WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Rumah yang Dipenuhi Zikir Akan Dipenuhi Ketenangan
Rumah yang Dipenuhi Zikir Akan Dipenuhi Ketenangan
Rumah yang Dipenuhi Zikir Akan Dipenuhi Ketenangan Pernah tidak, kamu masuk ke sebuah rumah yang sederhana, tetapi suasananya terasa begitu nyaman? Obrolannya hangat, penghuninya ramah, dan hati terasa tenang meski hanya beberapa menit berada di sana. Sebaliknya, ada juga rumah yang megah dan serba mewah, tetapi justru terasa dingin, penuh ketegangan, dan tidak menghadirkan rasa damai. Ternyata, ketenangan sebuah rumah tidak hanya ditentukan oleh luas bangunan, mahalnya perabot, atau banyaknya harta yang dimiliki. Dalam Islam, salah satu rahasia hadirnya ketenangan adalah ketika rumah tersebut dipenuhi dengan zikir kepada Allah. Zikir bukan sekadar bacaan di lisan. Ia adalah cahaya yang menghidupkan hati, mengundang keberkahan, dan menjadikan rumah sebagai tempat yang dirindukan oleh seluruh penghuninya. Mengapa Zikir Membawa Ketenangan? Allah telah menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa hati manusia memang diciptakan untuk tenang ketika mengingat-Nya. "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari banyaknya uang, jabatan, atau fasilitas hidup. Semua itu bisa membuat hidup terasa nyaman, tetapi belum tentu membuat hati damai. Sebaliknya, seseorang yang rajin berzikir akan memiliki hati yang lebih lapang saat menghadapi berbagai persoalan hidup. Ketenangan itu kemudian memancar kepada anggota keluarga lainnya, sehingga suasana rumah pun menjadi lebih harmonis. Rumah yang Sering Disebut Nama Allah Akan Diberkahi Rasulullah mengajarkan bahwa rumah yang di dalamnya sering dibacakan zikir dan ayat-ayat Al-Qur'an akan dipenuhi keberkahan. Beliau bersabda: "Jadikanlah sebagian salat kalian di rumah kalian, dan janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan." (HR. Al-Bukhari No. 432 dan Muslim No. 777) Hadis ini mengajarkan bahwa rumah hendaknya menjadi tempat ibadah, bukan hanya tempat makan, tidur, atau beristirahat. Ketika salat sunnah, tilawah Al-Qur'an, dan zikir dilakukan di rumah, suasana spiritual akan terasa lebih hidup. Rumah yang dihiasi dengan ibadah akan lebih mudah dipenuhi rasa syukur, kasih sayang, dan saling menghormati antaranggota keluarga. Zikir Menjauhkan Gangguan Setan Selain menghadirkan ketenangan, zikir juga menjadi benteng yang melindungi rumah dari gangguan setan. Rasulullah bersabda: "Apabila seseorang memasuki rumahnya lalu ia mengingat Allah ketika masuk dan ketika makan, setan berkata: 'Tidak ada tempat bermalam dan tidak ada makanan bagi kalian di sini.'" (HR. Muslim No. 2018) Bayangkan, hanya dengan membaca "Bismillah" ketika masuk rumah dan sebelum makan, kita telah menutup peluang bagi setan untuk ikut masuk dan mengganggu kehidupan keluarga. Inilah sebabnya mengapa Islam mengajarkan adab-adab sederhana yang ternyata memiliki manfaat luar biasa. Zikir Tidak Harus Lama Banyak orang berpikir bahwa berzikir harus menghabiskan waktu berjam-jam. Padahal, zikir bisa dilakukan kapan saja. Misalnya: -Mengucapkan Subhanallah ketika melihat nikmat Allah. -Mengucapkan Alhamdulillah setelah mendapatkan rezeki. -Mengucapkan Astaghfirullah ketika berbuat salah. -Mengucapkan La ilaha illallah saat senggang. -Membaca doa ketika masuk dan keluar rumah. -Membaca Al-Qur'an beberapa ayat setiap hari bersama keluarga. Kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang perlahan mengubah suasana rumah menjadi lebih damai. Ketenangan Itu Menular kepada Seluruh Penghuni Rumah Ketika ayah, ibu, atau anak terbiasa mengingat Allah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Orang yang banyak berzikir biasanya lebih mudah mengendalikan emosi, lebih sabar ketika menghadapi masalah, dan lebih lembut dalam berbicara. Hal-hal seperti ini menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara emosional. Bukan berarti keluarga tersebut tidak pernah memiliki masalah. Semua rumah pasti memiliki ujian masing-masing. Namun, rumah yang dipenuhi zikir akan lebih kuat menghadapi setiap cobaan karena seluruh penghuninya menggantungkan harapan kepada Allah. Mulailah dari Kebiasaan yang Sederhana Tidak perlu menunggu menjadi keluarga yang sempurna untuk menghadirkan zikir di rumah. Mulailah dari langkah-langkah kecil, seperti: -Membiasakan mengucapkan salam saat masuk rumah. -Membaca doa sebelum makan bersama. -Memutar lantunan Al-Qur'an pada waktu tertentu. -Mengajak keluarga berzikir setelah salat. -Membaca satu atau dua halaman Al-Qur'an setiap hari. -Membiasakan ucapan Alhamdulillah, Masya Allah, dan Astaghfirullah dalam percakapan sehari-hari. Sedikit demi sedikit, rumah akan terasa lebih hidup dengan keberkahan. Rumah yang dipenuhi zikir bukan berarti rumah yang bebas dari masalah. Namun, rumah seperti itu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh rumah yang jauh dari mengingat Allah, yaitu ketenangan hati, keberkahan, dan perlindungan dari-Nya. Jangan biarkan rumah kita hanya dipenuhi suara televisi, gawai, atau kesibukan dunia. Sisihkan waktu untuk menghadirkan nama Allah di setiap sudut rumah. Bacalah Al-Qur'an, perbanyak zikir, dan biasakan doa bersama keluarga. Insya Allah, rumah yang sering dipenuhi zikir akan menjadi tempat yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga menjadi ladang pahala dan jalan menuju keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Karena pada akhirnya, rumah terbaik bukanlah yang paling mewah, melainkan rumah yang penghuninya selalu mengingat Allah dan merasakan ketenangan yang datang dari-Nya. Rumah yang dipenuhi zikir akan dipenuhi ketenangan. Namun, ketenangan itu juga akan semakin sempurna ketika penghuninya gemar berbagi kepada sesama. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menghadirkan keberkahan yang mengalir ke dalam keluarga. Setiap rupiah yang ditunaikan menjadi jalan hadirnya senyum bagi mereka yang membutuhkan, sekaligus menjadi amal yang terus mengundang rahmat Allah SWT. Mari jadikan rumah kita bukan hanya ramai dengan lantunan zikir, tetapi juga dipenuhi amal kebaikan yang membawa manfaat bagi sesama.
ARTIKEL29/06/2026 | BAZNAS
Bukan Sekadar Nilai, Inilah Tujuan Pendidikan yang Sebenarnya dalam Islam
Bukan Sekadar Nilai, Inilah Tujuan Pendidikan yang Sebenarnya dalam Islam
Pendidikan Itu Bukan Hanya Soal Angka Di zaman sekarang, banyak orang menganggap keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nilai rapor, IPK yang tinggi, atau prestasi akademik. Tidak sedikit orang tua yang bangga ketika anaknya mendapat peringkat pertama, tetapi lupa bertanya apakah anaknya juga tumbuh menjadi pribadi yang jujur, berakhlak baik, dan dekat dengan Allah. Padahal, dalam Islam, pendidikan memiliki makna yang jauh lebih luas. Ilmu memang penting, tetapi ilmu tanpa akhlak bisa menjadi bumerang. Seseorang mungkin sangat pintar, tetapi jika ilmunya digunakan untuk menyakiti orang lain, berbuat curang, atau mengambil hak orang lain, maka ilmu tersebut belum membawa keberkahan. Islam mengajarkan bahwa tujuan pendidikan bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga membersihkan hati dan membentuk karakter yang mulia. Tujuan Pendidikan dalam Islam Adalah Mendekatkan Diri kepada Allah Dalam Islam, belajar bukan sekadar mengejar gelar atau pekerjaan yang bergaji tinggi. Semua ilmu seharusnya menjadi jalan untuk semakin mengenal kebesaran Allah dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu)." (QS. Fatir: 28) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang benar akan melahirkan rasa takut, hormat, dan cinta kepada Allah. Semakin seseorang memahami ilmu, seharusnya semakin rendah hati dan semakin sadar bahwa semua pengetahuan berasal dari-Nya. Jadi, pendidikan dalam Islam bukan hanya membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membuatnya semakin taat. Ilmu yang Bermanfaat Akan Membentuk Akhlak Mulia Rasulullah ? adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga mengajarkan bagaimana bersikap jujur, amanah, sabar, rendah hati, dan peduli kepada sesama. Beliau bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad) Hadis ini mengingatkan kita bahwa pendidikan yang berhasil bukan hanya menghasilkan orang cerdas, tetapi juga orang yang memiliki akhlak baik. Karena pada akhirnya, masyarakat lebih membutuhkan orang yang jujur daripada sekadar orang yang pintar. Akhlak Lebih Lama Dikenang daripada Prestasi Prestasi bisa membuat seseorang dikenal, tetapi akhlak membuat seseorang dihormati. Bayangkan dua orang yang sama-sama pintar. Yang pertama suka membantu, rendah hati, dan jujur. Yang kedua sombong, suka merendahkan orang lain, dan tidak bisa dipercaya. Siapa yang lebih disukai? Tentu yang memiliki akhlak baik. Itulah mengapa Islam selalu menempatkan adab sebelum ilmu. Menuntut Ilmu Adalah Ibadah Belajar dalam Islam bukan aktivitas biasa. Jika diniatkan karena Allah, setiap langkah menuju majelis ilmu bernilai ibadah. Rasulullah ? bersabda: "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa mulianya orang yang terus belajar. Bahkan, usaha mencari ilmu saja sudah mendapatkan pahala yang besar. Belajar Tidak Mengenal Usia Dalam Islam, belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah atau kuliah. Seorang Muslim dianjurkan terus menambah ilmu sepanjang hidupnya, baik ilmu agama maupun ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan. Semakin banyak ilmu yang dipelajari dan diamalkan, semakin besar pula manfaat yang bisa diberikan kepada orang la Ilmu Terbaik Adalah Ilmu yang Diamalkan Ilmu bukan untuk disimpan sendiri atau sekadar dipamerkan. Ilmu yang benar akan terlihat dari perilaku sehari-hari. Cara berbicara yang santun, kejujuran dalam bekerja, kepedulian terhadap sesama, hingga semangat membantu orang lain merupakan bukti bahwa ilmu telah meresap ke dalam hati. Karena itu, jangan hanya bertanya, "Apa yang sudah saya pelajari?" tetapi juga, "Apa yang sudah saya amalkan?" Pendidikan Juga Mengajarkan Tanggung Jawab Islam mengajarkan bahwa setiap ilmu akan dimintai pertanggungjawaban. Orang yang memiliki ilmu memiliki tanggung jawab lebih besar dibandingkan orang yang belum mengetahui. Ilmu seharusnya menjadi cahaya yang membimbing, bukan alat untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar. Seorang guru yang ikhlas mengajar, seorang dokter yang melayani pasien dengan jujur, seorang pedagang yang tidak menipu, hingga seorang pemimpin yang adil, semuanya sedang mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Inilah tujuan pendidikan yang sesungguhnya: melahirkan manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Islam mengajarkan bahwa pendidikan bukan sekadar mengejar nilai tinggi, gelar, atau prestasi. Tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama. Nilai yang tinggi memang membanggakan, tetapi akhlak yang baik akan menjadi bekal sepanjang hayat. Gelar bisa membuka pintu pekerjaan, tetapi ilmu yang diamalkan akan membuka pintu keberkahan. Maka, mari kita ubah cara pandang terhadap pendidikan. Jadikan setiap proses belajar sebagai jalan mendekat kepada Allah, memperbaiki diri, dan menebar manfaat bagi orang lain. Sebab, pendidikan terbaik dalam Islam bukan hanya melahirkan orang yang cerdas, tetapi juga melahirkan hati yang penuh iman, akhlak yang mulia, dan kehidupan yang membawa kebaikan di dunia maupun di akhirat.
ARTIKEL26/06/2026 | BAZNAS
Bukan Sekadar Bantuan, BAZNAS Membantu Masyarakat Bangkit Lewat Program Ekonomi
Bukan Sekadar Bantuan, BAZNAS Membantu Masyarakat Bangkit Lewat Program Ekonomi
Bukan Sekadar Bantuan, BAZNAS Membantu Masyarakat Bangkit Lewat Program Ekonomi Pernahkah kita berpikir, apa yang paling dibutuhkan seseorang ketika sedang mengalami kesulitan ekonomi? Apakah hanya uang untuk bertahan beberapa hari, atau justru kesempatan agar bisa kembali berdiri di atas kaki sendiri? Bantuan sesaat memang sangat berarti. Namun, yang lebih berdampak adalah ketika seseorang diberi jalan untuk bangkit, memiliki penghasilan, dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya secara mandiri. Inilah semangat yang terus dihadirkan oleh BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi. BAZNAS tidak hanya menyalurkan zakat, infak, dan sedekah dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga mengelolanya menjadi program produktif yang mampu mengubah kehidupan masyarakat. Dari pedagang kecil, petani, peternak, hingga pelaku UMKM, banyak yang mulai kembali memiliki harapan berkat program-program tersebut. BAZNAS Hadir Bukan Hanya Memberi, Tetapi Memberdayakan Konsep zakat dalam Islam bukan sekadar membantu orang yang sedang kesulitan. Lebih dari itu, zakat memiliki tujuan untuk mengangkat kesejahteraan umat agar mereka bisa hidup lebih layak. Karena itulah, BAZNAS mengembangkan berbagai program ekonomi produktif. Bantuan yang diberikan tidak berhenti pada pemberian modal usaha, tetapi juga disertai dengan pendampingan, pelatihan, hingga penguatan keterampilan agar usaha yang dijalankan dapat berkembang. Dengan cara ini, para penerima manfaat tidak terus bergantung pada bantuan, melainkan perlahan mampu menjadi pribadi yang mandiri. Bukankah kebahagiaan terbesar adalah ketika seseorang yang dulu menerima bantuan, kini justru mampu membantu orang lain? Mengapa Program Ekonomi Sangat Penting? Membuka Jalan Keluar dari Kemiskinan Kemiskinan sering kali bukan karena seseorang tidak mau bekerja, tetapi karena minimnya akses terhadap modal, pelatihan, dan kesempatan. Program ekonomi BAZNAS hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Ketika seorang pedagang kecil memperoleh tambahan modal, seorang petani mendapatkan bantuan sarana produksi, atau pelaku UMKM mendapatkan pendampingan usaha, maka peluang mereka untuk meningkatkan penghasilan pun semakin besar. Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam. Namun langkah kecil yang konsisten mampu membawa perubahan besar bagi kehidupan sebuah keluarga. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Seseorang yang kembali memiliki pekerjaan atau usaha biasanya juga mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Mereka tidak lagi merasa hanya menjadi penerima bantuan, tetapi mulai bangga karena mampu bekerja keras, menghasilkan rezeki yang halal, dan menghidupi keluarganya dengan penuh kehormatan. Inilah salah satu nilai luhur yang diajarkan Islam: membantu seseorang agar mampu berdiri sendiri. Islam Mengajarkan Umatnya untuk Saling Menguatkan Rasulullah bersabda: "Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa Islam mendorong umatnya agar memiliki kemampuan untuk memberi dan berbagi kepada orang lain. Program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan BAZNAS sejalan dengan semangat tersebut. Tujuannya bukan hanya membantu seseorang hari ini, tetapi membimbingnya agar suatu saat dapat menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Zakat yang Dikelola dengan Amanah Akan Melahirkan Banyak Kebaikan Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka." (QS. At-Taubah: 103) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat bukan hanya membersihkan harta orang yang menunaikannya, tetapi juga menjadi jalan menghadirkan keberkahan di tengah masyarakat. Ketika zakat dikelola secara profesional dan disalurkan melalui program-program produktif seperti yang dilakukan BAZNAS, manfaatnya akan dirasakan oleh lebih banyak orang. Bukan hanya kebutuhan sesaat yang terpenuhi, tetapi juga tercipta peluang usaha, lapangan pekerjaan, dan kemandirian ekonomi. Dari Mustahik Menuju Muzaki Sebuah Perjalanan yang Penuh Harapan Salah satu cita-cita besar pengelolaan zakat adalah menjadikan seorang mustahik (penerima zakat) kelak mampu menjadi muzaki (orang yang menunaikan zakat). Mungkin prosesnya membutuhkan waktu. Namun setiap usaha kecil yang berkembang, setiap keluarga yang mulai mandiri, dan setiap senyum yang kembali hadir adalah bukti bahwa zakat mampu mengubah kehidupan. Inilah yang membuat zakat menjadi investasi sosial yang luar biasa. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu orang, tetapi bisa mengalir kepada keluarga, lingkungan, bahkan generasi berikutnya. Mari Menjadi Bagian dari Perubahan Setiap rupiah zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membuka jalan bagi seseorang untuk memiliki masa depan yang lebih baik. Ketika kita mempercayakan zakat kepada BAZNAS, kita turut berkontribusi dalam menghadirkan program-program ekonomi yang memberdayakan masyarakat. Bersama, kita membantu para pelaku usaha kecil tumbuh, membuka kesempatan kerja, dan membangun keluarga yang lebih mandiri. Karena sejatinya, bantuan terbaik bukan hanya yang mampu mengenyangkan hari ini, tetapi juga yang mampu mengubah kehidupan seseorang untuk waktu yang panjang. Semoga setiap zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya, sekaligus menjadi jalan lahirnya lebih banyak masyarakat yang mandiri, sejahtera, dan penuh harapan. Aamiin. Mari Jadikan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda Sebagai Jalan Kebangkitan Umat Di balik setiap usaha kecil yang kembali berjalan, setiap keluarga yang mulai mandiri, dan setiap senyum penuh harapan yang kembali hadir, ada amanah dari para muzaki yang telah mempercayakan zakat, infak, dan sedekahnya melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dana ZIS yang dihimpun disalurkan melalui berbagai program pemberdayaan untuk membantu masyarakat bangkit secara berkelanjutan. Kini, giliran kita menjadi bagian dari perubahan itu.
ARTIKEL26/06/2026 | BAZNAS
Masih Banyak Anak yang Bermimpi Sekolah, Bisakah Kita Membantu Mereka?
Masih Banyak Anak yang Bermimpi Sekolah, Bisakah Kita Membantu Mereka?
Masih Banyak Anak yang Bermimpi Sekolah, Bisakah Kita Membantu Mereka? Tidak Semua Anak Berangkat Sekolah dengan Senyum yang Sama Setiap pagi, kita mungkin melihat anak-anak berangkat ke sekolah dengan seragam rapi, tas di punggung, dan semangat untuk belajar. Namun di luar sana, masih banyak anak yang hanya bisa memandang dari kejauhan. Mereka memiliki mimpi yang sama: duduk di bangku sekolah, belajar membaca, menulis, dan mengejar cita-cita. Sayangnya, kondisi ekonomi keluarga membuat mimpi itu terasa begitu jauh. Ada anak yang terpaksa membantu orang tua bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada pula yang harus berhenti sekolah karena tidak mampu membeli perlengkapan belajar atau membayar biaya pendidikan. Padahal, setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan membangun masa depan yang lebih baik. Pendidikan Bukan Sekadar Hak, Tapi Harapan Bagi sebagian orang, sekolah adalah rutinitas biasa. Namun bagi anak-anak yang kurang beruntung, sekolah adalah harapan. Harapan untuk mengubah kehidupan mereka, membantu keluarga keluar dari kesulitan, dan meraih masa depan yang lebih cerah. Ketika seorang anak mendapatkan pendidikan yang layak, bukan hanya dirinya yang merasakan manfaatnya. Keluarga, masyarakat, bahkan bangsa juga akan merasakan dampak positifnya. Karena itulah membantu pendidikan anak-anak yang membutuhkan bukan hanya bentuk kepedulian, tetapi juga investasi kebaikan yang manfaatnya panjang. Islam Sangat Memuliakan Orang yang Membantu Sesama Dalam Islam, membantu orang lain termasuk amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Terlebih jika bantuan tersebut menjadi jalan bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu dan masa depan yang lebih baik. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa setiap bantuan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan pernah sia-sia. Justru Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang peduli terhadap sesama. Membantu Pendidikan Termasuk Sedekah yang Bernilai Besar Banyak orang berpikir bahwa sedekah hanya berupa makanan atau uang tunai. Padahal membantu biaya pendidikan, menyediakan buku, perlengkapan sekolah, atau mendukung program pendidikan juga merupakan bentuk sedekah yang sangat mulia. Bayangkan jika bantuan yang kita berikan membuat seorang anak bisa kembali bersekolah. Dari ilmu yang ia pelajari, lahirlah berbagai kebaikan yang terus mengalir. Bisa jadi suatu hari ia menjadi guru, dokter, pengusaha, atau pemimpin yang bermanfaat bagi banyak orang. Kebaikan Kecil Bisa Mengubah Masa Depan Besar Sering kali kita merasa bantuan yang kita berikan terlalu kecil. Padahal bagi mereka yang membutuhkan, bantuan kecil itu bisa menjadi harapan yang sangat besar. Mungkin harga satu kali minum kopi bagi kita bisa menjadi buku tulis untuk seorang anak. Mungkin sebagian rezeki yang kita keluarkan bisa membantu membeli seragam sekolah atau perlengkapan belajar yang selama ini mereka impikan. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Karena kita tidak pernah tahu perubahan besar apa yang bisa lahir dari bantuan tersebut. Allah Menjanjikan Balasan bagi Orang yang Gemar Bersedekah Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kebaikan yang kita keluarkan tidak akan berkurang. Sebaliknya, Allah akan melipatgandakan balasannya dengan cara yang sering kali tidak kita duga. Pendidikan Hari Ini, Harapan untuk Masa Depan Membantu pendidikan anak-anak yang membutuhkan bukan sekadar memberikan bantuan materi. Kita sedang menanam harapan, membuka peluang, dan membantu mereka menggapai masa depan yang lebih baik. Bayangkan jika suatu hari seorang anak yang pernah kita bantu berhasil mewujudkan cita-citanya. Bisa jadi ada doa-doa tulus yang ia panjatkan untuk orang-orang yang pernah membantunya. Dan bisa jadi, pahala dari ilmu yang ia gunakan untuk kebaikan terus mengalir kepada kita. Bisakah Kita Menjadi Bagian dari Harapan Mereka? Di luar sana masih banyak anak yang bermimpi untuk tetap sekolah. Mereka tidak membutuhkan belas kasihan, tetapi membutuhkan kesempatan. Kesempatan untuk belajar, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik. Kita mungkin tidak bisa membantu semua anak sekaligus. Namun membantu satu anak saja sudah bisa menjadi langkah besar yang berarti. Mari sisihkan sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita untuk mendukung pendidikan mereka. Karena bisa jadi, masa depan cerah seorang anak dimulai dari kepedulian kecil yang kita berikan hari ini. Di luar sana, masih banyak anak yang memiliki mimpi besar untuk meraih masa depan yang lebih baik. Mereka ingin bersekolah, belajar dengan tenang, dan menggapai cita-cita seperti anak-anak lainnya. Namun sayangnya, keterbatasan ekonomi sering kali menjadi penghalang bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Padahal, pendidikan bukan hanya tentang membaca dan menulis. Pendidikan adalah jalan untuk keluar dari kemiskinan, membuka peluang kehidupan yang lebih baik, dan menjadi bekal dalam membangun masa depan bangsa. Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk peduli kepada sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak yang kurang mampu adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Setiap rupiah yang kita keluarkan bisa menjadi jalan bagi mereka untuk tetap bersekolah, mendapatkan perlengkapan belajar, hingga memenuhi kebutuhan pendidikan lainnya. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad) Hari ini, kita mungkin tidak bisa hadir langsung di setiap kehidupan mereka. Namun, melalui zakat, infak, dan sedekah yang kita titipkan, kita dapat menjadi bagian dari perubahan besar dalam hidup mereka. Mari bersama-sama membantu mewujudkan mimpi anak-anak Indonesia untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih cerah. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui layanan resmi BAZNAS Kota Sukabumi yang aman, mudah, dan sesuai syariat
ARTIKEL26/06/2026 | BAZNAS
Tubuh yang Sehat Adalah Amanah, Sudahkah Kita Menjaganya?
Tubuh yang Sehat Adalah Amanah, Sudahkah Kita Menjaganya?
