WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan? Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul. Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya? Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan. Ketika Semua Disebut “Sedekah” Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah. Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya. Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial. Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah? Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu. Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim) Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah. Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja. Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri. “Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?” Di sinilah pemahaman menjadi penting. Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan. Semua itu adalah kebaikan. Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat. Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya. Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan. Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal. Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?” Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan. Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi. Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening. Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain. Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut. Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya. Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah. Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan. Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi? Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima. Sederhana. Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?" Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan? Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?" Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri. Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan. Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat. Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya. Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama. Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?" Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh. Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi? Di sinilah perspektifnya perlu dibalik. Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang? Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu. Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan. Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan. Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan. Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut. Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan Bayangkan dua bentuk bantuan. Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari. Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan. Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat. Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?” Inilah inti dari pemberdayaan. Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan. Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri. ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan Di sinilah masyarakat memiliki peran. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia. Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?” Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang. Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita. Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian. Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi. Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut: Ketua: Aceng Najmudin Nawawi Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031. Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi. Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik. BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS

Berita Pendistribusian

BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
Sukabumi – 2 September 2025. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi memberikan bantuan biaya hidup kepada Ibu Ai Fahmi, warga Gedong Panjang, Sukabumi, yang menjadi korban kebocoran gas. Insiden ini menyebabkan Ibu Ai Fahmi mengalami luka bakar serius pada wajah, tangan, dan kaki, serta kerusakan pada atap rumahnya. Bantuan berupa uang diserahkan tunai langsung oleh perwakilan BAZNAS di kediamannya. Musibah yang menimpa Ibu Ai Fahmi terjadi akibat ledakan pipa gas di rumahnya. Kejadian ini tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga merusak sebagian atap rumahnya. Segala aparatur pemerintah dimulai dari ke RT-an sampai pihak kelurahan Gedong Panjang membantu untuk pengobatan dan perbaikan rumah. Menanggapi laporan tersebut, BAZNAS segera bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Program bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi yang dialami korban. Bantuan tunai yang diberikan diharapkan dapat digunakan untuk biaya pengobatan, pemulihan, serta kebutuhan sehari-hari lainnya selama masa pemulihan. Ibu Ai Fahmi, dengan rasa haru, menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada BAZNAS, Kelurahan Gedong Panjang, dan para muzaki (donatur) yang telah menyalurkan hartanya melalui BAZNAS. “Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan ini. Ini sangat membantu kami di tengah musibah yang kami alami. Semoga Allah membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu,” ujarnya. Pemberian bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian BAZNAS terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang ditimpa musibah. BAZNAS berkomitmen untuk terus menyalurkan amanah zakat, infak, dan sedekah dari kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Aksi ini juga menjadi pengingat pentingnya peran lembaga filantropi Islam dalam membantu masyarakat yang kurang beruntung. Untuk saling membantu sesama melalui website resmi kami.
02/09/2025 | Faiz

Artikel Terbaru

8 Provinsi, 1 Tujuan: BAZNAS Rajut Keadilan Ekonomi lewat Zakat
8 Provinsi, 1 Tujuan: BAZNAS Rajut Keadilan Ekonomi lewat Zakat
8 Provinsi, 1 Tujuan: BAZNAS Rajut Keadilan Ekonomi lewat Zakat Zakat bukan sekadar kewajiban bagi umat Islam. Di tangan pengelolaan yang tepat, zakat dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi kesenjangan, membuka peluang usaha, dan membantu masyarakat keluar dari kemiskinan. Inilah semangat yang terus dikembangkan BAZNAS melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi di berbagai daerah. Salah satunya melalui pengembangan Zakat Community Development (ZCD) yang ditargetkan menjangkau 11 kabupaten/kota di 8 provinsi. Program ini menggabungkan aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan keagamaan untuk membangun kemandirian masyarakat. Zakat sebagai Jalan Menuju Keadilan Ekonomi Kesenjangan ekonomi bukan hanya persoalan angka. Di baliknya ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan, pelaku usaha kecil yang kekurangan modal, hingga masyarakat yang memiliki potensi tetapi belum mendapatkan kesempatan. Zakat hadir untuk menjadi salah satu jalan keluar. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat tersebut menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Dari Bantuan Menjadi Pemberdayaan Zakat yang dikelola secara produktif dapat membantu mustahik bukan hanya memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun masa depan. BAZNAS mengembangkan berbagai pendekatan seperti pendampingan usaha mikro, pemberian dukungan usaha, pengembangan komunitas, hingga penguatan potensi ekonomi lokal. Program ZCD, misalnya, dirancang untuk mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi dengan aspek kehidupan lainnya. Mustahik Berdaya, Ekonomi Bergerak Ketika seorang penerima zakat mendapatkan modal usaha dan pendampingan, manfaatnya dapat berkembang. Usaha yang bertumbuh berarti ada pendapatan yang lebih baik, kebutuhan keluarga yang lebih terjaga, bahkan peluang bagi terciptanya pekerjaan baru. Inilah yang membuat zakat memiliki potensi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. 8 Provinsi, Satu Semangat Kemandirian Program pemberdayaan berbasis komunitas menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Setiap daerah memiliki potensi berbeda. Ada masyarakat yang memiliki keterampilan usaha, sumber daya pertanian, perdagangan kecil, kerajinan, maupun potensi ekonomi lokal lainnya. BAZNAS berupaya mengembangkan potensi tersebut agar zakat tidak berhenti sebagai bantuan sesaat. Dalam laporan dampak program ekonomi 2025, BAZNAS RI mencatat program ekonominya telah membantu ribuan mustahik melewati setidaknya satu standar kemiskinan. Zakat Produktif untuk Masa Depan Contoh lainnya adalah pengembangan usaha ritel mikro melalui program Zmart. Program ini ditujukan untuk memperkuat usaha kecil milik mustahik, termasuk warung yang dikelola masyarakat. Artinya, zakat dapat menjadi awal perjalanan dari penerima bantuan menjadi pribadi yang lebih mandiri. Hadits tentang Kewajiban Zakat Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya zakat dalam Islam. Dalam hadits tentang pengutusan Mu'adz ke Yaman, Rasulullah SAW bersabda: “Beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menggambarkan salah satu fungsi sosial zakat: membantu memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan. Saatnya Zakat Kita Menjadi Lebih Bermakna Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan bukan hanya membantu seseorang bertahan hari ini, tetapi juga menjadi modal untuk membangun usaha, meningkatkan keterampilan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menciptakan kehidupan yang lebih mandiri. Satu zakat mungkin terlihat sederhana. Namun ketika dikumpulkan dan dikelola dengan amanah, dampaknya dapat menjangkau banyak kehidupan. Melalui BAZNAS, zakat dapat disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan syariat dan diarahkan pada program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mari Rajut Keadilan Ekonomi Bersama Delapan provinsi boleh berbeda kondisi dan potensinya. Namun tujuannya sama: membangun masyarakat yang lebih berdaya, mandiri, dan sejahtera melalui zakat. Kini saatnya kita mengambil bagian. Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan jadikan sebagian harta yang kita miliki sebagai jalan hadirnya harapan bagi mereka yang membutuhkan. Karena zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan kesempatan untuk bangkit. i
28/08/2026 | BAZNAS
Ada Balasan yang Tidak Selalu Terlihat Setelah Kita Bersedekah
Ada Balasan yang Tidak Selalu Terlihat Setelah Kita Bersedekah
Pernahkah kita bersedekah, lalu diam-diam bertanya dalam hati, “Kapan Allah membalasnya?” Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Ketika uang yang kita miliki diberikan kepada orang lain, secara kasatmata jumlah harta memang terlihat berkurang. Namun, dalam Islam, sedekah tidak pernah sesederhana angka yang keluar dari dompet. Ada balasan yang mungkin langsung kita lihat. Ada pula yang datang perlahan. Bahkan, ada balasan yang baru kita sadari bertahun-tahun kemudian. Sebagian lainnya mungkin tidak pernah kita lihat di dunia, tetapi menjadi simpanan pahala di akhirat. Inilah indahnya sedekah. Kita memberi sesuatu yang terlihat, tetapi Allah dapat membalasnya dengan sesuatu yang tidak pernah kita sangka. Sedekah Bukan Sekadar Memberi, tetapi Menanam Kebaikan Sedekah sering kali dipahami sebagai memberikan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan. Namun, lebih dalam dari itu, sedekah adalah bentuk keimanan, kepedulian, sekaligus bukti bahwa kita percaya kepada Allah sebagai pemberi rezeki. Allah SWT berfirman: Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah. Sedekah seperti sebuah benih. Ketika benih ditanam, kita tidak langsung melihat hasilnya. Ia membutuhkan waktu untuk tumbuh, berakar, dan menghasilkan buah. Begitu pula sedekah. Kita mungkin tidak langsung melihat balasannya, tetapi bukan berarti kebaikan itu berhenti begitu saja. Allah Mengetahui Setiap Rupiah yang Kita Keluarkan Tidak ada sedekah yang benar-benar hilang. Mungkin kita lupa kapan terakhir memberikan uang kepada seseorang. Kita mungkin bahkan tidak lagi mengingat wajah orang yang pernah kita bantu. Namun Allah tidak pernah lupa. Allah mengetahui jumlahnya, niatnya, siapa yang menerimanya, dan bagaimana perjuangan kita ketika mengeluarkannya. Karena itu, jangan mengukur balasan sedekah hanya dari apa yang kembali ke tangan kita. Balasan Sedekah Tidak Selalu Berbentuk Uang Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap balasan sedekah harus selalu berupa uang. Padahal, rezeki memiliki bentuk yang jauh lebih luas. 1. Balasan Berupa Ketenangan Hati Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang sederhana tetapi mampu tidur dengan hati tenang. Sedekah dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan ketenangan tersebut. Ketika kita membantu seseorang keluar dari kesulitan, ada perasaan bahagia yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kita mungkin kehilangan sejumlah uang, tetapi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal: hati yang merasa bermanfaat. 2. Balasan Berupa Kemudahan yang Tidak Disangka Bisa saja setelah bersedekah kita mendapatkan kemudahan dalam pekerjaan. Bisa jadi urusan yang awalnya terasa rumit tiba-tiba menemukan jalan keluar. Bisa pula Allah mempertemukan kita dengan orang baik, membuka peluang baru, atau memberikan pertolongan melalui jalan yang sama sekali tidak kita duga. Bukan berarti setiap sedekah harus langsung menghasilkan keuntungan materi. Namun, kita percaya bahwa Allah memiliki cara-Nya sendiri dalam memberikan balasan. 3. Balasan Berupa Perlindungan dari Keburukan Ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui. Mungkin suatu hari kita terhindar dari masalah besar. Kita menganggapnya sebagai kebetulan. Padahal, bisa jadi ada doa seseorang yang pernah kita bantu. Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan bekerja dalam kehidupan kita. Karena itu, jangan meremehkan sedekah meskipun jumlahnya kecil. Apa yang kecil menurut manusia bisa menjadi besar di sisi Allah ketika dilakukan dengan ikhlas. Rasulullah SAW Mengingatkan: Sedekah Tidak Mengurangi Harta Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Jika dipikir secara matematika, uang Rp50.000 yang diberikan memang membuat saldo berkurang Rp50.000. Namun Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa hakikat harta tidak hanya dilihat dari jumlah nominalnya. Harta yang disedekahkan bisa menjadi keberkahan. Bisa menjadi pahala. Bisa menjadi sebab seseorang tersenyum. Bisa menjadi makanan bagi keluarga yang kesulitan. Bisa menjadi biaya pendidikan seorang anak. Bisa menjadi obat bagi seseorang yang sedang sakit. Dan semua kebaikan tersebut memiliki nilai di sisi Allah. Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah Sering kali kita berkata: “Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan banyak bersedekah.” Padahal, belum tentu kekayaan membuat seseorang lebih mudah berbagi. Justru sedekah melatih kita untuk berbagi dari apa yang kita punya hari ini. Tidak harus menunggu memiliki jutaan rupiah. Sedekah Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, atau berapa pun yang kita mampu, dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti apabila dilakukan dengan ikhlas. Yang paling penting bukan hanya nominalnya, tetapi ketulusan dan kebermanfaatannya. Ada Balasan yang Mungkin Baru Kita Sadari Nanti Bayangkan seseorang bersedekah untuk membantu seorang anak mendapatkan pendidikan. Saat memberikan donasi, mungkin ia hanya berpikir, “Semoga uang ini bermanfaat.” Bertahun-tahun kemudian, anak tersebut tumbuh menjadi orang yang mampu membantu banyak orang. Kebaikan yang awalnya hanya terlihat seperti sebuah pemberian kecil ternyata berkembang menjadi rangkaian kebaikan yang panjang. Begitulah sedekah. Kita mungkin hanya melihat satu langkah, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan kebaikan itu. Kebaikan yang Terus Mengalir Karena itu, jangan hanya mencari balasan yang bisa langsung dilihat. Ketika sedekah kita membantu seseorang membuka usaha, lalu ia mampu menghidupi keluarganya, ada kebermanfaatan yang jauh lebih luas. Ketika sedekah membantu seorang anak mendapatkan pendidikan, kemudian ia menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, kebaikan itu berkembang. Ketika infak membantu menyediakan kebutuhan umat, manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang. Inilah mengapa sedekah bukan sekadar “uang yang keluar”, tetapi bisa menjadi investasi kebaikan. Jangan Rusak Sedekah dengan Mengungkitnya Allah juga mengingatkan agar sedekah tidak disertai sikap menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerimanya. Allah SWT berfirman: Artinya: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262) Sedekah seharusnya membuat hati semakin lembut, bukan semakin tinggi hati. Kita memberi bukan karena ingin dipuji. Kita memberi bukan agar dianggap paling dermawan. Kita memberi karena ingin mencari ridha Allah. Saatnya Menjadi Bagian dari Kebaikan Di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada pula berbagai program sosial yang membutuhkan dukungan agar dapat terus berjalan. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan mereka. Namun kita bisa mengambil bagian. Satu sedekah mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Jangan menunggu memiliki rezeki berlebih untuk berbagi. Sebab terkadang, justru dari sebagian kecil yang kita ikhlaskan, Allah menghadirkan keberkahan yang jauh lebih besar. Mari Bersedekah Hari Ini Jika hari ini Allah masih memberikan kita rezeki, kesehatan, kesempatan bekerja, keluarga, dan kehidupan yang cukup, jangan lupa menyisihkan sebagian untuk orang lain. Sedekah tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu Jumat. Tidak harus menunggu Ramadan. Dan tidak harus menunggu ada sesuatu yang kita inginkan. Bersedekahlah karena Allah. Sebab boleh jadi, balasan yang kita tunggu bukan berupa uang yang tiba-tiba kembali ke rekening. Boleh jadi balasannya adalah hati yang lebih tenang. Keluarga yang lebih harmonis. Urusan yang dimudahkan. Kesulitan yang dijauhkan. Doa yang dikabulkan pada waktu terbaik. Atau pahala yang kelak menjadi penyelamat ketika kita sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk beramal.
27/08/2026 | BAZNAS
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan Kita sering mengira masalah dalam sebuah kepemimpinan muncul ketika seseorang tidak mampu mengambil keputusan. Padahal ada persoalan yang jauh lebih sulit terlihat yakni ketika seseorang mampu memimpin, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia memiliki jabatan. Pendapatnya didengar. Keputusannya berpengaruh terhadap orang lain. Namun perlahan, sesuatu berubah. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi amanah mulai digunakan untuk mempertahankan harga diri. Kritik terasa seperti penghinaan. Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Kesalahan orang lain mudah terlihat, tetapi kesalahan sendiri selalu memiliki pembenaran. Di titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi “Apakah dia mampu memimpin?”, melainkan “Siapa yang sebenarnya sedang memimpin, akal dan amanahnya, atau egonya?” Kekuasaan Tidak Selalu Membuat Seseorang Lebih Besar Memiliki posisi sering kali membuat seseorang memiliki lebih banyak kendali. Seorang ayah memiliki pengaruh terhadap keluarganya. Seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap bawahannya. Seorang guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Bahkan seseorang yang tidak memiliki jabatan formal pun dapat memiliki pengaruh dalam lingkungan sosialnya. Namun pengaruh tidak otomatis berarti keunggulan. Justru semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula kemungkinan orang lain merasakan akibat dari keputusannya. Masalah muncul ketika kekuasaan mulai dianggap sebagai bukti bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain. Ia tidak lagi mendengar untuk memahami, tetapi mendengar untuk mencari alasan mengapa dirinya tetap benar. Ia tidak menerima kritik sebagai bahan evaluasi, tetapi sebagai ancaman terhadap citra dirinya. Ia ingin dihormati, tetapi lupa bahwa penghormatan tidak dapat dipaksa. Sebab orang mungkin dapat takut kepada seorang pemimpin, tetapi rasa takut tidak sama dengan rasa hormat. Ketika Kritik Terasa Seperti Serangan Salah satu ujian terbesar bagi seseorang yang memiliki posisi adalah bagaimana ia menerima kritik. Ketika