Artikel Terbaru
Di Balik Zakat yang Kita Berikan, Ada Kehidupan yang Sedang Diperjuangkan
Di Balik Zakat yang Kita Berikan, Ada Kehidupan yang Sedang Diperjuangkan
Zakat bukan sekedar kewajiban, tetapi ikhtiar untuk membantu kehidupan mustahik. Mari salurkan zakat dan dukung perjuangan ekonomi mereka menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Ada sesuatu yang sering kali tidak terlihat di balik zakat yang kita tunaikan.
Dibalik nominal yang kita keluarkan, ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada orang tua yang ingin memastikan anaknya tetap sekolah. Ada usaha pelaku kecil yang berusaha mempertahankan penghasilannya. Ada seseorang yang ingin bangkit dari keterbatasan dan kembali menjadi pribadi yang mandiri.
Zakat bukan hanya tentang memberikan sebagian harta. Zakat adalah tentang menghadirkan harapan.
Ketika zakat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang berhak, manfaatnya dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang untuk keluar dari kesulitan ekonomi.
Zakat Adalah Jalan untuk Menguatkan Kehidupan
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah : 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Zakat membersihkan harta dan jiwa orang yang menunaikannya, sekaligus menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Dalam konteks ekonomi, zakat dapat menjadi energi untuk memperkuat kehidupan masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.
Dari Bantuan Menjadi Kemandirian
Bayangkan ketika zakat tidak berhenti pada bantuan untuk kebutuhan hari ini.
Zakat dapat diarahkan untuk mendukung pemberdayaan ekonomi: membantu modal usaha kecil, menyediakan perlengkapan kerja, meningkatkan keterampilan, atau mendampingi keluarga agar memiliki sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan.
Inilah mengapa zakat ekonomi memiliki makna yang begitu penting.
Satu dukungan mungkin terlihat sederhana bagi kita. Namun bagi penerima manfaat, dukungan tersebut bisa menjadi modal untuk memulai kembali.
Ada Mereka yang Berjuang Tanpa Banyak Bercerita
Tidak semua orang yang membutuhkan bantuan datang mengetuk pintu dan meminta.
Sebagian memilih diam. Mereka tetap bekerja, tetap berusaha, dan tetap menjaga harga diri meski penghasilan belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Rasulullah SAW mengingatkan tentang kondisi orang miskin yang terkadang tidak terlihat oleh banyak orang.
“Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia lalu ditolak dengan satu atau dua suap makanan atau satu atau dua buah kurma.”
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ada orang yang berada dalam kesulitan tetapi tidak meminta kepada manusia. (HR.Muslim no.1039a)
Karena Itu, Kepedulian Kita Sangat Berarti
Mereka mungkin tidak selalu terlihat.
Namun kebutuhan mereka nyata.
Kebutuhan makan, biaya pendidikan, tempat tinggal, modal usaha, perlengkapan bekerja, hingga kebutuhan keluarga lainnya tetap harus dipenuhi.
Ditemukannya jembatan zakat menjadi antara mereka yang memiliki kemampuan dengan mereka yang sedang membutuhkan pertolongan.
Zakat untuk Menggerakkan Ekonomi Mustahik
Zakat mempunyai tujuan yang lebih luas daripada sekedar meringankan beban sesaat.
Ketika disalurkan secara tepat dan dikelola melalui program pemberdayaan, zakat dapat membantu mustahik membangun kembali kekuatan ekonominya.
Membantu Mereka Kembali Produktif
Dukungan zakat dapat menjadi awal bagi seseorang untuk kembali bekerja dan menghasilkan.
Seorang pedagang kecil dapat memperoleh modal tambahan. Seorang pekerja dapat memiliki perlengkapan untuk bekerja. Sebuah keluarga dapat memperoleh kesempatan mengembangkan usaha rumahan.
Pada akhirnya, yang diperjuangkan bukan hanya terpenuhinya kebutuhan hari ini, tetapi juga terbukanya peluang untuk memiliki kehidupan yang lebih mandiri.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“...beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari no. 1496)
Hadis ini menampilkan fungsi zakat sosial: adanya aliran kepedulian dari orang-orang yang memiliki kemampuan kepada mereka yang membutuhkan.
Saatnya Zakat Kita Menjadi Bagian dari Perjuangan
Mungkin bagi kita, zakat adalah sebagian dari harta yang ditunaikan.
Namun bagi seseorang yang sedang berjuang, zakat bisa berarti jauh lebih besar.
Bisa berarti dapur yang kembali mengepul.
Bisa berarti modal untuk membuka usaha.
Bisa berarti perlengkapan untuk kembali bekerja.
Bisa berarti biaya pendidikan seorang anak.
Dan bisa menjadi awal dari sebuah keluarga untuk kembali berdiri dengan lebih kuat.
Mari Hadirkan Manfaat yang Lebih Panjang
Jangan biarkan zakat hanya menjadi angka yang selesai setelah ditunaikan.
Mari jadikan zakat sebagai bagian dari perubahan.
Salurkan zakat melalui lembaga amil zakat yang amanah dan terpercaya agar manfaatnya dapat diterima oleh mereka yang bermanfaat sekaligus mendukung program pemberdayaan ekonomi yang tepat sasaran.
Satu Zakat, Banyak Harapan
Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil ketika dilakukan dengan ikhlas.
Hari ini, mungkin kita sedang membantu seseorang.
Yakinlah, bisa jadi orang tersebut mampu membantu keluarganya.
Dan suatu hari nanti, mereka yang pernah menerima manfaat zakat mungkin dapat menjadi orang yang menunaikan zakat dan membantu sesamanya.
Inilah yang sedang diperjuangkan di balik zakat yang kami berikan.
Mari tunaikan zakat.
Mari tegaskan perekonomian mereka yang membutuhkan.
Mari membantu mereka bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk bangkit dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena dibalik zakat yang kita berikan, ada kehidupan yang sedang diperjuangkan.
Salurkan zakat Anda hari ini dan jadikan harta yang dititipkan Allah sebagai jalan hadirnya harapan bagi sesama.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Ada Satu Hal yang Sering Dilupakan Setelah Kita Mendapat Rezeki...
Mendapat rezeki tentu menjadi kabar yang membahagiakan. Gaji bertambah, usaha mulai berkembang, pesanan semakin ramai, atau tiba-tiba mendapatkan peluang yang tidak pernah disangka. Biasanya, kita langsung memikirkan apa yang ingin dibeli, rumah apa yang ingin diperbaiki, atau kebutuhan apa yang selama ini tertunda.
Namun, ada satu hal yang sering dilupakan setelah kita mendapat rezeki: bersyukur dengan cara berbagi.
Padahal, rezeki bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam rekening. Rezeki juga merupakan amanah. Di dalamnya ada hak orang lain yang membutuhkan, ada kesempatan untuk membantu, dan ada peluang untuk menjadikan harta lebih bernilai di hadapan Allah.
Rezeki Bertambah, Jangan Sampai Syukur Berkurang
Allah SWT mengingatkan bahwa syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah. Syukur juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat untuk kebaikan.
Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat berat.’”
QS. Ibrahim: 7
Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Allah.
Jangan Hanya Menikmati, Tapi Juga Berbagi
Ketika rezeki bertambah, mungkin kita bisa membeli sesuatu yang lebih baik. Tetapi ada kebahagiaan lain yang nilainya jauh lebih besar: melihat orang lain tersenyum karena sebagian rezeki kita.
Bisa jadi bagi kita, Rp50.000 hanyalah sebagian kecil dari penghasilan. Namun bagi seorang anak yatim, keluarga prasejahtera, lansia, atau seseorang yang sedang menghadapi kesulitan, jumlah tersebut bisa berarti makan hari ini, biaya sekolah, atau kebutuhan yang sangat mendesak.
Di situlah sedekah menjadi istimewa.
Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah, “Kalau terlalu banyak bersedekah, nanti harta saya berkurang.”
Islam justru mengajarkan keyakinan yang berbeda.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.”
HR. Muslim No. 2588
Sedekah bukan sekadar mengeluarkan uang. Ia adalah bentuk kepercayaan kepada Allah bahwa apa yang diberikan di jalan kebaikan tidak akan sia-sia.
Saat Rezeki Datang, Ingat Mereka yang Sedang Membutuhkan
Tidak Semua Orang Mendapat Rezeki yang Sama
Hari ini mungkin kita sedang berada dalam keadaan berkecukupan. Kita bisa makan dengan nyaman, membayar kebutuhan keluarga, dan menikmati hasil kerja keras.
Tetapi di luar sana, masih ada saudara kita yang harus memilih antara membayar kebutuhan pendidikan atau membeli makanan.
Ada anak-anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan pangan. Ada lansia yang hidup seorang diri. Ada masyarakat yang membutuhkan dukungan agar dapat kembali mandiri.
Rezeki yang kita miliki bisa menjadi jalan hadirnya harapan bagi mereka.
Berbagi Adalah Cara Mengubah Rezeki Menjadi Manfaat
Harta yang kita simpan mungkin hanya memberi manfaat kepada diri sendiri.
Tetapi harta yang kita salurkan melalui zakat, infak, dan sedekah dapat berubah menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan.
Inilah mengapa setelah mendapatkan rezeki, jangan hanya bertanya:
“Apa yang bisa saya beli?”
Sesekali tanyakan juga:
“Siapa yang bisa saya bahagiakan dengan rezeki ini?”
Jangan Tunggu Kaya untuk Bersedekah
Sering kali kita berpikir akan bersedekah ketika sudah memiliki banyak uang.
Padahal, kebaikan tidak harus menunggu kaya.
Sedekah dapat dimulai dari nominal yang sederhana, dilakukan secara rutin dan ikhlas. Yang terpenting bukan hanya jumlahnya, tetapi ketulusan dan kebermanfaatannya.
Allah telah memberikan kita rezeki dengan bentuk yang berbeda-beda. Maka, sudah selayaknya sebagian dari rezeki tersebut kita kembalikan dalam bentuk kebaikan.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Saat Kesehatan Menjadi Kemewahan: BAZNAS dan Perjuangan Membantu Masyarakat yang Membutuhkan
Saat Kesehatan Menjadi Kemewahan: BAZNAS dan Perjuangan Membantu Masyarakat yang Membutuhkan
Saat kesehatan menjadi kemewahan bagi masyarakat kurang mampu, zakat dan kepedulian dapat menjadi jalan hadirnya layanan kesehatan. Dukung perjuangan BAZNAS membantu mereka yang membutuhkan.
Kesehatan seharusnya menjadi hak yang dapat diperjuangkan oleh setiap manusia. Namun bagi sebagian keluarga, mendapatkan layanan kesehatan yang layak masih terasa seperti sebuah kemewahan.
Ketika sakit datang, persoalannya bukan hanya rasa sakit yang harus ditanggung. Ada biaya pemeriksaan, obat-obatan, transportasi, hingga kebutuhan keluarga yang tetap berjalan meski penghasilan harus terhenti.
Di tengah kondisi tersebut, zakat dan kepedulian kita dapat menjadi jalan untuk menghadirkan harapan.
Melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan, BAZNAS berupaya menghadirkan manfaat zakat bagi masyarakat yang membutuhkan, termasuk mereka yang menghadapi keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.
Ketika Sakit Menjadi Beban yang Berlapis
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, satu masalah kesehatan dapat memberikan dampak yang panjang.
Seorang pencari nafkah yang jatuh sakit mungkin tidak dapat bekerja. Ketika tidak bekerja, penghasilan berkurang. Di saat yang sama, kebutuhan untuk berobat tetap harus dipenuhi.
Ada yang Harus Memilih antara Berobat dan Bertahan Hidup
Bayangkan seorang ibu yang harus membawa anaknya berobat, tetapi uang yang tersedia juga dibutuhkan untuk membeli kebutuhan pokok.
Atau seorang pekerja harian yang harus memilih antara pergi bekerja atau menjalani pemeriksaan karena khawatir kehilangan penghasilan.
Bagi mereka, kesehatan bukan sekadar persoalan medis. Kesehatan berkaitan erat dengan kemampuan sebuah keluarga untuk bertahan dan menjalani kehidupan dengan layak.
Karena itu, membantu seseorang mendapatkan akses kesehatan bukan hanya meringankan rasa sakit, tetapi juga membantu menjaga keberlangsungan hidup keluarganya.
Islam Mengajarkan Kepedulian terhadap Sesama
Islam memberikan perhatian besar terhadap kehidupan manusia dan mengajarkan umatnya untuk saling menolong dalam kebaikan.
Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”(QS. Al-Ma'idah: 32)
Ayat ini mengingatkan kita tentang betapa berharganya kehidupan manusia. Sebuah pertolongan yang membantu seseorang mendapatkan perawatan, obat, atau akses kesehatan dapat menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Menolong yang Sedang Kesulitan Adalah Kebaikan
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang Muslim, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim)
Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa meringankan kesulitan orang lain merupakan amal yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Zakat Dapat Menjadi Jalan Hadirnya Harapan
Zakat bukan hanya tentang menunaikan kewajiban. Di dalamnya terdapat semangat kepedulian dan pemerataan manfaat.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60)
Melalui pengelolaan zakat yang amanah, dana umat dapat diarahkan kepada masyarakat yang memenuhi ketentuan sebagai penerima manfaat dan membutuhkan dukungan.
Dari Zakat, Tumbuh Kepedulian
Dukungan untuk kesehatan dapat menjadi bagian dari ikhtiar membantu masyarakat melewati masa sulit.
Satu bantuan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi penerima manfaat, bantuan tersebut dapat berarti kesempatan untuk memperoleh pemeriksaan, mendapatkan pengobatan, atau kembali menjalani aktivitas bersama keluarga.
Di sinilah zakat menjadi lebih dari sekadar angka.
Zakat menjadi bentuk kepedulian yang menyentuh kehidupan nyata.
Bersama BAZNAS, Hadirkan Harapan bagi Mereka
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menghadapi biaya kesehatan ketika musibah datang.
Namun kita memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam meringankan beban mereka.
Kepedulian Kita Bisa Menjadi Pertolongan Mereka
Ketika kita menunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat yang amanah, kita turut membuka peluang agar dana tersebut memberikan manfaat kepada mereka yang berhak.
Bukan hanya tentang berapa besar yang kita berikan.
Tetapi tentang seberapa besar harapan yang dapat tumbuh dari kebaikan tersebut.
Saatnya Zakat Menjadi Jalan Kebaikan
Hari ini, mungkin kesehatan adalah sesuatu yang kita nikmati tanpa banyak berpikir.
Namun bagi sebagian saudara kita, mendapatkan layanan kesehatan yang layak masih menjadi perjuangan.
Mari jangan biarkan mereka menghadapi perjuangan itu sendirian.
Tunaikan zakat Anda dan dukung perjuangan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Bersama BAZNAS, mari hadirkan kepedulian yang nyata. Bantu mereka mendapatkan kesempatan untuk berobat, memulihkan kesehatan, kembali bekerja, dan melanjutkan kehidupan bersama keluarga.
Karena ketika kesehatan menjadi kemewahan bagi sebagian orang, kebaikan kita dapat menjadi jalan untuk menghadirkan harapan.
Salurkan zakat Anda hari ini. Jadikan sebagian harta yang Allah titipkan sebagai manfaat bagi mereka yang sedang berjuang.
Satu zakat, satu kepedulian, dan satu harapan yang kita hadirkan bersama.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Jangan-Jangan Kita Bukan Generasi yang Kurang Peduli, Melainkan Generasi yang Terlalu Banyak Melihat
Jangan-Jangan Kita Bukan Generasi yang Kurang Peduli, Melainkan Generasi yang Terlalu Banyak Melihat
Setiap hari, kita melihat begitu banyak penderitaan melalui layar ponsel.
Pagi hari kita melihat berita tentang bencana. Siang hari muncul penggalangan dana untuk biaya pengobatan. Sore hari ada video keluarga yang kehilangan rumah. Malamnya, kita melihat kisah kemiskinan, kelaparan, anak yatim, hingga orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Kita melihat semuanya.
Kita mungkin terkejut. Kita merasa iba. Bahkan terkadang kita ikut membagikan informasi tersebut.
Tetapi setelah beberapa detik, kita scroll ke konten berikutnya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang mungkin tidak nyaman, jangan-jangan kita bukan generasi yang kurang peduli, melainkan generasi yang terlalu banyak melihat?
Ketika Penderitaan Menjadi Bagian dari Layar Sehari-hari
Dahulu, kita mungkin hanya mengetahui penderitaan orang lain ketika berita besar muncul di televisi atau ketika seseorang di sekitar kita mengalami musibah.
Sekarang berbeda.
Dalam satu hari, kita bisa menyaksikan puluhan bahkan ratusan cerita manusia yang sedang menghadapi kesulitan.
Teknologi membuat dunia terasa semakin dekat. Namun, kedekatan informasi ternyata tidak selalu menghasilkan kedekatan emosional.
Terlalu sering melihat penderitaan dapat membuat kita mengalami semacam kelelahan kepedulian. Bukan karena hati kita sepenuhnya menjadi dingin, tetapi karena otak kita terus-menerus menerima informasi yang menguras perhatian dan emosi.
Akibatnya, penderitaan yang seharusnya membuat kita berhenti justru menjadi sesuatu yang biasa.
Kita berkata, “Kasihan.”
Kemudian kita scroll.
Kita berkata, “Semoga segera mendapat bantuan.”
Lalu kita scroll lagi.
Masalahnya bukan lagi apakah kita tahu atau tidak.
Kita tahu. Tetapi apakah pengetahuan itu pernah berubah menjadi tindakan?
Apakah Rasa Peduli Harus Selalu Menunggu Kita Tersentuh?
Mungkin inilah yang perlu kita renungkan.
Kita tidak mungkin membantu semua orang yang muncul di layar. Penghasilan kita terbatas. Waktu kita terbatas. Kemampuan kita pun berbeda-beda.
Namun, keterbatasan bukan berarti kita tidak dapat melakukan apa pun.
Kemanusiaan tidak selalu membutuhkan tindakan luar biasa. Terkadang, ia membutuhkan kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Masalahnya, kita sering menunggu hati tersentuh terlebih dahulu untuk melakukan kebaikan.
Ketika melihat korban bencana, kita ingin berdonasi.
Ketika melihat anak yang kelaparan, kita ingin membantu.
Ketika melihat seseorang menangis karena kehilangan rumah, kita merasa ingin berbagi.
Tetapi ketika cerita itu sudah tidak muncul di beranda, dorongan tersebut ikut menghilang.
Kalau kebaikan selalu menunggu emosi, bagaimana kita bisa konsisten berbuat baik ketika tidak ada cerita yang sedang membuat kita tersentuh?
Kemanusiaan Tidak Boleh Bergantung pada Algoritma
Media sosial memang dapat menjadi alat yang luar biasa untuk menyebarkan kebaikan. Sebuah unggahan dapat mempertemukan orang yang membutuhkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk membantu.
Namun, jangan sampai algoritma justru menjadi penentu siapa yang pantas mendapatkan perhatian kita.
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuat kisah hidupnya viral.
Tidak semua penderitaan memiliki foto yang menyentuh.
Tidak semua keluarga yang membutuhkan bantuan mampu mengunggah cerita mereka.
Padahal, tidak terlihat bukan berarti tidak membutuhkan.
Di sinilah kemanusiaan seharusnya melampaui layar.
Kita perlu membangun kebiasaan untuk peduli bukan hanya ketika penderitaan hadir di depan mata, tetapi juga ketika kita menyadari bahwa di luar lingkaran kehidupan kita, ada banyak orang yang sedang berjuang.
Islam Mengajarkan Kebaikan yang Konsisten
Islam tidak mengajarkan manusia untuk berbuat baik hanya ketika melihat penderitaan secara langsung.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
Ayat tersebut memberikan gambaran bahwa satu kebaikan dapat berkembang menjadi manfaat yang jauh lebih besar.
Dalam Islam, berbagi bukan hanya reaksi terhadap keadaan, tetapi bagian dari kehidupan seorang Muslim.
Zakat memiliki sifat wajib bagi mereka yang telah memenuhi syarat. Sementara infak dan sedekah memberikan ruang bagi setiap orang untuk berbagi sesuai kemampuan.
Dengan menjadikan ZIS sebagai kebiasaan, kita tidak perlu menunggu sebuah kisah menjadi viral untuk mengingat bahwa ada orang lain yang membutuhkan.
Dari “Melihat” Menjadi “Melakukan”
Mungkin kita tidak mampu membantu semua orang.
Tetapi kita bisa mulai dengan mengubah satu hal sederhana, jangan biarkan rasa peduli berhenti menjadi perasaan.
Jika melihat penderitaan membuat kita tergerak, lakukan sesuatu sesuai kemampuan.
Jika memiliki rezeki lebih, sisihkan sebagian.
Jika belum mampu memberi banyak, berikan sesuai kemampuan.
Jika ingin memastikan bantuan dikelola dan disalurkan secara lebih terarah, kita dapat menyalurkannya melalui lembaga zakat.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah untuk turut menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Dengan begitu, kebaikan tidak hanya bergantung pada apa yang sedang muncul di layar kita.
Jangan Hanya Menjadi Penonton Kebaikan
Setiap hari kita mungkin akan terus melihat penderitaan melalui layar.
Bencana baru akan terjadi. Penggalangan dana baru akan muncul. Kisah kesulitan baru akan dibagikan.
Kita tidak mungkin menghentikan semua penderitaan itu.
Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita meresponsnya.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang mengetahui terlalu banyak, tetapi melakukan terlalu sedikit.
Mari ubah scroll menjadi aksi.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Karena kemanusiaan bukan tentang seberapa banyak penderitaan yang mampu kita lihat.
Kemanusiaan adalah tentang berapa banyak kebaikan yang bersedia kita lakukan setelah melihatnya.
Jangan tunggu hati tersentuh oleh cerita berikutnya. Jadikan berbagi sebagai kebiasaan, bukan sekadar reaksi.
ARTIKEL19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mungkin Masalahnya Bukan Kita Belum Punya Banyak Harta, Tapi Kita Belum Belajar Bertanggung Jawab atas Harta yang Sudah Ada
Mungkin Masalahnya Bukan Kita Belum Punya Banyak Harta, Tapi Kita Belum Belajar Bertanggung Jawab atas Harta yang Sudah Ada
Ketika Harta Selalu Terasa Belum Cukup
Setiap kali menerima gaji, keuntungan usaha, atau penghasilan tambahan, pertanyaan yang muncul biasanya sederhana berupa “uang ini mau digunakan untuk apa?”
Kita menghitung kebutuhan, membayar tagihan, menambah tabungan, membeli sesuatu yang diinginkan, atau menyisihkan sebagian untuk investasi. Semuanya terasa wajar karena harta tersebut diperoleh melalui kerja keras.
Namun, pernahkah kita bertanya, “apakah seluruh harta yang berada di tangan kita benar-benar hanya tentang kita?”
Pertanyaan ini bukan berarti Islam melarang seseorang memiliki harta. Islam mengakui hak manusia untuk bekerja, memiliki kekayaan, memenuhi kebutuhan, dan menikmati hasil usahanya.
Tetapi ada sesuatu yang sering terlupakan yakni kepemilikan juga membawa tanggung jawab.
Ketika Zakat Selalu Menunggu “Nanti Kalau Sudah Kaya”
Kita sering mendengar kalimat, “Nanti kalau sudah kaya, saya akan zakat.”
Seolah-olah zakat berada di garis akhir perjalanan finansial setelah tabungan banyak, kebutuhan terpenuhi, rumah terbeli, investasi berkembang, dan kehidupan dianggap mapan.
Padahal, zakat memang memiliki ketentuan tertentu. Tidak setiap orang otomatis wajib mengeluarkan zakat atas seluruh hartanya. Ada syarat seperti nisab dan haul untuk jenis harta tertentu.
Namun, kesadaran tentang tanggung jawab terhadap harta tidak harus menunggu seseorang menjadi kaya.
Justru, kebiasaan untuk berbagi dapat dibangun jauh sebelum seseorang mencapai kondisi wajib zakat.
Sebab jika kata “cukup” selalu kita letakkan pada angka berikutnya, kapan kita benar-benar merasa cukup?
Semakin Banyak Harta, Semakin Banyak Keinginan?
Ada fenomena yang menarik dalam kehidupan finansial.
Ketika penghasilan masih kecil, kita berpikir “Kalau penghasilan saya naik, pasti saya akan lebih tenang.”
Ketika penghasilan meningkat, kebutuhan dan keinginan pun sering ikut berkembang.
Yang dahulu dianggap mewah menjadi biasa. Yang dahulu tidak terpikirkan mulai masuk daftar keinginan. Akhirnya, kita terus mengejar lebih banyak sambil tetap merasa belum memiliki cukup.
Tidak ada yang salah dengan memiliki target finansial. Menabung, berinvestasi, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan merupakan hal yang baik.
Tetapi masalah muncul ketika mengejar lebih banyak membuat kita lupa bertanya untuk apa semua itu dikumpulkan.
Harta akhirnya hanya dinilai dari jumlah yang berhasil dimiliki, bukan dari manfaat yang dapat dihasilkan.
Islam Mengajarkan bahwa Harta Memiliki Dimensi Sosial
Al-Qur'an memberikan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Allah SWT berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 19:
“Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.”
Ayat ini mengingatkan bahwa dalam harta seseorang terdapat dimensi sosial.
Harta memang berada di tangan kita, tetapi keberadaannya tidak selalu hanya berkaitan dengan kepentingan pribadi.
Di sinilah zakat memiliki makna yang lebih dalam.
Zakat bukan sekadar angka yang berkurang dari rekening karena sebuah kewajiban. Ia mengajarkan bahwa kemampuan memiliki harta juga menghadirkan tanggung jawab terhadap sesama.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis tersebut dapat menjadi pengingat bahwa Islam mendorong manusia untuk memiliki semangat memberi dan menjadi pihak yang menghadirkan manfaat.
Dari Memiliki Menjadi Mempertanggungjawabkan
Jika demikian, mungkin pertanyaan tentang harta perlu kita ubah.
Bukan hanya “berapa banyak yang saya punya?”, tetapi juga “untuk apa harta ini saya gunakan?”.
Bukan juga sekedar “berapa yang bisa saya simpan?”, tetapi “berapa banyak manfaat yang bisa lahir dari apa yang saya miliki?”
Dalam konteks inilah zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi bagian dari cara kita belajar bertanggung jawab atas harta.
Zakat mengajarkan kewajiban ketika syaratnya telah terpenuhi.
Infak mengajarkan kesediaan membelanjakan sebagian harta untuk kebaikan.
Sedekah mengajarkan bahwa memberi dapat menjadi kebiasaan yang tumbuh dari kepedulian, bukan sekadar tindakan sesekali ketika melihat penderitaan.
Dengan demikian, ZIS bukan hanya berbicara tentang mengurangi harta, tetapi tentang mengubah sebagian harta menjadi manfaat.
Teknologi Membuat Kita Lebih Mudah Bertanggung Jawab
Hari ini, hampir seluruh aktivitas keuangan dapat dilakukan melalui ponsel.
Kita menerima penghasilan, membayar tagihan, berbelanja, menabung, dan berinvestasi secara digital.
Kemudahan tersebut seharusnya juga dapat digunakan untuk mempermudah kita menjalankan tanggung jawab sosial.
Melalui kanal digital BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah dengan lebih mudah. Dana yang dihimpun kemudian dikelola dan disalurkan melalui program-program sesuai ketentuan dan kebutuhan masyarakat.
Dengan begitu, digitalisasi tidak hanya membuat transaksi semakin cepat. Ia dapat membuat kebaikan semakin dekat dengan kebiasaan sehari-hari.
Jangan Tunggu Kaya untuk Belajar Berbagi
Mungkin kita memang belum memiliki harta sebanyak orang lain.
Mungkin belum memiliki aset yang besar.
Mungkin penghasilan kita masih harus dibagi untuk banyak kebutuhan.
Tetapi belajar bertanggung jawab terhadap harta tidak harus menunggu kita kaya.
Jika harta telah memenuhi ketentuan wajib zakat, tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jika belum mencapai kewajiban tersebut, kita tetap dapat membangun kebiasaan berbagi melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan.
Karena pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan “apakah kita sudah memiliki cukup banyak untuk berbagi?”, melainkan “apakah kita sudah belajar melihat harta yang kita miliki sebagai sesuatu yang juga memiliki tanggung jawab?”
Harta Bukan Sekadar Angka
Harta adalah sesuatu yang kita gunakan untuk hidup. Tetapi harta juga dapat menjadi sesuatu yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Jangan menunggu memiliki lebih banyak untuk mulai berbuat baik.
Karena mungkin, yang perlu kita tunggu bukan saat harta kita bertambah, tetapi saat kesadaran kita bertambah, bahwa apa yang sudah ada di tangan kita pun dapat menjadi jalan bagi kebaikan.
ARTIKEL19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?
Apakah Seseorang Berhenti Berharga Ketika Ia Berhenti Produktif?
Sejak kecil, kita hampir selalu diajarkan untuk menjadi seseorang yang berguna. Belajar dengan baik, mendapatkan pekerjaan, menghasilkan uang, membangun karier, lalu menjadi mandiri. Hampir seluruh perjalanan hidup kita seperti diarahkan menuju satu kata yakni "produktif."
Kita bangga ketika mampu bekerja. Kita merasa berhasil ketika penghasilan meningkat. Kita menganggap seseorang hebat ketika ia mampu menghasilkan sesuatu.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, "apa yang terjadi ketika seseorang tidak lagi mampu produktif?"
Ketika seseorang memasuki usia lanjut, mengalami disabilitas, sakit, atau kehilangan kemampuan untuk bekerja, apakah nilai dirinya ikut berkurang?
Tentu tidak. Tetapi tanpa sadar, masyarakat sering kali memperlakukan produktivitas seolah-olah menjadi ukuran dari nilai seorang manusia.
Ketika Produktivitas Menjadi Ukuran Nilai Manusia
Tidak ada yang salah dengan menjadi produktif.
Bekerja, berkarya, memperoleh penghasilan, dan menjadi mandiri merupakan hal yang baik. Persoalannya muncul ketika kemampuan menghasilkan sesuatu mulai dianggap sebagai ukuran utama apakah seseorang berguna atau tidak.
Kita sering mendengar kalimat seperti, “Dia sukses karena penghasilannya besar.” atau “Dia hebat karena mampu mandiri.”, hingga “Dia produktif karena masih bekerja di usia tua.”
Sebaliknya, orang yang tidak bekerja atau tidak mampu menghasilkan pendapatan sering kali dianggap sebagai pihak yang harus terus dibantu.
Padahal, produktivitas ekonomi hanyalah salah satu bentuk kontribusi manusia.
Seorang ibu yang telah menghabiskan puluhan tahun membesarkan anak mungkin tidak memiliki penghasilan. Seorang lansia mungkin sudah tidak mampu bekerja, tetapi pernah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk keluarga. Seseorang dengan disabilitas mungkin memiliki keterbatasan dalam bekerja, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk mencintai, mengajarkan sesuatu, menjaga keluarga, dan memberi makna bagi orang-orang di sekitarnya.
Lalu, apakah semua kontribusi tersebut menjadi tidak berarti hanya karena tidak menghasilkan uang?
Bagaimana Jika “Mereka” Adalah Kemungkinan “Kita”?
Ini mungkin bagian yang paling jarang kita pikirkan.
Hari ini kita mungkin masih sehat.
Kita masih bisa berjalan, bekerja, mencari penghasilan, mengurus diri sendiri, dan memenuhi kebutuhan tanpa bantuan orang lain.
Tetapi apakah kondisi tersebut akan selalu sama?
Usia bertambah.
Tubuh berubah.
Kemampuan dapat berkurang.
Keadaan hidup dapat berubah karena sakit, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak pernah kita rencanakan.
Karena itu, kelompok rentan sebenarnya bukan sepenuhnya “mereka” yang berbeda dari “kita”.
Mereka adalah pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan.
Dan suatu hari, bisa saja kita berada pada posisi yang membutuhkan bantuan orang lain.
Islam Tidak Mengukur Kemuliaan dari Produktivitas
Islam memberikan perspektif yang jauh lebih luas tentang nilai manusia.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukanlah kekayaan, jabatan, usia, kekuatan fisik, ataupun kemampuan menghasilkan pendapatan.
Nilai manusia tidak hilang hanya karena tubuhnya melemah atau kemampuannya berkurang.
Dalam Islam, manusia memiliki martabat yang harus dijaga.
Karena itu, membantu lansia, penyandang disabilitas, orang sakit, dan kelompok rentan bukan sekadar tindakan karena merasa kasihan. Ia merupakan bagian dari upaya menjaga kehidupan dan martabat sesama manusia.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. (HR. Muslim).
Pesannya sederhana yakni kemampuan yang kita miliki hari ini seharusnya tidak hanya digunakan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga menjadi jalan bagi kebaikan orang lain.
Kemanusiaan Tidak Boleh Hanya Berpihak kepada yang Mampu
Masyarakat yang manusiawi bukan hanya masyarakat yang memberikan penghargaan kepada mereka yang mampu berkontribusi secara ekonomi.
Masyarakat yang manusiawi adalah masyarakat yang tetap memastikan bahwa seseorang memiliki kehidupan yang layak bahkan ketika ia tidak mampu melakukan semuanya sendiri.
Di sinilah dukungan terhadap kelompok rentan menjadi penting.
Bantuan kebutuhan dasar, makanan, layanan kesehatan, alat bantu, dukungan bagi lansia, penyandang disabilitas, maupun keluarga yang berada dalam kondisi rentan bukan sekadar pemberian.
Di baliknya ada pesan yang berbicara bahwa “Kamu tetap berharga, meskipun saat ini kamu membutuhkan bantuan.”
ZIS sebagai Bentuk Nyata Menjaga Martabat
Keyakinan tersebut tidak akan memiliki arti jika hanya berhenti sebagai pemikiran.
Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memberikan ruang bagi kita untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan ZIS untuk membantu masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program yang disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku, termasuk dukungan kemanusiaan dan kelompok rentan.
Dengan begitu, kita tidak sekadar memberikan uang.
Kita ikut membantu menghadirkan akses, keamanan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.
Jika Suatu Hari Kita Tidak Lagi Produktif
Mungkin suatu hari kita tidak lagi menjadi orang yang mampu memberi.
Mungkin suatu hari kita justru membutuhkan tangan orang lain.
Jika hari itu datang, kita tentu berharap dunia tidak menilai kita dari seberapa banyak yang masih mampu kita hasilkan.
Karena itu, selama hari ini kita masih memiliki kemampuan untuk membantu, mari gunakan sebagian kemampuan tersebut untuk memastikan orang lain tetap merasa berharga.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak menjadi berharga karena ia mampu menghasilkan sesuatu.
Manusia berharga karena ia adalah manusia.
Dan mungkin, salah satu bentuk kemanusiaan yang paling nyata adalah memastikan bahwa mereka yang tidak lagi mampu berdiri sendiri tetap memiliki alasan untuk merasa bahwa hidup mereka berarti.
ARTIKEL19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
AWAS! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Hati Kehilangan Ketenangan
Pernah merasa hidup sebenarnya baik-baik saja, tetapi hati tetap terasa gelisah? Tidak sedang menghadapi masalah besar, tetapi pikiran sulit tenang, mudah membandingkan diri dengan orang lain, dan diam-diam merasa tidak nyaman ketika melihat orang lain mendapatkan kebahagiaan?
Bisa jadi, ada kebiasaan sepele yang tanpa sadar sedang memenuhi hati.
Kebiasaan tersebut adalah terlalu sering membandingkan diri, memikirkan kehidupan orang lain, menyimpan rasa iri, hingga sulit memaafkan kesalahan orang. Jika dibiarkan, hal-hal kecil ini dapat membuat hati semakin jauh dari ketenangan.
Dalam Islam, ketenangan hati bukan hanya tentang memiliki banyak harta atau terbebas dari masalah. Ketenangan berkaitan erat dengan hubungan seorang hamba kepada Allah.
Mengapa Hati Bisa Kehilangan Ketenangan?
Kita hidup di zaman ketika kehidupan orang lain begitu mudah terlihat. Media sosial membuat kita dapat mengetahui pencapaian, pekerjaan, rumah, kendaraan, perjalanan, bahkan kebahagiaan orang lain hanya dalam hitungan detik.
Tanpa sadar, kita mulai berkata dalam hati:
"Kenapa hidup dia lebih baik?"
"Kapan saya bisa seperti dia?"
"Kenapa rezekinya lebih banyak?"
Jika tidak dikendalikan, kebiasaan membandingkan diri dapat berkembang menjadi iri, dengki, kecewa, bahkan membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan.
Hati yang Terlalu Sibuk Melihat Milik Orang Lain
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Apa yang terlihat indah dari kehidupan seseorang belum tentu menggambarkan seluruh perjuangannya.
Allah mengingatkan agar kita tidak terus-menerus menginginkan kelebihan yang diberikan kepada orang lain.
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)
Ayat ini mengajarkan kita untuk berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran kebahagiaan diri sendiri.
Dengki Bisa Mengotori Hati
Dengki bukan sekadar merasa ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain. Dengki juga dapat membuat seseorang tidak senang melihat saudaranya memperoleh kebaikan.
Rasulullah SAW bahkan secara tegas melarang umatnya saling membenci dan saling dengki.
“Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling dengki, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Al-Adab Al-Mufrad no. 398)
Memaafkan Adalah Cara Membersihkan Hati
Selain menghindari dengki, kita juga perlu belajar memaafkan.
Menyimpan dendam mungkin terasa seperti sedang menghukum orang yang pernah menyakiti kita. Padahal, sering kali justru diri sendiri yang terus membawa beban tersebut.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan tersebut terus menguasai hati.
Hati yang dipenuhi dendam akan sulit menikmati nikmat. Sebaliknya, hati yang belajar memaafkan memiliki ruang yang lebih luas untuk bersyukur, mencintai, dan berbuat baik.
Kunci Ketenangan Ada pada Mengingat Allah
Islam memberikan jawaban yang sangat jelas tentang bagaimana mendapatkan ketenangan hati.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bukan semata-mata berasal dari keadaan hidup yang sempurna. Hati membutuhkan Allah.
Mulai dari Kebiasaan Kecil
Jika ingin hati lebih tenang, kita bisa memulainya dari hal sederhana:
Kurangi membandingkan kehidupan dengan orang lain.
Belajar bersyukur atas nikmat yang sudah dimiliki.
Berhenti menyimpan kebencian terlalu lama.
Doakan kebaikan bagi orang yang mendapatkan nikmat.
Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur'an.
Belajar memaafkan kesalahan orang lain.
Gunakan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Jangan Hanya Membersihkan Rumah, Bersihkan Juga Hati
Kita begitu memperhatikan kebersihan rumah, pakaian, kendaraan, bahkan tampilan media sosial. Namun terkadang lupa membersihkan sesuatu yang jauh lebih penting: hati.
Hati perlu dibersihkan dari iri, dengki, dendam, sombong, dan terlalu mencintai dunia.
Salah satu cara membersihkannya adalah dengan berbagi.
Ketika kita menyisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah, kita bukan hanya membantu orang lain. Kita juga sedang belajar melepaskan keterikatan berlebihan kepada harta dan menumbuhkan rasa syukur.
Mari Jadikan Rezeki Sebagai Jalan Kebaikan
Ada orang yang hari ini sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makan. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada saudara kita yang mungkin hanya membutuhkan sedikit uluran tangan untuk kembali bangkit.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Kapan Sebuah Bantuan Berubah Menjadi Ketergantungan?
Kapan Sebuah Bantuan Berubah Menjadi Ketergantungan?
Apakah semua bantuan selalu membantu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh. Bukankah membantu seseorang yang sedang kesulitan merupakan sebuah kebaikan? Bukankah ketika seseorang lapar, kita seharusnya memberinya makanan? Ketika seseorang kehilangan tempat tinggal, bukankah kita harus membantunya?
Tentu saja.
Namun, ada pertanyaan lanjutan yang sering terlupakan yaitu, "setelah bantuan itu diberikan, apa yang terjadi kemudian?"
Bantuan mungkin menyelesaikan kebutuhan hari ini. Tetapi jika diberikan tanpa memikirkan kebutuhan dan kemampuan seseorang untuk bangkit, apakah bantuan tersebut benar-benar menyelesaikan masalah?
Di sinilah kita perlu membedakan antara membantu seseorang bertahan dan membantu seseorang menjadi berdaya.
Ketika Bantuan Hanya Menyelesaikan Hari Ini
Dalam situasi tertentu, bantuan langsung memang mutlak diperlukan.
Ketika bencana terjadi, masyarakat membutuhkan makanan, air, pakaian, tempat tinggal sementara, dan kebutuhan dasar lainnya. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan dapat menjadi penyelamat.
Tetapi tidak semua persoalan selesai dengan bantuan yang sama.
Bayangkan seseorang yang kehilangan pekerjaan. Memberinya uang dapat membantu memenuhi kebutuhan selama beberapa hari atau minggu. Namun setelah uang tersebut habis, masalah awalnya mungkin masih ada, yaitu ia tetap tidak memiliki pekerjaan.
Di sinilah muncul pertanyaan, "Apakah bantuan kita hanya membuat seseorang mampu melewati hari ini, atau juga membuka jalan agar ia mampu menghadapi hari esok?"
Bukan berarti bantuan konsumtif harus dianggap buruk. Bantuan tersebut tetap penting, terutama dalam kondisi darurat. Yang perlu dipikirkan adalah bagaimana bantuan tidak berhenti pada tahap tersebut ketika keadaan sudah memungkinkan untuk beralih menuju pemberdayaan.
Memberi Ikan, Memberi Alat, atau Mendampingi?
Kita sering mendengar ungkapan bahwa memberi ikan dapat membuat seseorang makan hari ini, sementara mengajarkan cara menangkap ikan dapat membantunya makan di hari berikutnya.
Namun, persoalannya tidak sesederhana itu.
Bagaimana jika seseorang tidak memiliki alat untuk menangkap ikan? Bagaimana jika tidak memiliki modal? Bagaimana jika tidak memiliki akses ke tempat untuk mencari ikan? Atau bagaimana jika ia belum memiliki keterampilan yang diperlukan?
Karena itu, pemberdayaan bukan hanya tentang mengatakan “berusahalah sendiri.”
Pemberdayaan berarti membantu seseorang memperoleh kesempatan, kemampuan, akses, dan pendampingan agar ia benar-benar memiliki peluang untuk mandiri.
Tujuan akhirnya bukan membuat seseorang selamanya menjadi penerima bantuan.
Tujuannya adalah membuat bantuan menjadi jembatan menuju kemandirian.
Kemanusiaan Bukan Sekadar Membuat Orang Bertahan
Di sinilah makna kemanusiaan menjadi lebih dalam.
Menolong bukan berarti membuat seseorang merasa bahwa ia akan selamanya membutuhkan pertolongan kita. Justru, pertolongan yang baik seharusnya berusaha mengembalikan sesuatu yang lebih mendasar berupa martabat dan kesempatan.
Seseorang yang menerima bantuan bukan berarti lebih rendah daripada orang yang memberi.
Hari ini seseorang mungkin menjadi mustahik. Namun, dengan kesempatan, pendidikan, modal, keterampilan, dan lingkungan yang mendukung, bukan tidak mungkin suatu hari ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri.
Bahkan, ia dapat berada pada posisi yang berbeda: menjadi orang yang membantu orang lain.
Inilah mengapa ukuran keberhasilan bantuan seharusnya tidak hanya dilihat dari “Berapa banyak bantuan yang telah diberikan?”, tetapi juga “Berapa banyak orang yang akhirnya mampu berdiri dengan lebih mandiri?”
Islam Mengajarkan Harta untuk Memberi Manfaat
Islam tidak hanya mengajarkan kepedulian kepada orang yang membutuhkan, tetapi juga mengatur bagaimana harta dapat menjadi sarana kemaslahatan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat tersebut mengandung pesan sosial yang kuat. Harta tidak seharusnya hanya berputar pada kelompok yang telah memiliki kemampuan ekonomi.
Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam distribusi harta tersebut. Namun, semangatnya tidak harus berhenti pada pemberian sesaat. Ketika dikelola dengan tepat, dana zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat.
Rasulullah SAW juga pernah memberikan gambaran tentang pentingnya menjaga kehormatan seseorang dengan mendorongnya untuk bekerja. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW membantu seseorang dengan memberikan sesuatu yang dapat digunakan untuk memperoleh penghasilan, bukan sekadar memberinya untuk memenuhi kebutuhan sesaat. (HR. Abu Dawud).
Pesan yang dapat kita ambil adalah bahwa bantuan dapat diarahkan untuk menciptakan kemampuan, bukan hanya memenuhi kebutuhan.
ZIS: Dari Bantuan Menjadi Pemberdayaan
Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki potensi besar ketika dikelola secara terarah.
Bantuan kebutuhan dasar tetap dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Namun, pada kondisi tertentu, dukungan dapat dikembangkan menjadi program pendidikan, kesehatan, ekonomi, keterampilan, modal usaha, atau bentuk pemberdayaan lainnya sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan ZIS melalui lembaga yang memiliki mekanisme pengelolaan dan penyaluran dana umat.
Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi orang yang memberi bantuan, tetapi ikut menjadi bagian dari proses yang lebih panjang yaitu membantu seseorang memiliki kesempatan untuk bangkit.
Jangan Hanya Memberi Hari Ini
Mungkin kita tidak dapat mengubah seluruh kehidupan seseorang.
Tetapi kita dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Bantuan yang kita berikan mungkin terlihat kecil. Tetapi jika dikelola dengan tepat, ia dapat menjadi awal dari pendidikan, usaha, keterampilan, atau kesempatan baru.
Karena tujuan membantu bukan membuat seseorang terus berada dalam posisi menerima, melainkan tujuan membantu adalah menciptakan kemungkinan agar suatu hari ia tidak lagi membutuhkan bantuan yang sama, dan bukan sekadar memberi agar seseorang bertahan hari ini, tetapi ikut membuka jalan agar mereka mampu berdiri lebih kuat esok hari.
ARTIKEL19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ketika Sedekah Hanya Menjadi Transaksi
Ketika Sedekah Hanya Menjadi Transaksi
Melihat sebuah unggahan tentang seseorang yang membutuhkan bantuan. Tergerak. Klik tautan. Pilih nominal. Transfer. Selesai.
Tidak sampai satu menit, kita sudah merasa telah melakukan sebuah kebaikan.
Teknologi memang membuat sedekah menjadi jauh lebih mudah. Tidak perlu mencari kotak amal, membawa uang tunai, atau mendatangi lokasi secara langsung. Cukup melalui ponsel, sebagian harta dapat berpindah kepada pihak yang membutuhkan.
Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin layak kita renungkan yakni "ketika layar ditutup setelah transaksi selesai, apakah kita benar-benar memahami kebaikan yang baru saja kita lakukan?"
Ketika Kemudahan Memberi Justru Membuat Kita Lupa Makna
Digitalisasi bukanlah masalah. Justru, kemudahan teknologi dapat menjadi peluang besar untuk memperluas gerakan kebaikan.
Persoalannya muncul ketika kemudahan bertransaksi membuat proses memberi terasa seperti aktivitas pembayaran biasa.
Kita membuka aplikasi, memilih nominal, menekan tombol, kemudian mendapatkan notifikasi “pembayaran berhasil.”
Selesai.
Tetapi sedekah seharusnya tidak berhenti pada notifikasi tersebut.
Sebab di balik angka Rp20 ribu, Rp50 ribu, atau Rp100 ribu yang kita transfer, ada manusia yang mungkin sedang menghadapi persoalan hidup mulai dari kebutuhan pangan, biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, kehilangan pekerjaan, hingga keadaan lain yang tidak pernah kita alami sendiri.
Apakah Kita Hanya Membeli Rasa Lega?
Ada pertanyaan yang mungkin lebih mengganggu yakni "ketika kita bersedekah, apakah kita benar-benar ingin membantu seseorang, atau sekadar ingin menghilangkan rasa tidak nyaman setelah melihat penderitaan?"
Pola yang sering terjadi dan mungkin secara tidak sadar kita lakukan dimulai dari kita melihat seseorang kesulitan, kemudian merasakan perasaan iba, bergerak untuk berdonasi, dan akhirnya merasa lega.
Tidak ada yang salah dengan perasaan lega setelah berbuat baik. Namun, jika proses tersebut selalu berhenti di sana, kita mungkin kehilangan kesempatan untuk memahami persoalan yang lebih dalam tentang, "siapa yang kita bantu?", "mengapa ia membutuhkan bantuan?", "apa yang sebenarnya dibutuhkan?", hingga pertanyaan "apakah bantuan tersebut hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, atau dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan mereka?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat sedekah bergerak dari sekadar “memberi” menjadi “memahami.”
Sedekah Bukan Sekadar Mengeluarkan Harta
Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dikumpulkan untuk kepentingan pribadi.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai...”
Ayat ini menggambarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak berhenti pada apa yang terlihat secara materi. Ada potensi manfaat yang dapat berkembang jauh lebih besar.
Sedekah juga bukan sekadar persoalan nominal. Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, semangat sedekah berkaitan dengan kebiasaan menghadirkan manfaat, bukan sekadar menyelesaikan sebuah transaksi.
Karena itu, ketika kita bersedekah melalui ponsel, jangan sampai teknologi hanya mempermudah tangan untuk memberi, sementara hati tidak lagi memahami mengapa kita memberi.
Dari Transaksi Menjadi Dampak
Di sinilah pentingnya pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) secara terarah.
Zakat mengajarkan bahwa sebagian harta memiliki dimensi tanggung jawab sosial bagi mereka yang telah memenuhi ketentuannya. Sementara itu, infak dan sedekah memberikan ruang yang lebih luas bagi seseorang untuk berbagi sesuai kemampuannya.
Ketika ZIS disalurkan melalui lembaga, prosesnya tidak harus berhenti pada siklus muzakki → transfer → selesai.
Tetapi siklus dapat menjadi lebih luas dan komprehensif mulai dari muzakki → dana ZIS → pengelolaan → program → penerima manfaat → dampak.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui pengelolaan dana umat untuk berbagai kebutuhan dan program sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan demikian, lembaga dapat menjadi jembatan antara niat baik seseorang dengan manfaat yang lebih terarah.
Jangan Biarkan Sedekah Berhenti di “Pembayaran Berhasil”
Lain kali ketika kita melihat tombol “Donasi Sekarang”, mungkin kita tidak perlu ragu untuk mengkliknya.
Tetapi berhentilah beberapa detik untuk bertanya, “Apa yang sebenarnya sedang saya bantu?”, “Siapa yang akan merasakan manfaatnya?”, hingga mempertanyakan “Mengapa saya ingin memberikan sebagian dari apa yang saya miliki?”.
Sebab teknologi boleh membuat proses sedekah hanya membutuhkan beberapa detik. Tetapi makna memberi seharusnya jauh lebih panjang daripada waktu yang kita gunakan untuk mentransfernya.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Mari gunakan kemudahan teknologi bukan sekadar untuk menyelesaikan transaksi, tetapi untuk menghadirkan manfaat. Karena sedekah seharusnya tidak berhenti ketika transaksi selesai. Di sanalah perjalanan kebaikan justru dimulai.
ARTIKEL19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ketika Rezeki Menjadi Amanah, Sudahkah Kita Membagikannya?
Rezeki sering kali dipandang sebagai hasil dari kerja keras. Kita bekerja, berusaha, menabung, lalu menikmati hasilnya. Namun, dalam Islam, ada satu sudut pandang yang jauh lebih dalam: harta bukan sekadar milik, tetapi juga amanah dari Allah.
Ketika rezeki bertambah, pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang bisa saya beli?” tetapi juga, “Siapa yang bisa saya bantu dari rezeki ini?”
Sebab, boleh jadi sebagian rezeki yang kita genggam hari ini di dalamnya terdapat hak orang lain yang membutuhkan.
Rezeki Adalah Amanah dari Allah
Allah mengingatkan bahwa manusia diberi amanah atas harta yang dimilikinya. Dalam QS. Al-Hadid ayat 7, Allah berfirman:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.”
Ayat ini mengajarkan bahwa harta yang kita miliki sejatinya adalah titipan. Kita diberi kesempatan untuk mengelolanya, menggunakannya, sekaligus menyalurkannya pada jalan kebaikan.
Ketika Rezeki Bertambah, Jangan Hanya Menambah Keinginan
Tidak ada yang salah dengan menikmati rezeki. Membeli kebutuhan, membahagiakan keluarga, memiliki rumah yang nyaman, atau menikmati hasil kerja adalah bagian dari kehidupan.
Namun, jangan sampai bertambahnya rezeki hanya membuat keinginan semakin besar, sementara kepedulian kepada sesama justru semakin kecil.
Karena ukuran keberkahan bukan hanya berapa banyak yang kita miliki, tetapi juga seberapa besar manfaat yang lahir dari apa yang kita miliki.
Mengapa Rezeki Perlu Dibagikan?
Berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah bukan berarti membuat kita kehilangan harta. Rasulullah SAW justru mengingatkan:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim, diriwayatkan dalam Riyadhus Shalihin no. 555). ?
Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah bukan sekadar persoalan mengeluarkan uang. Ada keberkahan, pahala, dan manfaat sosial yang menyertainya.
Sedikit yang Kita Berikan Bisa Berarti Besar bagi Orang Lain
Bagi kita, mungkin sebagian uang yang disedekahkan terlihat kecil. Tetapi bagi seorang anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, atau seseorang yang sedang menghadapi kondisi sulit, bantuan tersebut bisa menjadi harapan.
Inilah indahnya berbagi: harta yang keluar dari tangan kita dapat berubah menjadi kebahagiaan di tangan orang lain.
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi
Salah satu alasan yang sering muncul adalah, “Nanti kalau sudah banyak rezeki, saya akan berbagi.”
Padahal, berbagi tidak harus menunggu menjadi kaya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari).
Kebaikan dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Yang terpenting bukan selalu besar kecilnya nominal, melainkan keikhlasan dan konsistensi dalam berbagi.
Mulai dari Zakat, Infak, dan Sedekah
Bagi seorang muslim yang telah memenuhi kewajiban zakat, zakat adalah bentuk nyata menunaikan amanah harta. Sementara infak dan sedekah menjadi jalan untuk memperluas manfaat kepada sesama.
Dengan menyalurkannya melalui lembaga amil zakat yang terpercaya, kebaikan yang kita berikan dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan secara lebih terarah.
Jadikan Rezeki Sebagai Jalan Kebaikan
Bayangkan jika sebagian rezeki yang kita terima setiap bulan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, pendidikan bagi anak-anak kurang mampu, bantuan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai program sosial lainnya.
Bukankah itu cara yang indah untuk mensyukuri rezeki?
Hari ini, mungkin kita sedang menerima amanah berupa rezeki. Esok, kita tidak pernah tahu kapan amanah itu akan diambil kembali.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Berapa banyak rezeki yang sudah saya dapatkan?”
Cobalah bertanya:
“Berapa banyak kebaikan yang sudah lahir dari rezeki yang Allah titipkan kepada saya?”
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Jangan Jadikan Sedekah Sebagai Cara Merasa Lebih Baik dari Orang Lain.
Jangan Jadikan Sedekah Sebagai Cara Merasa Lebih Baik dari Orang Lain.
Kita sering menganggap sedekah sebagai tanda bahwa seseorang memiliki kepedulian. Ketika seseorang memberikan uang kepada yang membutuhkan, membantu korban bencana, atau menyumbangkan sebagian hartanya, kita cenderung melihatnya sebagai sebuah kebaikan.
Dan memang, berbagi adalah kebaikan.
Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin terasa sedikit mengganggu yaitu, "Apakah kita bersedekah karena benar-benar ingin memberi manfaat, atau karena ingin merasa menjadi orang yang lebih baik daripada orang lain?"
Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah ajakan untuk melihat kembali niat yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain—bahkan terkadang tidak kita sadari sendiri.
Ketika Kebaikan Mulai Membutuhkan Pengakuan
Di era media sosial, berbuat baik semakin mudah terlihat.
Seseorang dapat mengunggah ketika memberikan bantuan. Foto donasi dapat dibagikan. Jumlah yang diberikan dapat diketahui banyak orang. Bahkan, sebuah kebaikan dapat berubah menjadi konten yang mendapatkan apresiasi, komentar, dan pujian.
Tidak ada yang otomatis salah dengan membagikan kegiatan sosial. Informasi tersebut bahkan dapat menginspirasi orang lain untuk ikut membantu.
Namun, batasnya menjadi penting.
Apakah kita tetap mau melakukan kebaikan jika tidak ada seorang pun yang tahu?
Apakah kita tetap bersedia memberikan sedekah jika tidak mendapatkan ucapan terima kasih?
Dan yang lebih dalam, apakah kita masih merasa bahwa sedekah itu berarti ketika tidak membuat kita terlihat sebagai orang baik?
Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Sedekah?
Orang yang menerima sedekah memang membutuhkan bantuan.
Mereka mungkin membutuhkan makanan, biaya pendidikan, biaya kesehatan, modal usaha, atau dukungan untuk bangkit dari keadaan sulit.
Sedekah memberikan ruang bagi kita untuk belajar melepaskan sesuatu yang kita miliki, mengurangi keterikatan terhadap kekayaan, memahami kehidupan orang lain, dan menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Dengan kata lain, sedekah bukan hanya tentang mengubah kehidupan penerima, tetapi juga membentuk karakter orang yang memberi.
Islam Mengajarkan Keikhlasan, Bukan Kesombongan
Dalam Islam, nilai sebuah amal tidak hanya dilihat dari apa yang dilakukan, tetapi juga dari niat di baliknya.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, nominal besar tidak otomatis menjadikan sebuah sedekah lebih mulia jika di dalamnya terdapat keinginan untuk dipuji.
Sebaliknya, sedekah yang sederhana tetapi dilakukan dengan ikhlas dapat memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah.
Allah SWT juga berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 264:
“Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).”
Ayat ini mengingatkan bahwa kebaikan dapat kehilangan maknanya ketika pemberian justru digunakan untuk merendahkan atau menyakiti orang yang menerima.
Karena itu, orang yang bersedekah seharusnya tidak merasa lebih tinggi daripada orang yang menerima.
Sebab bisa jadi, orang yang kita bantu hari ini justru menjadi sebab Allah menolong kita di kemudian hari.
Sedekah Bukan Transaksi untuk Mendapatkan Status “Orang Baik”
Ada perbedaan antara menjadi orang yang berbuat baik dan ingin terlihat sebagai orang baik.
Yang pertama berorientasi pada manfaat, dan yang kedua berorientasi pada citra.
Maka, salah satu cara sederhana untuk menjaga keikhlasan adalah dengan bertanya kepada diri sendiri:
“Jika tidak ada yang mengetahui sedekah ini, apakah saya masih ingin memberikannya?”
Jika jawabannya tetap iya, mungkin kita sedang belajar memahami makna memberi yang sebenarnya.
Bukan berarti setiap sedekah harus dirahasiakan. Publikasi dapat menjadi sarana edukasi dan mengajak masyarakat lain untuk berbuat baik.
Tetapi jangan sampai pujian menjadi alasan kita bersedekah, dan ketiadaan pujian menjadi alasan kita berhenti.
Jadikan ZIS sebagai Kebiasaan, Bukan Pembuktian
Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dapat menjadi sarana untuk membangun kebiasaan berbagi sekaligus menjaga hubungan kita dengan harta.
Zakat mengajarkan kewajiban untuk menunaikan hak yang terdapat dalam harta ketika telah memenuhi ketentuan. Infak dan sedekah memberikan ruang yang lebih luas untuk berbagi sesuai kemampuan.
Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan ZIS secara lebih terarah sehingga manfaatnya dapat diberikan kepada mereka yang membutuhkan sesuai ketentuan dan program yang tersedia.
Dengan demikian, tujuan bersedekah bukanlah agar kita dapat berkata, “Lihat, saya sudah membantu.”
Tetapi, “Semoga apa yang saya berikan dapat menjadi manfaat, meskipun tidak ada yang mengetahui bahwa itu berasal dari saya.”
Berbagi Tanpa Merasa Lebih Tinggi
Pada akhirnya, sedekah seharusnya tidak menciptakan jarak antara orang yang memberi dan orang yang menerima.
Sedekah justru mengingatkan bahwa kita sama-sama manusia. Hari ini kita berada pada posisi mampu memberi. Namun, hidup dapat berubah kapan saja.
Karena itu, mari bersedekah bukan untuk membeli pengakuan, bukan untuk mendapatkan status sebagai orang baik, dan bukan untuk merasa lebih tinggi daripada mereka yang menerima.
Bersedekahlah karena kita menyadari bahwa sebagian dari apa yang kita miliki dapat menjadi manfaat bagi orang lain.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Jadikan harta sebagai sarana kebermanfaatan, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi.
Sebab mungkin, orang yang kita anggap sedang membutuhkan bantuan sebenarnya sedang menjadi jalan bagi kita untuk belajar menjadi manusia yang lebih baik.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Optimalisasi Zakat melalui BAZNAS: Strategi Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Optimalisasi Zakat melalui BAZNAS: Strategi Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga memiliki kekuatan besar untuk membantu mewujudkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Jika dikelola secara amanah, profesional, dan tepat sasaran, zakat dapat menjadi instrumen pemberdayaan yang membantu mustahik tidak hanya memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun masa depan yang lebih mandiri. BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan potensi tersebut melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Zakat sebagai Instrumen Pemberdayaan Ekonomi
Dalam Islam, zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Zakat membantu membersihkan harta sekaligus menjadi sarana pemerataan ekonomi. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi penting dalam kehidupan sosial umat. Dana zakat yang terkumpul dapat disalurkan kepada golongan yang berhak sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat.
Zakat Produktif untuk Kemandirian
Optimalisasi zakat tidak berhenti pada bantuan konsumtif. Zakat dapat dikembangkan melalui program produktif, seperti bantuan modal usaha, pelatihan keterampilan, pengembangan pertanian, peternakan, UMKM, hingga pendampingan pemasaran.
BAZNAS sendiri menjalankan berbagai program pemberdayaan ekonomi yang menggabungkan bantuan, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan akses pasar. Pendekatan tersebut bertujuan agar mustahik memiliki kemampuan menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan.
Peran BAZNAS dalam Optimalisasi Zakat
Sebagai lembaga pengelola zakat nasional, BAZNAS berperan dalam menghimpun, mengelola, dan menyalurkan zakat secara terencana. Optimalisasi tersebut penting agar zakat tidak hanya menjadi bantuan jangka pendek, tetapi mampu memberikan dampak ekonomi jangka panjang.
Strategi Pemberdayaan Mustahik
Beberapa strategi yang dapat memperkuat optimalisasi zakat melalui BAZNAS antara lain:
Memperluas edukasi zakat, khususnya melalui media digital agar semakin banyak masyarakat memahami kewajiban dan manfaat zakat.
Mendorong zakat produktif melalui modal usaha dan pelatihan sesuai potensi penerima manfaat.
Memberikan pendampingan berkelanjutan, sehingga mustahik tidak berjalan sendiri setelah menerima bantuan.
Membuka akses pemasaran, termasuk melalui digitalisasi dan jaringan usaha.
Mengukur dampak program, sehingga dana zakat dapat terus diarahkan pada program yang memberikan manfaat nyata.
Strategi tersebut sejalan dengan arah BAZNAS yang terus mendorong zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan umat.
Dalil tentang Zakat dan Kepedulian Sosial
Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa zakat memiliki fungsi distribusi dari orang yang berkecukupan kepada mereka yang membutuhkan. Dalam hadis riwayat Bukhari disebutkan:
Artinya: “Nabi SAW mengutus Mu'adz ke Yaman, lalu beliau bersabda ... beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari No. 1395).
Hadis tersebut memperlihatkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang kuat: membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang kurang mampu dan menciptakan distribusi kekayaan yang lebih adil.
Saatnya Zakat Menjadi Jalan Kebangkitan
Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan bukan hanya membantu seseorang bertahan hidup, tetapi juga membantu seorang ibu memulai usaha, seorang petani meningkatkan hasil panen, atau seorang pelaku UMKM mengembangkan produknya.
Satu zakat yang kita tunaikan hari ini dapat menjadi jalan bagi lahirnya kemandirian ekonomi di masa depan.
Mari Salurkan Zakat melalui BAZNAS
Jangan biarkan kepedulian berhenti pada niat. Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan ikut mengambil bagian dalam gerakan pemberdayaan masyarakat. Zakat yang dikelola secara tepat dapat menjadi modal perubahan: dari mustahik menuju kemandirian, dari keterbatasan menuju kesempatan, dan dari ketergantungan menuju keberdayaan.
Mari bersama mengoptimalkan zakat untuk menghadirkan kehidupan yang lebih sejahtera. Salurkan zakat Anda melalui BAZNAS dan jadikan sebagian harta yang kita miliki sebagai jalan untuk membantu sesama bangkit dan mandiri.
Zakat Anda bukan hanya memberi. Zakat Anda menguatkan, memberdayakan, dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Kemerdekaan Makin Bermakna Saat Kita Berbagi
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera, mengikuti upacara, atau merayakan semarak 17 Agustus. Kemerdekaan juga menjadi kesempatan untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan sekaligus menghadirkan kebahagiaan bagi sesama.
Setiap tahun, kita merayakan Hari Kemerdekaan dengan penuh suka cita. Jalanan dihiasi bendera Merah Putih, berbagai perlombaan digelar, dan masyarakat berkumpul menikmati suasana kebersamaan. Namun, di balik kemeriahan tersebut, masih ada saudara kita yang mungkin belum dapat merasakan kebahagiaan yang sama.
Di tengah perayaan Hari Kemerdekaan, masih ada saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, keluarga yang kesulitan mendapatkan pangan, hingga masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk bangkit dari keterbatasan.
Karena itu, kemerdekaan makin bermakna saat kita berbagi.
Memaknai Kemerdekaan dengan Kepedulian
Kemerdekaan yang kita rasakan hari ini merupakan nikmat besar. Kita dapat bekerja, belajar, beribadah, berkumpul bersama keluarga, dan menjalani kehidupan dengan lebih leluasa.
Nikmat tersebut tentu patut kita syukuri. Namun, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Syukur juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan membantu dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Berbagi Membuat Kemerdekaan Lebih Berarti
Bayangkan seorang anak yang tersenyum karena mendapatkan perlengkapan sekolah. Bayangkan pula seorang ibu yang merasa lega karena keluarganya mendapatkan bantuan makanan. Atau seorang ayah yang kembali memiliki harapan karena mendapatkan dukungan untuk mengembangkan usahanya.
Bagi kita, mungkin bantuan tersebut terlihat sederhana. Namun, bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, sebuah bantuan bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah sesuatu yang besar. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau peduli, mau mendengar, dan mau membantu.
Inilah makna kemerdekaan yang sesungguhnya: ketika kebahagiaan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi ikut dirasakan oleh orang lain.
Islam Mengajarkan Kita untuk Berbagi
Islam sangat mendorong umatnya untuk membantu sesama. Harta yang kita miliki bukan hanya tentang apa yang dapat kita gunakan untuk diri sendiri, tetapi juga terdapat hak dan kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Allah SWT berfirman:
Al-Qur'an Surat Ali 'Imran Ayat 92
Artinya:
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui." (QS. Ali 'Imran: 92).
Ayat ini mengingatkan bahwa berbagi bukan sekadar mengeluarkan harta. Ada nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian di dalamnya.
Ketika kita memberikan sebagian rezeki yang kita miliki kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan yang insyaAllah akan menjadi bekal di akhirat.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sedekah tidaklah mengurangi harta." (HR. Muslim).
Hadis tersebut memberikan ketenangan bagi kita bahwa harta yang diberikan di jalan kebaikan bukanlah sebuah kerugian. Justru, sedekah menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT.
Boleh jadi nominal yang kita keluarkan terasa kecil. Namun, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Karena kita tidak pernah tahu, doa siapa yang mungkin menjadi keberkahan bagi kehidupan kita.
Jadikan Momen Kemerdekaan sebagai Momen Berbagi
Perayaan kemerdekaan bisa menjadi lebih dari sekadar seremoni. Kita dapat menjadikannya momentum untuk memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan kebaikan yang bisa kita lakukan bersama.
Mulai dari Hal yang Sederhana
Tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi. Sebuah sedekah kecil, paket makanan, bantuan pendidikan, perlengkapan sekolah, atau kepedulian kepada tetangga yang membutuhkan dapat menjadi awal sebuah kebaikan.
Jangan berpikir, "Sedekah saya hanya sedikit."
Sebab, bagi orang yang sedang membutuhkan, sedikit dari kita bisa berarti sangat banyak bagi mereka.
Yang terpenting adalah keikhlasan dan niat untuk memberikan manfaat.
Zakat, Infak, dan Sedekah untuk Sesama
Bagi umat Islam, zakat, infak, dan sedekah merupakan jalan untuk menyalurkan kepedulian secara nyata. Melalui pengelolaan yang amanah, dana yang terkumpul dapat membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus mendukung berbagai program sosial, kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.
Ketika kita menunaikan zakat, infak, atau sedekah, kita tidak hanya memberikan sejumlah uang. Kita sedang ikut menghadirkan harapan.
Mungkin sedekah kita membantu seorang anak melanjutkan pendidikan. Mungkin membantu sebuah keluarga memenuhi kebutuhan pangan. Mungkin pula menjadi modal bagi seseorang untuk kembali berdiri dan berusaha.
Di situlah kebaikan bekerja. Dari satu pemberian, lahir banyak kemungkinan kebaikan.
Di sinilah kita bisa mengambil bagian. Kemerdekaan yang kita syukuri hari ini dapat kita isi dengan menghadirkan kemerdekaan dari kesulitan bagi saudara-saudara kita.
Saatnya Berbagi, Saatnya Menebar Manfaat
Jangan biarkan semangat kemerdekaan hanya berlangsung selama satu hari. Jadikan semangat berbagi sebagai kebiasaan yang terus hidup setelah perayaan berakhir.
Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita dapat membantu saudara kita terbebas dari rasa lapar, keterbatasan pendidikan, kesulitan ekonomi, dan berbagai persoalan kehidupan.
Mungkin bagi kita, sejumlah uang yang disedekahkan tidak terasa besar. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, bantuan itu bisa berarti makanan untuk hari ini, biaya sekolah untuk anaknya, obat yang sangat dibutuhkan, atau modal untuk kembali mencari penghasilan.
Jangan Tunggu Besok untuk Berbuat Baik
Ada banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita hari ini. Ada keluarga yang sedang berjuang. Ada anak-anak yang memiliki mimpi besar tetapi terbatas oleh keadaan. Ada pula mereka yang hanya ingin menjalani kehidupan dengan lebih layak.
Kita mungkin tidak mampu membantu semuanya. Namun, kita tetap bisa membantu seseorang.
Satu sedekah mungkin tidak mengubah dunia, tetapi bisa mengubah dunia seseorang yang menerimanya.
Maka, di momentum kemerdekaan ini, mari kita ubah rasa syukur menjadi aksi nyata.
Mari berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah. Mari bersama-sama menghadirkan senyum, harapan, dan kesempatan bagi mereka yang membutuhkan.
Kemerdekaan yang Menghidupkan Harapan
Pada akhirnya, kemerdekaan akan terasa jauh lebih indah ketika kita tidak hanya merayakannya untuk diri sendiri.
Ketika kita berbagi, kita sedang memperluas arti kemerdekaan. Dari hati yang bersyukur, lahir kepedulian. Dari kepedulian, lahir bantuan. Dari bantuan, tumbuh harapan.
Dan dari harapan itulah, kehidupan seseorang bisa berubah menjadi lebih baik.
Kemerdekaan makin bermakna ketika kita mampu berbagi kebahagiaan.
Mari isi kemerdekaan dengan kebaikan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat menjadi bagian dari ikhtiar membantu masyarakat yang membutuhkan.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Merdeka Berbagi, Merdeka dari Kemiskinan: Semangat Kemerdekaan Bersama BAZNAS
Merdeka Berbagi, Merdeka dari Kemiskinan: Semangat Kemerdekaan Bersama BAZNAS
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang memiliki kesempatan untuk hidup layak, mandiri, dan sejahtera. Di tengah semangat memperingati kemerdekaan Indonesia, kita dapat memaknai kemerdekaan dengan cara yang lebih luas: merdeka dari kemiskinan, merdeka dari keterbatasan, dan merdeka untuk berbagi kepada sesama.
Salah satu bentuk nyata kepedulian sosial adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Dengan pengelolaan yang amanah dan tepat sasaran, dana yang dihimpun dapat membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus mendukung berbagai program pemberdayaan ekonomi. Melalui BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional), semangat berbagi dapat menjadi gerakan bersama untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih mandiri dan sejahtera.
Memaknai Kemerdekaan dengan Berbagi
Kemerdekaan memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk tumbuh dan meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, kenyataannya masih ada masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi, kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan belum memiliki akses yang cukup terhadap pendidikan maupun peluang usaha.
Karena itu, semangat kemerdekaan dapat diwujudkan dengan menumbuhkan kepedulian. Berbagi bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menghadirkan harapan dan membuka kesempatan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 267:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”(QS. Al-Baqarah: 267)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa berbagi merupakan bagian dari kepedulian seorang muslim terhadap kehidupan sosial.
Berbagi untuk Menguatkan Sesama
Berbagi dapat memberikan dampak yang lebih besar ketika dilakukan secara terencana. Bantuan yang diberikan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus meningkatkan kemampuan penerima manfaat.
Melalui zakat dan sedekah, masyarakat dapat ikut mendukung pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, pemberdayaan UMKM, pelatihan keterampilan, hingga pengembangan usaha masyarakat kurang mampu.
Zakat sebagai Jalan Menuju Kemandirian
Zakat memiliki peran penting dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Dalam Islam, zakat tidak hanya berkaitan dengan ibadah, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan zakat atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”(HR. Bukhari No. 1395)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial. Harta yang dimiliki oleh orang yang berkecukupan dapat memberikan manfaat kepada mereka yang membutuhkan.
Dari Mustahik Menuju Kemandirian
Pemberian bantuan tidak harus berhenti pada kebutuhan konsumtif. Dengan program pemberdayaan yang tepat, dana zakat dapat membantu mustahik memiliki keterampilan, modal usaha, serta kesempatan untuk meningkatkan pendapatan.
Zakat Produktif sebagai Bentuk Pemberdayaan
Zakat produktif dapat diwujudkan melalui bantuan peralatan usaha, modal, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan pemasaran. Tujuannya adalah membantu penerima manfaat agar secara bertahap mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.
Dengan demikian, semangat berbagi dapat menghasilkan perubahan jangka panjang. Hari ini kita membantu seseorang, esok kita membuka peluang agar ia mampu berdiri sendiri.
Bersama BAZNAS, Wujudkan Merdeka dari Kemiskinan
BAZNAS memiliki peran dalam menghimpun dan mengelola zakat agar dapat disalurkan kepada masyarakat yang berhak menerima. Melalui lembaga pengelola zakat, masyarakat memiliki sarana untuk menyalurkan zakat dan sedekah secara lebih terarah.
Semangat kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas. Kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan untuk hidup layak dan membangun masa depan.
Saatnya Merdeka untuk Berbagi
Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan dapat membantu seorang pedagang kecil mengembangkan usahanya. Bayangkan jika sedekah yang kita berikan dapat membantu seorang anak melanjutkan pendidikan. Bayangkan jika kepedulian kita menjadi awal bagi sebuah keluarga untuk bangkit dari keterbatasan ekonomi.
Itulah kekuatan berbagi.
Satu kebaikan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi dapat menjadi sangat berarti bagi orang lain.
Jangan Biarkan Kemerdekaan Berhenti pada Perayaan
Mari jadikan momentum kemerdekaan bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperkuat kepedulian sosial.
Merdeka berbagi berarti merdeka untuk peduli. Merdeka membantu berarti ikut membuka jalan bagi sesama untuk bangkit. Merdeka dari kemiskinan berarti menciptakan masyarakat yang memiliki kesempatan untuk hidup lebih baik.
Mari Berbagi Bersama BAZNAS
Kemerdekaan adalah milik bersama. Karena itu, kesejahteraan juga merupakan tanggung jawab bersama.
Mari tunaikan zakat dan salurkan infak serta sedekah melalui BAZNAS. Setiap kontribusi yang diberikan dapat menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan masyarakat dan membantu menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Jangan menunggu memiliki banyak untuk mulai berbagi. Mulailah dari apa yang kita miliki, karena kebaikan tidak pernah terlalu kecil untuk memberikan arti.
Zakat Anda, Harapan Mereka
Mari merdeka bersama. Merdeka berbagi, merdeka peduli, dan merdeka dari kemiskinan.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS. Bersama, kita dapat mengubah kepedulian menjadi aksi, bantuan menjadi pemberdayaan, dan harapan menjadi masa depan.
“Merdeka berbagi hari ini, membuka jalan bagi kehidupan yang lebih mandiri esok hari.”
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Kita Sudah Merdeka, Tapi Apakah Semua Sudah Merasakan Kemerdekaan?
Kemerdekaan Indonesia setiap tahun kita rayakan dengan penuh sukacita. Bendera merah putih berkibar, berbagai perlombaan digelar, dan semangat persatuan kembali digaungkan. Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan:
Kita sudah merdeka, tetapi apakah semua masyarakat sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?
Sebab, kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang kesempatan untuk hidup layak, mendapatkan pendidikan, memperoleh pelayanan kesehatan, memiliki penghasilan yang cukup, dan menjalani kehidupan dengan penuh harapan.
Masih ada saudara kita yang harus berjuang memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ada anak-anak yang ingin sekolah tetapi terkendala biaya. Ada keluarga yang tinggal dalam kondisi sederhana dan membutuhkan bantuan untuk bangkit.
Di sinilah semangat kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada perayaan, tetapi diwujudkan melalui kepedulian dan aksi nyata.
Makna Kemerdekaan dalam Perspektif Islam
Islam mengajarkan bahwa kehidupan yang baik tidak hanya tentang keberhasilan diri sendiri. Seorang muslim juga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan kondisi orang-orang di sekitarnya.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa membantu sesama merupakan bagian dari kebaikan yang dianjurkan dalam Islam.
Maka, ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu saudara yang membutuhkan, jangan sampai kita memilih untuk berpaling.
Kemerdekaan yang Dirayakan Bersama
Kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika kebahagiaan tidak hanya dinikmati oleh sebagian orang.
Ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu bisa kembali bersekolah, itu adalah bentuk kemerdekaan.
Ketika sebuah keluarga yang kesulitan ekonomi mendapatkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, itu juga merupakan bentuk kemerdekaan.
Ketika seorang mustahik mendapatkan pendampingan hingga mampu mandiri dan memiliki penghasilan, kita sedang membantu menghadirkan kemerdekaan yang lebih nyata.
Jangan Biarkan Saudara Kita Berjuang Sendirian
Rasulullah SAW menggambarkan hubungan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Beliau bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.”
(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa kesulitan yang dialami saudara kita semestinya menggugah kepedulian. Kita mungkin tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan, tetapi kita selalu bisa mengambil bagian dalam meringankan beban.
Zakat, Infak, dan Sedekah: Cara Sederhana Menghadirkan Harapan
Salah satu bentuk nyata kepedulian adalah melalui zakat, infak, dan sedekah.
Zakat membantu menunaikan kewajiban sekaligus memberikan manfaat bagi mereka yang berhak menerima. Sementara infak dan sedekah menjadi bentuk kepedulian yang dapat dilakukan sesuai kemampuan.
Dari nominal yang mungkin terlihat sederhana, bisa lahir perubahan besar.
Satu rupiah yang kita sisihkan bisa menjadi bagian dari perjuangan seseorang untuk bangkit.
Saatnya Mengisi Kemerdekaan dengan Berbagi
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengingat perjuangan para pahlawan di masa lalu. Kemerdekaan juga tentang meneruskan semangat perjuangan melalui kebaikan hari ini.
Mari kita tanyakan kepada diri sendiri:
Jika hari ini kita masih bisa makan dengan tenang, apakah ada saudara kita yang belum?
Jika anak kita bisa bersekolah dengan nyaman, apakah masih ada anak lain yang harus menunda cita-citanya karena keterbatasan?
Jika kita memiliki rezeki lebih, sudahkah sebagian rezeki itu mengalir kepada mereka yang membutuhkan?
Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Karena kebaikan tidak selalu diukur dari besarnya nominal, tetapi dari keikhlasan dan manfaat yang diberikan.
Jadikan Kemerdekaan Lebih Bermakna
Momentum kemerdekaan tahun ini mari kita isi dengan sesuatu yang lebih berarti.
Bukan hanya memasang bendera, tetapi juga mengangkat harapan.Bukan hanya merayakan kemenangan, tetapi juga membantu saudara meraih kehidupan yang lebih baik.Bukan hanya berkata “Indonesia Merdeka”, tetapi ikut menghadirkan kemerdekaan bagi mereka yang masih berjuang.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Menjadikan Zakat sebagai Wujud Syukur atas Kemerdekaan
Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menjadi kesempatan bagi kita untuk hidup, bekerja, beribadah, dan berbagi dengan sesama. Di balik kemerdekaan yang kita rasakan hari ini, ada banyak nikmat Allah yang patut disyukuri.
Salah satu cara nyata untuk menunjukkan rasa syukur tersebut adalah dengan menunaikan zakat.
Zakat bukan sekadar kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat. Lebih dari itu, zakat adalah bentuk kepedulian yang dapat membantu sesama, menguatkan ekonomi umat, dan menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Kemerdekaan Adalah Nikmat yang Patut Disyukuri
Setiap tahun, masyarakat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan dengan berbagai kegiatan. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pertanyaan penting yang layak kita renungkan: sudahkah kemerdekaan yang kita nikmati menjadi alasan untuk semakin banyak bersyukur dan berbagi?
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
(QS. Ibrahim: 7)
Ayat ini mengingatkan bahwa syukur bukan hanya ucapan “alhamdulillah”. Syukur juga perlu diwujudkan melalui perbuatan, termasuk menggunakan sebagian rezeki untuk membantu orang lain.
Zakat: Bentuk Syukur yang Mengubah Kehidupan
Mengapa Zakat Bisa Menjadi Wujud Syukur?
Ketika Allah memberikan rezeki, kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan kesempatan hidup dalam keadaan aman, kita memiliki alasan yang sangat besar untuk bersyukur.
Salah satu bentuk syukur tersebut adalah mengeluarkan sebagian harta melalui zakat ketika telah memenuhi ketentuannya.
Zakat memiliki kedudukan penting dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah, dan berpuasa Ramadan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, zakat bukan sekadar aktivitas sosial. Ia merupakan bagian dari fondasi kehidupan seorang Muslim.
Zakat Menghubungkan Rezeki dengan Kepedulian
Rezeki yang kita miliki bukan hanya tentang apa yang dapat kita gunakan untuk diri sendiri. Di dalamnya terdapat amanah dan kewajiban untuk berbagi.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik...”
(QS. Al-Baqarah: 267)
Ayat tersebut mengajarkan bahwa berbagi sebaiknya dilakukan dengan sesuatu yang baik dan berasal dari rezeki yang halal.
Mengisi Kemerdekaan dengan Berbagi
Kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika kebahagiaan tidak hanya dirasakan oleh sebagian orang.
Masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada lansia yang hidup dalam keterbatasan. Ada pelaku usaha kecil yang membutuhkan modal untuk bangkit.
Di sinilah zakat dapat menjadi bagian dari solusi.
Dari Harta Menjadi Harapan
Zakat yang dikelola dengan baik dapat disalurkan untuk membantu mustahik sesuai ketentuan syariat. Bantuan tersebut bukan hanya memberikan manfaat sesaat, tetapi dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian penerima manfaat.
Karena itu, menunaikan zakat berarti mengubah sebagian rezeki menjadi manfaat nyata bagi sesama.
Saatnya Menjadikan Kemerdekaan Lebih Bermakna
Perayaan kemerdekaan tidak harus berhenti pada upacara, perlombaan, atau memasang bendera. Kita juga dapat mengisinya dengan amal yang memberi dampak.
Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki yang cukup, mari jadikan sebagian dari nikmat tersebut sebagai jalan kebaikan.
Jika telah memenuhi kewajiban zakat, tunaikanlah zakat dengan penuh keikhlasan. Jika ingin menambah keberkahan, lanjutkan dengan infak dan sedekah.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Ketika Zakat Menjadi Jalan bagi Mereka untuk Bangkit
Bayangkan seseorang yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi penghasilan yang didapat belum cukup untuk membeli kebutuhan pokok. Atau seorang ibu yang ingin menyekolahkan anaknya, namun biaya pendidikan terasa begitu berat. Ada pula pelaku usaha kecil yang sebenarnya memiliki semangat untuk mandiri, tetapi terkendala modal.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, zakat dapat menjadi jalan bagi mereka untuk bangkit.
Zakat bukan sekadar kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syarat. Jika dikelola dengan baik dan disalurkan kepada penerima yang tepat, zakat dapat menjadi sumber harapan, membantu memenuhi kebutuhan, sekaligus membuka kesempatan bagi mustahik untuk memperbaiki kehidupannya.
Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Menguatkan
Islam mengajarkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang sangat besar. Allah SWT telah menetapkan siapa saja yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur'an.
Allah Menetapkan Delapan Golongan Penerima Zakat
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memang diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan dan berada dalam kondisi tertentu. Karena itu, zakat bukan hanya tentang nominal yang dikeluarkan, tetapi tentang harapan yang bisa tumbuh dari setiap rupiah yang ditunaikan.
Dari Mustahik Menjadi Lebih Berdaya
Zakat untuk Memenuhi Kebutuhan Dasar
Bagi sebagian keluarga, bantuan zakat dapat menjadi penyelamat ketika kebutuhan pokok belum mampu dipenuhi. Bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban kehidupan sehingga mereka tidak merasa berjuang sendirian.
Namun, manfaat zakat tidak harus berhenti pada bantuan konsumtif.
Zakat Dapat Membuka Jalan Kemandirian
Ketika dikelola melalui program pemberdayaan, zakat dapat diarahkan untuk membantu mustahik mengembangkan kemampuan dan meningkatkan produktivitas.
Misalnya melalui dukungan usaha kecil, pelatihan keterampilan, bantuan pendidikan, maupun program pemberdayaan ekonomi. Dengan begitu, zakat dapat menjadi salah satu jalan agar penerima manfaat perlahan memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Dari Bantuan Menjadi Harapan
Inilah makna penting dari zakat: membantu seseorang melewati kesulitan hari ini sekaligus membuka peluang untuk memiliki kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Satu zakat yang ditunaikan dengan ikhlas mungkin terlihat sederhana bagi muzaki. Namun bagi penerima manfaat, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk keluarga, biaya pendidikan anak, modal usaha, atau kesempatan untuk kembali percaya diri.
Rasulullah Mengajarkan Fungsi Sosial Zakat
Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang mampu dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dalam hadis riwayat Bukhari, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman, beliau bersabda:
“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”
Pesan ini begitu kuat: zakat memiliki dimensi kepedulian dan pemerataan manfaat di tengah masyarakat.
Saatnya Menjadikan Zakat sebagai Jalan Kebangkitan
Masih banyak saudara kita yang memiliki semangat untuk bangkit, tetapi membutuhkan dukungan untuk memulainya.
Mereka bukan tidak mau berusaha. Mereka hanya membutuhkan kesempatan.
Di sinilah peran kita sebagai muzaki menjadi penting. Zakat yang kita tunaikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih layak bagi mereka yang membutuhkan.
Jangan Biarkan Kebaikan Berhenti di Niat
Niat untuk membantu adalah awal yang baik. Namun, kebaikan akan semakin berarti ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Mari tunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat yang amanah dan terpercaya agar zakat dapat disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan syariat dan dikelola untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Dari Semangat Kemerdekaan untuk Kemandirian: Peran BAZNAS dalam Memberdayakan Masyarakat
Dari Semangat Kemerdekaan untuk Kemandirian: Peran BAZNAS dalam Memberdayakan Masyarakat
Kemerdekaan Indonesia bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kesempatan bagi setiap masyarakat untuk hidup layak, berdaya, dan memiliki masa depan yang lebih baik. Semangat kemerdekaan seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui kepedulian, gotong royong, dan keberanian untuk membantu sesama keluar dari keterbatasan.
Dalam semangat tersebut, BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) memiliki peran penting dalam mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan sekaligus mendorong mereka menuju kemandirian.
Kemerdekaan yang Sesungguhnya adalah Kemandirian
Kemiskinan sering kali membuat seseorang memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar, mengakses pendidikan, mengembangkan usaha, hingga merencanakan masa depan. Karena itu, membantu masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sesaat.
Diperlukan program pemberdayaan yang mampu membuka peluang agar penerima manfaat dapat bangkit, memiliki penghasilan, dan perlahan menjadi mandiri.
Dari Bantuan Menuju Pemberdayaan
Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dana yang dihimpun dari para muzaki dapat menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi kesenjangan dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.
Al-Qur’an mengajarkan pentingnya membelanjakan harta yang baik untuk membantu sesama:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Mahakaya, Maha Terpuji.”(QS. Al-Baqarah: 267)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa berbagi bukan sekadar memberikan sesuatu yang tersisa, melainkan memberikan yang terbaik sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
Peran BAZNAS dalam Mewujudkan Masyarakat Berdaya
BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat secara terencana agar dana umat dapat disalurkan kepada mereka yang berhak menerima manfaat. Pemberdayaan dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan, mulai dari bantuan kebutuhan dasar hingga dukungan untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengembangan kapasitas masyarakat.
Mendorong Kemandirian Ekonomi
Salah satu langkah penting dalam memutus rantai kemiskinan adalah membuka akses terhadap sumber penghasilan. Dukungan berupa modal usaha, pelatihan keterampilan, pendampingan, maupun penguatan usaha mikro dapat membantu mustahik mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Tujuannya bukan sekadar membantu hari ini, tetapi menciptakan perubahan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Mustahik Berdaya, Masa Depan Lebih Cerah
Ketika seorang penerima manfaat mampu meningkatkan pendapatan, memenuhi kebutuhan keluarganya, dan mengembangkan usahanya, maka bantuan yang diberikan telah menjadi investasi sosial. Lebih jauh lagi, kemandirian tersebut dapat membuka peluang bagi lahirnya muzaki baru di masa depan.
Inilah makna penting dari merdeka dari kemiskinan: memiliki kesempatan untuk bangkit dan menentukan masa depan dengan lebih baik.
Semangat Berbagi di Hari Kemerdekaan
Momentum kemerdekaan dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk membangun Indonesia belum selesai. Jika dahulu para pahlawan berjuang dengan tenaga dan keberanian, hari ini kita dapat meneruskan semangat perjuangan melalui kepedulian dan berbagi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa harta yang disedekahkan tidak akan menjadi kerugian bagi seorang mukmin. Justru, sedekah merupakan bentuk keberkahan dan kepedulian yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Saatnya Merdeka Berbagi
Kemerdekaan akan terasa lebih bermakna ketika kebahagiaan dan kesempatan untuk hidup layak dapat dirasakan lebih banyak orang. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengambil bagian dalam menghadirkan harapan bagi keluarga yang membutuhkan.
Mari bersama BAZNAS, ubah kepedulian menjadi aksi nyata. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik kita untuk mendukung masyarakat agar tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk tumbuh, bekerja, dan mandiri.
Satu Kebaikan, Banyak Harapan
Setiap rupiah yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari perjalanan seseorang menuju kemandirian. Dari bantuan kebutuhan dasar, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi, kebaikan yang kita titipkan dapat menjadi awal perubahan bagi sebuah keluarga.
Merdeka Berbagi, Merdeka dari Kemiskinan.Mari kobarkan semangat kemerdekaan dengan berbagi bersama BAZNAS dan ikut mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih berdaya, mandiri, dan sejahtera.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Menumbuhkan Kesadaran Zakat di Kalangan Muda: Saatnya Berbagi, Saatnya Berdampak
Generasi muda hari ini hidup di tengah dunia yang serba cepat. Belanja bisa dilakukan dalam hitungan menit, tren berganti setiap hari, dan berbagai kebutuhan semakin mudah diakses melalui teknologi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: kepedulian kepada sesama dan kewajiban zakat.
Menumbuhkan kesadaran zakat di kalangan muda bukan sekadar mengajak anak muda untuk mengeluarkan sebagian hartanya. Lebih dari itu, zakat adalah upaya membangun generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan memahami bahwa di dalam rezeki yang dimiliki terdapat hak orang lain.
Mengapa Kesadaran Zakat di Kalangan Muda Penting?
Zakat merupakan salah satu pilar penting dalam Islam. Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu dari lima rukun Islam.
Artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).
Karena itu, mengenalkan zakat sejak usia muda sangat penting. Kesadaran yang dibangun sejak dini dapat menjadi kebiasaan baik ketika seseorang mulai memiliki penghasilan, usaha, tabungan, maupun aset yang telah memenuhi ketentuan zakat.
Zakat Bukan Sekadar Mengeluarkan Harta
Sebagian anak muda mungkin masih memandang zakat sebagai kewajiban yang baru perlu dipikirkan ketika sudah tua atau memiliki kekayaan besar. Padahal, yang lebih penting adalah memahami kapan seseorang memiliki kewajiban zakat dan bagaimana menunaikannya sesuai syariat.
Zakat juga mengajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan.
Zakat Membentuk Generasi Muda yang Peduli
Di tengah budaya konsumtif, zakat dapat menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari membeli sesuatu untuk diri sendiri.
Ada kebahagiaan ketika sebagian rezeki kita membantu seorang anak mendapatkan pendidikan. Ada keberkahan ketika zakat membantu keluarga memenuhi kebutuhan hidup. Ada kepuasan ketika kontribusi kita ikut membuka jalan bagi mustahik untuk bangkit secara ekonomi.
Al-Qur'an mengingatkan:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga memiliki dimensi spiritual: membersihkan dan menyucikan.
Bagaimana Menumbuhkan Kesadaran Zakat di Kalangan Anak Muda?
1. Edukasi Zakat dengan Bahasa yang Relevan
Zakat perlu diperkenalkan melalui bahasa yang dekat dengan kehidupan anak muda. Edukasi bisa dikemas melalui media sosial, video pendek, infografis, podcast, hingga konten kisah nyata penerima manfaat.
2. Manfaatkan Teknologi Digital
Generasi muda sangat dekat dengan teknologi. Karena itu, pembayaran zakat secara digital dapat menjadi salah satu cara membuat ibadah ini lebih mudah dilakukan.
Namun, kemudahan digital tetap perlu diiringi dengan edukasi mengenai jenis zakat, syarat wajib zakat, nisab, haul, serta penyaluran yang amanah.
3. Tunjukkan Dampak Nyata Zakat
Anak muda perlu melihat bahwa zakat bukan sekadar angka yang berpindah dari satu rekening ke rekening lainnya.
Zakat bisa berubah menjadi pendidikan, bantuan kesehatan, modal usaha, pangan, hingga peluang bagi mustahik untuk menjadi lebih mandiri.
Inilah kekuatan zakat: satu kebaikan dapat melahirkan banyak perubahan.
Saatnya Anak Muda Ikut Menguatkan Gerakan Zakat
Menjadi generasi muda yang peduli tidak harus menunggu kaya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk berbagi sesuai kemampuan dan kewajiban yang dimiliki.
Jika hari ini kita sedang membangun masa depan, jangan lupa bahwa ada orang lain yang juga sedang berjuang membangun kehidupannya.
Mari tumbuhkan kesadaran zakat mulai dari diri sendiri. Ketika zakat ditunaikan dengan ikhlas dan dikelola secara amanah, manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Sedekah Setelah Gajian atau Menunggu Sisa? Jangan-Jangan Kita Selalu Menunggu Punya Lebih.
Sedekah Setelah Gajian atau Menunggu Sisa? Jangan-Jangan Kita Selalu Menunggu Punya Lebih.
Mengapa Kita Selalu Merasa Belum Punya Cukup?
“Kalau sudah gajian nanti aku sedekah.”
“Bulan depan saja, sekarang masih banyak kebutuhan.”
“Nanti kalau penghasilan sudah lebih besar, baru bisa berbagi.”
Pernahkah kalimat seperti ini terlintas dalam pikiran kita?
Menunda berbagi bukan selalu berarti kita tidak peduli. Terkadang, kita memang sedang memiliki banyak kebutuhan. Namun, tanpa disadari, kata “nanti” dapat terus berulang. Ketika penghasilan bertambah, kebutuhan pun ikut bertambah. Ketika mendapatkan bonus, muncul keinginan baru. Akhirnya, kita terus merasa belum memiliki cukup untuk berbagi.
Mungkin persoalannya bukan karena kita tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Mungkin kita selalu merasa apa yang kita punya belum cukup. Padahal, berbagi tidak harus menunggu kita menjadi kaya.
Sedekah Bukan Menunggu Sisa
Ada kebiasaan yang perlu kita pertanyakan: apakah kita hanya mau berbagi dari uang yang tersisa setelah semua keinginan terpenuhi?
Jika sedekah selalu menunggu sisa, mungkin tidak akan pernah ada waktu yang benar-benar terasa tepat.
Islam justru mengajarkan kita untuk mengeluarkan sebagian dari apa yang kita cintai dan miliki. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 92:
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita inginkan. Ada nilai pengorbanan ketika kita menyisihkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk kebaikan.
Karena itu, sedekah dapat dibangun sebagai kebiasaan, bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika sedang tergerak atau ketika ada bencana.
Zakat, Infak, dan Sedekah Tidak Sama
Berbicara tentang berbagi, kita juga perlu memahami bahwa zakat, infak, dan sedekah memiliki pengertian yang berbeda.
Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu, seperti mencapai nisab dan haul untuk jenis harta tertentu. Zakat juga memiliki ketentuan mengenai pihak-pihak yang berhak menerimanya.
Sementara itu, infak merupakan pengeluaran atau pemberian harta untuk berbagai tujuan kebaikan. Adapun sedekah memiliki makna yang lebih luas dan dapat berupa pemberian harta maupun bentuk kebaikan lainnya.
Artinya, tidak semua orang harus menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai berbagi. Ada ruang untuk berbuat baik sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Yang perlu dilakukan adalah memahami kewajiban kita, kemudian membangun kebiasaan berbagi secara bijak dan ikhlas.
Mulai dari Sedikit, tetapi Konsisten
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling kontinu meskipun sedikit.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kebaikan tidak selalu harus dilakukan dalam jumlah besar. Konsistensi juga memiliki nilai yang penting.
Daripada menunggu memiliki uang berlebih, kita dapat mulai menyisihkan sebagian rezeki secara rutin. Misalnya, menetapkan sejumlah dana yang memang dialokasikan untuk infak atau sedekah setiap kali menerima penghasilan.
Dengan cara tersebut, berbagi tidak lagi menjadi keputusan spontan. Ia berubah menjadi kebiasaan.
Tentu, kebutuhan setiap orang berbeda. Jangan sampai berbagi dilakukan dengan mengabaikan kebutuhan pokok atau kewajiban finansial yang harus dipenuhi. Prinsipnya adalah memberi dengan ikhlas dan sesuai kemampuan.
Teknologi Membuat Berbagi Lebih Mudah
Di era digital, jarak seharusnya bukan lagi alasan untuk menunda kebaikan.
Jika dahulu seseorang harus datang langsung ke lembaga sosial untuk menyalurkan bantuan, kini sedekah online dapat dilakukan dengan lebih praktis. Kemudahan ini memungkinkan kita menyisihkan sebagian rezeki kapan pun memiliki kesempatan.
Melalui kanal digital BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah dengan lebih mudah. Dengan begitu, niat untuk berbagi tidak harus menunggu waktu luang atau kesempatan tertentu.
Yang diperlukan terkadang bukan uang yang lebih banyak, tetapi keputusan untuk mulai.
Jangan Tunggu Punya Lebih untuk Berbagi
Kita mungkin tidak pernah merasa benar-benar memiliki “lebih”. Sebab ketika rezeki bertambah, keinginan dan kebutuhan pun dapat ikut bertambah.
Maka, jangan biarkan kata “nanti” membuat kebaikan terus tertunda.
Jika telah memenuhi syarat, tunaikan zakat sebagai kewajiban. Jika memiliki kemampuan, sisihkan infak. Dan jangan ragu menghadirkan sedekah meskipun sederhana.
Tidak perlu menunggu lebih untuk mulai berbagi.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan sebagian rezeki yang kita miliki sebagai manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Jangan tunggu punya lebih untuk berbagi. Karena kebaikan yang kita tunda hari ini mungkin adalah harapan yang sedang dibutuhkan seseorang.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →
