WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia
Antara Cahaya dan Kegelapan: Dua Pilihan Jalan Hidup Manusia Setiap manusia menjalani perjalanan hidup dengan pilihan yang berbeda. Ada yang memilih jalan penuh kebaikan, kejujuran, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah SWT. Namun, ada pula yang perlahan menjauh karena terlena oleh kesenangan dunia, hawa nafsu, atau kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, kehidupan membawa kita pada satu pertanyaan penting, jalan mana yang ingin kita pilih, cahaya atau kegelapan? Dalam Islam, cahaya bukan sekadar simbol terang secara fisik. Cahaya menggambarkan petunjuk, keimanan, ilmu, dan amal saleh. Sebaliknya, kegelapan menggambarkan kesesatan, kelalaian, serta kehidupan yang jauh dari nilai-nilai kebaikan. Setiap pilihan yang kita ambil hari ini dapat menentukan arah kehidupan kita di masa depan. Cahaya: Jalan yang Membawa Keberkahan Hidup dengan Iman dan Amal Jalan cahaya dimulai dari hati yang mengenal Allah SWT. Keimanan kemudian diwujudkan melalui ibadah dan perbuatan yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Allah SWT berfirman: “Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.”(QS. Al-Baqarah: 257) Ayat tersebut mengingatkan bahwa iman menjadi jalan menuju cahaya. Ketika hati dekat dengan Allah, seseorang memiliki pedoman untuk membedakan mana yang benar dan mana yang harus ditinggalkan. Cahaya yang Terlihat dari Kepedulian Cahaya kehidupan juga dapat hadir melalui kepedulian kepada sesama. Menolong orang yang kesulitan, berbagi makanan, mendukung pendidikan, dan menunaikan zakat merupakan bentuk nyata dari amal yang membawa manfaat. Rasulullah SAW bersabda: “Salat adalah cahaya.”(HR. Muslim No. 223) Ibadah tidak hanya membentuk hubungan dengan Allah, tetapi juga seharusnya mendorong seseorang untuk menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sosial. Kegelapan: Ketika Hati Mulai Lalai Terlalu Sibuk Mengejar Dunia Kegelapan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Terlalu mengejar harta, terlena oleh kesenangan, mengabaikan ibadah, hingga tidak peduli terhadap penderitaan orang lain dapat membuat hati perlahan kehilangan kepekaan. Bukan berarti seorang muslim dilarang mencari kesuksesan dunia. Islam mengajarkan keseimbangan. Harta dan kesuksesan seharusnya menjadi sarana untuk berbuat baik, bukan alasan untuk melupakan Allah SWT. Ketika Harta Tidak Lagi Menghasilkan Manfaat Harta yang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dapat membuat seseorang lupa bahwa di dalam rezekinya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan. Zakat menjadi salah satu bentuk ketaatan yang mengajarkan bahwa sebagian harta memiliki hak bagi mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat.”(QS. Al-Baqarah: 43) Menunaikan zakat bukan sekadar memberikan sebagian harta. Di dalamnya terdapat kepedulian, tanggung jawab, dan harapan agar harta menjadi lebih berkah serta bermanfaat bagi masyarakat. Memilih Jalan Cahaya Mulai Hari Ini Kebaikan Tidak Harus Menunggu Sempurna Tidak ada manusia yang selalu sempurna. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki langkah. Mulailah dari ibadah yang lebih baik, menjaga kejujuran, memperbanyak sedekah, membantu sesama, dan menunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat. Bayangkan ketika zakat dari banyak orang dikelola secara amanah. Kebaikan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak, membantu layanan kesehatan, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat agar lebih mandiri. Jadikan Harta sebagai Jalan Kebaikan Jangan biarkan rezeki hanya menjadi angka yang tersimpan tanpa manfaat. Jadikan sebagian harta sebagai cahaya bagi kehidupan orang lain. Salurkan zakat melalui lembaga terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola secara tepat dan menjangkau mereka yang membutuhkan. Hari ini kita diberi pilihan: terus berjalan dalam kelalaian atau mulai menyalakan cahaya kebaikan. Mari pilih jalan yang membawa keberkahan. Tunaikan zakat, bantu sesama, dan jadikan setiap rezeki yang kita miliki sebagai jalan menuju ridha Allah SWT. Karena pada akhirnya, yang membuat hidup benar-benar berarti bukan hanya apa yang berhasil kita kumpulkan, tetapi kebaikan apa yang kita tinggalkan dan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita beribadah? Apakah karena sudah terbiasa sejak kecil? Karena waktunya memang sudah tiba? Karena takut meninggalkan kewajiban? Atau karena ada rasa rindu untuk mendekat kepada Allah SWT? Sekilas, ibadah karena kebiasaan dan ibadah karena cinta mungkin terlihat sama. Sama-sama salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, berzakat, dan melakukan berbagai amal kebaikan. Namun, ada perbedaan besar di balik keduanya. Ibadah karena kebiasaan membuat seseorang melakukan sesuatu karena sudah terbiasa. Sementara ibadah karena cinta membuat hati ikut hadir di dalamnya. Kebiasaan membuat kita tetap menjalankan ibadah. Tetapi cinta membuat kita menemukan makna di balik ibadah tersebut. Inilah yang perlu kita renungkan. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi hati kita tidak pernah benar-benar merasa dekat dengan Allah. Apa Bedanya Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta? Ibadah karena kebiasaan tidak selalu buruk. Justru kebiasaan melakukan amal baik dapat menjadi sesuatu yang sangat berharga. Rasulullah SAW sendiri mengajarkan pentingnya konsistensi dalam beramal. Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling terus-menerus dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari No. 6464) Artinya, kebiasaan baik bukan sesuatu yang harus kita tinggalkan. Yang perlu diperbaiki adalah jangan sampai ibadah hanya berhenti sebagai rutinitas tanpa hati. Kita salat karena sudah waktunya, tetapi tidak merasakan sedang menghadap Allah. Kita membaca Al-Qur’an karena sudah menjadi rutinitas, tetapi tidak mencoba memahami pesannya. Kita bersedekah karena sudah terbiasa, tetapi lupa bahwa ada saudara yang mungkin sedang menggantungkan harapan dari kebaikan tersebut. Di sinilah cinta kepada Allah membuat ibadah memiliki rasa yang berbeda. Ibadah karena Cinta Membuat Hati Hadir Orang yang mencintai Allah tidak hanya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Ia juga bertanya: “Bagaimana agar ibadah ini membuat saya semakin dekat kepada Allah?” Ketika azan berkumandang, salat bukan lagi sekadar kewajiban yang harus diselesaikan. Salat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan kembali menghadap Zat yang selama ini memberikan kehidupan, kesehatan, rezeki, keluarga, dan kesempatan untuk terus bernapas. Ketika membaca Al-Qur’an, ia tidak sekadar mengejar jumlah halaman. Ia mencoba mendengarkan pesan Allah untuk dirinya. Ketika bersedekah, ia tidak hanya melihat nominal yang keluar dari rekening. Ia melihat kesempatan untuk menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain. Al-Qur’an Mengajarkan bahwa Orang Beriman Sangat Mencintai Allah Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan yang diucapkan melalui kata-kata. Al-Qur’an menggambarkan karakter orang beriman dengan kecintaan yang kuat kepada Allah. Allah SWT berfirman: “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165) Ayat ini mengingatkan kita bahwa iman memiliki hubungan erat dengan cinta kepada Allah. Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin tumbuh rasa cinta kepada-Nya. Dan ketika cinta itu tumbuh, ibadah tidak lagi terasa sebagai beban semata. Ketika Ibadah Tidak Lagi Terasa sebagai Beban Bayangkan seseorang yang mencintai orang lain. Menunggu pesan darinya terasa menyenangkan. Mendengar suaranya membuat hati bahagia. Menghabiskan waktu bersamanya tidak terasa sebagai beban. Begitu pula cinta kepada Allah. Ketika hati mulai mengenal Allah, waktu untuk beribadah tidak lagi selalu dipandang sebagai sesuatu yang mengurangi waktu untuk dunia. Justru, ibadah menjadi tempat hati beristirahat. Dunia mungkin membuat kita lelah. Pekerjaan membuat pikiran penuh. Masalah keluarga membuat hati gelisah. Kondisi ekonomi membuat kita khawatir. Tetapi ketika kita bersujud, ada kesempatan untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Di situlah ibadah karena cinta menemukan keindahannya. Allah Menciptakan Manusia untuk Beribadah Allah SWT berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah bukan bagian kecil dari kehidupan seorang Muslim. Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia. Namun, ibadah bukan hanya tentang ritual. Bekerja dengan jujur, membantu keluarga, menjaga amanah, menolong orang lain, memberikan makanan kepada yang membutuhkan, hingga mengeluarkan sebagian rezeki untuk zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bagian dari kebaikan ketika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan. Jangan Hanya Mengejar Banyaknya Amal Kadang kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak amal yang sudah dilakukan. Berapa kali membaca Al-Qur’an. Berapa banyak uang yang disedekahkan. Berapa banyak rakaat salat sunnah. Berapa banyak kegiatan keagamaan yang diikuti. Semua itu baik. Tetapi ada satu pertanyaan yang juga penting: “Bagaimana keadaan hati saya ketika melakukannya?” Sebab kualitas hubungan kita dengan Allah tidak hanya terlihat dari banyaknya aktivitas ibadah, tetapi juga dari keikhlasan, ketundukan, kecintaan, dan konsistensi di dalamnya. Bagaimana Menumbuhkan Cinta kepada Allah? Cinta kepada Allah bukan sesuatu yang muncul dalam satu malam. Ia perlu dirawat. 1. Kenali Allah Lebih Dalam Sulit mencintai seseorang yang tidak kita kenal. Begitu pula hubungan kita dengan Allah. Semakin kita mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin kita memahami betapa luas rahmat, ampunan, pertolongan, dan kasih sayang-Nya. Luangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an beserta terjemahannya. Jangan hanya membaca ayatnya, tetapi tanyakan kepada diri sendiri: “Apa pesan Allah untuk saya melalui ayat ini?” 2. Jangan Tinggalkan Ibadah meski Sedikit Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah. Mulailah dari sesuatu yang mampu kita pertahankan. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari. Salat sunnah yang konsisten. Sedekah meskipun jumlahnya kecil. Membantu orang lain. Berzikir setelah salat. Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah Ta’ala adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Muslim No. 783b) Konsistensi adalah cara sederhana untuk menjaga hubungan dengan Allah. 3. Hadirkan Makna dalam Setiap Ibadah Ketika salat, ingat bahwa kita sedang menghadap Allah. Ketika berdoa, ingat bahwa kita sedang berbicara kepada Zat yang Maha Mendengar. Ketika membaca Al-Qur’an, ingat bahwa kita sedang membaca firman-Nya. Ketika bersedekah, ingat bahwa Allah sedang memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Dengan cara ini, ibadah perlahan berubah dari rutinitas menjadi hubungan. Ketika Ibadah Melahirkan Kepedulian Ada satu hal menarik yang sering terlupakan. Cinta kepada Allah seharusnya tidak membuat kita hanya sibuk dengan diri sendiri. Sebaliknya, cinta kepada Allah dapat mendorong kita untuk semakin peduli kepada sesama. Orang yang bersyukur atas rezekinya akan lebih mudah berbagi. Orang yang menyadari kasih sayang Allah akan terdorong untuk menyayangi orang lain. Orang yang memahami bahwa harta adalah amanah akan lebih siap menyisihkan sebagian hartanya untuk mereka yang membutuhkan. Karena itu, zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang memberikan sesuatu. Ia juga menjadi bentuk nyata dari ketundukan dan rasa syukur kepada Allah. Sedikit dari Kita, Bisa Menjadi Harapan bagi Mereka Mungkin bagi kita, sebagian rezeki yang dikeluarkan terasa kecil. Namun bagi keluarga yang sedang kesulitan, bantuan tersebut bisa berarti besar. Bisa menjadi makanan untuk hari ini. Bisa membantu biaya pendidikan seorang anak. Bisa menjadi modal bagi seseorang untuk kembali berusaha. Bisa menjadi bantuan bagi keluarga yang sedang menghadapi kesulitan. Inilah mengapa ibadah yang lahir dari cinta tidak berhenti pada hubungan antara manusia dan Allah. Ia juga menghadirkan manfaat bagi manusia lainnya. Saatnya Mengubah Rutinitas Menjadi Kedekatan Tidak ada yang salah dengan membangun kebiasaan beribadah. Justru, kebiasaan adalah fondasi penting untuk menjaga amal tetap berjalan. Tetapi jangan berhenti di sana. Naikkan kualitas ibadah kita dari sekadar “terbiasa” menjadi “mencintai”. Salatlah bukan hanya karena waktunya sudah tiba, tetapi karena kita membutuhkan Allah. Bacalah Al-Qur’an bukan hanya untuk menyelesaikan target, tetapi karena kita ingin mendengar petunjuk-Nya. Berdoalah bukan hanya ketika memiliki masalah, tetapi karena kita ingin selalu dekat dengan-Nya. Dan bersedekahlah bukan hanya karena ingin mendapatkan balasan, tetapi karena kita bahagia ketika sebagian rezeki kita dapat menjadi jalan kebaikan bagi orang lain. Mari Hadirkan Cinta melalui Zakat, Infak, dan Sedekah Pada akhirnya, cinta kepada Allah perlu dibuktikan melalui amal nyata. Jika Allah telah memberikan rezeki yang cukup, jangan biarkan semuanya berhenti di tangan kita. Ada hak orang lain yang perlu ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi ketentuannya. Ada pula kesempatan untuk memperluas kebaikan melalui infak dan sedekah. Jadikan Rezeki Kita Jalan bagi Kebaikan Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Mungkin sedekah yang kita anggap kecil menjadi kebahagiaan bagi sebuah keluarga. Mungkin zakat yang kita tunaikan menjadi bagian dari perjalanan seseorang untuk bangkit. Mungkin infak yang kita berikan menjadi sebab lahirnya harapan baru bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Karena itu, jangan tunggu memiliki banyak untuk berbagi. Mulailah dari yang kita mampu, lakukan dengan ikhlas, dan jaga konsistensinya. Sebab ketika ibadah dilakukan karena cinta, kita tidak hanya mengejar selesai. Kita ingin terus kembali. Kita ingin terus dekat. Kita ingin terus menjadi bagian dari kebaikan. Dan mungkin, di situlah salah satu tanda bahwa hati kita mulai mengenal siapa sebenarnya yang selama ini kita sembah.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki Ada satu kesalahan cara berpikir yang sering tidak kita sadari yaitu menganggap kemampuan sebagai bukti kepemilikan. Karena kita mampu membeli, kita merasa berhak memiliki. Karena kita memiliki kekuasaan, kita merasa berhak menentukan. Karena orang lain tidak mampu melawan, kita menganggap mengambil dari mereka adalah sesuatu yang bisa dilakukan. Padahal ada perbedaan besar antara “bisa mengambil” dan “berhak memiliki.” Di antara keduanya terdapat sesuatu yang sering dilupakan manusia yaitu moralitas. Ketika Kemampuan Mengambil Disalahartikan sebagai Hak Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin jarang melihat keserakahan dalam bentuk yang ekstrem. Namun pola pikirnya bisa dimulai dari hal yang sederhana, “Kalau saya bisa mendapatkannya, kenapa tidak?” Masalahnya, tidak semua yang dapat kita ambil memang menjadi hak kita. Seseorang dapat memiliki modal besar, tetapi modal tidak memberinya hak untuk mengambil mata pencaharian orang lain dengan cara yang tidak adil. Seseorang dapat memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan tidak memberinya hak untuk membungkam mereka yang berada di bawahnya. Seseorang dapat memiliki akses dan pengaruh, tetapi hal itu tidak otomatis memberinya hak untuk menggunakan kelemahan orang lain demi kepentingannya sendiri. Ketika kemampuan mengambil mulai dianggap sebagai hak untuk memiliki, keserakahan tidak lagi berhenti pada diri sendiri. Ia mulai mengambil ruang kehidupan orang lain. Harga yang Tidak Pernah Terlihat dalam Sebuah Keuntungan Kita sering melihat hasil akhir dari sebuah keuntungan. Bangunan berdiri. Usaha berkembang. Aset bertambah. Produksi meningkat. Namun, pernahkah kita bertanya tentang "Apa yang harus hilang agar keuntungan itu bisa terjadi?". Pertanyaan ini menjadi penting ketika kepentingan manusia mulai berhadapan dengan kehidupan manusia lain dan lingkungan. Ketika hutan dibakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ada habitat satwa yang lenyap, sumber pangan masyarakat yang berubah, dan ekosistem yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih. Ketika ruang hidup masyarakat diambil tanpa keadilan, yang hilang bukan sekadar tanah. Bisa jadi ada pekerjaan, sumber penghasilan, bahkan tempat seseorang membangun masa depan keluarganya. Yang lebih menyedihkan, pihak yang menanggung akibatnya belum tentu pihak yang menikmati keuntungannya. Di sinilah kita perlu belajar melihat sesuatu bukan hanya dari pertanyaan, “Berapa banyak yang saya dapat?”. Tetapi juga, “Siapa yang harus kehilangan karena saya mendapatkannya?” Islam Tidak Memisahkan Kepemilikan dari Tanggung Jawab Islam tidak melarang manusia memiliki harta. Islam juga tidak mengajarkan bahwa menjadi kaya adalah sesuatu yang harus dicurigai. Yang perlu dijaga adalah bagaimana manusia memperoleh, menggunakan, dan mempertanggungjawabkan apa yang dimilikinya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil...”(QS. Al-Baqarah: 188) Ayat ini memberikan batas yang sangat penting. Tidak semua keuntungan dapat dibenarkan hanya karena menghasilkan keuntungan. Tidak semua sesuatu yang berhasil kita kuasai otomatis halal untuk kita manfaatkan. Ada hak orang lain yang harus dihormati. Ada batas yang tidak boleh dilampaui. Ada amanah yang harus dijaga. Karena dalam perspektif Islam, manusia bukan pemilik mutlak atas segala sesuatu yang berada di tangannya. Manusia diberikan amanah untuk mengelolanya dengan benar. Ketimpangan Kekuasaan Menguji Akhlak Manusia Mungkin ujian terbesar bukan ketika kita tidak memiliki kekuatan. Justru ketika kita memiliki kekuatan tetapi memilih untuk tidak menyalahgunakannya. Sebab sangat mudah menjadi adil ketika kita tidak memiliki kesempatan untuk berbuat zalim. Tetapi bagaimana ketika kita memiliki uang, jabatan, koneksi, pengaruh, atau posisi yang membuat orang lain sulit mengatakan “tidak”? Di situlah karakter diuji. Apakah kita menggunakan kekuatan untuk mengambil lebih banyak? Atau menggunakan kekuatan untuk melindungi mereka yang memiliki lebih sedikit? Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah kezaliman, karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.”(HR. Muslim) Kezaliman tidak selalu berbentuk tindakan besar yang langsung terlihat. Ia dapat tumbuh ketika manusia mulai menganggap kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan. Mungkin Keserakahan Tidak Selalu Berawal dari Hal Besar Karena itu, renungan ini sebenarnya bukan hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan besar. Ia juga untuk kita. Apakah kita pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita karena merasa tidak akan ada yang mempermasalahkan? Apakah kita pernah memanfaatkan kebaikan seseorang karena tahu ia sulit menolak? Apakah kita pernah mengambil lebih banyak karena berpikir, “Toh, kalau bukan saya yang mengambil, orang lain juga akan mengambilnya”? Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti ini penting karena karakter tidak terbentuk hanya dari keputusan besar. Ia dibentuk dari kebiasaan kecil yang terus kita benarkan. Dari Mengambil Menjadi Memberi Di sinilah kita dapat melihat kembali makna zakat, infak, dan sedekah. ZIS bukan sekadar tentang memberikan sebagian harta setelah kebutuhan pribadi terpenuhi. Ia juga dapat menjadi latihan untuk mengubah cara kita memandang kepemilikan. Bahwa apa yang kita punya tidak selalu harus berakhir pada diri sendiri. Bahwa kemampuan memiliki dapat diubah menjadi kemampuan memberi. Bahwa keberhasilan tidak harus membuat ruang hidup kita semakin besar dengan mengorbankan ruang hidup orang lain. Melalui BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah masyarakat dihimpun dan dikelola untuk mendukung berbagai program sosial, kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keagamaan. Dengan demikian, kepedulian dapat diarahkan menjadi manfaat yang lebih luas bagi mereka yang membutuhkan. Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah manusia boleh memiliki. Tentu boleh. Persoalannya adalah apakah keinginan untuk memiliki membuat kita lupa bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar memiliki yaitu hal yang berkaitan dengan hak orang lain yang harus dihormati. Sebab tidak semua yang dapat kita ambil layak kita ambil. Tidak semua yang mampu kita kuasai pantas kita kuasai. Dan tidak semua keuntungan layak dirayakan jika di baliknya terdapat kehidupan lain yang harus kehilangan. Mungkin kedewasaan manusia bukan ketika ia mampu mendapatkan sebanyak-banyaknya. Melainkan ketika ia memiliki kekuatan untuk mengambil, tetapi memilih untuk tidak mengambil apa yang bukan haknya.
