Berita Terkini
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul.
Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya?
Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan.
Ketika Semua Disebut “Sedekah”
Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah.
Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda.
Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya.
Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial.
Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah?
Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu.
Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim)
Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah.
Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja.
Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri.
“Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?”
Di sinilah pemahaman menjadi penting.
Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan.
Semua itu adalah kebaikan.
Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat.
Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya.
Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan.
Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal.
Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?”
Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan.
Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi.
Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening.
Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain.
Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna
Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut.
Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya.
Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah.
Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan.
Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima.
Sederhana.
Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?"
Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan?
Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?"
Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri.
Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan
Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan.
Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat.
Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya.
Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama.
Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?"
Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh.
Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi?
Di sinilah perspektifnya perlu dibalik.
Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan.
Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang?
Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu.
Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan.
Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan.
Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan
Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan.
Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut.
Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”
Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan.
Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan
Bayangkan dua bentuk bantuan.
Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari.
Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan.
Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat.
Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?”
Inilah inti dari pemberdayaan.
Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan.
Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri.
ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan
Di sinilah masyarakat memiliki peran.
Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia.
Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?”
Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima
Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang.
Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita.
Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian.
Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi.
Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut:
Ketua: Aceng Najmudin Nawawi
Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah
Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin
Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan
Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh
Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS
Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031.
Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat.
Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi.
Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik.
BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
13/08/2026 | BAZNAS
Berita Pendistribusian
Artikel Terbaru
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Ketika Semua Orang Berbicara, Tidak Semua Orang Benar-Benar Didengar
Ada masa ketika sebuah persoalan begitu besar sehingga hampir semua orang merasa perlu memiliki pendapat.
Berita muncul setiap hari. Potongan video beredar dari satu layar ke layar lain. Pernyataan dibalas dengan pernyataan. Kritik melahirkan pembelaan. Pembelaan kembali melahirkan kemarahan. Dalam waktu singkat, satu persoalan dapat berubah menjadi perdebatan panjang yang melibatkan begitu banyak orang.
Semua ingin didengar.
Semua merasa memiliki alasan.
Semua yakin sedang membela sesuatu yang penting.
Tidak ada yang salah dengan masyarakat yang berpikir dan bersuara. Kritik diperlukan. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan bersama. Bahkan diam terhadap persoalan yang salah bukan selalu tanda kebijaksanaan.
Namun ada sesuatu yang perlu kita renungkan ketika sebuah negeri terlalu lama tenggelam dalam pertengkaran.
Apa yang terjadi ketika semua orang sibuk berbicara, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar mendengarkan?
Sebab di tengah suara yang semakin keras, sering kali ada suara lain yang justru semakin sulit terdengar.
Suara seorang anak yang membutuhkan kesempatan untuk tetap belajar.
Suara keluarga yang sedang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Suara orang sakit yang membutuhkan pertolongan.
Suara lansia yang menjalani hari-harinya dengan keterbatasan.
Suara kelompok rentan yang tidak memiliki kekuatan, pengaruh, atau ruang sebesar mereka yang sedang berada di tengah perdebatan.
Mereka mungkin tidak memiliki mikrofon.
Tidak memiliki banyak pengikut.
Tidak memiliki kemampuan untuk membuat persoalan mereka menjadi perhatian banyak orang.
Tetapi kebutuhan mereka tidak berhenti hanya karena masyarakat sedang sibuk bertengkar.
Perdebatan Memiliki Cara untuk Mengambil Seluruh Perhatian Kita
Masalah sosial dan politik memiliki satu kekuatan besar karena ia mampu menyita perhatian.
Ketika sebuah isu menjadi perdebatan, kita ingin mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita mengikuti perkembangan terbaru, membaca komentar, melihat tanggapan, lalu mulai menentukan posisi.
Perhatian kita perlahan terkonsentrasi pada konflik.
Siapa yang mengatakan apa.
Siapa yang harus bertanggung jawab.
Siapa yang membela.
Siapa yang menyerang.
Siapa yang memenangkan perdebatan.
Tanpa sadar, kita dapat menghabiskan begitu banyak energi untuk mengikuti konflik, sampai lupa bahwa kehidupan tidak berhenti ketika perdebatan sedang berlangsung.
Seseorang tetap harus mencari nafkah.
Seorang ibu tetap memikirkan kebutuhan keluarganya.
Seorang anak tetap membutuhkan pendidikan.
Seorang pasien tetap membutuhkan perawatan.
Bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, persoalan hidup tidak dapat ditunda sampai keadaan negara kembali tenang.
Inilah yang terkadang luput dari perhatian kita.
Konflik dapat menjadi pusat pembicaraan, tetapi penderitaan tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjadi pusat perhatian.
Orang yang sedang kesulitan sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk ikut memperdebatkan keadaan. Mereka sedang sibuk bertahan.
Dan mungkin, justru karena itulah suara mereka harus lebih sengaja kita dengarkan.
Tidak Semua yang Membutuhkan Pertolongan Mampu Meminta Perhatian
Ada anggapan bahwa orang yang membutuhkan akan datang dan meminta bantuan.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Sebagian orang memilih diam karena merasa malu.
Sebagian tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Sebagian sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan sehingga menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang harus dijalani sendiri.
Sebagian lainnya bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan persoalan yang sedang mereka hadapi.
Di sinilah empati seharusnya bekerja.
Empati bukan hanya kemampuan untuk merasa iba setelah seseorang menceritakan penderitaannya.
Empati juga merupakan kemampuan untuk menyadari bahwa tidak semua penderitaan datang kepada kita dengan suara yang keras.
Ada kesulitan yang tersembunyi di balik seseorang yang tetap tersenyum.
Ada keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Ada anak yang datang ke sekolah setiap hari tanpa kita mengetahui betapa berat perjuangan keluarganya untuk mempertahankan pendidikannya.
Ada manusia yang tidak meminta untuk menjadi perhatian, tetapi tetap membutuhkan perhatian.
Karena itu, masyarakat yang beradab tidak hanya mendengarkan suara yang paling keras.
Ia juga berusaha mencari suara yang paling mudah diabaikan.
Islam Mengajarkan Kita untuk Tidak Kehilangan Arah di Tengah Keramaian
Islam tidak memisahkan keimanan dari kepedulian terhadap manusia.
Allah SWT berfirman:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”(QS. Al-Ma'un: 1–3)
Ayat ini memberikan sebuah renungan yang sangat mendalam.
Keberagamaan tidak hanya berbicara tentang apa yang kita yakini atau apa yang kita ucapkan. Ada ukuran lain yang terlihat dari cara kita memperlakukan manusia, terutama mereka yang berada dalam keadaan lemah.
Anak yatim mungkin tidak memiliki orang tua yang memperjuangkan kepentingannya.
Orang miskin mungkin tidak memiliki sumber daya untuk memperjuangkan kebutuhannya.
Kelompok rentan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membuat suaranya terdengar.
Karena itu, Islam justru memberikan perhatian besar kepada mereka.
Di tengah kehidupan yang penuh dengan kepentingan, kita diajarkan untuk tidak hanya melihat siapa yang paling kuat.
Kita juga diminta untuk memperhatikan siapa yang paling membutuhkan perlindungan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang di langit.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kasih sayang dalam ajaran Islam bukan kelemahan.
Ia bukan sikap pasif.
Kasih sayang adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia, bahkan ketika dunia sedang sibuk membagi dirinya menjadi berbagai kelompok.
Ketika Kebenaran Berubah Menjadi Kompetisi untuk Menang
Salah satu bahaya dari perdebatan yang terlalu panjang adalah perubahan tujuan.
Pada awalnya, seseorang mungkin ingin memperjuangkan sesuatu yang ia anggap benar.
Namun perlahan, fokusnya dapat bergeser.
Bukan lagi, “Apa yang benar?”. Tetapi, “Bagaimana agar saya tidak kalah?”
Bukan lagi, “Apa yang bisa diperbaiki?”. Tetapi, “Bagaimana membuktikan bahwa mereka salah?”
Di sinilah perdebatan dapat kehilangan manfaatnya.
Kita mulai lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memahami persoalan.
Lebih tertarik memenangkan argumen daripada mencari jalan keluar.
Lebih cepat merespons daripada mendengarkan.
Padahal tidak semua persoalan sosial dapat diselesaikan dengan menentukan siapa pemenang dalam sebuah perdebatan.
Ada persoalan yang membutuhkan tangan untuk bekerja.
Ada keluarga yang membutuhkan bantuan.
Ada anak yang membutuhkan akses pendidikan.
Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk membangun kembali kehidupannya.
Mereka tidak selalu membutuhkan kita untuk memenangkan perdebatan bagi mereka.
Kadang mereka membutuhkan kita untuk benar-benar hadir.
Kepedulian Tidak Boleh Menunggu Keadaan Menjadi Sempurna
Sering kali kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, keadaan harus lebih dulu stabil.
Ekonomi harus membaik.
Situasi harus tenang.
Kehidupan pribadi harus mapan.
Pendapatan harus lebih besar.
Semua persoalan harus selesai.
Namun jika kepedulian selalu menunggu keadaan yang sempurna, mungkin kita akan terus memiliki alasan untuk menundanya.
Padahal kehidupan tidak pernah sepenuhnya bebas dari masalah.
Selalu ada berita yang membuat kita khawatir.
Selalu ada persoalan yang membuat kita kecewa.
Selalu ada alasan untuk berkata, “Nanti saja.”
Justru di tengah keadaan yang tidak sempurna, kita perlu mengingat bahwa manusia lain juga sedang menjalani ketidaksempurnaan yang mungkin jauh lebih berat.
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh keadaan.
Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Satu orang mungkin tidak dapat menyelesaikan kemiskinan.
Tetapi banyak orang yang mengambil bagian dapat menciptakan perubahan yang lebih besar.
Inilah mengapa kepedulian membutuhkan ruang untuk bergerak.
Bukan hanya tinggal sebagai perasaan.
Dari Kebisingan Menuju Tindakan yang Memberi Manfaat
Mungkin kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan.
Tidak memiliki panggung untuk memengaruhi jutaan orang.
Tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang terjadi.
Tetapi kita masih memiliki satu pertanyaan yang dapat menentukan posisi kita dalam kehidupan sosial yakni setelah mengetahui semua persoalan ini, apa yang dapat saya lakukan?
Pertanyaan tersebut mengubah kita dari sekadar penonton menjadi bagian dari solusi.
Jawabannya tentu tidak harus sama bagi setiap orang.
Ada yang berkontribusi melalui ilmu.
Ada yang bekerja melalui profesinya.
Ada yang menggunakan waktunya untuk menjadi relawan.
Ada yang memberikan tenaga.
Dan bagi mereka yang memiliki kemampuan, sebagian rezeki dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat melalui zakat, infak, dan sedekah.
Di sinilah BAZNAS memiliki ruang yang penting.
BAZNAS bukan sekadar tempat seseorang menyalurkan dana. Lebih dari itu, ia menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan kepedulian masyarakat dengan kebutuhan mereka yang membutuhkan.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan keagamaan, zakat, infak, dan sedekah dapat bergerak dari niat menjadi tindakan.
Dari kepedulian menjadi bantuan.
Dari bantuan menjadi kesempatan.
Dan dari kesempatan, seseorang dapat memiliki ruang untuk melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik.
Jangan Sampai Suara yang Paling Keras Membuat Kita Lupa Mendengar yang Paling Membutuhkan
Sebuah negeri akan selalu memiliki perbedaan.
Akan selalu ada kritik.
Akan selalu ada perdebatan.
Akan selalu ada persoalan yang membuat masyarakat marah, kecewa, bahkan kehilangan kepercayaan.
Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang mengenai kemampuan kita untuk melihat manusia di balik seluruh persoalan.
Ketika kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang benar, jangan sampai ada manusia yang tidak lagi terlihat.
Ketika kita terlalu sibuk mengikuti konflik, jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan belajar tanpa pernah menjadi perhatian.
Ketika kita terlalu sibuk memenangkan pendapat, jangan sampai ada keluarga yang sedang berjuang sendirian tanpa pernah kita dengar.
Barangkali tidak semua perubahan harus dimulai dari panggung yang besar.
Sebagian perubahan dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak membiarkan hati kita ikut terseret oleh kebisingan.
Untuk tetap berpikir sebelum bereaksi.
Untuk tetap adil ketika memiliki perbedaan.
Dan yang paling penting, untuk tetap peduli ketika orang lain mulai terlalu sibuk memperjuangkan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat mungkin bukan hanya terlihat dari seberapa keras ia menyuarakan pendapat.
Tetapi juga dari seberapa jauh ia masih mampu mendengar mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Di tengah negeri yang penuh dengan suara, jangan sampai kita hanya menjadi orang yang pandai berbicara.
Belajarlah juga menjadi manusia yang mampu mendengar.
Sebab terkadang, orang yang paling membutuhkan pertolongan bukan mereka yang paling keras meminta perhatian, melainkan mereka yang selama ini tidak pernah memiliki kesempatan untuk didengar.
28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ironi Zakat: Ketika 26 Juta Mustahik Masih Terjebak dalam Kemiskinan
Ironi Zakat: Ketika 26 Juta Mustahik Masih Terjebak dalam Kemiskinan
Ironi Zakat di Negeri dengan Potensi Besar
Ironi zakat kembali menjadi pertanyaan besar ketika potensi zakat Indonesia begitu besar, tetapi persoalan kemiskinan masih nyata di tengah masyarakat. BAZNAS memperkirakan potensi zakat nasional mencapai sekitar Rp327 triliun, sementara realisasi penghimpunannya masih jauh dari potensi tersebut.
Di sisi lain, data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2025 masih mencapai 23,36 juta orang, atau 8,25 persen dari penduduk Indonesia.
Angka tersebut memang tidak sama dengan jumlah mustahik karena mustahik mencakup kelompok penerima zakat sesuai ketentuan syariat. Namun, kondisi ini tetap menunjukkan bahwa masih ada jutaan masyarakat yang membutuhkan dukungan agar dapat keluar dari kesulitan ekonomi.
Lalu, mengapa ironi zakat ini masih terjadi?
Mengapa Potensi Zakat Belum Maksimal?
1. Kesadaran Membayar Zakat Belum Merata
Sebagian masyarakat sudah terbiasa menunaikan zakat fitrah, tetapi pemahaman mengenai zakat maal, zakat penghasilan, dan kewajiban zakat lainnya belum sepenuhnya merata.
Padahal, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Zakat merupakan kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat. Ketika zakat ditunaikan, harta tidak hanya menjadi lebih bersih, tetapi juga memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
2. Potensi Besar Belum Terhimpun Optimal
Potensi Rp327 triliun menunjukkan betapa besarnya kekuatan zakat sebagai instrumen ekonomi umat. Namun, BAZNAS mencatat realisasi penghimpunan masih jauh di bawah potensi tersebut.
Zakat Bisa Menjadi Kekuatan Pengentasan Kemiskinan
Jika penghimpunan meningkat dan dikelola secara amanah, profesional, serta tepat sasaran, zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
3. Bantuan Harus Berlanjut hingga Pemberdayaan
Memberikan makanan kepada keluarga yang kelaparan sangat penting. Membantu biaya kesehatan juga merupakan bentuk kepedulian yang nyata.
Namun, persoalan kemiskinan tidak selalu selesai dengan bantuan sesaat.
Zakat juga perlu diarahkan pada pemberdayaan ekonomi, seperti modal usaha, pelatihan keterampilan, akses pasar, pendidikan, dan pendampingan. BAZNAS sendiri menempatkan pemberdayaan sebagai bagian penting agar mustahik dapat berkembang menjadi lebih mandiri.
Zakat dalam Pandangan Al-Qur'an
Allah SWT berfirman:
QS. At-Taubah Ayat 103
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Zakat membersihkan harta orang yang menunaikannya dan menghadirkan manfaat bagi penerimanya.
Saatnya Mengubah Ironi Menjadi Harapan
Ironi zakat seharusnya tidak membuat kita kehilangan harapan. Justru, kondisi ini menjadi pengingat bahwa masih ada potensi besar yang dapat dioptimalkan.
Rasulullah ? bersabda:
“Barang siapa melapangkan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pada hari kiamat.”(HR. Muslim)
Satu Zakat, Satu Harapan
Bayangkan ketika zakat yang kita tunaikan berubah menjadi makanan bagi keluarga yang kelaparan, biaya sekolah bagi anak dhuafa, pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan, atau modal bagi seseorang untuk memulai usaha.
Dari situlah zakat bukan hanya menjadi angka, tetapi menjadi jalan perubahan kehidupan.
Jangan Biarkan Kemiskinan Berlanjut
Membayar zakat melalui lembaga pengelola zakat yang resmi dan terpercaya dapat membantu memastikan dana dikelola secara terarah dan disalurkan melalui program yang sesuai kebutuhan mustahik.
Hari ini, mungkin zakat yang kita keluarkan terasa kecil dibandingkan besarnya persoalan kemiskinan. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, zakat tersebut bisa menjadi awal dari sebuah perubahan besar.
Mari Tunaikan Zakat Hari Ini
Jangan biarkan ironi zakat berhenti sebagai sebuah berita atau angka statistik.
Tunaikan zakat Anda. Salurkan infak dan sedekah terbaik Anda. Jadilah bagian dari gerakan yang membantu mustahik bangkit, mandiri, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena ketika satu orang terbantu, satu keluarga bisa kembali berharap. Dan ketika semakin banyak orang peduli, semakin besar pula peluang untuk memutus rantai kemiskinan.
28/08/2026 | BAZNAS
Tidak Semua yang Sah Itu Adil
Tidak Semua yang Sah Itu Adil
Ada satu kalimat yang sering kita dengar ketika sebuah persoalan diperdebatkan yaitu “Kan sudah sesuai aturan.”
Kalimat itu memang dapat mengakhiri perdebatan secara administratif. Jika sesuatu telah memenuhi prosedur, memiliki dasar hukum, dan dinyatakan sah, kita cenderung menganggap persoalannya selesai.
Namun, apakah sesuatu yang sah secara hukum otomatis adil bagi semua orang?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Sebab hukum dan keadilan tidak selalu berbicara dari sudut pandang yang sama. Hukum mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sementara keadilan mengajak kita melihat lebih jauh mengenai siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung akibat, dan apakah hak manusia tetap terlindungi setelah sebuah aturan diterapkan.
Legalitas Tidak Selalu Mengakhiri Persoalan
Bayangkan sebuah keputusan yang secara prosedural benar. Semua dokumen lengkap, seluruh tahapan telah dilalui, dan tidak ada aturan yang secara langsung dilanggar.
Tetapi setelah diterapkan, sebagian masyarakat justru merasakan beban yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
Secara administratif mungkin tidak ada persoalan.
Namun secara sosial, persoalannya belum tentu selesai.
Inilah alasan mengapa masyarakat tidak seharusnya kehilangan kemampuan untuk bertanya hanya karena mendengar kalimat, “sudah sesuai aturan.”
Bertanya bukan berarti menolak hukum. Mempertanyakan dampak bukan berarti membenci pemerintah. Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu membedakan antara ketaatan terhadap aturan dan kesadaran terhadap akibat dari sebuah tindakan.
Sebab sebuah aturan pada akhirnya tidak hidup di atas kertas. Ia diterapkan kepada manusia yang memiliki kondisi, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda.
Hukum Mengatur Perbuatan, Keadilan Melihat Dampaknya
Ada perbedaan sederhana tetapi penting.
Hukum dapat bertanya mengenai “Apakah tindakan ini diperbolehkan?”. Keadilan juga bertanya mengenai “Apa yang terjadi setelah tindakan ini dilakukan?”
Dua pertanyaan tersebut tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama.
Sesuatu dapat diperbolehkan, tetapi penerapannya tetap membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan ketimpangan, merugikan pihak yang rentan, atau menghilangkan hak orang lain.
Karena itu, menjadi masyarakat yang berpikir kritis bukan berarti selalu curiga terhadap aturan. Justru sebaliknya, kita perlu belajar memahami tujuan, dampak, dan manusia yang berada di balik sebuah keputusan.
Jika hanya melihat aturan tanpa melihat manusia, kita dapat menjadi sangat tertib tetapi kehilangan kepekaan.
Dan jika hanya melihat kepentingan tanpa memedulikan aturan, kita dapat menjadi sangat kritis tetapi kehilangan keteraturan.
Keadilan membutuhkan keduanya yakni aturan yang baik dan kesadaran moral dalam menjalankannya.
Celah Aturan Bisa Menjadi Ujian bagi Moralitas
Persoalan menjadi lebih rumit ketika manusia mulai mencari bukan bagaimana menjalankan aturan dengan benar, tetapi bagaimana memanfaatkan celah di dalamnya.
Ada perbedaan besar antara “Bagaimana saya dapat mematuhi aturan ini dengan benar?” dan “Bagaimana saya bisa mendapatkan keuntungan tanpa secara langsung melanggar aturan?”
Secara bahasa, keduanya mungkin terlihat tidak terlalu berbeda.
Tetapi secara moral, jaraknya sangat jauh.
Di sinilah karakter seseorang diuji.
Karena orang yang hanya takut pada hukuman akan berusaha tidak melanggar ketika ada yang mengawasi. Tetapi orang yang memiliki kesadaran takwa akan mempertimbangkan sesuatu bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Ia tidak hanya bertanya “Apakah saya bisa lolos?”. Tetapi, “Apakah yang saya lakukan benar?”
Islam Tidak Mengajarkan Kita Berhenti pada “Tidak Melanggar”
Dalam Islam, keadilan bukan sekadar konsep sosial. Ia merupakan bagian dari perintah Allah.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan, sekalipun keadilan tersebut berhadapan dengan kepentingan diri sendiri, orang tua, atau kerabat.
Pesannya sangat dalam.
Keadilan tidak boleh berubah hanya karena siapa yang sedang kita bela.
Prinsip yang sama juga ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8. Allah mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat seseorang berlaku tidak adil.
Artinya, Islam tidak memberikan ruang bagi standar moral yang berubah-ubah berdasarkan kepentingan.
Kalau sesuatu salah ketika dilakukan orang lain, ia tetap salah ketika dilakukan oleh orang yang kita sukai.
Kalau sebuah tindakan dianggap tidak adil ketika merugikan kita, kita juga perlu menganggapnya tidak adil ketika justru menguntungkan kita.
Di situlah keadilan menjadi prinsip, bukan sekadar alat untuk memenangkan kepentingan.
Yang Perlu Ditakuti Bukan Hanya Hukum yang Lemah
Kita sering berbicara tentang pentingnya hukum yang kuat.
Tentu saja hukum yang baik dan penegakan hukum yang adil sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar berkaitan dengan hati manusia yang terbiasa mencari pembenaran.
Kita mungkin pernah mengatakan, “Yang penting tidak ketahuan.” “Semua orang juga melakukannya.” “Tidak ada aturan yang melarang.” “Kalau diperbolehkan, berarti tidak masalah.”
Kalimat-kalimat seperti itu terlihat sederhana.
Namun jika terus dipelihara, kita perlahan membangun cara berpikir bahwa sesuatu hanya salah ketika ada hukuman.
Padahal bagi seorang Muslim, pertanggungjawaban tidak berhenti di hadapan manusia.
Allah mengetahui sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui siapa pun.
Karena itu, ukuran kebaikan tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “boleh atau tidak?”
Ada pertanyaan yang lebih tinggi yaitu tentang “Apakah ini benar-benar adil?”
Hak Orang Lain Tidak Selalu Datang dalam Bentuk Tuntutan
Menariknya, prinsip ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak semua hak orang lain datang dengan surat tuntutan.
Ada hak keluarga yang harus dipenuhi.
Ada hak pekerja yang harus dihargai.
Ada hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
Ada hak orang yang sedang kesulitan untuk mendapatkan pertolongan.
Ada pula hak masyarakat untuk hidup dengan martabat.
Dalam konteks inilah zakat memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar aktivitas memberi.
Al-Qur’an dalam QS. At-Taubah ayat 60 menjelaskan kelompok-kelompok yang berhak menerima zakat. Sementara QS. Adz-Dzariyat ayat 19 menggambarkan bahwa dalam harta orang-orang beriman terdapat hak bagi orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta.
Maka, berbagi bukan semata-mata tentang kemurahan hati.
Ada kesadaran bahwa harta membawa tanggung jawab.
BAZNAS dan Kesadaran tentang Hak yang Harus Ditunaikan
Di sinilah nilai zakat, infak, dan sedekah menjadi relevan dengan pembahasan tentang keadilan.
Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki ruang untuk menyalurkan kepedulian secara terarah kepada mereka yang membutuhkan.
Tetapi maknanya tidak berhenti pada “memberikan bantuan”.
Lebih jauh, ZIS mengajarkan sebuah cara berpikir tentang apa yang kita miliki tidak selalu hanya berbicara tentang hak kita, tetapi juga tentang tanggung jawab kita.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk menggunakan seluruh hartanya bagi dirinya sendiri.
Namun kemampuan tersebut tidak berarti bahwa seluruhnya harus digunakan hanya untuk kepentingan pribadi.
Di dalam Islam, kepemilikan selalu memiliki dimensi tanggung jawab.
Karena itu, zakat tidak seharusnya dipandang hanya sebagai pengurangan harta.
Ia juga merupakan latihan untuk menyadari bahwa kehidupan tidak dibangun oleh kepentingan diri sendiri saja.
Menjadi Muslim Bukan Sekadar Taat pada Aturan
Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang yang mengetahui aturan.
Kita membutuhkan manusia yang memahami mengapa aturan itu ada, siapa yang dilindungi, dan bagaimana tindakan kita memengaruhi orang lain.
Hukum diperlukan agar kehidupan memiliki batas.
Keadilan diperlukan agar batas tersebut tidak kehilangan tujuan.
Dan takwa diperlukan agar manusia tetap melakukan yang benar bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Maka, sebelum mengatakan, “Ini sah.”
mungkin ada baiknya kita belajar menambahkan satu pertanyaan, “Tetapi apakah ini adil?”
Dan sebelum menuntut orang lain menaati aturan, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya menggunakan sesuatu yang diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang secara moral tidak seharusnya saya lakukan?”
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya akan berhadapan dengan hukum yang tertulis di dunia.
Ada pertanggungjawaban yang jauh lebih besar.
Tidak semua yang sah itu adil. Dan tidak semua yang lolos dari hukum berarti lolos dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
BAZNAS TV
Profil BAZNAS Kota Sukabumi
Penulis: BAZNAS
titipan Donasi para Donatur untuk anak pengidap Hydrosifalus
Penulis: BAZNAS






