WhatsApp Icon
Jangan Sampai Menyesal! Lalai Berinfak Bisa Merugikan, Padahal Pahalanya Sangat Besar

Lalai berinfak bisa merugikan tanpa disadari. Simak keutamaan infak, dalil Al-Qur’an dan hadits, serta alasan mengapa jangan sampai menunda berinfak agar hidup lebih berkah dan tenang.

Lalai Berinfak Bisa Merugikan, Jangan Sampai Menyesal

Lalai berinfak sering dianggap hal kecil, padahal lalai berinfak bisa merugikan diri sendiri tanpa kita sadari. Banyak orang menunda infak karena merasa harta akan berkurang, padahal dalam Islam justru sebaliknya. Infak adalah amalan ringan, tetapi pahalanya sangat besar dan bisa menjadi penyelamat di dunia maupun akhirat.

Allah SWT berfirman:

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menunjukkan bahwa infak bukan membuat miskin, justru melipatgandakan pahala dan keberkahan. Karena itu, lalai berinfak bisa merugikan, sebab kita melewatkan kesempatan pahala yang sangat besar.

1. Lalai Berinfak Bisa Membuat Hati Keras

Salah satu dampak negatif dari lalai berinfak adalah hati menjadi keras dan sulit merasakan kepedulian. Rasulullah SAW bersabda:

“Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”
(HR. Baihaqi)

Sedekah dan infak bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga melembutkan hati dan menenangkan jiwa.

Orang yang jarang infak sering merasa gelisah, sementara orang yang rutin infak biasanya merasa lebih tenang. Ini bukti bahwa lalai berinfak bisa merugikan secara batin, bukan hanya secara pahala.

2. Takut Harta Berkurang, Padahal Infak Justru Menambah

Masih banyak yang menunda infak karena takut uang berkurang. Padahal Rasulullah SAW bersabda:

“Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR. Muslim)

Hadits ini sangat jelas. Infak tidak membuat miskin, justru membuka pintu rezeki.
Sebaliknya, lalai berinfak bisa merugikan, karena kita menutup pintu keberkahan sendiri.

Sering kita melihat orang yang sederhana tapi hidupnya cukup, dan orang yang banyak harta tapi selalu merasa kurang. Salah satu sebabnya bisa jadi karena kebiasaan infak.

3. Infak Bisa Menolak Musibah

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa sedekah dan infak dapat menolak bala.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan menolak kematian yang buruk.”
(HR. Tirmidzi)

Ini menjadi pengingat kuat bahwa lalai berinfak bisa merugikan, karena kita melewatkan amalan yang bisa melindungi diri dari musibah.

Tidak harus besar. Infak kecil tapi rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tapi jarang.

4. Infak Adalah Bukti Syukur atas Nikmat

Semua rezeki berasal dari Allah. Maka salah satu tanda syukur adalah berbagi.

Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmat kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Infak adalah bentuk syukur.
Jika kita lalai berinfak, bisa jadi kita termasuk orang yang kurang bersyukur, dan itu bisa menjadi sebab berkurangnya keberkahan.

Karena itu, lalai berinfak bisa merugikan, bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

5. Kesempatan Pahala Besar Jangan Disia-siakan

Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berinfak. Ada yang ingin memberi tapi tidak punya.

Kalau hari ini kita masih bisa infak, itu tanda Allah masih memberi peluang pahala.

Jangan sampai kesempatan ini hilang hanya karena menunda.

Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan kesempatan pahala sebelum terlambat.

6.  Infak Melalui Lembaga Resmi Lebih Aman dan Tepat

Menyalurkan infak sebaiknya dilakukan melalui lembaga resmi yang amanah dan terpercaya. Dengan melalui lembaga yang memiliki pengelolaan jelas, infak yang kita keluarkan bisa sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan.

Infak yang disalurkan secara teratur biasanya digunakan untuk berbagai program kebaikan, seperti membantu fakir miskin, pendidikan, kesehatan, bantuan bencana, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan cara ini, manfaat infak menjadi lebih luas dan tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja.

Selain itu, menyalurkan infak melalui lembaga resmi juga membuat kita lebih tenang, karena dana yang diberikan dikelola dengan tanggung jawab dan transparan.

Allah SWT berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”
(QS. At-Taubah: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa pengelolaan harta di jalan Allah memang dianjurkan dilakukan dengan cara yang teratur agar manfaatnya lebih besar.

7. Jangan Sampai Menyesal Karena Lalai Berinfak

Penyesalan sering datang terlambat.
Saat sehat kita menunda, saat sempit kita ingin memberi tapi tidak mampu.

Karena itu, jangan sampai lalai berinfak bisa merugikan, padahal pahalanya sangat besar dan manfaatnya nyata.

Mulailah dari sekarang, dari yang kecil, dari yang mudah.

8. Infak Tidak Harus Banyak, yang Penting Ikhlas dan Rutin

Masih banyak yang berpikir bahwa infak harus menunggu kaya. Padahal dalam Islam, infak tidak dilihat dari besar kecilnya, tetapi dari keikhlasan dan kesungguhan hati.

Allah SWT juga berfirman:

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit…”
(QS. Ali Imran: 134)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa lalai berinfak bisa merugikan, karena kita menunda amalan yang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja.

Tidak harus menunggu gaji besar.
Tidak harus menunggu punya banyak.
Tidak harus menunggu waktu tertentu.

Infak bisa dilakukan setiap hari, setiap minggu, atau setiap kali ada kesempatan.

Jangan Sampai Lalai Berinfak Karena Ruginya Besar

Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa lalai berinfak bisa merugikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Infak bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membuka pintu rezeki, menolak musibah, melembutkan hati, dan menjadi bukti syukur atas nikmat Allah.

Banyak orang menyesal bukan karena tidak punya harta, tetapi karena tidak menggunakan hartanya di jalan kebaikan saat masih punya kesempatan.

Jangan tunda kebaikan.
Salurkan infak terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar lebih amanah, tepat sasaran, dan penuh berkah. Infak hari ini, pahala mengalir tanpa henti.

untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini :

Pahala Sedekah Terancam Hilang, Waspada! 5 Niat Tersembunyi yang Bisa Menghapusnya

https://baznaskotasukabumi.com/stop-bersedekah-demi-formalitas/

18/03/2026 | Kontributor: BAZNAS
Hidup Ingin Tenang? Hindari 5 Sikap Buruk yang Sering Terjadi Sehari-hari

Hidup ingin tenang tidak cukup hanya dengan harapan. Hindari 5 sikap buruk yang sering terjadi sehari-hari agar hati lebih damai, rezeki lancar, dan hidup lebih berkah menurut ajaran Islam.

Hidup Ingin Tenang? Banyak Orang Salah di Bagian Ini

Setiap orang pasti ingin hidup ingin tenang.
Ingin hati damai, rezeki lancar, keluarga harmonis, dan pikiran tidak gelisah.

Namun kenyataannya, banyak orang merasa hidupnya berat, mudah stres, sering kesal, bahkan sulit merasa bahagia.
Padahal bisa jadi bukan karena kurang harta, tapi karena masih ada sikap buruk yang sering dilakukan setiap hari.

Dalam Islam, ketenangan hidup sangat berkaitan dengan kebersihan hati dan amal baik.

Kalau hidup terasa tidak tenang, coba periksa diri.
Mungkin ada kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan tanpa sadar.

Berikut 5 sikap buruk sehari-hari yang harus dihindari jika ingin hidup lebih tenang.

1. Sering Mengeluh, Padahal Nikmat Banyak

Salah satu penyebab hidup tidak tenang adalah terlalu sering mengeluh.

Sedikit masalah langsung mengeluh,
sedikit capek langsung mengeluh,
melihat orang lain lebih berhasil langsung merasa kurang.

Padahal Allah sudah memberi banyak nikmat.

Allah berfirman:

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.”
(QS. Ibrahim: 7)

Orang yang suka bersyukur biasanya hidupnya lebih ringan.
Sebaliknya, orang yang sering mengeluh sulit merasakan ketenangan.

Kalau ingin hidup ingin tenang, biasakan melihat nikmat, bukan kekurangan.

2. Mudah Marah dan Emosi

Marah berlebihan membuat hati panas dan pikiran tidak jernih.

Banyak masalah terjadi karena tidak bisa menahan emosi.
Persahabatan rusak, keluarga bertengkar, pekerjaan jadi tidak nyaman.

Rasulullah ? bersabda:

“Orang kuat bukan yang menang dalam bergulat, tapi yang mampu menahan marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Menahan marah bukan berarti lemah.
Justru itu tanda hati yang kuat.

Kalau ingin hidup ingin tenang, belajar sabar adalah kunci.

3. Pelit Berbagi, Tapi Ingin Hidup Berkah

Banyak orang ingin hidup tenang dan rezeki lancar, tapi sulit bersedekah.

Padahal sedekah adalah salah satu sebab datangnya ketenangan.

Rasulullah ? bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Orang yang suka berbagi biasanya hatinya lebih lapang.
Tidak mudah gelisah, tidak mudah iri, dan lebih merasa cukup.

Sebaliknya, orang yang terlalu cinta harta sering merasa takut kehilangan.

Kalau ingin hidup ingin tenang, biasakan berinfaq walau sedikit.

4. Suka Iri Melihat Orang Lain

Iri adalah penyakit hati yang sering tidak disadari.

Melihat orang sukses jadi kesal,
melihat orang bahagia jadi tidak suka,
melihat orang punya rezeki lebih jadi panas hati.

Padahal iri hanya membuat hati sendiri tidak tenang.

Rasulullah ? bersabda:

“Hindarilah hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.”
(HR. Abu Dawud)

Kalau ingin hidup ingin tenang, belajar ridha dengan takdir Allah.
Setiap orang punya rezeki masing-masing.

5. Lalai Ibadah Tapi Ingin Hati Tenang

Ini yang paling sering terjadi.

Ingin hidup damai, tapi sholat masih bolong.
Ingin hati tenang, tapi jarang dzikir.
Ingin berkah, tapi jarang sedekah.

Padahal ketenangan tidak datang dari dunia, tapi dari dekat dengan Allah.

Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Kalau ingin hidup ingin tenang, perbaiki ibadah dulu.
Karena hati yang dekat dengan Allah lebih mudah merasa damai.

Hidup Tenang Dimulai dari Memperbaiki Sikap Sehari-hari

Hidup ingin tenang bukan hanya soal punya banyak uang atau hidup tanpa masalah.
Ketenangan datang dari hati yang bersih, sikap yang baik, dan ibadah yang dijaga.

Hindari kebiasaan mengeluh, marah, pelit, iri, dan lalai ibadah.
Biasakan bersyukur, sabar, berbagi, dan mendekat kepada Allah.

Semakin baik sikap kita, semakin tenang hidup kita.

Karena itu, jangan tunggu nanti untuk berubah.
Mulai dari sekarang, mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri.

Salurkan Infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi

Agar infaq lebih aman, tepat sasaran, dan membawa berkah, salurkan melalui
BAZNAS Kota Sukabumi.

???? Mari biasakan infaq sekarang juga melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sedikit dari kita, sangat berarti bagi mereka.

untuk melihat artikel lainnya klik link dibawah ini :
 
 
18/03/2026 | Kontributor: BAZNAS
MasyaAllah! Ternyata Ibu Hamil Punya Kedudukan Istimewa dalam Islam, Ini Penjelasannya

Menjadi seorang ibu adalah perjalanan yang penuh keajaiban, tantangan, sekaligus limpahan pahala. Bagi Anda yang saat ini tengah mengandung, mungkin sering merasa lelah, mual, atau sulit tidur. Namun, tahukah Anda? Di balik setiap tetes keringat dan rasa pegal itu, Allah SWT sedang menaikkan derajat Anda ke tempat yang sangat tinggi.

Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam bukan sekadar kalimat penghibur. Ini adalah janji nyata dari Allah dan Rasul-Nya. Mari kita bedah satu per satu mengapa masa kehamilan adalah masa "panen pahala" yang luar biasa.

1. Setiap Detik Adalah Ibadah dan Jihad

Dalam Islam, proses mengandung dianggap setara dengan perjuangan di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah). Ketika seorang wanita mengandung, setiap rasa sakit yang dirasakannya, mulai dari mual di pagi hari hingga beratnya melangkah, dihitung sebagai pahala yang terus mengalir selama 24 jam nonstop.

Rasulullah SAW bersama para sahabat pernah membahas tentang keutamaan wanita. Beliau menyampaikan bahwa wanita yang hamil hingga melahirkan dan menyusui, mereka mendapatkan pahala seperti pejuang yang berjaga di garis depan pertempuran. Jika ia meninggal dalam masa itu, maka baginya pahala mati syahid.

2. Shalatnya Ibu Hamil Berlipat Ganda Pahalanya

Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam bahkan dalam urusan ritual ibadah harian. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa shalat dua rakaat yang dilakukan oleh wanita hamil jauh lebih baik daripada 80 rakaat yang dilakukan oleh wanita yang tidak hamil.

Mengapa demikian? Karena saat shalat, ia membawa janin yang juga bertasbih kepada Allah SWT. Ada dua nyawa yang sedang bersujud, namun hanya satu raga yang bergerak. Sungguh sebuah keberkahan yang tidak ternilai harganya.

3. Diampuni Dosa-dosanya Saat Melahirkan

Momen melahirkan adalah puncak dari perjuangan seorang ibu. Rasa sakitnya digambarkan sebagai salah satu rasa sakit fisik tertinggi yang bisa dialami manusia. Namun, Islam memberikan kabar gembira.

Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa ketika seorang wanita melahirkan, maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya. Allah menghapuskan segala kesalahan masa lalunya sebagai imbalan atas taruhan nyawa yang ia lakukan demi menghadirkan hamba baru ke muka bumi.

4. Doanya Sangat Mustajab

Pernahkah Anda merasa sangat dekat dengan Tuhan saat sedang hamil? Itu bukan perasaan belaka. Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam sehingga doa-doanya sangat didengar oleh Allah.

Logikanya, ibu hamil sedang dalam kondisi "darurat" atau kesulitan fisik yang terus-menerus (masyaqqah). Allah sangat dekat dengan hamba-Nya yang sedang merasa lemah dan bersandar penuh pada-Nya. Oleh karena itu, para calon ibu sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa, baik untuk dirinya, keluarganya, maupun untuk anak yang dikandungnya agar menjadi anak yang shalih dan shalihah.

5. Memperoleh Pahala Puasa dan Tahajud Sepanjang Hari

Secara fisik, mungkin ibu hamil tidak kuat untuk melakukan shalat malam yang panjang atau berpuasa sunnah setiap hari. Namun, karena kelelahan yang ia alami akibat menjaga janin, Allah memberikan "bonus" pahala.

Selama janin tersebut ada dalam kandungan, sang ibu mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa di siang hari dan melakukan shalat tahajud di malam hari. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa bagi para wanita.

6. Malaikat Beristighfar untuk Ibu Hamil

Bayangkan, makhluk yang tidak pernah berdosa (malaikat) memohonkan ampunan untuk Anda. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa ketika seorang wanita hamil, para malaikat senantiasa memohonkan ampunan (istighfar) untuknya.

Bahkan, setiap teguk air yang diminum oleh ibu hamil untuk menghilangkan dahaganya, dan setiap suap makanan yang ia makan untuk memberi nutrisi pada janinnya, Allah catatkan sebagai sedekah.

7. Jaminan Surga Melalui Ridha Anak

Keistimewaan ini berlanjut bahkan setelah anak lahir. Kita semua tahu hadits populer: "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Kedudukan ini bermula dari masa kehamilan. Perjuangan sembilan bulan itulah yang membuat seorang ibu berhak mendapatkan penghormatan tiga kali lebih besar daripada ayah.

Islam menempatkan ibu hamil sebagai sosok yang suci dan mulia. Jadi, untuk para Bunda di luar sana, jika hari ini terasa berat, ingatlah bahwa Allah sedang tersenyum melihat perjuanganmu.

Pentingnya Menjaga Keberkahan dengan Berbagi

Keistimewaan yang Allah berikan sebaiknya dibarengi dengan rasa syukur. Salah satu cara terbaik untuk mensyukuri nikmat kehamilan dan memohon keselamatan hingga persalinan adalah dengan bersedekah atau membayar infaq.

Zakat, Infaq, dan Sedekah bukan hanya membersihkan harta, tapi juga menjadi penolak bala (daf’ul bala). Dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan, kita berharap Allah memberikan kemudahan dalam setiap proses persalinan nanti.

Ayo, alirkan keberkahan kehamilanmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi!

BAZNAS Kota Sukabumi siap membantu Anda mendistribusikan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Dengan berinfaq, kita menjaga diri dari sifat serakah dan memastikan harta kita membawa manfaat dunia hingga akhirat.

Salurkan Infaq Terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. > "Harta tidak akan berkurang karena sedekah, justru akan semakin berkah dan melimpah."

Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini:

https://baznaskotasukabumi.com/campaign/sedekah-alat-ibadah-untuk-lansia

https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/masyaallah-rahasia-parenting-islami-untuk-menciptakan-keluarga-bahagia-dan-penuh-berkah/41607

18/03/2026 | Kontributor: BAZNAS
Pernah Merasa Sendiri di Tengah Keramaian? Ini Penjelasannya

Pernahkah Anda berada di sebuah pesta yang bising, rapat kantor yang penuh sesak, atau bahkan berkumpul bersama keluarga besar, namun tiba-tiba merasa sangat terisolasi? Seolah-olah ada dinding kaca transparan yang memisahkan Anda dari dunia luar. Jika pernah, Anda tidak sendirian. Fenomena merasa sendiri di tengah keramaian adalah pengalaman manusiawi yang sangat umum, meskipun sering kali terasa menyakitkan dan membingungkan.

Ini bukan tentang jumlah orang yang ada di sekitar Anda, tetapi tentang kualitas koneksi yang Anda rasakan. Merasa sendiri di tengah keramaian bisa dialami siapa saja, dari seorang introvert yang pendiam hingga seorang ekstrovert yang tampak populer. Mari kita bedah lima alasan psikologis dan spiritual mengapa perasaan ini bisa muncul dan bagaimana sudut pandang Islam melihatnya.

1. Kegagalan Koneksi Emosional yang Mendalam

Faktor utama yang menyebabkan seseorang merasa sendiri di tengah keramaian bukanlah kurangnya interaksi fisik, melainkan kurangnya koneksi emosional. Anda mungkin sedang mengobrol, tertawa, atau berdiskusi, tetapi jika percakapan itu hanya sebatas basa-basi di permukaan, jiwa Anda tidak merasa "terpenuhi."

Kita hidup di era di mana kita sangat terhubung secara digital, tetapi sering kali merasa "terputus" secara emosional. Percakapan yang dangkal tidak memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk dimengerti, diterima, dan dihargai. Saat interaksi hanya terjadi di level luar, rasa hampa bisa merayap masuk, membuat Anda merasa sendiri di tengah keramaian.

2. Mengenakan "Topeng" Sosial

Sering kali, untuk bisa diterima dalam suatu kelompok atau untuk menyembunyikan kerapuhan kita, kita mengenakan "topeng." Kita berpura-pura bahagia padahal sedih, berpura-pura setuju padahal tidak, atau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita. Semakin keras kita berusaha mempertahankan image tersebut, semakin kita menjauhkan diri kita yang asli dari orang lain.

Ketika Anda tidak otentik, Anda menciptakan jarak yang tidak terlihat antara diri Anda dan lingkungan sekitar. Anda merasa sendiri di tengah keramaian karena tidak ada yang benar-benar mengenal siapa Anda yang sebenarnya, termasuk diri Anda sendiri yang sedang berpura-pura itu.

3. Ketidakselarasan Nilai dan Tujuan

Penyebab lain merasa sendiri di tengah keramaian adalah ketika Anda berada di lingkungan yang nilai-nilai atau tujuan hidupnya tidak sejalan dengan Anda. Mungkin Anda berada di antara sekelompok orang yang hanya sibuk mengejar materi, sementara Anda mendambakan kedamaian spiritual atau kontribusi sosial.

Ketidakselarasan ini bisa menciptakan rasa tidak "klik" dan keterasingan. Jiwa Anda merasakan kekosongan karena tidak menemukan "rumah" yang frekuensinya sama.

4. Tuntutan Modern dan Kelelahan Mental

Kehidupan modern dengan segala tuntutannya media sosial, ambisi karier, hingga hiruk-pikuk kota bisa sangat melelahkan. Kelelahan mental ini (burned out) sering kali membuat seseorang menarik diri secara emosional dari lingkungan, meskipun secara fisik masih ada.

Di sinilah pandangan spiritual, khususnya Islam, memberikan kedalaman makna. Rasa sendiri di tengah keramaian bisa menjadi alarm dari Allah agar kita kembali mengingat-Nya. Sering kali, rasa hampa itu muncul karena kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan melupakan koneksi yang paling utama, yaitu hubungan kita dengan Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman:

"...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketenangan sejati, yang menghalau rasa kesepian, hanya bisa ditemukan ketika hati terhubung dengan sumber segala ketenangan. Rasa sendiri di tengah keramaian adalah sinyal untuk ber-muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak zikir, dan shalat, untuk mengisi kembali kekosongan jiwa.

5. Kebutuhan untuk Kembali pada Koneksi Spiritual

Fenomena merasa sendiri di tengah keramaian juga mengingatkan kita pada hadits Rasulullah SAW tentang akhir zaman, di mana umat Muslim jumlahnya banyak, namun ibarat buih di lautan banyak, tetapi tidak memiliki bobot karena kualitas iman mereka yang rapuh.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Akan datang suatu zaman di mana manusia seperti buih di lautan...” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dalam diri musuh kalian, dan Allah akan menimpakan penyakit wahn dalam hati kalian.” Mereka bertanya, “Apa itu penyakit wahn, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)

Merasakan sendiri di tengah keramaian juga bisa bermakna seperti buih tersebut; terlihat banyak, namun terasa rapuh dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Rasa sepi ini bisa menjadi motivasi untuk menguatkan iman, memperbanyak amal saleh, dan mencari lingkungan yang suportif secara spiritual.

Solusi Praktis Melawan Rasa Sepi di Tengah Keramaian

  1. Validasi Perasaan Anda: Jangan menyalahkan diri sendiri. Akui bahwa rasa sendiri di tengah keramaian adalah valid.

  2. Cari Koneksi yang Lebih Dalam: Fokus pada satu atau dua hubungan yang berkualitas, bukan puluhan hubungan yang dangkal.

  3. Hadir Sepenuhnya (Mindfulness): Saat bersama orang lain, simpan ponsel dan dengarkan dengan tulus.

  4. Hadirkan Tuhan dalam Hati: Jadikan Allah sebagai sahabat terdekat. Temukan kenyamanan dalam doa dan ibadah.

  5. Berbuat Baik: Alihkan fokus dari kesepian diri sendiri dengan membantu orang lain. Memberi bisa mengisi kekosongan hati.

Mengubah Rasa Sepi Menjadi Energi Kebaikan

Salah satu cara paling ampuh untuk mengikis rasa sendiri di tengah keramaian dan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berbuat baik secara nyata. Ketika Anda membantu orang lain, Anda tidak hanya meringankan beban mereka, tetapi juga mengisi hati Anda dengan kepuasan spiritual. Anda akan menyadari bahwa keberadaan Anda berarti bagi orang lain, dan rasa keterasingan itu perlahan akan memudar.

Koneksi dengan sesama manusia melalui kebaikan adalah perpanjangan dari koneksi kita kepada Allah. Mari jadikan perasaan ini sebagai pemicu untuk berbuat lebih banyak kebaikan, terutama bagi mereka yang membutuhkan di sekitar kita.

Mari Salurkan Kepedulian Anda Melalui BAZNAS Kota Sukabumi!

Bagi Anda, warga Sukabumi dan sekitarnya, rasa sendiri di tengah keramaian bisa Anda ubah menjadi energi positif dengan membantu sesama melalui instansi resmi yang tepercaya. Salurkan Infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk mendukung program-program pemberdayaan umat dan sosial.

Setiap Infaq yang Anda berikan bukan hanya angka, melainkan wujud cinta kasih yang dapat menghangatkan hati banyak orang, dan pada gilirannya, menghangatkan hati Anda sendiri.

Ubah rasa sepi menjadi bukti kepedulian.

Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini:

https://baznaskotasukabumi.com/campaign/tebar-kebahagiaan-dengan-berbagi-paket-sembako

https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/ketika-dunia-tidak-ramah-jadilah-rumah-untuk-dirimu-sendiri/33441

18/03/2026 | Kontributor: BAZNAS
Hati-Hati! Ini Dampak Buruk Korupsi yang Bisa Menghancurkan Hidupmu

Pernahkah terlintas di pikiran kita, mengapa ada orang yang sudah punya segalanya tapi masih merasa kurang? Mobil mewah sudah ada, rumah bak istana sudah berdiri tegak, jabatan pun mentereng. Tapi anehnya, hidupnya jauh dari kata tenang. Tidur tak nyenyak, dikejar rasa cemas, hingga akhirnya berakhir di balik jeruji besi.

Inilah fenomena yang sering kita sebut dengan korupsi. Korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup, bukan hanya bagi si pelaku, tapi juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mari kita bedah lebih dalam, kenapa mengambil yang bukan hak kita itu adalah "bom waktu" yang siap meledak kapan saja.

Mengapa Korupsi Adalah Musuh Terbesar Diri Sendiri?

Banyak yang mengira korupsi adalah jalan pintas menuju kebahagiaan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Korupsi adalah jalan tol menuju kehancuran mental dan spiritual. Ketika seseorang mulai mengambil harta yang bukan haknya, ia sedang menanam benih ketidaktenangan.

Dalam perspektif Islam, harta yang diperoleh dengan cara haram, seperti korupsi, tidak akan pernah membawa keberkahan. Harta tersebut mungkin terlihat banyak secara jumlah, namun nilai manfaatnya nol besar. Harta itu justru akan menjadi sumber masalah bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, anak-anak yang sulit diatur, atau keretakan rumah tangga.

1. Kehilangan Keberkahan dalam Hidup

Keberkahan adalah ketika harta yang sedikit terasa cukup, dan yang banyak membawa manfaat. Sebaliknya, korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup karena ia menghapus keberkahan tersebut. Kamu mungkin punya uang milyaran, tapi entah kenapa uang itu habis begitu saja tanpa bekas yang bermanfaat.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat tegas mengenai hal ini:

"Laknat Allah bagi penyuap dan penerima suap dalam hukum." (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Bayangkan, jika Allah sudah melaknat, lantas dari mana kita akan mendapatkan kedamaian? Laknat artinya dijauhkan dari rahmat kasih sayang Allah. Tanpa rahmat-Nya, hidup hanyalah rangkaian penderitaan yang dibungkus dengan kemewahan palsu.

2. Sanksi Sosial yang Menyakitkan

Kita hidup di masyarakat yang sangat menjunjung tinggi integritas. Sekali seseorang ketahuan melakukan korupsi, label "koruptor" akan menempel seumur hidup. Bukan hanya pelaku yang menanggung malu, tapi juga anak, istri, dan orang tua. Anak-anak mungkin akan dirundung di sekolah, dan keluarga akan dikucilkan dari pergaulan sosial. Ini adalah bentuk kehancuran hidup yang nyata di dunia.

3. Penjara: Hilangnya Kebebasan

Tentu saja, konsekuensi hukum adalah hal yang paling nyata. Bayangkan harus menghabiskan sisa umur di balik jeruji besi, jauh dari keluarga, dan kehilangan martabat. Kebebasan yang selama ini kita nikmati hilang begitu saja hanya demi tumpukan harta yang bahkan tidak bisa dinikmati di dalam sel.

Korupsi dalam Pandangan Syariat: Ghulul yang Membakar

Dalam istilah fiqih, korupsi sering dikaitkan dengan Ghulul (mengambil harta secara sembunyi-sembunyi yang bukan haknya). Bahayanya tidak main-main. Harta hasil korupsi akan menjadi beban yang sangat berat di hari kiamat kelak.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 161:

"Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan setimpal, sedang mereka tidak dianiaya."

Ayat ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikorupsi akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail. Tidak ada yang bisa bersembunyi. Kehancuran hidup akibat korupsi tidak berhenti saat nafas terakhir berhembus, tapi terus berlanjut hingga ke akhirat.

4. Menghalangi Terkabulnya Doa

Ini adalah salah satu dampak yang paling mengerikan. Ketika tubuh kita tumbuh dari makanan yang haram, maka doa-doa kita akan tertolak. Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, penuh debu, ia menengadahkan tangan ke langit sambil berdoa, "Ya Rabb, ya Rabb..." Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?

Bayangkan saat kamu benar-benar butuh pertolongan Tuhan, namun pintu langit tertutup hanya karena segelintir harta haram yang pernah kamu ambil. Itulah mengapa korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup yang paling fatal.

5. Merusak Tatanan Bangsa

Secara makro, korupsi merampas hak orang miskin. Jembatan yang harusnya kokoh jadi rubuh karena dana disunat. Rumah sakit kekurangan alat medis karena anggaran dikorupsi. Dengan melakukan korupsi, seseorang secara tidak langsung mendzolimi jutaan orang. Dosa kepada satu orang saja sulit dimaafkan, apalagi dosa kepada rakyat satu negara?

Bagaimana Cara Menghindarinya?

  1. Syukuri yang Ada: Kebanyakan orang korupsi bukan karena butuh, tapi karena kurang rasa syukur.

  2. Pahami Konsekuensi: Selalu ingat bahwa ada akhirat setelah dunia ini.

  3. Lingkungan yang Baik: Bertemanlah dengan orang-orang yang jujur dan berintegritas.

  4. Bersihkan Harta: Pastikan setiap rupiah yang masuk ke kantong kita adalah hasil keringat yang halal.

Ingatlah, hidup ini singkat. Jangan tukar ketenangan jiwa dan keselamatan akhirat dengan kenikmatan semu yang hanya sesaat. Kekayaan sejati adalah hati yang merasa cukup (qana'ah).

Setelah memahami betapa bahayanya harta yang tidak berkah, langkah terbaik untuk menjaga diri adalah dengan rajin berinfaq dan bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta, justru ia akan menyucikan dan menjaganya dari hal-hal yang buruk.

Ayo Bersihkan Harta dengan Berbagi!

Mari salurkan infaq terbaik Anda melalui lembaga yang amanah dan transparan. BAZNAS Kota Sukabumi siap membantu Anda mendistribusikan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Dengan berinfaq, kita menjaga diri dari sifat serakah dan memastikan harta kita membawa manfaat dunia hingga akhirat.

Bayar Infaq Sekarang via BAZNAS Kota Sukabumi Sucikan Harta, Tenangkan Jiwa.

Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini:

https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-jusuka-34-jumat-suka-sedekah

https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/antara-menjaga-perasaan-orang-lain-atau-kejujuran/31449

18/03/2026 | Kontributor: BAZNAS

Artikel Terbaru

Hidup: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Sungguh Kita Menjalani
Hidup: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Sungguh Kita Menjalani
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terjebak dalam perlombaan tanpa henti. Kita berlomba mengejar pencapaian, jabatan, dan pengakuan, hingga sering lupa menikmati proses hidup itu sendiri. Padahal dalam Islam, hidup tidak dinilai dari seberapa cepat langkah kita, melainkan seberapa sungguh kita menjalaninya dengan kesadaran, keikhlasan, dan kesabaran. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97) Ayat ini menegaskan bahwa kualitas amal lebih utama dibanding kecepatan atau banyaknya pencapaian. 1. Kesungguhan dalam Pandangan Islam Kesungguhan berarti menjalani setiap amal dengan niat yang lurus dan penuh tanggung jawab. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa amal yang sedikit tetapi dilakukan dengan ikhlas dan konsisten lebih utama daripada amal yang besar namun tanpa kesadaran. Ini menegaskan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. 2. Teladan Kesungguhan dari Rasulullah SAW Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam kesungguhan. Beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, tidak tergesa-gesa, dan selalu konsisten dalam kebaikan. Dalam hadits disebutkan: "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kesungguhan itu terletak pada ketekunan, bukan pada kecepatan. 3. Hidup Tidak Perlu Terburu-buru Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa tertinggal karena membandingkan diri dengan orang lain. Padahal Allah SWT berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing. Terburu-buru hanya akan melahirkan kegelisahan, sementara kesungguhan melahirkan ketenangan. 4. Dampak Kesungguhan bagi Jiwa dan Kehidupan Orang yang menjalani hidup dengan sungguh-sungguh akan: Lebih sabar dalam menghadapi ujian Lebih fokus dan tenang Tidak mudah putus asa Lebih mampu bersyukur Memiliki kepuasan batin yang lebih dalam Kesungguhan juga menjadi sumber kekuatan mental dalam menghadapi tekanan hidup. 5. Aksi Nyata Menjalani Hidup dengan Sungguh-sungguh Beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan: Meluruskan niat sebelum beraktivitas Konsisten dalam ibadah dan kebaikan kecil Mengelola waktu dengan bijak Membantu orang lain dengan tulus Melakukan evaluasi diri secara rutin Memperbanyak doa dan dzikir Kisah Nabi Yusuf AS menjadi bukti nyata kesungguhan. Meski difitnah, dipenjara, dan dikhianati, beliau tetap menjaga iman dan kesabaran hingga akhirnya diangkat derajatnya oleh Allah SWT (QS. Yusuf: 100). Kesimpulan Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, tetapi siapa yang paling sungguh dalam menjalani setiap prosesnya. Kesungguhan mengajarkan kita tentang ketulusan niat, kesabaran dalam ujian, dan konsistensi dalam kebaikan. Dengan menjalani hidup secara sungguh-sungguh, kita akan merasakan ketenangan, keberkahan, dan makna hidup yang lebih dalam.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
INGAT! Di Balik Lelahmu Ada Versi Dirimu yang Lebih Kuat
INGAT! Di Balik Lelahmu Ada Versi Dirimu yang Lebih Kuat
Setiap orang pernah berada pada titik lelah—lelah bekerja, lelah berusaha, lelah menata hati, atau lelah menghadapi masalah yang datang silih berganti. Namun dalam Islam, rasa lelah bukan tanda kelemahan. Ia adalah bagian dari proses pendewasaan, peningkatan iman, dan cara Allah membentuk pribadi yang lebih kuat. Lelah adalah Ujian yang Menguatkan Allah menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini memberi pelajaran bahwa lelah bukanlah hukuman, tetapi sarana peningkatan derajat. Kesabaran dalam menghadapi rasa lelah akan menghasilkan kekuatan batin yang lebih besar dibanding sebelumnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah tidak mengambil sesuatu kecuali untuk memberi yang lebih baik.” Ini menunjukkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kebaikan yang disiapkan Allah untuk hamba-Nya. Lelah Menghapus Dosa dan Datang sebagai Rahmat Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi penghibur besar. Bahkan lelah yang tidak terlihat manusia pun Allah catat sebagai penghapus dosa. Para ulama menjelaskan bahwa ujian dan lelah adalah tanda kasih sayang Allah, karena hamba diberi kesempatan mendapat pahala tanpa harus melakukan amalan tambahan. Proses Menjadi Versi Diri yang Lebih Kuat Lelah membawa banyak hikmah jika dijalani dengan iman: 1. Mengajarkan keikhlasan Saat usaha maksimal tetap belum membuahkan hasil, seseorang belajar berserah diri kepada Allah tanpa syarat. 2. Membentuk mental dan hati yang lebih tegar Tanpa ujian, tidak ada kedewasaan. Tanpa kesulitan, tidak ada ketangguhan. 3. Mendekatkan diri kepada Allah Di momen paling lelah, manusia biasanya paling tulus dalam berdoa. 4. Mengatur ulang prioritas hidup Rasa jenuh dan jenuh adalah tanda bahwa seseorang sedang menata ulang fokus hidupnya. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kesulitan adalah sarana untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan kejernihan hati. Motivasi dan Saran Praktis Agar lelah tidak membuatmu rapuh, lakukan langkah konkret berikut: Ambil jeda terencana, bukan menyerah. Istirahat sebentar membuat pikiran lebih tenang. Perbanyak doa, seperti “Hasbunallah wa ni’mal wakil,” yang memberi rasa cukup dan ketenangan. Jaga fisik, karena tubuh yang lelah membuat pikiran mudah stres. Kurangi aktivitas yang menguras energi, seperti konsumsi media sosial berlebihan atau lingkungan toksik. Fokus pada kemajuan kecil, karena perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Syukuri proses, bukan hanya hasil. Syukur membuat hati lebih kuat menghadapi tantangan. Penutup Lelah bukan akhir. Ia adalah tanda bahwa kamu sedang bergerak, berproses, dan bertumbuh. Di balik rasa lelahmu hari ini, ada versi dirimu yang lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah. Teruslah melangkah—Allah melihat setiap usahamu, bahkan yang tidak terlihat oleh manusia sekalipun.
ARTIKEL04/12/2025 | indri irmayanti
Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk Bernapas
Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk Bernapas
Di tengah tuntutan hidup yang semakin padat—pekerjaan, keluarga, studi, dan tekanan sosial—tidak sedikit orang merasa lelah hingga muncul keinginan untuk menyerah. Padahal, dalam banyak keadaan, yang dibutuhkan bukan menyerah, melainkan berhenti sejenak untuk menata ulang tenaga, pikiran, dan hati. Dalam Islam, istirahat bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kebijaksanaan hidup. 1. Istirahat dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6) Ayat ini mengajarkan bahwa kelelahan tidak bersifat permanen. Ia hanya fase yang akan berganti dengan kelapangan. Allah juga menegaskan bahwa manusia tidak dibebani di luar kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286), yang berarti mengenali batas diri adalah bagian dari iman. Rasulullah ? bersabda: “Tubuhmu mempunyai hak atas dirimu.” (HR. Bukhari) Hadits ini memperjelas bahwa merawat tubuh, memberi waktu istirahat, dan menjaga kesehatan bukanlah kelalaian, tetapi kewajiban. 2. Pandangan Ulama tentang Pentingnya Jeda Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa jiwa yang dipaksa terus bekerja tanpa jeda akan mengalami kejenuhan dan penurunan kualitas amal. Sementara Ibn Qayyim menegaskan bahwa hati pun bisa lelah sebagaimana tubuh, sehingga membutuhkan waktu pemulihan agar tetap hidup dan kuat. Artinya, istirahat bukan penghambat produktivitas, tetapi justru penjaganya. 3. Mengapa Istirahat Bukan Tanda Menyerah Beristirahat bukan berarti berhenti berjuang. Sebaliknya, ia memiliki beberapa fungsi penting: Mengisi ulang energi fisik dan mental Menjaga kualitas ibadah dan tanggung jawab Memberi kejernihan berpikir Menjauhkan dari keputusan impulsif Mencegah kelelahan berkepanjangan (burnout) Orang yang terus memaksa diri tanpa jeda justru berisiko kehilangan arah dan motivasi. 4. Tanda-Tanda Seseorang Membutuhkan Istirahat Beberapa tanda umum bahwa seseorang sudah terlalu lelah antara lain: Sulit tidur atau tidur tidak berkualitas Mudah marah dan emosional Kehilangan semangat dan minat Sulit fokus dan mengambil keputusan Merasa cemas tanpa alasan jelas Jika tanda-tanda ini muncul, berhenti sejenak adalah langkah bijak, bukan tanda kegagalan. 5. Lelah Tidak Pernah Sia-Sia di Sisi Allah Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, kesedihan, penyakit, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap letih, air mata, dan luka batin yang dirasakan tidak pernah luput dari perhatian Allah. Maka ketika seseorang merasa hampir menyerah, bisa jadi ia hanya sedang butuh berhenti sebentar untuk kembali kuat. 6. Istirahat adalah Sunnatullah Allah menciptakan hidup dengan irama: Siang untuk beraktivitas Malam untuk beristirahat Ombak datang lalu surut Hujan turun lalu reda Manusia yang menolak istirahat justru melawan pola alam yang telah Allah tetapkan. 7. Aksi Nyata Saat Merasa Lelah Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan: Ambil jeda singkat saat lelah Perbaiki pola tidur Shalat dengan lebih tenang Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an Kurangi beban yang tidak prioritas Bergerak secara fisik ringan Berbagi cerita dengan orang terpercaya Batasi konsumsi konten negatif Tetapkan batas untuk diri sendiri Mencari bantuan profesional bila perlu Semua langkah ini bukan tanda menyerah, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kesimpulan Lelah adalah bagian dari perjalanan, bukan akhir dari perjuangan. Istirahat bukan tanda kalah, tetapi cara Allah mengajarkan manusia untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat. Air mata bukan bukti kelemahan, dan jeda bukanlah pengkhianatan terhadap mimpi. Justru melalui jeda itulah seseorang belajar untuk kembali bangkit dengan hati yang lebih kuat, pikiran yang lebih jernih, dan langkah yang lebih terarah. Hidup tidak selalu tentang berlari cepat, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti sejenak agar tidak kehilangan tujuan.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Antara Impian dan Kenyataan, Ada Konsistensi yang Sering Ditinggalkan
Antara Impian dan Kenyataan, Ada Konsistensi yang Sering Ditinggalkan
Setiap manusia memiliki impian. Ada yang memimpikan kesuksesan, ketenangan jiwa, keluarga harmonis, ilmu yang bermanfaat, hingga hidup yang diridhai Allah. Namun tidak sedikit impian yang berhenti sebatas rencana. Banyak yang gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena konsistensi yang ditinggalkan di tengah jalan. Kita sering memulai dengan semangat besar, tetapi melemah saat proses menjadi berat. Di sinilah jarak antara impian dan kenyataan semakin terasa. 1. Konsistensi dalam Pandangan Al-Qur’an Allah menegaskan bahwa perubahan tidak terjadi tanpa usaha yang terus dijaga: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan proses yang berulang, bukan semangat sesaat. Impian butuh istiqamah, bukan hanya niat. Allah juga berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Kesungguhan dalam ayat ini bukan berarti sebentar, tetapi ketekunan yang dipelihara dalam waktu panjang. 2. Mengapa Konsistensi Sering Gagal di Tengah Jalan Beberapa penyebab utama seseorang meninggalkan konsistensi: Terjebak euforia awal, semangat tinggi di awal lalu melemah ketika emosi turun. Tidak siap dengan hasil yang lama, ingin perubahan instan di dunia yang serba cepat. Takut tidak diapresiasi, merasa lemah ketika perjuangan berjalan tanpa sorotan. Lelah menghadapi ujian berulang, mengira ujian hanya datang sekali, padahal ia bagian dari perjalanan. Padahal Allah telah mengingatkan: “Dan sungguh, akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.” (QS. Ad-Dhuha: 4) Artinya, fase terberat sering berada sebelum hasil terbaik. 3. Hadits tentang Nilai Amal yang Konsisten Rasulullah ? bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa keberkahan terletak pada keberlanjutan, bukan hanya pada besarnya amal di awal. 4. Konsistensi dalam Pandangan Ulama Imam Al-Ghazali berkata: “Amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih baik daripada amal yang banyak tetapi terputus.” Sufyan Ats-Tsauri bahkan menegaskan bahwa istiqamah lebih berat daripada ribuan karamah, karena ia menuntut kesabaran setiap hari, bukan keajaiban sesaat. 5. Antara Keinginan dan Proses yang Melelahkan Banyak orang mencintai hasil, tetapi tidak mencintai proses. Mereka ingin sukses tanpa disiplin, ingin tenang tanpa kesabaran, ingin bahagia tanpa luka. Padahal Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4) Lelah bukan kesalahan hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. 6. Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha Sebagian orang berhenti dengan alasan “ini sudah takdir.” Padahal Allah menegaskan: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39) Takdir tidak pernah mematikan ikhtiar. Justru ikhtiar adalah bagian dari takdir itu sendiri. 7. Aksi Nyata Menjaga Konsistensi Agar konsistensi tidak hanya menjadi teori: 1. Kecilkan target, besarkan keberlanjutan Mulailah dari yang ringan namun rutin. 2. Ikat niat dengan ibadah Luruskan tujuan agar lelah bernilai pahala. 3. Bangun lingkungan yang menguatkan Berada di sekitar orang yang istiqamah akan menulari semangat. 4. Terima fase turun sebagai bagian dari proses Tidak semua hari harus sempurna. 5. Perbanyak doa agar diberi keteguhan hati Karena istiqamah adalah karunia, bukan semata kekuatan diri. Kesimpulan Impian tidak pernah menuntut kesempurnaan, tetapi menuntut kesetiaan pada proses. Jarak antara impian dan kenyataan sejatinya dijembatani oleh konsistensi. Istiqamah dalam kebaikan, dalam ikhtiar, dalam doa, dan dalam perjuangan adalah bukti kejujuran kita terhadap cita-cita hidup yang lebih bermakna. Seperti yang diajarkan Al-Qur’an, hadits, dan nasihat para ulama, keberhasilan sejati bukanlah hasil dari semangat sesaat, melainkan buah dari langkah kecil yang dijaga setiap hari.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Rasanya Jauh dari Allah? Mulailah dari Ibadah yang Paling Sederhana
Rasanya Jauh dari Allah? Mulailah dari Ibadah yang Paling Sederhana
Hampir setiap Muslim pernah mengalami masa ketika hati terasa jauh dari Allah SWT. Ibadah terasa berat, doa seakan tak sampai, dan jiwa dipenuhi kegelisahan. Padahal, rasa “jauh” itu bukan karena Allah meninggalkan kita, tetapi karena kita yang perlahan menjauh tanpa disadari. Kabar baiknya, untuk kembali dekat kepada Allah tidak harus dimulai dari ibadah yang berat. Justru, langkah terbaik adalah memulai dari amalan sederhana yang mudah dilakukan secara konsisten. 1. Allah Itu Dekat—Kita yang Sering Menjauh Ketika hati terasa hampa, sebagian orang mengira bahwa Allah telah meninggalkannya. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Allah SWT berfirman: “Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kedekatan Allah melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, dan jawaban atas doa hamba-hamba-Nya. Artinya, Allah tidak pernah pergi. Kitalah yang perlu kembali mendekat. Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Jarak antara seorang hamba dengan Allah adalah jarak antara hatinya dan taubatnya.” Kembali kepada Allah dimulai bukan dari banyaknya ibadah, tetapi dari hati yang ingin pulang. 2. Mengapa Memulai dari yang Paling Sederhana? Banyak orang berusaha kembali mendekat kepada Allah tetapi merasa harus langsung melakukan ibadah berat. Padahal Rasulullah ? mengajarkan bahwa amalan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Beliau bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Bukhari) Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa amalan kecil yang konsisten lebih baik daripada amalan besar yang tidak mampu dijaga. Iman memang naik turun, dan ketika sedang turun, ibadah sederhana adalah cara menghidupkannya kembali. 3. Ibadah Sederhana untuk Memulai Kembali A. Menjaga Shalat Wajib Mulailah dari yang paling mendasar: shalat tepat waktu. Jangan menunggu rasa khusyuk sempurna. Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa shalat yang awalnya lalai akan perlahan menjadi khusyuk jika terus dijaga. B. Dzikir Ringan di Setiap Waktu Ucapan Astaghfirullah, Alhamdulillah, atau Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah dzikir singkat namun penuh pahala. Rasulullah ? bersabda bahwa dua kalimat dzikir yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan adalah: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim. C. Membaca Satu Ayat Al-Qur’an Sehari Tidak perlu langsung satu juz. Satu ayat setiap hari setelah shalat sudah cukup untuk membuat hati tetap terikat dengan Al-Qur’an. D. Sedekah Kecil yang Dilakukan Rutin Sedekah tidak harus besar. Satu kebaikan kecil setiap hari, bahkan sekadar senyum yang tulus, sudah termasuk sedekah. 4. Rasa Jauh dari Allah Adalah Tanda Rindu Ibn Qayyim mengatakan bahwa rasa sempit dan gelisah sering kali adalah cara Allah memanggil hamba-Nya agar kembali. Jika hati terasa kosong, itu pertanda bahwa ruh sedang rindu kepada Pemiliknya. 5. Kisah Singkat yang Menguatkan Seorang pemuda di masa Tabi’in pernah merasa hatinya keras dan jauh dari Allah. Hasan al-Bashri menasihatinya: “Bacalah Al-Qur’an meski satu ayat.” Langkah kecil itu mengubah hidupnya hingga ia menjadi ahli ibadah. Ada pula seorang buruh yang selalu mengamalkan dzikir sebelum tidur: tasbih 33x, tahmid 33x, takbir 34x. Amalan sederhana itu membuatnya mulia di mata Allah. Kesimpulan: Rasa jauh dari Allah bukan akhir, tetapi awal perjalanan kembali. Mulailah dari ibadah kecil yang konsisten—shalat tepat waktu, dzikir ringan, satu ayat sehari, dan sedekah kecil. Amalan sederhana itulah yang akan membuka kembali pintu kedekatan dan ketenangan hati.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
STOP Terjebak di Zona Nyaman: 5 Alasan Hidupmu Terasa Stagnan
STOP Terjebak di Zona Nyaman: 5 Alasan Hidupmu Terasa Stagnan
Zona nyaman adalah keadaan saat hidup terasa aman, stabil, tanpa ancaman atau tekanan. Tidak ada tantangan berarti, tidak ada target baru, tidak ada risiko yang harus diambil. Kita merasa cukup, sehingga berhenti bergerak. Masalahnya, zona nyaman membuat kita lupa bahwa manusia diciptakan untuk berusaha dan berkembang, bukan duduk diam menikmati keadaan yang sudah “lumayan”. Allah berfirman: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39) Ayat ini menegaskan bahwa perkembangan datang setelah usaha. Ketika seseorang berhenti berusaha, hidupnya akan stagnan. Stagnan berarti berhenti berkembang. Secara emosional, stagnasi ditandai kelelahan batin, rasa bosan, tidak punya arah, hingga muncul pertanyaan: “Kenapa hidupku begini-begini saja?” Islam tidak mengajarkan kita berhenti di satu titik. Waktu, usia, dan kemampuan adalah amanah. Nabi ? bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Orang yang merasa stagnan biasanya tidak memanfaatkan waktu luang, atau merasa aman dengan keadaan saat ini. 1. Terjebak rutinitas tanpa tujuan Rutinitas yang tidak diiringi visi menjadikan hidup seperti ulang-ulang. Banyak yang bekerja sekadar menunggu gaji, bukan mengejar cita-cita. Imam Al-Ghazali mengatakan waktu adalah bagian dari hidup—ketika seseorang menyia-nyiakannya, ia menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Zona nyaman membuat kita merasa aman, namun diam-diam mencuri masa depan. 2. Takut gagal atau kehilangan Ketakutan adalah penjara terbesar. Orang takut mencoba karena takut gagal, diremehkan, atau kehilangan stabilitas. Padahal Islam mendorong kekuatan mental. Rasulullah ? bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) Kekuatan bukan hanya fisik, tetapi keberanian menghadapi tantangan. 3. Membandingkan diri tanpa bertindak Saat melihat orang lain maju—teman menikah, sahabat naik jabatan—kita iri, tapi tidak bergerak. Ini stagnan paling berbahaya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Perubahan tidak datang dari keluhan, tetapi dari tindakan. 4. Stagnasi spiritual Zona nyaman tidak hanya soal dunia. Banyak orang merasa, “Aku sudah shalat, sudah cukup.” Padahal iman selalu butuh ditumbuhkan. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) Perjuangan mendatangkan bimbingan. Bukan pasrah tanpa usaha. 5. Menganggap tantangan sebagai musibah Sebagian melihat masalah sebagai hukuman, bukan peluang berkembang. Nabi ? bersabda: “Sesungguhnya besarnya ganjaran sejalan dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi) Kesulitan mengajarkan disiplin, kesabaran, dan ketahanan mental. Contoh nyata Andi bekerja nyaman di toko elektronik. Gaji cukup, tugas ringan. Namun 7 tahun berlalu, posisinya tetap sama. Ketika toko tutup, ia terpaksa belajar servis handphone untuk bertahan. Ia gagal beberapa kali, tapi terus memperbaiki diri. Kini ia membuka tempat reparasi sendiri. Jika ia tidak terlempar dari zona nyaman, hidupnya akan berhenti. Cara konkret Target kecil tapi konsisten: belajar 15 menit per hari lebih baik daripada 0. Ambil risiko terukur: mulai bisnis kecil, ikut kursus, belajar skill. Bangun lingkungan: berteman dengan orang yang mau berkembang. Tingkatkan ibadah: hati yang kuat berani bergerak karena percaya rezeki dari Allah. Hidup tidak diciptakan untuk berhenti. Zona nyaman selamat sesaat, tapi mematikan pelan-pelan. Keluar perlahan, dan mulailah bergerak.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
STOP Jadi Penonton: 7 Aksi Nyata yang Bisa Mengubah Hidupmu
STOP Jadi Penonton: 7 Aksi Nyata yang Bisa Mengubah Hidupmu
Banyak orang menjalani hidup seperti sedang menonton film—melihat keberhasilan orang lain tanpa pernah benar-benar berperan dalam hidupnya sendiri. Padahal Allah sudah memberikan potensi, akal, dan kesempatan kepada setiap manusia untuk bergerak dan memperbaiki dirinya. Islam tidak menginginkan umatnya pasif, melainkan menjadi pribadi yang aktif, bermanfaat, dan terus bertumbuh. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini adalah alarm bagi siapa saja yang merasa hidupnya stagnan: perubahan tidak terjadi dengan menunggu, tapi dengan bertindak. 1. Berhenti Menonton — Mulai Bergerak Jangan hanya mengamati hidup orang lain. Langkah kecil—seperti belajar skill baru, memperbaiki ibadah, atau mengambil peluang sederhana—jauh lebih baik daripada seribu rencana tanpa aksi. 2. Tetapkan Tujuan Nyata Rasulullah ? mengingatkan bahwa waktu dan kesehatan adalah dua nikmat yang sering disia-siakan manusia (HR. Bukhari). Buat tujuan yang jelas dan terukur: hafal ayat baru, olahraga, atau belajar skill digital. 3. Ubah Konsumsi Menjadi Produksi Allah berfirman: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah dia usahakan.” (QS. An-Najm: 39) Kurangi hanya menjadi penonton di media sosial. Mulailah membuat karya—tulisan, konten dakwah, bisnis kecil, atau layanan yang bermanfaat. 4. Bangun Kebiasaan Ibadah yang Konsisten Ibadah adalah bahan bakar spiritual. Shalat tepat waktu, dzikir sebelum tidur, dan membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari akan menumbuhkan kekuatan hati dan kejernihan pikiran. 5. Berani Mengambil Risiko Terukur Takut gagal sering menjadi penghambat terbesar. Rasulullah ? bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) Ambillah peluang kecil. Tidak harus sempurna, yang penting mulai. 6. Kurangi Membandingkan Diri Media sosial hanya menampilkan hasil akhir, bukan prosesnya. Fokuslah pada perkembangan diri sendiri. Ukur progresmu dengan dirimu kemarin, bukan dengan pencapaian orang lain. 7. Lakukan Aksi Kecil yang Konsisten Satu langkah kecil yang dilakukan setiap hari akan membawa perubahan besar. Seperti kisah Dani yang mempelajari desain grafis selama 20 menit setiap hari hingga bisa membuka jasa sendiri—semua berawal dari aksi kecil yang tidak berhenti. Kesimpulan Perubahan hidup tidak datang dari menonton, tetapi dari keberanian untuk bergerak. Islam mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11), waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan, dan setiap manusia hanya memperoleh apa yang ia usahakan. Tujuh langkah nyata—mulai bergerak, memiliki tujuan jelas, menghasilkan karya, memperkuat ibadah, berani mengambil risiko, berhenti membandingkan diri, serta melakukan aksi kecil secara konsisten—adalah fondasi agar hidup tidak stagnan. Dengan menerapkannya, seseorang beralih dari penonton menjadi pelaku yang membentuk jalan hidupnya sendiri, sekaligus menumbuhkan makna dan keberkahan dalam setiap proses yang dijalani.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Qiyamullail: Sumber Kekuatan yang Tidak Terlihat, Tapi Paling Dahsyat
Qiyamullail: Sumber Kekuatan yang Tidak Terlihat, Tapi Paling Dahsyat
Qiyamullail adalah ibadah malam yang menghidupkan hati. Ia bukan sekadar bangun dari tidur, tetapi momen seorang hamba menundukkan diri di hadapan Rabb-nya. Dalam keheningan malam ketika dunia terlelap, seorang mukmin berdoa, bersujud, dan berbicara kepada Allah dengan jujur—tanpa topeng, tanpa penilaian manusia. Inilah sumber kekuatan yang tidak tampak, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Isra’ [17]: 79: “Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Ayat ini menegaskan bahwa tahajud adalah amalan ekstra yang dapat mengangkat martabat seorang hamba. Pada waktu sahar (menjelang Subuh), doa lebih mudah dikabulkan. Rasulullah ? bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: Siapa berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan.” (HR. Bukhari & Muslim) Amalan yang Dilakukan saat Qiyamullail Qiyamullail mencakup beberapa ibadah: Shalat Tahajud Dilakukan setelah tidur, minimal dua rakaat. Nabi ? mengajarkan pentingnya konsistensi, bukan banyaknya rakaat. Shalat malam bisa dikerjakan 2, 4, 6, 8 hingga 11 rakaat. Shalat Witir Penutup shalat malam. Minimal 1 rakaat, maksimal 11 rakaat. Rasulullah ? bersabda: “Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malam kalian.” (HR. Bukhari & Muslim) Tilawah Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an dalam shalat atau setelahnya. Pada masa Nabi, sahabat berdiri lama membaca ayat demi ayat sebagai bentuk tadabbur. Dzikir dan doa Doa malam sangat mustajab. Anda dapat berdoa untuk rezeki, kesehatan, ketenangan, jodoh, atau apa pun yang Anda perlukan. Pandangan Ulama tentang Kekuatan Qiyamullail Imam Al-Ghazali menyebut qiyamullail sebagai pembersih hati dari karat dunia. Sementara Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan, “Shalat malam adalah makanan ruh. Jika ditinggalkan, ruh melemah sebagaimana tubuh yang tidak diberi makan.” Ulama menekankan bahwa qiyam bukan hanya ibadah individu, tetapi bekal spiritual untuk menghadapi ujian kehidupan. Motivasi dalam Kehidupan Masa Kini Di era modern, banyak orang kehabisan tenaga mental. Target pekerjaan, tekanan sosial media, persaingan ekonomi, membuat manusia merasa lelah bahkan sebelum berjuang. Qiyamullail hadir sebagai ruang penyembuhan. Saat bangun malam, seseorang menenangkan pikiran, melepaskan kecemasan, dan mengikat diri dengan harapan kepada Allah. Hati menjadi stabil, pikiran jernih, dan langkah hidup lebih tenang. Cara memulai tidak harus sulit. Tidur lebih awal, pasang alarm 20–30 menit sebelum Subuh, lalu shalat 2 rakaat dan witir 1 rakaat. Bila masih berat, cukup duduk berdzikir atau membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Allah tidak melihat berapa lama kita berdiri, tetapi seberapa tulus hati kita. Kisah Nyata Seorang pekerja pabrik di Jawa Barat pernah kehilangan pekerjaannya karena pemutusan kontrak. Ia hidup bersama istri dan dua anak. Tekanan hidup membuatnya hampir menyerah. Seorang ustaz menyarankannya untuk bangun malam, walau hanya dua rakaat. Ia memulai dengan berat, mengantuk, bahkan sering bolong. Namun ia terus mencoba. Di bulan keempat, ia mendapat tawaran kerja dari rekan lama dan memulai usaha kecil di sampingnya. Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab singkat: “Saya bangun malam, dan Allah menguatkan saya.” Qiyamullail tidak selalu memberi hasil cepat, tetapi ia memberi sesuatu yang lebih berharga: keteguhan hati. Dalam dunia yang ramai dan penuh kelelahan, qiyamullail adalah ruang sunyi yang menyembuhkan, menguatkan, dan membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhannya.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
Dalam Setiap Sujudmu, Ada Jawaban yang Diam-Diam Allah Titipkan
Dalam Setiap Sujudmu, Ada Jawaban yang Diam-Diam Allah Titipkan
Dalam hidup, setiap manusia memikul beban, pertanyaan, dan kegelisahan yang kadang sulit ia bagi kepada siapa pun. Ada luka yang tidak mudah sembuh, ada doa yang terasa lama sekali terjawab, dan ada rencana yang tak kunjung menemukan jalannya. Namun Islam mengajarkan cara paling lembut untuk menenangkan hati: sujud. Sujud bukan sekadar gerakan fisik dalam shalat. Ia adalah puncak ketundukan seorang hamba, titik terendah tubuh namun titik tertinggi kedekatan dengan Allah. Menurut para ulama, di dalam sujud inilah Allah sering menitipkan jawaban—pelan, diam-diam, tetapi selalu tepat. I. Sujud: Momen Kedekatan Terbesar dengan Allah Keistimewaan sujud dijelaskan langsung oleh Rasulullah ?: “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa saat itu.” (HR. Muslim) Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kedekatan ini adalah kedekatan maknawi, yaitu dekat pada rahmat-Nya dan pada kesempatan pengabulan doa. Sujud adalah puncak kehinaan diri di hadapan Allah, dan ketika hati telah luruh, doa menjadi lebih tulus. Ibnul Qayyim menegaskan bahwa tidak ada kondisi yang lebih mulia bagi hamba selain sujud, karena pada saat itulah hati benar-benar tunduk dan pasrah. II. Sujud Menghapus Resah dan Menguatkan Jiwa Allah berfirman: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Sujud adalah bentuk zikir paling kuat. Tasbih Subhaana Rabbiyal A’laa yang diucapkan dalam sujud adalah bentuk pujian yang menghadirkan ketenangan. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa seseorang meninggalkan dunia ketika ia sujud dengan hati yang hadir. Di titik itu, ketenangan diturunkan Allah ke dalam dada. Banyak orang bangkit dari sujud dengan hati yang berbeda—lebih kuat, lebih jernih, dan lebih siap menghadapi kenyataan. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena Allah menitipkan kekuatan untuk menjalaninya. III. Jawaban yang Allah Titipkan Tidak Selalu Berupa Keajaiban Besar Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam mengatakan: “Jika Allah menunda jawabanmu, bukan berarti Dia mengabaikanmu. Dia hanya ingin menjawab pada waktu yang terbaik.” Jawaban dari sujud sering hadir dalam bentuk: hati yang tiba-tiba lebih lapang, pikiran yang lebih jernih, kemauan untuk bergerak (taufiq), kemampuan untuk mengikhlaskan. Allah memerintahkan: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45) Imam Syafi'i dikenal sering kembali kepada shalat dan sujud saat menghadapi persoalan. Beliau mengatakan bahwa Allah selalu membukakan jalan setelah ia bersujud. IV. Sujud Malam: Waktu Mustajab untuk Memohon Qiyamullail adalah waktu ketika doa lebih mudah naik, dan pertolongan lebih dekat turun. Rasulullah ? bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah memanggil: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan…” (HR. Bukhari dan Muslim) Sujud di waktu malam adalah momen ketika hati paling jujur, paling pasrah, dan paling dekat kepada Allah. Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan 1. Lakukan satu sujud panjang setiap selesai shalat. Sampaikan semua keluh kesahmu dalam diam. 2. Ketika bingung atau sedih, lakukan sujud terlebih dahulu. Jadikan sujud sebagai respon pertama, bukan terakhir. 3. Luangkan minimal satu malam dalam seminggu untuk sujud malam. 4. Gunakan sujud sebagai tempat mengikhlaskan. Ucapkan: “Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan pilihkan yang terbaik untukku.” Kesimpulan Sujud adalah momen ketika seorang hamba berada pada jarak terdekat dengan Rabb-nya. Di sanalah doa paling layak untuk dikabulkan, dan di sanalah jawaban-jawaban ilahi sering dititipkan—bukan selalu dalam bentuk perubahan keadaan, tetapi dalam bentuk ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan jiwa. Sujud mengajarkan bahwa jawaban Allah tidak selalu datang dengan gemuruh, tetapi sering turun dengan lembut ke dalam hati yang pasrah. Dan siapa pun yang membiasakan sujud dengan sungguh-sungguh akan menemukan bahwa Allah tidak pernah jauh—Ia selalu dekat, terutama ketika dahi menyentuh bumi.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ujian Bukan Hukuman, Tapi Cara Allah Menaikkan Derajat
Ujian Bukan Hukuman, Tapi Cara Allah Menaikkan Derajat
Setiap manusia pernah mengalami ujian. Ada yang diuji dengan kehilangan, kegagalan, penolakan, sakit, atau tekanan hidup. Saat ujian tiba, sebagian orang merasa Allah tidak sayang, bahkan menganggap musibah sebagai hukuman atas kesalahan mereka. Namun dalam perspektif Islam, ujian bukan tanda murka, tetapi justru tanda cinta dan perhatian Allah agar kita tumbuh dan naik derajat. 1. Ujian adalah bagian dari hidup Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sesuatu yang pasti. Ia tidak berfungsi untuk menghancurkan, tetapi untuk melatih kesabaran, menumbuhkan keimanan, dan menguji keteguhan hati. Islam tidak mengenal konsep hidup tanpa masalah. Justru ujian membentuk manusia menjadi lebih matang dan dewasa. 2. Ujian bukan tanda kebencian Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung pada besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini memberi perspektif yang menenangkan: semakin besar amanah seseorang, semakin besar ujian yang ia hadapi. Orang beriman bukan diangkat derajatnya karena kenyamanan, tetapi karena ketabahannya menghadapi kesulitan. Allah tidak ingin menghancurkan hamba-Nya, melainkan mendidiknya dengan cara yang tidak selalu kita pahami. 3. Tingkatan ujian dalam Islam Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa jenis ujian: a. Ujian untuk membersihkan dosa Ibnu Qayyim rahimahullah menyebut musibah sebagai obat yang membersihkan jiwa dari dosa dan kesombongan. Setiap kesulitan yang diterima dengan sabar menghapus kesalahan masa lalu. Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, gangguan… kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) b. Ujian untuk meningkatkan derajat Orang salih bisa jadi diuji bukan karena dosa, tetapi karena Allah ingin mengangkat martabatnya. Seperti Nabi Ayyub as. yang bertahun-tahun sakit, namun tetap sabar dan tawakal. Kesabarannya menjadi teladan sepanjang sejarah. c. Ujian untuk menguji keimanan Allah ingin melihat apakah seseorang beriman hanya saat nyaman. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2) 4. Cara menghadapi ujian secara konkret Pertama, perkuat hubungan dengan Allah. Shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an adalah benteng hati. Ketika ruh tenang, pikiran menjadi jernih. Kedua, ikhtiar secara realistis. Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Penyakit perlu diobati, hutang perlu dicari jalan keluar, karier perlu dikejar dengan kerja keras. Ketiga, batasi perbandingan hidup. Melihat pencapaian orang lain hanya membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang ada. Rasulullah ? mengajarkan untuk melihat mereka yang berada di bawah, agar kita tidak meremehkan nikmat Allah. 5. Contoh nyata Seorang mahasiswa gagal berkali-kali mendapatkan beasiswa. Ia merasa malu dibandingkan teman-teman seangkatan. Namun ia terus mencoba, memperbaiki essay, belajar bahasa, dan memperbaiki nilai. Setelah dua tahun, ia berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Ia berkata, “Andai aku langsung lolos, mungkin aku tidak pernah belajar menulis, tidak pernah disiplin, dan tidak pernah menghargai air mata.” Kegagalannya bukan hukuman, tetapi proses pembentukan dirinya. 6. Penutup Ujian bukan hukuman. Ia adalah tanda cinta Allah, jalan mendidik jiwa, membersihkan dosa, dan mengangkat derajat. Allah tidak pernah membiarkan hambanya terluka tanpa hikmah; tidak ada air mata yang sia-sia jika diteteskan dalam doa. Jangan marah saat diuji — di balik badai selalu ada pelangi yang Allah siapkan. Ketika kita berhasil melewatinya, kita menjadi lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dekat dengan-Nya.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
Belajar Bahagia dari Hal-Hal yang Tidak Sempurna
Belajar Bahagia dari Hal-Hal yang Tidak Sempurna
Apa Itu Bahagia? Banyak orang mengira bahagia hanya datang ketika semua berjalan sempurna: pekerjaan mapan, hubungan harmonis, masa depan jelas, dan tidak ada rintangan. Namun kenyataannya, tidak ada hidup yang bebas dari masalah. Bahagia bukan kondisi tanpa luka, tetapi kemampuan menikmati hidup meski banyak kekurangan. Bahagia dalam Islam adalah ketenangan hati, rasa syukur, dan penerimaan terhadap takdir Allah. Kebahagiaan bukan berarti mendapatkan semuanya, tetapi mampu menghargai apa yang Allah titipkan saat ini. Allah berfirman: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak ditentukan oleh dunia, tetapi seberapa dekat kita kepada Allah. Ketidaksempurnaan adalah Cara Allah Mengajari Hidup tidak pernah lurus. Ada mimpi yang gagal, rencana yang tertunda, orang yang pergi, dan kesalahan yang kita sesali. Semua itu bagian dari pendidikan Allah. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu…” (QS. Al-Baqarah: 216) Kita hanya melihat satu halaman hidup, sedangkan Allah melihat keseluruhan buku. Banyak hal yang terasa pahit ternyata menjadi awal dari sesuatu yang lebih baik. Contoh nyata: Seseorang gagal masuk universitas favoritnya. Ia kecewa. Tapi di kampus lain, ia justru menemukan lingkungan yang mendukung, teman baru, dan bidang yang lebih sesuai. Ia belajar bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan arah baru. Bahagia Bukan Hidup Tanpa Masalah Rasulullah ? mengajarkan bahwa setiap keadaan orang beriman adalah baik, bukan karena hidupnya mudah, tetapi karena sikapnya benar. “…Jika ia senang, ia bersyukur; jika ia susah, ia bersabar; keduanya baik baginya.” (HR. Muslim) Syukur dan sabar adalah pondasi mental yang membuat manusia tidak mudah runtuh. Orang yang hanya bahagia ketika hidup sempurna akan hancur saat rencana tidak berjalan. Sedangkan orang yang memahami makna sabar mampu tetap tenang bahkan ketika gagal. Menerima Diri: Ketenangan yang Sederhana Menerima diri bukan berarti menyerah. Menerima diri adalah kemampuan melihat kekurangan secara realistis, memaksimalkan potensi, dan tidak membandingkan hidup dengan orang lain. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kebahagiaan sejati ada ketika hati kembali kepada Allah. Bukan ketika kita memenuhi standar sosial yang tidak ada habisnya. Contoh nyata: Ada orang yang ingin menjadi penyanyi, tapi suaranya biasa saja. Setelah mencoba berkali-kali, ia sadar bakatnya bukan di panggung, tetapi di balik layar. Ia bekerja sebagai pelatih vokal. Hidupnya tetap berhubungan dengan musik, namun tanpa memaksakan standar yang menyiksa dirinya. Belajar dari yang Tidak Sempurna Ketidaksempurnaan mengajarkan hal-hal penting: Kesabaran, karena proses butuh waktu Rendah hati, karena manusia tidak bisa segalanya sendiri Keberanian, karena gagal bukan alasan berhenti Kita boleh mengejar mimpi, tapi jangan menunggu hidup sempurna untuk merasa cukup. Bahagia ada di perjalanan, bukan hanya di tujuan. Penutup Ketidaksempurnaan bukan musuh. Ia adalah guru. Ia menunjukkan di mana kita harus memperbaiki diri, siapa yang benar-benar peduli, dan bagaimana cara bersyukur atas hal-hal kecil. Bahagia bukan karena hidup tanpa cela, tetapi karena kita mau belajar dan menerima. Dan satu hal yang perlu diingat: kita layak bahagia, meskipun hidup belum seperti yang kita harapkan.
ARTIKEL02/12/2025 | indri irmayanti
Kadang Hidup Terasa Berat, Padahal Ada Nasihat Islam yang Sering Kita Lewatkan
Kadang Hidup Terasa Berat, Padahal Ada Nasihat Islam yang Sering Kita Lewatkan
Dalam perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah berada pada titik di mana segalanya terasa menindih. Kewajiban yang menumpuk, masalah yang tak kunjung usai, harapan yang meleset dari kenyataan, dan perasaan hati yang sempit tanpa alasan yang jelas. Ketika menghadapi kondisi ini, manusia sering kali mencari pelarian instan—namun Islam, sejatinya, telah memberikan sejumlah nasihat yang sangat sederhana, namun sering kali kita lupakan. Nasihat-nasihat ini adalah panduan praktis untuk menguatkan hati, mengelola tekanan hidup, dan menemukan ketenangan. Dengan memahaminya kembali, kita akan menyadari bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita sendirian dengan beban yang terasa berat. 1. Janji Awal: Tidak Ada Beban Melebihi Kemampuan Ketika kita berpikir, "Aku tidak kuat lagi," nasihat pertama dan paling fundamental dalam Islam harus menjadi pengingat utama: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini adalah janji pasti dari Sang Pencipta. Ini bukan sekadar kata-kata penghibur, melainkan sebuah penilaian ilahi bahwa setiap ujian yang menimpa telah disesuaikan dengan kapasitas dan potensi kita. Beban itu bukanlah hukuman, melainkan potensi yang mengharuskan kita untuk "naik kelas" dalam iman dan kesabaran, karena Dia Maha Mengetahui batas kekuatan hamba-Nya. 2. Sabar dan Salat: Penolong Utama yang Diremehkan Banyak yang menganggap sabar itu pasif. Padahal, sabar dalam Islam adalah aktif, yaitu terus berusaha sambil menjaga hati agar tetap teguh. Inilah mengapa Allah mengaitkan sabar dengan sarana komunikasi terdekat dengan-Nya, yaitu salat: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153) Ketika salat dilakukan sebagai tempat curhat dan penyerahan diri yang terdalam, hidup akan terasa lebih ringan. Masalah mungkin tidak langsung hilang, tetapi hati yang memikulnya menjadi kuat karena disokong oleh kekuatan Allah. 3. Zikir dan Istighfar: Pelipur Lelah dan Pengurai Kecemasan Pikiran yang penuh kecemasan dan hati yang kalut adalah penyebab utama hidup terasa berat. Kita mencari ketenangan pada hal-hal fana, padahal nasihat Allah sangat jelas: “…Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Selain itu, istighfar (memohon ampunan) juga menjadi kunci pembuka setiap kesempitan. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa memperbanyak istighfar... niscaya Allah menjadikan baginya dari setiap kesedihan kelapangan dan dari setiap kesempitan jalan keluar..." (HR. Abu Dawud). Istighfar mengalihkan fokus dari masalah kepada Zat yang Maha Mengatasi masalah, sehingga memunculkan rasa damai. 4. Syukur dan Tawakal: Melepaskan Kendali Takdir Beban hidup seringkali timbul dari keinginan kita untuk mengendalikan takdir yang mustahil. Syukur dan tawakal adalah kembar yang meringankan beban tersebut. Syukur adalah memfokuskan diri pada apa yang masih ada, karena Allah berjanji, “...Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7). Tawakal adalah sandaran dan kepercayaan hati sepenuhnya kepada Allah dalam segala urusan. Ini adalah kunci untuk melepaskan kecemasan terhadap hasil yang belum datang. 5. Bersama Kesulitan Ada Kemudahan Puncak dari semua janji Allah untuk hati yang tertekan terdapat dalam surat Al-Insyirah: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa satu kesulitan (al-'usr, yang berdefinitif) dijamin akan diapit oleh dua kemudahan (yusran, yang berbentuk umum). Ini adalah jaminan mutlak yang mengajarkan optimisme abadi: tidak mungkin ada kesulitan yang berdiri sendiri tanpa disertai, atau diiringi, kemudahan dari Allah. Penutup: Kembali kepada Inti Petunjuk Beban hidup terasa berat karena kita memikulnya dengan hati yang jauh dari petunjuk-Nya. Kunci untuk melapangkan hati sudah jelas, yaitu berpegang teguh pada janji Allah bahwa Dia tidak membebani melebihi kemampuan kita dan kembali kepada penolong utama kita, yaitu sabar dan salat. Semua nasihat ini menuntut satu hal: aksi nyata. Wujudkan iman bukan hanya sebagai pengakuan lisan, tetapi sebagai praktik dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga salat dengan khusyuk hingga senantiasa membasahi lisan dengan zikir. Dengan kembali kepada inti petunjuk Ilahi ini, kita akan memperoleh keberkahan, kelapangan rezeki, dan ketenangan hati yang sejati, karena sesungguhnya, Allah selalu bersama orang-orang yang beriman.
ARTIKEL02/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Hidup Tidak Selalu Mudah, Tapi Selalu Ada Jalan
Hidup Tidak Selalu Mudah, Tapi Selalu Ada Jalan
Pendahuluan Hidup tidak pernah berjalan mulus. Ada saat ketika kita merasa gagal, tersesat, atau tidak punya arah. Namun Islam mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir, tetapi bagian dari proses menuju kemudahan. Manusia diuji bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk dikuatkan. Ketika seseorang memahami ini, ia tidak lagi melihat masalah sebagai penutup, tetapi sebagai pintu menuju peluang baru. Kesulitan dan Kemudahan dalam Al-Qur’an Allah secara jelas menegaskan: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6) Ayat ini diulang dua kali. Para ulama menafsirkan bahwa satu kesulitan dikelilingi oleh banyak kemudahan. Kita mungkin tidak menyadarinya, karena bentuk kemudahan sering bukan seperti yang kita harapkan. Kadang berupa kecerdikan, pengalaman, atau orang yang datang membantu di saat tepat. Penting juga firman Allah: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini menenangkan hati: jika kita diberikan ujian, berarti kita mampu melewatinya. Bahkan jika terasa berat, ada potensi dalam diri yang Allah tahu, tapi kita belum menyadarinya. Hadis: Optimisme Bagi Seorang Mukmin Rasulullah ? bersabda: “Ketahuilah, kemenangan itu bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesulitan, dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.” (HR. Ahmad) Hadis ini bukan sekadar motivasi, tapi prinsip hidup. Kesabaran bukan pasrah, melainkan tetap berusaha sambil menjaga hati dari putus asa. Orang yang sabar bukan yang tidak pernah jatuh, tetapi yang terus bangkit setiap kali jatuh. Pandangan Ulama Tentang Ikhtiar Imam Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa Allah sering menutup satu pintu agar manusia mencari pintu baru yang lebih baik. Tanpa ujian, manusia cenderung sombong atau merasa cukup. Kesulitan menjaga manusia tetap rendah hati dan dekat kepada Allah. Imam Syafi’i berkata: “Barang siapa bersabar, ia akan memenangi urusannya.” Menang tidak selalu berarti kaya atau terkenal. Menang berarti mengalahkan ketakutan, kemalasan, dan keputusasaan. Orang yang mampu berdiri setelah gagal adalah pemenang sejati. Cara Nyata Menghadapi Hidup di Masa Kini 1. Terima kenyataan, lalu bergerak Banyak penderitaan berasal dari penolakan terhadap realita. Menerima tidak berarti menyerah, tetapi mengakui keadaan sambil mencari solusi. Ketika kita berhenti mengeluh, fikiran bergerak mencari jalan keluar. 2. Pelajari dari kegagalan Jika bisnis gagal, jika hubungan kandas, atau rencana tidak berhasil, jangan berhenti. Tanyakan apa yang bisa diperbaiki. Kesalahan adalah guru, bukan hukuman. 3. Perkuat hubungan spiritual Ada luka yang tidak sembuh oleh logika. Doa, dzikir, dan shalat sunnah memberi ketenangan yang tak bisa diberikan manusia. “Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. At-Talaq: 2) 4. Pilih lingkungan yang sehat Hidup berat jika dijalani sendirian. Teman atau komunitas yang mendukung bisa menjadi energi untuk bangkit. 5. Mulai dari langkah kecil Tidak perlu menunggu momen besar. 1% kemajuan setiap hari jauh lebih kuat dibanding menunggu kesempurnaan. Kisah Nyata Singkat Tia, seorang penjahit rumahan, kehilangan seluruh pelanggan saat pandemi. Ia sedih, namun memutuskan untuk mencoba hal baru: membuat masker kain. Ia mempromosikannya secara sederhana lewat media sosial. Dalam beberapa bulan, pesanan justru melonjak. Tia mempekerjakan tetangganya yang menganggur. Kesulitan bukan akhir hidupnya, tetapi awal perubahan. Penutup Hidup tidak selalu mudah. Tetapi selalu ada jalan—melalui kesabaran, usaha, doa, dan keberanian untuk mencoba lagi. Kesulitan bukan musuh; ia adalah jembatan menuju kematangan dan kemudahan.
ARTIKEL02/12/2025 | indri irmayanti
Ketika Semua Rencana Gagal, Rencana Allah Selalu Lebih Indah
Ketika Semua Rencana Gagal, Rencana Allah Selalu Lebih Indah
Dalam episode kehidupan, setiap manusia pasti memiliki rencana. Kita menyusun tujuan, langkah, dan strategi agar hidup berjalan sesuai harapan. Namun, seberapa sering rencana terbaik kita berujung pada kegagalan? Ada yang meleset dari waktu, tidak sesuai hasil, bahkan tidak terjadi sama sekali. Pada titik inilah, keimanan kita diuji: apakah kita akan larut dalam kekecewaan atau justru menemukan makna di balik Rencana Allah Swt. yang jauh lebih indah dan sempurna. Keyakinan teguh bahwa kegagalan hanyalah bentuk pengalihan dari Allah menuju kebaikan yang lebih besar adalah pilar spiritual yang disebut Rida terhadap Qada dan Qadar. Batasan Ilmu Manusia dan Hikmah Ilahi Rencana manusia didasari pada pengetahuan yang terbatas, sementara Rencana Allah didasari pada ilmu yang mutlak dan menyeluruh. Allah Swt. menegaskan batasan pengetahuan ini dalam Al-Qur’an: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216) Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kehendak Allah (al-irada) selalu didasari pada hikmah yang sempurna, meskipun akal manusia tidak selalu mampu menangkapnya. Oleh karena itu, kegagalan rencana bukanlah tanda keburukan, melainkan sinyal bahwa Allah sedang mengarahkan kita ke arah yang lebih baik dan sesuai bagi jiwa kita. Kegagalan: Pintu yang Ditutup dan Pintu yang Dibuka Para ulama spiritual mengajarkan bahwa kegagalan harus dilihat sebagai proses pendidikan (Tarbiyah) dari Allah, berfungsi sebagai penanda arah baru, bukan penghalang jalan. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Jika Allah menutup satu pintu untukmu, Dia pasti membuka pintu lain. Namun, terkadang engkau memandangi pintu yang tertutup itu terlalu lama sehingga tidak melihat pintu lain yang terbuka untukmu.” Pernyataan ini mengajarkan bahwa kegagalan adalah cara Allah memalingkan kita dari sesuatu yang tidak baik bagi masa depan, iman, maupun kebahagiaan sejati. Kisah Nabi Yusuf A.S. adalah contoh nyata: rangkaian "kegagalan"—dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, dipenjara—justru merupakan jalan yang berliku menuju takdir mulia sebagai penguasa Mesir. Tanpa kegagalan itu, kemuliaan takkan tercapai. Tawakal Setelah Ikhtiar Maksimal Penerimaan terhadap Rencana Allah harus didahului dengan usaha maksimal, yang dikenal sebagai Tawakal. Rasulullah saw. bersabda: “Ikatlah dulu untamu, kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi). Hadis ini adalah gambaran bahwa tawakal sejati adalah kombinasi antara mengambil sebab (ikhtiar) dan kebergantungan hati sepenuhnya pada Allah. Ketika kita sudah melakukan semua yang kita mampu, kita harus yakin bahwa hasil akhirnya kembali kepada Allah, dan hasil itu pasti yang terbaik, baik dalam bentuk karunia maupun ketetapan penuh hikmah. Keindahan Rencana Allah Melampaui Akal Keindahan Rencana Allah terletak pada empat aspek: 1. Karena Allah Maha Mengetahui (Al-’Alim): Dia mengetahui bahaya jangka panjang atau kerugian yang belum tampak di balik sesuatu yang kita inginkan. 2. Karena Allah Menginginkan Kita Dekat: Kegagalan atau musibah sering kali membuat manusia kembali berdoa, menangis, dan memohon, yang merupakan kebaikan terbesar. 3. Karena Menyiapkan Yang Lebih Baik: Allah berjanji, “Boleh jadi Allah akan mendatangkan setelah itu keadaan yang lebih baik.” (QS. At-Thalaq: 1). Setiap kesempitan pasti Allah sertai dengan jalan keluar. 4. Karena Menghapus Dosa: Rasulullah saw. bersabda bahwa setiap musibah, termasuk kesedihan, adalah cara Allah menghapuskan kesalahan hamba-Nya. Kesimpulan Bagi orang beriman, tidak ada yang namanya takdir yang buruk, sebab segalanya adalah kebaikan. Ketika rencana gagal, seorang mukmin wajib menerima dengan lapang dada (Rida), berprasangka baik (Husnudzon) kepada Allah, dan memperbaiki usaha (Ikhtiar) ke depan. Kegagalan bukanlah akhir, melainkan sarana pendidikan dan pengalih arah menuju takdir terbaik yang telah Allah siapkan. Inti dari keyakinan bahwa Rencana Allah selalu lebih indah terletak pada penyerahan hati yang sempurna setelah usaha maksimal.
ARTIKEL02/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Mengapa Asnaf Fakir dan Miskin Jadi Prioritas Utama Zakat? Ini Penjelasannya!
Mengapa Asnaf Fakir dan Miskin Jadi Prioritas Utama Zakat? Ini Penjelasannya!
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran vital dalam menciptakan kesejahteraan sosial. Dalam syariat Islam, Allah SWT menetapkan delapan golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat. Namun di antara seluruh asnaf tersebut, para ulama sepakat bahwa fakir dan miskin adalah kelompok yang paling utama untuk diprioritaskan dalam distribusi zakat. Mengapa demikian? Berikut penjelasan berdasarkan dalil Al-Qur’an, hadis sahih, serta pandangan ulama klasik. 1. Dalil Al-Qur’an: Urutan Pertama Tanda Prioritas Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, muallaf... dan seterusnya.” Pada ayat tersebut, fakir dan miskin disebutkan pada urutan pertama sebelum asnaf lainnya. Para ulama menafsirkannya sebagai isyarat jelas bahwa dua kelompok ini merupakan tujuan utama dari keberadaan zakat. Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penempatan fakir dan miskin di awal ayat menunjukkan bahwa kebutuhan mereka lebih darurat dibandingkan asnaf lain. Dalam Tafsir Al-Qurthubi, beliau menegaskan: “Penyebutan fakir dan miskin di awal ayat adalah bentuk pendahuluan atas yang lebih utama dan lebih membutuhkan.” Demikian pula Ibnu Katsir, beliau menyampaikan bahwa fakir dan miskin didahulukan karena keduanya merupakan sasaran utama zakat, yaitu mengangkat mereka dari keadaan sulit menuju kecukupan. 2. Hadis Nabi SAW: Zakat Kembali kepada Kaum Miskin Rasulullah SAW juga secara langsung menegaskan orientasi zakat untuk membantu kaum miskin. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari ketika beliau mengutus Mu‘adz bin Jabal ke Yaman, Nabi bersabda: “... Diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, lalu diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.” Hadis ini menjadi dasar operasional distribusi zakat dalam Islam. Arah penyalurannya sangat jelas: dari orang kaya untuk mengentaskan kesulitan ekonomi orang miskin dalam masyarakat. 3. Ijma’ Ulama: Fakir dan Miskin Paling Berhak Keempat mazhab fikih besar sepakat bahwa fakir dan miskin harus menjadi prioritas utama. Mazhab Hanafi Imam Abu Hanifah memandang fakir sebagai golongan yang paling membutuhkan karena mereka tidak memiliki harta ataupun penghasilan yang mencukupi kebutuhan dasar. Mazhab Maliki Dalam Al-Mudawwanah, Imam Malik menegaskan bahwa zakat lebih utama diberikan kepada fakir dan miskin karena ia adalah bantuan untuk menyambung keberlangsungan hidup mereka. Mazhab Syafi’i Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm menegaskan: “Hak yang terbesar dari zakat adalah bagi fakir dan miskin.” Mazhab Hanbali Imam Ahmad menekankan bahwa tujuan zakat adalah menghilangkan kesulitan ekonomi, sehingga fakir miskin harus menjadi perhatian pertama. 4. Mengapa Mereka Diprioritaskan? (Analisis Syar‘i) Ada beberapa alasan mendasar: a. Pemenuhan kebutuhan dasar (dharuriyyat) Fakir dan miskin berada dalam kondisi paling rentan sehingga membutuhkan perhatian paling mendesak. b. Menjaga martabat manusia Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa zakat menjaga manusia dari kehinaan meminta-minta dan mengangkat martabat sosial mereka. c. Mengurangi kesenjangan sosial Zakat berfungsi sebagai instrument redistribusi kekayaan agar jurang kaya dan miskin tidak semakin melebar. d. Zakat bersifat pemberdayaan Ibn Taymiyyah mengajarkan bahwa zakat harus diberikan hingga seseorang keluar dari kemiskinan, bukan sekadar bantuan sesaat. Kesimpulan Asnaf fakir dan miskin menjadi prioritas utama zakat karena nash Al-Qur’an menempatkan mereka pada urutan pertama, hadis Nabi SAW menegaskan bahwa zakat harus kembali kepada kaum miskin, serta ijma’ ulama yang sepakat bahwa keduanya adalah penerima paling berhak. Selain itu, maqashid syariah menunjukkan bahwa zakat harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar, menjaga martabat, dan memberdayakan kelompok paling rentan agar keluar dari lingkaran kemiskinan. Dengan memprioritaskan fakir dan miskin, tujuan sosial-ekonomi zakat dapat tercapai secara optimal.
ARTIKEL01/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Siapa Itu Mustahik? Memahami Kedudukannya dalam Islam
Siapa Itu Mustahik? Memahami Kedudukannya dalam Islam
Memahami Mustahik dan Kedudukannya dalam Islam Secara Komprehensif Artikel ini mengulas pengertian mustahik, delapan kategori penerima zakat menurut Islam, dalil Al-Qur’an, hadits, serta pandangan ulama terkait hak mustahik dalam sistem sosial Islam. Zakat adalah salah satu instrumen sosial dan spiritual dalam Islam yang memiliki dampak besar bagi kesejahteraan umat. Ia tidak sekadar kewajiban ibadah, tetapi sistem penyelamat bagi yang membutuhkan. Di balik kewajiban tersebut, terdapat dua pihak utama: muzaki sebagai pemberi zakat, dan mustahik sebagai penerima zakat. Tanpa adanya mustahik, sistem zakat tidak akan berjalan sesuai tujuan syariat. Karena itu, memahami siapa mustahik adalah langkah penting agar zakat tidak salah sasaran dan tidak menimbulkan ketidakadilan. Pengertian Mustahik Menurut Islam Secara bahasa, mustahik berasal dari kata Arab “istihqaq” yang berarti berhak menerima. Dalam konteks zakat, mustahik adalah golongan yang memiliki hak mendapatkan zakat berdasarkan ketentuan Al-Qur’an dan sunnah. Hak ini bukan hasil belas kasihan, melainkan ketentuan hukum syariat berdasarkan kebutuhan dan kondisi sosial. Islam telah memberikan dasar hukum yang jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para muallaf yang dipujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan. Itulah ketetapan yang ditentukan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Ayat ini tidak hanya menyebutkan mustahik secara naratif, tetapi memberikan kategori sistematis agar zakat tepat diberikan kepada golongan yang benar-benar membutuhkan. Delapan Golongan Mustahik (Asnaf) Para ulama sepakat bahwa ayat ini menjadi landasan paling kuat dalam menentukan siapa yang berhak menerima zakat. Fakir Golongan yang hampir tidak memiliki penghasilan atau sumber daya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka hidup pada tingkat kekurangan yang paling parah, sehingga kebutuhan primer seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal tidak tercukupi. Miskin Mereka yang memiliki pekerjaan atau pendapatan, namun tidak mencapai standar kecukupan. Misalnya buruh harian yang hanya bekerja beberapa hari dalam seminggu atau pedagang kecil dengan pemasukan terbatas. Dalam praktik sosial, miskin sering tampak lebih baik dari fakir, tetapi masih dalam kondisi tidak sejahtera. Amil Zakat Golongan petugas yang mengelola zakat, mulai dari administrasi, pendataan, hingga distribusi. Mereka menerima bagian zakat bukan karena kemiskinan, tetapi karena menjalankan tugas yang melelahkan secara fisik maupun administratif. Muallaf Orang yang baru masuk Islam atau pihak yang hatinya ingin ditenangkan. Tujuannya bukan membeli keimanan, tetapi menjaga kestabilan sosial dan keberlangsungan dakwah. Dalam sejarah Nabi, pemberian zakat kepada muallaf berhasil meredam konflik suku dan menumbuhkan harmoni. Riqab Golongan budak yang ingin menebus kebebasan dirinya. Meski praktik perbudakan telah berakhir, ulama kontemporer menafsirkan kategori ini sebagai pembebasan manusia dari belenggu penindasan, seperti rehabilitasi korban perdagangan manusia, pembebasan dari jeratan sosial, hingga reintegrasi narapidana yang bertaubat. Gharimin Orang yang memiliki hutang karena kebutuhan mendesak atau maslahat umum. Hutang yang lahir dari kesalahan moral seperti berjudi tidak termasuk. Islam mengutamakan meringankan beban mereka agar tidak jatuh ke lingkaran kemiskinan permanen. Fi Sabilillah Orang yang berjuang di jalan Allah. Pada masa Nabi identik dengan jihad fisik, namun ulama modern memasukkan perjuangan pendidikan, dakwah, pengembangan masyarakat, hingga pembangunan fasilitas sosial yang meningkatkan kesejahteraan umat. Ibnu Sabil Musafir yang kehabisan bekal dalam perjalanan. Mereka mungkin mampu di kampung halaman, tetapi mengalami kesulitan sementara yang menghalangi keselamatan atau kepulangan. Hadits tentang Mustahik Rasulullah ? menegaskan bahwa zakat adalah hak kelompok tertentu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Daud dan Hakim: “Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan sedekah (zakat) kecuali untuk delapan golongan tertentu. Maka tidak halal bagi seorang yang kaya, atau yang kuat dan mampu bekerja, untuk mengambil zakat.” Hadits ini memberikan batasan etika sosial: zakat bukan instrumen untuk memanjakan orang malas atau memperkaya pihak yang sudah sejahtera. Pandangan Para Ulama Ulama bersepakat bahwa mustahik adalah penerima zakat yang memiliki landasan hukum yang tidak boleh dilanggar. Imam Al-Qurtubi menegaskan bahwa pembagian delapan golongan bersifat ta’abbudi atau ritual yang tidak boleh diubah seenaknya. Menurut beliau, manusia tidak berhak mengganti syariat dengan rasionalitas pribadi. Ibn Kathir menyoroti penggunaan kata innama dalam QS. At-Taubah: 60 sebagai penanda pembatasan yang kuat. Ia menegaskan bahwa zakat hanya valid jika diberikan kepada asnaf, dan jika dialihkan ke pihak lain, maka hukum zakat tidak sah. Imam Syafi’i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa zakat adalah hak mustahik, bukan sedekah sukarela. Memberikan zakat kepada seseorang yang tidak memenuhi kriteria sama dengan merampas hak mustahik. Mustahik dalam Realitas Sosial Modern Kemiskinan hari ini tidak sekadar berarti tidak memiliki makanan. Ada bentuk-bentuk kerentanan baru yang memerlukan analisis lebih dalam: keluarga buruh harian yang penghasilannya tidak stabil, pekerja informal, orang yang kehilangan pekerjaan karena sakit, ibu rumah tangga tanpa akses daya dukung, hingga mahasiswa yang terlantar. Karena itu, lembaga zakat seperti BAZNAS melakukan verifikasi lapangan, penilaian ekonomi keluarga, hingga kajian sosial. Pendekatan profesional memastikan zakat tidak jatuh kepada mereka yang tidak layak, sementara mustahik sejati tidak terabaikan. Penutup Mustahik adalah pihak yang memiliki hak syariat menerima zakat. Mereka bukan sekadar objek bantuan, tetapi komponen penting dalam sistem sosial Islam. Dengan memahami mustahik secara benar—berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan pandangan ulama—kita dapat memastikan bahwa zakat menjadi jembatan keadilan sosial, mengurangi kesenjangan, serta membangun masyarakat yang seimbang secara ekonomi dan spiritual. Setiap amal akan kembali kepada pemiliknya. Jika engkau memberi karena Allah, maka Allah yang akan membalasmu. Jika engkau memberi karena manusia, maka manusia-lah yang menjadi “ganjaranmu”—dan itu tidak sebanding dengan pahala Allah.
ARTIKEL01/12/2025 | indri irmayanti
Dari Dinding Rapuh ke Harapan Baru: Dampak Program Bantuan Rumah Layak Huni BAZNAS
Dari Dinding Rapuh ke Harapan Baru: Dampak Program Bantuan Rumah Layak Huni BAZNAS
Program Rumah Layak Huni BAZNAS (RLHB) BAZNAS Kota Sukabumi merupakan bentuk kepedulian nyata bagi keluarga miskin yang tinggal di hunian tidak layak. Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi upaya memulihkan martabat manusia dan memberikan harapan baru. Rumah adalah tempat aman untuk kembali, membina keluarga, dan melindungi dari cuaca. Namun, ribuan keluarga di Sukabumi masih tinggal di rumah rapuh—atap bocor, dinding berlubang, ventilasi buruk, dan sanitasi yang tidak layak. RLHB hadir untuk memperbaiki kondisi ini, sekaligus memberi dorongan psikologis dan sosial bagi penerimanya. Mengapa Rumah Layak Penting? Kesehatan: Rumah yang lembap dan tidak berventilasi menjadi sumber penyakit. Anak-anak yang tidur di lantai tanah rawan diare, infeksi kulit, atau batuk. Dinding berjamur memicu asma, dan atap bocor meningkatkan kelembapan. Renovasi RLHB menurunkan risiko penyakit, mengurangi biaya pengobatan, dan meningkatkan kualitas hidup. Psikologis: Banyak kepala keluarga merasa malu dan rendah diri karena kondisi rumah. Dengan RLHB, rasa malu berubah menjadi percaya diri. Anak-anak tidak lagi takut mengundang teman, dan orang tua berani memulai usaha dari rumah. Sosial: Rumah layak meningkatkan integrasi sosial. Warga lebih percaya diri berinteraksi dengan tetangga, ikut kegiatan RT/RW, dan menghapus stigma “miskin.” Dampak Nyata RLHB Kesehatan Keluarga: Ruangan yang berventilasi baik dan bersih membuat anak-anak tidur lebih nyenyak dan jarang sakit. Pendidikan: Anak memiliki ruang belajar stabil, lebih fokus, dan jarang absen sekolah. Kemandirian Ekonomi: Banyak penerima RLHB membuka usaha kecil atau jasa rumahan. Material lokal yang digunakan juga menggerakkan ekonomi desa. Solidaritas Sosial: Pembangunan rumah sering melibatkan gotong royong, memperkuat ikatan komunitas. Kriteria Mustahik RLHB Fakir dan Miskin: Kepala keluarga berpenghasilan rendah atau tidak tetap. Kondisi Rumah Tidak Layak: Atap bocor, dinding lapuk, lantai retak, ventilasi buruk, atau tidak ada jamban. Kelompok Rentan: Lansia, perempuan kepala keluarga, anak berisiko kesehatan, penyandang disabilitas, yatim/piatu. Tidak Sedang Menerima Bantuan Lain: Belum pernah menerima program rumah lain. Komitmen Pemeliharaan: Bersedia merawat rumah dan tidak menjualnya. Kisah di Balik Pintu Rumah Seorang ibu di pesisir menceritakan bagaimana sebelum RLHB, rumah kayunya bocor saat hujan, anak-anak sering sakit, dan malamnya selalu memindahkan kasur agar tetap kering. Setelah renovasi, rumah aman, anak-anak sehat, dan ibu itu mulai membuka usaha sembako dari rumah. Seorang lansia yang tinggal sendiri di rumah bambu reyot menangis ketika menerima RLHB. Bagi dia, bantuan ini bukan hanya material, tetapi bukti kepedulian masyarakat terhadap hidupnya. Rumah baru memberinya rasa aman dan martabat. Kesimpulan Program Rumah Layak Huni BAZNAS Kota Sukabumi bukan sekadar perbaikan fisik. Ia membangun kesehatan, rasa percaya diri, integrasi sosial, dan harapan masa depan. Rumah layak bukan hadiah, melainkan hak dasar manusia. Ketika satu rumah diperbaiki, masa depan satu keluarga turut dibangun. Dari dinding rapuh, lahir harapan baru. Dari harapan itu, lahir kehidupan yang lebih bermartabat.
ARTIKEL27/11/2025 | indri irmayanti
Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan
Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan
Pendidikan adalah fondasi penting yang menentukan masa depan suatu bangsa. Namun, tidak semua pelajar memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan yang layak. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas, tunggakan biaya sekolah, serta kebutuhan perlengkapan belajar sering kali menjadi hambatan yang membuat siswa terancam putus sekolah. Untuk menjawab persoalan tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi hadir melalui program Bantuan Pendidikan yang bertujuan meringankan beban para pelajar kurang mampu. 1. Pentingnya Dukungan Pendidikan bagi Masyarakat Dalam Islam, pendidikan memiliki kedudukan sangat tinggi. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Ayat tersebut menegaskan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan adalah bagian dari upaya memajukan kehidupan umat. Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa bantuan pendidikan dapat menekan angka putus sekolah dan meningkatkan kesejahteraan keluarga miskin. Dengan demikian, program bantuan pendidikan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai langkah strategis bagi pembangunan sumber daya manusia. 2. Komitmen BAZNAS Kota Sukabumi dalam Bidang Pendidikan Sebagai lembaga resmi yang mengelola zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Sukabumi memiliki komitmen kuat untuk memastikan bahwa pelajar dari keluarga kurang mampu tetap dapat melanjutkan pendidikan. Program ini difokuskan pada bentuk bantuan yang langsung menyelesaikan hambatan biaya, baik untuk siswa SD–SMA maupun mahasiswa perguruan tinggi. 3. Rincian Bantuan Pendidikan A. Tingkat SD hingga SMA/SMK Bantuan diberikan kepada siswa yatim, dhuafa, dan keluarga berpenghasilan rendah yang mengalami kendala biaya pendidikan. 1. Pelunasan Tunggakan Sekolah BAZNAS Kota Sukabumi membantu melunasi tunggakan biaya sekolah sehingga siswa tidak lagi berisiko: Tertahan mengikuti ujian Tidak naik kelas Putus sekolah akibat ketidakmampuan membayar 2. Bantuan Perlengkapan Sekolah Selain pelunasan biaya, siswa juga dapat menerima bantuan berupa: Seragam sekolah Sepatu Buku paket Alat tulis Bantuan ini biasanya sangat dibutuhkan menjelang tahun ajaran baru. B. Tingkat Perguruan Tinggi BAZNAS Kota Sukabumi juga memberikan bantuan bagi mahasiswa kurang mampu, khususnya yang memiliki tunggakan kuliah. 1. Bantuan Tunggakan SPP/UKT (Stimulan) Bantuan ini bersifat stimulan, artinya diberikan sekali sesuai kebutuhan dan tidak berkelanjutan setiap semester. Tujuannya untuk: Mencegah mahasiswa dinyatakan nonaktif Membantu mahasiswa tingkat akhir menyelesaikan studi Mengurangi beban keluarga dalam pembiayaan kuliah 4. Landasan Syariah dalam Penyaluran Bantuan Program pendidikan ini berlandaskan syariah, terutama pada kewajiban menyalurkan zakat kepada fakir dan miskin sebagaimana tercantum dalam QS. At-Taubah ayat 60. Selain itu, Rasulullah ? bersabda: “Barang siapa memudahkan kesulitan seorang mukmin di dunia, Allah akan memudahkan kesulitannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim) Membantu anak didik yang kesulitan biaya merupakan wujud nyata dari ajaran tersebut. 5. Dampak Positif Program Program Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi membawa banyak manfaat, antara lain: Mengurangi risiko putus sekolah Meningkatkan semangat belajar dan kepercayaan diri Membantu membentuk generasi berpendidikan dan berdaya saing Menguatkan fungsi zakat dalam pemberdayaan masyarakat Kesimpulan Program Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi menjadi solusi nyata bagi pelajar dari keluarga kurang mampu. Dengan membantu melunasi tunggakan sekolah dan SPP/UKT, program ini memastikan setiap pelajar tetap memiliki hak untuk belajar dan meraih masa depan yang lebih baik. Mari dukung masa depan generasi Sukabumi. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Satu langkah kecil dari Anda dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL27/11/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Hidup yang Lebih Tenang Dimulai dari Kata “Cukup”
Hidup yang Lebih Tenang Dimulai dari Kata “Cukup”
Di tengah derasnya arus informasi dan gaya hidup modern, manusia semakin sulit merasa cukup. Kita melihat kehidupan orang lain, rumah lebih besar, pekerjaan lebih mapan, liburan lebih mewah, dan tanpa sadar kita merasa kurang. Padahal, ketenangan hidup sering kali bukan berasal dari banyaknya harta, melainkan dari kemampuan hati menerima apa yang Allah berikan. Dalam Islam, sifat ini disebut qana’ah—merasa puas dengan rezeki yang halal dan tidak terlalu bergantung pada dunia. Allah ? mengajarkan bahwa syukur adalah kunci ketenangan. “Dan sungguh, jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7) Ayat ini menegaskan bahwa cukup bukan sekadar menerima apa adanya, tetapi bersyukur atas karunia Allah. Syukur menumbuhkan rasa damai, sedangkan keluh-kesah menumbuhkan keresahan. Sebaliknya, Allah memperingatkan bahaya mengejar dunia tanpa batas: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1–2) Keinginan yang tak terkontrol akan menjerumuskan manusia dalam perlombaan memuakkan: ingin lebih kaya, lebih terkenal, lebih dihormati. Pada akhirnya, seseorang hanya berhenti ketika kematian datang. Rasulullah ? dengan jelas menjelaskan hakikat kekayaan: “Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari & Muslim) Kekayaan sejati ada di dalam hati yang sadar bahwa yang dimiliki sudah cukup. Tanpa rasa ini, seseorang bisa saja memiliki rumah besar dan kendaraan mewah, namun tetap gelisah. Sebaliknya, orang sederhana yang merasa cukup dapat hidup tenang. Nabi ? juga bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang secukupnya, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan.” (HR. Muslim) Hadits ini menyebut tiga lapis kebahagiaan: iman, rezeki halal, dan hati yang ridha. Banyak orang memiliki rezeki tetapi tidak memiliki ketenangan, karena mereka kehilangan lapisan ketiga—qana’ah. Para ulama menegaskan pentingnya sifat merasa cukup. Imam al-Ghazali menyatakan bahwa qana’ah adalah benteng hati dari kerakusan. Ia bukan berarti berhenti berusaha, tetapi menghentikan keinginan yang tidak perlu. Ibn Rajab al-Hanbali mengingatkan, “Barang siapa tidak puas dengan yang halal, ia akan mengejar yang haram.” Rasa tidak cukup sering membuat orang berhutang berlebihan, menipu, atau mengorbankan martabat demi gengsi. Untuk mendapatkan ketenangan, ada beberapa langkah praktis: Pertama, syukuri hal kecil. Terkadang kita sibuk mengejar hal besar hingga lupa bahwa bisa bernapas, tidur nyaman, atau makan bersama keluarga adalah kenikmatan luar biasa. Kedua, batasi perbandingan. Media sosial membuat kita membandingkan hidup dengan highlight hidup orang lain. Padahal kita tidak tahu perjuangan dan luka di baliknya. Ketiga, hidup sesuai kebutuhan. Beli apa yang diperlukan, bukan yang hanya ingin dipamerkan. Kesederhanaan menjauhkan dari stres finansial. Keempat, banyak memberi. Sedekah membuat hati merasa cukup. Orang yang berbagi sadar bahwa dirinya masih mampu memberi, bukan sekadar menerima. Terakhir, berdoa. Salah satu doa yang diajarkan Nabi ?: “Ya Allah, cukupkanlah aku dengan apa yang Engkau halalkan daripada apa yang Engkau haramkan, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.” Doa ini menumbuhkan keridhaan dan menutup pintu kerakusan.
ARTIKEL26/11/2025 | indri irmayanti
Bukan Kurang Bahagia, Mungkin Kamu Lupa Satu Hal yang Islam Ajarkan
Bukan Kurang Bahagia, Mungkin Kamu Lupa Satu Hal yang Islam Ajarkan
Di era modern yang penuh kemudahan, teknologi, dan kelimpahan informasi, banyak orang justru merasa gelisah dan tidak bahagia. Mereka mengejar berbagai pencapaian duniawi, berharap kebahagiaan datang dari materi, perhatian manusia, atau validasi sosial. Padahal, Islam telah mengajarkan sejak ribuan tahun yang lalu bahwa kebahagiaan sejati tidak bersumber dari luar diri, melainkan dari dalam hati yang hidup dengan mengingat Allah (dzikrullah). 1. Hati yang Tenteram adalah Kunci Kebahagiaan Allah SWT menyebutkan dengan sangat jelas bahwa ketenangan jiwa (thuma’ninah) lahir dari dzikrullah dalam QS. Ar-Ra’d: 28 Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa tak ada sesuatu pun yang mampu benar-benar menenangkan hati manusia selain ingat kepada Allah. Imam Al-Qurthubi menambahkan bahwa ketenangan dalam ayat ini adalah ketenangan hakiki yang menghidupkan hati dan menghadirkan rasa bahagia batin. Inilah sebabnya, meskipun seseorang memiliki segalanya, hatinya tetap bisa merasa kosong—karena ia lupa menyambungkan hatinya kepada Penciptanya. 2. Rasulullah SAW Menegaskan bahwa Hati Adalah Sumber Segala Kebaikan Rasulullah SAW bersabda: "Ketahuilah, dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim) Imam Ibn Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa kualitas kebahagiaan seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Hati yang hidup oleh iman, dzikir, dan syukur akan merasakan ketenangan meski hidup sedang berat. Sebaliknya, hati yang lalai akan merasa gelisah meski dikelilingi banyak kenikmatan. 3. Kurang Syukur, Sumber Gelisah yang Tak Disadari Menurut Imam Asy-Syaukani, tambahan nikmat di ayat ini bukan hanya materi, melainkan juga ketenangan batin dan kebahagiaan. Ketika seseorang lupa bersyukur, fokusnya tertuju pada kekurangan, bukan karunia yang sudah ia miliki. Akibatnya, hatinya sulit merasakan cukup. 4. Kurang Tawakkal: Memikul Beban yang Seharusnya Milik Allah Banyak kegelisahan muncul karena kita ingin mengendalikan segalanya. Allah menegaskan dalam QS. At-Talaq: 3 Ibn ‘Atha’illah berkata dalam Al-Hikam: "Istirahatkan dirimu dari rencana-rencanamu, karena apa yang Allah lakukan untukmu lebih baik dari apa yang engkau rencanakan sendiri." Tawakkal membebaskan hati dari kecemasan dan membuat jiwa lebih ringan. 5. Dunia Memang Tempat Ujian Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa manusia memang diciptakan untuk menghadapi kesulitan. Karena itu, kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi hati yang mampu menerima takdir dengan sabar dan ridha. Kesimpulan Rasa gelisah, hampa, atau tidak bahagia sebenarnya sering berasal dari hati yang jauh dari Allah. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada dunia, melainkan pada hati yang hidup: hati yang berdzikir, bersyukur, bertawakkal, dan terhubung dengan Allah melalui ibadah. Ketika hati kembali kepada-Nya, ketenangan pun datang dengan sendirinya.
ARTIKEL26/11/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →