WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

Seleksi Terbuka Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi 2026–2031 Resmi Dibuka !
Seleksi Terbuka Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi 2026–2031 Resmi Dibuka !
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Sukabumi, bersama Pemerintah Kota Sukabumi dan Kantor Kementerian Agama Kota Sukabumi, membuka seleksi Pimpinan Baznas Kota Sukabumi periode 2026 - 2031.Mengundang seluruh masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pemilihan Calon Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi.Silakan dibaca dengan seksama, jadwal seleksi serta persyaratan pendaftaran untuk mengikuti seleksi. Link Pendaftaran : https://simzat.kemenag.go.id/simzat/apps/web/portal_seleksi_baznas/2026RJL0 Link Dokumen Persyaratan : https://s.id/SelekpimKotsi2026
04/05/2026 | BAZNAS
Stop Anggap Biasa! 4 Makna Luar Biasa Hari Raya Idul Fitri yang Sering Terlupakan
Stop Anggap Biasa! 4 Makna Luar Biasa Hari Raya Idul Fitri yang Sering Terlupakan
Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari raya ini menandai berakhirnya puasa selama satu bulan di bulan suci Ramadhan dan menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah, yakni kesucian hati dan jiwa kebersihan. Namun, selain sebagai ajang kemenangan setelah sebulan berpuasa, Idul Fitri juga memiliki makna yang lebih dalam perspektif Islam Makna Idul Fitri dalam Islam 1. Kembali ke Fitrah Jika dilihat dari gabungan katanya, Idul Fitri berasal dari dua kata, yaitu 'id' dan 'al-fitri'. Id secara bahasa berasal dari kata ada - ya'uudu, yang artinya kembali. Sedangkan kata al-fitri memiliki dua makna, yaitu suci dan berbuka. Suci artinya bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Hal ini mencerminkan bahwa setelah seseorang menjalankan ibadah puasa, seorang muslim diharapkan kembali kepada kesucian hati dan jiwa. 2. Hari Kemenangan Idul Fitri menjadi hari kemenanga karena umat Islam telah menyelesaikan salah satu ibadah yang berat, yakni puasa Ramadhan. Ini adalah kemenangan spiritual atas hawa nafsu dan godaan duniawi. Allah swt dalam firmannya di QS Al-Baqarah ayat 183 menyampaikan bahwa tujuan melaksanakan puasa adalah untuk mendapatkan gelar bertakwa. 3. Mempererat Silaturahmi Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan silaturahmi antar sesama. Pada hari ini, umat Islam dianjurkan untuk saling bermaafan, baik kepada keluarga, sahabat, maupun tetangga. Tradisi saling memaafkan ini bukan sekedar kebiasaan, namun memiliki makna yang mendalam dalam Islam, yaitu membersihkan hati dari rasa dendam dan kesalahan di masa lalu. Dengan silaturahmi yang terjaga, hubungan persaudaraan akan semakin kuat dan penuh keberkahan. 4. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Idul Fitri juga mengajarkan umat Islam untuk memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu. Hal ini diwujudkan melalui kewajiban menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Dengan zakat fitrah, kebahagiaan di hari raya dapat dirasakan oleh semua orang, sehingga tidak ada yang merasakan kekurangan di hari yang penuh kebahagiaan tersebut. Nilai kepedulian inilah yang menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam. Dalam menutup amal di bulan puasa ini kita harus menanamkan prinsip khauf dan raja'. Khauf khawatir apakah ibadah kita diterima oleh Allah swt atau tidak, sehingga kita tidak terlalu puas dan berbangga diri dengan pencapaian ibadah yang telah dilakukan. Sementara raja' adalah sikap optimisme bahwa Allah dengan sifat kasih sayang-Nya pasti mau menerima amal ibadah yang kita lakukan. Hikmah Idul Fitri dalam Kehidupan Seorang Muslim Hari Raya Idul Fitri bukan hanya tentang berakhirnya bulan Ramadhan, namun juga menjadi momentum bagi setiap umat Islam untuk memperbaiki diri. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, dan melakukan berbagai amal kebaikan, Idul Fitri menjadi titik awal untuk mempertahankan kebiasaan baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hikmah besar dari Idul Fitri adalah memperkuat hubungan antar sesama manusia. Pada hari raya ini, umat Islam dianjurkan untuk saling memaafkan, baik kepada keluarga, sahabat, maupun masyarakat sekitar. Tradisi saling memaafkan ini mengandung makna yang sangat dalam, yaitu membersihkan hati dari rasa dendam, iri, dan kebencian. Rasulullah ? juga sangat mendukung umatnya untuk menjaga silaturahmi. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menjaga silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Oleh karena itu, momen Idul Fitri sering dimanfaatkan oleh banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang. Selain itu, Idul Fitri juga menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya berasal dari makanan khas lebaran atau pakaian baru, tetapi dari hati yang bersih dan rasa syukur kepada Allah SWT. Kebahagiaan yang dirasakan saat Hari Raya Idul Fitri seharusnya mendorong kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan Zakat Fitrah : Menyempurnakan Ibadah Ramadhan Zakat Fitrah merupakan bagian penting dalam perayaan Idul Fitri dengan tujuan agar di hari raya tidak ada yang merasakan kekurangan. Selain itu, Zakat fitrah memiliki fungsi utama untuk menyucikan jiwa dan menyempurnakan ibadah puasa. Rasulullah ? bersabda: “Zakat fitrah diwajibkan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari amalan sia-sia dan ucapan keji, serta sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap Muslim sebelum pelaksanaan Salat Idul Fitri. Besarnya setara dengan sekitar 2,5 kg bahan makanan pokok, seperti beras untuk di Indonesia Salurkan Zakat Fitrah ke BAZNAS Tunaikan zakat fitrah Anda melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) agar penyalurannya tepat sasaran dan membantu saudara-saudara yang membutuhkan di hari raya. untuk membaca artikel lainnya klik link di bawah ini : Makna Hari Raya Idul Fitri https://baznaskotasukabumi.com/makna-hari-raya-idul-fitri/
27/02/2026 | BAZNAS
BAZNAS Siapkan Dapur Umum untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
BAZNAS Siapkan Dapur Umum untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menyalurkan bantuan berupa dapur umum untuk korban banjir di Tapanuli Selatan. Kronologi Terjadinya Bencana Banjir di Tapanuli Selatan Bencana terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Tapsel sejak Senin, 24 November 2025. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan sungai — terutama di wilayah bantaran seperti di kecamatan Batang Toru — meluap dan memicu banjir bandang serta tanah longsor. Bahkan dalam beberapa desa, arus deras membawa gelondongan kayu, sehingga daya hantam banjir menjadi sangat buruk dan merusak rumah, jalan, fasilitas umum, dan infrastruktur. Pada 25–26 November 2025, dampak bencana mulai terlihat: permukiman penduduk terdampak berat, banyak rumah rusak atau hanyut, akses jalan dan jembatan putus — menyebabkan isolasi sejumlah desa dan mempersulit evakuasi serta penyelamatan. Sejumlah korban jiwa mulai dilaporkan; data awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sekurang-kurangnya 8 orang meninggal dan ribuan warga mengungsi. Seiring waktu, data korban terus diperbarui secara periodik oleh pihak berwenang. Pada 28 November dilaporkan 32 orang meninggal, 29 November meningkat menjadi 43 korban, dan pada 30 November tercatat 46 korban tewas serta puluhan hilang. Akhirnya, per 3 Desember 2025, korban meninggal di Tapsel dilaporkan mencapai 81 orang, dengan sekitar 33 orang hilang dan ratusan lainnya luka-luka; ribuan warga mengungsi akibat rumah dan fasilitas rusak berat. Saat ini, tim SAR gabungan bersama aparat daerah, relawan, dan masyarakat tengah melakukan upaya pencarian korban hilang, evakuasi pengungsi, serta distribusi bantuan — seperti logistik, air bersih, dan layanan medis — ke titik-titik pengungsian. Pendataan kerusakan pun terus dilakukan untuk menilai skala kerugian materiil dan kebutuhan pemulihan jangka panjang. BAZNAS RI Hadir Mengoperasikan Sejumlah Dapur Umum Memastikan ribuan penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) mendapat pasokan makanan yang layak, BAZNAS RI melalui unit BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) telah mendirikan dan mengoperasikan sejumlah dapur umum di titik-titik terdampak berat. Operasi yang dipimpin langsung oleh Koordinator BTB untuk wilayah Tapsel, Sukamto, ini telah menghasilkan ribuan bungkus makanan siap santap bagi pengungsi. Di tengah kesibukan mengawasi produksi di Dapur Umum BAZNAS RI di Tapsel, Sumut, Kamis (4/12/2025), Sukamto memaparkan upaya logistik yang terus diperluas cakupannya. “Fokus kami adalah memastikan tidak ada penyintas yang kelaparan. Setelah assessment, kami segera mendirikan dapur umum di titik-titik dengan konsentrasi pengungsi tinggi dan di daerah yang sulit dijangkau,” ujarnya. Dapur Umum BAZNAS RI untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan Jaringan Dapur Umum BAZNAS Berdasarkan laporan operasional per Rabu (3/12/2025), jaringan dapur umum BAZNAS telah berkembang pesat. Titik utama berada di Desa Tandihat, di kompleks PTPN 5 Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan. Dapur ini secara konsisten memproduksi 1.950 bungkus makanan per hari untuk mendukung 630 jiwa pengungsi, dilengkapi dengan dapur air di dua titik. Tidak berhenti di situ, tim yang terdiri dari Sukamto, Septo P, personil BTB Provinsi Sumut, Baznas Kabupaten dan Kota Tapsel, serta 12 relawan masak, terus memperluas jangkauan. Dapur umum baru berhasil didirikan di Desa Tolang Julu, memproduksi 600 bungkus makanan per hari. Selain itu, dukungan logistik juga diberikan kepada dapur umum komunitas, seperti di Masjid Nurul, Jl. Murai Aekmanis, Kelurahan Sibolga Selatan, dengan menyuplai beras, lauk, dan bumbu untuk produksi 300 porsi per hari selama tiga hari. Yang patut dicatat adalah peningkatan kapasitas di beberapa titik. Dapur umum di Masjid An-Nursina, Kelurahan Sarudik, Tapanuli Tengah, yang awalnya memproduksi 600 bungkus, kini ditingkatkan menjadi 1.000 bungkus per hari (2x produksi) untuk menjangkau 568 jiwa. Begitu pula dengan dapur umum di Jalan Kamboja, Kelurahan Simare Mare, Kecamatan Sibolga Utara, yang langsung beroperasi dengan produksi 1.000 bungkus per hari untuk 450 jiwa. “Ini adalah kerja kolektif. Personil pusat, daerah, dan relawan lokal bersinergi. Setiap hari tim kami bergerak dengan 1 unit mobil dan 2 motor, membeli bahan baku, memasak, dan mendistribusikan, seringkali melalui jalur yang masih sulit,” jelas Sukamto yang baru saja menyelesaikan studi magister di UIN Yogyakarta dan langsung bertugas ke lokasi bencana. Operasi dapur umum ini menjadi penopang hidup utama bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan pokok. Kehadiran BAZNAS tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memberikan kepastian dan harapan bagi warga di tengah situasi yang serba tidak menentu. Komitmen untuk melanjutkan operasi ini menunjukkan dedikasi BAZNAS RI dalam menjalankan amanah kemanusiaan, memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan hingga kondisi darurat pulih. Mari langitkan doa dan ringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS. Salurkan donasi Anda melalui: https://app.midtrans.com/payment-links/bantuankebencanaan Atau bisa memalui website resmi : https://baznaskotasukabumi.com/
05/12/2025 | indri irmayanti

Berita Pendistribusian

Artikel Terbaru

Hati-Hati, Kesombongan Bisa Datang Tanpa Disadari
Hati-Hati, Kesombongan Bisa Datang Tanpa Disadari
Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. BAZNAS Kota Sukabumi Banyak orang mengira bahwa sombong hanya ditunjukkan oleh mereka yang memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, atau kekuasaan besar. Padahal, kesombongan bisa hadir dalam berbagai bentuk yang sangat halus sehingga sering kali tidak disadari oleh pemiliknya. Seseorang bisa merasa lebih baik dari orang lain karena ilmu yang dimiliki, ibadah yang dilakukan, keturunan yang dibanggakan, bahkan karena penampilannya. Ketika hati mulai merasa lebih tinggi dan merendahkan orang lain, saat itulah bibit kesombongan mulai tumbuh. Dalam Islam, kesombongan merupakan sifat yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Bahkan, kesombongan menjadi penyebab terusirnya Iblis dari rahmat Allah. Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Nabi Adam AS, Iblis menolak karena merasa dirinya lebih baik. Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam,' maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia enggan dan takabur, dan ia termasuk golongan orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 34) Ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan dapat menghalangi seseorang dari kebenaran. Iblis bukanlah makhluk yang tidak mengenal Allah. Ia beribadah dalam waktu yang sangat lama. Namun, kesombongan yang ada dalam dirinya membuat semua amal tersebut tidak bernilai. Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya kesombongan. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim) Mendengar hadits tersebut, seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang senang memakai pakaian bagus dan sandal yang bagus. Rasulullah SAW menjelaskan: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim) Dari hadits ini kita memahami bahwa kesombongan bukanlah tentang memiliki sesuatu yang baik. Kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran karena ego dan merasa lebih mulia daripada orang lain. Kesombongan sering muncul dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari. Misalnya, merasa paling benar saat berdiskusi dan tidak mau menerima nasihat. Ada pula yang memandang rendah orang yang ekonominya lebih rendah, pendidikannya lebih rendah, atau bahkan tingkat ibadahnya dianggap kurang. Di era media sosial, kesombongan juga dapat muncul dalam bentuk yang lebih halus. Seseorang bisa merasa bangga secara berlebihan terhadap pencapaiannya, lalu tanpa sadar meremehkan orang lain yang belum mencapai hal yang sama. Padahal setiap nikmat yang kita miliki adalah karunia Allah semata. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman: 18) Lalu bagaimana cara menghindari kesombongan? Pertama, menyadari bahwa semua kelebihan yang kita miliki berasal dari Allah SWT. Harta, ilmu, jabatan, kesehatan, dan berbagai nikmat lainnya adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh-Nya. Kedua, membiasakan diri untuk menerima nasihat. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya selalu benar. Ia bersedia mendengarkan pendapat orang lain dan menerima kebenaran meskipun datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Ketiga, mengingat asal-usul dan akhir kehidupan manusia. Kita diciptakan dari tanah dan kelak akan kembali menjadi tanah. Kesadaran ini dapat melunakkan hati dan menghilangkan rasa tinggi diri. Keempat, memperbanyak doa agar dijauhkan dari sifat sombong. Hati manusia mudah berbolak-balik, sehingga kita memerlukan pertolongan Allah agar senantiasa diberikan kerendahan hati. Kerendahan hati merupakan salah satu ciri orang yang dicintai Allah. Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati pula dirinya. Para nabi, sahabat, dan ulama salih justru dikenal karena tawadhu' mereka, bukan karena kesombongannya. Mari senantiasa melakukan muhasabah diri. Jangan sampai kesombongan yang kecil dan tidak disadari tumbuh menjadi penyakit hati yang merusak amal ibadah kita. Semoga Allah SWT membersihkan hati kita dari sifat takabur, menjadikan kita pribadi yang rendah hati, serta senantiasa menerima kebenaran di mana pun ia berada. Aamiin. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah tetapi tentang bagaimana hati tetap tenang, ikhlas, dan terus berusaha mendekat kepada Allah SWT. Kebaikan sekecil apa pun akan selalu memiliki nilai besar di sisi Allah, terlebih ketika dilakukan dengan tulus dan penuh kepedulian kepada sesama. Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi. Karena sejatinya, hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain Situs web resmi BAZNAS Untuk Melihat Artikel Lainnya klik link dibawah ini Artikel BAZNAS
02/06/2026 | BAZNAS
Jika Allah Sudah Cukup untukmu, Apa Lagi yang Perlu Ditakutkan?
Jika Allah Sudah Cukup untukmu, Apa Lagi yang Perlu Ditakutkan?
Jika Allah Sudah Cukup untuk Anda, Apa Lagi yang Perlu Ditakutkan? Dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah merasakan rasa takut. BAZNAS Kota Sukabumi Takut kehilangan pekerjaan, takut gagal dalam usaha, takut menghadapi masa depan, takut kehilangan orang yang dicintai, atau takut menghadapi berbagai ujian hidup yang datang silih berganti. Rasa takut adalah hal yang manusiawi. Namun, seorang muslim memiliki sumber kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang yang jauh dari Allah, yaitu keyakinan bahwa Allah SWT selalu bersama hamba-Nya. Ketika seseorang benar-benar menjadikan Allah sebagai tempat bergantung, maka ketakutan yang berlebihan akan perlahan berubah menjadi ketenangan. Ia menyadari bahwa tidak ada satu pun kejadian yang terjadi tanpa izin Allah. Apa yang ditakdirkan untuknya tidak akan pernah tertukar, dan apa yang bukan menjadi bagiannya tidak akan pernah mampu ia miliki meskipun seluruh manusia membantunya. Allah SWT berfirman: “Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar : 36) Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah mengingatkan bahwa Dia adalah Pelindung terbaik bagi hamba-Nya. Ketika Allah sudah mencukupi kebutuhan seorang hamba, maka tidak ada alasan untuk merasa takut secara berlebihan terhadap makhluk atau keadaan. Sayangnya, banyak di antara kita yang lebih sering bergantung pada kemampuan diri sendiri daripada kepada Allah. Kita merasa tenang ketika memiliki banyak uang, jabatan tinggi, atau hubungan yang luas. Namun ketika semuanya berkurang atau hilang, hati menjadi gelisah. Padahal ketenangan sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari keyakinan kepada Allah SWT. Allah SWT juga berfirman: “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq : 3) Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Tawakal adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik yang mampu dilakukan. Seorang Muslim tetap bekerja keras, belajar, berusaha, dan berdoa. Namun hati tidak bergantung pada usaha tersebut, melainkan kepada Allah yang mengatur hasilnya. Kisah para nabi menunjukkan betapa besarnya kekuatan tawakal kepada Allah. Ketika Nabi Ibrahim AS dilempar ke dalam api oleh kaumnya, secara logika manusia tidak ada jalan keselamatan. Namun karena keimanan dan ketergantungannya kepada Allah begitu kuat, Allah menjadikan api tersebut dingin dan menyelamatkannya. Begitu pula Nabi Musa AS ketika dikejar oleh Fir'aun dan tentaranya. Di depan mereka terbentang lautan, sementara musuh berada di belakang. Dalam kondisi yang tampak mustahil sekalipun, Nabi Musa AS berkata: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku." (QS. Asy-Syu'ara : 62) Keyakinan seperti inilah yang membuat hati seorang mukmin tetap teguh meski menghadapi situasi sulit. Ia percaya bahwa pertolongan Allah selalu lebih dekat dari yang dibayangkannya. Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menggantungkan harapan hanya kepada Allah. Dalam sebuah hadits beliau bersabda: Jagalah Allah, niscaya kamu akan melihat-Nya di hadapanmu. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. (HR. Tirmidzi) Hadits ini mengingatkan bahwa Allah adalah tempat terbaik untuk bertanya dan berharap. Ketika hati sudah penuh dengan keyakinan kepada Allah, maka berbagai ketakutan dunia tidak lagi menguasai diri. Bukan berarti orang yang bertawakal tidak pernah merasa sedih atau khawatir. Namun ketika rasa takut datang, ia segera mengingat kebesaran Allah. Ia sadar bahwa masalah sebesar apa pun sangat kecil di hadapan kekuasaan-Nya. Tidak ada rezeki yang tertukar, tidak ada takdir yang meleset, dan tidak ada ujian yang diberikan tanpa hikmah. Salah satu cara memperkuat keyakinan kepada Allah adalah dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, dan menyusun nikmat-nikmat yang telah Allah berikan selama ini. Sering kali kita terlalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi hingga lupa bahwa Allah telah menyelamatkan kita dari begitu banyak kesulitan di masa lalu. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd : 28) Ketenangan hati adalah salah satu kenikmatan terbesar dalam hidup. Dan ketenangan itu tidak dibeli dengan harta, tidak diperoleh dari pujian manusia, serta tidak bergantung pada keadaan dunia. Ketenangan lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu mengatur segala sesuatu dengan sempurna. Maka, jika Allah sudah cukup untukmu, apa lagi yang perlu ditakutkan? Hadapilah hidup dengan penuh keyakinan, teruslah berikhtiar, perbanyak doa, dan gantungkan seluruh harapan kepada Allah SWT. Sebab ketika Allah menyandarkan punggung utama dalam hidup, tidak ada ujian yang terlalu berat, tidak ada kesulitan yang terlalu besar, dan tidak ada ketakutan yang tidak bisa menghadang. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang kuat iman, kokoh tawakalnya, dan selalu tenang dalam setiap keadaan. Aamiin. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah tapi tentang bagaimana hati tetap tenang, ikhlas, dan terus berusaha mendekat kepada Allah SWT. Kebaikan sekecil apa pun akan selalu memiliki nilai besar di sisi Allah, terutama ketika dilakukan dengan ketulusan dan penuh kepedulian kepada sesama. Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi . Karena sejatinya, hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain Situs web resmi BAZNAS Untuk Melihat Artikel Lainnya klik link dibawah ini Artikel BAZNAS
02/06/2026 | BAZNAS
Ketika Doa Belum Terkabul, Jangan Cepat Menyerah
Ketika Doa Belum Terkabul, Jangan Cepat Menyerah
Ketika Doa Belum Terkabul, Jangan Cepat Menyerah Setiap muslim pasti pernah berada pada titik di mana ia sangat berharap kepada Allah SWT. BAZNAS Kota Sukabumi Ada yang berdoa agar diberi kesehatan, kelancaran rezeki, jodoh yang baik, pekerjaan yang diimpikan, atau jalan keluar dari berbagai masalah kehidupan. Namun, tidak jarang doa yang dipanjatkan terasa belum juga dikabulkan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan terkadang bertahun-tahun berlalu tanpa melihat hasil yang diharapkan. Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang mulai merasa kecewa, putus asa, bahkan melakukan penilaian apakah doanya didengar oleh Allah SWT. Padahal, seorang mukmin harus memahami bahwa setiap doa yang dipanjatkan tidak pernah sia-sia. Allah Maha Mendengar setiap permohonan hamba-Nya dan memiliki waktu serta cara terbaik untuk mengabulkannya. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.'” (QS. Ghafir: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memerintahkan hamba-Nya untuk terus berdoa. Janji Allah adalah kebenaran. Namun, bentuk pengabulan doa tidak selalu sesuai dengan keinginan dan waktu yang kita harapkan. Seringkali kali manusia hanya melihat apa yang diinginkannya saat ini, sedangkan Allah mengetahui apa yang terbaik untuk masa depan hamba-Nya. Bisa jadi sesuatu yang kita minta belum diberikan karena Allah sedang menyiapkan yang lebih baik. Bisa pula karena waktu yang tepat belum tiba. Allah SWT berfirman: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216) Ayat ini mengajarkan bahwa keterlambatan terkabulnya doa bukan berarti