diri, alangkah baiknya kita memperbanyak amal kebaikan yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup. Salah satu pintu keberkahan yang sering terlupakan adalah zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan membuat kita miskin. Sebaliknya, itulah cara Allah membersihkan harta, melapangkan rezeki, dan menghadirkan ketenangan dalam hati.
19/06/2026 | BAZNAS
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan?
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan?
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan? Pernahkah kamu menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, berdoa setiap hari, berusaha semampunya, lalu pada akhirnya tetap kehilangan? BAZNAS Kota Sukabumi Mungkin itu pekerjaan yang sangat kamu harapkan. Mungkin seseorang yang begitu kamu cintai. Mungkin impian yang sudah lama kamu bangun. Atau mungkin sebuah kesempatan yang terasa begitu dekat, tetapi akhirnya lepas begitu saja. Di saat seperti itu, tidak sedikit orang yang bertanya dalam hati, "Ya Allah, kenapa harus ini yang Engkau ambil?" Pertanyaan itu sangat manusiawi. Karena pada dasarnya, kita semua memiliki harapan. Kita semua punya sesuatu yang ingin dipertahankan. Namun terkadang, justru hal yang paling kita inginkan itulah yang Allah ambil dari hidup kita. Lalu, kenapa Allah melakukan itu? Karena Allah Melihat Apa yang Tidak Kita Lihat Sebagai manusia, kita hanya melihat apa yang ada di depan mata. Kita melihat sesuatu itu baik karena membuat kita bahagia. Kita menganggap sesuatu itu penting karena sangat kita inginkan. Namun Allah melihat jauh melampaui apa yang bisa kita pahami. Allah SWT berfirman: ???????? ???? ?????????? ??????? ?????? ?????? ?????? ? ???????? ???? ????????? ??????? ?????? ????? ?????? ? ????????? ???????? ?????????? ??? ??????????? "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan benar-benar baik untuk kita. Bisa jadi kita melihat kebahagiaan di dalamnya, sementara Allah melihat kesedihan yang akan datang setelahnya. Bisa jadi kita melihat keuntungan, sementara Allah melihat kerugian yang tidak kita sadari. Kehilangan Tidak Selalu Berarti Hukuman Ketika kehilangan sesuatu yang berharga, sebagian orang langsung berpikir bahwa Allah sedang menghukumnya. Padahal tidak selalu demikian. Kadang kehilangan adalah cara Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik. Kadang kehilangan adalah bentuk perlindungan. Kadang kehilangan adalah cara Allah mendekatkan hati kita kepada-Nya. Banyak orang yang justru menjadi lebih dekat dengan Allah setelah mengalami kegagalan, kehilangan, atau kekecewaan. Sebelum itu, mungkin mereka terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Apa yang terlihat menyakitkan hari ini, bisa jadi menjadi titik balik terbaik dalam hidupmu. Allah Tidak Pernah Mengambil Tanpa Menyiapkan Pengganti Salah satu hal yang sering membuat kehilangan terasa berat adalah karena kita hanya fokus pada apa yang pergi, bukan pada apa yang sedang Allah siapkan. Kita sibuk menangisi pintu yang tertutup sampai tidak menyadari bahwa ada pintu lain yang sedang dibuka. Rasulullah SAW bersabda: ????? ?????? ?????????? ???? ?????? ??????????? ??????? ??????? ????? ??????? ??????? ???????????? "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka." (HR. Tirmidzi) Hadis ini mengingatkan bahwa ujian dan kehilangan tidak selalu menunjukkan murka Allah. Justru terkadang itu adalah tanda bahwa Allah sedang mendidik, mempersiapkan, dan mengangkat derajat hamba-Nya. Kita Sering Terlalu Melekat pada Dunia Ada kalanya Allah mengambil sesuatu karena hati kita mulai terlalu bergantung kepada hal tersebut. Kita merasa tidak bisa bahagia tanpa itu. Kita merasa hidup tidak akan baik-baik saja jika kehilangannya. Padahal seorang Muslim diajarkan untuk menggantungkan harapan tertinggi hanya kepada Allah, bukan kepada manusia, jabatan, harta, ataupun impian tertentu. Saat sesuatu yang kita cintai hilang, sebenarnya Allah sedang mengingatkan bahwa hanya Dia yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Manusia bisa pergi. Kesempatan bisa hilang. Harta bisa habis. Namun Allah selalu ada. Mungkin Allah Sedang Menyiapkan yang Lebih Baik Sering kali kita baru memahami hikmah sebuah kehilangan bertahun-tahun kemudian. Apa yang dulu membuat kita menangis, ternyata menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Apa yang dulu kita sesali, ternyata membuka jalan menuju kebahagiaan yang lebih besar. Karena itu, jika hari ini kamu sedang kehilangan sesuatu yang sangat kamu inginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu telah hancur. Mungkin ini memang bukan akhir cerita. Mungkin Allah sedang memindahkanmu dari sesuatu yang baik menuju sesuatu yang lebih baik. Mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan ketergantungan yang lebih kuat kepada-Nya. Percayalah, Allah Tidak Pernah Salah Mengatur Hidupmu Kehilangan memang menyakitkan. Menangis karena kehilangan adalah hal yang manusiawi. Bahkan para nabi pun pernah merasakan kesedihan. Namun di balik setiap kehilangan, ada satu hal yang perlu selalu diingat: Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir. Ketika Allah mengambil sesuatu yang sangat kamu inginkan, bukan berarti Dia ingin melihatmu menderita. Bisa jadi Dia sedang menyelamatkanmu, membimbingmu, atau menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang mampu kamu bayangkan. Jadi, jika hari ini hatimu masih sedih karena kehilangan, tetaplah berdoa dan bersabar. Karena suatu hari nanti, ketika kamu melihat kembali perjalanan hidupmu, mungkin kamu akan berkata: "Ya Allah, sekarang aku mengerti mengapa Engkau mengambilnya. Ternyata Engkau sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah." Mungkin hari ini ada sesuatu yang pernah sangat kamu harapkan, tetapi Allah justru mengambilnya darimu. Mungkin sebuah pekerjaan, hubungan, kesempatan, atau impian yang sudah lama kamu perjuangkan. Meski terasa berat, jangan sampai kehilangan itu membuatmu jauh dari Allah. Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu, atau sedang menghapus kesulitan yang belum kamu ketahui.
17/06/2026 | BAZNAS
Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua
Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua
Berbakti kepada Orang Tua adalah Amal yang Mulia Keutamaan Berbuat Baik Kepada Orang Tua Orang tua adalah sosok yang memiliki jasa besar dalam kehidupan setiap anak. Mereka merawat, membesarkan, mendidik, dan berjuang tanpa lelah sejak anak masih kecil hingga dewasa. Tidak ada pengorbanan yang mampu benar-benar membalas semua kasih sayang yang telah mereka berikan. Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Berbuat baik kepada orang tua bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga salah satu amal yang paling dicintai Allah SWT. Bahkan dalam Al-Qur’an, perintah berbakti kepada orang tua sering disebut setelah perintah menyembah Allah SWT. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dalam Islam. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”(QS. Al-Isra: 23) Ayat ini menjadi pengingat bahwa menghormati dan menyayangi orang tua adalah bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menjaga sikap kepada ayah dan ibu. Dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik kepada orang tua bisa dilakukan dengan banyak cara. Membantu pekerjaan mereka, berbicara dengan lembut, mendengarkan nasihatnya, atau sekadar meluangkan waktu bersama termasuk bentuk bakti yang sangat berarti. Sayangnya, masih banyak orang yang baru menyadari pentingnya orang tua setelah kehilangan mereka. Ketika masih ada, terkadang anak justru mudah membantah, berbicara kasar, atau terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga lupa memberi perhatian kepada orang tua. Padahal ridha Allah SWT sangat bergantung pada ridha kedua orang tua. Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua di sisi Allah SWT. Membahagiakan mereka bisa menjadi jalan datangnya keberkahan hidup, sedangkan menyakiti hati mereka dapat membawa penyesalan. Terlebih seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan merawat anak dengan penuh pengorbanan. Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada ibu karena besarnya perjuangan yang dilakukan. Suatu ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ayahmu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa besar penghormatan Islam kepada seorang ibu. Namun bukan berarti peran ayah menjadi kecil. Ayah juga memiliki perjuangan luar biasa dalam mencari nafkah dan menjaga keluarganya. Berbuat baik kepada orang tua tidak hanya dilakukan ketika mereka masih hidup. Ketika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap bisa berbakti dengan mendoakan mereka, menjaga silaturahmi dengan kerabatnya, dan meneruskan amal-amal baik yang pernah mereka lakukan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim) Doa anak yang saleh menjadi salah satu hadiah terbaik untuk orang tua yang telah tiada. Karena itu, jangan pernah lupa mendoakan mereka setiap hari. Selain mendatangkan pahala, berbuat baik kepada orang tua juga membawa ketenangan hati dan keberkahan hidup. Banyak orang yang dimudahkan urusannya karena menjaga bakti kepada orang tua. Sebaliknya, menyakiti hati mereka sering kali menjadi penyebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Berbakti kepada orang tua juga mengajarkan seseorang menjadi pribadi yang lebih rendah hati, penyayang, dan penuh rasa syukur. Orang yang menghormati orang tuanya biasanya lebih mudah menghargai orang lain dalam kehidupannya. Di zaman sekarang, kesibukan sering membuat banyak anak jarang meluangkan waktu untuk orang tua. Padahal mereka tidak selalu menginginkan harta atau hadiah mahal. Terkadang perhatian kecil, kabar sederhana, dan waktu bersama sudah cukup membuat hati mereka bahagia. Karena itu, selama orang tua masih ada, manfaatkan kesempatan untuk membahagiakan mereka. Jangan menunggu terlambat untuk meminta maaf, membantu, atau menunjukkan rasa sayang. Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang mampu berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hati mereka, dan selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Karena sejatinya, orang tua adalah pintu keberkahan dan salah satu jalan terbaik menuju ridha Allah SWT. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah tetapi tentang bagaimana hati tetap tenang, ikhlas, dan terus berusaha mendekat kepada Allah SWT. Kebaikan sekecil apa pun akan selalu memiliki nilai besar di sisi Allah, terlebih ketika dilakukan dengan tulus dan penuh kepedulian kepada sesama. Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi. Karena sejatinya, hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain
25/05/2026 | BAZNAS

Berita Pendistribusian

BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
Sukabumi – 2 September 2025. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi memberikan bantuan biaya hidup kepada Ibu Ai Fahmi, warga Gedong Panjang, Sukabumi, yang menjadi korban kebocoran gas. Insiden ini menyebabkan Ibu Ai Fahmi mengalami luka bakar serius pada wajah, tangan, dan kaki, serta kerusakan pada atap rumahnya. Bantuan berupa uang diserahkan tunai langsung oleh perwakilan BAZNAS di kediamannya. Musibah yang menimpa Ibu Ai Fahmi terjadi akibat ledakan pipa gas di rumahnya. Kejadian ini tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga merusak sebagian atap rumahnya. Segala aparatur pemerintah dimulai dari ke RT-an sampai pihak kelurahan Gedong Panjang membantu untuk pengobatan dan perbaikan rumah. Menanggapi laporan tersebut, BAZNAS segera bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Program bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi yang dialami korban. Bantuan tunai yang diberikan diharapkan dapat digunakan untuk biaya pengobatan, pemulihan, serta kebutuhan sehari-hari lainnya selama masa pemulihan. Ibu Ai Fahmi, dengan rasa haru, menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada BAZNAS, Kelurahan Gedong Panjang, dan para muzaki (donatur) yang telah menyalurkan hartanya melalui BAZNAS. “Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan ini. Ini sangat membantu kami di tengah musibah yang kami alami. Semoga Allah membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu,” ujarnya. Pemberian bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian BAZNAS terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang ditimpa musibah. BAZNAS berkomitmen untuk terus menyalurkan amanah zakat, infak, dan sedekah dari kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Aksi ini juga menjadi pengingat pentingnya peran lembaga filantropi Islam dalam membantu masyarakat yang kurang beruntung. Untuk saling membantu sesama melalui website resmi kami.
02/09/2025 | Faiz

Artikel Terbaru

Kalau Bisa Patungan Nobar, Kenapa Sulit Patungan Membantu Dhuafa?
Kalau Bisa Patungan Nobar, Kenapa Sulit Patungan Membantu Dhuafa?
Di mana ada pertandingan besar, suasana langsung berubah. Timeline media sosial penuh prediksi skor, dan ajakan patungan untuk nobar (nonton bareng) bermunculan. Ada yang dengan santai mengirim pesan, "Patungan ya, biar seru!" Dalam hitungan menit, uang terkumpul. Semua antusias karena ingin menikmati momen bersama. Tidak ada yang salah dengan hiburan. Islam pun tidak melarang kita menikmati waktu bersama keluarga atau teman selama dalam batas yang dibenarkan. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri? Kalau kita bisa begitu mudah patungan untuk hiburan, kenapa sering kali terasa berat saat diajak patungan membantu dhuafa? Padahal, bisa jadi di saat kita tertawa menyaksikan pertandingan, ada keluarga yang sedang bingung memikirkan makan malam, biaya sekolah anak, atau obat untuk orang tuanya. Patungan untuk Bahagia, Kenapa Tidak Patungan untuk Membahagiakan? Patungan sebenarnya bukan soal nominal. Yang membuatnya berhasil adalah adanya rasa kebersamaan. Lima orang mengumpulkan Rp20.000 saja sudah cukup untuk menikmati kebersamaan. Anehnya, saat nominal yang sama diajak untuk membantu sesama, muncul banyak pertimbangan. "Nanti saja." "Lagi banyak kebutuhan." "Orang lain pasti sudah bantu." Padahal, jika prinsip patungan itu diterapkan untuk membantu dhuafa, hasilnya bisa luar biasa. Bayangkan jika seratus orang menyisihkan Rp10.000. Dana yang terkumpul sudah mencapai Rp1.000.000. Nominal yang mungkin terasa kecil bagi masing-masing orang, tetapi sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan. Allah Menilai Keikhlasan, Bukan Besarnya Nominal Sering kali kita merasa sedekah harus besar agar bernilai. Padahal Allah melihat hati, bukan sekadar angka. Rasulullah bersabda: "Satu dirham dapat mengalahkan seratus ribu dirham." (HR. An-Nasa'i, dinilai hasan oleh para ulama) Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah yang sedikit tetapi dilakukan dengan penuh keikhlasan bisa lebih bernilai daripada harta yang besar namun diberikan tanpa ketulusan. Dhuafa Bukan Hanya Membutuhkan Uang Saat mendengar kata dhuafa, sebagian orang langsung membayangkan orang yang tidak memiliki makanan. Padahal kenyataannya lebih luas. Ada anak yang hampir putus sekolah. Ada lansia yang hidup sendirian. Ada keluarga yang kesulitan membayar biaya pengobatan. Ada pedagang kecil yang usahanya hampir berhenti karena kekurangan modal. Bantuan yang kita berikan bisa menjadi titik balik kehidupan mereka. Sedekah Adalah Investasi yang Tidak Pernah Rugi Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini mengingatkan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang. Justru Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda, baik dalam bentuk keberkahan, ketenangan hati, maupun pahala yang terus mengalir. Bayangkan Jika Semangat Patungan Dipakai untuk Kebaikan Kita sering melihat betapa cepatnya dana terkumpul untuk acara hiburan, hadiah ulang tahun, atau kegiatan komunitas. Sekarang bayangkan jika semangat yang sama digunakan untuk membantu kaum dhuafa. Sedikit dari banyak orang bisa menjadi manfaat yang sangat besar. Satu orang mungkin merasa sedekahnya kecil. Tetapi ketika ribuan orang melakukan hal yang sama, lahirlah beasiswa untuk anak yatim, bantuan kesehatan, modal usaha, renovasi rumah tidak layak huni, hingga paket