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
Tak harus punya banyak harta untuk menjadi dermawan. Sebab, kebaikan bukan tentang seberapa besar yang kita punya, tetapi seberapa tulus kita mau berbagi. Pernahkah kita berpikir, “Nanti saja bersedekah kalau sudah kaya”? Kalimat sederhana ini sering membuat niat baik tertunda. Kita merasa harus memiliki penghasilan besar, tabungan melimpah, atau kehidupan yang serba berkecukupan terlebih dahulu sebelum bisa membantu orang lain. Padahal, Islam tidak mengajarkan bahwa menjadi dermawan hanya milik orang kaya. Sedekah dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan dengan sesuatu yang terlihat kecil. Sebuah makanan, uang beberapa ribu rupiah, membantu seseorang, memberikan senyum, atau mengucapkan kata yang baik pun dapat menjadi bentuk kebaikan. Rasulullah SAW bahkan mengajarkan agar seseorang tidak meremehkan sedekah meskipun hanya dengan sesuatu yang sangat sederhana. Dalam Sahih al-Bukhari 1417, Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma.” Pesannya begitu kuat: jangan menunggu kaya untuk berbuat baik. Dermawan Bukan Soal Jumlah, tetapi Keikhlasan Banyak orang mengira bahwa sedekah baru berarti jika jumlahnya besar. Padahal, nilai sebuah pemberian tidak hanya dilihat dari nominalnya. Seseorang mungkin hanya mampu menyisihkan Rp5.000. Orang lain mungkin mampu memberikan Rp50.000. Ada pula yang mampu memberikan jutaan rupiah. Semuanya memiliki nilai ketika diberikan dengan niat yang ikhlas dan sesuai kemampuan. Allah mengetahui apa yang ada di balik pemberian tersebut: perjuangan, keikhlasan, dan kecintaan seorang hamba kepada sesamanya. Sedikit Bagi Kita, Bisa Berarti Besar bagi Orang Lain Bayangkan seseorang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan makan hari itu. Uang yang bagi kita mungkin terlihat kecil, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya. Satu paket makanan dapat menjadi makan malam sebuah keluarga. Satu bantuan pendidikan dapat membuat seorang anak kembali bersekolah. Satu bantuan modal usaha dapat menjadi awal seseorang bangkit dari kesulitan ekonomi. Satu mushaf Al-Qur’an dapat menjadi sarana seseorang belajar dan membaca ayat-ayat Allah. Itulah mengapa jangan pernah menganggap remeh kebaikan. Al-Qur'an Mengajarkan untuk Menginfakkan Apa yang Kita Cintai Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali 'Imran: 92). Ayat ini mengajarkan bahwa berbagi bukan sekadar mengeluarkan sesuatu yang kita miliki. Ada nilai pengorbanan dan kecintaan di dalamnya. Ketika kita memberikan sebagian rezeki yang kita cintai demi membantu orang lain, sebenarnya kita sedang melatih hati agar tidak terlalu terikat kepada harta. Jangan Menunggu Berlebih untuk Berbagi Ada satu kesalahan yang sering terjadi: kita menunggu memiliki lebih banyak sebelum mau berbagi. “Kalau gaji sudah naik, saya akan sedekah.” “Kalau usaha sudah sukses, saya akan membantu.” “Kalau tabungan sudah banyak, saya akan berdonasi.” Padahal, tidak ada seorang pun yang tahu kapan kondisi ekonominya benar-benar akan disebut “cukup”. Karena itu, jangan menjadikan kekayaan sebagai syarat untuk berbuat baik. Mulailah dari apa yang mampu kita berikan hari ini. Sedekah Kecil Bisa Menjadi Amal yang Besar Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seseorang dapat bersedekah meskipun hanya dengan separuh kurma. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ukuran kecil secara nominal bukan berarti kecil di sisi Allah. Ini menjadi pengingat bagi kita untuk tidak berkata, “Sedekah saya terlalu sedikit.” Tidak ada kebaikan yang sia-sia jika dilakukan dengan ikhlas. Mulai dari yang Sederhana Menjadi dermawan tidak selalu harus melalui pemberian uang. Kita bisa memulainya dengan: Membagikan makanan kepada orang yang membutuhkan. Membantu tetangga yang sedang kesulitan. Memberikan perlengkapan sekolah kepada anak yatim atau dhuafa. Membantu modal usaha kecil bagi keluarga yang membutuhkan. Menyisihkan sebagian penghasilan secara rutin untuk infak. Memberikan pakaian yang masih layak pakai. Membantu biaya kesehatan seseorang. Menjadi bagian dari program sosial dan kemanusiaan. Mengajak orang lain untuk ikut berbuat kebaikan. Bahkan ketika belum mampu memberikan harta, kita masih bisa memberikan tenaga, waktu, ilmu, perhatian, dan kata-kata yang baik. Jangan Sampai Menunggu Kaya Membuat Kita Kehilangan Kesempatan Beramal Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Hari ini mungkin kita merasa cukup. Besok bisa saja ada kebutuhan mendadak. Hari ini mungkin memiliki penghasilan tetap. Besok belum tentu kondisinya sama. Karena itu, ketika Allah memberikan sedikit kelapangan, manfaatkan kesempatan tersebut untuk berbagi. Jangan menunggu menjadi kaya untuk membantu orang lain. Sebab, orang yang dermawan bukan selalu orang yang memiliki banyak, tetapi orang yang memiliki kepedulian. Kekayaan Sejati Adalah Hati yang Mau Berbagi Harta memang penting untuk menjalani kehidupan. Namun, harta bukanlah satu-satunya ukuran kekayaan. Ada orang yang memiliki banyak tetapi sulit berbagi. Ada pula orang yang sederhana tetapi selalu berusaha menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang lain. Di situlah letak kekayaan hati. Ketika kita mampu melihat kesulitan orang lain dan tergerak untuk membantu, sebenarnya Allah sedang memberikan kepada kita sebuah nikmat: kesempatan untuk menjadi jalan kebaikan. Ketika Sedekah Menjadi Jalan untuk Menguatkan Sesama Di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada pelaku usaha kecil yang membutuhkan tambahan modal. Ada lansia yang membutuhkan bantuan. Ada masyarakat yang membutuhkan dukungan ketika menghadapi musibah. Masalah-masalah tersebut mungkin terlihat besar jika kita menghadapinya sendirian. Namun, jika banyak orang bergandengan tangan, kebaikan kecil dapat berubah menjadi manfaat yang besar. Mari Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan Tidak harus menunggu momen tertentu. Tidak harus menunggu memiliki uang jutaan rupiah. Tidak harus menunggu hidup benar-benar mapan. Mulailah dengan nominal yang sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah konsistensi dan keikhlasan. Misalnya, menyisihkan sebagian kecil penghasilan setiap pekan atau setiap bulan. Jika dilakukan bersama-sama oleh banyak orang, jumlahnya dapat menjadi kekuatan besar untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dari Sedekah Kita, Bisa Lahir Sebuah Harapan Bayangkan jika satu orang memberikan Rp10.000. Mungkin terlihat kecil. Namun, bagaimana jika 100 orang melakukan hal yang sama? Terkumpul Rp1.000.000. Bagaimana jika 1.000 orang ikut berbagi? Terkumpul Rp10.000.000. Inilah kekuatan gotong royong dalam kebaikan. Satu orang mungkin hanya mampu memberikan sedikit. Tetapi banyak orang yang bersatu dalam kebaikan dapat menghadirkan perubahan yang besar. Karena itu, jangan merasa pemberian kita tidak berarti. Bisa jadi, bantuan yang menurut kita sederhana justru menjadi jawaban atas doa seseorang. Saatnya Tidak Lagi Berkata “Nanti Kalau Sudah Kaya” Mulai hari ini, mari ubah kalimat: “Saya akan bersedekah kalau sudah kaya.” Menjadi: “Saya akan berbagi sesuai kemampuan saya hari ini.” Sebab, menjadi dermawan bukan tentang menunggu memiliki semuanya. Menjadi dermawan adalah tentang mau berbagi meski kita juga sedang berjuang. Jika Allah memberikan kita rezeki, jangan hanya bertanya, “Apa yang bisa saya beli?” Sesekali tanyakan juga: “Siapa yang bisa saya bantu dengan rezeki ini?” Pertanyaan sederhana tersebut dapat mengubah cara kita memandang harta. Mari Berbagi, Mari Hadirkan Manfaat Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Namun, setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik. Ada yang mampu memberikan uang. Ada yang mampu memberikan makanan. Ada yang mampu memberikan ilmu. Ada yang mampu memberikan tenaga. Ada yang mampu mengajak orang lain untuk membantu. Semua memiliki tempat dalam kebaikan. Jika hari ini Allah memberikan kita rezeki, sekecil apa pun, jangan lewatkan kesempatan untuk berbagi. Tak harus kaya untuk jadi dermawan. Tak harus menunggu berlebih untuk membantu. Karena kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menjadi harapan besar bagi seseorang yang sedang membutuhkan.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
Ada anak yang mungkin hari ini tersenyum karena mendapatkan makanan yang cukup. Ada pula yang bisa kembali bersekolah karena kebutuhan pendidikannya terbantu. Bahkan, ada anak yang kembali percaya diri karena merasa masih banyak orang yang peduli kepadanya. Di balik kebahagiaan sederhana itu, bisa jadi ada zakat dan sedekah dari seseorang yang tidak pernah mereka kenal. Zakat dan sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta. Lebih dari itu, keduanya dapat menjadi jalan untuk menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan, termasuk anak yatim. Bagi seorang anak yatim, perhatian kecil bisa memiliki arti yang sangat besar. Sepaket makanan, perlengkapan sekolah, biaya pendidikan, santunan, hingga dukungan untuk kebutuhan sehari-hari dapat membantu mereka menjalani hidup dengan lebih layak. Karena itu, ketika kita menunaikan zakat dan bersedekah, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan yang manfaatnya dapat terus tumbuh. Mengapa Anak Yatim Membutuhkan Kepedulian Kita? Kehilangan orang tua bukanlah sesuatu yang mudah bagi seorang anak. Di usia ketika mereka seharusnya mendapatkan kasih sayang, bimbingan, dan perlindungan keluarga secara utuh, sebagian anak yatim harus menghadapi keadaan yang berbeda. Mereka tetap memiliki cita-cita. Mereka ingin sekolah, bermain, belajar, dan memiliki masa depan yang baik seperti anak-anak lainnya. Namun, keterbatasan ekonomi terkadang membuat perjalanan tersebut menjadi lebih berat. Di sinilah kepedulian masyarakat memiliki peran penting. Bukan Hanya Memberikan Bantuan, tetapi Menumbuhkan Harapan Memberikan bantuan kepada anak yatim bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hari ini. Bantuan yang dikelola dengan baik juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun masa depan mereka. Zakat dan sedekah dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan, seperti: Pemenuhan kebutuhan pangan. Bantuan pendidikan dan perlengkapan sekolah. Dukungan kesehatan. Santunan kebutuhan dasar. Pembinaan keagamaan. Program pemberdayaan keluarga. Dukungan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi. Dengan begitu, kebaikan yang diberikan tidak berhenti pada satu kali bantuan. Harapannya, manfaat tersebut dapat menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik. Islam Mengajarkan Kita untuk Peduli kepada Anak Yatim Perhatian terhadap anak yatim memiliki tempat yang sangat penting dalam ajaran Islam. Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan umat Islam agar tidak mengabaikan mereka. Allah SWT berfirman dalam Surah Ad-Duha ayat 9: “Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa anak yatim adalah bagian dari kelompok yang harus mendapatkan perhatian dan perlindungan. Kepedulian kepada mereka bukan sekadar bentuk kebaikan sosial, tetapi juga bagian dari akhlak seorang Muslim. Jangan Sampai Kebaikan Kita Hanya Berhenti pada Diri Sendiri Sering kali kita merasa bersyukur ketika rezeki bertambah. Namun, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan: Sudahkah sebagian rezeki yang kita terima ikut menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain? Sebab, rezeki yang kita miliki bukan hanya tentang apa yang dapat kita beli untuk diri sendiri. Ada kesempatan untuk menjadikannya jalan kebaikan. Melalui zakat dan sedekah, sebagian rezeki yang kita miliki dapat berubah menjadi makanan untuk mereka yang membutuhkan, buku untuk seorang pelajar, biaya pendidikan, bantuan kesehatan, atau dukungan bagi keluarga yang sedang berjuang. Zakat dan Sedekah: Kebaikan yang Terus Bertumbuh Allah SWT memberikan gambaran yang sangat indah tentang keutamaan menginfakkan harta di jalan-Nya. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” Perumpamaan ini mengajarkan bahwa kebaikan yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah sia-sia. Satu kebaikan dapat melahirkan kebaikan lainnya. Satu sedekah mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi seorang anak yatim, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk hari ini, buku untuk belajar, atau semangat untuk terus mengejar cita-cita. Sedekah Kecil, Dampak yang Bisa Besar Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, Islam tidak mengajarkan bahwa kebaikan hanya milik orang kaya. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kemampuan untuk berbagi. Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, atau berapa pun yang kita mampu, jika diberikan dengan ikhlas dan dikelola dengan amanah, dapat menjadi bagian dari perubahan. Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Karena terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah bantuan yang besar, melainkan kepedulian yang hadir tepat ketika mereka membutuhkannya. Rasulullah SAW Menjanjikan Keutamaan Besar bagi Orang yang Peduli kepada Anak Yatim Keutamaan menyantuni anak yatim juga ditegaskan Rasulullah ? dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan seperti ini di surga.” Beliau kemudian mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah yang didekatkan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Sahih al-Bukhari No. 6005. Betapa besar keutamaan yang diberikan kepada orang yang mau peduli terhadap anak yatim. Bukan hanya memberikan bantuan, tetapi ikut mengambil bagian dalam menjaga kehidupan dan masa depan mereka. Menjadi Bagian dari Senyum Anak Yatim Bayangkan seorang anak menerima perlengkapan sekolah baru. Mungkin bagi kita itu hanyalah sebuah tas, buku, sepatu, atau alat tulis. Namun bagi anak tersebut, itu bisa menjadi alasan untuk kembali bersemangat pergi ke sekolah. Bayangkan pula ketika seorang anak menerima makanan yang cukup setelah sebelumnya mengalami keterbatasan. Bagi kita mungkin sederhana. Tetapi bagi mereka, perhatian tersebut dapat menjadi pengalaman yang akan diingat. Ada Harapan di Balik Setiap Bantuan Inilah mengapa pengelolaan zakat dan sedekah yang tepat sangat penting. Dana yang terkumpul bukan hanya angka. Di balik setiap rupiah yang ditunaikan, ada harapan yang ingin dibangun. Ada anak yang ingin terus sekolah. Ada keluarga yang ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yatim yang ingin memiliki masa depan. Dan ada para donatur yang ingin menjadikan sebagian rezekinya sebagai amal yang bermanfaat. Ketika semua itu dipertemukan melalui program yang amanah dan tepat sasaran, lahirlah sebuah ekosistem kebaikan. Jangan Tunggu Sampai Punya Banyak untuk Berbagi Salah satu alasan seseorang menunda bersedekah adalah merasa belum memiliki cukup. “Kalau sudah punya lebih, nanti saya berbagi.” Padahal, kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Kita tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah. Mulailah dari yang mampu. Jika memiliki kemampuan untuk menunaikan zakat, tunaikanlah sesuai ketentuan. Jika ingin bersedekah, berikan sesuai kemampuan. Jika belum mampu memberikan banyak, jangan merasa bahwa sedikit tidak berarti. Sebab, di sisi Allah, nilai sebuah amal bukan hanya dilihat dari besar kecilnya nominal, tetapi juga dari keikhlasan dan niat di baliknya. Jadikan Rezeki sebagai Jalan Menghadirkan Kebahagiaan Ketika rezeki datang, kita memiliki banyak pilihan. Sebagian digunakan untuk kebutuhan keluarga. Sebagian untuk menabung. Sebagian untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Dan sebagian lagi dapat kita sisihkan untuk berbagi. Di situlah zakat dan sedekah menjadi begitu indah. Harta yang kita keluarkan mungkin berkurang secara angka, tetapi manfaatnya dapat bertambah dalam kehidupan orang lain. Mari Tumbuhkan Harapan untuk Anak Yatim Setiap anak berhak memiliki kesempatan untuk bermimpi. Mereka berhak mendapatkan pendidikan. Mereka berhak mendapatkan makanan yang layak. Mereka berhak mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Dan kita dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Melalui zakat dan sedekah, mari bersama-sama menghadirkan lebih banyak harapan untuk anak yatim. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu punya banyak. Mulai dari apa yang kita punya, dari apa yang kita mampu, dan dari hari ini. Karena boleh jadi, sedekah yang menurut kita kecil justru menjadi pertolongan besar bagi seseorang. Boleh jadi, bantuan yang kita berikan hari ini menjadi alasan seorang anak tetap bersekolah. Dan boleh jadi, kebaikan yang kita keluarkan dengan ikhlas menjadi amal yang terus mengalir pahalanya.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, anak muda semakin terbiasa dengan kehidupan yang praktis dan digital. Mulai dari belajar, bekerja, berbelanja, hingga berdonasi kini dapat dilakukan hanya melalui smartphone. Namun, ada satu hal yang tetap relevan meski zaman terus berubah: menunaikan zakat. Zakat bukan ajaran kuno yang hanya dibicarakan dalam kitab atau ceramah. Justru, zakat memiliki peran penting dalam kehidupan modern karena dapat menjadi sarana berbagi, memperkuat kepedulian sosial, dan membantu masyarakat yang membutuhkan. Kehadiran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) juga membuat generasi muda semakin mudah mengenal, memahami, dan menunaikan kewajiban zakat secara lebih praktis. Zakat Tetap Relevan di Era Modern Anak Muda dan Cara Baru Berzakat Generasi muda hidup dalam lingkungan yang serba cepat. Informasi tentang agama, keuangan, dan kegiatan sosial dapat diperoleh melalui berbagai platform digital. Kondisi ini menjadi peluang untuk meningkatkan kesadaran tentang zakat. Zakat tidak hanya berkaitan dengan nominal yang dikeluarkan. Di baliknya terdapat nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama. Ketika seorang muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban sekaligus ikut membantu menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Allah SWT berfirman: “Dan laksanakanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah: 43) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Artinya, perkembangan zaman tidak mengubah kewajiban seorang muslim untuk menunaikan zakat ketika telah memenuhi ketentuannya. BAZNAS Membuat Zakat Lebih Dekat dengan Generasi Muda Dari Kewajiban Menjadi Gerakan Kebaikan Bagi sebagian anak muda, istilah zakat mungkin terasa serius dan cukup rumit. Ada perhitungan, syarat, jenis harta, serta ketentuan penerima zakat. Namun, kehadiran lembaga pengelola zakat dapat membantu masyarakat memahami dan menunaikan kewajiban tersebut dengan lebih mudah. BAZNAS hadir sebagai salah satu lembaga yang mengelola zakat secara terorganisasi. Dengan pendekatan yang semakin dekat dengan masyarakat dan perkembangan teknologi, zakat dapat menjadi bagian dari gaya hidup positif generasi muda: berpenghasilan, bertumbuh, sekaligus berbagi. Rasulullah SAW juga bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Teknologi Mempermudah, Bukan Mengubah Makna Kemudahan digital seharusnya membuat seseorang semakin mudah menjalankan kewajiban, bukan membuat nilai ibadah menjadi berkurang. Justru, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi tentang zakat, menghitung kewajiban, dan menyalurkannya melalui lembaga yang terpercaya. Zakat Anak Muda, Dampaknya untuk Sesama Dari Penghasilan Menjadi Harapan Ketika semakin banyak anak muda yang sadar zakat, semakin besar pula potensi manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat. Dana zakat yang dikelola dengan amanah dapat mendukung kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan berbagai program sosial bagi penerima manfaat. Bayangkan seorang anak muda yang baru mendapatkan penghasilan kemudian menyadari bahwa dalam rezekinya terdapat kewajiban yang harus ditunaikan. Sebagian hartanya mungkin terlihat kecil, tetapi ketika dihimpun bersama zakat dari banyak orang, manfaatnya dapat menjadi jauh lebih besar. Jangan Tunggu Kaya untuk Peduli Menjadi generasi muda yang sukses bukan hanya tentang memiliki pekerjaan, penghasilan, atau pencapaian tinggi. Kesuksesan juga dapat terlihat dari kemampuan berbagi dan memberikan manfaat kepada orang lain. Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Jadikan zakat sebagai bagian dari perjalanan finansial sekaligus perjalanan spiritual. Saatnya Anak Muda Melek Zakat Jadikan Zakat sebagai Kebiasaan Baik Zakat bukan kuno. Zakat adalah kewajiban yang tetap relevan di tengah perubahan zaman. Yang berubah hanyalah cara manusia menjalankannya agar semakin mudah dan sesuai dengan perkembangan teknologi. Mari jadikan generasi muda sebagai generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga melek zakat. Kenali kewajiban, hitung dengan benar, dan salurkan melalui lembaga terpercaya agar manfaatnya dapat menjangkau mereka yang membutuhkan. Satu Zakat, Banyak Manfaat Jangan biarkan rezeki hanya berhenti pada diri sendiri. Sebagian harta yang kita tunaikan dapat menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, kesempatan belajar bagi seorang anak, atau modal bagi seseorang untuk kembali mandiri. Saatnya anak muda membuktikan bahwa keberkahan tidak pernah ketinggalan zaman. Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan jadikan sebagian rezeki kita sebagai jalan menghadirkan harapan bagi sesama. Karena menjadi muda bukan alasan untuk menunda kewajiban. Justru sejak muda, kita bisa belajar menata harta, menunaikan amanah, dan menanam kebaikan untuk masa depan dunia serta akhirat.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada melihat penderitaan yakni terbiasa melihatnya. Pada awalnya, kemiskinan mungkin membuat kita berhenti sejenak. Melihat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga membuat kita merasa iba. Mendengar ada anak yang harus berhenti sekolah membuat kita bertanya-tanya. Menyaksikan lingkungan rusak atau masyarakat kehilangan sumber penghidupan mungkin membuat kita merasa prihatin. Namun, ketika hal-hal itu terus muncul di sekitar kita, ada kemungkinan sesuatu berubah. Bukan keadaan yang berubah. Kita yang berubah. Kita mulai berkata, “Memang hidup seperti itu.”“Memang tidak semua orang bisa sejahtera.”“Itu bukan urusan saya.”“Sudah biasa terjadi.” Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana. Tetapi tanpa disadari, ia dapat membuat penderitaan orang lain perlahan kehilangan daya untuk mengusik hati kita. Dan ketika penderitaan sudah tidak lagi mengusik, kepedulian pun menjadi semakin mudah ditunda. Ketika Sesuatu yang Salah Terlalu Sering Dilihat Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Kita dapat terbiasa dengan suara bising, rutinitas yang melelahkan, bahkan keadaan yang sebelumnya membuat kita merasa tidak nyaman. Hal yang sama dapat terjadi ketika kita terus-menerus berhadapan dengan penderitaan sosial. Kemiskinan menjadi pemandangan biasa. Anak-anak yang membutuhkan bantuan pendidikan menjadi angka. Orang sakit yang tidak mampu membayar kebutuhan kesehatan menjadi berita. Keluarga yang kehilangan penghasilan menjadi bagian dari statistik. Masalahnya bukan karena kita tidak mengetahui bahwa semua itu terjadi. Kita justru terlalu sering mengetahuinya. Namun pengetahuan tidak selalu menghasilkan kepedulian. Ketika sesuatu terlalu sering kita lihat tanpa kita lakukan apa-apa, hati dapat belajar menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan. Di sinilah kita perlu membedakan antara menerima kenyataan dan membenarkan keadaan. Menerima kenyataan berarti menyadari bahwa masalah itu ada. Membenarkan keadaan berarti mulai berpikir bahwa karena masalah tersebut sudah biasa terjadi, maka tidak ada yang perlu dilakukan. Padahal sesuatu yang sering terjadi tidak otomatis menjadi sesuatu yang benar. Saat Penderitaan Berubah Menjadi “Biaya” Ada sisi lain yang lebih sulit kita sadari. Dalam kehidupan ekonomi, kita terbiasa menghitung berbagai macam biaya. Ada biaya produksi, biaya distribusi, biaya operasional, biaya tenaga kerja, bahkan biaya kesempatan. Semuanya dapat dimasukkan ke dalam perhitungan. Tetapi ada jenis biaya yang sering tidak muncul dalam laporan apa pun yaitu biaya yang dibayar oleh manusia. Ketika seseorang mendapatkan keuntungan, kita mudah melihat apa yang ia peroleh. Tetapi apakah kita juga melihat siapa yang harus menanggung akibatnya? Ketika sebuah keluarga kehilangan sumber penghasilan, apakah kehilangan itu ikut masuk dalam perhitungan? Ketika seorang anak kehilangan kesempatan belajar, apakah masa depannya dianggap sebagai bagian dari “biaya”? Ketika kelompok rentan harus hidup dengan keterbatasan yang berlangsung bertahun-tahun, siapa yang menghitung kesempatan yang telah hilang? Pertanyaan ini tidak berarti setiap keuntungan adalah sesuatu yang buruk. Ekonomi, bisnis, dan pembangunan tetap dibutuhkan. Yang perlu kita pertanyakan adalah apakah keuntungan dan kemajuan selalu harus dibayar dengan penderitaan pihak lain. Sebab tidak semua hal yang menguntungkan kita otomatis baik jika cara mendapatkannya membuat orang lain kehilangan hak, kesempatan, atau martabat. Moral Disengagement: Ketika Kita Belajar Membenarkan Dalam psikologi, terdapat konsep moral disengagement, yaitu ketika seseorang menemukan cara untuk melepaskan dirinya dari rasa tanggung jawab moral terhadap dampak yang ditimbulkan. Sederhananya, manusia dapat melakukan atau membiarkan sesuatu yang merugikan tanpa merasa dirinya benar-benar melakukan kesalahan. Misalnya dengan mengatakan: “Saya hanya mengikuti keadaan.” “Kalau bukan saya, orang lain juga akan melakukannya.” “Mereka memang kurang berusaha.” “Saya tidak bisa membantu semua orang.” Sebagian kalimat tersebut memang dapat memiliki konteks yang benar. Kita memang tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan dunia. Namun persoalannya muncul ketika kalimat tersebut digunakan bukan untuk memahami keterbatasan, melainkan untuk membebaskan diri dari kepedulian. Kita akhirnya tidak lagi bertanya “Apa yang bisa saya lakukan?”. Tetapi, “Mengapa saya harus peduli?” Perubahan kecil dalam pertanyaan itu dapat mengubah cara kita melihat manusia lain. Islam Tidak Mengajarkan Kita untuk Kebal terhadap Penderitaan Islam tidak meminta manusia menyelesaikan seluruh persoalan dunia seorang diri. Tetapi Islam berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak kehilangan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”(QS. Al-Ma'un: 1–3) Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang ritual. Surah Al-Ma'un justru memberikan gambaran bahwa persoalan keimanan juga tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan mereka yang lemah dan membutuhkan. Bahkan yang disoroti bukan hanya orang yang tidak memberi. Ayat tersebut juga menyebut orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Artinya, kepedulian sosial bukan sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai urusan tambahan setelah seseorang selesai dengan kehidupan pribadinya. Ia merupakan bagian dari karakter seorang Muslim. Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini membawa kita pada sebuah ukuran yang sederhana tetapi dalam dengan menekankan bagaimana kita ingin diperlakukan ketika berada dalam kesulitan, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika kita berada dalam keadaan yang lebih baik? Yang Perlu Diubah Bukan Selalu Keadaan, tetapi Cara Kita Merespons Kita sering berpikir bahwa kepedulian baru berarti jika kita mampu melakukan sesuatu yang besar. Padahal tidak demikian. Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan kemiskinan. Tidak mampu menyediakan pendidikan bagi semua anak. Tidak mampu mengobati seluruh orang yang sakit. Tidak mampu membantu setiap keluarga yang mengalami kesulitan. Tetapi keterbatasan itu tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk tidak melakukan apa pun. Kepedulian dapat dimulai dari keputusan sederhana dengan tidak menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang wajar hanya karena kita sudah sering melihatnya. Sebab persoalan kemanusiaan bukan hanya tentang jumlah orang yang membutuhkan bantuan. Persoalannya juga tentang berapa banyak orang yang sebenarnya mampu peduli, tetapi perlahan belajar untuk tidak merasa terganggu lagi. Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Bentuk Kepedulian yang Digerakkan Pada titik inilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas. ZIS bukan hanya aktivitas ketika seseorang merasa kasihan kepada orang lain. Ia dapat menjadi bentuk nyata dari kesadaran bahwa kehidupan kita tidak berdiri sendiri. Ada orang lain yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ada anak yang membutuhkan kesempatan belajar. Ada keluarga yang membutuhkan dukungan ketika menghadapi keadaan sulit. Ada kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih. Dan tidak semua dari mereka mampu datang kepada kita untuk meminta. Karena itu, kepedulian tidak selalu harus menunggu sebuah permintaan. Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu wadah untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah agar dapat dikelola dan disalurkan melalui berbagai program, termasuk bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan. Di sini, ZIS dapat dipahami bukan hanya sebagai “saya memberikan sebagian yang saya miliki.” Tetapi juga sebagai “saya menolak untuk menganggap kesulitan orang lain sebagai sesuatu yang bukan urusan saya.” Itulah perbedaan antara sekadar merasa iba dan benar-benar memiliki kepedulian. Jangan Sampai Hati Kita Lebih Cepat Beradaptasi daripada Berempati Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh dunia. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana hati kita merespons dunia. Ketika melihat kemiskinan, apakah kita hanya melihat angka? Ketika melihat anak yang kehilangan kesempatan belajar, apakah kita hanya melihat sebuah berita? Ketika melihat keluarga yang sedang kesulitan, apakah kita langsung menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan? Atau kita masih mampu berhenti sejenak dan berkata “Ada manusia di balik semua ini.” Sebab sesuatu yang menjadi biasa belum tentu menjadi benar. Penderitaan yang terus berulang bukan alasan bagi kita untuk berhenti peduli. Dan ketidakmampuan kita untuk membantu semua orang bukan alasan untuk tidak membantu siapa pun. Barangkali salah satu bentuk moral disengagement yang paling berbahaya bukan ketika manusia secara terang-terangan memilih berbuat buruk. Melainkan ketika ia sudah terlalu terbiasa melihat sesuatu yang buruk sampai tidak lagi merasa perlu melakukan kebaikan. Maka, jangan biarkan hati kita belajar bahwa penderitaan adalah harga yang wajar dari kehidupan. Karena selama masih ada manusia yang membutuhkan, kepedulian bukan sekadar pilihan untuk menjadi baik, ia adalah cara kita memastikan bahwa hati kita tidak kehilangan kemanusiaannya.