Allah mengabaikan kita. Justru bisa jadi itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar kita terhindar dari sesuatu yang kurang baik. Rasulullah SAW juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang selalu berdoa. Beliau bersabda: “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan memutus silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan salah satu dari tiga hal: segera mengabulkan doanya, menyimpannya sebagai pahala di akhirat, atau menghindarinya dari keburukan yang sebanding di dekatnya.” (HR.Ahmad) Hadits ini memberikan ketenangan bagi setiap muslim. Tidak ada doa yang sia-sia. Jika belum dikabulkan sekarang, Allah mungkin menyimpannya sebagai pahala yang besar di akhirat atau menggantinya dengan perlindungan dari musibah yang tidak kita ketahui. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah terburu-buru dalam berdoa. Ketika harapan belum terwujud dalam waktu singkat, seseorang mulai berhenti berdoa dan kehilangan keyakinan. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan: “Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak terburu-buru dengan mengatakan, 'Aku telah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.'” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan pentingnya kesabaran dan keteguhan hati. Jangan sampai kita menyerah hanya karena merasa doa belum terjawab. Allah mencintai hamba yang terus berharap dan bergantung kepada-Nya dalam segala keadaan. Selain itu, terkadang Allah ingin mendengar doa hamba-Nya lebih lama. Ketika seorang mukmin berdoa dengan penuh harap, ia sedang membangun kedekatan dengan Rabb-nya. Hubungan spiritual inilah yang menjadi salah satu hikmah besar dari doa. Banyak kisah dalam Al-Qur'an yang menunjukkan bagaimana para nabi menunggu dengan sabar terkabulnya doa mereka. Nabi Zakariya AS, misalnya, sambil berdoa memohon keturunan dalam usia yang sudah sangat lanjut. Meski tampak mustahil menurut pandangan manusia, Allah akhirnya mengabulkan doanya dengan lahirnya Nabi Yahya AS. Hal ini mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Selama kita masih hidup, pintu harapan selalu terbuka. Tugas kita bukan menentukan kapan doa dikabulkan, tetapi terus berdoa, berikhtiar, dan berbaik sangka kepada Allah SWT. Ketika doa terasa belum terkabul, jangan berhenti mengetuk pintu langit. Perbanyak istighfar, tingkatkan ibadah, perbaiki hubungan dengan sesama, dan teruslah memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang bersungguh-sungguh berharap kepada-Nya. Pada akhirnya, seorang mukmin akan menyadari bahwa semua ketetapan Allah adalah yang terbaik. Mungkin Allah mengabulkan sesuai yang diminta, mungkin menggantinya dengan yang lebih baik, atau mungkin menyimpannya sebagai hadiah yang luar biasa di akhirat kelak. Maka, ketika doa belum terkabul, jangan cepat menyerah. Tetaplah berdoa, bersabar, dan yakin bahwa Allah SWT selalu mendengar setiap bisikan hati hamba-Nya. Sebab dibalik setiap doa yang tertunda, ada hikmah dan kebaikan yang mungkin belum dapat kita pahami hari ini. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah tapi tentang bagaimana hati tetap tenang, ikhlas, dan terus berusaha mendekat kepada Allah SWT. Kebaikan sekecil apa pun akan selalu memiliki nilai besar di sisi Allah, terutama ketika dilakukan dengan tulus dan penuh kepedulian kepada sesama. Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi . Karena sejatinya, hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain Situs web resmi BAZNAS Untuk Melihat Artikel Lainnya klik link dibawah ini Artikel BAZNAS
02/06/2026 | BAZNAS

BAZNAS TV