pangan bagi keluarga yang kesulitan. Allah Selalu Menolong Orang yang Suka Menolong Sesama Rasulullah bersabda: "Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya." (HR. Muslim No. 2699) Betapa indahnya janji ini. Ketika kita menjadi jalan keluar bagi kesulitan orang lain, Allah pun akan membuka jalan keluar bagi berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Mari Jadikan Patungan Bernilai Akhirat Tidak ada yang melarang kita menikmati hiburan bersama teman. Nobar bisa menjadi sarana mempererat silaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Namun, akan jauh lebih indah jika semangat kebersamaan itu juga hadir dalam aksi nyata membantu mereka yang membutuhkan. Bayangkan setelah serunya nobar, kita juga sepakat menyisihkan sebagian uang untuk membantu dhuafa. Tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu memiliki banyak harta. Justru dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama, lahir manfaat yang besar. Saatnya Patungan untuk Menguatkan Sesama Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, Anda dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah agar sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan secara amanah dan tepat sasaran. Karena mungkin, kebahagiaan terbesar bukan hanya saat tim favorit kita mencetak gol, tetapi ketika Allah mencatat nama kita sebagai hamba yang menghadirkan senyum bagi saudara-saudara dhuafa. Mari jadikan setiap patungan bukan hanya menghadirkan keseruan sesaat, tetapi juga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir hingga akhirat. Tak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Sedikit dari kita, jika dilakukan bersama-sama, bisa menjadi harapan besar bagi para dhuafa, anak yatim, lansia, hingga keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Hari ini, mari ubah "patungan untuk hiburan" menjadi patungan untuk kebaikan. Karena setiap rupiah yang kita sisihkan bukan hanya meringankan beban sesama, tetapi juga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
10/07/2026 | BAZNAS
Kebaikan yang Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari
Kebaikan yang Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari
Kebaikan yang Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari Pernahkah kamu membantu seseorang tanpa mengharapkan balasan? Mungkin hanya mentraktir teman, memberikan makan kepada orang yang membutuhkan, menyisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah, atau sekadar memberikan senyuman kepada orang yang sedang bersedih. Sering kali kita menganggap kebaikan itu hal biasa. Padahal, dalam pandangan Allah, tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia. Bahkan, bisa jadi kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini menjadi penyelamatmu saat menghadapi kesulitan di kemudian hari, baik di dunia maupun di akhirat. Allah tidak pernah lalai mencatat setiap amal baik yang dilakukan hamba-Nya. Allah Tidak Pernah Melupakan Kebaikan Sekecil Apa Pun Kadang kita kecewa karena merasa kebaikan yang kita lakukan tidak dihargai manusia. Sudah membantu, tetapi dilupakan. Sudah memberi, tetapi tidak dianggap. Bahkan, ada yang membalas kebaikan dengan keburukan. Kalau pernah merasakan hal itu, jangan berkecil hati. Karena tujuan kita berbuat baik bukan untuk mendapatkan pujian manusia, melainkan mengharap ridha Allah. Allah SWT berfirman: "Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya." (QS. Az-Zalzalah: 7) Ayat ini mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan, semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang terlewat. Kebaikan Bisa Menjadi Penolong Saat Kamu Membutuhkannya Pernahkah kamu mendengar kisah tentang seseorang yang tiba-tiba mendapatkan pertolongan di saat hidupnya sedang sulit? Bisa jadi pertolongan itu adalah balasan dari kebaikan yang pernah ia lakukan. Rasulullah bersabda: "Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahannya pada hari kiamat." (HR. Muslim No. 2699) Pertolongan Allah Sering Datang Lewat Jalan yang Tidak Disangka Kadang kita bertanya, "Mengapa Allah belum mengabulkan doaku?" Padahal mungkin Allah sedang menyiapkan pertolongan melalui amal-amal baik yang pernah kita lakukan. Sedekah, membantu tetangga, menyantuni anak yatim, atau memudahkan urusan orang lain bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Tidak selalu dalam bentuk uang. Bisa berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, hati yang tenang, kemudahan pekerjaan, atau perlindungan dari musibah yang bahkan tidak kita sadari. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Salah satu bentuk kebaikan yang paling mudah dilakukan adalah bersedekah. Masih banyak orang yang menunda sedekah karena takut hartanya berkurang. Padahal Rasulullah ? justru memberikan jaminan yang sebaliknya. "Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim No. 2588) Rezeki Bukan Hanya Tentang Banyaknya Uang Ketika Allah menambah rezeki, bentuknya tidak selalu berupa saldo rekening yang bertambah. Rezeki juga bisa berupa: Tubuh yang sehat. Anak-anak yang saleh. Hati yang tenang. Rumah tangga yang harmonis. Usaha yang lancar. Dijauhkan dari musibah. Dipertemukan dengan orang-orang baik. Semua itu adalah nikmat yang sering kali lebih berharga daripada sekadar harta. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik Kesalahan yang sering dilakukan banyak orang adalah menunggu kaya dulu baru mau berbagi. Padahal, Rasulullah mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bersedekah sesuai kemampuannya. Kebaikan Itu Tidak Selalu Berupa Uang Kamu bisa memulai dari hal-hal sederhana seperti: Memberikan senyuman kepada orang lain. Membantu orang tua. Menyingkirkan duri atau sampah dari jalan. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Mendoakan saudara sesama muslim. Menyebarkan konten yang menginspirasi. Memberikan makanan kepada yang membutuhkan. Menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah. Rasulullah bersabda: "Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah sepotong kurma." (HR. Bukhari No. 1417 dan Muslim No. 1016) Hadis ini menunjukkan bahwa Allah melihat keikhlasan, bukan besar kecilnya nilai pemberian. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Penyelamat di Akhirat Tidak ada yang tahu kapan kita akan dipanggil oleh Allah. Yang akan menemani kita bukan jabatan, kendaraan, atau harta yang menumpuk, melainkan amal saleh yang kita bawa. Boleh jadi, sedekah yang hari ini terasa kecil justru menjadi amal yang paling berat di timbangan kebaikan. Bisa jadi, bantuan yang pernah kamu berikan kepada orang yang sedang kesulitan menjadi sebab Allah memudahkan hisabmu kelak. Karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Mulailah dari apa yang ada di tanganmu hari ini. Ingatlah, kebaikan yang kamu tanam hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Namun, Allah pasti akan menumbuhkannya menjadi keberkahan yang besar pada waktu terbaik menurut-Nya.
10/07/2026 | BAZNAS
Dosa Jari Yang Bisa Menghapus Seluruh Pahala Shalatmu
Dosa Jari Yang Bisa Menghapus Seluruh Pahala Shalatmu
Hati-Hati, Jari yang Rajin Beribadah Bisa Saja Rajin Berbuat Dosa Kita hidup di zaman ketika jari menjadi bagian tubuh yang paling sibuk. Bangun tidur, jari langsung membuka ponsel. Saat bekerja, jari mengetik. Saat istirahat, jari menggulir media sosial tanpa henti. Sayangnya, jari yang sama juga bisa menjadi penyebab dosa yang terus mengalir. Hanya dengan beberapa sentuhan, seseorang bisa menyebarkan fitnah, mencela orang lain, mengunggah aib, atau menuliskan komentar yang melukai hati. Yang lebih mengkhawatirkan, dosa itu bisa terus bertambah setiap kali ada orang yang membaca, membagikan, atau terpengaruh olehnya. Lalu muncul pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: bagaimana jika jari yang sering digunakan untuk berbuat dosa ternyata menggerus pahala ibadah yang selama ini kita kumpulkan, termasuk pahala shalat? Shalat Bisa Menjadi Sia-Sia Jika Akhlak Tidak Dijaga Shalat adalah ibadah yang sangat agung. Bahkan ia menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Namun, shalat bukan hanya soal gerakan dan bacaan. Shalat juga harus melahirkan akhlak yang baik. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-'Ankabut: 45) Artinya, jika seseorang masih ringan menghina, menyebarkan kebencian, memfitnah, atau menyakiti orang lain melalui tulisannya, maka ada yang perlu diperbaiki dalam kualitas shalatnya. Bukan berarti shalatnya tidak sah, tetapi tujuan shalat untuk membentuk pribadi yang bertakwa belum benar-benar tercapai. Dosa Jari yang Sering Dianggap Sepele 1. Menulis Ghibah (Menggunjing) Dulu ghibah dilakukan lewat lisan. Sekarang, cukup lewat komentar atau status di media sosial. Menulis keburukan orang lain, ikut membicarakan kekurangannya, atau menyebarkan cerita yang mempermalukannya termasuk bentuk ghibah. Rasulullah bersabda: "Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai." (HR. Muslim) Kalimat itu tidak hanya berlaku saat diucapkan, tetapi juga ketika ditulis. 2. Menyebarkan Fitnah dan Berita yang Belum Jelas Banyak orang tergoda menjadi yang pertama membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya. Padahal Rasulullah telah mengingatkan: "Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang didengarnya." (HR. Muslim) Sekali tombol "bagikan" ditekan, bisa jadi kita ikut memikul dosa dari informasi yang salah. 3. Menulis Komentar yang Menyakiti Orang Lain Tidak sedikit orang merasa lebih berani berkata kasar karena bersembunyi di balik layar. Padahal Allah SWT berfirman: "Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada malaikat yang selalu mengawasi dan mencatat." (QS. Qaf: 18) Kalimat ini juga berlaku untuk tulisan. Apa yang kita ketik akan menjadi catatan amal. Rasulullah Pernah Mengingatkan Tentang Orang yang Bangkrut Ada sebuah hadis yang sangat menggugah. Rasulullah bersabda: Para sahabat menjawab, "Orang yang bangkrut adalah yang tidak memiliki harta." Beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang karena pernah mencaci, memfitnah, menzalimi, dan menyakiti orang lain. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum semua hak mereka terpenuhi, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Muslim) Mengapa Hadis Ini Sangat Relevan? Bayangkan jika selama bertahun-tahun kita menjaga shalat lima waktu, rajin tahajud, gemar membaca Al-Qur'an, tetapi setiap hari jari kita juga sibuk menulis hinaan, cibiran, fitnah, dan komentar yang menyakiti orang lain. Pahala ibadah yang kita bangun dengan susah payah bisa berpindah kepada orang yang pernah kita zalimi. Inilah yang dimaksud dengan kebangkrutan yang sesungguhnya. Jadikan Jari Sebagai Jalan Menuju Surga Di era digital, jari bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa. Gunakan Jari untuk Hal-Hal yang Baik Menulis nasihat yang lembut. Membagikan ayat Al-Qur'an dan hadis yang sahih. Menguatkan orang yang sedang bersedih. Mengucapkan doa dan kata-kata yang menenangkan. Menyebarkan informasi yang bermanfaat. Mengajak orang lain kepada sedekah dan amal saleh. Setiap huruf yang menginspirasi kebaikan bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Mulai hari ini, sebelum menekan tombol kirim, komentar, atau bagikan, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah tulisan ini akan mendatangkan pahala atau justru menghapus pahala yang telah susah payah aku kumpulkan?" Shalat bukan hanya tentang berdiri, rukuk, dan sujud. Shalat yang benar akan menjaga lisan, hati, dan juga jari kita. Semoga Allah SWT menjadikan jari-jari kita sebagai saksi atas kebaikan yang kita sebarkan, bukan sebagai saksi atas dosa yang kita anggap sepele. Aamiin
03/07/2026 | BAZNAS

BAZNAS TV