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ketika Iman Mendorong Kita untuk Peduli kepada Sesama
Ketika Iman Mendorong Kita untuk Peduli kepada Sesama
Ada kalanya kita merasa bahwa iman cukup diwujudkan dengan rajin beribadah, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, atau menghadiri majelis ilmu. Semua itu memang penting. Namun, iman yang hidup tidak hanya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, tetapi juga membuat hatinya peka terhadap keadaan orang-orang di sekitarnya. Ketika iman tumbuh, kepedulian pun seharusnya ikut tumbuh. Kita mulai bertanya, “Apakah ada tetangga yang sedang kesulitan?”“Apakah ada keluarga yang hari ini belum makan dengan cukup?”“Apakah ada anak yatim yang membutuhkan perhatian?”“Apakah sedikit rezeki yang Allah titipkan kepada kita bisa menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain?” Inilah salah satu keindahan iman. Ia tidak berhenti di dalam hati, tetapi mendorong seseorang untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Iman Tidak Hanya Tentang Hubungan dengan Allah Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang muslim memiliki hubungan dengan Allah sekaligus memiliki tanggung jawab sosial terhadap manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ma’idah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak seharusnya dilakukan sendirian. Ada saatnya kita menjadi orang yang membantu, dan ada saatnya kita menjadi bagian dari sebuah gerakan kebaikan yang lebih besar. Peduli Adalah Bentuk Nyata dari Keimanan Peduli kepada sesama tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah besar. Terkadang, kepedulian hadir melalui hal sederhana: membantu seseorang yang kesulitan, memberikan makanan, menyisihkan sebagian penghasilan, mendengarkan keluh kesah, atau menguatkan orang yang sedang berada dalam masalah. Yang terpenting bukan hanya seberapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa tulus kita ingin menghadirkan manfaat. Sebab bisa jadi, sesuatu yang menurut kita kecil justru sangat berarti bagi orang lain. Rasulullah SAW Mengajarkan Pentingnya Saling Menguatkan Rasulullah SAW menggambarkan hubungan antarsesama orang beriman dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah. Beliau bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim). Hadis tersebut menggambarkan bahwa seorang muslim tidak seharusnya merasa cukup dengan keselamatan dirinya sendiri. Kita memiliki kesempatan untuk menguatkan orang lain, sebagaimana sebuah bangunan menjadi kokoh karena bagian-bagiannya saling menopang. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik Salah satu alasan yang sering membuat seseorang menunda berbagi adalah merasa belum memiliki cukup. “Kalau sudah kaya, saya akan banyak bersedekah.” “Kalau penghasilan sudah besar, saya akan membantu lebih banyak orang.” Padahal, kebaikan tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Ada orang yang hanya mampu memberikan makanan. Ada yang mampu memberikan uang. Ada yang memberikan tenaga. Ada pula yang membantu dengan ilmu, waktu, atau sekadar menjadi penguat bagi seseorang yang sedang terpuruk. Setiap orang memiliki pintu kebaikannya masing-masing. Sedekah: Ketika Sebagian Rezeki Menjadi Harapan bagi Orang Lain Salah satu bentuk kepedulian yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah sedekah. Sedekah bukan sekadar memindahkan sebagian harta dari tangan kita kepada orang lain. Lebih dari itu, sedekah adalah bentuk syukur atas rezeki yang Allah berikan sekaligus cara untuk menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Ayat ini mengajarkan bahwa nilai sebuah pemberian tidak berhenti pada apa yang terlihat. Di sisi Allah, kebaikan memiliki balasan yang jauh lebih luas daripada yang mampu kita hitung. Sedikit dari Kita, Berarti bagi Mereka Bayangkan ketika sebuah keluarga sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang mungkin terasa sederhana bagi kita dapat menjadi alasan mereka mampu melewati satu hari dengan lebih tenang. Satu paket makanan bisa menjadi makan malam sebuah keluarga. Satu bantuan pendidikan bisa membuat seorang anak tetap bersekolah. Satu bantuan modal usaha dapat menjadi awal seseorang kembali mandiri. Satu santunan dapat membuat anak yatim merasa bahwa dirinya tidak sendirian. Inilah kekuatan kepedulian: sesuatu yang kecil di tangan kita dapat menjadi sesuatu yang besar bagi orang lain. Jangan Biarkan Kepedulian Hanya Berhenti di Rasa Kasihan Melihat kesulitan orang lain tentu dapat membuat hati tersentuh. Namun, kepedulian yang terbaik bukan hanya membuat kita merasa kasihan, melainkan mendorong kita melakukan sesuatu. Jika melihat orang kelaparan, kita bisa membantu menyediakan makanan. Jika melihat keluarga kesulitan ekonomi, kita bisa ikut meringankan kebutuhannya. Jika melihat anak yatim membutuhkan pendidikan dan perhatian, kita bisa menjadi bagian dari dukungannya. Jika melihat masyarakat membutuhkan program pemberdayaan, kita bisa ikut mendukung program yang memberikan solusi jangka panjang. Iman mengubah rasa iba menjadi tindakan. Menjadi Bagian dari Gerakan Kebaikan Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk turun langsung membantu penerima manfaat. Karena itu, kita bisa menyalurkan kepedulian melalui lembaga pengelola zakat, infak, dan sedekah yang amanah. Dengan begitu, kebaikan yang kita niatkan dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui berbagai program sosial. Melalui zakat, kita menjalankan kewajiban sekaligus membantu mereka yang berhak menerima. Melalui infak dan sedekah, kita dapat memperluas manfaat kepada berbagai kebutuhan kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan keagamaan. Jangan Tunggu Sampai Punya Banyak Mungkin hari ini kita belum mampu memberikan jutaan rupiah. Tidak masalah. Mulailah dari apa yang mampu kita berikan. Rp10.000 yang diberikan dengan ikhlas tetap merupakan bentuk kepedulian. Begitu pula Rp20.000, Rp50.000, Rp100.000, atau berapa pun yang mampu kita sisihkan. Jangan meremehkan kebaikan hanya karena jumlahnya terlihat kecil. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah kepada kita. Saatnya Mengubah Iman Menjadi Kepedulian Iman seharusnya membuat hati kita semakin lembut. Ketika melihat kesulitan, kita tergerak membantu. Ketika melihat kelaparan, kita ingin berbagi. Ketika melihat anak yatim, kita ingin memberikan perhatian. Ketika mengetahui ada keluarga yang sedang berjuang, kita ingin menjadi bagian dari solusi. Dan ketika Allah memberikan rezeki kepada kita, kita sadar bahwa di dalam rezeki tersebut ada hak dan kesempatan untuk berbagi kepada sesama. Jangan hanya menjadi orang yang bersyukur ketika menerima kebaikan. Jadilah orang yang menghadirkan kebaikan bagi orang lain. Mari Hadirkan Manfaat dari Rezeki yang Allah Titipkan Hari ini mungkin kita memiliki makanan yang cukup. Ada keluarga lain yang sedang memikirkan apa yang akan mereka makan malam nanti. Hari ini mungkin kita bisa bekerja dengan tenang. Ada orang lain yang sedang berjuang mencari penghasilan untuk keluarganya. Hari ini mungkin anak-anak kita dapat belajar dengan nyaman. Di luar sana, ada anak-anak yang membutuhkan dukungan agar tetap memiliki kesempatan meraih masa depan.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Cinta Tak Berbatas Usia: BAZNAS Hadirkan Senyum bagi Lansia Panti Jompo
Cinta Tak Berbatas Usia: BAZNAS Hadirkan Senyum bagi Lansia Panti Jompo
Cinta Tak Berbatas Usia: BAZNAS Hadirkan Senyum bagi Lansia Panti Jompo Usia boleh bertambah, tenaga mungkin berkurang, tetapi setiap manusia tetap membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan penghormatan. Begitu pula para lansia di panti jompo. Di balik senyum mereka, ada kisah panjang tentang perjuangan, keluarga, dan kehidupan yang telah dilalui selama bertahun-tahun. Di tengah kesibukan masyarakat modern, perhatian kepada lansia menjadi bentuk kepedulian yang sangat berarti. Melalui berbagai program sosial dan kemanusiaan, BAZNAS hadir untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan, termasuk para lansia agar dapat menjalani hari-hari dengan lebih layak dan penuh kebahagiaan. Lansia Berhak Mendapatkan Kasih Sayang Menjadi tua adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Mereka yang hari ini telah lanjut usia pernah menjadi orang yang bekerja keras, membesarkan keluarga, dan berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Namun, tidak semua lansia memiliki kesempatan menikmati masa tua bersama keluarga. Sebagian tinggal di panti jompo karena berbagai kondisi kehidupan. Mereka mungkin membutuhkan bantuan kebutuhan sehari-hari, perhatian, hingga sekadar teman untuk berbincang. Karena itu, kepedulian kepada lansia bukan hanya persoalan memberikan bantuan materi. Senyum, sapaan, perhatian, dan penghormatan juga dapat menjadi bentuk kebaikan yang sangat berarti. Islam Mengajarkan untuk Memuliakan Orang yang Lebih Tua Al-Qur'an memberikan perhatian besar terhadap bagaimana manusia memperlakukan orang tua ketika memasuki usia lanjut. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 23: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS. Al-Isra: 23) Ayat ini mengajarkan bahwa masa tua semestinya dihadapi dengan penghormatan dan kasih sayang, bukan dengan sikap acuh. BAZNAS Hadir Membawa Kepedulian Kehadiran BAZNAS dalam berbagai kegiatan sosial menjadi salah satu ikhtiar untuk mengubah zakat dan kebaikan masyarakat menjadi manfaat nyata. Bantuan yang diberikan kepada kelompok rentan dapat menjadi penguat bagi mereka yang sedang menghadapi keterbatasan. Bagi lansia panti jompo, bantuan dapat menjadi lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan. Perhatian yang diberikan juga menjadi pesan bahwa mereka tidak dilupakan. Dari Bantuan Menjadi Senyum Bayangkan seorang lansia menerima paket kebutuhan sehari-hari. Nilainya mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi penerimanya, bantuan tersebut dapat memberikan rasa lega sekaligus menghadirkan kebahagiaan. Lebih dari itu, ketika seseorang datang menyapa, mendengarkan cerita, dan menunjukkan kepedulian, ada kehangatan yang tidak selalu bisa dibeli dengan uang. Kebaikan Kecil, Makna Besar Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad) Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa menghormati lansia merupakan bagian dari akhlak mulia seorang Muslim. Mari Hadirkan Senyum untuk Lansia Tidak semua orang mampu memberikan waktu yang panjang untuk mendampingi para lansia. Namun, setiap orang dapat mengambil bagian melalui kebaikan yang dimilikinya. Zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan melalui lembaga terpercaya dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Dengan pengelolaan yang tepat, kebaikan yang kita berikan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Saatnya Berbagi untuk Mereka Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Satu kebaikan yang kita lakukan hari ini mungkin menjadi alasan seseorang tersenyum. Mari bersama BAZNAS menghadirkan perhatian dan kebahagiaan bagi lansia di panti jompo. Bantu mereka mendapatkan kebutuhan yang layak, perhatian yang tulus, dan hari tua yang lebih penuh harapan. Karena Cinta Tak Berbatas Usia Hari ini mungkin kita yang memberi. Suatu hari nanti, kita pun bisa berada di usia yang membutuhkan perhatian. Mari sisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Jadikan kebaikan kita sebagai senyum, kehangatan, dan harapan bagi para lansia. Satu kepedulian mungkin terlihat kecil, tetapi bagi mereka, itu bisa berarti sangat besar.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Kita Tidak Pernah Tahu, Kebaikan Kita Bisa Menyelamatkan Harapan Seseorang
Kita Tidak Pernah Tahu, Kebaikan Kita Bisa Menyelamatkan Harapan Seseorang
Pernahkah kita berpikir bahwa kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini mungkin menjadi alasan seseorang kembali tersenyum? Bagi kita, sejumlah uang yang disedekahkan mungkin terasa biasa. Sebungkus makanan mungkin terlihat sederhana. Bantuan untuk biaya sekolah mungkin hanya sebagian kecil dari penghasilan kita. Namun, bagi seseorang yang sedang berada di titik sulit dalam hidupnya, kebaikan itu bisa berarti jauh lebih besar. Bisa jadi, bantuan yang kita anggap sederhana adalah makanan untuk keluarga yang belum makan. Bisa menjadi biaya pendidikan seorang anak yang hampir putus sekolah. Bisa menjadi modal bagi seseorang untuk kembali bekerja. Bahkan, bisa menjadi alasan seseorang kembali memiliki harapan setelah merasa hidupnya tidak memiliki jalan keluar. Kita memang tidak pernah tahu seberapa besar dampak sebuah kebaikan. Tetapi Allah mengetahuinya. Kebaikan Kecil Bisa Membawa Dampak yang Besar Dalam kehidupan, kita sering mengukur kebaikan berdasarkan nominal. Semakin besar jumlah yang diberikan, kita merasa semakin besar pula manfaatnya. Padahal, tidak selalu demikian. Allah melihat keikhlasan, niat, dan manfaat dari amal yang dilakukan. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa kebaikan kita terlalu kecil untuk berarti. Sebuah senyuman, membantu orang yang kesulitan, memberikan makanan, menyisihkan sebagian rezeki, membantu biaya pendidikan, atau menolong seseorang bangkit dari keterpurukan merupakan bentuk kebaikan yang memiliki nilai. Allah Menggambarkan Besarnya Balasan dari Infak Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261: ?????? ????????? ?????????? ????????????? ??? ??????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ?????? ????????? ??? ????? ??????????? ????????? ???????? ? ????????? ?????????? ????? ???????? ? ????????? ??????? ??????? Artinya:“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang kita berikan mungkin berkurang dari tangan kita, tetapi di sisi Allah ia memiliki nilai yang jauh lebih besar. Ada Harapan yang Sedang Menunggu Kebaikan Kita Di luar sana, ada orang-orang yang mungkin tidak banyak bercerita tentang kesulitannya. Ada orang tua yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya meskipun memikirkan biaya sekolah. Ada keluarga yang berusaha bertahan dengan penghasilan seadanya. Ada lansia yang hidup sendiri. Ada anak yatim yang ingin memiliki masa depan seperti anak-anak lainnya. Mereka mungkin tidak meminta dengan suara keras. Tetapi bukan berarti mereka tidak membutuhkan pertolongan. Di Balik Bantuan, Ada Cerita Kehidupan Ketika kita memberikan bantuan pendidikan, yang kita berikan bukan hanya uang. Kita sedang membantu seorang anak mempertahankan mimpinya. Ketika kita membantu kebutuhan pangan, kita bukan sekadar memberikan makanan. Kita sedang membantu sebuah keluarga melewati hari dengan lebih tenang. Ketika kita memberikan modal usaha, kita bukan hanya memberikan sejumlah dana. Kita sedang membuka kesempatan agar seseorang bisa kembali berdiri dengan kakinya sendiri. Inilah mengapa sedekah, infak, dan zakat bukan hanya tentang memberi. Ada harapan yang ikut tumbuh di dalamnya. Rasulullah Mengajarkan Agar Kita Menjadi Jalan Pertolongan Islam mengajarkan umatnya untuk peduli terhadap sesama. Bahkan, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi orang yang membantu meringankan kesulitan saudaranya. Rasulullah SAW bersabda: ???? ??????? ???? ???????? ???????? ???? ?????? ?????????? ??????? ??????? ?????? ???????? ???? ?????? ?????? ????????????? ?????? ??????? ????? ???????? ??????? ??????? ???????? ??? ?????????? ????????????? ????????? ??? ?????? ????????? ??? ????? ????????? ??? ?????? ??????? Artinya:“Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin dari berbagai kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan pada hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang sedang kesulitan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim) Hadits ini mengingatkan kita bahwa membantu sesama bukan sekadar tindakan sosial. Ada nilai ibadah yang besar di dalamnya. Saat kita menjadi sebab seseorang terbantu, kita sedang berusaha menjadi bagian dari jalan pertolongan yang Allah berikan kepadanya. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbuat Baik Salah satu alasan seseorang menunda bersedekah adalah karena merasa belum memiliki cukup banyak. “Kalau sudah punya rezeki lebih, nanti saya sedekah.” “Kalau penghasilan saya sudah besar, nanti saya membantu.” “Kalau sudah mapan, saya ingin berbagi.” Padahal, kebaikan tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Mulailah dari Apa yang Kita Punya Jika belum mampu memberikan banyak, berikan sesuai kemampuan. Seribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas tetap merupakan sebuah kebaikan. Satu paket makanan bisa menjadi kebahagiaan bagi seseorang. Satu bantuan pendidikan dapat menjadi alasan seorang anak terus bersekolah. Satu bantuan modal dapat menjadi awal sebuah keluarga kembali memiliki penghasilan. Yang terpenting bukan seberapa besar kita terlihat di hadapan manusia. Tetapi seberapa ikhlas kita di hadapan Allah. Zakat, Infak, dan Sedekah Bisa Menjadi Jalan Tumbuhnya Harapan Zakat, infak, dan sedekah atau ZIS memiliki peran penting dalam membantu masyarakat yang membutuhkan. Dana yang dihimpun dengan amanah dapat disalurkan untuk berbagai kebutuhan umat, mulai dari bantuan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga kebutuhan kemanusiaan. Karena itu, menunaikan zakat dan berbagi melalui lembaga yang terpercaya bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban. Lebih dari itu, kita sedang mengambil bagian dalam sebuah gerakan kebaikan. Kebaikan yang Terorganisir Bisa Menjangkau Lebih Banyak Orang Bayangkan jika kebaikan dari banyak orang dikumpulkan. Seratus orang menyisihkan sebagian rezekinya. Seribu orang ikut berbagi. Ribuan kebaikan kemudian disatukan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dari sana, lahir program-program yang dapat memberikan manfaat lebih luas. Satu orang mungkin hanya mampu membantu satu keluarga. Tetapi ketika banyak orang bergandengan tangan, manfaatnya bisa menjangkau jauh lebih banyak penerima. Jangan Remehkan Kebaikan yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini Sering kali kita menunggu kesempatan besar untuk berbuat baik. Padahal, kesempatan itu mungkin sudah ada di depan mata. Ada rezeki yang bisa disisihkan. Ada orang yang bisa dibantu. Ada makanan yang bisa dibagikan. Ada zakat yang bisa ditunaikan. Ada sedekah yang bisa diberikan. Ada keluarga yang mungkin sedang menunggu uluran tangan tanpa pernah kita ketahui. Karena Kita Tidak Pernah Tahu... Kita tidak pernah tahu apakah bantuan kita menjadi makanan terakhir yang menyelamatkan seseorang dari kelaparan. Kita tidak pernah tahu apakah sedekah kita menjadi biaya sekolah yang membuat seorang anak tetap mengejar cita-citanya. Kita tidak pernah tahu apakah bantuan kecil kita menjadi modal pertama seseorang untuk bangkit. Kita juga tidak pernah tahu apakah kebaikan sederhana yang kita lakukan hari ini akan menjadi amal yang sangat berarti ketika kita menghadap Allah kelak. Itulah indahnya kebaikan. Kita mungkin lupa pernah memberikannya, tetapi Allah tidak pernah lupa mencatatnya. Mari Jadikan Rezeki Kita Sebagai Jalan Kebaikan Ada banyak cara untuk menjadi bagian dari perubahan. Tidak harus menunggu memiliki banyak uang. Tidak harus menunggu menjadi orang kaya. Tidak harus menunggu memiliki waktu luang yang panjang. Mulailah dari apa yang ada. Jika memiliki kewajiban zakat, tunaikanlah. Jika memiliki kelebihan rezeki, sisihkanlah untuk infak dan sedekah. Jika belum mampu memberikan banyak, berikan semampunya. Karena bisa jadi, sesuatu yang kecil bagi kita justru sangat besar bagi orang lain. Satu Kebaikan Bisa Menjadi Awal Harapan Bayangkan jika hari ini kita menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan. Mungkin kita tidak melihat langsung wajah penerimanya. Mungkin kita tidak mengetahui cerita lengkap hidupnya. Namun, bantuan itu bisa menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang menuju keadaan yang lebih baik. Dan bukankah indah ketika rezeki yang Allah titipkan kepada kita dapat menjadi jalan hadirnya kebahagiaan bagi orang lain? Saatnya Mengubah Rezeki Menjadi Manfaat Kebaikan tidak selalu datang dalam bentuk yang besar. Kadang, ia hadir dalam nominal yang sederhana. Kadang, ia hadir dalam sebungkus makanan. Kadang, ia hadir dalam bantuan pendidikan. Kadang, ia hadir melalui zakat yang kita tunaikan. Namun ketika dilakukan dengan ikhlas dan dikelola dengan amanah, kebaikan itu dapat tumbuh menjadi manfaat yang jauh lebih besar. Hari ini mungkin kita hanya memberikan sebagian kecil dari apa yang kita punya. Tetapi bagi seseorang, kebaikan itu bisa menjadi alasan untuk tidak menyerah. Jangan tunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan tunggu punya banyak untuk peduli. Jangan menunggu kesempatan besar untuk melakukan kebaikan. Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan yang kita lakukan hari ini bisa menjadi jalan terselamatkannya harapan seseorang.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Penyakit Hati yang Diam-diam Menjauhkanmu dari Allah
Penyakit Hati yang Diam-diam Menjauhkanmu dari Allah
Penyakit Hati yang Diam-diam Menjauhkanmu dari Allah Ada penyakit yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dampaknya bisa lebih besar daripada sakit pada tubuh. Penyakit itu adalah penyakit hati. Hati yang dipenuhi iri, sombong, riya, dengki, cinta dunia berlebihan, dan sulit memaafkan perlahan dapat membuat seseorang jauh dari Allah tanpa disadari. Sering kali kita sibuk memperbaiki penampilan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari, tetapi lupa memeriksa keadaan hati. Padahal, dalam Islam, kebersihan hati memiliki kedudukan yang sangat penting. Hati yang sehat akan mendorong seseorang mencintai kebaikan, sementara hati yang sakit dapat membuat ibadah terasa berat dan dosa terasa biasa. Apa Itu Penyakit Hati? Penyakit hati adalah kondisi ketika hati seseorang dipenuhi sifat dan kecenderungan buruk yang menjauhkan dirinya dari ketaatan kepada Allah. Penyakit ini tidak selalu tampak dalam perilaku sehari-hari. Seseorang bisa terlihat baik di hadapan manusia, tetapi diam-diam menyimpan kesombongan, iri, atau keinginan mendapatkan pujian. Allah SWT berfirman: “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 10) Ayat tersebut mengingatkan bahwa penyakit hati merupakan persoalan serius yang tidak boleh dibiarkan. 1. Riya dalam Beribadah Riya terjadi ketika seseorang melakukan amal kebaikan demi mendapatkan perhatian atau pujian manusia. Ibadah yang seharusnya ditujukan kepada Allah justru berubah menjadi sarana mencari pengakuan. Riya sangat berbahaya karena seseorang bisa merasa sedang berbuat baik, padahal niatnya perlu kembali diperiksa. 2. Sombong dan Merasa Lebih Baik Kesombongan membuat seseorang sulit menerima kebenaran dan memandang rendah orang lain. Padahal, kelebihan yang dimiliki manusia hanyalah titipan Allah. Jangan Meremehkan Orang Lain Bisa jadi orang yang kita anggap tidak memiliki apa-apa justru lebih mulia di sisi Allah. Karena itu, menjaga kerendahan hati merupakan bagian penting dalam membersihkan hati. 3. Iri dan Dengki Iri muncul ketika seseorang tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Bahkan, terkadang seseorang berharap nikmat tersebut hilang dari orang lain. Hati yang dipenuhi dengki akan sulit merasakan ketenangan karena selalu membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain. Hati yang Sehat Membawa Kedekatan kepada Allah Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hati merupakan bagian penting yang memengaruhi seluruh perilaku manusia. “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa memperbaiki hati bukan perkara kecil. Perubahan perilaku yang baik dapat dimulai dari memperbaiki apa yang tersimpan di dalam hati. Bagaimana Cara Membersihkan Hati? Membersihkan hati membutuhkan proses. Mulailah dengan memperbanyak istighfar, zikir, membaca Al-Qur’an, mengevaluasi diri, serta menjauhi lingkungan yang mendorong kemaksiatan. Selain itu, biasakan melakukan kebaikan dengan ikhlas. Tidak semua amal harus diketahui orang lain. Terkadang, amal yang tersembunyi justru menjadi cara untuk melatih hati agar hanya mengharapkan ridha Allah. Bersihkan Hati dengan Berbagi Salah satu cara melatih keikhlasan adalah berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga mengajarkan hati untuk tidak berlebihan mencintai harta. Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10) Saatnya Kembali Merawat Hati Jangan menunggu hati menjadi keras untuk mulai memperbaikinya. Jika hari ini kita masih mudah iri, sulit memaafkan, mengejar pujian, atau terlalu mencintai dunia, jadikan itu sebagai tanda untuk segera kembali kepada Allah. Mari jadikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS sebagai salah satu bentuk nyata kepedulian sekaligus latihan keikhlasan. Sebagian rezeki yang kita sisihkan dapat menjadi manfaat bagi saudara-saudara yang membutuhkan. Satu Kebaikan, Satu Langkah Mendekat Tidak ada hati yang terlalu kotor untuk kembali kepada Allah selama seseorang mau bertobat dan memperbaikinya. Mari bersihkan hati dengan doa, ibadah, dan kepedulian. Tunaikan zakat, perbanyak infak dan sedekah, lalu biarkan kebaikan yang kita lakukan menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Karena terkadang, jalan untuk mendekat kepada Allah dimulai dari satu hati yang mau berubah.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Kita Sedang Hidup, atau Sedang Mengejar Sensasi agar Merasa Hidup?
Kita Sedang Hidup, atau Sedang Mengejar Sensasi agar Merasa Hidup?
Kita Sedang Hidup, atau Sedang Mengejar Sensasi agar Merasa Hidup? Ketika Hidup yang Tenang Mulai Terasa Membosankan Ada masa ketika kebahagiaan terasa sederhana. Mendapat makanan yang kita sukai sudah cukup menyenangkan. Berkumpul bersama keluarga menjadi sesuatu yang dinantikan. Memiliki waktu untuk beristirahat terasa sebagai kemewahan. Tidak ada yang perlu dibuktikan, tidak ada yang harus dibeli, dan tidak ada kehidupan orang lain yang harus dikejar. Namun, perlahan cara kita menikmati hidup berubah. Hari ini, hampir setiap waktu tersedia sesuatu yang bisa membuat kita merasa senang. Dalam hitungan detik, kita bisa memilih hiburan. Dalam beberapa sentuhan, barang yang diinginkan dapat masuk ke keranjang belanja. Kita bisa mencari makanan baru, tempat baru, pengalaman baru, bahkan identitas baru melalui apa yang kita konsumsi dan tampilkan. Masalahnya bukan karena manusia menikmati hidup. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci kenikmatan. Makanan yang baik, rumah yang nyaman, pakaian yang layak, perjalanan, dan berbagai bentuk kesenangan dunia bukanlah sesuatu yang otomatis salah. Yang perlu direnungkan adalah hal lain tentang bagaimana jika kita mulai merasa hidup hanya ketika ada sesuatu yang baru untuk dikejar? Ketika hari yang tenang terasa membosankan. Ketika tidak membeli apa pun terasa seperti kehilangan. Ketika tidak ada hiburan membuat kita gelisah. Ketika kehidupan yang biasa-biasa saja terasa kurang berharga dibandingkan kehidupan yang tampak menarik. Mungkin masalahnya bukan lagi bahwa kita menikmati kenikmatan. Mungkin kita mulai bergantung padanya untuk merasa bahwa hidup kita berarti. Dunia yang Selalu Menawarkan “Satu Lagi” Kita hidup dalam dunia yang jarang mengatakan, “Itu sudah cukup.” Sebaliknya, hampir semuanya mendorong kita untuk menambah. Sudah memiliki sesuatu? Ada versi yang lebih baru. Sudah mencoba satu pengalaman? Ada pengalaman lain yang sedang populer. Sudah mencapai satu tujuan? Segera muncul tujuan berikutnya. Sudah merasa bahagia? Jangan berhenti di sana, karena ada sesuatu yang katanya bisa membuat kita lebih bahagia lagi. Tanpa sadar, kehidupan berubah menjadi daftar yang tidak pernah selesai. Satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Satu kenikmatan didapatkan, lama-kelamaan terasa biasa. Apa yang dulu dianggap istimewa, perlahan menjadi standar. Di sinilah manusia dapat terjebak dalam sebuah siklus yaitu mencari, mendapatkan, terbiasa, lalu mencari lagi. Dalam psikologi, fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep hedonic adaptation atau adaptasi hedonis. Manusia memiliki kemampuan untuk terbiasa dengan kondisi baru, termasuk kenikmatan yang sebelumnya terasa luar biasa. Mobil baru akhirnya menjadi kendaraan biasa. Pekerjaan impian berubah menjadi rutinitas. Barang yang dulu sangat diinginkan akhirnya hanya menjadi salah satu benda di rumah. Liburan yang dinanti berbulan-bulan selesai dalam beberapa hari, lalu kehidupan kembali seperti semula. Masalahnya bukan karena kenikmatan itu tidak nyata. Kenikmatan itu nyata. Tetapi kenikmatan tidak selalu bertahan selama yang kita bayangkan. Ketika Kenikmatan Tidak Lagi Menjadi Nikmat Ada perbedaan antara menikmati sesuatu dan terus membutuhkan sesuatu agar bisa merasa baik-baik saja. Seseorang menikmati makanan karena ia bersyukur bisa merasakannya. Tetapi seseorang yang selalu membutuhkan pengalaman baru untuk menghilangkan rasa kosong mungkin sedang menghadapi persoalan yang berbeda. Seseorang membeli sesuatu karena memang membutuhkannya. Tetapi ada juga pembelian yang dilakukan hanya untuk mendapatkan sensasi singkat: rasa senang ketika memilih, menunggu, menerima, dan membuka sesuatu yang baru. Setelah itu? Perasaan tersebut perlahan hilang. Kemudian kita kembali mencari sesuatu yang lain. Bukan karena kita selalu kekurangan sesuatu. Tetapi karena kita mulai terbiasa menggunakan kenikmatan sebagai cara untuk mengusir rasa tidak nyaman. Merasa lelah, cari hiburan. Merasa bosan, cari sesuatu yang baru. Merasa sedih, beli sesuatu. Merasa tertinggal, ikuti tren. Merasa kosong, cari pengalaman. Tidak ada yang salah dengan beristirahat, membeli sesuatu, atau mencari hiburan. Namun kita perlu berhati-hati ketika semua itu menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi kehidupan. Sebab tidak semua rasa kosong dapat diisi dengan sesuatu yang bisa dibeli. Tidak semua kesedihan hilang dengan hiburan. Dan tidak semua kebosanan harus segera dihilangkan. Terkadang, manusia justru perlu berhenti agar bisa mendengar dirinya sendiri. Mengapa Kita Semakin Sulit Merasa Cukup? Mungkin persoalannya bukan karena hidup kita selalu kurang. Bisa jadi karena kita terlalu sering melihat kehidupan yang membuat apa yang kita miliki terasa kurang. Setiap hari kita dapat melihat orang lain berada di tempat yang menarik, membeli sesuatu yang baru, mencapai sesuatu, mencoba pengalaman yang tampak menyenangkan, atau menjalani kehidupan yang terlihat lebih baik. Kita hanya melihat beberapa detik dari kehidupan mereka. Tetapi tanpa sadar, beberapa detik itu digunakan untuk mengukur seluruh kehidupan kita. Di sinilah standar kebahagiaan dapat bergeser. Kita tidak lagi bertanya “Apakah saya bersyukur dengan apa yang saya miliki?”. Melainkan “Apakah hidup saya cukup menarik dibandingkan hidup orang lain?” Padahal kehidupan tidak diciptakan untuk terus-menerus dipertandingkan. Tidak semua orang harus memiliki perjalanan yang sama untuk memiliki kehidupan yang bermakna. Tidak semua kebahagiaan harus terlihat. Dan tidak semua hal yang sederhana berarti kehidupan seseorang kurang bernilai. Allah SWT mengingatkan: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”(QS. At-Takatsur: 1–2) Ayat ini bukan hanya berbicara tentang banyaknya harta. Ia juga dapat menjadi pengingat tentang kecenderungan manusia untuk terus mengejar lebih banyak, sampai lupa bertanya apakah semua yang dikejar benar-benar diperlukan. Ada perbedaan antara memiliki lebih banyak dan menjadi lebih baik. Keduanya tidak selalu berjalan bersama. Kita Tidak Harus Menolak Dunia untuk Tidak Dikuasai Dunia Sering kali, pembicaraan tentang hedonisme membuat seolah-olah seseorang harus memilih antara menikmati dunia atau menjadi pribadi yang baik. Padahal Islam tidak mengajarkan kita untuk membenci dunia. Allah SWT berfirman: “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”(QS. Al-Qasas: 77) Ayat ini memberikan keseimbangan. Ada bagian dunia yang boleh dan perlu kita nikmati. Kita boleh bekerja untuk kehidupan yang lebih baik. Kita boleh memiliki cita-cita. Kita boleh menikmati rezeki yang halal. Kita boleh merasa bahagia atas pencapaian. Namun, ayat tersebut juga mengingatkan bahwa dunia bukan satu-satunya tujuan. Masalah muncul ketika seluruh hidup hanya diarahkan untuk mendapatkan perasaan senang. Ketika setiap keputusan selalu ditentukan oleh pertanyaan “Apa yang paling menyenangkan bagi saya?” Pada titik itu, kesenangan dapat berubah dari sesuatu yang kita nikmati menjadi sesuatu yang mengendalikan kita. Kita menjadi sulit menolak keinginan. Sulit menunda kepuasan. Sulit hidup tanpa sesuatu yang baru. Dan perlahan, keinginan mulai menentukan arah kehidupan kita. Hidup Tidak Selalu Harus Dipenuhi Sensasi Ada ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh sensasi. Ketenangan ketika tidak harus membuktikan apa pun. Ketenangan ketika tidak selalu merasa tertinggal. Ketenangan ketika mampu melihat sesuatu yang dimiliki tanpa segera membandingkannya dengan milik orang lain. Ketenangan ketika sebuah hari yang sederhana tetap terasa layak dijalani. Barangkali salah satu masalah manusia modern adalah kita terlalu takut menjalani hidup yang biasa. Kita ingin setiap momen menjadi sesuatu yang istimewa. Setiap perjalanan harus menghasilkan cerita. Setiap pencapaian harus terlihat. Setiap pengalaman harus memiliki nilai untuk dibagikan. Padahal hidup tidak selalu bekerja seperti itu. Ada hari-hari yang tidak luar biasa. Ada proses yang membosankan. Ada pekerjaan yang berulang. Ada masa ketika kita hanya perlu menjalani hidup dengan tenang. Dan mungkin justru di situlah kita belajar sesuatu yang semakin sulit dilakukan yaitu merasa cukup tanpa harus terus mendapatkan sesuatu. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.”(HR. Muslim) Rasa cukup bukan berarti berhenti memiliki cita-cita. Qana'ah bukan berarti menolak perkembangan. Ia adalah kemampuan untuk tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk terus-menerus merasa miskin, meskipun sebenarnya kita telah memiliki banyak hal. Dari Mengejar Kenikmatan Menjadi Menciptakan Makna Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah “Apa lagi yang bisa saya nikmati?”. Tetapi, “Apa yang membuat hidup saya berarti?” Kenikmatan memberikan perasaan. Tetapi makna memberikan arah. Kita mungkin merasa bahagia setelah mendapatkan sesuatu, tetapi kebahagiaan itu dapat cepat berlalu. Sementara itu, ada kepuasan yang lebih dalam ketika seseorang merasa kehadirannya membawa manfaat. Ketika ilmunya membantu orang lain. Ketika waktunya digunakan untuk sesuatu yang baik. Ketika rezekinya tidak hanya berhenti untuk memenuhi keinginannya sendiri. Di sinilah seseorang dapat mulai melihat bahwa harta tidak selalu harus berakhir menjadi konsumsi. Sebagian dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat. Zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berbicara tentang perpindahan harta dari seseorang kepada orang lain. Ia juga dapat menjadi latihan batin. Latihan untuk mengatakan “Tidak semua yang saya miliki harus kembali kepada saya.” Dalam dunia yang terus berkata “tambahkan untuk dirimu,” memberi mengajarkan sesuatu yang berbeda yaitu “Ada kebahagiaan yang tidak berkurang ketika dibagikan.” Melalui BAZNAS, zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi salah satu jalan untuk mengubah sebagian rezeki menjadi manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program sosial, seperti pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, ekonomi, dan keagamaan. Dengan demikian, kita tidak hanya bertanya “Apa lagi yang bisa saya dapatkan dari hidup?” Tetapi juga, “Apa yang bisa hidup dapatkan dari keberadaan saya?” Jangan Sampai Kita Terlalu Sibuk Mencari Sensasi hingga Lupa Menjalani Kehidupan Hedonisme tidak selalu datang dalam bentuk kehidupan mewah. Kadang ia hadir lebih halus. Dalam ketidakmampuan menikmati kesederhanaan. Dalam kebutuhan untuk terus membeli sesuatu agar merasa senang. Dalam keinginan untuk selalu mengalami hal baru. Dalam rasa gelisah ketika kehidupan sedang berjalan biasa-biasa saja. Dalam ketakutan bahwa kita sedang tertinggal hanya karena hidup orang lain terlihat lebih menarik. Mungkin kita tidak sedang kekurangan kehidupan. Mungkin kita hanya terlalu sibuk mencari sesuatu yang membuat kita merasa hidup. Padahal hidup tidak selalu membutuhkan sensasi. Kadang ia hadir dalam keluarga yang masih bisa kita temui. Dalam tubuh yang masih mampu bergerak. Dalam pekerjaan yang mungkin melelahkan, tetapi memberi kita kesempatan. Dalam makanan sederhana yang masih bisa dinikmati. Dalam kesempatan untuk belajar. Dalam kemampuan untuk membantu. Maka sesekali, berhentilah. Tidak untuk menyerah pada kehidupan. Tetapi untuk bertanya, Apakah saya benar-benar sedang menikmati hidup, atau saya hanya terus mengejar sesuatu agar tidak sempat merasa kosong? Sebab mungkin, kebahagiaan tidak selalu berada di pengalaman berikutnya, barang berikutnya, atau pencapaian berikutnya. Kadang, ia dimulai ketika kita berhenti mengejar terlalu banyak hal dan akhirnya menyadari bahwa hidup yang kita miliki hari ini sebenarnya sudah cukup untuk disyukuri, dijalani, dan yang tidak kalah penting, dibagikan manfaatnya kepada sesama.
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Apa Gunanya Terlihat Baik di Hadapan Manusia Jika Hati Tidak Peduli?
Apa Gunanya Terlihat Baik di Hadapan Manusia Jika Hati Tidak Peduli?
Di zaman ketika kebaikan mudah terlihat, ada satu pertanyaan yang mungkin jarang kita ajukan kepada diri sendiri: apa gunanya terlihat baik di hadapan manusia jika hati kita tidak benar-benar peduli? Kita bisa tersenyum di depan banyak orang, aktif membagikan konten tentang kebaikan, hadir dalam berbagai kegiatan sosial, bahkan dikenal sebagai orang yang dermawan. Namun, Islam mengajarkan bahwa kebaikan bukan sekadar tentang apa yang tampak dari luar. Ada sesuatu yang jauh lebih penting: keikhlasan, kepedulian, dan keadaan hati. Sebab, manusia mungkin hanya melihat apa yang kita lakukan. Namun, Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap tindakan. Kebaikan Bukan Sekadar Tentang Penampilan Menjadi orang baik tentu merupakan sesuatu yang mulia. Membantu sesama, bersedekah, berbagi makanan, menolong orang yang kesulitan, menyantuni anak yatim, dan memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan adalah amal yang sangat berarti. Namun, jangan sampai kebaikan hanya berhenti pada penampilan. Kita mungkin ingin dianggap dermawan, tetapi tidak benar-benar peduli kepada orang yang sedang kesulitan. Kita mungkin ingin dipuji karena aktif membantu, tetapi hati merasa berat ketika harus memberikan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan orang lain. Di sinilah pentingnya melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Allah Melihat Hati dan Amal Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ukuran manusia di hadapan Allah bukan sekadar penampilan atau kekayaan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Muslim 2564c. ? Pesannya sangat dalam. Apa yang terlihat oleh manusia bukanlah satu-satunya ukuran. Ada hati yang menyertai amal tersebut. Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki citra diri di hadapan manusia. Sesekali, berhentilah dan tanyakan kepada diri sendiri: “Bagaimana keadaan hatiku ketika melakukan kebaikan?” Ketika Kebaikan Kehilangan Kepedulian Ada perbedaan besar antara melakukan kebaikan dan memiliki kepedulian. Melakukan kebaikan bisa menjadi sebuah aktivitas. Tetapi kepedulian membuat kita mampu merasakan bahwa kesulitan orang lain bukan sekadar berita yang lewat di layar ponsel. Ketika melihat anak yatim, apakah kita hanya merasa kasihan atau benar-benar ingin mengambil bagian dalam kehidupannya? Ketika melihat keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, apakah kita hanya berkata, “Semoga dimudahkan,” atau kita mencoba mencari cara untuk membantu? Ketika mengetahui ada saudara kita yang membutuhkan biaya pendidikan, kesehatan, makanan, atau modal usaha, apakah kita hanya merasa prihatin atau bersedia menyisihkan sebagian rezeki yang Allah titipkan? Peduli Tidak Harus Menunggu Menjadi Kaya Sering kali kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, kita harus memiliki banyak uang terlebih dahulu. Padahal, kepedulian tidak selalu dimulai dari jumlah yang besar. Senyuman, perkataan yang baik, memberikan makanan, membantu pekerjaan seseorang, menyisihkan sebagian penghasilan untuk infak, atau ikut mendukung program sosial dapat menjadi bentuk kepedulian. Allah berfirman: “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan yang menyakiti. Allah Mahakaya, Maha Penyantun.” (QS. Al-Baqarah: 263) Ayat ini menunjukkan bahwa kualitas sebuah kebaikan tidak hanya ditentukan oleh bentuk pemberiannya, tetapi juga bagaimana seseorang memperlakukan orang lain setelah memberikan sesuatu. Jangan Sampai Sedekah Hanya Menjadi Cara Mencari Pengakuan Sedekah adalah ibadah. Karena itu, sudah semestinya ia dilakukan dengan niat mencari rida Allah. Islam bahkan memberikan peringatan agar pemberian tidak diikuti dengan menyakiti atau mengungkit-ungkit kebaikan. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima).” (QS. Al-Baqarah: 264) Kebaikan Tidak Membutuhkan Tepuk Tangan Ada kebaikan yang diketahui banyak orang. Ada pula kebaikan yang hanya diketahui oleh kita dan Allah. Justru, terkadang amal yang tidak diketahui manusia terasa lebih dekat dengan keikhlasan karena tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, dan tidak ada pengakuan. Bukan berarti setiap kebaikan yang diketahui orang lain pasti tidak ikhlas. Yang perlu dijaga adalah niatnya. Kita boleh mengajak orang lain untuk bersedekah. Kita boleh membagikan informasi tentang kegiatan sosial. Kita boleh menunjukkan bahwa membantu sesama adalah sesuatu yang baik. Tetapi jangan sampai tujuan akhirnya berubah: bukan lagi mengajak kepada kebaikan, melainkan mencari pengakuan. Hati yang Peduli Akan Melahirkan Kebaikan Nyata Kepedulian yang benar biasanya tidak berhenti pada perasaan. Ketika hati benar-benar peduli, seseorang akan bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?” Inilah yang membuat zakat, infak, dan sedekah menjadi sangat penting dalam kehidupan sosial umat Islam. Zakat bukan hanya kewajiban kepada Allah, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Infak dan sedekah menjadi jalan bagi seseorang untuk berbagi sebagian rezekinya kepada mereka yang membutuhkan. Dari Uang Menjadi Harapan Bayangkan jika sebagian kecil rezeki yang kita miliki dapat berubah menjadi makanan bagi keluarga yang kesulitan. Sebagian lainnya menjadi perlengkapan sekolah bagi seorang anak. Ada pula yang menjadi bantuan kesehatan, modal usaha, santunan anak yatim, atau dukungan bagi keluarga yang sedang menghadapi kondisi sulit. Jumlah yang mungkin terasa kecil bagi kita bisa memiliki arti yang sangat besar bagi penerimanya. Inilah mengapa zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar tentang memberikan uang. Ia adalah tentang menghadirkan harapan. Jangan Hanya Ingin Terlihat Baik, Jadilah Orang yang Benar-Benar Peduli Kita hidup di dunia yang sangat mudah menampilkan kebaikan. Satu foto bisa menunjukkan kegiatan sosial. Satu unggahan bisa memperlihatkan kepedulian. Satu video bisa membuat seseorang terlihat sangat dermawan. Namun, pertanyaan terbesarnya bukan tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia. Pertanyaannya adalah: Apakah hati kita benar-benar peduli? Apakah kita masih tergerak ketika melihat orang lain kesulitan? Apakah kita masih mau berbagi ketika tidak ada yang melihat? Apakah kita masih bersedia membantu ketika tidak ada yang akan memuji? Dan apakah kita mau memberikan sebagian rezeki ketika tidak mendapatkan apa-apa sebagai balasan dari manusia? Allah mengingatkan bahwa kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh status, penampilan, atau kelompoknya, melainkan oleh ketakwaan. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13) Mari Periksa Kembali Hati Kita Mungkin hari ini kita perlu berhenti sejenak dari keinginan untuk terlihat baik. Bukan berarti kita berhenti berbuat baik. Justru sebaliknya. Mari kita tingkatkan kualitas kebaikan dengan memperbaiki hati di baliknya. Jika selama ini kita bersedekah agar dipuji, mari belajar mengikhlaskannya. Jika selama ini kita membantu karena ingin dianggap hebat, mari luruskan kembali niat. Jika selama ini kita hanya merasa iba kepada mereka yang membutuhkan, mari ubah rasa iba itu menjadi tindakan nyata. Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang terlihat baik. Dunia membutuhkan orang-orang yang benar-benar peduli. Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Kebaikan Nyata Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk membantu. Namun, hampir setiap orang memiliki kesempatan untuk melakukan kebaikan. Jika Allah memberikan kelapangan rezeki, sisihkan sebagian untuk mereka yang membutuhkan. Jika memiliki kemampuan lebih, bantu lebih banyak. Jika belum mampu memberikan banyak, jangan merasa bahwa pemberian kecil tidak berarti. Mulailah dari apa yang kita punya.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Belajar Menerima Takdir Tanpa Berhenti Berusaha
Belajar Menerima Takdir Tanpa Berhenti Berusaha
Pernahkah kita sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa setiap hari, tetapi hasil yang datang ternyata tidak sesuai dengan harapan? Sudah mencari pekerjaan, tetapi belum mendapatkannya. Sudah membangun usaha, tetapi belum berkembang. Sudah berusaha memperbaiki keadaan, tetapi masalah justru datang silih berganti. Pada titik seperti itu, kita sering dihadapkan pada satu pilihan: menyerah atau kembali melangkah. Dalam Islam, menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha. Tawakal bukan alasan untuk pasif. Seorang Muslim diperintahkan untuk berikhtiar semaksimal mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Inilah seni menjalani kehidupan: berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, lalu menerima keputusan Allah dengan hati yang lapang. Memahami Takdir Tanpa Kehilangan Semangat Takdir adalah bagian dari keimanan seorang Muslim. Apa yang terjadi dalam kehidupan tidak pernah luput dari pengetahuan dan ketetapan Allah SWT. Namun, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha. Menerima takdir bukan berarti berkata, “Kalau memang sudah ditakdirkan, buat apa saya berusaha?” Justru sebaliknya. Kita berusaha karena kita tidak mengetahui apa yang telah Allah tetapkan untuk kita. Hari ini mungkin kita belum mengetahui apakah usaha yang dilakukan akan berhasil. Tetapi kita tahu bahwa berusaha adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai manusia. Allah SWT berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun: 16) Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim menjalankan kebaikan sesuai kemampuan dan kesanggupannya. Artinya, ada ruang untuk berusaha, memperbaiki diri, dan memberikan yang terbaik. Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Bayangkan seseorang yang sedang membangun usaha kecil. Ia sudah membeli bahan, menyusun strategi, menawarkan produk, dan bekerja setiap hari. Namun, hasil penjualannya belum sesuai harapan. Apakah ia harus berhenti? Tidak. Ia perlu mengevaluasi usaha, memperbaiki strategi, belajar dari kegagalan, lalu kembali mencoba. Jika pada akhirnya hasilnya masih belum sesuai harapan, di situlah ia belajar menerima takdir. Ikhtiar berada di tangan manusia, sedangkan hasil berada dalam kehendak Allah. Bedanya Tawakal dengan Pasrah Banyak orang mengira tawakal berarti menyerahkan semuanya kepada Allah tanpa melakukan apa pun. Padahal, tawakal yang benar berjalan bersama ikhtiar. Pasrah tanpa usaha bukanlah bentuk tawakal yang ideal. Tawakal berarti kita melakukan bagian kita sebaik mungkin, kemudian tidak menggantungkan ketenangan hati hanya kepada hasil. Kita bekerja, tetapi tetap sadar bahwa rezeki berasal dari Allah. Kita belajar, tetapi tetap sadar bahwa keberhasilan berada dalam kehendak Allah. Kita berobat ketika sakit, tetapi tetap yakin bahwa kesembuhan datang dari Allah. Kita membantu orang lain, tetapi tidak mengharapkan balasan manusia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Berusaha Sebelum Berserah Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini sangat sederhana. Berusaha dahulu. Berdoa selalu. Bertawakal kemudian. Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas. Sebaliknya, jangan pula menjadikan usaha sebagai alasan untuk merasa bahwa semua keberhasilan semata-mata karena kemampuan diri sendiri. Ketika berhasil, kita bersyukur. Ketika gagal, kita belajar. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai keinginan, kita bersabar. Dan ketika jalan terasa berat, kita kembali kepada Allah. Ketika Hasil Tidak Sesuai Harapan Salah satu ujian terbesar dalam hidup adalah ketika hasil yang kita dapatkan berbeda jauh dari apa yang kita bayangkan. Kita sudah bekerja keras, tetapi orang lain yang mendapatkan kesempatan. Kita sudah menjaga hubungan, tetapi tetap ditinggalkan. Kita sudah berdoa, tetapi jawaban yang datang terasa begitu lama. Kita sudah berusaha membuka pintu rezeki, tetapi belum juga menemukan jalan. Pada saat seperti ini, jangan buru-buru menganggap Allah tidak mendengar doa. Bisa jadi Allah sedang memberikan sesuatu yang belum kita pahami. Bisa jadi sebuah kegagalan sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Bisa jadi penundaan sedang mempersiapkan kita menjadi lebih kuat. Dan bisa jadi Allah sedang mengajarkan satu hal yang sangat penting: bahwa kebahagiaan seorang hamba tidak boleh hanya bergantung pada hasil. Jangan Ukur Kasih Sayang Allah dari Hasil yang Kita Inginkan Sering kali manusia mengukur kebaikan Allah berdasarkan keinginannya sendiri. Jika mendapatkan apa yang diinginkan, kita merasa Allah sayang. Jika keinginan belum terwujud, kita merasa doa belum dikabulkan. Padahal, Allah memiliki pengetahuan yang jauh lebih luas daripada manusia. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah. Begitu pula sesuatu yang kita anggap buruk bisa saja menjadi jalan menuju kebaikan. Karena itu, tugas kita bukan memaksa kehidupan berjalan sesuai keinginan. Tugas kita adalah berusaha memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, lalu menerima apa yang memang berada di luar kendali kita. 4 Cara Belajar Menerima Takdir Tanpa Berhenti Berusaha 1. Fokus pada Hal yang Bisa Kita Kendalikan Tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Kita tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain. Tidak bisa menentukan kapan rezeki datang. Tidak bisa memastikan semua rencana berjalan sempurna. Namun, kita masih bisa mengendalikan usaha, sikap, doa, dan keputusan yang kita ambil. Daripada terus memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubah, lebih baik gunakan energi untuk memperbaiki sesuatu yang masih bisa dilakukan. 2. Jangan Berhenti Belajar dari Kegagalan Kegagalan bukan selalu tanda bahwa kita harus berhenti. Kadang-kadang kegagalan adalah cara kehidupan menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki. Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini? Mungkin strategi perlu diubah. Mungkin kemampuan perlu ditingkatkan. Mungkin cara berkomunikasi perlu diperbaiki. Atau mungkin kita perlu lebih sabar. Dengan cara pandang seperti ini, kegagalan tidak lagi hanya menjadi luka, tetapi menjadi guru. 3. Perbanyak Doa dan Muhasabah Ketika menghadapi sesuatu yang sulit, jangan hanya bekerja lebih keras. Dekatkan pula hati kepada Allah. Perbanyak doa, istighfar, membaca Al-Qur'an, dan melakukan muhasabah. Tanyakan kepada diri sendiri apakah selama ini kita sudah berusaha dengan cara yang baik dan halal. Sebab keberhasilan bukan hanya tentang seberapa keras kita bekerja, tetapi juga tentang keberkahan dari apa yang kita perjuangkan. 4. Belajar Bersyukur atas Hal-Hal Kecil Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum dimiliki sampai lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Masih bisa bernapas. Masih bisa bekerja. Masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Masih memiliki keluarga, sahabat, kesehatan, waktu, dan kesempatan berbuat baik. Semua itu adalah nikmat yang sering kali baru kita sadari setelah kehilangannya. Syukur membuat hati tidak terus-menerus merasa kekurangan. Takdir Mengajarkan Kita untuk Rendah Hati Ketika berhasil, takdir mengajarkan kita untuk tidak sombong. Ketika gagal, takdir mengajarkan kita untuk tidak berputus asa. Ketika mendapatkan rezeki, takdir mengajarkan kita untuk berbagi. Ketika kehilangan sesuatu, takdir mengajarkan kita untuk bersabar. Inilah salah satu keindahan iman kepada takdir. Kita tidak menjadi manusia yang mudah terbang ketika dipuji dan tidak pula hancur ketika gagal. Hati menjadi lebih stabil karena kita tahu bahwa kehidupan ini berada dalam pengaturan Allah. Ikhtiar Kita Bisa Menjadi Jalan Kebaikan bagi Orang Lain Ada satu hal yang sering kita lupakan. Tidak semua keberhasilan harus berbentuk uang atau pencapaian pribadi. Terkadang, keberhasilan terbesar adalah ketika apa yang kita miliki bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Saat rezeki kita bertambah, ada hak orang lain yang perlu diperhatikan. Saat kita memiliki kemampuan, ada orang yang membutuhkan bantuan. Saat kita memiliki kesempatan, ada saudara yang mungkin sedang menunggu uluran tangan. Karena itu, menerima takdir bukan hanya tentang menerima keadaan diri sendiri. Ia juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Sedekah di Tengah Perjuangan Menariknya, salah satu pesan dalam QS. At-Taghabun ayat 16 yang telah disebutkan sebelumnya adalah perintah untuk menginfakkan harta yang baik. Ini mengingatkan kita bahwa dalam kondisi apa pun, selalu ada ruang untuk berbuat baik. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak. Sebab terkadang, sedekah kecil yang kita keluarkan dengan ikhlas justru menjadi jalan hadirnya kebahagiaan bagi orang lain. Bayangkan jika sebagian rezeki yang kita miliki digunakan untuk membantu keluarga yang kesulitan, mendukung pendidikan anak-anak dhuafa, membantu kebutuhan kesehatan masyarakat kurang mampu, atau menguatkan usaha kecil para penerima manfaat. Bagi kita mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka, bantuan itu bisa berarti kesempatan untuk kembali berdiri. Saat Kita Membantu, Kita Sedang Menanam Harapan Tidak semua orang yang sedang kesulitan membutuhkan belas kasihan. Sebagian dari mereka hanya membutuhkan kesempatan. Kesempatan untuk berobat. Kesempatan untuk belajar. Kesempatan untuk memulai usaha. Kesempatan untuk bangkit dari kondisi yang sulit. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki peran besar.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Mengapa Kita Begitu Mudah Merasa Berhak atas Hal yang Tidak Pernah Kita Usahakan?
Mengapa Kita Begitu Mudah Merasa Berhak atas Hal yang Tidak Pernah Kita Usahakan?
Mengapa Kita Begitu Mudah Merasa Berhak atas Hal yang Tidak Pernah Kita Usahakan? Ada kalanya kita merasa kecewa bukan karena kehilangan sesuatu, melainkan karena merasa seharusnya kita mendapatkannya. Kita ingin dihargai, tetapi jarang belajar menghargai. Kita ingin dipercaya, tetapi belum tentu konsisten menjaga kepercayaan. Kita ingin kehidupan yang lebih baik, tetapi enggan mengubah kebiasaan yang membuat kita tetap berada di tempat yang sama. Tanpa sadar, kita mulai memandang banyak hal seolah-olah dunia memiliki kewajiban untuk memberikannya kepada kita. Pekerjaan yang baik. Kehidupan yang nyaman. Pengakuan. Kesempatan. Hasil. Padahal ada satu pertanyaan yang mungkin tidak nyaman untuk dijawab yaitu apakah kita benar-benar belum mendapatkan kesempatan, atau kita merasa berhak atas sesuatu yang belum pernah kita perjuangkan? Pertanyaan ini tentu bukan berarti setiap orang yang belum berhasil kurang berusaha. Kehidupan tidak sesederhana itu. Ada orang yang bekerja keras tetapi tetap menghadapi keterbatasan, ketimpangan kesempatan, kondisi ekonomi, atau keadaan yang berada di luar kendalinya. Namun, di tengah kenyataan tersebut, ada hal lain yang juga perlu kita akui bahwa memiliki kesempatan tidak selalu berarti kita bersedia mengambil tanggung jawab atas kesempatan itu. Ketika Harapan Berubah Menjadi Rasa Berhak Memiliki harapan adalah hal yang wajar. Kita semua ingin hidup menjadi lebih baik. Masalahnya muncul ketika harapan berubah menjadi entitlement yaitu rasa bahwa kita pantas mendapatkan sesuatu hanya karena kita menginginkannya. Kita ingin dihargai tanpa bertanya apakah kehadiran kita juga memberi nilai bagi orang lain. Kita ingin dipercaya tanpa membangun rekam jejak yang dapat dipercaya. Kita ingin mendapatkan hasil besar, tetapi merasa proses yang panjang adalah sesuatu yang seharusnya tidak perlu kita jalani. Akhirnya, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, kita lebih mudah mencari pihak yang disalahkan. Keadaan salah. Sistem salah. Orang lain salah. Memang, ada situasi ketika sistem benar-benar tidak adil dan kesempatan memang tidak dibagikan secara merata. Hal itu tidak boleh diabaikan. Tetapi kesadaran terhadap ketidakadilan juga tidak boleh membuat kita kehilangan pertanyaan yang lebih pribadi yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan usaha. “Dari hal-hal yang masih berada dalam kendali saya, apa yang sudah benar-benar saya lakukan?” Kesempatan Tidak Sama dengan Hasil Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa ketika seseorang diberi kesempatan, maka hasil seharusnya otomatis mengikuti. Padahal kesempatan hanyalah pintu. Seseorang masih harus memutuskan apakah ia ingin masuk, berjalan, belajar, bertahan, dan terus berkembang. Pendidikan memberikan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan. Namun pengetahuan membutuhkan kesediaan untuk dipelajari. Pelatihan membuka kemungkinan untuk memiliki keterampilan. Namun keterampilan membutuhkan latihan. Bantuan modal dapat membuka ruang untuk memulai usaha. Namun usaha tetap membutuhkan tanggung jawab dalam mengelola, mengambil keputusan, dan menghadapi risiko. Karena itu, keberlanjutan perubahan tidak hanya bergantung pada apa yang diberikan kepada seseorang, tetapi juga pada apa yang dilakukan seseorang terhadap kesempatan yang diberikan kepadanya. Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Harapan dan Ikhtiar Dalam Islam, manusia diajarkan untuk berharap kepada Allah sekaligus berusaha. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra'd: 11) Ayat ini tidak berarti seluruh kesulitan hidup adalah kesalahan orang yang mengalaminya. Tidak pula berarti setiap orang memiliki titik awal dan kesempatan yang sama. Namun ayat ini mengajarkan satu hal penting mengenai perubahan juga membutuhkan keterlibatan manusia. Ada bagian yang dapat dibantu oleh orang lain. Ada dukungan yang dapat diberikan oleh masyarakat. Tetapi selalu ada bagian dari perubahan yang perlu diusahakan oleh diri sendiri. Inilah yang membedakan antara menerima bantuan dengan pasif dan menerima bantuan sebagai kesempatan untuk melangkah lebih jauh. Bantuan Bukan Pengganti Perjuangan Kita perlu berhati-hati ketika berbicara tentang bantuan. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang harus berjuang lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang bagi orang lain terasa biasa. Karena itu, bantuan sosial bukanlah bentuk memanjakan. Dalam banyak situasi, bantuan justru menjadi jembatan agar seseorang dapat kembali memiliki pilihan. Seseorang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mungkin tidak memiliki ruang untuk memikirkan pendidikan atau pengembangan usaha. Seseorang yang tidak memiliki akses modal mungkin memiliki kemampuan, tetapi belum memiliki kesempatan untuk mengembangkannya. Di sinilah bantuan menjadi penting. Namun, jembatan memiliki tujuan yaitu untuk membantu seseorang menyeberang. Bantuan yang bertemu dengan ikhtiar dapat membuka kemungkinan perubahan yang lebih berkelanjutan. Dari Diberi Kesempatan Menjadi Mampu Menciptakan Manfaat Semangat inilah yang dapat kita lihat dalam berbagai upaya pemberdayaan di bidang pendidikan dan ekonomi. Melalui pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS tidak hanya hadir dalam bentuk bantuan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga melalui program-program yang membuka akses terhadap pendidikan, keterampilan, dan pemberdayaan ekonomi. Namun, keberhasilan sebuah kesempatan tidak hanya diukur dari seberapa besar bantuan yang diberikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah "Apa yang terjadi setelah kesempatan itu diterima?" Apakah seseorang menjadi lebih mandiri? Apakah keterampilan berkembang? Apakah usaha memiliki peluang untuk bertahan? Apakah penerima manfaat suatu hari dapat kembali memberikan manfaat kepada orang lain? Di situlah bantuan dan tanggung jawab bertemu. Bukan dalam hubungan yang saling menyalahkan, tetapi dalam kesadaran bahwa perubahan sosial membutuhkan dukungan dari luar dan kemauan dari dalam. Tidak Semua yang Kita Inginkan Harus Menjadi Milik Kita Mungkin kita perlu mulai membedakan antara tiga hal yaitu keinginan, kesempatan, dan hak. Tidak semua yang kita inginkan otomatis menjadi hak kita. Tidak semua kesempatan menjamin hasil. Dan tidak semua hasil dapat diperoleh tanpa proses. Kesadaran ini bukan untuk membuat kita berhenti berharap. Justru sebaliknya, ia membuat kita lebih dewasa dalam memperjuangkan apa yang kita harapkan. Mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan tentang “mengapa saya belum mendapatkan apa yang saya inginkan?”. Tetapi, tentang “jika kesempatan itu datang hari ini, apakah saya sudah siap bertanggung jawab atas apa yang saya terima?” Sebab kehidupan yang lebih baik memang membutuhkan kesempatan. Tetapi kesempatan akan kehilangan maknanya jika kita hanya menunggu hasil tanpa bersedia mengambil bagian dalam prosesnya. Dan barangkali, bentuk kedewasaan yang paling sulit bukan ketika kita berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan, melainkan ketika kita berhenti merasa dunia berutang kepada kita, lalu mulai bertanya tentang “dengan kesempatan yang sudah saya miliki, apa yang bisa saya usahakan, dan suatu hari, bagaimana saya dapat mengubah kesempatan itu menjadi manfaat bagi orang lain?”
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Zakat Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Investasi Akhirat yang Nyata
Zakat Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Investasi Akhirat yang Nyata
Zakat Bukan Sekadar Kewajiban, Tapi Investasi Akhirat yang Nyata Zakat: Kewajiban yang Menghadirkan Keberkahan Ketika mendengar kata zakat, sebagian orang mungkin langsung memahaminya sebagai kewajiban bagi umat Islam yang telah memenuhi syarat. Namun, zakat memiliki makna yang jauh lebih luas. Zakat adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kepedulian nyata kepada mereka yang membutuhkan. Melalui zakat, seorang muslim tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga mengambil bagian dalam menciptakan kehidupan sosial yang lebih baik. Zakat menjadi salah satu cara untuk membantu saudara-saudara yang sedang menghadapi kesulitan, memenuhi kebutuhan dasar, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih layak. Menunaikan zakat bukan berarti sekadar mengeluarkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat nilai keikhlasan, kepedulian, dan harapan akan keberkahan. Karena itu, zakat sebagai investasi akhirat menjadi sebuah gambaran bahwa harta yang diberikan di jalan Allah tidak benar-benar hilang, melainkan menjadi bekal kebaikan untuk kehidupan yang kekal. Setiap harta yang disalurkan dengan niat karena Allah dapat menjadi amal yang bernilai di sisi-Nya. Di sisi lain, zakat juga mengajarkan bahwa keberhasilan dan rezeki yang kita miliki tidak hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan. Lebih dari sekadar kewajiban, zakat dapat menjadi bentuk nyata rasa syukur atas rezeki yang telah Allah SWT berikan. Ketika seseorang menyisihkan sebagian hartanya untuk zakat, ia menunjukkan bahwa dirinya tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi, tetapi juga peduli terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya. Zakat dapat menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kemampuan dan mereka yang membutuhkan bantuan. Dari sinilah tercipta semangat saling membantu, memperkuat persaudaraan, dan membangun kepedulian sosial yang berkelanjutan. Pada akhirnya, zakat mengajarkan kita bahwa nilai sebuah harta bukan hanya dilihat dari jumlah yang dimiliki, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan. Harta yang digunakan untuk membantu sesama dapat menjadi sumber keberkahan dan investasi kebaikan yang pahalanya diharapkan menjadi bekal di akhirat. Karena itu, menunaikan zakat dengan ikhlas bukanlah sebuah kehilangan, melainkan kesempatan untuk menanam kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang ditanam hari ini, semakin besar pula harapan akan kebermanfaatannya bagi kehidupan dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoakanlah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa Zakat memiliki fungsi untuk menyucikan harta sekaligus membersihkan jiwa dari sifat kikir dan terlalu mencintai dunia. Ketika sebagian harta diberikan kepada orang yang berhak menerimanya, seorang muslim belajar bahwa apa yang dimiliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Dengan zakat, harta menjadi lebih bermakna karena tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Mengapa Zakat Disebut Investasi Akhirat? Pahalanya Menjadi Bekal yang Tak Ternilai Dalam kehidupan dunia, investasi biasanya dilakukan untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Begitu pula dengan amal kebaikan. Zakat merupakan salah satu bentuk investasi yang hasilnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukanlah tindakan yang membuat seseorang menjadi lebih miskin. Justru, sedekah dan zakat menjadi jalan untuk memperoleh keberkahan dari Allah SWT. Membantu Mengubah Kehidupan Sesama Zakat juga memiliki dampak sosial yang nyata. Dana zakat dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan, mendukung pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga membantu mereka yang terdampak bencana. Artinya, satu keputusan untuk menunaikan zakat dapat menghadirkan perubahan bagi kehidupan orang lain. Harta yang kita keluarkan mungkin terlihat kecil, tetapi bagi penerima manfaat, bantuan tersebut dapat menjadi harapan baru. Saatnya Menjadikan Zakat sebagai Amal Nyata Jangan Menunggu Harta Berlebih untuk Berbagi Berbagi bukan hanya tentang seberapa besar jumlah yang diberikan, tetapi tentang keikhlasan dan kesadaran untuk menunaikan hak orang lain dalam harta kita. Jika telah memenuhi ketentuan wajib zakat, jangan menunda menunaikannya. Zakat yang ditunaikan dengan ikhlas dapat menjadi bentuk syukur atas rezeki yang Allah SWT berikan sekaligus menjadi jalan untuk membantu mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Setiap zakat yang disalurkan dengan amanah memiliki potensi menghadirkan manfaat yang lebih luas, mulai dari membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membuka peluang bagi penerima untuk memperbaiki kehidupannya secara bertahap. Bayangkan jika zakat dari banyak orang dikumpulkan dan dikelola dengan amanah. Lebih banyak keluarga dapat terbantu, lebih banyak anak memperoleh kesempatan belajar, dan lebih banyak masyarakat memiliki peluang untuk bangkit dari kesulitan ekonomi. Dampaknya tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi dapat menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera. Ketika zakat dikelola secara tepat sasaran, satu kebaikan dari seorang muzaki dapat menjadi bagian dari perubahan yang dirasakan oleh banyak penerima manfaat. Inilah kekuatan zakat: mengubah sebagian harta yang kita keluarkan menjadi harapan, kesempatan, dan kebermanfaatan yang nyata bagi sesama. Satu Zakat, Banyak Harapan Kini, saatnya menjadikan zakat bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai investasi akhirat yang nyata. Salurkan zakat melalui lembaga terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola secara tepat dan diberikan kepada mereka yang berhak. Mari tunaikan zakat hari ini. Karena harta yang kita sisihkan untuk kebaikan bukan sekadar berkurang, tetapi dapat berubah menjadi keberkahan, senyum, harapan, dan pahala yang terus menjadi bekal menuju akhirat. Jangan biarkan kesempatan berbagi berlalu. Tunaikan zakat, hadirkan manfaat, dan jadikan sebagian harta kita sebagai jalan kebaikan untuk sesama.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan
Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan
Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan Tidak semua keinginan untuk mengendalikan orang lain dimulai dari kekuasaan. Kadang, ia dimulai dari sesuatu yang jauh lebih dekat yaitu ego yang tidak pernah belajar dikendalikan. Seseorang merasa pendapatnya harus selalu didengar. Ketika dikritik, ia menganggapnya sebagai serangan. Ketika orang lain mengambil keputusan sendiri, ia merasa tidak dihargai. Ketika keinginannya tidak terpenuhi, ia marah atau membuat orang lain merasa bersalah. Tanpa sadar, hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar kasih sayang berubah menjadi ruang untuk mengendalikan. Dalam keluarga, seorang ayah dapat merasa bahwa kepemimpinannya berarti semua orang harus tunduk pada keinginannya. Dalam hubungan, seseorang dapat menganggap cinta sebagai hak untuk mengatur kehidupan pasangannya. Dalam pekerjaan, jabatan dapat digunakan untuk merendahkan, bukan membimbing. Di titik itulah kita perlu berhenti sejenak, dan bertanya tentang "Apakah kita sedang memimpin, atau hanya sedang berusaha memastikan bahwa segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan kita?" Ego yang Merasa Selalu Benar Ego tidak selalu tampil dalam bentuk kesombongan yang mudah dikenali. Ia tidak selalu berbicara dengan suara keras atau menunjukkan diri sebagai orang yang paling hebat. Kadang, ego hadir dalam bentuk yang lebih halus melalui ketidakmampuan untuk menerima bahwa kita bisa salah. Setiap kritik dianggap penghinaan. Setiap nasihat dianggap campur tangan. Setiap perbedaan pendapat dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Ketika seseorang selalu merasa dirinya benar, ia perlahan berhenti mendengarkan. Dan ketika ia berhenti mendengarkan, orang lain tidak lagi dipandang sebagai manusia yang memiliki pikiran dan perasaan, melainkan hanya sebagai pihak yang harus menyetujui dirinya. Inilah salah satu bahaya ego yang tidak dikendalikan bahwa ia tidak hanya membuat seseorang sulit berubah, tetapi juga dapat membuatnya merasa berhak mengatur kehidupan orang lain. Padahal kemampuan untuk mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan. Justru dibutuhkan keberanian untuk mengatakan “Mungkin saya salah. Mungkin saya perlu belajar.” Ketika Pengakuan Berubah Menjadi Kebutuhan Setiap manusia tentu ingin dihargai. Kita ingin didengar, dipercaya, dan dianggap berarti. Itu adalah kebutuhan yang wajar. Namun masalah muncul ketika penghargaan berubah menjadi kebutuhan untuk selalu menjadi pusat. Kita ingin pendapat kita yang paling didengar. Pengorbanan kita yang paling diingat. Keberadaan kita yang selalu diutamakan. Akibatnya, kita mulai mengukur hubungan berdasarkan satu pertanyaan yaitu “Apa yang saya dapatkan dari orang lain?” Ketika orang lain tidak memberikan pengakuan yang kita harapkan, kita merasa kecewa. Ketika mereka memiliki pilihan sendiri, kita merasa ditinggalkan. Ketika mereka tidak mengikuti keinginan kita, kita merasa kehilangan kendali. Padahal hubungan yang sehat tidak dibangun agar satu orang menjadi pusat dari kehidupan semua orang. Setiap manusia memiliki kehendak, batas, perasaan, dan tanggung jawab atas hidupnya sendiri. Mencintai tidak selalu berarti menguasai. Memimpin tidak selalu berarti menentukan semuanya. Dan dihormati tidak berarti semua orang harus selalu setuju. Ketika Kepemimpinan Berubah Menjadi Dominasi Di sinilah kita perlu memahami kembali makna kepemimpinan. Memiliki posisi sebagai orang tua, suami, kakak, atasan, atau pemimpin tidak otomatis memberikan hak untuk memperlakukan orang lain sesuka hati. Kekuasaan dapat membuat seseorang mampu mengendalikan orang lain. Tetapi kemampuan untuk mengendalikan bukanlah bukti bahwa seseorang layak memimpin. Dalam Islam, kepemimpinan berkaitan dengan tanggung jawab. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini mengubah cara kita memandang kekuasaan. Menjadi pemimpin bukan berarti memiliki orang lain. Menjadi pemimpin berarti memiliki tanggung jawab terhadap mereka. Ada perbedaan besar antara seseorang yang berkata, “Mereka harus mengikuti saya,” dengan seseorang yang bertanya, “Apa yang menjadi tanggung jawab saya terhadap mereka?” Yang pertama berpusat pada kekuasaan. Yang kedua berpusat pada amanah. Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Kepemilikan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisa: 58) Ayat ini mengingatkan bahwa amanah selalu berkaitan dengan keadilan. Apa pun yang berada dalam posisi kita seperti jabatan, harta, pengaruh, bahkan kepercayaan dari keluarga, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebab sesuatu yang dititipkan kepada kita bukan berarti sepenuhnya menjadi milik kita untuk digunakan sesuka hati. Ketika seorang manusia lupa bahwa kekuasaan adalah amanah, ia mulai merasa dirinya sebagai pusat. Ia ingin didengar, tetapi tidak mendengar. Ia ingin dihormati, tetapi tidak menghormati. Ia ingin ditaati, tetapi tidak merasa perlu memahami. Di situlah kepemimpinan berubah menjadi dominasi. Mengendalikan Diri Lebih Sulit daripada Mengendalikan Orang Lain Mungkin kita terlalu sering melihat kekuatan dari kemampuan seseorang menguasai keadaan. Padahal Rasulullah SAW memberikan ukuran yang berbeda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Kekuatan sejati tidak selalu terlihat dari seberapa banyak orang yang dapat kita kendalikan. Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika kita mampu menahan keinginan untuk selalu benar, selalu menang, dan selalu menjadi pusat. Muhasabah kemudian menjadi penting. Sebelum bertanya mengapa orang lain sulit memahami kita, mungkin kita perlu bertanya, "Apakah saya sudah berusaha memahami mereka?" Sebelum menuntut penghargaan, apakah kita sudah menghargai? Sebelum meminta orang lain berubah, apakah kita sendiri bersedia berubah? Keluar dari Pusat Diri dan Mulai Menjadi Manfaat Salah satu cara untuk melatih diri agar tidak terus hidup dalam pusat ego adalah belajar melihat kehidupan di luar diri kita sendiri. Bahwa ada kebutuhan yang tidak kita alami. Ada kesulitan yang tidak kita rasakan. Ada orang-orang yang membutuhkan dukungan tanpa pernah kita kenal secara pribadi. Di sinilah kepedulian sosial memiliki makna yang lebih dalam. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar aktivitas memindahkan sebagian harta dari satu tangan ke tangan lain. Ia juga dapat menjadi latihan untuk mengingatkan diri bahwa apa yang kita miliki tidak seharusnya hanya berputar di sekitar diri kita sendiri. Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengubah kepedulian menjadi manfaat yang lebih luas. Pada akhirnya, melawan ego bukan berarti kita harus menghilangkan harga diri. Melainkan belajar memahami bahwa harga diri tidak perlu dibangun dengan merendahkan, mengendalikan, atau menjadikan orang lain sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita. Sebab mungkin bentuk kepemimpinan yang paling sulit bukanlah memimpin banyak orang. Melainkan memimpin diri sendiri, sebelum mencoba mengendalikan kehidupan orang lain.
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Takut Ketinggalan Sukses? Mungkin Kita Perlu Berhenti Membandingkan Takdir
Takut Ketinggalan Sukses? Mungkin Kita Perlu Berhenti Membandingkan Takdir
Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman sudah punya rumah, karier semakin bagus, bisnisnya berkembang, atau kehidupan orang lain terlihat jauh lebih bahagia? Di era media sosial, perasaan seperti itu semakin mudah muncul. Kita melihat pencapaian orang lain hanya dalam beberapa detik, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan hidup sendiri. Mereka sudah sampai di suatu tempat, sementara kita merasa masih berjalan di tempat. Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup, waktu, ujian, dan rezeki yang berbeda. Bisa jadi, yang selama ini membuat kita lelah bukan karena hidup kita terlalu berat, tetapi karena kita terus-menerus membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain. Setiap Orang Memiliki Waktu Sukses yang Berbeda Kita sering menganggap sukses memiliki jadwal yang sama. Lulus di usia tertentu. Mendapat pekerjaan di usia tertentu. Menikah di usia tertentu. Membeli rumah, memiliki kendaraan, membangun bisnis, atau mencapai target finansial sebelum usia tertentu. Ketika semua itu belum tercapai, muncul pertanyaan: "Kenapa aku belum seperti mereka?" "Apa aku gagal?" "Kenapa rezekiku belum sebesar orang lain?" Padahal, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa perjalanan hidup setiap manusia akan memiliki garis waktu yang sama. Ada orang yang mendapatkan keberhasilan di usia muda. Ada yang harus melewati kegagalan berkali-kali sebelum menemukan jalannya. Ada yang rezekinya datang melalui pekerjaan. Ada pula yang melalui usaha kecil, keluarga, kesehatan, kesempatan, atau kebaikan yang tidak pernah ia sangka. Karena itu, jangan buru-buru menyebut diri sendiri tertinggal hanya karena melihat orang lain lebih dahulu sampai. Sukses Bukan Perlombaan Melawan Orang Lain Kehidupan bukan perlombaan siapa yang paling cepat. Jika kita terus mengukur diri dengan pencapaian orang lain, sebanyak apa pun yang kita miliki akan terasa kurang. Hari ini memiliki pekerjaan, tetapi iri melihat orang yang punya bisnis. Sudah memiliki bisnis, tetapi merasa tertinggal melihat orang lain memiliki omzet lebih besar. Sudah memiliki keluarga, tetapi masih membandingkan rumah tangga sendiri dengan kehidupan orang lain. Inilah jebakan perbandingan. Kita lupa melihat apa yang sudah Allah berikan karena terlalu sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain. Al-Qur'an Mengajarkan Kita untuk Tidak Terlalu Larut pada Apa yang Luput Allah memberikan pengingat yang sangat kuat dalam Surah Al-Hadid ayat 23: "Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al-Hadid: 23) Ayat ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau merasa bahagia ketika mendapatkan keberhasilan. Justru, ayat ini mengajarkan keseimbangan. Ketika sesuatu belum menjadi milik kita, jangan sampai kesedihan membuat kita kehilangan harapan. Sebaliknya, ketika mendapatkan keberhasilan, jangan sampai keberhasilan membuat kita sombong dan merendahkan orang lain. Yang Luput Belum Tentu Buruk untuk Kita Ada kalanya kita sangat menginginkan sesuatu. Kita sudah berusaha, berdoa, bahkan berharap berkali-kali. Namun, ternyata sesuatu itu tidak terjadi. Pekerjaan yang diinginkan tidak didapatkan. Bisnis yang direncanakan belum berhasil. Kesempatan yang dinantikan justru diberikan kepada orang lain. Pada titik itu, kita mungkin merasa Allah sedang memperlambat langkah kita. Padahal, kita tidak pernah mengetahui seluruh alasan di balik sebuah takdir. Apa yang menurut kita terlambat, bisa jadi sedang dipersiapkan. Apa yang kita anggap kegagalan, bisa jadi sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik. Apa yang terlihat sebagai kehilangan, mungkin justru menjadi perlindungan. Rasulullah SAW Mengajarkan Cara Menghadapi Takdir Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim tetap berusaha, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak terus-menerus tenggelam dalam penyesalan atas sesuatu yang telah terjadi. Beliau bersabda: "Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah." Dalam lanjutan hadis tersebut, Rasulullah ? mengajarkan ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi agar kita tidak larut dalam kalimat "seandainya aku melakukan ini dan itu...", tetapi mengatakan: "Qadarullah wa ma sya'a fa'ala" — "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan."(HR. Muslim no. 2664) Pesannya sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Berusaha, tetapi jangan menyembah hasil. Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan menjadi satu-satunya ukuran harga diri. Berhenti Membandingkan Takdir, Mulailah Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri Mungkin sudah waktunya mengganti pertanyaan. Bukan lagi: "Kenapa dia lebih sukses dariku?" Tetapi: "Apa yang bisa aku perbaiki dari diriku hari ini?" Bukan: "Kenapa rezekinya lebih besar?" Tetapi: "Apa yang sudah kulakukan dengan rezeki yang Allah berikan kepadaku?" Bukan: "Kapan aku seperti dia?" Tetapi: "Apa langkah kecil yang bisa kulakukan hari ini?" Fokus pada Proses yang Bisa Kita Kendalikan Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita. Kita tidak bisa mengatur kapan orang lain sukses. Kita tidak bisa menentukan berapa besar rezeki orang lain. Kita tidak bisa mengatur bagaimana perjalanan hidup seseorang. Namun, kita bisa mengatur usaha kita. Kita bisa memperbaiki keterampilan. Kita bisa belajar. Kita bisa bekerja dengan lebih jujur. Kita bisa memperbaiki ibadah. Kita bisa memperbanyak doa. Kita bisa berbagi kepada sesama. Dan kita bisa terus menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin. Itulah bentuk perjuangan yang jauh lebih sehat. Jangan Sampai Mengejar Dunia Membuat Kita Lupa Berbagi Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk mengejar kesuksesan: rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan. Allah memberikan rezeki kepada manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Ada yang diberi kelapangan, ada yang diberi kecukupan, dan ada pula yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, ketika Allah memberikan kelebihan, jangan hanya bertanya: "Apa yang bisa aku beli?" Cobalah bertanya: "Siapa yang bisa aku bantu?" Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang sangat dalam. Sedekah Bisa Menjadi Cara Mengubah Perspektif tentang Rezeki Ketika kita berbagi, kita belajar bahwa rezeki bukan hanya tentang jumlah yang masuk ke rekening. Rezeki juga tentang kebermanfaatan. Mungkin sebagian dari kita merasa belum memiliki banyak. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, sedikit yang kita berikan bisa menjadi sangat berarti.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
3 Racun Berbahaya yang Menggerogoti Keberkahan Hidupmu
3 Racun Berbahaya yang Menggerogoti Keberkahan Hidupmu
3 Racun Berbahaya yang Menggerogoti Keberkahan Hidupmu Hidup yang terlihat berkecukupan belum tentu menghadirkan ketenangan. Ada kalanya seseorang memiliki harta, pekerjaan, dan berbagai fasilitas, tetapi tetap merasa kosong, gelisah, atau sulit merasakan syukur. Dalam Islam, keberkahan bukan hanya tentang banyaknya harta, melainkan tentang bagaimana harta diperoleh, digunakan, dan memberi manfaat bagi kehidupan. Tanpa disadari, ada beberapa “racun” yang dapat menggerogoti keberkahan hidup. Racun ini bukan sesuatu yang terlihat secara fisik, tetapi berupa sikap dan kebiasaan yang membuat hati semakin jauh dari Allah SWT. Salah satu cara menjaga keberkahan adalah menunaikan zakat dan membiasakan diri berbagi kepada sesama. 1. Tamak dan Terlalu Mencintai Harta Ketika Harta Menjadi Tujuan Utama Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Islam justru mengajarkan umatnya untuk bekerja dan mencari rezeki yang halal. Namun, masalah muncul ketika harta menjadi tujuan utama hingga seseorang lupa bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan Allah SWT. Keinginan untuk terus memiliki lebih banyak dapat membuat seseorang sulit berbagi. Ia takut hartanya berkurang ketika mengeluarkan zakat, membantu fakir miskin, atau bersedekah. Padahal, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim 2588) Hadis ini menjadi pengingat bahwa berbagi bukan kerugian. Ketika sebagian harta diberikan dengan ikhlas, seorang muslim sedang membuka jalan kebaikan dan kebermanfaatan. 2. Lalai dari Zakat dan Hak Orang Lain Ada Hak Mereka dalam Harta Kita Racun kedua adalah mengabaikan kewajiban zakat. Ketika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, menundanya berarti menunda hak orang yang berhak menerima. Zakat bukan sekadar pengeluaran, tetapi bentuk ketaatan sekaligus kepedulian sosial. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Zakat membantu membersihkan harta dan jiwa. Ketika dikelola dengan amanah, zakat juga dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar, mendukung pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang membutuhkan. Jangan Menunggu Sampai Terlambat Kesibukan sering menjadi alasan untuk menunda zakat. Padahal, kita tidak pernah tahu kapan kesempatan untuk berbuat baik akan berakhir. Menunaikan zakat tepat waktu adalah langkah sederhana untuk menjaga harta tetap menjadi sarana kebaikan. 3. Terlalu Sibuk Mengejar Dunia Ketika Kesuksesan Membuat Lupa Bersyukur Racun ketiga adalah kesibukan mengejar dunia sampai melupakan tujuan hidup. Bekerja, membangun usaha, dan meningkatkan penghasilan tentu boleh. Namun, semuanya tidak seharusnya membuat kita meninggalkan salat, lupa bersyukur, atau tidak peduli kepada sesama. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Munafiqun ayat 9: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.”(QS. Al-Munafiqun: 9) Ayat ini mengingatkan bahwa kesibukan dunia tidak boleh membuat kita kehilangan hubungan dengan Allah SWT. Pulihkan Keberkahan dengan Berbagi Zakat Menjadi Jalan Kebaikan Jika tamak, lalai, dan terlalu mengejar dunia dapat mengikis keberkahan, maka salah satu jalan untuk memperbaikinya adalah kembali mendekat kepada Allah dan memperbanyak amal nyata. Salah satunya dengan menunaikan zakat dan membantu mereka yang membutuhkan. Zakat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga menjadi sarana untuk melatih hati agar tidak terlalu terikat pada harta. Ketika sebagian rezeki disisihkan untuk mereka yang berhak, kita belajar bahwa setiap nikmat yang dimiliki memiliki tanggung jawab dan manfaat yang seharusnya dirasakan oleh sesama. Bayangkan jika zakat dari banyak orang dikelola secara amanah. Satu zakat dapat membantu keluarga memenuhi kebutuhan pokok, mendukung pendidikan seorang anak, atau membuka peluang ekonomi bagi seseorang untuk bangkit. Dampak tersebut dapat terus berkembang ketika semakin banyak orang mengambil bagian dalam gerakan zakat. Bantuan yang awalnya terlihat sederhana dapat menjadi awal perubahan besar bagi kehidupan penerima manfaat. Dari kebutuhan yang terpenuhi, tumbuh harapan; dari harapan, lahir kesempatan untuk hidup lebih mandiri dan sejahtera. Karena itu, jangan biarkan kesempatan untuk berbagi hanya menjadi niat yang terus ditunda. Ketika harta telah mencapai ketentuan wajib zakat, tunaikanlah dengan ikhlas dan tepat waktu. Setiap rupiah yang disalurkan melalui zakat dapat menjadi bagian dari perjuangan membantu mereka yang membutuhkan sekaligus menjadi amal kebaikan yang kita bawa sebagai bekal menuju akhirat. Mari jadikan harta yang kita miliki sebagai jalan kebermanfaatan. Dengan menunaikan zakat melalui pengelolaan yang amanah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga belajar melepaskan ketamakan, memperkuat rasa syukur, dan menjaga hati agar tetap dekat dengan Allah SWT. Saatnya mengubah sebagian rezeki menjadi harapan dan menghadirkan keberkahan yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Saatnya Mengubah Harta Menjadi Manfaat Jangan biarkan harta hanya berhenti sebagai angka di rekening. Jadikan sebagian rezeki sebagai jalan menghadirkan harapan bagi sesama. Salurkan zakat melalui lembaga terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola secara tepat sasaran dan menjangkau mereka yang membutuhkan. Hari ini, mari bersihkan hati dari ketamakan, tunaikan kewajiban zakat, dan gunakan harta sebagai sarana mendekat kepada Allah. Karena keberkahan bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa besar kebaikan yang lahir dari apa yang kita miliki setiap hari.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Sepiring Nasi dari Zakatmu Bisa Jadi Penyelamat Nyawa Hari Ini
Sepiring Nasi dari Zakatmu Bisa Jadi Penyelamat Nyawa Hari Ini
Sepiring Nasi dari Zakatmu Bisa Jadi Penyelamat Nyawa Hari Ini Pernahkah kita membayangkan bahwa zakat yang kita keluarkan bisa berubah menjadi sepiring nasi bagi seseorang yang sedang kelaparan? Bagi kita, nominal zakat mungkin hanya sebagian dari harta yang dimiliki. Namun, bagi keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan tersebut bisa menjadi pertolongan yang sangat berarti. Di tengah kehidupan yang tidak selalu mudah, masih ada saudara-saudara kita yang harus berjuang mendapatkan makanan layak. Karena itu, zakat bukan sekadar kewajiban ibadah, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan. Zakat Bukan Hanya Tentang Memberi Zakat merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki dimensi sosial. Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, sebagian hartanya disalurkan kepada golongan yang berhak menerimanya. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 60) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki tujuan sosial yang sangat kuat. Salah satunya adalah membantu mereka yang berada dalam kondisi fakir dan miskin. Ketika Zakat Menjadi Makanan Zakat yang dikelola dan disalurkan secara tepat dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan. Salah satu manfaat yang paling nyata adalah pemenuhan kebutuhan pangan. Sepiring nasi mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seseorang yang belum makan, makanan tersebut sangat berarti. Bantuan pangan dapat membantu keluarga melewati hari dengan lebih tenang sekaligus memberikan energi untuk kembali bekerja, belajar, dan menjalani aktivitas. Kebaikan yang Kita Keluarkan Bisa Berlipat Islam mengajarkan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak akan sia-sia. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai; pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Jangan Merasa Pemberian Kita Terlalu Kecil Sering kali seseorang mengurungkan niat berbagi karena merasa jumlah yang dimiliki belum banyak. Padahal, kebaikan tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal, melainkan dari keikhlasan dan manfaat yang dihasilkan. Zakat yang ditunaikan sesuai ketentuan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu menghadirkan makanan, menjaga keberlangsungan hidup keluarga, serta membuka kesempatan bagi penerima manfaat untuk bangkit. Rasulullah SAW Mengajarkan Kepedulian Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.” (HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan kita bahwa meringankan kesulitan orang lain merupakan amal yang memiliki keutamaan besar. Saatnya Zakat Kita Menjadi Manfaat Nyata Bayangkan jika zakat dari banyak orang dikumpulkan dan dikelola dengan amanah. Ada lebih banyak keluarga yang bisa dibantu, lebih banyak makanan yang dapat disalurkan, dan lebih banyak saudara kita yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit. Jangan Biarkan Zakat Hanya Menjadi Angka Di balik setiap nominal zakat, ada potensi manfaat yang nyata. Zakat kita bisa menjadi makanan untuk hari ini, dukungan pendidikan untuk masa depan, bantuan kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi. Mari tunaikan zakat melalui lembaga amil yang terpercaya agar penyalurannya dapat dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan dampak yang lebih luas. Sepiring Nasi, Sebuah Harapan Kita mungkin tidak pernah tahu siapa yang akan menerima manfaat dari zakat kita. Namun, kita bisa memilih untuk menjadi bagian dari kebaikan tersebut. Tunaikan zakatmu hari ini. Karena sesuatu yang terlihat sederhana bagi kita bisa menjadi pertolongan yang sangat berarti bagi mereka yang sedang membutuhkan. Satu zakat dapat menghadirkan banyak manfaat. Satu kepedulian dapat menumbuhkan harapan. Dan sepiring nasi dari zakatmu hari ini, bisa menjadi alasan seseorang kembali kuat menghadapi hari esok.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →