Artikel Terbaru
Kapan Kebaikan Berhenti Menjadi Pilihan dan Mulai Menjadi Identitas?
Kapan Kebaikan Berhenti Menjadi Pilihan dan Mulai Menjadi Identitas?
Ada perbedaan besar antara orang yang pernah melakukan kebaikan dan orang yang menjadikan kebaikan sebagai bagian dari dirinya.
Seseorang bisa bersedekah ketika melihat orang yang kesusahan. Ia bisa membantu ketika sedang tersentuh oleh sebuah cerita. Ia juga bisa menunaikan zakat ketika telah memenuhi kewajibannya. Semua itu adalah kebaikan.
Namun, ada pertanyaan yang lebih dalam yaitu apakah kebaikan tersebut hanya sesuatu yang kita lakukan, atau sudah menjadi bagian dari siapa diri kita?
Sebab, ketika kebaikan masih sebatas pilihan, kita selalu memiliki alasan untuk memilihnya atau meninggalkannya. Tetapi ketika kebaikan telah menjadi identitas, kita mulai melihatnya secara berbeda. Berbuat baik bukan lagi sekadar sesuatu yang ingin kita lakukan, melainkan sesuatu yang terasa tidak lengkap jika tidak kita lakukan.
Kita Sering Menganggap Kebaikan sebagai Sebuah Kejadian
Ada kecenderungan manusia melihat kebaikan sebagai sebuah peristiwa.
Hari ini membantu seseorang.Hari ini bersedekah.Hari ini memberikan makanan.Hari ini menunaikan zakat.
Setelah itu, kita kembali kepada kehidupan masing-masing.
Tidak ada yang salah dengan satu kebaikan. Namun, persoalannya adalah ketika kebaikan hanya hadir sebagai respons terhadap keadaan. Kita berbuat baik ketika melihat penderitaan, ketika memiliki kelebihan, atau ketika hati sedang tergerak.
Padahal kehidupan tidak selalu menghadirkan alasan yang membuat kita tergerak.
Di sinilah kedewasaan dalam berbuat baik mulai diuji. Apakah kita hanya berbuat baik ketika merasa ingin, atau karena kita memahami bahwa menjadi manusia juga berarti memiliki tanggung jawab terhadap manusia lainnya?
Al-Qur'an mengingatkan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa...”(QS. Al-Ma'idah: 2)
Ayat ini menarik karena kebaikan tidak ditempatkan hanya sebagai tindakan individual. Ada dimensi sosial di dalamnya. Kebaikan menjadi sesuatu yang perlu dibangun bersama.
Dari “Saya Berbuat Baik” Menjadi “Saya Adalah Bagian dari Kebaikan”
Perubahan yang lebih penting sebenarnya terjadi di dalam cara seseorang memandang dirinya.
Ada perbedaan antara “Saya bersedekah.” dengan “Saya adalah seseorang yang ingin memastikan sebagian dari apa yang saya miliki memberi manfaat bagi orang lain.”
Kalimat kedua menunjukkan perubahan cara pandang.
Zakat tidak lagi dilihat semata-mata sebagai kewajiban yang harus diselesaikan. Infak tidak hanya dipahami sebagai uang yang dikeluarkan. Sedekah pun tidak berhenti sebagai pemberian sesaat.
Semuanya menjadi bagian dari cara seseorang memperlakukan rezeki yang dimilikinya.
Di titik ini, kita mulai menyadari bahwa harta bukan hanya tentang apa yang dapat kita miliki, tetapi juga tentang apa yang dapat kita pertanggungjawabkan.
Menjadi muzaki bukan berarti seseorang telah mencapai titik “selesai”. Justru kesadaran tersebut menjadi awal dari hubungan yang lebih dewasa dengan harta, sesama manusia, dan Allah SWT.
Ketika Tidak Ada yang Melihat, Apakah Kebaikan Tetap Kita Pilih?
Identitas paling mudah diuji ketika tidak ada yang melihat.
Ketika tidak ada unggahan.Tidak ada pujian.Tidak ada ucapan terima kasih.Tidak ada orang yang mengetahui.
Apakah kita masih merasa bahwa berbagi adalah sesuatu yang penting?
Di sinilah kebaikan mulai berpindah dari pencitraan menuju penghayatan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan ini bukan sekadar tentang seberapa sering seseorang memberi. Lebih jauh, ia menunjukkan bahwa nilai sebuah kebaikan tidak selalu terletak pada besarnya tindakan, tetapi pada kesungguhan untuk menjadikannya bagian dari kehidupan.
Karena masyarakat yang kuat tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang sesekali melakukan kebaikan. Ia dibangun oleh manusia yang menganggap kepedulian sebagai bagian dari tanggung jawab hidupnya.
BAZNAS dan Ruang untuk Menjaga Kebaikan Tetap Mengalir
Di sinilah keberadaan BAZNAS memiliki makna yang lebih luas.
BAZNAS tidak hanya menjadi tempat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Bagi masyarakat yang telah memiliki kesadaran untuk berbagi, lembaga seperti BAZNAS menyediakan ruang agar kebaikan tersebut dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui program-program yang terarah.
Artinya, kebaikan pribadi dapat bertemu dengan kebutuhan sosial yang lebih luas.
Apa yang diberikan seseorang mungkin terlihat sederhana dari sudut pandangnya. Namun ketika terkumpul dan dikelola bersama, ia dapat menjadi bantuan kemanusiaan, dukungan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, bantuan bagi kelompok rentan, hingga respons terhadap bencana.
Kebaikan individu kemudian menemukan dampak kolektifnya.
Pada Akhirnya, Siapa Kita Ketika Tidak Sedang Diminta Berbuat Baik?
Mungkin pertanyaan terbesar dari kebaikan bukan “Berapa banyak yang sudah kita berikan?”. Tetapi, “Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui apa yang kita lakukan?”
Sebab zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta dari satu tangan ke tangan lainnya. Di dalamnya ada proses membentuk cara kita memandang rezeki, tanggung jawab, dan keberadaan orang lain dalam kehidupan kita.
Ketika kebaikan masih menjadi pilihan, kita dapat berhenti kapan saja.
Tetapi ketika kebaikan telah menjadi identitas, kita mulai memahami bahwa berbagi bukan sekadar sesuatu yang kita lakukan. Ia adalah bagian dari manusia seperti apa yang ingin kita perjuangkan untuk menjadi.
Dan mungkin, di situlah makna keberlanjutan kebaikan yang sesungguhnya bahwa bukan terus memberi karena merasa harus, tetapi terus memberi karena kita tidak ingin kehilangan bagian terbaik dari diri kita.
ARTIKEL24/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ternyata, Bantuan Kecil Bisa Mengubah Banyak Hal
Pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang terlihat kecil bagi kita ternyata bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain?
Sebungkus makanan mungkin hanya cukup untuk satu kali makan. Sejumlah uang yang kita sisihkan mungkin terasa sederhana. Sebuah paket sembako mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi seseorang yang sedang kesulitan, bantuan kecil tersebut bisa menjadi alasan untuk kembali tersenyum, bertahan satu hari lagi, bahkan bangkit untuk memperbaiki kehidupannya.
Inilah yang sering kita lupakan: kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, perubahan justru dimulai dari tangan yang mau berbagi sedikit dari apa yang dimilikinya.
Jangan Meremehkan Kebaikan yang Kecil
Kita sering menunda berbuat baik karena merasa belum memiliki cukup.
“Kalau sudah punya banyak, baru saya bisa membantu.”
“Kalau nanti rezeki saya lebih luas, saya akan bersedekah lebih banyak.”
“Sekarang belum bisa memberikan banyak.”
Pikiran seperti ini tanpa disadari membuat kita melewatkan banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Padahal, nilai sebuah bantuan bukan hanya dilihat dari jumlahnya. Ada niat, keikhlasan, dan manfaat yang menyertainya.
Allah SWT berfirman:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah.
Bisa jadi sesuatu yang menurut kita kecil justru memiliki nilai besar di sisi-Nya.
Satu Bantuan Bisa Menjadi Awal Perubahan
Bayangkan seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan dapurnya.
Kemudian seseorang memberikan paket sembako.
Bagi pemberi, mungkin itu hanya sebagian kecil dari penghasilannya. Tetapi bagi sang ibu, bantuan tersebut berarti berkurangnya beban beberapa hari ke depan.
Atau seorang anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah.
Sebuah tas, buku, atau bantuan biaya pendidikan mungkin terlihat sederhana. Tetapi dari situlah ia bisa terus belajar, mengejar cita-cita, dan suatu hari membantu orang lain.
Begitulah kebaikan bekerja.
Ia tidak selalu berhenti pada satu penerima.
Kebaikan bisa berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, lalu melahirkan kebaikan-kebaikan baru.
Dari Bantuan Menjadi Harapan
Bantuan bukan sekadar memberikan sesuatu kepada mereka yang membutuhkan.
Lebih dari itu, bantuan dapat menjadi pesan:
“Kamu tidak sendirian.”
Ada orang yang peduli.
Ada yang mau membantu.
Ada harapan bahwa kesulitan ini bisa dilewati.
Pesan sederhana tersebut terkadang jauh lebih berharga daripada yang kita bayangkan.
Allah Menjanjikan Balasan Berlipat untuk Orang yang Berinfak
Dalam Islam, berbagi bukan sekadar aktivitas sosial. Infak dan sedekah merupakan bagian dari amal yang memiliki nilai ibadah.
Allah SWT menggambarkan luar biasanya pahala orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Perhatikan perumpamaan tersebut.
Satu biji bisa tumbuh menjadi banyak.
Begitu pula sebuah kebaikan. Kita mungkin hanya melihat apa yang kita berikan hari ini, tetapi Allah mengetahui dampak dan pahala yang dapat tumbuh darinya.
Karena itu, jangan menunggu menjadi kaya untuk mulai berbagi.
Mulailah dari apa yang kita mampu.
Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika ingin berbagi adalah rasa takut kekurangan.
Padahal Rasulullah SAW mengingatkan:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidak menambah bagi seorang hamba yang suka memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini memberikan keyakinan bahwa berbagi bukan berarti kita sedang kehilangan.
Justru sedekah merupakan bentuk kepercayaan kepada Allah.
Kita memberikan sebagian yang kita miliki karena yakin bahwa rezeki tidak hanya datang dari apa yang tersimpan di tangan, tetapi juga dari keberkahan yang Allah berikan.
Mengapa Bantuan Kecil Begitu Berarti?
Ada beberapa alasan mengapa bantuan yang sederhana dapat memberikan dampak besar.
1. Mengurangi Beban Orang Lain
Tidak semua orang memiliki kondisi ekonomi yang sama.
Bagi sebagian keluarga, pengeluaran kecil sekalipun dapat menjadi beban ketika kebutuhan pokok terus meningkat.
Bantuan yang kita berikan dapat membantu meringankan kebutuhan tersebut.
2. Menumbuhkan Harapan
Seseorang yang sedang berada dalam kesulitan terkadang tidak hanya membutuhkan materi.
Mereka membutuhkan keyakinan bahwa masih ada jalan keluar.
Bantuan menjadi salah satu bentuk nyata dari kepedulian.
3. Menggerakkan Orang Lain untuk Berbuat Baik
Kebaikan memiliki efek domino.
Ketika seseorang melihat orang lain membantu, ia bisa terdorong melakukan hal serupa.
Satu orang berbagi.
Kemudian orang lain ikut berbagi.
Lalu semakin banyak orang terlibat.
Dari sinilah sebuah gerakan kebaikan bisa tumbuh.
4. Menjadi Amal yang Bernilai di Hadapan Allah
Manusia mungkin lupa apa yang pernah kita berikan.
Orang yang menerima bantuan mungkin suatu hari tidak lagi mengingat jumlahnya.
Tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya.
Bantulah dengan Ikhlas, Jangan Menyakiti
Memberikan bantuan juga memiliki adab.
Jangan sampai niat baik justru membuat orang yang menerima merasa malu atau terhina.
Allah SWT berfirman:
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah: 262)
Artinya, kebaikan bukan hanya tentang apa yang diberikan, tetapi juga bagaimana cara memberikannya.
Bantulah dengan menjaga martabat.
Berbagilah tanpa merendahkan.
Bersedekahlah tanpa menyakiti.
Dan lakukan semuanya karena mengharap ridha Allah.
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi
Sering kali kita mengukur kemampuan berbagi dari jumlah uang yang dimiliki.
Padahal, berbagi dapat dilakukan dengan banyak cara.
Memberikan makanan kepada yang membutuhkan.
Membantu biaya pendidikan.
Menyisihkan sebagian penghasilan untuk program sosial.
Memberikan bantuan kesehatan.
Mendukung pemberdayaan ekonomi keluarga dhuafa.
Menyalurkan zakat kepada mereka yang berhak.
Bahkan perhatian dan kepedulian yang tulus pun dapat menjadi bagian dari kebaikan.
Yang terpenting adalah jangan sampai kesempatan berbuat baik hilang hanya karena kita merasa pemberian kita terlalu kecil.
Karena yang Kecil bagi Kita Bisa Jadi Besar bagi Mereka
Seratus ribu rupiah mungkin terasa biasa bagi seseorang.
Tetapi bagi keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, jumlah tersebut bisa berarti banyak.
Satu paket sembako mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi keluarga yang sedang kesulitan, itu bisa menjadi alasan mereka tidak perlu memikirkan kebutuhan makan untuk beberapa hari.
Satu bantuan modal mungkin tampak kecil.
Tetapi bagi pelaku usaha kecil, bantuan tersebut bisa menjadi kesempatan untuk kembali berjualan.
Kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa besar dampak dari kebaikan yang kita lakukan.
Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi
Kita sering merasa prihatin ketika melihat orang lain mengalami kesulitan.
Kita membaca kisah mereka.
Melihat foto mereka.
Mendengar cerita perjuangan mereka.
Lalu berkata, “Semoga dimudahkan.”
Doa tentu sangat berarti.
Tetapi jika Allah memberikan kita kemampuan untuk membantu, mengapa tidak mengubah kepedulian itu menjadi aksi?
Tidak perlu menunggu punya jutaan rupiah.
Tidak perlu menunggu hidup benar-benar sempurna.
Mulailah dari yang kita mampu hari ini.
Karena satu bantuan kecil mungkin menjadi makanan bagi seseorang.
Satu sedekah mungkin menjadi biaya pengobatan.
Satu infak mungkin menjadi modal usaha.
Satu zakat mungkin menjadi jalan bagi keluarga mustahik untuk bangkit.
Dan satu kebaikan dari kita bisa menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar.
Mari Jadi Bagian dari Kebaikan
Setiap hari, Allah memberikan kita kesempatan untuk memilih.
Apakah kita akan membiarkan rezeki berhenti hanya di tangan kita, atau mengalirkannya kepada mereka yang membutuhkan?
Apakah kita hanya menjadi penonton dari berbagai kesulitan di sekitar kita, atau ikut mengambil bagian dalam menghadirkan solusi?
Kita mungkin tidak mampu membantu semua orang.
Namun kita selalu bisa membantu seseorang.
Dan kita mungkin tidak mampu melakukan sesuatu yang besar.
Namun kita bisa melakukan sesuatu yang berarti.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Tak Hanya Meringankan, Zakat Juga Menyehatkan: Kebaikan Dahsyat yang Jarang Disadari
Tak Hanya Meringankan, Zakat Juga Menyehatkan: Kebaikan Dahsyat yang Jarang Disadari
Di tengah kehidupan yang serba cepat, kesehatan sering menjadi hal yang paling kita jaga. Kita mengatur pola makan, berolahraga, beristirahat, dan berusaha menghindari stres. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa zakat juga memiliki nilai yang menyehatkan, terutama dalam membersihkan hati dari sifat kikir dan menumbuhkan kepedulian?
Zakat bukan hanya kewajiban kepada Allah SWT. Ketika ditunaikan dengan ikhlas, zakat menjadi jalan untuk membantu sesama, menguatkan solidaritas, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Zakat dan Makna Kesehatan yang Lebih Luas
Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan tubuh. Ada kesehatan hati, mental, hubungan sosial, dan kehidupan spiritual yang juga perlu dijaga.
Zakat Membersihkan Hati dari Kecintaan Berlebihan pada Harta
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah: 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual: membersihkan dan menyucikan diri. Dalam penjelasan Kementerian Agama, zakat juga berkaitan dengan membersihkan seseorang dari kekikiran dan kecintaan berlebihan terhadap harta.
Bagaimana Zakat Bisa Menjadi Jalan Kebaikan?
1. Menumbuhkan Rasa Syukur
Ketika mengeluarkan sebagian harta untuk zakat, kita diingatkan bahwa rezeki yang dimiliki bukan hanya hasil usaha pribadi. Ada kehendak Allah di balik setiap nikmat.
Dari Memiliki Menjadi Berbagi
Berbagi membuat kita belajar melihat harta sebagai amanah. Rasa syukur pun tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan dalam tindakan.
2. Mengurangi Beban Saudara yang Membutuhkan
Bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, bantuan zakat dapat menjadi dukungan yang berarti.
Zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi sesuai program dan ketentuan penyalurannya.
3. Menguatkan Kepedulian Sosial
Islam tidak mengajarkan seseorang hidup hanya untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW juga menjelaskan luasnya makna sedekah:
Artinya: “Perkataan yang baik adalah sedekah.”
(HR. Muslim No. 1009)
Pesannya jelas: kebaikan memiliki dampak luas. Zakat menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian yang dapat menghubungkan mereka yang memiliki kemampuan dengan mereka yang membutuhkan.
Zakat, Ketenangan, dan Hati yang Lebih Peduli
Harta Tidak Hanya untuk Dinikmati
Memiliki harta bukan sesuatu yang salah. Yang perlu dijaga adalah bagaimana harta tersebut digunakan.
Ketika sebagian harta ditunaikan sebagai zakat, kita belajar melepaskan sebagian kepemilikan demi menjalankan kewajiban sekaligus menghadirkan manfaat.
Kebaikan yang Mengalir kepada Sesama
Bayangkan zakat yang kita tunaikan membantu seseorang mendapatkan makanan, mendukung biaya pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, atau membangun usaha agar lebih mandiri.
Bagi kita mungkin hanya sebagian dari harta. Namun bagi penerima manfaat, bantuan tersebut bisa menjadi alasan untuk kembali bangkit.
Saatnya Menjadikan Zakat sebagai Aksi Nyata
Jangan menunggu memiliki rezeki yang berlimpah untuk mulai peduli kepada sesama. Kebaikan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ketika kita memiliki kemampuan dan telah memenuhi kewajiban zakat, tunaikanlah zakat dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan amanah.
Zakat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga bentuk kepedulian nyata kepada mereka yang membutuhkan. Dari zakat yang kita keluarkan, ada saudara kita yang dapat terbantu memenuhi kebutuhan pokok, mendapatkan akses pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, hingga memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi lebih mandiri.
Jika ingin menambah kebaikan di luar kewajiban zakat, infak dan sedekah juga dapat menjadi pilihan. Sekecil apa pun yang kita berikan, ketika dilakukan dengan ikhlas, dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Mungkin bagi kita nilainya tidak seberapa, tetapi bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, bantuan tersebut bisa menjadi harapan yang sangat berarti.
Yuk, Salurkan Zakat Bersama BAZNAS
Setiap rupiah yang kita keluarkan dengan ikhlas adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat.
Melalui BAZNAS, mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai bagian dari kepedulian kepada sesama. Bukan hanya untuk meringankan beban, tetapi juga untuk menumbuhkan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih peduli, dan masyarakat yang lebih kuat.
Mari salurkan zakat hari ini. Karena kebaikan yang kita keluarkan mungkin menjadi harapan bagi seseorang yang sedang berjuang.
Zakat bukan sekadar memberi. Zakat adalah cara kita membersihkan harta, menyehatkan kepedulian, dan menghadirkan perubahan nyata.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Tak Harus Menunggu Banyak untuk Membantu Sesama
Ada kalanya kita ingin membantu orang lain, tetapi selalu merasa belum mampu. “Nanti kalau sudah punya banyak uang.” “Kalau penghasilan sudah lebih besar.” “Kalau keadaan sudah cukup stabil.” Tanpa disadari, kalimat-kalimat tersebut membuat niat baik terus tertunda.
Padahal, membantu sesama tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kebaikan bisa hadir dari nominal yang sederhana, makanan yang kita bagikan, waktu yang kita luangkan, tenaga yang kita berikan, bahkan melalui perkataan baik yang mampu menguatkan seseorang.
Dalam Islam, nilai sebuah kebaikan tidak hanya dilihat dari besarnya pemberian, tetapi juga dari keikhlasan dan manfaat yang dihasilkan. Karena itu, jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu berlebih untuk peduli.
Sebab, bisa jadi sesuatu yang menurut kita kecil justru sangat berarti bagi orang lain.
Mengapa Kita Sering Menunda untuk Berbagi?
Keinginan untuk membantu sebenarnya ada dalam hati banyak orang. Namun, tidak sedikit yang akhirnya mengurungkan niat karena merasa apa yang dimiliki belum cukup.
Ada yang berpikir harus memberikan ratusan ribu atau jutaan rupiah. Ada pula yang merasa sedekah baru berarti jika mampu membantu dalam jumlah besar.
Padahal, pemikiran tersebut justru dapat membuat seseorang melewatkan banyak kesempatan untuk berbuat baik.
Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kaya
Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan sebuah kesempatan untuk membantu datang. Bisa jadi hari ini kita hanya mampu memberikan sedikit, tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan, bantuan tersebut sangat berarti.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan bahwa sedekah dapat dilakukan dengan sesuatu yang sangat sederhana.
“Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) setengah biji kurma.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari No. 1417.
Perhatikan pesannya. Nabi Muhammad ? tidak mengatakan bahwa seseorang harus memiliki harta melimpah terlebih dahulu. Bahkan setengah kurma pun disebut sebagai bentuk kebaikan yang bernilai.
Artinya, jangan meremehkan kebaikan hanya karena ukurannya kecil.
Sedekah Kecil Bisa Menjadi Besar di Sisi Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menilai sesuatu berdasarkan jumlah. Semakin besar nominalnya, semakin besar pula kita menganggap manfaatnya.
Namun, Allah memiliki ukuran yang berbeda.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Ayat ini memberikan gambaran yang begitu indah. Sebutir biji yang tampak kecil dapat tumbuh dan menghasilkan banyak biji.
Begitu pula dengan sedekah.
Kebaikan yang kita anggap kecil dapat Allah tumbuhkan menjadi manfaat dan pahala yang jauh lebih besar.
Karena itu, jangan berkata, “Sedekah saya hanya Rp10.000, apakah berarti?”
Bisa jadi, dari Rp10.000 tersebut ada seseorang yang mendapatkan makanan. Bisa jadi ada anak yang memperoleh perlengkapan sekolah. Bisa jadi ada keluarga yang terbantu memenuhi kebutuhan hari itu.
Kita mungkin hanya melihat nominalnya.
Allah melihat keikhlasan dan manfaat di baliknya.
Membantu Sesama Tidak Selalu Tentang Uang
Membantu sesama memang sering dikaitkan dengan memberikan uang. Padahal, ruang untuk berbuat baik jauh lebih luas.
Berbagi Makanan
Jika memiliki makanan lebih, kita bisa membagikannya kepada tetangga, pekerja, lansia, atau orang yang membutuhkan.
Sepiring makanan mungkin sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi kebahagiaan bagi orang lain.
Menyisihkan Sebagian Rezeki
Tidak perlu menunggu penghasilan besar. Kita dapat membiasakan diri menyisihkan sebagian rezeki secara rutin.
Misalnya, menentukan nominal sedekah setiap pekan atau setiap bulan sesuai kemampuan.
Yang terpenting bukan memaksakan jumlah, tetapi membangun kebiasaan berbagi.
Membantu dengan Tenaga
Ada orang yang memiliki keterbatasan finansial tetapi mempunyai tenaga dan waktu.
Membantu mengangkat barang, membersihkan lingkungan, membantu kegiatan sosial, atau menemani seseorang yang membutuhkan juga merupakan bentuk kepedulian.
Memberikan Kata-Kata yang Baik
Bantuan tidak selalu berbentuk materi.
Terkadang seseorang hanya membutuhkan kalimat sederhana seperti, “Semoga dimudahkan,” atau “Jangan menyerah, kamu tidak sendirian.”
Dalam kondisi tertentu, kata-kata yang baik dapat menjadi kekuatan bagi seseorang untuk kembali bangkit.
Rasulullah ? juga mengajarkan pentingnya sedekah meskipun hanya dengan sesuatu yang sederhana. Dalam Shahih Muslim, sedekah bahkan disebut dapat dilakukan dengan setengah kurma atau perkataan yang baik.
Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik
Salah satu jebakan yang sering terjadi adalah menunggu keadaan ideal.
Kita berkata:
“Kalau nanti sudah punya banyak, saya akan membantu.”
“Kalau nanti bisnis sudah besar, saya akan banyak bersedekah.”
“Kalau nanti kebutuhan sudah terpenuhi, saya akan berbagi.”
Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan kondisi “nanti” itu datang.
Sementara itu, kebutuhan orang lain berlangsung hari ini.
Ada keluarga yang membutuhkan makanan hari ini. Ada anak yang membutuhkan biaya pendidikan hari ini. Ada orang sakit yang membutuhkan bantuan hari ini. Ada masyarakat yang membutuhkan dukungan hari ini.
Maka, jangan biarkan keinginan melakukan kebaikan berhenti hanya karena merasa belum memiliki banyak.
Mulailah dari yang Mampu
Sedekah bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang memberikan paling besar.
Sedekah adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menghadirkan manfaat bagi sesama.
Jika mampu Rp100.000, bersedekahlah sesuai kemampuan.
Jika hanya mampu Rp20.000, jangan merasa kecil.
Jika hanya mampu memberikan makanan, berikanlah dengan ikhlas.
Jika belum mampu memberikan harta, berikan tenaga dan kebaikan.
Yang terpenting adalah jangan berhenti menjadi orang yang peduli.
Sedekah yang Ikhlas Tidak Perlu Menyakiti Penerima
Membantu sesama juga memiliki adab. Islam tidak hanya mengajarkan untuk memberi, tetapi juga menjaga perasaan orang yang menerima.
Allah berfirman:
“Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262).
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa cara memberikan bantuan sama pentingnya dengan bantuan itu sendiri.
Jangan membuat orang yang sedang membutuhkan merasa rendah. Jangan menjadikan bantuan sebagai alasan untuk menyombongkan diri.
Berikan dengan hormat.
Berikan dengan kasih sayang.
Berikan karena Allah.
Saatnya Mengubah Sedikit Menjadi Manfaat
Bayangkan jika ada 100 orang yang masing-masing menyisihkan Rp10.000.
Jumlahnya menjadi Rp1.000.000.
Satu orang mungkin merasa kontribusinya kecil. Namun ketika banyak orang bergerak bersama, kebaikan kecil dapat berubah menjadi kekuatan besar.
Inilah indahnya gotong royong dalam kebaikan.
Seseorang mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah seorang diri. Tetapi ketika banyak hati tergerak untuk peduli, bantuan dapat menjadi lebih luas dan manfaatnya semakin terasa.
Jangan Merasa Sedekah Anda Terlalu Sedikit
Jika selama ini Anda sering berpikir, “Saya ingin membantu, tetapi belum punya banyak,” mungkin sudah waktunya mengubah cara pandang.
Tidak harus banyak untuk memulai. Yang penting adalah mau memulai.
Sebab, satu langkah kecil hari ini jauh lebih berarti daripada rencana besar yang terus ditunda.
Mari Sisihkan Sebagian Rezeki untuk Membantu Sesama
Di sekitar kita, masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan, hingga saudara kita yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Kita mungkin tidak mampu membantu semuanya.
Tetapi kita bisa membantu seseorang.
Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan.
Tetapi kita bisa menjadi bagian dari solusi.
Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi. Tidak perlu menunggu berlebih untuk peduli.
Sisihkan sebagian rezeki yang kita miliki melalui zakat, infak, dan sedekah. Biarkan sedikit dari apa yang kita punya menjadi jalan hadirnya harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Jika Anda ingin ikut mengambil bagian dalam kebaikan, Anda dapat menyalurkan zakat, infak, atau sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap kontribusi yang diberikan sesuai kemampuan dapat menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Sedikit dari Kita, Bisa Berarti Besar bagi Mereka
Hari ini mungkin kita hanya mampu memberikan sedikit.
Tidak apa-apa.
Sebab, kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kebaikan dimulai dari hati yang mau peduli.
Jangan tunggu punya banyak.
Jangan tunggu menjadi kaya.
Jangan tunggu waktu yang sempurna.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Sedekah Kecilmu Bisa Jadi Berarti Besar bagi Seseorang
Pernahkah kita berpikir bahwa uang yang menurut kita kecil, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain?
Bagi kita, Rp10.000 mungkin hanya cukup untuk membeli minuman atau camilan. Namun bagi seseorang yang sedang kesulitan, nominal yang sama bisa membantu membeli makan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau sekadar membuatnya merasa bahwa masih ada orang yang peduli.
Inilah indahnya sedekah dalam Islam. Nilainya bukan hanya tentang seberapa besar uang yang diberikan, tetapi tentang keikhlasan, kepedulian, dan manfaat yang lahir dari pemberian tersebut.
Sering kali kita menunda bersedekah karena merasa belum punya cukup banyak. Padahal, Islam tidak mengajarkan bahwa kebaikan hanya milik orang yang berkecukupan. Bahkan sedekah yang sederhana pun memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Sedekah Kecil, Dampaknya Bisa Besar
Kita mungkin tidak selalu mampu membantu seseorang dengan jumlah besar. Tetapi hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Sedekah bisa dimulai dari nominal yang sederhana. Yang penting bukan membuat kita terlihat dermawan, melainkan bagaimana pemberian tersebut benar-benar menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.
Bayangkan seseorang yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makan hari itu. Bantuan kecil yang kita berikan mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bisa menjadi alasan ia dapat makan dengan tenang.
Begitu pula ketika sedekah disalurkan untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan anak yatim, pemberdayaan ekonomi, atau bantuan kemanusiaan. Satu pemberian dapat menjadi bagian dari solusi bagi kehidupan seseorang.
Allah Menjanjikan Balasan yang Berlipat
Al-Qur'an memberikan gambaran yang begitu indah tentang pahala infak dan sedekah.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini mengajarkan bahwa jangan pernah menganggap remeh kebaikan yang kita keluarkan di jalan Allah. Sebuah pemberian yang terlihat kecil dapat memiliki balasan yang jauh lebih besar.
Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah
Salah satu alasan yang sering membuat seseorang menunda sedekah adalah kalimat, “Nanti kalau sudah punya banyak uang.”
Padahal, kebutuhan orang lain tidak selalu menunggu kita menjadi kaya.
Kita bisa bersedekah ketika memiliki rezeki lebih. Kita juga bisa bersedekah ketika hanya memiliki sedikit, selama pemberian tersebut dilakukan dengan ikhlas dan tidak mengabaikan kebutuhan wajib diri sendiri maupun keluarga.
Rasulullah SAW bahkan mengajarkan agar kita tidak meremehkan sedekah yang sangat kecil.
Bahkan Setengah Kurma Pun Bernilai
Rasulullah SAW bersabda:
“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) separuh kurma.”
(HR. Bukhari No. 1417)
Pesan ini begitu kuat. Rasulullah SAW tidak mengatakan bahwa seseorang harus memberikan sesuatu yang besar terlebih dahulu agar sedekahnya bernilai.
Bahkan separuh kurma disebut sebagai bentuk kebaikan yang dapat menjadi sebab seseorang terlindungi dari api neraka.
Artinya, jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi.
Mulailah dari apa yang kita mampu.
Yang Kecil bagi Kita, Bisa Jadi Besar bagi Mereka
Ada kalanya kita terlalu fokus pada nominal sampai lupa pada kebutuhan orang yang menerima.
Rp10.000 mungkin terasa kecil ketika berada di tangan kita. Namun ketika diberikan kepada seseorang yang sedang membutuhkan, nilainya bisa menjadi sangat berbeda.
Sedekah Bisa Menjadi Harapan
Bayangkan seorang ibu yang sedang berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bayangkan seorang lansia yang hidup sendiri. Bayangkan seorang pelajar yang membutuhkan perlengkapan sekolah. Atau seseorang yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi dan membutuhkan bantuan untuk kembali berdiri.
Mereka tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.
Terkadang mereka hanya membutuhkan satu uluran tangan.
Dan bisa jadi, uluran tangan itu datang dari sedekah kecil yang kita berikan hari ini.
Karena itu, jangan ukur manfaat sedekah hanya dari jumlah rupiah yang kita keluarkan. Ukurlah dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh penerimanya.
Sedekah Bukan Sekadar Memberi, tetapi Menguatkan
Sedekah memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Ketika seseorang bersedekah, ia bukan hanya memindahkan sebagian hartanya kepada orang lain.
Ia sedang menyampaikan pesan:
“Kamu tidak sendirian.”
Pesan sederhana tersebut dapat memberikan kekuatan yang luar biasa.
Sedekah dapat membantu seseorang melewati masa sulit. Jika dikelola dengan baik dan disalurkan kepada penerima yang tepat, sedekah juga dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dari Sedekah Menjadi Sebuah Perubahan
Bayangkan jika sedekah yang terkumpul digunakan untuk membantu kebutuhan pendidikan, kesehatan, pangan, pemberdayaan ekonomi, dan kemanusiaan.
Satu orang mungkin hanya memberikan sedikit.
Tetapi ketika banyak orang melakukan hal yang sama, terkumpul sebuah kekuatan besar.
Rp10.000 dari satu orang mungkin terlihat kecil. Tetapi jika diberikan oleh 1.000 orang, nilainya menjadi Rp10 juta.
Di sinilah kekuatan gotong royong dalam kebaikan.
Sedekah individu dapat menjadi gerakan sosial ketika dilakukan bersama-sama.
Sedekah Harus Disertai Keikhlasan
Besarnya sedekah bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga hati setelah memberikan sedekah.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini mengingatkan bahwa sedekah seharusnya dilakukan dengan menjaga martabat penerima.
Jangan sampai seseorang yang sudah berada dalam kesulitan justru merasa semakin rendah karena pemberian yang diterimanya.
Memberi Tanpa Merendahkan
Sedekah yang baik bukan hanya memberikan harta, tetapi juga memberikan penghormatan.
Jika kita mampu membantu seseorang, bantulah dengan cara yang baik. Hindari menyebut-nyebut pemberian, mengungkit bantuan, atau membuat penerima merasa berutang secara moral.
Sebab, kita tidak pernah tahu kapan posisi kehidupan bisa berubah.
Hari ini kita mungkin menjadi orang yang memberi.
Besok, bisa jadi kita yang membutuhkan pertolongan.
Jangan Remehkan Sedekahmu Hari Ini
Ada satu kesalahan yang sering kita lakukan: membandingkan sedekah kita dengan sedekah orang lain.
“Kok cuma Rp10.000?”
“Kalau sedikit, memang ada manfaatnya?”
“Lebih baik nanti saja kalau sudah banyak.”
Pemikiran seperti ini justru dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk berbuat baik.
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sedekah dapat dilakukan meskipun dengan sesuatu yang sangat sederhana. Bahkan hadits tersebut juga berada dalam konteks anjuran bersedekah dengan setengah kurma atau kata-kata yang baik.
Jadi, jangan tunggu sempurna untuk berbagi.
Sedekah kecil yang dilakukan dengan ikhlas lebih baik daripada niat besar yang terus ditunda.
Yuk, Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan
Sedekah tidak harus menunggu momen tertentu.
Kita bisa menjadikannya bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Mulai dari Nominal yang Mampu
Tidak perlu memaksakan diri. Tentukan nominal sedekah yang realistis dan bisa dilakukan secara rutin.
Misalnya Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000, atau sesuai kemampuan.
Yang penting adalah konsistensi dan keikhlasan.
Salurkan Melalui Lembaga yang Terpercaya
Agar manfaat sedekah dapat menjangkau lebih banyak orang, kita dapat menyalurkannya melalui lembaga amil zakat atau lembaga sosial yang terpercaya.
Dengan pengelolaan yang baik, dana yang terkumpul dapat disalurkan kepada berbagai program yang membutuhkan dukungan masyarakat.
Satu Sedekahmu, Satu Harapan untuk Mereka
Mungkin hari ini kita merasa sedekah yang kita keluarkan terlalu kecil untuk membuat perubahan.
Tapi jangan lupa, perubahan besar sering kali dimulai dari sesuatu yang sederhana.
Satu porsi makanan bisa membuat seseorang kenyang.
Satu bantuan pendidikan bisa membuat seorang anak terus bersekolah.
Satu bantuan modal bisa membantu seseorang kembali berusaha.
Satu bantuan kesehatan bisa meringankan beban sebuah keluarga.
Dan satu sedekah kecil dari kita bisa menjadi bagian dari semua itu.
Mari Berbagi Sebelum Kesempatan Terlewat
Tidak perlu menunggu kaya.
Tidak perlu menunggu memiliki banyak.
Tidak perlu menunggu sampai merasa “cukup”.
Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki, mungkin di dalam rezeki itu ada hak orang lain yang sedang membutuhkan.
Mari sisihkan sebagian rezeki kita untuk membantu sesama. Karena kita mungkin tidak bisa menyelesaikan semua persoalan di dunia, tetapi kita bisa menjadi alasan seseorang melewati hari yang sulit dengan sedikit lebih ringan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Satu Kebaikan Dahsyat untuk Mereka yang Terdampak Bencana: Saatnya Hadirkan Harapan
Satu Kebaikan Dahsyat untuk Mereka yang Terdampak Bencana: Saatnya Hadirkan Harapan
Bencana dapat datang tanpa diduga. Dalam waktu singkat, rumah bisa rusak, pekerjaan terhenti, persediaan makanan hilang, bahkan keluarga harus meninggalkan tempat tinggalnya. Di tengah situasi tersebut, para penyintas bencana tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga kepedulian dan dukungan untuk kembali bangkit.
Di sinilah kebaikan kita memiliki arti besar. Bantuan berupa makanan, air bersih, perlengkapan kebersihan, kebutuhan bayi, layanan kesehatan, hingga dukungan pemulihan dapat menjadi penguat bagi mereka yang sedang menghadapi masa sulit.
Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat ikut menghadirkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana. Satu kebaikan mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi dapat menjadi harapan besar bagi mereka.
Mengapa Membantu Korban Bencana Begitu Penting?
Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu dalam kebaikan. Bencana bukan hanya persoalan mereka yang mengalaminya. Ketika saudara kita sedang kesulitan, kita memiliki kesempatan untuk hadir dan memberikan manfaat.
Islam Mengajarkan Tolong-Menolong
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Ayat ini menjadi landasan penting bahwa membantu sesama dalam kebaikan merupakan bagian dari nilai yang diajarkan Islam.
Bentuk Kebaikan untuk Penyintas Bencana
Bantuan kemanusiaan tidak harus selalu dalam bentuk yang besar. Yang terpenting adalah bantuan tersebut tepat sasaran dan diberikan ketika benar-benar dibutuhkan.
1. Membantu Memenuhi Kebutuhan Pokok
Ketika bencana terjadi, kebutuhan seperti makanan, air bersih, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan menjadi sangat penting.
Bantuan Kecil, Manfaat Besar
Satu paket makanan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, bantuan tersebut dapat menjadi pertolongan yang sangat berarti.
2. Mendukung Layanan Kesehatan
Penyintas bencana dapat menghadapi berbagai risiko kesehatan akibat lingkungan yang berubah, keterbatasan fasilitas, maupun kondisi pengungsian.
Dukungan untuk layanan kesehatan, obat-obatan, pemeriksaan, dan kebutuhan medis dapat membantu masyarakat melewati masa darurat dengan lebih baik.
3. Membantu Anak-Anak Tetap Beraktivitas
Anak-anak juga merasakan dampak bencana. Mereka mungkin kehilangan rumah, sekolah, perlengkapan belajar, bahkan lingkungan yang selama ini membuat mereka merasa aman.
Bantuan perlengkapan sekolah, ruang belajar sementara, dan dukungan psikososial dapat membantu mereka kembali menjalani aktivitas secara bertahap.
4. Mendukung Pemulihan Pascabencana
Bantuan tidak berhenti ketika keadaan darurat berakhir. Masyarakat membutuhkan waktu untuk membangun kembali kehidupan mereka.
Dukungan pemulihan dapat diarahkan untuk kebutuhan hunian, perlengkapan usaha, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi sesuai kondisi penerima manfaat.
Kebaikan yang Meringankan Kesulitan
Rasulullah SAW memberikan kabar gembira tentang keutamaan meringankan kesulitan orang lain.
Artinya: “Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”
(HR. Muslim No. 2699)
Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa membantu meringankan beban sesama bukan sekadar tindakan sosial, tetapi juga memiliki nilai ibadah.
Saatnya Hadirkan Harapan Bersama
Bayangkan jika ribuan orang menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu penyintas bencana. Bantuan yang terkumpul dapat menjadi makanan bagi keluarga, perlengkapan bagi anak-anak, dukungan kesehatan, hingga modal untuk memulai kembali kehidupan.
Jangan Tunggu Sampai Besok untuk Berbuat Baik
Kita mungkin tidak bisa datang langsung ke lokasi bencana. Namun, kita tetap bisa mengambil bagian melalui zakat, infak, dan sedekah.
Titipkan kebaikan melalui lembaga yang amanah agar bantuan dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Mari Salurkan Kebaikan Bersama BAZNAS
Saat saudara kita kehilangan banyak hal karena bencana, jangan biarkan mereka merasa menghadapi semuanya sendirian.
Mari bersama BAZNAS mengubah kepedulian menjadi bantuan nyata. Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, dan pemulihan masyarakat terdampak bencana.
Karena satu kebaikan dahsyat hari ini dapat menjadi harapan bagi mereka untuk bangkit esok hari.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah. Hadirkan bantuan. Tebarkan harapan. Jadikan kebaikan kita berarti bagi mereka yang sedang berjuang.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Rezeki Bertambah, Jangan Lupa Menambah Sedekah
Ada masa ketika kita berdoa agar rezeki dilapangkan. Kita berharap usaha semakin lancar, penghasilan meningkat, kebutuhan keluarga tercukupi, dan hidup menjadi lebih tenang.
Namun, ketika rezeki benar-benar bertambah, ada satu hal yang jangan sampai ikut terlupakan: menambah sedekah.
Sebab rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang masuk ke rekening atau bertambah di tangan. Rezeki juga tentang keberkahan, ketenangan hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, serta kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan bagi orang lain.
Semakin Allah memberikan kelapangan, semakin indah jika sebagian dari kelapangan itu kita bagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Ketika Rezeki Bertambah, Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?
Bertambahnya rezeki tentu merupakan nikmat yang patut disyukuri. Tetapi rasa syukur dalam Islam bukan hanya diucapkan dengan lisan. Syukur juga diwujudkan melalui perbuatan.
Salah satu bentuk syukur yang sederhana tetapi memiliki dampak besar adalah bersedekah.
Allah SWT berfirman:
????? ?????????? ???????????????? ? ??????? ?????????? ????? ???????? ?????????
“Sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat keras.”(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa nikmat yang Allah berikan semestinya membawa kita semakin dekat kepada-Nya.
Sedekah Adalah Bentuk Syukur
Ketika mendapatkan penghasilan lebih besar, jangan hanya berpikir, “Apa yang bisa saya beli?”
Sesekali ubahlah pertanyaannya menjadi:
“Siapa yang bisa saya bahagiakan dari rezeki yang Allah titipkan kepada saya?”
Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita memandang harta.
Rezeki yang sebelumnya hanya terasa sebagai milik pribadi mulai dipahami sebagai amanah. Ada hak orang lain yang bisa kita bantu, ada keluarga yang membutuhkan dukungan, ada anak yatim yang ingin tersenyum, ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan, dan ada masyarakat yang membutuhkan uluran tangan.
Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang
Secara hitungan manusia, ketika memberikan uang kepada orang lain, jumlah uang yang kita miliki memang berkurang.
Namun dalam perspektif Islam, sedekah tidak dilihat hanya dari angka yang keluar dari tangan. Sedekah adalah amal yang memiliki nilai di sisi Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim no. 2588)
Hadis ini bukan berarti seseorang yang bersedekah secara matematis akan selalu melihat saldo rekeningnya langsung bertambah. Maknanya lebih luas: sedekah tidak membuat harta menjadi sia-sia. Allah memberikan keberkahan dan balasan sesuai kehendak-Nya.
Karena itu, jangan sampai kita berpikir bahwa semakin banyak bersedekah berarti semakin jauh dari kekayaan.
Justru bisa jadi, sedekah adalah salah satu cara menjaga agar kekayaan yang kita miliki tetap memiliki nilai dan keberkahan.
Allah Menjanjikan Balasan yang Berlipat
Salah satu ayat Al-Qur'an yang sangat kuat tentang keutamaan infak adalah QS. Al-Baqarah ayat 261.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Bayangkan sebuah biji yang ditanam kemudian tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih banyak.
Begitulah gambaran luar biasa tentang pahala infak di jalan Allah. Allah membuka kemungkinan balasan yang berlipat ganda.
Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu kaya terlebih dahulu untuk bersedekah.
“Kalau penghasilan saya sudah besar, nanti saya akan banyak bersedekah.”
Padahal, kebiasaan berbagi sebaiknya dibangun sejak sekarang.
Tidak harus menunggu memiliki jutaan rupiah. Sedekah dapat dimulai dari nominal yang kita mampu.
Yang terpenting bukan hanya besar kecilnya nominal, tetapi keikhlasan dan konsistensinya.
Bahkan ketika rezeki kita mulai bertambah, jadikan peningkatan sedekah sebagai bagian dari rencana keuangan.
Misalnya, ketika penghasilan meningkat, jangan seluruh tambahan penghasilan digunakan untuk menaikkan gaya hidup. Sisihkan sebagian untuk berbagi.
Dengan begitu, setiap kali rezeki naik, amal juga ikut naik.
Rezeki yang Bertambah Seharusnya Membuat Kita Semakin Peduli
Ada sesuatu yang indah ketika seseorang tidak hanya menikmati keberhasilan untuk dirinya sendiri.
Ketika usaha berkembang, ia membantu orang lain.
Ketika penghasilan meningkat, ia memperbesar sedekah.
Ketika mendapatkan bonus, ia mengingat mereka yang sedang kesulitan.
Ketika memiliki lebih, ia tidak lupa kepada mereka yang kekurangan.
Inilah salah satu bentuk keberkahan rezeki.
Dari Rezeki Menjadi Harapan
Sedekah yang kita keluarkan mungkin terlihat kecil.
Namun bagi penerimanya, nilainya bisa sangat besar.
Sedekah dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan. Bisa mendukung biaya pendidikan. Bisa menjadi bantuan untuk kesehatan. Bisa membantu keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi.
Kita mungkin hanya memberikan sebagian kecil dari apa yang kita punya.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berada di titik sulit, bantuan itu bisa menjadi alasan untuk kembali tersenyum dan melanjutkan hidup.
Itulah mengapa sedekah bukan sekadar memberi uang. Sedekah adalah menghadirkan harapan.
Jangan Sampai Rezeki Bertambah, Tetapi Hati Justru Menjauh
Ada satu hal yang perlu kita renungkan.
Jangan sampai ketika rezeki bertambah, kebutuhan gaya hidup juga bertambah, tetapi kepedulian justru berkurang.
Dulu ketika memiliki sedikit, kita mudah berbagi. Setelah memiliki lebih banyak, kita justru semakin berat mengeluarkan sebagian harta.
Padahal, semakin banyak nikmat yang diterima, semakin besar pula kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur.
Allah tidak melarang kita menikmati rezeki. Islam mengajarkan kita untuk mencari nafkah, bekerja keras, membangun usaha, dan menikmati karunia Allah dengan cara yang halal.
Tetapi jangan sampai kenikmatan tersebut membuat kita lupa bahwa di dalam harta kita ada kesempatan untuk melakukan kebaikan.
Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan, Bukan Sisa
Sering kali sedekah dilakukan dari uang yang tersisa.
Setelah semua kebutuhan terpenuhi, belanja selesai, cicilan dibayar, hiburan terpenuhi, barulah kita berpikir untuk bersedekah.
Tidak ada yang salah dengan bersedekah dari uang yang tersisa. Namun akan lebih baik jika sedekah direncanakan sejak awal.
Sisihkan Sebelum Dibelanjakan
Saat menerima penghasilan, kita dapat membagi sebagian untuk kebutuhan keluarga, tabungan, kebutuhan lainnya, dan sedekah atau infak.
Dengan cara ini, sedekah bukan lagi sesuatu yang dilakukan ketika kita ingat, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan.
Tidak perlu memaksakan nominal di luar kemampuan.
Mulailah dengan jumlah yang ringan, lalu tingkatkan ketika Allah memberikan kelapangan.
Rezeki bertambah, sedekah bertambah.
Sederhana, tetapi insyaallah menjadi kebiasaan yang indah.
Bersedekah Melalui Lembaga yang Terpercaya
Sedekah dapat diberikan secara langsung kepada orang yang membutuhkan. Namun, kita juga dapat menyalurkannya melalui lembaga pengelola zakat dan donasi yang terpercaya agar bantuan dapat dihimpun dan disalurkan kepada penerima manfaat melalui berbagai program.
Melalui lembaga seperti BAZNAS, masyarakat dapat mengambil bagian dalam berbagai bentuk kebaikan, mulai dari bantuan sosial, kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga program kemanusiaan.
Dengan begitu, satu sedekah tidak berhenti pada satu pemberian, tetapi dapat menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang lebih luas.
Mari Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan
Hari ini mungkin Allah sedang memberikan kita rezeki lebih.
Mungkin usaha sedang berkembang.
Mungkin penghasilan sedang meningkat.
Mungkin ada bonus yang baru diterima.
Mungkin ada peluang baru yang selama ini kita doakan.
Apa pun bentuknya, jangan lupa satu hal:
Syukuri rezeki dengan memperbanyak kebaikan.
Tidak harus menunggu kaya.
Tidak harus menunggu punya banyak.
Tidak harus menunggu semuanya sempurna.
Karena bisa jadi, sedekah yang kita keluarkan hari ini justru menjadi salah satu jalan datangnya keberkahan di hari-hari berikutnya.
Mari Berbagi, Karena Ada Harapan yang Menunggu
Di luar sana, masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan.
Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada orang sakit yang membutuhkan bantuan. Ada masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari keterbatasan.
Mungkin kita tidak mampu membantu semuanya.
Tetapi kita bisa membantu sebagian.
Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh keadaan.
Tetapi kita bisa menjadi alasan seseorang merasakan sedikit harapan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?
Kalau Pendidikan Adalah Hak, Mengapa Kesempatan Belajar Masih Terasa Seperti Kemewahan bagi Sebagian Orang?
Dua Anak yang Sama-Sama Pintar, tetapi Tidak Memulai dari Tempat yang Sama
Bayangkan ada dua anak yang duduk di kelas yang sama.
Keduanya sama-sama cerdas. Nilai mereka tidak jauh berbeda. Keduanya memiliki rasa ingin tahu yang besar dan sama-sama bercita-cita melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Tetapi ketika pulang sekolah, kehidupan mereka berbeda.
Anak pertama pulang ke rumah dengan akses internet, buku yang cukup, perangkat belajar, dan lingkungan yang mendukung. Ketika ada tugas yang sulit, ia bisa mencari informasi. Ketika membutuhkan buku tambahan, orang tuanya berusaha membelikan. Ketika harus mengikuti kegiatan pendidikan, transportasi dan biaya bukan persoalan yang terlalu besar.
Anak kedua mungkin harus memikirkan hal yang berbeda.
Apakah uang transportasi cukup untuk besok? Apakah buku yang dibutuhkan bisa dibeli? Apakah ia harus membantu orang tua bekerja? Apakah ia memiliki perangkat untuk mengikuti pembelajaran?
Keduanya mungkin memiliki kemampuan yang sama. Tetapi, apakah mereka benar-benar memiliki kesempatan yang sama?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Apakah Anak yang Pintar Selalu Memiliki Masa Depan yang Sama?
Kita sering percaya bahwa pendidikan adalah jalan bagi siapa saja yang mau berusaha.
Nasihatnya sederhana, “Belajarlah yang rajin, maka masa depanmu akan baik.”
Tentu, kerja keras dan kesungguhan belajar sangat penting. Namun, persoalannya tidak selalu berhenti pada kemauan.
Bagaimana jika seseorang memiliki keinginan untuk belajar, tetapi tidak memiliki biaya?
Bagaimana jika ia memiliki kemampuan, tetapi harus membagi waktunya antara sekolah dan membantu keluarga?
Bagaimana jika ia ingin melanjutkan pendidikan, tetapi akses transportasi, perangkat, atau kebutuhan dasar menjadi hambatan?
Maka muncul pertanyaan yang lebih mengganggu, yakni "apakah kita terlalu sering menilai kemampuan seseorang dari hasil akhirnya, tanpa melihat seberapa besar kesempatan yang ia miliki untuk sampai ke sana?"
Dua anak dapat mengerjakan soal yang sama. Namun, mereka belum tentu mempersiapkannya dengan sumber daya yang sama.
Karena kemampuan dan kesempatan adalah dua hal yang berbeda.
Kesetaraan Tidak Selalu Berarti Keadilan
Ada perbedaan penting antara equality dan equity.
Equality berarti setiap orang diberikan hal yang sama.
Sedangkan equity berusaha memahami bahwa setiap orang memulai dari kondisi yang berbeda, sehingga dukungan yang dibutuhkan untuk mencapai kesempatan yang setara pun dapat berbeda.
Bayangkan tiga anak yang sama-sama diminta mengikuti perlombaan.
Mereka semua diberikan aturan yang sama.
Tetapi satu anak memiliki sepatu yang layak, satu anak tidak memiliki perlengkapan yang cukup, dan satu lainnya bahkan harus berjalan jauh sebelum mencapai tempat perlombaan.
Apakah perlombaan tersebut benar-benar dimulai secara setara?
Begitu pula dengan pendidikan.
Memberikan kesempatan belajar yang sama di atas kertas belum tentu berarti setiap anak benar-benar memiliki kemampuan yang sama untuk memanfaatkannya.
Sebab pendidikan tidak hanya membutuhkan kecerdasan.
Ia juga membutuhkan waktu, biaya, kesehatan, fasilitas, lingkungan, akses informasi, dan dukungan.
Ketika salah satu dari hal tersebut tidak tersedia, kemampuan seseorang dapat berhenti bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena kesempatan untuk berkembang semakin sempit.
Jangan Terlalu Cepat Menilai Hasil Akhir
Ketika melihat seseorang tidak melanjutkan sekolah atau tertinggal dalam pendidikan, kita mungkin tergoda untuk membuat kesimpulan sederhana yaitu “mungkin dia memang tidak cukup berusaha.”
Padahal, kita tidak selalu mengetahui cerita yang terjadi di belakangnya.
Mungkin ia harus membantu orang tua.
Mungkin keluarganya menghadapi kesulitan ekonomi.
Mungkin biaya pendidikan terasa lebih besar daripada kemampuan yang dimiliki.
Atau mungkin, ia hanya membutuhkan satu kesempatan kecil untuk terus melangkah.
Inilah mengapa pendidikan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai persoalan siapa yang paling pintar, tetapi juga sebagai persoalan siapa yang memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Allah SWT berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan ilmu. Namun, jika ilmu memiliki kedudukan yang begitu penting, maka membantu seseorang memperoleh dan mempertahankan akses terhadap pendidikan juga merupakan bagian dari menghadirkan kemaslahatan.
Pendidikan tidak seharusnya menjadi pintu yang hanya mudah dibuka oleh mereka yang lahir dengan lebih banyak sumber daya.
Membantu Pendidikan Berarti Menjaga Sebuah Kemungkinan
Ketika seorang anak menghadapi keterbatasan biaya pendidikan, bantuan mungkin terlihat sederhana.
Seragam, biaya sekolah, transportasi, hingga beasiswa.
Namun, yang sebenarnya sedang dijaga bukan hanya kebutuhan hari ini.
Yang sedang dijaga adalah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa seorang anak dapat tetap belajar.
Kemungkinan bahwa keterbatasan ekonomi tidak memaksanya menghentikan pendidikan.
Kemungkinan bahwa kemampuan yang dimilikinya tidak berhenti hanya karena ia tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk mengembangkannya.
Dalam hal inilah, kepedulian terhadap pendidikan tidak seharusnya dipandang sebagai sekadar bentuk belas kasihan.
Ia adalah bentuk kesadaran bahwa potensi manusia dapat hilang ketika kesempatan untuk mengembangkannya tidak tersedia.
ZIS dan Kesempatan untuk Terus Melangkah
Zakat, infak, dan sedekah memiliki dimensi sosial yang memungkinkan harta tidak hanya berhenti pada kepemilikan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Allah SWT mengingatkan pada QS. Adz-Dzariyat: 19 bahwa pada harta yang dimiliki terdapat perhatian terhadap mereka yang membutuhkan.
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”(QS. Adz-Dzariyat: 19)
Melalui pengelolaan ZIS, dukungan masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membantu mereka yang menghadapi keterbatasan, termasuk dalam menjaga akses terhadap pendidikan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dapat menjadi jembatan antara kemampuan masyarakat untuk berbagi dan kebutuhan mereka yang memerlukan dukungan untuk terus berkembang.
Karena bantuan pendidikan bukan sekadar tentang membayar biaya.
Kadang, ia adalah tentang memastikan bahwa seorang anak tidak harus menyerah sebelum sempat menunjukkan kemampuannya.
Mungkin Mereka Tidak Membutuhkan Lebih Banyak Kemampuan, tetapi Lebih Banyak Kesempatan
Tidak semua orang membutuhkan motivasi tambahan.
Tidak semua orang kekurangan kemauan.
Mungkin ada yang sebenarnya sudah berusaha, sudah belajar, dan sudah memiliki kemampuan.
Mereka hanya belum memiliki kesempatan yang cukup.
Karena itu, jangan terlalu cepat menilai seseorang dari sejauh apa ia telah berhasil. Kita tidak pernah benar-benar tahu dari titik mana ia memulai perjalanannya.
Jika hari ini kita memiliki kemampuan untuk membantu, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi salah satu cara untuk memperluas kesempatan tersebut.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena mungkin, sebuah bantuan yang kita anggap kecil hari ini bukan hanya membantu seseorang membayar kebutuhan pendidikan. Ia mungkin sedang menjaga masa depan yang hampir kehilangan kesempatan untuk tumbuh.
ARTIKEL24/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan, Saatnya Meneladani dan Berbagi
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan, Saatnya Meneladani dan Berbagi
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran dan perjuangan Rasulullah SAW. Namun, sudahkah peringatan Maulid benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan kita? Jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah hanya berhenti pada ucapan, shalawat, dan berbagai kegiatan seremonial.
Maulid Nabi seharusnya menjadi saat untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita meneladani akhlak Rasulullah? Sudahkah kepedulian beliau kepada sesama juga hidup dalam diri kita?
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, dermawan, dan peduli kepada orang-orang yang membutuhkan. Karena itu, memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ajakan untuk menghidupkan keteladanan beliau melalui tindakan nyata, termasuk berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.
Maulid Nabi, Momentum untuk Meneladani Rasulullah SAW
Allah SWT telah menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan terbaik bagi umat manusia. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini mengingatkan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya sosok untuk dicintai dan dikenang, tetapi juga untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari.
Cinta kepada Rasulullah Harus Terlihat dalam Perbuatan
Mencintai Rasulullah SAW berarti berusaha mengikuti ajaran dan akhlak beliau. Kita dapat memulainya dari hal sederhana, seperti berkata baik, membantu orang lain, menjaga amanah, serta memiliki kepedulian terhadap mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Di tengah kehidupan saat ini, masih banyak saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Ada keluarga yang kesulitan mendapatkan makanan, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, hingga masyarakat yang memerlukan bantuan untuk bangkit dari keterbatasan.
Dari Keteladanan Menjadi Aksi Nyata
Momentum Maulid Nabi dapat menjadi pengingat bahwa kebaikan tidak cukup hanya dibicarakan. Ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu, maka mari ubah rasa cinta kepada Rasulullah menjadi aksi nyata.
Salah satunya adalah dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.
Berbagi adalah Bagian dari Meneladani Akhlak Rasulullah
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk peduli dan meringankan kesulitan orang lain. Beliau bersabda:
Artinya: “Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa membantu sesama bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga merupakan amal yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Zakat, Infak, dan Sedekah untuk Menebar Manfaat
Setiap rezeki yang Allah titipkan kepada kita memiliki kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan. Zakat dapat membantu mustahik memenuhi kebutuhan dan membangun kehidupan yang lebih baik. Infak dan sedekah pun dapat menjadi bentuk kepedulian untuk membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Melalui BAZNAS, kebaikan dari para muzaki dan donatur dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program pemberdayaan dan bantuan.
Jangan Biarkan Maulid Hanya Menjadi Seremonial
Kita dapat menghadiri pengajian, memperbanyak shalawat, dan mempelajari kisah Rasulullah SAW. Namun, akan lebih bermakna jika setelah itu muncul perubahan dalam diri kita.
Jika Rasulullah mengajarkan kasih sayang, sudahkah kita menyayangi sesama? Jika beliau mengajarkan kepedulian, sudahkah kita membantu mereka yang membutuhkan?
Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi bahan refleksi pada momentum Maulid Nabi.
Saatnya Meneladani dan Berbagi Bersama BAZNAS
Maulid Nabi Muhammad SAW adalah kesempatan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah melalui perbuatan nyata. Tidak perlu menunggu memiliki rezeki berlimpah untuk berbagi. Kebaikan dapat dimulai dari apa yang kita mampu.
Satu donasi mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menjadi harapan bagi seseorang. Bantuan yang kita salurkan bisa membantu keluarga memenuhi kebutuhan, mendukung pendidikan anak, atau meringankan beban saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan.
Jadikan Cinta kepada Rasulullah sebagai Gerakan Kebaikan
Mari jadikan Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan. Mari hidupkan semangat Rasulullah SAW dalam kehidupan melalui akhlak mulia, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Jadikan sebagian rezeki yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat dan harapan.
Karena sejatinya, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang mengucapkan cinta dengan lisan, tetapi juga membuktikannya dengan meneladani akhlaknya dan berbagi kepada sesama.
Yuk, Tebar Kebaikan di Momentum Maulid Nabi
Mari bersama BAZNAS, ubah cinta menjadi kepedulian dan kepedulian menjadi aksi nyata. Sebab satu kebaikan yang kita berikan hari ini dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Berbagi Bukan Hanya Tentang Apa yang Kita Berikan, tetapi Juga Tentang Ketulusan dan Manfaat yang Kita Hadirkan
Berbagi sering kali dipahami sebagai memberikan sebagian harta kepada orang lain. Padahal, makna berbagi jauh lebih luas. Berbagi bukan hanya tentang berapa banyak yang kita keluarkan, tetapi tentang seberapa tulus niat kita dan seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan oleh orang lain.
Di tengah kehidupan yang serba cepat, masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, lansia yang hidup dalam keterbatasan, hingga masyarakat yang membutuhkan bantuan ketika menghadapi musibah.
Di sinilah berbagi memiliki makna yang sangat besar. Sebuah bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi kita, bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang menerimanya.
Berbagi Bukan Sekadar Memberikan Harta
Ketika berbicara tentang berbagi, hal pertama yang sering muncul di pikiran adalah uang atau materi. Padahal, Islam mengajarkan bahwa kebaikan tidak selalu harus berbentuk harta.
Senyum, tenaga, ilmu, perhatian, waktu, bahkan perkataan yang baik juga dapat menjadi bentuk kebaikan.
Namun, dalam konteks zakat, infak, dan sedekah, harta yang kita keluarkan dapat menjadi sarana nyata untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menggambarkan betapa besar potensi kebaikan dari sebuah pemberian yang dilakukan di jalan Allah. Apa yang kita keluarkan mungkin berkurang secara jumlah, tetapi nilainya di sisi Allah dapat berkembang berlipat ganda.
Yang Sedikit Bisa Menjadi Besar
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memberikan dalam jumlah besar. Tetapi Islam tidak mengajarkan bahwa hanya orang kaya yang bisa berbagi.
Seribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas bisa menjadi bagian dari solusi. Sebungkus makanan dapat mengurangi rasa lapar. Bantuan pendidikan dapat membuka kesempatan masa depan. Sedekah yang tampak sederhana dapat menjadi sebab hadirnya kebahagiaan bagi seseorang.
Karena itu, jangan menunggu kaya untuk berbagi.
Mulailah dari apa yang kita mampu.
Ketulusan Menjadi Ruh dalam Setiap Pemberian
Ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: niat.
Memberikan sesuatu kepada orang lain tidak selalu otomatis menjadi amal yang bernilai besar. Dalam Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat penting.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa di balik sebuah pemberian, ada sesuatu yang tidak terlihat oleh manusia, tetapi diketahui oleh Allah: ketulusan hati.
Berbagi Bukan untuk Mencari Pujian
Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal dapat dibagikan di media sosial. Kebaikan pun terkadang mudah berubah menjadi sesuatu yang ingin diketahui banyak orang.
Padahal, tidak semua kebaikan harus terlihat.
Ada kalanya tangan kanan memberi, sementara tangan kiri tidak perlu mengetahui. Ada sedekah yang cukup diketahui oleh Allah dan hati kita sendiri.
Ketika kita berbagi karena ingin mendapatkan pujian, penghargaan, atau pengakuan, kita perlu kembali bertanya kepada diri sendiri:
“Untuk siapa sebenarnya aku memberikan ini?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu kita kembali meluruskan niat.
Manfaat yang Dihadirkan Jauh Lebih Penting
Berbagi bukan hanya tentang menyerahkan sesuatu. Berbagi seharusnya juga menghadirkan manfaat nyata.
Ketika kita memberikan bantuan kepada seseorang yang sedang kesulitan, tujuan akhirnya bukan sekadar membuat mereka menerima bantuan, tetapi membantu mereka kembali memiliki harapan.
Dari Bantuan Menjadi Solusi
Bayangkan sebuah keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Bantuan makanan mungkin dapat meringankan mereka hari ini.
Namun, jika bantuan tersebut dapat dilanjutkan dengan program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, modal usaha, atau akses pendidikan, maka manfaatnya bisa menjadi lebih panjang.
Inilah pentingnya menghadirkan berbagi yang berdampak.
Donasi bukan sekadar angka.
Di balik setiap rupiah yang disalurkan, ada kemungkinan lahirnya makanan untuk keluarga, pendidikan untuk anak, pelayanan kesehatan untuk masyarakat, modal usaha untuk penerima manfaat, atau bantuan bagi mereka yang sedang menghadapi keadaan sulit.
Jangan Sampai Pemberian Disertai Luka
Islam juga mengajarkan bahwa cara kita memberikan sesuatu tidak kalah penting dari apa yang kita berikan.
Allah SWT berfirman:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.”
(QS. Al-Baqarah: 263)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam. Jangan sampai bantuan yang kita berikan justru membuat orang lain merasa direndahkan.
Menjaga Martabat Penerima
Orang yang menerima bantuan bukan berarti lebih rendah daripada orang yang memberi.
Hari ini kita mungkin berada dalam posisi mampu membantu. Namun, keadaan manusia dapat berubah. Bisa jadi suatu saat kita yang membutuhkan pertolongan.
Karena itu, berbagi sebaiknya dilakukan dengan empati.
Bukan dengan kalimat yang merendahkan.
Bukan dengan mengungkit pemberian.
Bukan pula dengan menjadikan kesulitan orang lain sebagai bahan untuk mendapatkan pujian.
Berikan dengan hormat, salurkan dengan amanah, dan niatkan karena Allah.
Mengapa Kita Perlu Membiasakan Diri Berbagi?
Berbagi bukan hanya memberikan manfaat kepada penerima. Secara spiritual, berbagi juga mendidik hati orang yang memberi.
Ketika seseorang terbiasa bersedekah, ia belajar melepaskan sebagian dari apa yang dimilikinya.
Ia belajar bahwa harta bukanlah tujuan akhir kehidupan.
Ia belajar bahwa rezeki yang dimiliki sebenarnya merupakan amanah.
Dan yang paling penting, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita mendapatkan sesuatu.
Terkadang, kebahagiaan justru hadir ketika kita mampu memberikan sesuatu kepada orang lain.
Berbagi Melatih Hati agar Tidak Terlalu Terikat pada Dunia
Harta memang penting. Kita membutuhkannya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarga.
Tetapi jangan sampai harta menjadi sesuatu yang menguasai hati.
Zakat, infak, dan sedekah menjadi salah satu cara untuk mengingatkan diri bahwa sebagian rezeki yang kita miliki memiliki hak untuk dimanfaatkan bagi kebaikan.
Dengan berbagi, kita belajar bersyukur.
Dengan bersedekah, kita belajar peduli.
Dengan membantu, kita belajar bahwa kehidupan ini tidak hanya tentang “apa yang bisa saya dapatkan?”, tetapi juga tentang “apa yang bisa saya berikan?”
Saatnya Mengubah Rezeki Menjadi Manfaat
Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki lebih, mari sisihkan sebagian untuk berbagi.
Tidak harus menunggu memiliki banyak.
Tidak harus menunggu menjadi orang kaya.
Tidak harus menunggu ada momen besar.
Kebaikan bisa dimulai hari ini, dari apa yang kita punya dan dari kemampuan yang kita miliki.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Bersama, kita bisa mengubah sebagian rezeki menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan harapan.
Karena yang Kita Berikan Bisa Berhenti di Tangan, tetapi Manfaatnya Bisa Terus Berjalan
Pada akhirnya, berbagi bukan tentang siapa yang memberikan paling banyak.
Bukan pula tentang siapa yang paling sering terlihat membantu.
Berbagi adalah tentang ketulusan hati, keikhlasan niat, dan manfaat yang kita hadirkan.
Mungkin bagi kita sebuah bantuan hanyalah sebagian kecil dari rezeki.
Tetapi bagi seseorang yang sedang berada di titik sulit, bantuan itu bisa berarti sangat besar.
Maka, jangan tunggu memiliki lebih untuk mulai berbagi.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
7 Hikmah Maulid Nabi BAZNAS yang Menguatkan Cinta kepada Rasulullah
7 Hikmah Maulid Nabi BAZNAS yang Menguatkan Cinta kepada Rasulullah
Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran, perjuangan, dan keteladanan Rasulullah. Peringatan ini umumnya diisi dengan shalawat, pengajian, pembacaan sirah, doa, serta kegiatan sosial. Bagi BAZNAS, semangat Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan kepedulian dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.
Kecintaan kepada Rasulullah bukan hanya diungkapkan melalui ucapan, tetapi juga dapat diwujudkan dengan meneladani akhlaknya: peduli, dermawan, penyayang, dan gemar membantu sesama. Karena itu, Maulid Nabi dapat menjadi pengingat untuk memperbanyak amal kebaikan melalui zakat, infak, dan sedekah.
Mengapa Maulid Nabi Penting bagi Umat Islam?
Maulid Nabi dapat menjadi kesempatan untuk kembali mengenal sosok Rasulullah SAW dan mengambil pelajaran dari kehidupannya. Dalam berbagai kegiatan Maulid, umat dapat memperbanyak shalawat, mempelajari sirah Nabi, memperkuat ibadah, serta berbagi kepada sesama.
Rasulullah adalah Teladan bagi Umat
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan dalam menjalani kehidupan. BAZNAS sendiri pernah mengajak para amil untuk menerapkan uswah hasanah Rasulullah dalam melayani muzaki dan mustahik.
7 Hikmah Maulid Nabi BAZNAS
1. Menguatkan Cinta kepada Rasulullah
Maulid Nabi menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat perjuangan dan akhlak Rasulullah SAW. Dengan mempelajari sirah dan memperbanyak shalawat, kecintaan kepada Nabi dapat semakin tumbuh.
Cinta yang Dibuktikan dengan Perbuatan
Cinta kepada Rasulullah bukan sekadar kata-kata. Kita dapat membuktikannya melalui perilaku yang mencerminkan akhlak beliau, termasuk peduli kepada orang yang membutuhkan.
2. Menghidupkan Semangat Bershalawat
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”(QS. Al-Ahzab: 56)
Memperbanyak shalawat menjadi salah satu cara mengisi momentum Maulid Nabi dengan kebaikan dan penghormatan kepada Rasulullah.
3. Meneladani Akhlak Mulia Rasulullah
Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh kasih sayang dan perhatian terhadap umat. Maulid Nabi dapat menjadi pengingat agar kita menerapkan sifat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Kepedulian dapat diwujudkan dengan membantu fakir miskin, menyantuni mereka yang membutuhkan, hingga berbagi rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah.
4. Menumbuhkan Kepedulian Sosial
Peringatan Maulid Nabi tidak harus berhenti pada kegiatan seremonial. Semangatnya dapat diteruskan menjadi aksi nyata untuk membantu sesama.
Dari Shalawat Menjadi Manfaat
Bayangkan jika semangat Maulid diiringi gerakan berbagi. Ada keluarga yang terbantu memenuhi kebutuhan, anak yang memperoleh dukungan pendidikan, atau masyarakat yang mendapatkan bantuan untuk bangkit dari kesulitan.
Inilah semangat yang dapat diwujudkan melalui pengelolaan zakat dan sedekah secara amanah.
5. Menguatkan Persaudaraan Umat
Kegiatan Maulid dapat menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi. Masyarakat berkumpul, berdoa, belajar, dan berbagi dalam satu suasana kebersamaan.
Ketika kepedulian sosial ikut dibangun, Maulid dapat menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah dan menghadirkan manfaat yang lebih luas.
6. Menjadikan Zakat dan Sedekah sebagai Wujud Cinta
Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat peduli terhadap orang-orang yang berada dalam kesulitan. Meneladani kepedulian tersebut dapat dilakukan dengan menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.
BAZNAS mengelola berbagai program zakat, infak, dan sedekah, termasuk bidang dakwah yang mencakup pembinaan kaum marginal, pembinaan mualaf, pengiriman dai ke wilayah 3T, serta dukungan sarana ibadah.
Kebaikan yang Menjangkau Mereka yang Membutuhkan
Satu donasi mungkin terlihat sederhana. Namun ketika dikumpulkan bersama kebaikan banyak orang, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
7. Mengubah Maulid Menjadi Gerakan Kebaikan
Hikmah terbesar Maulid Nabi adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan pentingnya kasih sayang dalam kehidupan. Membantu orang yang membutuhkan merupakan salah satu bentuk kepedulian yang dapat kita lakukan.
Mari Jadikan Maulid Nabi Momentum Berbagi
Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang membawa nilai-nilai keteladanan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata. Ketika cinta kepada Nabi diwujudkan melalui kepedulian, maka peringatan Maulid dapat menghadirkan manfaat bagi lebih banyak orang.
Bersama BAZNAS, Tebarkan Kebaikan
Mari jadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal. Sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah agar dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Satu Kebaikan, Banyak Harapan
Mungkin apa yang kita berikan terasa kecil. Namun bagi mereka yang membutuhkan, bantuan tersebut dapat menjadi harapan baru.
Mari bersama BAZNAS meneladani Rasulullah SAW dengan berbagi, peduli, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Karena mencintai Rasulullah bukan hanya tentang bershalawat dengan lisan, tetapi juga tentang menghadirkan kasih sayang melalui perbuatan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
7 Aksi Kemanusiaan Inspiratif BAZNAS yang Mengubah Hidup dan Menebar Harapan
7 Aksi Kemanusiaan Inspiratif BAZNAS yang Mengubah Hidup dan Menebar Harapan
Kemanusiaan bukan hanya tentang rasa iba, tetapi tentang keberanian untuk hadir dan membantu. Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, masih banyak saudara kita yang membutuhkan makanan, tempat tinggal layak, bantuan kesehatan, hingga dukungan ketika musibah datang.
Melalui berbagai aksi kemanusiaan BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah masyarakat disalurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Program tersebut mencakup kebutuhan dasar, bantuan sosial, dukungan bagi penyandang disabilitas, hingga respons terhadap bencana.
Mengapa Aksi Kemanusiaan Begitu Penting?
Islam mengajarkan kepedulian dan semangat untuk saling membantu dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”(QS. Al-Ma'idah: 2)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada sesama adalah bagian dari nilai kebaikan yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
7 Aksi Kemanusiaan Inspiratif BAZNAS
1. Paket Logistik untuk Memenuhi Kebutuhan Dasar
Kebutuhan pangan merupakan salah satu hal paling mendasar dalam kehidupan. BAZNAS menyalurkan paket logistik seperti sembako kepada mustahik, termasuk keluarga rentan, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat yang terdampak bencana.
Sedekah Anda Bisa Menjadi Sepiring Harapan
Bantuan yang terlihat sederhana dapat berarti besar bagi keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Bank Makanan bagi Masyarakat yang Membutuhkan
BAZNAS juga memiliki program Bank Makanan, yaitu penyediaan makanan siap saji bagi masyarakat di wilayah kantong kemiskinan. Program ini menyasar antara lain pekerja harian, keluarga prasejahtera, rumah singgah, pesantren, dan panti sosial Islam.
3. Bantuan Sosial Kemanusiaan
Bantuan sosial diberikan kepada mustahik yang menghadapi keterbatasan ekonomi, termasuk keluarga yang kehilangan kemampuan bekerja atau terdampak musibah. Tujuannya adalah membantu memenuhi kebutuhan hidup dan meringankan beban mereka.
4. Santunan untuk Yatim dan Dhuafa
Anak yatim, dhuafa, lansia, dan penyandang disabilitas membutuhkan perhatian dan dukungan dari lingkungan sekitar. Melalui program santunan, BAZNAS membantu memenuhi kebutuhan mereka melalui lembaga sosial Islam dan kegiatan kemanusiaan.
5. Dukungan bagi Penyandang Disabilitas
Keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang seseorang untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri. BAZNAS memberikan bantuan berupa alat pendukung aktivitas, seperti kursi roda dan alat bantu lainnya sesuai kebutuhan penerima manfaat.
6. Mewujudkan Rumah yang Lebih Layak
Rumah bukan sekadar tempat tinggal, tetapi tempat keluarga mendapatkan rasa aman dan nyaman. BAZNAS menjalankan program Rumah Layak Huni untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah memperoleh hunian yang lebih sehat, aman, dan layak.
Dari Rumah yang Layak, Tumbuh Harapan Baru
Ketika sebuah keluarga memiliki tempat tinggal yang lebih baik, mereka memiliki ruang untuk kembali menata kehidupan dan menatap masa depan.
7. Respons Cepat untuk Korban Bencana
Bencana dapat datang tanpa peringatan dan meninggalkan dampak besar. Korban dapat kehilangan rumah, pekerjaan, makanan, hingga sumber penghasilan. Karena itu, respons kemanusiaan menjadi sangat penting.
BAZNAS melalui berbagai layanan kemanusiaannya berupaya membantu masyarakat menghadapi kebutuhan darurat sekaligus mendukung proses pemulihan pascabencana.
Kebaikan yang Kita Berikan, Harapan bagi Sesama
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa membantu meringankan beban orang lain merupakan amal yang memiliki nilai besar.
Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi
Bayangkan jika sedikit dari rezeki kita dapat berubah menjadi makanan bagi keluarga yang lapar, bantuan bagi korban bencana, alat bantu bagi penyandang disabilitas, atau rumah yang lebih layak bagi keluarga yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”(QS. Al-Baqarah: 261)
Mari Berdonasi dan Tebarkan Harapan
Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki banyak untuk peduli. Zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan hari ini dapat menjadi jalan hadirnya harapan bagi mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
BAZNAS terus mengajak masyarakat untuk menghadirkan manfaat melalui pengelolaan dana umat secara amanah dan penyaluran kepada mereka yang membutuhkan.
Mari salurkan kebaikan melalui BAZNAS. Jadikan sebagian rezeki kita sebagai makanan, bantuan, perlindungan, dan harapan bagi sesama.
Satu aksi kemanusiaan mungkin terasa kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi perubahan besar bagi mereka yang membutuhkan.
Yuk, Saatnya Peduli dan Berbagi
Bersama BAZNAS, ubah kepedulian menjadi aksi, ubah donasi menjadi manfaat, dan ubah kebaikan menjadi harapan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Cinta Kepada Rasulullah SAW: Makna yang Hidup di Balik Maulid Nabi
Maulid Nabi bukan sekadar momen untuk mengingat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, Maulid Nabi adalah kesempatan untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah SAW, dan sudah sejauh mana cinta itu hadir dalam kehidupan sehari-hari?
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, banyak orang mengenal nama Rasulullah SAW, tetapi belum tentu benar-benar mengenal akhlak, perjuangan, kasih sayang, dan keteladanan beliau. Padahal, mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang mengucapkan shalawat, tetapi juga berusaha menjadikan ajaran dan akhlaknya sebagai pedoman hidup.
Karena itu, makna Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada sebuah perayaan. Maulid dapat menjadi momentum untuk menghidupkan kembali sunnah, memperkuat kepedulian kepada sesama, dan menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan nyata.
Mengapa Kita Perlu Mencintai Rasulullah SAW?
Cinta kepada Rasulullah SAW merupakan bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Rasulullah SAW bukan hanya seorang pembawa risalah, tetapi juga teladan bagaimana seorang manusia menjalani kehidupan dengan iman, kesabaran, kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian.
Rasulullah SAW bersabda:
??? ???????? ?????????? ?????? ??????? ??????? ???????? ???? ????????? ?????????? ?????????? ???????????
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”(HR. Bukhari no. 15)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah SAW bukan sekadar perasaan. Cinta tersebut memiliki kedudukan yang sangat penting dalam keimanan.
Namun, pertanyaannya adalah: bagaimana membuktikan cinta tersebut?
Cinta kepada Rasulullah SAW Bukan Sekadar Ucapan
Mengaku mencintai Rasulullah SAW tentu mudah. Kita bisa mengucapkan shalawat, membaca kisah kehidupan beliau, atau menghadiri kegiatan Maulid Nabi.
Semua itu dapat menjadi bentuk kecintaan. Namun, cinta yang sesungguhnya akan terlihat dari bagaimana seseorang berusaha mengikuti Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa cinta harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah SAW. Semakin kita mencintai beliau, seharusnya semakin besar pula keinginan untuk meneladani sunnah dan akhlaknya.
Maulid Nabi: Menghidupkan Kembali Keteladanan Rasulullah
Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengenang perjalanan Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari kehidupan beliau.
Allah SWT berfirman:
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Kata uswatun hasanah menunjukkan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan yang dapat dijadikan contoh.
Keteladanan itu terlihat dalam banyak sisi kehidupan: bagaimana beliau memperlakukan keluarga, menyayangi anak-anak, menghormati orang lain, membantu mereka yang membutuhkan, serta tetap sabar ketika menghadapi berbagai ujian.
Meneladani Kasih Sayang Rasulullah
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang. Karena itu, salah satu cara menghidupkan makna Maulid Nabi adalah dengan memperbanyak kepedulian kepada sesama.
Jangan sampai kita begitu bersemangat memperingati Maulid Nabi, tetapi masih membiarkan orang di sekitar kita menghadapi kesulitan seorang diri.
Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yatim yang membutuhkan perhatian. Ada lansia yang hidup dalam keterbatasan. Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan dasar.
Di sinilah cinta kepada Rasulullah SAW dapat diwujudkan dalam bentuk yang nyata.
Meneladani Kedermawanan Rasulullah
Rasulullah SAW juga mengajarkan umatnya untuk peduli kepada orang lain. Sedekah, infak, dan berbagai bentuk kebaikan merupakan cara untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Maka, momentum Maulid Nabi dapat menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah SAW berarti berusaha menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi.
Senyuman adalah kebaikan. Membantu orang yang kesulitan adalah kebaikan. Memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan adalah kebaikan. Begitu pula menyalurkan infak dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak penerima.
Maulid Nabi Seharusnya Mengubah Kehidupan Kita
Perayaan akan selesai. Acara akan berakhir. Spanduk akan diturunkan. Namun, jangan sampai semangat mencintai Rasulullah SAW ikut hilang setelah Maulid berlalu.
Justru setelah Maulid Nabi, seharusnya ada perubahan dalam diri kita.
Lebih Rajin Bershalawat
Shalawat menjadi salah satu bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW. Membiasakan diri bershalawat dapat menjadi pengingat agar hati selalu terhubung dengan sosok yang membawa risalah Islam kepada umat manusia.
Lebih Baik dalam Berakhlak
Cinta kepada Rasulullah SAW juga seharusnya terlihat dari ucapan dan perilaku.
Jika sebelumnya kita mudah marah, belajar menahan diri.
Jika sebelumnya sulit memaafkan, belajar melapangkan hati.
Jika sebelumnya sering menyakiti orang lain dengan perkataan, belajar menjaga lisan.
Jika sebelumnya kurang peduli terhadap orang yang membutuhkan, mulai belajar berbagi.
Inilah makna Maulid Nabi yang hidup—ketika kisah Rasulullah SAW tidak hanya dibaca, tetapi diterapkan.
Lebih Peduli kepada Sesama
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya tentang dirinya sendiri.
Ketika kita membantu orang lain, sebenarnya kita sedang membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.
Karena itu, momentum Maulid Nabi juga dapat menjadi saat yang tepat untuk memperkuat gerakan zakat, infak, dan sedekah.
Jadikan Cinta kepada Rasulullah sebagai Gerakan Kebaikan
Bayangkan jika setiap orang yang mengaku mencintai Rasulullah SAW mengambil satu langkah nyata setelah Maulid.
Ada yang membantu anak yatim.
Ada yang memberikan makanan kepada keluarga dhuafa.
Ada yang membantu biaya pendidikan.
Ada yang mendukung pelayanan kesehatan.
Ada yang menunaikan zakat.
Ada pula yang menyisihkan sebagian rezekinya untuk infak dan sedekah.
Jika dilakukan bersama-sama, kebaikan kecil dapat berubah menjadi manfaat besar.
Karena itu, jangan biarkan Maulid Nabi hanya menjadi kenangan tahunan. Jadikan ia sebagai titik awal untuk memperbanyak kebaikan.
Saatnya Menghidupkan Cinta dengan Berbagi
Mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut nama beliau, tetapi juga tentang seberapa banyak nilai-nilai yang beliau ajarkan hadir dalam kehidupan kita.
Ketika kita berbagi kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang belajar meneladani kepedulian.
Ketika kita membantu orang yang sedang kesulitan, kita sedang belajar menghadirkan kasih sayang.
Ketika kita menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah, kita sedang berusaha menjadikan harta sebagai jalan kebermanfaatan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman membeli barang baru, traveling ke tempat impian, memiliki karier cemerlang, atau menjalani kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial? Perasaan takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out) semakin mudah muncul ketika kita terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Masalahnya bukan sekadar ingin mengikuti tren. Jika tidak dikendalikan, FOMO sama dunia dapat membuat kita terlalu sibuk mengejar pengakuan hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Islam tidak melarang seseorang menikmati kehidupan dunia. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara.
Mengapa FOMO Sama Dunia Bisa Membuat Hati Lalai?
Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada yang membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, memiliki kendaraan impian, hingga menikmati liburan mewah.
Tanpa disadari, muncul pikiran, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang mengejar sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Padahal, kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang terlihat di dunia.
Dunia Itu Indah, Tetapi Sementara
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Pesannya adalah jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa bahwa ada kehidupan yang lebih kekal.
7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
1. Kurangi Membandingkan Diri
Setiap orang memiliki jalan hidup berbeda. Berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga diri.
Fokus pada Perjalanan Sendiri
Syukuri apa yang Allah berikan dan gunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
2. Batasi Konsumsi Media Sosial
Tidak semua yang terlihat di media sosial menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Berikan waktu bagi hati untuk beristirahat dari budaya membandingkan diri.
3. Perkuat Salat dan Ibadah
Ketika dunia terasa semakin bising, ibadah menjadi ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Jangan biarkan kesibukan mengejar dunia membuat salat menjadi sesuatu yang dikesampingkan.
4. Ingat bahwa Dunia Hanya Persinggahan
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”(HR. Bukhari No. 6416)
Hadis ini mengajarkan agar kita tidak menjadikan dunia sebagai tempat bergantung sepenuhnya.
5. Ubah Keinginan Menjadi Kesyukuran
Saat melihat keberhasilan orang lain, biasakan berkata, “Masya Allah, semoga Allah memberkahinya.” Kemudian tanyakan kepada diri sendiri, “Nikmat apa yang sudah Allah berikan kepadaku?”
Rasa syukur membantu hati melihat apa yang dimiliki, bukan terus mengejar apa yang belum ada.
6. Sisihkan Harta untuk Sedekah
Salah satu cara terbaik melawan keterikatan berlebihan pada dunia adalah berbagi.
Ketika sebagian rezeki kita diberikan kepada orang yang membutuhkan, kita belajar bahwa harta bukan sekadar sesuatu untuk dinikmati sendiri, tetapi juga amanah yang dapat menjadi jalan kebaikan.
Sedikit yang Kita Berikan, Bisa Berarti Besar
Bayangkan jika sebagian uang yang biasanya digunakan untuk mengikuti tren dialihkan menjadi makanan bagi keluarga dhuafa, beasiswa anak yatim, bantuan kesehatan, atau pemberdayaan masyarakat.
Sedekah hari ini mungkin tidak membuat kita terlihat lebih kaya di mata manusia, tetapi dapat menjadi bekal berharga di hadapan Allah.
7. Jadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama
Miliki cita-cita dunia, tetapi jangan kehilangan arah akhirat. Bekerja keras boleh, memiliki rumah boleh, mengejar pendidikan boleh, bahkan menikmati hasil kerja juga boleh.
Yang perlu dijaga adalah hati: jangan sampai dunia berada di tangan, tetapi justru menguasai hati.
Saatnya Mengubah FOMO Menjadi FOMO pada Kebaikan
Bagaimana jika kita tidak lagi takut tertinggal tren dunia, tetapi takut tertinggal dalam kebaikan?
Takut kehilangan kesempatan bersedekah. Takut melewatkan kesempatan membantu sesama. Takut memiliki rezeki tetapi lupa berbagi.
Inilah saatnya mengubah FOMO sama dunia menjadi semangat mengejar amal yang membawa manfaat.
Yuk, Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan
Jangan biarkan seluruh perhatian kita habis untuk mengejar apa yang sementara. Sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Bersama BAZNAS, mari ubah sebagian rezeki menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan harapan.
Karena dunia boleh dikejar, tetapi akhirat jangan sampai dilupakan. Dan kebaikan yang kita tanam hari ini, semoga menjadi bekal yang menyelamatkan kita kelak.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Berapa Banyak Keputusan Buruk yang Sebenarnya Bisa Dicegah oleh Pendidikan?
Berapa Banyak Keputusan Buruk yang Sebenarnya Bisa Dicegah oleh Pendidikan?
Pendidikan Bukan Hanya Tentang Mengetahui
Kita sering membayangkan pendidikan sebagai jalan menuju satu tujuan yaitu pekerjaan yang lebih baik.
Semakin tinggi pendidikan, semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan. Semakin banyak keterampilan, semakin besar kemungkinan memperoleh penghasilan.
Tidak salah.
Tetapi ada sesuatu yang sering luput dari pembicaraan tentang pendidikan yakni pendidikan tidak hanya memengaruhi apa yang seseorang bisa kerjakan, tetapi juga bagaimana ia mengambil keputusan.
Seseorang bisa memiliki penghasilan cukup, tetapi selalu kehabisan uang sebelum akhir bulan.
Seseorang bisa memiliki akses internet, tetapi mudah percaya informasi yang belum terbukti.
Seseorang bisa mendapatkan kesempatan usaha, tetapi tidak mampu menghitung risikonya.
Seseorang bisa mengetahui bahwa kesehatan penting, tetapi tetap mengambil keputusan yang merugikan dirinya.
Maka muncul pertanyaan yang lebih mengganggu yaitu "apakah masalah manusia selalu terjadi karena kita tidak memiliki informasi, atau terkadang karena kita tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan informasi tersebut dengan benar?"
Tahu Tidak Selalu Berarti Mampu Memutuskan
Bayangkan seseorang mengetahui bahwa menabung itu penting.
Ia tahu.
Tetapi setiap kali menerima penghasilan, uang tersebut habis untuk kebutuhan dan keinginan jangka pendek.
Secara pengetahuan, ia memahami pentingnya menabung.
Namun, pengetahuan tersebut belum tentu mengubah perilakunya.
Begitu pula seseorang yang mengetahui bahaya penipuan digital. Informasinya mungkin sudah tersedia di mana-mana. Tetapi ketika menerima pesan yang terlihat meyakinkan, ia tetap dapat mengambil keputusan yang salah.
Artinya, pendidikan yang bermakna tidak berhenti pada kemampuan mengetahui sesuatu.
Ia seharusnya membantu seseorang belajar dalam menganalisis, mempertimbangkan, membandingkan, memperkirakan risiko, dan mengambil keputusan.
Di sinilah pendidikan mulai memiliki pengaruh yang jauh lebih luas terhadap kehidupan.
Pendidikan Diam-Diam Mengubah Cara Kita Menjalani Hidup
Keputusan manusia hadir hampir setiap hari.
Apa yang akan dibeli.
Berapa uang yang akan disimpan.
Pekerjaan apa yang akan dipilih.
Informasi mana yang dipercaya.
Apakah sebuah utang benar-benar diperlukan.
Apakah sebuah peluang layak diambil.
Bahkan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Keputusan-keputusan tersebut mungkin terlihat kecil jika berdiri sendiri. Tetapi ketika dikumpulkan selama bertahun-tahun, keputusan kecil dapat membentuk kualitas kehidupan seseorang.
Seseorang yang terbiasa mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan akan memiliki pola yang berbeda dengan seseorang yang selalu bereaksi terhadap keadaan.
Karena itu, pendidikan bukan hanya investasi untuk mendapatkan pekerjaan.
Pendidikan adalah investasi terhadap kualitas keputusan yang akan dibuat seseorang sepanjang hidupnya.
Dari Informasi Menuju Kebijaksanaan
Islam sendiri tidak menempatkan ilmu sekadar sebagai kumpulan informasi.
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”(QS. Az-Zumar: 9)
Pertanyaan dalam ayat tersebut menunjukkan tingginya kedudukan ilmu.
Namun, ilmu juga membawa tanggung jawab.
Apa gunanya seseorang mengetahui sesuatu jika pengetahuan tersebut tidak membantunya memilih yang lebih baik?
Dalam Islam, kemampuan membedakan yang benar dan salah juga merupakan bagian penting dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”(QS. Al-Hujurat: 6)
Pesan tersebut sangat relevan di era digital.
Hari ini kita hidup dalam situasi ketika informasi datang jauh lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memeriksanya.
Maka pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan apa yang harus diketahui, tetapi juga bagaimana menilai apa yang kita ketahui.
Bagaimana dengan Literasi Finansial?
Contoh paling dekat dapat kita lihat dari cara seseorang memperlakukan uang.
Literasi finansial bukan sekadar mengetahui istilah tabungan, investasi, utang, atau anggaran.
Yang lebih penting adalah kemampuan menggunakannya dalam kehidupan nyata.
Apakah seseorang mampu membedakan kebutuhan dan keinginan?
Apakah ia memahami konsekuensi sebuah pinjaman?
Apakah ia mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang?
Apakah ia mampu membuat prioritas ketika penghasilannya terbatas?
Pengetahuan keuangan menjadi bermakna ketika ia membantu seseorang mengambil keputusan keuangan yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Dan pada akhirnya, kemampuan mengelola harta juga berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami tanggung jawab sosialnya.
ZIS Bukan Hanya Mengeluarkan Harta, tetapi Belajar Mengelolanya
Dalam perspektif Islam, harta tidak hanya berbicara tentang jumlah yang dimiliki, tetapi juga tentang bagaimana harta digunakan.
Zakat mengajarkan kewajiban ketika syaratnya terpenuhi. Infak dan sedekah melatih seseorang untuk menggunakan sebagian hartanya bagi kebaikan.
Karena itu, literasi tentang ZIS juga merupakan bagian dari pendidikan.
Seseorang perlu memahami mengenai apa yang wajib, apa yang sunnah, siapa yang berhak menerima, bagaimana menunaikannya, dan mengapa harta memiliki dimensi sosial.
Di sinilah pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang lebih siap bekerja, tetapi juga manusia yang lebih mampu mempertanggungjawabkan keputusan dan sumber daya yang dimilikinya.
Melalui dukungan terhadap pendidikan yang dikelola secara tepat, termasuk melalui zakat, infak, dan sedekah, masyarakat dapat ikut membantu lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan menggunakannya.
BAZNAS Kota Sukabumi dapat menjadi salah satu jembatan bagi masyarakat untuk menyalurkan ZIS sekaligus mengambil bagian dalam berbagai upaya sosial dan pendidikan.
Mungkin Pendidikan Terbaik Adalah yang Membuat Kita Lebih Jarang Menyesal
Pada akhirnya, ukuran pendidikan mungkin tidak hanya terletak pada berapa banyak ijazah yang dimiliki seseorang.
Tetapi juga pada, seberapa baik ia berpikir sebelum memilih, seberapa bijak ia menggunakan apa yang dimiliki, dan seberapa besar ia memahami konsekuensi dari keputusannya.
Karena satu keputusan buruk mungkin hanya membutuhkan beberapa menit.
Tetapi akibatnya bisa berlangsung bertahun-tahun.
Sebaliknya, satu keputusan yang tepat—untuk belajar, menabung, bekerja dengan jujur, menghindari utang yang tidak perlu, atau menyisihkan harta untuk kebaikan—dapat mengubah arah kehidupan.
Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk membantu seseorang memperoleh pendidikan, mungkin yang sedang kita berikan bukan sekadar buku, biaya sekolah, atau fasilitas belajar.
Kita sedang membantu seseorang membangun kemampuan untuk membuat keputusan yang lebih baik sepanjang hidupnya.
Mari tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena pendidikan yang baik bukan hanya membuat seseorang lebih banyak tahu. Ia membuat seseorang lebih mampu memilih apa yang seharusnya dilakukan dengan apa yang telah ia ketahui.
ARTIKEL24/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
Kalau Kita Tahu Mana yang Benar, Mengapa Kita Tetap Sering Memilih yang Salah?
Kita Sering Tidak Kekurangan Pengetahuan
Kita hidup di zaman ketika hampir semua informasi tersedia dalam hitungan detik.
Kita tahu bahwa menabung itu penting. Kita tahu utang konsumtif dapat menjadi beban. Kita tahu membeli sesuatu hanya karena sedang flash sale belum tentu keputusan yang bijak. Kita juga tahu bahwa menyisihkan sebagian penghasilan untuk kebaikan adalah sesuatu yang bernilai.
Namun, mengetahui tidak selalu membuat kita melakukan.
Kita bisa membuka video tentang cara mengatur keuangan pada pagi hari, lalu tetap membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan pada sore harinya.
Kita bisa memahami pentingnya dana darurat, tetapi tetap menggunakan penghasilan untuk memenuhi keinginan hari ini.
Kita tahu bersedekah adalah kebaikan, tetapi mengatakan “Nanti saja kalau sudah ada lebih.”
Masalahnya menjadi menarik ketika kita menyadari bahwa manusia tidak selalu mengambil keputusan berdasarkan apa yang diketahuinya benar.
Lalu, kalau kita sudah tahu mana yang benar, mengapa kita masih sering memilih yang salah?
Pengetahuan dan Perilaku Tidak Selalu Berjalan Bersama
Dalam perilaku manusia terdapat apa yang sering disebut knowledge–behavior gap yaitu jarak antara apa yang seseorang ketahui dan apa yang benar-benar ia lakukan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa olahraga baik untuk kesehatan, tetapi tetap malas berolahraga.
Mengetahui bahwa tidur cukup penting, tetapi tetap begadang.
Mengetahui bahwa mengelola uang dengan baik diperlukan, tetapi tetap boros.
Artinya, masalah manusia tidak selalu terletak pada kurangnya informasi.
Kadang masalahnya adalah bagaimana kita menghadapi informasi tersebut ketika harus membuat keputusan nyata.
Kita tahu apa yang seharusnya dilakukan.
Tetapi kita juga memiliki keinginan, emosi, kebiasaan, dan dorongan sesaat yang ikut berbicara.
Mengapa Kita Lebih Memilih yang Enak Sekarang?
Salah satu konsep dalam ekonomi perilaku adalah present bias yaitu sebuah kecenderungan manusia memberikan nilai lebih besar terhadap sesuatu yang bisa dinikmati sekarang dibandingkan manfaat yang baru dirasakan di masa depan.
Contohnya sederhana.
Menyimpan Rp100.000 hari ini mungkin memberikan manfaat beberapa bulan kemudian.
Tetapi membeli makanan, pakaian, atau barang yang diinginkan memberikan kepuasan sekarang.
Secara logika, kita mungkin memahami bahwa menabung lebih penting.
Namun secara emosional, manfaat yang bisa dirasakan hari ini sering terasa lebih nyata.
Hal yang sama dapat terjadi dalam sedekah.
Kita mungkin tahu bahwa menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi ketika uang tersebut berada di tangan kita, kebutuhan dan keinginan pribadi terasa lebih mendesak.
Akhirnya muncul kalimat “Nanti kalau sudah lebih banyak.”
Masalahnya, “nanti” bisa menjadi kebiasaan.
Bukan Selalu Karena Tidak Peduli
Ini penting untuk dipahami.
Ketika seseorang terus menunda bersedekah, belum tentu ia tidak peduli terhadap orang lain.
Bisa jadi ia terjebak dalam cara berpikir yang sangat manusiawi seperti pola pikir yang mengatakan “saya akan memberi ketika kondisi saya lebih nyaman.”
Padahal kebutuhan manusia juga terus berkembang.
Ketika pendapatan meningkat, standar kehidupan sering ikut meningkat. Ketika kebutuhan terpenuhi, muncul keinginan baru.
Akibatnya, kondisi “nanti kalau sudah lebih” tidak pernah benar-benar tiba.
Di sinilah kebiasaan menjadi penting.
Sebab perilaku baik tidak selalu lahir dari keputusan besar. Sering kali ia terbentuk dari keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.
Islam Tidak Hanya Mengajarkan Kita untuk Tahu, tetapi untuk Bertindak
Al-Qur'an berkali-kali menghubungkan iman dengan amal.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik...”(QS. Al-Baqarah: 267)
Pesannya menarik.
Kebaikan tidak berhenti pada pengakuan bahwa berbagi adalah sesuatu yang baik. Ada tindakan nyata yang mengikuti keyakinan tersebut.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling kontinu meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan perspektif penting tentang kebiasaan.
Kita tidak harus menunggu menjadi orang yang sangat kaya untuk mulai membangun kebiasaan memberi.
Justru, konsistensi dapat dimulai dari kemampuan yang kita miliki sekarang.
ZIS: Mengubah Niat Menjadi Kebiasaan
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat dilihat bukan hanya sebagai aktivitas mengeluarkan uang, tetapi sebagai latihan mengelola keputusan finansial berdasarkan nilai yang kita yakini.
Zakat memiliki ketentuan tersendiri dan wajib ditunaikan ketika syaratnya terpenuhi.
Sementara infak dan sedekah dapat menjadi ruang untuk membangun kebiasaan berbagi sesuai kemampuan.
Dengan begitu, kita tidak hanya bertanya “Apakah saya tahu bahwa berbagi itu baik?”. Tetapi, “Apakah cara saya mengelola harta sudah mencerminkan apa yang saya yakini?”
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat serta menyalurkan infak dan sedekah melalui lembaga pengelola ZIS.
Kemudahan tersebut dapat membantu mengurangi satu hambatan sederhana yaitu menunda keputusan untuk berbuat baik.
Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan Lebih Banyak Pengetahuan
Kita mungkin tidak selalu membutuhkan artikel lain yang memberi tahu bahwa menabung itu penting, berutang harus bijak, atau sedekah adalah kebaikan.
Mungkin yang lebih kita butuhkan adalah keberanian untuk mengubah pengetahuan menjadi kebiasaan.
Karena pada akhirnya, tahu tidak sama dengan melakukan.
Dan mengetahui bahwa sesuatu itu benar tidak akan banyak mengubah kehidupan jika kita terus memilih untuk menundanya.
Jika telah memenuhi kewajiban zakat, tunaikanlah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dan jangan menunggu memiliki “kelebihan” untuk mulai membiasakan diri berinfak dan bersedekah. Sebab kebaikan tidak selalu gagal karena kita tidak tahu apa yang benar. Kadang, ia gagal karena kita terlalu sering berkata “nanti.”
ARTIKEL24/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Berapa Harga yang Harus Dibayar Ketika Seorang Anak Berhenti Sekolah?
Berapa Harga yang Harus Dibayar Ketika Seorang Anak Berhenti Sekolah?
Ketika “Tidak Mampu Membayar Hari Ini” Menjadi Persoalan di Masa Depan
Bayangkan sebuah keluarga yang sedang menghadapi pilihan sulit.
Uang yang tersedia bulan ini hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok. Di sisi lain, ada biaya sekolah yang harus dibayar. Orang tua tersebut bukan tidak peduli pada pendidikan anaknya. Mereka juga bukan tidak ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Mereka hanya sedang berhadapan dengan satu kenyataan yaitu uang yang dimiliki hari ini terbatas.
Akhirnya, pendidikan menjadi sesuatu yang harus ditunda.
Keputusan itu mungkin terasa seperti persoalan hari ini. Tetapi pernahkah kita bertanya, "berapa sebenarnya harga yang harus dibayar ketika seorang anak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan?"
Mungkin bukan hanya biaya sekolah yang hilang.
Bisa jadi, yang ikut hilang adalah kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih baik, meningkatkan pendapatan, mengembangkan kemampuan, bahkan mengubah kondisi ekonomi keluarganya di masa depan.
Biaya Pendidikan Terlihat Hari Ini, Biaya Kehilangannya Tidak
Ketika membayar sekolah, kita dapat melihat angkanya dengan jelas. Ada uang pangkal, biaya perlengkapan, transportasi, buku, seragam, atau kebutuhan pembelajaran lainnya.
Karena semuanya memiliki nominal, kita mudah menganggap pendidikan sebagai pengeluaran. Padahal pendidikan juga merupakan investasi.
Dalam ekonomi dikenal konsep human capital, yaitu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan kemampuan seseorang yang dapat meningkatkan produktivitas serta peluang ekonominya.
Sederhananya, pendidikan dapat membantu seseorang memiliki lebih banyak kemampuan untuk menghasilkan dan mengambil keputusan di masa depan.
Karena itu, ketika seorang anak berhenti sekolah akibat keterbatasan ekonomi, yang hilang bukan sekadar satu tahun pembelajaran.
Ada kemungkinan kesempatan untuk membangun human capital ikut terputus.
Dan yang lebih sulit dihitung adalah apa yang mungkin terjadi bertahun-tahun kemudian.
Satu Keputusan Hari Ini Bisa Memengaruhi Banyak Tahun Berikutnya
Seorang anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan mungkin harus segera bekerja.
Penghasilan yang diperoleh dapat membantu keluarganya bertahan hari ini. Itu adalah kebutuhan yang nyata dan tidak boleh diremehkan.
Namun, tanpa pendidikan dan keterampilan yang memadai, pilihan pekerjaan yang tersedia mungkin menjadi lebih terbatas. Pendapatan yang diperoleh kemudian sulit meningkat secara signifikan.
Ketika kelak ia memiliki keluarga sendiri, keterbatasan tersebut dapat kembali memengaruhi kemampuan untuk membiayai pendidikan anaknya.
Muncullah sebuah lingkaran yang dimulai dari keterbatasan ekonomi → pendidikan terputus → peluang kerja terbatas → pendapatan terbatas → kemampuan membiayai pendidikan generasi berikutnya ikut terbatas.
Inilah mengapa persoalan pendidikan tidak hanya berbicara tentang seorang anak.
Ia juga dapat berkaitan dengan mobilitas sosial yaitu kemampuan seseorang atau keluarga untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonominya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Apakah Kemiskinan Harus Menentukan Seberapa Jauh Seseorang Boleh Bermimpi?
Di sinilah pendidikan memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh ijazah.
Pendidikan memberikan seseorang kesempatan untuk memperluas pilihan.
Seorang anak mungkin tidak langsung menjadi kaya setelah bersekolah. Tetapi pendidikan dapat memperbesar kemungkinan untuk memiliki keterampilan, wawasan, jaringan, dan pilihan pekerjaan yang lebih luas.
Karena itu, membantu seorang anak mempertahankan pendidikannya bukan berarti menjamin keberhasilan masa depannya.
Tetapi kita sedang menjaga peluang agar masa depan itu tetap terbuka.
Islam sendiri memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ilmu. Allah SWT berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang tinggi. Maka, ketika seseorang menghadapi hambatan untuk memperolehnya, kepedulian terhadap pendidikan bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga bagian dari upaya menjaga sesuatu yang dimuliakan dalam ajaran Islam.
Mungkin Bantuan Pendidikan Bukan Pengeluaran, tetapi Pencegahan
Selama ini kita sering melihat bantuan pendidikan dari apa yang terlihat hari ini.
Membayar biaya sekolah.
Membelikan buku.
Memberikan perlengkapan belajar.
Memberikan beasiswa.
Tetapi coba lihat dari sudut yang berbeda.
Bantuan tersebut mungkin sedang mencegah sesuatu yang jauh lebih mahal yaitu hilangnya kesempatan.
Satu bantuan mungkin tidak langsung mengubah kehidupan seorang anak. Tetapi ia dapat membuat anak tersebut tetap berada di sekolah, menyelesaikan pendidikannya, memperoleh keterampilan, dan memiliki pilihan yang lebih luas ketika memasuki dunia kerja.
Dengan kata lain, kita bukan sekadar membiayai pendidikan; kita sedang menjaga kemungkinan masa depan.
ZIS sebagai Ikhtiar Menjaga Investasi Masa Depan
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat mengambil peran.
ZIS bukan hanya tentang membantu kebutuhan yang sudah terjadi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk mencegah keterbatasan hari ini berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di masa depan.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk upaya di bidang pendidikan sesuai ketentuan dan program yang tersedia.
Bagi kita, mungkin nominal yang disisihkan terasa kecil.
Namun bagi seorang anak, dukungan tersebut bisa berarti tetap bersekolah, tetap belajar, tetap memiliki cita-cita, dan tetap memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
Jangan Hanya Menghitung Biaya Sekolah
Mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.
Bukan hanya bertanya mengenai “berapa biaya yang harus kita keluarkan agar seorang anak tetap sekolah?”. Tetapi, “berapa besar kesempatan yang mungkin hilang jika kita membiarkannya berhenti?”
Kita mungkin tidak mampu membiayai seluruh pendidikan seseorang.
Tetapi kita dapat mengambil bagian dalam menjaganya tetap berjalan.
Tunaikan zakat apabila telah memenuhi kewajibannya, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang apa yang diperoleh seorang anak hari ini.
Pendidikan adalah tentang berapa banyak kemungkinan masa depan yang masih bisa ia miliki.
Dan terkadang, bantuan yang terlihat sederhana hari ini adalah cara kita memastikan bahwa kemiskinan tidak ikut menentukan batas dari sebuah cita-cita.
ARTIKEL24/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Dari Tangan Muzaki, Tumbuh Harapan bagi Pelaku Usaha Kecil
Bayangkan seorang ibu yang setiap pagi membuka warung kecilnya. Ia menata dagangan dengan rapi, berharap hari itu ada cukup pembeli untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di tempat lain, seorang pedagang kaki lima mulai menyiapkan gerobaknya, seorang penjahit menerima pesanan sederhana, dan seorang pelaku usaha rumahan mencoba bertahan dengan modal yang terbatas.
Mereka mungkin tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk bangkit.
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat mengambil peran yang begitu berarti. Dari tangan seorang muzaki, sebagian harta yang ditunaikan dapat menjadi jalan tumbuhnya harapan bagi mereka yang sedang berjuang. Bukan sekadar bantuan untuk bertahan hidup, tetapi dukungan agar mustahik memiliki kesempatan untuk menjadi lebih mandiri.
Ketika Bantuan Berubah Menjadi Kesempatan
Sering kali kita melihat sedekah hanya dari apa yang diberikan hari ini. Padahal, satu pemberian dapat membawa dampak yang jauh lebih panjang.
Ketika seorang pelaku usaha kecil mendapatkan dukungan modal, peralatan usaha, bahan baku, atau pendampingan yang tepat, bantuan tersebut bisa menjadi awal dari perubahan. Dari usaha yang sebelumnya hampir berhenti, muncul kembali aktivitas ekonomi. Dari satu orang yang dibantu, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki penghasilan.
Inilah makna penting dari pemberdayaan ekonomi melalui zakat.
Zakat tidak hanya berbicara tentang menyerahkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat semangat untuk membantu sesama keluar dari kesulitan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Dari Modal Kecil Menjadi Harapan Besar
Bagi sebagian orang, modal usaha mungkin terlihat kecil. Namun bagi pelaku usaha mikro, tambahan modal yang tepat bisa sangat berarti.
Bayangkan seorang pedagang makanan yang membutuhkan peralatan sederhana. Dengan dukungan tersebut, ia dapat meningkatkan produksi. Seorang penjual kebutuhan sehari-hari mungkin membutuhkan tambahan stok agar tokonya kembali berjalan. Seorang pengrajin membutuhkan bahan baku agar dapat menerima pesanan.
Nominal yang terlihat sederhana bagi satu orang bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.
Karena itu, zakat produktif dan pemberdayaan ekonomi mustahik menjadi salah satu bentuk ikhtiar agar zakat mampu memberikan dampak yang berkelanjutan.
Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli
Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup hanya dengan memikirkan kepentingan pribadi. Harta yang dimiliki juga memiliki dimensi sosial. Ada hak orang lain yang harus diperhatikan, terutama mereka yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 9:
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Ayat tersebut menggambarkan kemuliaan orang-orang yang mampu mendahulukan kepentingan saudaranya. Pesannya sangat relevan dalam kehidupan hari ini: keberkahan bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang bagaimana harta tersebut memberi manfaat bagi sesama.
Muzaki dan Mustahik: Dua Sisi dari Kebaikan
Dalam ekosistem zakat, ada muzaki yang menunaikan kewajibannya dan ada mustahik yang berhak menerima. Keduanya bukan sekadar pihak yang memberi dan menerima.
Ketika zakat dikelola dengan baik, hubungan tersebut dapat menjadi sebuah rantai kebaikan.
Muzaki menunaikan zakat.
Lembaga amil mengelola dan menyalurkannya.
Mustahik menerima manfaat.
Pelaku usaha kecil mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Kemudian, ketika usahanya tumbuh, bukan tidak mungkin mereka suatu hari mampu keluar dari kondisi mustahik dan menjadi pihak yang berbagi kepada orang lain.
Inilah harapan besar di balik pemberdayaan ekonomi melalui zakat.
Bukan Sekadar Memberi, tetapi Membantu Mereka Bangkit
Ada perbedaan antara memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat dengan memberikan dukungan yang membuka peluang kemandirian.
Keduanya sama-sama penting dan memiliki tempatnya masing-masing. Namun dalam kondisi tertentu, pemberdayaan ekonomi dapat menjadi salah satu jalan agar bantuan tidak berhenti pada satu titik.
Apa yang Bisa Dilakukan untuk Pelaku Usaha Kecil?
Program pemberdayaan dapat disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat. Misalnya:
Bantuan modal usaha.
Bantuan peralatan produksi.
Bantuan bahan baku.
Pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.
Pendampingan pengelolaan keuangan sederhana.
Pendampingan pemasaran dan digitalisasi usaha.
Pengembangan jaringan pemasaran.
Monitoring perkembangan usaha secara berkala.
Pendekatan seperti ini membuat zakat tidak hanya hadir ketika seseorang sedang kesulitan, tetapi juga mendampingi proses mereka untuk bangkit.
Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang
Salah satu kekhawatiran yang terkadang muncul adalah anggapan bahwa berbagi akan mengurangi harta. Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan sebaliknya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena pemberian maaf kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Hadis ini memberikan pengingat bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Secara lahiriah mungkin sebagian harta berpindah dari tangan kita, tetapi nilai kebaikan, keberkahan, dan manfaat yang lahir darinya tidak dapat diukur hanya dengan angka.
Ada Doa yang Tumbuh dari Setiap Kebaikan
Ketika seorang muzaki menunaikan zakat, mungkin ia tidak pernah bertemu langsung dengan penerimanya.
Ia mungkin tidak mengetahui siapa yang menerima manfaat dari zakatnya.
Namun bisa jadi, dari zakat tersebut seorang pedagang kembali membuka lapaknya. Seorang ibu mampu menambah penghasilan keluarga. Seorang ayah kembali memiliki modal untuk bekerja. Anak-anak mereka kemudian mendapatkan kebutuhan yang lebih layak.
Di balik sebuah transaksi zakat, ada kehidupan yang mungkin berubah.
Dan di balik kehidupan yang berubah, ada doa yang mungkin terucap.
Itulah mengapa zakat untuk pemberdayaan ekonomi mustahik bukan sekadar persoalan angka. Ia adalah tentang manusia, harapan, dan kesempatan.
Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian
Pelaku usaha kecil sering kali memiliki semangat yang besar, tetapi tidak selalu memiliki sumber daya yang cukup.
Mereka mau bekerja.
Mereka mau belajar.
Mereka ingin mengembangkan usaha.
Tetapi terkadang mereka terbentur modal, peralatan, pemasaran, atau akses terhadap peluang.
Di titik inilah kepedulian kita dibutuhkan.
Mungkin bagi kita, menyisihkan sebagian harta terasa sederhana. Namun bagi mereka, dukungan tersebut dapat menjadi alasan untuk kembali membuka usaha esok pagi.
Dari Muzaki, Untuk Masa Depan yang Lebih Mandiri
Mari melihat zakat dari sudut pandang yang lebih luas.
Zakat bukan hanya tentang mengurangi beban hari ini. Zakat juga dapat menjadi bagian dari ikhtiar membangun masa depan.
Ketika dana zakat disalurkan secara tepat sasaran dan dikelola dengan amanah, manfaatnya dapat diarahkan untuk membantu mustahik memperoleh peluang ekonomi sesuai kebutuhan mereka.
Karena tujuan akhirnya bukan sekadar membuat mereka menerima bantuan.
Harapannya, mereka dapat tumbuh, mandiri, dan suatu hari mampu membantu orang lain.
Saatnya Zakat Kita Menjadi Jalan Kebangkitan
Setiap rezeki yang Allah titipkan kepada kita memiliki tanggung jawab.
Jika telah memenuhi syarat untuk zakat, tunaikanlah zakat dengan penuh kesadaran. Jika ingin menambah kebaikan, jangan ragu untuk berinfak dan bersedekah.
Jangan menunggu memiliki harta yang sangat banyak untuk berbagi.
Sebab kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Kadang, perubahan besar justru dimulai dari satu keputusan sederhana: mau berbagi.
Mari menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu pelaku usaha kecil bangkit. Mari hadir bukan hanya untuk memberi bantuan, tetapi ikut menumbuhkan kesempatan.
Satu Zakat, Banyak Harapan
Mungkin zakat yang kita tunaikan hari ini terlihat seperti satu angka.
Tetapi bagi seorang mustahik, angka itu bisa berubah menjadi modal.
Modal bisa berubah menjadi usaha.
Usaha bisa berubah menjadi penghasilan.
Penghasilan bisa menghidupi keluarga.
Dan dari keluarga yang kembali berdaya, tumbuh harapan baru untuk masa depan.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Banyak yang Dicari, Satu yang Sering Dilupakan: Rahasia Menemukan Ketenangan
Banyak yang Dicari, Satu yang Sering Dilupakan: Rahasia Menemukan Ketenangan
Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal bisa dicari. Uang, pekerjaan, popularitas, kesuksesan, rumah impian, liburan, hingga pengakuan dari orang lain. Namun, di tengah begitu banyak hal yang dikejar, ada satu hal yang sering terlupakan: ketenangan hati.
Tidak sedikit orang memiliki banyak hal, tetapi masih merasa kosong. Ada yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi menyimpan kegelisahan. Ada pula yang terus mengejar pencapaian karena berharap kehidupan berikutnya akan membuat hati lebih tenang.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak semata-mata berasal dari banyaknya harta atau pencapaian dunia.
Mengapa Ketenangan Sering Terlupakan?
Kesibukan mengejar dunia terkadang membuat kita lupa berhenti sejenak. Kita sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah diberikan Allah SWT.
Banyak Memiliki Belum Tentu Merasa Cukup
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa kekayaan sejati bukan sekadar banyaknya harta, melainkan kekayaan jiwa. Dalam HR. Muslim No. 1051, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
Pesan ini begitu relevan. Seseorang bisa memiliki banyak harta tetapi tetap merasa kurang. Sebaliknya, orang yang mampu bersyukur dapat menemukan rasa cukup meski hidupnya sederhana.
Rahasia Ketenangan Ada pada Kedekatan dengan Allah
Allah SWT memberikan petunjuk yang sangat jelas mengenai sumber ketenangan hati.
Zikir yang Menenangkan Hati
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketenangan bukan hanya tentang menghilangkan masalah. Ketenangan adalah ketika hati memiliki tempat untuk bersandar, yaitu kepada Allah SWT.
Jangan Hanya Mengejar yang Terlihat
Dunia memang penting. Kita membutuhkan pekerjaan, pendidikan, rumah, dan penghasilan untuk menjalani kehidupan. Namun, jangan sampai semua itu menjadi tujuan akhir.
Harta seharusnya menjadi sarana untuk berbuat baik, bukan sesuatu yang menguasai hati.
Cara Menemukan Ketenangan di Tengah Kesibukan
1. Luangkan Waktu untuk Mengingat Allah
Sesibuk apa pun aktivitas kita, jangan biarkan hati jauh dari zikir, doa, membaca Al-Qur'an, dan salat. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi pengingat bahwa hidup memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengejar dunia.
2. Belajar Bersyukur
Berhenti sejenak dan lihat kembali nikmat yang sudah dimiliki. Kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, dan rezeki sehari-hari adalah karunia yang sering baru terasa ketika kehilangan.
Syukur Mengubah Cara Kita Melihat Kehidupan
Ketika hati terbiasa bersyukur, kita tidak lagi hanya melihat apa yang belum dimiliki. Kita mulai menyadari betapa banyak nikmat yang sebenarnya telah hadir.
3. Kurangi Membandingkan Diri
Media sosial sering membuat kehidupan orang lain terlihat sempurna. Padahal, kita hanya melihat sebagian kecil dari perjalanan mereka.
Jalani hidup dengan ukuran yang sehat. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus menjadi sesuatu yang kita kejar.
4. Sisihkan Rezeki untuk Berbagi
Ada ketenangan yang muncul ketika kita mengetahui bahwa rezeki yang dimiliki juga memberikan manfaat bagi orang lain.
Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar mengeluarkan harta. Berbagi mengajarkan kita bahwa rezeki adalah amanah dan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menerima.
5. Jadikan Kebaikan sebagai Sumber Kebahagiaan
Membantu keluarga, memberi makan orang yang membutuhkan, mendukung pendidikan anak dhuafa, membantu mereka yang kesulitan, atau menyisihkan sebagian penghasilan untuk kemanusiaan adalah bentuk nyata menghadirkan manfaat.
Saatnya Mencari yang Benar-Benar Berarti
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang membuat hidup terlihat lebih baik, tetapi lupa mencari sesuatu yang membuat hati benar-benar tenang.
Jangan sampai kita memiliki banyak hal tetapi kehilangan rasa cukup. Jangan sampai mengejar dunia membuat kita lupa kepada Sang Pemberi rezeki.
Yuk, Salurkan Kebaikan Bersama BAZNAS
Jika hari ini Allah memberikan rezeki lebih, mari jadikan sebagian darinya sebagai jalan kebaikan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah agar manfaatnya dapat membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Apa yang kita berikan mungkin terlihat kecil, tetapi bagi penerima manfaat, bantuan tersebut bisa menjadi makanan, pendidikan, kebutuhan kesehatan, atau harapan untuk bangkit kembali.
Mari berbagi melalui BAZNAS. Karena ketenangan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan.
Pada akhirnya, banyak hal memang kita cari dalam kehidupan. Namun, jangan sampai satu hal yang paling berharga justru terlupakan: ketenangan hati yang lahir dari kedekatan kepada Allah dan kepedulian kepada sesama.
ARTIKEL24/08/2026 | BAZNAS
Bersama BAZNAS, Mari Hadirkan Cahaya Iman bagi Mereka yang Membutuhkan
Bersama BAZNAS, Mari Hadirkan Cahaya Iman bagi Mereka yang Membutuhkan
Di tengah kehidupan yang terus berubah, masih banyak saudara kita yang membutuhkan dukungan untuk mendapatkan akses pendidikan agama, pembinaan keislaman, sarana ibadah, hingga kesempatan untuk belajar Al-Qur’an. Bagi mereka, dukungan yang diberikan bukan sekadar bantuan materi, tetapi juga menjadi jalan untuk menghadirkan cahaya iman dan harapan.
Melalui program keagamaan, BAZNAS berupaya menghadirkan manfaat zakat, infak, dan sedekah agar dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Kini, kita pun dapat mengambil bagian dalam perjuangan tersebut.
Mengapa Program Keagamaan Begitu Penting?
Program keagamaan memiliki peran penting dalam membangun masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara ekonomi, tetapi juga kuat secara spiritual. Pembinaan keagamaan dapat membantu masyarakat memahami nilai-nilai Islam, meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Membuka Akses Belajar Al-Qur’an
Tidak semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan Al-Qur’an. Anak-anak di wilayah terbatas akses pendidikan, masyarakat prasejahtera, hingga para penerima manfaat membutuhkan dukungan agar dapat terus belajar dan mengembangkan kemampuan keagamaannya.
Dukungan kita dapat membantu menghadirkan fasilitas belajar, perlengkapan ibadah, pembinaan, dan berbagai kegiatan keagamaan yang bermanfaat.
Menguatkan Semangat Beribadah
Bantuan keagamaan juga dapat menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus beribadah dan menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kebutuhan dasar keagamaan terpenuhi, mereka memiliki ruang yang lebih baik untuk belajar, beribadah, dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Zakat dan Sedekah, Jalan Menghadirkan Kebaikan
Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Salah satu landasan penting dalam membantu sesama terdapat dalam Al-Qur’an:
Dalil Al-Qur’an tentang Berbagi
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa harta yang diberikan di jalan kebaikan tidak akan menjadi sia-sia. Setiap rupiah yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari kebermanfaatan yang terus tumbuh.
Cahaya Kebaikan yang Bisa Kita Hadirkan Bersama
Bayangkan jika sebuah donasi dapat membantu seorang anak belajar membaca Al-Qur’an. Bayangkan pula jika sedekah yang kita berikan dapat membantu menyediakan perlengkapan ibadah atau mendukung kegiatan pembinaan keagamaan.
Kebaikan yang Terus Mengalir
Rasulullah SAW juga mengajarkan tentang amal yang terus memberikan manfaat setelah seseorang meninggal dunia.
Artinya: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Melalui dukungan terhadap program keagamaan, kita dapat mengambil bagian dalam menghadirkan ilmu dan kebaikan yang manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.
Mari Hadirkan Cahaya Iman Bersama BAZNAS
Setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Tidak harus menunggu memiliki harta berlebih. Kebaikan dapat dimulai dari apa yang kita mampu, termasuk melalui zakat, infak, dan sedekah.
Satu Donasi, Banyak Harapan
Ketika kita berdonasi melalui program keagamaan BAZNAS, kontribusi tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu masyarakat mendapatkan pembinaan, pendidikan keagamaan, serta fasilitas yang mendukung kehidupan beribadah.
Mungkin bagi kita nilainya sederhana. Namun bagi penerima manfaat, dukungan tersebut bisa menjadi cahaya yang menerangi langkah mereka.
Jangan Biarkan Cahaya Itu Padam
Mari bersama BAZNAS menghadirkan cahaya iman bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Sisihkan sebagian rezeki yang kita miliki untuk membantu menghadirkan pendidikan, pembinaan, dan sarana keagamaan yang lebih baik.
Karena satu kebaikan yang kita berikan hari ini dapat menjadi harapan bagi mereka dan menjadi bekal amal bagi kita.
Yuk, Tunaikan Kebaikan Hari Ini
Jangan menunggu esok untuk berbagi. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS dan dukung program keagamaan untuk menguatkan umat.
Bersama BAZNAS, mari hadirkan cahaya iman. Karena setiap kebaikan yang kita nyalakan dapat menerangi kehidupan sesama.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →
