WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Ketika Utang Mulai Membebani Kehidupan: Bisakah Zakat Menjadi Bagian dari Jalan Keluar?
Ketika Utang Mulai Membebani Kehidupan: Bisakah Zakat Menjadi Bagian dari Jalan Keluar?
Utang terkadang bukan hanya persoalan angka. Ia bisa menjadi beban pikiran, mengganggu ketenangan keluarga, bahkan membuat seseorang sulit tidur karena memikirkan bagaimana cara melunasinya. Di tengah kondisi tersebut, Islam tidak membiarkan orang yang terlilit utang berjalan sendirian. Salah satu bentuk kepedulian Islam dapat ditemukan dalam zakat untuk orang yang memiliki utang, yang dalam Al-Qur'an disebut sebagai gharimin. Lantas, bisakah zakat menjadi bagian dari jalan keluar dari beban utang? Islam Memberi Ruang bagi Orang yang Terlilit Utang Allah SWT telah menjelaskan dengan sangat jelas siapa saja yang berhak menerima zakat. Salah satunya adalah orang-orang yang terlilit utang. Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60: Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang terlilit utang (gharimin) termasuk salah satu dari delapan golongan penerima zakat. Namun, penyalurannya tentu perlu melalui proses verifikasi agar zakat benar-benar diberikan kepada pihak yang memenuhi ketentuan sebagai mustahik. Apa yang Dimaksud dengan Gharimin? Ketika Utang Menjadi Beban yang Sulit Diselesaikan Secara sederhana, gharimin adalah orang yang memiliki tanggungan utang dan berada dalam kondisi yang membuatnya kesulitan untuk melunasinya. Utang bisa muncul karena berbagai keadaan. Ada seseorang yang berutang untuk memenuhi kebutuhan penting, membantu keluarga, menjalankan usaha, atau menyelesaikan kebutuhan mendesak. Ketika kemampuan ekonominya tidak lagi mencukupi, utang tersebut dapat berubah menjadi beban yang semakin berat. Di sinilah zakat memiliki fungsi sosial yang luar biasa. Zakat bukan sekadar kewajiban individu kepada Allah, tetapi juga menjadi salah satu instrumen untuk membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Mengangkat Beban Bayangkan seseorang yang setiap bulan menerima penghasilan, tetapi sebagian besar penghasilannya harus digunakan untuk membayar cicilan dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Setiap tanggal gajian seharusnya menjadi kabar yang menggembirakan. Namun bagi sebagian orang, tanggal tersebut justru menjadi pengingat bahwa masih ada kewajiban yang harus diselesaikan. Gaji masuk, cicilan menunggu. Penghasilan datang, kebutuhan rumah tangga sudah lebih dulu mengantre. Belum selesai membayar satu kewajiban, muncul kebutuhan lain yang tidak bisa ditunda. Pada akhirnya, seseorang bisa bekerja keras setiap hari, tetapi tetap merasa tidak pernah benar-benar keluar dari lingkaran utang. Utang Tidak Hanya Membebani Dompet, tetapi Juga Pikiran Utang bukan hanya tentang nominal yang harus dibayar. Di balik angka tersebut, ada pikiran yang terus berjalan, malam yang dipenuhi kekhawatiran, dan perasaan tidak tenang ketika seseorang belum mengetahui dari mana pembayaran berikutnya akan diperoleh. Ada seorang ayah yang tetap bekerja meski tubuhnya sudah lelah karena tidak ingin anak-anaknya mengetahui bahwa keluarganya sedang mengalami kesulitan. Ada seorang ibu yang berusaha mengatur pengeluaran rumah tangga sedemikian rupa agar kebutuhan makan, pendidikan, dan kesehatan tetap terpenuhi. Ada pula pelaku usaha kecil yang sebenarnya ingin kembali mengembangkan usahanya, tetapi keuntungan yang diperoleh harus digunakan untuk menutup kewajiban yang sebelumnya menumpuk. Mereka mungkin tidak terlihat sedang mengalami kesulitan. Mereka tetap bekerja. Tetap tersenyum. Tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Namun di balik itu semua, ada beban yang mungkin tidak pernah mereka ceritakan kepada siapa pun. Dalam kondisi seperti inilah kepedulian dari sesama menjadi sangat berarti. Bantuan zakat yang diberikan kepada mereka yang benar-benar memenuhi kriteria sebagai gharimin dapat menjadi bagian dari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Bukan sekadar memberikan uang. Bukan sekadar mengurangi angka utang. Tetapi memberikan kesempatan kepada seseorang untuk kembali bernapas, menata kehidupannya, dan perlahan bangkit dari keadaan yang sulit. Zakat Mengajarkan Kita untuk Tidak Menutup Mata Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hanya memikirkan keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri. Di dalam harta yang kita miliki terdapat hak orang lain yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ketika zakat ditunaikan, manfaatnya tidak berhenti pada hubungan antara seorang muzaki dengan kewajibannya. Zakat juga dapat menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan membantu orang-orang yang sedang berada dalam kondisi sulit. Ada orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada yang kehilangan sumber penghasilan. Ada yang memiliki tanggungan keluarga yang besar. Dan ada pula mereka yang terlilit utang hingga kesulitan menemukan jalan keluar. Bagi sebagian orang, bantuan yang kita keluarkan mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi mereka yang sedang berada di titik sulit, bantuan tersebut bisa terasa sangat berarti. Sebab terkadang, seseorang tidak membutuhkan banyak hal untuk kembali berdiri. Ia hanya membutuhkan satu kesempatan. Dan bisa jadi, kesempatan itu datang melalui zakat yang kita tunaikan. Ada Harapan di Balik Setiap Zakat Islam mengajarkan bahwa kesulitan tidak selamanya menjadi akhir dari perjalanan. Setiap masalah memiliki jalan keluar yang Allah kehendaki. Karena itu, ketika seseorang berada dalam kesulitan, ia tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa agar seorang Muslim memohon perlindungan kepada Allah dari beratnya utang: Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kekikiran dan sifat pengecut, lilitan utang dan tekanan orang lain.” Doa tersebut menggambarkan bahwa persoalan utang bukanlah sesuatu yang ringan. Lilitan utang dapat menghadirkan kegelisahan, tekanan, bahkan memengaruhi ketenangan seseorang dalam menjalani kehidupan. Karena itu, ketika kita mengetahui ada saudara yang benar-benar berada dalam kesulitan karena utang dan memenuhi ketentuan sebagai penerima zakat, jangan buru-buru menghakimi keadaannya. Bisa jadi kita tidak mengetahui seluruh perjuangan yang telah ia lalui. Kita tidak tahu berapa malam yang ia habiskan dengan memikirkan keluarganya. Kita tidak tahu berapa kali ia menahan keinginan karena harus mendahulukan kewajiban. Dan kita tidak tahu seberapa keras ia berusaha untuk keluar dari kondisi tersebut. Yang kita tahu adalah bahwa Islam membuka ruang kepedulian melalui zakat. Saat Zakat Kita Menjadi Jalan Pulang bagi Mereka yang Terlilit Utang Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian Di sekitar kita mungkin ada orang yang sedang berjuang melunasi utang, tetapi memilih diam karena malu bercerita. Mereka mungkin takut dianggap tidak mampu. Takut dinilai gagal mengelola kehidupan. Takut menjadi beban bagi orang lain. Atau bahkan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Ada orang tua yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya meski pikirannya penuh kecemasan. Ada kepala keluarga yang setiap hari bekerja dari pagi hingga malam karena ingin memastikan keluarganya tetap bisa makan. Ada pelaku usaha kecil yang ingin bangkit, tetapi modal dan penghasilannya habis untuk menutup kewajiban. Ada keluarga yang harus memilih antara membayar utang atau memenuhi kebutuhan lain yang sama-sama penting. Mereka tidak selalu membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Kesempatan untuk kembali menata keuangan. Kesempatan untuk mengurangi beban yang selama ini menghimpit. Kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih tenang. Dan zakat dapat menjadi salah satu bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kesempatan tersebut kepada mereka yang berhak menerimanya. Dari Zakat Menjadi Harapan Bayangkan ketika seseorang yang selama berbulan-bulan merasa tidak memiliki jalan keluar akhirnya mendapatkan bantuan yang tepat. Beban yang tadinya terasa begitu berat mulai berkurang. Kecemasan perlahan berubah menjadi harapan. Keputusasaan mulai digantikan dengan semangat untuk kembali bekerja. Itulah mengapa zakat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar memberikan sebagian harta. Zakat dapat menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kemampuan dan mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. Di satu sisi, ada muzaki yang menunaikan kewajibannya. Di sisi lain, ada mustahik yang membutuhkan dukungan untuk kembali berdiri. Ketika keduanya dipertemukan melalui pengelolaan zakat yang amanah dan tepat sasaran, lahirlah manfaat yang jauh lebih besar. Mari Jadikan Zakat sebagai Jalan Kebaikan Kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Mungkin zakat yang kita tunaikan hari ini menjadi sebab seorang ayah bisa kembali bernapas lebih lega. Mungkin menjadi sebab sebuah keluarga mampu melewati masa sulit. Mungkin menjadi awal seseorang terbebas dari beban yang selama ini membuatnya kehilangan ketenangan. Dan mungkin, di balik harta yang kita keluarkan, Allah sedang membuka pintu keberkahan yang tidak pernah kita sangka. Karena itu, jangan biarkan zakat hanya menjadi kewajiban yang selesai ditunaikan. Jadikan zakat sebagai bagian dari kepedulian kita terhadap sesama. Jika Anda memiliki kewajiban zakat, tunaikan melalui lembaga zakat yang terpercaya agar manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan dan memenuhi ketentuan sebagai mustahik.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Apakah Kemiskinan Selalu Berarti Tidak Punya Uang?
Apakah Kemiskinan Selalu Berarti Tidak Punya Uang?
Apakah Kemiskinan Selalu Berarti Tidak Punya Uang? Ketika mendengar kata kemiskinan, gambaran yang muncul biasanya sederhana: seseorang memiliki sedikit uang, pendapatan rendah, atau bahkan tidak memiliki penghasilan. Lalu solusi yang paling cepat terpikirkan pun sederhana, berikan uang. Seseorang kesulitan membeli makanan, kita membantu dengan uang. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, kita memberikan bantuan. Ketika terjadi musibah, donasi dikumpulkan dan disalurkan. Semua itu penting. Bahkan dalam situasi tertentu, bantuan uang atau kebutuhan dasar dapat menjadi penyelamat. Namun, mari berhenti sejenak pada satu pertanyaan, "jika seseorang diberi uang hari ini, tetapi alasan mengapa ia miskin tidak pernah berubah, apakah kemiskinannya benar-benar selesai?" Di sinilah kita mulai menyadari bahwa kemiskinan mungkin tidak sesederhana persoalan tentang berapa banyak uang yang ada di dompet. Seseorang Bisa Kekurangan Lebih dari Sekadar Uang Bayangkan dua orang yang sama-sama memiliki penghasilan rendah. Orang pertama tidak memiliki keterampilan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Orang kedua sebenarnya memiliki keterampilan, tetapi tinggal di lingkungan dengan kesempatan kerja yang terbatas. Masalah keduanya sama-sama terlihat sebagai kekurangan uang. Namun, akar persoalannya berbeda. Kemiskinan dapat berkaitan dengan pendidikan yang terbatas, akses kesehatan yang sulit, kesempatan kerja yang sempit, tempat tinggal yang tidak layak, keterbatasan modal, hingga lingkungan yang tidak memberikan kesempatan untuk berkembang. Seseorang mungkin menerima bantuan uang, tetapi tetap kesulitan karena sakit dan tidak mampu bekerja. Ada keluarga yang mendapatkan bantuan kebutuhan pokok, tetapi anak-anaknya tetap menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Ada pula seseorang yang memiliki kemampuan untuk bekerja, tetapi tidak memiliki alat, modal, atau akses untuk memulai. Karena itu, memberikan uang kepada orang miskin tidak pernah otomatis menjadi tindakan yang salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika kita menganggap uang selalu menjadi satu-satunya jawaban. Bantuan Bisa Menyelamatkan Hari Ini, tetapi Bagaimana dengan Esok? Ketika seseorang sedang lapar, kita tentu tidak bisa mengatakan, “tunggu, kami akan membuat program pemberdayaan terlebih dahulu.” Ia perlu makan hari ini. Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan bantuan sekarang, bukan setelah proses pelatihan selesai. Inilah mengapa charity atau bantuan langsung tetap memiliki peran penting. Bantuan dapat menjadi penyelamat dalam kondisi darurat dan membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar. Namun, ketika situasi mulai pulih, pertanyaannya dapat berubah. Bukan lagi hanya “apa yang bisa kita berikan?”. Tetapi, “apa yang dapat membantu mereka memiliki kesempatan untuk bangkit?” Di sinilah bantuan dapat berkembang menjadi sesuatu yang lebih panjang yakni pemberdayaan. Dari Bantuan Menuju Kesempatan Pemberdayaan sering disederhanakan dengan kalimat “ajari mereka bekerja.” Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Bagaimana seseorang dapat memulai usaha jika tidak memiliki modal? Bagaimana seseorang meningkatkan pendapatan jika tidak memiliki keterampilan atau akses pasar? Bagaimana seseorang bekerja secara konsisten jika kondisi kesehatannya tidak mendukung? Karena itu, pemberdayaan dapat berarti banyak hal bisa pendidikan, pelatihan keterampilan, dukungan kesehatan, bantuan modal, alat kerja, pendampingan, hingga membuka akses terhadap kesempatan ekonomi. Tujuannya bukan sekadar membuat seseorang menerima bantuan dalam bentuk yang berbeda. Tujuannya adalah menciptakan kemungkinan untuk menjadi lebih berdaya. Sebuah perjalanan yang ideal dapat dimulai dari bantuan ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, kemudian dilanjutkan dengan pemulihan, peningkatan kemampuan, kesempatan ekonomi, hingga secara perlahan menuju kemandirian. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Karena itu, jalan menuju kemandirian pun tidak dapat disamakan. Islam dan Tanggung Jawab untuk Melihat Lebih Dalam Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang berada dalam kesulitan. Allah SWT berfirman: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”(QS. Adz-Dzariyat: 19) Ayat ini mengingatkan bahwa persoalan kemiskinan bukan sesuatu yang seharusnya diabaikan oleh mereka yang memiliki kemampuan. Namun, kepedulian tidak hanya berarti memberikan sesuatu lalu berhenti melihat. Jika kita benar-benar ingin membantu, kita juga perlu memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan seseorang. Mungkin seseorang membutuhkan makanan. Tetapi mungkin setelah itu ia membutuhkan pekerjaan. Mungkin seseorang membutuhkan biaya berobat. Tetapi setelah pulih, ia membutuhkan kesempatan untuk kembali produktif. Mungkin seseorang membutuhkan bantuan hari ini. Tetapi yang lebih ia butuhkan untuk masa depan adalah kesempatan. ZIS Bukan Sekadar Memindahkan Uang Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat memiliki peran yang lebih luas. ZIS tentu dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Namun, ketika dikelola dan disalurkan secara terarah sesuai ketentuan, dana tersebut juga dapat menjadi bagian dari berbagai upaya sosial dan pemberdayaan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat mengambil bagian dalam proses tersebut dengan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh persoalan kemiskinan seorang diri. Tetapi sebagian harta yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari sebuah proses dari membantu seseorang bertahan, pulih, memperoleh kesempatan, dan perlahan membangun kemandiriannya. Mungkin yang Perlu Kita Ubah Bukan Hanya Jumlah Bantuan Pada akhirnya, kemiskinan bukan hanya pertanyaan tentang “berapa rupiah yang tidak dimiliki seseorang?” Tetapi juga, “kesempatan apa yang belum mereka miliki?” Bantuan tetap penting. Memberi uang kepada orang yang membutuhkan tetap merupakan kebaikan. Tetapi jika kita ingin berbicara tentang perubahan yang lebih besar, kita perlu mulai melihat kemiskinan dengan cara yang lebih utuh. Tunaikan zakat jika harta telah memenuhi kewajiban. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Karena mungkin, apa yang kita berikan hari ini bukan hanya membantu seseorang memiliki sesuatu. Mungkin, ia sedang membantu seseorang memiliki kesempatan untuk menjadi sesuatu.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Sakit Bukan Pilihan, Tapi Kesembuhan Bisa Kita Perjuangkan Bersama BAZNAS
Sakit Bukan Pilihan, Tapi Kesembuhan Bisa Kita Perjuangkan Bersama BAZNAS
Sakit Bukan Pilihan, Tapi Kesembuhan Bisa Kita Perjuangkan Bersama BAZNAS Tidak ada seorang pun yang memilih untuk jatuh sakit. Namun, bagi sebagian masyarakat, sakit bukan hanya tentang rasa nyeri dan perjuangan untuk pulih. Keterbatasan ekonomi sering membuat biaya pengobatan menjadi beban yang berat. Ada yang harus menunda pemeriksaan, membeli obat seadanya, bahkan memilih antara memenuhi kebutuhan sehari-hari atau membayar biaya kesehatan. Di tengah kondisi tersebut, BAZNAS melalui program kesehatan hadir sebagai bagian dari ikhtiar membantu masyarakat yang membutuhkan akses layanan kesehatan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan masyarakat, harapan untuk mendapatkan layanan kesehatan dapat terus diperluas. Ketika Sakit Menjadi Perjuangan yang Berat Kesehatan adalah nikmat yang sering baru terasa begitu berharga ketika seseorang kehilangan kondisi sehatnya. Bagi keluarga yang berkecukupan, biaya pemeriksaan dan pengobatan mungkin dapat dipersiapkan. Namun, bagi keluarga prasejahtera, biaya kesehatan bisa menjadi tantangan besar. Mereka Tidak Hanya Membutuhkan Pengobatan Di balik seorang pasien, ada keluarga yang ikut berjuang. Ada orang tua yang khawatir melihat anaknya sakit, seorang ibu yang menunggu kesembuhan keluarganya, atau seorang pencari nafkah yang ingin kembali sehat agar dapat bekerja. Karena itu, bantuan kesehatan bukan sekadar memberikan layanan medis. Bantuan tersebut adalah bentuk kepedulian yang memberikan kesempatan bagi seseorang untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli Islam sangat mendorong umatnya untuk membantu dan meringankan kesulitan orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: Dalil Al-Qur’an tentang Tolong-Menolong Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”(QS. Al-Ma’idah: 2) Ayat ini menjadi pengingat bahwa membantu sesama merupakan bagian dari kebaikan yang dianjurkan dalam Islam. Salah satunya dengan membantu saudara yang sedang menghadapi kesulitan kesehatan. Kebaikan Kecil Bisa Menjadi Harapan Besar Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, kebaikan tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal. Ketika dilakukan dengan ikhlas dan tepat sasaran, bantuan yang sederhana pun dapat memberikan arti besar bagi penerimanya. Sedekah untuk Membantu Mereka yang Sakit Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Barang siapa meringankan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan meringankan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim) Hadis tersebut mengajarkan betapa mulianya membantu meringankan kesulitan orang lain. Ketika kita membantu saudara yang sedang sakit, kita tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi ujian. Bersama BAZNAS, Perjuangkan Harapan Kesembuhan Melalui program kesehatan BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan. Dukungan tersebut dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan kesehatan sesuai dengan program dan ketentuan yang berlaku. Satu Donasi, Satu Langkah Menuju Kesembuhan Bayangkan ketika bantuan yang kita berikan membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan. Bayangkan ketika dukungan tersebut membuat seorang ibu tidak lagi terlalu khawatir memikirkan biaya pengobatan anaknya. Mungkin bagi kita hanya sejumlah uang, tetapi bagi mereka bisa menjadi jalan untuk mendapatkan harapan. Jangan Tunggu Sampai Kita Mengalami Hal yang Sama Hari ini kita mungkin sehat. Esok, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, selagi Allah memberikan kemampuan, mari gunakan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang sedang diuji dengan sakit. Mari Jadi Bagian dari Kebaikan Sakit memang bukan pilihan. Namun, membantu mereka mendapatkan kesempatan untuk sembuh adalah pilihan yang bisa kita ambil. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS untuk mendukung program kesehatan dan membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Yuk, Hadirkan Harapan Hari Ini Jangan biarkan keterbatasan ekonomi membuat seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan layanan kesehatan. Ulurkan tangan, sisihkan rezeki, dan jadilah bagian dari perjuangan mereka menuju kesembuhan. Bersama BAZNAS, satu kepedulian kita hari ini dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang berjuang untuk kembali sehat.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
5 Manfaat Program Pendidikan BAZNAS untuk Wujudkan Generasi Unggul
5 Manfaat Program Pendidikan BAZNAS untuk Wujudkan Generasi Unggul
5 Manfaat Program Pendidikan BAZNAS untuk Wujudkan Generasi Unggul Pendidikan adalah salah satu jalan terbaik untuk mengubah masa depan. Namun, tidak semua anak dan generasi muda memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Keterbatasan ekonomi masih menjadi tantangan bagi keluarga kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan sekolah, mulai dari biaya pendidikan hingga perlengkapan belajar. Melalui program pendidikan BAZNAS, zakat dapat menjadi sarana untuk membuka akses pendidikan sekaligus membangun generasi yang berilmu, berkarakter, dan berdaya. BAZNAS memiliki berbagai program pendidikan, termasuk Beasiswa Cendekia BAZNAS, Sekolah Cendekia BAZNAS, serta berbagai bantuan pendidikan bagi mustahik. Mengapa Pendidikan Perlu Didukung? Bagi sebagian keluarga, biaya pendidikan mungkin terlihat sederhana. Namun, biaya sekolah, buku, seragam, transportasi, dan kebutuhan belajar lainnya dapat menjadi beban besar bagi keluarga prasejahtera. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, seorang anak berisiko kehilangan kesempatan untuk berkembang. Padahal, pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang masa depan yang lebih baik. Pendidikan adalah Investasi untuk Masa Depan Dukungan pendidikan tidak hanya memberikan manfaat untuk hari ini. Seorang anak yang memperoleh kesempatan belajar dapat mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang nantinya bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa. Karena itu, membantu pendidikan berarti ikut menanam kebaikan untuk masa depan. 5 Manfaat Program Pendidikan BAZNAS 1. Membuka Akses Pendidikan bagi yang Membutuhkan Manfaat pertama adalah membantu anak-anak dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan. Program pendidikan BAZNAS dapat membantu kebutuhan pendidikan sesuai dengan program yang tersedia, sehingga keterbatasan ekonomi tidak sepenuhnya menjadi penghalang untuk meraih cita-cita. Beasiswa Cendekia BAZNAS, misalnya, ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu sekaligus memberikan pembinaan untuk mengembangkan potensi penerima manfaat. 2. Mencegah Anak Putus Sekolah Ketika kebutuhan pendidikan sulit dipenuhi, risiko putus sekolah dapat meningkat. Bantuan pendidikan dapat menjadi salah satu bentuk dukungan agar anak tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan menyelesaikan pendidikannya. Satu Bantuan Bisa Mengubah Masa Depan Bayangkan seorang anak yang hampir menyerah karena keterbatasan biaya, kemudian mendapatkan bantuan untuk melanjutkan sekolah. Dukungan yang kita berikan hari ini dapat menjadi langkah penting dalam perjalanan hidupnya. 3. Meningkatkan Prestasi dan Potensi Generasi Muda Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ijazah. Pendidikan juga memberikan ruang bagi anak dan generasi muda untuk mengenali potensi, mengembangkan keterampilan, serta meraih prestasi. Program pendidikan BAZNAS juga tidak berhenti pada bantuan biaya. Beberapa program dilengkapi pembinaan kepemimpinan, pengembangan kompetensi, karakter, dan nilai-nilai keislaman. 4. Membentuk Generasi Berilmu dan Berkarakter Generasi unggul membutuhkan ilmu sekaligus akhlak. Dukungan pendidikan yang disertai pembinaan karakter dapat membantu penerima manfaat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman: Artinya: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Mujadilah: 11) Ayat ini menunjukkan kemuliaan iman dan ilmu. Mendukung pendidikan berarti ikut membuka jalan bagi seseorang untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. 5. Menciptakan Dampak Kebaikan yang Berkelanjutan Manfaat pendidikan dapat dirasakan jauh setelah bantuan diberikan. Seorang penerima beasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan dapat memperoleh kesempatan untuk bekerja, berkarya, membantu keluarga, dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Inilah mengapa zakat untuk pendidikan dapat menjadi bentuk pemberdayaan yang memberikan dampak jangka panjang. Mari Dukung Pendidikan Bersama BAZNAS Setiap anak memiliki mimpi. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, pengusaha, ilmuwan, pemimpin, atau profesi lainnya. Namun, mimpi membutuhkan kesempatan untuk tumbuh. Jadikan Zakat dan Sedekah sebagai Jalan Kebaikan Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.”(HR. Muslim) Ketika kita membantu pendidikan seseorang, kita turut mengambil bagian dalam lahirnya kebaikan. Terlebih jika ilmu yang diperoleh kemudian digunakan untuk membantu orang lain. Satu Kepedulian, Banyak Harapan Mungkin nominal yang kita sisihkan terasa kecil. Namun bagi penerima manfaat, bantuan tersebut dapat berarti kesempatan untuk membeli perlengkapan sekolah, melanjutkan pendidikan, atau mengejar cita-cita yang selama ini hampir terhenti. Yuk, Wujudkan Generasi Unggul Bersama BAZNAS Pendidikan tidak seharusnya menjadi hak istimewa bagi mereka yang mampu secara ekonomi. Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS untuk mendukung program pendidikan dan membantu membuka jalan bagi generasi yang membutuhkan. BAZNAS menyebut pendidikan sebagai salah satu bidang penyaluran zakat, termasuk dukungan biaya pendidikan, beasiswa, dan pengadaan sarana pendidikan. Satu donasi Anda hari ini dapat menjadi awal dari sebuah mimpi yang terwujud. Bersama BAZNAS, Nyalakan Harapan Mari bantu mereka tetap belajar, tumbuh, dan meraih masa depan. Karena ketika kita membuka satu pintu pendidikan, kita turut membuka peluang lahirnya generasi unggul untuk Indonesia.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Ketika Masalah Ekonomi Mulai Mengganggu Keharmonisan Keluarga, Apa yang Perlu Dibenahi?
Ketika Masalah Ekonomi Mulai Mengganggu Keharmonisan Keluarga, Apa yang Perlu Dibenahi?