Tubuh yang Sehat Adalah Amanah, Sudahkah Kita Menjaganya? Sehat Itu Nikmat yang Sering Baru Disadari Saat Hilang Pernahkah kita merasa tubuh begitu kuat hingga lupa menjaganya? Begadang hampir setiap malam, makan sembarangan, jarang berolahraga, lalu menganggap semua itu biasa. Sampai akhirnya tubuh mulai memberi "peringatan" berupa mudah lelah, sering sakit, atau bahkan terkena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Padahal, dalam Islam, tubuh yang kita miliki bukanlah milik mutlak kita. Tubuh ini adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, menjaga kesehatan bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah. Sering kali kita berdoa meminta umur panjang. Namun, umur panjang akan lebih bermakna jika disertai tubuh yang sehat sehingga kita bisa terus beribadah, bekerja, membantu sesama, dan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai. Sehat Adalah Nikmat yang Tak Ternilai Banyak orang mengejar harta, jabatan, dan berbagai pencapaian. Namun ketika kesehatan hilang, semua itu terasa tidak lagi berarti. Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering membuat manusia lalai. Hadis Rasulullah SAW "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari) Hadis ini menjadi pengingat bahwa kesehatan sering dianggap biasa karena kita menikmatinya setiap hari. Baru ketika tubuh mulai sakit, kita menyadari betapa berharganya nikmat tersebut. Mengapa Menjaga Kesehatan Termasuk Ibadah? Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mengabaikan tubuh. Justru tubuh yang sehat akan membantu kita menjalankan berbagai bentuk ketaatan. Lebih Mudah Beribadah Bayangkan jika tubuh selalu lemah. Salat menjadi berat, puasa terasa sangat sulit, membaca Al-Qur'an pun cepat lelah. Sebaliknya, tubuh yang sehat membuat kita lebih semangat bangun untuk salat Subuh, berpuasa, menghadiri majelis ilmu, hingga melakukan berbagai amal kebaikan lainnya. Karena itu, menjaga kesehatan sejatinya adalah investasi agar kita lebih maksimal dalam beribadah kepada Allah SWT. Menjaga Amanah dari Allah Tubuh bukan sekadar "alat" untuk bekerja. Tubuh adalah titipan yang harus dijaga. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan."(QS. Al-Baqarah: 195) Ayat ini mengajarkan agar kita tidak melakukan hal-hal yang merusak diri sendiri, baik secara fisik maupun mental. Cara Sederhana Menjaga Amanah Kesehatan Menjaga kesehatan tidak selalu berarti harus melakukan hal-hal yang mahal atau rumit. Justru kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan manfaat yang besar. 1. Makan Secukupnya Islam mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam makan. Makan makanan yang halal, bergizi, dan secukupnya akan membantu tubuh tetap sehat dan kuat. 2. Istirahat yang Cukup Begadang tanpa kebutuhan penting sering kali membuat tubuh cepat lelah. Tidur yang cukup membantu tubuh memulihkan energi sehingga kita lebih produktif dalam beraktivitas. 3. Rutin Bergerak Tidak harus langsung berolahraga berat. Jalan kaki, bersepeda, atau melakukan aktivitas fisik ringan setiap hari sudah menjadi langkah baik untuk menjaga kebugaran. 4. Menjaga Kebersihan Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan. Mulai dari berwudu, mandi, menjaga kebersihan pakaian, hingga lingkungan sekitar merupakan bagian dari gaya hidup sehat yang telah diajarkan sejak dahulu. 5. Menjaga Hati dan Pikiran Kesehatan bukan hanya tentang tubuh, tetapi juga hati. Stres berlebihan, iri, dendam, dan amarah yang terus dipelihara dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Dzikir, doa, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak syukur dapat membantu hati menjadi lebih tenang. Jangan Menunggu Sakit Baru Peduli Banyak orang baru mulai hidup sehat setelah divonis sakit. Padahal, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Selama tubuh masih kuat, manfaatkan kesempatan itu untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Gunakan tenaga kita untuk bekerja dengan jujur, membantu orang tua, mencari nafkah yang halal, menolong sesama, dan memperbanyak amal saleh. Karena suatu hari nanti, tenaga itu tidak akan selalu sama seperti hari ini. Sehat untuk Beribadah, Sehat untuk Berbuat Baik Bayangkan berapa banyak kebaikan yang bisa kita lakukan jika tubuh tetap sehat. Kita bisa salat dengan khusyuk, menghadiri kajian, mengunjungi keluarga, bekerja mencari rezeki halal, bahkan membantu orang-orang yang membutuhkan. Tubuh yang sehat bukan hanya memberi manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Tubuh yang sehat adalah nikmat luar biasa sekaligus amanah dari Allah SWT. Jangan sampai kita baru menghargainya ketika kesehatan mulai menurun. Mulailah dari langkah sederhana: makan dengan baik, cukup istirahat, rutin bergerak, menjaga kebersihan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Semua itu bukan hanya membuat tubuh lebih bugar, tetapi juga membantu kita menjalani hidup dengan lebih berkah. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kesehatan kita, menguatkan tubuh kita untuk terus beribadah, dan menjadikan setiap langkah menjaga kesehatan sebagai amal yang bernilai di sisi-Nya. Aamiin. Tubuh yang Sehat Adalah Amanah, Sudahkah Kita Menjaganya? Alhamdulillah, jika hari ini Allah masih memberikan tubuh yang sehat, langkah yang kuat, dan rezeki yang cukup, jangan lupa bahwa di dalam setiap nikmat itu ada hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Rasulullah ? bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."(HR. Ahmad)
ARTIKEL26/06/2026 | BAZNAS
5 Kebiasaan Sehat yang Dicontohkan Rasulullah dan Mudah Dipraktikkan
5 Kebiasaan Sehat yang Dicontohkan Rasulullah dan Mudah Dipraktikkan
5 Kebiasaan Sehat yang Dicontohkan Rasulullah dan Mudah Dipraktikkan Sehat Itu Bukan Sekadar Pilihan, Tapi Amanah Di tengah kesibukan sehari-hari, banyak orang baru menyadari pentingnya kesehatan ketika tubuh mulai memberi "peringatan". Padahal, dalam Islam, menjaga kesehatan bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Rasulullah ? telah memberikan teladan bagaimana menjalani hidup yang seimbang. Menariknya, kebiasaan-kebiasaan beliau tidak rumit dan bisa dipraktikkan siapa saja. Bahkan, banyak di antaranya kini juga didukung oleh penelitian kesehatan modern. Lalu, apa saja kebiasaan sehat yang dicontohkan Rasulullah ?? 1. Makan Secukupnya, Jangan Berlebihan Salah satu kebiasaan Rasulullah ? yang sangat relevan hingga sekarang adalah tidak berlebihan dalam makan. Beliau mengajarkan agar perut tidak dipenuhi seluruhnya dengan makanan. Rasulullah ? bersabda: "Tidak ada wadah yang diisi manusia lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi) Mengapa Ini Penting? Makan secukupnya membantu menjaga berat badan, memperbaiki metabolisme, dan mengurangi risiko berbagai penyakit seperti diabetes maupun gangguan jantung. 2. Tidur Lebih Awal dan Bangun Sebelum Subuh Tidur Berkualitas Membuat Tubuh Lebih Segar Rasulullah ? tidak terbiasa begadang tanpa alasan yang penting. Beliau lebih memilih beristirahat di awal malam agar dapat bangun untuk shalat malam dan Subuh. Kebiasaan ini membuat tubuh mendapatkan waktu istirahat yang cukup sekaligus melatih kedisiplinan. Bangun sebelum Subuh juga memberi kesempatan menikmati udara pagi yang segar, memulai hari dengan ibadah, dan menenangkan pikiran sebelum aktivitas dimulai. 3. Menjaga Kebersihan Adalah Bagian dari Iman Tubuh Bersih, Hati Pun Nyaman Islam sangat menekankan pentingnya kebersihan. Rasulullah ? selalu menjaga kebersihan tubuh, pakaian, tempat tinggal, hingga lingkungan sekitar. Beliau bersabda: "Bersuci adalah setengah dari iman." (HR. Muslim) Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dimulai Hari Ini Rajin mencuci tangan. Menjaga kebersihan gigi. Mandi secara teratur. Memakai pakaian yang bersih. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Kebiasaan sederhana ini bukan hanya membuat tubuh sehat, tetapi juga mencerminkan akhlak seorang Muslim. 4. Tetap Aktif dan Tidak Malas Bergerak Rasulullah ? Juga Aktif Berolahraga Meskipun hidup sederhana, Rasulullah ? memiliki aktivitas fisik yang cukup tinggi. Beliau berjalan kaki, berkuda, memanah, bahkan berlomba lari bersama istrinya, Aisyah radhiyallahu 'anha. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki sangat baik untuk menjaga kesehatan jantung, memperkuat otot, dan mengurangi stres. Tidak harus langsung berolahraga berat. Mulailah dari hal-hal sederhana seperti: Jalan kaki 20–30 menit setiap hari. Menggunakan tangga daripada lift. Melakukan peregangan saat bekerja. Mengurangi terlalu lama duduk. Tubuh yang aktif akan membuat ibadah dan aktivitas sehari-hari terasa lebih ringan. 5. Menjaga Hati agar Tetap Tenang Sehat Bukan Hanya Fisik, Tapi Juga Jiwa Banyak penyakit berawal dari stres, kecemasan, dan hati yang dipenuhi amarah atau iri. Rasulullah ? mengajarkan umatnya untuk memperbanyak zikir, doa, tawakal, serta menjaga hubungan baik dengan sesama. Allah Ta'ala berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Hati yang tenang membantu tubuh lebih rileks, tidur lebih nyenyak, dan mengurangi risiko berbagai gangguan kesehatan yang dipicu oleh stres. Meneladani Rasulullah Dimulai dari Kebiasaan Kecil Menjalankan gaya hidup sehat tidak harus menunggu hari Senin atau awal tahun. Justru, perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Rasulullah ? telah memberikan contoh bahwa hidup sehat bukan soal mengikuti tren, melainkan menjaga amanah dari Allah. Makan secukupnya, tidur teratur, menjaga kebersihan, aktif bergerak, dan menenangkan hati adalah kebiasaan sederhana yang manfaatnya luar biasa jika dilakukan setiap hari. Ingatlah, tubuh yang sehat akan membuat kita lebih semangat beribadah, bekerja, menuntut ilmu, dan membantu sesama. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk menjaga nikmat kesehatan yang telah Dia titipkan. "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari) Mari mulai hari ini dengan satu perubahan kecil. Karena setiap langkah untuk menjaga kesehatan juga bisa menjadi bagian dari ibadah jika diniatkan karena Allah. Sehatkan Tubuh, Sehatkan Hati dengan Berbagi Menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar yang dicontohkan Rasulullah ?. Namun, jangan lupa bahwa hati juga membutuhkan "nutrisi" agar tetap tenang dan penuh keberkahan. Salah satu caranya adalah dengan memperbanyak zakat, infak, dan sedekah. Rasulullah ? bersabda: "Sedekah tidaklah mengurangi harta."(HR. Muslim) Setiap rupiah yang kita keluarkan bukan hanya membantu saudara-saudara yang membutuhkan, tetapi juga menjadi jalan datangnya keberkahan, ketenangan hati, dan pahala yang terus mengalir. Mari sempurnakan ikhtiar menjaga kesehatan lahir dan batin dengan menunaikan zakat, infak, atau sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dana yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan.
ARTIKEL26/06/2026 | BAZNAS
Saat Rezeki Terasa Sempit, Cobalah Bersedekah
Saat Rezeki Terasa Sempit, Cobalah Bersedekah
Saat Rezeki Terasa Sempit, Cobalah Bersedekah lalu ketika kondisi keuangan sedang sulit, apa yang biasanya kita lakukan? Sebagian orang akan mulai menghemat pengeluaran. Sebagian lagi mencari pekerjaan tambahan atau peluang usaha baru. Semua itu tentu merupakan langkah yang baik. Namun ada satu hal yang sering kali terasa berat untuk dilakukan saat rezeki sedang sempit, yaitu bersedekah. Logikanya sederhana. Jika uang yang kita miliki saja terasa kurang, mengapa justru harus diberikan kepada orang lain? Mungkin pertanyaan itu pernah terlintas di benak kita. Padahal dalam Islam, sedekah bukan hanya dilakukan saat kita sedang berkelimpahan. Justru sering kali sedekah menjadi salah satu pintu datangnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Ketika Rezeki Terasa Sempit Hampir setiap orang pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. -Ada yang penghasilannya menurun. -Ada yang kehilangan pekerjaan. -Ada yang usahanya sepi pelanggan. -Ada pula yang memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dalam waktu bersamaan. Dalam kondisi seperti itu, rasa khawatir sering muncul. Kita mulai menghitung-hitung pengeluaran Kita mulai takut kekurangan.Bahkan terkadang rasa takut tersebut membuat kita semakin berat untuk berbagi. Padahal bisa jadi, yang sedang Allah ajarkan kepada kita bukan hanya cara mencari rezeki, tetapi juga cara mempercayai-Nya. Sedekah Tidak Membuat Miskin Salah satu kekhawatiran terbesar saat bersedekah adalah takut harta berkurang. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan jaminan yang menenangkan hati. Beliau bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim) Hadis ini mungkin terdengar bertentangan dengan logika manusia. Secara hitungan matematika, uang yang diberikan tentu berkurang. Namun Allah tidak menilai rezeki hanya dari angka. Rezeki bisa datang dalam banyak bentuk. Bisa berupa kesehatan yang terjaga. Bisa berupa urusan yang dipermudah. Bisa berupa hati yang lebih tenang. Bisa berupa peluang yang tidak pernah disangka sebelumnya.Karena itulah, orang yang gemar bersedekah sering kali merasakan keberkahan yang sulit dijelaskan hanya dengan hitungan dunia. Allah Menjanjikan Balasan yang Berlipat Ganda Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan sedekah yang diberikan oleh hamba-Nya. Bahkan satu kebaikan kecil bisa dibalas dengan pahala dan keberkahan yang jauh lebih besar. Sedekah Melatih Hati untuk Percaya kepada Allah Saat kondisi keuangan sedang longgar, bersedekah mungkin terasa mudah namun ketika rezeki terasa sempit, sedekah menjadi ujian keimanan di situlah kita belajar untuk percaya bahwa sumber rezeki bukanlah uang yang ada di tangan kita, melainkan Allah SWT sedekah mengajarkan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Apa yang menjadi bagian kita akan tetap sampai kepada kita dengan cara yang Allah kehendaki. Karena itu, ketika seseorang tetap mau berbagi di tengah keterbatasannya, sebenarnya ia sedang menunjukkan kepercayaan yang besar kepada Allah. Sedekah Tidak Harus Menunggu Kaya Banyak orang berkata: "Nanti kalau sudah banyak uang, saya akan bersedekah." Padahal tidak ada jaminan seseorang akan lebih mudah bersedekah ketika sudah kaya kebiasaan berbagi justru dibangun dari hal-hal kecil sedekah tidak harus jutaan rupiah tidak harus dalam jumlah besar, bahkan senyuman, bantuan tenaga, atau memberi makan seseorang yang membutuhkan juga termasuk bentuk sedekah yang terpenting adalah keikhlasan hati. Rasulullah SAW bersabda: "Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah sepotong kurma." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa sekecil apa pun sedekah yang diberikan, tetap memiliki nilai di sisi Allah. Ketenangan yang Tidak Bisa Dibeli Salah satu hadiah terbesar dari sedekah adalah ketenangan hati saat kita membantu orang lain, ada rasa bahagia yang muncul dari dalam diri kita merasa lebih bersyukur, kita lebih sadar bahwa masih banyak orang yang keadaannya lebih sulit dan yang paling penting, kita merasa lebih dekat dengan Allah. Terkadang masalah keuangan belum langsung selesai setelah bersedekah. Namun hati menjadi lebih tenang karena yakin bahwa Allah sedang mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya. Jika saat ini rezeki terasa sempit, jangan langsung berpikir bahwa satu-satunya solusi adalah menahan semuanya untuk diri sendiri. -Tetaplah berusaha. -Tetaplah bekerja keras. -Tetaplah mencari jalan yang halal. Namun jangan lupa untuk menyisihkan sebagian kecil yang kamu miliki untuk berbagi. Kadang yang Membuat Kita Gelisah Bukan Karena Rezeki Kurang Kalau sedang berada di masa sulit, jujur saja, pikiran kita sering langsung tertuju pada apa yang belum ada. Tagihan yang harus dibayar, kebutuhan yang terus bertambah, atau rencana yang belum terwujud. Akibatnya, kita merasa hidup sedang berat-beratnya. Padahal kalau dipikir lagi, mungkin masih ada banyak nikmat yang Allah berikan setiap hari. Kita masih bisa bangun pagi dengan sehat, masih bisa berkumpul dengan keluarga, masih bisa makan, masih bisa beribadah, dan masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidup. Sering kali yang membuat hati terasa sempit bukan hanya karena rezekinya, tetapi karena kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki sampai lupa melihat apa yang sudah Allah berikan. Ketika rasa syukur mulai hilang, hati akan lebih mudah merasa kurang. Sebaliknya, ketika kita mulai menghitung nikmat yang ada, hati perlahan menjadi lebih tenang. Sedekah Mengajarkan Kita untuk Percaya kepada Allah Ada sesuatu yang sangat indah dari sedekah. Saat kita memberi di tengah kondisi yang serba cukup, mungkin itu terasa biasa. Tapi ketika kita tetap mau berbagi saat kondisi sedang sempit, di situlah ada pelajaran besar tentang keimanan. Karena pada dasarnya, sedekah adalah bentuk kepercayaan kepada Allah. Kita sedang berkata kepada diri sendiri, "Aku percaya bahwa rezekiku tidak akan tertukar. Aku percaya Allah mampu mengganti apa yang aku keluarkan dengan cara yang mungkin belum aku lihat hari ini." Mungkin kita tidak langsung mendapatkan balasan berupa uang yang berlipat ganda. Namun bisa jadi Allah menggantinya dengan kesehatan, ketenangan hati, kemudahan urusan, atau perlindungan dari musibah yang tidak kita ketahui. Bukankah itu juga rezeki? Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah Banyak orang berkata, "Nanti kalau sudah mapan, saya ingin banyak bersedekah." Padahal kenyataannya, kebiasaan berbagi tidak dimulai saat seseorang kaya. Kebiasaan berbagi dimulai saat seseorang belajar ikhlas dengan apa yang ia miliki hari ini kalau hari ini sulit memberi seribu rupiah, belum tentu nanti mudah memberi sejuta rupiah karena yang Allah lihat bukan besarnya nominal, tetapi keikhlasan hati saat memberi, bahkan bisa jadi sedekah yang paling dicintai Allah adalah sedekah yang diberikan saat kita sendiri sedang membutuhkan saat tangan terasa berat untuk memberi, tetapi hati tetap memilih berbagi karena mengharap ridha Allah. Bisa Jadi Jalan Keluar Itu Datang dari Kebaikan yang Kita Berikan Kadang kita terlalu sibuk mencari jalan keluar dari masalah sampai lupa bahwa Allah memiliki banyak cara untuk menolong hamba-Nya. -Ada orang yang mendapatkan pekerjaan setelah membantu orang lain. -Ada yang usahanya mulai berkembang setelah rutin bersedekah. -Ada yang hidupnya terasa lebih tenang meski kondisi belum banyak berubah. Semua itu mengajarkan satu bahwa kebaikan yang kita berikan tidak pernah benar-benar hilang Allah selalu melihatnya dan Allah selalu menghitungnya serta Allah mampu membalasnya dengan cara yang tidak pernah kita duga. Karena itu, saat rezeki terasa sempit, jangan hanya fokus pada apa yang belum datang. Cobalah tetap menjadi pribadi yang ringan berbagi. Mungkin sedekah kecil yang hari ini kamu keluarkan dengan penuh keikhlasan justru menjadi sebab dibukanya pintu-pintu rezeki yang selama ini belum terlihat. Sebab dalam hidup ini, keberkahan sering datang bukan saat kita menggenggam semuanya erat-erat, tetapi saat kita berani melepaskan sebagian karena percaya kepada Allah. Karena sering kali keberkahan datang bukan saat kita menggenggam lebih erat, tetapi saat kita belajar melepaskan sebagian dengan ikhlas siapa tahu, sedekah kecil yang hari ini terasa berat untuk diberikan justru menjadi pintu dibukakannya rezeki yang selama ini kamu tunggu ebab Allah tidak pernah menyia-nyiakan kebaikan sekecil apa pun yang dilakukan oleh hamba-Nya. Ketika rezeki terasa sempit, kebutuhan semakin banyak, dan hati mulai dipenuhi kekhawatiran, mungkin yang terlintas di pikiran adalah menahan apa yang kita miliki. Padahal, Islam mengajarkan sesuatu yang sering kali terasa berlawanan dengan logika manusia: bersedekah. Banyak orang mengira sedekah hanya dilakukan saat memiliki kelebihan harta. Namun justru dalam keadaan sulit, sedekah bisa menjadi jalan datangnya pertolongan Allah. Karena yang dinilai bukan seberapa besar yang diberikan, tetapi seberapa tulus hati saat berbagi. Allah SWT berfirman: "Dan barang apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezeki yang terbaik."(QS. Saba': 39) Jangan takut berkurang karena memberi. Bisa jadi, rezeki yang selama ini terasa tertahan justru menunggu pintu kebaikan yang kita buka melalui zakat, infak, dan sedekah.
ARTIKEL25/06/2026 | BAZNAS
Di Balik Senyumnya, Bisa Jadi Ada Luka yang Tidak Pernah Ia Ceritakan
Di Balik Senyumnya, Bisa Jadi Ada Luka yang Tidak Pernah Ia Ceritakan
Di Balik Senyumnya, Bisa Jadi Ada Luka yang Tidak Pernah Ia Ceritakan Tidak Semua Orang yang Tersenyum Sedang Baik-Baik Saja Pernahkah kamu bertemu seseorang yang selalu terlihat ceria? Ia mudah tertawa, ramah kepada siapa saja, dan seolah tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Namun siapa sangka, di balik senyum yang selalu menghiasi wajahnya, bisa jadi ada luka yang selama ini ia simpan sendiri. Kita sering menilai seseorang dari apa yang terlihat. Padahal, kenyataannya tidak semua kesedihan tampak dari wajah yang murung. Ada orang yang memilih tetap tersenyum meski hatinya sedang berjuang menghadapi berbagai persoalan. Ada yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan, kehilangan orang tercinta, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, atau tekanan hidup yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk tidak mudah menghakimi dan lebih banyak berempati kepada sesama. Senyum Bukan Selalu Tanda Tidak Ada Masalah Di zaman sekarang, banyak orang merasa harus terlihat kuat. Mereka takut dianggap lemah jika menunjukkan kesedihan. Akhirnya, mereka memilih menyimpan semuanya sendiri. Ada Perjuangan yang Tidak Terlihat Mungkin ada temanmu yang terlihat bahagia di media sosial, padahal setiap malam ia menangis dalam doanya. Mungkin ada rekan kerja yang selalu tersenyum menyapa semua orang, padahal ia sedang memikirkan cara membayar kebutuhan keluarganya. Mungkin ada seseorang yang selalu membantu orang lain, padahal dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan. Kita tidak pernah benar-benar tahu perjuangan yang sedang dihadapi seseorang. Karena itulah, bersikap lembut dan penuh pengertian menjadi hal yang sangat penting. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa." (QS. Al-Hujurat: 12) Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mudah menilai kehidupan orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan. Belajarlah Menjadi Orang yang Menguatkan Kadang yang Dibutuhkan Hanya Kepedulian Tidak semua orang membutuhkan solusi atas masalahnya. Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Sebuah pesan sederhana seperti: "Apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja." Atau: "Kalau kamu butuh teman cerita, aku siap mendengarkan." Bisa menjadi penghiburan yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang berjuang dalam diam. Kebaikan Kecil Bisa Menjadi Besar Sering kali kita meremehkan hal-hal sederhana seperti tersenyum, menyapa, atau menanyakan kabar orang lain. Padahal bisa jadi hal kecil itu menjadi alasan seseorang merasa masih diperhatikan. Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah engkau meremehkan sedikit pun kebaikan, meskipun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ramah." (HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai besar di sisi Allah. Allah Mengetahui Luka yang Tidak Diketahui Manusia Saat Tidak Ada yang Mengerti, Allah Selalu Tahu Ada kalanya seseorang merasa sendirian. Ia merasa tidak ada yang memahami rasa sakit yang sedang ia alami. Namun sebagai seorang Muslim, kita memiliki tempat terbaik untuk mengadu, yaitu Allah SWT. Allah mengetahui setiap air mata yang jatuh diam-diam. Allah mendengar setiap doa yang dipanjatkan dalam sepertiga malam. Bahkan ketika seseorang memilih diam di hadapan manusia, Allah mengetahui seluruh isi hatinya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Ali Imran: 154) Betapa menenangkan mengetahui bahwa ada Dzat yang memahami semua kesedihan kita tanpa perlu dijelaskan panjang lebar. Tidak Ada Luka yang Sia-Sia Setiap kesabaran yang dijalani, setiap air mata yang tertahan, dan setiap rasa sakit yang dihadapi dengan ikhlas tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, maupun kesusahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim) Mari Lebih Peka kepada Sesama Kita tidak pernah tahu beban yang sedang dipikul orang lain. Karena itu, jangan mudah menyakiti dengan ucapan yang kasar, jangan terburu-buru menghakimi, dan jangan merasa hidup orang lain selalu lebih mudah daripada hidup kita. Bisa jadi orang yang hari ini tersenyum di hadapanmu sedang berjuang keras agar tidak menangis. Maka, jika kamu tidak bisa membantu banyak, setidaknya jangan menambah beban mereka. Berikan senyuman, doa, perhatian, dan kebaikan yang tulus. Karena siapa tahu, kebaikan kecil yang kamu berikan hari ini menjadi alasan seseorang tetap kuat menjalani hidupnya. Dan siapa tahu pula, saat kamu sedang berada di titik terendah nanti, Allah menghadirkan seseorang yang menguatkanmu dengan cara yang sama. Kita sering melihat seseorang tersenyum, bercanda, bahkan terlihat baik-baik saja. Namun siapa yang tahu, di balik senyum itu mungkin tersimpan kesulitan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Ada yang sedang berjuang membayar kebutuhan keluarga, ada yang menahan sakit, kehilangan pekerjaan, atau hidup dalam keterbatasan yang tidak terlihat oleh mata. Karena itulah Islam mengajarkan kita untuk peduli. Tidak semua orang mampu meminta bantuan. Tidak semua luka terlihat. Terkadang, uluran tangan kecil yang kita berikan bisa menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang membutuhkan, tetapi juga menghadirkan kebahagiaan di tengah kesulitan yang mereka alami. Setiap rupiah yang kita keluarkan bisa menjadi makanan bagi yang lapar, biaya pendidikan bagi anak yatim, bantuan kesehatan bagi yang sakit, atau modal usaha bagi mereka yang ingin bangkit. BAZNAS Kota Sukabumi menyalurkan dana Zakat, Infak, dan Sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan.
ARTIKEL25/06/2026 | BAZNAS
Pendidikan Terbaik Dimulai dari Keteladanan, Bukan Hanya Nasihat
Pendidikan Terbaik Dimulai dari Keteladanan, Bukan Hanya Nasihat
Pendidikan Terbaik Dimulai dari Keteladanan, Bukan Hanya Nasihat Anak Lebih Sering Meniru daripada Mendengar Pernahkah kita meminta anak untuk tidak bermain gadget terlalu lama, tetapi justru kita sendiri yang sibuk menatap layar sepanjang hari? Atau menyuruh anak rajin salat, sementara mereka melihat kita sering menunda-nunda ibadah? Faktanya, anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Banyak orang tua berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, jujur, santun, dan taat beragama. Namun terkadang kita lupa bahwa pendidikan yang paling kuat bukanlah ceramah panjang atau nasihat yang diulang-ulang, melainkan keteladanan yang mereka saksikan secara langsung. Dalam Islam, keteladanan memiliki posisi yang sangat penting. Bahkan Allah SWT menjadikan Rasulullah SAW sebagai contoh terbaik bagi umat manusia. Mengapa Keteladanan Lebih Efektif daripada Nasihat? Anak Belajar Melalui Pengamatan Sejak kecil, anak memiliki kemampuan alami untuk meniru. Mereka meniru cara bicara, cara berjalan, cara bersikap, bahkan cara menghadapi masalah. Ketika orang tua menunjukkan kejujuran, anak akan belajar jujur. Ketika orang tua bersikap sabar, anak pun akan memahami arti kesabaran. Sebaliknya, jika orang tua mudah marah, berbohong, atau berkata kasar, anak juga berisiko meniru perilaku tersebut. Karena itulah, keteladanan menjadi sarana pendidikan yang sangat kuat dan membekas. Nasihat Akan Kuat Jika Didukung Contoh Nyata Nasihat memang penting. Namun nasihat yang tidak disertai tindakan sering kali kehilangan pengaruhnya. Bayangkan seorang ayah yang meminta anaknya rajin membaca Al-Qur'an, tetapi anak tidak pernah melihat ayahnya menyentuh mushaf. Atau seorang ibu yang meminta anaknya bersikap sopan, tetapi dirinya sendiri sering berbicara kasar kepada orang lain. Anak akan lebih percaya pada apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar. Rasulullah SAW Adalah Guru dengan Keteladanan Terbaik Allah SWT berfirman: "Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan kebaikan melalui perkataan, tetapi juga melalui perbuatan. Beliau menunjukkan secara langsung bagaimana bersikap jujur, sabar, penyayang, dermawan, dan rendah hati. Karena itulah para sahabat begitu mudah menerima ajaran Islam. Mereka tidak hanya mendengar dakwah Rasulullah SAW, tetapi juga menyaksikan langsung akhlak mulia beliau setiap hari. Hadis tentang Pentingnya Keteladanan Akhlak Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad) Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu misi utama Rasulullah SAW adalah memberikan teladan akhlak yang baik kepada umat manusia. Keteladanan Dimulai dari Hal-Hal Sederhana Menunjukkan Kejujuran dalam Kehidupan Sehari-hari Anak-anak sangat peka terhadap perilaku orang tua. Jika mereka melihat orang tuanya jujur dalam berbagai situasi, maka nilai kejujuran akan tertanam kuat dalam diri mereka. Sebaliknya, kebohongan kecil yang dianggap sepele bisa menjadi pelajaran yang salah bagi anak. Membiasakan Ibadah Bersama Mengajak anak salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, atau berdoa bersama merupakan bentuk keteladanan yang sangat efektif. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang dekat dengan ibadah akan lebih mudah mencintai agama dibandingkan anak yang hanya sering mendengar perintah tanpa melihat praktiknya. Menunjukkan Sikap Hormat kepada Orang Lain Cara kita memperlakukan tetangga, saudara, teman, dan bahkan orang yang berbeda pendapat akan menjadi pelajaran hidup bagi anak. Mereka belajar tentang empati bukan dari teori, melainkan dari contoh yang mereka lihat setiap hari. Ketika Keteladanan Menjadi Investasi Jangka Panjang Pendidikan Karakter Tidak Terjadi dalam Semalam Mendidik anak bukan pekerjaan instan. Karakter baik terbentuk melalui proses panjang yang dilakukan secara konsisten. Karena itu, jangan berkecil hati jika perubahan tidak langsung terlihat. Setiap sikap baik yang kita tunjukkan hari ini sedang membangun fondasi masa depan mereka. Anak Akan Mengingat Apa yang Kita Lakukan Bertahun-tahun kemudian, mungkin anak tidak lagi mengingat semua nasihat yang pernah kita sampaikan. Namun mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menghadapi kesulitan, dan bagaimana kita menjaga hubungan dengan Allah. Di situlah letak kekuatan keteladanan. Jadilah Contoh Sebelum Menjadi Pemberi Nasihat Sebelum meminta anak menjadi pribadi yang baik, mari berusaha menjadi pribadi yang baik terlebih dahulu. Sebelum mengajarkan kesabaran, mari belajar bersabar. Sebelum mengajarkan kejujuran, mari membiasakan diri untuk selalu jujur. Pendidikan terbaik memang tidak selalu dimulai dari kata-kata yang indah. Sering kali, pendidikan terbaik lahir dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Karena pada akhirnya, anak-anak tidak hanya mendengar apa yang kita katakan. Mereka sedang memperhatikan siapa diri kita sebenarnya. Semoga Allah SWT menjadikan kita orang tua, guru, dan pendidik yang mampu memberikan keteladanan yang baik bagi generasi penerus, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi lebih banyak dari apa yang mereka lihat. Ketika orang tua mengajarkan kebaikan melalui tindakan nyata, nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tertanam dalam hati mereka. Salah satu keteladanan yang bisa diajarkan sejak dini adalah kepedulian terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Saat anak melihat orang tuanya menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan, mereka belajar tentang rasa syukur, empati, dan tanggung jawab sosial. Inilah pendidikan karakter yang tidak cukup hanya disampaikan lewat kata-kata, tetapi harus dicontohkan dalam kehidupan sehari-hari. Mari jadikan keluarga kita sebagai teladan kebaikan. Tunjukkan kepada anak-anak bahwa berbagi adalah bagian dari ibadah dan bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan. Setiap zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan bukan hanya membantu saudara-saudara yang membutuhkan, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi generasi penerus.
ARTIKEL25/06/2026 | BAZNAS
Saat Banyak Orang Sibuk Menghakimi, Jadilah Orang yang Mau Memahami
Saat Banyak Orang Sibuk Menghakimi, Jadilah Orang yang Mau Memahami
Tidak Semua Orang Sedang Baik-Baik Saja Pernahkah kamu melihat seseorang melakukan kesalahan, lalu tanpa berpikir panjang banyak orang langsung menghakimi? Di era media sosial seperti sekarang, hal itu semakin sering terjadi. Satu kesalahan kecil bisa menjadi bahan cibiran banyak orang. Satu potongan cerita bisa membuat seseorang dicap buruk tanpa ada yang benar-benar tahu apa yang sedang ia alami. Padahal, tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar baik-baik saja. Tidak semua orang yang berbuat salah adalah orang jahat. Bisa jadi mereka sedang berjuang melawan masalah yang tidak pernah kita lihat. Sayangnya, menghakimi sering kali terasa lebih mudah daripada memahaminya. Kita lebih cepat menilai daripada mendengar. Lebih cepat menyimpulkan daripada mencari tahu. Padahal Islam mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang penuh kasih sayang dan tidak tergesa-gesa dalam menilai orang lain. Mengapa Kita Sering Mudah Menghakimi? Karena Kita Hanya Melihat Permukaannya Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya. Kita tidak melihat perjalanan hidupnya, luka yang ia simpan, tekanan yang ia hadapi, atau ujian yang sedang ia jalani. Ibarat membaca satu halaman dari sebuah buku, lalu merasa sudah mengetahui keseluruhan ceritanya. Padahal hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. Banyak orang yang tampak baik ternyata sedang berjuang melawan kesedihan. Sebaliknya, ada orang yang terlihat buruk di mata manusia, namun memiliki hati yang sangat dekat dengan Allah. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati saat menilai orang lain. Menghakimi Tidak Membuat Kita Lebih Mulia Terkadang tanpa sadar kita merasa lebih baik ketika melihat kesalahan orang lain. Padahal gambaran itu adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Hari ini mungkin kita melihat orang lain jatuh dalam kesalahan, tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita tidak melakukan hal yang sama? Maka daripada sibuk mencari kekurangan orang lain, lebih baik kita memperbaiki diri sendiri. Islam Mengajarkan Empati dan Kasih Sayang Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang sangat lembut dan penuh pengertian. Beliau tidak terburu-buru menghakimi orang yang berbuat salah. Sebaliknya, dia membimbing mereka dengan kasih sayang. Hadis Tentang Kasih Sayang Rasulullah ? bersabda: "Barang siapa yang tidak menyayanginya, maka dia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis singkat ini memiliki makna yang sangat dalam. Allah mencintai hamba yang memiliki rasa kasih sayang kepada sesama. Ketika kita memilih memahami daripada menghakimi, sesungguhnya kita sedang meneladani akhlak Rasulullah ?. Di Balik Kesalahan Seseorang, Bisa Jadi Ada Luka yang Tidak Kita Ketahui Setiap Orang Sedang Berjuang - Mungkin ada seseorang yang terlihat pemarah karena sedang menghadapi masalah keluarga. - Ada yang tampak cuek karena sedang memikul beban hidup yang berat. - Ada yang melakukan kesalahan karena kurangnya ilmu, bukan karena sengaja ingin berbuat buruk. - Kita tidak pernah benar-benar mengetahui cerita lengkap kehidupan seseorang. Oleh karena itu, sebelum menghakimi, cobalah bertanya dalam hati: "Bagaimana jika aku berada di posisinya?" Pertanyaan sederhana ini sering kali mampu melahirkan empati. Memahami Bukan Berarti Membenarkan Kesalahan Menjadi orang yang memahami bukan berarti menyetujui semua kesalahan. Jika ada yang salah, tetaplah katakan bahwa itu salah. Namun lakukan dengan cara yang baik, lembut, dan penuh adab. Islam mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar, tetapi juga mengajarkan kelembutan dalam menyampaikan kebenaran. Nasihat yang disampaikan dengan kasih sayang sering kali lebih mudah diterima daripada celaan yang penuh amarah. Allah Lebih Menyukai Orang yang Menutupi Aib Saudaranya Rasulullah ? bersabda: “Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim) Bayangkan betapa indahnya jika setiap orang lebih memilih menjaga kehormatan saudaranya daripada menyebarkan kesalahannya. Dunia akan menjadi tempat yang lebih nyaman. Persaudaraan akan terasa lebih hangat. Dan hati manusia tidak mudah terluka karena ucapan yang menyakitkan. Jadilah Orang yang Menguatkan, Bukan Menjatuhkan Di zaman ketika banyak orang berlomba-lomba memberikan komentar, jadilah pribadi yang menghadirkan ketenangan. - Saat banyak orang sibuk mencari kesalahan, jadilah orang yang mencari alasan untuk memahami. - Saat banyak orang menghakimi, jadilah orang yang mendoakan. - Saat banyak orang terjatuh, jadilah orang yang menguatkan. Karena pada akhirnya, setiap manusia memiliki kekurangan dan sama-sama membutuhkan rahmat Allah. Mungkin suatu hari nanti, ketika kita berada dalam posisi yang sulit dan melakukan kesalahan, kita juga berharap ada seseorang yang mau memahami keadaan kita, bukan langsung menghakimi. Maka mulai hari ini, mari belajar melihat manusia dengan hati yang lebih lembut. Sebab memahami sering kali membutuhkan kebesaran jiwa, sementara menghakimi bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan bisa jadi, satu sikap penuh empati yang kita berikan kepada seseorang hari ini menjadi alasan Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita di kemudian hari. Mari Lengkapi Kebaikan dengan Sedekah Terbaik Hari Ini Setelah membaca artikel ini, kita diingatkan bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang gemar menghakimi, tetapi membutuhkan lebih banyak hati yang peduli, memahami, dan membantu sesama. Salah satu cara nyata untuk menunjukkan kepedulian adalah dengan bersedekah. Mungkin kita tidak selalu bisa hadir langsung untuk membantu setiap orang yang sedang kesulitan, namun melalui sedekah, kita dapat menjadi bagian dari kebahagiaan dan harapan mereka. Rasulullah SAW bersabda: Sedekah tidak akan mengurangi harta. (HR. Muslim) Saat kita menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan yang akan kembali kepada diri kita dalam bentuk keberkahan, ketenangan, dan pahala yang terus mengalir.
ARTIKEL24/06/2026 | BAZNAS
Jangan Tutup Mata, Masih Banyak Saudara Kita yang Membutuhkan Uluran Tangan
Jangan Tutup Mata, Masih Banyak Saudara Kita yang Membutuhkan Uluran Tangan
Kita Hidup Tidak Sendiri di Dunia Ini Pernahkah kita berhenti sejenak dan melihat sekitar? Di balik kehidupan yang kita jalani hari ini, masih banyak saudara kita yang sedang berjuang untuk sekedar makan, bertahan hidup, atau memenuhi kebutuhan paling dasar. Ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang sakit tanpa biaya pengobatan, ada juga yang hidup di tempat yang jauh dari kata layak. Sementara kita mungkin masih bisa menikmati makanan hangat, tempat tinggal yang nyaman, dan pakaian yang cukup. Bukan untuk membuat kita merasa bersalah, tapi ini adalah pengingat: bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk diri sendiri. Islam Mengajarkan Peduli, Bukan Acuh Dalam Islam, kepedulian sosial bukan pilihan, tapi bagian dari iman. Rasulullah SAW selalu menekankan pentingnya membantu sesama, terutama mereka yang lemah dan membutuhkan. Hadist tentang Kepedulian Sosial Rasulullah SAW bersabda: “Perumamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim) Bayangkan jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Begitu juga umat Islam—ketika ada saudara kita yang kesusahan, seharusnya kita ikut merasakannya. Jangan Biarkan Hati Kita Menjadi Keras Di zaman sekarang, kita sering terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kadang-kadang tanpa sadar, kita melihat penderitaan orang lain tapi memilih untuk tidak peduli. Padahal, hati yang sering mengabaikan kesulitan orang lain bisa menjadi keras tanpa kita sadari. Peringatan dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah : 195) Kebaikan tidak selalu harus besar. Bahkan senyuman, perhatian, atau sekadar mendengarkan bisa menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti. Uluran Tangan yang Kecil Bisa Menjadi Harapan Besar Sering kali kita mengira bahwa membantu harus dengan jumlah besar. Padahal dalam Islam, kebaikan sekecil apa pun tetap bernilai di sisi Allah. Hadits tentang Sedekah Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sepotong kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, bahkan sesuatu yang kita anggap kecil bisa menjadi penyelamat di akhirat. Jangan pernah meremehkan bantuan sekecil apa pun. Saat Kita Membantu Orang Lain, Allah Sedang Membantu Kita Kebaikan tidak pernah berhenti pada satu arah. Saat kita membantu orang lain, sebenarnya Allah sedang membuka pintu pertolongan untuk diri kita sendiri. Bisa jadi: Allah melapangkan rezeki kita Allah menjaga keluarga kita Allah mengangkat kesulitan hidup kita Karena janji Allah itu nyata: tidak ada kebaikan yang sia-sia. Mari Mulai dari yang Sederhana Tidak perlu menunggu kaya untuk peduli. Kita bisa mulai dari hal kecil: Menyisihkan sedikit rezeki untuk sedekah Membantu tetangga yang kesulitan Membagikan makanan Atau sekadar menyebarkan informasi kebaikan Kebaikan Tidak Pernah Rugi Setiap kebaikan yang kita lakukan tidak akan hilang. Bahkan Allah mencatatnya dengan sempurna, meskipun manusia tidak melihatnya Jangan Tutup Mata, Buka Hati Kita Jangan biarkan kita menjadi orang yang hanya melihat tanpa peduli. Di luar sana masih banyak saudara kita yang menunggu uluran tangan. Mungkin bagi kita itu kecil, tapi bagi mereka itu adalah harapan hidup. Mulailah hari ini. Karena bisa jadi, satu kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi karena Allah menolong kita di masa yang tidak kita duga. Ada saatnya kita berhenti sejenak dari kesibukan, lalu melihat ke sekeliling. Di luar sana, masih banyak saudara kita yang berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada yang kesulitan makan, ada yang tidak mampu membiayai pendidikan anaknya, dan ada pula yang hidup dalam keterbatasan tanpa kepastian esok hari. Di tengah semua itu, Allah masih memberi kita kelapangan rezeki. Maka, sudah seharusnya kita tidak menutup mata. Saatnya Membersihkan Harta, Menenangkan Hati Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang memberi. Ia adalah bentuk penyucian harta dan jiwa. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At-Taubah: 103) Dengan berbagi, bukan berarti harta kita berkurang, justru Allah akan menggantinya dengan keberkahan yang lebih luas. Uluran Tangan Kita, Harapan Mereka Bagi kita mungkin jumlahnya kecil, tapi bagi mereka itu bisa menjadi: makanan untuk hari ini biaya sekolah anak bantuan kesehatan atau sekadar napas lega di tengah kesulitan Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Karena di mata Allah, setiap kebaikan memiliki nilai yang besar.
ARTIKEL24/06/2026 | BAZNAS
Jadilah Alasan Seseorang Tetap Percaya Bahwa Kebaikan Masih Ada
Jadilah Alasan Seseorang Tetap Percaya Bahwa Kebaikan Masih Ada
Jadilah Alasan Seseorang Tetap Percaya Bahwa Kebaikan Masih Ada Di Tengah Dunia yang Kadang Terasa Keras, Kebaikan Sangat Dibutuhkan Pernahkah kamu merasa kecewa karena melihat begitu banyak berita buruk, pertengkaran, penipuan, atau sikap tidak peduli di sekitar kita? Kadang, semua itu membuat seseorang kehilangan harapan dan mulai berpikir bahwa kebaikan sudah semakin langka. Namun tahukah kamu? Bisa jadi ada seseorang yang tetap kuat menjalani hidup karena pernah bertemu dengan orang baik. Bisa jadi ada hati yang kembali semangat karena pernah menerima bantuan sederhana. Dan bisa jadi, orang baik itu adalah kamu. Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Bahkan, satu senyuman, satu kalimat yang menenangkan, atau satu bantuan kecil bisa menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa dunia ini masih memiliki banyak kebaikan. Kebaikan Tidak Selalu Harus Besar Banyak orang mengira bahwa berbuat baik harus dengan harta yang banyak atau pengorbanan yang besar. Padahal tidak selalu demikian. Kebaikan Bisa Dimulai dari Hal Sederhana Mendengarkan keluh kesah teman, membantu orang tua, menghibur seseorang yang sedang sedih, atau memberikan senyuman kepada orang lain juga termasuk kebaikan yang bernilai di sisi Allah. Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah engkau meremehkan sedikit pun kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria." (HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dilakukan. Yang terlihat sederhana di mata kita bisa sangat berarti bagi orang lain. Menjadi Cahaya bagi Orang Lain Saat Banyak Orang Menyakiti, Jadilah yang Menguatkan Hari ini, banyak orang sedang berjuang dengan masalah yang tidak terlihat. Ada yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi, kehilangan pekerjaan, masalah keluarga, atau bahkan sedang berusaha bertahan dari rasa sedih yang tidak diketahui siapa pun. Mungkin mereka tidak membutuhkan solusi yang rumit. Terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang peduli. Sebuah pesan singkat yang menanyakan kabar, bantuan kecil yang diberikan dengan tulus, atau doa yang dipanjatkan diam-diam bisa menjadi cahaya bagi seseorang yang sedang berada dalam kegelapan. Allah sangat mencintai orang-orang yang memberikan manfaat kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda: "Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Thabrani) Kebaikan Memiliki Efek yang Menular Pernah melihat bagaimana satu kebaikan bisa melahirkan banyak kebaikan lainnya? Seseorang yang ditolong saat kesulitan biasanya akan lebih mudah menolong orang lain. Orang yang pernah diperlakukan dengan baik cenderung akan melakukan hal yang sama kepada orang di sekitarnya. Itulah mengapa kebaikan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia tidak berhenti pada satu orang, tetapi bisa menyebar dan memberikan manfaat kepada banyak orang. Jangan Berbuat Baik Karena Ingin Dipuji Lakukan Karena Allah Terkadang kebaikan kita tidak dihargai. Ada yang melupakan bantuan kita. Ada yang bahkan membalasnya dengan sikap yang tidak menyenangkan. Jika itu terjadi, jangan berhenti menjadi orang baik. Ingatlah bahwa tujuan utama kita bukan mencari pujian manusia, melainkan mencari ridha Allah. Ketika niat kita benar, maka kebaikan yang kita lakukan akan tetap bernilai meskipun tidak ada seorang pun yang mengucapkan terima kasih. Allah berfirman: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7) Tidak ada satu pun kebaikan yang hilang dari catatan Allah. Semua akan kembali kepada pelakunya, baik di dunia maupun di akhirat. Jadilah Orang yang Dikenang Karena Kebaikannya Warisan Terindah Bukan Harta, Tetapi Kebaikan Pada akhirnya, manusia tidak akan selalu diingat karena kekayaan, jabatan, atau popularitasnya. Namun banyak orang dikenang karena kebaikan yang pernah mereka berikan. Mungkin suatu hari ada seseorang yang berdoa untukmu karena pernah kamu bantu. Ada seseorang yang tersenyum karena pernah kamu hibur. Ada seseorang yang kembali bangkit karena pernah kamu kuatkan. Bukankah itu sebuah kebahagiaan yang luar biasa? Karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik. Jadilah orang yang menghadirkan ketenangan, bukan keresahan. Jadilah orang yang menguatkan, bukan menjatuhkan. Jadilah orang yang membawa harapan, bukan keputusasaan. Siapa tahu, di tengah dunia yang kadang terasa keras ini, kamu adalah alasan seseorang tetap percaya bahwa kebaikan masih ada. Dan siapa tahu pula, satu kebaikan kecil yang kamu lakukan hari ini menjadi sebab datangnya rahmat dan keberkahan Allah dalam hidupmu. Karena di sisi Allah, tidak ada kebaikan yang pernah sia-sia. Di tengah dunia yang sering dipenuhi berita tentang kesulitan, musibah, dan ketidakpedulian, satu kebaikan kecil yang kita lakukan bisa menjadi harapan besar bagi orang lain. Senyuman, bantuan, sedekah, atau uluran tangan yang mungkin terlihat sederhana bagi kita, bisa menjadi alasan seseorang kembali percaya bahwa masih ada orang-orang baik di sekitarnya
ARTIKEL24/06/2026 | BAZNAS
Jangan Terburu-buru Mengeluh, Pahami Dulu Penyebabnya
Jangan Terburu-buru Mengeluh, Pahami Dulu Penyebabnya
Jangan Terburu-buru Mengeluh, Pahami Dulu Penyebabnya Pernah tidak, saat menghadapi masalah, kita langsung mengeluh tanpa berpikir panjang? Baru saja mendapat kesulitan sedikit, hati sudah merasa berat. Baru saja rencana tidak berjalan sesuai harapan, mulut langsung bertanya, "Kenapa harus aku?" BAZNAS Kota Sukabumi Padahal, tidak semua hal yang membuat kita tidak nyaman adalah musibah. Terkadang, masalah yang datang justru merupakan teguran, pelajaran, atau bahkan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Karena itu, sebelum terburu-buru mengeluh, ada baiknya kita memahami dulu apa sebenarnya penyebab dari kesulitan yang sedang kita hadapi. Tidak Semua Kesulitan Datang untuk Menyiksa Sebagai manusia, wajar jika kita merasa sedih, kecewa, atau lelah. Namun, Islam mengajarkan agar kita tidak langsung berprasangka buruk kepada Allah ketika menghadapi ujian. Bisa jadi kesulitan yang datang adalah cara Allah mengingatkan kita yang mulai lalai. Bisa jadi itu adalah proses pendewasaan agar kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Bahkan, bisa jadi itu adalah jalan menuju kebaikan yang belum kita lihat saat ini. Sering kali kita hanya melihat rasa sakitnya, tetapi tidak melihat hikmah yang tersembunyi di baliknya. Allah SWT berfirman: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengingatkan kita bahwa pandangan manusia sangat terbatas. Apa yang terlihat buruk hari ini belum tentu buruk di masa depan. Coba Introspeksi Sebelum Mengeluh Ketika menghadapi masalah, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah ada kesalahan yang perlu saya perbaiki? Apakah saya sedang kurang bersyukur? Apakah saya mulai jauh dari Allah Apakah ini ujian untuk meningkatkan kesabaran saya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu kita melihat masalah dari sudut pandang yang lebih bijaksana. Kadang yang perlu diperbaiki bukan keadaan di sekitar kita, tetapi cara kita menyikapinya. Mengeluh terus-menerus tidak akan menyelesaikan masalah. Sebaliknya, introspeksi dapat membuka jalan menuju solusi. Ujian Adalah Bagian dari Kehidupan Tidak ada manusia yang hidup tanpa ujian. Bahkan para nabi yang paling dicintai Allah pun menghadapi berbagai kesulitan. Rasulullah SAW bersabda: "Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, lalu yang semisal mereka." (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa ujian bukan tanda kebencian Allah. Justru sering kali ujian menjadi tanda bahwa Allah sedang mengangkat derajat seseorang. Karena itu, jangan langsung berpikir bahwa hidup kita sedang buruk hanya karena sedang menghadapi kesulitan. Mengeluh kepada Allah Berbeda dengan Mengeluh kepada Manusia Ada satu hal yang perlu dipahami. Islam tidak melarang kita mengadukan kesedihan kepada Allah. Nabi Ya'qub AS ketika kehilangan putranya berkata: ???????? ??????? ?????? ????????? ????? ??????? "Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah." (QS. Yusuf: 86) Yang perlu dihindari adalah mengeluh dengan cara yang membuat kita semakin jauh dari Allah, kehilangan harapan, atau menyalahkan takdir. Sebaliknya, curhat kepada Allah melalui doa justru merupakan bentuk keimanan. Saat hati terasa sesak, sujudlah. Saat pikiran terasa berat, berdoalah. Allah adalah tempat terbaik untuk mengadu. Belajar Melihat Hikmah di Balik Kejadian Tidak semua hikmah bisa langsung terlihat hari itu juga. Kadang kita baru memahami alasan suatu kejadian bertahun-tahun kemudian. Mungkin kegagalan yang pernah kita sesali ternyata menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Mungkin kehilangan yang kita tangisi justru membuka pintu rezeki yang lebih baik. Karena itu, daripada terburu-buru mengeluh, lebih baik bertanya, "Apa yang ingin Allah ajarkan kepadaku melalui kejadian ini?" Pertanyaan itu akan membuat hati lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Akan ada masa-masa sulit, kekecewaan, dan ujian yang membuat hati terasa berat. Namun, sebelum terburu-buru mengeluh, cobalah berhenti sejenak dan pahami dulu penyebabnya. Bisa jadi yang kita anggap musibah sebenarnya adalah jalan menuju kebaikan. Bisa jadi yang kita keluhkan hari ini adalah cara Allah membimbing kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih dekat kepada-Nya. Jadi, saat masalah datang, jangan langsung mengeluh. Ambil waktu untuk merenung, memperbaiki diri, dan memperbanyak doa. Karena sering kali, di balik kesulitan yang kita hadapi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih indah dari yang kita bayangkan. Sering kali ketika masalah datang, kita langsung mengeluh dan merasa hidup tidak adil. Padahal, bisa jadi apa yang kita hadapi adalah cara Allah mengingatkan, menguatkan, atau bahkan membuka pintu kebaikan yang belum kita lihat. Saat hati sedang berat, cobalah berhenti sejenak. Renungkan apa yang sebenarnya menjadi penyebab kegelisahan itu. Mungkin ada ikhtiar yang perlu diperbaiki, mungkin ada kesabaran yang perlu ditambah, atau mungkin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita harapkan.
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Ketika Hati Lelah, Ternyata Bukan Dunia Tempat Kembali
Ketika Hati Lelah, Ternyata Bukan Dunia Tempat Kembali
Ketika Hati Lelah, Ternyata Bukan Dunia Tempat Kembali Pernahkah kamu merasa lelah, bukan karena pekerjaan yang menumpuk atau aktivitas yang padat, tetapi karena hati yang terasa penuh sesak? Rasanya seperti sudah berusaha kuat, sudah mencoba bertahan, tetapi tetap saja ada kekosongan yang sulit dijelaskan. BAZNAS Kota Sukabumi Saat hati sedang lelah, kebanyakan orang mencari pelarian ke dunia. Ada yang mencoba menghibur diri dengan belanja, liburan, menonton tanpa henti, atau sibuk mengejar hal-hal baru. Tidak ada yang salah dengan itu. Namun sering kali, setelah semuanya selesai, hati tetap terasa sama. Kosong. Gelisah. Tidak benar-benar menemukan ketenangan. Mengapa demikian? Karena ternyata hati manusia memang tidak diciptakan untuk bergantung sepenuhnya pada dunia. Dunia hanya tempat singgah, bukan tempat kembali. Sebesar apa pun kesenangan dunia yang kita dapatkan, semuanya memiliki batas. Kebahagiaan yang berasal dari dunia sifatnya sementara, sedangkan hati manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar dan lebih abadi. Allah SWT berfirman: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ayat ini seolah menjadi jawaban bagi banyak kegelisahan manusia. Ketika hati terasa lelah, yang sebenarnya dibutuhkan bukan selalu perubahan keadaan, melainkan kedekatan kepada Allah. Sebab ketenangan sejati bukan berasal dari apa yang kita miliki, tetapi dari hubungan kita dengan Sang Pencipta. Sering kali kita berpikir, "Kalau masalah ini selesai, aku pasti tenang." Namun kenyataannya, setelah satu masalah selesai, masalah lain datang. Setelah satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya. Begitulah dunia. Tidak pernah benar-benar memberikan kepuasan yang sempurna. Karena itu, ketika hati lelah, jangan hanya berlari kepada dunia. Berlarilah kepada Allah. Curahkan semua keluh kesah dalam doa. Ceritakan semua yang tidak sanggup kamu ceritakan kepada manusia. Menangislah dalam sujud jika memang itu yang membuat hati lebih lega. Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa saat menghadapi kesulitan, seorang mukmin hendaknya mendekat kepada Allah. Beliau bersabda: "Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu baik baginya." (HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai sumber utama kebahagiaannya. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur kepada Allah. Ketika diuji, ia kembali kepada Allah. Dalam kedua keadaan tersebut, hatinya tetap memiliki tempat untuk bersandar. Mungkin saat ini kamu sedang merasa lelah menghadapi masalah keluarga, pekerjaan, ekonomi, atau harapan yang belum terwujud. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan semua orang. Namun jangan biarkan kelelahan itu menjauhkanmu dari Allah. Justru saat hati sedang rapuh, itulah momen terbaik untuk mendekat kepada-Nya. Karena sering kali Allah mempertemukan kita dengan rasa lelah agar kita berhenti bergantung pada dunia dan kembali bergantung kepada-Nya. Ingatlah, dunia tidak selalu mampu memahami luka yang kamu rasakan. Tidak semua orang mengerti perjuangan yang sedang kamu jalani. Namun Allah mengetahui semuanya. Allah melihat air mata yang tidak dilihat manusia. Allah mendengar doa yang bahkan belum sempat kamu ucapkan dengan sempurna. Jadi, ketika hati lelah, jangan mencari ketenangan hanya pada dunia yang fana. Kembalilah kepada Allah. Perbanyak dzikir, doa, membaca Al-Qur'an, dan melakukan kebaikan. Sebab hati yang dekat dengan Allah akan menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh apa pun di dunia ini. Karena pada akhirnya, bukan dunia tempat hati kembali. Melainkan Allah, satu-satunya tempat bersandar yang tidak pernah mengecewakan. Ketika Hati Lelah, Saatnya Mendekat kepada Allah Melalui Kebaikan Jika hari ini hatimu terasa lelah, jangan hanya mencari pelarian di dunia yang sementara. Dekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal kebaikan. Salah satu cara terbaik adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Mungkin kita tidak selalu mampu menghilangkan semua masalah dalam hidup. Namun, kita selalu bisa menjadi alasan hadirnya senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi orang lain. Setiap rupiah yang kita keluarkan di jalan Allah bukanlah kehilangan, melainkan investasi pahala yang akan kembali dalam bentuk keberkahan hidup.
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Sebelum Hidup Berlalu, Renungkan Hal Ini Sejenak
Sebelum Hidup Berlalu, Renungkan Hal Ini Sejenak
Sebelum Hidup Berlalu, Renungkan Hal Ini Sejenak Pernahkah kamu berhenti sejenak di tengah kesibukan hidup, lalu bertanya pada diri sendiri, "Untuk apa sebenarnya semua ini?" BAZNAS Kota Sukabumi Setiap hari kita bangun pagi, bekerja, belajar, mengejar target, memenuhi kebutuhan, dan merencanakan masa depan. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, usia terus bertambah. Waktu yang kemarin terasa panjang, kini terasa semakin singkat. Kadang kita terlalu sibuk mengejar banyak hal sampai lupa bahwa hidup di dunia ini tidak akan berlangsung selamanya. Padahal, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun: setiap manusia akan meninggalkan dunia ini. Bukan untuk membuat kita takut, tetapi agar kita lebih bijak dalam menjalani hidup. Hidup Ini Hanya Sementara Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan akhir. "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Ali Imran: 185) Sering kali kita menghabiskan begitu banyak energi untuk hal-hal yang sifatnya sementara. Kita merasa sedih berlebihan karena kehilangan sesuatu, kecewa karena gagal meraih keinginan, atau iri melihat pencapaian orang lain. Padahal, semua yang ada di dunia ini suatu saat akan ditinggalkan. Harta, jabatan, popularitas, bahkan usia muda yang kita miliki hari ini tidak akan selamanya bersama kita. Yang akan tetap menemani adalah amal kebaikan yang pernah kita lakukan. Jangan Sampai Menyesal Terlambat Salah satu hal yang paling menyedihkan adalah ketika seseorang baru menyadari pentingnya berbuat baik saat kesempatan itu sudah tidak ada lagi. Rasulullah SAW bersabda: Artinya "Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." (HR. Al-Hakim) Hadis ini mengajarkan bahwa kesempatan yang kita miliki hari ini adalah nikmat yang tidak boleh disia-siakan. Selama masih diberi napas, masih bisa beribadah, masih mampu membantu orang lain, dan masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri, maka jangan menundanya. Karena kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir. Ukuran Sukses yang Sebenarnya Di zaman sekarang, sukses sering diukur dari banyaknya harta, kendaraan, rumah, atau pencapaian dunia lainnya. Padahal dalam Islam, ukuran sukses tidak hanya tentang apa yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang apa yang kita bawa saat menghadap Allah. Bayangkan jika suatu hari seluruh aktivitas dunia kita berhenti. Apa yang tersisa? Apakah ada doa dari orang tua yang pernah kita bahagiakan? Apakah ada sedekah yang pernah kita berikan? Apakah ada hati yang pernah kita bantu tenangkan? Apakah ada ilmu yang pernah kita bagikan? Hal-hal sederhana seperti inilah yang sering kali memiliki nilai besar di sisi Allah. Jangan Menunggu Menjadi Sempurna Banyak orang berpikir bahwa mereka akan mulai rajin beribadah nanti, akan bersedekah ketika sudah kaya, atau akan berubah ketika semua masalah selesai. Padahal, tidak ada yang tahu apakah "nanti" itu benar-benar akan datang. Mulailah dari hal kecil. Jika belum mampu bersedekah banyak, bersedekahlah sedikit. Jika belum bisa membantu dengan harta, bantulah dengan tenaga atau kata-kata yang baik. Jika masih sering melakukan kesalahan, teruslah bertaubat dan memperbaiki diri. Allah tidak menilai seberapa besar langkah kita dibandingkan orang lain. Allah melihat kesungguhan hati kita dalam berusaha menjadi lebih baik. Hidup yang Bermakna Adalah Hidup yang Bermanfaat Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad) Hadis ini mengingatkan bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang diri sendiri. Semakin banyak manfaat yang kita berikan kepada orang lain, semakin besar pula nilai hidup kita di hadapan Allah. Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia. Tetapi kita bisa membantu satu orang yang sedang kesulitan. Kita bisa menghibur seseorang yang sedang sedih. Kita bisa berbagi rezeki kepada yang membutuhkan. Jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Renungkan Sebelum Terlambat Sebelum hidup berlalu, cobalah renungkan sejenak. Sudahkah kita menggunakan waktu yang Allah berikan dengan baik? Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah dunia? Sudahkah kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama? Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya mengejar hal-hal yang sementara. Pada akhirnya, bukan seberapa lama kita hidup yang akan dihitung, tetapi bagaimana kita mengisi kehidupan itu. Selama masih ada kesempatan, mari perbanyak amal saleh, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan menebar kebaikan kepada sesama. Karena suatu hari nanti, yang paling kita syukuri bukanlah apa yang berhasil kita miliki, melainkan apa yang berhasil kita lakukan untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Kita tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang Allah berikan. Hari demi hari berlalu begitu cepat. Kesibukan datang silih berganti, sementara usia terus berkurang tanpa terasa. Saat nanti kita meninggalkan dunia ini, harta yang kita kumpulkan tidak akan ikut menemani. Jabatan, kendaraan, rumah, dan segala yang kita banggakan akan tertinggal. Yang akan terus menemani hanyalah amal saleh yang pernah kita lakukan.
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Mari Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah di Bulan Muharram yang Mulia
Mari Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah di Bulan Muharram yang Mulia
Mari Mengetuk Pintu Langit Lewat Sedekah di Bulan Muharram yang Mulia Pernahkah kita merasa doa-doa yang dipanjatkan belum juga menemukan jawabannya? Atau mungkin ada harapan yang masih tersimpan rapat di dalam hati: ingin keluarga lebih harmonis, usaha lebih lancar, kesehatan lebih baik, atau hidup lebih tenang dan penuh keberkahan. BAZNAS Kota Sukabumi Jika iya, maka bulan Muharram bisa menjadi salah satu momen terbaik untuk kembali mendekat kepada Allah. Bulan yang mulia ini bukan hanya menjadi awal tahun baru Hijriah, tetapi juga kesempatan emas untuk memperbanyak amal saleh, termasuk sedekah. Bisa jadi, salah satu jalan untuk mengetuk pintu langit adalah melalui sedekah yang kita keluarkan dengan ikhlas. Muharram, Bulan yang Dimuliakan Allah Muharram termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan yang dimuliakan) dalam Islam. Allah SWT berfirman: Artinya "Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (yang dimuliakan)."(QS. At-Taubah: 36) Karena kemuliaannya, setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan Muharram memiliki nilai yang sangat istimewa. Inilah saat yang tepat untuk memperbanyak ibadah, memperbaiki diri, dan berbagi kepada sesama. Sedekah, Cara Sederhana Mengetuk Pintu Langit Banyak orang berpikir bahwa sedekah harus menunggu kaya. Padahal, yang dinilai Allah bukanlah besar kecilnya nominal, melainkan keikhlasan hati saat memberi. Sedekah adalah bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Saat kita berbagi, kita sedang menunjukkan bahwa kita percaya Allah adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki. Rasulullah SAW bersabda: Artinya "Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan membuat kita miskin. Justru Allah akan menggantinya dengan keberkahan yang mungkin tidak selalu berupa uang, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan hati, kemudahan urusan, dan perlindungan dari berbagai musibah. Saat Sedekah Menjadi Jalan Terkabulnya Harapan Tidak sedikit orang yang merasakan perubahan hidup setelah membiasakan diri bersedekah. Ada yang dimudahkan urusannya, ada yang dipertemukan dengan solusi atas masalahnya, bahkan ada yang mendapatkan ketenangan yang selama ini dicari. Tentu bukan berarti sedekah adalah "alat tukar" untuk mendapatkan sesuatu dari Allah. Namun sedekah adalah salah satu bentuk ikhtiar dan bukti keimanan bahwa kita percaya kepada janji-Nya. Rasulullah SAW bersabda: Artinya "Obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah." (HR. Thabrani) Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki banyak keutamaan dan dapat menjadi sebab datangnya pertolongan Allah dalam berbagai keadaan. Jangan Menunggu Nanti Sering kali kita berkata, "Nanti kalau sudah punya banyak rezeki, saya akan bersedekah lebih banyak." Padahal, belum tentu kesempatan itu datang kembali. Justru kebiasaan memberi saat kondisi terbatas sering kali menjadi bukti ketulusan dan keikhlasan seseorang. Allah tidak melihat seberapa besar nominal yang kita keluarkan. Bisa jadi sedekah yang nilainya kecil tetapi dilakukan dengan hati yang ikhlas lebih dicintai Allah daripada sedekah besar yang disertai riya. Di bulan Muharram yang penuh kemuliaan ini, mari mulai dari yang kita mampu. Tidak harus besar. Tidak harus menunggu kaya. Yang penting adalah niat yang tulus dan keinginan untuk membantu sesama. Mari Membuka Tahun Baru Hijriah dengan Kebaikan Muharram adalah awal perjalanan tahun yang baru. Alangkah indahnya jika langkah pertama yang kita lakukan adalah berbagi dan menebar manfaat kepada sesama. Siapa tahu, sedekah yang kita keluarkan hari ini menjadi sebab terbukanya pintu rezeki, dilapangkannya urusan, dikabulkannya doa-doa, atau menjadi tabungan pahala yang terus mengalir hingga akhirat kelak. Mari mengetuk pintu langit dengan sedekah di bulan Muharram yang mulia. Sebab ketika tangan kita bergerak untuk memberi, semoga rahmat Allah turun untuk menyambut dan mengabulkan harapan-harapan yang selama ini kita simpan dalam doa. Semoga Allah menerima setiap sedekah yang kita keluarkan, melipatgandakan pahalanya, dan menjadikan Muharram tahun ini sebagai awal kehidupan yang lebih berkah, lebih tenang, dan lebih dekat kepada-Nya. Aamiin. Muharram adalah salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Di bulan penuh keberkahan ini, setiap amal kebaikan memiliki nilai yang istimewa. Saat banyak orang berlomba memperbaiki diri, inilah kesempatan terbaik untuk mengetuk pintu langit melalui zakat, infak, dan sedekah. Mungkin kita tidak selalu mampu melakukan amal yang besar. Namun, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi sedekah yang kita keluarkan hari ini menjadi sebab datangnya keberkahan, kemudahan urusan, kesehatan keluarga, dan terkabulnya doa-doa yang selama ini kita panjatkan.
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Seni Menjemput Tenang di Tengah Dunia yang Sedang Bising-Bisingnya
Seni Menjemput Tenang di Tengah Dunia yang Sedang Bising-Bisingnya
Seni Menjemput Tenang di Tengah Dunia yang Sedang Bising-Bisingnya Di zaman sekarang, kita hidup di tengah dunia yang tidak pernah benar-benar diam. Notifikasi tidak berhenti, berita datang silih berganti, media sosial penuh dengan perbandingan hidup orang lain, dan pikiran kita pun ikut berisik tanpa henti. Tanpa disadari, banyak orang terlihat baik-baik saja dari luar, tapi di dalamnya sedang lelah, penuh beban, bahkan kehilangan arah. BAZNAS Kota Sukabumi Di tengah semua kebisingan itu, muncul satu pertanyaan penting: di mana kita bisa menemukan ketenangan yang sebenarnya? Islam mengajarkan bahwa ketenangan bukan datang dari dunia yang hening, tetapi dari hati yang terhubung dengan Allah. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”(QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini sangat sederhana, tapi maknanya dalam sekali. Artinya, ketenangan bukan hasil dari dunia yang sempurna, tapi dari hati yang tahu ke mana ia kembali. Dunia yang Ramai, Hati yang Lelah Coba perhatikan sejenak. Banyak orang merasa gelisah bukan karena hidupnya benar-benar buruk, tetapi karena pikirannya terlalu penuh. Terlalu banyak membandingkan diri. Terlalu banyak memikirkan masa depan. Terlalu banyak mendengar suara luar, tapi terlalu sedikit mendengar suara hati sendiri. Padahal, tidak semua hal perlu kita respon. Tidak semua berita harus kita ikuti. Tidak semua komentar harus kita pikirkan. Kadang, seni menjemput tenang justru dimulai dari kemampuan untuk berkata: “cukup.” Tenang Itu Dilatih, Bukan Ditunggu Ketentraman hati bukan sesuatu yang tiba-tiba datang. Ia dilatih. Ia dibangun sedikit demi sedikit. Mulailah dari hal kecil: Mengurangi hal yang membuat hati penuh. Memperbanyak waktu diam untuk merenung. Membiasakan dzikir meski hanya sebentar. Rasulullah ? bersabda: (makna serupa dengan QS. Ar-Ra’d: 28 dalam praktiknya)Dan beliau juga bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan orang mati.”(HR. Bukhari) Dari hadis ini kita belajar bahwa dzikir bukan sekadar aktivitas spiritual, tapi sumber kehidupan hati. Menemukan Tenang di Tengah Hiruk Pikuk Kadang, kita mencari ketenangan dengan cara yang salah. Kita mengira tenang itu datang dari liburan, dari tidur panjang, atau dari menjauh dari semua masalah. Padahal, setelah semua itu, hati bisa tetap kosong jika tidak ada Allah di dalamnya. Tenang yang sejati adalah ketika hati berkata:"Aku punya Allah, jadi aku tidak perlu takut berlebihan." Itulah mengapa orang yang dekat dengan Allah tetap bisa tenang meski hidupnya tidak mudah. Karena yang mereka jaga bukan hanya kondisi hidup, tapi kondisi hati. Seni Menjemput Tenang Menjemput tenang itu seni. Bukan berarti hidup harus sempurna, tapi bagaimana kita merespon hidup dengan hati yang lebih lembut. Beberapa langkah kecil yang bisa dilakukan: Mulai hari dengan dzikir, bukan langsung membuka dunia. Kurangi perbandingan, perbanyak syukur. Jaga lisan dan pikiran dari hal yang tidak perlu. Luangkan waktu untuk shalat dengan lebih khusyuk, bukan sekadar cepat selesai. Karena sering kali, ketenangan itu hilang bukan karena hidup kita berat, tapi karena kita terlalu jauh dari sumber ketenangan itu sendiri. Dunia akan selalu bising. Selalu ada yang lebih sukses, lebih kaya, lebih cepat, atau lebih terlihat bahagia. Tapi kamu tidak harus mengikuti semua kebisingan itu. Ambil jarak. Tenangkan hati. Dan kembali lagi kepada Allah. Karena pada akhirnya, ketenangan bukan tentang menjauh dari dunia, tapi tentang mendekat kepada Allah di tengah dunia yang tidak pernah diam. Dan ketika hati sudah kembali kepada-Nya, maka kamu akan paham satu hal: Tenang itu bukan dicari… tapi dijemput. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin cepat, sering kali kita lupa bahwa ketenangan sejati bukan datang dari banyaknya yang kita miliki, tetapi dari keberkahan yang kita tebarkan.
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Menyembuhkan Luka Hati dengan Istighfar dan Maaf
Menyembuhkan Luka Hati dengan Istighfar dan Maaf
Setiap manusia pasti pernah terluka. Ada yang terluka karena dikhianati, diremehkan, ditinggalkan, tidak dihargai, atau disakiti oleh orang yang justru paling dipercaya. Luka di tubuh mungkin bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu, tetapi luka hati terkadang bertahan bertahun-tahun. Tidak sedikit orang yang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya masih menyimpan kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan di dalam hati. Akibatnya, hidup terasa berat, sulit merasa tenang, dan kebahagiaan seolah menjauh. BAZNAS Kota Sukabumi Lalu, bagaimana cara menyembuhkan luka hati menurut Islam? Salah satu obat terbaik yang diajarkan Islam adalah memperbanyak istighfar dan belajar memaafkan. Saat Luka Hati Menumpuk Ketika seseorang menyakiti kita, wajar jika hati merasa sedih. Bahkan Rasulullah SAW pun pernah merasakan kesedihan ketika menghadapi berbagai ujian dalam hidupnya. Namun yang perlu diingat, membiarkan luka terus dipeluk hanya akan membuat hati semakin lelah. Semakin sering kita mengingat kesalahan orang lain, semakin besar ruang yang kita berikan untuk rasa sakit itu tinggal dalam diri kita. Padahal Allah tidak ingin hamba-Nya hidup dalam kesedihan yang berkepanjangan. Terkadang yang membuat kita sulit sembuh bukanlah peristiwa yang terjadi, melainkan karena kita terus mengulang-ulang kenangan itu dalam pikiran. Istighfar: Obat yang Sering Diremehkan Ketika hati sedang terluka, banyak orang mencari hiburan ke mana-mana, tetapi lupa bahwa ada satu kalimat sederhana yang memiliki kekuatan luar biasa, yaitu istighfar. Mengucapkan "Astaghfirullah" bukan hanya memohon ampun atas dosa, tetapi juga menjadi sarana membersihkan hati dari berbagai beban yang mengotorinya. Rasulullah SAW bersabda: Bahasa Arab Artinya "Barang siapa membiasakan istighfar, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka." (HR. Abu Dawud) Hadis ini mengajarkan bahwa istighfar bukan hanya untuk menghapus dosa, tetapi juga dapat menjadi jalan keluar dari kegelisahan dan beban yang memenuhi hati. Saat hati terasa sesak, cobalah berhenti sejenak dan ucapkan istighfar dengan penuh kesadaran. Bukan hanya sekali atau dua kali, tetapi jadikan ia teman dalam setiap keadaan. Belajar Memaafkan untuk Menenangkan Diri Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan juga bukan berarti melupakan semua yang telah terjadi. Memaafkan adalah keputusan untuk tidak terus-menerus membawa luka itu dalam perjalanan hidup kita. Banyak orang mengira bahwa memaafkan adalah hadiah untuk orang yang menyakiti kita. Padahal sebenarnya, memaafkan adalah hadiah untuk diri sendiri. Dengan memaafkan, kita membebaskan hati dari beban dendam yang selama ini menguras energi dan ketenangan. Allah SWT berfirman: Bahasa Arab Artinya "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22) Ayat ini mengingatkan bahwa salah satu jalan untuk mendapatkan ampunan Allah adalah dengan belajar memaafkan sesama manusia. Tidak Harus Sembuh Seketika Perlu dipahami bahwa menyembuhkan luka hati adalah proses. Tidak semua luka bisa hilang dalam satu malam. Ada yang membutuhkan waktu, doa, air mata, dan kesabaran. Jika hari ini hati masih terasa sakit, jangan menyalahkan diri sendiri. Teruslah mendekat kepada Allah. Ceritakan semua kesedihanmu dalam doa. Perbanyak istighfar dan berlatih memaafkan sedikit demi sedikit. Allah mengetahui luka yang tidak diceritakan kepada siapa pun. Allah juga mengetahui air mata yang jatuh diam-diam saat tidak ada seorang pun yang melihat. Saatnya Berdamai dengan Masa Lalu Mungkin luka itu tidak bisa dihapus dari ingatan. Namun dengan pertolongan Allah, luka itu bisa berubah menjadi pelajaran, kedewasaan, dan kekuatan. Hari ini, cobalah lepaskan sedikit demi sedikit beban yang selama ini dipikul. Perbanyak istighfar saat hati terasa sesak. Belajarlah memaafkan meski tidak mudah. Karena ketenangan tidak datang ketika semua masalah hilang, tetapi ketika hati berhasil berdamai dengan apa yang pernah terjadi. Semoga Allah menyembuhkan setiap luka yang tersembunyi, mengganti kesedihan dengan ketenangan, dan memenuhi hati kita dengan cahaya ampunan-Nya. Aamiin. Kadang hati kita terasa berat bukan karena kurangnya harta, tapi karena banyaknya luka yang belum kita lepaskan. Kita sibuk menyimpan sakit, padahal Allah sudah membuka pintu ketenangan melalui istighfar dan memaafkan. Istighfar bukan hanya tentang meminta ampun kepada Allah, tapi juga tentang membersihkan hati dari beban yang tak terlihat. Sementara memaafkan adalah cara paling indah untuk membebaskan diri dari ikatan dendam yang menguras ketenangan jiwa. Rasulullah ? bersabda: “Orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh yang di langit.”(HR. Tirmidzi)
ARTIKEL23/06/2026 | BAZNAS
Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam?
Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam?
Mengapa Hati Semakin Kosong Saat Dunia Semakin Digenggam? Pernahkah kamu merasa ada sesuatu yang aneh dalam hidupmu? Target demi target berhasil dicapai. Penghasilan meningkat. Barang yang dulu hanya bisa dilihat di etalase kini bisa dibeli dengan mudah. Kehidupan terlihat baik-baik saja di mata orang lain. Namun, entah mengapa, hati justru terasa semakin kosong. BAZNAS Kota Sukabumi Jika kamu pernah merasakan hal itu, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak orang menghabiskan hidupnya untuk mengejar dunia dengan harapan akan menemukan kebahagiaan. Mereka berpikir bahwa ketika memiliki lebih banyak uang, jabatan, atau popularitas, maka hati akan merasa puas. Namun kenyataannya, semakin banyak yang digenggam, semakin besar pula rasa hampa yang dirasakan. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena Hati Diciptakan untuk Mengenal Allah Ada satu hal yang sering dilupakan manusia. Hati bukan hanya membutuhkan kesenangan dunia, tetapi juga membutuhkan kedekatan dengan Allah. Dunia memang bisa membuat kita nyaman, tetapi tidak bisa memberikan ketenangan yang sejati. Sebab ketenangan hati memiliki sumber yang berbeda. Allah SWT berfirman: Artinya: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ayat ini menjelaskan sebuah fakta yang sering tidak disadari. Hati manusia tidak akan benar-benar tenang hanya dengan harta, kesuksesan, atau pujian manusia. Semua itu mungkin menyenangkan sesaat, tetapi tidak mampu mengisi ruang kosong yang ada di dalam jiwa. Karena ruang itu memang diciptakan untuk diisi dengan iman dan kedekatan kepada Allah. Dunia Tidak Pernah Membuat Manusia Merasa Cukup Pernah merasa setelah mencapai satu keinginan, muncul keinginan yang lain? Setelah memiliki motor ingin mobil. Setelah memiliki rumah ingin rumah yang lebih besar. Setelah mencapai satu target ingin target berikutnya. Begitulah sifat dunia. Ia selalu menawarkan sesuatu yang baru untuk dikejar. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah emas." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menggambarkan bahwa jika hati hanya bergantung pada dunia, maka ia tidak akan pernah merasa puas. Selalu ada sesuatu yang kurang. Selalu ada sesuatu yang ingin dimiliki. Akibatnya, hidup menjadi lelah karena terus mengejar tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Kesibukan Dunia Kadang Menjauhkan Kita dari Allah Salah satu penyebab hati terasa kosong adalah karena terlalu sibuk mengurus dunia hingga lupa merawat hubungan dengan Allah. Jadwal penuh. Pikiran sibuk. Target terus bertambah. Tanpa disadari, waktu untuk berdoa berkurang. Al-Qur'an mulai jarang dibaca. Shalat dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban. Padahal hati juga membutuhkan "makanan". Jika tubuh membutuhkan makan dan minum, maka hati membutuhkan dzikir, doa, dan ibadah. Ketika hati terlalu lama jauh dari sumber ketenangannya, maka yang muncul adalah rasa hampa meskipun kehidupan terlihat sempurna dari luar. Kebahagiaan Tidak Selalu Berbanding Lurus dengan Kepemilikan Menariknya, banyak orang sederhana yang hidupnya biasa-biasa saja justru terlihat lebih bahagia daripada mereka yang memiliki segalanya. Mengapa? Karena kebahagiaan bukan soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa dekat hati kita kepada Allah dan seberapa besar rasa syukur yang kita miliki. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Kekayaan bukanlah banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim) Ketika hati kaya, seseorang tetap bisa tersenyum meski hidup sederhana. Sebaliknya, ketika hati miskin, seseorang bisa merasa kurang meski memiliki banyak hal. Saatnya Kembali Mengisi Hati Tidak salah bekerja keras. Tidak salah memiliki cita-cita besar. Islam bahkan mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat. Namun jangan sampai perjalanan mengejar dunia membuat kita lupa tujuan utama kehidupan. Jika akhir-akhir ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena kurangnya harta atau pencapaian. Bisa jadi hati sedang merindukan sesuatu yang lebih penting: kedekatan dengan Allah. Mulailah dengan memperbaiki shalat. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur'an. Perbanyak dzikir dan doa. Sisihkan sebagian rezeki untuk bersedekah. Dekatkan diri kepada Allah sedikit demi sedikit. Karena pada akhirnya, dunia hanya mampu membuat kita senang sementara. Tetapi Allah-lah yang mampu memberikan ketenangan yang sesungguhnya. Jadi, jika hari ini dunia terasa semakin dalam genggamanmu tetapi hati justru semakin kosong, mungkin itu bukan pertanda bahwa kamu membutuhkan lebih banyak dunia. Mungkin itu adalah panggilan agar kamu lebih dekat kepada Allah, Sang Pemilik seluruh dunia dan isi langit. Semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin tenang yang dirasakan. Kadang kita berhasil mengejar berbagai target dunia, tetapi hati tetap terasa hampa. Salah satu sebabnya adalah karena hati diciptakan bukan hanya untuk menerima, tetapi juga untuk memberi.
ARTIKEL22/06/2026 | BAZNAS
Bagaiamana Jika Kesulitanmu Saat Ini Justru Sebuah Kabar Baik?
Bagaiamana Jika Kesulitanmu Saat Ini Justru Sebuah Kabar Baik?
Bagaiamana Jika Kesulitanmu Saat Ini Justru Sebuah Kabar Baik? Pernah tidak, kamu merasa hidup sedang berat-beratnya? Masalah datang silih berganti, doa yang dipanjatkan belum juga terjawab, dan rasanya semua berjalan tidak sesuai harapan. BAZNAS Kota Sukabumi Di saat seperti itu, banyak orang bertanya, "Kenapa Allah memberikan semua ini kepadaku?" Bahkan tidak sedikit yang mulai merasa bahwa kesulitan yang dialaminya adalah tanda bahwa Allah tidak lagi sayang kepadanya. Padahal, bagaimana jika kesulitan yang sedang kamu hadapi saat ini justru sebuah kabar baik? Ya, mungkin terdengar aneh. Siapa yang menganggap masalah sebagai kabar baik? Namun dalam pandangan Islam, tidak semua kesulitan adalah tanda keburukan. Justru sering kali, kesulitan menjadi jalan yang Allah pilih untuk mendatangkan kebaikan yang lebih besar. Tidak Semua yang Menyakitkan Itu Buruk Sebagai manusia, kita cenderung menyukai hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang membuat tidak nyaman. Kita senang ketika rezeki lancar, kesehatan baik, dan hidup berjalan sesuai rencana. Namun Allah mengingatkan bahwa apa yang kita anggap buruk belum tentu benar-benar buruk bagi kita. Allah SWT berfirman: ???????? ???? ?????????? ??????? ?????? ?????? ?????? ? ???????? ???? ????????? ??????? ?????? ????? ?????? ? ????????? ???????? ?????????? ??? ??????????? Artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengajarkan bahwa pandangan kita sangat terbatas. Kita hanya melihat kesulitan yang ada di depan mata, sedangkan Allah melihat keseluruhan perjalanan hidup kita. Bisa Jadi Allah Sedang Mengangkat Derajatmu Tahukah kamu? Orang-orang yang paling dicintai Allah justru tidak luput dari ujian. Para nabi yang merupakan manusia pilihan juga mengalami kesulitan yang luar biasa. Nabi Ayyub diuji dengan penyakit, Nabi Yusuf dipisahkan dari keluarganya, dan Rasulullah SAW menghadapi berbagai penolakan serta penderitaan dalam berdakwah. Rasulullah SAW bersabda: ????? ?????? ?????????? ???? ?????? ??????????? ??????? ??????? ????? ??????? ??????? ???????????? Artinya: "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka." (HR. Tirmidzi) Hadis ini memberikan sudut pandang yang berbeda. Bisa jadi kesulitan yang kamu alami bukan karena Allah membencimu, tetapi karena Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih besar untukmu. Kesulitan Sering Kali Membuat Kita Lebih Dekat kepada Allah Coba ingat kembali. Kapan biasanya seseorang lebih banyak berdoa? Sering kali jawabannya adalah saat sedang menghadapi masalah. Ketika hidup terasa mudah, manusia terkadang lupa bersyukur. Namun saat kesulitan datang, hati menjadi lebih lembut, doa menjadi lebih khusyuk, dan ketergantungan kepada Allah semakin kuat. Bisa jadi kesulitan yang datang saat ini adalah cara Allah memanggilmu untuk kembali mendekat kepada-Nya. Karena sejatinya, keberhasilan terbesar bukanlah memiliki banyak harta atau jabatan, tetapi memiliki hubungan yang dekat dengan Allah. Ada Kebaikan yang Belum Kamu Lihat Banyak orang baru menyadari hikmah sebuah ujian setelah waktu berlalu. Ada yang gagal mendapatkan pekerjaan impiannya, lalu beberapa tahun kemudian menyadari bahwa Allah telah menyiapkan pekerjaan yang jauh lebih baik. Ada yang kehilangan sesuatu yang sangat dicintai, tetapi kemudian menemukan kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Masalahnya, saat berada di tengah kesulitan, kita sering ingin memahami semuanya sekarang juga. Padahal, tidak semua jawaban diberikan hari ini. Kadang Allah meminta kita untuk percaya terlebih dahulu, lalu memahami hikmahnya nanti. Jangan Menyerah di Tengah Jalan Jika saat ini kamu sedang menghadapi masalah, jangan terburu-buru menganggap hidupmu gagal. Ingatlah bahwa Allah tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan mereka. Allah SWT berfirman: ??? ????????? ??????? ??????? ?????? ????????? Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Artinya, jika Allah mengizinkan ujian itu hadir dalam hidupmu, berarti Allah juga telah memberikan kemampuan untuk melewatinya. Mungkin kamu belum melihat jalan keluarnya sekarang. Mungkin air mata masih sering jatuh. Mungkin hati masih terasa lelah. Namun jangan lupa, Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya. Bagaimana jika kesulitanmu saat ini justru sebuah kabar baik? Bagaimana jika ujian yang sedang kamu hadapi adalah jalan menuju derajat yang lebih tinggi, hati yang lebih kuat, atau rezeki yang lebih berkah? Kita memang tidak selalu memahami rencana Allah. Namun satu hal yang pasti, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Setiap kesulitan yang diizinkan terjadi pasti mengandung hikmah, meski belum terlihat saat ini. Jadi, jika hari ini hidup terasa berat, jangan langsung berburuk sangka kepada Allah. Bisa jadi, di balik kesulitan yang membuatmu menangis hari ini, Allah sedang menyiapkan kebahagiaan yang akan membuatmu bersyukur di kemudian hari. Tetaplah sabar, terus berdoa, dan jangan berhenti berharap. Karena sering kali, kabar baik dari Allah datang setelah seseorang mampu bertahan melewati masa-masa tersulit dalam hidupnya. Mungkin saat ini hidup terasa berat. Doa yang dipanjatkan belum juga menemukan jawaban. Rezeki terasa sempit, usaha belum membuahkan hasil, atau hati sedang lelah menghadapi berbagai ujian. Namun pernahkah kita berpikir, bagaimana jika kesulitan yang sedang kita hadapi justru merupakan kabar baik dari Allah? Bisa jadi Allah sedang membersihkan dosa-dosa kita, mengangkat derajat kita, atau menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita harapkan. Dalam setiap ujian, selalu ada hikmah yang sering kali baru kita pahami setelah waktu berlalu.
ARTIKEL22/06/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →