WhatsApp Icon
banner
banner
banner
banner
banner

Berita Terkini

Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan? Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul. Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya? Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan. Ketika Semua Disebut “Sedekah” Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah. Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya. Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial. Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah? Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu. Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim) Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah. Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja. Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri. “Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?” Di sinilah pemahaman menjadi penting. Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan. Semua itu adalah kebaikan. Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat. Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya. Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan. Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal. Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?” Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan. Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi. Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening. Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain. Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut. Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya. Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah. Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan. Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi? Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima. Sederhana. Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?" Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan? Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?" Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri. Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan. Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat. Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya. Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama. Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?" Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh. Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi? Di sinilah perspektifnya perlu dibalik. Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang? Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu. Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan. Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan. Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan. Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut. Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan Bayangkan dua bentuk bantuan. Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari. Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan. Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat. Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?” Inilah inti dari pemberdayaan. Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan. Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri. ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan Di sinilah masyarakat memiliki peran. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia. Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?” Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang. Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita. Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian. Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi. Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut: Ketua: Aceng Najmudin Nawawi Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031. Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi. Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik. BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS

Berita Pendistribusian

BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
BAZNAS Beri Bantuan Biaya Hidup untuk Korban Kebocoran Gas di Gedong Panjang
Sukabumi – 2 September 2025. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi memberikan bantuan biaya hidup kepada Ibu Ai Fahmi, warga Gedong Panjang, Sukabumi, yang menjadi korban kebocoran gas. Insiden ini menyebabkan Ibu Ai Fahmi mengalami luka bakar serius pada wajah, tangan, dan kaki, serta kerusakan pada atap rumahnya. Bantuan berupa uang diserahkan tunai langsung oleh perwakilan BAZNAS di kediamannya. Musibah yang menimpa Ibu Ai Fahmi terjadi akibat ledakan pipa gas di rumahnya. Kejadian ini tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga merusak sebagian atap rumahnya. Segala aparatur pemerintah dimulai dari ke RT-an sampai pihak kelurahan Gedong Panjang membantu untuk pengobatan dan perbaikan rumah. Menanggapi laporan tersebut, BAZNAS segera bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Program bantuan ini bertujuan untuk meringankan beban ekonomi yang dialami korban. Bantuan tunai yang diberikan diharapkan dapat digunakan untuk biaya pengobatan, pemulihan, serta kebutuhan sehari-hari lainnya selama masa pemulihan. Ibu Ai Fahmi, dengan rasa haru, menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada BAZNAS, Kelurahan Gedong Panjang, dan para muzaki (donatur) yang telah menyalurkan hartanya melalui BAZNAS. “Alhamdulillah saya sangat bersyukur atas bantuan ini. Ini sangat membantu kami di tengah musibah yang kami alami. Semoga Allah membalas kebaikan semua pihak yang telah membantu,” ujarnya. Pemberian bantuan ini merupakan wujud nyata kepedulian BAZNAS terhadap sesama, khususnya mereka yang sedang ditimpa musibah. BAZNAS berkomitmen untuk terus menyalurkan amanah zakat, infak, dan sedekah dari kepada masyarakat yang membutuhkan secara tepat sasaran. Aksi ini juga menjadi pengingat pentingnya peran lembaga filantropi Islam dalam membantu masyarakat yang kurang beruntung. Untuk saling membantu sesama melalui website resmi kami.
02/09/2025 | Faiz

Artikel Terbaru

Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan Kita sering mengira masalah dalam sebuah kepemimpinan muncul ketika seseorang tidak mampu mengambil keputusan. Padahal ada persoalan yang jauh lebih sulit terlihat yakni ketika seseorang mampu memimpin, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Ia memiliki jabatan. Pendapatnya didengar. Keputusannya berpengaruh terhadap orang lain. Namun perlahan, sesuatu berubah. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi amanah mulai digunakan untuk mempertahankan harga diri. Kritik terasa seperti penghinaan. Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Kesalahan orang lain mudah terlihat, tetapi kesalahan sendiri selalu memiliki pembenaran. Di titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi “Apakah dia mampu memimpin?”, melainkan “Siapa yang sebenarnya sedang memimpin, akal dan amanahnya, atau egonya?” Kekuasaan Tidak Selalu Membuat Seseorang Lebih Besar Memiliki posisi sering kali membuat seseorang memiliki lebih banyak kendali. Seorang ayah memiliki pengaruh terhadap keluarganya. Seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap bawahannya. Seorang guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Bahkan seseorang yang tidak memiliki jabatan formal pun dapat memiliki pengaruh dalam lingkungan sosialnya. Namun pengaruh tidak otomatis berarti keunggulan. Justru semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula kemungkinan orang lain merasakan akibat dari keputusannya. Masalah muncul ketika kekuasaan mulai dianggap sebagai bukti bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain. Ia tidak lagi mendengar untuk memahami, tetapi mendengar untuk mencari alasan mengapa dirinya tetap benar. Ia tidak menerima kritik sebagai bahan evaluasi, tetapi sebagai ancaman terhadap citra dirinya. Ia ingin dihormati, tetapi lupa bahwa penghormatan tidak dapat dipaksa. Sebab orang mungkin dapat takut kepada seorang pemimpin, tetapi rasa takut tidak sama dengan rasa hormat. Ketika Kritik Terasa Seperti Serangan Salah satu ujian terbesar bagi seseorang yang memiliki posisi adalah bagaimana ia menerima kritik. Ketika dipuji, hampir semua orang mampu bersikap tenang. Tetapi ketika seseorang mengatakan, “Anda salah,” di situlah karakter mulai terlihat. Ego yang besar akan mencari pembelaan. “Dia tidak memahami saya.” “Dia tidak tahu apa yang saya lakukan.” “Dia memang tidak suka kepada saya.” Akhirnya, persoalan yang seharusnya dapat menjadi bahan perbaikan berubah menjadi persoalan harga diri. Padahal kritik tidak selalu merupakan bentuk kebencian. Kadang, kritik adalah cara orang lain menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat dari posisi kita sendiri. Karena itu, pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah dikritik. Pemimpin yang baik adalah orang yang masih mampu mendengarkan ketika kritik itu menyakitkan. Kepemimpinan dalam Islam Bukan Lisensi untuk Menguasai Islam memberikan pandangan yang sangat berbeda tentang kepemimpinan. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim) Perhatikan kata yang digunakan yaitu dipertanggungjawabkan. Kepemimpinan bukan terutama tentang berapa banyak orang yang berada di bawah kita. Ia tentang berapa banyak amanah yang harus kita pertanggungjawabkan. Seorang ayah tidak hanya memiliki hak untuk didengar oleh keluarganya, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi. Seorang atasan tidak hanya memiliki kewenangan memberikan tugas, tetapi juga tanggung jawab memperlakukan orang yang dipimpinnya secara adil. Seseorang yang diberi pengaruh tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menentukan arah, tetapi juga memperoleh kewajiban untuk mempertimbangkan dampak keputusannya. Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula amanah yang mengikutinya. Allah Tidak Menyukai Kesombongan Di sinilah pride atau kesombongan menjadi sesuatu yang perlu kita waspadai. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. An-Nisa: 36) Kesombongan bukan hanya tentang membanggakan harta atau merasa lebih tinggi secara terang-terangan. Ia dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya terlalu penting untuk dikoreksi. Ketika permintaan maaf terasa merendahkan martabat. Ketika mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan. Ketika orang lain harus terus memahami dirinya, sementara ia tidak merasa perlu memahami orang lain. Padahal, semakin tinggi seseorang berada dalam sebuah struktur, semakin penting baginya untuk memiliki kemampuan merendahkan ego tanpa merendahkan harga dirinya. Pemimpin Pertama yang Harus Ditaklukkan adalah Diri Sendiri Kita sering berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana seseorang dapat memimpin orang lain jika ia bahkan belum mampu memimpin egonya sendiri? Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Pengendalian diri adalah bentuk kepemimpinan yang paling dekat dengan kita. Menahan diri ketika ingin membalas. Mendengarkan ketika ingin memotong pembicaraan. Mengakui kesalahan ketika ego meminta kita mencari alasan. Memberikan kesempatan kepada orang lain ketika kita sebenarnya memiliki kekuasaan untuk memaksakan kehendak. Hal-hal kecil inilah yang menunjukkan apakah seseorang benar-benar memimpin, atau sekadar memiliki posisi. Dari “Saya Harus Dihormati” Menjadi “Saya Harus Bertanggung Jawab” Mungkin perubahan terbesar dalam cara memandang kepemimpinan terjadi ketika pusat perhatian bergeser. Dari “Bagaimana orang memperlakukan saya?” , menjadi “Bagaimana saya memperlakukan orang lain?”