Masalah ekonomi dalam keluarga bukan hanya soal berkurangnya uang di rekening. Ketika kebutuhan semakin banyak sementara penghasilan terbatas, tekanan finansial bisa perlahan mengubah suasana rumah. Percakapan yang sebelumnya hangat berubah menjadi pertengkaran. Hal kecil menjadi besar. Suami merasa tidak dihargai, istri merasa tidak dipahami, sementara anak-anak ikut merasakan ketegangan di rumah. Lalu, ketika kondisi ekonomi mulai mengganggu keharmonisan keluarga, apa sebenarnya yang perlu dibenahi? Jawabannya bukan sekadar mencari penghasilan tambahan. Ada hal yang lebih mendasar: cara keluarga menghadapi masalah, cara berkomunikasi, cara mengatur keuangan, dan cara menjaga kepercayaan kepada Allah. Masalah Ekonomi Bukan Berarti Keluarga Gagal Kondisi finansial yang sulit bukan tanda bahwa sebuah keluarga gagal. Setiap keluarga memiliki fase yang berbeda. Ada masa ketika rezeki terasa lapang, tetapi ada pula masa ketika kebutuhan datang bersamaan sementara kemampuan belum mencukupi. Al-Qur'an mengingatkan bahwa harta dan anak-anak merupakan bagian dari ujian kehidupan: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15) Ayat ini mengajarkan bahwa harta bukan hanya tentang jumlah. Harta juga menjadi ujian: bagaimana seseorang mendapatkannya, menggunakannya, dan menyikapi ketika jumlahnya tidak sesuai harapan. Karena itu, ketika ekonomi keluarga sedang sulit, jangan sampai persoalan uang membuat pasangan saling menyalahkan. Jangan Jadikan Uang sebagai Senjata dalam Pertengkaran Kalimat seperti “Kamu memang tidak pernah bisa mencukupi keluarga” atau “Semua ini karena kamu tidak bisa mengatur uang” mungkin keluar ketika emosi sedang tinggi. Namun, perkataan yang terlontar sesaat bisa meninggalkan luka yang jauh lebih lama daripada masalah finansial itu sendiri. Masalah ekonomi seharusnya menjadi masalah yang dihadapi bersama, bukan senjata untuk menyerang pasangan. 1. Benahi Komunikasi Sebelum Membenahi Anggaran Salah satu hal pertama yang perlu dibenahi ketika ekonomi keluarga terganggu adalah komunikasi. Sering kali pasangan sebenarnya sama-sama lelah. Suami merasa terbebani oleh tanggung jawab mencari nafkah. Istri merasa cemas melihat kebutuhan rumah tangga yang belum terpenuhi. Jika keduanya menyimpan kecemasan sendiri, tekanan tersebut mudah berubah menjadi kemarahan. Bicarakan Kondisi Keuangan dengan Jujur Tidak perlu menunggu sampai utang menumpuk atau kebutuhan rumah tangga benar-benar tidak tertangani. Duduk bersama dan bicarakan: Berapa penghasilan yang tersedia? Apa saja kebutuhan pokok? Pengeluaran mana yang bisa dikurangi? Apakah ada utang yang harus diprioritaskan? Apa kebutuhan yang benar-benar mendesak? Apa peluang untuk menambah penghasilan? Pembicaraan seperti ini sebaiknya dilakukan dalam suasana tenang, bukan ketika sedang bertengkar. Gunakan Kalimat “Kita”, Bukan “Kamu” Alih-alih berkata, “Kamu terlalu banyak menghabiskan uang,” cobalah mengatakan, “Bagaimana kalau kita cari cara supaya pengeluaran bulan ini lebih ringan?” Perbedaannya sederhana, tetapi dampaknya besar. Kata “kita” membuat pasangan merasa sedang berada di sisi yang sama. 2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan Masalah ekonomi terkadang bukan hanya karena penghasilan kecil, tetapi karena pengeluaran tidak seimbang dengan kemampuan. Di era digital, keluarga mudah membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Melihat tetangga membeli kendaraan baru, teman berlibur, atau orang lain memperbarui rumah bisa menimbulkan keinginan untuk mengikuti. Padahal, kemampuan setiap keluarga berbeda. Hidup Sesuai Kemampuan Bukan Berarti Gagal Tidak membeli sesuatu yang belum mampu dibeli bukan berarti hidup kekurangan. Justru kemampuan mengatakan “belum saatnya” adalah bagian dari kedewasaan finansial. Buatlah prioritas sederhana: kebutuhan pokok → kewajiban → tabungan/dana darurat → kebutuhan tambahan → keinginan. Dengan begitu, keluarga memiliki arah yang lebih jelas dalam mengelola rezeki. 3. Jangan Lupakan Nilai Syukur Ketika ekonomi sedang sulit, perhatian kita sering hanya tertuju pada apa yang belum dimiliki. Padahal, masih ada banyak nikmat yang sering luput dihitung: keluarga yang masih bersama, kesehatan, tempat tinggal, makanan yang tersedia, kesempatan bekerja, dan orang-orang yang masih mau membantu. Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7) Syukur bukan berarti berpura-pura bahwa masalah tidak ada. Syukur berarti tetap menyadari bahwa di tengah kesulitan, masih ada nikmat yang layak dijaga. Jangan Bandingkan Rumah Tangga dengan Kehidupan Orang Lain Media sosial sering memperlihatkan hasil, bukan perjuangan. Kita melihat seseorang memiliki rumah bagus, kendaraan baru, bisnis berkembang, atau liburan bersama keluarga. Tetapi kita tidak mengetahui seluruh cerita di balik kehidupannya. Maka, jangan biarkan kehidupan orang lain menjadi ukuran kebahagiaan keluarga sendiri. 4. Perkuat Ikhtiar, Bukan Hanya Kekhawatiran Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Ketika penghasilan belum mencukupi, keluarga perlu mencari jalan keluar dengan cara yang halal. Suami dapat mengevaluasi peluang pekerjaan atau usaha. Istri, jika memungkinkan dan sesuai kesepakatan keluarga, dapat membantu melalui keterampilan atau aktivitas produktif. Anak-anak pun dapat diajarkan hidup sederhana. Yang terpenting adalah semua dilakukan tanpa mengorbankan keharmonisan keluarga. Cari Penghasilan Tambahan dengan Perencanaan Tidak semua peluang harus langsung dijalankan. Pertimbangkan kemampuan, modal, waktu, risiko, dan manfaatnya. Hindari keputusan finansial yang terburu-buru hanya karena sedang panik. Masalah ekonomi membutuhkan kepala dingin dan langkah yang terukur. 5. Jangan Sampai Kesulitan Ekonomi Menghilangkan Kasih Sayang Ada keluarga yang memiliki banyak uang tetapi jarang berbicara dari hati ke hati. Sebaliknya, ada keluarga sederhana yang mampu tetap tertawa bersama meskipun kehidupan mereka tidak berlebihan. Artinya, uang memang penting untuk memenuhi kebutuhan, tetapi uang bukan satu-satunya sumber keharmonisan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.” Hadis ini mengingatkan bahwa kualitas seorang Muslim juga terlihat dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Tetap Hadir Meski Tidak Bisa Memberi Segalanya Mungkin ada masa ketika seseorang belum mampu memberikan semua yang diinginkan keluarganya. Tetapi ia masih bisa memberikan perhatian. Mendengarkan pasangan. Memeluk anak. Makan bersama. Berbicara tanpa menyalahkan. Mengajak keluarga berdoa. Hal-hal sederhana tersebut tidak membutuhkan biaya besar, tetapi nilainya bisa sangat mahal bagi keharmonisan rumah tangga. 6. Ingat: Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Ketika tekanan ekonomi semakin berat, jangan biarkan keluarga merasa bahwa semuanya sudah berakhir. Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini bukan alasan untuk berhenti berusaha. Justru menjadi penguat bahwa manusia tidak sendirian dalam menghadapi ujian. Ada doa yang bisa dipanjatkan, ada ikhtiar yang bisa dilakukan, ada orang-orang yang dapat membantu, dan ada pintu pertolongan Allah yang tidak pernah kita tahu dari mana datangnya. 7. Jangan Lupakan Mereka yang Juga Sedang Berjuang Di luar sana, ada banyak keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi jauh lebih berat. Ada orang tua yang bingung membayar biaya pendidikan anak. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan. Ada pekerja yang kehilangan penghasilan. Ada lansia yang hidup tanpa dukungan keluarga yang memadai. Di sinilah kepedulian kita menjadi sangat berarti. Ketika Allah memberikan sedikit kelapangan kepada kita, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?” Sesekali tanyakan juga: “Siapa yang bisa saya bantu?” Sedekah, infak, dan zakat bukan hanya bentuk kepedulian kepada sesama. Ia juga menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang lebih kuat. Sedikit dari Kita, Bisa Berarti Besar bagi Mereka Mungkin bagi kita, sebagian rezeki yang diberikan terasa kecil. Namun bagi keluarga yang sedang kesulitan, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk beberapa hari, biaya pendidikan, modal usaha, kebutuhan kesehatan, atau kesempatan untuk kembali berdiri. Karena itu, mari hadir sebagai bagian dari solusi. Jika Anda memiliki rezeki lebih, salurkan zakat, infak, atau sedekah melalui lembaga terpercaya agar dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan secara tepat sasaran. Mari bantu keluarga-keluarga yang sedang berjuang agar mereka tidak merasa sendirian menghadapi kesulitan ekonomi.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Kalau Semua Orang Mendapat Bantuan, Apakah Kemiskinan Akan Hilang?
Kalau Semua Orang Mendapat Bantuan, Apakah Kemiskinan Akan Hilang?
Kalau Semua Orang Mendapat Bantuan, Apakah Kemiskinan Akan Hilang? Bayangkan sebuah keadaan yang tampaknya ideal. Setiap keluarga yang kesulitan mendapatkan bantuan. Tidak ada orang yang kelaparan karena kebutuhan pangan tersedia. Mereka yang kekurangan biaya hidup menerima bantuan. Ketika sakit, ada yang membantu. Ketika terjadi musibah, bantuan datang. Sekilas, masalah kemiskinan seolah telah selesai. Tetapi mari kita ajukan satu pertanyaan yang sedikit mengganggu yakni jika semua orang terus menerima bantuan, dari mana mereka akan memperoleh pendapatan untuk menjalani kehidupan setelah bantuan itu berhenti? Pertanyaan ini bukan berarti bantuan tidak penting. Justru sebaliknya. Bantuan dapat menyelamatkan seseorang dalam keadaan yang tidak dapat ditunda. Namun, membantu seseorang bertahan hidup dan membantu seseorang keluar dari kemiskinan bukanlah dua hal yang selalu sama. Bantuan Menjawab Kebutuhan, tetapi Tidak Selalu Menjawab Masa Depan Ketika seseorang lapar, bantuan makanan adalah jawaban yang tepat. Ketika keluarga kehilangan tempat tinggal akibat bencana, bantuan tempat tinggal sementara sangat dibutuhkan. Ketika seseorang kehilangan sumber penghasilan, bantuan biaya hidup dapat membantu mereka melewati masa sulit. Dalam kondisi seperti ini, bantuan langsung bukan sekadar kebaikan. Ia dapat menjadi bentuk perlindungan sosial yang memungkinkan seseorang tetap bertahan. Namun, setelah kebutuhan hari ini terpenuhi, persoalan berikutnya muncul. Apa yang terjadi besok? Jika bantuan Rp500.000 digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, maka kebutuhan tersebut mungkin terpenuhi selama beberapa waktu. Tetapi ketika uang habis, apakah sumber pendapatan keluarga tersebut sudah berubah? Jika belum, maka persoalan awal masih ada. Di sinilah kita perlu memahami bahwa bantuan dapat menyelesaikan kebutuhan, tetapi belum tentu langsung menciptakan kemampuan. Kemiskinan Bukan Hanya Kekurangan, tetapi Juga Keterbatasan Kesempatan Seseorang dapat berada dalam kemiskinan bukan hanya karena hari ini tidak memiliki uang. Mungkin ia tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan. Mungkin ia memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki modal atau alat untuk memulai usaha. Mungkin akses terhadap pendidikan terbatas. Mungkin kondisi kesehatan menghambatnya untuk bekerja. Artinya, persoalan yang terlihat sebagai “tidak punya uang.”. Bisa sebenarnya menyimpan masalah lain yaitu “tidak memiliki akses untuk menghasilkan uang secara berkelanjutan.” Karena itu, solusi jangka panjang tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang bisa kita berikan kepada mereka?” Kita juga perlu bertanya, “Apa yang dapat membantu mereka menciptakan penghasilan dan kesempatan di masa depan?” Dari Bantuan ke Kemampuan Di sinilah konsep bantuan produktif dan pemberdayaan menjadi penting. Bantuan tidak selalu harus berhenti dalam bentuk konsumsi. Pada situasi dan bagi penerima yang memungkinkan, bantuan dapat berkembang menjadi dukungan yang membantu seseorang membangun kemampuan. Bentuknya bisa berupa pelatihan keterampilan, dukungan pendidikan, alat kerja, bantuan modal, pendampingan usaha, hingga akses terhadap pasar. Namun, pemberdayaan juga tidak berarti semua orang cukup diberi modal lalu langsung menjadi mandiri. Memberikan mesin jahit kepada seseorang tidak otomatis menjadikannya pengusaha. Memberikan modal tidak otomatis membuat sebuah usaha berhasil. Seseorang mungkin membutuhkan keterampilan terlebih dahulu. Yang lain membutuhkan pendampingan. Ada pula yang justru membutuhkan pemulihan kesehatan sebelum mampu kembali produktif. Karena itu, bantuan yang baik bukan selalu bantuan yang sama untuk semua orang. Ia perlu melihat kebutuhan, kemampuan, dan kondisi penerimanya. Tujuan Akhirnya Bukan Sekadar Menjadi Penerima Bantuan Ada satu perubahan cara pandang yang penting. Selama ini, kita sering mengukur keberhasilan dari pertanyaan berupa “Berapa banyak orang yang sudah menerima bantuan?” Padahal ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting yakni “Berapa banyak orang yang setelah menerima bantuan memiliki peluang lebih besar untuk memperbaiki kehidupannya?” Tentu, tidak semua orang dapat atau harus diarahkan untuk menjadi mandiri secara ekonomi. Lansia, orang dengan kondisi tertentu, atau kelompok yang membutuhkan perlindungan berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan sosial. Namun, bagi mereka yang memiliki potensi dan kesempatan untuk berkembang, bantuan dapat menjadi pintu masuk menuju mobilitas ekonomi. Dari kondisi sulit menuju keadaan yang lebih stabil. Dari keterbatasan menuju kemampuan. Dari penerima bantuan menuju seseorang yang mampu memenuhi kebutuhannya sendiri—dan mungkin suatu hari mampu membantu orang lain. Islam Mengajarkan Harta untuk Menghadirkan Kemaslahatan Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat ini memberikan gambaran bahwa harta memiliki dimensi sosial. Kekayaan tidak hanya berbicara tentang kepemilikan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana sumber daya dapat menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam distribusi tersebut. Dalam ketentuan Islam, zakat memiliki penerima yang telah ditentukan, sebagaimana dijelaskan dalam QS. At-Taubah ayat 60. Namun, distribusi bukan hanya persoalan memindahkan harta dari satu pihak ke pihak lain. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana manfaat dari harta tersebut dapat membantu memperbaiki kehidupan penerimanya? ZIS: Membantu Hari Ini, Membuka Peluang untuk Esok Melalui zakat, infak, dan sedekah, masyarakat dapat mengambil bagian dalam membantu mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, ZIS dapat dikelola dan disalurkan untuk membantu kebutuhan masyarakat sesuai ketentuan dan program yang dijalankan. Ada bantuan yang memang harus segera diberikan. Ada pula bantuan yang dapat menjadi awal pendidikan, pemulihan, peningkatan keterampilan, atau penguatan ekonomi. Karena itu, tujuan kebaikan tidak harus berhenti pada kalimat “setidaknya hari ini mereka terbantu.” Kita dapat melangkah lebih jauh pada “semoga dari bantuan hari ini, terbuka kesempatan untuk kehidupan yang lebih baik esok hari.” Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikan kewajiban tersebut. Dan jika ingin terus menghadirkan manfaat, sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Karena kemiskinan mungkin tidak hilang hanya karena semua orang menerima bantuan. Tetapi bantuan yang tepat dapat menjadi awal agar seseorang tidak harus selamanya berada dalam kondisi membutuhkan bantuan.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Orang Bisa Terjebak dalam Kemiskinan Meski Sudah Bekerja Keras?
Mengapa Orang Bisa Terjebak dalam Kemiskinan Meski Sudah Bekerja Keras?
Mengapa Orang Bisa Terjebak dalam Kemiskinan Meski Sudah Bekerja Keras? Setiap pagi, jutaan orang bangun sebelum matahari terbit untuk bekerja. Ada yang berjualan di pasar, menjadi buruh harian, mengemudi ojek, mencuci pakaian, bekerja di proyek, atau menjalankan usaha kecil yang penghasilannya tidak selalu pasti. Mereka bekerja. Mereka berusaha. Mereka menghabiskan tenaga untuk memperoleh penghasilan. Namun, ada pertanyaan yang jarang kita pikirkan ketika melihat seseorang masih hidup dalam keterbatasan yakni jika ia sudah bekerja keras, mengapa kehidupannya belum juga berubah? Kita sering memiliki jawaban yang terlalu sederhana yaitu terbatas “mungkin dia kurang bekerja keras.” atau “kalau benar-benar berusaha, pasti berhasil.” Kalimat seperti ini terdengar meyakinkan, terutama bagi mereka yang percaya bahwa setiap orang sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri. Namun, kehidupan ekonomi tidak selalu berjalan sesederhana itu. Sebab, tidak semua orang memulai perlombaan dari garis start yang sama. Kerja Keras Tidak Selalu Berarti Jalan yang Sama Bayangkan dua orang yang sama-sama bekerja selama delapan jam setiap hari. Orang pertama memiliki pendidikan yang baik, akses internet, kendaraan, tabungan, keluarga yang mendukung, dan jaringan yang dapat membantunya mendapatkan pekerjaan. Orang kedua mungkin harus menggunakan sebagian besar penghasilannya untuk kebutuhan sehari-hari. Ia tidak memiliki tabungan ketika sakit, tidak memiliki modal untuk memulai usaha, dan harus menanggung kebutuhan keluarga. Keduanya sama-sama bekerja keras. Tetapi, ruang untuk mengambil risiko dan berkembang tidak sama. Seseorang yang memiliki tabungan dapat mencoba usaha baru ketika kehilangan pekerjaan. Sementara seseorang yang hidup dari penghasilan harian mungkin tidak memiliki kesempatan untuk gagal, karena satu hari tidak bekerja dapat berarti kebutuhan rumah tangga tidak terpenuhi. Di sinilah kita mulai memahami bahwa kemiskinan tidak selalu lahir dari kurangnya usaha. Kadang, seseorang bekerja keras hanya untuk memastikan bahwa kehidupannya tidak semakin jatuh. Ketika Kemiskinan Menjadi Sebuah Lingkaran Dalam ilmu ekonomi, terdapat konsep yang dikenal sebagai poverty trap atau jebakan kemiskinan. Secara sederhana, ini menggambarkan situasi ketika keterbatasan yang dimiliki seseorang justru membuatnya semakin sulit keluar dari keterbatasan tersebut. Misalnya, seseorang memiliki penghasilan rendah sehingga tidak mampu membiayai pendidikan atau pelatihan. Karena keterampilannya terbatas, pilihan pekerjaan yang tersedia pun terbatas dan berpenghasilan rendah. Pendapatan rendah membuat tabungan sulit dibangun. Tanpa tabungan, satu musibah kecil seperti sakit, kehilangan pekerjaan, kecelakaan, atau kebutuhan mendadak, dapat menghabiskan seluruh kemampuan finansial yang dimiliki. Kemudian ia kembali ke titik awal. Penghasilan rendah → kesempatan terbatas → kemampuan berkembang terbatas → penghasilan tetap rendah. Inilah yang membuat persoalan kemiskinan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan mengatakan “Bekerjalah lebih keras.” Karena mungkin masalahnya bukan pada kemauan untuk bekerja, tetapi pada terbatasnya kesempatan untuk bergerak ke tingkat kehidupan yang lebih baik. Satu Musibah Bisa Mengubah Seluruh Perjalanan Bagi seseorang yang memiliki cadangan ekonomi, kehilangan pekerjaan mungkin berarti harus mengurangi pengeluaran selama beberapa bulan. Tetapi bagi keluarga yang hidup dari pendapatan harian, satu anggota keluarga yang sakit dapat mengubah seluruh keseimbangan. Penghasilan berkurang. Biaya pengobatan bertambah. Kebutuhan sehari-hari tetap berjalan. Dalam kondisi tertentu, seseorang akhirnya harus berutang untuk bertahan. Bukan karena tidak ingin mandiri, tetapi karena pilihan yang tersedia semakin sempit. Di sinilah kita perlu berhati-hati sebelum menilai kehidupan seseorang hanya dari hasil akhirnya. Kita mungkin melihat seseorang yang miskin. Tetapi kita tidak selalu melihat berapa banyak hambatan yang telah ia hadapi sebelum sampai pada kondisi tersebut. Islam Mengajarkan Kepedulian, Bukan Penghakiman Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menutup mata terhadap kesulitan orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”(QS. Adz-Dzariyat: 19) Ayat ini mengajarkan bahwa keberadaan orang yang mengalami kesulitan bukan hanya persoalan pribadi mereka. Ada dimensi tanggung jawab sosial bagi masyarakat yang memiliki kemampuan. Ini bukan berarti setiap orang yang berada dalam kemiskinan tidak memiliki tanggung jawab untuk berusaha memperbaiki hidupnya. Usaha tetap penting. Kerja keras tetap penting. Namun, masyarakat yang manusiawi tidak berhenti pada tuntutan yang terus berkata “Berusahalah sendiri.” Masyarakat juga perlu bertanya tentang “Hambatan apa yang sedang membuat seseorang sulit untuk bangkit?” Membantu Bukan Berarti Menghilangkan Semangat untuk Mandiri Membantu seseorang tidak selalu berarti membuatnya bergantung. Justru, bantuan yang tepat dapat membantu seseorang melewati hambatan yang selama ini menghalanginya. Bantuan pendidikan dapat meningkatkan keterampilan. Dukungan kesehatan dapat membantu seseorang kembali produktif. Modal dan pendampingan dapat membuka peluang usaha. Bantuan kebutuhan dasar dapat memberi ruang bagi seseorang untuk tidak mengambil keputusan ekonomi yang semakin memperburuk kondisinya. Tujuannya bukan membuat semua orang terus menerima. Tujuannya adalah membantu mereka yang memiliki peluang untuk berkembang agar memiliki kesempatan yang lebih adil untuk bangkit. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bagian dari solusi sosial. Ketika Harta Menjadi Jalan untuk Membuka Kesempatan Melalui ZIS, masyarakat dapat mengubah sebagian hartanya menjadi manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, zakat, infak, dan sedekah dapat dikelola dan disalurkan sesuai ketentuan untuk membantu kebutuhan masyarakat, termasuk melalui berbagai bentuk bantuan dan program pemberdayaan. Mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh sistem ekonomi. Namun, kita dapat membantu seseorang memperoleh kesempatan yang sebelumnya tidak ia miliki. Karena itu, jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat. Dan jika ingin terus menghadirkan manfaat, sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab sebelum kita mengatakan kepada seseorang dengan kata-kata “Kamu hanya perlu bekerja lebih keras.” Mungkin kita perlu bertanya terlebih dahulu “Apakah ia benar-benar memiliki kesempatan yang sama untuk mengubah hidupnya?” Tidak semua orang memulai perlombaan ekonomi dari garis start yang sama. Tetapi ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu, mungkin kita dapat menjadi alasan mengapa seseorang akhirnya memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Zakat di Era AI: Makin Mudah Berzakat, Tapi Makin Percayakah Masyarakat?
Zakat di Era AI: Makin Mudah Berzakat, Tapi Makin Percayakah Masyarakat?
Zakat di Era AI: Makin Mudah Berzakat, Tapi Makin Percayakah Masyarakat? Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, hingga melakukan transaksi. Zakat pun tidak luput dari perubahan tersebut. Masyarakat kini dapat menghitung zakat, mencari informasi, hingga melakukan pembayaran secara digital. BAZNAS juga terus mengembangkan transformasi digital, termasuk integrasi AI untuk memperkuat keamanan data dan tata kelola ZIS. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar seberapa mudah zakat dibayarkan: Ketika teknologi semakin canggih, apakah kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat juga ikut meningkat? Pertanyaan ini penting karena zakat bukan transaksi komersial biasa. Di dalamnya terdapat amanah harta, kewajiban agama, dan harapan jutaan mustahik. Digitalisasi Zakat: Kemudahan yang Tidak Bisa Diabaikan Dari Loket ke Layar Smartphone Dulu, membayar zakat identik dengan mendatangi masjid, kantor amil, atau lembaga zakat. Kini, proses tersebut dapat dilakukan melalui berbagai kanal digital. Pada Juli 2026, misalnya, BAZNAS RI bersama LinkAja Syariah menghadirkan fitur kalkulator zakat dan menu BAZNAS untuk membantu masyarakat menghitung sekaligus menunaikan ZIS melalui platform digital. Perubahan ini jelas memberikan keuntungan. Semakin sedikit hambatan, semakin mudah masyarakat menunaikan kewajibannya. Namun, kemudahan pembayaran hanyalah satu bagian dari ekosistem zakat. Masalah Utamanya Bukan Lagi Kemudahan, tetapi Kepercayaan Masyarakat Berhak Bertanya Di era informasi, masyarakat tidak cukup hanya menerima pesan: “Zakat Anda sudah tersalurkan.” Muzaki semakin kritis. Mereka ingin mengetahui bagaimana dana dikelola, siapa penerimanya, apa programnya, dan sejauh mana dampaknya. Ini bukan sikap tidak percaya. Justru, pertanyaan publik merupakan bagian penting dari tata kelola lembaga yang sehat. BAZNAS sendiri menegaskan bahwa kepercayaan publik merupakan fondasi pengelolaan zakat dan karena itu pengawasan, transparansi, serta akuntabilitas harus diperkuat. BAZNAS juga menerapkan pengawasan berlapis, termasuk pengawasan syariah, audit internal, dan audit eksternal. AI Tidak Otomatis Menciptakan Trust Inilah titik kritisnya. AI dapat membantu mengolah data lebih cepat. Sistem digital dapat mempercepat pembayaran. Algoritma dapat membantu menemukan pola. Tetapi teknologi tidak otomatis membuat lembaga menjadi amanah. Kepercayaan tetap dibangun melalui tata kelola, integritas manusia, keterbukaan informasi, perlindungan data, serta konsistensi dalam mempertanggungjawabkan dana umat. Amanah Tidak Bisa Diotomatisasi Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisa: 58) Ayat ini relevan dalam konteks digitalisasi zakat. Sistem boleh berubah. Platform boleh berubah. AI boleh semakin pintar. Tetapi prinsip amanah dan keadilan tidak boleh berubah. Transparansi Harus Naik Kelas Jangan Hanya Menampilkan Nominal Tantangan lembaga zakat di era AI bukan sekadar membuat aplikasi atau menyediakan pembayaran QR. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk membuat pengelolaan zakat lebih dapat dilihat, dipahami, dan dipertanggungjawabkan. Laporan Pengelolaan Zakat Nasional 2025 menunjukkan bahwa publikasi laporan merupakan bagian dari ikhtiar BAZNAS menghadirkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan zakat nasional. Laporan tersebut mencatat pengumpulan nasional 2025 sebesar Rp44,698 triliun dan pendistribusian serta pendayagunaan sebesar Rp44,263 triliun. Angka tersebut penting, tetapi publik membutuhkan lebih dari angka. Masyarakat Ingin Melihat Dampak Pertanyaan berikutnya adalah: Berapa banyak keluarga yang terbantu? Apa perubahan yang terjadi setelah bantuan diberikan? Apakah mustahik menjadi lebih mandiri? Bagaimana zakat berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan? Di sinilah teknologi seharusnya bekerja lebih jauh: bukan hanya memudahkan pembayaran, tetapi membantu menghadirkan data dampak yang kredibel dan mudah dipahami publik. Data yang Tepat, Penyaluran yang Tepat Salah satu perkembangan penting pada Agustus 2026 adalah integrasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) dalam pengelolaan ZIS-DSKL oleh BAZNAS, Kementerian Agama, dan Bappenas. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan ketepatan sasaran dan meminimalkan tumpang tindih bantuan. Ini menunjukkan arah yang menarik: masa depan zakat bukan hanya digital, tetapi juga data-driven. Namun, penggunaan data harus selalu dibarengi perlindungan privasi dan tata kelola yang bertanggung jawab. Zakat di Era AI Harus Lebih Mudah Sekaligus Lebih Terpercaya Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.”(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa kejujuran merupakan fondasi dalam hubungan sosial dan muamalah. Karena itu, digitalisasi zakat tidak boleh hanya mengejar jumlah transaksi. Yang harus dibangun adalah ekosistem zakat yang mudah digunakan, aman, transparan, profesional, dan benar-benar menghasilkan manfaat. Mari Jadikan Teknologi sebagai Jalan Kebaikan AI dapat membuat zakat lebih mudah. Tetapi kepercayaan harus dibangun oleh manusia. Jika hari ini kita memiliki kewajiban zakat, tunaikan melalui kanal resmi lembaga zakat yang terpercaya. Jangan berhenti pada pembayaran. Kenali pula bagaimana zakat dikelola dan bagaimana dampaknya bagi mereka yang berhak menerima. Karena Zakat Bukan Sekadar Klik Klik adalah awal. Pembayaran adalah proses. Dampak dan amanah adalah ukurannya. Di era AI, tantangan terbesar zakat bukan lagi sekadar bagaimana membuat masyarakat mudah membayar. Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat berkata: “Saya percaya zakat saya dikelola dengan amanah, transparan, dan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.” Dan ketika kemudahan teknologi bertemu dengan amanah, transparansi, serta dampak nyata, zakat tidak hanya menjadi lebih digital tetapi juga lebih bermakna.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Jangan Merasa Aman! Bisa Jadi Nikmat yang Kita Punya Sedang Menjadi Ujian
Jangan Merasa Aman! Bisa Jadi Nikmat yang Kita Punya Sedang Menjadi Ujian
Pernahkah kita merasa hidup sedang baik-baik saja karena rezeki bertambah, pekerjaan lancar, keluarga sehat, dan kebutuhan tercukupi? Kita sering menyebut semua itu sebagai nikmat Allah. Namun, pernahkah terpikir bahwa di balik nikmat tersebut juga terdapat ujian? Allah tidak hanya menguji manusia dengan kesulitan. Terkadang, ujian justru datang dalam bentuk sesuatu yang sangat kita sukai: harta, jabatan, kesehatan, keluarga, kesuksesan, bahkan kemudahan hidup. Karena itu, jangan terlalu cepat merasa aman ketika hidup sedang nyaman. Bisa jadi Allah sedang melihat bagaimana kita menggunakan nikmat tersebut. Nikmat Bukan Sekadar Kenyamanan, tetapi Juga Ujian Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15) Ayat ini mengingatkan bahwa sesuatu yang kita cintai bisa menjadi fitnah atau ujian. Harta yang banyak, misalnya, bukan hanya tentang seberapa besar jumlahnya, tetapi juga tentang dari mana ia diperoleh dan ke mana ia digunakan. Apakah ketika rezeki bertambah kita semakin dekat kepada Allah? Ataukah justru semakin sibuk mengejar dunia hingga lupa bersyukur? Ketika Rezeki Bertambah, Apakah Syukur Kita Juga Bertambah? Inilah pertanyaan penting yang perlu kita renungkan. Bertambahnya penghasilan seharusnya tidak hanya membuat gaya hidup meningkat. Seharusnya, rasa syukur, kepedulian, dan ketaatan juga ikut meningkat. Sebab, nikmat yang tidak disyukuri dapat membuat hati lalai. Sebaliknya, nikmat yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi jalan datangnya keberkahan. Harta Bisa Menjadi Nikmat, Bisa Juga Menjadi Ujian Rasulullah ? mengingatkan bahwa harta memiliki daya tarik yang kuat. “Sesungguhnya harta itu hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan hati yang baik, niscaya diberkahi baginya. Namun, barang siapa mengambilnya dengan ketamakan, tidak akan diberkahi baginya.” (HR. Bukhari No. 6441) Hadits ini mengajarkan bahwa persoalannya bukan sekadar berapa banyak harta yang kita miliki, tetapi bagaimana sikap kita terhadap harta tersebut. Jangan Sampai Nikmat Membuat Kita Lupa Ada orang yang ketika susah begitu dekat dengan Allah. Namun ketika kehidupannya mulai mudah, ibadahnya justru berkurang. Ada yang dahulu rajin bersedekah ketika memiliki sedikit, tetapi ketika penghasilannya meningkat, justru semakin berat mengeluarkan sebagian hartanya. Padahal, bisa jadi kelapangan rezeki adalah ujian yang lebih berat daripada kesempitan. Salah Satu Cara Menjaga Nikmat Adalah Berbagi Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Di dalam harta kita terdapat hak orang lain yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian kepada sesama. Lebih dari itu, berbagi merupakan salah satu cara kita menunjukkan bahwa harta berada di tangan kita, tetapi hati tetap bergantung kepada Allah. Bayangkan, sebagian rezeki yang kita keluarkan mungkin menjadi makanan bagi keluarga yang kesulitan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan seseorang, atau modal bagi mustahik untuk kembali berdaya. Jangan Tunggu Kaya untuk Berbagi Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah banyak rezeki, saya akan bersedekah lebih banyak.” Padahal, berbagi tidak harus menunggu kaya. Sedikit yang diberikan dengan ikhlas bisa menjadi amal yang besar di sisi Allah. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan untuk menjadikan sebagian nikmat yang kita terima sebagai jalan menghadirkan manfaat bagi orang lain. Jadikan Nikmat Sebagai Jalan Menuju Keberkahan Jika hari ini Allah memberikan kesehatan, gunakan untuk berbuat baik. Jika Allah memberikan kelapangan rezeki, sisihkan untuk mereka yang membutuhkan. Jika Allah memberikan ilmu, bagikan kepada orang lain. Jika Allah memberikan jabatan dan kesempatan, gunakan untuk membantu sesama. Sebab, nikmat terbaik bukanlah nikmat yang hanya membuat kita nyaman, tetapi nikmat yang membuat kita semakin dekat kepada Allah dan bermanfaat bagi manusia. Saatnya Mengubah Nikmat Menjadi Amal Jangan merasa aman hanya karena hidup sedang berkecukupan. Bisa jadi, Allah sedang menguji: apakah kita akan bersyukur atau justru terlena? Mari jadikan sebagian rezeki yang Allah titipkan sebagai amal yang terus mengalir manfaatnya.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Apakah Kita Terlalu Sering Menganggap Bantuan sebagai Akhir, Padahal Seharusnya Ia Menjadi Awal?
