WhatsApp Icon
Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap

Menelan Air Ludah Saat Puasa sering membuat ragu. Simak fakta penting, hukum menurut ulama, syarat sah puasa, dan penjelasan lengkapnya di sini.

Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap

Menelan Air Ludah Saat Puasa sering kali menjadi pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, terutama saat bulan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang merasa ragu dan khawatir puasanya batal hanya karena menelan ludahnya sendiri. Bahkan, ada yang memilih membuang ludah berulang kali saat berpuasa karena takut melanggar aturan puasa. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum menelan air ludah saat berpuasa menurut Islam?

Puasa memang dapat batal apabila seseorang dengan sengaja memasukkan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui rongga tertentu. Namun, air ludah atau air liur merupakan sesuatu yang secara alami diproduksi oleh tubuh dan sangat sulit dihindari. Oleh karena itu, para ulama memberikan penjelasan khusus terkait hukum menelan air ludah saat puasa.

Hukum Menelan Air Ludah Saat Puasa Menurut Ulama

[caption id="attachment_2634" align="alignnone" width="398"]add media BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Dalam buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa” karya Ahmad Mundzir, seorang pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang, dijelaskan bahwa para ulama sepakat menelan air ludah tidak membatalkan puasa. Kesepakatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa air liur merupakan bagian alami dari tubuh manusia dan sulit untuk dihindari keberadaannya.

Penjelasan ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341). Beliau menyatakan:

“Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.”

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah.

Syarat Menelan Air Ludah Agar Tidak Membatalkan Puasa

Meski menelan air ludah saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa, para ulama memberikan beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap sah.

  1. Air Ludah Tidak Tercampur Zat Lain: Air ludah yang ditelan harus murni, tidak tercampur dengan zat lain seperti darah akibat luka gusi, sisa makanan, atau minuman. Jika air ludah bercampur dengan zat lain lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut berpotensi membatalkan puasa.
  2. Air Ludah Tidak Keluar Melewati Bibir: Air ludah yang masih berada di dalam rongga mulut dan belum melewati batas bibir luar boleh ditelan dan tidak membatalkan puasa. Namun, jika air ludah sudah keluar dari mulut lalu dikumpulkan kembali dan ditelan dengan sengaja, sebagian ulama berpendapat hal ini dapat membatalkan puasa.
  3. Tidak Sengaja Menampung Ludah Berlebihan: Jika seseorang dengan sengaja menampung air ludah dalam jumlah banyak lalu menelannya, terdapat perbedaan pendapat ulama. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa selama perbuatan tersebut tidak disengaja dan tidak ada unsur rekayasa, maka puasanya tetap sah.

Dengan memenuhi ketiga syarat tersebut, menelan air ludah saat puasa tidak perlu dikhawatirkan dan puasa tetap dianggap sah.

Mengapa Tidak Perlu Berlebihan Membuang Ludah?

Membuang ludah secara berlebihan justru dapat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah puasa. Islam mengajarkan keseimbangan dan kemudahan dalam beribadah. Selama tidak ada unsur kesengajaan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, puasa tetap sah dan bernilai ibadah.

Menyempurnakan Puasa dengan Sedekah

Selain menjaga sah atau tidaknya puasa, umat Islam dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan dengan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya bersedekah. Sedekah dapat melipatgandakan pahala puasa dan membantu sesama yang membutuhkan.

Bersedekah kini semakin mudah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara online. Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang mengelola dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), BAZNAS Provinsi Jawa Barat telah dipercaya masyarakat luas.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib diketahui setiap Muslim. Simak penjelasan lengkap 8 perkara pembatal puasa beserta dalil Al-Qur’an dan hadits.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim

[caption id="attachment_2640" align="alignnone" width="430"]8 Ha Pembatal Puasa BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

merupakan pengetahuan penting yang wajib dipahami setiap Muslim agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan sempurna. Puasa adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk ke dalam rukun Islam. Hukumnya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Puasa yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah baligh dan berakal adalah puasa Ramadhan.

Puasa Ramadhan dilaksanakan selama 29 atau 30 hari pada bulan Ramadhan dan perintahnya disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, memahami hal-hal yang membatalkan puasa menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia.

Foto

Berikut ini 8 hal yang membatalkan puasa seseorang menurut Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama.

1. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Tubuh dengan Sengaja

Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa yang paling jelas. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.”

Namun, jika seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah dan boleh dilanjutkan.

2. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Kubul atau Dubur

Memasukkan sesuatu melalui kubul atau dubur, meskipun untuk pengobatan, dapat membatalkan puasa. Contohnya seperti pemasangan kateter urin, obat ambeien, atau cairan tertentu yang masuk ke dalam tubuh dan dianalogikan sebagai makan atau minum oleh sebagian ulama.

3. Muntah dengan Sengaja

Muntah yang disengaja membatalkan puasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya mengqadha puasanya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya.”
(HR. Abu Daud)

Jika muntah terjadi tanpa disengaja, maka puasa tetap sah.

4. Melakukan Hubungan Suami Istri

Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan termasuk pembatal puasa yang paling berat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan bahwa hubungan suami istri hanya dihalalkan pada malam hari di bulan puasa.

Bagi yang melanggarnya, wajib menunaikan kafarat berat, yaitu:

  • Memerdekakan budak mukmin

  • Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut

  • Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 fakir miskin

5. Keluar Air Mani dengan Sengaja

Keluar air mani dengan sengaja, baik melalui onani atau bercumbu tanpa jima’, membatalkan puasa dan wajib mengqadha tanpa kafarat. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari:

“Ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena-Ku.”

Namun, jika mani keluar tanpa disengaja seperti mimpi basah, maka tidak membatalkan puasa.

6. Haid dan Nifas

Wanita yang mengalami haid atau nifas saat berpuasa, meskipun menjelang waktu berbuka, puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Rasulullah SAW bersabda:

“Bukankah jika wanita haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari)

7. Gila atau Hilang Akal

Salah satu syarat wajib puasa adalah berakal sehat. Jika seseorang mengalami gila atau hilang akal, maka puasanya batal karena tidak terpenuhinya syarat sah puasa.

8. Keluar dari Islam (Murtad)

Keluar dari Islam, baik melalui perkataan maupun perbuatan, otomatis membatalkan seluruh ibadah, termasuk puasa. Jika seseorang mengingkari keesaan Allah saat berpuasa, maka puasanya batal.

Kesimpulan

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib dipahami agar ibadah Ramadhan dijalankan dengan benar sesuai syariat Islam. Dengan memahami pembatal puasa, setiap Muslim dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesucian ibadahnya. Semoga artikel ini dapat membantu Sahabat BAZNAS menjalankan puasa dengan ilmu dan kesadaran yang benar.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Perlu Nggak Sih Kita Jadi Muzakki? Banyak yang Belum Tahu

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya

Puasa Tanpa Sahur sering menjadi pertanyaan umat Muslim. Simak hukum sahur dalam Islam, dalil Al-Qur’an dan hadits, pendapat ulama, serta manfaat sahur.

Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya

Puasa Tanpa Sahur sering menjadi topik yang dipertanyakan oleh umat Islam, terutama ketika seseorang tertidur dan terlewat waktu sahur atau karena kondisi tertentu yang membuatnya tidak sempat makan sahur. Puasa sendiri adalah ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Biasanya, puasa diawali dengan makan sebelum terbit fajar yang dikenal dengan sahur.

Namun, bagaimana hukum puasa tanpa sahur dalam Islam? Apakah sahur merupakan syarat sahnya puasa, ataukah hanya sekadar anjuran? Artikel ini akan mengupas secara lengkap hukum, dalil, pendapat ulama, serta manfaat sahur dalam Islam.

Hukum Sahur dalam Islam

[caption id="attachment_2646" align="alignnone" width="515"]Hukum Sahur Dalam Islam Baznas Kota Sukabumi[/caption]

Banyak umat Muslim bertanya, apakah puasa tanpa sahur diperbolehkan? Dalam Islam, sahur bukanlah syarat sah puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak melaksanakan sahur.

Rasulullah SAW bersabda:

“Makan sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Hadits ini menunjukkan bahwa sahur memiliki keutamaan dan keberkahan, meskipun tidak diwajibkan. Oleh karena itu, puasa tanpa sahur tetap sah, tetapi sangat disayangkan jika seseorang meninggalkan sahur tanpa alasan.

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam…”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menunjukkan batas waktu makan sebelum puasa dimulai, namun tidak menjadikan sahur sebagai syarat sah puasa.

Puasa Tanpa Sahur Menurut Pendapat Ulama

Para ulama sepakat bahwa puasa tanpa sahur hukumnya boleh, tetapi sahur tetap dianjurkan. Berikut beberapa pendapat ulama dari berbagai mazhab:

Mazhab Syafi’i dan Hambali

Dalam Mazhab Syafi’i dan Hambali, sahur dihukumi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jika seseorang berpuasa tanpa sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keberkahan sahur.

Mazhab Hanafi

Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa tanpa sahur diperbolehkan. Namun, beliau menekankan bahwa sahur membantu meringankan puasa dan menjaga kekuatan fisik selama berpuasa.

Mazhab Maliki

Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sunnah yang mengandung hikmah besar bagi pelaksana puasa.

Pendapat Ulama Kontemporer

Ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa puasa tanpa sahur sah secara hukum, namun sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Manfaat Sahur dalam Puasa

[caption id="attachment_2647" align="alignnone" width="357"]5 Manfaat Sahur Dalam Islam BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Meskipun puasa tanpa sahur diperbolehkan, sahur memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan.

  1. Mendapat Keberkahan: Rasulullah SAW secara khusus menyebut sahur sebagai waktu yang penuh berkah. Keberkahan ini mencakup kekuatan fisik dan kemudahan dalam beribadah.
  2. Menjaga Stamina Selama Puasa: Sahur membantu tubuh memiliki cadangan energi. Tanpa sahur, tubuh lebih cepat lemas dan sulit fokus dalam aktivitas maupun ibadah.
  3. Mengurangi Rasa Lapar dan Haus: Dengan sahur, rasa lapar dan haus dapat ditekan sehingga puasa terasa lebih ringan dan nyaman.
  4. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW: Sahur adalah salah satu bentuk meneladani sunnah Rasulullah SAW. Meskipun puasa tanpa sahur sah, mengikuti sunnah tentu lebih utama.
  5. Membantu Bangun Lebih Awal untuk Ibadah: Sahur membuat seseorang terbiasa bangun sebelum subuh, sehingga bisa dimanfaatkan untuk shalat malam, dzikir, dan doa.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa tanpa sahur hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Namun, sahur merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keberkahan dan manfaat. Dalil dari Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama menunjukkan bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sarana untuk menyempurnakan ibadah puasa.

Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan puasa dengan lebih optimal, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Dengan sahur, puasa akan terasa lebih ringan, ibadah lebih khusyuk, dan keberkahan pun lebih terasa.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="447"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui

Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hukum Islam, pendapat ulama, serta mitos dan fakta agar tidak salah paham saat berpuasa.

Menangis Membatalkan Puasa? Fakta Penting dan Penjelasan Ulama

Emosi yang diekspresikan ketika sedih umumnya adalah menangis. Namun jika menangis saat puasa apakah akan membatalkan puasa? Karena saat berpuasa kita diharapkan dapat menahan diri dari emosi.  Bahkan saat kecil, sering kita mendengar orang tua berkata kepada anaknya untuk jangan menangis agar puasa tidak batal.

Sebelumnya, kamu tentu tahu beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum disengaja, berhubungan intim dengan sengaja, memasukkan sesuatu ke dalam lubang di tubuh, dan lain sebagainya yang bisa dibaca selengkpanya disini

Jadi, apakah menangis bisa membatalkan puasa, mari simak mitos dan fakta yang perlu diketahui dalam artikel ini

Apakah Menangis Membatalkan Puasa?

[caption id="attachment_2652" align="alignnone" width="443"]Menangis bisa membatalkan puasa BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Dilansir dari laman NU Online, menangis tidak membatalkan puasa sebab bukan termasuk dari memasukkan sesuatu sampai rongga bagian dalam tubuh (jauf). Dari suatu hadits riwayat Muslim diketahui bahwa Abu Bakar As Shiddiq sering menangis ketika sholat atau membaca Alquran. Walaupun  tidak dijelaskan secara detail menangis dapat membuat puasa batal atau tidak, tetapi bukan hal yang mustahil jika beliau pernah menangis saat puasa.

Ketika seseorang menangis, tidak terdapat sesuatu yang masuk ke dalam mata menuju arah tenggorokan. Hal ini ditegaskan dalam kitab Rawdah at Thalibin berikut:

Artinya: "Cabang permasalahan. Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik ditemukan dalam tenggorokannya dari celak tersebut suatu rasa atau tidak. Sebab mata tidak termasuk jauf (bagian dalam) dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan" (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222).

Tetapi, jika air mata dari tangisan seseorang tercampur dengan air liur dan kemudian tertelan ke dalam tenggorokan, hal tersebut dapat membatalkan puasa karena terjadinya penelanan air mata.

Hal tersebut karena menangis tidak termasuk dalam salah satu dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Meski demikian, umat muslim tidak dianjurkan untuk menangis. Ibadah puasa hendaknya dijalankan dengan penuh suka cita, fokus memperbanyak ibadah, dan mengharapkan rida dari Allah Swt.

Sementara itu, ada banyak ulama yang mengatakan bahwa menangis tidak membuat puasa batal kecuali mereka menelan air mata yang jatuh dengan sengaja. Seperti yang disampaikan oleh Husein Ja'far Al Hadar pada suatu konten di Youtube.

“Tidak, nangis nggak membatalkan puasa yang membatalkan puasa itu masuknya makanan dan minuman ke dalam lubang di tubuh kita. Kalau ini kan bukan lobang dan malah keluar air mata. Mungkin orang tua zaman dulu mendidik biar ga cengeng jadi bilangnya jangan nangis nanti batal tapi ga kreatif masa sampai bohong untuk ngajarin anak-anak.”

Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pandangan umum yang menyatakan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru. Secara faktual, menangis tidak akan mengakibatkan pembatalan puasa kecuali jika air mata tersebut sengaja ditelan. Semoga penjelasan ini dapat memberikan jawaban terkait apakah menangis membatalkan puasa

Dalil dan Penjelasan Ulama

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dikenal sering menangis ketika shalat dan membaca Al-Qur’an. Tidak ada keterangan bahwa tangisan beliau membatalkan ibadah puasanya. Hal ini menunjukkan bahwa menangis bukan perkara yang membatalkan puasa.

Imam An-Nawawi dalam kitab Rawdah at-Thalibin menjelaskan:

“Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik terasa di tenggorokan atau tidak. Sebab mata bukan termasuk jauf dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan.”
(Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222)

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa air mata yang keluar dari mata tidak membatalkan puasa, karena mata bukan jalan masuk menuju rongga dalam tubuh.

Kapan Menangis Bisa Membatalkan Puasa?

Walaupun menangis tidak membatalkan puasa, ada satu kondisi yang perlu diperhatikan. Jika air mata bercampur dengan air liur lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut bisa membatalkan puasa karena ada cairan yang masuk ke tenggorokan dengan kesengajaan.

Namun, hal ini jarang terjadi dan tidak termasuk kondisi umum ketika seseorang menangis secara spontan karena sedih, terharu, atau takut kepada Allah SWT.

Mitos Menangis Saat Puasa

Masih banyak orang yang percaya bahwa menangis saat puasa bisa membatalkan puasa. Mitos ini kemungkinan berasal dari cara orang tua mendidik anak agar lebih kuat dan tidak cengeng.

Pendakwah Husein Ja’far Al-Hadar pernah menjelaskan bahwa menangis tidak membatalkan puasa kecuali jika disertai dengan menelan air mata secara sengaja. Pernyataan ini memperkuat pandangan mayoritas ulama.

Etika Menjaga Emosi Saat Puasa

Meskipun tidak membatalkan puasa, umat Islam tetap dianjurkan untuk menjaga emosi. Puasa adalah sarana melatih kesabaran dan ketenangan jiwa. Menangis karena takut kepada Allah, tersentuh ayat Al-Qur’an, atau penyesalan atas dosa justru bernilai ibadah.

Namun, menangis berlebihan karena emosi negatif sebaiknya dihindari agar puasa dijalani dengan hati lapang dan penuh harapan akan ridha Allah SWT.

Kesimpulan

Jawaban atas pertanyaan apakah menangis membatalkan puasa adalah tidak. Menangis tidak membatalkan puasa selama tidak ada air mata yang sengaja ditelan. Pandangan yang menyebutkan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru dan tidak memiliki dasar fiqih yang kuat.

Dengan memahami hal ini, umat Islam tidak perlu ragu atau khawatir jika menangis saat berpuasa, terutama karena dorongan iman atau perasaan yang tidak disengaja. Semoga penjelasan ini meluruskan pemahaman dan menambah ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa

Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi:

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi
No. Pelayanan: 085721333351

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap

Mimpi Basah Saat Puasa sering menimbulkan pertanyaan. Simak fakta, mitos, hukum Islam, dan penjelasan ilmiah lengkap agar tidak salah paham saat berpuasa.

Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap

[caption id="attachment_2650" align="alignnone" width="438"]Apa Itu Mimpi Basah BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa ilmiah yang terjadi pada setiap laki-laki sebagai tanda kedewasaan. Biasanya mimpi basah terjadi ketika kantung sperma telah penuh dan akhirnya keluar saat sedang tidur karena sudah tidak bisa menampung lagi. Dalam islam, ketika ada seorang laki-laki mengalami mimpi basah maka dia diwajibkan untuk melaksanakan mandi wajib karena ketika mengalami mimpi basah dia dalam keadaan junub (mengeluarkan air mani) menjadikan dia tidak dalam keadaan suci.

Namun terkadang timbul pertanyaan, ketika seorang laki-laki mengalami mimpi basah saat berpuasa apakah puasanya batal? Karena keluarnya air mani merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan puasa. Di artikel ini, akan dibahas semua hal terkait mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah.

Mitos Mimpi Basah

[caption id="attachment_2616" align="alignnone" width="258"]Mitos Mimpi Basah BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Hal pertama yang akan dibahas terkait mimpi basah adalah mitosnya. Ada beberapa mitos yang muncul ketika berbicara tentang mimpi basah, dan tentu saja mitos-mitos dibawah ini tidak benar adanya karena tidak terbukti secara ilmiah. Beberapa mitos tersebut antara lain:1.Dapat mengurangi produksi spermaMuncul suatu keyakinan pada orang-orang bahwa ketika seorang pria terlalu sering mengalami mimpi basah, maka sperma yang dihasilkan akan semakin berkurang. Ini merupakan anggapan yang salah besar karena mimpi basah merupakan cara testikel untuk mengeluarkan sperma lama, dan menggantinya dengan sperma baru yang lebih sehat. 2. Dapat mengurangi sistem imunAda beberapa orang yang meyakini bahwa mimpi basah dapat membuat sistem imun seseorang menurun sehingga lebih rentan terkena penyakit seperti flu, ataupun penyakit lainnya. Padahal hal ini hanyalah mitos yang tidak pernah terbukti secara ilmiah kebenarannya.3. Membatalkan puasaMitos terakhir yang muncul dari mimpi basah adalah mimpi basah dapat membatalkan puasa. Banyak orang beranggapan seperti itu karena ketika mengalami mimpi basah, seorang pria akan mengeluarkan sperma dari kelamin nya dan keluarnya sperma atau air mani merupakan salah satu hal yang membatalkan puasa. Padahal, ketika seorang pria mengalami mimpi basah saat puasa, puasa yang dilakukannya tetap sah dan dia dapat melanjutkan puasanya karena keluarnya sperma disebabkan mimpi basah merupakan hal yang tidak disengaja, bukan hal yang disengaja sehingga puasa yang dilakukannya tetap sah.Fakta Mimpi BasahSetalah mengetahui mitos mimpi basah, kita juga harus mengetahui apa saja fakta tentang mimpi basah. Karena ternyata, ada beberapa fakta menarik yang perlu dan penting untuk kita ketahui tentang mimpi basah:

1. Mimpi basah tidak selalu terjadi karena mimpi erotis

Menurut penelitian, hanya sebagian kecil atau sekitar empat persen saja mimpi basah yang terjadi karena mimpi erotis. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya mimpi basah selain karena mimpi erotis antara lain karena alat kelamin yang tidak sengaja bergesekan dengan seprai, selimut, atau guling saat tidur sehingga alat kelamin pun terangsang dan menyebabkan keluarnya sperma dari alat kelamin.

2. Mimpi basah bukan tanda penyakit

Terjadinya mimpi basah bukanlah sebuah kelainan atau tanda penyakit, tapi mimpi basah merupakan kondisi normal yang dialami oleh seseorang dan bisa jadi merupakan tanda fungsi seksual yang masih sehat.

3. Tidak membatalkan puasa

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, mimpi basah saat puasa merupakan hal yang tidak membatalkan puasa. Karena mimpi basah merupakan suatu hal yang tidak disengaja sehingga ketika seorang pria mengalami mimpi basah, dia dapat tetap melanjutkan puasanya sampai akhir. Namun, seperti hukum yang berlaku dalam islam, seseorang yang mengalami mimpi basah tetap diwajibkan untuk melakukan mandi wajib untuk mensucikan tubuh mereka walaupun ketika sedang berpuasa sehingga mereka bisa tetap menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, membaca al-quran, dsb.Dilansir dari islam.nu.or.id, Al-Khatib As-Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj menjelaskan, yang artinya:“Dan wajib (menahan diri) dari onani, jika orang puasa melakukannya maka batal puasanya. Hal yang sama jika mani keluar akibat menyentuh, mencium, dan tidur bersamaan (dengan adanya sentuhan). Adapun hanya sebatas berpikir atau melihat dengan gairah maka (hukumnya) serupa dengan mimpi basah, (yaitu tidak membatalkan puasa).”(Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, , jilid I, halaman 630).

Penjelasan Ilmiah

Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa alamiah yang terjadi kepada setiap orang, sehingga ada penjelasan ilmiah dibalik terjadinya mimpi basah. Jadi, mimpi basah terjadi ketika tubuh memproduksi lebih banyak hormon testosteron (hormon yang memproduksi cairan sperma) dan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi dan menampung sperma maka tubuh perlu untuk mengeluarkan nya sehingga terjadilah mimpi basah sebagai salah satu bentuk tubuh untuk mengeluarkan sperma tersebut.Dengan dikeluarkannya sperma yang lama tersebut, maka tubuh akan memproduksi sperma baru yang lebih sehat sebagai pengganti sperma lama yang sudah dikeluarkan.Frekuensi mimpi basah pada masing-masing individu berbeda satu sama lain tergantung pada hormon testosteron yang dimiliki masing-masing individu. Selain itu, frekuensi terjadinya mimpi basah juga bergantung pada usia. Biasanya, pria dengan usia produktif dari rentang usia remaja sampai usia 30-an lebih sering mengalami mimpi basah daripada pria berusia lanjut. Frekuensi terjadinya mimpi basah pada kebanyakan pria tidak bisa ditentukan waktu pastinya, tapi kebanyakan mimpi basah terjadi satu kali setiap 3-5 minggu, mirip dengan siklus menstruasi pada wanita.Sebagai salah satu hal alamiah dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya, maka terjadinya mimpi basah merupakan hal yang wajar dan perlu disyukuri oleh setiap manusia karena dibalik hal tersebut, tersimpan fakta dan manfaat bagi setiap hamba yang mengalami nya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjawab semua hal tentang mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Dan bagi kalian yang mengalami mimpi basah, jangan lupa untuk melaksanakan mandi wajib agar ibadah yang kalian lakukan sah dan tetap dihitung sebagai amal ibadah. Wallahu alam.

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam

Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi:

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi
No. Pelayanan: 085721333351

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap
Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap
Menelan Air Ludah Saat Puasa sering membuat ragu. Simak fakta penting, hukum menurut ulama, syarat sah puasa, dan penjelasan lengkapnya di sini. Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap Menelan Air Ludah Saat Puasa sering kali menjadi pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, terutama saat bulan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang merasa ragu dan khawatir puasanya batal hanya karena menelan ludahnya sendiri. Bahkan, ada yang memilih membuang ludah berulang kali saat berpuasa karena takut melanggar aturan puasa. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum menelan air ludah saat berpuasa menurut Islam? Puasa memang dapat batal apabila seseorang dengan sengaja memasukkan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui rongga tertentu. Namun, air ludah atau air liur merupakan sesuatu yang secara alami diproduksi oleh tubuh dan sangat sulit dihindari. Oleh karena itu, para ulama memberikan penjelasan khusus terkait hukum menelan air ludah saat puasa. Hukum Menelan Air Ludah Saat Puasa Menurut Ulama [caption id="attachment_2634" align="alignnone" width="398"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Dalam buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa” karya Ahmad Mundzir, seorang pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang, dijelaskan bahwa para ulama sepakat menelan air ludah tidak membatalkan puasa. Kesepakatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa air liur merupakan bagian alami dari tubuh manusia dan sulit untuk dihindari keberadaannya. Penjelasan ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341). Beliau menyatakan: “Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.” Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah. Syarat Menelan Air Ludah Agar Tidak Membatalkan Puasa Meski menelan air ludah saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa, para ulama memberikan beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap sah. Air Ludah Tidak Tercampur Zat Lain: Air ludah yang ditelan harus murni, tidak tercampur dengan zat lain seperti darah akibat luka gusi, sisa makanan, atau minuman. Jika air ludah bercampur dengan zat lain lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut berpotensi membatalkan puasa. Air Ludah Tidak Keluar Melewati Bibir: Air ludah yang masih berada di dalam rongga mulut dan belum melewati batas bibir luar boleh ditelan dan tidak membatalkan puasa. Namun, jika air ludah sudah keluar dari mulut lalu dikumpulkan kembali dan ditelan dengan sengaja, sebagian ulama berpendapat hal ini dapat membatalkan puasa. Tidak Sengaja Menampung Ludah Berlebihan: Jika seseorang dengan sengaja menampung air ludah dalam jumlah banyak lalu menelannya, terdapat perbedaan pendapat ulama. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa selama perbuatan tersebut tidak disengaja dan tidak ada unsur rekayasa, maka puasanya tetap sah. Dengan memenuhi ketiga syarat tersebut, menelan air ludah saat puasa tidak perlu dikhawatirkan dan puasa tetap dianggap sah. Mengapa Tidak Perlu Berlebihan Membuang Ludah? Membuang ludah secara berlebihan justru dapat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah puasa. Islam mengajarkan keseimbangan dan kemudahan dalam beribadah. Selama tidak ada unsur kesengajaan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, puasa tetap sah dan bernilai ibadah. Menyempurnakan Puasa dengan Sedekah Selain menjaga sah atau tidaknya puasa, umat Islam dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan dengan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya bersedekah. Sedekah dapat melipatgandakan pahala puasa dan membantu sesama yang membutuhkan. Bersedekah kini semakin mudah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara online. Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang mengelola dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), BAZNAS Provinsi Jawa Barat telah dipercaya masyarakat luas. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib diketahui setiap Muslim. Simak penjelasan lengkap 8 perkara pembatal puasa beserta dalil Al-Qur’an dan hadits. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim [caption id="attachment_2640" align="alignnone" width="430"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Hal-Hal yang Membatalkan Puasa merupakan pengetahuan penting yang wajib dipahami setiap Muslim agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan sempurna. Puasa adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk ke dalam rukun Islam. Hukumnya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Puasa yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah baligh dan berakal adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan dilaksanakan selama 29 atau 30 hari pada bulan Ramadhan dan perintahnya disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, memahami hal-hal yang membatalkan puasa menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia. Foto Berikut ini 8 hal yang membatalkan puasa seseorang menurut Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama. 1. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Tubuh dengan Sengaja Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa yang paling jelas. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.” Namun, jika seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah dan boleh dilanjutkan. 2. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Kubul atau Dubur Memasukkan sesuatu melalui kubul atau dubur, meskipun untuk pengobatan, dapat membatalkan puasa. Contohnya seperti pemasangan kateter urin, obat ambeien, atau cairan tertentu yang masuk ke dalam tubuh dan dianalogikan sebagai makan atau minum oleh sebagian ulama. 3. Muntah dengan Sengaja Muntah yang disengaja membatalkan puasa. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya mengqadha puasanya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya.”(HR. Abu Daud) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, maka puasa tetap sah. 4. Melakukan Hubungan Suami Istri Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan termasuk pembatal puasa yang paling berat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan bahwa hubungan suami istri hanya dihalalkan pada malam hari di bulan puasa. Bagi yang melanggarnya, wajib menunaikan kafarat berat, yaitu: Memerdekakan budak mukmin Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 fakir miskin 5. Keluar Air Mani dengan Sengaja Keluar air mani dengan sengaja, baik melalui onani atau bercumbu tanpa jima’, membatalkan puasa dan wajib mengqadha tanpa kafarat. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari: “Ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena-Ku.” Namun, jika mani keluar tanpa disengaja seperti mimpi basah, maka tidak membatalkan puasa. 6. Haid dan Nifas Wanita yang mengalami haid atau nifas saat berpuasa, meskipun menjelang waktu berbuka, puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Rasulullah SAW bersabda: “Bukankah jika wanita haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari) 7. Gila atau Hilang Akal Salah satu syarat wajib puasa adalah berakal sehat. Jika seseorang mengalami gila atau hilang akal, maka puasanya batal karena tidak terpenuhinya syarat sah puasa. 8. Keluar dari Islam (Murtad) Keluar dari Islam, baik melalui perkataan maupun perbuatan, otomatis membatalkan seluruh ibadah, termasuk puasa. Jika seseorang mengingkari keesaan Allah saat berpuasa, maka puasanya batal. Kesimpulan Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib dipahami agar ibadah Ramadhan dijalankan dengan benar sesuai syariat Islam. Dengan memahami pembatal puasa, setiap Muslim dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesucian ibadahnya. Semoga artikel ini dapat membantu Sahabat BAZNAS menjalankan puasa dengan ilmu dan kesadaran yang benar. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Perlu Nggak Sih Kita Jadi Muzakki? Banyak yang Belum Tahu
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya
Puasa Tanpa Sahur sering menjadi pertanyaan umat Muslim. Simak hukum sahur dalam Islam, dalil Al-Qur’an dan hadits, pendapat ulama, serta manfaat sahur. Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya Puasa Tanpa Sahur sering menjadi topik yang dipertanyakan oleh umat Islam, terutama ketika seseorang tertidur dan terlewat waktu sahur atau karena kondisi tertentu yang membuatnya tidak sempat makan sahur. Puasa sendiri adalah ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Biasanya, puasa diawali dengan makan sebelum terbit fajar yang dikenal dengan sahur. Namun, bagaimana hukum puasa tanpa sahur dalam Islam? Apakah sahur merupakan syarat sahnya puasa, ataukah hanya sekadar anjuran? Artikel ini akan mengupas secara lengkap hukum, dalil, pendapat ulama, serta manfaat sahur dalam Islam. Hukum Sahur dalam Islam [caption id="attachment_2646" align="alignnone" width="515"] Baznas Kota Sukabumi[/caption] Banyak umat Muslim bertanya, apakah puasa tanpa sahur diperbolehkan? Dalam Islam, sahur bukanlah syarat sah puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak melaksanakan sahur. Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air.”(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) Hadits ini menunjukkan bahwa sahur memiliki keutamaan dan keberkahan, meskipun tidak diwajibkan. Oleh karena itu, puasa tanpa sahur tetap sah, tetapi sangat disayangkan jika seseorang meninggalkan sahur tanpa alasan. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam…”(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan batas waktu makan sebelum puasa dimulai, namun tidak menjadikan sahur sebagai syarat sah puasa. Puasa Tanpa Sahur Menurut Pendapat Ulama Para ulama sepakat bahwa puasa tanpa sahur hukumnya boleh, tetapi sahur tetap dianjurkan. Berikut beberapa pendapat ulama dari berbagai mazhab: Mazhab Syafi’i dan Hambali Dalam Mazhab Syafi’i dan Hambali, sahur dihukumi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jika seseorang berpuasa tanpa sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keberkahan sahur. Mazhab Hanafi Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa tanpa sahur diperbolehkan. Namun, beliau menekankan bahwa sahur membantu meringankan puasa dan menjaga kekuatan fisik selama berpuasa. Mazhab Maliki Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sunnah yang mengandung hikmah besar bagi pelaksana puasa. Pendapat Ulama Kontemporer Ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa puasa tanpa sahur sah secara hukum, namun sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Manfaat Sahur dalam Puasa [caption id="attachment_2647" align="alignnone" width="357"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Meskipun puasa tanpa sahur diperbolehkan, sahur memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan. Mendapat Keberkahan: Rasulullah SAW secara khusus menyebut sahur sebagai waktu yang penuh berkah. Keberkahan ini mencakup kekuatan fisik dan kemudahan dalam beribadah. Menjaga Stamina Selama Puasa: Sahur membantu tubuh memiliki cadangan energi. Tanpa sahur, tubuh lebih cepat lemas dan sulit fokus dalam aktivitas maupun ibadah. Mengurangi Rasa Lapar dan Haus: Dengan sahur, rasa lapar dan haus dapat ditekan sehingga puasa terasa lebih ringan dan nyaman. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW: Sahur adalah salah satu bentuk meneladani sunnah Rasulullah SAW. Meskipun puasa tanpa sahur sah, mengikuti sunnah tentu lebih utama. Membantu Bangun Lebih Awal untuk Ibadah: Sahur membuat seseorang terbiasa bangun sebelum subuh, sehingga bisa dimanfaatkan untuk shalat malam, dzikir, dan doa. Kesimpulan Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa tanpa sahur hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Namun, sahur merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keberkahan dan manfaat. Dalil dari Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama menunjukkan bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sarana untuk menyempurnakan ibadah puasa. Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan puasa dengan lebih optimal, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Dengan sahur, puasa akan terasa lebih ringan, ibadah lebih khusyuk, dan keberkahan pun lebih terasa. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="447"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui
Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hukum Islam, pendapat ulama, serta mitos dan fakta agar tidak salah paham saat berpuasa. Menangis Membatalkan Puasa? Fakta Penting dan Penjelasan Ulama Emosi yang diekspresikan ketika sedih umumnya adalah menangis. Namun jika menangis saat puasa apakah akan membatalkan puasa? Karena saat berpuasa kita diharapkan dapat menahan diri dari emosi. Bahkan saat kecil, sering kita mendengar orang tua berkata kepada anaknya untuk jangan menangis agar puasa tidak batal. Sebelumnya, kamu tentu tahu beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum disengaja, berhubungan intim dengan sengaja, memasukkan sesuatu ke dalam lubang di tubuh, dan lain sebagainya yang bisa dibaca selengkpanya disini Jadi, apakah menangis bisa membatalkan puasa, mari simak mitos dan fakta yang perlu diketahui dalam artikel ini Apakah Menangis Membatalkan Puasa? [caption id="attachment_2652" align="alignnone" width="443"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Dilansir dari laman NU Online, menangis tidak membatalkan puasa sebab bukan termasuk dari memasukkan sesuatu sampai rongga bagian dalam tubuh (jauf). Dari suatu hadits riwayat Muslim diketahui bahwa Abu Bakar As Shiddiq sering menangis ketika sholat atau membaca Alquran. Walaupun tidak dijelaskan secara detail menangis dapat membuat puasa batal atau tidak, tetapi bukan hal yang mustahil jika beliau pernah menangis saat puasa. Ketika seseorang menangis, tidak terdapat sesuatu yang masuk ke dalam mata menuju arah tenggorokan. Hal ini ditegaskan dalam kitab Rawdah at Thalibin berikut: Artinya: "Cabang permasalahan. Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik ditemukan dalam tenggorokannya dari celak tersebut suatu rasa atau tidak. Sebab mata tidak termasuk jauf (bagian dalam) dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan" (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222). Tetapi, jika air mata dari tangisan seseorang tercampur dengan air liur dan kemudian tertelan ke dalam tenggorokan, hal tersebut dapat membatalkan puasa karena terjadinya penelanan air mata. Hal tersebut karena menangis tidak termasuk dalam salah satu dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Meski demikian, umat muslim tidak dianjurkan untuk menangis. Ibadah puasa hendaknya dijalankan dengan penuh suka cita, fokus memperbanyak ibadah, dan mengharapkan rida dari Allah Swt. Sementara itu, ada banyak ulama yang mengatakan bahwa menangis tidak membuat puasa batal kecuali mereka menelan air mata yang jatuh dengan sengaja. Seperti yang disampaikan oleh Husein Ja'far Al Hadar pada suatu konten di Youtube. “Tidak, nangis nggak membatalkan puasa yang membatalkan puasa itu masuknya makanan dan minuman ke dalam lubang di tubuh kita. Kalau ini kan bukan lobang dan malah keluar air mata. Mungkin orang tua zaman dulu mendidik biar ga cengeng jadi bilangnya jangan nangis nanti batal tapi ga kreatif masa sampai bohong untuk ngajarin anak-anak.” Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pandangan umum yang menyatakan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru. Secara faktual, menangis tidak akan mengakibatkan pembatalan puasa kecuali jika air mata tersebut sengaja ditelan. Semoga penjelasan ini dapat memberikan jawaban terkait apakah menangis membatalkan puasa Dalil dan Penjelasan Ulama Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dikenal sering menangis ketika shalat dan membaca Al-Qur’an. Tidak ada keterangan bahwa tangisan beliau membatalkan ibadah puasanya. Hal ini menunjukkan bahwa menangis bukan perkara yang membatalkan puasa. Imam An-Nawawi dalam kitab Rawdah at-Thalibin menjelaskan: “Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik terasa di tenggorokan atau tidak. Sebab mata bukan termasuk jauf dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan.”(Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222) Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa air mata yang keluar dari mata tidak membatalkan puasa, karena mata bukan jalan masuk menuju rongga dalam tubuh. Kapan Menangis Bisa Membatalkan Puasa? Walaupun menangis tidak membatalkan puasa, ada satu kondisi yang perlu diperhatikan. Jika air mata bercampur dengan air liur lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut bisa membatalkan puasa karena ada cairan yang masuk ke tenggorokan dengan kesengajaan. Namun, hal ini jarang terjadi dan tidak termasuk kondisi umum ketika seseorang menangis secara spontan karena sedih, terharu, atau takut kepada Allah SWT. Mitos Menangis Saat Puasa Masih banyak orang yang percaya bahwa menangis saat puasa bisa membatalkan puasa. Mitos ini kemungkinan berasal dari cara orang tua mendidik anak agar lebih kuat dan tidak cengeng. Pendakwah Husein Ja’far Al-Hadar pernah menjelaskan bahwa menangis tidak membatalkan puasa kecuali jika disertai dengan menelan air mata secara sengaja. Pernyataan ini memperkuat pandangan mayoritas ulama. Etika Menjaga Emosi Saat Puasa Meskipun tidak membatalkan puasa, umat Islam tetap dianjurkan untuk menjaga emosi. Puasa adalah sarana melatih kesabaran dan ketenangan jiwa. Menangis karena takut kepada Allah, tersentuh ayat Al-Qur’an, atau penyesalan atas dosa justru bernilai ibadah. Namun, menangis berlebihan karena emosi negatif sebaiknya dihindari agar puasa dijalani dengan hati lapang dan penuh harapan akan ridha Allah SWT. Kesimpulan Jawaban atas pertanyaan apakah menangis membatalkan puasa adalah tidak. Menangis tidak membatalkan puasa selama tidak ada air mata yang sengaja ditelan. Pandangan yang menyebutkan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru dan tidak memiliki dasar fiqih yang kuat. Dengan memahami hal ini, umat Islam tidak perlu ragu atau khawatir jika menangis saat berpuasa, terutama karena dorongan iman atau perasaan yang tidak disengaja. Semoga penjelasan ini meluruskan pemahaman dan menambah ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"] baznas kota sukabumi[/caption] Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261). Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap
Mimpi Basah Saat Puasa sering menimbulkan pertanyaan. Simak fakta, mitos, hukum Islam, dan penjelasan ilmiah lengkap agar tidak salah paham saat berpuasa. Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap [caption id="attachment_2650" align="alignnone" width="438"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa ilmiah yang terjadi pada setiap laki-laki sebagai tanda kedewasaan. Biasanya mimpi basah terjadi ketika kantung sperma telah penuh dan akhirnya keluar saat sedang tidur karena sudah tidak bisa menampung lagi. Dalam islam, ketika ada seorang laki-laki mengalami mimpi basah maka dia diwajibkan untuk melaksanakan mandi wajib karena ketika mengalami mimpi basah dia dalam keadaan junub (mengeluarkan air mani) menjadikan dia tidak dalam keadaan suci. Namun terkadang timbul pertanyaan, ketika seorang laki-laki mengalami mimpi basah saat berpuasa apakah puasanya batal? Karena keluarnya air mani merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan puasa. Di artikel ini, akan dibahas semua hal terkait mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Mitos Mimpi Basah [caption id="attachment_2616" align="alignnone" width="258"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Hal pertama yang akan dibahas terkait mimpi basah adalah mitosnya. Ada beberapa mitos yang muncul ketika berbicara tentang mimpi basah, dan tentu saja mitos-mitos dibawah ini tidak benar adanya karena tidak terbukti secara ilmiah. Beberapa mitos tersebut antara lain:1.Dapat mengurangi produksi spermaMuncul suatu keyakinan pada orang-orang bahwa ketika seorang pria terlalu sering mengalami mimpi basah, maka sperma yang dihasilkan akan semakin berkurang. Ini merupakan anggapan yang salah besar karena mimpi basah merupakan cara testikel untuk mengeluarkan sperma lama, dan menggantinya dengan sperma baru yang lebih sehat. 2. Dapat mengurangi sistem imunAda beberapa orang yang meyakini bahwa mimpi basah dapat membuat sistem imun seseorang menurun sehingga lebih rentan terkena penyakit seperti flu, ataupun penyakit lainnya. Padahal hal ini hanyalah mitos yang tidak pernah terbukti secara ilmiah kebenarannya.3. Membatalkan puasaMitos terakhir yang muncul dari mimpi basah adalah mimpi basah dapat membatalkan puasa. Banyak orang beranggapan seperti itu karena ketika mengalami mimpi basah, seorang pria akan mengeluarkan sperma dari kelamin nya dan keluarnya sperma atau air mani merupakan salah satu hal yang membatalkan puasa. Padahal, ketika seorang pria mengalami mimpi basah saat puasa, puasa yang dilakukannya tetap sah dan dia dapat melanjutkan puasanya karena keluarnya sperma disebabkan mimpi basah merupakan hal yang tidak disengaja, bukan hal yang disengaja sehingga puasa yang dilakukannya tetap sah.Fakta Mimpi BasahSetalah mengetahui mitos mimpi basah, kita juga harus mengetahui apa saja fakta tentang mimpi basah. Karena ternyata, ada beberapa fakta menarik yang perlu dan penting untuk kita ketahui tentang mimpi basah: 1. Mimpi basah tidak selalu terjadi karena mimpi erotis Menurut penelitian, hanya sebagian kecil atau sekitar empat persen saja mimpi basah yang terjadi karena mimpi erotis. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya mimpi basah selain karena mimpi erotis antara lain karena alat kelamin yang tidak sengaja bergesekan dengan seprai, selimut, atau guling saat tidur sehingga alat kelamin pun terangsang dan menyebabkan keluarnya sperma dari alat kelamin. 2. Mimpi basah bukan tanda penyakit Terjadinya mimpi basah bukanlah sebuah kelainan atau tanda penyakit, tapi mimpi basah merupakan kondisi normal yang dialami oleh seseorang dan bisa jadi merupakan tanda fungsi seksual yang masih sehat. 3. Tidak membatalkan puasa Seperti yang sudah dijelaskan diatas, mimpi basah saat puasa merupakan hal yang tidak membatalkan puasa. Karena mimpi basah merupakan suatu hal yang tidak disengaja sehingga ketika seorang pria mengalami mimpi basah, dia dapat tetap melanjutkan puasanya sampai akhir. Namun, seperti hukum yang berlaku dalam islam, seseorang yang mengalami mimpi basah tetap diwajibkan untuk melakukan mandi wajib untuk mensucikan tubuh mereka walaupun ketika sedang berpuasa sehingga mereka bisa tetap menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, membaca al-quran, dsb.Dilansir dari islam.nu.or.id, Al-Khatib As-Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj menjelaskan, yang artinya:“Dan wajib (menahan diri) dari onani, jika orang puasa melakukannya maka batal puasanya. Hal yang sama jika mani keluar akibat menyentuh, mencium, dan tidur bersamaan (dengan adanya sentuhan). Adapun hanya sebatas berpikir atau melihat dengan gairah maka (hukumnya) serupa dengan mimpi basah, (yaitu tidak membatalkan puasa).”(Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, , jilid I, halaman 630). Penjelasan Ilmiah Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa alamiah yang terjadi kepada setiap orang, sehingga ada penjelasan ilmiah dibalik terjadinya mimpi basah. Jadi, mimpi basah terjadi ketika tubuh memproduksi lebih banyak hormon testosteron (hormon yang memproduksi cairan sperma) dan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi dan menampung sperma maka tubuh perlu untuk mengeluarkan nya sehingga terjadilah mimpi basah sebagai salah satu bentuk tubuh untuk mengeluarkan sperma tersebut.Dengan dikeluarkannya sperma yang lama tersebut, maka tubuh akan memproduksi sperma baru yang lebih sehat sebagai pengganti sperma lama yang sudah dikeluarkan.Frekuensi mimpi basah pada masing-masing individu berbeda satu sama lain tergantung pada hormon testosteron yang dimiliki masing-masing individu. Selain itu, frekuensi terjadinya mimpi basah juga bergantung pada usia. Biasanya, pria dengan usia produktif dari rentang usia remaja sampai usia 30-an lebih sering mengalami mimpi basah daripada pria berusia lanjut. Frekuensi terjadinya mimpi basah pada kebanyakan pria tidak bisa ditentukan waktu pastinya, tapi kebanyakan mimpi basah terjadi satu kali setiap 3-5 minggu, mirip dengan siklus menstruasi pada wanita.Sebagai salah satu hal alamiah dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya, maka terjadinya mimpi basah merupakan hal yang wajar dan perlu disyukuri oleh setiap manusia karena dibalik hal tersebut, tersimpan fakta dan manfaat bagi setiap hamba yang mengalami nya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjawab semua hal tentang mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Dan bagi kalian yang mengalami mimpi basah, jangan lupa untuk melaksanakan mandi wajib agar ibadah yang kalian lakukan sah dan tetap dihitung sebagai amal ibadah. Wallahu alam. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"] baznas kota sukabumi[/caption] Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan agar Lebih Khusyuk dan Berkah: panduan niat, pola makan, ibadah, menjaga pahala puasa, hingga muhasabah diri agar Ramadhan lebih bermakna. Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan Tips Puasa Ramadhan agar Lebih Khusyuk dan Berkah sangat penting dipahami oleh setiap muslim. Bulan Ramadhan adalah momen istimewa yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi bulan penuh ampunan dan rahmat, Ramadhan juga merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Agar ibadah puasa tidak hanya menjadi rutinitas menahan lapar dan haus, diperlukan persiapan mental, fisik, dan spiritual. Berikut beberapa tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 1. Niat yang Ikhlas dan Kuat Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu dan memperbanyak amal kebaikan. Pastikan niat Anda dalam berpuasa benar-benar karena Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Menjaga Pola Makan Saat Sahur dan Berbuka Salah satu tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah adalah menjaga asupan makanan. Saat Sahur: Pilih makanan tinggi serat, protein, dan karbohidrat kompleks Perbanyak air putih agar terhindar dari dehidrasi Saat Berbuka: Awali dengan kurma dan air putih sesuai sunnah Rasulullah SAW Konsumsi makanan bergizi seimbang Hindari makanan berlemak dan terlalu manis secara berlebihan Pola makan yang baik akan membantu tubuh tetap bugar dan fokus beribadah. 3. Perbanyak Ibadah dan Amal Kebaikan Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala. Manfaatkan waktu untuk: Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an Shalat sunnah dan shalat malam Berdzikir dan berdoa Memperbanyak sedekah Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan. 4. Istirahat yang Cukup Menjaga keseimbangan antara ibadah, aktivitas, dan istirahat adalah bagian dari tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah. Tidur yang cukup membantu tubuh tetap sehat dan konsentrasi ibadah terjaga. 5. Menghindari Hal yang Membatalkan atau Mengurangi Pahala Puasa Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan dan perbuatan. Hindari: Berkata kasar Ghibah dan fitnah Perbuatan sia-sia Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari) Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat sangat penting. Pastikan tidur yang cukup agar tubuh tetap segar untuk menjalankan ibadah dengan optimal. 6. Manfaatkan Ramadhan untuk Muhasabah Diri Ramadhan adalah waktu terbaik untuk introspeksi diri. Evaluasi: Kualitas ibadah Hubungan dengan Allah SWT Hubungan dengan sesama manusia Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. Evaluasi ibadah dan perbaiki kekurangan agar setelah Ramadhan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 7. Konsisten dalam Beribadah hingga Akhir Ramadhan Sering kali semangat ibadah di awal Ramadhan tinggi, tetapi menurun di pertengahan hingga akhir. Pastikan tetap istiqomah dalam beribadah hingga malam-malam terakhir Ramadhan, terutama di 10 malam terakhir yang memiliki keutamaan Lailatul Qadar. Dengan menerapkan tips di atas, semoga kita semua bisa menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita semua. Aamiin. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap Bantu Sesama di Bulan Ramadhan Jangan lupa untuk berbagi dengan sesama melalui program donasi BAZNAS Jawa Barat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu mereka yang membutuhkan. Bersama kita raih keberkahan Ramadhan! Sebagai penutup dari tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah, jangan lupa berbagi dengan sesama. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Referens lainnya Rekening Donasi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="371"] baznas kota sukabumi[/caption]
ARTIKEL14/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah: panduan doa bulan Rajab & Syaban, doa menyambut Ramadhan beserta terjemahan, amalan sunnah, dan ajakan sedekah/zakah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Ibadah Ramadhan Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dengan Penjelasan yang Penuh Keberkahan merupakan bentuk kesiapan spiritual seorang muslim dalam menyambut datangnya bulan suci yang sangat mulia. Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan rasa gembira, tetapi juga perlu dibarengi dengan persiapan iman dan amal. Secara makna, amalan menyambut Ramadhan adalah segala bentuk ibadah sunnah yang dilakukan sebelum masuknya bulan Ramadhan dengan tujuan melatih diri dan membersihkan hati. Sementara doa menyambut Ramadhan merupakan ungkapan harapan, kerinduan, dan permohonan kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan sehat, beriman, dan mampu menjalankan ibadah secara maksimal. Amalan Menyambut Ramadhan Beberapa amalan utama yang sangat dianjurkan menjelang Ramadhan antara lain: Memperbanyak Puasa SunnahTerutama pada bulan Syaban, sebagaimana Rasulullah SAW memperbanyak puasa sebagai latihan sebelum Ramadhan Memperbanyak Istighfar dan TaubatMembersihkan diri dari dosa agar ibadah Ramadhan lebih khusyuk. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’anRamadhan adalah bulan Al-Qur’an, sehingga membiasakan membaca sejak awal sangat dianjurkan. Melatih Sedekah dan Kepedulian SosialKebiasaan ini akan sangat membantu saat Ramadhan tiba. Amalan-amalan tersebut merupakan bagian penting dari amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan yang tidak boleh diabaikan. Doa Menyambut Ramadhan Saat Bulan Rajab dan Syaban [caption id="attachment_2571" align="alignnone" width="396"] Baznas Kota Sukabumi[/caption] Doa ini mencerminkan harapan agar diberi umur panjang, kesehatan, dan kesempatan bertemu Ramadhan. Dalam konteks amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan, doa ini menjadi fondasi spiritual awal. Doa Menyambut Ramadhan dan Artinya Selain doa di atas, umat Islam juga dianjurkan membaca doa berikut saat mendekati Ramadhan: [caption id="attachment_2573" align="alignnone" width="399"] Baznas Kota Sukabumii[/caption] Berikut tabel qadha dan fidyah beserta keterangan siapa saja yang diperbolehkan meninggalkan puasa: [caption id="attachment_2593" align="alignnone" width="277"] BAZNAS KOTA SUKABUMI[/caption] Menunaikan hutang puasa bukan hanya kewajiban, tapi juga bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT dan diri sendiri agar hati tenang dan ibadah sah. Doa menyambut Ramadhan mencerminkan kerendahan hati seorang hamba. Salah satu doa yang paling dikenal adalah permohonan agar Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dan memberkahi waktu sebelum dan sesudahnya. Doa ini mengandung tiga makna besar: harapan umur panjang, kesehatan jasmani, dan kesiapan rohani. Dengan memperbanyak doa, seorang muslim menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya target waktu, tetapi karunia besar yang hanya bisa diraih dengan izin Allah SWT. Keutamaan Mengamalkan Doa Menyambut Ramadhan Mengamalkan doa-doa menyambut Ramadhan memberikan banyak manfaat, di antaranya: Menumbuhkan kerinduan terhadap ibadah Menyiapkan mental dan spiritual Memperkuat niat beramal Menjadikan Ramadhan lebih bermakna Untuk penjelasan keutamaan Ramadhan berdasarkan dalil, Anda juga dapat merujuk ke sumber tepercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi Hikmah Mengamalkan Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Hikmah utama dari mengamalkan amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan yang penuh keberkahan adalah terciptanya kesiapan menyeluruh—baik iman, mental, maupun sosial. Seorang muslim yang mempersiapkan diri sejak awal akan lebih khusyuk dalam ibadah, lebih sabar dalam ujian, dan lebih ringan dalam beramal selama Ramadhan. Selain itu, persiapan ini juga menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran bahwa Ramadhan adalah kesempatan langka yang belum tentu bisa ditemui kembali di tahun berikutnya. Salurkan Zakat dan Sedekah Anda Sebagai penutup amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan, mari sempurnakan persiapan kita dengan memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat. Sedekah yang ditunaikan sebelum dan saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya serta membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mari bersama-sama mendukung Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk pendidikan dan kesehatan umat. Kini, bersedekah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan terpercaya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi Berzakat & Bersedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Mari sambut Ramadhan dengan hati yang bersih, doa yang tulus, dan kepedulian sosial yang nyata. Semoga Allah SWT menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dan menerima seluruh amal ibadah kita. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="493"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Ibadah Ramadhan
ARTIKEL13/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah
Hutang Puasa Masih Menumpuk, Tapi Puasa Tinggal Hitungan Hari : refleksi penting tentang tanggung jawab qadha dan fidyah, panduan menunaikan hutang puasa, serta kesadaran spiritual menjelang akhir Ramadhan. Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk menjadi pengingat bagi setiap muslim tentang pentingnya menunaikan kewajiban puasa yang tertunda. Hutang puasa, baik karena sakit, haid, atau alasan syar’i lainnya, harus diganti melalui qadha, dan jika tidak mampu, fidyah menjadi solusi. Sayangnya, banyak yang menunda atau bahkan mengabaikan tanggung jawab ini hingga akhir Ramadhan, padahal konsekuensi spiritual tetap ada. Mengapa Qadha dan Fidyah Sering Diabaikan? Banyak orang menunda qadha karena alasan kesibukan, kurang disiplin, atau tidak menyadari pentingnya. Sementara fidyah terkadang dianggap enteng, padahal hukumnya jelas bagi mereka yang tidak mampu berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur yang diperbolehkan, hendaklah ia menggantinya (qadha) pada hari lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Keterlambatan menunaikan qadha atau fidyah bisa membuat hati gelisah, karena menunda tanggung jawab ibadah kepada Allah SWT. Refleksi ini penting agar setiap muslim sadar dan bertindak. Refleksi Qadha Puasa dan Fidyah Dalam Islam, setiap kewajiban yang ditinggalkan harus ditunaikan. Puasa adalah rukun Islam yang keempat, sehingga meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan akan berdosa. Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur yang diperbolehkan, hendaklah ia menggantinya (qadha) pada hari lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Qadha puasa dapat dilakukan kapan saja setelah Ramadhan, namun semakin cepat dilaksanakan, semakin baik. Sedangkan fidyah diberikan bagi yang tidak mampu berpuasa karena sakit kronis atau usia lanjut. Fidyah berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Dilema Banyaknya Hutang Puasa Sering kali menjelang akhir Ramadhan, banyak orang baru menyadari hutang puasanya menumpuk. Akibatnya, mereka bingung antara menunaikan qadha, membayar fidyah, atau bahkan menunda hingga Ramadhan berikutnya. Kondisi ini seharusnya menjadi pengingat agar setiap muslim lebih disiplin dalam menunaikan kewajiban puasa dan merencanakan qadha sejak awal. Fidyah: Solusi Bagi yang Tidak Mampu Puasa Fidyah diberikan bagi yang tidak mampu berpuasa karena sakit kronis, usia lanjut, atau kondisi yang melemahkan tubuh. Fidyah berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an: [caption id="attachment_2581" align="alignnone" width="356"] baznas kota sukabumi[/caption] Memberikan fidyah bukan hanya kewajiban, tapi juga sarana membersihkan diri dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT Cara Menyelesaikan Hutang Puasa dengan Tepat Daftar Hutang Puasa – Catat jumlah hari yang tertunda agar tidak lupa. Tetapkan Jadwal Qadha – Pilih hari-hari tertentu untuk menunaikan qadha agar tidak menumpuk lagi. Konsultasi Jika Tidak Mampu – Jika sakit atau lemah, konsultasikan dengan ustadz atau lembaga resmi. Bayar Fidyah Jika Tidak Mampu Berpuasa – Fidyah bisa berupa memberi makan miskin melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS. Menunaikan hutang puasa bukan hanya kewajiban, tapi juga bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT dan diri sendiri agar hati tenang dan ibadah sah. Keutamaan Menyelesaikan Qadha dan Fidyah Mendapat pahala puasa yang tertunda. Membersihkan diri dari dosa karena meninggalkan puasa. Membiasakan disiplin dan tanggung jawab dalam ibadah. Mendapat keberkahan dan ridha Allah SWT. Kesimpulan Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk adalah pengingat bagi setiap muslim untuk menunaikan qadha dan fidyah sebelum Ramadhan berakhir. Mengabaikan tanggung jawab ini berarti menunda pahala dan menambah dosa. Dengan disiplin mencatat hutang puasa, menunaikan qadha, membayar fidyah jika tidak mampu, serta menyalurkan sedekah/zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi, setiap muslim bisa menutup Ramadhan dengan hati bersih, amal lengkap, dan keberkahan yang melimpah. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah Sedekah dan Zakat Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Selain menyelesaikan hutang puasa, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk berbagi dan menebar kebaikan. Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="497"] baznas kota sukabumi[/caption]
ARTIKEL13/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS menjadi solusi strategis untuk meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan umat secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS merupakan upaya strategis dalam menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan umat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen sosial dan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara profesional dan amanah. Melalui pengelolaan yang terstruktur, BAZNAS berperan sebagai lembaga yang menjembatani kepedulian para muzakki dengan kebutuhan mustahik. Fokus pada sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas karena keduanya merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. 1. Peran Penting Dana ZIS bagi Umat Dana ZIS memiliki peran penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan ekonomi. Dalam Islam, zakat berfungsi untuk membersihkan harta sekaligus membantu delapan golongan yang berhak menerima. Ketika dana ZIS dihimpun secara optimal, potensi manfaatnya menjadi sangat besar bagi pembangunan umat. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS memungkinkan dana yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program-program produktif. Dengan pendekatan ini, mustahik tidak hanya terbantu secara sementara, tetapi juga didorong menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup. 2. Peran BAZNAS dalam Optimalisasi Dana ZIS Sebagai lembaga resmi pengelola zakat di Indonesia, BAZNAS memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan dana ZIS dikelola sesuai syariat Islam dan regulasi negara. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS dilakukan melalui perencanaan program yang matang, pendataan mustahik yang akurat, serta sistem distribusi yang terukur. BAZNAS juga mengedepankan prinsip profesionalisme dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Sinergi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan fasilitas kesehatan membuat program ZIS lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Inilah yang menjadikan BAZNAS sebagai pilar utama dalam pengelolaan zakat nasional. 3. Optimalisasi Dana ZIS untuk Pendidikan Di bidang pendidikan, Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS diwujudkan melalui berbagai program yang mendukung akses belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Pendidikan dipandang sebagai jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Dana ZIS disalurkan dalam bentuk beasiswa pendidikan, bantuan perlengkapan sekolah, serta dukungan biaya pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dhuafa. Tidak hanya itu, BAZNAS juga memberikan pembinaan karakter, pendampingan akademik, dan motivasi agar penerima manfaat mampu berkembang secara optimal. Melalui program pendidikan berbasis ZIS, BAZNAS berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. 4. Optimalisasi Dana ZIS untuk Kesehatan Sektor kesehatan menjadi perhatian penting dalam Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS. Banyak masyarakat yang masih kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat keterbatasan biaya. Melalui dana ZIS, BAZNAS menghadirkan solusi bagi masyarakat dhuafa agar tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Program kesehatan meliputi bantuan biaya pengobatan, layanan kesehatan gratis, pendampingan pasien, hingga program promotif dan preventif seperti pemeriksaan kesehatan rutin. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih produktif dan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Optimalisasi dana ZIS di bidang kesehatan merupakan bentuk nyata kepedulian Islam terhadap keselamatan dan kesejahteraan umat. 5. Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Kepercayaan muzakki merupakan kunci keberhasilan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS. Oleh karena itu, BAZNAS menerapkan sistem pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Setiap dana yang diterima dan disalurkan dicatat secara rapi serta diaudit sesuai standar yang berlaku. Laporan keuangan dan program dipublikasikan secara berkala agar masyarakat mengetahui dampak dari zakat dan sedekah yang mereka tunaikan. Transparansi ini mendorong partisipasi yang lebih luas dan memperkuat kepercayaan publik terhadap BAZNAS. 6. Dampak Sosial dan Keberlanjutan Program Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada dampak sosial jangka panjang. Pendidikan dan kesehatan yang didukung oleh dana ZIS akan melahirkan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing. Dengan pendekatan berkelanjutan, mustahik diharapkan dapat bertransformasi menjadi muzakki di masa depan. Inilah tujuan besar pengelolaan ZIS, yaitu menciptakan siklus kebaikan yang terus berputar dalam kehidupan umat. 7. Mengapa Berzakat melalui BAZNAS? Menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS berarti turut berkontribusi dalam program yang terencana, tepat sasaran, dan berdampak luas. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS memastikan bahwa setiap rupiah yang dititipkan menjadi sarana perubahan bagi pendidikan dan kesehatan masyarakat. Kesimpulan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan manfaat zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan pengelolaan yang transparan, profesional, dan tepat sasaran, dana ZIS tidak hanya membantu kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendorong kemandirian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan. Salurkan Zakat dan Sedekah Anda Mari bersama-sama mendukung Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk pendidikan dan kesehatan umat. Kini, bersedekah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan terpercaya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi. Berzakat/Bersedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi:Bank: BSINo. Rekening: 4964964969Atas Nama: Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 Semoga setiap zakat dan sedekah yang ditunaikan menjadi amal jariyah, membawa keberkahan, dan memberikan manfaat yang luas bagi umat.
ARTIKEL12/01/2026 | BAZNAS
Ketika Alam Rusak oleh Keserakahan, Islam Mengingatkan Peran Manusia sebagai Khalifah
Ketika Alam Rusak oleh Keserakahan, Islam Mengingatkan Peran Manusia sebagai Khalifah
Kerusakan alam yang semakin parah di berbagai penjuru dunia bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis moral dan spiritual. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim merupakan dampak nyata dari perilaku manusia yang serakah, eksploitatif, dan mengabaikan nilai tanggung jawab. Islam, sebagai agama yang sempurna, sejak awal telah mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak bumi, melainkan khalifah—pemimpin dan penjaga amanah Allah di muka bumi. Kerusakan Alam sebagai Krisis Moral dan Spiritual Kerusakan alam yang semakin nyata di berbagai belahan dunia bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga krisis moral dan spiritual manusia. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim ekstrem merupakan dampak dari perilaku manusia yang serakah dan abai terhadap tanggung jawabnya. Islam sejak awal menegaskan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah, yakni pemimpin dan penjaga amanah Allah di muka bumi. Alam dalam Keseimbangan Ciptaan Allah Dalam Islam, alam diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Allah SWT berfirman, “Dan Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat” (QS. Al-Furqan: 2). Alam berjalan berdasarkan hukum keseimbangan (m?z?n). Ketika manusia merusaknya melalui eksploitasi berlebihan, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 41. Makna Kekhalifahan Manusia di Bumi Islam memandang manusia sebagai khalifah, bukan penguasa yang bebas bertindak sesuka hati. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Menurut Imam Al-Qurthubi, kekhalifahan berarti amanah untuk mengelola bumi dengan keadilan. Ibnu Katsir menambahkan bahwa tugas khalifah mencakup menjaga kemaslahatan dan menghindari segala bentuk kerusakan (fas?d). Keserakahan sebagai Sumber Kerusakan Lingkungan Salah satu akar utama kerusakan lingkungan adalah keserakahan manusia. Islam melarang sikap berlebih-lebihan (isr?f) dan tamak. Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Al-Ghazali menyebut keserakahan sebagai penyakit hati yang menghilangkan kepedulian terhadap sesama dan alam. Dampak Sosial dari Kerusakan Alam Kerusakan lingkungan tidak hanya merusak alam fisik, tetapi juga melahirkan krisis kemanusiaan. Bencana ekologis sering kali paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil. Islam menekankan keadilan dan kemaslahatan umum. Larangan berbuat kerusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56) menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk eksploitasi yang merugikan banyak orang. Teladan Nabi ? dalam Menjaga Lingkungan Rasulullah ? memberikan teladan nyata dalam menjaga lingkungan. Beliau melarang penebangan pohon dan perusakan tanaman, bahkan dalam kondisi perang. Dalam hadits lain, Nabi ? menegaskan bahwa menanam kebaikan tetap bernilai pahala meskipun kiamat akan terjadi. Kesimpulan: Menjaga Alam sebagai Ibadah dan Amal Sosial Kerusakan alam adalah peringatan iman bagi manusia. Islam menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah kekhalifahan dan bentuk ibadah. Keserakahan hanya akan melahirkan penderitaan yang kembali menimpa manusia sendiri. Sebagai wujud nyata pengamalan nilai keimanan, Islam mendorong amal konkret yang membawa manfaat bagi sesama. Salah satunya adalah bersedekah, karena sedekah membantu meringankan beban mereka yang terdampak bencana dan krisis sosial akibat kerusakan lingkungan. Semoga dengan menjaga alam, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperbanyak sedekah, Allah SWT melimpahkan keberkahan serta pahala yang terus mengalir hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL02/01/2026 | Yessi Ade Lia Putri
Merusak atau Merawat? Etika Lingkungan Hidup dalam Pandangan Islam
Merusak atau Merawat? Etika Lingkungan Hidup dalam Pandangan Islam
Lingkungan sebagai Amanah Ilahi Lingkungan hidup bukan sekadar ruang tempat manusia berpijak, melainkan amanah besar yang Allah SWT titipkan kepada manusia. Dalam Islam, hubungan manusia dengan alam tidak bersifat eksploitatif, tetapi penuh tanggung jawab moral dan spiritual. Krisis lingkungan yang terjadi saat ini—seperti pencemaran, kerusakan hutan, dan perubahan iklim—menjadi pengingat bahwa manusia perlu kembali pada nilai-nilai ilahiah dalam memperlakukan bumi. Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30) Menurut Imam Al-Qurthubi, konsep khalifah mengandung makna kepemimpinan sekaligus amanah. Manusia diberi mandat untuk mengelola alam sesuai ketentuan Allah, bukan merusaknya demi kepentingan sesaat. Karena itu, segala bentuk perusakan lingkungan merupakan pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan. Larangan Merusak Alam dalam Al-Qur’an Al-Qur’an dengan tegas melarang tindakan perusakan lingkungan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan ini mencakup segala tindakan yang merusak keseimbangan alam, baik melalui pencemaran, pemborosan sumber daya, maupun eksploitasi berlebihan. Bahkan, Allah menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut banyak disebabkan oleh ulah manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Teladan Rasulullah ? dalam Menjaga Lingkungan Rasulullah ? memberikan teladan nyata dalam menjaga lingkungan. Beliau bersabda: “Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.” (HR. Ahmad) Hadits ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah amal kebaikan yang bernilai ibadah. Bahkan, menanam pohon dan merawat tanaman disebut sebagai sedekah yang pahalanya terus mengalir (HR. Bukhari dan Muslim). Pandangan Ulama tentang Etika Lingkungan Para ulama menegaskan bahwa menjaga lingkungan termasuk tujuan syariat. Imam Al-Ghazali menekankan konsep maslahah, yaitu menjaga kemaslahatan seluruh makhluk. Sementara itu, Syekh Yusuf Al-Qaradawi menyatakan bahwa merusak lingkungan bertentangan dengan maqashid syariah karena membahayakan kehidupan manusia dan generasi mendatang. Prinsip Keseimbangan (Mizan) dalam Islam Islam mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan). Allah SWT berfirman: “Dan Allah telah meletakkan neraca (keadilan), agar kamu tidak melampaui batas.” (QS. Ar-Rahman: 7–8) Ketika manusia melampaui batas melalui gaya hidup konsumtif dan eksploitasi berlebihan, keseimbangan alam pun rusak dan dampaknya kembali kepada manusia sendiri. Aksi Nyata Menjaga Lingkungan Islam tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga mendorong aksi nyata, seperti menghindari pemborosan, menjaga kebersihan, menanam pohon, serta menyebarkan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari amar ma’ruf. Kesimpulan Islam memandang lingkungan hidup sebagai amanah suci yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Merawat alam bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga bagian dari iman dan ibadah. Setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan memiliki nilai pahala di sisi Allah SWT. Sebagai wujud pengamalan nilai-nilai Islam, umat diajak memperbanyak amal kebaikan dan sedekah untuk mendukung kemaslahatan bersama. Dengan kepedulian, sedekah, dan aksi nyata menjaga lingkungan, semoga kita menjadi hamba yang amanah dalam memelihara bumi serta memperoleh keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Aamiin.
ARTIKEL30/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ketika Hidup Terasa Berat: Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Ujian dan Kekuatan Jiwa
Ketika Hidup Terasa Berat: Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Ujian dan Kekuatan Jiwa
Hidup yang Terasa Berat adalah Bagian dari Perjalanan Manusia Setiap manusia pasti pernah merasakan fase hidup yang terasa berat. Hati diliputi kegelisahan, pikiran penuh beban, dan langkah seolah kehilangan arah. Masalah datang silih berganti, mulai dari urusan ekonomi, konflik keluarga, kegagalan rencana hidup, hingga luka batin yang sulit diungkapkan. Dalam kondisi seperti ini, tidak jarang manusia bertanya dalam diam, “Mengapa hidupku terasa begitu berat?” Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin tidak menutup mata terhadap realitas penderitaan manusia. Islam justru mengajarkan bahwa hidup memang penuh ujian, namun tidak pernah lepas dari pertolongan Allah. Ujian Hidup Bukan Tanda Kebencian Allah Dalam Islam, ujian bukanlah sesuatu yang datang tanpa tujuan. Allah ? berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian berfungsi sebagai sarana pendidikan ruhani agar manusia kembali bergantung kepada Allah dan tidak terikat sepenuhnya pada dunia. Allah Maha Adil dalam Menakar Beban Ujian Ketika hidup terasa berat, sering muncul rasa tidak sanggup. Namun Islam memberikan ketenangan melalui firman Allah ?: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini menunjukkan kasih sayang dan keadilan Allah. Setiap ujian telah diukur sesuai kemampuan hamba-Nya, baik dari sisi fisik, mental, maupun kekuatan iman. Ujian sebagai Sarana Penghapus Dosa Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa ujian adalah obat bagi jiwa, meskipun terasa pahit, karena mampu membersihkan hati dan menguatkan iman. Menjaga Keseimbangan antara Sabar, Ikhtiar, dan Tawakal Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan. Dalam menghadapi ujian, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap berusaha, bersabar, dan bertawakal kepada Allah. Allah ? berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Keseimbangan inilah yang menjaga jiwa tetap kuat dan tidak mudah runtuh oleh tekanan hidup. Ketenangan Jiwa Bersumber dari Kedekatan dengan Allah Sering kali yang membuat hidup terasa berat bukanlah masalahnya, melainkan hati yang jauh dari Allah. Allah ? berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Dzikir, doa, dan ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi sumber ketenangan jiwa yang sejati. Kesimpulan: Menguatkan Jiwa dengan Iman dan Amal Nyata Ketika hidup terasa berat, Islam mengajarkan bahwa ujian adalah sarana pembentukan jiwa agar semakin kuat dan dewasa dalam iman. Selain memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, Islam juga mendorong umatnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Salah satu bentuk aksi nyata yang dianjurkan adalah bersedekah. Sedekah tidak hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga menjadi jalan untuk melapangkan hati, membersihkan jiwa, dan mendatangkan pertolongan Allah. Semoga dengan kesabaran, keteguhan iman, dan keikhlasan dalam berbagi, kita mampu menghadapi ujian hidup dengan hati yang lebih tenang dan penuh harapan.
ARTIKEL24/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap
Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap
Tidak semua kesedihan mampu diucapkan dengan kata-kata. Ada tangis yang disembunyikan, ada luka yang dipendam, dan ada doa yang hanya terucap di dalam hati. Manusia sering terlihat kuat di hadapan sesama, namun rapuh ketika sendiri. Dalam kondisi seperti inilah Islam menghadirkan keyakinan yang menenangkan jiwa: Allah Maha Mengetahui, bahkan terhadap air mata yang tak terucap. Keyakinan ini bukan sekadar penghiburan emosional, melainkan kebenaran yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, hadits Nabi ?, serta penjelasan para ulama. Allah tidak hanya melihat apa yang tampak, tetapi juga memahami isi hati yang paling dalam. Allah Maha Mengetahui Isi Hati Manusia Salah satu sifat Allah yang menenangkan adalah Al-‘Al?m, Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad): jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. ?li ‘Imr?n: 29) Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun perasaan, niat, atau kesedihan yang luput dari pengetahuan Allah. Bahkan ketika manusia tidak sanggup menjelaskannya, Allah tetap mengetahuinya secara sempurna. Kesedihan yang dipendam, air mata yang jatuh dalam sunyi, semuanya berada dalam pengawasan-Nya. Air Mata dalam Perspektif Islam Dalam Islam, air mata bukan tanda kelemahan. Tangisan justru bagian dari fitrah manusia dan bisa menjadi tanda hidupnya iman. Rasulullah ? bersabda: “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap Allah, akhirat, dan tanggung jawab hidup akan melembutkan hati. Air mata yang muncul bukan karena putus asa, melainkan karena takut, harap, dan cinta kepada Allah. Pandangan Ulama tentang Tangisan Hamba Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa tangisan karena Allah adalah tanda hati yang hidup dan iman yang kuat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa Allah memahami bahasa hati meskipun lisan terdiam. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa apa yang tersembunyi di dada manusia—termasuk kesedihan—sepenuhnya diketahui oleh Allah. Allah Maha Dekat Saat Hamba-Nya Terluka Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186) Saat manusia merasa sendirian, Allah justru paling dekat. Tidak ada tangisan yang sia-sia, tidak ada kesedihan yang diabaikan. Bahkan Allah menyatakan bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher manusia (QS. Qaf: 16). Aksi Nyata Menghadapi Kesedihan Keyakinan bahwa Allah membaca air mata yang tak terucap seharusnya mendorong seorang Muslim untuk: Membiasakan curhat kepada Allah dalam doa dan sujud Melatih sabar dan tawakal di tengah ujian Memperbanyak dzikir saat hati terasa berat Menjaga ibadah meski sedang terluka Menjadi pribadi yang lebih lembut kepada sesama Kesimpulan Air mata yang tak terucap bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati masih berharap kepada Allah. Islam mengajarkan bahwa setiap kesedihan, tangisan, dan doa yang tersembunyi tidak pernah luput dari perhatian-Nya. Allah Maha Mengetahui isi hati, Maha Dekat saat hamba-Nya terluka, dan Maha Adil dalam membalas setiap air mata yang jatuh karena iman dan kesabaran. Dengan membawa kesedihan kepada Allah, seorang Muslim akan menemukan ketenangan, kekuatan, dan harapan baru. Air mata yang dipersembahkan kepada-Nya tidak akan sia-sia, melainkan menjadi bagian dari amal yang bernilai dan penuh keberkahan.
ARTIKEL23/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
Dalam dunia bisnis modern, keuntungan sering dijadikan satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Omzet besar, laba meningkat, dan pertumbuhan usaha yang cepat dianggap sebagai pencapaian utama. Namun dalam pandangan Islam, keuntungan materi saja belumlah cukup. Seorang Muslim dituntut untuk mencari keuntungan yang disertai keberkahan, karena keberkahanlah yang menjadikan harta membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan yang berkelanjutan. Islam tidak melarang umatnya untuk berbisnis. Bahkan Rasulullah ? dikenal sebagai pedagang yang jujur dan sukses sebelum diangkat menjadi nabi. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis adalah aktivitas yang mulia, selama dijalankan sesuai dengan nilai-nilai syariat dan tidak menyimpang dari prinsip keadilan. Makna Keuntungan dan Keberkahan dalam Islam Keuntungan dalam bisnis adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas jual beli atau usaha. Sementara keberkahan adalah tambahan kebaikan dari Allah yang tidak selalu diukur dengan jumlah, tetapi dirasakan melalui ketenangan, kecukupan, dan kebermanfaatan. Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya keberkahan itu datang dari Allah.” (HR. Bukhari) Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa harta yang berkah akan membawa kebaikan meskipun jumlahnya tidak besar, sedangkan harta yang banyak tanpa keberkahan justru dapat menjadi sumber kegelisahan. Dalil Al-Qur’an tentang Bisnis yang Berkah Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 29) Ayat ini menegaskan bahwa bisnis yang dibenarkan adalah bisnis yang dijalankan secara jujur, adil, dan tanpa unsur penipuan. Praktik riba, kecurangan, dan ketidakjelasan transaksi merupakan sebab utama hilangnya keberkahan. Allah juga berfirman: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Teladan Rasulullah ? dan Pandangan Ulama Rasulullah ? bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah adalah kunci utama keberkahan dalam bisnis. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa tujuan bekerja dan berbisnis bukan hanya mengumpulkan harta, tetapi untuk menjaga kehormatan diri, menafkahi keluarga, dan membantu sesama. Ibnu Taimiyah juga menekankan bahwa keadilan dalam muamalah menjadi sebab turunnya keberkahan. Ketika pelaku usaha menzalimi pihak lain, maka keuntungan materi tidak akan bernilai di sisi Allah. Langkah Nyata Mewujudkan Bisnis yang Berkah Beberapa langkah yang dapat diterapkan agar bisnis tetap menguntungkan dan berkah antara lain: Meluruskan niat bahwa bisnis adalah sarana ibadah Menjaga kehalalan produk dan proses Bersikap jujur dan transparan dalam transaksi Menunaikan hak karyawan dan mitra tepat waktu Menyisihkan harta untuk zakat dan sedekah Tidak melalaikan ibadah karena kesibukan usaha Kesimpulan Mencari keuntungan dalam bisnis adalah hal yang dibolehkan dalam Islam, namun keuntungan yang sejati adalah yang disertai keberkahan. Keberkahan lahir dari niat yang lurus, proses yang halal, kejujuran dalam transaksi, serta keadilan kepada semua pihak. Bisnis yang dijalankan dengan nilai-nilai Islam tidak hanya menghasilkan laba materi, tetapi juga menghadirkan ketenangan hati dan manfaat yang luas. Sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan, kita diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan bersedekah. Sedekah membersihkan harta, melapangkan rezeki, dan menjadi sebab bertambahnya keberkahan dalam usaha. Semoga setiap langkah bisnis yang kita jalani senantiasa diridhai Allah SWT dan menjadi jalan kebaikan hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL19/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Belajar Bukan Sekadar Pintar, Tapi Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Belajar Bukan Sekadar Pintar, Tapi Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Dalam kehidupan modern, belajar sering dipersempit maknanya menjadi sekadar proses meraih nilai tinggi, gelar akademik, atau kecerdasan intelektual semata. Ukuran keberhasilan pun kerap diidentikkan dengan prestasi, ranking, dan pencapaian materi. Padahal, dalam perspektif Islam, belajar memiliki tujuan yang jauh lebih agung: membentuk manusia yang bermanfaat bagi sesama dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Islam tidak memisahkan antara ilmu dan akhlak, antara kecerdasan dan kebermanfaatan. Orang berilmu bukan hanya yang pintar berbicara, tetapi yang ilmunya menghadirkan maslahat, memperbaiki diri, dan memberi dampak positif bagi lingkungan. Belajar dalam Perspektif Kehidupan Modern Belajar sering dipahami sebagai proses untuk menjadi pintar, meraih nilai tinggi, atau memperoleh gelar akademik. Dalam kehidupan modern, keberhasilan belajar kerap diukur dari prestasi intelektual dan pencapaian materi. Namun, Islam memandang belajar dengan sudut pandang yang lebih luas dan bermakna. Belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membentuk pribadi yang beriman, berakhlak, dan memberi manfaat bagi sesama. Islam tidak memisahkan antara ilmu dan akhlak. Kepintaran tanpa akhlak justru berpotensi melahirkan kesombongan dan kerusakan. Oleh karena itu, orang berilmu sejati adalah mereka yang ilmunya menghadirkan maslahat dan memperbaiki kehidupan. Perintah Belajar dalam Al-Qur’an Perintah mencari ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ? adalah perintah membaca: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1) Ayat ini menegaskan bahwa aktivitas belajar harus selalu terhubung dengan Allah. Ilmu yang dipelajari tanpa nilai ketauhidan berpotensi kehilangan arah dan makna ibadah. Allah juga meninggikan derajat orang-orang yang berilmu: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Muj?dilah: 11) Ilmu, Manfaat, dan Nilai Ibadah Rasulullah ? mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan manusia terletak pada manfaat yang ia berikan kepada orang lain: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad) Belajar adalah jalan ibadah yang mengantarkan seseorang kepada kebaikan dunia dan akhirat. Namun, Rasulullah ? juga mengajarkan doa agar dilindungi dari ilmu yang tidak bermanfaat, sebagai pengingat bahwa ilmu harus diamalkan dan membawa kebaikan. Pandangan Ulama tentang Ilmu dan Akhlak Para ulama menekankan bahwa ilmu harus berjalan seiring dengan amal. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa ilmu tanpa amal adalah kegilaan, sedangkan amal tanpa ilmu adalah kesesatan. Sementara itu, Imam Malik menjelaskan bahwa ilmu sejati adalah cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati, yang mendorong seseorang untuk bersikap rendah hati dan peduli terhadap sesama. Karena itu, ilmu adalah amanah yang menuntut tanggung jawab moral. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tuntutan akhlak dan kepeduliannya. Kesimpulan Belajar dalam Islam bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk manusia yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Ilmu yang dipelajari dengan niat yang lurus dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari akan bernilai ibadah serta menjadi amal jariyah. Sebagai wujud nyata pengamalan nilai ilmu dan kebermanfaatan tersebut, kita diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan bersedekah. Melalui sedekah, ilmu tidak hanya berhenti di pikiran, tetapi hadir dalam tindakan nyata yang menumbuhkan kepedulian sosial. Semoga Allah SWT menjadikan ilmu yang kita pelajari sebagai cahaya kehidupan dan pemberat amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.
ARTIKEL19/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam
Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam
Perkembangan zaman modern membawa berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi, media sosial, dan globalisasi telah mempercepat arus informasi serta memperluas interaksi antarindividu. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul tantangan serius dalam aspek akhlak, salah satunya adalah melemahnya empati. Sikap individualistis, minim kepedulian terhadap penderitaan orang lain, serta mudahnya melontarkan ujaran kebencian menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, empati bukan sekadar nilai sosial, melainkan bagian dari akhlak mulia (akhlaq al-karimah) yang mencerminkan kualitas iman seseorang. Seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk taat dalam ibadah ritual, tetapi juga memiliki kepedulian dan kepekaan sosial terhadap sesama manusia. Konsep Empati dalam Islam Empati dalam Islam berkaitan erat dengan konsep rahmah (kasih sayang), ta’awun (tolong-menolong), dan ukhuwah (persaudaraan). Seorang Muslim dianjurkan untuk mampu merasakan kesulitan orang lain dan terdorong untuk membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Empati tidak berhenti pada rasa iba, tetapi harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata yang membawa manfaat. Dalil Al-Qur’an dan Hadits Al-Qur’an menegaskan bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas kasih sayang. Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107) Ayat ini menunjukkan bahwa teladan Rasulullah ? adalah rahmat dan kepedulian universal. Allah juga memerintahkan umat manusia untuk saling menolong dalam kebaikan: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2) Rasulullah ? pun menegaskan pentingnya empati melalui sabdanya: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa empati merupakan indikator kesempurnaan iman. Pandangan Ulama Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa hati yang lembut dan peduli terhadap sesama merupakan tanda kedekatan seorang hamba dengan Allah. Kerasnya hati dan ketidakpedulian sosial, menurut beliau, adalah penyakit rohani yang harus diobati. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa kasih sayang adalah inti syariat Islam. Sementara Imam An-Nawawi menekankan bahwa mencintai kebaikan bagi orang lain merupakan prinsip dasar akhlak yang harus diwujudkan dalam kehidupan nyata. Tantangan dan Aksi Nyata Empati di era modern menghadapi tantangan berupa individualisme, kesibukan hidup, serta pengaruh negatif media sosial. Oleh karena itu, empati perlu dihidupkan kembali melalui tindakan sederhana seperti menjaga lisan dan tulisan, membantu sesama, memperkuat silaturahmi, serta aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Kesimpulan Empati adalah fondasi penting dalam akhlak Islam yang berlandaskan kasih sayang dan kepedulian sosial. Al-Qur’an, hadits, dan pandangan para ulama telah memberikan panduan jelas bahwa iman sejati harus tercermin dalam sikap peduli terhadap sesama. Di tengah tantangan era modern, setiap Muslim memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali empati melalui amal nyata.
ARTIKEL17/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
UMKM Naik Kelas: Strategi Bisnis Halal dan Berkah Menurut Prinsip Ekonomi Islam
UMKM Naik Kelas: Strategi Bisnis Halal dan Berkah Menurut Prinsip Ekonomi Islam
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Selain menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga, UMKM juga berkontribusi besar dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi umat. Namun, tantangan UMKM saat ini bukan hanya bertahan, melainkan mampu naik kelas menjadi usaha yang profesional, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dalam perspektif Islam, kegiatan bisnis tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan materi. Islam mengajarkan bahwa usaha harus dijalankan secara halal dan penuh keberkahan agar membawa kebaikan bagi pelaku usaha dan masyarakat. Konsep Bisnis Halal dan Berkah dalam Islam Bisnis halal dalam Islam mencakup seluruh proses usaha, mulai dari sumber modal, bahan baku, proses produksi, hingga distribusi. Usaha yang terbebas dari unsur riba, penipuan, dan ketidakjelasan akan menghadirkan ketenangan batin serta kepercayaan konsumen. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172) Ayat ini menegaskan bahwa rezeki yang halal dan baik menjadi fondasi utama dalam aktivitas ekonomi seorang Muslim. Landasan Al-Qur’an dan Hadits dalam Aktivitas Usaha Islam memberikan panduan tegas terkait etika bisnis. Salah satu prinsip utamanya adalah larangan riba serta keharusan berlaku jujur dalam transaksi. Rasulullah ? bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. At-Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa kejujuran dalam bisnis memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Pandangan Ulama tentang Etika Bisnis Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa mencari nafkah dengan cara halal merupakan bagian dari ibadah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa muamalah harus berlandaskan keadilan dan kemaslahatan. Dengan demikian, keuntungan dalam Islam bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Strategi UMKM Naik Kelas Berbasis Ekonomi Islam Agar UMKM dapat berkembang secara berkelanjutan, beberapa strategi berikut dapat diterapkan: 1. Menjamin kehalalan produk dan proses usaha 2. Mengelola keuangan secara syariah dan transparan 3. Menjunjung kejujuran serta keterbukaan informasi 4. Meningkatkan kualitas produk dan profesionalisme kerja 5. Menguatkan tanggung jawab sosial kepada masyarakat Strategi ini membantu UMKM membangun kepercayaan pasar sekaligus menjaga nilai-nilai syariah. Niat dan Etos Kerja Islami dalam Dunia Usaha Keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh strategi, tetapi juga oleh niat pelaku usaha. Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Niat yang lurus akan melahirkan etos kerja islami seperti amanah, disiplin, kerja keras, dan istiqamah, sehingga usaha tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga bernilai ibadah. Kesimpulan UMKM yang ingin naik kelas perlu memadukan profesionalisme bisnis dengan nilai-nilai ekonomi Islam. Kehalalan usaha, kejujuran, kualitas kerja, serta kepedulian sosial merupakan kunci keberhasilan yang berkelanjutan. Ketika bisnis dijalankan dengan niat ibadah dan etos kerja islami, usaha tersebut tidak hanya menghasilkan keuntungan materi, tetapi juga mendatangkan ketenangan dan keberkahan.
ARTIKEL17/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam
Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam
Dalam kesibukan hidup modern, manusia sering kali baru menyadari pentingnya kesehatan ketika tubuh mulai “berbicara”. Rasa lelah yang berkepanjangan, sakit yang datang berulang, atau emosi yang tidak stabil sering dianggap sepele hingga akhirnya mengganggu ibadah, pekerjaan, dan hubungan sosial. Islam memandang tubuh bukan sekadar alat untuk menjalani kehidupan, tetapi sebagai amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tubuh sebagai Amanah dari Allah Islam menegaskan bahwa segala yang dimiliki manusia adalah titipan Allah, termasuk tubuh. Allah berfirman: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36) Ayat ini menegaskan bahwa tubuh bukan milik mutlak manusia. Para ulama menjelaskan bahwa menjaga kesehatan termasuk bagian dari menjaga amanah tersebut. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut tubuh sebagai “kendaraan” bagi ruh. Jika kendaraan itu rusak karena kelalaian, maka ibadah dan ketaatan pun akan terhambat. Kesehatan sebagai Nikmat yang Sering Diabaikan Rasulullah ? mengingatkan umatnya agar tidak meremehkan nikmat sehat. Beliau bersabda: “Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Hadits ini menunjukkan bahwa kesehatan sering baru disadari nilainya ketika sudah hilang. Islam mendorong umatnya untuk bersyukur atas nikmat sehat, dan salah satu bentuk syukur tersebut adalah dengan menjaganya secara sadar dan bertanggung jawab. Menjaga Kesehatan sebagai Bagian dari Ibadah Dalam Islam, ibadah tidak hanya terbatas pada shalat dan puasa. Setiap aktivitas yang diniatkan untuk menaati Allah bernilai ibadah, termasuk menjaga kesehatan. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa menjaga tubuh agar tetap sehat merupakan bagian dari tujuan syariat, khususnya dalam menjaga jiwa (hifz an-nafs). Rasulullah ? juga bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan pemenuhan hak tubuh, seperti istirahat, makan yang cukup, dan tidak memaksakan diri. Panduan Islam dalam Menjaga Kesehatan Islam memberikan panduan praktis yang relevan sepanjang zaman. Allah berfirman: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Prinsip ini menegaskan pentingnya pola makan seimbang. Selain itu, kebersihan menjadi fondasi kesehatan, sebagaimana sabda Rasulullah ?: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Islam juga mendorong aktivitas fisik dan menjaga kesehatan mental melalui dzikir, doa, dan tawakal, karena ketenangan hati berpengaruh besar terhadap kondisi tubuh. Ketika Tubuh Berbicara: Dengarkan dan Bertindak Lelah berkepanjangan, sakit berulang, dan stres adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195) Mengabaikan kesehatan berarti mengabaikan amanah. Seorang Muslim diajarkan untuk peka terhadap kondisi tubuh, beristirahat saat lelah, dan berikhtiar ketika sakit. Kesimpulan Menjaga kesehatan dalam Islam bukanlah urusan sampingan, melainkan bagian dari amanah dan bentuk nyata ketaatan kepada Allah. Tubuh yang sehat memungkinkan seseorang beribadah dengan lebih khusyuk, bekerja dengan optimal, serta memberi manfaat bagi orang lain. Al-Qur’an, hadits, dan pandangan para ulama menegaskan bahwa merawat jasmani dan rohani adalah wujud syukur atas nikmat Allah. Ketika tubuh mulai “berbicara”, Islam mengajarkan kita untuk mendengarkan, memperbaiki gaya hidup, dan menjaga diri agar tetap berada dalam jalan kebaikan yang diridhai-Nya.
ARTIKEL16/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Bangkit Tanpa Menunggu Sempurna: Kekuatan Tawakal dalam Mengubah Hidup
Bangkit Tanpa Menunggu Sempurna: Kekuatan Tawakal dalam Mengubah Hidup
Dalam perjalanan hidup, banyak orang enggan melangkah karena takut salah, gagal, atau merasa belum cukup baik. Rasa ragu ini sering membuat seseorang menunda keputusan dan menunggu kondisi ideal yang tak kunjung datang. Padahal dalam Islam, Allah tidak pernah menuntut hamba-Nya untuk menjadi sempurna sebelum memulai. Yang Allah minta adalah usaha terbaik, lalu bersandar sepenuhnya kepada-Nya. Sikap inilah yang disebut tawakal. Makna Tawakal dalam Islam Secara bahasa, tawakal berarti bersandar sepenuhnya. Sedangkan menurut istilah, tawakal adalah mengambil sebab dengan maksimal lalu menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ibnul Qayyim menyebut tawakal sebagai separuh agama, sementara separuh lainnya adalah kembali kepada Allah. Imam Ahmad menegaskan bahwa tawakal adalah amal hati, bukan sekadar ucapan. Ini menunjukkan bahwa tawakal bukan pasrah tanpa usaha, melainkan keyakinan yang disertai ikhtiar. Dalil Al-Qur’an tentang Kekuatan Tawakal Al-Qur’an menempatkan tawakal sebagai sumber kekuatan hidup. Allah mencintai orang-orang yang bertawakal dan menjanjikan jalan keluar serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka bagi mereka yang bertakwa dan berserah diri kepada-Nya. Tawakal bukan hanya menenangkan hati, tetapi juga membuka pertolongan Allah dalam kehidupan nyata. Hadits Nabi tentang Tawakal dan Usaha Rasulullah SAW menjelaskan tawakal melalui perumpamaan burung yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang. Burung tidak menunggu rezeki datang, tetapi bergerak dan berusaha. Hadits ini menegaskan bahwa tawakal harus selalu berjalan seiring dengan usaha. Pandangan Ulama tentang Tawakal Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa usaha adalah bentuk ketaatan, sedangkan tawakal adalah penyerahan hati. Ibnu Taymiyyah menyatakan bahwa orang yang bertawakal tidak takut miskin dan tidak takut gagal, karena keyakinannya hanya tertuju kepada Allah. Tawakal memberi keberanian untuk memulai meski diri belum sempurna. Mengapa Kita Harus Bangkit Tanpa Menunggu Sempurna Banyak orang terjebak pada keinginan untuk menunggu kesiapan yang sempurna. Islam menolak cara berpikir ini. Tidak perlu menunggu mental kuat, kemampuan tinggi, atau keadaan ideal. Allah hanya meminta manusia untuk mulai melangkah, mengambil sebab terbaik, dan menyerahkan hasil kepada-Nya. Kesimpulan Tawakal adalah kekuatan yang membuat seseorang berani bangkit tanpa harus menunggu sempurna. Dengan tawakal, hati menjadi lebih tenang dan langkah terasa lebih ringan. Tawakal mengajarkan bahwa tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin, sementara hasil sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Sebagai wujud nyata pengamalan tawakal, kita diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya melalui sedekah. Memberi dengan ikhlas adalah bentuk keyakinan bahwa Allah tidak akan mengurangi rezeki, melainkan melipatgandakannya. Semoga dengan bertawakal dan membiasakan diri bersedekah, hidup kita dipenuhi keberkahan, dilapangkan rezeki, dan dikuatkan hati untuk terus bangkit.
ARTIKEL15/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Belajar Bukan Sekadar Hafalan: Menemukan Makna Ilmu Menurut Perspektif Islam
Belajar Bukan Sekadar Hafalan: Menemukan Makna Ilmu Menurut Perspektif Islam
Belajar dalam Islam bukan hanya soal mengumpulkan informasi atau menghafal kalimat tanpa makna. Ilmu dalam pandangan Islam adalah cahaya yang membimbing hati, menuntun akhlak, dan mengarahkan seseorang menuju kedekatan dengan Allah. Karena itu, proses belajar yang ideal menurut Islam bukanlah sekadar memenuhi pikiran, melainkan proses yang menghidupkan hati dan menumbuhkan amal saleh. 1. Kedudukan Ilmu dalam Islam Ilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Allah berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Muj?dilah: 11) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya dimiliki, tetapi diamalkan. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa ilmu yang tidak mendorong seseorang untuk melakukan amal saleh adalah ilmu yang tidak bermanfaat. Hal ini sejalan dengan firman Allah: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah hanyalah ulama.” (QS. F?thir: 28) Maknanya, ilmu sejati harus menumbuhkan rasa takut, tunduk, dan cinta kepada Allah. 2. Belajar Tidak Hanya Menghafal Walaupun menghafal memiliki nilai dalam Islam, terutama terkait Al-Qur’an, para ulama sejak dahulu menekankan bahwa pemahaman lebih utama daripada hafalan. Rasulullah ? bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Allah jadikan ia paham agama.” (HR. Bukhari dan Muslim) Nabi tidak mengatakan menghafal agama, melainkan memahami agama. Imam Malik berkata: “Ilmu itu bukan banyaknya riwayat, namun cahaya yang Allah letakkan dalam hati.” Demikian pula Ibnul Qayyim menegaskan bahwa ilmu yang tidak menghasilkan amal ibarat pohon tanpa buah—terlihat besar, tetapi tidak memberi manfaat. 3. Ilmu sebagai Renungan dan Amalan Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk merenungkan dan memahami, bukan hanya membaca. “Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an?” (QS. An-Nis?’: 82) Belajar dalam Islam harus membuat seseorang lebih peka terhadap hikmah kehidupan, lebih bijak, dan lebih berakhlak. Imam Nawawi menambahkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah terbesar setelah ibadah wajib, menunjukkan bahwa belajar adalah amal besar jika diniatkan karena Allah. 4. Aksi Nyata Menjadikan Belajar Bermakna Agar belajar tidak berhenti pada hafalan, berikut langkah nyata yang dapat dilakukan: 1. Meluruskan niat — belajar untuk mencari ridha Allah, bukan popularitas. 2. Fokus pada pemahaman — gunakan catatan, diskusi, atau peta konsep. 3. Menghubungkan ilmu dengan kehidupan — renungkan bagaimana ilmu dapat memperbaiki diri. 4. Mengamalkan ilmu sedikit demi sedikit — ilmu tanpa praktik hanyalah teori kosong. 5. Mengajarkan kepada orang lain — karena mengajar memperkuat pemahaman. 6. Menjaga adab penuntut ilmu — rendah hati, menghormati guru, dan menghindari perdebatan sia-sia. 7. Evaluasi harian — tulis apa yang dipelajari dan bagaimana akan diamalkan. Kesimpulan Belajar dalam Islam bukan tentang seberapa banyak hafalan yang kita miliki, tetapi seberapa dalam ilmu itu mengubah hati dan kehidupan kita. Al-Qur’an dan hadits, serta pandangan ulama besar, sepakat bahwa ilmu harus melahirkan pemahaman, akhlak, dan amal. Ilmu yang tidak dipahami hanya menjadi beban, tetapi ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya yang membimbing hidup hingga akhirat. Semoga kita menjadi penuntut ilmu yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijaksana, berakhlak mulia, dan dekat dengan Allah.
ARTIKEL12/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat