Berita Terkini
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul.
Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya?
Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan.
Ketika Semua Disebut “Sedekah”
Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah.
Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda.
Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya.
Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial.
Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah?
Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu.
Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim)
Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah.
Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja.
Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri.
“Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?”
Di sinilah pemahaman menjadi penting.
Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan.
Semua itu adalah kebaikan.
Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat.
Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya.
Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan.
Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal.
Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?”
Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan.
Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi.
Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening.
Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain.
Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna
Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut.
Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya.
Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah.
Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan.
Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima.
Sederhana.
Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?"
Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan?
Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?"
Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri.
Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan
Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan.
Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat.
Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya.
Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama.
Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?"
Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh.
Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi?
Di sinilah perspektifnya perlu dibalik.
Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan.
Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang?
Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu.
Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan.
Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan.
Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan
Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan.
Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut.
Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”
Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan.
Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan
Bayangkan dua bentuk bantuan.
Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari.
Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan.
Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat.
Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?”
Inilah inti dari pemberdayaan.
Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan.
Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri.
ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan
Di sinilah masyarakat memiliki peran.
Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia.
Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?”
Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima
Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang.
Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita.
Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian.
Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi.
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut:
Ketua: Aceng Najmudin Nawawi
Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin
Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan
Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh
Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS
Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031.
Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi.
Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik.
BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS
Berita Pendistribusian
Artikel Terbaru
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
Ketika sebuah bencana terjadi, perhatian kita biasanya tertuju pada mereka yang menjadi korban. Kita melihat rumah yang rusak, jalan yang terendam, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau seseorang yang harus meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya.
Namun, ada satu hal yang sering luput kita sadari.
Musibah bukan hanya menguji orang yang mengalaminya. Musibah juga menguji orang yang melihatnya.
Ketika melihat seseorang kehilangan rumah karena banjir, apa yang muncul dalam diri kita? Apakah keinginan untuk membantu? Rasa iba? Keinginan untuk mendoakan? Atau justru dorongan untuk mencari tahu apa kesalahan yang dilakukan korban hingga musibah itu menimpanya?
Di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, penderitaan orang lain dapat muncul hanya dalam beberapa detik di layar ponsel. Kita bisa melihat video bencana, membaca berita tentang korban, bahkan mengetahui kondisi seseorang yang sedang mengalami kesulitan tanpa pernah bertemu dengannya.
Tetapi semakin mudah kita melihat penderitaan, bukan berarti semakin mudah pula kita memahami bagaimana seharusnya bersikap.
Rasulullah ? mengajarkan bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah ketika keadaan baik, tetapi juga tentang bagaimana hati kita merespons ketika melihat orang lain berada dalam keadaan sulit.
Ada setidaknya tiga sikap yang penting untuk kita tumbuhkan.
1. Menahan Diri Sebelum Memberikan Penilaian
Salah satu respons manusia ketika melihat suatu kejadian adalah mencari penjelasan.
Kita ingin tahu mengapa banjir terjadi. Mengapa kebakaran terjadi. Mengapa seseorang kehilangan pekerjaannya. Mengapa sebuah keluarga mengalami kesulitan.
Mencari sebab tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, mencari penyebab adalah bagian penting agar kesalahan dapat diperbaiki dan bencana serupa dapat dicegah.
Yang menjadi masalah adalah ketika mencari sebab berubah menjadi mencari kesalahan korban.
Di media sosial, misalnya, sebuah kabar tentang bencana terkadang segera diikuti komentar yang menghubungkan penderitaan seseorang dengan dosa, kesalahan pribadi, atau kualitas keagamaannya.
Padahal, kita tidak mengetahui seluruh keadaan seseorang.
Kita hanya melihat beberapa detik kehidupannya, lalu merasa memiliki cukup informasi untuk memberikan kesimpulan tentang hidupnya.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting yaitu tidak mengetahui adalah alasan untuk berhati-hati, bukan alasan untuk berspekulasi.
Sebagai Muslim, kita perlu belajar membedakan antara mengambil pelajaran dan menghakimi seseorang.
Kita boleh melihat sebuah bencana lalu bertanya, “Apa yang harus diperbaiki agar kejadian seperti ini tidak terulang?”
Kita boleh mengevaluasi tata ruang, lingkungan, perilaku manusia, sistem penanganan bencana, maupun kesiapan masyarakat.
Tetapi kita perlu berhati-hati ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Dosa apa yang dilakukan mereka sampai Allah menimpakan ini?”
Pertanyaan tersebut membawa kita memasuki wilayah yang tidak selalu kita ketahui.
Karena itu, salah satu bentuk kemuliaan seorang Muslim adalah kemampuan untuk menahan lidah ketika pengetahuan kita terbatas.
Tidak semua hal harus segera kita komentari. Tidak semua penderitaan membutuhkan penjelasan dari kita.
Kadang-kadang, mengatakan “Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi saya ingin membantu” justru menunjukkan kedewasaan iman.
2. Melihat Korban sebagai Manusia, Bukan Sekadar Sebuah Berita
Kita sering lupa bahwa di balik kata “korban bencana” terdapat manusia dengan kehidupan yang utuh.
Ada seorang ibu yang sedang memikirkan bagaimana memberi makan anaknya.
Ada seorang ayah yang kehilangan alat untuk mencari nafkah.
Ada seorang anak yang mungkin tidak lagi bisa tidur dengan tenang setelah mengalami bencana.
Ada seorang pedagang yang bukan hanya kehilangan barang dagangan, tetapi juga kehilangan modal untuk memulai kembali kehidupannya.
Ketika sebuah musibah diberitakan, angka dan gambar memang membantu kita memahami besarnya kejadian. Tetapi angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan penderitaan manusia.
Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk tidak kehilangan rasa kemanusiaan ketika melihat kesulitan orang lain.
Rasulullah ? bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman.”
(HR. Tirmidzi)
Pesannya sangat dalam, yaitu rahmat kepada manusia bukan sekadar perasaan lembut di dalam hati. Ia adalah sikap yang membuat kita memperlakukan penderitaan orang lain dengan penuh kasih.
Empati berarti kita mampu berhenti sejenak dari sudut pandang kita sendiri dan mencoba memahami bahwa apa yang bagi kita hanya sebuah berita, bagi orang lain mungkin merupakan titik paling berat dalam hidupnya.
Karena itu, sebelum berkomentar, kita bisa belajar bertanya, “Jika aku berada di posisi mereka, kata-kata seperti apa yang ingin kudengar?”
Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita berbicara.
Mungkin kita tidak dapat mengembalikan rumah mereka.
Mungkin kita tidak dapat menghapus kehilangan mereka.
Mungkin kita bahkan tidak mampu datang langsung ke lokasi.
Tetapi setidaknya, kita tidak menambah luka yang sudah mereka rasakan.
Inilah bentuk empati yang sering kali sederhana, tetapi justru semakin dibutuhkan di tengah derasnya informasi.
3. Mengubah Rasa Peduli Menjadi Tindakan Nyata
Merasa kasihan adalah hal yang manusiawi.
Melihat berita bencana lalu merasa sedih adalah hal yang wajar.
Namun, kepedulian akan kehilangan makna apabila ia hanya berhenti sebagai perasaan.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi penonton atas kesulitan sesamanya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.”
Ayat tersebut memberikan cara pandang yang lebih luas tentang kepedulian.
Kebaikan bukan hanya sesuatu yang kita rasakan, tetapi sesuatu yang dikerjakan bersama.
Karena itu, ketika melihat orang lain tertimpa musibah, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada perkataan “Kasihan sekali.”
Tetapi berkembang menjadi pertanyaan, “Apa yang bisa aku lakukan?”
Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama.
Ada yang dapat datang langsung ke lokasi. Ada yang dapat menjadi relawan. Ada yang dapat memberikan kebutuhan pokok. Ada yang dapat membantu menyebarkan informasi yang benar. Dan ada pula yang mungkin hanya mampu memberikan sebagian hartanya.
Semua memiliki ruang untuk berbuat.
Dalam konteks inilah zakat, infak, dan sedekah menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian sosial.
Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu sarana untuk menyalurkan kepeduliannya melalui pengelolaan dana ZIS agar dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk dalam berbagai kondisi kemanusiaan.
Artinya, ketika kita memberikan sebagian harta melalui lembaga pengelola zakat, kita tidak sekadar “memberikan uang”.
Kita sedang mengubah sesuatu yang awalnya hanya ada di dalam hati berupa rasa peduli menjadi tindakan yang memiliki kemungkinan untuk dirasakan manfaatnya oleh orang lain.
Dan di sinilah kepedulian menjadi lebih bermakna.
Jangan Jadikan Musibah Orang Lain sebagai Panggung untuk Menghakimi
Kita tidak selalu mengetahui mengapa sebuah musibah terjadi.
Kita tidak mengetahui seluruh hikmah yang Allah simpan di balik suatu kejadian.
Kita juga tidak memiliki kewenangan untuk dengan mudah menentukan bahwa penderitaan seseorang merupakan azab atau hukuman atas dosa tertentu.
Tetapi kita mengetahui satu hal bahwa ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, ia membutuhkan manusia lain untuk tidak berpaling darinya.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang musibah orang lain.
Bukan tentang “Mengapa mereka sampai mengalami ini?”. Tetapi, pada “Apa yang bisa aku lakukan ketika mereka sedang mengalami ini?”
Bukan, “Apa kesalahan mereka?”. Tetapi, “Apa pelajaran yang bisa aku ambil tanpa merendahkan mereka?”
Dan bukan hanya perkataan “Kasihan.”
Tetapi, “Bagaimana rasa kasihan ini bisa berubah menjadi kebaikan?”
Sebab, kualitas seorang Muslim tidak hanya terlihat ketika ia berada dalam keadaan lapang. Ia juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain yang sedang berada dalam keadaan sempit.
Ketika Allah memperlihatkan penderitaan seseorang kepada kita, mungkin yang sedang diuji bukan hanya mereka yang berada di tengah musibah.
Bisa jadi, kita yang menyaksikannya juga sedang diuji.
Diuji apakah kita akan memilih untuk menghakimi atau memahami.
Diuji apakah kita akan memilih untuk sekadar menonton atau membantu.
Diuji apakah kita akan membiarkan kepedulian berhenti sebagai rasa iba, atau mengubahnya menjadi amal nyata.
Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu mencegah setiap musibah yang terjadi.
Tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang manusia seperti apa kita setelah melihatnya.
Dan mungkin, salah satu bentuk kemuliaan yang diajarkan Rasulullah ? adalah ketika penderitaan orang lain tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari mereka, tetapi justru membuat kita semakin rendah hati, semakin penyayang, dan semakin terdorong untuk berbuat baik.
Jangan jadikan musibah orang lain sebagai bahan untuk merasa lebih suci. Jadikan ia sebagai kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi.
Jika hari ini ada saudara kita yang sedang tertimpa musibah, mungkin mereka sedang membutuhkan lebih dari sekadar ucapan belasungkawa.
Mungkin mereka membutuhkan kita untuk hadir.
Mungkin mereka membutuhkan doa.
Mungkin mereka membutuhkan bantuan.
Dan mungkin, melalui kesempatan itu, Allah sedang membuka jalan bagi kita untuk melakukan kebaikan.
Salurkan kepedulian melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS. Karena kepedulian yang paling berarti bukan hanya yang kita rasakan, tetapi yang akhirnya sampai kepada mereka yang membutuhkan.
07/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
Kita Terbiasa Bertanya “Mengapa?”, tetapi Jarang Bertanya “Untuk Apa?”
Banjir datang, kita mencari penyebabnya. Gempa terjadi, kita mencari informasi tentang pusat gempanya. Gunung erupsi, kita melihat status aktivitasnya. Ketika kebakaran hutan meluas, kita menghitung berapa hektare yang terbakar dan berapa banyak kerugian yang ditimbulkan.
Itu semua penting.
Kita memang perlu mengetahui apa yang terjadi agar dapat melakukan mitigasi, menyelamatkan korban, dan mencegah kerusakan yang lebih besar.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering tertinggal bahwa setelah semua ini terjadi, apa yang seharusnya kita sadari?
Sebab bencana bukan hanya tentang bangunan yang runtuh, jalan yang terputus, atau harta yang hilang. Di balik setiap peristiwa, selalu ada manusia yang dipaksa berhenti sejenak dari rutinitasnya dan berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Mungkin di situlah kita perlu belajar.
Bukan dengan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap bencana adalah hukuman Allah. Kita tidak memiliki pengetahuan untuk memastikan hal tersebut. Orang yang baik dapat mengalami musibah. Orang yang saleh pun dapat kehilangan rumah, harta, bahkan orang yang dicintainya.
Namun, sebagai seorang Muslim, kita juga tidak seharusnya melihat setiap peristiwa hanya sebagai kejadian yang selesai setelah diberitakan.
Ada peristiwa yang mungkin perlu kita jadikan bahan untuk bercermin.
Al-Qur’an Mengajak Kita Melihat Lebih Dalam
Allah berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya menyebut tentang kerusakan, tetapi juga menyebut sebuah tujuan yaitu “agar mereka kembali.”
Kembali kepada apa?
Kembali kepada kesadaran bahwa manusia tidak hidup tanpa batas. Kembali menyadari bahwa apa yang kita lakukan memiliki konsekuensi. Kembali memahami bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi amanah yang harus dijaga.
Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi hakim yang menunjuk korban bencana dan berkata, “Ini terjadi karena dosa mereka.”
Sebaliknya, ayat ini justru mengajak kita untuk bercermin.
Ketika lingkungan rusak, apakah cara hidup kita ikut berkontribusi?
Ketika masyarakat menjadi semakin rentan terhadap bencana, apakah pembangunan dan keputusan manusia sudah benar-benar mempertimbangkan keselamatan?
Ketika sebuah musibah terjadi, apakah kita hanya sibuk menyaksikannya, atau mulai menyadari bahwa kehidupan yang kita anggap aman ternyata sangat rapuh?
Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat bencana menjadi lebih dari sekadar berita.
Tidak Semua Bencana Disebabkan Manusia, tetapi Banyak Dampaknya Dipengaruhi Manusia
Ada hal yang perlu kita pahami dengan jernih.
Gempa bumi memiliki proses geologis. Gunung berapi memiliki aktivitas alamiah. Hujan memiliki siklusnya sendiri. Tidak adil jika setiap bencana langsung disederhanakan menjadi akibat dosa manusia.
Tetapi manusia tetap memiliki peran dalam menentukan seberapa besar sebuah peristiwa berubah menjadi tragedi.
Banjir mungkin berasal dari hujan deras, tetapi kerusakan lingkungan dan tata ruang yang buruk dapat memperbesar dampaknya.
Hutan dapat terbakar karena berbagai faktor alam maupun manusia, tetapi ketika lingkungan sudah rusak dan ekosistem kehilangan daya dukungnya, risikonya dapat menjadi semakin besar.
Bencana alam mungkin tidak selalu bisa kita cegah.
Tetapi kerentanan manusia terhadap bencana sering kali bisa kita kurangi.
Di sinilah kita perlu berhenti memandang alam hanya sebagai sesuatu yang berada “di luar sana”.
Apa yang kita buang, apa yang kita bangun, bagaimana kita menggunakan tanah, bagaimana kita mengelola sumber daya, bahkan bagaimana kita membuat keputusan ekonomi, semuanya dapat meninggalkan jejak.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya...”(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat tersebut seharusnya tidak hanya dibaca ketika terjadi bencana.
Ia juga perlu hadir dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari.
Karena menjaga bumi bukan hanya urusan pemerintah, aktivis lingkungan, atau lembaga tertentu.
Ia adalah bagian dari tanggung jawab manusia.
Mungkin Kita Terlalu Cepat Melupakan
Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada sebuah bencana yaitu ketika manusia kehilangan pelajaran setelah bencana berlalu.
Ketika bencana terjadi, kita terkejut.
Kita bersedih.
Kita mengirim doa.
Kita membagikan berita.
Kita mungkin ikut berdonasi.
Namun beberapa hari kemudian, perhatian kita kembali berpindah.
Berita baru datang. Tren baru muncul. Kesibukan kembali memenuhi hari.
Sementara bagi korban, kehidupan belum tentu kembali normal.
Rumah yang rusak masih harus diperbaiki.
Pendapatan yang hilang belum tentu kembali.
Anak-anak masih membutuhkan tempat belajar.
Kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi.
Dan luka karena kehilangan seseorang tidak selesai hanya karena pemberitaan tentang bencana sudah berhenti.
Bagi kita, bencana mungkin hanya berlangsung beberapa menit atau beberapa hari. Bagi sebagian orang, akibatnya bisa berlangsung bertahun-tahun.
Kesadaran seperti inilah yang perlu dibangun.
Empati bukan sekadar kemampuan merasa kasihan ketika melihat penderitaan.
Empati adalah kemampuan memahami bahwa kehidupan orang lain tetap berjalan setelah perhatian kita berpindah.
“Kembali” Bukan Hanya Tentang Menangis di Hadapan Allah
Kata kembali dalam QS. Ar-Rum: 41 seharusnya membuat kita berpikir lebih luas.
Kembali bukan hanya berarti takut ketika musibah datang, kemudian melupakan semuanya ketika keadaan membaik.
Kembali berarti memperbaiki hubungan kita dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan kita dengan kehidupan yang Allah titipkan.
Kembali berarti menggunakan harta dengan lebih bertanggung jawab.
Kembali berarti tidak menjadikan kebutuhan orang lain sebagai sesuatu yang tidak penting hanya karena kita tidak mengalaminya.
Kembali berarti menyadari bahwa kekuatan, ilmu, jabatan, harta, dan kemampuan yang kita miliki bukan hanya untuk diri sendiri.
Rasulullah ? juga mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang besar. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari, dan di antaranya termasuk membantu seseorang, mendamaikan orang yang berselisih, serta melakukan kebaikan.
Artinya, menjadi manusia yang bermanfaat bukan aktivitas musiman yang muncul ketika bencana menjadi viral.
Kepedulian seharusnya menjadi kebiasaan.
Ketika Kesadaran Harus Berubah Menjadi Tindakan
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk turun langsung ke lokasi bencana. Tidak semua orang memiliki keahlian mitigasi bencana. Tidak semua orang mampu membangun kembali rumah yang hancur.
Tetapi hampir setiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan.
Ada yang memiliki tenaga.
Ada yang memiliki ilmu.
Ada yang memiliki waktu.
Dan ada yang memiliki harta.
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki ruang yang sangat penting.
Ketika bencana terjadi, kebutuhan korban tidak berhenti pada rasa iba. Mereka membutuhkan makanan, kebutuhan dasar, dukungan kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga bantuan untuk kembali membangun kehidupan.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, kepedulian masyarakat dapat dihimpun dan diarahkan menjadi manfaat yang lebih terorganisasi.
BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata, baik melalui bantuan kemanusiaan maupun berbagai bentuk pemberdayaan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, kesadaran yang tidak pernah berubah menjadi tindakan akan tetap menjadi kesadaran yang tidak selesai.
Mungkin Kita Tidak Bisa Menghentikan Bencana, tetapi Kita Bisa Memilih Cara Meresponsnya
Kita mungkin tidak selalu mengetahui mengapa sebuah bencana terjadi.
Kita tidak boleh sembarangan menghakimi korban dan menyebut mereka sedang menerima hukuman Allah.
Namun kita juga tidak perlu menunggu jawaban atas semua pertanyaan tersebut untuk melakukan introspeksi.
Ketika bumi menunjukkan kerentanannya, kita bisa belajar menjaga.
Ketika manusia kehilangan tempat tinggal, kita bisa belajar berbagi.
Ketika sebuah keluarga kehilangan sumber penghidupan, kita bisa belajar bahwa kesejahteraan tidak boleh hanya dipahami dari apa yang kita miliki sendiri.
Dan ketika musibah mengingatkan kita bahwa hidup begitu rapuh, mungkin kita perlu kembali menyadari siapa sebenarnya diri kita.
Kita bukan pemilik mutlak kehidupan. Kita adalah manusia yang sedang dititipi kehidupan.
Mungkin karena itu, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada mereka yang berada di lokasi kejadian.
Ia juga bisa menjadi pertanyaan untuk kita yang menyaksikannya dari tempat yang aman:
Apa yang sedang Allah minta kita sadari?
Dan mungkin, jawaban paling penting bukan selalu tentang mengapa sesuatu terjadi.
Tetapi tentang apa yang akan kita ubah setelah melihatnya.
Sebab boleh jadi, pesan yang paling dalam dari sebuah peristiwa bukanlah agar kita terus hidup dalam ketakutan.
Melainkan agar kita kembali.
Kembali kepada Allah.
Kembali kepada tanggung jawab.
Kembali kepada kepedulian.
Dan kembali menjadi manusia yang ketika melihat penderitaan, tidak hanya berkata, “Semoga mereka dikuatkan,” tetapi juga bertanya,
“Apa yang bisa saya lakukan?”
07/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Kita biasanya baru merasa seseorang telah berbuat zalim ketika ada sesuatu yang terlihat hilang.
Uang kita diambil. Barang kita dicuri. Hak kita tidak diberikan. Kita merasa dirugikan karena ada sesuatu yang sebelumnya berada di tangan kita, lalu berpindah kepada orang lain.
Namun, manusia sebenarnya dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada harta.
Seseorang bisa kehilangan nama baik karena fitnah.Bisa kehilangan harga diri karena dipermalukan.Bisa kehilangan rasa aman karena ancaman.Bahkan bisa kehilangan kehidupannya karena kekerasan.
Yang menarik, semua itu memiliki satu kesamaan bahwa ada sesuatu yang menjadi hak manusia, tetapi dirusak atau dirampas oleh manusia lainnya.
Di sinilah Islam mengajarkan bahwa kezaliman tidak sesempit mengambil harta orang lain. Ada hak-hak manusia yang jauh lebih luas dan harus dijaga.
Kita Terlalu Sering Menganggap “Mengambil” Hanya Soal Harta
Ketika mendengar kata “merampas”, yang muncul di kepala kita mungkin adalah pencurian.
Padahal, seseorang tidak harus mengambil dompet untuk membuat orang lain kehilangan sesuatu.
Ucapan juga bisa mengambil.
Sikap juga bisa mengambil.
Kekuasaan juga bisa mengambil.
Bahkan ketidakpedulian, dalam keadaan tertentu, dapat membuat seseorang kehilangan sesuatu yang seharusnya ia miliki.
Kita bisa mengambil kesempatan seseorang dengan berlaku curang.Kita bisa mengambil nama baik seseorang dengan menyebarkan sesuatu yang tidak benar.Kita bisa mengambil rasa aman seseorang dengan intimidasi.Kita bisa mengambil ketenangan seseorang dengan terus merendahkannya.
Tidak semuanya masuk ke dalam catatan transaksi. Tidak semuanya bisa dihitung dalam rupiah. Tetapi bukan berarti semuanya tidak bernilai.
Ada kerugian yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi tercatat dalam luka manusia.
Karena itu, menjadi seorang Muslim bukan hanya belajar agar tangan kita tidak mengambil milik orang lain. Kita juga perlu belajar agar lisan, sikap, dan kekuasaan yang kita miliki tidak menjadi alat untuk merampas hak manusia lainnya.
Islam Menjaga Lebih dari Apa yang Kita Miliki
Dalam ajaran Islam, harta memang memiliki kedudukan yang harus dijaga. Al-Qur’an melarang manusia memakan harta orang lain dengan cara yang batil.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil...”(QS. Al-Baqarah: 188)
Namun perlindungan Islam terhadap manusia tidak berhenti pada harta.
Rasulullah ? juga memberikan gambaran yang sangat kuat tentang betapa seriusnya hak manusia dalam khutbah beliau. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau menyampaikan bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim merupakan sesuatu yang suci dan tidak boleh dilanggar.
Tiga hal ini menarik untuk direnungkan.
Harta adalah sesuatu yang berada dalam kepemilikan seseorang.
Kehormatan adalah sesuatu yang melekat pada martabat seseorang.
Darah atau kehidupan adalah hak paling mendasar yang membuat seseorang dapat menjalani hidupnya.
Seolah-olah Islam sedang mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak hanya memiliki sesuatu di luar dirinya. Manusia juga memiliki martabat yang harus dihormati dan kehidupan yang harus dilindungi.
Maka persoalannya bukan sekadar, “Apakah saya mengambil sesuatu milik orang lain?”
Tetapi lebih jauh “Apakah keberadaan saya membuat hak orang lain tetap aman?”
Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Sebab ia memaksa kita untuk melihat perilaku sendiri, bukan hanya kesalahan orang lain.
Kehormatan Tidak Terlihat, tetapi Kehilangannya Bisa Sangat Nyata
Kita mudah memahami ketika seseorang kehilangan uang.
Tetapi kehormatan tidak memiliki angka.
Tidak ada nominal untuk harga diri. Tidak ada kuitansi untuk nama baik. Tidak ada laporan bulanan yang mencatat berapa banyak rasa percaya diri seseorang yang hilang setelah dipermalukan.
Padahal dampaknya bisa panjang.
Seseorang yang terus-menerus dihina mungkin mulai meragukan dirinya sendiri.
Seseorang yang difitnah mungkin kehilangan kepercayaan orang lain.
Seseorang yang dipermalukan di depan banyak orang mungkin membawa luka itu jauh lebih lama daripada yang disadari pelakunya.
Inilah mengapa Islam juga memberikan perhatian besar terhadap lisan.
Allah berfirman:
“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka...”(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini bukan hanya tentang sopan santun.
Ia mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar bahwa kita tidak memiliki hak untuk menjadikan kehormatan manusia lain sebagai bahan untuk meninggikan diri sendiri.
Hari ini bentuknya bisa berupa ejekan. Bisa berupa komentar di media sosial. Bisa berupa membicarakan aib seseorang. Bisa berupa menjadikan kondisi orang lain sebagai hiburan.
Kita mungkin menganggapnya kecil karena kita tidak melihat akibatnya secara langsung.
Tetapi bagi orang yang menerimanya, mungkin tidak demikian.
Kemiskinan Tidak Menghapus Kehormatan
Di sinilah pembahasan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang kepedulian sosial.
Ada seseorang yang hidup berkecukupan.
Ada pula seseorang yang harus meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Perbedaan kondisi ekonomi tidak membuat nilai kemanusiaan mereka berbeda.
Sayangnya, dalam praktik kehidupan sosial, orang yang membutuhkan bantuan terkadang dipandang hanya sebagai “penerima”.
Padahal sebelum ia menjadi penerima bantuan, ia adalah manusia.
Ia memiliki nama.Ia memiliki keluarga.Ia memiliki perasaan.Ia memiliki rasa malu.Ia memiliki harga diri.
Karena itu, membantu seseorang tidak seharusnya membuat kita merasa memiliki hak untuk memperlakukan mereka sesuka hati.
Kita bisa memberikan bantuan, tetapi tetap merendahkan.
Kita bisa memberikan uang, tetapi mempermalukan.
Kita bisa memenuhi kebutuhan seseorang, tetapi mengambil kehormatannya dalam proses tersebut.
Jika demikian, kita perlu bertanya kembali tentang apakah bantuan benar-benar telah menjadi kebaikan jika cara memberikannya justru melukai martabat orang yang dibantu?
Islam tidak mengajarkan kepedulian yang membuat seseorang semakin kecil di hadapan manusia.
Allah bahkan mengingatkan:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.”(QS. Al-Baqarah: 263)
Ayat ini sangat dalam.
Allah tidak hanya melihat apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan penerimanya.
Artinya, kebaikan tidak hanya dinilai dari benda yang berpindah tangan.
Ada adab. Ada martabat. Ada perasaan manusia yang harus tetap dijaga.
Menolong Bukan Berarti Kita Berhak Merasa Lebih Tinggi
Di titik ini, kita mungkin perlu mengubah cara memandang sedekah dan zakat.
Memberi bukan berarti kita sedang berdiri lebih tinggi daripada orang lain.
Bisa jadi hari ini kita menjadi pihak yang memberi, tetapi kehidupan selalu berubah.
Hari ini kita sehat, besok mungkin membutuhkan pertolongan.
Hari ini kita memiliki pekerjaan, besok mungkin kehilangan penghasilan.
Hari ini kita mampu memenuhi kebutuhan keluarga, suatu saat mungkin kita sendiri berada dalam posisi yang membutuhkan bantuan.
Karena itu, ZIS seharusnya tidak melahirkan jarak antara “orang yang punya” dan “orang yang tidak punya”.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa manusia saling membutuhkan dan bahwa sebagian harta yang kita miliki memiliki hak yang harus ditunaikan.
Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah menjadi penting.
BAZNAS dan Tanggung Jawab Menyalurkan Kebaikan dengan Menjaga Martabat
Melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS hadir sebagai salah satu sarana agar kepedulian masyarakat dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan secara lebih terarah.
Namun nilai dari sebuah penyaluran tidak semestinya hanya dilihat dari berapa rupiah yang diberikan.
Lebih jauh, kita perlu melihat apakah bantuan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan, memberikan manfaat, dan tetap menjaga martabat penerimanya.
Sebab tujuan membantu bukan membuat seseorang merasa lebih rendah karena sedang menerima.
Tujuannya adalah agar seseorang dapat kembali memiliki ruang untuk berdiri.
Karena itu, ketika kita menunaikan zakat atau memberikan infak dan sedekah melalui lembaga pengelola zakat, kita sebenarnya sedang mempercayakan sebagian harta kita untuk menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan manusia lain.
Dan amanah tersebut tidak hanya tentang nominal.
Ia juga tentang bagaimana manusia diperlakukan.
Jangan Sampai Tangan Kita Bersih, tetapi Hak Orang Lain Tetap Terluka
Mungkin kita tidak pernah mencuri uang.
Tetapi pernahkah kita mengambil kesempatan orang lain?
Mungkin kita tidak pernah melakukan kekerasan.
Tetapi pernahkah ucapan kita membuat seseorang kehilangan harga dirinya?
Mungkin kita tidak pernah merampas sesuatu secara langsung.
Tetapi pernahkah kita menikmati keuntungan dari sesuatu yang sebenarnya merugikan orang lain?
Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim dibangun bukan hanya dengan memperbanyak ibadah pribadi, tetapi juga dengan menjaga hak manusia.
Sebab kesalehan tidak berhenti ketika kita selesai beribadah.
Ia terlihat ketika kita memiliki kesempatan untuk merugikan orang lain, tetapi memilih untuk tidak melakukannya.
Ia terlihat ketika kita mampu merendahkan seseorang, tetapi memilih menjaga lisannya.
Ia terlihat ketika kita memiliki lebih, lalu menyadari bahwa sebagian dari yang kita miliki memiliki hak orang lain.
Pada akhirnya, ada banyak cara untuk mengambil sesuatu dari manusia.
Ada yang mengambil hartanya.
Ada yang mengambil kehormatannya.
Ada yang mengambil kehidupannya.
Dan tugas seorang Muslim bukan hanya memastikan dirinya tidak menjadi orang yang mengambil. Lebih jauh, ia dipanggil untuk menjadi orang yang menjaga.
Menjaga harta.
Menjaga kehormatan.
Menjaga kehidupan.
Karena bisa jadi ukuran kebaikan kita bukan hanya tentang seberapa banyak yang telah kita berikan kepada orang lain, tetapi juga tentang seberapa sedikit hak orang lain yang terluka karena keberadaan kita.
Dan ketika Allah memberi kita kemampuan untuk membantu, semoga yang kita berikan tidak hanya sampai kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga sampai dengan cara yang membuat mereka tetap merasa dihargai sebagai manusia.
Sebab memberi sesuatu kepada seseorang adalah kebaikan. Tetapi memastikan ia tetap memiliki kehormatan ketika menerimanya adalah bagian dari kebaikan yang lebih dalam.
03/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
BAZNAS TV
Profil BAZNAS Kota Sukabumi
Penulis: BAZNAS
titipan Donasi para Donatur untuk anak pengidap Hydrosifalus
Penulis: BAZNAS