Apakah Kita Terlalu Sering Menganggap Bantuan sebagai Akhir, Padahal Seharusnya Ia Menjadi Awal?
Apakah Kita Terlalu Sering Menganggap Bantuan sebagai Akhir, Padahal Seharusnya Ia Menjadi Awal? Ada sesuatu yang menarik dari cara kita memandang bantuan. Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, kita memberikan makanan, uang, pakaian, obat-obatan, atau kebutuhan lainnya. Setelah bantuan sampai kepada penerima, sering kali muncul perasaan “Syukurlah, kita sudah membantu.” Tidak ada yang salah dengan perasaan tersebut. Membantu orang yang sedang kesulitan adalah sebuah kebaikan. Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan, apa yang terjadi setelah bantuan itu diberikan? Apakah kebutuhan selesai? Apakah masalahnya benar-benar berubah? Atau bantuan hanya membuat seseorang mampu melewati satu hari, sementara persoalan yang sama masih menunggu di hari berikutnya? Ketika “Sudah Membantu” Menjadi Akhir Dalam situasi darurat, bantuan cepat memang sangat penting. Ketika bencana terjadi, misalnya, makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat tinggal sementara dapat menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Namun, tidak semua persoalan berhenti ketika kebutuhan darurat terpenuhi. Seseorang yang kehilangan pekerjaan mungkin membutuhkan bantuan pangan hari ini. Tetapi setelah bantuan tersebut habis, ia tetap membutuhkan pekerjaan. Seorang anak mungkin menerima perlengkapan sekolah, tetapi tetap membutuhkan pendidikan yang berkelanjutan. Sebuah keluarga mungkin memperoleh bantuan setelah mengalami musibah, tetapi tetap membutuhkan kesempatan untuk memulihkan kehidupannya. Di sinilah kita perlu membedakan antara menyelesaikan kebutuhan sesaat dan membuka jalan menuju perubahan yang lebih panjang. Bantuan bukan selalu garis akhir. Bantuan dapat menjadi titik awal. Dari “Memberi” Menjadi “Membuka Kemungkinan” Membantu tidak harus selalu berarti memberikan sesuatu lalu selesai. Kadang, bantuan terbaik adalah bantuan yang membuka kemungkinan baru. Bantuan pendidikan dapat menjadi kesempatan untuk belajar. Bantuan modal dapat menjadi awal sebuah usaha. Bantuan alat kerja dapat membantu seseorang kembali memperoleh penghasilan. Dukungan kesehatan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan. Artinya, keberhasilan sebuah bantuan tidak hanya dapat dilihat dari berapa banyak yang diberikan, tetapi juga dari apa yang memungkinkan terjadi setelahnya. Kita tidak harus selalu menuntut setiap bantuan menghasilkan perubahan besar. Dalam kondisi tertentu, membantu seseorang bertahan hidup memang sudah merupakan sesuatu yang sangat berarti. Namun ketika keadaan memungkinkan, pertanyaan kita dapat berkembang menjadi, “setelah kebutuhan ini terpenuhi, apa yang bisa kita lakukan agar kesempatan untuk bangkit juga ikut terbuka?” Islam Tidak Hanya Mengajarkan Memberi, tetapi Juga Memberi Manfaat Islam memberikan perhatian besar terhadap kepedulian sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 177 bahwa kebajikan tidak hanya berkaitan dengan ritual, tetapi juga mencakup memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan mereka yang membutuhkan. Pesan tersebut menunjukkan bahwa harta dapat menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan bagi manusia. Dalam hal yang berkaitan dengan zakat, Allah juga berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60 mengenai golongan yang berhak menerima zakat. Ini menunjukkan bahwa zakat memiliki sasaran sosial yang jelas dan bukan sekadar pemberian tanpa arah. Karena itu, semangat ZIS seharusnya tidak berhenti pada tindakan “saya sudah memberikan.” Ada pertanyaan yang lebih jauh yaitu “apakah pemberian ini benar-benar sampai kepada orang yang berhak dan memberikan manfaat sesuai kebutuhannya?” Dari Bantuan Sesaat Menuju Dampak Berkelanjutan Inilah alasan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga memiliki peran penting. Masyarakat mungkin memiliki niat untuk membantu, tetapi tidak selalu mengetahui kebutuhan penerima, bentuk bantuan yang paling tepat, ataupun bagaimana memastikan bantuan memberikan manfaat secara berkelanjutan. Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, dana ZIS dapat dihimpun, dikelola, dan disalurkan melalui berbagai program sesuai ketentuan serta kebutuhan penerima manfaat. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berpartisipasi dalam memberi bantuan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai bentuk kemanfaatan lainnya. Di sinilah perjalanan ZIS menjadi lebih panjang karena, zakat, infak, dan sedekah tidak seharusnya berhenti sebagai bantuan sesaat. Ketika dikelola dan disalurkan dengan tepat, ZIS dapat menjadi jalan yang menghadirkan kesempatan bagi seseorang untuk pulih, berkembang, memperoleh kemampuan, hingga perlahan mencapai kemandirian. Dengan begitu, harta yang kita titipkan tidak hanya membantu seseorang melewati kesulitan hari ini, tetapi juga membuka peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan. Tidak semua penerima akan langsung mandiri. Tidak semua persoalan dapat selesai dalam satu program. Tetapi cara pandang ini membuat kita memahami bahwa kebaikan tidak harus berhenti ketika bantuan telah diserahkan. Jangan Jadikan Bantuan sebagai Titik Akhir Mungkin selama ini kita terlalu sering bertanya, “berapa banyak yang sudah kita berikan?” Padahal pertanyaan yang tidak kalah penting adalah “berapa banyak kesempatan yang berhasil terbuka setelah kita memberi?” Memberi bantuan untuk membuat seseorang bertahan adalah kebaikan. Membantu seseorang mendapatkan kesempatan untuk bangkit adalah kebaikan yang terus berlanjut. Karena itu, mari tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta biasakan berinfak dan bersedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jangan biarkan kebaikan berhenti pada bantuan yang diberikan hari ini. Jadikan sebagian harta kita sebagai awal dari kesempatan, pemulihan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan. Sebab mungkin, bantuan terbaik bukanlah yang membuat kita merasa sudah selesai membantu, tetapi yang membuat penerima memiliki kesempatan untuk memulai kembali.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Saat Jabatan, Harta, dan Pujian Tak Lagi Membuat Bahagia, Apa yang Sebenarnya Kita Cari?
Saat Jabatan, Harta, dan Pujian Tak Lagi Membuat Bahagia, Apa yang Sebenarnya Kita Cari?
Pernahkah kita mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkan, tetapi setelah berhasil meraihnya, hati justru tetap terasa kosong? Jabatan sudah tinggi. Harta semakin bertambah. Kendaraan lebih baik, rumah lebih nyaman, dan orang-orang mulai memberikan pujian. Namun, mengapa semua itu terkadang belum mampu menghadirkan ketenangan? Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebab, kebahagiaan sejati dalam Islam bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana hati kita terhubung kepada Allah. Ketika Kesuksesan Tidak Lagi Terasa Membahagiakan Ada masa ketika kita berpikir, “Kalau nanti punya jabatan tinggi, pasti bahagia.” Atau, “Kalau penghasilan sudah besar, hidup pasti tenang.” Namun setelah semuanya tercapai, muncul target baru. Ingin lebih banyak, lebih tinggi, lebih terkenal, dan lebih dihargai. Tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam siklus mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai. Jabatan bisa memberikan penghormatan, tetapi tidak selalu memberikan ketenangan. Harta bisa membeli kenyamanan, tetapi tidak selalu membeli kedamaian. Pujian manusia bisa membuat hati senang sesaat, tetapi mudah hilang ketika perhatian berpindah kepada orang lain. Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Cari? Mungkin selama ini kita bukan kekurangan harta. Kita hanya kekurangan ketenangan hati. Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini mengingatkan bahwa sumber ketenangan bukan semata-mata berada di luar diri kita. Ada kebutuhan hati yang tidak bisa dipenuhi dengan materi: kedekatan dengan Allah. Harta Adalah Nikmat, Sekaligus Ujian Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci harta. Memiliki pekerjaan yang baik, jabatan, rumah, kendaraan, dan penghasilan yang cukup adalah nikmat yang patut disyukuri. Namun, semuanya harus ditempatkan sebagai amanah, bukan tujuan akhir kehidupan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 15) Artinya, semakin besar nikmat yang kita terima, semakin besar pula kesempatan untuk membuktikan bagaimana kita menggunakannya. Bukan Berapa Banyak yang Kita Punya, Tetapi Untuk Apa Harta yang hanya disimpan mungkin memberikan rasa aman. Tetapi harta yang digunakan untuk membantu orang lain dapat menjadi jalan kebermanfaatan. Jabatan yang hanya digunakan untuk mendapatkan penghormatan mungkin akan berlalu. Namun jabatan yang digunakan untuk melayani dan membantu sesama dapat meninggalkan kebaikan. Pujian manusia juga akan datang dan pergi. Tetapi amal yang dilakukan dengan ikhlas untuk Allah memiliki nilai yang jauh lebih panjang. Kekayaan Sejati Ada di Dalam Hati Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ukuran kekayaan tidak selalu terlihat dari banyaknya harta. Beliau bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Muslim no. 1051) Inilah yang sering terlupakan. Seseorang bisa memiliki sedikit tetapi hatinya merasa cukup. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak tetapi terus merasa kurang. Belajar Bersyukur dan Berbagi Salah satu cara menjaga hati agar tidak diperbudak oleh harta adalah belajar berbagi. Ketika sebagian rezeki kita disalurkan melalui zakat, infak, dan sedekah, kita sedang belajar bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Ada hak orang lain di dalam rezeki yang Allah titipkan. Dengan berbagi, kita tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan. Kita juga sedang mendidik hati agar tidak terlalu mencintai dunia. Mungkin Kebahagiaan Itu Bukan Tentang Mendapatkan Lebih Banyak Barangkali yang kita cari selama ini bukan rumah yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, atau pujian yang lebih banyak. Mungkin yang kita cari adalah hati yang merasa cukup, hidup yang memiliki makna, dan hubungan yang lebih dekat dengan Allah. Karena pada akhirnya, apa gunanya memiliki banyak hal jika hati tidak pernah merasa tenang? Jadikan Rezeki Sebagai Jalan Kebaikan Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki lebih, mari jangan hanya bertanya, “Apa lagi yang bisa saya beli?” Sesekali tanyakan: “Siapa yang bisa saya bantu dengan rezeki ini?” Ada keluarga yang mungkin sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada orang sakit yang membutuhkan bantuan. Ada saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Sedikit dari yang kita miliki bisa menjadi sangat berarti bagi mereka. Yang Kita Cari Mungkin Bukan Dunia, Tetapi Keberkahan Jabatan akan berakhir. Harta akan berpindah tangan. Pujian manusia akan berhenti. Tetapi kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi bekal yang terus menemani kita. Maka, jangan hanya mengejar banyaknya rezeki. Kejarlah juga keberkahannya. Jangan hanya ingin dihormati manusia. Berusahalah agar hidup kita bernilai di hadapan Allah. Dan jangan menunggu kaya untuk berbagi.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Siap Jadi Pahlawan Masa Kini? Satu Langkah Kecil untuk Selamatkan Ribuan Jiwa
Siap Jadi Pahlawan Masa Kini? Satu Langkah Kecil untuk Selamatkan Ribuan Jiwa
Siap Jadi Pahlawan Masa Kini? Satu Langkah Kecil untuk Selamatkan Ribuan Jiwa Menjadi pahlawan tidak selalu berarti mengangkat senjata, menyelamatkan seseorang dari bahaya, atau melakukan sesuatu yang terlihat luar biasa. Di tengah kehidupan modern, pahlawan masa kini bisa hadir melalui tindakan sederhana: peduli, berbagi, dan membantu mereka yang sedang berjuang. Di sekitar kita masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan, masyarakat yang kehilangan penghasilan, hingga mereka yang terdampak bencana dan krisis kemanusiaan. Persoalannya, tidak semua perjuangan terlihat. Karena itu, terkadang seseorang hanya membutuhkan satu langkah kecil dari kita untuk kembali memiliki harapan. Pahlawan Masa Kini Tidak Harus Menunggu Mampu Kepedulian Dimulai dari Hal Sederhana Banyak orang menganggap membantu sesama membutuhkan uang dalam jumlah besar. Padahal, kepedulian dapat dimulai dari kemampuan yang kita miliki. Bagi seorang muzaki, salah satu bentuk nyata kepedulian adalah menunaikan zakat sesuai kewajibannya. Zakat bukan sekadar ibadah individual. Ketika dikelola secara tepat, zakat memiliki fungsi sosial dan ekonomi untuk membantu mustahik memenuhi kebutuhan sekaligus membuka peluang menuju kemandirian. BAZNAS sendiri mengembangkan program di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, sosial, dan bidang lainnya. Satu Langkah Bisa Menjadi Awal Perubahan Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Namun, kita dapat membantu satu keluarga. Kita mungkin tidak mampu membangun seluruh perekonomian masyarakat. Namun, kita dapat membantu seseorang mempertahankan usahanya. Di situlah kekuatan sebuah kebaikan. Mengapa Membantu Sesama Begitu Penting? Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.”(QS. Al-Ma'idah: 32) Ayat tersebut menunjukkan betapa besar nilai kehidupan manusia. Dalam konteks kepedulian sosial, pesan ini mengajarkan bahwa menyelamatkan dan menjaga kehidupan memiliki nilai yang sangat besar. Bukan Sekadar Memberi, tetapi Menguatkan Kepedulian yang baik bukan hanya tentang memberikan sesuatu kemudian selesai. Yang lebih penting adalah memastikan bantuan mampu menjawab kebutuhan penerima. Karena itu, pemberdayaan menjadi penting. BAZNAS menjelaskan bahwa zakat dapat digunakan bukan hanya untuk bantuan konsumtif, tetapi juga pemberdayaan ekonomi melalui modal usaha, pelatihan, dan pendampingan agar mustahik memiliki peluang untuk menjadi lebih mandiri. Dari Bantuan Menuju Kemandirian Bayangkan seorang pedagang kecil yang hampir berhenti berjualan karena tidak memiliki modal. Bantuan mungkin membuatnya mampu membeli kembali barang dagangan. Tetapi jika bantuan tersebut disertai pendampingan dan penguatan usaha, manfaatnya dapat berkembang menjadi penghasilan yang lebih berkelanjutan. Inilah makna perubahan yang lebih dalam: bukan hanya membuat seseorang bertahan hari ini, tetapi membantunya memiliki kesempatan untuk bangkit esok hari. Pahlawan Tidak Selalu Dikenal Namanya Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadis ini memberikan pesan kuat: membantu orang lain bukan hanya memberikan manfaat kepada penerima, tetapi juga menjadi bagian dari kebaikan bagi orang yang menolong. Kita mungkin tidak pernah mengetahui nama orang yang terbantu. Kita mungkin tidak melihat langsung perubahan hidupnya. Namun, bukan berarti kebaikan tersebut tidak berarti. Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Jangan Menunggu Menjadi “Cukup Kaya” Sering kali kita menunggu memiliki lebih banyak sebelum mulai berbagi. Padahal, kebutuhan di sekitar kita tidak menunggu. Ketika kewajiban zakat telah terpenuhi, tunaikan melalui lembaga resmi agar pengelolaannya dapat dilakukan secara terarah dan sesuai ketentuan. BAZNAS menyatakan bahwa dana zakat disalurkan kepada delapan asnaf dan melalui berbagai program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, serta dakwah. Sementara itu, bagi mereka yang ingin memberikan dukungan di luar kewajiban zakat, infak dan sedekah juga dapat menjadi bentuk kepedulian sosial. Satu Langkah Kecil, Dampak yang Panjang Hari ini, mungkin kita hanya melihat nominal yang kita keluarkan. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, bantuan tersebut bisa berarti: makanan untuk keluarga, biaya pendidikan anak, akses layanan kesehatan, modal usaha, atau kesempatan untuk kembali berdiri. BAZNAS saat ini juga menempatkan pemberdayaan mustahik sebagai bagian penting dari programnya, termasuk melalui 13 program prioritas yang mencakup kemiskinan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan sektor lainnya. Mari Jadi Pahlawan Masa Kini Kita tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik. Satu zakat. Satu sedekah. Satu bantuan. Satu langkah kepedulian. Mungkin terlihat kecil bagi kita. Namun, bagi mereka yang sedang berada di titik paling sulit dalam hidupnya, kebaikan itu dapat menjadi alasan untuk kembali berharap. Karena Pahlawan Tidak Selalu Memegang Pedang Ada pahlawan yang memilih berbagi. Ada pahlawan yang memilih peduli. Ada pahlawan yang memilih menyisihkan sebagian hartanya untuk membantu sesama. Hari ini, mungkin giliran kita. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta salurkan infak dan sedekah untuk mendukung masyarakat yang membutuhkan. Satu langkah kecil dari kita dapat menjadi langkah besar bagi kehidupan mereka. Siap menjadi pahlawan masa kini? Mulailah dari satu kebaikan hari ini.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Apakah Kita Terlalu Sibuk Mencari Rezeki, Sampai Lupa Bahwa Rezeki Juga Punya Hak untuk Dibagikan?
Apakah Kita Terlalu Sibuk Mencari Rezeki, Sampai Lupa Bahwa Rezeki Juga Punya Hak untuk Dibagikan?
Setiap hari kita bekerja, mengejar target, membangun usaha, mencari pelanggan, dan berusaha meningkatkan penghasilan. Semua itu tentu baik. Islam bahkan mendorong umatnya untuk berusaha dan mencari rezeki yang halal. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk apa sebenarnya kita mencari rezeki? Jangan-jangan kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa bahwa sebagian dari rezeki yang Allah titipkan kepada kita juga memiliki hak untuk dibagikan kepada orang lain. Rezeki Bukan Sekadar untuk Dikumpulkan Memiliki penghasilan yang cukup tentu menjadi nikmat. Kita bisa memenuhi kebutuhan keluarga, membayar pendidikan anak, memiliki rumah, menabung, dan mempersiapkan masa depan. Tetapi dalam Islam, harta bukan hanya tentang apa yang kita miliki. Harta juga merupakan amanah dan ujian. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun: 10) Ayat ini mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berbagi adalah nikmat yang jangan ditunda. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan bersedekah lebih banyak.” Padahal, sedekah bukan tentang menunggu kaya. Yang lebih penting adalah kemauan untuk berbagi dari apa yang kita miliki. Bahkan Rasulullah ? mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu harus berupa harta dalam jumlah besar. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban bersedekah, dan ketika seseorang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan, ia tetap dapat melakukan kebaikan dengan membantu orang yang membutuhkan. Allah Menjanjikan Balasan bagi Orang yang Gemar Berbagi Allah SWT memberikan gambaran yang sangat indah tentang pahala orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya. “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Bayangkan, sesuatu yang kita keluarkan dengan ikhlas tidak berhenti sebagai pemberian. Di sisi Allah, kebaikan tersebut dapat berkembang menjadi pahala yang berlipat ganda. Sedekah Tidak Harus Menunggu Sisa Berbagi bukan berarti mengabaikan kebutuhan keluarga. Islam mengajarkan keseimbangan. Rasulullah SAW bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR. Bukhari) Artinya, kita tetap bertanggung jawab terhadap keluarga, tetapi jangan sampai seluruh rezeki hanya berputar untuk kepentingan diri sendiri. Ketika Rezeki Kita Menjadi Jalan Kebahagiaan Orang Lain Ada orang yang mungkin hanya membutuhkan bantuan untuk membeli makanan. Ada anak yang ingin terus belajar tetapi terkendala biaya. Ada keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi. Ada pula saudara kita yang membutuhkan modal agar dapat kembali berdiri dan mandiri. Bagi kita, mungkin jumlah yang diberikan terasa kecil. Namun bagi mereka, bantuan tersebut bisa menjadi harapan baru. Di sinilah indahnya zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita bagikan dapat berubah menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, modal usaha, dan berbagai bentuk manfaat lainnya. Jangan Hanya Menghitung Apa yang Keluar Kadang kita begitu teliti menghitung uang yang kita keluarkan, tetapi lupa menghitung berapa banyak manfaat yang lahir dari pemberian tersebut. Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seseorang tidak menahan hartanya dengan cara menimbun dan enggan mengeluarkannya untuk kebaikan. Maka, pertanyaannya bukan hanya: “Berapa banyak yang bisa saya kumpulkan?” Tetapi juga: “Berapa banyak kebaikan yang bisa saya hadirkan dari rezeki yang Allah titipkan?” Saatnya Menjadikan Rezeki Lebih Bermakna Mencari rezeki adalah bagian dari ikhtiar. Tetapi membagikannya kepada yang membutuhkan adalah bagian dari rasa syukur. Tidak harus menunggu penghasilan besar. Tidak harus menunggu menjadi kaya. Tidak harus menunggu ada kelebihan yang sangat banyak. Mulailah dari apa yang kita mampu hari ini. Sisihkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah. Salurkan melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan. Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki, mungkin ada bagian dari rezeki itu yang Allah titipkan agar menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Menyalakan Asa, Menguatkan Usaha: BAZNAS Dorong UMKM Mustahik Naik Kelas
Menyalakan Asa, Menguatkan Usaha: BAZNAS Dorong UMKM Mustahik Naik Kelas
Menyalakan Asa, Menguatkan Usaha: BAZNAS Dorong UMKM Mustahik Naik Kelas Di balik setiap usaha kecil, ada harapan besar untuk kehidupan yang lebih baik. Ada pedagang yang ingin mempertahankan warungnya, pelaku usaha rumahan yang ingin menambah produksi, dan keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan melalui usaha sederhana. Bagi mereka, dukungan yang tepat bukan sekadar bantuan, tetapi bisa menjadi jalan menuju kemandirian. Melalui program pemberdayaan ekonomi mustahik, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berupaya menjadikan zakat sebagai kekuatan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program ini tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga mencakup pelatihan, pendampingan, pencatatan keuangan, pemasaran, hingga dukungan legalitas usaha. Dari Bantuan Menjadi Kekuatan Ekonomi Kemiskinan sering kali tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan penghasilan, tetapi juga sulitnya akses terhadap modal, keterampilan, pasar, dan kesempatan untuk mengembangkan usaha. Karena itu, bantuan yang diberikan kepada UMKM mustahik perlu diarahkan agar memiliki dampak jangka panjang. Zakat Produktif untuk UMKM Mustahik BAZNAS mengembangkan konsep zakat produktif, yaitu pendayagunaan zakat yang diarahkan untuk membantu mustahik membangun sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan. Bentuknya dapat berupa modal usaha, peralatan, pelatihan, serta pendampingan. Pendekatan ini membuat zakat tidak berhenti sebagai bantuan sesaat. Mustahik diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan usahanya sehingga perlahan dapat berdiri lebih mandiri. Bukan Sekadar Modal, tetapi Pendampingan Usaha yang Kuat Membutuhkan Pengetahuan Modal memang penting, tetapi usaha juga membutuhkan kemampuan mengelola keuangan, menentukan harga, meningkatkan kualitas produk, dan menemukan pasar. Karena itu, program pemberdayaan UMKM BAZNAS mencakup pelatihan, akses modal, pencatatan keuangan, pemasaran, pendampingan, hingga legalitas usaha. Dengan pendampingan tersebut, pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan bantuan untuk memulai atau mempertahankan usaha, tetapi juga dibekali kemampuan untuk mengembangkannya. Islam Mengajarkan Kepedulian dan Pemerataan Semangat pemberdayaan ekonomi juga sejalan dengan nilai Islam. Allah SWT berfirman: “...agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”(QS. Al-Hasyr: 7) Ayat tersebut mengandung pesan tentang pentingnya distribusi manfaat ekonomi agar tidak hanya berputar di kalangan tertentu. Dalam konteks pemberdayaan, zakat dapat menjadi salah satu sarana untuk menghadirkan kesempatan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan. Ketika UMKM Mustahik Berhasil Naik Kelas Program pemberdayaan ekonomi BAZNAS memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan omzet. Meningkatkan Pendapatan dan Keterampilan UMKM yang berkembang dapat membantu mustahik memperoleh penghasilan yang lebih baik. Di saat yang sama, keterampilan dalam mengelola usaha dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan bisnis. BAZNAS juga mencatat program pemberdayaan UMKM diarahkan untuk meningkatkan pendapatan mustahik, kapasitas keterampilan, diversifikasi produk, aset produktif, serta ekosistem bisnis bersama. Dari Mustahik Menuju Kemandirian Harapan terbesar dari pemberdayaan adalah terciptanya perubahan. Mustahik yang sebelumnya membutuhkan bantuan diharapkan mampu mengembangkan usaha, memenuhi kebutuhan keluarga, dan pada akhirnya memiliki kemampuan untuk berbagi kepada orang lain. Kebaikan yang Terus Bergulir Rasulullah SAW bersabda: “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim No. 2699) Hadis ini mengingatkan bahwa membantu sesama memiliki nilai yang besar. Ketika zakat disalurkan melalui program pemberdayaan, manfaatnya dapat berkembang menjadi modal, keterampilan, penghasilan, bahkan peluang kerja. Saatnya Menyalakan Asa Satu Donasi, Banyak Harapan Bayangkan jika satu bantuan dapat membuat seorang pedagang kembali berjualan. Bayangkan jika satu modal usaha dapat membantu sebuah keluarga memperoleh penghasilan. Bayangkan jika satu kebaikan hari ini menjadi awal lahirnya pelaku usaha yang mandiri. Itulah semangat zakat yang memberdayakan. BAZNAS saat ini menyediakan program pemberdayaan ekonomi melalui berbagai inisiatif, peningkatan UMKM, community development, ketahanan pangan, dan BAZNAS Microfinance. Program tersebut tidak hanya memberikan permodalan, tetapi juga membimbing, melatih, dan memantau perkembangan penerima manfaat. Mari Menguatkan Usaha Mereka Bagi kita, sebagian harta yang disisihkan mungkin terasa sederhana. Namun bagi pelaku UMKM mustahik, dukungan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk bangkit. Mari tunaikan zakat dan salurkan infak serta sedekah melalui BAZNAS. Bersama, kita dapat mengubah bantuan menjadi kekuatan, mengubah usaha kecil menjadi lebih berdaya, dan menyalakan asa menuju kemandirian. Karena satu kebaikan hari ini, bisa menjadi awal kehidupan yang lebih baik bagi mereka esok hari.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Kalau Sedekah Sudah Banyak, Apakah Zakat Masih Wajib?
Kalau Sedekah Sudah Banyak, Apakah Zakat Masih Wajib?
Kalau Sedekah Sudah Banyak, Apakah Zakat Masih Wajib? Bayangkan seseorang yang dikenal dermawan. Ia rutin membantu tetangga, memberikan uang kepada orang yang membutuhkan, berdonasi ketika terjadi bencana, bahkan menyisihkan penghasilan untuk berbagai kegiatan sosial. Suatu hari ia berkata, “saya kan sudah sering sedekah. Bukankah itu sudah cukup?” Pertanyaan tersebut terdengar masuk akal. Bukankah sama-sama mengeluarkan harta untuk kebaikan? Namun, justru di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah banyak bersedekah otomatis berarti kewajiban zakat telah gugur? belum tentu. Sebab, dalam Islam, tidak semua bentuk pemberian memiliki kedudukan dan ketentuan yang sama. Ketika “Saya Sudah Memberi” Menjadi Alasan untuk Berhenti Bertanya Ada kecenderungan manusia untuk merasa sudah melakukan sesuatu yang baik, lalu menganggap persoalan selesai. Kita membantu seseorang, lalu merasa telah memenuhi kewajiban sosial. Kita berdonasi ketika bencana, lalu merasa telah melakukan bagian kita. Kita rutin bersedekah, sehingga muncul keyakinan bahwa urusan berbagi harta sudah cukup. Padahal, kebaikan dan kewajiban adalah dua hal yang tidak selalu dapat saling menggantikan. Dalam psikologi perilaku, kecenderungan membenarkan sesuatu karena sesuai dengan keyakinan yang sudah kita miliki dikenal sebagai confirmation bias. Kita cenderung mencari alasan yang mendukung apa yang ingin kita percayai. Dalam hal ini, seseorang mungkin berpikir, “saya sudah banyak memberi, berarti saya tidak perlu memikirkan zakat.” Masalahnya, perasaan “sudah cukup berbuat baik” tidak dapat menjadi ukuran untuk menentukan apakah sebuah kewajiban telah tertunaikan. Zakat Bukan Sekadar Sedekah dengan Nominal Lebih Besar Sedekah pada dasarnya merupakan bentuk kebaikan yang luas dan dapat dilakukan secara sukarela. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim) Sementara itu, zakat merupakan kewajiban yang memiliki ketentuan tertentu. Zakat tidak menjadi wajib hanya karena seseorang merasa memiliki banyak harta. Sebaliknya, kewajiban tersebut muncul ketika seseorang memenuhi syarat yang telah ditetapkan syariat, termasuk ketentuan mengenai harta, nisab, dan haul untuk jenis harta tertentu. Karena itu, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu menganggap dirinya berdosa karena belum membayar zakat. Ia tetap dapat memperbanyak infak dan sedekah. Namun, jika seseorang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka sedekah yang telah ia keluarkan tidak otomatis menggantikan zakat yang menjadi kewajibannya. Mengapa Zakat Memiliki Aturan yang Berbeda? Karena zakat bukan sekadar tentang keinginan memberi. Ia juga memiliki tata aturan dan tujuan sosial yang jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan…” Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki kelompok penerima yang telah ditentukan. Artinya, seseorang tidak dapat begitu saja mengatakan, “saya sudah memberikan uang kepada siapa saja, jadi itu pasti sama dengan zakat.” Memberi memang kebaikan. Tetapi, menunaikan zakat berarti memastikan kewajiban tersebut dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku. Jangan Sampai Rajin Bersedekah, tetapi Lupa Memeriksa Zakat Ironisnya, seseorang bisa sangat aktif dalam kegiatan sosial tetapi belum pernah menghitung apakah hartanya sudah mencapai nisab. Ia tahu kapan harus berdonasi. Ia tahu ke mana harus mengirim bantuan. Tetapi belum pernah bertanya, “apakah harta saya sudah memiliki kewajiban zakat?” Padahal pertanyaan tersebut sama pentingnya. Kita tidak cukup hanya mengetahui bahwa zakat itu wajib. Kita perlu memahami kapan wajib, apa yang dizakati, bagaimana menghitungnya, siapa yang berhak menerimanya, dan bagaimana menunaikannya dengan benar. Karena semangat beramal perlu berjalan bersama pengetahuan. Bukan Memilih Zakat atau Sedekah Pada akhirnya, persoalannya bukan, “Lebih baik zakat atau sedekah?” Keduanya memiliki ruang masing-masing. Jika seseorang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat harus ditunaikan sesuai ketentuannya. Setelah itu, ia tetap dapat memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kebaikan. Sebaliknya, jika belum memenuhi syarat wajib zakat, seseorang tetap memiliki banyak kesempatan untuk berbuat baik melalui infak dan sedekah. Jadi, jangan menjadikan zakat dan sedekah sebagai dua pilihan yang saling menggantikan. Zakat adalah kewajiban ketika syaratnya terpenuhi. Sedekah adalah ruang kebaikan yang dapat terus diperluas. Sudahkah Kita Benar-Benar Memahami Apa yang Kita Tunaikan? Mungkin selama ini kita terlalu sering menghitung, “Berapa banyak yang sudah saya berikan?” Padahal ada pertanyaan yang lebih penting, “Apakah yang saya berikan sudah sesuai dengan apa yang menjadi tanggung jawab saya?” Jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, mari tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jika belum, jangan menunggu kaya untuk berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan. Karena menjadi pribadi yang dermawan bukan hanya tentang banyak memberi, tetapi juga tentang memahami apa yang wajib diberikan, apa yang dianjurkan, kepada siapa diberikan, dan mengapa kita memberikannya. Jangan biarkan banyaknya sedekah membuat kita merasa tidak perlu lagi bertanya tentang zakat. Sebab dalam beribadah, niat baik adalah awal, tetapi pemahaman membuat kebaikan kita berjalan pada arah yang benar.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Kita Menunggu Kepastian Sebelum Berbuat Baik, Tapi Bagaimana Jika Kebaikan Itu Justru Membutuhkan Keberanian?
Kita Menunggu Kepastian Sebelum Berbuat Baik, Tapi Bagaimana Jika Kebaikan Itu Justru Membutuhkan Keberanian?
Ada kalanya kita ingin berbuat baik, tetapi terlalu banyak berpikir. “Nanti saja kalau sudah punya uang lebih.” “Kalau sudah mapan, saya ingin banyak bersedekah.” “Tunggu keadaan membaik dulu.” Tanpa sadar, kita terus menunggu kepastian sebelum berbuat baik. Padahal, kebaikan tidak selalu datang ketika hidup sedang sempurna. Justru sering kali, kebaikan membutuhkan keberanian untuk melangkah meski kita belum tahu bagaimana hasil akhirnya. Dalam Islam, berbuat baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar keikhlasan dan keberanian kita untuk berbagi dari apa yang ada. Mengapa Kita Sering Menunggu untuk Berbuat Baik? Kita sering mengira bahwa untuk membantu orang lain, kita harus memiliki banyak terlebih dahulu. Akibatnya, kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja. Padahal, sedekah tidak harus menunggu kaya. Membantu orang lain juga tidak selalu membutuhkan jumlah yang besar. Bahkan senyum, perkataan yang baik, membantu seseorang, dan memberikan perhatian dapat menjadi bagian dari kebaikan. Kebaikan Tidak Harus Menunggu Sempurna Allah menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini mengajarkan bahwa apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah sia-sia. Kita mungkin hanya melihat jumlah yang kita berikan hari ini, tetapi Allah melihat nilai kebaikan dan keikhlasan di baliknya. Berani Berbuat Baik Meski Belum Memiliki Banyak Ada perbedaan antara menunggu mampu dan merasa harus kaya dulu baru mau membantu. Jika kita memiliki kemampuan, jangan biarkan keraguan membuat kita kehilangan kesempatan berbuat baik. Mungkin hari ini kita hanya mampu menyisihkan sedikit. Namun bagi seseorang yang sedang membutuhkan, sedikit dari kita bisa menjadi sangat berarti. Sedekah Adalah Bentuk Keberanian Memberikan sebagian rezeki membutuhkan keberanian karena manusia secara alami ingin mempertahankan apa yang dimilikinya. Kita takut kekurangan. Kita khawatir kebutuhan mendatang tidak tercukupi. Kita ingin memastikan semuanya aman terlebih dahulu. Namun iman mengajarkan kita untuk percaya bahwa rezeki tidak hanya berasal dari apa yang kita simpan, tetapi juga dari keberkahan yang Allah berikan. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa kebaikan yang kita keluarkan karena Allah bukanlah kerugian. Jangan Tunggu Momen Sempurna untuk Membantu Sering kali kita menunggu momentum yang tepat. Padahal, orang yang membutuhkan mungkin tidak bisa menunggu. Ada keluarga yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada lansia yang membutuhkan perhatian. Ada saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Di sinilah keberanian untuk berbuat baik menjadi penting. Mulai dari Apa yang Kita Punya Tidak perlu bertanya, “Berapa banyak yang bisa saya berikan?” lalu berhenti karena jumlahnya terasa kecil. Cobalah bertanya: “Apa yang bisa saya lakukan hari ini?” Jika memiliki rezeki lebih, sisihkan sebagian untuk infak atau sedekah. Jika belum mampu memberikan banyak, berikan sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah jangan membiarkan keinginan berbuat baik hanya menjadi niat yang terus ditunda. Kebaikan Kita Bisa Menjadi Harapan bagi Orang Lain Ketika kita berdonasi melalui lembaga zakat seperti BAZNAS Kota Sukabumi, kebaikan yang kita berikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Bukan sekadar memberikan uang, tetapi ikut menghadirkan harapan. Satu donasi mungkin terlihat kecil bagi kita. Namun ketika dikumpulkan bersama kebaikan banyak orang, ia dapat menjadi kekuatan untuk membantu lebih banyak penerima manfaat. Allah berfirman: “Orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang dia infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262) Jangan Biarkan Kebaikan Hanya Berhenti di Niat Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan terjadi besok. Karena itu, jangan selalu menunggu keadaan menjadi sempurna untuk melakukan kebaikan. Kalau hari ini Allah memberi kita kesempatan untuk membantu, mungkin itulah kepastian yang selama ini kita tunggu. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu lapang untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki banyak untuk menjadi berarti. Sebab terkadang, kebaikan bukan membutuhkan kepastian, melainkan keberanian untuk percaya kepada Allah.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Apa yang Terjadi Jika Kita Hanya Tahu Cara Membayar Zakat, tetapi Tidak Tahu Mengapa Kita Berzakat?
Apa yang Terjadi Jika Kita Hanya Tahu Cara Membayar Zakat, tetapi Tidak Tahu Mengapa Kita Berzakat?
Apa yang Terjadi Jika Kita Hanya Tahu Cara Membayar Zakat, tetapi Tidak Tahu Mengapa Kita Berzakat? Kita mungkin hafal satu angka yaitu 2,5 persen. Ketika mendengar kata zakat, angka itu sering kali menjadi hal pertama yang muncul di kepala. Kita menghitung penghasilan, membuka kalkulator, melakukan transfer, lalu merasa kewajiban telah selesai. Tidak ada yang salah dengan menghitung zakat. Justru, memastikan jumlahnya benar adalah bagian dari tanggung jawab. Tetapi pernahkah kita berhenti setelah kalkulator menunjukkan nominalnya dan bertanya, “Sebenarnya, mengapa saya harus mengeluarkan harta ini?” Sebab bisa jadi kita sudah mengetahui cara membayar zakat, tetapi belum benar-benar memahami makna di balik zakat yang kita bayarkan. Ketika Zakat Berubah Menjadi Sekadar Angka Di era digital, menunaikan zakat semakin mudah. Kita dapat menghitung, membayar, dan memperoleh informasi melalui perangkat yang ada di tangan. Kemudahan ini tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun, ada risiko yang jarang kita sadari yaitu ketika prosesnya semakin praktis, maknanya justru bisa semakin mekanis. Zakat akhirnya terasa seperti sebuah angka yang harus dikeluarkan setiap tahun. 2,5 persen. Transfer. Selesai. Padahal zakat bukan sekadar persoalan berapa rupiah yang berpindah dari rekening kita kepada pihak lain. Zakat berbicara tentang bagaimana Islam mengajarkan manusia memandang harta, kepemilikan, dan kehidupan sesama. Zakat Bukan Hukuman karena Memiliki Harta Ada orang yang memandang zakat sebagai sesuatu yang “mengurangi” hartanya. Padahal Al-Qur'an justru memperkenalkan zakat dengan bahasa yang sangat berbeda. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Ada dua kata penting dalam ayat tersebut yakni membersihkan dan menyucikan. Dalam khazanah Islam, konsep ini berkaitan dengan tazkiyah yaitu suatu proses penyucian dan pertumbuhan kebaikan. Dengan demikian, zakat tidak seharusnya dipahami semata-mata sebagai kehilangan sebagian harta. Ia merupakan bagian dari proses seorang Muslim untuk belajar bahwa harta yang dimiliki bukan hanya tentang apa yang dapat dikonsumsi, tetapi juga tentang tanggung jawab yang menyertainya. Lalu, Mengapa Ada Orang yang Berhak Menerima Zakat? Pertanyaan ini membawa kita kepada pemahaman yang lebih luas. Jika zakat hanya persoalan ibadah individual, mengapa Al-Qur'an mengatur siapa saja yang berhak menerimanya? QS. At-Taubah ayat 60 menjelaskan golongan penerima zakat, termasuk fakir, miskin, amil, mualaf, orang yang terlilit utang, dan beberapa golongan lainnya. Ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi sosial yang kuat. Islam tidak hanya mengajarkan “kamu memiliki harta.", tetapi juga mengajarkan “apa yang dapat dilakukan dengan harta itu untuk menghadirkan kemaslahatan?”. Karena itu, zakat mempertemukan dua hal yang sering kita pisahkan yaitu ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap manusia. Dari Hafal 2,5 Persen Menjadi Memahami Tanggung Jawab Mengetahui angka zakat memang penting. Tetapi pengetahuan tersebut seharusnya menjadi pintu, bukan tujuan akhir. Kita perlu bertanya lebih jauh seperti apakah harta saya sudah memenuhi syarat wajib zakat?, apa jenis harta yang saya miliki dan bagaimana ketentuan zakatnya?, siapa yang berhak menerima zakat, mengapa zakat memiliki ketentuan tertentu?, dan apa dampak zakat terhadap kehidupan orang lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita bergerak dari hafalan menuju pemahaman. Sebab ibadah yang dilakukan dengan pengetahuan akan membantu kita memahami apa yang sebenarnya sedang kita tunaikan. Zakat Mengubah Cara Kita Melihat Harta Zakat juga mengajarkan sebuah perspektif yang mungkin bertentangan dengan kebiasaan kita. Kita terbiasa bertanya, “berapa banyak yang berhasil saya kumpulkan?”. Zakat mengajak kita menambahkan pertanyaan, “berapa banyak tanggung jawab yang datang bersama apa yang saya miliki?” Di sinilah zakat memiliki nilai pendidikan. Ia melatih seseorang untuk tidak sepenuhnya terikat pada harta, mengingat bahwa kemampuan ekonomi juga membawa tanggung jawab sosial, sekaligus menyadarkan bahwa kehidupan tidak hanya dibangun dari apa yang kita miliki sendiri. Dan ketika zakat dikelola dengan baik, manfaatnya dapat menjadi lebih luas yaitu membantu memenuhi kebutuhan mustahik sekaligus mendukung berbagai upaya pemberdayaan sesuai ketentuan dan kebutuhan masyarakat. Jangan Hanya Membayar Zakat. Pahami Mengapa Kita Berzakat. Mungkin kita tidak perlu berhenti pada pertanyaan, “Berapa zakat yang harus saya bayar?”. Tetapi mulai menambahkan satu pertanyaan yakni "Apa yang sedang saya pelajari tentang harta melalui zakat ini?” Karena pada akhirnya, zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia adalah proses belajar tentang ketaatan, tanggung jawab, penyucian diri, dan kepedulian sosial. Jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sementara bagi yang ingin terus menghadirkan manfaat di luar kewajiban zakat, infak dan sedekah juga dapat disalurkan sesuai kemampuan. Jangan berhenti pada tahu cara membayar zakat. Naikkan satu tingkat lagi: pahami mengapa kita berzakat. Sebab ketika kita memahami maknanya, 2,5 persen tidak lagi sekadar angka yang keluar dari rekening. Tetapi menjadi bagian dari ibadah yang kita mengerti, tanggung jawab yang kita sadari, dan manfaat yang kita titipkan untuk sesama.
