WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat? Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat. Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat? Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103). Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki. Ketika Harta Justru Menjadi Ujian Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan. Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan? Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal. Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan. Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Zakat Adalah Bagian dari Ibadah Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam. “Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari). Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama. Dari Harta Menjadi Manfaat Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan. Ada Kehidupan yang Bisa Berubah Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit. Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain. Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.” Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya? Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah. Sudahkah Kita Menunaikan Zakat? Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban. Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut. Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik. Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.
ARTIKEL10/09/2026 | BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang. Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri. Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup? 1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan. Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan. Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai. Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil. 2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan. Allah SWT berfirman: ?????? ????? ??????? ??????? “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”(QS. Taha: 114) Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya. 3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian. Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan. Dari Mustahik Menjadi Mandiri Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif. Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri. 4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai. Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan. Allah SWT mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan. 5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”(QS. Al-Insan: 8) Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya. Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera. Rasulullah SAW bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.
ARTIKEL10/09/2026 | BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang? Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi. 7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan 1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir. Allah SWT berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”(QS. At-Takatsur: 1–2) Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama. 2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”(QS. Al-'Asr: 1–2) Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok. 3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”(HR. Bukhari) Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki. 4. Harta Adalah Amanah Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”(QS. Al-Hadid: 7) Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut. 5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat. Dari Angka Menjadi Harapan Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan. 6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang: “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”(QS. Al-Munafiqun: 10) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas. 7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain. Tinggalkan Jejak yang Bermakna Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan. Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita. Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan. Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.
ARTIKEL10/09/2026 | BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia? Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama. Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim. Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya. Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri? Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang? Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah? Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia? Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain. Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama. Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat. Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan? Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita? Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita? Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita? Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya. Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai. Allah berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”(QS. Al-'Ankabut: 45) Ayat ini menarik untuk direnungkan. Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang. Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri. Lebih sadar sebelum menyakiti. Lebih berhati-hati sebelum menghakimi. Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah. Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?” Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un. Allah berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”(QS. Al-Ma’un: 1–3) Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan. Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah. Menghardik anak yatim. Tidak peduli kepada orang miskin Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama. Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama. Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?” Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?” Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka merasa aman? Apakah mereka merasa tidak dipermalukan? Apakah mereka merasakan keadilan? Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita? Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama. Justru sebaliknya. Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi. Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya. Nabi Muhammad ? bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”(HR. Bukhari dan Muslim) Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan. Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita. Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba. Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia. Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik. Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan. Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya. Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita. Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki. Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi. Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Ada paradoks yang perlu kita waspadai. Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia. Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh. Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan. Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai. Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri? Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain. Justru sebaliknya. Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri. Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi. Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga. Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah. Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari? Tidak cukup hanya dengan merasa peduli. Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta. Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri. Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi. Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening. Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan. Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan. Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia. Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama. Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai. Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran. Besok kita belajar tentang keikhlasan. Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan. Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah. Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah. Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?” Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?” Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah. Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia. Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.
ARTIKEL10/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala? “Kayaknya dia memang pantas dibantu.” Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir: “Kenapa tidak berusaha sendiri?”“Bukankah dia masih bisa bekerja?”“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.” Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya. Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan. Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali. Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri? Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian. Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita. Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman. Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya. Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda. Padahal kebutuhan mereka tetap nyata. Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar. Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.” Sebab, pantas menurut siapa? Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim Masalahnya bukan pada memilih prioritas. Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan. Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif. Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat. Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu. Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua. Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan. Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya. Kita tidak tahu seluruh utangnya. Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung. Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya. Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit. Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang. Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta. Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”(QS. Al-Ma’idah: 8) Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang. Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan. Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita. Rasa suka. Rasa kasihan. Kedekatan. Bahkan kesamaan pengalaman. Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh. Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita. Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan. Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama. Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah. Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan. Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi. Korban bencana membutuhkan bantuan darurat. Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?” Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?” Pertanyaan ini mengubah posisi kita. Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”. Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan. Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus. Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun. Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang: ceritanya menyentuh, terlihat tidak berdaya, memiliki kesamaan dengan kita, dekat dengan lingkungan kita, atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya. Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati. Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani. Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang. Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup. Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu. Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan. Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh. BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting. Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian. Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat. BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan. Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat. Ada proses untuk melihat kebutuhan. Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas. Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat. Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab. Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah. Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama. Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat. Kita boleh menentukan prioritas. Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan. Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat. Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan. Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat. Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain. Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan. Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?” mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?” Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang. Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan. Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani. Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri. Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
ARTIKEL09/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi Kesulitan bisa datang tanpa aba-aba. Hari ini seseorang masih mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi esok hari kehilangan pekerjaan. Sebuah keluarga mungkin memiliki rumah untuk berteduh, hingga bencana datang dan membuat mereka kehilangan tempat tinggal. Di tengah kondisi tersebut, satu hal menjadi sangat berarti, kepedulian. Sebab, kepedulian bukan hanya tentang merasa kasihan, tetapi tentang berani mengambil langkah untuk membantu. Melalui berbagai program, BAZNAS hadir menghubungkan kebaikan para muzaki, donatur, dan masyarakat dengan mereka yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan pangan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan. Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli Kepedulian kepada sesama bukan sekadar nilai sosial, tetapi juga bagian dari ajaran Islam. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.”(QS. Al-Ma’idah: 2) Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa membantu sesama merupakan bentuk nyata dari kebajikan. Ketika ada saudara yang sedang menghadapi kesulitan, kita memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari solusi. Kebaikan yang Kita Berikan Bisa Menjadi Harapan Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membantu orang lain. Beliau bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kepedulian memiliki nilai yang sangat besar. Bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi kita dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain. BAZNAS Menjawab dengan Aksi Nyata Dari Zakat Menjadi Manfaat Zakat yang dikelola secara amanah dan tepat sasaran juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi kesenjangan sosial. Bukan sekadar memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, penyaluran zakat dapat diarahkan untuk membantu penerima manfaat agar memiliki kesempatan memperbaiki kondisi kehidupannya. Dukungan berupa pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, dan pendampingan dapat menjadi langkah untuk mendorong masyarakat agar perlahan mampu berdiri lebih mandiri. Di sisi lain, kontribusi masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas karena menghadirkan semangat gotong royong. Ketika banyak orang menyisihkan sebagian hartanya, kebaikan kecil tersebut dapat terkumpul menjadi manfaat yang lebih besar bagi mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS, kepedulian tersebut dapat diwujudkan menjadi aksi nyata yang menghadirkan bantuan, harapan, dan peluang untuk bangkit. Satu Kebaikan, Banyak Dampak Bayangkan ketika satu donasi bergabung dengan ribuan kebaikan lainnya. Bantuan yang terkumpul dapat membantu lebih banyak keluarga, mendukung anak-anak untuk terus belajar, atau memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk kembali bangkit secara mandiri. Inilah kekuatan gotong royong dalam kebaikan. Sejauh Mana Kepedulian Kita Hari Ini? Pertanyaan terpenting bukan hanya “Mengapa mereka membutuhkan bantuan?”, tetapi juga “Apa yang bisa kita lakukan?” Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi sesuai kemampuan. Zakat dapat ditunaikan ketika telah memenuhi ketentuannya, sementara infak dan sedekah dapat menjadi jalan kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan. Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian Di luar sana, mungkin ada keluarga yang sedang menunggu uluran tangan. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada saudara yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana. Ada pula masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari keterbatasan ekonomi. Mungkin kita tidak dapat menyelesaikan semua masalah mereka. Tetapi kita bisa membantu meringankan satu kesulitan. Mari Bergerak Bersama BAZNAS Kepedulian tidak seharusnya berhenti pada rasa iba. Jadikan kepedulian sebagai aksi nyata melalui zakat, infak, dan sedekah. Hari ini, sebagian kecil dari apa yang kita miliki mungkin menjadi makanan bagi seseorang. Menjadi biaya pendidikan bagi seorang anak. Menjadi modal bagi keluarga untuk kembali mandiri. Atau menjadi harapan bagi mereka yang sedang berada di titik terberat kehidupannya. Mari salurkan kebaikan melalui BAZNAS dan jadikan setiap rupiah yang kita berikan sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan kehidupan yang lebih baik. Karena ketika kesulitan datang, kepedulian kita adalah jawaban. Sudahkah hari ini kita mengambil bagian dalam kebaikan?
ARTIKEL09/09/2026 | BAZNAS
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan? Ada satu hal yang hampir selalu kita rasakan ketika mengeluarkan uang yaitu berkurang. Saldo Rp500.000 menjadi Rp400.000, kita tahu ada Rp100.000 yang keluar. Ketika membeli makanan, kita merasa mendapatkan sesuatu sebagai gantinya. Ketika membayar kebutuhan, kita memahami ke mana uang itu pergi. Namun, bagaimana ketika Rp100.000 tersebut kita keluarkan untuk infak atau sedekah? Tidak ada barang yang kita bawa pulang. Tidak ada saldo yang bertambah. Bahkan secara sederhana, uang kita memang berkurang. Lalu menariknya, Allah justru berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam mengenai mengapa Allah menjanjikan balasan bagi harta yang kita keluarkan? Apakah karena Allah membutuhkan harta kita? Tentu tidak. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Lantas, apa sebenarnya yang sedang Allah ajarkan melalui janji tersebut? Ketika Kita Menganggap Harta yang Keluar sebagai Kerugian Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih mudah memperhatikan sesuatu yang hilang daripada sesuatu yang mungkin diperoleh. Kita menghitung uang yang keluar dengan sangat jelas. Tetapi sering kali kita tidak menghitung nilai dari kebaikan yang lahir setelah uang tersebut keluar. Misalnya, sejumlah uang yang kita infakkan mungkin berubah menjadi makanan bagi seseorang yang lapar, biaya pendidikan bagi seorang anak, pengobatan bagi orang yang membutuhkan, atau menjadi bagian dari program yang membantu seseorang bangkit dari kesulitan. Yang terlihat oleh kita mungkin hanya angka yang berkurang. Tetapi dalam pandangan Allah, nilai sebuah pemberian tidak berhenti pada nominalnya. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak boleh hanya dilihat dari sudut pandang “berapa yang hilang dari saya”. Allah memberikan perumpamaan yang sangat indah dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.” Perhatikan bagaimana Allah menggambarkan infak. Bukan seperti uang yang hilang. Tetapi seperti sebutir benih yang ditanam dan kemudian tumbuh. Sesuatu yang keluar dari tangan ternyata tidak selalu berarti sesuatu yang lenyap. Ada kebaikan yang mungkin sedang tumbuh, meskipun kita belum dapat melihat hasilnya. Allah Sedang Mengajarkan Kita Cara Menghitung yang Berbeda Barangkali inilah salah satu alasan mengapa Allah berbicara tentang balasan. Manusia terbiasa menghitung dengan cara yang terlihat. Berapa penghasilan?Berapa pengeluaran?Berapa tabungan?Berapa yang tersisa? Semua itu penting. Islam tidak mengajarkan manusia mengabaikan kebutuhan hidup atau mengeluarkan harta tanpa pertimbangan. Namun, kehidupan seorang Muslim tidak berhenti pada perhitungan dunia. Ada amal yang nilainya baru benar-benar terlihat ketika perhitungan dunia telah selesai. Allah berfirman: “Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.”(QS. Al-Muzzammil: 20) Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sering terlupakan bahwa kebaikan yang kita lakukan sebenarnya sedang kita persiapkan untuk diri kita sendiri. Ketika seseorang berzakat, ia memang memberikan sebagian hartanya kepada yang berhak. Ketika seseorang berinfak, sebagian hartanya berpindah kepada kepentingan kebaikan. Ketika seseorang bersedekah, sebagian miliknya digunakan untuk membantu orang lain. Tetapi dalam perspektif akhirat, pemberian tersebut tidak berhenti pada penerima. Ada catatan amal yang tetap mengikuti pemberinya. Dengan kata lain, yang berpindah dari tangan kita belum tentu hilang dari kehidupan kita. Bisa jadi ia sedang berpindah bentuk menjadi pahala. Tetapi, Apakah Balasan Allah Selalu Berupa Uang? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Membaca bahwa Allah akan mengganti harta yang kita infakkan bukan berarti kita boleh memahami sedekah seperti transaksi bisnis dengan logika, seperti: “Saya keluarkan Rp100.000, berarti Allah harus mengembalikan Rp700.000 kepada saya.” Cara berpikir seperti itu justru terlalu sempit untuk memahami janji Allah. Allah memang menjanjikan balasan dan pelipatgandaan pahala. Tetapi kita tidak boleh menyempitkan balasan Allah hanya menjadi uang yang kembali ke rekening. Sebab sesuatu yang Allah berikan bisa hadir dalam bentuk yang tidak selalu dapat kita ukur dengan angka. Bisa berupa pahala. Bisa berupa keberkahan. Bisa berupa manfaat yang sampai kepada orang lain. Bisa berupa ketenangan hati. Dan yang paling penting, balasan yang Allah siapkan di akhirat. Rasulullah ? juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini bukan berarti setiap orang yang bersedekah akan melihat saldo rekeningnya otomatis bertambah. Lebih jauh dari itu, Rasulullah mengajarkan bahwa sedekah bukanlah kerugian sebagaimana yang mungkin dibayangkan manusia. Karena harta yang kita keluarkan di jalan Allah memiliki nilai yang melampaui angka yang terlihat. Jadi, Mengapa Allah Menjanjikan Balasan? Mungkin karena manusia membutuhkan jaminan bahwa kebaikan yang tidak terlihat tetap memiliki nilai. Bayangkan jika manusia hanya mau melakukan sesuatu ketika hasilnya dapat langsung dilihat. Kita mungkin hanya mau membantu jika nama kita disebut. Kita hanya mau memberi jika ada ucapan terima kasih. Kita hanya mau berbuat baik jika manfaatnya segera kembali kepada kita. Padahal iman mengajarkan sesuatu yang berbeda. Ada kebaikan yang kita lakukan tanpa melihat hasilnya sekarang, karena kita percaya bahwa Allah melihat apa yang manusia tidak lihat. Di sinilah janji Allah menjadi penting. Janji itu bukan sekadar “hadiah” agar manusia mau mengeluarkan uang. Ia juga menjadi bentuk pendidikan bagi hati. Allah sedang mengajarkan manusia untuk tidak menjadikan harta sebagai satu-satunya ukuran keuntungan. Sebab jika ukuran kita hanya apa yang bertambah di rekening, maka memberi akan selalu terasa sebagai kehilangan. Tetapi jika kita memahami bahwa kehidupan tidak berhenti pada dunia, maka sebagian harta yang kita keluarkan dapat dipandang sebagai amal yang sedang kita simpan untuk kehidupan yang lebih panjang. Jangan Sampai Kita Lebih Percaya pada Angka daripada Janji Allah Ada pertanyaan yang mungkin perlu kita ajukan kepada diri sendiri. Ketika akan mengeluarkan uang untuk bersedekah, apa yang pertama kali muncul dalam pikiran? “Kalau saya kasih, uang saya berkurang.” Atau, “Allah sudah menjanjikan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia.” Keduanya menunjukkan cara pandang yang berbeda. Yang pertama hanya melihat apa yang ada di depan mata. Yang kedua melihat kehidupan dengan perspektif iman. Bukan berarti seorang Muslim tidak boleh menghitung kemampuan finansialnya. Justru kita perlu bijak dalam mengatur harta dan memenuhi kewajiban terhadap keluarga. Namun, jangan sampai kehati-hatian berubah menjadi ketakutan untuk berbagi. Jangan sampai kita begitu percaya kepada saldo rekening, tetapi ragu terhadap janji Allah. Sebab pada akhirnya, iman juga diuji melalui sesuatu yang paling sulit kita lepaskan: harta yang kita miliki. Zakat, Infak, dan Sedekah: Saat Harta Menjadi Amal Karena itu, zakat, infak, dan sedekah seharusnya tidak hanya dipahami sebagai aktivitas “mengeluarkan uang”. Zakat adalah kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syaratnya. Infak dan sedekah menjadi ruang yang lebih luas bagi seorang Muslim untuk mengalirkan hartanya kepada kebaikan. Yang perlu dibangun bukan sekadar kebiasaan memberi, tetapi juga kesadaran tentang apa yang sedang kita lakukan. Ketika kita menunaikan zakat, kita sedang menjalankan kewajiban yang diperintahkan Allah. Ketika kita berinfak, kita sedang memilih untuk menggunakan sebagian harta pada jalan yang diridai-Nya. Ketika kita bersedekah, kita sedang melepaskan sebagian dari apa yang kita miliki dengan keyakinan bahwa kebaikan tersebut tidak akan sia-sia. Dan ketika semua itu dilakukan melalui pengelolaan yang amanah, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang. BAZNAS Menjadi Jembatan dari Harta Menjadi Kemanfaatan Di sinilah peran BAZNAS menjadi penting. Harta yang kita titipkan melalui BAZNAS tidak berhenti sebagai angka yang berpindah dari satu rekening ke rekening lain. Dana zakat, infak, dan sedekah dikelola untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai bentuk program. Artinya, ada proses yang menghubungkan niat seorang pemberi dengan manfaat yang diterima orang lain. Kita mungkin tidak mengetahui siapa yang akhirnya menerima manfaat dari dana yang kita keluarkan. Kita mungkin tidak melihat langsung bagaimana sebuah pemberian membantu seseorang. Namun, justru di situlah letak keindahan berbagi. Kita tidak selalu harus melihat hasilnya untuk percaya bahwa kebaikan itu bernilai. Allah sudah menjanjikan balasan-Nya. Tugas kita adalah berusaha menunaikan apa yang menjadi kewajiban, memperbanyak kebaikan sesuai kemampuan, dan memastikan harta yang dikeluarkan disalurkan melalui jalan yang baik dan amanah. Yang Keluar dari Tangan, Tidak Selalu Hilang Pada akhirnya, mungkin kita perlu mengubah satu cara pandang sederhana. Tidak semua yang keluar dari tangan berarti berkurang. Ada harta yang keluar lalu menjadi makanan. Ada yang menjadi pendidikan. Ada yang menjadi pengobatan. Ada yang menjadi pertolongan. Dan ada pula yang menjadi amal yang menunggu untuk kita temui kembali di hadapan Allah. Maka ketika suatu hari kita mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, infak, atau sedekah, jangan hanya melihat angka yang berkurang. Ingatlah bahwa Allah telah mengajarkan kepada kita cara melihat yang lebih jauh. “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”(QS. Saba’: 39) Bukan berarti kita memberi kepada Allah karena mengharapkan keuntungan seperti dalam sebuah transaksi. Kita memberi karena Allah memerintahkannya, karena ada manusia yang membutuhkan, dan karena kita percaya kepada janji-Nya. Sebab mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi tentang, “Berapa yang akan kembali kepada saya setelah saya memberi?” Melainkan, “Seberapa besar keyakinan saya kepada Allah ketika saya melepaskan sesuatu yang saya miliki?” Jika harta yang kita keluarkan hari ini menjadi sebab lahirnya kebaikan bagi orang lain, maka biarkan Allah yang menentukan bagaimana Dia membalasnya. Karena manusia hanya mampu menghitung apa yang terlihat. Allah mengetahui nilai dari setiap kebaikan yang bahkan tidak pernah kita lihat hasilnya. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui pengelolaan yang amanah bersama BAZNAS Kota Sukabumi, agar harta yang kita keluarkan tidak hanya menjadi pemberian, tetapi menjadi bagian dari kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh sesama.
ARTIKEL09/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung Rezeki Bukan Hanya Tentang Apa yang Kita Miliki Setiap hari kita mengejar rezeki. Bekerja lebih keras, membangun usaha, mengejar karier, dan berusaha memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Ketika rezeki bertambah, hati tentu merasa bahagia. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, apa arti rezeki jika tak pernah berbagi? Rezeki bukan sekadar angka di rekening, rumah yang dimiliki, kendaraan yang digunakan, atau makanan yang tersaji di meja. Rezeki juga merupakan amanah yang di dalamnya terdapat hak dan kesempatan untuk menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Ketika sebagian rezeki kita digunakan untuk membantu sesama, apa yang kita miliki tidak hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri. Ia dapat berubah menjadi makanan untuk keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan, hingga modal bagi seseorang untuk kembali bangkit. Islam Mengajarkan Rezeki untuk Dibagikan Allah SWT mengingatkan bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya merupakan titipan dan ujian. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’”(QS. Al-Munafiqun: 10) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbagi adalah nikmat yang tidak selamanya ada. Selagi masih diberikan kemampuan, jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Berbagi Tidak Membuat Kita Kekurangan Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Beliau bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Secara sederhana, berbagi bukan tentang kehilangan sebagian dari apa yang kita punya. Berbagi adalah tentang mengubah sebagian rezeki menjadi manfaat yang nilainya jauh lebih besar bagi kehidupan orang lain. BAZNAS Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Dari Rezeki Menjadi Manfaat Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan mampu menyuarakan kesulitannya. Ada keluarga yang berusaha bertahan dengan penghasilan terbatas, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, hingga masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan akibat musibah. Di sinilah peran pengelolaan zakat, infak, dan sedekah menjadi penting. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS berupaya menyalurkan amanah masyarakat kepada mereka yang membutuhkan, baik dalam bentuk bantuan kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, tanggap bencana, maupun pemberdayaan ekonomi. Satu Rupiah Bisa Menjadi Harapan Jangan berpikir bahwa kebaikan harus selalu dimulai dari jumlah yang besar. Setiap kontribusi yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi bagian dari perubahan. Bayangkan jika rezeki yang kita sisihkan hari ini menjadi makanan bagi seseorang yang lapar. Menjadi perlengkapan sekolah bagi seorang anak. Menjadi bantuan bagi korban bencana. Atau menjadi modal yang membantu sebuah keluarga kembali memiliki penghasilan. Kebaikan kecil yang dilakukan bersama dapat menciptakan dampak yang besar. Sudahkah Rezeki Kita Memberi Manfaat? Kita mungkin tidak dapat membantu semua orang. Namun, kita selalu bisa membantu seseorang. Karena itu, pertanyaan tentang rezeki bukan hanya “Berapa banyak yang sudah kita dapatkan?”, tetapi juga “Berapa banyak manfaat yang sudah kita berikan?” Rezeki yang dibagikan dapat menjadi bentuk syukur. Zakat yang ditunaikan menjadi kewajiban yang membawa manfaat sosial. Infak dan sedekah menjadi jalan untuk memperluas kebaikan. Mari Berbagi Bersama BAZNAS Hari ini, mungkin ada seseorang yang sedang menunggu bantuan. Ada keluarga yang berharap dapat memenuhi kebutuhan makan. Ada anak yang ingin terus bersekolah. Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Jangan biarkan rezeki kita berhenti pada diri sendiri. Mari sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS. Jadikan apa yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan senyum, meringankan beban, dan menumbuhkan harapan. Sebab pada akhirnya, rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kebaikan yang mampu kita lahirkan darinya. Sudahkah rezeki kita hari ini menjadi manfaat bagi sesama?
ARTIKEL09/09/2026 | BAZNAS
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati Berbagi bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada orang lain. Dalam Islam, berbagi adalah bentuk kepedulian, rasa syukur, dan ketaatan kepada Allah SWT. Ketika seseorang memberikan apa yang dimilikinya untuk membantu sesama, ia tidak hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga sedang menanam kebaikan untuk dirinya sendiri. Islam memberikan banyak pesan tentang pentingnya berbagi. Bahkan, Al-Qur’an menggambarkan pahala orang yang menginfakkan hartanya sebagai sesuatu yang dapat dilipatgandakan. 1. Berbagi Mengajarkan Kita untuk Bersyukur Rezeki Bukan Hanya untuk Dinikmati Sendiri Apa yang kita miliki hari ini adalah amanah. Ketika sebagian rezeki dibagikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang menunjukkan rasa syukur kepada Allah SWT. Berbagi membuat kita menyadari bahwa di balik makanan yang cukup, rumah yang nyaman, dan penghasilan yang diterima, ada nikmat yang patut disyukuri. 2. Sedekah Tidak Mengurangi Harta Allah Menjanjikan Balasan atas Kebaikan Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadits ini menguatkan hati kita agar tidak takut berbagi. Secara hitungan manusia, harta memang berkurang ketika diberikan. Namun dalam perspektif iman, sedekah dapat menjadi jalan datangnya keberkahan dan pahala dari Allah SWT. 3. Kebaikan yang Diberikan Dapat Dilipatgandakan Satu Kebaikan Bisa Menjadi Banyak Manfaat Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kebaikan yang kita keluarkan tidak pernah sia-sia di sisi Allah. 4. Berbagi Menguatkan Hati yang Sedang Lemah Membantu Sesama Menghadirkan Makna Ada kalanya hati terasa kosong meskipun kebutuhan pribadi telah terpenuhi. Salah satu cara menemukan kembali makna kehidupan adalah dengan hadir bagi orang lain. Senyum, makanan, bantuan pendidikan, santunan, hingga sedekah yang sederhana dapat menjadi sumber harapan bagi seseorang yang sedang berjuang. 5. Berbagi Harus Dilakukan dengan Ikhlas Jangan Menyakiti Hati Penerima Allah SWT mengingatkan agar sedekah tidak disertai dengan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerimanya. “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(QS. Al-Baqarah: 262) Karena itu, berbagi bukan tentang menunjukkan bahwa kita lebih mampu. Berbagi adalah tentang menjaga kehormatan dan menghadirkan kebaikan dengan ketulusan. 6. Berbagi Adalah Bentuk Kepedulian kepada Sesama Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik Tidak semua kebaikan harus dimulai dari jumlah besar. Sedekah dapat dilakukan sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah keikhlasan dan niat untuk membantu. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat ikut menghadirkan makanan bagi keluarga yang membutuhkan, membantu pendidikan anak-anak, mendukung pelayanan kesehatan, hingga meringankan beban masyarakat yang terdampak musibah. 7. Berbagi Adalah Investasi untuk Akhirat Kebaikan yang Kita Tanam Hari Ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.”(QS. Al-Hadid: 18) Ayat tersebut mengingatkan bahwa berbagi bukan sekadar kebaikan sesaat. Ia dapat menjadi bekal menuju kehidupan akhirat. Saatnya Menguatkan Hati dengan Berbagi Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan semua persoalan yang ada di sekitar kita. Namun, kita selalu bisa mengambil satu langkah kecil untuk membantu. Hari ini, mungkin ada keluarga yang membutuhkan makanan. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan dan hanya membutuhkan uluran tangan agar mampu kembali berdiri. Jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Mulailah dari apa yang kita mampu. Melalui zakat, infak, dan sedekah, mari ubah rasa peduli menjadi aksi nyata. Karena satu kebaikan yang kita berikan hari ini mungkin menjadi alasan seseorang kembali tersenyum, kembali berharap, dan kembali kuat menghadapi kehidupannya. Mari berbagi. Mari hadirkan manfaat. Mari jadikan rezeki yang kita miliki sebagai jalan untuk menebar keberkahan dan menguatkan sesama.
ARTIKEL09/09/2026 | BAZNAS
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain? Pernahkah kita merasa hidup baik-baik saja sampai membuka media sosial? Hari itu mungkin tidak ada masalah besar. Pekerjaan masih berjalan, keluarga baik-baik saja, kebutuhan masih terpenuhi. Kita bahkan sempat merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Lalu beberapa menit kemudian, kita melihat seseorang membeli rumah baru. Orang lain mendapat pekerjaan yang selama ini kita inginkan. Teman sebaya sudah menikah, punya anak, membuka bisnis, pergi ke berbagai tempat, atau menunjukkan pencapaian yang belum kita miliki. Tiba-tiba muncul satu perasaan yang sulit dijelaskan, “Kok hidupku begini-begini saja?” Padahal, lima menit sebelumnya tidak ada yang berubah. Penghasilan kita tetap sama. Rumah kita masih sama. Keluarga kita masih ada. Makanan di meja masih tersedia. Yang berubah hanya satu, kita baru saja melihat kehidupan orang lain. Di sinilah kita perlu bertanya lebih dalam. Jangan-jangan selama ini yang membuat kita merasa kekurangan bukan semata-mata karena hidup kita kurang, tetapi karena kita terlalu sering menggunakan kehidupan orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri. Kita Tidak Selalu Kekurangan, Kita Hanya Terlalu Sering Membandingkan Membandingkan diri dengan orang lain sebenarnya merupakan bagian dari sifat manusia. Kita melihat orang lain untuk mengetahui apakah kita sudah cukup baik, sudah berhasil, atau masih perlu berkembang. Dalam batas tertentu, hal ini bisa menjadi motivasi. Masalah muncul ketika perbandingan tersebut membuat kita tidak lagi menilai hidup berdasarkan kebutuhan, kemampuan, dan tujuan kita sendiri. Standar kita perlahan berpindah. Awalnya kita ingin memiliki rumah karena memang membutuhkannya. Setelah melihat orang lain memiliki rumah lebih besar, rumah yang kita punya mulai terasa kecil. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan. Setelah melihat orang lain memiliki penghasilan lebih tinggi, penghasilan yang sebelumnya terasa cukup tiba-tiba dianggap tidak memadai. Kita membeli sesuatu karena memang membutuhkannya. Setelah melihat orang lain memiliki versi yang lebih mahal, barang kita sendiri terasa tidak lagi membanggakan. Kita tidak kehilangan apa pun. Kita hanya menemukan bahwa ada orang yang memiliki lebih banyak. Namun anehnya, pengetahuan tersebut sering kali cukup untuk membuat kita merasa miskin. Inilah jebakan perbandingan. Kita Membandingkan Kehidupan yang Lengkap dengan Potongan Kehidupan Orang Lain Ada masalah lain yang lebih besar. Kita sering membandingkan seluruh kehidupan kita dengan sebagian kecil kehidupan orang lain. Kita tahu kegagalan kita sendiri. Kita tahu berapa kali kita menangis. Kita tahu masalah keluarga yang sedang dihadapi. Kita tahu kecemasan tentang masa depan. Kita tahu berapa banyak rencana yang belum berhasil. Tetapi ketika melihat orang lain, kita biasanya hanya melihat apa yang mereka tampilkan. Foto wisuda, bukan perjuangannya. Foto pernikahan, bukan masalah dalam rumah tangganya. Foto liburan, bukan beban pekerjaan setelah pulang. Foto keberhasilan bisnis, bukan kegagalan yang mungkin pernah terjadi sebelumnya. Media sosial membuat fenomena ini semakin kuat. Kita melihat hasil akhir orang lain secara terus-menerus, sementara kita menjalani proses diri sendiri setiap hari. Maka tidak mengherankan jika hidup orang lain terlihat lebih indah. Pertanyaannya bukan apakah kehidupan mereka benar-benar lebih baik. Kita hanya tidak memiliki seluruh informasinya. Karena itu, membandingkan diri secara terus-menerus adalah permainan yang hampir pasti melelahkan. Selalu akan ada orang yang lebih kaya. Lebih cantik. Lebih pintar. Lebih sukses. Lebih terkenal. Lebih cepat mencapai sesuatu. Jika ukuran kebahagiaan kita adalah “harus lebih baik daripada orang lain”, maka kita sedang menetapkan sebuah perlombaan yang tidak memiliki garis akhir. Ketika “Cukup” Ditentukan oleh Kehidupan Orang Lain Di sinilah persoalan menjadi lebih serius. Apa sebenarnya arti cukup? Apakah cukup berarti memiliki sebanyak orang lain? Jika demikian, berapa jumlah yang harus kita miliki agar berhenti merasa kurang? Ketika penghasilan Rp5 juta terasa cukup, mungkin kita akan merasa kurang setelah mengetahui orang lain mendapat Rp10 juta. Ketika Rp10 juta terasa cukup, mungkin kita akan membandingkannya dengan orang yang mendapat Rp20 juta. Begitu seterusnya. Artinya, masalahnya bukan selalu terletak pada jumlah. Masalahnya bisa terletak pada standar yang terus bergerak. Islam memiliki konsep yang sangat penting untuk menghadapi persoalan ini yaitu sifat qana'ah. Qana'ah bukan berarti berhenti berusaha. Bukan pula berarti tidak boleh memiliki cita-cita atau menginginkan kehidupan yang lebih baik. Qana'ah adalah kemampuan untuk menerima dan menghargai apa yang Allah berikan tanpa menjadikan apa yang dimiliki orang lain sebagai alasan untuk terus merasa tidak cukup. Seseorang tetap boleh mengejar kehidupan yang lebih baik. Tetapi ia tidak harus membenci kehidupan yang sedang dijalaninya. Islam Tidak Melarang Kita Melihat Keberhasilan Orang Lain Menariknya, Islam tidak meminta kita menutup mata terhadap kelebihan orang lain. Rasulullah ? bersabda: “Tidak boleh iri kecuali terhadap dua hal: seseorang yang Allah beri harta lalu ia menginfakkannya di jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa melihat kelebihan orang lain tidak selalu menghasilkan sesuatu yang buruk. Kita bisa melihat seseorang yang lebih sukses lalu bertanya, “Apa yang bisa aku pelajari?” Bukan, “Mengapa dia punya itu sementara aku tidak?” Perbedaannya terlihat kecil, tetapi dampaknya besar. Yang pertama melahirkan motivasi. Yang kedua bisa melahirkan iri dan ketidakpuasan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar seberapa sering kita melihat kehidupan orang lain. Persoalannya adalah apa yang terjadi di dalam hati kita setelah melihatnya. Syukur Bukan Sekadar Mengucapkan “Alhamdulillah” Sering kali kita memahami syukur secara sederhana dengan mendapatkan nikmat lalu mengucapkan alhamdulillah. Tentu itu bagian dari syukur. Tetapi syukur seharusnya lebih dalam daripada ucapan. Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7) Syukur berarti menyadari bahwa sesuatu yang kita miliki bukan sekadar hasil dari usaha kita sendiri, tetapi juga merupakan nikmat yang Allah izinkan hadir dalam kehidupan kita. Kesehatan yang masih kita miliki. Orang tua yang masih bisa kita temui. Teman yang masih menemani. Pekerjaan yang masih memberi penghasilan. Kesempatan belajar. Kemampuan untuk makan, beribadah, bekerja, dan memperbaiki diri. Sering kali semua itu menjadi tidak terlihat bukan karena nikmatnya hilang, tetapi karena perhatian kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki. Kita begitu sibuk menghitung apa yang belum ada sampai lupa menghitung apa yang sudah Allah berikan. Ada yang Lebih Tinggi dari Kita, tetapi Ada Juga yang Sedang Berharap Memiliki Apa yang Kita Punya Membandingkan diri dengan orang lain juga sering membuat kita melihat satu arah saja: ke atas. Kita melihat orang yang lebih kaya, lalu merasa miskin. Melihat orang yang lebih sukses, lalu merasa gagal. Melihat orang yang lebih terkenal, lalu merasa tidak berarti. Padahal kehidupan tidak sesederhana itu. Bisa jadi sesuatu yang kita anggap biasa merupakan sesuatu yang sangat diharapkan orang lain. Rumah sederhana yang kita keluhkan mungkin adalah tempat yang diimpikan seseorang. Pekerjaan yang kita anggap melelahkan mungkin adalah kesempatan yang sedang dicari orang lain. Penghasilan yang menurut kita belum cukup mungkin sudah menjadi sumber kehidupan bagi keluarga lain. Ini bukan berarti kita harus berhenti memiliki cita-cita. Justru sebaliknya. Kita boleh melihat ke atas untuk belajar, tetapi sesekali perlu melihat sekitar untuk menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini kita anggap biasa. Syukur Seharusnya Mengubah Cara Kita Memperlakukan Nikmat Ada satu hal yang sering luput ketika kita berbicara tentang syukur. Syukur bukan hanya tentang merasa senang karena mendapatkan sesuatu. Syukur juga seharusnya mengubah cara kita memperlakukan sesuatu yang telah kita terima. Ketika Allah memberi kesehatan, kita menjaganya. Ketika Allah memberi ilmu, kita menggunakannya untuk kebaikan. Ketika Allah memberi waktu, kita tidak menghabiskannya seluruhnya untuk hal yang sia-sia. Dan ketika Allah memberi harta, pertanyaannya bukan hanya “apa yang bisa aku beli dengan ini?”, tetapi juga “apa yang bisa aku lakukan dengan ini?” Di sinilah rasa syukur mulai memiliki dimensi yang lebih luas. Sebab nikmat yang hanya kita rasakan sendiri akan berhenti pada diri kita. Tetapi nikmat yang kita alirkan kepada orang lain dapat berubah menjadi kemanfaatan yang lebih panjang. Maka semakin seseorang menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah nikmat, seharusnya semakin tumbuh kesadaran untuk berbagi. Bukan karena hidupnya sudah sempurna. Bukan pula karena ia sudah tidak membutuhkan apa-apa. Tetapi karena ia menyadari bahwa di antara begitu banyak hal yang Allah berikan, ada sebagian yang memang harus ditunaikan dan ada sebagian yang dapat dibagikan. Dari Rasa Cukup Menuju Kesediaan Berbagi Menariknya, rasa cukup tidak selalu membuat seseorang berhenti memberi. Justru sebaliknya. Orang yang merasa cukup biasanya lebih mudah berbagi karena ia tidak terus-menerus merasa harus mengumpulkan semuanya untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang selalu merasa kurang akan lebih mudah berkata, “Nanti saja kalau sudah lebih banyak.” Masalahnya, standar “lebih banyak” itu bisa terus bergeser. Hari ini merasa harus punya Rp10 juta dulu. Besok merasa harus punya Rp20 juta. Setelah itu ingin memiliki lebih banyak lagi. Akhirnya, kesempatan untuk berbagi selalu menunggu “nanti”. Padahal Islam tidak mengajarkan kita menunggu menjadi sempurna untuk mulai berbuat baik. Dalam kehidupan seorang Muslim, harta memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar memenuhi keinginan pribadi. Ada kewajiban zakat bagi mereka yang memenuhi syarat, dan ada kesempatan memperbanyak infak serta sedekah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”(QS. Ali 'Imran: 92) Ayat ini menarik karena Allah tidak berbicara tentang harta yang sudah tidak kita sukai. Justru tentang “sebagian harta yang kamu cintai.” Artinya, berbagi bukan selalu tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita butuhkan. Kadang berbagi adalah latihan untuk mengatakan, “Aku memiliki sesuatu yang aku sukai, tetapi aku juga tahu bahwa ada nilai yang lebih besar ketika sebagian darinya menjadi manfaat bagi orang lain.” Ketika Nikmat Pribadi Bertemu dengan Kebutuhan Orang Lain Di titik inilah perspektif kita terhadap harta mulai berubah. Sebelumnya kita bertanya, “Apa yang belum aku punya?” Sekarang kita mulai bertanya, “Apa yang sudah aku punya, dan siapa yang bisa merasakan manfaatnya?” Perubahan pertanyaan ini sederhana, tetapi dampaknya besar. Kita tidak lagi hanya melihat harta sebagai simbol keberhasilan pribadi. Kita mulai melihatnya sebagai sesuatu yang dapat menjadi jalan bagi kehidupan orang lain. Namun ada persoalan lain. Keinginan untuk berbagi saja belum cukup. Kita juga perlu memastikan bahwa pemberian tersebut sampai kepada orang yang tepat, dikelola dengan baik, dan memberikan manfaat sebagaimana mestinya. Sebab kepedulian yang besar membutuhkan pengelolaan yang baik. Di sinilah peran lembaga pengelola zakat menjadi penting. Dari Niat Baik Menjadi Manfaat yang Terorganisasi Bayangkan jika setiap orang ingin membantu, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri. Ada yang memberikan bantuan kepada orang yang ditemuinya. Ada yang membantu berdasarkan cerita yang didengar. Ada yang ingin menolong suatu kelompok, tetapi tidak mengetahui kebutuhan sebenarnya. Niatnya mungkin sama-sama baik. Tetapi, kebaikan juga membutuhkan pengetahuan, pengelolaan, dan ketepatan sasaran. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya persoalan memindahkan harta dari orang yang memiliki kepada orang yang membutuhkan. Di dalamnya ada amanah yang lebih besar: bagaimana dana yang terkumpul dapat dikelola dan disalurkan sehingga benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat. Karena itu, kepedulian pribadi dapat menjadi lebih kuat ketika bertemu dengan sistem yang amanah. BAZNAS: Menghubungkan Nikmat yang Kita Terima dengan Manfaat yang Dibutuhkan Sesama BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat, infak, dan sedekah agar dana yang dihimpun dapat disalurkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat. Dengan adanya pengelolaan tersebut, seseorang tidak harus mengetahui sendiri siapa yang paling membutuhkan, bagaimana mekanisme penyalurannya, atau bagaimana memastikan dana dapat dikelola secara tepat. Ada lembaga yang menjalankan proses tersebut. Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil bagian dalam sebuah rantai kebaikan yang lebih luas. Seseorang menunaikan zakatnya. Zakat tersebut dikelola. Kemudian disalurkan kepada mereka yang berhak. Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya hanya berupa sejumlah uang di tangan seorang muzaki dapat berubah menjadi manfaat yang dirasakan orang lain. Di sinilah hubungan antara syukur dan kepedulian sosial menjadi nyata. Kita menerima nikmat dari Allah. Kita menyadari bahwa nikmat itu bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Kita menunaikan kewajiban dan menyisihkan sebagian harta untuk kebaikan. Kemudian melalui pengelolaan yang amanah, sebagian dari nikmat tersebut mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Jadi, berbagi bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita keluarkan. Ia juga tentang seberapa jauh manfaat dari apa yang kita keluarkan dapat dirasakan. Mungkin Selama Ini Kita Salah Menentukan Arah Pandangan Pada akhirnya, persoalan membandingkan diri dengan orang lain bukan hanya tentang rasa iri. Ada persoalan yang lebih mendasar mengenai ke mana kita mengarahkan perhatian. Jika mata terus diarahkan kepada apa yang dimiliki orang lain, hidup kita akan selalu menemukan alasan untuk merasa kurang. Tetapi ketika kita mulai melihat apa yang telah Allah berikan, kita menemukan sesuatu yang berbeda: ternyata ada banyak nikmat yang selama ini terlalu biasa bagi kita sampai lupa untuk disyukuri. Dan ketika rasa syukur itu tumbuh, ia seharusnya tidak berhenti pada ucapan alhamdulillah. Ia bergerak menjadi kesadaran. Kesadaran berubah menjadi tanggung jawab. Dan tanggung jawab melahirkan tindakan. Salah satunya adalah menunaikan zakat dan memperbanyak infak serta sedekah sesuai kemampuan. Sebab mungkin pertanyaan yang lebih penting daripada “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?” adalah “Dengan apa yang sudah Allah berikan kepadaku, apa yang sudah aku lakukan untuk menjadi lebih dekat kepada-Nya dan lebih bermanfaat bagi orang lain?” Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk memiliki sebanyak-banyaknya. Kita hanya sedang menjalani amanah dengan nikmat yang berbeda-beda. Dan ketika nikmat itu kita syukuri, lalu sebagian darinya kita alirkan menjadi manfaat melalui jalan yang baik dan amanah, kita tidak hanya sedang membantu orang lain. Kita sedang belajar menggunakan apa yang Allah berikan sesuai dengan tujuan-Nya.
ARTIKEL09/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan Zakat BAZNAS, Kepedulian yang Menghadirkan Perubahan Ada banyak cara untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Namun, dalam Islam, zakat memiliki kedudukan istimewa karena bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga ibadah yang memiliki dampak luas bagi kehidupan. Melalui zakat BAZNAS, kebaikan yang diberikan oleh para muzaki dapat disalurkan kepada mereka yang berhak menerima. Dari membantu kebutuhan dasar hingga mendukung pendidikan dan pemberdayaan ekonomi, zakat dapat menjadi jalan hadirnya harapan bagi masyarakat yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan memperolehnya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah: 110) 7 Keajaiban Zakat yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan 1. Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa Zakat bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat proses menyucikan harta sekaligus melatih hati agar tidak dikuasai oleh sifat kikir. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka...”(QS. At-Taubah: 103) 2. Zakat Menghadirkan Kebahagiaan bagi Sesama Satu zakat yang ditunaikan dapat menjadi bantuan berarti bagi keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ketika kebutuhan terpenuhi, senyum kembali hadir dan harapan tumbuh. Inilah keajaiban zakat, harta yang kita keluarkan dapat menjadi kebahagiaan bagi orang lain. 3. Zakat Membantu Mengurangi Kemiskinan Zakat memiliki potensi besar untuk membantu masyarakat yang berada dalam kondisi sulit. Jika dikelola secara amanah dan tepat sasaran, zakat dapat menjadi bagian dari solusi untuk meningkatkan kesejahteraan mustahik. Dari bantuan menjadi pemberdayaan Zakat tidak harus berhenti pada bantuan sesaat. Program pemberdayaan dapat membantu penerima zakat membangun kemampuan agar perlahan menjadi lebih mandiri. 4. Zakat Menguatkan Kepedulian Sosial Zakat mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana keberadaan kita memberikan manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya.”(HR. Bukhari dan Muslim) 5. Zakat Menjadi Jalan Pendidikan dan Masa Depan Sebagian masyarakat masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan. Dukungan melalui dana zakat dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk membantu anak-anak dan generasi muda mendapatkan kesempatan belajar yang lebih baik. Sebab, membantu pendidikan hari ini berarti ikut menanam harapan untuk masa depan. 6. Zakat Mengubah Bantuan Menjadi Pemberdayaan Keajaiban zakat tidak hanya terlihat dari jumlah bantuan yang diberikan, tetapi juga dari perubahan kehidupan penerimanya. Melalui program yang tepat, zakat dapat diarahkan untuk mendukung usaha kecil, keterampilan, kebutuhan produktif, maupun berbagai bentuk pemberdayaan ekonomi. Dengan demikian, zakat dapat menjadi jembatan menuju kemandirian. 7. Zakat Menjadi Investasi Kebaikan Harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan sia-sia. Justru, zakat menjadi bagian dari amal yang membawa nilai kebaikan bagi pemberi sekaligus manfaat bagi penerima. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat. Namun, kita selalu bisa mengambil bagian dalam menghadirkan perubahan. Melalui zakat BAZNAS, kepedulian dapat disalurkan menjadi aksi nyata. Harta yang kita tunaikan dapat membantu memenuhi kebutuhan, mendukung pendidikan, menguatkan ekonomi, dan menghadirkan harapan bagi saudara-saudara kita. Jangan Biarkan Kebaikan Berhenti di Niat Jika sudah memenuhi syarat untuk menunaikan zakat, jangan menunda kebaikan. Tunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat yang terpercaya dan amanah. Karena mungkin bagi kita, zakat adalah sebagian dari harta. Namun bagi mereka yang membutuhkan, zakat bisa berarti makanan untuk hari ini, biaya pendidikan untuk esok, atau kesempatan untuk bangkit dari kesulitan. Mari bersama BAZNAS mengubah kepedulian menjadi keberkahan. Tunaikan zakat Anda dan jadikan sebagian harta yang dimiliki sebagai jalan hadirnya harapan bagi sesama.
ARTIKEL08/09/2026 | BAZNAS
5 Alasan Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar
5 Alasan Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar
5 Alasan Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian? Harta adalah salah satu bentuk amanah yang Allah SWT titipkan kepada manusia. Di dalam harta yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat apabila telah memenuhi syarat. Sayangnya, kesibukan, rasa sayang terhadap harta, atau kebiasaan menunda terkadang membuat seseorang lalai berzakat. Padahal, menunaikan zakat bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga bentuk kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan memperolehnya (pahala) di sisi Allah.”(QS. Al-Baqarah: 110) Lantas, apa saja kerugian yang dapat terjadi ketika seseorang terus menunda kewajiban zakat? 5 Alasan Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar 1. Kehilangan Kesempatan Menunaikan Kewajiban Zakat merupakan salah satu kewajiban dalam Islam bagi orang yang telah memenuhi ketentuannya. Ketika seseorang sengaja menunda tanpa alasan yang dibenarkan, ia telah melewatkan kesempatan untuk menjalankan perintah Allah. Jangan menunggu sampai terlambat Kita tidak pernah tahu berapa lama kesempatan memiliki harta akan diberikan. Karena itu, ketika kewajiban zakat telah terpenuhi, menunaikannya merupakan bentuk ketaatan dan rasa syukur. 2. Kehilangan Kesempatan Mendapatkan Keberkahan Harta yang dimiliki bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga tentang keberkahan. Zakat menjadi salah satu bentuk ketaatan yang mengajarkan kita untuk menggunakan harta sesuai dengan ketentuan Allah. Allah SWT berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.”(QS. Al-Baqarah: 276) Menunaikan zakat bukan berarti membuat harta menjadi sia-sia. Sebaliknya, seorang Muslim diajarkan untuk percaya bahwa kebaikan yang dikeluarkan di jalan Allah memiliki nilai dan keberkahan. 3. Ada Hak Mustahik yang Belum Tersampaikan Zakat memiliki tujuan sosial yang sangat kuat. Dana zakat dapat membantu orang-orang yang termasuk dalam golongan penerima zakat atau mustahik. Ketika zakat ditunda tanpa alasan yang tepat, bantuan yang seharusnya dapat diterima oleh mereka juga ikut tertunda. Bayangkan dampaknya Bagi kita, zakat mungkin hanya sebagian dari harta. Namun bagi keluarga yang sedang kesulitan, bantuan tersebut dapat berarti makanan, biaya pendidikan, modal usaha, atau kebutuhan penting lainnya. 4. Membiasakan Diri Menunda Kebaikan Menunda zakat dapat berkembang menjadi kebiasaan. Hari ini mengatakan “nanti”, besok kembali berkata “belum sempat”, hingga akhirnya kewajiban semakin lama tertunda. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan pentingnya berbagi melalui sabdanya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Justru, kebaikan dapat menjadi jalan untuk memperoleh keberkahan dari Allah SWT. 5. Kehilangan Kesempatan Mengubah Harta Menjadi Amal Harta yang kita miliki pada akhirnya akan ditinggalkan. Namun, harta yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi amal yang bernilai di sisi Allah. Zakat memungkinkan sebagian harta yang kita miliki menjadi manfaat nyata bagi orang lain. Dari zakat yang ditunaikan, mungkin ada seseorang yang kembali makan dengan tenang, seorang anak yang tetap bersekolah, atau keluarga yang memperoleh kesempatan untuk bangkit. Jangan Tunda Zakat, Hadirkan Manfaat Hari Ini Lalai berzakat bukan hanya persoalan kehilangan sejumlah harta. Lebih dari itu, kita bisa kehilangan kesempatan untuk menjalankan kewajiban, membantu sesama, dan menjadikan harta sebagai jalan kebaikan. Melalui lembaga pengelola zakat yang terpercaya seperti BAZNAS, masyarakat dapat menyalurkan zakat agar dikelola dan disalurkan kepada pihak yang berhak sesuai ketentuan. Saatnya Menunaikan Zakat Jika harta yang dimiliki telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan biarkan kesibukan dan penundaan menghalangi langkah untuk berbuat baik. Tunaikan zakat hari ini. Jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang disimpan, tetapi sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat dan harapan bagi sesama. Karena bisa jadi, zakat yang kita tunaikan hari ini adalah pertolongan yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang menunggu uluran tangan. Mari bersama BAZNAS mengubah kepedulian menjadi keberkahan. Tunaikan zakat dengan segera dan hadirkan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL08/09/2026 | BAZNAS
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir? Ada orang yang sangat teliti mengatur uangnya. Sebelum membeli sesuatu, ia membandingkan harga. Sebelum mengeluarkan uang, ia berpikir berkali-kali. Ia tahu mana kebutuhan dan mana keinginan. Ia tidak suka membuang-buang uang dan selalu berusaha menyimpan sebagian penghasilannya. Sekilas, tidak ada yang salah. Bahkan, sikap seperti ini bisa menjadi bentuk tanggung jawab. Kita memang tidak dianjurkan menghamburkan harta. Mengatur keuangan dengan baik adalah bagian dari ikhtiar menjaga apa yang Allah titipkan. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput tentang kapan sikap hemat berhenti menjadi bentuk kehati-hatian dan mulai berubah menjadi kekikiran? Sebab, ada orang yang bukan tidak memiliki kemampuan untuk memberi. Ia hanya merasa terlalu berat ketika hartanya harus berkurang. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam. Hemat Tidak Sama dengan Kikir Hemat pada dasarnya berbicara tentang bagaimana seseorang menggunakan harta secara bijak. Orang yang hemat tidak berarti selalu menolak mengeluarkan uang. Ia hanya berusaha memastikan bahwa uang yang dikeluarkan memang memiliki alasan yang tepat. Ia bisa membeli sesuatu ketika memang membutuhkan. Ia bisa membayar kewajibannya. Ia bisa membantu keluarganya. Ia juga bisa berbagi ketika melihat orang lain membutuhkan. Artinya, orang hemat masih mampu menempatkan harta sesuai dengan fungsinya. Sementara itu, kikir memiliki persoalan yang berbeda. Masalahnya bukan lagi sekadar berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi mengapa seseorang begitu sulit mengeluarkannya meskipun ada sesuatu yang memang patut ditunaikan. Misalnya, seseorang tidak keberatan mengeluarkan uang untuk kenyamanan dirinya sendiri, tetapi selalu merasa keberatan ketika diminta membantu orang lain. Ia bisa mengatakan, “Saya harus menghemat.” Namun pada saat yang sama, ia tetap membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Di titik ini, kita perlu berhenti menyebut semuanya sebagai “hemat”. Sebab bisa jadi yang sedang dijaga bukan lagi keuangan, melainkan keengganan kehilangan bagian dari harta yang sudah dianggap sepenuhnya milik sendiri. Masalahnya Bukan pada Menghitung Menariknya, Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menjadi ceroboh terhadap harta. Al-Qur'an justru memberikan keseimbangan. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang-orang yang baik sebagai mereka yang ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi mengambil jalan pertengahan. Artinya, persoalannya bukan “Haruskah kita menghitung uang?” Tentu boleh. Persoalannya berada pada “Apa yang kita jadikan dasar ketika menghitung?” Kita mungkin sangat teliti menghitung berapa uang yang akan tersisa setelah membeli sesuatu. Tetapi apakah kita juga pernah menghitung apa yang terjadi ketika sebuah kebutuhan orang lain kita abaikan? Kita menghitung pengeluaran. Kita menghitung tabungan. Kita menghitung keuntungan. Kita menghitung harga. Tetapi agama mengajarkan kita untuk melihat sesuatu yang tidak selalu muncul dalam kalkulator seperti hak, kewajiban, kepedulian, dan tanggung jawab. Karena tidak semua yang bisa dihitung adalah satu-satunya hal yang bernilai. Ketika Harta Mulai Menentukan Sikap Kita Ada perbedaan penting antara memiliki harta dan dikendalikan oleh rasa takut kehilangan harta. Seseorang bisa memiliki banyak uang tetapi tetap hidup dengan perhitungan yang sehat. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki harta yang tidak terlalu banyak tetapi sudah terlalu terikat dengannya. Ia terus merasa bahwa uangnya belum cukup. Ketika diminta membantu, muncul banyak alasan. Ketika harus mengeluarkan zakat, terasa berat. Ketika keluarga membutuhkan sesuatu, ia merasa itu sebagai beban. Ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan, ia mulai bertanya: “Memangnya harus saya?” Di sinilah kikir menjadi lebih dari sekadar persoalan keuangan. Ia mulai memengaruhi cara seseorang melihat kewajiban terhadap orang lain. Al-Qur'an bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas tentang sifat bakhil. Dalam QS. Ali 'Imran ayat 180, Allah memperingatkan orang-orang yang kikir terhadap karunia yang diberikan-Nya agar tidak mengira bahwa menahan harta itu baik bagi mereka. Ayat ini menarik karena masalahnya bukan hanya tindakan “tidak memberi”. Ada sesuatu yang lebih dalam yaitu manusia bisa sampai menganggap menahan harta sebagai sesuatu yang baik bagi dirinya. Padahal, bisa jadi justru itulah yang sedang merusak dirinya. Mengapa Kikir Bisa Terlihat Seperti Kehati-hatian? Ini bagian yang sering tidak kita sadari. Kekikiran tidak selalu datang dalam bentuk seseorang yang berkata, “Saya tidak mau membantu.” Kadang ia datang dengan kalimat yang terdengar sangat rasional, seperti: “Takut nanti saya sendiri membutuhkan.” “Harus mengutamakan diri sendiri.” “Uang saya juga tidak banyak.” “Kalau semua orang dibantu, nanti habis.” Sebagian alasan tersebut memang bisa benar. Seseorang memang perlu mempertimbangkan kondisi keuangannya. Kita tidak bisa memaksa orang memberikan sesuatu yang memang berada di luar kemampuannya. Tetapi justru karena itulah kita perlu belajar membedakan ketidakmampuan dan ketidakrelaan. Tidak mampu adalah ketika seseorang memang tidak memiliki kemampuan untuk memberi. Sedangkan kikir dapat muncul ketika seseorang sebenarnya memiliki ruang untuk menunaikan sesuatu, tetapi hatinya terlalu berat untuk melepaskannya. Perbedaannya bukan selalu terlihat dari jumlah uang. Kadang perbedaannya justru terlihat dari sikap hati ketika uang harus keluar dari tangan kita. Islam Tidak Hanya Meminta Kita Mengeluarkan Harta, tetapi Melatih Jiwa QS. Al-Hasyr ayat 9 menyebutkan keberuntungan orang-orang yang dijaga dari syuhh dalam dirinya yaitu sifat kikir atau kecenderungan menahan sesuatu secara berlebihan. Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang bahkan mampu mendahulukan orang lain meskipun mereka sendiri berada dalam kebutuhan. Ini menunjukkan bahwa persoalan kikir sebenarnya bukan hanya persoalan saldo. Ia adalah persoalan jiwa. Sebab kalau persoalannya hanya jumlah harta, orang kaya pasti mudah berbagi dan orang miskin pasti selalu kikir. Kenyataannya tidak demikian. Ada orang yang hartanya sedikit tetapi mudah berbagi. Ada pula orang yang hartanya banyak tetapi selalu merasa bahwa memberikan sesuatu berarti mengurangi kehidupannya. Maka latihan sebenarnya bukan sekadar, “Bagaimana supaya saya lebih banyak memberi?” Tetapi, “Bagaimana supaya hati saya tidak menjadi terlalu berat ketika harus menunaikan sesuatu yang memang menjadi hak dan kewajiban saya?” Ini jauh lebih mendasar. Rasulullah Juga Memperingatkan Bahaya Sifat Kikir Rasulullah ? bersabda agar umatnya menjauhi syuhh, karena sifat tersebut telah membinasakan umat-umat sebelum mereka dan mendorong manusia melakukan kezaliman serta melanggar hal-hal yang diharamkan. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim 2578. Peringatan ini membuat kita melihat kikir dari sudut yang lebih luas. Kikir bukan hanya tentang seseorang yang tidak mau bersedekah. Jika dibiarkan, kecenderungan untuk selalu mempertahankan kepentingan diri dapat berkembang menjadi sikap yang membuat seseorang rela mengabaikan kepentingan orang lain. Hari ini mungkin hanya berkata, “Saya tidak mau kehilangan uang.” Besok bisa berubah menjadi, “Saya tidak mau kehilangan kesempatan.” Lalu berkembang menjadi, “Yang penting saya aman.” Dan tanpa sadar, kepedulian terhadap orang lain semakin lama semakin berada di urutan paling belakang. Karena itu, melawan sifat kikir bukan berarti memusuhi uang. Kita justru sedang menjaga agar uang tidak mengubah cara kita memperlakukan manusia. Lalu, Di Mana Batas Hemat dan Kikir? Mungkin tidak ada satu angka yang bisa menjadi batasnya. Bukan soal apakah kita mengeluarkan 5 persen, 10 persen, atau 20 persen dari penghasilan. Yang perlu diperiksa justru beberapa pertanyaan sederhana yang diajukan kepada diri sendiri, berupa: Apakah saya menahan uang karena memang membutuhkannya, atau karena takut kehilangan? Apakah saya sedang mengatur keuangan, atau sedang mencari alasan untuk tidak menunaikan kewajiban? Apakah saya mampu mengatakan “tidak” karena memang tidak mampu, atau karena saya tidak rela harta saya berkurang? Dan yang paling penting adalah apakah cara saya menjaga harta masih membuat saya menjadi manusia yang bertanggung jawab kepada orang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi. Justru sebaliknya. Ia adalah cara untuk bercermin. Karena mungkin selama ini kita mengira sedang menjadi orang yang hemat, padahal ada bagian dari diri kita yang sedang belajar terlalu mencintai apa yang kita miliki. Harta yang Baik Bukan Hanya Harta yang Berhasil Disimpan Islam tidak memandang harta sebagai sesuatu yang harus dibenci. Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan, menjaga keluarga, membangun kehidupan, membantu orang lain, dan menjalankan berbagai kebaikan. Karena itu, memiliki harta bukan masalah. Mengatur harta juga bukan masalah. Bahkan berhati-hati dalam menggunakan harta adalah sikap yang baik. Yang perlu diwaspadai adalah ketika keinginan mempertahankan harta membuat kita lupa bahwa ada bagian dari harta yang harus ditunaikan. Pada akhirnya, kualitas seseorang bukan hanya terlihat dari seberapa pintar ia mengumpulkan dan mempertahankan harta. Tetapi juga dari seberapa bijak ia menentukan kapan harta itu harus digunakan. Sebab ada saatnya menyimpan adalah tanggung jawab. Ada saatnya mengeluarkan adalah kewajiban. Dan ada saatnya memberi bukan berarti kehilangan, melainkan menjalankan amanah. BAZNAS dan Ruang untuk Menunaikan Amanah Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki posisi yang penting. ZIS bukan sekadar aktivitas memindahkan uang dari satu tangan ke tangan lainnya. Di dalamnya terdapat proses menunaikan amanah, menghimpun kepedulian, kemudian menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan sesuai ketentuan dan peruntukannya. Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu ruang untuk menunaikan zakat dan menyalurkan infak maupun sedekah secara terkelola. Bagi pemberi, proses tersebut bukan hanya tentang mengurangi saldo. Ada proses belajar melepaskan sebagian harta untuk tujuan yang lebih besar. Dan bagi penerima, bantuan yang disalurkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan, menghadapi kondisi sulit, atau memperbaiki kehidupan. Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar tentang, “Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan?” Tetapi, “Untuk apa harta yang Allah titipkan kepada saya seharusnya digunakan?” Karena hemat mengajarkan kita untuk tidak membuang harta. Sedangkan Islam mengajarkan sesuatu yang lebih lengkap yaitu jangan sampai karena terlalu sibuk menjaga harta, kita justru lupa menjaga amanah di balik harta tersebut. Dan mungkin, di situlah batas antara hemat dan kikir sebenarnya berada.
ARTIKEL08/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan: Mengapa Peran BAZNAS Semakin Penting?
5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan: Mengapa Peran BAZNAS Semakin Penting?
5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan: Mengapa Peran BAZNAS Semakin Penting? Kemiskinan sering kali terlihat hanya sebagai angka dalam sebuah laporan. Padahal, di balik angka tersebut ada kehidupan manusia yang penuh perjuangan. Ada keluarga yang harus memilih antara membeli makanan atau memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Ada orang tua yang bekerja keras setiap hari, tetapi penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja, dan kualitas hidup. Di tengah kondisi inilah peran BAZNAS menjadi semakin penting. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara terarah, kepedulian masyarakat dapat diubah menjadi bantuan dan pemberdayaan yang memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) 5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan 1. Kemiskinan Membatasi Kesempatan untuk Berkembang Seseorang yang hidup dalam keterbatasan sering kali tidak memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, keterampilan, maupun peluang ekonomi. Ketika kebutuhan dasar menjadi prioritas Jangankan memikirkan masa depan, memenuhi kebutuhan sehari-hari saja terkadang menjadi tantangan. Karena itu, bantuan yang diberikan melalui zakat dapat menjadi langkah awal untuk meringankan beban mereka. 2. Satu Keluarga Miskin Bisa Menghadapi Banyak Masalah Sekaligus Kemiskinan jarang berdiri sendiri. Keterbatasan ekonomi dapat berdampak pada pendidikan anak, kesehatan keluarga, tempat tinggal, hingga kemampuan memperoleh pekerjaan yang layak. Inilah alasan mengapa penanganan kemiskinan membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, bukan sekadar bantuan sesaat. 3. Anak-Anak dari Keluarga Kurang Mampu Berisiko Kehilangan Kesempatan Setiap anak memiliki hak untuk belajar dan memiliki masa depan. Namun, keterbatasan ekonomi dapat membuat kebutuhan pendidikan menjadi semakin sulit dipenuhi. Zakat dapat menjadi jalan hadirnya harapan Dukungan zakat untuk pendidikan bukan hanya membantu seorang anak mendapatkan fasilitas belajar, tetapi juga membuka peluang agar mereka memiliki masa depan yang lebih baik. 4. Banyak Orang Membutuhkan Bantuan untuk Bangkit, Bukan Sekadar Bertahan Memberikan bantuan kebutuhan dasar sangat penting ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Namun, dalam jangka panjang, masyarakat juga membutuhkan kesempatan untuk menjadi lebih mandiri. Karena itu, zakat produktif dan program pemberdayaan memiliki peran penting. Dukungan berupa pelatihan, modal usaha, keterampilan, dan pendampingan dapat membantu mustahik membangun kehidupan yang lebih kuat. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits tersebut menggambarkan pentingnya saling membantu dan menguatkan dalam kehidupan bermasyarakat. 5. Kepedulian Masyarakat Membutuhkan Pengelolaan yang Tepat Niat baik adalah awal dari sebuah kebaikan. Namun, agar memberikan dampak lebih luas, dana zakat perlu dikelola dengan amanah dan disalurkan kepada mereka yang berhak. Di sinilah peran BAZNAS menjadi penting. Zakat yang ditunaikan masyarakat dapat dikelola melalui berbagai program yang bertujuan membantu kebutuhan mustahik sekaligus mendorong pemberdayaan. Saatnya Zakat Menjadi Jawaban atas Kepedulian Kemiskinan mungkin merupakan persoalan besar, tetapi kepedulian yang dilakukan bersama dapat menjadi bagian dari solusi. Satu zakat mungkin terlihat sederhana bagi pemberinya. Namun bagi penerima, zakat tersebut bisa berarti makanan untuk keluarga, biaya pendidikan seorang anak, modal untuk memulai usaha, atau kesempatan untuk kembali berdiri dengan penuh harapan. Jangan Biarkan Kepedulian Berhenti pada Rasa Iba Mari ubah rasa peduli menjadi aksi nyata. Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan ikut mendukung berbagai upaya membantu serta memberdayakan masyarakat yang membutuhkan. Karena ketika kita berbagi melalui zakat, kita bukan hanya memberikan harta. Kita sedang memberikan kesempatan, harapan, dan jalan untuk bangkit. Tunaikan zakat Anda hari ini. Bersama BAZNAS, mari hadirkan kebermanfaatan yang lebih luas dan ubah kepedulian menjadi perubahan nyata.
ARTIKEL08/09/2026 | BAZNAS
Berapa Banyak Harta yang Sanggup Kita Pertanggungjawabkan?
Berapa Banyak Harta yang Sanggup Kita Pertanggungjawabkan?
Berapa Banyak Harta yang Sanggup Kita Pertanggungjawabkan? Kita sering bertanya, “Berapa banyak harta yang ingin saya miliki?” Ingin punya rumah sendiri. Ingin memiliki tabungan yang cukup. Ingin punya kendaraan yang nyaman. Ingin memiliki investasi, usaha, atau penghasilan yang terus bertambah. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut. Bekerja, mencari penghasilan, membangun usaha, dan memperbaiki keadaan ekonomi adalah bagian dari ikhtiar manusia. Namun, mungkin ada satu pertanyaan yang jauh lebih jarang kita ajukan tentang, “Berapa banyak harta yang sanggup saya pertanggungjawabkan?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya mengubah cara kita melihat kekayaan. Sebab dalam Islam, harta bukan hanya sesuatu yang dikumpulkan. Harta juga sesuatu yang akan ditanyakan. Kita Terbiasa Menghitung Apa yang Kita Punya Setiap bulan kita mungkin menghitung berapa penghasilan yang diterima, berapa uang yang tersimpan, berapa cicilan yang harus dibayar, dan berapa yang masih tersisa. Kita terbiasa menghitung harta dari sisi jumlah. Semakin banyak, sering kali semakin terasa aman. Tetapi Islam mengajarkan bahwa harta tidak berhenti pada persoalan “berapa banyak yang kita punya?” Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi) Perhatikan satu bagian yang sering luput dari perhatian kita yaitu harta akan ditanyakan dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. Artinya, persoalan harta dalam Islam bukan hanya tentang jumlah. Ada dua pertanyaan besar di belakangnya mulai dari mana ia datang? dan ke mana ia pergi? Di dunia, mungkin kita hanya melihat angka di rekening. Di akhirat, angka itu memiliki cerita. Harta yang Banyak Tidak Selalu Menjadi Masalah Memiliki harta bukanlah kesalahan. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi miskin agar dianggap lebih dekat kepada Allah. Islam juga tidak melarang seseorang menjadi kaya selama kekayaan tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan sesuai dengan ketentuan Allah. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang terjadi setelah harta berada di tangan kita. Sebab semakin banyak yang kita miliki, semakin banyak pula hal yang perlu kita jaga. Bayangkan seseorang memiliki penghasilan yang besar. Ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, membeli sesuatu yang ia inginkan, menyimpan sebagian hartanya, mengembangkan usaha, dan menikmati hasil kerja kerasnya. Tetapi di tengah semua itu, ada pertanyaan yang tidak terlihat yakni apakah seluruh harta itu sudah digunakan sebagaimana mestinya? Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti orang yang memiliki banyak harta. Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajarkan bahwa kekayaan adalah ruang yang lebih luas untuk berbuat baik sekaligus tanggung jawab yang lebih besar. Yang Perlu Kita Takutkan Bukan Hanya Kehilangan Harta Kita hidup dalam budaya yang sangat takut kehilangan. Ketika harga kebutuhan naik, kita khawatir. Ketika pendapatan berkurang, kita gelisah. Ketika tabungan menipis, kita merasa tidak aman. Ketika kehilangan sejumlah uang, kita bisa mengingatnya berhari-hari. Semua itu manusiawi. Namun, pernahkah kita merasa gelisah karena ada harta yang belum kita tunaikan haknya? Pernahkah kita bertanya, “Apakah dari penghasilan saya ada kewajiban yang belum saya keluarkan?” Pernahkah kita memikirkan, “Berapa banyak dari apa yang saya miliki yang benar-benar membawa manfaat bagi orang lain?” Inilah perubahan cara berpikir yang penting. Kita sering takut harta kita berkurang, tetapi Islam mengajarkan kita untuk memikirkan apakah harta kita sudah berada di tempat yang benar. Sebab tidak semua harta yang berhasil kita pertahankan adalah harta yang berhasil kita manfaatkan. Jangan Sampai Kita Hanya Pandai Mengumpulkan Ada perbedaan antara memiliki harta dan memahami tanggung jawab atas harta. Seseorang dapat memiliki tabungan yang besar, tetapi belum tentu memahami bagaimana harta tersebut seharusnya digunakan. Seseorang dapat memiliki penghasilan yang tinggi, tetapi belum tentu memperhatikan apakah di dalam hartanya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan. Seseorang juga dapat bekerja keras sepanjang hidupnya, tetapi lupa bahwa kehidupan tidak berakhir ketika seluruh harta berhasil dikumpulkan. Allah SWT berfirman: “Kemudian pada hari itu kamu benar-benar akan ditanya tentang kenikmatan.”(QS. At-Takatsur: 8) Ayat ini seharusnya membuat kita berhenti sejenak. Sebab nikmat bukan hanya sesuatu yang harus disyukuri dengan ucapan. Nikmat juga membawa pertanyaan tentang bagaimana ia digunakan. Rumah yang kita tempati, makanan yang kita makan, penghasilan yang kita terima, fasilitas yang kita nikmati, dan harta yang kita simpan—semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Maka persoalannya bukan lagi “Bolehkah saya memiliki banyak?” Tetapi, “Sudahkah saya belajar bertanggung jawab atas apa yang saya miliki?” Zakat, Infak, dan Sedekah Mengubah Cara Kita Memahami Kepemilikan Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih dalam. Keduanya bukan sekadar aktivitas mengeluarkan uang. Zakat mengajarkan bahwa dalam kondisi tertentu, ada kewajiban yang melekat pada harta yang kita miliki. Infak dan sedekah mengajarkan bahwa harta tidak harus selalu berakhir pada diri sendiri. Ketika sebagian harta diberikan kepada orang lain, sebenarnya kita sedang belajar satu hal penting bahwa memiliki bukan berarti menggenggam semuanya. Ada kalanya harta menjadi lebih berarti justru ketika ia berpindah dari tangan kita dan menghadirkan manfaat bagi orang lain. Allah SWT berfirman: “Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”(QS. Ali 'Imran: 92) Ayat ini tidak berbicara tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita sukai atau tidak kita butuhkan. Ada proses batin di dalamnya: melepaskan sebagian dari sesuatu yang kita cintai demi sesuatu yang lebih bernilai di hadapan Allah. Karena itu, zakat, infak, dan sedekah juga dapat menjadi latihan bagi hati. Kita belajar bahwa keamanan hidup tidak selalu berasal dari semakin banyak yang kita simpan. Kadang, ketenangan justru tumbuh ketika kita tahu bahwa sebagian dari apa yang Allah titipkan telah kita arahkan kepada kebaikan. Mungkin Pertanyaan Kita Selama Ini Terbalik Kita sering bertanya tentang “Bagaimana supaya saya bisa mendapatkan lebih banyak?” Itu bukan pertanyaan yang salah. Tetapi sebagai seorang Muslim, pertanyaan tersebut seharusnya dilengkapi dengan pertanyaan lain, “Untuk apa saya ingin memiliki lebih banyak?” Karena bertambahnya harta seharusnya tidak hanya memperbesar kemampuan kita untuk membeli. Ia juga seharusnya memperbesar kemampuan kita untuk memberi. Bukan berarti setiap orang harus memiliki jumlah yang sama untuk bersedekah. Bukan pula berarti orang yang memiliki sedikit tidak memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Yang penting adalah kesadaran bahwa setiap harta memiliki konsekuensi. Sedikit atau banyak, semuanya mengandung tanggung jawab sesuai dengan keadaan dan ketentuannya. Maka jangan hanya bercita-cita meninggalkan banyak harta untuk keluarga. Bercita-citalah pula meninggalkan banyak kebaikan melalui harta yang Allah titipkan kepada kita. BAZNAS: Mengubah Harta Menjadi Manfaat Kesadaran tersebut membutuhkan tindakan nyata. Di sinilah BAZNAS hadir sebagai salah satu lembaga yang membantu masyarakat menunaikan zakat serta menyalurkan infak dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. Melalui pengelolaan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah, harta yang sebelumnya berada di tangan seseorang dapat menjadi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Pada akhirnya, mungkin kita tidak perlu terlalu sibuk bertanya, “Berapa banyak harta yang akan saya miliki?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “Ketika semua harta itu ditanya, apa yang akan saya jawab?” Berapa yang diperoleh dengan cara yang halal? Berapa yang digunakan untuk kebutuhan? Berapa yang diberikan kepada keluarga? Berapa yang ditunaikan sebagai kewajiban? Dan berapa yang pernah menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan manfaat? Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah saldo rekening. Yang kita bawa adalah pertanggungjawaban atas apa yang pernah Allah titipkan. Maka, selagi kesempatan masih ada, mari belajar memandang harta bukan hanya sebagai sesuatu yang ingin kita miliki, tetapi sebagai sesuatu yang ingin kita pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Sebab pertanyaan terpenting tentang harta bukanlah “seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan”, melainkan “seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita lahirkan darinya.” Jika Anda memiliki kewajiban zakat atau ingin menyalurkan infak dan sedekah, tunaikan melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kebaikan yang Anda titipkan dapat dikelola dan disalurkan secara tepat kepada mereka yang membutuhkan. Karena harta yang kita miliki mungkin akan berakhir di dunia, tetapi kebaikan yang lahir darinya dapat menjadi bekal menuju akhirat.
ARTIKEL08/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
5 Tanda Penting untuk Membedakan Musibah dan Azab dalam Islam
5 Tanda Penting untuk Membedakan Musibah dan Azab dalam Islam
5 Tanda Penting untuk Membedakan Musibah dan Azab dalam Islam Banjir datang. Gempa mengguncang. Gunung erupsi. Kebakaran hutan meluas. Dalam hitungan menit, kehidupan yang sebelumnya berjalan biasa dapat berubah menjadi kepanikan dan kehilangan. Di tengah keadaan seperti itu, biasanya muncul banyak pertanyaan. Apa penyebabnya? Mengapa terjadi di tempat itu? Mengapa orang-orang tersebut yang menjadi korban? Namun ada satu pertanyaan yang terkadang muncul terlalu cepat yaitu “Apakah ini azab dari Allah?” Pertanyaan tersebut tidak selalu salah. Sebagai seorang Muslim, kita memang diperintahkan untuk mengambil pelajaran dari setiap peristiwa. Tetapi persoalannya muncul ketika kita bukan lagi bertanya untuk belajar, melainkan langsung mengambil kesimpulan tentang keputusan Allah terhadap orang lain. Korban bencana kemudian dinilai. Kesulitan seseorang dikaitkan dengan dosa. Musibah dianggap sebagai bukti bahwa mereka sedang dihukum. Padahal, tidak setiap kesulitan adalah azab. Dan yang lebih penting, kita tidak selalu memiliki pengetahuan untuk menentukan apa yang sebenarnya sedang Allah kehendaki melalui sebuah peristiwa. Karena itu, memahami perbedaan antara musibah dan azab bukan sekadar persoalan istilah agama. Ini juga menyangkut bagaimana seorang Muslim berpikir, berbicara, dan memperlakukan orang lain ketika mereka sedang berada dalam penderitaan. 1. Tidak Semua Kesulitan Berarti Allah Sedang Menghukum Al-Qur'an berkali-kali menjelaskan bahwa kehidupan manusia memang tidak terlepas dari ujian. Allah berfirman: “Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 155) Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan ujian hanya akan diberikan kepada orang yang buruk. Manusia secara umum akan menghadapi ketakutan, kehilangan, kekurangan, dan berbagai bentuk kesulitan. Bahkan para nabi yang merupakan manusia pilihan Allah pun mengalami ujian yang berat. Karena itu, kita perlu berhati-hati dengan cara berpikir berupa “Dia tertimpa musibah, berarti dia pasti berdosa.” Logika tersebut terlalu sederhana untuk memahami kehidupan. Kesulitan bisa menjadi ujian. Bisa menjadi peringatan. Bisa menjadi konsekuensi dari tindakan manusia. Bisa juga memiliki hikmah yang baru dipahami jauh setelah peristiwa berlalu. Kita boleh mengambil pelajaran dari sebuah musibah. Tetapi, mengambil pelajaran berbeda dengan menghakimi korban. 2. Azab dan Musibah Tidak Bisa Disamakan Begitu Saja Al-Qur'an menggambarkan azab dalam berbagai kisah tentang umat yang membangkang dan mendustakan kebenaran. Kaum ‘Ad, Tsamud, dan Fir'aun, misalnya, mendapatkan hukuman setelah pembangkangan mereka terhadap Allah. Sementara musibah memiliki cakupan yang jauh lebih luas. Musibah dapat menimpa siapa saja. Karena itu, ketika sebuah gempa terjadi, kita tidak bisa begitu saja mengatakan, “Ini azab untuk orang-orang di sana.” Kita tidak mengetahui keadaan batin setiap korban. Kita tidak mengetahui amal mereka. Kita tidak mengetahui hubungan mereka dengan Allah. Dan kita tidak mengetahui keseluruhan hikmah yang berada di balik sebuah peristiwa. Di sinilah seorang Muslim perlu memiliki kerendahan hati dalam pengetahuan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.”(QS. Al-Isra: 36) Ayat ini tidak hanya relevan ketika kita berbicara tentang ilmu pengetahuan. Ia juga mengajarkan etika yang sangat penting bahwa jangan berbicara seolah-olah kita mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak kita ketahui. Termasuk ketika berbicara tentang keputusan Allah. 3. Kalau Ada Kerusakan, Pertanyaannya Harus Diarahkan kepada Diri Sendiri Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.”(QS. Ar-Rum: 41) Ayat ini sangat penting ketika kita berbicara tentang berbagai persoalan lingkungan dan bencana. Tetapi perhatikan bagian akhirnya yang mengatakan bahwa “agar mereka kembali.” Ayat tersebut seharusnya membuat kita bercermin, bukan menunjuk orang lain. Ketika melihat lingkungan rusak, kita bisa bertanya "Apa yang telah kita lakukan terhadap lingkungan?" Ketika melihat masyarakat menjadi semakin rentan terhadap bencana, kita bisa bertanya, "Apakah cara kita membangun dan menggunakan sumber daya sudah cukup bertanggung jawab?" Ketika melihat penderitaan orang lain, kita bisa bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan untuk meringankannya?" Dengan demikian, bencana tidak hanya menjadi alasan untuk mencari siapa yang salah. Ia menjadi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu dalam diri kita. Sebab ada perbedaan besar antara mengatakan perkataan “Mereka mendapatkan azab.” dan mengatakan perkataan “Peristiwa ini seharusnya membuat kita semua melakukan introspeksi.” Yang pertama mengarah kepada penghakiman. Yang kedua mengarah kepada perbaikan. 4. Cara Kita Berbicara tentang Korban Menunjukkan Kualitas Iman Kita Ada ironi yang sering terjadi. Seseorang baru kehilangan rumah karena banjir. Ada keluarga yang kehilangan sumber penghasilan. Ada anak yang harus meninggalkan sekolah karena tempat tinggalnya rusak. Namun di tengah penderitaan itu, masih ada orang yang sibuk mencari kesalahan korban. “Pantas saja.” “Mungkin karena dosa.” “Makanya jangan melakukan itu.” Padahal, kita tidak sedang berada di tempat mereka. Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup mereka. Dan yang paling menyedihkan, terkadang seseorang menggunakan penderitaan orang lain sebagai kesempatan untuk merasa dirinya lebih baik. Islam justru mengajarkan kasih sayang. Rasulullah ? bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”(HR. Bukhari dan Muslim) Empati tidak berarti menganggap semua perbuatan manusia benar. Empati berarti tidak menambah luka seseorang ketika ia sedang terluka. Kalaupun terdapat kesalahan manusia yang menyebabkan atau memperparah suatu keadaan, kesalahan tersebut tetap dapat dibahas dan diperbaiki tanpa harus merendahkan orang yang sedang menjadi korban. Kita bisa membicarakan kerusakan lingkungan tanpa menyalahkan seluruh korban bencana. Kita bisa membahas kelalaian manusia tanpa menganggap setiap korban pantas menderita. Keadilan membutuhkan kebenaran, tetapi kebenaran juga membutuhkan kebijaksanaan dalam menyampaikannya. 5. Ukuran Pentingnya Bukan Hanya “Apa yang Terjadi”, tetapi “Apa yang Kita Lakukan Setelahnya” Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak selalu mampu menjawab mengapa sebuah bencana terjadi. Tetapi ada satu hal yang berada dalam jangkauan kita yaitu respons kita. Ketika melihat bencana, kita bisa memilih untuk menjadi komentator atau menjadi bagian dari pertolongan. Kita bisa sekadar menyaksikan berita, atau ikut melakukan sesuatu. Kita bisa berhenti pada rasa iba, atau mengubah rasa iba menjadi tindakan. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya. Kita mungkin tidak mampu menghentikan gempa. Kita tidak mampu menghentikan gunung untuk erupsi. Kita tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan alam. Tetapi kita masih bisa membantu manusia yang terdampak olehnya. Melalui BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk menghadirkan bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Kepedulian yang awalnya hanya muncul sebagai rasa sedih dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih nyata dan terarah. Karena pada akhirnya, kesalehan tidak hanya terlihat dari bagaimana kita berbicara tentang penderitaan, tetapi juga dari apa yang kita lakukan ketika penderitaan itu berada di depan mata. Jangan Menjadi Hakim atas Musibah Orang Lain Mungkin kita memang perlu belajar membedakan musibah dan azab. Tetapi pembelajaran itu seharusnya tidak membuat kita semakin mudah menunjuk orang lain. Justru sebaliknya. Semakin memahami agama, seharusnya kita semakin berhati-hati dalam berbicara atas nama Allah. Kita boleh mengatakan bahwa bencana adalah pengingat bagi manusia. Kita boleh melakukan introspeksi. Kita boleh mempelajari hubungan antara perilaku manusia dengan kerusakan lingkungan. Kita boleh memperbaiki kesalahan. Tetapi kita perlu berhenti sejenak sebelum mengatakan perkataan “Ini pasti azab untuk mereka.” Sebab kita tidak mengetahui seluruh rahasia di balik takdir Allah. Dan mungkin, ketika kita sibuk mencari tahu apakah penderitaan orang lain merupakan azab, ada pertanyaan yang jauh lebih penting yang seharusnya kita jawab yakni “Ketika aku melihat mereka menderita, apa yang sudah aku lakukan?” Mungkin musibah mengajarkan seseorang tentang kesabaran. Mungkin mengajarkan keluarga tentang keteguhan. Mungkin mengajarkan masyarakat tentang solidaritas. Dan mungkin juga mengajarkan kita yang hanya menyaksikannya dari kejauhan bahwa hidup yang selama ini kita anggap aman ternyata adalah sesuatu yang sangat layak untuk disyukuri. Karena itu, jangan buru-buru menjadi hakim ketika bencana datang. Jadilah manusia yang mau belajar. Belajar bahwa tidak semua penderitaan adalah azab. Belajar bahwa tidak semua hal harus kita simpulkan. Belajar bahwa korban membutuhkan empati, bukan penghakiman. Dan belajar bahwa ketika Allah memperlihatkan kepada kita penderitaan orang lain, mungkin yang sedang diuji bukan hanya mereka yang berada di tengah bencana. Bisa jadi, kita yang menyaksikannya juga sedang diuji, yang diawali dengan pertanyaan apakah kita akan memilih untuk peduli atau hanya memilih untuk menilai.
ARTIKEL07/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain Ketika sebuah bencana terjadi, perhatian kita biasanya tertuju pada mereka yang menjadi korban. Kita melihat rumah yang rusak, jalan yang terendam, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau seseorang yang harus meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya. Namun, ada satu hal yang sering luput kita sadari. Musibah bukan hanya menguji orang yang mengalaminya. Musibah juga menguji orang yang melihatnya. Ketika melihat seseorang kehilangan rumah karena banjir, apa yang muncul dalam diri kita? Apakah keinginan untuk membantu? Rasa iba? Keinginan untuk mendoakan? Atau justru dorongan untuk mencari tahu apa kesalahan yang dilakukan korban hingga musibah itu menimpanya? Di zaman ketika informasi bergerak begitu cepat, penderitaan orang lain dapat muncul hanya dalam beberapa detik di layar ponsel. Kita bisa melihat video bencana, membaca berita tentang korban, bahkan mengetahui kondisi seseorang yang sedang mengalami kesulitan tanpa pernah bertemu dengannya. Tetapi semakin mudah kita melihat penderitaan, bukan berarti semakin mudah pula kita memahami bagaimana seharusnya bersikap. Rasulullah ? mengajarkan bahwa menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah ketika keadaan baik, tetapi juga tentang bagaimana hati kita merespons ketika melihat orang lain berada dalam keadaan sulit. Ada setidaknya tiga sikap yang penting untuk kita tumbuhkan. 1. Menahan Diri Sebelum Memberikan Penilaian Salah satu respons manusia ketika melihat suatu kejadian adalah mencari penjelasan. Kita ingin tahu mengapa banjir terjadi. Mengapa kebakaran terjadi. Mengapa seseorang kehilangan pekerjaannya. Mengapa sebuah keluarga mengalami kesulitan. Mencari sebab tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, mencari penyebab adalah bagian penting agar kesalahan dapat diperbaiki dan bencana serupa dapat dicegah. Yang menjadi masalah adalah ketika mencari sebab berubah menjadi mencari kesalahan korban. Di media sosial, misalnya, sebuah kabar tentang bencana terkadang segera diikuti komentar yang menghubungkan penderitaan seseorang dengan dosa, kesalahan pribadi, atau kualitas keagamaannya. Padahal, kita tidak mengetahui seluruh keadaan seseorang. Kita hanya melihat beberapa detik kehidupannya, lalu merasa memiliki cukup informasi untuk memberikan kesimpulan tentang hidupnya. Allah mengingatkan dalam QS. Al-Isra ayat 36: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.” Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sederhana tetapi sangat penting yaitu tidak mengetahui adalah alasan untuk berhati-hati, bukan alasan untuk berspekulasi. Sebagai Muslim, kita perlu belajar membedakan antara mengambil pelajaran dan menghakimi seseorang. Kita boleh melihat sebuah bencana lalu bertanya, “Apa yang harus diperbaiki agar kejadian seperti ini tidak terulang?” Kita boleh mengevaluasi tata ruang, lingkungan, perilaku manusia, sistem penanganan bencana, maupun kesiapan masyarakat. Tetapi kita perlu berhati-hati ketika pertanyaannya berubah menjadi, “Dosa apa yang dilakukan mereka sampai Allah menimpakan ini?” Pertanyaan tersebut membawa kita memasuki wilayah yang tidak selalu kita ketahui. Karena itu, salah satu bentuk kemuliaan seorang Muslim adalah kemampuan untuk menahan lidah ketika pengetahuan kita terbatas. Tidak semua hal harus segera kita komentari. Tidak semua penderitaan membutuhkan penjelasan dari kita. Kadang-kadang, mengatakan “Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, tetapi saya ingin membantu” justru menunjukkan kedewasaan iman. 2. Melihat Korban sebagai Manusia, Bukan Sekadar Sebuah Berita Kita sering lupa bahwa di balik kata “korban bencana” terdapat manusia dengan kehidupan yang utuh. Ada seorang ibu yang sedang memikirkan bagaimana memberi makan anaknya. Ada seorang ayah yang kehilangan alat untuk mencari nafkah. Ada seorang anak yang mungkin tidak lagi bisa tidur dengan tenang setelah mengalami bencana. Ada seorang pedagang yang bukan hanya kehilangan barang dagangan, tetapi juga kehilangan modal untuk memulai kembali kehidupannya. Ketika sebuah musibah diberitakan, angka dan gambar memang membantu kita memahami besarnya kejadian. Tetapi angka tidak pernah sepenuhnya mampu menggambarkan penderitaan manusia. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk tidak kehilangan rasa kemanusiaan ketika melihat kesulitan orang lain. Rasulullah ? bersabda: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman.” (HR. Tirmidzi) Pesannya sangat dalam, yaitu rahmat kepada manusia bukan sekadar perasaan lembut di dalam hati. Ia adalah sikap yang membuat kita memperlakukan penderitaan orang lain dengan penuh kasih. Empati berarti kita mampu berhenti sejenak dari sudut pandang kita sendiri dan mencoba memahami bahwa apa yang bagi kita hanya sebuah berita, bagi orang lain mungkin merupakan titik paling berat dalam hidupnya. Karena itu, sebelum berkomentar, kita bisa belajar bertanya, “Jika aku berada di posisi mereka, kata-kata seperti apa yang ingin kudengar?” Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita berbicara. Mungkin kita tidak dapat mengembalikan rumah mereka. Mungkin kita tidak dapat menghapus kehilangan mereka. Mungkin kita bahkan tidak mampu datang langsung ke lokasi. Tetapi setidaknya, kita tidak menambah luka yang sudah mereka rasakan. Inilah bentuk empati yang sering kali sederhana, tetapi justru semakin dibutuhkan di tengah derasnya informasi. 3. Mengubah Rasa Peduli Menjadi Tindakan Nyata Merasa kasihan adalah hal yang manusiawi. Melihat berita bencana lalu merasa sedih adalah hal yang wajar. Namun, kepedulian akan kehilangan makna apabila ia hanya berhenti sebagai perasaan. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjadi penonton atas kesulitan sesamanya. Allah berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” Ayat tersebut memberikan cara pandang yang lebih luas tentang kepedulian. Kebaikan bukan hanya sesuatu yang kita rasakan, tetapi sesuatu yang dikerjakan bersama. Karena itu, ketika melihat orang lain tertimpa musibah, pertanyaan kita seharusnya tidak berhenti pada perkataan “Kasihan sekali.” Tetapi berkembang menjadi pertanyaan, “Apa yang bisa aku lakukan?” Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama. Ada yang dapat datang langsung ke lokasi. Ada yang dapat menjadi relawan. Ada yang dapat memberikan kebutuhan pokok. Ada yang dapat membantu menyebarkan informasi yang benar. Dan ada pula yang mungkin hanya mampu memberikan sebagian hartanya. Semua memiliki ruang untuk berbuat. Dalam konteks inilah zakat, infak, dan sedekah menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian sosial. Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu sarana untuk menyalurkan kepeduliannya melalui pengelolaan dana ZIS agar dapat dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk dalam berbagai kondisi kemanusiaan. Artinya, ketika kita memberikan sebagian harta melalui lembaga pengelola zakat, kita tidak sekadar “memberikan uang”. Kita sedang mengubah sesuatu yang awalnya hanya ada di dalam hati berupa rasa peduli menjadi tindakan yang memiliki kemungkinan untuk dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Dan di sinilah kepedulian menjadi lebih bermakna. Jangan Jadikan Musibah Orang Lain sebagai Panggung untuk Menghakimi Kita tidak selalu mengetahui mengapa sebuah musibah terjadi. Kita tidak mengetahui seluruh hikmah yang Allah simpan di balik suatu kejadian. Kita juga tidak memiliki kewenangan untuk dengan mudah menentukan bahwa penderitaan seseorang merupakan azab atau hukuman atas dosa tertentu. Tetapi kita mengetahui satu hal bahwa ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, ia membutuhkan manusia lain untuk tidak berpaling darinya. Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara memandang musibah orang lain. Bukan tentang “Mengapa mereka sampai mengalami ini?”. Tetapi, pada “Apa yang bisa aku lakukan ketika mereka sedang mengalami ini?” Bukan, “Apa kesalahan mereka?”. Tetapi, “Apa pelajaran yang bisa aku ambil tanpa merendahkan mereka?” Dan bukan hanya perkataan “Kasihan.” Tetapi, “Bagaimana rasa kasihan ini bisa berubah menjadi kebaikan?” Sebab, kualitas seorang Muslim tidak hanya terlihat ketika ia berada dalam keadaan lapang. Ia juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain yang sedang berada dalam keadaan sempit. Ketika Allah memperlihatkan penderitaan seseorang kepada kita, mungkin yang sedang diuji bukan hanya mereka yang berada di tengah musibah. Bisa jadi, kita yang menyaksikannya juga sedang diuji. Diuji apakah kita akan memilih untuk menghakimi atau memahami. Diuji apakah kita akan memilih untuk sekadar menonton atau membantu. Diuji apakah kita akan membiarkan kepedulian berhenti sebagai rasa iba, atau mengubahnya menjadi amal nyata. Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu mencegah setiap musibah yang terjadi. Tetapi kita selalu memiliki pilihan tentang manusia seperti apa kita setelah melihatnya. Dan mungkin, salah satu bentuk kemuliaan yang diajarkan Rasulullah ? adalah ketika penderitaan orang lain tidak membuat kita merasa lebih tinggi dari mereka, tetapi justru membuat kita semakin rendah hati, semakin penyayang, dan semakin terdorong untuk berbuat baik. Jangan jadikan musibah orang lain sebagai bahan untuk merasa lebih suci. Jadikan ia sebagai kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi. Jika hari ini ada saudara kita yang sedang tertimpa musibah, mungkin mereka sedang membutuhkan lebih dari sekadar ucapan belasungkawa. Mungkin mereka membutuhkan kita untuk hadir. Mungkin mereka membutuhkan doa. Mungkin mereka membutuhkan bantuan. Dan mungkin, melalui kesempatan itu, Allah sedang membuka jalan bagi kita untuk melakukan kebaikan. Salurkan kepedulian melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS. Karena kepedulian yang paling berarti bukan hanya yang kita rasakan, tetapi yang akhirnya sampai kepada mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL07/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari Kita Terbiasa Bertanya “Mengapa?”, tetapi Jarang Bertanya “Untuk Apa?” Banjir datang, kita mencari penyebabnya. Gempa terjadi, kita mencari informasi tentang pusat gempanya. Gunung erupsi, kita melihat status aktivitasnya. Ketika kebakaran hutan meluas, kita menghitung berapa hektare yang terbakar dan berapa banyak kerugian yang ditimbulkan. Itu semua penting. Kita memang perlu mengetahui apa yang terjadi agar dapat melakukan mitigasi, menyelamatkan korban, dan mencegah kerusakan yang lebih besar. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering tertinggal bahwa setelah semua ini terjadi, apa yang seharusnya kita sadari? Sebab bencana bukan hanya tentang bangunan yang runtuh, jalan yang terputus, atau harta yang hilang. Di balik setiap peristiwa, selalu ada manusia yang dipaksa berhenti sejenak dari rutinitasnya dan berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Mungkin di situlah kita perlu belajar. Bukan dengan tergesa-gesa menyimpulkan bahwa setiap bencana adalah hukuman Allah. Kita tidak memiliki pengetahuan untuk memastikan hal tersebut. Orang yang baik dapat mengalami musibah. Orang yang saleh pun dapat kehilangan rumah, harta, bahkan orang yang dicintainya. Namun, sebagai seorang Muslim, kita juga tidak seharusnya melihat setiap peristiwa hanya sebagai kejadian yang selesai setelah diberitakan. Ada peristiwa yang mungkin perlu kita jadikan bahan untuk bercermin. Al-Qur’an Mengajak Kita Melihat Lebih Dalam Allah berfirman: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. Ar-Rum: 41) Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya menyebut tentang kerusakan, tetapi juga menyebut sebuah tujuan yaitu “agar mereka kembali.” Kembali kepada apa? Kembali kepada kesadaran bahwa manusia tidak hidup tanpa batas. Kembali menyadari bahwa apa yang kita lakukan memiliki konsekuensi. Kembali memahami bahwa bumi bukan sekadar tempat untuk mengambil sebanyak-banyaknya, tetapi amanah yang harus dijaga. Ayat ini tidak mengajarkan kita untuk menjadi hakim yang menunjuk korban bencana dan berkata, “Ini terjadi karena dosa mereka.” Sebaliknya, ayat ini justru mengajak kita untuk bercermin. Ketika lingkungan rusak, apakah cara hidup kita ikut berkontribusi? Ketika masyarakat menjadi semakin rentan terhadap bencana, apakah pembangunan dan keputusan manusia sudah benar-benar mempertimbangkan keselamatan? Ketika sebuah musibah terjadi, apakah kita hanya sibuk menyaksikannya, atau mulai menyadari bahwa kehidupan yang kita anggap aman ternyata sangat rapuh? Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat bencana menjadi lebih dari sekadar berita. Tidak Semua Bencana Disebabkan Manusia, tetapi Banyak Dampaknya Dipengaruhi Manusia Ada hal yang perlu kita pahami dengan jernih. Gempa bumi memiliki proses geologis. Gunung berapi memiliki aktivitas alamiah. Hujan memiliki siklusnya sendiri. Tidak adil jika setiap bencana langsung disederhanakan menjadi akibat dosa manusia. Tetapi manusia tetap memiliki peran dalam menentukan seberapa besar sebuah peristiwa berubah menjadi tragedi. Banjir mungkin berasal dari hujan deras, tetapi kerusakan lingkungan dan tata ruang yang buruk dapat memperbesar dampaknya. Hutan dapat terbakar karena berbagai faktor alam maupun manusia, tetapi ketika lingkungan sudah rusak dan ekosistem kehilangan daya dukungnya, risikonya dapat menjadi semakin besar. Bencana alam mungkin tidak selalu bisa kita cegah. Tetapi kerentanan manusia terhadap bencana sering kali bisa kita kurangi. Di sinilah kita perlu berhenti memandang alam hanya sebagai sesuatu yang berada “di luar sana”. Apa yang kita buang, apa yang kita bangun, bagaimana kita menggunakan tanah, bagaimana kita mengelola sumber daya, bahkan bagaimana kita membuat keputusan ekonomi, semuanya dapat meninggalkan jejak. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya...”(QS. Al-A’raf: 56) Ayat tersebut seharusnya tidak hanya dibaca ketika terjadi bencana. Ia juga perlu hadir dalam cara kita menjalani kehidupan sehari-hari. Karena menjaga bumi bukan hanya urusan pemerintah, aktivis lingkungan, atau lembaga tertentu. Ia adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Mungkin Kita Terlalu Cepat Melupakan Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada sebuah bencana yaitu ketika manusia kehilangan pelajaran setelah bencana berlalu. Ketika bencana terjadi, kita terkejut. Kita bersedih. Kita mengirim doa. Kita membagikan berita. Kita mungkin ikut berdonasi. Namun beberapa hari kemudian, perhatian kita kembali berpindah. Berita baru datang. Tren baru muncul. Kesibukan kembali memenuhi hari. Sementara bagi korban, kehidupan belum tentu kembali normal. Rumah yang rusak masih harus diperbaiki. Pendapatan yang hilang belum tentu kembali. Anak-anak masih membutuhkan tempat belajar. Kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi. Dan luka karena kehilangan seseorang tidak selesai hanya karena pemberitaan tentang bencana sudah berhenti. Bagi kita, bencana mungkin hanya berlangsung beberapa menit atau beberapa hari. Bagi sebagian orang, akibatnya bisa berlangsung bertahun-tahun. Kesadaran seperti inilah yang perlu dibangun. Empati bukan sekadar kemampuan merasa kasihan ketika melihat penderitaan. Empati adalah kemampuan memahami bahwa kehidupan orang lain tetap berjalan setelah perhatian kita berpindah. “Kembali” Bukan Hanya Tentang Menangis di Hadapan Allah Kata kembali dalam QS. Ar-Rum: 41 seharusnya membuat kita berpikir lebih luas. Kembali bukan hanya berarti takut ketika musibah datang, kemudian melupakan semuanya ketika keadaan membaik. Kembali berarti memperbaiki hubungan kita dengan Allah sekaligus memperbaiki hubungan kita dengan kehidupan yang Allah titipkan. Kembali berarti menggunakan harta dengan lebih bertanggung jawab. Kembali berarti tidak menjadikan kebutuhan orang lain sebagai sesuatu yang tidak penting hanya karena kita tidak mengalaminya. Kembali berarti menyadari bahwa kekuatan, ilmu, jabatan, harta, dan kemampuan yang kita miliki bukan hanya untuk diri sendiri. Rasulullah ? juga mengajarkan bahwa kepedulian tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang besar. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap hari, dan di antaranya termasuk membantu seseorang, mendamaikan orang yang berselisih, serta melakukan kebaikan. Artinya, menjadi manusia yang bermanfaat bukan aktivitas musiman yang muncul ketika bencana menjadi viral. Kepedulian seharusnya menjadi kebiasaan. Ketika Kesadaran Harus Berubah Menjadi Tindakan Lalu apa yang bisa kita lakukan? Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk turun langsung ke lokasi bencana. Tidak semua orang memiliki keahlian mitigasi bencana. Tidak semua orang mampu membangun kembali rumah yang hancur. Tetapi hampir setiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan. Ada yang memiliki tenaga. Ada yang memiliki ilmu. Ada yang memiliki waktu. Dan ada yang memiliki harta. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki ruang yang sangat penting. Ketika bencana terjadi, kebutuhan korban tidak berhenti pada rasa iba. Mereka membutuhkan makanan, kebutuhan dasar, dukungan kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga bantuan untuk kembali membangun kehidupan. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, kepedulian masyarakat dapat dihimpun dan diarahkan menjadi manfaat yang lebih terorganisasi. BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi tindakan nyata, baik melalui bantuan kemanusiaan maupun berbagai bentuk pemberdayaan bagi masyarakat yang membutuhkan. Karena pada akhirnya, kesadaran yang tidak pernah berubah menjadi tindakan akan tetap menjadi kesadaran yang tidak selesai. Mungkin Kita Tidak Bisa Menghentikan Bencana, tetapi Kita Bisa Memilih Cara Meresponsnya Kita mungkin tidak selalu mengetahui mengapa sebuah bencana terjadi. Kita tidak boleh sembarangan menghakimi korban dan menyebut mereka sedang menerima hukuman Allah. Namun kita juga tidak perlu menunggu jawaban atas semua pertanyaan tersebut untuk melakukan introspeksi. Ketika bumi menunjukkan kerentanannya, kita bisa belajar menjaga. Ketika manusia kehilangan tempat tinggal, kita bisa belajar berbagi. Ketika sebuah keluarga kehilangan sumber penghidupan, kita bisa belajar bahwa kesejahteraan tidak boleh hanya dipahami dari apa yang kita miliki sendiri. Dan ketika musibah mengingatkan kita bahwa hidup begitu rapuh, mungkin kita perlu kembali menyadari siapa sebenarnya diri kita. Kita bukan pemilik mutlak kehidupan. Kita adalah manusia yang sedang dititipi kehidupan. Mungkin karena itu, bencana bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada mereka yang berada di lokasi kejadian. Ia juga bisa menjadi pertanyaan untuk kita yang menyaksikannya dari tempat yang aman: Apa yang sedang Allah minta kita sadari? Dan mungkin, jawaban paling penting bukan selalu tentang mengapa sesuatu terjadi. Tetapi tentang apa yang akan kita ubah setelah melihatnya. Sebab boleh jadi, pesan yang paling dalam dari sebuah peristiwa bukanlah agar kita terus hidup dalam ketakutan. Melainkan agar kita kembali. Kembali kepada Allah. Kembali kepada tanggung jawab. Kembali kepada kepedulian. Dan kembali menjadi manusia yang ketika melihat penderitaan, tidak hanya berkata, “Semoga mereka dikuatkan,” tetapi juga bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
ARTIKEL07/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan Kita biasanya baru merasa seseorang telah berbuat zalim ketika ada sesuatu yang terlihat hilang. Uang kita diambil. Barang kita dicuri. Hak kita tidak diberikan. Kita merasa dirugikan karena ada sesuatu yang sebelumnya berada di tangan kita, lalu berpindah kepada orang lain. Namun, manusia sebenarnya dapat kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar daripada harta. Seseorang bisa kehilangan nama baik karena fitnah.Bisa kehilangan harga diri karena dipermalukan.Bisa kehilangan rasa aman karena ancaman.Bahkan bisa kehilangan kehidupannya karena kekerasan. Yang menarik, semua itu memiliki satu kesamaan bahwa ada sesuatu yang menjadi hak manusia, tetapi dirusak atau dirampas oleh manusia lainnya. Di sinilah Islam mengajarkan bahwa kezaliman tidak sesempit mengambil harta orang lain. Ada hak-hak manusia yang jauh lebih luas dan harus dijaga. Kita Terlalu Sering Menganggap “Mengambil” Hanya Soal Harta Ketika mendengar kata “merampas”, yang muncul di kepala kita mungkin adalah pencurian. Padahal, seseorang tidak harus mengambil dompet untuk membuat orang lain kehilangan sesuatu. Ucapan juga bisa mengambil. Sikap juga bisa mengambil. Kekuasaan juga bisa mengambil. Bahkan ketidakpedulian, dalam keadaan tertentu, dapat membuat seseorang kehilangan sesuatu yang seharusnya ia miliki. Kita bisa mengambil kesempatan seseorang dengan berlaku curang.Kita bisa mengambil nama baik seseorang dengan menyebarkan sesuatu yang tidak benar.Kita bisa mengambil rasa aman seseorang dengan intimidasi.Kita bisa mengambil ketenangan seseorang dengan terus merendahkannya. Tidak semuanya masuk ke dalam catatan transaksi. Tidak semuanya bisa dihitung dalam rupiah. Tetapi bukan berarti semuanya tidak bernilai. Ada kerugian yang tidak tercatat dalam laporan keuangan, tetapi tercatat dalam luka manusia. Karena itu, menjadi seorang Muslim bukan hanya belajar agar tangan kita tidak mengambil milik orang lain. Kita juga perlu belajar agar lisan, sikap, dan kekuasaan yang kita miliki tidak menjadi alat untuk merampas hak manusia lainnya. Islam Menjaga Lebih dari Apa yang Kita Miliki Dalam ajaran Islam, harta memang memiliki kedudukan yang harus dijaga. Al-Qur’an melarang manusia memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil...”(QS. Al-Baqarah: 188) Namun perlindungan Islam terhadap manusia tidak berhenti pada harta. Rasulullah ? juga memberikan gambaran yang sangat kuat tentang betapa seriusnya hak manusia dalam khutbah beliau. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau menyampaikan bahwa darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim merupakan sesuatu yang suci dan tidak boleh dilanggar. Tiga hal ini menarik untuk direnungkan. Harta adalah sesuatu yang berada dalam kepemilikan seseorang. Kehormatan adalah sesuatu yang melekat pada martabat seseorang. Darah atau kehidupan adalah hak paling mendasar yang membuat seseorang dapat menjalani hidupnya. Seolah-olah Islam sedang mengajarkan kepada kita bahwa manusia tidak hanya memiliki sesuatu di luar dirinya. Manusia juga memiliki martabat yang harus dihormati dan kehidupan yang harus dilindungi. Maka persoalannya bukan sekadar, “Apakah saya mengambil sesuatu milik orang lain?” Tetapi lebih jauh “Apakah keberadaan saya membuat hak orang lain tetap aman?” Pertanyaan kedua jauh lebih berat. Sebab ia memaksa kita untuk melihat perilaku sendiri, bukan hanya kesalahan orang lain. Kehormatan Tidak Terlihat, tetapi Kehilangannya Bisa Sangat Nyata Kita mudah memahami ketika seseorang kehilangan uang. Tetapi kehormatan tidak memiliki angka. Tidak ada nominal untuk harga diri. Tidak ada kuitansi untuk nama baik. Tidak ada laporan bulanan yang mencatat berapa banyak rasa percaya diri seseorang yang hilang setelah dipermalukan. Padahal dampaknya bisa panjang. Seseorang yang terus-menerus dihina mungkin mulai meragukan dirinya sendiri. Seseorang yang difitnah mungkin kehilangan kepercayaan orang lain. Seseorang yang dipermalukan di depan banyak orang mungkin membawa luka itu jauh lebih lama daripada yang disadari pelakunya. Inilah mengapa Islam juga memberikan perhatian besar terhadap lisan. Allah berfirman: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka...”(QS. Al-Hujurat: 11) Ayat ini bukan hanya tentang sopan santun. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih mendasar bahwa kita tidak memiliki hak untuk menjadikan kehormatan manusia lain sebagai bahan untuk meninggikan diri sendiri. Hari ini bentuknya bisa berupa ejekan. Bisa berupa komentar di media sosial. Bisa berupa membicarakan aib seseorang. Bisa berupa menjadikan kondisi orang lain sebagai hiburan. Kita mungkin menganggapnya kecil karena kita tidak melihat akibatnya secara langsung. Tetapi bagi orang yang menerimanya, mungkin tidak demikian. Kemiskinan Tidak Menghapus Kehormatan Di sinilah pembahasan ini menjadi semakin penting ketika kita berbicara tentang kepedulian sosial. Ada seseorang yang hidup berkecukupan. Ada pula seseorang yang harus meminta bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Perbedaan kondisi ekonomi tidak membuat nilai kemanusiaan mereka berbeda. Sayangnya, dalam praktik kehidupan sosial, orang yang membutuhkan bantuan terkadang dipandang hanya sebagai “penerima”. Padahal sebelum ia menjadi penerima bantuan, ia adalah manusia. Ia memiliki nama.Ia memiliki keluarga.Ia memiliki perasaan.Ia memiliki rasa malu.Ia memiliki harga diri. Karena itu, membantu seseorang tidak seharusnya membuat kita merasa memiliki hak untuk memperlakukan mereka sesuka hati. Kita bisa memberikan bantuan, tetapi tetap merendahkan. Kita bisa memberikan uang, tetapi mempermalukan. Kita bisa memenuhi kebutuhan seseorang, tetapi mengambil kehormatannya dalam proses tersebut. Jika demikian, kita perlu bertanya kembali tentang apakah bantuan benar-benar telah menjadi kebaikan jika cara memberikannya justru melukai martabat orang yang dibantu? Islam tidak mengajarkan kepedulian yang membuat seseorang semakin kecil di hadapan manusia. Allah bahkan mengingatkan: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti.”(QS. Al-Baqarah: 263) Ayat ini sangat dalam. Allah tidak hanya melihat apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan penerimanya. Artinya, kebaikan tidak hanya dinilai dari benda yang berpindah tangan. Ada adab. Ada martabat. Ada perasaan manusia yang harus tetap dijaga. Menolong Bukan Berarti Kita Berhak Merasa Lebih Tinggi Di titik ini, kita mungkin perlu mengubah cara memandang sedekah dan zakat. Memberi bukan berarti kita sedang berdiri lebih tinggi daripada orang lain. Bisa jadi hari ini kita menjadi pihak yang memberi, tetapi kehidupan selalu berubah. Hari ini kita sehat, besok mungkin membutuhkan pertolongan. Hari ini kita memiliki pekerjaan, besok mungkin kehilangan penghasilan. Hari ini kita mampu memenuhi kebutuhan keluarga, suatu saat mungkin kita sendiri berada dalam posisi yang membutuhkan bantuan. Karena itu, ZIS seharusnya tidak melahirkan jarak antara “orang yang punya” dan “orang yang tidak punya”. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa manusia saling membutuhkan dan bahwa sebagian harta yang kita miliki memiliki hak yang harus ditunaikan. Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah menjadi penting. BAZNAS dan Tanggung Jawab Menyalurkan Kebaikan dengan Menjaga Martabat Melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS hadir sebagai salah satu sarana agar kepedulian masyarakat dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan secara lebih terarah. Namun nilai dari sebuah penyaluran tidak semestinya hanya dilihat dari berapa rupiah yang diberikan. Lebih jauh, kita perlu melihat apakah bantuan tersebut benar-benar menjawab kebutuhan, memberikan manfaat, dan tetap menjaga martabat penerimanya. Sebab tujuan membantu bukan membuat seseorang merasa lebih rendah karena sedang menerima. Tujuannya adalah agar seseorang dapat kembali memiliki ruang untuk berdiri. Karena itu, ketika kita menunaikan zakat atau memberikan infak dan sedekah melalui lembaga pengelola zakat, kita sebenarnya sedang mempercayakan sebagian harta kita untuk menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan manusia lain. Dan amanah tersebut tidak hanya tentang nominal. Ia juga tentang bagaimana manusia diperlakukan. Jangan Sampai Tangan Kita Bersih, tetapi Hak Orang Lain Tetap Terluka Mungkin kita tidak pernah mencuri uang. Tetapi pernahkah kita mengambil kesempatan orang lain? Mungkin kita tidak pernah melakukan kekerasan. Tetapi pernahkah ucapan kita membuat seseorang kehilangan harga dirinya? Mungkin kita tidak pernah merampas sesuatu secara langsung. Tetapi pernahkah kita menikmati keuntungan dari sesuatu yang sebenarnya merugikan orang lain? Islam mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim dibangun bukan hanya dengan memperbanyak ibadah pribadi, tetapi juga dengan menjaga hak manusia. Sebab kesalehan tidak berhenti ketika kita selesai beribadah. Ia terlihat ketika kita memiliki kesempatan untuk merugikan orang lain, tetapi memilih untuk tidak melakukannya. Ia terlihat ketika kita mampu merendahkan seseorang, tetapi memilih menjaga lisannya. Ia terlihat ketika kita memiliki lebih, lalu menyadari bahwa sebagian dari yang kita miliki memiliki hak orang lain. Pada akhirnya, ada banyak cara untuk mengambil sesuatu dari manusia. Ada yang mengambil hartanya. Ada yang mengambil kehormatannya. Ada yang mengambil kehidupannya. Dan tugas seorang Muslim bukan hanya memastikan dirinya tidak menjadi orang yang mengambil. Lebih jauh, ia dipanggil untuk menjadi orang yang menjaga. Menjaga harta. Menjaga kehormatan. Menjaga kehidupan. Karena bisa jadi ukuran kebaikan kita bukan hanya tentang seberapa banyak yang telah kita berikan kepada orang lain, tetapi juga tentang seberapa sedikit hak orang lain yang terluka karena keberadaan kita. Dan ketika Allah memberi kita kemampuan untuk membantu, semoga yang kita berikan tidak hanya sampai kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga sampai dengan cara yang membuat mereka tetap merasa dihargai sebagai manusia. Sebab memberi sesuatu kepada seseorang adalah kebaikan. Tetapi memastikan ia tetap memiliki kehormatan ketika menerimanya adalah bagian dari kebaikan yang lebih dalam.
ARTIKEL03/09/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ketika Biaya Berobat Jadi Beban, Zakat BAZNAS Hadir Membawa Harapan
Ketika Biaya Berobat Jadi Beban, Zakat BAZNAS Hadir Membawa Harapan
Ketika Biaya Berobat Jadi Beban, Zakat BAZNAS Hadir Membawa Harapan Ketika Sakit Datang, Biaya Berobat Menjadi Tantangan Sakit adalah kondisi yang dapat datang kapan saja. Bagi sebagian orang, pergi ke dokter dan membeli obat mungkin merupakan hal yang biasa. Namun, bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, biaya berobat dapat menjadi beban yang sangat berat. Ketika penghasilan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pemeriksaan, obat-obatan, transportasi, hingga perawatan medis bisa membuat keluarga harus memilih antara berobat atau memenuhi kebutuhan pokok. Kondisi tersebut menjadi perhatian BAZNAS. Melalui berbagai program kesehatan, zakat dimanfaatkan untuk membantu mustahik memperoleh akses layanan kesehatan yang layak. BAZNAS menyebut program kesehatan sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan melalui layanan medis, pendampingan, serta akses pengobatan. Zakat BAZNAS untuk Kesehatan, Menghadirkan Harapan bagi Mustahik Zakat bukan hanya tentang menunaikan kewajiban kepada Allah SWT. Ketika dikelola dan disalurkan sesuai ketentuan syariat, zakat juga dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat. Siapa yang Berhak Menerima Zakat? Allah SWT telah menjelaskan golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur’an: Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Ayat tersebut menjadi landasan bahwa zakat memiliki sasaran penerima yang telah ditentukan. Karena itu, bantuan kesehatan dari dana zakat diberikan kepada penerima yang memenuhi ketentuan sebagai mustahik. BAZNAS Hadir Membantu Meringankan Beban Biaya Berobat BAZNAS melalui program kesehatan berupaya menghadirkan layanan bagi masyarakat yang membutuhkan. Layanan kesehatan juga dapat menjangkau masyarakat melalui kegiatan kesehatan keliling. Dengan begitu, keterbatasan biaya maupun jarak tidak selalu menjadi penghalang untuk mendapatkan pertolongan medis. Zakat yang Mengubah Kesulitan Menjadi Harapan Bantuan kesehatan bukan sekadar tentang membayar biaya pengobatan. Di baliknya terdapat harapan agar seseorang dapat kembali sehat, bekerja, merawat keluarga, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Ketika seorang kepala keluarga dapat kembali bekerja setelah mendapatkan pengobatan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu orang. Seluruh keluarga dapat kembali memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih stabil. Setiap Kebaikan Dapat Meringankan Beban Sesama Islam mengajarkan umatnya untuk membantu mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.”(HR. Muslim No. 2699) Hadits ini mengingatkan kita bahwa membantu meringankan kesulitan orang lain merupakan amal yang memiliki keutamaan besar. Mari Hadirkan Harapan melalui Zakat dan Sedekah Bayangkan jika bantuan yang kita berikan menjadi alasan seorang ibu bisa mendapatkan pengobatan. Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan membantu seorang ayah kembali sehat dan bekerja. Atau jika sedekah kita menjadi jalan bagi seorang anak untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Kebaikan yang kita keluarkan hari ini mungkin menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang. BAZNAS menghadirkan berbagai program kesehatan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk layanan kesehatan gratis dan bantuan medis bagi mustahik. Dukungan masyarakat menjadi bagian penting agar manfaat tersebut dapat terus menjangkau lebih banyak penerima. Saatnya Berbagi, Saatnya Menjadi Bagian dari Harapan Jangan biarkan keterbatasan biaya membuat seseorang harus menunda pengobatan. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS dan dukung layanan kesehatan bagi mustahik. Bagi Anda yang ingin memberikan bantuan tambahan, sedekah untuk program kesehatan juga dapat menjadi bentuk kepedulian untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih luas. Sebab, ketika kita membantu meringankan beban orang lain, kita sedang menanam kebaikan yang insyaAllah menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Tunaikan zakat dan sedekah Anda melalui BAZNAS. Bersama, kita hadirkan kesehatan, kepedulian, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL03/09/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →