WhatsApp Icon
Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap

Menelan Air Ludah Saat Puasa sering membuat ragu. Simak fakta penting, hukum menurut ulama, syarat sah puasa, dan penjelasan lengkapnya di sini.

Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap

Menelan Air Ludah Saat Puasa sering kali menjadi pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, terutama saat bulan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang merasa ragu dan khawatir puasanya batal hanya karena menelan ludahnya sendiri. Bahkan, ada yang memilih membuang ludah berulang kali saat berpuasa karena takut melanggar aturan puasa. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum menelan air ludah saat berpuasa menurut Islam?

Puasa memang dapat batal apabila seseorang dengan sengaja memasukkan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui rongga tertentu. Namun, air ludah atau air liur merupakan sesuatu yang secara alami diproduksi oleh tubuh dan sangat sulit dihindari. Oleh karena itu, para ulama memberikan penjelasan khusus terkait hukum menelan air ludah saat puasa.

Hukum Menelan Air Ludah Saat Puasa Menurut Ulama

[caption id="attachment_2634" align="alignnone" width="398"]add media BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Dalam buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa” karya Ahmad Mundzir, seorang pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang, dijelaskan bahwa para ulama sepakat menelan air ludah tidak membatalkan puasa. Kesepakatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa air liur merupakan bagian alami dari tubuh manusia dan sulit untuk dihindari keberadaannya.

Penjelasan ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341). Beliau menyatakan:

“Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.”

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah.

Syarat Menelan Air Ludah Agar Tidak Membatalkan Puasa

Meski menelan air ludah saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa, para ulama memberikan beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap sah.

  1. Air Ludah Tidak Tercampur Zat Lain: Air ludah yang ditelan harus murni, tidak tercampur dengan zat lain seperti darah akibat luka gusi, sisa makanan, atau minuman. Jika air ludah bercampur dengan zat lain lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut berpotensi membatalkan puasa.
  2. Air Ludah Tidak Keluar Melewati Bibir: Air ludah yang masih berada di dalam rongga mulut dan belum melewati batas bibir luar boleh ditelan dan tidak membatalkan puasa. Namun, jika air ludah sudah keluar dari mulut lalu dikumpulkan kembali dan ditelan dengan sengaja, sebagian ulama berpendapat hal ini dapat membatalkan puasa.
  3. Tidak Sengaja Menampung Ludah Berlebihan: Jika seseorang dengan sengaja menampung air ludah dalam jumlah banyak lalu menelannya, terdapat perbedaan pendapat ulama. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa selama perbuatan tersebut tidak disengaja dan tidak ada unsur rekayasa, maka puasanya tetap sah.

Dengan memenuhi ketiga syarat tersebut, menelan air ludah saat puasa tidak perlu dikhawatirkan dan puasa tetap dianggap sah.

Mengapa Tidak Perlu Berlebihan Membuang Ludah?

Membuang ludah secara berlebihan justru dapat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah puasa. Islam mengajarkan keseimbangan dan kemudahan dalam beribadah. Selama tidak ada unsur kesengajaan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, puasa tetap sah dan bernilai ibadah.

Menyempurnakan Puasa dengan Sedekah

Selain menjaga sah atau tidaknya puasa, umat Islam dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan dengan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya bersedekah. Sedekah dapat melipatgandakan pahala puasa dan membantu sesama yang membutuhkan.

Bersedekah kini semakin mudah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara online. Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang mengelola dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), BAZNAS Provinsi Jawa Barat telah dipercaya masyarakat luas.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib diketahui setiap Muslim. Simak penjelasan lengkap 8 perkara pembatal puasa beserta dalil Al-Qur’an dan hadits.

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim

[caption id="attachment_2640" align="alignnone" width="430"]8 Ha Pembatal Puasa BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa

merupakan pengetahuan penting yang wajib dipahami setiap Muslim agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan sempurna. Puasa adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk ke dalam rukun Islam. Hukumnya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Puasa yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah baligh dan berakal adalah puasa Ramadhan.

Puasa Ramadhan dilaksanakan selama 29 atau 30 hari pada bulan Ramadhan dan perintahnya disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, memahami hal-hal yang membatalkan puasa menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia.

Foto

Berikut ini 8 hal yang membatalkan puasa seseorang menurut Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama.

1. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Tubuh dengan Sengaja

Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa yang paling jelas. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 187:

“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.”

Namun, jika seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah dan boleh dilanjutkan.

2. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Kubul atau Dubur

Memasukkan sesuatu melalui kubul atau dubur, meskipun untuk pengobatan, dapat membatalkan puasa. Contohnya seperti pemasangan kateter urin, obat ambeien, atau cairan tertentu yang masuk ke dalam tubuh dan dianalogikan sebagai makan atau minum oleh sebagian ulama.

3. Muntah dengan Sengaja

Muntah yang disengaja membatalkan puasa. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya mengqadha puasanya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya.”
(HR. Abu Daud)

Jika muntah terjadi tanpa disengaja, maka puasa tetap sah.

4. Melakukan Hubungan Suami Istri

Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan termasuk pembatal puasa yang paling berat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan bahwa hubungan suami istri hanya dihalalkan pada malam hari di bulan puasa.

Bagi yang melanggarnya, wajib menunaikan kafarat berat, yaitu:

  • Memerdekakan budak mukmin

  • Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut

  • Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 fakir miskin

5. Keluar Air Mani dengan Sengaja

Keluar air mani dengan sengaja, baik melalui onani atau bercumbu tanpa jima’, membatalkan puasa dan wajib mengqadha tanpa kafarat. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari:

“Ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena-Ku.”

Namun, jika mani keluar tanpa disengaja seperti mimpi basah, maka tidak membatalkan puasa.

6. Haid dan Nifas

Wanita yang mengalami haid atau nifas saat berpuasa, meskipun menjelang waktu berbuka, puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Rasulullah SAW bersabda:

“Bukankah jika wanita haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari)

7. Gila atau Hilang Akal

Salah satu syarat wajib puasa adalah berakal sehat. Jika seseorang mengalami gila atau hilang akal, maka puasanya batal karena tidak terpenuhinya syarat sah puasa.

8. Keluar dari Islam (Murtad)

Keluar dari Islam, baik melalui perkataan maupun perbuatan, otomatis membatalkan seluruh ibadah, termasuk puasa. Jika seseorang mengingkari keesaan Allah saat berpuasa, maka puasanya batal.

Kesimpulan

Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib dipahami agar ibadah Ramadhan dijalankan dengan benar sesuai syariat Islam. Dengan memahami pembatal puasa, setiap Muslim dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesucian ibadahnya. Semoga artikel ini dapat membantu Sahabat BAZNAS menjalankan puasa dengan ilmu dan kesadaran yang benar.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Perlu Nggak Sih Kita Jadi Muzakki? Banyak yang Belum Tahu

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya

Puasa Tanpa Sahur sering menjadi pertanyaan umat Muslim. Simak hukum sahur dalam Islam, dalil Al-Qur’an dan hadits, pendapat ulama, serta manfaat sahur.

Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya

Puasa Tanpa Sahur sering menjadi topik yang dipertanyakan oleh umat Islam, terutama ketika seseorang tertidur dan terlewat waktu sahur atau karena kondisi tertentu yang membuatnya tidak sempat makan sahur. Puasa sendiri adalah ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Biasanya, puasa diawali dengan makan sebelum terbit fajar yang dikenal dengan sahur.

Namun, bagaimana hukum puasa tanpa sahur dalam Islam? Apakah sahur merupakan syarat sahnya puasa, ataukah hanya sekadar anjuran? Artikel ini akan mengupas secara lengkap hukum, dalil, pendapat ulama, serta manfaat sahur dalam Islam.

Hukum Sahur dalam Islam

[caption id="attachment_2646" align="alignnone" width="515"]Hukum Sahur Dalam Islam Baznas Kota Sukabumi[/caption]

Banyak umat Muslim bertanya, apakah puasa tanpa sahur diperbolehkan? Dalam Islam, sahur bukanlah syarat sah puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak melaksanakan sahur.

Rasulullah SAW bersabda:

“Makan sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Hadits ini menunjukkan bahwa sahur memiliki keutamaan dan keberkahan, meskipun tidak diwajibkan. Oleh karena itu, puasa tanpa sahur tetap sah, tetapi sangat disayangkan jika seseorang meninggalkan sahur tanpa alasan.

Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam…”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menunjukkan batas waktu makan sebelum puasa dimulai, namun tidak menjadikan sahur sebagai syarat sah puasa.

Puasa Tanpa Sahur Menurut Pendapat Ulama

Para ulama sepakat bahwa puasa tanpa sahur hukumnya boleh, tetapi sahur tetap dianjurkan. Berikut beberapa pendapat ulama dari berbagai mazhab:

Mazhab Syafi’i dan Hambali

Dalam Mazhab Syafi’i dan Hambali, sahur dihukumi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jika seseorang berpuasa tanpa sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keberkahan sahur.

Mazhab Hanafi

Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa tanpa sahur diperbolehkan. Namun, beliau menekankan bahwa sahur membantu meringankan puasa dan menjaga kekuatan fisik selama berpuasa.

Mazhab Maliki

Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sunnah yang mengandung hikmah besar bagi pelaksana puasa.

Pendapat Ulama Kontemporer

Ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa puasa tanpa sahur sah secara hukum, namun sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Manfaat Sahur dalam Puasa

[caption id="attachment_2647" align="alignnone" width="357"]5 Manfaat Sahur Dalam Islam BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Meskipun puasa tanpa sahur diperbolehkan, sahur memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan.

  1. Mendapat Keberkahan: Rasulullah SAW secara khusus menyebut sahur sebagai waktu yang penuh berkah. Keberkahan ini mencakup kekuatan fisik dan kemudahan dalam beribadah.
  2. Menjaga Stamina Selama Puasa: Sahur membantu tubuh memiliki cadangan energi. Tanpa sahur, tubuh lebih cepat lemas dan sulit fokus dalam aktivitas maupun ibadah.
  3. Mengurangi Rasa Lapar dan Haus: Dengan sahur, rasa lapar dan haus dapat ditekan sehingga puasa terasa lebih ringan dan nyaman.
  4. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW: Sahur adalah salah satu bentuk meneladani sunnah Rasulullah SAW. Meskipun puasa tanpa sahur sah, mengikuti sunnah tentu lebih utama.
  5. Membantu Bangun Lebih Awal untuk Ibadah: Sahur membuat seseorang terbiasa bangun sebelum subuh, sehingga bisa dimanfaatkan untuk shalat malam, dzikir, dan doa.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa tanpa sahur hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Namun, sahur merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keberkahan dan manfaat. Dalil dari Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama menunjukkan bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sarana untuk menyempurnakan ibadah puasa.

Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan puasa dengan lebih optimal, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Dengan sahur, puasa akan terasa lebih ringan, ibadah lebih khusyuk, dan keberkahan pun lebih terasa.

Bersedekah mudah melalui:

Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi

No. Pelayanan: 085721333351

Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261)

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran.

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="447"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui

Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hukum Islam, pendapat ulama, serta mitos dan fakta agar tidak salah paham saat berpuasa.

Menangis Membatalkan Puasa? Fakta Penting dan Penjelasan Ulama

Emosi yang diekspresikan ketika sedih umumnya adalah menangis. Namun jika menangis saat puasa apakah akan membatalkan puasa? Karena saat berpuasa kita diharapkan dapat menahan diri dari emosi.  Bahkan saat kecil, sering kita mendengar orang tua berkata kepada anaknya untuk jangan menangis agar puasa tidak batal.

Sebelumnya, kamu tentu tahu beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum disengaja, berhubungan intim dengan sengaja, memasukkan sesuatu ke dalam lubang di tubuh, dan lain sebagainya yang bisa dibaca selengkpanya disini

Jadi, apakah menangis bisa membatalkan puasa, mari simak mitos dan fakta yang perlu diketahui dalam artikel ini

Apakah Menangis Membatalkan Puasa?

[caption id="attachment_2652" align="alignnone" width="443"]Menangis bisa membatalkan puasa BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Dilansir dari laman NU Online, menangis tidak membatalkan puasa sebab bukan termasuk dari memasukkan sesuatu sampai rongga bagian dalam tubuh (jauf). Dari suatu hadits riwayat Muslim diketahui bahwa Abu Bakar As Shiddiq sering menangis ketika sholat atau membaca Alquran. Walaupun  tidak dijelaskan secara detail menangis dapat membuat puasa batal atau tidak, tetapi bukan hal yang mustahil jika beliau pernah menangis saat puasa.

Ketika seseorang menangis, tidak terdapat sesuatu yang masuk ke dalam mata menuju arah tenggorokan. Hal ini ditegaskan dalam kitab Rawdah at Thalibin berikut:

Artinya: "Cabang permasalahan. Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik ditemukan dalam tenggorokannya dari celak tersebut suatu rasa atau tidak. Sebab mata tidak termasuk jauf (bagian dalam) dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan" (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222).

Tetapi, jika air mata dari tangisan seseorang tercampur dengan air liur dan kemudian tertelan ke dalam tenggorokan, hal tersebut dapat membatalkan puasa karena terjadinya penelanan air mata.

Hal tersebut karena menangis tidak termasuk dalam salah satu dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Meski demikian, umat muslim tidak dianjurkan untuk menangis. Ibadah puasa hendaknya dijalankan dengan penuh suka cita, fokus memperbanyak ibadah, dan mengharapkan rida dari Allah Swt.

Sementara itu, ada banyak ulama yang mengatakan bahwa menangis tidak membuat puasa batal kecuali mereka menelan air mata yang jatuh dengan sengaja. Seperti yang disampaikan oleh Husein Ja'far Al Hadar pada suatu konten di Youtube.

“Tidak, nangis nggak membatalkan puasa yang membatalkan puasa itu masuknya makanan dan minuman ke dalam lubang di tubuh kita. Kalau ini kan bukan lobang dan malah keluar air mata. Mungkin orang tua zaman dulu mendidik biar ga cengeng jadi bilangnya jangan nangis nanti batal tapi ga kreatif masa sampai bohong untuk ngajarin anak-anak.”

Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pandangan umum yang menyatakan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru. Secara faktual, menangis tidak akan mengakibatkan pembatalan puasa kecuali jika air mata tersebut sengaja ditelan. Semoga penjelasan ini dapat memberikan jawaban terkait apakah menangis membatalkan puasa

Dalil dan Penjelasan Ulama

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dikenal sering menangis ketika shalat dan membaca Al-Qur’an. Tidak ada keterangan bahwa tangisan beliau membatalkan ibadah puasanya. Hal ini menunjukkan bahwa menangis bukan perkara yang membatalkan puasa.

Imam An-Nawawi dalam kitab Rawdah at-Thalibin menjelaskan:

“Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik terasa di tenggorokan atau tidak. Sebab mata bukan termasuk jauf dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan.”
(Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222)

Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa air mata yang keluar dari mata tidak membatalkan puasa, karena mata bukan jalan masuk menuju rongga dalam tubuh.

Kapan Menangis Bisa Membatalkan Puasa?

Walaupun menangis tidak membatalkan puasa, ada satu kondisi yang perlu diperhatikan. Jika air mata bercampur dengan air liur lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut bisa membatalkan puasa karena ada cairan yang masuk ke tenggorokan dengan kesengajaan.

Namun, hal ini jarang terjadi dan tidak termasuk kondisi umum ketika seseorang menangis secara spontan karena sedih, terharu, atau takut kepada Allah SWT.

Mitos Menangis Saat Puasa

Masih banyak orang yang percaya bahwa menangis saat puasa bisa membatalkan puasa. Mitos ini kemungkinan berasal dari cara orang tua mendidik anak agar lebih kuat dan tidak cengeng.

Pendakwah Husein Ja’far Al-Hadar pernah menjelaskan bahwa menangis tidak membatalkan puasa kecuali jika disertai dengan menelan air mata secara sengaja. Pernyataan ini memperkuat pandangan mayoritas ulama.

Etika Menjaga Emosi Saat Puasa

Meskipun tidak membatalkan puasa, umat Islam tetap dianjurkan untuk menjaga emosi. Puasa adalah sarana melatih kesabaran dan ketenangan jiwa. Menangis karena takut kepada Allah, tersentuh ayat Al-Qur’an, atau penyesalan atas dosa justru bernilai ibadah.

Namun, menangis berlebihan karena emosi negatif sebaiknya dihindari agar puasa dijalani dengan hati lapang dan penuh harapan akan ridha Allah SWT.

Kesimpulan

Jawaban atas pertanyaan apakah menangis membatalkan puasa adalah tidak. Menangis tidak membatalkan puasa selama tidak ada air mata yang sengaja ditelan. Pandangan yang menyebutkan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru dan tidak memiliki dasar fiqih yang kuat.

Dengan memahami hal ini, umat Islam tidak perlu ragu atau khawatir jika menangis saat berpuasa, terutama karena dorongan iman atau perasaan yang tidak disengaja. Semoga penjelasan ini meluruskan pemahaman dan menambah ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa

Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi:

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi
No. Pelayanan: 085721333351

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap

Mimpi Basah Saat Puasa sering menimbulkan pertanyaan. Simak fakta, mitos, hukum Islam, dan penjelasan ilmiah lengkap agar tidak salah paham saat berpuasa.

Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap

[caption id="attachment_2650" align="alignnone" width="438"]Apa Itu Mimpi Basah BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa ilmiah yang terjadi pada setiap laki-laki sebagai tanda kedewasaan. Biasanya mimpi basah terjadi ketika kantung sperma telah penuh dan akhirnya keluar saat sedang tidur karena sudah tidak bisa menampung lagi. Dalam islam, ketika ada seorang laki-laki mengalami mimpi basah maka dia diwajibkan untuk melaksanakan mandi wajib karena ketika mengalami mimpi basah dia dalam keadaan junub (mengeluarkan air mani) menjadikan dia tidak dalam keadaan suci.

Namun terkadang timbul pertanyaan, ketika seorang laki-laki mengalami mimpi basah saat berpuasa apakah puasanya batal? Karena keluarnya air mani merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan puasa. Di artikel ini, akan dibahas semua hal terkait mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah.

Mitos Mimpi Basah

[caption id="attachment_2616" align="alignnone" width="258"]Mitos Mimpi Basah BAZNAS Kota Sukabumi[/caption]

Hal pertama yang akan dibahas terkait mimpi basah adalah mitosnya. Ada beberapa mitos yang muncul ketika berbicara tentang mimpi basah, dan tentu saja mitos-mitos dibawah ini tidak benar adanya karena tidak terbukti secara ilmiah. Beberapa mitos tersebut antara lain:1.Dapat mengurangi produksi spermaMuncul suatu keyakinan pada orang-orang bahwa ketika seorang pria terlalu sering mengalami mimpi basah, maka sperma yang dihasilkan akan semakin berkurang. Ini merupakan anggapan yang salah besar karena mimpi basah merupakan cara testikel untuk mengeluarkan sperma lama, dan menggantinya dengan sperma baru yang lebih sehat. 2. Dapat mengurangi sistem imunAda beberapa orang yang meyakini bahwa mimpi basah dapat membuat sistem imun seseorang menurun sehingga lebih rentan terkena penyakit seperti flu, ataupun penyakit lainnya. Padahal hal ini hanyalah mitos yang tidak pernah terbukti secara ilmiah kebenarannya.3. Membatalkan puasaMitos terakhir yang muncul dari mimpi basah adalah mimpi basah dapat membatalkan puasa. Banyak orang beranggapan seperti itu karena ketika mengalami mimpi basah, seorang pria akan mengeluarkan sperma dari kelamin nya dan keluarnya sperma atau air mani merupakan salah satu hal yang membatalkan puasa. Padahal, ketika seorang pria mengalami mimpi basah saat puasa, puasa yang dilakukannya tetap sah dan dia dapat melanjutkan puasanya karena keluarnya sperma disebabkan mimpi basah merupakan hal yang tidak disengaja, bukan hal yang disengaja sehingga puasa yang dilakukannya tetap sah.Fakta Mimpi BasahSetalah mengetahui mitos mimpi basah, kita juga harus mengetahui apa saja fakta tentang mimpi basah. Karena ternyata, ada beberapa fakta menarik yang perlu dan penting untuk kita ketahui tentang mimpi basah:

1. Mimpi basah tidak selalu terjadi karena mimpi erotis

Menurut penelitian, hanya sebagian kecil atau sekitar empat persen saja mimpi basah yang terjadi karena mimpi erotis. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya mimpi basah selain karena mimpi erotis antara lain karena alat kelamin yang tidak sengaja bergesekan dengan seprai, selimut, atau guling saat tidur sehingga alat kelamin pun terangsang dan menyebabkan keluarnya sperma dari alat kelamin.

2. Mimpi basah bukan tanda penyakit

Terjadinya mimpi basah bukanlah sebuah kelainan atau tanda penyakit, tapi mimpi basah merupakan kondisi normal yang dialami oleh seseorang dan bisa jadi merupakan tanda fungsi seksual yang masih sehat.

3. Tidak membatalkan puasa

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, mimpi basah saat puasa merupakan hal yang tidak membatalkan puasa. Karena mimpi basah merupakan suatu hal yang tidak disengaja sehingga ketika seorang pria mengalami mimpi basah, dia dapat tetap melanjutkan puasanya sampai akhir. Namun, seperti hukum yang berlaku dalam islam, seseorang yang mengalami mimpi basah tetap diwajibkan untuk melakukan mandi wajib untuk mensucikan tubuh mereka walaupun ketika sedang berpuasa sehingga mereka bisa tetap menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, membaca al-quran, dsb.Dilansir dari islam.nu.or.id, Al-Khatib As-Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj menjelaskan, yang artinya:“Dan wajib (menahan diri) dari onani, jika orang puasa melakukannya maka batal puasanya. Hal yang sama jika mani keluar akibat menyentuh, mencium, dan tidur bersamaan (dengan adanya sentuhan). Adapun hanya sebatas berpikir atau melihat dengan gairah maka (hukumnya) serupa dengan mimpi basah, (yaitu tidak membatalkan puasa).”(Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, , jilid I, halaman 630).

Penjelasan Ilmiah

Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa alamiah yang terjadi kepada setiap orang, sehingga ada penjelasan ilmiah dibalik terjadinya mimpi basah. Jadi, mimpi basah terjadi ketika tubuh memproduksi lebih banyak hormon testosteron (hormon yang memproduksi cairan sperma) dan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi dan menampung sperma maka tubuh perlu untuk mengeluarkan nya sehingga terjadilah mimpi basah sebagai salah satu bentuk tubuh untuk mengeluarkan sperma tersebut.Dengan dikeluarkannya sperma yang lama tersebut, maka tubuh akan memproduksi sperma baru yang lebih sehat sebagai pengganti sperma lama yang sudah dikeluarkan.Frekuensi mimpi basah pada masing-masing individu berbeda satu sama lain tergantung pada hormon testosteron yang dimiliki masing-masing individu. Selain itu, frekuensi terjadinya mimpi basah juga bergantung pada usia. Biasanya, pria dengan usia produktif dari rentang usia remaja sampai usia 30-an lebih sering mengalami mimpi basah daripada pria berusia lanjut. Frekuensi terjadinya mimpi basah pada kebanyakan pria tidak bisa ditentukan waktu pastinya, tapi kebanyakan mimpi basah terjadi satu kali setiap 3-5 minggu, mirip dengan siklus menstruasi pada wanita.Sebagai salah satu hal alamiah dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya, maka terjadinya mimpi basah merupakan hal yang wajar dan perlu disyukuri oleh setiap manusia karena dibalik hal tersebut, tersimpan fakta dan manfaat bagi setiap hamba yang mengalami nya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjawab semua hal tentang mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Dan bagi kalian yang mengalami mimpi basah, jangan lupa untuk melaksanakan mandi wajib agar ibadah yang kalian lakukan sah dan tetap dihitung sebagai amal ibadah. Wallahu alam.

Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam

Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi:

BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi
No. Pelayanan: 085721333351

[caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"]rekening baznas baznas kota sukabumi[/caption]

Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:
"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).

15/01/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Jika Hari Ini Terasa Berat, Ingatlah Kamu Pernah Menang Kemarin
Jika Hari Ini Terasa Berat, Ingatlah Kamu Pernah Menang Kemarin
Hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Ada hari-hari ketika dada sesak, kepala penuh, langkah terasa berat, dan hati seolah kehilangan arah. Namun, Islam mengingatkan kita bahwa ujian tidak pernah hadir untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Dan ketika hari ini terasa begitu berat, ingatlah satu hal sederhana: kamu sudah pernah menang kemarin. Setiap manusia pernah melewati masa sulit—dan melewatinya. Itu berarti dalam dirimu ada kekuatan, ada daya juang, dan ada pertolongan Allah yang pernah menyelamatkanmu. Maka hari ini pun tidak berbeda. Allah yang menolongmu kemarin adalah Allah yang sama hari ini dan besok. 1. Kesulitan Adalah Bagian dari Takdir Setiap manusia hidup berdampingan dengan ujian. Ada hari-hari ketika hati penuh beban dan langkah terasa berat. Namun Islam mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan kita menuju kedewasaan iman. Allah menegaskan dalam QS. Al-Insyirah ayat 5–6: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ibnu Katsir menjelaskan bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Artinya, ketika kamu menghadapi kesulitan hari ini, Allah telah menyiapkan kemudahan yang menyertainya. 2. Mengingat Nikmat Allah sebagai Sumber Kekuatan Allah memerintahkan kita untuk mengingat pertolongan-Nya yang telah lalu. Dalam QS. Al-Maidah ayat 7, Allah berfirman: “Dan ingatlah nikmat Allah padamu…” Imam Al-Qurthubi menafsirkan bahwa mengingat nikmat mampu meneguhkan hati. Ketika hari ini berat, ingatlah bahwa kamu pernah melewati masa sulit dan kamu keluar sebagai pemenang. Itu bukan kebetulan—itu tanda bahwa Allah selalu bersamamu. 3. Rasulullah SAW Pun Pernah Mengalami Hari-Hari Berat Perjalanan hidup Rasulullah SAW penuh dengan ujian: ditolak, dihina, disakiti, bahkan diusir. Namun setiap kesulitan selalu diikuti pertolongan Allah. Beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa setelah kesabaran ada kemenangan.” (HR. Tirmidzi) Ibnul Qayyim berkata bahwa siapa yang merenungi perjalanan Rasulullah akan yakin bahwa setiap kesulitan pasti membuka pintu kemudahan baru. Jika Rasulullah mampu melewati badai kehidupan, kamu pun bisa melewati harimu yang berat. 4. Allah Tahu Batas Kemampuanmu Ayat paling menenangkan di QS. Al-Baqarah ayat 286 berbunyi: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” Imam As-Sa’di menjelaskan bahwa ujian tidak pernah diberikan melebihi kapasitas seseorang. Jika hari ini terasa berat, itu berarti kamu mampu—meski kamu belum menyadarinya. 5. Menguatkan Hati dengan Doa dan Tawakal Islam memberikan alat-alat spiritual untuk menenangkan jiwa: dzikir, doa, dan tawakal. Rasulullah SAW mengajarkan doa ketika hati berada di titik terendah: “Ya Allah, rahmat-Mu yang aku harapkan. Jangan Engkau biarkan aku bergantung pada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata…” (HR. Abu Dawud) Doa ini mengingatkan bahwa manusia tidak harus kuat sendirian. Karena pertolongan Allah selalu dekat. 6. Aksi Nyata Saat Hari Terasa Berat Agar pesan ini tidak hanya menjadi motivasi, berikut langkah praktis yang bisa dilakukan: Tulis 3 kemenangan masa lalu yang pernah kamu raih. Beristighfar sambil menarik napas tenang selama 3 menit. Baca QS. Al-Insyirah untuk menenangkan hati. Batasi pikiran negatif dengan menyadari bahwa kamu pernah kuat. Bersedekah, sekecil apa pun, untuk membuka pintu ketenangan. Kesimpulan Jika hari ini terasa berat, ingatlah bahwa kamu pernah mengatasi hari-hari yang jauh lebih sulit. Kamu pernah menang kemarin, dan itu adalah bukti kuat bahwa kamu mampu bangkit lagi hari ini. Ujian bukanlah hukuman, melainkan cara Allah mendidik dan meninggikan derajatmu. Bangkitlah dengan mengingat nikmat-Nya, tenangkan hati dengan doa, dan lembutkan jiwa dengan sedekah. Semoga Allah memberi kemudahan, kelapangan, serta keberkahan dalam setiap langkahmu. Aamiin.
ARTIKEL11/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Menjadi Muslim yang Bijak di Dunia Maya: Bukan Sekadar Viral
Menjadi Muslim yang Bijak di Dunia Maya: Bukan Sekadar Viral
Di era digital, kita hidup dalam dunia yang serba cepat. Informasi beredar hanya dalam hitungan detik, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk berbicara kepada publik tanpa batas. Namun, kebebasan ini sering disalahgunakan demi sensasi dan keinginan untuk viral. Islam mengajarkan bahwa setiap ucapan, tulisan, dan tindakan manusia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, termasuk aktivitas kita di dunia maya. Dunia digital bukan ruang bebas nilai. Ia adalah bagian dari kehidupan yang tercatat oleh malaikat sebagaimana firman Allah: “Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18) Ayat ini mencakup kata lisan maupun tulisan. Setiap komentar, unggahan, dan pesan menggambarkan siapa diri kita sebenarnya. 1. Media Sosial: Antara Pahala dan Dosa Di media sosial, seseorang dapat dengan mudah berbuat baik atau justru terjerumus pada dosa. Salah satu bentuk dosa besar yang sering terjadi adalah menyebarkan berita tanpa tabayyun. Allah memperingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 agar kita memverifikasi kebenaran setiap informasi sebelum membagikannya. Rasulullah ? juga menekankan pentingnya menjaga ucapan: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim) Dalam konteks digital, ini berarti kita harus memastikan setiap unggahan membawa kebaikan, bukan kemudaratan. 2. Bahaya Mengejar Viral Tidak sedikit orang yang berlomba-lomba membuat konten yang mengundang sensasi demi popularitas. Padahal Rasulullah ? mengingatkan bahwa niat adalah dasar diterima atau ditolaknya sebuah amal. “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari) Mengejar viral untuk ketenaran dapat menjerumuskan seseorang pada riya, sebuah penyakit hati yang sangat berbahaya. Lebih buruk lagi, ada yang membuka aib orang lain demi mendapatkan perhatian. Padahal Allah melarang keras ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12 dan Rasulullah ? menjanjikan pahala besar bagi orang yang menutupi aib saudaranya. 3. Etika Muslim Menurut Ulama • Imam Al-Ghazali Beliau menekankan bahwa seluruh anggota tubuh harus dijaga dari perbuatan dosa. Jika diterapkan pada era sekarang, jari dan keyboard pun termasuk yang harus dijaga dari menuliskan keburukan. • Ibn Qayyim Ibn Qayyim menyatakan bahwa setiap ucapan adalah kesaksian hati. Ini berarti unggahan kita mencerminkan akhlak kita. • Syaikh Ibn Utsaimin Beliau menegaskan bahwa menyinggung orang lain melalui tulisan hukumnya sama seperti menyakiti lewat ucapan lisan — keduanya haram. 4. Prinsip Menjadi Muslim Bijak di Dunia Maya 1. Tahan diri sebelum menulis — pikirkan dampaknya. 2. Saring sebelum sharing — verifikasi sebelum menyebarkan informasi. 3. Fokus pada manfaat, bukan popularitas. 4. Tahan emosi saat berdiskusi. 5. Gunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan kebaikan. Kesimpulan Menjadi Muslim yang bijak di dunia maya berarti menjadikan setiap aktivitas digital sebagai cermin akhlak kita. Islam telah mengajarkan bahwa ucapan, tulisan, dan tindakan adalah bagian dari identitas iman. Dengan menahan diri dari konten negatif, berhati-hati sebelum menyebarkan informasi, dan menjaga niat agar tetap bersih, kita sedang membangun jejak amal yang akan kita pertanggungjawabkan kelak.
ARTIKEL11/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Like dan Komentar: Bagaimana Islam Menilai Interaksi Digital?
Like dan Komentar: Bagaimana Islam Menilai Interaksi Digital?
Di era digital, aktivitas jari sering lebih cepat daripada akal dan hati. Satu klik like, satu komentar spontan, atau satu unggahan emosional dapat membentuk persepsi publik, memengaruhi hubungan, bahkan berdampak pada keberkahan hidup. Media sosial memang memperluas ruang komunikasi manusia, namun Islam tetap menjadi kompas moral yang mengatur bagaimana seorang Muslim berinteraksi di dunia maya. Islam tidak memandang like atau komentar sebagai hal kecil. Dalam syariat, segala bentuk tulisan, dukungan, dan interaksi yang berpotensi memengaruhi orang lain tetap termasuk bagian dari ucapan—yang akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, semua aktivitas digital harus mengikuti akhlak Qur’ani dan Sunnah. 1. Segala Ucapan Tercatat, Termasuk di Media Sosial Allah berfirman: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18) Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini mencakup ucapan lisan maupun tulisan. Dalam konteks modern, termasuk komentar, caption, status, hingga like yang bermakna dukungan. Like pada konten buruk dapat menjadi dosa, sementara komentar baik dapat menjadi amal. 2. Like sebagai Dukungan dalam Pandangan Fikih Allah melarang mendukung keburukan: “Jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2) Ulama seperti Syaikh Shalih Al-Munajjid menegaskan bahwa like pada konten maksiat, gosip, atau fitnah termasuk bentuk dukungan. Sebaliknya, like pada konten kebaikan bernilai pahala karena membantu menyebarkan amal saleh. Maka, hukum like bergantung pada isi kontennya. 3. Komentar: Antara Kebaikan dan Dosa Nabi ? bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim) Para ulama menekankan bahwa tulisan termasuk dalam “ucapan”. Komentar dapat menjadi ibadah jika berisi nasihat, motivasi, atau peringatan yang lembut, namun dapat menjadi dosa jika berisi hinaan, sarkasme, provokasi, atau membuka aib. 4. Ghibah dan Fitnah Digital Nabi ? bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.” (HR. Muslim) Di media sosial, ghibah terjadi lewat komentar atau unggahan yang membicarakan kekurangan seseorang. Fitnah lebih berbahaya karena dapat viral dan mencemarkan nama baik seseorang secara luas. Sebagian ulama menyebutnya “dosa jariyah”—yang terus berjalan selama konten itu tersebar. 5. Jejak Digital: Pahala atau Dosa Mengalir Nabi ? bersabda: “Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapat pahala seperti yang melakukannya.” (HR. Muslim) Dan sebaliknya, siapa memulai keburukan akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengikutinya. Media sosial membuat jejak digital menjadi sangat berdampak: satu komentar buruk dapat memicu ribuan kemudaratan, sementara satu unggahan kebaikan bisa menghasilkan pahala tanpa henti. Kesimpulan Interaksi digital dalam Islam bukanlah hal yang sepele. Setiap like, komentar, dan unggahan adalah bentuk ucapan dan dukungan yang dicatat oleh malaikat. Media sosial dapat menjadi ladang pahala jika digunakan untuk menyebarkan kebaikan, namun juga dapat menjadi sumber dosa jika dipakai untuk menyakiti, memprovokasi, atau mendukung kemaksiatan. Seorang Muslim harus berhati-hati, menjaga adab, dan senantiasa menata niat dalam setiap aktivitas digitalnya. Sebagai wujud nyata dari upaya memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan tetap menjadi langkah yang dianjurkan. Salah satunya melalui sedekah yang membersihkan hati dan mendatangkan keberkahan. Kini sedekah dapat dilakukan dengan sangat mudah melalui lembaga resmi yang aman dan terpercaya. Semoga dengan menjaga etika digital dan rutin beramal, Allah melapangkan rezeki kita, memperbaiki keadaan kita, serta menjadikan semua kebaikan tersebut sebagai pahala jariyah hingga akhirat.
ARTIKEL10/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Islam Mengajarkan Produktivitas: Mulai dari Bangun Pagi Hingga Pulang Kerja
Islam Mengajarkan Produktivitas: Mulai dari Bangun Pagi Hingga Pulang Kerja
Produktivitas dalam Islam bukan sekadar tentang bekerja keras atau mengejar target duniawi. Islam mengajarkan bahwa setiap detik kehidupan adalah amanah yang harus digunakan dengan baik. Seorang Muslim tidak hanya bekerja untuk mendapatkan rezeki, tetapi juga untuk meraih keberkahan, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah. Dari bangun pagi hingga pulang kerja, Islam memberikan panduan lengkap yang menuntun manusia pada ritme hidup yang sehat, efektif, dan penuh pahala. 1. Bangun Pagi: Waktu Penuh Keberkahan Islam menganjurkan umatnya untuk memulai hari sejak fajar. Rasulullah SAW bersabda: “Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya.” (HR. Abu Dawud) Para ulama seperti Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa waktu pagi adalah saat hati paling tenang, akal paling jernih, dan energi paling optimal. Karena itu, produktivitas yang dimulai dari pagi akan membawa keberkahan dalam pekerjaan sepanjang hari. Aksi Nyata: Bangun sebelum Subuh. Awali pagi dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an. Hindari membuka ponsel setelah bangun agar fokus tidak terpecah. 2. Shalat Subuh: Pondasi Fokus dan Ketenangan Hati Allah berfirman: “Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45) Shalat Subuh bukan hanya ibadah, tetapi juga pembentuk mental yang kuat. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa seseorang yang menjaga Subuh akan dijaga Allah sepanjang harinya, termasuk dalam urusan pekerjaan dan produktivitas. Aksi Nyata: Setelah Subuh, isi waktu dengan aktivitas bermanfaat, bukan tidur kembali. 3. Pagi Hari: Waktu Terbaik untuk Bekerja dan Belajar Allah juga menegaskan: “Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba: 11) Ayat ini menunjukkan bahwa waktu siang, terutama pagi, adalah momentum ideal untuk bergerak, berpikir, dan menyelesaikan tugas yang penting. Imam Ibnu Katsir menafsirkan bahwa siang adalah waktu paling tepat untuk bekerja karena kondisi tubuh berada pada energi terbaiknya. Aksi Nyata: Prioritaskan tugas berat pada pagi hari. Jauhkan distraksi digital saat bekerja. 4. Efisiensi Lebih Penting Daripada Lembur Produktivitas dalam Islam tidak diukur dari lamanya jam bekerja, tetapi dari kualitas dan keberkahannya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari) Imam Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa pekerjaan yang sedikit tetapi berkualitas dan diniatkan karena Allah lebih mulia daripada pekerjaan yang banyak tanpa keikhlasan. Aksi Nyata: Niatkan setiap pekerjaan sebagai ibadah. Ambil waktu istirahat untuk menjaga fokus. 5. Adab Produktivitas: Jujur dan Amanah Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak.” (QS. An-Nisa: 58) Produktivitas dalam Islam juga mencakup kejujuran, ketepatan waktu, dan tidak menunda pekerjaan. Imam Hasan Al-Bashri berkata, “Menunda-nunda adalah kebiasaan yang menghilangkan waktu dan keberkahan.” Aksi Nyata: Gunakan checklist harian. Kerjakan tugas tanpa menunda. Kesimpulan Produktivitas dalam Islam mencerminkan keseimbangan antara ibadah, kerja, dan istirahat. Dengan memulai hari sejak fajar, menjaga shalat, bekerja dengan niat yang lurus, serta menjunjung amanah dan kejujuran, seorang Muslim tidak hanya menjadi pribadi yang efektif tetapi juga hamba yang lebih dekat kepada Allah. Sebagai bentuk pengamalan nilai-nilai produktivitas dan keberkahan, kita pun dianjurkan memperbanyak amal kebaikan—salah satunya dengan bersedekah. Semoga dengan memperbaiki cara kita memanfaatkan waktu dan memperbanyak amal shalih, Allah membuka pintu rezeki, keberkahan, dan pahala yang terus mengalir hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL10/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ketika Dunia Tidak Ramah, Jadilah Rumah untuk Dirimu Sendiri
Ketika Dunia Tidak Ramah, Jadilah Rumah untuk Dirimu Sendiri
Dalam perjalanan hidup, kita sering menemui masa ketika dunia terasa tidak ramah: orang-orang mengecewakan, situasi tidak berjalan sebagaimana harapan, dan hati terasa sesak oleh tekanan. Pada saat seperti itu, banyak orang mencari tempat untuk berlindung, namun lupa bahwa tempat teraman sesungguhnya adalah diri sendiri yang berpegang pada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa ketenangan bukan berasal dari dunia luar, tetapi dari hati yang bersandar kepada Allah, memelihara jiwa, dan merawat pikiran. 1. Dunia Memang Tempat Ujian Dalam perjalanan hidup, setiap manusia pasti melewati masa ketika dunia terasa tidak ramah. Ada hari ketika orang mengecewakan, keadaan tidak sesuai harapan, beban hidup terasa menumpuk, dan hati menjadi letih. Allah telah mengingatkan bahwa dunia adalah tempat ujian, bukan tempat istirahat sepenuhnya. “Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155) Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa ujian adalah ketetapan Allah bagi setiap hamba. Maka ketika hidup terasa berat, itu bukan tanda kelemahan, tetapi bagian dari proses pendewasaan. 2. Islam Mengajarkan Untuk Menjaga Diri dan Jiwa Islam tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga kesehatan mental dan emosional. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga diri. “Dan janganlah kamu membinasakan dirimu.” (QS. An-Nisa: 29) Imam Al-Qurthubi menafsirkan bahwa membinasakan diri dapat berupa tindakan menyakiti mental: menekan diri berlebihan, merendahkan diri, atau membiarkan hati tenggelam dalam kesedihan. Rasulullah SAW pun menegaskan: “Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari) Termasuk hak untuk istirahat, tenang, dan merawat diri. 3. Ketenangan Tidak Datang dari Dunia, Tetapi dari Allah Banyak orang mencari tempat berlindung, tetapi lupa bahwa ketenangan sejati datang dari hubungan dengan Allah. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Imam As-Sa’di menafsirkan bahwa zikir adalah sumber ketenteraman mendalam. Ketika dunia keras, hati yang terhubung dengan Allah tidak mudah goyah. 4. Menjadi Rumah Bagi Diri Sendiri Menjadi “rumah” bagi diri sendiri berarti mampu menenangkan diri saat kacau, memaafkan saat gagal, dan tetap optimis meski dunia meremehkan. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah “raja” yang menggerakkan seluruh diri — jika hati kuat, seluruh aspek kehidupan ikut kuat. Untuk membangun rumah di dalam diri, kita dapat melakukan beberapa langkah sederhana: memperkuat hubungan dengan Allah setiap hari, memperbanyak istighfar, menulis hal-hal yang disyukuri, membatasi interaksi dengan lingkungan toksik, memberi waktu untuk istirahat dan menenangkan pikiran. Kesimpulan Ketika dunia terasa tidak ramah, Islam mengajarkan kita untuk menemukan tempat aman di dalam diri sendiri dengan kembali kepada Allah. Ketenangan lahir dari hati yang dirawat, jiwa yang disucikan, serta iman yang dijaga melalui zikir, doa, dan muhasabah. Dengan memelihara diri, memaafkan kekurangan, dan terus menumbuhkan kebaikan, kita belajar bahwa rumah terbaik bukanlah tempat, melainkan hati yang dekat dengan Allah. Sebagai bentuk syukur atas nikmat ketenangan dan sebagai wujud pengamalan ajaran Islam tentang kepedulian, kita dianjurkan memperbanyak amal kebaikan—termasuk sedekah. Sedekah membuka pintu rezeki, menenangkan hati, dan menjadi sebab turunnya pertolongan Allah. Semoga dengan menjaga hati, merawat diri, dan rajin berbagi, hidup kita diberkahi dengan kelapangan dan ketenangan dari Allah SWT. Aamiin.
ARTIKEL10/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Rahasia Otak Manusia: Kenapa Kita Sulit Fokus?
Rahasia Otak Manusia: Kenapa Kita Sulit Fokus?
Di era serba cepat seperti sekarang, banyak orang merasa sulit mempertahankan fokus. Notifikasi yang tidak berhenti, beban pikiran, serta gaya hidup yang serba instan membuat otak bekerja lebih keras dari sebelumnya. Namun, kesulitan fokus bukan hanya soal teknis otak—Islam menegaskan bahwa kondisi hati juga sangat mempengaruhinya. 1. Cara Kerja Otak dan Penyebab Distraksi Secara ilmiah, fokus dikendalikan oleh prefrontal cortex, bagian otak yang bertugas mengatur perhatian dan pengambilan keputusan. Ketika terlalu banyak informasi masuk dalam waktu singkat, otak mengalami information overload sehingga sulit berkonsentrasi. Penelitian modern menemukan bahwa kebiasaan multitasking dan konsumsi media sosial merusak kemampuan fokus jangka panjang. Hal ini menyebabkan seseorang bermaksud bekerja sebentar, namun akhirnya menghabiskan banyak waktu tanpa disadari. Dalam Islam, kondisi ini sangat berkaitan dengan hati (qalb). Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya hati itu berbolak-balik lebih cepat daripada pergerakan panci yang mendidih.” (HR. Ahmad) Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati adalah pusat perhatian manusia; jika hati gelisah, pikiran pun tidak akan stabil. 2. Distraksi Menurut Perspektif Ulama Para ulama seperti Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa kesibukan yang tidak bermanfaat adalah salah satu pintu setan memasuki hati. Dalam Al-Fawaid, beliau menulis: “Di antara pintu terbesar setan masuk ke hati adalah kesibukan yang sia-sia.” Hal ini selaras dengan situasi zaman sekarang, di mana manusia sibuk dengan hal-hal yang menguras perhatian namun tidak memberi nilai nyata bagi hidup. 3. Dalil Al-Qur’an tentang Fokus dan Ketenangan Al-Qur’an memberikan panduan penting terkait perhatian dan ketenangan hati: Tentang kekhusyukan: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2) Tentang menjauhi kelalaian: “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami.” (QS. Al-Kahfi: 28) Tentang ketenangan: “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Ketenangan hati adalah fondasi utama agar otak dapat fokus. 4. Panduan Nabi untuk Melatih Fokus Beberapa hadits memberikan solusi praktis: Konsisten meski sedikit: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meski sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim) Meninggalkan yang tidak bermanfaat: “Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi) Hadits-hadits ini menjadi dasar penting bagi latihan fokus dalam keseharian. 5. Aksi Nyata Melatih Fokus (Versi Islami) 1. Bangun sebelum Subuh untuk ketenangan pikiran. 2. Perbanyak dzikir dan tilawah setiap hari. 3. Batasi penggunaan gawai; matikan notifikasi. 4. Terapkan prinsip satu tugas, satu waktu. 5. Tulis tujuan harian sebelum memulai aktivitas. 6. Jauhi maksiat karena dosa melemahkan hati. 7. Luangkan waktu 1–2 jam tanpa gangguan untuk pekerjaan penting. Kesimpulan Kesulitan fokus bukan hanya berasal dari pola kerja otak, tetapi juga kondisi hati yang mudah gelisah dan lalai. Islam mengajarkan bahwa ketenangan, dzikir, dan konsistensi amal adalah fondasi kejernihan pikiran. Sementara itu, sains menjelaskan bahwa distraksi digital, multitasking, dan kelelahan membuat otak sulit mempertahankan perhatian. Dengan memadukan tuntunan agama dan ilmu pengetahuan, kita bisa melatih fokus secara seimbang. Jagalah hati dengan dzikir, kurangi hal tidak bermanfaat, atur penggunaan gawai, dan bentuk kebiasaan sederhana namun konsisten. Semoga Allah memberikan ketenangan dalam hati dan kejernihan dalam pikiran agar setiap langkah kita semakin terarah dan penuh keberkahan.
ARTIKEL09/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Islam Mengajarkan Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan — Benarkah?
Islam Mengajarkan Setiap Kesulitan Pasti Ada Kemudahan — Benarkah?
Setiap manusia pernah berada di titik paling berat dalam hidupnya—menghadapi kegagalan, tekanan batin, kehilangan, atau rasa tidak berdaya. Namun, Islam mengajarkan sebuah prinsip besar yang menjadi sumber ketenangan: tidak ada satu pun kesulitan yang Allah ciptakan tanpa menyertakan kemudahan bersamanya. Keyakinan ini bukan hanya motivasi, tetapi janji Allah yang ditegaskan berkali-kali dalam Al-Qur’an dan hadits. 1. Janji Allah dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam Surah Asy-Syarh ayat 5–6: ??????? ???? ????????? ???????. ????? ???? ????????? ??????? “Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Ayat ini diulang dua kali sebagai bentuk penegasan. Para ulama seperti Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa ketika Allah mengulang sebuah kalimat, itu menunjukkan kepastian dan kekuatan makna. Beliau menyebut bahwa satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Ibnul Qayyim menambahkan bahwa kata al-‘usr (kesulitan) menggunakan huruf “al” yang menunjukkan satu kesulitan tertentu, sedangkan yusr (kemudahan) tidak memakai “al”, menandakan kemudahan yang banyak dan berulang. Artinya, dalam satu ujian selalu ada lebih dari satu bentuk kemudahan. 2. Hadits Nabi: Kemenangan Datang Setelah Kesabaran Rasulullah SAW bersabda: “Ketahuilah bahwa kemenangan datang bersama kesabaran, kelapangan datang bersama kesulitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menjelaskan bahwa kesabaran bukanlah sikap pasrah, tetapi upaya terus-menerus dengan keyakinan bahwa hasil terbaik akan Allah berikan pada waktu yang tepat. 3. Mengapa Allah Menciptakan Kesulitan? Para ulama menyebutkan beberapa hikmah: Mendidik hati, agar tidak sombong dan kembali pada Allah. Menghapus dosa, sebagaimana hadits yang menyebut bahwa bahkan duri yang menusuk seorang mukmin menghapus kesalahannya. Mengangkat derajat, seperti ujian yang dialami Nabi Yusuf dan Nabi Ayyub. Menunjukkan kuasa Allah, bahwa pertolongan hanya datang dari-Nya. Kesulitan pada dasarnya adalah sarana penyucian jiwa. Ulama tafsir seperti Al-Qurthubi menekankan bahwa kata “ma‘a” (bersama) dalam ayat tersebut menandakan kemudahan hadir seketika, bukan menunggu lama setelah kesulitan selesai. 4. Aksi Nyata: Langkah Praktis Agar Kemudahan Allah Hadir Islam tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga amalan praktis agar seorang mukmin dapat merasakan kemudahan Allah dalam hidupnya: 1. Memperbanyak istighfar Karena dosa dapat menghalangi datangnya pertolongan. 2. Menjaga salat lima waktu Pertolongan terbesar Allah turun kepada hamba yang menjaga salatnya. 3. Bangun tahajud Waktu ketika doa didengar, hati dilapangkan, dan kemudahan dicurahkan. 4. Banyak bersedekah Rasulullah SAW bersabda bahwa sedekah bisa menolak bala, memperluas rezeki, dan membuka pintu kemudahan dalam urusan hidup. 5. Sabar dan tawakal Ketika seseorang menyerahkan hasil kepada Allah, ia akan menemukan ketenangan yang menjadi sumber kemudahan. Kesimpulan Islam mengajarkan dengan sangat jelas bahwa setiap kesulitan pasti dibarengi dengan kemudahan. Allah menegaskan hal ini melalui ayat-ayat Al-Qur’an, diperkuat oleh hadits, dan dijelaskan oleh para ulama bahwa dua kemudahan selalu menyertai satu kesulitan. Ujian hidup bukanlah hukuman, melainkan cara Allah membersihkan hati, menghapus dosa, dan mengangkat derajat hamba-Nya. Sebagai bentuk pengamalan dari keyakinan tersebut, kita dianjurkan memperbanyak amal saleh, khususnya bersedekah, karena sedekah adalah pintu kelapangan, pelebur kesulitan, serta pembuka keberkahan hidup. Semoga dengan memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa, salat, sabar, istighfar, dan sedekah, setiap urusan hidup kita dimudahkan dan hati kita selalu dilimpahi ketenangan.
ARTIKEL09/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Depresi di Usia Remaja: Kenali, Hadapi, dan Bangkit
Depresi di Usia Remaja: Kenali, Hadapi, dan Bangkit
Depresi pada usia remaja menjadi fenomena yang semakin nyata di era modern. Tekanan akademik, perubahan hormon, pergaulan, dan ketidakpastian masa depan membuat remaja rentan mengalami kesedihan berkepanjangan, kehilangan motivasi, bahkan muncul pikiran untuk menyerah. Islam menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa karena jiwa yang sehat adalah pondasi bagi kehidupan yang seimbang dan produktif. Apa itu Depresi pada Remaja? Depresi adalah gangguan emosional yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam, kehilangan minat, dan ketidakmampuan menikmati aktivitas sehari-hari. Menurut WHO, depresi dapat memengaruhi fungsi sosial, akademik, dan hubungan interpersonal remaja. Gejala yang sering muncul meliputi perubahan suasana hati yang ekstrem, hilangnya motivasi, perasaan putus asa atau tidak berharga, gangguan tidur, kesulitan konsentrasi, dan menarik diri dari teman sebaya. Setiap individu dapat mengalami gejala yang berbeda, sehingga pemahaman yang mendalam sangat diperlukan. Penyebab Depresi pada Remaja Beberapa faktor yang umum memicu depresi adalah: Tekanan akademik dan ekspektasi orang tua, yang menimbulkan stres kronis. Masalah keluarga, seperti perceraian atau kurangnya perhatian emosional. Pergaulan dan bullying, termasuk penolakan sosial atau ejekan teman. Perubahan fisik dan hormonal, membuat remaja lebih sensitif terhadap tekanan emosional. Pengaruh media sosial, seperti membandingkan diri dengan orang lain atau terpapar berita negatif. Perspektif Islam tentang Depresi Islam mengakui adanya ujian hidup, termasuk tekanan emosional. Allah SWT berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Nabi Muhammad SAW juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan emosi: “Apabila salah seorang di antara kalian sedih atau cemas, hendaklah ia berdzikir, memohon ampunan Allah, dan bersedekah.” (HR. Ahmad) Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa menjaga hati adalah bagian dari ibadah, karena hati yang sehat memudahkan seseorang menghadapi ujian kehidupan. Strategi Menghadapi Depresi Beberapa langkah yang bisa dilakukan remaja antara lain: Mendekatkan diri kepada Allah, melalui dzikir, doa, shalat, dan membaca Al-Qur’an. QS. Ar-Ra’d: 28 menyebutkan, “Sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Memelihara hubungan sosial positif, dengan keluarga dan sahabat sebagai tempat curhat dan dukungan. Menjaga kesehatan fisik, seperti olahraga rutin, tidur cukup, dan pola makan seimbang. Konsultasi profesional, jika gejala depresi berat, karena Islam menganjurkan ikhtiar mencari pengobatan (HR. Abu Dawud). Refleksi diri, melalui tafakur, muhasabah, atau menulis jurnal untuk memahami perasaan dan pikiran. Menemukan Tujuan Hidup Salah satu kunci motivasi adalah menemukan tujuan hidup (maq?id al-?ay?h). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad) Mengetahui tujuan hidup memberi motivasi batin yang kuat, membuat remaja lebih mampu menghadapi tekanan, dan menjadikan hidup lebih bermakna. QS. Al-Mu’minun: 115 mengingatkan, “Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” Kisah Nabi Yusuf AS menjadi inspirasi bagi remaja. Meskipun mengalami pengkhianatan, penjara, dan kesulitan besar, ia tetap bersabar, berdoa, dan akhirnya menjadi pemimpin yang memberi manfaat bagi banyak orang (QS. Yusuf: 4-101). Kesimpulan Depresi pada remaja adalah tantangan yang nyata, tetapi dapat diatasi dengan kesadaran diri, pemahaman penyebab, dan motivasi hidup yang kuat. Islam mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan solusi, serta menekankan pentingnya menjaga kesehatan jiwa melalui doa, dzikir, ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan memahami makna hidup, meneladani kisah para Nabi, dan terus memperkuat iman, remaja dapat melewati masa sulit, menemukan keseimbangan emosional, dan menjadi pribadi yang lebih kuat serta bermanfaat bagi orang lain.
ARTIKEL08/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
STOP Hidup untuk Ekspektasi Orang: Kamu Berhak Menentukan Jalanmu Sendiri
STOP Hidup untuk Ekspektasi Orang: Kamu Berhak Menentukan Jalanmu Sendiri
Ada banyak orang yang terlihat “sukses” di mata manusia, namun di dalam hatinya kosong, lelah, bahkan kehilangan jati diri. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia terlalu lama hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain—orang tua, pasangan, lingkungan, bahkan media sosial. Pertanyaannya: apakah hidup kita memang milik orang lain? Islam hadir sebagai agama yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama manusia, menuju penghambaan yang murni hanya kepada Allah SWT. Maka, berhentilah hidup demi validasi manusia. Kamu berhak menentukan jalan hidupmu sendiri—selama tetap berada di jalan yang diridhai-Nya. 1. Hidup untuk Siapa? Allah atau Manusia? Tujuan hidup seorang Muslim bukanlah untuk mendapatkan pengakuan manusia, tetapi untuk meraih ridha Allah. Ketika hidup hanya diarahkan untuk menyenangkan orang lain, maka hati akan mudah lelah karena manusia tidak pernah benar-benar puas. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa mencari keridaan Allah dengan kemurkaan manusia, maka Allah akan meridhainya dan menjadikan manusia pun ridha kepadanya.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menegaskan bahwa ridha Allah adalah sumber ketenangan sejati, bukan validasi manusia. 2. Ekspektasi Orang Bisa Menjadi Beban Psikologis Tekanan untuk memenuhi standar orang lain sering membuat seseorang hidup dalam kecemasan, takut salah, dan takut gagal. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa merusak ketenangan jiwa dan kepercayaan diri. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim) Artinya, nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh standar manusia, tetapi oleh hati dan amalnya. 3. Kamu Diciptakan dengan Jalan Hidup yang Unik Setiap orang memiliki takdir, proses, dan garis waktu yang berbeda. Tidak semua orang harus berhasil dengan cara yang sama. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang dimudahkan sesuai dengan tujuan ia diciptakan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri, dan tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain. 4. Hidup untuk Ekspektasi Orang Itu Tidak Pernah Cukup Hari ini manusia menuntut satu hal, besok muncul tuntutan baru. Jika hidup terus diukur dari standar orang lain, maka kita tidak akan pernah merasa cukup dan tenang. Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim) Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari hati yang merasa cukup, bukan dari tuntutan manusia. 5. Menentukan Jalan Hidup Bukan Berarti Durhaka Islam mengajarkan keseimbangan antara berbakti kepada orang tua dan tetap berada dalam kebenaran. Menghormati orang tua itu wajib, tetapi ketaatan kepada Allah tetap utama. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad) Artinya, memilih jalan hidup yang baik dan benar bukanlah durhaka, justru itu wujud tanggung jawab sebagai hamba Allah. 6. Kamu Berhak Bahagia Tanpa Harus Menjadi Versi Orang Lain Bahagia bukan tentang paling cepat sukses, paling kaya, atau paling dipuji. Bahagia adalah ketika hati merasa tenang dan dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup.” (HR. Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa rasa cukup adalah kunci kebahagiaan, bukan pengakuan sosial. 7. Aksi Nyata: Berhenti Hidup untuk Ekspektasi Orang Agar tidak berhenti di teori, berikut langkah nyata yang bisa dilakukan: Menuliskan tujuan hidup versi diri sendiri. Mengurangi overthinking terhadap komentar orang. Memperkuat ibadah agar hati lebih kokoh. Belajar berkata “tidak” dengan adab. Memilih lingkungan yang mendukung keimanan dan mental. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Thabrani) Artinya, hidup bukan untuk pembuktian diri, tetapi untuk memberi manfaat. Kesimpulan Hidup untuk terus memenuhi ekspektasi manusia hanya akan membuat hati lelah dan kehilangan arah. Islam mengajarkan bahwa tujuan utama hidup adalah meraih ridha Allah SWT, bukan sekadar validasi dari manusia. Setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda, sehingga membandingkan diri dengan orang lain hanya akan melahirkan kegelisahan. Menentukan jalan hidup sendiri bukanlah bentuk durhaka selama tetap berada dalam nilai iman dan kebaikan. Ketika seseorang berhenti mengejar pengakuan manusia dan mulai berjalan mendekat kepada Allah, hidup akan terasa lebih tenang, lebih ringan, dan lebih bermakna.
ARTIKEL08/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Kadang Melepas Lebih Menenangkan daripada Mempertahankan
Kadang Melepas Lebih Menenangkan daripada Mempertahankan
Dalam perjalanan hidup, kita sering berhadapan dengan pilihan sulit: bertahan atau melepaskan. Dua-duanya membutuhkan keberanian. Namun sering kali, kita terlalu fokus mempertahankan sesuatu—hubungan, pekerjaan, pertemanan, atau rencana—meski hal itu tidak lagi memberikan ketenangan. Padahal, kadang melepaskan justru membawa kedamaian yang tidak kita dapatkan selama bertahan. Islam mengajarkan bahwa sesuatu yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengingatkan bahwa pandangan manusia terbatas, sementara Allah mengetahui segalanya. Terkadang kita bersikeras menggenggam sesuatu yang sebenarnya sedang Allah jauhkan demi kebaikan kita sendiri. Memaksakan sesuatu yang tidak sejalan hanya akan menguras energi dan membuat hati terus gelisah. Ada perbedaan besar antara berjuang dan memaksakan diri. Berjuang menumbuhkan diri, sementara memaksakan diri mengikis ketenangan. Karena itu, melepaskan bukanlah tanda kelemahan, tetapi bentuk keberanian untuk memilih apa yang lebih baik bagi diri dan hati. Dalam menghadapi keputusan besar—apakah harus bertahan atau melepaskan—Islam memberikan panduan berupa ikhtiar yang dapat menenangkan hati dan meneguhkan langkah. Salah satunya adalah shalat istikharah, sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW: “Jika salah seorang dari kalian berniat melakukan suatu urusan, hendaklah ia melakukan shalat dua rakaat lalu berdoa istikharah.” (HR. Bukhari) Istikharah membantu kita menyerahkan pilihan kepada Allah. Jawabannya tidak selalu hadir dalam mimpi, tetapi lebih sering berupa ketenangan hati, kemudahan jalan, atau justru terhalangnya urusan yang tidak baik bagi kita. Selain itu, Allah memerintahkan kita untuk bermusyawarah: “Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali Imran: 159) Nasihat dari orang-orang bijak dapat membuka pandangan baru yang sebelumnya tertutup oleh emosi atau ketakutan. Ulama juga memberikan kaidah penting: “Mencegah kerusakan lebih utama daripada meraih manfaat.” Artinya, jika sesuatu lebih banyak mendatangkan luka, kegelisahan, dan kerusakan mental, maka melepaskan adalah pilihan yang lebih aman secara syariat maupun akal. Melepaskan juga merupakan bentuk tawakkal. Ibnul Qayyim menyebut tawakkal sebagai “amal hati yang paling indah”, karena di sanalah seorang hamba menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha. Ketika kita melepaskan sesuatu karena percaya pada penggantian Allah, hati akan terasa lebih ringan. Dalam kehidupan masa kini, melepaskan bisa berarti keluar dari hubungan yang tidak sehat, berhenti mengejar seseorang yang tidak menghargai, pindah dari lingkungan kerja yang toxic, atau merelakan mimpi yang belum tentu baik untuk masa depan. Melepaskan memberi ruang untuk hal-hal baru yang lebih baik. Pada akhirnya, melepaskan bukan tentang kalah atau gagal. Melepaskan adalah langkah penuh keberanian untuk memilih ketenangan. Dan bagi siapa pun yang sedang berada di persimpangan, ingatlah janji Allah: “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq: 2–3) Maka beranilah. Kadang, melepaskan adalah jalan pulang menuju ketenangan yang selama ini kita cari.
ARTIKEL04/12/2025 | indri irmayanti
Hidup: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Sungguh Kita Menjalani
Hidup: Bukan Tentang Seberapa Cepat, Tapi Seberapa Sungguh Kita Menjalani
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang terjebak dalam perlombaan tanpa henti. Kita berlomba mengejar pencapaian, jabatan, dan pengakuan, hingga sering lupa menikmati proses hidup itu sendiri. Padahal dalam Islam, hidup tidak dinilai dari seberapa cepat langkah kita, melainkan seberapa sungguh kita menjalaninya dengan kesadaran, keikhlasan, dan kesabaran. Allah SWT berfirman: "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97) Ayat ini menegaskan bahwa kualitas amal lebih utama dibanding kecepatan atau banyaknya pencapaian. 1. Kesungguhan dalam Pandangan Islam Kesungguhan berarti menjalani setiap amal dengan niat yang lurus dan penuh tanggung jawab. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa amal yang sedikit tetapi dilakukan dengan ikhlas dan konsisten lebih utama daripada amal yang besar namun tanpa kesadaran. Ini menegaskan bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. 2. Teladan Kesungguhan dari Rasulullah SAW Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam kesungguhan. Beliau berdakwah dengan penuh kesabaran, tidak tergesa-gesa, dan selalu konsisten dalam kebaikan. Dalam hadits disebutkan: "Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit." (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kesungguhan itu terletak pada ketekunan, bukan pada kecepatan. 3. Hidup Tidak Perlu Terburu-buru Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa tertinggal karena membandingkan diri dengan orang lain. Padahal Allah SWT berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286) Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing. Terburu-buru hanya akan melahirkan kegelisahan, sementara kesungguhan melahirkan ketenangan. 4. Dampak Kesungguhan bagi Jiwa dan Kehidupan Orang yang menjalani hidup dengan sungguh-sungguh akan: Lebih sabar dalam menghadapi ujian Lebih fokus dan tenang Tidak mudah putus asa Lebih mampu bersyukur Memiliki kepuasan batin yang lebih dalam Kesungguhan juga menjadi sumber kekuatan mental dalam menghadapi tekanan hidup. 5. Aksi Nyata Menjalani Hidup dengan Sungguh-sungguh Beberapa langkah nyata yang bisa dilakukan: Meluruskan niat sebelum beraktivitas Konsisten dalam ibadah dan kebaikan kecil Mengelola waktu dengan bijak Membantu orang lain dengan tulus Melakukan evaluasi diri secara rutin Memperbanyak doa dan dzikir Kisah Nabi Yusuf AS menjadi bukti nyata kesungguhan. Meski difitnah, dipenjara, dan dikhianati, beliau tetap menjaga iman dan kesabaran hingga akhirnya diangkat derajatnya oleh Allah SWT (QS. Yusuf: 100). Kesimpulan Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan, tetapi siapa yang paling sungguh dalam menjalani setiap prosesnya. Kesungguhan mengajarkan kita tentang ketulusan niat, kesabaran dalam ujian, dan konsistensi dalam kebaikan. Dengan menjalani hidup secara sungguh-sungguh, kita akan merasakan ketenangan, keberkahan, dan makna hidup yang lebih dalam.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
INGAT! Di Balik Lelahmu Ada Versi Dirimu yang Lebih Kuat
INGAT! Di Balik Lelahmu Ada Versi Dirimu yang Lebih Kuat
Setiap orang pernah berada pada titik lelah—lelah bekerja, lelah berusaha, lelah menata hati, atau lelah menghadapi masalah yang datang silih berganti. Namun dalam Islam, rasa lelah bukan tanda kelemahan. Ia adalah bagian dari proses pendewasaan, peningkatan iman, dan cara Allah membentuk pribadi yang lebih kuat. Lelah adalah Ujian yang Menguatkan Allah menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini memberi pelajaran bahwa lelah bukanlah hukuman, tetapi sarana peningkatan derajat. Kesabaran dalam menghadapi rasa lelah akan menghasilkan kekuatan batin yang lebih besar dibanding sebelumnya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Allah tidak mengambil sesuatu kecuali untuk memberi yang lebih baik.” Ini menunjukkan bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada kebaikan yang disiapkan Allah untuk hamba-Nya. Lelah Menghapus Dosa dan Datang sebagai Rahmat Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menjadi penghibur besar. Bahkan lelah yang tidak terlihat manusia pun Allah catat sebagai penghapus dosa. Para ulama menjelaskan bahwa ujian dan lelah adalah tanda kasih sayang Allah, karena hamba diberi kesempatan mendapat pahala tanpa harus melakukan amalan tambahan. Proses Menjadi Versi Diri yang Lebih Kuat Lelah membawa banyak hikmah jika dijalani dengan iman: 1. Mengajarkan keikhlasan Saat usaha maksimal tetap belum membuahkan hasil, seseorang belajar berserah diri kepada Allah tanpa syarat. 2. Membentuk mental dan hati yang lebih tegar Tanpa ujian, tidak ada kedewasaan. Tanpa kesulitan, tidak ada ketangguhan. 3. Mendekatkan diri kepada Allah Di momen paling lelah, manusia biasanya paling tulus dalam berdoa. 4. Mengatur ulang prioritas hidup Rasa jenuh dan jenuh adalah tanda bahwa seseorang sedang menata ulang fokus hidupnya. Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kesulitan adalah sarana untuk menumbuhkan kebijaksanaan dan kejernihan hati. Motivasi dan Saran Praktis Agar lelah tidak membuatmu rapuh, lakukan langkah konkret berikut: Ambil jeda terencana, bukan menyerah. Istirahat sebentar membuat pikiran lebih tenang. Perbanyak doa, seperti “Hasbunallah wa ni’mal wakil,” yang memberi rasa cukup dan ketenangan. Jaga fisik, karena tubuh yang lelah membuat pikiran mudah stres. Kurangi aktivitas yang menguras energi, seperti konsumsi media sosial berlebihan atau lingkungan toksik. Fokus pada kemajuan kecil, karena perubahan besar lahir dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Syukuri proses, bukan hanya hasil. Syukur membuat hati lebih kuat menghadapi tantangan. Penutup Lelah bukan akhir. Ia adalah tanda bahwa kamu sedang bergerak, berproses, dan bertumbuh. Di balik rasa lelahmu hari ini, ada versi dirimu yang lebih kuat, lebih sabar, lebih bijaksana, dan lebih dekat kepada Allah. Teruslah melangkah—Allah melihat setiap usahamu, bahkan yang tidak terlihat oleh manusia sekalipun.
ARTIKEL04/12/2025 | indri irmayanti
Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk Bernapas
Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk Bernapas
Di tengah tuntutan hidup yang semakin padat—pekerjaan, keluarga, studi, dan tekanan sosial—tidak sedikit orang merasa lelah hingga muncul keinginan untuk menyerah. Padahal, dalam banyak keadaan, yang dibutuhkan bukan menyerah, melainkan berhenti sejenak untuk menata ulang tenaga, pikiran, dan hati. Dalam Islam, istirahat bukan tanda kelemahan, melainkan bagian dari kebijaksanaan hidup. 1. Istirahat dalam Pandangan Al-Qur’an dan Hadits Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap kesulitan selalu disertai kemudahan: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6) Ayat ini mengajarkan bahwa kelelahan tidak bersifat permanen. Ia hanya fase yang akan berganti dengan kelapangan. Allah juga menegaskan bahwa manusia tidak dibebani di luar kemampuannya (QS. Al-Baqarah: 286), yang berarti mengenali batas diri adalah bagian dari iman. Rasulullah ? bersabda: “Tubuhmu mempunyai hak atas dirimu.” (HR. Bukhari) Hadits ini memperjelas bahwa merawat tubuh, memberi waktu istirahat, dan menjaga kesehatan bukanlah kelalaian, tetapi kewajiban. 2. Pandangan Ulama tentang Pentingnya Jeda Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa jiwa yang dipaksa terus bekerja tanpa jeda akan mengalami kejenuhan dan penurunan kualitas amal. Sementara Ibn Qayyim menegaskan bahwa hati pun bisa lelah sebagaimana tubuh, sehingga membutuhkan waktu pemulihan agar tetap hidup dan kuat. Artinya, istirahat bukan penghambat produktivitas, tetapi justru penjaganya. 3. Mengapa Istirahat Bukan Tanda Menyerah Beristirahat bukan berarti berhenti berjuang. Sebaliknya, ia memiliki beberapa fungsi penting: Mengisi ulang energi fisik dan mental Menjaga kualitas ibadah dan tanggung jawab Memberi kejernihan berpikir Menjauhkan dari keputusan impulsif Mencegah kelelahan berkepanjangan (burnout) Orang yang terus memaksa diri tanpa jeda justru berisiko kehilangan arah dan motivasi. 4. Tanda-Tanda Seseorang Membutuhkan Istirahat Beberapa tanda umum bahwa seseorang sudah terlalu lelah antara lain: Sulit tidur atau tidur tidak berkualitas Mudah marah dan emosional Kehilangan semangat dan minat Sulit fokus dan mengambil keputusan Merasa cemas tanpa alasan jelas Jika tanda-tanda ini muncul, berhenti sejenak adalah langkah bijak, bukan tanda kegagalan. 5. Lelah Tidak Pernah Sia-Sia di Sisi Allah Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, kesedihan, penyakit, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Setiap letih, air mata, dan luka batin yang dirasakan tidak pernah luput dari perhatian Allah. Maka ketika seseorang merasa hampir menyerah, bisa jadi ia hanya sedang butuh berhenti sebentar untuk kembali kuat. 6. Istirahat adalah Sunnatullah Allah menciptakan hidup dengan irama: Siang untuk beraktivitas Malam untuk beristirahat Ombak datang lalu surut Hujan turun lalu reda Manusia yang menolak istirahat justru melawan pola alam yang telah Allah tetapkan. 7. Aksi Nyata Saat Merasa Lelah Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan: Ambil jeda singkat saat lelah Perbaiki pola tidur Shalat dengan lebih tenang Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an Kurangi beban yang tidak prioritas Bergerak secara fisik ringan Berbagi cerita dengan orang terpercaya Batasi konsumsi konten negatif Tetapkan batas untuk diri sendiri Mencari bantuan profesional bila perlu Semua langkah ini bukan tanda menyerah, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kesimpulan Lelah adalah bagian dari perjalanan, bukan akhir dari perjuangan. Istirahat bukan tanda kalah, tetapi cara Allah mengajarkan manusia untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat. Air mata bukan bukti kelemahan, dan jeda bukanlah pengkhianatan terhadap mimpi. Justru melalui jeda itulah seseorang belajar untuk kembali bangkit dengan hati yang lebih kuat, pikiran yang lebih jernih, dan langkah yang lebih terarah. Hidup tidak selalu tentang berlari cepat, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti sejenak agar tidak kehilangan tujuan.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Antara Impian dan Kenyataan, Ada Konsistensi yang Sering Ditinggalkan
Antara Impian dan Kenyataan, Ada Konsistensi yang Sering Ditinggalkan
Setiap manusia memiliki impian. Ada yang memimpikan kesuksesan, ketenangan jiwa, keluarga harmonis, ilmu yang bermanfaat, hingga hidup yang diridhai Allah. Namun tidak sedikit impian yang berhenti sebatas rencana. Banyak yang gagal bukan karena tidak mampu, melainkan karena konsistensi yang ditinggalkan di tengah jalan. Kita sering memulai dengan semangat besar, tetapi melemah saat proses menjadi berat. Di sinilah jarak antara impian dan kenyataan semakin terasa. 1. Konsistensi dalam Pandangan Al-Qur’an Allah menegaskan bahwa perubahan tidak terjadi tanpa usaha yang terus dijaga: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan membutuhkan proses yang berulang, bukan semangat sesaat. Impian butuh istiqamah, bukan hanya niat. Allah juga berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69) Kesungguhan dalam ayat ini bukan berarti sebentar, tetapi ketekunan yang dipelihara dalam waktu panjang. 2. Mengapa Konsistensi Sering Gagal di Tengah Jalan Beberapa penyebab utama seseorang meninggalkan konsistensi: Terjebak euforia awal, semangat tinggi di awal lalu melemah ketika emosi turun. Tidak siap dengan hasil yang lama, ingin perubahan instan di dunia yang serba cepat. Takut tidak diapresiasi, merasa lemah ketika perjuangan berjalan tanpa sorotan. Lelah menghadapi ujian berulang, mengira ujian hanya datang sekali, padahal ia bagian dari perjalanan. Padahal Allah telah mengingatkan: “Dan sungguh, akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan.” (QS. Ad-Dhuha: 4) Artinya, fase terberat sering berada sebelum hasil terbaik. 3. Hadits tentang Nilai Amal yang Konsisten Rasulullah ? bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa keberkahan terletak pada keberlanjutan, bukan hanya pada besarnya amal di awal. 4. Konsistensi dalam Pandangan Ulama Imam Al-Ghazali berkata: “Amal yang sedikit tetapi terus-menerus lebih baik daripada amal yang banyak tetapi terputus.” Sufyan Ats-Tsauri bahkan menegaskan bahwa istiqamah lebih berat daripada ribuan karamah, karena ia menuntut kesabaran setiap hari, bukan keajaiban sesaat. 5. Antara Keinginan dan Proses yang Melelahkan Banyak orang mencintai hasil, tetapi tidak mencintai proses. Mereka ingin sukses tanpa disiplin, ingin tenang tanpa kesabaran, ingin bahagia tanpa luka. Padahal Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4) Lelah bukan kesalahan hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. 6. Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha Sebagian orang berhenti dengan alasan “ini sudah takdir.” Padahal Allah menegaskan: “Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39) Takdir tidak pernah mematikan ikhtiar. Justru ikhtiar adalah bagian dari takdir itu sendiri. 7. Aksi Nyata Menjaga Konsistensi Agar konsistensi tidak hanya menjadi teori: 1. Kecilkan target, besarkan keberlanjutan Mulailah dari yang ringan namun rutin. 2. Ikat niat dengan ibadah Luruskan tujuan agar lelah bernilai pahala. 3. Bangun lingkungan yang menguatkan Berada di sekitar orang yang istiqamah akan menulari semangat. 4. Terima fase turun sebagai bagian dari proses Tidak semua hari harus sempurna. 5. Perbanyak doa agar diberi keteguhan hati Karena istiqamah adalah karunia, bukan semata kekuatan diri. Kesimpulan Impian tidak pernah menuntut kesempurnaan, tetapi menuntut kesetiaan pada proses. Jarak antara impian dan kenyataan sejatinya dijembatani oleh konsistensi. Istiqamah dalam kebaikan, dalam ikhtiar, dalam doa, dan dalam perjuangan adalah bukti kejujuran kita terhadap cita-cita hidup yang lebih bermakna. Seperti yang diajarkan Al-Qur’an, hadits, dan nasihat para ulama, keberhasilan sejati bukanlah hasil dari semangat sesaat, melainkan buah dari langkah kecil yang dijaga setiap hari.
ARTIKEL04/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Rasanya Jauh dari Allah? Mulailah dari Ibadah yang Paling Sederhana
Rasanya Jauh dari Allah? Mulailah dari Ibadah yang Paling Sederhana
Hampir setiap Muslim pernah mengalami masa ketika hati terasa jauh dari Allah SWT. Ibadah terasa berat, doa seakan tak sampai, dan jiwa dipenuhi kegelisahan. Padahal, rasa “jauh” itu bukan karena Allah meninggalkan kita, tetapi karena kita yang perlahan menjauh tanpa disadari. Kabar baiknya, untuk kembali dekat kepada Allah tidak harus dimulai dari ibadah yang berat. Justru, langkah terbaik adalah memulai dari amalan sederhana yang mudah dilakukan secara konsisten. 1. Allah Itu Dekat—Kita yang Sering Menjauh Ketika hati terasa hampa, sebagian orang mengira bahwa Allah telah meninggalkannya. Padahal, Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Allah SWT berfirman: “Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186) Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kedekatan Allah melalui ilmu-Nya, pengawasan-Nya, dan jawaban atas doa hamba-hamba-Nya. Artinya, Allah tidak pernah pergi. Kitalah yang perlu kembali mendekat. Ibn Qayyim al-Jauziyyah berkata: “Jarak antara seorang hamba dengan Allah adalah jarak antara hatinya dan taubatnya.” Kembali kepada Allah dimulai bukan dari banyaknya ibadah, tetapi dari hati yang ingin pulang. 2. Mengapa Memulai dari yang Paling Sederhana? Banyak orang berusaha kembali mendekat kepada Allah tetapi merasa harus langsung melakukan ibadah berat. Padahal Rasulullah ? mengajarkan bahwa amalan paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit. Beliau bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin meski sedikit.” (HR. Bukhari) Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa amalan kecil yang konsisten lebih baik daripada amalan besar yang tidak mampu dijaga. Iman memang naik turun, dan ketika sedang turun, ibadah sederhana adalah cara menghidupkannya kembali. 3. Ibadah Sederhana untuk Memulai Kembali A. Menjaga Shalat Wajib Mulailah dari yang paling mendasar: shalat tepat waktu. Jangan menunggu rasa khusyuk sempurna. Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa shalat yang awalnya lalai akan perlahan menjadi khusyuk jika terus dijaga. B. Dzikir Ringan di Setiap Waktu Ucapan Astaghfirullah, Alhamdulillah, atau Hasbunallah wa ni’mal wakil adalah dzikir singkat namun penuh pahala. Rasulullah ? bersabda bahwa dua kalimat dzikir yang ringan di lisan tetapi berat di timbangan adalah: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim. C. Membaca Satu Ayat Al-Qur’an Sehari Tidak perlu langsung satu juz. Satu ayat setiap hari setelah shalat sudah cukup untuk membuat hati tetap terikat dengan Al-Qur’an. D. Sedekah Kecil yang Dilakukan Rutin Sedekah tidak harus besar. Satu kebaikan kecil setiap hari, bahkan sekadar senyum yang tulus, sudah termasuk sedekah. 4. Rasa Jauh dari Allah Adalah Tanda Rindu Ibn Qayyim mengatakan bahwa rasa sempit dan gelisah sering kali adalah cara Allah memanggil hamba-Nya agar kembali. Jika hati terasa kosong, itu pertanda bahwa ruh sedang rindu kepada Pemiliknya. 5. Kisah Singkat yang Menguatkan Seorang pemuda di masa Tabi’in pernah merasa hatinya keras dan jauh dari Allah. Hasan al-Bashri menasihatinya: “Bacalah Al-Qur’an meski satu ayat.” Langkah kecil itu mengubah hidupnya hingga ia menjadi ahli ibadah. Ada pula seorang buruh yang selalu mengamalkan dzikir sebelum tidur: tasbih 33x, tahmid 33x, takbir 34x. Amalan sederhana itu membuatnya mulia di mata Allah. Kesimpulan: Rasa jauh dari Allah bukan akhir, tetapi awal perjalanan kembali. Mulailah dari ibadah kecil yang konsisten—shalat tepat waktu, dzikir ringan, satu ayat sehari, dan sedekah kecil. Amalan sederhana itulah yang akan membuka kembali pintu kedekatan dan ketenangan hati.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
STOP Terjebak di Zona Nyaman: 5 Alasan Hidupmu Terasa Stagnan
STOP Terjebak di Zona Nyaman: 5 Alasan Hidupmu Terasa Stagnan
Zona nyaman adalah keadaan saat hidup terasa aman, stabil, tanpa ancaman atau tekanan. Tidak ada tantangan berarti, tidak ada target baru, tidak ada risiko yang harus diambil. Kita merasa cukup, sehingga berhenti bergerak. Masalahnya, zona nyaman membuat kita lupa bahwa manusia diciptakan untuk berusaha dan berkembang, bukan duduk diam menikmati keadaan yang sudah “lumayan”. Allah berfirman: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39) Ayat ini menegaskan bahwa perkembangan datang setelah usaha. Ketika seseorang berhenti berusaha, hidupnya akan stagnan. Stagnan berarti berhenti berkembang. Secara emosional, stagnasi ditandai kelelahan batin, rasa bosan, tidak punya arah, hingga muncul pertanyaan: “Kenapa hidupku begini-begini saja?” Islam tidak mengajarkan kita berhenti di satu titik. Waktu, usia, dan kemampuan adalah amanah. Nabi ? bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Orang yang merasa stagnan biasanya tidak memanfaatkan waktu luang, atau merasa aman dengan keadaan saat ini. 1. Terjebak rutinitas tanpa tujuan Rutinitas yang tidak diiringi visi menjadikan hidup seperti ulang-ulang. Banyak yang bekerja sekadar menunggu gaji, bukan mengejar cita-cita. Imam Al-Ghazali mengatakan waktu adalah bagian dari hidup—ketika seseorang menyia-nyiakannya, ia menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Zona nyaman membuat kita merasa aman, namun diam-diam mencuri masa depan. 2. Takut gagal atau kehilangan Ketakutan adalah penjara terbesar. Orang takut mencoba karena takut gagal, diremehkan, atau kehilangan stabilitas. Padahal Islam mendorong kekuatan mental. Rasulullah ? bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) Kekuatan bukan hanya fisik, tetapi keberanian menghadapi tantangan. 3. Membandingkan diri tanpa bertindak Saat melihat orang lain maju—teman menikah, sahabat naik jabatan—kita iri, tapi tidak bergerak. Ini stagnan paling berbahaya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Perubahan tidak datang dari keluhan, tetapi dari tindakan. 4. Stagnasi spiritual Zona nyaman tidak hanya soal dunia. Banyak orang merasa, “Aku sudah shalat, sudah cukup.” Padahal iman selalu butuh ditumbuhkan. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69) Perjuangan mendatangkan bimbingan. Bukan pasrah tanpa usaha. 5. Menganggap tantangan sebagai musibah Sebagian melihat masalah sebagai hukuman, bukan peluang berkembang. Nabi ? bersabda: “Sesungguhnya besarnya ganjaran sejalan dengan besarnya ujian.” (HR. Tirmidzi) Kesulitan mengajarkan disiplin, kesabaran, dan ketahanan mental. Contoh nyata Andi bekerja nyaman di toko elektronik. Gaji cukup, tugas ringan. Namun 7 tahun berlalu, posisinya tetap sama. Ketika toko tutup, ia terpaksa belajar servis handphone untuk bertahan. Ia gagal beberapa kali, tapi terus memperbaiki diri. Kini ia membuka tempat reparasi sendiri. Jika ia tidak terlempar dari zona nyaman, hidupnya akan berhenti. Cara konkret Target kecil tapi konsisten: belajar 15 menit per hari lebih baik daripada 0. Ambil risiko terukur: mulai bisnis kecil, ikut kursus, belajar skill. Bangun lingkungan: berteman dengan orang yang mau berkembang. Tingkatkan ibadah: hati yang kuat berani bergerak karena percaya rezeki dari Allah. Hidup tidak diciptakan untuk berhenti. Zona nyaman selamat sesaat, tapi mematikan pelan-pelan. Keluar perlahan, dan mulailah bergerak.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
STOP Jadi Penonton: 7 Aksi Nyata yang Bisa Mengubah Hidupmu
STOP Jadi Penonton: 7 Aksi Nyata yang Bisa Mengubah Hidupmu
Banyak orang menjalani hidup seperti sedang menonton film—melihat keberhasilan orang lain tanpa pernah benar-benar berperan dalam hidupnya sendiri. Padahal Allah sudah memberikan potensi, akal, dan kesempatan kepada setiap manusia untuk bergerak dan memperbaiki dirinya. Islam tidak menginginkan umatnya pasif, melainkan menjadi pribadi yang aktif, bermanfaat, dan terus bertumbuh. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Ayat ini adalah alarm bagi siapa saja yang merasa hidupnya stagnan: perubahan tidak terjadi dengan menunggu, tapi dengan bertindak. 1. Berhenti Menonton — Mulai Bergerak Jangan hanya mengamati hidup orang lain. Langkah kecil—seperti belajar skill baru, memperbaiki ibadah, atau mengambil peluang sederhana—jauh lebih baik daripada seribu rencana tanpa aksi. 2. Tetapkan Tujuan Nyata Rasulullah ? mengingatkan bahwa waktu dan kesehatan adalah dua nikmat yang sering disia-siakan manusia (HR. Bukhari). Buat tujuan yang jelas dan terukur: hafal ayat baru, olahraga, atau belajar skill digital. 3. Ubah Konsumsi Menjadi Produksi Allah berfirman: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah dia usahakan.” (QS. An-Najm: 39) Kurangi hanya menjadi penonton di media sosial. Mulailah membuat karya—tulisan, konten dakwah, bisnis kecil, atau layanan yang bermanfaat. 4. Bangun Kebiasaan Ibadah yang Konsisten Ibadah adalah bahan bakar spiritual. Shalat tepat waktu, dzikir sebelum tidur, dan membaca Al-Qur’an beberapa ayat setiap hari akan menumbuhkan kekuatan hati dan kejernihan pikiran. 5. Berani Mengambil Risiko Terukur Takut gagal sering menjadi penghambat terbesar. Rasulullah ? bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) Ambillah peluang kecil. Tidak harus sempurna, yang penting mulai. 6. Kurangi Membandingkan Diri Media sosial hanya menampilkan hasil akhir, bukan prosesnya. Fokuslah pada perkembangan diri sendiri. Ukur progresmu dengan dirimu kemarin, bukan dengan pencapaian orang lain. 7. Lakukan Aksi Kecil yang Konsisten Satu langkah kecil yang dilakukan setiap hari akan membawa perubahan besar. Seperti kisah Dani yang mempelajari desain grafis selama 20 menit setiap hari hingga bisa membuka jasa sendiri—semua berawal dari aksi kecil yang tidak berhenti. Kesimpulan Perubahan hidup tidak datang dari menonton, tetapi dari keberanian untuk bergerak. Islam mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari diri sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11), waktu adalah amanah yang tidak boleh disia-siakan, dan setiap manusia hanya memperoleh apa yang ia usahakan. Tujuh langkah nyata—mulai bergerak, memiliki tujuan jelas, menghasilkan karya, memperkuat ibadah, berani mengambil risiko, berhenti membandingkan diri, serta melakukan aksi kecil secara konsisten—adalah fondasi agar hidup tidak stagnan. Dengan menerapkannya, seseorang beralih dari penonton menjadi pelaku yang membentuk jalan hidupnya sendiri, sekaligus menumbuhkan makna dan keberkahan dalam setiap proses yang dijalani.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Qiyamullail: Sumber Kekuatan yang Tidak Terlihat, Tapi Paling Dahsyat
Qiyamullail: Sumber Kekuatan yang Tidak Terlihat, Tapi Paling Dahsyat
Qiyamullail adalah ibadah malam yang menghidupkan hati. Ia bukan sekadar bangun dari tidur, tetapi momen seorang hamba menundukkan diri di hadapan Rabb-nya. Dalam keheningan malam ketika dunia terlelap, seorang mukmin berdoa, bersujud, dan berbicara kepada Allah dengan jujur—tanpa topeng, tanpa penilaian manusia. Inilah sumber kekuatan yang tidak tampak, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Isra’ [17]: 79: “Dan pada sebagian malam lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Ayat ini menegaskan bahwa tahajud adalah amalan ekstra yang dapat mengangkat martabat seorang hamba. Pada waktu sahar (menjelang Subuh), doa lebih mudah dikabulkan. Rasulullah ? bersabda: “Rabb kita turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir dan berfirman: Siapa berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan.” (HR. Bukhari & Muslim) Amalan yang Dilakukan saat Qiyamullail Qiyamullail mencakup beberapa ibadah: Shalat Tahajud Dilakukan setelah tidur, minimal dua rakaat. Nabi ? mengajarkan pentingnya konsistensi, bukan banyaknya rakaat. Shalat malam bisa dikerjakan 2, 4, 6, 8 hingga 11 rakaat. Shalat Witir Penutup shalat malam. Minimal 1 rakaat, maksimal 11 rakaat. Rasulullah ? bersabda: “Jadikanlah witir sebagai penutup shalat malam kalian.” (HR. Bukhari & Muslim) Tilawah Al-Qur’an Membaca Al-Qur’an dalam shalat atau setelahnya. Pada masa Nabi, sahabat berdiri lama membaca ayat demi ayat sebagai bentuk tadabbur. Dzikir dan doa Doa malam sangat mustajab. Anda dapat berdoa untuk rezeki, kesehatan, ketenangan, jodoh, atau apa pun yang Anda perlukan. Pandangan Ulama tentang Kekuatan Qiyamullail Imam Al-Ghazali menyebut qiyamullail sebagai pembersih hati dari karat dunia. Sementara Ibn Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan, “Shalat malam adalah makanan ruh. Jika ditinggalkan, ruh melemah sebagaimana tubuh yang tidak diberi makan.” Ulama menekankan bahwa qiyam bukan hanya ibadah individu, tetapi bekal spiritual untuk menghadapi ujian kehidupan. Motivasi dalam Kehidupan Masa Kini Di era modern, banyak orang kehabisan tenaga mental. Target pekerjaan, tekanan sosial media, persaingan ekonomi, membuat manusia merasa lelah bahkan sebelum berjuang. Qiyamullail hadir sebagai ruang penyembuhan. Saat bangun malam, seseorang menenangkan pikiran, melepaskan kecemasan, dan mengikat diri dengan harapan kepada Allah. Hati menjadi stabil, pikiran jernih, dan langkah hidup lebih tenang. Cara memulai tidak harus sulit. Tidur lebih awal, pasang alarm 20–30 menit sebelum Subuh, lalu shalat 2 rakaat dan witir 1 rakaat. Bila masih berat, cukup duduk berdzikir atau membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Allah tidak melihat berapa lama kita berdiri, tetapi seberapa tulus hati kita. Kisah Nyata Seorang pekerja pabrik di Jawa Barat pernah kehilangan pekerjaannya karena pemutusan kontrak. Ia hidup bersama istri dan dua anak. Tekanan hidup membuatnya hampir menyerah. Seorang ustaz menyarankannya untuk bangun malam, walau hanya dua rakaat. Ia memulai dengan berat, mengantuk, bahkan sering bolong. Namun ia terus mencoba. Di bulan keempat, ia mendapat tawaran kerja dari rekan lama dan memulai usaha kecil di sampingnya. Ketika ditanya rahasianya, ia menjawab singkat: “Saya bangun malam, dan Allah menguatkan saya.” Qiyamullail tidak selalu memberi hasil cepat, tetapi ia memberi sesuatu yang lebih berharga: keteguhan hati. Dalam dunia yang ramai dan penuh kelelahan, qiyamullail adalah ruang sunyi yang menyembuhkan, menguatkan, dan membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhannya.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
Dalam Setiap Sujudmu, Ada Jawaban yang Diam-Diam Allah Titipkan
Dalam Setiap Sujudmu, Ada Jawaban yang Diam-Diam Allah Titipkan
Dalam hidup, setiap manusia memikul beban, pertanyaan, dan kegelisahan yang kadang sulit ia bagi kepada siapa pun. Ada luka yang tidak mudah sembuh, ada doa yang terasa lama sekali terjawab, dan ada rencana yang tak kunjung menemukan jalannya. Namun Islam mengajarkan cara paling lembut untuk menenangkan hati: sujud. Sujud bukan sekadar gerakan fisik dalam shalat. Ia adalah puncak ketundukan seorang hamba, titik terendah tubuh namun titik tertinggi kedekatan dengan Allah. Menurut para ulama, di dalam sujud inilah Allah sering menitipkan jawaban—pelan, diam-diam, tetapi selalu tepat. I. Sujud: Momen Kedekatan Terbesar dengan Allah Keistimewaan sujud dijelaskan langsung oleh Rasulullah ?: “Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa saat itu.” (HR. Muslim) Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kedekatan ini adalah kedekatan maknawi, yaitu dekat pada rahmat-Nya dan pada kesempatan pengabulan doa. Sujud adalah puncak kehinaan diri di hadapan Allah, dan ketika hati telah luruh, doa menjadi lebih tulus. Ibnul Qayyim menegaskan bahwa tidak ada kondisi yang lebih mulia bagi hamba selain sujud, karena pada saat itulah hati benar-benar tunduk dan pasrah. II. Sujud Menghapus Resah dan Menguatkan Jiwa Allah berfirman: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Sujud adalah bentuk zikir paling kuat. Tasbih Subhaana Rabbiyal A’laa yang diucapkan dalam sujud adalah bentuk pujian yang menghadirkan ketenangan. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa seseorang meninggalkan dunia ketika ia sujud dengan hati yang hadir. Di titik itu, ketenangan diturunkan Allah ke dalam dada. Banyak orang bangkit dari sujud dengan hati yang berbeda—lebih kuat, lebih jernih, dan lebih siap menghadapi kenyataan. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena Allah menitipkan kekuatan untuk menjalaninya. III. Jawaban yang Allah Titipkan Tidak Selalu Berupa Keajaiban Besar Ibn Atha’illah dalam Al-Hikam mengatakan: “Jika Allah menunda jawabanmu, bukan berarti Dia mengabaikanmu. Dia hanya ingin menjawab pada waktu yang terbaik.” Jawaban dari sujud sering hadir dalam bentuk: hati yang tiba-tiba lebih lapang, pikiran yang lebih jernih, kemauan untuk bergerak (taufiq), kemampuan untuk mengikhlaskan. Allah memerintahkan: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45) Imam Syafi'i dikenal sering kembali kepada shalat dan sujud saat menghadapi persoalan. Beliau mengatakan bahwa Allah selalu membukakan jalan setelah ia bersujud. IV. Sujud Malam: Waktu Mustajab untuk Memohon Qiyamullail adalah waktu ketika doa lebih mudah naik, dan pertolongan lebih dekat turun. Rasulullah ? bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir, Allah memanggil: “Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan…” (HR. Bukhari dan Muslim) Sujud di waktu malam adalah momen ketika hati paling jujur, paling pasrah, dan paling dekat kepada Allah. Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan 1. Lakukan satu sujud panjang setiap selesai shalat. Sampaikan semua keluh kesahmu dalam diam. 2. Ketika bingung atau sedih, lakukan sujud terlebih dahulu. Jadikan sujud sebagai respon pertama, bukan terakhir. 3. Luangkan minimal satu malam dalam seminggu untuk sujud malam. 4. Gunakan sujud sebagai tempat mengikhlaskan. Ucapkan: “Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan pilihkan yang terbaik untukku.” Kesimpulan Sujud adalah momen ketika seorang hamba berada pada jarak terdekat dengan Rabb-nya. Di sanalah doa paling layak untuk dikabulkan, dan di sanalah jawaban-jawaban ilahi sering dititipkan—bukan selalu dalam bentuk perubahan keadaan, tetapi dalam bentuk ketenangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan jiwa. Sujud mengajarkan bahwa jawaban Allah tidak selalu datang dengan gemuruh, tetapi sering turun dengan lembut ke dalam hati yang pasrah. Dan siapa pun yang membiasakan sujud dengan sungguh-sungguh akan menemukan bahwa Allah tidak pernah jauh—Ia selalu dekat, terutama ketika dahi menyentuh bumi.
ARTIKEL03/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ujian Bukan Hukuman, Tapi Cara Allah Menaikkan Derajat
Ujian Bukan Hukuman, Tapi Cara Allah Menaikkan Derajat
Setiap manusia pernah mengalami ujian. Ada yang diuji dengan kehilangan, kegagalan, penolakan, sakit, atau tekanan hidup. Saat ujian tiba, sebagian orang merasa Allah tidak sayang, bahkan menganggap musibah sebagai hukuman atas kesalahan mereka. Namun dalam perspektif Islam, ujian bukan tanda murka, tetapi justru tanda cinta dan perhatian Allah agar kita tumbuh dan naik derajat. 1. Ujian adalah bagian dari hidup Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah sesuatu yang pasti. Ia tidak berfungsi untuk menghancurkan, tetapi untuk melatih kesabaran, menumbuhkan keimanan, dan menguji keteguhan hati. Islam tidak mengenal konsep hidup tanpa masalah. Justru ujian membentuk manusia menjadi lebih matang dan dewasa. 2. Ujian bukan tanda kebencian Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung pada besarnya ujian. Dan jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini memberi perspektif yang menenangkan: semakin besar amanah seseorang, semakin besar ujian yang ia hadapi. Orang beriman bukan diangkat derajatnya karena kenyamanan, tetapi karena ketabahannya menghadapi kesulitan. Allah tidak ingin menghancurkan hamba-Nya, melainkan mendidiknya dengan cara yang tidak selalu kita pahami. 3. Tingkatan ujian dalam Islam Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa jenis ujian: a. Ujian untuk membersihkan dosa Ibnu Qayyim rahimahullah menyebut musibah sebagai obat yang membersihkan jiwa dari dosa dan kesombongan. Setiap kesulitan yang diterima dengan sabar menghapus kesalahan masa lalu. Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, gangguan… kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) b. Ujian untuk meningkatkan derajat Orang salih bisa jadi diuji bukan karena dosa, tetapi karena Allah ingin mengangkat martabatnya. Seperti Nabi Ayyub as. yang bertahun-tahun sakit, namun tetap sabar dan tawakal. Kesabarannya menjadi teladan sepanjang sejarah. c. Ujian untuk menguji keimanan Allah ingin melihat apakah seseorang beriman hanya saat nyaman. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-Ankabut: 2) 4. Cara menghadapi ujian secara konkret Pertama, perkuat hubungan dengan Allah. Shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an adalah benteng hati. Ketika ruh tenang, pikiran menjadi jernih. Kedua, ikhtiar secara realistis. Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha. Penyakit perlu diobati, hutang perlu dicari jalan keluar, karier perlu dikejar dengan kerja keras. Ketiga, batasi perbandingan hidup. Melihat pencapaian orang lain hanya membuat kita lupa mensyukuri nikmat yang ada. Rasulullah ? mengajarkan untuk melihat mereka yang berada di bawah, agar kita tidak meremehkan nikmat Allah. 5. Contoh nyata Seorang mahasiswa gagal berkali-kali mendapatkan beasiswa. Ia merasa malu dibandingkan teman-teman seangkatan. Namun ia terus mencoba, memperbaiki essay, belajar bahasa, dan memperbaiki nilai. Setelah dua tahun, ia berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri. Ia berkata, “Andai aku langsung lolos, mungkin aku tidak pernah belajar menulis, tidak pernah disiplin, dan tidak pernah menghargai air mata.” Kegagalannya bukan hukuman, tetapi proses pembentukan dirinya. 6. Penutup Ujian bukan hukuman. Ia adalah tanda cinta Allah, jalan mendidik jiwa, membersihkan dosa, dan mengangkat derajat. Allah tidak pernah membiarkan hambanya terluka tanpa hikmah; tidak ada air mata yang sia-sia jika diteteskan dalam doa. Jangan marah saat diuji — di balik badai selalu ada pelangi yang Allah siapkan. Ketika kita berhasil melewatinya, kita menjadi lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dekat dengan-Nya.
ARTIKEL03/12/2025 | indri irmayanti
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Mari tunaikan zakat Anda dengan mentransfer ke rekening zakat.

BAZNAS

Info Rekening Zakat