ARTIKEL21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Bencana Tidak Berakhir Saat Air Surut: BAZNAS Mengawal Perjuangan Korban untuk Kembali Berdiri
Bencana Tidak Berakhir Saat Air Surut: BAZNAS Mengawal Perjuangan Korban untuk Kembali Berdiri
Bencana Tidak Berakhir Saat Air Surut: BAZNAS Mengawal Perjuangan Korban untuk Kembali Berdiri Ketika banjir mulai surut, bukan berarti penderitaan telah berakhir. Ketika gempa berhenti mengguncang, masih ada rumah yang rusak, usaha yang lumpuh, dan keluarga yang kehilangan sumber penghasilan. Bencana mungkin hanya terjadi dalam hitungan jam atau hari, tetapi perjuangan para penyintas untuk kembali berdiri bisa berlangsung jauh lebih lama. Di sinilah kepedulian tidak boleh berhenti pada masa darurat. Melalui program BAZNAS Tanggap Bencana (BTB), BAZNAS hadir dalam tahapan penyelamatan, bantuan darurat, pemulihan, hingga rekonstruksi. Dukungan yang diberikan mencakup kebutuhan darurat, layanan kesehatan, dapur umum, dukungan psikososial, serta pemulihan ekonomi, pendidikan, dan tempat tinggal. Bencana Berakhir, Perjuangan Baru Dimulai Saat pemberitaan mulai berkurang, para korban masih harus menghadapi kenyataan. Mereka harus membersihkan rumah, mencari kembali penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun kehidupan dari titik yang nyaris hilang. Kehilangan yang Tidak Selalu Terlihat Bencana bukan hanya merobohkan bangunan. Bencana juga dapat menghentikan usaha kecil, mengganggu pendidikan anak, dan membuat keluarga kehilangan rasa aman. Mereka Membutuhkan Lebih dari Bantuan Sesaat Makanan, air bersih, obat-obatan, dan tempat pengungsian memang sangat penting pada masa darurat. Namun setelah itu, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting, bagaimana mereka melanjutkan hidup? BAZNAS melalui program kebencanaannya tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga mendukung pemulihan pascabencana melalui pemulihan ekonomi, pendidikan, dan perbaikan tempat tinggal. BAZNAS Hadir dari Masa Darurat hingga Pemulihan Bantuan kemanusiaan harus mampu menjawab kebutuhan yang berubah dari waktu ke waktu. Ketika bencana baru terjadi, keselamatan dan kebutuhan dasar menjadi prioritas. Setelah situasi lebih stabil, para penyintas membutuhkan dukungan untuk membangun kembali kehidupan mereka. Dari Menyelamatkan hingga Menguatkan BAZNAS Tanggap Bencana menjalankan penanganan melalui tahapan rescue, relief, recovery, dan reconstruction. Pendekatan ini menunjukkan bahwa perjuangan membantu korban tidak berhenti setelah bantuan pertama disalurkan. Bagi seorang pedagang, pemulihan bisa berarti kesempatan untuk kembali membuka usaha. Bagi seorang anak, pemulihan berarti kembali mendapatkan akses pendidikan. Bagi sebuah keluarga, pemulihan berarti memiliki tempat tinggal yang layak dan kesempatan untuk kembali mandiri. Kepedulian Adalah Kekuatan untuk Bangkit Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu dalam kebaikan. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Ma'idah: 2) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap korban bencana adalah bagian dari semangat saling menguatkan. Saat satu keluarga kehilangan tempat tinggal, masyarakat dapat hadir untuk meringankan bebannya. Kebaikan yang Diberikan Tidak Pernah Sia-Sia Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”(HR. Muslim No. 2699) Setiap bantuan yang diberikan dapat menjadi kekuatan bagi mereka yang sedang berada dalam masa paling sulit. Sebuah paket makanan dapat membantu keluarga bertahan. Air bersih dapat menjaga kesehatan. Dukungan pemulihan dapat menjadi jalan untuk kembali memiliki penghasilan. Jangan Biarkan Mereka Berjuang Sendirian Satu Donasi Dapat Menjadi Awal Pemulihan Di tengah bencana, kita mungkin merasa bahwa bantuan kecil tidak akan banyak berarti. Padahal, ketika kepedulian dikumpulkan, dampaknya dapat menjangkau lebih banyak kehidupan. BAZNAS mengajak masyarakat berpartisipasi dalam bantuan kebencanaan. Donasi yang dihimpun dapat mendukung kebutuhan seperti makanan, air bersih, selimut, obat-obatan, layanan kesehatan, evakuasi, serta proses pemulihan para penyintas. Hari Ini Kita Bisa Menjadi Harapan Mereka Bagi kita, mungkin hanya sebagian kecil dari harta yang disisihkan. Namun bagi keluarga yang kehilangan rumah, pekerjaan, atau sumber penghasilan, bantuan itu dapat menjadi pesan sederhana: mereka tidak sendirian. Bencana memang dapat menghancurkan banyak hal. Namun kepedulian mampu membantu membangun kembali apa yang tersisa. Mari Kawal Mereka untuk Kembali Berdiri Bantuan tidak seharusnya berhenti saat air surut dan keadaan mulai terlihat tenang. Justru setelah masa darurat berlalu, perjuangan panjang para penyintas dimulai. Mari tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta salurkan infak dan sedekah untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana melalui BAZNAS. Satu kepedulian dapat meringankan beban. Satu bantuan dapat menyalakan harapan. Dan ketika kita bergerak bersama, mereka memiliki kekuatan untuk kembali berdiri. Karena bencana tidak berakhir saat air surut. Mari hadir hingga harapan mereka benar-benar pulih.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Kehilangan Pekerjaan dan Tekanan Ekonomi: Bisakah Zakat Membantu Keluarga Kembali Berdiri?
Kehilangan Pekerjaan dan Tekanan Ekonomi: Bisakah Zakat Membantu Keluarga Kembali Berdiri?
Kehilangan pekerjaan bukan hanya soal hilangnya penghasilan. Bagi sebuah keluarga, kondisi tersebut bisa berarti tagihan yang menumpuk, kebutuhan dapur yang semakin sulit dipenuhi, biaya sekolah anak yang mulai terancam, hingga munculnya rasa cemas tentang masa depan. Di tengah tekanan ekonomi seperti ini, zakat memiliki peran penting dalam membantu keluarga yang berada dalam kondisi sulit. Zakat bukan sekadar pemberian, tetapi bagian dari sistem kepedulian sosial dalam Islam yang dapat membantu mustahik memenuhi kebutuhan dasar sekaligus, dalam kondisi dan program yang tepat, mendorong mereka kembali mandiri. Ketika Kehilangan Pekerjaan Mengubah Kehidupan Keluarga Bagi sebagian orang, kehilangan pekerjaan mungkin terlihat seperti persoalan sementara. Namun bagi keluarga yang tidak memiliki tabungan cukup atau sumber penghasilan alternatif, dampaknya bisa sangat panjang. Kebutuhan sehari-hari tetap berjalan. Beras harus dibeli, listrik harus dibayar, anak tetap membutuhkan biaya pendidikan, dan keluarga tetap membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan. Tekanan Ekonomi Bisa Membuat Keluarga Semakin Rentan Ketika penghasilan berhenti, seseorang mungkin terpaksa mengurangi kebutuhan pokok, menjual barang berharga, berutang, atau bahkan menghentikan usaha karena tidak memiliki modal. Dalam kondisi tertentu, keluarga yang kehilangan pekerjaan dapat masuk dalam kelompok fakir atau miskin, yaitu golongan yang termasuk penerima zakat sebagaimana ketentuan syariat. BAZNAS sendiri memiliki program bantuan bagi mustahik yang tidak memiliki pekerjaan atau sedang mengalami kondisi yang membuat mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Zakat Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Jalan untuk Bangkit Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membiarkan orang yang sedang kesulitan berjalan sendirian. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki sasaran yang jelas. Salah satunya adalah fakir dan miskin, termasuk masyarakat yang mengalami kesulitan ekonomi dan memenuhi kriteria sebagai mustahik. Dari Memenuhi Kebutuhan hingga Membangun Kemandirian Penyaluran zakat dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan dasar mustahik. Namun, dampaknya bisa menjadi lebih besar ketika zakat juga diarahkan pada pemberdayaan. Program pemberdayaan ekonomi melalui dana zakat, misalnya, dapat berupa bantuan modal, pengembangan UMKM, pelatihan, pendampingan usaha, hingga penguatan akses pasar. BAZNAS menjelaskan bahwa pemberdayaan ekonomi diarahkan agar mustahik tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh pendampingan untuk meningkatkan taraf kehidupannya. Sedekah dan Zakat Menumbuhkan Harapan Dalam kondisi ekonomi yang berat, bantuan sekecil apa pun dapat menjadi titik awal perubahan. Allah SWT berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276) Pesannya begitu dalam: harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang berkurang. Ada keberkahan yang Allah janjikan di baliknya. Saatnya Membantu Keluarga yang Sedang Berjuang Bayangkan seorang ayah yang kehilangan pekerjaan tetapi masih harus memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Bayangkan seorang ibu yang ingin memulai usaha kecil, tetapi tidak memiliki modal. Bayangkan keluarga yang sebenarnya ingin kembali mandiri, tetapi membutuhkan seseorang untuk membuka pintu kesempatan. Di sinilah zakat dapat menjadi bagian dari solusi. Bukan hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga membuka peluang agar mereka dapat kembali berdiri dan menata kehidupan.
ARTIKEL21/08/2026 | BAZNAS
Harga Naik, PHK Mengintai: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Keluar?
Harga Naik, PHK Mengintai: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Keluar?
Harga Naik, PHK Mengintai: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Keluar? Harga kebutuhan dan tekanan ekonomi membuat banyak keluarga semakin rentan. Bisakah zakat menjadi jalan keluar? Simak peran zakat dalam membantu dan memberdayakan masyarakat. Harga kebutuhan sehari-hari, pendapatan, dan pekerjaan menjadi bagian dari kekhawatiran banyak keluarga. Di tengah dinamika ekonomi 2026, tekanan terhadap daya beli dan lapangan kerja masih menjadi perhatian. Bahkan, sejumlah analisis menyoroti lemahnya daya beli dan tekanan dunia usaha yang dapat berlanjut hingga akhir tahun. Di sisi lain, data BPS menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia pada Maret 2026 berada di 8,07 persen. Angka tersebut memang menurun dibanding periode sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa jutaan masyarakat masih hidup dalam keterbatasan ekonomi. Lalu muncul sebuah pertanyaan penting: Ketika harga naik dan pekerjaan tidak selalu aman, bisakah zakat menjadi salah satu jalan keluar? Ketika Penghasilan Tak Lagi Seimbang dengan Kebutuhan Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kenaikan biaya hidup bukan sekadar berita ekonomi. Itu berarti uang belanja harus dibagi lebih ketat. Satu Masalah Bisa Menjadi Masalah Lain Ketika seseorang kehilangan pekerjaan karena PHK, misalnya, persoalannya bukan hanya kehilangan gaji. Ada cicilan, biaya pendidikan anak, kebutuhan pangan, biaya kesehatan, dan kebutuhan rumah tangga yang tetap berjalan. Sementara itu, tidak semua orang memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan selama berbulan-bulan. Di sinilah kelompok rentan membutuhkan dukungan agar tidak semakin jauh terperosok ke dalam kemiskinan. Zakat Bukan Sekadar Bantuan Sesaat Islam memiliki konsep kepedulian sosial melalui zakat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang kuat. Zakat diperuntukkan bagi golongan yang telah ditentukan syariat, termasuk fakir dan miskin. Dari Bertahan Menuju Bangkit Manfaat zakat tidak harus dipahami hanya sebagai bantuan konsumtif. Dalam pengelolaan yang tepat dan sesuai ketentuan syariah, zakat juga dapat menjadi bagian dari upaya pemberdayaan mustahik. Dukungan dapat diarahkan untuk membantu seseorang memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membuka kesempatan menuju kemandirian. Bisakah Zakat Menjadi Jalan Keluar? Jawabannya: zakat dapat menjadi salah satu jalan keluar, tetapi bukan satu-satunya solusi atas persoalan ekonomi. Zakat tidak menggantikan peran pemerintah, dunia usaha, penciptaan lapangan kerja, maupun kebijakan perlindungan sosial. Namun, zakat dapat menjadi kekuatan masyarakat untuk membantu mereka yang berada dalam kondisi sulit. Ketika Zakat Menggerakkan Ekonomi Bayangkan seorang mustahik yang kehilangan sumber pendapatan. Bantuan yang tepat dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak. Dalam kondisi tertentu, pemberdayaan juga dapat membuka peluang agar ia kembali produktif. Seorang pedagang kecil bisa mendapatkan dukungan untuk mengembangkan usaha. Seorang pekerja dapat memperoleh sarana pendukung. Sebuah keluarga dapat memiliki kesempatan untuk membangun kembali sumber penghasilannya. Di sinilah zakat dapat bergerak dari sekadar bantuan menjadi bagian dari proses kemandirian. Rasulullah Mengajarkan Kepedulian Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa membantu orang lain bukanlah tindakan yang sia-sia. Ketika kita memiliki kemampuan untuk meringankan beban saudara kita, ada nilai kebaikan yang jauh lebih besar daripada sekadar nominal yang kita keluarkan. Saatnya Zakat Menjadi Bagian dari Solusi Kita mungkin tidak bisa mencegah setiap PHK. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan seluruh harga kebutuhan. Namun, kita bisa mengambil bagian dalam membantu mereka yang terdampak. Dari Harta Kita, Tumbuh Harapan Zakat yang kita tunaikan mungkin terlihat sebagai angka. Tetapi bagi penerima manfaat, nilainya bisa berarti kebutuhan yang terpenuhi, kesempatan untuk kembali berusaha, atau sedikit ruang untuk bernapas ketika kondisi ekonomi sedang berat. Karena itu, jangan melihat zakat hanya sebagai kewajiban yang selesai setelah ditransfer. Lihatlah apa yang mungkin terjadi setelahnya. Zakat Anda Bisa Menjadi Harapan Mereka Di luar sana ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan. Ada yang kehilangan pekerjaan. Ada yang penghasilannya tidak lagi cukup. Ada yang ingin bangkit, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Mari hadirkan kepedulian melalui zakat. Salurkan zakat melalui BAZNAS agar zakat yang kita tunaikan dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang berhak sesuai ketentuan. Jangan Tunggu Sampai Kita Ikut Kesulitan Kita tidak pernah tahu kapan keadaan berubah. Hari ini kita mungkin masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Besok, keadaan bisa berbeda. Maka, ketika Allah memberikan kemampuan kepada kita, gunakan sebagian harta tersebut untuk membantu mereka yang sedang membutuhkan. Harga boleh berubah. Pekerjaan bisa datang dan pergi. Tetapi kepedulian jangan sampai berhenti. Tunaikan Zakat, Bantu Mereka Bangkit Mari jadikan zakat sebagai bagian dari ikhtiar untuk menguatkan masyarakat yang sedang menghadapi tekanan ekonomi. Zakat Anda mungkin tidak menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang, zakat Anda bisa menjadi awal untuk bangkit. Tunaikan zakat hari ini. Karena di balik setiap zakat, ada kehidupan yang sedang diperjuangkan.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →