WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan? Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul. Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya? Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan. Ketika Semua Disebut “Sedekah” Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah. Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya. Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial. Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah? Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu. Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim) Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah. Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja. Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri. “Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?” Di sinilah pemahaman menjadi penting. Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan. Semua itu adalah kebaikan. Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat. Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya. Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan. Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal. Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?” Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan. Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi. Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening. Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain. Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut. Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya. Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah. Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan. Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi? Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima. Sederhana. Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?" Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan? Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?" Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri. Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan. Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat. Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya. Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama. Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?" Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh. Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi? Di sinilah perspektifnya perlu dibalik. Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang? Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu. Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan. Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan. Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan. Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut. Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan Bayangkan dua bentuk bantuan. Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari. Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan. Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat. Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?” Inilah inti dari pemberdayaan. Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan. Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri. ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan Di sinilah masyarakat memiliki peran. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia. Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?” Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang. Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita. Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian. Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi. Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut: Ketua: Aceng Najmudin Nawawi Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031. Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi. Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik. BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS

Berita Pendistribusian

BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
Sukabumi – 2 September 2025. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi memberikan bantuan biaya hidup kepada Ibu Ai Fahmi, warga Gedong Panjang, Sukabumi, yang menjadi korban kebocoran gas. Insiden ini menyebabkan Ibu Ai Fahmi mengalami luka bakar serius pada wajah, tangan, dan kaki, serta kerusakan pada atap rumahnya. Bantuan berupa uang diserahkan tunai langsung oleh perwakilan BAZNAS di kediamannya. Musibah yang menimpa Ibu Ai Fahmi terjadi akibat ledakan pipa gas di rumahnya. Kejadian ini tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga merusak sebagian atap rumahnya. Segala aparatur pemerintah dimulai dari ke RT-an sampai pihak kelurahan Gedong Panjang membantu untuk pengobatan dan perbaikan rumah. Menanggapi laporan tersebut, BAZNAS segera bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Program bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi yang dialami korban. Bantuan tunai yang diberikan diharapkan dapat digunakan untuk biaya pengobatan, pemulihan, serta kebutuhan sehari-hari lainnya selama masa pemulihan. Ibu Ai Fahmi, dengan rasa haru, menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada BAZNAS, Kelurahan Gedong Panjang, dan para muzaki (donatur) yang telah menyalurkan hartanya melalui BAZNAS. “Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan ini. Ini sangat membantu kami di tengah musibah yang kami alami. Semoga Allah membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu,” ujarnya. Pemberian bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian BAZNAS terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang ditimpa musibah. BAZNAS berkomitmen untuk terus menyalurkan amanah zakat, infak, dan sedekah dari kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Aksi ini juga menjadi pengingat pentingnya peran lembaga filantropi Islam dalam membantu masyarakat yang kurang beruntung. Untuk saling membantu sesama melalui website resmi kami.
02/09/2025 | Faiz

Artikel Terbaru

Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi Kesulitan bisa datang tanpa aba-aba. Hari ini seseorang masih mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi esok hari kehilangan pekerjaan. Sebuah keluarga mungkin memiliki rumah untuk berteduh, hingga bencana datang dan membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Di tengah kondisi tersebut, satu hal menjadi sangat berarti, kepedulian. Sebab, kepedulian bukan hanya tentang merasa kasihan, tetapi tentang berani mengambil langkah untuk membantu. Melalui berbagai program, BAZNAS hadir menghubungkan kebaikan para muzaki, donatur, dan masyarakat dengan mereka yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan pangan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan. Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli Kepedulian kepada sesama bukan sekadar nilai sosial, tetapi juga bagian dari ajaran Islam. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”(QS. Al-Ma’idah: 2) Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa membantu sesama merupakan bentuk nyata dari kebajikan. Ketika ada saudara yang sedang menghadapi kesulitan, kita memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi. Kebaikan yang Kita Berikan Bisa Menjadi Harapan Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membantu orang lain. Beliau bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kepedulian memiliki nilai yang sangat besar. Bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi kita dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. BAZNAS Menjawab dengan Aksi Nyata Dari Zakat Menjadi Manfaat Zakat yang dikelola secara amanah dan tepat sasaran juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi kesenjangan sosial. Bukan sekadar memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, penyaluran zakat dapat diarahkan untuk membantu penerima manfaat agar memiliki kesempatan memperbaiki kondisi kehidupannya. Dukungan berupa pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, dan pendampingan dapat menjadi langkah untuk mendorong masyarakat agar perlahan mampu berdiri lebih mandiri. Di sisi lain, kontribusi masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas karena menghadirkan semangat gotong royong. Ketika banyak orang menyisihkan sebagian hartanya, kebaikan kecil tersebut dapat terkumpul menjadi manfaat yang lebih besar bagi mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS, kepedulian tersebut dapat diwujudkan menjadi aksi nyata yang menghadirkan bantuan, harapan, dan peluang untuk bangkit. Satu Kebaikan, Banyak Dampak Bayangkan ketika satu donasi bergabung dengan ribuan kebaikan lainnya. Bantuan yang terkumpul dapat membantu lebih banyak keluarga, mendukung anak-anak untuk terus belajar, atau memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali bangkit secara mandiri. Inilah kekuatan gotong royong dalam kebaikan. Sejauh Mana Kepedulian Kita Hari Ini? Pertanyaan terpenting bukan hanya “Mengapa mereka membutuhkan bantuan?”, tetapi juga “Apa yang bisa kita lakukan?” Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi sesuai kemampuan. Zakat dapat ditunaikan ketika telah memenuhi ketentuannya, sementara infak dan sedekah dapat menjadi jalan kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian Di luar sana, mungkin ada keluarga yang sedang menunggu uluran tangan. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada saudara yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Ada pula masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari keterbatasan ekonomi. Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah mereka. Tetapi kita bisa membantu meringankan satu kesulitan. Mari Bergerak Bersama BAZNAS Kepedulian tidak seharusnya berhenti pada rasa iba. Jadikan kepedulian sebagai aksi nyata melalui zakat, infak, dan sedekah. Hari ini, sebagian kecil dari apa yang kita miliki mungkin menjadi makanan bagi seseorang. Menjadi biaya pendidikan bagi seorang anak. Menjadi modal bagi keluarga untuk kembali mandiri. Atau menjadi harapan bagi mereka yang sedang berada di titik terberat kehidupannya. Mari salurkan kebaikan melalui BAZNAS dan jadikan setiap rupiah yang kita berikan sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Karena ketika kesulitan datang, kepedulian kita adalah jawaban. Sudahkah hari ini kita mengambil bagian dalam kebaikan?
09/09/2026 | BAZNAS
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan? Ada satu hal yang hampir selalu kita rasakan ketika mengeluarkan uang yaitu berkurang. Saldo Rp500.000 menjadi Rp400.000, kita tahu ada Rp100.000 yang keluar. Ketika membeli makanan, kita merasa mendapatkan sesuatu sebagai gantinya. Ketika membayar kebutuhan, kita memahami ke mana uang itu pergi. Namun, bagaimana ketika Rp100.000 tersebut kita keluarkan untuk infak atau sedekah? Tidak ada barang yang kita bawa pulang. Tidak ada saldo yang bertambah. Bahkan secara sederhana, uang kita memang berkurang. Lalu menariknya, Allah justru berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam mengenai mengapa Allah menjanjikan balasan bagi harta yang kita keluarkan? Apakah karena Allah membutuhkan harta kita? Tentu tidak. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Lantas, apa sebenarnya yang sedang Allah ajarkan melalui janji tersebut? Ketika Kita Menganggap Harta yang Keluar sebagai Kerugian Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah memperhatikan sesuatu yang hilang daripada sesuatu yang mungkin diperoleh. Kita menghitung uang yang keluar dengan sangat jelas. Tetapi sering kali kita tidak menghitung nilai dari kebaikan yang lahir setelah uang tersebut keluar. Misalnya, sejumlah uang yang kita infakkan mungkin berubah menjadi makanan bagi seseorang yang lapar, biaya pendidikan bagi seorang anak, pengobatan bagi orang yang membutuhkan, atau menjadi bagian dari program yang membantu seseorang bangkit dari kesulitan. Yang terlihat oleh kita mungkin hanya angka yang berkurang. Tetapi dalam pandangan Allah, nilai sebuah pemberian tidak berhenti pada nominalnya. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang “berapa yang hilang dari saya”. Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan infak. Bukan seperti uang yang hilang. Tetapi seperti sebutir benih yang ditanam dan kemudian tumbuh. Sesuatu yang keluar dari tangan ternyata tidak selalu berarti sesuatu yang lenyap. Ada kebaikan yang mungkin sedang tumbuh, meskipun kita belum dapat melihat hasilnya. Allah Sedang Mengajarkan Kita Cara Menghitung yang Berbeda Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Allah berbicara tentang balasan. Manusia terbiasa menghitung dengan cara yang terlihat. Berapa penghasilan?Berapa pengeluaran?Berapa tabungan?Berapa yang tersisa? Semua itu penting. Islam tidak mengajarkan manusia mengabaikan kebutuhan hidup atau mengeluarkan harta tanpa pertimbangan. Namun, kehidupan seorang Muslim tidak berhenti pada perhitungan dunia. Ada amal yang nilainya baru benar-benar terlihat ketika perhitungan dunia telah selesai. Allah berfirman: “Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”(QS. Al-Muzzammil: 20) Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan bahwa kebaikan yang kita lakukan sebenarnya sedang kita persiapkan untuk diri kita sendiri. Ketika seseorang berzakat, ia memang memberikan sebagian hartanya kepada yang berhak. Ketika seseorang berinfak, sebagian hartanya berpindah kepada kepentingan kebaikan. Ketika seseorang bersedekah, sebagian miliknya digunakan untuk membantu orang lain. Tetapi dalam perspektif akhirat, pemberian tersebut tidak berhenti pada penerima. Ada catatan amal yang tetap mengikuti pemberinya. Dengan kata lain, yang berpindah dari tangan kita belum tentu hilang dari kehidupan kita. Bisa jadi ia sedang berpindah bentuk menjadi pahala. Tetapi, Apakah Balasan Allah Selalu Berupa Uang? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Membaca bahwa Allah akan mengganti harta yang kita infakkan bukan berarti kita boleh memahami sedekah seperti transaksi bisnis dengan logika, seperti: “Saya keluarkan Rp100.000, berarti Allah harus mengembalikan Rp700.000 kepada saya.” Cara berpikir seperti itu justru terlalu sempit untuk memahami janji Allah. Allah memang menjanjikan balasan dan pelipatgandaan pahala. Tetapi kita tidak boleh menyempitkan balasan Allah hanya menjadi uang yang kembali ke rekening. Sebab sesuatu yang Allah berikan bisa hadir dalam bentuk yang tidak selalu dapat kita ukur dengan angka. Bisa berupa pahala. Bisa berupa keberkahan. Bisa berupa manfaat yang sampai kepada orang lain. Bisa berupa ketenangan hati. Dan yang paling penting, balasan yang Allah siapkan di akhirat. Rasulullah ? juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini bukan berarti setiap orang yang bersedekah akan melihat saldo rekeningnya otomatis bertambah. Lebih jauh dari itu, Rasulullah mengajarkan bahwa sedekah bukanlah kerugian sebagaimana yang mungkin dibayangkan manusia. Karena harta yang kita keluarkan di jalan Allah memiliki nilai yang melampaui angka yang terlihat. Jadi, Mengapa Allah Menjanjikan Balasan? Mungkin karena manusia membutuhkan jaminan bahwa kebaikan yang tidak terlihat tetap memiliki nilai. Bayangkan jika manusia hanya mau melakukan sesuatu ketika hasilnya dapat langsung dilihat. Kita mungkin hanya mau membantu jika nama kita disebut. Kita hanya mau memberi jika ada ucapan terima kasih. Kita hanya mau berbuat baik jika manfaatnya segera kembali kepada kita. Padahal iman mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ada kebaikan yang kita lakukan tanpa melihat hasilnya sekarang, karena kita percaya bahwa Allah melihat apa yang manusia tidak lihat. Di sinilah janji Allah menjadi penting. Janji itu bukan sekadar “hadiah” agar manusia mau mengeluarkan uang. Ia juga menjadi bentuk pendidikan bagi hati. Allah sedang mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran keuntungan. Sebab jika ukuran kita hanya apa yang bertambah di rekening, maka memberi akan selalu terasa sebagai kehilangan. Tetapi jika kita memahami bahwa kehidupan tidak berhenti pada dunia, maka sebagian harta yang kita keluarkan dapat dipandang sebagai amal yang sedang kita simpan untuk kehidupan yang lebih panjang. Jangan Sampai Kita Lebih Percaya pada Angka daripada Janji Allah Ada pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan kepada diri sendiri. Ketika akan mengeluarkan uang untuk bersedekah, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran? “Kalau saya kasih, uang saya berkurang.” Atau, “Allah sudah menjanjikan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia.” Keduanya menunjukkan cara pandang yang berbeda. Yang pertama hanya melihat apa yang ada di depan mata. Yang kedua melihat kehidupan dengan perspektif iman. Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menghitung kemampuan finansialnya. Justru kita perlu bijak dalam mengatur harta dan memenuhi kewajiban terhadap keluarga. Namun, jangan sampai kehati-hatian berubah menjadi ketakutan untuk berbagi. Jangan sampai kita begitu percaya kepada saldo rekening, tetapi ragu terhadap janji Allah. Sebab pada akhirnya, iman juga diuji melalui sesuatu yang paling sulit kita lepaskan: harta yang kita miliki. Zakat, Infak, dan Sedekah: Saat Harta Menjadi Amal Karena itu, zakat, infak, dan sedekah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai aktivitas “mengeluarkan uang”. Zakat adalah kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syaratnya. Infak dan sedekah menjadi ruang yang lebih luas bagi seorang Muslim untuk mengalirkan hartanya kepada kebaikan. Yang perlu dibangun bukan sekadar kebiasaan memberi, tetapi juga kesadaran tentang apa yang sedang kita lakukan. Ketika kita menunaikan zakat, kita sedang menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah. Ketika kita berinfak, kita sedang memilih untuk menggunakan sebagian harta pada jalan yang diridai-Nya. Ketika kita bersedekah, kita sedang melepaskan sebagian dari apa yang kita miliki dengan keyakinan bahwa kebaikan tersebut tidak akan sia-sia. Dan ketika semua itu dilakukan melalui pengelolaan yang amanah, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang. BAZNAS Menjadi Jembatan dari Harta Menjadi Kemanfaatan Di sinilah peran BAZNAS menjadi penting. Harta yang kita titipkan melalui BAZNAS tidak berhenti sebagai angka yang berpindah dari satu rekening ke rekening lain. Dana zakat, infak, dan sedekah dikelola untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai bentuk program. Artinya, ada proses yang menghubungkan niat seorang pemberi dengan manfaat yang diterima orang lain. Kita mungkin tidak mengetahui siapa yang akhirnya menerima manfaat dari dana yang kita keluarkan. Kita mungkin tidak melihat langsung bagaimana sebuah pemberian membantu seseorang. Namun, justru di situlah letak keindahan berbagi. Kita tidak selalu harus melihat hasilnya untuk percaya bahwa kebaikan itu bernilai. Allah sudah menjanjikan balasan-Nya. Tugas kita adalah berusaha menunaikan apa yang menjadi kewajiban, memperbanyak kebaikan sesuai kemampuan, dan memastikan harta yang dikeluarkan disalurkan melalui jalan yang baik dan amanah. Yang Keluar dari Tangan, Tidak Selalu Hilang Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah satu cara pandang sederhana. Tidak semua yang keluar dari tangan berarti berkurang. Ada harta yang keluar lalu menjadi makanan. Ada yang menjadi pendidikan. Ada yang menjadi pengobatan. Ada yang menjadi pertolongan. Dan ada pula yang menjadi amal yang menunggu untuk kita temui kembali di hadapan Allah. Maka ketika suatu hari kita mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, infak, atau sedekah, jangan hanya melihat angka yang berkurang. Ingatlah bahwa Allah telah mengajarkan kepada kita cara melihat yang lebih jauh. “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Bukan berarti kita memberi kepada Allah karena mengharapkan keuntungan seperti dalam sebuah transaksi. Kita memberi karena Allah memerintahkannya, karena ada manusia yang membutuhkan, dan karena kita percaya kepada janji-Nya. Sebab mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi tentang, “Berapa yang akan kembali kepada saya setelah saya memberi?” Melainkan, “Seberapa besar keyakinan saya kepada Allah ketika saya melepaskan sesuatu yang saya miliki?” Jika harta yang kita keluarkan hari ini menjadi sebab lahirnya kebaikan bagi orang lain, maka biarkan Allah yang menentukan bagaimana Dia membalasnya. Karena manusia hanya mampu menghitung apa yang terlihat. Allah mengetahui nilai dari setiap kebaikan yang bahkan tidak pernah kita lihat hasilnya. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui pengelolaan yang amanah bersama BAZNAS Kota Sukabumi, agar harta yang kita keluarkan tidak hanya menjadi pemberian, tetapi menjadi bagian dari kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh sesama.
09/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung Rezeki Bukan Hanya Tentang Apa yang Kita Miliki Setiap hari kita mengejar rezeki. Bekerja lebih keras, membangun usaha, mengejar karier, dan berusaha memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Ketika rezeki bertambah, hati tentu merasa bahagia. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa arti rezeki jika tak pernah berbagi? Rezeki bukan sekadar angka di rekening, rumah yang dimiliki, kendaraan yang digunakan, atau makanan yang tersaji di meja. Rezeki juga merupakan amanah yang di dalamnya terdapat hak dan kesempatan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Ketika sebagian rezeki kita digunakan untuk membantu sesama, apa yang kita miliki tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri. Ia dapat berubah menjadi makanan untuk keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan, hingga modal bagi seseorang untuk kembali bangkit. Islam Mengajarkan Rezeki untuk Dibagikan Allah SWT mengingatkan bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya merupakan titipan dan ujian. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”(QS. Al-Munafiqun: 10) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbagi adalah nikmat yang tidak selamanya ada. Selagi masih diberikan kemampuan, jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Berbagi Tidak Membuat Kita Kekurangan Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Beliau bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Secara sederhana, berbagi bukan tentang kehilangan sebagian dari apa yang kita punya. Berbagi adalah tentang mengubah sebagian rezeki menjadi manfaat yang nilainya jauh lebih besar bagi kehidupan orang lain. BAZNAS Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Dari Rezeki Menjadi Manfaat Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan mampu menyuarakan kesulitannya. Ada keluarga yang berusaha bertahan dengan penghasilan terbatas, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, hingga masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan akibat musibah. Di sinilah peran pengelolaan zakat, infak, dan sedekah menjadi penting. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS berupaya menyalurkan amanah masyarakat kepada mereka yang membutuhkan, baik dalam bentuk bantuan kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, tanggap bencana, maupun pemberdayaan ekonomi. Satu Rupiah Bisa Menjadi Harapan Jangan berpikir bahwa kebaikan harus selalu dimulai dari jumlah yang besar. Setiap kontribusi yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi bagian dari perubahan. Bayangkan jika rezeki yang kita sisihkan hari ini menjadi makanan bagi seseorang yang lapar. Menjadi perlengkapan sekolah bagi seorang anak. Menjadi bantuan bagi korban bencana. Atau menjadi modal yang membantu sebuah keluarga kembali memiliki penghasilan. Kebaikan kecil yang dilakukan bersama dapat menciptakan dampak yang besar. Sudahkah Rezeki Kita Memberi Manfaat? Kita mungkin tidak dapat membantu semua orang. Namun, kita selalu bisa membantu seseorang. Karena itu, pertanyaan tentang rezeki bukan hanya “Berapa banyak yang sudah kita dapatkan?”, tetapi juga “Berapa banyak manfaat yang sudah kita berikan?” Rezeki yang dibagikan dapat menjadi bentuk syukur. Zakat yang ditunaikan menjadi kewajiban yang membawa manfaat sosial. Infak dan sedekah menjadi jalan untuk memperluas kebaikan. Mari Berbagi Bersama BAZNAS Hari ini, mungkin ada seseorang yang sedang menunggu bantuan. Ada keluarga yang berharap dapat memenuhi kebutuhan makan. Ada anak yang ingin terus bersekolah. Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Jangan biarkan rezeki kita berhenti pada diri sendiri. Mari sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS. Jadikan apa yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan senyum, meringankan beban, dan menumbuhkan harapan. Sebab pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kebaikan yang mampu kita lahirkan darinya. Sudahkah rezeki kita hari ini menjadi manfaat bagi sesama?
09/09/2026 | BAZNAS

BAZNAS TV