dipuji, hampir semua orang mampu bersikap tenang. Tetapi ketika seseorang mengatakan, “Anda salah,” di situlah karakter mulai terlihat. Ego yang besar akan mencari pembelaan. “Dia tidak memahami saya.” “Dia tidak tahu apa yang saya lakukan.” “Dia memang tidak suka kepada saya.” Akhirnya, persoalan yang seharusnya dapat menjadi bahan perbaikan berubah menjadi persoalan harga diri. Padahal kritik tidak selalu merupakan bentuk kebencian. Kadang, kritik adalah cara orang lain menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat dari posisi kita sendiri. Karena itu, pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah dikritik. Pemimpin yang baik adalah orang yang masih mampu mendengarkan ketika kritik itu menyakitkan. Kepemimpinan dalam Islam Bukan Lisensi untuk Menguasai Islam memberikan pandangan yang sangat berbeda tentang kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim) Perhatikan kata yang digunakan yaitu dipertanggungjawabkan. Kepemimpinan bukan terutama tentang berapa banyak orang yang berada di bawah kita. Ia tentang berapa banyak amanah yang harus kita pertanggungjawabkan. Seorang ayah tidak hanya memiliki hak untuk didengar oleh keluarganya, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi. Seorang atasan tidak hanya memiliki kewenangan memberikan tugas, tetapi juga tanggung jawab memperlakukan orang yang dipimpinnya secara adil. Seseorang yang diberi pengaruh tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menentukan arah, tetapi juga memperoleh kewajiban untuk mempertimbangkan dampak keputusannya. Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula amanah yang mengikutinya. Allah Tidak Menyukai Kesombongan Di sinilah pride atau kesombongan menjadi sesuatu yang perlu kita waspadai. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. An-Nisa: 36) Kesombongan bukan hanya tentang membanggakan harta atau merasa lebih tinggi secara terang-terangan. Ia dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya terlalu penting untuk dikoreksi. Ketika permintaan maaf terasa merendahkan martabat. Ketika mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan. Ketika orang lain harus terus memahami dirinya, sementara ia tidak merasa perlu memahami orang lain. Padahal, semakin tinggi seseorang berada dalam sebuah struktur, semakin penting baginya untuk memiliki kemampuan merendahkan ego tanpa merendahkan harga dirinya. Pemimpin Pertama yang Harus Ditaklukkan adalah Diri Sendiri Kita sering berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana seseorang dapat memimpin orang lain jika ia bahkan belum mampu memimpin egonya sendiri? Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Pengendalian diri adalah bentuk kepemimpinan yang paling dekat dengan kita. Menahan diri ketika ingin membalas. Mendengarkan ketika ingin memotong pembicaraan. Mengakui kesalahan ketika ego meminta kita mencari alasan. Memberikan kesempatan kepada orang lain ketika kita sebenarnya memiliki kekuasaan untuk memaksakan kehendak. Hal-hal kecil inilah yang menunjukkan apakah seseorang benar-benar memimpin, atau sekadar memiliki posisi. Dari “Saya Harus Dihormati” Menjadi “Saya Harus Bertanggung Jawab” Mungkin perubahan terbesar dalam cara memandang kepemimpinan terjadi ketika pusat perhatian bergeser. Dari “Bagaimana orang memperlakukan saya?” , menjadi “Bagaimana saya memperlakukan orang lain?”. Dari “Mengapa mereka tidak mengikuti saya?”, menjadi “Apakah saya sudah memberikan alasan yang layak untuk dipercaya?” Dan dari “Apa yang bisa saya dapatkan dari posisi ini?”, menjadi “Apa manfaat yang dapat saya berikan melalui posisi ini?” Cara berpikir seperti ini juga selaras dengan semangat berbagai program BAZNAS. Kepedulian dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, maupun keagamaan pada dasarnya mengingatkan kita bahwa kemampuan yang dimiliki manusia dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Begitu pula zakat, infak, dan sedekah. Ia mengajarkan bahwa apa yang berada dalam genggaman kita tidak semata-mata tentang hak untuk memiliki, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memberi manfaat. Ketika Ego Turun, Amanah Naik Mungkin kita tidak semuanya memiliki jabatan. Tetapi hampir setiap orang pernah berada dalam posisi untuk memengaruhi orang lain. Menjadi orang tua. Menjadi pasangan. Menjadi kakak. Menjadi teman. Menjadi atasan. Bahkan menjadi seseorang yang pendapatnya didengar. Maka artikel ini bukan hanya tentang pemimpin. Ini tentang kita. Sebab kursi kepemimpinan tidak selalu berbentuk jabatan. Kadang ia berbentuk rumah, keluarga, pekerjaan, atau kepercayaan seseorang kepada kita. Dan ketika suatu hari kita diberi kekuasaan, mungkin yang paling perlu kita takutkan bukan kehilangan posisi. Melainkan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara memimpin dengan menguasai, antara dihormati dengan ditakuti, dan antara amanah dengan kepentingan ego sendiri. Karena masalah terbesar bukan ketika seseorang duduk di kursi kepemimpinan. Masalahnya adalah ketika ego ikut duduk di sana dan tidak pernah mau turun.
27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi

BAZNAS TV