. Dari “Mengapa mereka tidak mengikuti saya?”, menjadi “Apakah saya sudah memberikan alasan yang layak untuk dipercaya?” Dan dari “Apa yang bisa saya dapatkan dari posisi ini?”, menjadi “Apa manfaat yang dapat saya berikan melalui posisi ini?” Cara berpikir seperti ini juga selaras dengan semangat berbagai program BAZNAS. Kepedulian dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, maupun keagamaan pada dasarnya mengingatkan kita bahwa kemampuan yang dimiliki manusia dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Begitu pula zakat, infak, dan sedekah. Ia mengajarkan bahwa apa yang berada dalam genggaman kita tidak semata-mata tentang hak untuk memiliki, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memberi manfaat. Ketika Ego Turun, Amanah Naik Mungkin kita tidak semuanya memiliki jabatan. Tetapi hampir setiap orang pernah berada dalam posisi untuk memengaruhi orang lain. Menjadi orang tua. Menjadi pasangan. Menjadi kakak. Menjadi teman. Menjadi atasan. Bahkan menjadi seseorang yang pendapatnya didengar. Maka artikel ini bukan hanya tentang pemimpin. Ini tentang kita. Sebab kursi kepemimpinan tidak selalu berbentuk jabatan. Kadang ia berbentuk rumah, keluarga, pekerjaan, atau kepercayaan seseorang kepada kita. Dan ketika suatu hari kita diberi kekuasaan, mungkin yang paling perlu kita takutkan bukan kehilangan posisi. Melainkan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara memimpin dengan menguasai, antara dihormati dengan ditakuti, dan antara amanah dengan kepentingan ego sendiri. Karena masalah terbesar bukan ketika seseorang duduk di kursi kepemimpinan. Masalahnya adalah ketika ego ikut duduk di sana dan tidak pernah mau turun.
27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi Teknologi hadir membawa banyak kemudahan. Dalam hitungan detik, kita dapat mencari informasi, bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga menjalankan bisnis. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Notifikasi yang terus bermunculan, media sosial yang membuat lupa waktu, serta hiburan tanpa batas dapat membuat seseorang kehilangan fokus dan menghabiskan waktu tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti. Menjadi Muslim produktif di era teknologi bukan berarti harus menjauhi perkembangan zaman. Justru, seorang muslim perlu mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk belajar, berkarya, mencari rezeki halal, dan memperbanyak manfaat bagi sesama. Produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang selesai, tetapi juga dari seberapa besar aktivitas tersebut membawa kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 1. Kelola Waktu Sebelum Waktu Mengendalikanmu Jangan Biarkan Teknologi Mencuri Waktu Salah satu kunci menjadi Muslim produktif adalah memiliki kemampuan mengatur waktu. Teknologi sering membuat seseorang merasa hanya menggunakan ponsel “sebentar”, tetapi tanpa sadar waktu telah berlalu berjam-jam. Allah SWT mengingatkan pentingnya waktu melalui QS. Al-'Asr: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”(QS. Al-'Asr: 1–3) Ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu merupakan amanah. Gunakan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat, bukan membiarkannya mengambil waktu untuk ibadah, keluarga, pekerjaan, dan belajar. 2. Jadikan Teknologi sebagai Alat untuk Berkarya Gunakan Kemudahan untuk Hal yang Bernilai Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan pengendali kehidupan. Internet dapat digunakan untuk mempelajari ilmu baru, mengembangkan usaha, mencari pekerjaan, membuat konten edukatif, hingga menggalang kepedulian sosial. Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”(HR. Muslim No. 2664) Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan digital. Jangan hanya menjadi konsumen informasi. Jadilah seseorang yang mampu menghasilkan manfaat melalui teknologi. Produktif Tidak Harus Selalu Sibuk Produktif bukan berarti harus bekerja tanpa istirahat. Produktif berarti mampu menentukan prioritas dan menyelesaikan hal-hal yang memang penting. Sisihkan waktu untuk salat, membaca Al-Qur'an, bekerja, belajar, beristirahat, dan berbagi. 3. Seimbangkan Kesuksesan Dunia dengan Kepedulian Produktivitas Harus Menghasilkan Manfaat Kesuksesan seorang Muslim tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Rezeki, ilmu, kemampuan, dan teknologi yang dimiliki seharusnya dapat menjadi jalan untuk membantu orang lain. Allah SWT berfirman: “Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”(QS. Asy-Syarh: 7–8) Ayat tersebut mengajarkan semangat untuk terus berusaha sekaligus mengarahkan harapan kepada Allah SWT. Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan Produktif juga berarti mampu mengubah hasil kerja menjadi manfaat. Ketika mendapatkan penghasilan yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, tunaikanlah zakat dengan amanah. Sebagian rezeki yang kita keluarkan dapat membantu keluarga yang membutuhkan, mendukung pendidikan anak, membantu pemberdayaan ekonomi, dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Bayangkan jika semakin banyak Muslim produktif menyisihkan hartanya untuk zakat. Teknologi yang digunakan untuk mencari rezeki dapat terhubung dengan gerakan kebaikan yang membantu lebih banyak orang. Saatnya Menjadi Muslim Produktif yang Berdampak Gunakan Teknologi, Jangan Dikuasai Teknologi Menjadi Muslim produktif di tengah gempuran teknologi membutuhkan disiplin, tujuan, dan kesadaran bahwa waktu adalah amanah. Kelola waktu dengan baik, manfaatkan teknologi untuk berkarya, dan jangan lupakan kepedulian kepada sesama. Dari Produktif Menjadi Bermanfaat Mari gunakan teknologi untuk memperluas kebaikan. Belajar lebih banyak, bekerja lebih sungguh-sungguh, berkarya dengan niat yang baik, dan sisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Jangan hanya menjadi generasi yang sibuk dengan teknologi. Jadilah generasi Muslim yang mampu menaklukkan teknologi, menghasilkan karya, dan menghadirkan manfaat nyata bagi sesama. Tunaikan zakat dan jadikan rezeki yang kita miliki sebagai jalan menuju keberkahan dunia sekaligus bekal akhirat.
27/08/2026 | BAZNAS
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia Setiap manusia menjalani perjalanan hidup dengan pilihan yang berbeda. Ada yang memilih jalan penuh kebaikan, kejujuran, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah SWT. Namun, ada pula yang perlahan menjauh karena terlena oleh kesenangan dunia, hawa nafsu, atau kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, kehidupan membawa kita pada satu pertanyaan penting, jalan mana yang ingin kita pilih, cahaya atau kegelapan? Dalam Islam, cahaya bukan sekadar simbol terang secara fisik. Cahaya menggambarkan petunjuk, keimanan, ilmu, dan amal saleh. Sebaliknya, kegelapan menggambarkan kesesatan, kelalaian, serta kehidupan yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. Setiap pilihan yang kita ambil hari ini dapat menentukan arah kehidupan kita di masa depan. Cahaya: Jalan yang Membawa Keberkahan Hidup dengan Iman dan Amal Jalan cahaya dimulai dari hati yang mengenal Allah SWT. Keimanan kemudian diwujudkan melalui ibadah dan perbuatan yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Allah SWT berfirman: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.”(QS. Al-Baqarah: 257) Ayat tersebut mengingatkan bahwa iman menjadi jalan menuju cahaya. Ketika hati dekat dengan Allah, seseorang memiliki pedoman untuk membedakan mana yang benar dan mana yang harus ditinggalkan. Cahaya yang Terlihat dari Kepedulian Cahaya kehidupan juga dapat hadir melalui kepedulian kepada sesama. Menolong orang yang kesulitan, berbagi makanan, mendukung pendidikan, dan menunaikan zakat merupakan bentuk nyata dari amal yang membawa manfaat. Rasulullah SAW bersabda: “Salat adalah cahaya.”(HR. Muslim No. 223) Ibadah tidak hanya membentuk hubungan dengan Allah, tetapi juga seharusnya mendorong seseorang untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sosial. Kegelapan: Ketika Hati Mulai Lalai Terlalu Sibuk Mengejar Dunia Kegelapan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Terlalu mengejar harta, terlena oleh kesenangan, mengabaikan ibadah, hingga tidak peduli terhadap penderitaan orang lain dapat membuat hati perlahan kehilangan kepekaan. Bukan berarti seorang muslim dilarang mencari kesuksesan dunia. Islam mengajarkan keseimbangan. Harta dan kesuksesan seharusnya menjadi sarana untuk berbuat baik, bukan alasan untuk melupakan Allah SWT. Ketika Harta Tidak Lagi Menghasilkan Manfaat Harta yang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dapat membuat seseorang lupa bahwa di dalam rezekinya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan. Zakat menjadi salah satu bentuk ketaatan yang mengajarkan bahwa sebagian harta memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.”(QS. Al-Baqarah: 43) Menunaikan zakat bukan sekadar memberikan sebagian harta. Di dalamnya terdapat kepedulian, tanggung jawab, dan harapan agar harta menjadi lebih berkah serta bermanfaat bagi masyarakat. Memilih Jalan Cahaya Mulai Hari Ini Kebaikan Tidak Harus Menunggu Sempurna Tidak ada manusia yang selalu sempurna. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki langkah. Mulailah dari ibadah yang lebih baik, menjaga kejujuran, memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan menunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat. Bayangkan ketika zakat dari banyak orang dikelola secara amanah. Kebaikan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak, membantu layanan kesehatan, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat agar lebih mandiri. Jadikan Harta sebagai Jalan Kebaikan Jangan biarkan rezeki hanya menjadi angka yang tersimpan tanpa manfaat. Jadikan sebagian harta sebagai cahaya bagi kehidupan orang lain. Salurkan zakat melalui lembaga terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola secara tepat dan menjangkau mereka yang membutuhkan. Hari ini kita diberi pilihan: terus berjalan dalam kelalaian atau mulai menyalakan cahaya kebaikan. Mari pilih jalan yang membawa keberkahan. Tunaikan zakat, bantu sesama, dan jadikan setiap rezeki yang kita miliki sebagai jalan menuju ridha Allah SWT. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup benar-benar berarti bukan hanya apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi kebaikan apa yang kita tinggalkan dan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
27/08/2026 | BAZNAS

BAZNAS TV