Artikel Terbaru
Zakat, Infak, dan Sedekah: 3 Amal yang Sering Disamakan, Padahal Beda
Zakat, Infak, dan Sedekah: 3 Amal yang Sering Disamakan, Padahal Beda
Di tengah semangat berbagi, istilah zakat, infak, dan sedekah sering digunakan secara bergantian. Ketiganya memang sama-sama mengajarkan kepedulian dan membantu sesama. Namun, dalam Islam, ketiganya memiliki pengertian, aturan, dan cakupan yang berbeda.
Memahami perbedaan zakat, infak, dan sedekah penting agar setiap kebaikan yang kita lakukan tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga tepat secara syariat. Lebih dari itu, pemahaman ini dapat membuka mata bahwa berbagi tidak selalu harus menunggu kaya.
Zakat: Kewajiban yang Memiliki Aturan
Apa Itu Zakat?
Zakat adalah kewajiban bagi seorang Muslim yang telah memenuhi syarat tertentu. Zakat bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada orang lain, tetapi merupakan ibadah yang memiliki ketentuan mengenai jenis harta, batas minimal (nisab), waktu (haul) untuk jenis tertentu, kadar, serta golongan penerima.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka...”
Zakat memiliki fungsi besar, bukan hanya menyucikan harta dan jiwa, tetapi juga membantu mengurangi kesenjangan sosial dan memenuhi kebutuhan mereka yang berhak menerimanya.
Infak: Mengeluarkan Harta untuk Kebaikan
Apa Bedanya Infak dengan Zakat?
Infak berarti mengeluarkan sebagian harta untuk suatu kebaikan. Berbeda dengan zakat yang memiliki ketentuan khusus, infak memiliki cakupan yang lebih luas.
Infak dapat diberikan untuk membantu fakir miskin, mendukung pendidikan, pembangunan fasilitas sosial, membantu korban bencana, maupun berbagai kebutuhan kebaikan lainnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 267:
“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu.”
Artinya, infak menjadi salah satu cara seorang Muslim menggunakan hartanya untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Sedekah: Lebih Luas dari Sekadar Harta
Sedekah Tidak Selalu Berupa Uang
Jika zakat dan infak berkaitan erat dengan harta, sedekah memiliki makna yang jauh lebih luas. Senyum, perkataan baik, membantu orang lain, hingga menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan dapat menjadi sedekah.
Rasulullah bersabda:
“Setiap kebaikan adalah sedekah.”
(HR. Muslim)
Dalam hadis lainnya, Rasulullah ? menjelaskan bahwa perkataan yang baik dan menyingkirkan gangguan dari jalan juga termasuk sedekah.
Karena itu, jangan pernah merasa tidak bisa bersedekah hanya karena sedang tidak memiliki banyak uang.
3 Perbedaan Zakat, Infak, dan Sedekah
Zakat
Hukumnya: wajib bagi yang memenuhi syarat.Bentuknya: harta tertentu sesuai ketentuan syariat.Penerimanya: memiliki ketentuan khusus dalam syariat.
Infak
Hukumnya: dapat wajib maupun sunnah, tergantung konteksnya.Bentuknya: umumnya berupa harta.Tujuannya: berbagai kebutuhan dan kemaslahatan yang dibenarkan.
Sedekah
Hukumnya: pada umumnya sunnah.Bentuknya: sangat luas, termasuk harta maupun perbuatan baik.Tujuannya: menghadirkan manfaat dan kebaikan.
Jangan Hanya Memahami, Saatnya Mengamalkan
Perbedaan tersebut seharusnya tidak membuat kita bingung untuk berbuat baik. Justru, zakat, infak, dan sedekah membuka banyak pintu kebaikan. Ada orang yang memiliki harta dan mampu menunaikan zakat. Ada yang dapat menyisihkan sebagian penghasilannya melalui infak. Ada pula yang mungkin belum mampu memberi banyak secara materi, tetapi tetap dapat bersedekah melalui tenaga, waktu, senyuman, dan kepedulian.
Setiap bentuk kebaikan memiliki nilai dan manfaatnya masing-masing. Zakat membantu memenuhi hak mereka yang membutuhkan, infak dapat menjadi dukungan bagi berbagai program kemanusiaan, sementara sedekah menghadirkan kebaikan bahkan melalui hal-hal sederhana yang sering kita anggap sepele. Dengan memahami perbedaannya, kita dapat memilih bentuk amal yang sesuai dengan kemampuan sekaligus memastikan bahwa kebaikan yang dilakukan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata.
Jangan menunggu memiliki harta berlimpah untuk mulai berbagi. Bisa jadi, sebagian kecil yang kita sisihkan hari ini menjadi sangat berarti bagi seseorang yang sedang menghadapi kesulitan. Sebuah bantuan mungkin mampu memenuhi kebutuhan makan, membantu biaya pendidikan, meringankan beban keluarga, atau memberikan harapan bagi mereka yang sedang berada di titik terberat kehidupannya. Ketika dilakukan dengan ikhlas dan disalurkan dengan tepat, kebaikan kecil dapat tumbuh menjadi manfaat yang besar.
Pada akhirnya, zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita keluarkan, tetapi tentang seberapa besar kepedulian yang kita hadirkan. Mari jadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk berbagi. Tunaikan zakat ketika telah memenuhi kewajiban, sisihkan infak dari rezeki yang dimiliki, dan jangan pernah berhenti bersedekah melalui kebaikan sederhana. Karena boleh jadi, apa yang terasa kecil bagi kita justru menjadi alasan seseorang kembali tersenyum dan menemukan harapan.
Sedikit dari Kita, Bisa Berarti Besar bagi Mereka
Di luar sana, masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, lansia yang memerlukan perhatian, serta masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kondisi sulit.
Karena itu, jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Satu kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi jalan hadirnya harapan bagi orang lain.
Mari tunaikan zakat sesuai kewajiban, salurkan infak dengan ikhlas, dan perbanyak sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kebaikan dikelola dan disalurkan dengan tepat, manfaatnya dapat menjadi lebih luas dan dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.
Sebab, harta yang kita keluarkan mungkin terlihat berkurang, tetapi kebaikan yang kita tanam dapat menjadi bekal yang jauh lebih panjang.
ARTIKEL03/09/2026 | BAZNAS
Kalau Harta Bisa Bicara, Mungkin Ia Akan Bertanya: “Sudahkah Kamu Berzakat?"
Kalau Harta Bisa Bicara, Mungkin Ia Akan Bertanya: “Sudahkah Kamu Berzakat?"
Setiap hari kita bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Dari penghasilan tersebut, kita membeli kebutuhan, menabung untuk masa depan, membangun usaha, memenuhi keperluan keluarga, hingga mewujudkan berbagai impian.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendir, sudahkah harta yang kita miliki ditunaikan zakatnya?
Kalau harta bisa bicara, mungkin ia tidak akan menuntut banyak. Ia mungkin hanya bertanya dengan lembut, “Sudahkah kamu menunaikan hak yang ada di dalam diriku?”
Sebab dalam Islam, harta bukan hanya tentang apa yang kita miliki. Di dalam harta terdapat amanah dan hak orang lain yang harus ditunaikan ketika telah memenuhi syarat zakat.
Zakat Bukan Sekadar Mengurangi Harta
Sebagian orang mungkin masih merasa berat ketika harus mengeluarkan sebagian hartanya untuk zakat. Padahal, zakat bukanlah kehilangan. Zakat adalah bentuk ketaatan sekaligus cara membersihkan dan menyucikan harta.
Allah Memerintahkan Kita untuk Menunaikan Zakat
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini mengingatkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual yang sangat dalam. Zakat menjadi sarana untuk menyucikan harta sekaligus membersihkan jiwa dari sifat kikir dan berlebihan mencintai dunia.
Ketika Zakat Menjadi Jalan Kebaikan
Zakat yang ditunaikan melalui lembaga pengelola zakat dapat disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya. Bantuan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya mengatasi berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Dari Harta Menjadi Manfaat
Bayangkan sebagian harta yang kita keluarkan menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan. Menjadi biaya pendidikan bagi seorang anak. Menjadi modal bagi seseorang untuk bangkit. Atau membantu seorang mustahik mendapatkan layanan kesehatan.
Di situlah harta berubah menjadi manfaat.
Apa yang mungkin terlihat kecil bagi kita dapat memiliki arti yang sangat besar bagi penerimanya.
Harta yang Berkah, Manfaat yang Lebih Luas
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Beliau bersabda:
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim No. 2588)
Hadits tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukanlah alasan untuk takut menjadi kekurangan. Justru, kebaikan yang dikeluarkan dengan ikhlas dapat menjadi jalan keberkahan.
Sudahkah Kamu Berzakat Hari Ini?
Kesibukan terkadang membuat kita lupa. Kita sibuk mengejar target, meningkatkan penghasilan, membeli kebutuhan, dan merencanakan masa depan. Tanpa disadari, pertanyaan tentang zakat pun sering tertunda.
Padahal, ketika harta telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan kewajiban.
Jangan Tunggu Sampai Harta Mengingatkan
Jangan menunggu sampai ada yang bertanya. Jangan menunggu sampai merasa “nanti saja”. Karena kesempatan untuk berbagi adalah kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Melalui BAZNAS, masyarakat dapat menunaikan zakat dan berkontribusi dalam berbagai program yang ditujukan untuk membantu mustahik.
Mari Jadikan Zakat sebagai Bukti Syukur
Harta yang kita miliki adalah titipan Allah SWT. Ada saatnya kita menerima lebih banyak, ada saatnya kita menghadapi keterbatasan. Karena itu, ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, sudah sepatutnya kita menyisihkan sebagian sesuai ketentuan untuk mereka yang berhak.
Bayangkan jika semakin banyak orang menunaikan zakat. Semakin banyak keluarga yang terbantu. Semakin banyak anak yang memiliki kesempatan belajar. Semakin banyak mustahik yang mendapatkan peluang untuk mandiri.
Satu zakat mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika dilakukan bersama-sama, dampaknya bisa menjadi luar biasa.
Saatnya Menjawab Pertanyaan Itu
Kalau harta kita benar-benar bisa berbicara, mungkin hari ini ia akan kembali bertanya:
“Sudahkah kamu berzakat?”
Mari jawab pertanyaan itu dengan tindakan.
Tunaikan zakat melalui BAZNAS. Jadikan sebagian dari rezeki yang Allah titipkan sebagai jalan hadirnya harapan bagi sesama.
Karena pada akhirnya, harta bukan hanya tentang berapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa besar kebaikan yang dapat kita hadirkan melalui harta tersebut.
Sudahkah kamu berzakat? Jika sudah memenuhi kewajiban, jangan tunda. Tunaikan zakat hari ini dan ikut menjadi bagian dari kebaikan yang terus mengalir.
ARTIKEL03/09/2026 | BAZNAS
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Saat Zakat Berubah Menjadi Aksi Nyata
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Saat Zakat Berubah Menjadi Aksi Nyata
Ada banyak orang yang ingin membantu sesama, tetapi tidak selalu tahu harus memulai dari mana. Keinginan untuk berbagi sering kali muncul dari hal sederhana, seperti melihat tetangga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, keluarga yang kehilangan penghasilan, atau anak-anak yang tetap ingin bersekolah di tengah keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk bangkit dan menjalani kehidupan dengan lebih layak. Mereka mungkin tidak meminta banyak, tetapi sebuah bantuan yang diberikan pada waktu yang tepat dapat menjadi penyemangat untuk kembali melangkah.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, kepedulian tidak seharusnya berhenti sebagai rasa iba. Kepedulian perlu diwujudkan dalam tindakan yang mampu memberikan manfaat secara nyata dan berkelanjutan. Setiap orang mungkin memiliki kemampuan yang berbeda untuk membantu. Ada yang dapat memberikan tenaga, waktu, ilmu, maupun harta. Namun, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan dengan niat tulus, semuanya dapat menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang lebih besar.
Di sinilah zakat dapat menjadi aksi nyata. Zakat bukan hanya tentang memberikan sebagian harta, tetapi tentang menghadirkan kepedulian, meringankan beban, dan membuka peluang bagi mereka yang membutuhkan. Harta yang kita keluarkan melalui zakat dapat menjadi sumber harapan bagi keluarga kurang mampu, membantu memenuhi kebutuhan dasar, mendukung pendidikan, hingga menjadi bagian dari program pemberdayaan yang membantu penerima manfaat agar mampu berdiri lebih mandiri.
Karena itu, menunaikan zakat bukan sekadar memenuhi kewajiban sebagai seorang Muslim, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengambil bagian dalam perubahan sosial. Ketika zakat dikelola dan disalurkan dengan tepat, satu kewajiban dapat menghadirkan banyak manfaat bagi sesama. Mungkin jumlah yang kita keluarkan tidak terasa besar, tetapi bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, kepedulian tersebut bisa memiliki arti yang sangat berarti. Dari sinilah zakat dapat berubah menjadi aksi nyata: dari harta yang kita miliki, lahir harapan bagi orang lain.
Zakat: Dari Kewajiban Menjadi Aksi Nyata
Zakat merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Ketika zakat ditunaikan, sebagian harta yang kita miliki disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki makna lebih dalam daripada sekadar mengeluarkan harta. Zakat menjadi sarana untuk menyucikan harta sekaligus membangun kepedulian sosial.
Ketika Zakat Menyentuh Kehidupan
Bayangkan ketika zakat yang kita tunaikan membantu memenuhi kebutuhan pangan sebuah keluarga. Bayangkan ketika dukungan tersebut membantu seorang anak tetap bersekolah, seorang pelaku usaha kecil kembali bangkit, atau seseorang mendapatkan bantuan ketika menghadapi kondisi sulit.
Inilah saat zakat berubah menjadi aksi nyata.
Harta yang sebelumnya hanya tersimpan dapat memberikan manfaat ketika disalurkan melalui pengelolaan yang tepat dan amanah.
Mengapa Kita Harus Bergerak?
Kepedulian tidak cukup hanya disimpan dalam hati. Ada saatnya niat baik harus diwujudkan menjadi tindakan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memberi maaf melainkan Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.”(HR. Muslim no. 2588)
Hadits tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukanlah kerugian. Ada keberkahan yang menyertai kebaikan yang kita keluarkan.
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?
Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Kita juga tidak bisa membantu semua orang sekaligus. Namun, kita bisa memulai dari satu langkah sederhana, menunaikan zakat ketika telah memenuhi kewajibannya.
Jangan menunggu memiliki lebih banyak untuk mulai peduli. Jangan menunggu datangnya momen yang sempurna untuk berbagi.
Sebab, bagi seseorang yang sedang membutuhkan, bantuan yang datang hari ini bisa berarti sangat besar.
Saatnya Jadikan Zakat sebagai Gerakan Kebaikan
Zakat dapat menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kemampuan dan mereka yang membutuhkan dukungan. Ketika dikelola dengan baik, zakat dapat berkontribusi pada berbagai program pemberdayaan, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Satu Zakat, Banyak Harapan
Apa yang kita keluarkan mungkin terlihat kecil dibandingkan dengan kebutuhan dunia. Namun, bagi penerima manfaat, zakat bisa menjadi awal dari perubahan.
Satu bantuan dapat menghadirkan makanan.Satu kepedulian dapat menumbuhkan harapan.Satu zakat dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk bangkit.
Mari Berzakat dan Hadirkan Manfaat
Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Mari tunaikan zakat melalui lembaga pengelola zakat yang amanah dan terpercaya. Bersama BAZNAS, mari ubah kepedulian menjadi aksi nyata dan hadirkan manfaat bagi lebih banyak saudara yang membutuhkan.
Karena zakat bukan hanya tentang harta yang kita keluarkan, tetapi tentang harapan yang kita hadirkan.
Yuk, tunaikan zakat hari ini. Jadikan sebagian harta kita sebagai jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.
ARTIKEL03/09/2026 | BAZNAS
7 Pelajaran Sabar dari Sejarah Islam Saat Menghadapi Ketidakadilan
7 Pelajaran Sabar dari Sejarah Islam Saat Menghadapi Ketidakadilan
Ketidakadilan bisa datang dalam banyak bentuk. Ada yang kehilangan pekerjaan, haknya dirampas, diperlakukan tidak adil, atau harus menyaksikan orang terdekat mengalami kesulitan. Dalam kondisi seperti ini, sabar menghadapi ketidakadilan bukan berarti diam dan menyerah. Islam mengajarkan bahwa kesabaran adalah kekuatan untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun keadaan terasa berat.
Sejarah Islam memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana orang-orang beriman menghadapi tekanan, penindasan, dan ujian. Dari sana, kita belajar bahwa sabar bukan kelemahan, melainkan sikap yang menjaga hati agar tidak berubah menjadi kebencian dan tindakan zalim.
1. Sabar Bukan Berarti Menyerah
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah: 153)
Ayat ini menunjukkan bahwa sabar bukan pasrah tanpa usaha. Kesabaran justru menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi masalah sambil tetap berikhtiar.
Sabar dan ikhtiar harus berjalan bersama
Ketika melihat ketidakadilan, kita tetap boleh memperjuangkan hak, membantu korban, menyuarakan kebenaran, dan mencari jalan keluar. Namun, semua itu harus dilakukan tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri.
2. Rasulullah SAW Mengajarkan Keteguhan
Perjalanan dakwah Rasulullah SAW penuh dengan penolakan dan tekanan. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan yang sama.
Sikap tersebut menjadi teladan bahwa menghadapi ketidakadilan membutuhkan keteguhan hati. Kita tidak boleh membiarkan perilaku buruk orang lain membuat kita ikut melakukan keburukan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”(HR. Bukhari no. 10)
Jangan membalas kezaliman dengan kezaliman
Kemarahan yang tidak terkendali dapat membuat seseorang melakukan tindakan yang justru merugikan dirinya sendiri. Kesabaran membantu kita memilih respons yang lebih bijaksana.
3. Kisah Bilal Mengajarkan Keteguhan Iman
Bilal bin Rabah RA mengalami penyiksaan berat karena mempertahankan keimanannya. Namun, penderitaan tersebut tidak membuatnya meninggalkan keyakinannya.
Kisah Bilal mengajarkan bahwa kesabaran terkadang berarti tetap mempertahankan prinsip ketika keadaan memaksa kita untuk menyerah.
Keteguhan lahir dari keyakinan
Ketika seseorang yakin bahwa Allah mengetahui setiap penderitaan, ia memiliki alasan untuk terus bertahan meskipun manusia tidak melihat perjuangannya.
4. Hijrah Mengajarkan Keberanian Mengambil Jalan Keluar
Hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat menunjukkan bahwa sabar bukan berarti harus terus berada dalam keadaan yang membahayakan.
Ketika tekanan semakin berat, mereka mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan iman dan kehidupan. Artinya, sabar menghadapi ketidakadilan juga dapat berarti berani mengambil keputusan untuk mencari keadaan yang lebih baik.
5. Kesabaran Harus Melahirkan Kepedulian
Ujian yang kita lihat pada orang lain seharusnya tidak berhenti pada rasa kasihan. Kesabaran semestinya mendorong kita untuk membantu.
Ada orang yang sedang menghadapi kemiskinan, kehilangan pekerjaan, bencana, maupun kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata penyemangat.
Saatnya mengubah kepedulian menjadi tindakan
Salah satu bentuk kepedulian adalah berbagi melalui sedekah, infak, dan zakat kepada mereka yang membutuhkan. Bantuan kecil bagi kita bisa menjadi harapan besar bagi orang lain.
6. Jangan Biarkan Ketidakadilan Mematikan Harapan
Sejarah Islam mengajarkan bahwa masa sulit tidak berlangsung selamanya. Ada masa ketika kaum Muslimin mengalami tekanan, tetapi kemudian datang pertolongan Allah.
Karena itu, ketika hidup terasa tidak adil, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa semuanya telah berakhir. Tetaplah berdoa, berusaha, dan membantu sesama.
Kesabaran membutuhkan lingkungan yang saling menguatkan
Kita tidak selalu mampu menyelesaikan semua masalah sendirian. Dukungan masyarakat dan kepedulian sosial dapat menjadi kekuatan bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan.
7. Sabar Harus Berujung pada Kebaikan
Pelajaran terbesar dari sejarah Islam adalah bahwa penderitaan tidak seharusnya membuat kita kehilangan kasih sayang.
Justru ketika mengetahui bagaimana rasanya menghadapi kesulitan, kita menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain.
Jadikan kesabaran sebagai gerakan kebaikan
Jika hari ini kita masih diberi kemampuan untuk membantu, jangan menunggu sampai memiliki banyak. Satu bantuan, satu makanan, satu paket kebutuhan pokok, atau satu sedekah dapat menjadi jalan hadirnya harapan bagi seseorang.
Dari Sabar Menjadi Aksi Nyata
Sabar menghadapi ketidakadilan bukan hanya tentang menahan emosi. Sabar adalah kemampuan menjaga iman, mengendalikan tindakan, memperjuangkan kebenaran, dan tetap peduli kepada sesama.
Hari ini mungkin kita sedang baik-baik saja. Namun, di luar sana ada saudara kita yang sedang berjuang menghadapi kemiskinan, musibah, kelaparan, dan berbagai kesulitan hidup.
Jangan biarkan kepedulian berhenti menjadi perasaan.
Mari sisihkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan. Karena terkadang, bantuan yang menurut kita sederhana justru menjadi alasan seseorang mampu bertahan satu hari lagi.
Berbagi hari ini. Hadirkan harapan. Jadikan kesabaran kita sebagai amal yang nyata.
ARTIKEL31/08/2026 | BAZNAS
Ketakutan Bisa Membuat Kita Bergerak, tetapi Harapan Menentukan ke Mana Kita Pergi
Ketakutan Bisa Membuat Kita Bergerak, tetapi Harapan Menentukan ke Mana Kita Pergi
Ada banyak hal yang membuat manusia bergerak.
Seseorang bekerja keras karena takut tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Seorang mahasiswa belajar karena takut gagal. Orang tua menabung karena takut masa depan anaknya tidak terjamin. Seseorang menjaga kesehatan karena takut jatuh sakit.
Ketakutan ternyata tidak selalu membuat manusia berhenti. Kadang justru sebaliknya, ketakutan membuat kita berlari.
Namun ada sesuatu yang sering luput kita sadari.
Kita bisa berlari begitu jauh karena takut kehilangan sesuatu, tetapi belum tentu tahu ke mana sebenarnya kita sedang menuju.
Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, mungkin persoalannya bukan apakah kita memiliki rasa takut. Persoalannya adalah apakah hidup kita sedang digerakkan oleh ketakutan, atau diarahkan oleh harapan?
Takut Tidak Selalu Berarti Lemah
Kita sering menganggap rasa takut sebagai sesuatu yang harus disingkirkan.
Padahal, rasa takut memiliki fungsi. Ia memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Takut kehilangan pekerjaan dapat membuat seseorang meningkatkan kemampuan. Takut gagal dapat membuat seseorang mempersiapkan diri lebih baik. Takut mengalami kesulitan finansial dapat mendorong seseorang belajar mengelola keuangan.
Dalam kadar yang sehat, ketakutan dapat menjadi pengingat agar manusia tidak hidup sembarangan.
Bahkan dalam kehidupan seorang muslim, terdapat konsep khauf, yaitu rasa takut kepada Allah yang mendorong seseorang untuk berhati-hati terhadap dosa dan perbuatan yang merugikan.
Masalah muncul ketika ketakutan tidak lagi menjadi penunjuk arah, tetapi berubah menjadi pengendali kehidupan.
Ketika Hidup Hanya Dibangun untuk Menghindari Kehilangan
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya hanya mengejar keamanan.
Ia bekerja bukan karena memiliki tujuan yang ingin diwujudkan, tetapi semata-mata karena takut kehilangan penghasilan.
Ia mengejar uang bukan karena ingin menggunakan hartanya untuk sesuatu yang bermakna, tetapi karena takut merasa kurang.
Ia mengejar prestasi bukan karena ingin memberikan manfaat, tetapi karena takut dianggap gagal.
Ia mempertahankan sesuatu bukan karena sesuatu itu baik, tetapi karena takut memulai kembali.
Dari luar, hidupnya mungkin terlihat sangat produktif.
Tetapi di dalam dirinya, mungkin ada pertanyaan yang tidak pernah sempat muncul yakni “Kalau semua yang aku lakukan hanya untuk menghindari sesuatu, sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Inilah sisi lain dari ketakutan yang jarang dibicarakan.
Ketakutan dapat membuat seseorang terus bergerak tanpa pernah benar-benar memilih arah.
Kita Membutuhkan Sesuatu untuk Dikejar, Bukan Hanya Sesuatu untuk Dihindari
Manusia membutuhkan harapan.
Bukan harapan dalam arti menunggu keajaiban tanpa usaha, tetapi keyakinan bahwa masa depan masih memiliki kemungkinan untuk menjadi lebih baik dan bahwa usaha yang dilakukan memiliki tujuan.
Dalam Islam, harapan kepada Allah dikenal dengan raja’.
Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar ayat 53:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
Ayat ini bukan ajakan untuk berhenti berusaha.
Justru sebaliknya.
Harapan kepada Allah membuat seorang muslim memahami bahwa kegagalan hari ini bukan berarti seluruh perjalanan telah berakhir.
Ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ada ruang untuk bertobat.
Ada jalan untuk memulai kembali.
Ada kebaikan yang masih dapat dilakukan.
Karena itu, raja’ bukan sekadar perasaan positif.
Ia adalah cara memandang kehidupan dengan keyakinan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada keadaan yang sedang kita hadapi.
Fear Membuat Kita Bertahan, Hope Membuat Kita Bertumbuh
Ketakutan dan harapan sebenarnya tidak harus menjadi musuh.
Keduanya dapat berjalan bersama.
Takut kepada kemiskinan dapat membuat seseorang belajar mengelola harta.
Tetapi harapan kepada kehidupan yang lebih baik membuatnya tidak berhenti belajar.
Takut gagal dapat membuat seseorang mempersiapkan diri.
Tetapi harapan membuatnya berani mencoba.
Takut kehilangan kesempatan dapat membuat seseorang bergerak.
Tetapi harapan membantu menentukan kesempatan seperti apa yang layak dikejar.
Dengan kata lain, ketakutan dapat memberi kita energi untuk bergerak, tetapi harapan memberi kita alasan untuk terus berjalan.
Karena itu, hidup yang sehat bukanlah hidup tanpa rasa takut.
Melainkan hidup yang tidak membiarkan rasa takut menjadi satu-satunya alasan untuk bertindak.
Ketika Dunia Menjual Ketakutan Setiap Hari
Kita hidup di zaman ketika rasa takut mudah sekali diproduksi.
Takut tertinggal.
Takut miskin.
Takut tidak sukses.
Takut tidak memiliki rumah.
Takut kalah dari teman.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut tidak cukup kaya.
Takut tidak terlihat berhasil.
Media sosial bahkan membuat kita dapat melihat keberhasilan orang lain hampir setiap hari.
Kita melihat seseorang membeli rumah.
Orang lain mendapatkan pekerjaan.
Orang lain membuka bisnis.
Orang lain pergi berlibur.
Orang lain mendapatkan penghargaan.
Tanpa sadar, kehidupan berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah kita sepakati.
Kita mulai mengejar sesuatu hanya karena takut tertinggal.
Padahal belum tentu sesuatu yang dikejar orang lain merupakan sesuatu yang benar-benar kita butuhkan.
Di sinilah manusia perlu berhenti sejenak.
Sebab tidak semua kecepatan adalah kemajuan.
Bergerak cepat ke arah yang salah tetap membawa kita semakin jauh dari tujuan.
Islam Tidak Mengajarkan Kita Menjadi Manusia yang Takut kepada Dunia
Islam tidak meminta manusia mengabaikan kebutuhan dunia.
Islam tidak melarang seseorang bekerja, memiliki harta, membangun karier, atau menginginkan kehidupan yang lebih baik.
Yang perlu diperbaiki adalah ketika dunia berubah dari sarana menjadi tujuan utama.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia memiliki berbagai bentuk kesenangan, perhiasan, dan perlombaan dalam harta serta anak-anak, tetapi semuanya bersifat sementara.
Pesannya bukan bahwa dunia harus ditinggalkan.
Pesannya adalah jangan sampai sesuatu yang sementara membuat kita melupakan sesuatu yang lebih kekal.
Maka seorang muslim boleh mengejar keberhasilan.
Tetapi ia perlu bertanya, untuk apa keberhasilan itu?
Boleh mengejar harta.
Tetapi, untuk apa harta itu digunakan?
Boleh menginginkan kehidupan yang nyaman.
Tetapi, apakah kenyamanan tersebut membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?
Harapan Tidak Berhenti pada Diri Sendiri
Ada satu bentuk harapan yang lebih tinggi.
Yaitu ketika harapan yang kita miliki tidak hanya berbicara tentang kehidupan kita sendiri.
Kita berharap anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Kita berharap keluarga yang kekurangan dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.
Kita berharap orang yang sakit mendapatkan kesempatan untuk pulih.
Kita berharap seseorang yang kehilangan pekerjaan dapat kembali berdiri.
Pada titik ini, harapan berubah menjadi kepedulian.
Kita tidak hanya bertanya, “Bagaimana hidup saya menjadi lebih baik?”
Tetapi mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar kehidupan orang lain juga memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik?”
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki ruang yang sangat penting.
BAZNAS dan Harapan yang Diubah Menjadi Ikhtiar
Harapan akan menjadi sesuatu yang kosong apabila tidak pernah diterjemahkan menjadi tindakan.
Seseorang boleh berharap kemiskinan berkurang. Tetapi harapan tersebut membutuhkan ikhtiar.
Seseorang boleh berharap anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak. Tetapi harus ada tindakan yang membantu membuka akses tersebut.
Seseorang boleh berharap masyarakat yang terdampak bencana dapat bangkit. Tetapi mereka membutuhkan bantuan nyata.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk mengubah kepedulian menjadi ikhtiar nyata melalui berbagai program, termasuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan keagamaan.
Dengan demikian, ZIS bukan hanya tentang memberikan sebagian harta.
Ia juga dapat menjadi bentuk dari sebuah harapan bahwa kehidupan seseorang dapat menjadi lebih baik karena ada orang lain yang memilih untuk peduli.
Ke Mana Kita Sebenarnya Sedang Berjalan?
Mungkin kita tidak perlu menunggu hidup menjadi tenang untuk mulai memiliki harapan.
Kita tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk berbagi.
Tidak perlu menunggu sempurna untuk memperbaiki diri.
Tidak perlu menunggu semua masalah selesai untuk melakukan kebaikan.
Sebab kehidupan akan selalu memiliki ketidakpastian.
Akan selalu ada sesuatu yang kita takutkan.
Akan selalu ada sesuatu yang belum kita miliki.
Tetapi kita juga selalu memiliki pilihan tentang ke mana kita mengarahkan langkah.
Ketakutan boleh membuat kita berhati-hati.
Tetapi jangan biarkan ia membuat kita kehilangan tujuan.
Kegagalan boleh membuat kita berhenti sejenak.
Tetapi jangan biarkan ia membuat kita kehilangan harapan.
Dan kesulitan boleh membuat kita menangis.
Tetapi jangan sampai ia membuat kita lupa bahwa rahmat Allah selalu lebih luas daripada apa yang sedang kita hadapi.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan, “Apa yang paling aku takutkan?”
Melainkan, “Dengan segala ketakutan yang aku miliki, kebaikan apa yang masih ingin aku perjuangkan?”
Sebab manusia yang hanya hidup untuk menghindari kehilangan mungkin akan terus berlari.
Tetapi manusia yang memiliki harapan tahu ke mana ia ingin membawa langkahnya.
Dan sebagai seorang muslim, tujuan itu bukan hanya tentang memiliki kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri, tetapi juga tentang menjadi bagian dari kebaikan yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Karena ketakutan mungkin membuat kita bergerak, tetapi harapan yang disertai iman dan ikhtiar dapat menentukan ke mana kita pergi.
ARTIKEL31/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Angka di Laporan, Wajah di Lapangan: Memahami Makna Sesungguhnya dari Penyaluran Zakat
Angka di Laporan, Wajah di Lapangan: Memahami Makna Sesungguhnya dari Penyaluran Zakat
Di atas kertas, penyaluran zakat dapat terlihat sederhana: ada dana yang terkumpul, ada penerima manfaat, lalu bantuan disalurkan. Semuanya dapat dicatat dalam laporan berupa angka, nominal, dan jumlah penerima.
Namun, pengalaman turun langsung ke lapangan mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Di balik angka tersebut, ada manusia. Ada keluarga yang sedang berjuang. Ada sakit yang tidak terlihat dari laporan. Ada orang tua yang bertahan merawat anaknya. Ada lansia yang menjalani hari dengan keterbatasan.
Ketika penyaluran dana BAZNAS membawa kita bertemu langsung dengan masyarakat yang membutuhkan, zakat tidak lagi terasa seperti sekadar angka. Ia berubah menjadi cerita tentang harapan, kemanusiaan, dan amanah.
Ketika Angka Bertemu Wajah Manusia
Dalam sebuah penyaluran, kita mungkin hanya melihat nominal bantuan. Tetapi bagi penerima, nominal tersebut bisa berarti sangat berbeda.
Ada kebutuhan yang tidak pernah masuk ke dalam angka
Seorang anak yang sedang menghadapi kanker darah stadium akhir bukan sekadar “satu penerima bantuan”. Di balik kondisinya terdapat perjuangan keluarga, kebutuhan pengobatan, kebutuhan sehari-hari, dan harapan agar waktu yang dimiliki dapat dijalani dengan lebih layak.
Begitu pula sepasang lansia yang mengidap stroke. Mereka bukan hanya bagian dari data penerima manfaat. Mereka adalah manusia yang sedang menghadapi keterbatasan fisik sekaligus kebutuhan hidup yang terus berjalan.
Di titik inilah kita menyadari bahwa kemiskinan dan kesulitan tidak selalu memiliki wajah yang sama.
Islam Mengajarkan Kita Melihat yang Tidak Terlihat
Al-Qur'an menggambarkan orang-orang yang membutuhkan tetapi tetap menjaga kehormatan dirinya:
“(Apa yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya) di jalan Allah sehingga dia tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa mereka adalah orang kaya karena mereka menjaga diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahuinya.”(QS. Al-Baqarah: 273)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua orang yang membutuhkan akan datang meminta. Karena itu, penyaluran zakat membutuhkan kepekaan untuk melihat kebutuhan yang mungkin tersembunyi di balik diamnya seseorang.
Zakat bukan hanya tentang memberi
Zakat juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang yang menerima.
Mereka bukan sekadar objek bantuan. Mereka adalah manusia yang memiliki harga diri dan berhak mendapatkan pertolongan dengan cara yang bermartabat.
Dari Penyaluran Dana Menjadi Amanah Kemanusiaan
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa orang miskin tidak selalu identik dengan mereka yang terus meminta.
Beliau bersabda:
“Orang miskin bukanlah orang yang ditolak dengan satu atau dua kurma, atau satu atau dua suap makanan. Akan tetapi, orang miskin adalah orang yang menjaga diri dari meminta-minta.”(HR. Muslim no. 1039b)
Pesan ini terasa semakin nyata ketika kita melihat langsung masyarakat yang sedang berjuang.
Amanah tidak berhenti ketika dana sampai
Penyaluran yang baik bukan hanya memastikan bantuan sampai kepada penerima. Lebih dari itu, ia menuntut ketepatan sasaran, kepedulian, dan penghormatan terhadap penerima manfaat.
Sebab yang sedang kita salurkan bukan sekadar uang. Kita sedang membawa amanah dari orang yang berzakat kepada orang yang membutuhkan.
Nilai Bantuan Tidak Selalu Sama dengan Nominalnya
Bagi pemberi, sebuah bantuan mungkin terlihat kecil dibandingkan keseluruhan penghasilan atau kebutuhan hidup.
Namun bagi seseorang yang sedang sakit dan tidak berdaya, bantuan tersebut dapat menjadi bagian penting dari perjuangan hari itu.
Allah SWT berfirman:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 261)
Satu bantuan dapat memiliki makna yang jauh lebih besar
Nilai sebuah zakat tidak hanya dapat dilihat dari nominalnya. Ada ketenangan yang mungkin hadir, kebutuhan yang sedikit terbantu, dan perasaan bahwa seseorang tidak menghadapi perjuangannya sendirian.
Penyaluran Zakat Mengubah Cara Kita Melihat Sesama
Turun ke lapangan membuat kita memahami bahwa kemiskinan tidak selalu berarti seseorang tidak berusaha. Sakit tidak selalu memberi kesempatan untuk bekerja. Usia tua tidak selalu datang bersama jaminan kehidupan yang mudah.
Karena itu, zakat seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa yang kita berikan?”
Lebih jauh, kita perlu melihat “kehidupan seperti apa yang sedang kita bantu?”
Dari angka menuju kepedulian
Inilah makna penting penyaluran zakat: menghubungkan kepedulian orang yang memiliki kemampuan dengan mereka yang sedang berada dalam keterbatasan.
Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi
Kita mungkin tidak mampu menghapus seluruh penderitaan di sekitar kita. Tetapi kita selalu dapat mengambil bagian dalam meringankannya.
Ada keluarga yang membutuhkan dukungan. Ada orang sakit yang membutuhkan bantuan. Ada lansia yang membutuhkan perhatian. Dan ada harapan yang mungkin tumbuh dari kepedulian kita.
Karena itu, jangan biarkan zakat hanya berhenti sebagai kewajiban yang ditunaikan.
Jadikan zakat sebagai jalan menghadirkan manfaat.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar bantuan dapat dikelola dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.
Sebab pada akhirnya, di balik setiap angka dalam laporan, ada wajah manusia yang sedang memperjuangkan hidupnya.
Dan mungkin, bagi kita, bantuan itu hanyalah sebagian kecil dari rezeki yang diberikan Allah. Tetapi bagi mereka, bantuan tersebut bisa menjadi sebuah pesan sederhana:
“Kamu tidak sendirian.”
ARTIKEL31/08/2026 | BAZNAS
Ada Perjuangan yang Tidak Bisa Dimenangkan Sendirian
Ada Perjuangan yang Tidak Bisa Dimenangkan Sendirian
Kita hidup di zaman yang sangat mengagungkan kemandirian.
Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk tidak bergantung kepada orang lain. Harus bisa berdiri sendiri. Harus bekerja keras. Harus mampu menyelesaikan masalah. Jangan menjadi beban.
Nasihat-nasihat itu tentu tidak salah.
Namun, tanpa sadar, kita bisa membawa gagasan tentang kemandirian terlalu jauh. Kita mulai percaya bahwa selama kita berusaha, semuanya pasti dapat kita kendalikan.
Sampai suatu hari, kehidupan memperlihatkan bahwa manusia memiliki batas.
Dalam sebuah penyaluran bantuan, kita dapat berhadapan dengan keadaan yang sulit dijelaskan hanya dengan kata “kurang berusaha”. Ada seorang anak yang sedang menghadapi penyakit berat. Ada pula sepasang lansia yang menjalani kehidupan dengan kondisi kesehatan yang membuat aktivitas mereka tidak lagi semudah dahulu.
Di hadapan keadaan seperti itu, kita akhirnya menyadari sesuatu bahwa ada perjuangan yang tidak dapat dimenangkan sendirian.
Kita Terlalu Sering Mengira Semua Hal Berada dalam Kendali Kita
Ketika sehat, kita jarang memikirkan betapa berharganya kemampuan untuk berjalan.
Ketika memiliki pekerjaan, kita mungkin lupa bahwa kesempatan mencari penghasilan adalah nikmat.
Ketika dapat memenuhi kebutuhan keluarga, kita mungkin menganggapnya sebagai hasil kerja keras semata.
Kita bekerja, mendapatkan penghasilan, membeli kebutuhan, merencanakan masa depan, lalu merasa bahwa kehidupan berada di tangan kita.
Padahal tidak semuanya demikian.
Kita dapat merencanakan, tetapi tidak dapat memastikan.
Kita dapat berusaha menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat menjamin tubuh akan selalu sehat.
Kita dapat bekerja keras, tetapi tidak dapat memastikan bahwa kehidupan akan selalu berjalan sesuai rencana.
Di sinilah kerendahan hati seharusnya tumbuh.
Bukan untuk membuat manusia pasrah, melainkan untuk menyadarkan bahwa kemampuan yang kita miliki bukan alasan untuk merasa sepenuhnya berkuasa atas kehidupan.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Qashash ayat 68 bahwa Allah menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki.
Ada bagian kehidupan yang dapat kita ikhtiarkan.
Ada pula bagian yang berada di luar kendali kita.
Memahami perbedaan keduanya adalah bentuk kedewasaan.
Tidak Semua Orang yang Membutuhkan Bantuan Berarti Tidak Berusaha
Ada kalimat yang terdengar sederhana yakni “Kalau mau berusaha, pasti bisa.”
Kalimat tersebut mungkin benar dalam beberapa keadaan.
Tetapi menjadi berbahaya ketika digunakan untuk menjelaskan seluruh kehidupan manusia.
Sebab kita tidak pernah benar-benar mengetahui titik awal perjuangan seseorang.
Kita tidak tahu berapa lama seseorang telah berusaha.
Kita tidak tahu berapa banyak kesempatan yang sudah hilang.
Kita tidak tahu keadaan tubuhnya.
Kita tidak tahu beban keluarganya.
Kita tidak tahu berapa banyak hal yang harus ia korbankan hanya untuk mempertahankan kehidupan yang bagi kita terlihat biasa.
Karena itu, Islam mengajarkan manusia untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.
Kesulitan seseorang tidak selalu merupakan bukti bahwa ia malas.
Ketidakmampuan seseorang tidak selalu berarti ia tidak mau berusaha.
Dan kebutuhan seseorang terhadap bantuan tidak otomatis menjadikannya lebih rendah daripada orang yang membantu.
Kadang-kadang, seseorang hanya sedang menghadapi keadaan yang memang terlalu berat untuk dipikul seorang diri.
Manusia Memang Diciptakan untuk Saling Membutuhkan
Ada kecenderungan dalam kehidupan modern untuk menganggap ketergantungan sebagai sesuatu yang memalukan.
Padahal manusia sejak awal memang hidup dalam hubungan dengan manusia lain.
Kita lahir karena orang lain merawat kita.
Kita belajar karena orang lain mengajarkan kita.
Kita mendapatkan makanan karena ada orang lain yang bekerja di dalam rantai kehidupan yang panjang.
Kita mendapatkan ilmu dari orang-orang yang bahkan tidak pernah kita temui.
Bahkan keberhasilan yang kita sebut sebagai “hasil usaha sendiri” hampir selalu memiliki kontribusi dari banyak tangan yang tidak terlihat.
Maka ketika seseorang membutuhkan pertolongan, sebenarnya ia sedang mengalami sesuatu yang sangat manusiawi.
Kita semua saling membutuhkan. Hanya bentuk dan waktunya yang berbeda.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ma'idah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang memberi.
Ia menunjukkan bahwa kehidupan seorang muslim seharusnya dibangun dengan semangat ta'awun—saling membantu dalam kebaikan.
Karena Islam tidak membentuk manusia yang hanya sibuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Bantuan Tidak Selalu Berarti Kita Lebih Kuat
Ada sesuatu yang perlu kita ubah dari cara memandang bantuan.
Ketika seseorang memberikan bantuan, mudah bagi hati untuk merasa “Saya yang menolong.”
Kemudian tanpa sadar muncul jarak berupa “Saya mampu, dia membutuhkan.”
Padahal posisi tersebut tidak pernah bersifat permanen.
Hari ini seseorang berada dalam keadaan mampu.
Besok mungkin ia berada dalam keadaan membutuhkan.
Hari ini seseorang memberikan bantuan kesehatan.
Suatu hari mungkin keluarganya sendiri membutuhkan pertolongan.
Hari ini seseorang memiliki penghasilan yang cukup.
Besok mungkin keadaan ekonomi berubah.
Karena itu, memberi seharusnya tidak melahirkan kesombongan.
Ia justru seharusnya melahirkan syukur.
Kita bersyukur karena Allah memberikan kemampuan untuk menjadi perantara kebaikan.
Ketika ZIS Menjadi Bentuk Saling Menopang
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar memberikan sejumlah uang.
ZIS merupakan salah satu bentuk bagaimana masyarakat dapat membangun kepedulian secara nyata.
Ada orang yang Allah berikan kelebihan harta.
Ada orang lain yang sedang menghadapi keterbatasan.
Kemudian sebagian harta tersebut menjadi jalan untuk membantu meringankan kesulitan.
Ini bukan sekadar perpindahan uang dari satu tangan ke tangan lain.
Ada nilai solidaritas di dalamnya.
Ada kesadaran bahwa kehidupan tidak seharusnya hanya berbicara tentang “Apa yang bisa saya dapatkan?”
Tetapi juga, “Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang Allah titipkan kepada saya?”
Dan pertanyaan kedua inilah yang mengubah harta menjadi sesuatu yang memiliki makna sosial.
BAZNAS: Ketika Kepedulian Tidak Berhenti sebagai Perasaan
Rasa iba dapat muncul hanya dalam beberapa detik.
Kita melihat seseorang kesulitan, merasa kasihan, kemudian melanjutkan kehidupan.
Tetapi kepedulian membutuhkan sesuatu yang lebih.
Ia membutuhkan tindakan.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kepedulian para muzaki dan donatur dengan masyarakat yang membutuhkan.
Dalam konteks kesehatan dan kemanusiaan, bantuan dapat diberikan kepada mereka yang sedang menghadapi kondisi sulit.
Namun yang lebih penting dari sekadar nominal bantuan adalah pesan yang dibawanya yakni “Kesulitanmu tidak harus kamu hadapi sendirian.”
Pesan itu mungkin tidak menghilangkan penyakit.
Tidak mengubah seluruh keadaan.
Tidak membuat semua persoalan selesai dalam satu hari.
Tetapi ia dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk meringankan beban seseorang.
Dan terkadang, itulah yang mampu kita lakukan.
Tidak semua masalah dapat kita selesaikan.
Tetapi kita selalu dapat memilih untuk tidak membiarkan seseorang menghadapinya seorang diri.
Mungkin Suatu Hari Kita Akan Berada di Sisi yang Berbeda
Ada pelajaran yang seharusnya membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Jangan terlalu bangga karena hari ini kita mampu.
Jangan terlalu cepat menghakimi mereka yang membutuhkan.
Jangan menganggap kemampuan kita sebagai bukti bahwa kita lebih baik.
Sebab manusia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana cerita hidupnya akan berubah.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini mengajarkan tentang batas kemampuan manusia sekaligus keluasan rahmat Allah.
Kita mungkin tidak dapat memahami seluruh ujian yang dialami seseorang.
Tetapi kita dapat memilih untuk tidak menambah bebannya dengan penilaian yang tidak kita ketahui kebenarannya.
Dan ketika Allah memberikan kita kemampuan untuk membantu, jangan sia-siakan kemampuan tersebut.
Karena Tidak Ada Manusia yang Sepenuhnya Mandiri
Pada akhirnya, mungkin kita perlu mendefinisikan kembali apa arti menjadi kuat.
Kuat bukan berarti tidak pernah membutuhkan bantuan.
Kuat bukan berarti mampu menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri.
Dan menjadi mandiri bukan berarti menutup pintu bagi pertolongan orang lain.
Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu mengatakan “Aku membutuhkan bantuan.”
Dan terkadang, keberkahan hidup terlihat ketika kita dapat menjawab “Aku akan membantumu.”
Hari ini mungkin kita berada di sisi yang memberi.
Maka bersyukurlah.
Bukan karena kita lebih tinggi daripada mereka yang menerima, tetapi karena Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi jalan kebaikan.
Sebab kehidupan manusia tidak pernah hanya tentang siapa yang mampu berdiri paling lama.
Ada masa ketika seseorang harus ditopang.
Ada masa ketika seseorang menjadi penopang.
Dan mungkin, di antara kedua keadaan itulah kita belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, tidak semua perjuangan harus kita menangkan sendirian. Ada perjuangan yang memang Allah izinkan untuk menjadi lebih ringan karena tangan manusia lain ikut hadir di dalamnya.
ARTIKEL31/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Zakat Meets AI: Ketika Kecerdasan Buatan Bertemu Kebaikan Manusia
Zakat Meets AI: Ketika Kecerdasan Buatan Bertemu Kebaikan Manusia
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan manusia. Dari mencari informasi, membantu pekerjaan, hingga menganalisis data dalam jumlah besar, AI perlahan mengubah cara kita mengambil keputusan.
Lalu, bagaimana jika teknologi ini bertemu dengan zakat?
Pertanyaan tersebut membawa kita pada satu hal penting: teknologi seharusnya tidak hanya membuat hidup lebih cepat, tetapi juga membuat kebaikan menjadi lebih tepat sasaran. Dalam konteks zakat dan AI, kecerdasan buatan dapat menjadi alat untuk memperkuat amanah manusia dalam mengelola dana yang dititipkan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Ketika Zakat Memasuki Era Digital
Zakat sejak awal bukan sekadar kewajiban finansial. Di dalamnya terdapat kepedulian, keadilan sosial, dan upaya membantu kelompok yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Karena itu, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat proses yang mengantarkan manfaat zakat kepada masyarakat.
AI dapat membantu membaca data
AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan cepat. Dalam pengelolaan zakat, teknologi semacam ini berpotensi membantu mengidentifikasi pola kebutuhan masyarakat, memetakan wilayah yang membutuhkan bantuan, hingga membantu proses analisis data penerima manfaat.
Namun, teknologi tetaplah alat.
AI Bisa Mengolah Data, tetapi Tidak Bisa Menggantikan Nurani
Di sinilah batas penting harus dipahami.
AI dapat membaca angka, menemukan pola, dan menghasilkan rekomendasi. Tetapi AI tidak benar-benar memahami bagaimana rasanya seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan anaknya, lansia yang hidup dengan keterbatasan, atau keluarga yang harus berjuang menghadapi penyakit.
Ada manusia di balik setiap data
Satu data penerima zakat bukan sekadar nama dalam sistem.
Di baliknya mungkin ada keluarga, perjuangan, air mata, dan harapan.
Karena itu, zakat dan AI seharusnya bukan tentang menggantikan manusia dengan mesin. Sebaliknya, AI harus membantu manusia agar dapat mengambil keputusan dengan lebih cepat, akurat, dan bertanggung jawab.
Teknologi Harus Memperkuat Amanah
Rasulullah SAW bersabda:
“Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia berkhianat.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan pentingnya amanah. Dalam pengelolaan zakat, teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti apabila tidak disertai integritas manusia.
Transparansi tetap membutuhkan tanggung jawab
AI dapat membantu membuat proses pengelolaan data menjadi lebih terstruktur. Tetapi keputusan mengenai siapa yang dibantu, bagaimana bantuan diberikan, dan apakah bantuan benar-benar memberikan manfaat tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Sebab efisiensi bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ketepatan sasaran dan kemanusiaan juga harus menjadi bagian dari keberhasilan penyaluran zakat.
Dari Algoritma Menuju Dampak Nyata
Bayangkan jika teknologi mampu membantu lembaga zakat menemukan wilayah dengan kebutuhan tinggi lebih cepat. Data dapat membantu memetakan persoalan, sementara petugas di lapangan melakukan verifikasi dan memahami kondisi penerima secara langsung.
AI menjadi jembatan, bukan pengganti kepedulian
Di sinilah kolaborasi antara teknologi dan manusia menjadi penting.
AI membantu melihat gambaran besar.
Manusia membantu memahami cerita di baliknya.
AI membantu mengolah data.
Manusia menentukan bagaimana kebaikan itu diwujudkan dengan penuh empati.
Keduanya dapat berjalan bersama untuk menghadirkan pengelolaan zakat yang lebih adaptif di tengah perubahan zaman.
Masa Depan Zakat Tetap Membutuhkan Manusia
Teknologi akan terus berkembang. AI mungkin semakin pintar, sistem semakin otomatis, dan data semakin mudah dianalisis.
Namun, satu hal tidak boleh hilang niat untuk membantu sesama.
Zakat pada akhirnya bukan tentang seberapa canggih teknologi yang digunakan, melainkan seberapa besar manfaat yang sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Saatnya Kebaikan Bergerak Lebih Jauh
Kita mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membangun teknologi AI. Tetapi kita memiliki sesuatu yang jauh lebih sederhana: kesempatan untuk berbagi.
Zakat, infak, dan sedekah yang kita tunaikan dapat menjadi bagian dari ekosistem kebaikan yang membantu masyarakat memperoleh kehidupan yang lebih layak.
Mari salurkan zakat melalui lembaga yang amanah dan profesional. Biarkan teknologi membantu memperkuat pengelolaannya, sementara kepedulian manusia menjadi ruh di balik setiap prosesnya.
Karena AI mungkin mampu menghitung jutaan data, tetapi hanya manusia yang dapat memilih untuk peduli.
Dan ketika kecerdasan buatan bertemu dengan kebaikan manusia, teknologi tidak lagi sekadar berbicara tentang masa depan.
Ia dapat menjadi bagian dari cara kita menghadirkan harapan hari ini.
ARTIKEL31/08/2026 | BAZNAS
Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing
Ketika yang Benar Mulai Terasa Asing
Dunia Berubah, tetapi Tidak Semua Hal Harus Ikut Berubah
Kita hidup di zaman yang bergerak begitu cepat.
Apa yang hari ini dianggap biasa, mungkin beberapa tahun lalu masih terasa aneh. Cara manusia berkomunikasi berubah. Cara bekerja berubah. Cara mencari informasi berubah. Bahkan cara seseorang melihat kesuksesan, kebahagiaan, hubungan, dan kehidupan juga ikut berubah.
Perubahan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Islam pun tidak mengajarkan manusia untuk menolak perkembangan zaman. Teknologi boleh berkembang, ilmu pengetahuan boleh semakin maju, dan kehidupan manusia boleh menjadi semakin modern.
Namun ada sesuatu yang perlu kita waspadai bahwa jangan sampai yang berubah bukan hanya cara kita hidup, tetapi juga ukuran kita tentang benar dan salah.
Sebab ketika sesuatu dilakukan oleh banyak orang, dipertontonkan berulang kali, lalu diterima sebagai hal yang biasa, manusia perlahan dapat kehilangan kepekaan terhadap nilai yang dahulu ia yakini.
Yang salah tidak selalu langsung terlihat sebagai kesalahan.
Kadang ia hanya perlu diulang berkali-kali sampai hati berhenti merasa terganggu.
Ketika yang Salah Terlalu Sering Dilihat
Kita mungkin pernah melihat sesuatu yang dahulu membuat kita merasa tidak nyaman, tetapi sekarang tidak lagi.
Perkataan yang kasar menjadi hiburan.
Membuka aib orang lain menjadi konten.
Pamer kehidupan menjadi ukuran keberhasilan.
Kecurangan dianggap sebagai kecerdikan.
Kebohongan kecil dianggap tidak masalah selama tidak ketahuan.
Menunda ibadah dianggap wajar karena kesibukan.
Mengabaikan orang tua dianggap konsekuensi dari kehidupan modern.
Berbuat baik tanpa keuntungan bahkan kadang dianggap sebagai sesuatu yang naif.
Pertanyaannya bukan sekadar, “Mengapa manusia melakukan semua itu?”
Yang lebih penting adalah “Apa yang terjadi pada diri kita ketika sesuatu yang salah terlalu sering kita lihat sampai akhirnya terasa normal?”
Di sinilah manusia perlu berhati-hati.
Sebab hati tidak selalu kehilangan arah dalam satu langkah besar. Terkadang ia bergeser sedikit demi sedikit.
Hari ini kita membiarkan.
Besok kita terbiasa.
Lusa kita membenarkan.
Dan suatu hari kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa kita telah berjalan terlalu jauh dari nilai yang dahulu kita anggap penting.
Popularitas Tidak Pernah Menjadi Ukuran Kebenaran
Salah satu jebakan terbesar zaman modern adalah mengira bahwa sesuatu yang populer berarti sesuatu itu benar.
Jika banyak orang melakukannya, kita merasa tidak perlu mempertanyakannya.
Jika banyak orang menyetujuinya, kita merasa pasti tidak ada yang salah.
Jika sesuatu terus muncul di media sosial, kita menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.
Padahal jumlah orang yang melakukan sesuatu tidak pernah otomatis menjadikannya benar.
Al-Qur'an bahkan mengingatkan manusia untuk tidak menjadikan banyaknya pengikut sebagai ukuran kebenaran. Dalam QS. Al-An'am: 116, Allah memperingatkan bahwa mengikuti kebanyakan manusia dapat membawa seseorang jauh dari jalan Allah apabila mereka hanya mengikuti dugaan.
Ini adalah pengingat yang sangat relevan di tengah dunia yang digerakkan oleh angka seperti jumlah pengikut, jumlah tayangan, jumlah suka, jumlah komentar, dan jumlah orang yang melakukan hal yang sama.
Kebenaran tidak ditentukan oleh algoritma.
Dan nilai sebuah perbuatan tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukainya.
Islam Boleh Terasa Asing, tetapi Jangan Sampai Kita Membuatnya Asing dalam Diri Sendiri
Rasulullah SAW bersabda:
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ia bermula.”(HR. Muslim)
Hadis ini tidak seharusnya digunakan untuk membuat kita merasa lebih suci daripada orang lain.
Sebaliknya, ia dapat menjadi bahan introspeksi.
Sebab mungkin ada saat ketika nilai-nilai Islam terasa asing bukan karena Islam berubah, melainkan karena lingkungan kita sudah terlalu jauh dari nilai tersebut.
Menjaga lisan terasa sulit.
Jujur ketika berbohong lebih menguntungkan terasa berat.
Menolak sesuatu yang haram ketika semua orang melakukannya terasa sendirian.
Bersikap sederhana ketika dunia memamerkan kemewahan terasa seperti tertinggal.
Memberi ketika kita sendiri ingin terus memiliki terasa berat.
Tetapi menjadi seorang Muslim memang bukan tentang mengikuti apa yang paling mudah dilakukan oleh lingkungan.
Ia adalah tentang memiliki keberanian untuk tetap memegang kebenaran meskipun kebenaran itu tidak selalu populer.
Yang Perlu Dijaga Bukan Hanya Identitas, tetapi Kompas
Kita sering merasa sudah cukup menjadi Muslim karena identitas.
Kita memiliki nama Muslim.
Kita mengenal beberapa ayat.
Kita tahu mana yang halal dan haram.
Kita pernah belajar tentang akhlak.
Tetapi Islam tidak berhenti pada apa yang kita ketahui.
Pengetahuan seharusnya menjadi kompas bagi keputusan.
Ketika berhadapan dengan uang, ia mengajarkan kejujuran.
Ketika memiliki kekuasaan, ia mengajarkan keadilan.
Ketika memiliki kelebihan, ia mengajarkan berbagi.
Ketika melihat penderitaan, ia mengajarkan kepedulian.
Ketika marah, ia mengajarkan pengendalian diri.
Ketika mendapatkan kesuksesan, ia mengajarkan kerendahan hati.
Dengan kata lain, Islam seharusnya tidak hanya terlihat ketika kita sedang beribadah, tetapi juga ketika kita sedang memilih bagaimana memperlakukan kehidupan.
Karena ukuran keberagamaan tidak hanya berada di tempat ibadah.
Ia juga terlihat dalam cara kita menggunakan uang, berbicara kepada orang lain, memperlakukan keluarga, menjalankan pekerjaan, mengambil keputusan, dan merespons orang yang membutuhkan.
Jangan Sampai Kita Lebih Takut Berbeda dari Manusia daripada Salah di Hadapan Allah
Mungkin inilah salah satu tantangan terbesar seorang Muslim hari ini.
Kita takut dianggap aneh.
Takut dianggap terlalu idealis.
Takut dianggap tidak mengikuti zaman.
Takut kehilangan kesempatan.
Takut tidak diterima lingkungan.
Akhirnya, tanpa sadar kita mulai menyesuaikan prinsip agar sesuai dengan keadaan.
Padahal yang seharusnya terjadi adalah sebaliknya yaitu kita memahami zaman tanpa kehilangan prinsip.
Menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan adab.
Menjadi sukses tidak berarti harus menghalalkan segala cara.
Menjadi kaya tidak berarti harus hidup berlebihan.
Mengikuti perkembangan teknologi tidak berarti harus mengikuti semua perilaku yang muncul bersamanya.
Dan menjadi bagian dari masyarakat modern tidak berarti harus kehilangan kemampuan untuk mengatakan bahwa “Ini tidak benar, meskipun semua orang melakukannya.”
Dari Mengetahui Nilai Islam Menjadi Menghidupkannya
Di sinilah nilai Islam harus bergerak dari teori menjadi tindakan.
Zakat, infak, dan sedekah misalnya, bukan hanya persoalan memberikan sebagian harta. Di dalamnya terdapat latihan untuk mengingat bahwa kehidupan kita tidak berdiri sendiri.
Ada manusia lain yang hidupnya mungkin jauh lebih berat.
Ada anak yang membutuhkan pendidikan.
Ada keluarga yang menghadapi persoalan ekonomi.
Ada orang sakit yang membutuhkan pertolongan.
Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk bangkit.
Melalui berbagai program pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang bagi nilai kepedulian tersebut untuk diwujudkan secara nyata.
Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada “Saya tahu bahwa membantu sesama itu baik.”
Tetapi bergerak menjadi “Saya memilih untuk menjadi bagian dari kebaikan itu.”
Sebab nilai yang hanya kita ketahui belum tentu mengubah kehidupan. Nilai baru memiliki makna ketika ia memengaruhi cara kita bertindak.
Zaman Boleh Berubah, Kompas Jangan Hilang
Kita tidak bisa menghentikan zaman.
Teknologi akan terus berkembang. Budaya akan terus bergerak. Cara manusia berinteraksi akan terus berubah.
Dan kita tidak perlu memusuhi semua perubahan itu.
Namun di tengah dunia yang terus bergerak, seorang Muslim tetap membutuhkan sesuatu yang membuatnya mampu membedakan mana yang baru dan mana yang benar, mana yang populer dan mana yang baik, mana yang menguntungkan dan mana yang diridhai Allah.
Sebab mungkin tantangan terbesar kita bukan lagi tidak mengetahui ajaran Islam.
Kita hidup ketika informasi tentang agama begitu mudah ditemukan.
Tantangannya adalah tetap menjadikan nilai tersebut sebagai pedoman ketika dunia menawarkan pilihan yang berlawanan.
Jangan sampai kita begitu pandai mengikuti zaman, tetapi lupa ke mana seharusnya kita berjalan.
Jangan sampai kita begitu takut dianggap berbeda oleh manusia, tetapi tidak lagi takut ketika hati mulai terbiasa dengan sesuatu yang salah.
Dan jangan sampai sesuatu yang benar menjadi terasa asing hanya karena terlalu lama kita hidup di tengah sesuatu yang salah.
Zaman boleh berubah. Dunia boleh bergerak. Tetapi selama kita masih menjadikan Allah sebagai tujuan, kebenaran tidak perlu mengikuti apa yang sedang populer.
Karena pada akhirnya, menjadi Muslim bukan tentang menjadi manusia yang paling berbeda dari dunia.
Ia adalah tentang tetap memiliki kompas ketika dunia tidak lagi tahu ke mana harus berjalan.
ARTIKEL31/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Ketika Semua Orang Berbicara, Tidak Semua Orang Benar-Benar Didengar
Ada masa ketika sebuah persoalan begitu besar sehingga hampir semua orang merasa perlu memiliki pendapat.
Berita muncul setiap hari. Potongan video beredar dari satu layar ke layar lain. Pernyataan dibalas dengan pernyataan. Kritik melahirkan pembelaan. Pembelaan kembali melahirkan kemarahan. Dalam waktu singkat, satu persoalan dapat berubah menjadi perdebatan panjang yang melibatkan begitu banyak orang.
Semua ingin didengar.
Semua merasa memiliki alasan.
Semua yakin sedang membela sesuatu yang penting.
Tidak ada yang salah dengan masyarakat yang berpikir dan bersuara. Kritik diperlukan. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan bersama. Bahkan diam terhadap persoalan yang salah bukan selalu tanda kebijaksanaan.
Namun ada sesuatu yang perlu kita renungkan ketika sebuah negeri terlalu lama tenggelam dalam pertengkaran.
Apa yang terjadi ketika semua orang sibuk berbicara, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar mendengarkan?
Sebab di tengah suara yang semakin keras, sering kali ada suara lain yang justru semakin sulit terdengar.
Suara seorang anak yang membutuhkan kesempatan untuk tetap belajar.
Suara keluarga yang sedang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Suara orang sakit yang membutuhkan pertolongan.
Suara lansia yang menjalani hari-harinya dengan keterbatasan.
Suara kelompok rentan yang tidak memiliki kekuatan, pengaruh, atau ruang sebesar mereka yang sedang berada di tengah perdebatan.
Mereka mungkin tidak memiliki mikrofon.
Tidak memiliki banyak pengikut.
Tidak memiliki kemampuan untuk membuat persoalan mereka menjadi perhatian banyak orang.
Tetapi kebutuhan mereka tidak berhenti hanya karena masyarakat sedang sibuk bertengkar.
Perdebatan Memiliki Cara untuk Mengambil Seluruh Perhatian Kita
Masalah sosial dan politik memiliki satu kekuatan besar karena ia mampu menyita perhatian.
Ketika sebuah isu menjadi perdebatan, kita ingin mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita mengikuti perkembangan terbaru, membaca komentar, melihat tanggapan, lalu mulai menentukan posisi.
Perhatian kita perlahan terkonsentrasi pada konflik.
Siapa yang mengatakan apa.
Siapa yang harus bertanggung jawab.
Siapa yang membela.
Siapa yang menyerang.
Siapa yang memenangkan perdebatan.
Tanpa sadar, kita dapat menghabiskan begitu banyak energi untuk mengikuti konflik, sampai lupa bahwa kehidupan tidak berhenti ketika perdebatan sedang berlangsung.
Seseorang tetap harus mencari nafkah.
Seorang ibu tetap memikirkan kebutuhan keluarganya.
Seorang anak tetap membutuhkan pendidikan.
Seorang pasien tetap membutuhkan perawatan.
Bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, persoalan hidup tidak dapat ditunda sampai keadaan negara kembali tenang.
Inilah yang terkadang luput dari perhatian kita.
Konflik dapat menjadi pusat pembicaraan, tetapi penderitaan tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjadi pusat perhatian.
Orang yang sedang kesulitan sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk ikut memperdebatkan keadaan. Mereka sedang sibuk bertahan.
Dan mungkin, justru karena itulah suara mereka harus lebih sengaja kita dengarkan.
Tidak Semua yang Membutuhkan Pertolongan Mampu Meminta Perhatian
Ada anggapan bahwa orang yang membutuhkan akan datang dan meminta bantuan.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Sebagian orang memilih diam karena merasa malu.
Sebagian tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Sebagian sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan sehingga menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang harus dijalani sendiri.
Sebagian lainnya bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan persoalan yang sedang mereka hadapi.
Di sinilah empati seharusnya bekerja.
Empati bukan hanya kemampuan untuk merasa iba setelah seseorang menceritakan penderitaannya.
Empati juga merupakan kemampuan untuk menyadari bahwa tidak semua penderitaan datang kepada kita dengan suara yang keras.
Ada kesulitan yang tersembunyi di balik seseorang yang tetap tersenyum.
Ada keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Ada anak yang datang ke sekolah setiap hari tanpa kita mengetahui betapa berat perjuangan keluarganya untuk mempertahankan pendidikannya.
Ada manusia yang tidak meminta untuk menjadi perhatian, tetapi tetap membutuhkan perhatian.
Karena itu, masyarakat yang beradab tidak hanya mendengarkan suara yang paling keras.
Ia juga berusaha mencari suara yang paling mudah diabaikan.
Islam Mengajarkan Kita untuk Tidak Kehilangan Arah di Tengah Keramaian
Islam tidak memisahkan keimanan dari kepedulian terhadap manusia.
Allah SWT berfirman:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”(QS. Al-Ma'un: 1–3)
Ayat ini memberikan sebuah renungan yang sangat mendalam.
Keberagamaan tidak hanya berbicara tentang apa yang kita yakini atau apa yang kita ucapkan. Ada ukuran lain yang terlihat dari cara kita memperlakukan manusia, terutama mereka yang berada dalam keadaan lemah.
Anak yatim mungkin tidak memiliki orang tua yang memperjuangkan kepentingannya.
Orang miskin mungkin tidak memiliki sumber daya untuk memperjuangkan kebutuhannya.
Kelompok rentan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membuat suaranya terdengar.
Karena itu, Islam justru memberikan perhatian besar kepada mereka.
Di tengah kehidupan yang penuh dengan kepentingan, kita diajarkan untuk tidak hanya melihat siapa yang paling kuat.
Kita juga diminta untuk memperhatikan siapa yang paling membutuhkan perlindungan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang di langit.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kasih sayang dalam ajaran Islam bukan kelemahan.
Ia bukan sikap pasif.
Kasih sayang adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia, bahkan ketika dunia sedang sibuk membagi dirinya menjadi berbagai kelompok.
Ketika Kebenaran Berubah Menjadi Kompetisi untuk Menang
Salah satu bahaya dari perdebatan yang terlalu panjang adalah perubahan tujuan.
Pada awalnya, seseorang mungkin ingin memperjuangkan sesuatu yang ia anggap benar.
Namun perlahan, fokusnya dapat bergeser.
Bukan lagi, “Apa yang benar?”. Tetapi, “Bagaimana agar saya tidak kalah?”
Bukan lagi, “Apa yang bisa diperbaiki?”. Tetapi, “Bagaimana membuktikan bahwa mereka salah?”
Di sinilah perdebatan dapat kehilangan manfaatnya.
Kita mulai lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memahami persoalan.
Lebih tertarik memenangkan argumen daripada mencari jalan keluar.
Lebih cepat merespons daripada mendengarkan.
Padahal tidak semua persoalan sosial dapat diselesaikan dengan menentukan siapa pemenang dalam sebuah perdebatan.
Ada persoalan yang membutuhkan tangan untuk bekerja.
Ada keluarga yang membutuhkan bantuan.
Ada anak yang membutuhkan akses pendidikan.
Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk membangun kembali kehidupannya.
Mereka tidak selalu membutuhkan kita untuk memenangkan perdebatan bagi mereka.
Kadang mereka membutuhkan kita untuk benar-benar hadir.
Kepedulian Tidak Boleh Menunggu Keadaan Menjadi Sempurna
Sering kali kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, keadaan harus lebih dulu stabil.
Ekonomi harus membaik.
Situasi harus tenang.
Kehidupan pribadi harus mapan.
Pendapatan harus lebih besar.
Semua persoalan harus selesai.
Namun jika kepedulian selalu menunggu keadaan yang sempurna, mungkin kita akan terus memiliki alasan untuk menundanya.
Padahal kehidupan tidak pernah sepenuhnya bebas dari masalah.
Selalu ada berita yang membuat kita khawatir.
Selalu ada persoalan yang membuat kita kecewa.
Selalu ada alasan untuk berkata, “Nanti saja.”
Justru di tengah keadaan yang tidak sempurna, kita perlu mengingat bahwa manusia lain juga sedang menjalani ketidaksempurnaan yang mungkin jauh lebih berat.
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh keadaan.
Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Satu orang mungkin tidak dapat menyelesaikan kemiskinan.
Tetapi banyak orang yang mengambil bagian dapat menciptakan perubahan yang lebih besar.
Inilah mengapa kepedulian membutuhkan ruang untuk bergerak.
Bukan hanya tinggal sebagai perasaan.
Dari Kebisingan Menuju Tindakan yang Memberi Manfaat
Mungkin kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan.
Tidak memiliki panggung untuk memengaruhi jutaan orang.
Tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang terjadi.
Tetapi kita masih memiliki satu pertanyaan yang dapat menentukan posisi kita dalam kehidupan sosial yakni setelah mengetahui semua persoalan ini, apa yang dapat saya lakukan?
Pertanyaan tersebut mengubah kita dari sekadar penonton menjadi bagian dari solusi.
Jawabannya tentu tidak harus sama bagi setiap orang.
Ada yang berkontribusi melalui ilmu.
Ada yang bekerja melalui profesinya.
Ada yang menggunakan waktunya untuk menjadi relawan.
Ada yang memberikan tenaga.
Dan bagi mereka yang memiliki kemampuan, sebagian rezeki dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat melalui zakat, infak, dan sedekah.
Di sinilah BAZNAS memiliki ruang yang penting.
BAZNAS bukan sekadar tempat seseorang menyalurkan dana. Lebih dari itu, ia menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan kepedulian masyarakat dengan kebutuhan mereka yang membutuhkan.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan keagamaan, zakat, infak, dan sedekah dapat bergerak dari niat menjadi tindakan.
Dari kepedulian menjadi bantuan.
Dari bantuan menjadi kesempatan.
Dan dari kesempatan, seseorang dapat memiliki ruang untuk melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik.
Jangan Sampai Suara yang Paling Keras Membuat Kita Lupa Mendengar yang Paling Membutuhkan
Sebuah negeri akan selalu memiliki perbedaan.
Akan selalu ada kritik.
Akan selalu ada perdebatan.
Akan selalu ada persoalan yang membuat masyarakat marah, kecewa, bahkan kehilangan kepercayaan.
Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang mengenai kemampuan kita untuk melihat manusia di balik seluruh persoalan.
Ketika kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang benar, jangan sampai ada manusia yang tidak lagi terlihat.
Ketika kita terlalu sibuk mengikuti konflik, jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan belajar tanpa pernah menjadi perhatian.
Ketika kita terlalu sibuk memenangkan pendapat, jangan sampai ada keluarga yang sedang berjuang sendirian tanpa pernah kita dengar.
Barangkali tidak semua perubahan harus dimulai dari panggung yang besar.
Sebagian perubahan dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak membiarkan hati kita ikut terseret oleh kebisingan.
Untuk tetap berpikir sebelum bereaksi.
Untuk tetap adil ketika memiliki perbedaan.
Dan yang paling penting, untuk tetap peduli ketika orang lain mulai terlalu sibuk memperjuangkan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat mungkin bukan hanya terlihat dari seberapa keras ia menyuarakan pendapat.
Tetapi juga dari seberapa jauh ia masih mampu mendengar mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Di tengah negeri yang penuh dengan suara, jangan sampai kita hanya menjadi orang yang pandai berbicara.
Belajarlah juga menjadi manusia yang mampu mendengar.
Sebab terkadang, orang yang paling membutuhkan pertolongan bukan mereka yang paling keras meminta perhatian, melainkan mereka yang selama ini tidak pernah memiliki kesempatan untuk didengar.
ARTIKEL28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ironi Zakat: Ketika 26 Juta Mustahik Masih Terjebak dalam Kemiskinan
Ironi Zakat: Ketika 26 Juta Mustahik Masih Terjebak dalam Kemiskinan
Ironi Zakat di Negeri dengan Potensi Besar
Ironi zakat kembali menjadi pertanyaan besar ketika potensi zakat Indonesia begitu besar, tetapi persoalan kemiskinan masih nyata di tengah masyarakat. BAZNAS memperkirakan potensi zakat nasional mencapai sekitar Rp327 triliun, sementara realisasi penghimpunannya masih jauh dari potensi tersebut.
Di sisi lain, data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin Indonesia pada September 2025 masih mencapai 23,36 juta orang, atau 8,25 persen dari penduduk Indonesia.
Angka tersebut memang tidak sama dengan jumlah mustahik karena mustahik mencakup kelompok penerima zakat sesuai ketentuan syariat. Namun, kondisi ini tetap menunjukkan bahwa masih ada jutaan masyarakat yang membutuhkan dukungan agar dapat keluar dari kesulitan ekonomi.
Lalu, mengapa ironi zakat ini masih terjadi?
Mengapa Potensi Zakat Belum Maksimal?
1. Kesadaran Membayar Zakat Belum Merata
Sebagian masyarakat sudah terbiasa menunaikan zakat fitrah, tetapi pemahaman mengenai zakat maal, zakat penghasilan, dan kewajiban zakat lainnya belum sepenuhnya merata.
Padahal, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Zakat merupakan kewajiban bagi Muslim yang telah memenuhi syarat. Ketika zakat ditunaikan, harta tidak hanya menjadi lebih bersih, tetapi juga memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
2. Potensi Besar Belum Terhimpun Optimal
Potensi Rp327 triliun menunjukkan betapa besarnya kekuatan zakat sebagai instrumen ekonomi umat. Namun, BAZNAS mencatat realisasi penghimpunan masih jauh di bawah potensi tersebut.
Zakat Bisa Menjadi Kekuatan Pengentasan Kemiskinan
Jika penghimpunan meningkat dan dikelola secara amanah, profesional, serta tepat sasaran, zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar sekaligus membangun kemandirian ekonomi.
3. Bantuan Harus Berlanjut hingga Pemberdayaan
Memberikan makanan kepada keluarga yang kelaparan sangat penting. Membantu biaya kesehatan juga merupakan bentuk kepedulian yang nyata.
Namun, persoalan kemiskinan tidak selalu selesai dengan bantuan sesaat.
Zakat juga perlu diarahkan pada pemberdayaan ekonomi, seperti modal usaha, pelatihan keterampilan, akses pasar, pendidikan, dan pendampingan. BAZNAS sendiri menempatkan pemberdayaan sebagai bagian penting agar mustahik dapat berkembang menjadi lebih mandiri.
Zakat dalam Pandangan Al-Qur'an
Allah SWT berfirman:
QS. At-Taubah Ayat 103
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Zakat membersihkan harta orang yang menunaikannya dan menghadirkan manfaat bagi penerimanya.
Saatnya Mengubah Ironi Menjadi Harapan
Ironi zakat seharusnya tidak membuat kita kehilangan harapan. Justru, kondisi ini menjadi pengingat bahwa masih ada potensi besar yang dapat dioptimalkan.
Rasulullah ? bersabda:
“Barang siapa melapangkan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pada hari kiamat.”(HR. Muslim)
Satu Zakat, Satu Harapan
Bayangkan ketika zakat yang kita tunaikan berubah menjadi makanan bagi keluarga yang kelaparan, biaya sekolah bagi anak dhuafa, pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan, atau modal bagi seseorang untuk memulai usaha.
Dari situlah zakat bukan hanya menjadi angka, tetapi menjadi jalan perubahan kehidupan.
Jangan Biarkan Kemiskinan Berlanjut
Membayar zakat melalui lembaga pengelola zakat yang resmi dan terpercaya dapat membantu memastikan dana dikelola secara terarah dan disalurkan melalui program yang sesuai kebutuhan mustahik.
Hari ini, mungkin zakat yang kita keluarkan terasa kecil dibandingkan besarnya persoalan kemiskinan. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, zakat tersebut bisa menjadi awal dari sebuah perubahan besar.
Mari Tunaikan Zakat Hari Ini
Jangan biarkan ironi zakat berhenti sebagai sebuah berita atau angka statistik.
Tunaikan zakat Anda. Salurkan infak dan sedekah terbaik Anda. Jadilah bagian dari gerakan yang membantu mustahik bangkit, mandiri, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena ketika satu orang terbantu, satu keluarga bisa kembali berharap. Dan ketika semakin banyak orang peduli, semakin besar pula peluang untuk memutus rantai kemiskinan.
ARTIKEL28/08/2026 | BAZNAS
Tidak Semua yang Sah Itu Adil
Tidak Semua yang Sah Itu Adil
Ada satu kalimat yang sering kita dengar ketika sebuah persoalan diperdebatkan yaitu “Kan sudah sesuai aturan.”
Kalimat itu memang dapat mengakhiri perdebatan secara administratif. Jika sesuatu telah memenuhi prosedur, memiliki dasar hukum, dan dinyatakan sah, kita cenderung menganggap persoalannya selesai.
Namun, apakah sesuatu yang sah secara hukum otomatis adil bagi semua orang?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Sebab hukum dan keadilan tidak selalu berbicara dari sudut pandang yang sama. Hukum mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sementara keadilan mengajak kita melihat lebih jauh mengenai siapa yang memperoleh manfaat, siapa yang menanggung akibat, dan apakah hak manusia tetap terlindungi setelah sebuah aturan diterapkan.
Legalitas Tidak Selalu Mengakhiri Persoalan
Bayangkan sebuah keputusan yang secara prosedural benar. Semua dokumen lengkap, seluruh tahapan telah dilalui, dan tidak ada aturan yang secara langsung dilanggar.
Tetapi setelah diterapkan, sebagian masyarakat justru merasakan beban yang jauh lebih besar dibandingkan kelompok lainnya.
Secara administratif mungkin tidak ada persoalan.
Namun secara sosial, persoalannya belum tentu selesai.
Inilah alasan mengapa masyarakat tidak seharusnya kehilangan kemampuan untuk bertanya hanya karena mendengar kalimat, “sudah sesuai aturan.”
Bertanya bukan berarti menolak hukum. Mempertanyakan dampak bukan berarti membenci pemerintah. Justru masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu membedakan antara ketaatan terhadap aturan dan kesadaran terhadap akibat dari sebuah tindakan.
Sebab sebuah aturan pada akhirnya tidak hidup di atas kertas. Ia diterapkan kepada manusia yang memiliki kondisi, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda.
Hukum Mengatur Perbuatan, Keadilan Melihat Dampaknya
Ada perbedaan sederhana tetapi penting.
Hukum dapat bertanya mengenai “Apakah tindakan ini diperbolehkan?”. Keadilan juga bertanya mengenai “Apa yang terjadi setelah tindakan ini dilakukan?”
Dua pertanyaan tersebut tidak selalu menghasilkan jawaban yang sama.
Sesuatu dapat diperbolehkan, tetapi penerapannya tetap membutuhkan kehati-hatian agar tidak menimbulkan ketimpangan, merugikan pihak yang rentan, atau menghilangkan hak orang lain.
Karena itu, menjadi masyarakat yang berpikir kritis bukan berarti selalu curiga terhadap aturan. Justru sebaliknya, kita perlu belajar memahami tujuan, dampak, dan manusia yang berada di balik sebuah keputusan.
Jika hanya melihat aturan tanpa melihat manusia, kita dapat menjadi sangat tertib tetapi kehilangan kepekaan.
Dan jika hanya melihat kepentingan tanpa memedulikan aturan, kita dapat menjadi sangat kritis tetapi kehilangan keteraturan.
Keadilan membutuhkan keduanya yakni aturan yang baik dan kesadaran moral dalam menjalankannya.
Celah Aturan Bisa Menjadi Ujian bagi Moralitas
Persoalan menjadi lebih rumit ketika manusia mulai mencari bukan bagaimana menjalankan aturan dengan benar, tetapi bagaimana memanfaatkan celah di dalamnya.
Ada perbedaan besar antara “Bagaimana saya dapat mematuhi aturan ini dengan benar?” dan “Bagaimana saya bisa mendapatkan keuntungan tanpa secara langsung melanggar aturan?”
Secara bahasa, keduanya mungkin terlihat tidak terlalu berbeda.
Tetapi secara moral, jaraknya sangat jauh.
Di sinilah karakter seseorang diuji.
Karena orang yang hanya takut pada hukuman akan berusaha tidak melanggar ketika ada yang mengawasi. Tetapi orang yang memiliki kesadaran takwa akan mempertimbangkan sesuatu bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.
Ia tidak hanya bertanya “Apakah saya bisa lolos?”. Tetapi, “Apakah yang saya lakukan benar?”
Islam Tidak Mengajarkan Kita Berhenti pada “Tidak Melanggar”
Dalam Islam, keadilan bukan sekadar konsep sosial. Ia merupakan bagian dari perintah Allah.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang-orang beriman menjadi penegak keadilan, sekalipun keadilan tersebut berhadapan dengan kepentingan diri sendiri, orang tua, atau kerabat.
Pesannya sangat dalam.
Keadilan tidak boleh berubah hanya karena siapa yang sedang kita bela.
Prinsip yang sama juga ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 8. Allah mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat seseorang berlaku tidak adil.
Artinya, Islam tidak memberikan ruang bagi standar moral yang berubah-ubah berdasarkan kepentingan.
Kalau sesuatu salah ketika dilakukan orang lain, ia tetap salah ketika dilakukan oleh orang yang kita sukai.
Kalau sebuah tindakan dianggap tidak adil ketika merugikan kita, kita juga perlu menganggapnya tidak adil ketika justru menguntungkan kita.
Di situlah keadilan menjadi prinsip, bukan sekadar alat untuk memenangkan kepentingan.
Yang Perlu Ditakuti Bukan Hanya Hukum yang Lemah
Kita sering berbicara tentang pentingnya hukum yang kuat.
Tentu saja hukum yang baik dan penegakan hukum yang adil sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Tetapi ada sesuatu yang lebih mendasar berkaitan dengan hati manusia yang terbiasa mencari pembenaran.
Kita mungkin pernah mengatakan, “Yang penting tidak ketahuan.” “Semua orang juga melakukannya.” “Tidak ada aturan yang melarang.” “Kalau diperbolehkan, berarti tidak masalah.”
Kalimat-kalimat seperti itu terlihat sederhana.
Namun jika terus dipelihara, kita perlahan membangun cara berpikir bahwa sesuatu hanya salah ketika ada hukuman.
Padahal bagi seorang Muslim, pertanggungjawaban tidak berhenti di hadapan manusia.
Allah mengetahui sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui siapa pun.
Karena itu, ukuran kebaikan tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “boleh atau tidak?”
Ada pertanyaan yang lebih tinggi yaitu tentang “Apakah ini benar-benar adil?”
Hak Orang Lain Tidak Selalu Datang dalam Bentuk Tuntutan
Menariknya, prinsip ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak semua hak orang lain datang dengan surat tuntutan.
Ada hak keluarga yang harus dipenuhi.
Ada hak pekerja yang harus dihargai.
Ada hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
Ada hak orang yang sedang kesulitan untuk mendapatkan pertolongan.
Ada pula hak masyarakat untuk hidup dengan martabat.
Dalam konteks inilah zakat memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar aktivitas memberi.
Al-Qur’an dalam QS. At-Taubah ayat 60 menjelaskan kelompok-kelompok yang berhak menerima zakat. Sementara QS. Adz-Dzariyat ayat 19 menggambarkan bahwa dalam harta orang-orang beriman terdapat hak bagi orang miskin yang meminta maupun yang tidak meminta.
Maka, berbagi bukan semata-mata tentang kemurahan hati.
Ada kesadaran bahwa harta membawa tanggung jawab.
BAZNAS dan Kesadaran tentang Hak yang Harus Ditunaikan
Di sinilah nilai zakat, infak, dan sedekah menjadi relevan dengan pembahasan tentang keadilan.
Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki ruang untuk menyalurkan kepedulian secara terarah kepada mereka yang membutuhkan.
Tetapi maknanya tidak berhenti pada “memberikan bantuan”.
Lebih jauh, ZIS mengajarkan sebuah cara berpikir tentang apa yang kita miliki tidak selalu hanya berbicara tentang hak kita, tetapi juga tentang tanggung jawab kita.
Seseorang mungkin memiliki kemampuan untuk menggunakan seluruh hartanya bagi dirinya sendiri.
Namun kemampuan tersebut tidak berarti bahwa seluruhnya harus digunakan hanya untuk kepentingan pribadi.
Di dalam Islam, kepemilikan selalu memiliki dimensi tanggung jawab.
Karena itu, zakat tidak seharusnya dipandang hanya sebagai pengurangan harta.
Ia juga merupakan latihan untuk menyadari bahwa kehidupan tidak dibangun oleh kepentingan diri sendiri saja.
Menjadi Muslim Bukan Sekadar Taat pada Aturan
Pada akhirnya, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar orang-orang yang mengetahui aturan.
Kita membutuhkan manusia yang memahami mengapa aturan itu ada, siapa yang dilindungi, dan bagaimana tindakan kita memengaruhi orang lain.
Hukum diperlukan agar kehidupan memiliki batas.
Keadilan diperlukan agar batas tersebut tidak kehilangan tujuan.
Dan takwa diperlukan agar manusia tetap melakukan yang benar bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Maka, sebelum mengatakan, “Ini sah.”
mungkin ada baiknya kita belajar menambahkan satu pertanyaan, “Tetapi apakah ini adil?”
Dan sebelum menuntut orang lain menaati aturan, kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya menggunakan sesuatu yang diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang secara moral tidak seharusnya saya lakukan?”
Sebab pada akhirnya, manusia tidak hanya akan berhadapan dengan hukum yang tertulis di dunia.
Ada pertanggungjawaban yang jauh lebih besar.
Tidak semua yang sah itu adil. Dan tidak semua yang lolos dari hukum berarti lolos dari pertanggungjawaban di hadapan Allah.
ARTIKEL28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Hati yang Mati: Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai Setiap Muslim
Hati yang Mati: Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai Setiap Muslim
Ada satu kondisi yang sering tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat berbahaya bagi kehidupan seorang Muslim hati yang mati. Seseorang bisa terlihat baik-baik saja, tetap bekerja, beraktivitas, bahkan menjalankan rutinitas ibadah. Namun, jika hati mulai jauh dari Allah, dosa terasa biasa, nasihat tidak lagi menyentuh, dan kepedulian terhadap sesama semakin hilang, maka ada tanda yang perlu segera diwaspadai.
Apa Itu Hati yang Mati?
Dalam Islam, hati bukan hanya berkaitan dengan perasaan, tetapi juga tempat iman, kesadaran, dan kepekaan seseorang terhadap kebenaran.
Allah SWT berfirman:
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya, ada pula yang terbelah lalu keluar mata air daripadanya, dan ada pula yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah: 74)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa hati yang keras dapat membuat seseorang semakin jauh dari rasa takut dan tunduk kepada Allah.
Tanda-Tanda Hati Mulai Mati
1. Dosa Tidak Lagi Terasa Berat
Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang melakukan dosa tanpa merasa bersalah. Kesalahan yang dahulu membuat hati gelisah, perlahan justru dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Jangan Biarkan Dosa Menjadi Kebiasaan
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila seorang hamba melakukan dosa, maka ditorehkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampun, hatinya akan dibersihkan.”(HR. Tirmidzi)
2. Berat Melakukan Ibadah
Hati yang sehat akan merindukan kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, hati yang mulai mati dapat membuat salat terasa sebagai beban, membaca Al-Qur'an terasa berat, dan berdoa hanya dilakukan ketika sedang membutuhkan sesuatu.
3. Tidak Tersentuh Melihat Kesulitan Orang Lain
Hati yang hidup memiliki rasa kasih sayang. Ketika melihat orang miskin, anak yatim, korban bencana, atau keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, ia terdorong untuk membantu.
Sebaliknya, hati yang keras dapat membuat penderitaan orang lain terasa tidak penting.
Bagaimana Menghidupkan Kembali Hati?
Kabar baiknya, hati yang keras bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Selama seseorang masih memiliki kesempatan hidup, pintu taubat dan perbaikan diri tetap terbuka.
Perbanyak Mengingat Allah
Allah SWT berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra'd: 28)
Dzikir, membaca Al-Qur'an, memperbanyak istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah adalah langkah untuk melembutkan hati.
Hidupkan Kepedulian dengan Berbagi
Memberikan sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan bukan hanya membantu penerima, tetapi juga melatih hati agar tidak dikuasai oleh cinta dunia. Ketika kita rela menyisihkan sebagian harta yang dimiliki, kita sedang belajar bahwa rezeki bukan sekadar sesuatu yang harus dikumpulkan untuk diri sendiri. Ada hak orang lain di dalamnya, ada doa dari mereka yang membutuhkan, dan ada kesempatan bagi kita untuk menjadikan harta sebagai jalan menuju keberkahan. Berbagi juga mengajarkan hati untuk bersyukur atas apa yang telah Allah titipkan, sekaligus menumbuhkan rasa empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Zakat dan sedekah menjadi jalan nyata untuk menghadirkan manfaat. Ada keluarga yang membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, anak-anak yang membutuhkan pendidikan agar memiliki masa depan yang lebih baik, hingga masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk bangkit dari kesulitan ekonomi. Bagi kita, mungkin jumlah yang diberikan terlihat sederhana, tetapi bagi penerima manfaat, bantuan tersebut dapat menjadi alasan untuk kembali tersenyum dan melanjutkan perjuangan. Ketika zakat dan sedekah disalurkan dengan amanah, satu kebaikan dapat berkembang menjadi banyak manfaat dan menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi sulit. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja. Sisihkan sebagian rezeki yang kita miliki dan jadikan kepedulian sebagai bukti bahwa hati kita masih hidup.
Saatnya Membuka Hati
Jangan menunggu hati menjadi benar-benar keras untuk mulai peduli. Satu rupiah yang kita sisihkan hari ini dapat menjadi harapan bagi seseorang yang sedang berjuang.
Mari tunaikan zakat dan salurkan sedekah melalui lembaga terpercaya agar kebaikan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat.
Karena hati yang hidup bukan hanya hati yang banyak beribadah, tetapi juga hati yang mampu merasakan penderitaan sesama dan tergerak untuk membantu.
Hidupkan hati dengan ketaatan. Lembutkan hati dengan berbagi. Dan jadikan zakat serta sedekah sebagai salah satu jalan untuk mendekat kepada Allah sekaligus menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL28/08/2026 | BAZNAS
Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak
Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak
Di dunia yang semakin ditentukan oleh koneksi, ada satu hal yang tidak boleh ikut menjadi privilese yakni hak.
Ketika Hak yang Sama Memiliki Jalan yang Berbeda
Kita hidup di tengah masyarakat yang tidak hanya mengenal uang sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu. Ada bentuk “mata uang” lain yang sering kali tidak terlihat seperti koneksi, kedekatan, jabatan, pengaruh, bahkan nama seseorang.
Karena itu, dua orang dapat memiliki kebutuhan yang sama, tetapi tidak selalu memiliki jalan yang sama untuk mendapatkannya.
Seseorang mungkin harus mengikuti antrean, memenuhi prosedur, menunggu giliran, dan menerima keputusan apa adanya. Sementara orang lain dapat memperoleh kemudahan karena mengenal seseorang yang memiliki kewenangan.
Pada titik tertentu, masalahnya bukan lagi tentang siapa yang mendapatkan kemudahan. Persoalannya adalah ketika kemudahan bagi sebagian orang berubah menjadi kesulitan bagi orang lain.
Sebab jika satu pintu dibuka karena hubungan tertentu, sementara orang lain tidak pernah memiliki kesempatan yang sama untuk mengetuknya, maka kesenjangan akses perlahan berubah menjadi kesenjangan kesempatan.
Dan ketika hal itu terus terjadi, masyarakat dapat mulai percaya bahwa memiliki hak saja tidak cukup.
Kita juga harus memiliki akses untuk memperjuangkannya.
Ketika “Orang Dalam” Mulai Terasa Lebih Penting daripada Hak
Fenomena ini dapat muncul dalam banyak bentuk kehidupan.
Ada orang yang mendapatkan informasi lebih cepat karena memiliki koneksi. Ada yang urusannya lebih mudah karena mengenal pihak tertentu. Ada pula yang memberikan sesuatu dengan harapan memperoleh kemudahan di kemudian hari.
Dalam batas tertentu, memiliki jaringan sosial tentu bukan sesuatu yang salah. Manusia memang saling mengenal, saling membantu, dan membangun hubungan.
Yang menjadi persoalan adalah ketika hubungan tersebut digunakan untuk menggeser hak orang lain.
Di sinilah sebuah pertanyaan moral menjadi penting: apakah seseorang mendapatkan sesuatu karena memang berhak, atau karena memiliki akses yang tidak dimiliki orang lain?
Perbedaannya mungkin tidak selalu terlihat dari hasil akhirnya. Tetapi prosesnya menentukan apakah sebuah kesempatan benar-benar diberikan secara adil.
Sebab keadilan bukan berarti semua orang harus memperoleh hasil yang sama. Keadilan berarti seseorang tidak kehilangan haknya hanya karena ia tidak memiliki uang, koneksi, jabatan, atau kekuatan untuk memperjuangkannya.
Yang Paling Rentan Bukan Selalu yang Paling Sedikit Memiliki
Ketimpangan akses sering kali tidak langsung terlihat sebagai kemiskinan.
Seseorang bisa saja memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki jaringan. Memiliki potensi, tetapi tidak memiliki kesempatan. Memiliki hak, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menyuarakannya.
Inilah yang membuat ketimpangan akses menjadi persoalan yang serius.
Bayangkan seorang anak yang memiliki kemampuan belajar tetapi keluarganya tidak mampu menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai. Bayangkan seseorang yang memiliki kemampuan bekerja tetapi tidak memiliki modal untuk memulai usaha. Atau seseorang yang membutuhkan layanan kesehatan tetapi terbentur keterbatasan ekonomi.
Mereka mungkin tidak kehilangan hak secara tertulis.
Tetapi tanpa akses yang memadai, hak tersebut dapat menjadi sesuatu yang sulit mereka nikmati dalam kehidupan nyata.
Karena itu, membantu seseorang tidak selalu berarti memberikan apa yang tidak ia punya. Terkadang, membantu berarti membuka kembali jalan yang sebelumnya terlalu sulit untuk ia tempuh sendirian.
Islam Tidak Mengenal Keadilan yang Bergantung pada Kedekatan
Islam memberikan perhatian yang sangat kuat terhadap persoalan keadilan.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
Perhatikan satu bagian yang sederhana tetapi sangat dalam dalam kalimat “kepada yang berhak menerimanya.”
Bukan kepada orang yang paling dekat.
Bukan kepada orang yang paling kuat.
Bukan kepada orang yang paling banyak memberikan keuntungan kepada kita.
Tetapi kepada yang berhak.
Allah juga mengingatkan dalam QS. Al-Ma'idah ayat 8 agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat manusia berlaku tidak adil. Artinya, keadilan tidak boleh berubah mengikuti siapa yang kita sukai atau siapa yang kita tidak sukai.
Prinsip ini menjadi semakin penting ketika seseorang memiliki kekuasaan atau akses.
Sebab semakin besar kemampuan seseorang untuk membuka pintu, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa pintu tersebut tidak hanya terbuka bagi orang-orang tertentu.
Masalahnya Bukan Hanya pada Mereka yang Memiliki Akses
Namun artikel ini tidak seharusnya berhenti pada menyalahkan orang yang memiliki koneksi.
Kita juga perlu bercermin.
Sebab mungkin suatu hari kita berada di posisi yang memiliki akses lebih besar daripada orang lain.
Saat itu, kita memiliki pilihan.
Apakah akses tersebut akan kita gunakan untuk mengambil jalan yang menguntungkan diri sendiri?
Atau kita gunakan untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan yang memang menjadi haknya?
Ada perbedaan besar antara menggunakan koneksi untuk memotong hak orang lain dan menggunakan koneksi untuk membuka jalan bagi seseorang yang kesulitan mendapatkan haknya.
Yang pertama mempersempit keadilan.
Yang kedua dapat menjadi bentuk kepedulian.
Maka memiliki akses sebenarnya bukan dosa. Yang perlu dijaga adalah bagaimana akses tersebut digunakan.
Zakat Mengajarkan Kita Bahwa Kepedulian Harus Sampai kepada yang Berhak
Di sinilah nilai zakat, infak, dan sedekah menemukan relevansinya.
Zakat tidak hanya berbicara tentang mengeluarkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa harta yang Allah titipkan kepada seseorang memiliki dimensi sosial.
Ada pihak-pihak yang berhak menerima zakat, dan ada tanggung jawab untuk memastikan manfaat tersebut sampai kepada mereka.
Dalam konteks ini, kepedulian bukan sekadar tentang “Saya ingin memberi.”
Tetapi juga tentang “Siapa yang membutuhkan, siapa yang berhak, dan bagaimana pemberian ini dapat memberikan manfaat?”
Melalui berbagai programnya di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk menerjemahkan kepedulian tersebut ke dalam bentuk yang lebih nyata.
Bantuan pendidikan, misalnya, bukan hanya tentang memberikan biaya. Ia dapat berarti membuka kesempatan bagi seseorang untuk belajar ketika keterbatasan ekonomi hampir menutup jalan tersebut.
Dukungan ekonomi bukan hanya tentang memberikan bantuan. Ia dapat menjadi jalan agar seseorang memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian.
Dengan demikian, ZIS dapat dilihat bukan sekadar sebagai aktivitas memberi, tetapi sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan bagi mereka yang memiliki keterbatasan.
Jangan Sampai Kita Menjadi Alasan Jalan Orang Lain Menjadi Lebih Sempit
Pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu menghilangkan seluruh ketimpangan akses yang ada di masyarakat.
Kita tidak selalu memiliki kekuasaan untuk mengubah sistem. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuka setiap pintu.
Tetapi setiap orang memiliki pilihan untuk tidak menjadi bagian dari masalah tersebut.
Ketika memiliki uang, jangan menjadikannya alasan untuk merampas kesempatan orang lain.
Ketika memiliki koneksi, jangan menjadikannya jalan untuk menyingkirkan mereka yang tidak memilikinya.
Ketika memiliki jabatan, jangan menjadikan kedekatan sebagai ukuran siapa yang layak mendapatkan keadilan.
Dan ketika memiliki kemampuan untuk membantu, jangan menunggu sampai seseorang memiliki kekuatan yang cukup untuk meminta pertolongan.
Sebab mungkin ada orang yang diam bukan karena tidak membutuhkan.
Mereka hanya tidak memiliki akses untuk didengar.
Masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang membuat semua orang memiliki kekuatan yang sama. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang memastikan bahwa mereka yang tidak memiliki kekuatan tetap tidak kehilangan haknya.
Karena pada akhirnya, akses adalah keistimewaan, tetapi hak bukanlah privilese.
Dan ketika Allah memberikan kita sedikit lebih banyak akses daripada orang lain, mungkin itu bukan sekadar keuntungan yang harus kita nikmati.
Bisa jadi, itu adalah amanah untuk membuka jalan bagi mereka yang selama ini hanya berdiri di depan pintu.
ARTIKEL28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Antara Angka dan Nurani: Menilai Dampak Sosial 10 Tahun Perjalanan BAZNAS
Antara Angka dan Nurani: Menilai Dampak Sosial 10 Tahun Perjalanan BAZNAS
Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam perjalanan pengelolaan zakat, angka demi angka mungkin menunjukkan pertumbuhan penghimpunan dana, jumlah penerima manfaat, hingga beragam program sosial yang dijalankan. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa besar dampak sosial BAZNAS benar-benar dirasakan masyarakat?
Zakat bukan sekadar angka yang tercatat dalam laporan. Di balik setiap rupiah yang ditunaikan, ada amanah untuk menghadirkan perubahan nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Mengapa Dampak Sosial BAZNAS Penting Dinilai?
Bukan Sekadar Menghitung Dana Terkumpul
Keberhasilan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari banyaknya dana yang berhasil dihimpun. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana dana tersebut memberikan manfaat kepada mustahik.
Zakat diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan dasar, meningkatkan akses pendidikan dan kesehatan, mendukung pemberdayaan ekonomi, serta membuka jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
Dengan demikian, dampak sosial BAZNAS seharusnya dilihat dari perubahan yang terjadi setelah bantuan diberikan. Apakah keluarga menjadi lebih kuat? Apakah anak-anak dapat melanjutkan pendidikan? Apakah penerima manfaat memiliki kesempatan untuk meningkatkan pendapatan?
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Bantuan sosial memang penting, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Namun, dampak yang lebih besar dapat tercipta ketika zakat juga diarahkan untuk pemberdayaan.
Mustahik tidak hanya dibantu untuk bertahan hari ini, tetapi juga didorong agar memiliki kemampuan untuk bangkit. Program ekonomi produktif, pelatihan keterampilan, bantuan usaha, pendidikan, dan pendampingan dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Zakat Adalah Amanah, Bukan Sekadar Statistik
Allah SWT telah menetapkan golongan yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”(QS. At-Taubah: 60)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa zakat memiliki tujuan sosial yang luas. Karena itu, pengelolaannya harus dilakukan dengan amanah agar manfaatnya benar-benar sampai kepada mereka yang berhak.
Nurani di Balik Setiap Rupiah
Angka penting untuk menunjukkan transparansi dan akuntabilitas. Namun, angka tidak selalu mampu menggambarkan perjuangan seseorang keluar dari kemiskinan.
Satu paket bantuan mungkin tercatat sebagai satu penyaluran. Tetapi bagi sebuah keluarga, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk beberapa hari. Satu beasiswa mungkin hanya tercatat sebagai satu penerima manfaat, tetapi bagi seorang anak, dukungan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.
10 Tahun, Apa yang Harus Terus Diperkuat?
Transparansi dan Kepercayaan
Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam pengelolaan zakat. Masyarakat perlu mengetahui bahwa dana yang mereka titipkan dikelola secara profesional, transparan, dan tepat sasaran.
Mengukur Perubahan, Bukan Hanya Penyaluran
Ke depan, keberhasilan program zakat semakin penting diukur berdasarkan perubahan kehidupan penerima manfaat. Berapa banyak keluarga yang menjadi lebih mandiri? Berapa banyak usaha yang mampu bertahan? Berapa banyak anak yang mendapatkan kesempatan pendidikan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu melihat zakat bukan hanya sebagai bantuan sesaat, tetapi sebagai instrumen perubahan sosial.
Saatnya Zakat Mengubah Kehidupan
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa membantu sesama bukan hanya tentang memberikan sesuatu. Ada nilai kepedulian, persaudaraan, dan ibadah di dalamnya.
Jadikan Zakat sebagai Jalan Perubahan
Di luar sana masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, pelaku usaha kecil yang membutuhkan modal, serta masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk bangkit.
Jangan biarkan zakat berhenti sebagai angka. Jadikan ia menjadi makanan di meja, pendidikan bagi anak, modal untuk usaha, dan harapan bagi keluarga yang sedang berjuang.
Mari tunaikan zakat dan salurkan sedekah melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS. Setiap rupiah yang kita titipkan dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar ketika dikelola secara amanah dan tepat sasaran.
Sepuluh tahun perjalanan memberikan banyak angka untuk dicatat, tetapi dampak sosial memberikan banyak kehidupan untuk direnungkan. Pada akhirnya, keberhasilan zakat bukan hanya tentang seberapa besar dana yang terkumpul, melainkan seberapa jauh kehidupan mustahik dapat berubah menjadi lebih baik dan mandiri.
Karena di antara angka dan laporan, selalu ada manusia. Dan di balik setiap zakat yang kita tunaikan, ada kesempatan untuk menghadirkan harapan.
ARTIKEL28/08/2026 | BAZNAS
Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung
Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung
Ada masa ketika masyarakat turun ke jalan karena merasa suaranya tidak cukup didengar. Ada pula masa ketika masyarakat justru berharap ada yang datang kepada mereka karena rumahnya terendam, sumber penghasilannya hilang, atau keluarganya membutuhkan pertolongan.
Dua keadaan tersebut terlihat berbeda. Yang satu berbicara tentang aspirasi, yang lain tentang bencana. Namun keduanya mempertemukan kita dengan satu persoalan yang sama yakni bagaimana kekuatan digunakan ketika manusia sedang berada dalam posisi yang membutuhkan perlindungan?
Dalam situasi seperti ini, kita mudah terjebak untuk memilih pihak. Membela kelompok tertentu, menyalahkan kelompok lain, lalu ikut memperpanjang perdebatan. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan yaitu untuk siapa kekuatan itu sebenarnya ada?
Ketika Kekuatan Berhadapan dengan Mereka yang Lemah
Kekuatan dapat hadir dalam banyak bentuk.
Ia bisa berupa jabatan, kewenangan, uang, pendidikan, koneksi, jumlah massa, akses terhadap informasi, bahkan kemampuan untuk membuat suara seseorang didengar.
Karena itu, kekuatan tidak selalu berbentuk seragam atau jabatan resmi. Seorang atasan memiliki kekuatan terhadap bawahannya. Orang tua memiliki kekuasaan atas anaknya. Guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Orang yang memiliki banyak uang mempunyai pilihan yang lebih luas daripada mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Masalahnya bukan pada keberadaan kekuatan tersebut.
Masalah dimulai ketika seseorang menggunakan kekuatan hanya untuk memastikan bahwa dirinya tidak pernah dirugikan, sementara orang lain harus menanggung akibatnya.
Di titik itu, kekuatan berhenti menjadi perlindungan dan mulai berubah menjadi alat untuk mengendalikan.
Semakin Besar Kekuatan, Semakin Besar Tanggung Jawab
Kita sering melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang menyenangkan: memiliki kewenangan, dihormati, didengar, dan mampu menentukan keputusan.
Islam melihatnya dari sisi yang berbeda.
Kekuasaan bukan hanya tentang hak untuk menentukan, tetapi juga kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.
Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil.”
Ayat ini mengajarkan bahwa amanah dan keadilan tidak dapat dipisahkan.
Ketika seseorang diberi kewenangan, ia tidak hanya memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan. Ia juga memperoleh tanggung jawab untuk memastikan keputusan tersebut tidak berubah menjadi jalan bagi kezaliman.
Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa kuat ia mampu mengendalikan keadaan.
Tetapi juga seberapa aman orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Keadilan Tidak Berarti Semua Orang Mendapat Perlakuan yang Sama
Di sinilah kita perlu berhati-hati memahami keadilan.
Keadilan bukan selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama kepada semua orang. Keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pihak yang memang berhak.
Orang yang sedang menghadapi bencana mungkin membutuhkan pertolongan yang berbeda dengan orang yang sedang menyampaikan aspirasi.
Anak yang kehilangan kesempatan belajar membutuhkan pendidikan.
Keluarga yang kehilangan penghasilan membutuhkan pemulihan ekonomi.
Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.
Masyarakat yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan perlindungan.
Artinya, ketika sumber daya terbatas, persoalannya bukan sekadar berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menentukan prioritas penggunaannya.
Inilah salah satu alasan mengapa kekuasaan membutuhkan kebijaksanaan.
Kekuatan Seharusnya Menghasilkan Rasa Aman
Bayangkan jika seseorang berada di hadapan pihak yang jauh lebih kuat darinya.
Ia tidak memiliki uang. Tidak memiliki koneksi. Tidak memiliki jabatan. Tidak memiliki kemampuan untuk membalas.
Apa yang seharusnya ia rasakan?
Takut?
Atau justru aman?
Dalam pandangan Islam, keberadaan pihak yang kuat seharusnya memberikan perlindungan kepada pihak yang lebih lemah.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”(HR. Ahmad, dengan riwayat yang dikenal luas dalam pembahasan keutamaan memberi manfaat)
Pesan ini sederhana, tetapi sangat dalam.
Kebaikan tidak berhenti pada apa yang kita miliki. Kebaikan terlihat dari apa yang keberadaan kita berikan kepada kehidupan orang lain.
Maka semakin besar kemampuan seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang dapat ia hadirkan.
Jangan Sampai Kita Menjadi Kuat dengan Membuat Orang Lain Lemah
Renungan ini sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, pejabat, atau aparat.
Sebab kita semua pernah berada dalam posisi yang lebih kuat daripada orang lain.
Mungkin kita pernah menjadi kakak yang lebih berkuasa daripada adik.
Atasan yang dapat menentukan nasib bawahan.
Orang tua yang merasa seluruh keputusan keluarga harus mengikuti keinginannya.
Teman yang memiliki kelompok lebih besar sehingga mampu mengucilkan seseorang.
Atau seseorang yang memiliki akses lebih luas sehingga dapat memperoleh sesuatu yang sulit dijangkau orang lain.
Pada saat itulah kita perlu berhenti sejenak.
Jangan sampai kita menggunakan kelebihan yang Allah titipkan untuk membuat orang lain semakin tidak berdaya.
Sebab kekuatan yang tidak disertai kesadaran dapat membuat kita mengira bahwa karena kita bisa, maka kita juga berhak.
Padahal tidak semua yang bisa dilakukan pantas dilakukan.
Kemanusiaan Dimulai dari Cara Kita Menggunakan Kekuatan
Kemanusiaan sering dipahami sebatas memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.
Padahal maknanya jauh lebih luas.
Kemanusiaan juga berarti bagaimana kita memperlakukan manusia ketika mereka tidak memiliki kemampuan untuk membalas kita.
Apakah kita tetap menghormati mereka?
Apakah kita mau mendengarkan?
Apakah kita memberikan ruang?
Apakah kita menjaga martabat mereka?
Atau justru karena mereka lemah, kita merasa bebas memperlakukan mereka sesuka hati?
Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan kasih sayang kepada mereka yang dekat. Keteladanan beliau menunjukkan bahwa kekuatan harus berjalan bersama rahmat, keadilan, dan kepedulian.
Allah bahkan menyebut Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat bukan berarti membiarkan segala sesuatu tanpa aturan. Rahmat berarti menghadirkan kebaikan dengan cara yang menjaga kehidupan dan martabat manusia.
Dari Kekuasaan Menuju Kepedulian
Prinsip ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan sosial.
Ketika seseorang memiliki rezeki lebih, ia memiliki kemampuan untuk membantu.
Ketika seseorang memiliki ilmu lebih, ia memiliki kemampuan untuk mengajarkan.
Ketika seseorang memiliki akses lebih luas, ia memiliki kemampuan untuk membuka jalan bagi orang lain.
Ketika seseorang memiliki kewenangan, ia memiliki kemampuan untuk melindungi mereka yang tidak memiliki kekuatan yang sama.
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemberian.
ZIS mengajarkan bahwa apa yang kita miliki tidak hanya berbicara tentang berapa banyak yang dapat kita simpan, tetapi juga berapa banyak manfaat yang dapat kita teruskan kepada orang lain.
Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi manfaat nyata melalui berbagai program, termasuk bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan.
Dengan demikian, membantu bukan berarti menempatkan diri sebagai pihak yang lebih tinggi.
Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa setiap kelebihan yang kita miliki membawa tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan.
Kekuatan yang Kita Miliki Adalah Ujian
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang siapa yang paling kuat.
Bukan pula tentang siapa yang paling berkuasa.
Tetapi tentang untuk apa kekuatan itu digunakan.
Sebab seseorang dapat memiliki jabatan tetapi tidak menghadirkan rasa aman.
Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak menghadirkan manfaat.
Seseorang dapat memiliki ilmu tetapi menggunakannya untuk merendahkan.
Seseorang dapat memiliki pengaruh tetapi menggunakannya untuk membungkam.
Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit kekuatan dapat menggunakannya untuk menolong orang lain bangkit.
Maka sebelum bertanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri tentang apakah orang lain menjadi lebih aman karena keberadaan kita?
Karena pada akhirnya, kekuatan bukan diukur dari siapa yang mampu kita hadapi, tetapi dari siapa yang mampu kita lindungi.
Dan mungkin di situlah salah satu bentuk kedewasaan seorang manusia: ketika ia tidak lagi menggunakan kelebihannya untuk memastikan dirinya selalu menang, tetapi menggunakannya agar orang lain tidak harus selalu kalah.
Sebab kekuatan yang benar bukanlah kekuatan yang membuat manusia lain takut.
Kekuatan yang benar adalah kekuatan yang membuat manusia lain merasa terlindungi.
ARTIKEL28/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
8 Provinsi, 1 Tujuan: BAZNAS Rajut Keadilan Ekonomi lewat Zakat
8 Provinsi, 1 Tujuan: BAZNAS Rajut Keadilan Ekonomi lewat Zakat
Zakat bukan sekadar kewajiban bagi umat Islam. Di tangan pengelolaan yang tepat, zakat dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi kesenjangan, membuka peluang usaha, dan membantu masyarakat keluar dari kemiskinan. Inilah semangat yang terus dikembangkan BAZNAS melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi di berbagai daerah.
Salah satunya melalui pengembangan Zakat Community Development (ZCD) yang ditargetkan menjangkau 11 kabupaten/kota di 8 provinsi. Program ini menggabungkan aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan keagamaan untuk membangun kemandirian masyarakat.
Zakat sebagai Jalan Menuju Keadilan Ekonomi
Kesenjangan ekonomi bukan hanya persoalan angka. Di baliknya ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan, pelaku usaha kecil yang kekurangan modal, hingga masyarakat yang memiliki potensi tetapi belum mendapatkan kesempatan.
Zakat hadir untuk menjadi salah satu jalan keluar.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:
“Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Dari Bantuan Menjadi Pemberdayaan
Zakat yang dikelola secara produktif dapat membantu mustahik bukan hanya memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga membangun masa depan.
BAZNAS mengembangkan berbagai pendekatan seperti pendampingan usaha mikro, pemberian dukungan usaha, pengembangan komunitas, hingga penguatan potensi ekonomi lokal. Program ZCD, misalnya, dirancang untuk mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi dengan aspek kehidupan lainnya.
Mustahik Berdaya, Ekonomi Bergerak
Ketika seorang penerima zakat mendapatkan modal usaha dan pendampingan, manfaatnya dapat berkembang. Usaha yang bertumbuh berarti ada pendapatan yang lebih baik, kebutuhan keluarga yang lebih terjaga, bahkan peluang bagi terciptanya pekerjaan baru.
Inilah yang membuat zakat memiliki potensi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi.
8 Provinsi, Satu Semangat Kemandirian
Program pemberdayaan berbasis komunitas menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.
Setiap daerah memiliki potensi berbeda. Ada masyarakat yang memiliki keterampilan usaha, sumber daya pertanian, perdagangan kecil, kerajinan, maupun potensi ekonomi lokal lainnya.
BAZNAS berupaya mengembangkan potensi tersebut agar zakat tidak berhenti sebagai bantuan sesaat. Dalam laporan dampak program ekonomi 2025, BAZNAS RI mencatat program ekonominya telah membantu ribuan mustahik melewati setidaknya satu standar kemiskinan.
Zakat Produktif untuk Masa Depan
Contoh lainnya adalah pengembangan usaha ritel mikro melalui program Zmart. Program ini ditujukan untuk memperkuat usaha kecil milik mustahik, termasuk warung yang dikelola masyarakat.
Artinya, zakat dapat menjadi awal perjalanan dari penerima bantuan menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Hadits tentang Kewajiban Zakat
Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya zakat dalam Islam. Dalam hadits tentang pengutusan Mu'adz ke Yaman, Rasulullah SAW bersabda:
“Beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) atas harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggambarkan salah satu fungsi sosial zakat: membantu memenuhi kebutuhan mereka yang membutuhkan.
Saatnya Zakat Kita Menjadi Lebih Bermakna
Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan bukan hanya membantu seseorang bertahan hari ini, tetapi juga menjadi modal untuk membangun usaha, meningkatkan keterampilan, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menciptakan kehidupan yang lebih mandiri.
Satu zakat mungkin terlihat sederhana. Namun ketika dikumpulkan dan dikelola dengan amanah, dampaknya dapat menjangkau banyak kehidupan.
Melalui BAZNAS, zakat dapat disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan syariat dan diarahkan pada program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mari Rajut Keadilan Ekonomi Bersama
Delapan provinsi boleh berbeda kondisi dan potensinya. Namun tujuannya sama: membangun masyarakat yang lebih berdaya, mandiri, dan sejahtera melalui zakat.
Kini saatnya kita mengambil bagian.
Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan jadikan sebagian harta yang kita miliki sebagai jalan hadirnya harapan bagi mereka yang membutuhkan. Karena zakat bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan kesempatan untuk bangkit.
i
ARTIKEL28/08/2026 | BAZNAS
Ada Balasan yang Tidak Selalu Terlihat Setelah Kita Bersedekah
Pernahkah kita bersedekah, lalu diam-diam bertanya dalam hati, “Kapan Allah membalasnya?”
Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Ketika uang yang kita miliki diberikan kepada orang lain, secara kasatmata jumlah harta memang terlihat berkurang. Namun, dalam Islam, sedekah tidak pernah sesederhana angka yang keluar dari dompet.
Ada balasan yang mungkin langsung kita lihat. Ada pula yang datang perlahan. Bahkan, ada balasan yang baru kita sadari bertahun-tahun kemudian. Sebagian lainnya mungkin tidak pernah kita lihat di dunia, tetapi menjadi simpanan pahala di akhirat.
Inilah indahnya sedekah. Kita memberi sesuatu yang terlihat, tetapi Allah dapat membalasnya dengan sesuatu yang tidak pernah kita sangka.
Sedekah Bukan Sekadar Memberi, tetapi Menanam Kebaikan
Sedekah sering kali dipahami sebagai memberikan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan. Namun, lebih dalam dari itu, sedekah adalah bentuk keimanan, kepedulian, sekaligus bukti bahwa kita percaya kepada Allah sebagai pemberi rezeki.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah. Sedekah seperti sebuah benih.
Ketika benih ditanam, kita tidak langsung melihat hasilnya. Ia membutuhkan waktu untuk tumbuh, berakar, dan menghasilkan buah. Begitu pula sedekah. Kita mungkin tidak langsung melihat balasannya, tetapi bukan berarti kebaikan itu berhenti begitu saja.
Allah Mengetahui Setiap Rupiah yang Kita Keluarkan
Tidak ada sedekah yang benar-benar hilang.
Mungkin kita lupa kapan terakhir memberikan uang kepada seseorang. Kita mungkin bahkan tidak lagi mengingat wajah orang yang pernah kita bantu. Namun Allah tidak pernah lupa.
Allah mengetahui jumlahnya, niatnya, siapa yang menerimanya, dan bagaimana perjuangan kita ketika mengeluarkannya.
Karena itu, jangan mengukur balasan sedekah hanya dari apa yang kembali ke tangan kita.
Balasan Sedekah Tidak Selalu Berbentuk Uang
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap balasan sedekah harus selalu berupa uang.
Padahal, rezeki memiliki bentuk yang jauh lebih luas.
1. Balasan Berupa Ketenangan Hati
Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang sederhana tetapi mampu tidur dengan hati tenang.
Sedekah dapat menjadi salah satu jalan untuk menghadirkan ketenangan tersebut.
Ketika kita membantu seseorang keluar dari kesulitan, ada perasaan bahagia yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Kita mungkin kehilangan sejumlah uang, tetapi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal: hati yang merasa bermanfaat.
2. Balasan Berupa Kemudahan yang Tidak Disangka
Bisa saja setelah bersedekah kita mendapatkan kemudahan dalam pekerjaan.
Bisa jadi urusan yang awalnya terasa rumit tiba-tiba menemukan jalan keluar.
Bisa pula Allah mempertemukan kita dengan orang baik, membuka peluang baru, atau memberikan pertolongan melalui jalan yang sama sekali tidak kita duga.
Bukan berarti setiap sedekah harus langsung menghasilkan keuntungan materi. Namun, kita percaya bahwa Allah memiliki cara-Nya sendiri dalam memberikan balasan.
3. Balasan Berupa Perlindungan dari Keburukan
Ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui.
Mungkin suatu hari kita terhindar dari masalah besar. Kita menganggapnya sebagai kebetulan. Padahal, bisa jadi ada doa seseorang yang pernah kita bantu.
Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan bekerja dalam kehidupan kita.
Karena itu, jangan meremehkan sedekah meskipun jumlahnya kecil.
Apa yang kecil menurut manusia bisa menjadi besar di sisi Allah ketika dilakukan dengan ikhlas.
Rasulullah SAW Mengingatkan: Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Jika dipikir secara matematika, uang Rp50.000 yang diberikan memang membuat saldo berkurang Rp50.000.
Namun Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita bahwa hakikat harta tidak hanya dilihat dari jumlah nominalnya.
Harta yang disedekahkan bisa menjadi keberkahan. Bisa menjadi pahala. Bisa menjadi sebab seseorang tersenyum. Bisa menjadi makanan bagi keluarga yang kesulitan. Bisa menjadi biaya pendidikan seorang anak. Bisa menjadi obat bagi seseorang yang sedang sakit.
Dan semua kebaikan tersebut memiliki nilai di sisi Allah.
Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah
Sering kali kita berkata:
“Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan banyak bersedekah.”
Padahal, belum tentu kekayaan membuat seseorang lebih mudah berbagi.
Justru sedekah melatih kita untuk berbagi dari apa yang kita punya hari ini.
Tidak harus menunggu memiliki jutaan rupiah.
Sedekah Rp10.000, Rp20.000, Rp50.000, atau berapa pun yang kita mampu, dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti apabila dilakukan dengan ikhlas.
Yang paling penting bukan hanya nominalnya, tetapi ketulusan dan kebermanfaatannya.
Ada Balasan yang Mungkin Baru Kita Sadari Nanti
Bayangkan seseorang bersedekah untuk membantu seorang anak mendapatkan pendidikan.
Saat memberikan donasi, mungkin ia hanya berpikir, “Semoga uang ini bermanfaat.”
Bertahun-tahun kemudian, anak tersebut tumbuh menjadi orang yang mampu membantu banyak orang.
Kebaikan yang awalnya hanya terlihat seperti sebuah pemberian kecil ternyata berkembang menjadi rangkaian kebaikan yang panjang.
Begitulah sedekah.
Kita mungkin hanya melihat satu langkah, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan kebaikan itu.
Kebaikan yang Terus Mengalir
Karena itu, jangan hanya mencari balasan yang bisa langsung dilihat.
Ketika sedekah kita membantu seseorang membuka usaha, lalu ia mampu menghidupi keluarganya, ada kebermanfaatan yang jauh lebih luas.
Ketika sedekah membantu seorang anak mendapatkan pendidikan, kemudian ia menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, kebaikan itu berkembang.
Ketika infak membantu menyediakan kebutuhan umat, manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang.
Inilah mengapa sedekah bukan sekadar “uang yang keluar”, tetapi bisa menjadi investasi kebaikan.
Jangan Rusak Sedekah dengan Mengungkitnya
Allah juga mengingatkan agar sedekah tidak disertai sikap menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerimanya.
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah: 262)
Sedekah seharusnya membuat hati semakin lembut, bukan semakin tinggi hati.
Kita memberi bukan karena ingin dipuji.
Kita memberi bukan agar dianggap paling dermawan.
Kita memberi karena ingin mencari ridha Allah.
Saatnya Menjadi Bagian dari Kebaikan
Di sekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan.
Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada pula berbagai program sosial yang membutuhkan dukungan agar dapat terus berjalan.
Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan mereka.
Namun kita bisa mengambil bagian.
Satu sedekah mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang menerimanya.
Jangan menunggu memiliki rezeki berlebih untuk berbagi.
Sebab terkadang, justru dari sebagian kecil yang kita ikhlaskan, Allah menghadirkan keberkahan yang jauh lebih besar.
Mari Bersedekah Hari Ini
Jika hari ini Allah masih memberikan kita rezeki, kesehatan, kesempatan bekerja, keluarga, dan kehidupan yang cukup, jangan lupa menyisihkan sebagian untuk orang lain.
Sedekah tidak harus menunggu kaya.
Tidak harus menunggu Jumat.
Tidak harus menunggu Ramadan.
Dan tidak harus menunggu ada sesuatu yang kita inginkan.
Bersedekahlah karena Allah.
Sebab boleh jadi, balasan yang kita tunggu bukan berupa uang yang tiba-tiba kembali ke rekening.
Boleh jadi balasannya adalah hati yang lebih tenang.
Keluarga yang lebih harmonis.
Urusan yang dimudahkan.
Kesulitan yang dijauhkan.
Doa yang dikabulkan pada waktu terbaik.
Atau pahala yang kelak menjadi penyelamat ketika kita sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk beramal.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Kita sering mengira masalah dalam sebuah kepemimpinan muncul ketika seseorang tidak mampu mengambil keputusan.
Padahal ada persoalan yang jauh lebih sulit terlihat yakni ketika seseorang mampu memimpin, tetapi tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Ia memiliki jabatan. Pendapatnya didengar. Keputusannya berpengaruh terhadap orang lain. Namun perlahan, sesuatu berubah. Kepemimpinan yang seharusnya menjadi amanah mulai digunakan untuk mempertahankan harga diri.
Kritik terasa seperti penghinaan. Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Kesalahan orang lain mudah terlihat, tetapi kesalahan sendiri selalu memiliki pembenaran.
Di titik tertentu, pertanyaannya bukan lagi “Apakah dia mampu memimpin?”, melainkan “Siapa yang sebenarnya sedang memimpin, akal dan amanahnya, atau egonya?”
Kekuasaan Tidak Selalu Membuat Seseorang Lebih Besar
Memiliki posisi sering kali membuat seseorang memiliki lebih banyak kendali.
Seorang ayah memiliki pengaruh terhadap keluarganya. Seorang pemimpin memiliki pengaruh terhadap bawahannya. Seorang guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Bahkan seseorang yang tidak memiliki jabatan formal pun dapat memiliki pengaruh dalam lingkungan sosialnya.
Namun pengaruh tidak otomatis berarti keunggulan.
Justru semakin besar pengaruh seseorang, semakin besar pula kemungkinan orang lain merasakan akibat dari keputusannya.
Masalah muncul ketika kekuasaan mulai dianggap sebagai bukti bahwa dirinya lebih penting daripada orang lain.
Ia tidak lagi mendengar untuk memahami, tetapi mendengar untuk mencari alasan mengapa dirinya tetap benar.
Ia tidak menerima kritik sebagai bahan evaluasi, tetapi sebagai ancaman terhadap citra dirinya.
Ia ingin dihormati, tetapi lupa bahwa penghormatan tidak dapat dipaksa.
Sebab orang mungkin dapat takut kepada seorang pemimpin, tetapi rasa takut tidak sama dengan rasa hormat.
Ketika Kritik Terasa Seperti Serangan
Salah satu ujian terbesar bagi seseorang yang memiliki posisi adalah bagaimana ia menerima kritik.
Ketika dipuji, hampir semua orang mampu bersikap tenang.
Tetapi ketika seseorang mengatakan, “Anda salah,” di situlah karakter mulai terlihat.
Ego yang besar akan mencari pembelaan.
“Dia tidak memahami saya.”
“Dia tidak tahu apa yang saya lakukan.”
“Dia memang tidak suka kepada saya.”
Akhirnya, persoalan yang seharusnya dapat menjadi bahan perbaikan berubah menjadi persoalan harga diri.
Padahal kritik tidak selalu merupakan bentuk kebencian.
Kadang, kritik adalah cara orang lain menunjukkan sesuatu yang tidak mampu kita lihat dari posisi kita sendiri.
Karena itu, pemimpin yang baik bukan orang yang tidak pernah dikritik.
Pemimpin yang baik adalah orang yang masih mampu mendengarkan ketika kritik itu menyakitkan.
Kepemimpinan dalam Islam Bukan Lisensi untuk Menguasai
Islam memberikan pandangan yang sangat berbeda tentang kepemimpinan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kata yang digunakan yaitu dipertanggungjawabkan.
Kepemimpinan bukan terutama tentang berapa banyak orang yang berada di bawah kita.
Ia tentang berapa banyak amanah yang harus kita pertanggungjawabkan.
Seorang ayah tidak hanya memiliki hak untuk didengar oleh keluarganya, tetapi juga tanggung jawab untuk melindungi dan mengayomi.
Seorang atasan tidak hanya memiliki kewenangan memberikan tugas, tetapi juga tanggung jawab memperlakukan orang yang dipimpinnya secara adil.
Seseorang yang diberi pengaruh tidak hanya memperoleh kesempatan untuk menentukan arah, tetapi juga memperoleh kewajiban untuk mempertimbangkan dampak keputusannya.
Semakin besar kekuasaan, semakin besar pula amanah yang mengikutinya.
Allah Tidak Menyukai Kesombongan
Di sinilah pride atau kesombongan menjadi sesuatu yang perlu kita waspadai.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. An-Nisa: 36)
Kesombongan bukan hanya tentang membanggakan harta atau merasa lebih tinggi secara terang-terangan.
Ia dapat muncul ketika seseorang merasa dirinya terlalu penting untuk dikoreksi.
Ketika permintaan maaf terasa merendahkan martabat.
Ketika mengakui kesalahan dianggap sebagai kekalahan.
Ketika orang lain harus terus memahami dirinya, sementara ia tidak merasa perlu memahami orang lain.
Padahal, semakin tinggi seseorang berada dalam sebuah struktur, semakin penting baginya untuk memiliki kemampuan merendahkan ego tanpa merendahkan harga dirinya.
Pemimpin Pertama yang Harus Ditaklukkan adalah Diri Sendiri
Kita sering berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin yang baik.
Namun mungkin ada pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana seseorang dapat memimpin orang lain jika ia bahkan belum mampu memimpin egonya sendiri?
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Pengendalian diri adalah bentuk kepemimpinan yang paling dekat dengan kita.
Menahan diri ketika ingin membalas.
Mendengarkan ketika ingin memotong pembicaraan.
Mengakui kesalahan ketika ego meminta kita mencari alasan.
Memberikan kesempatan kepada orang lain ketika kita sebenarnya memiliki kekuasaan untuk memaksakan kehendak.
Hal-hal kecil inilah yang menunjukkan apakah seseorang benar-benar memimpin, atau sekadar memiliki posisi.
Dari “Saya Harus Dihormati” Menjadi “Saya Harus Bertanggung Jawab”
Mungkin perubahan terbesar dalam cara memandang kepemimpinan terjadi ketika pusat perhatian bergeser.
Dari “Bagaimana orang memperlakukan saya?” , menjadi “Bagaimana saya memperlakukan orang lain?”.
Dari “Mengapa mereka tidak mengikuti saya?”, menjadi “Apakah saya sudah memberikan alasan yang layak untuk dipercaya?”
Dan dari “Apa yang bisa saya dapatkan dari posisi ini?”, menjadi “Apa manfaat yang dapat saya berikan melalui posisi ini?”
Cara berpikir seperti ini juga selaras dengan semangat berbagai program BAZNAS. Kepedulian dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, maupun keagamaan pada dasarnya mengingatkan kita bahwa kemampuan yang dimiliki manusia dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Begitu pula zakat, infak, dan sedekah. Ia mengajarkan bahwa apa yang berada dalam genggaman kita tidak semata-mata tentang hak untuk memiliki, tetapi juga tentang tanggung jawab untuk memberi manfaat.
Ketika Ego Turun, Amanah Naik
Mungkin kita tidak semuanya memiliki jabatan.
Tetapi hampir setiap orang pernah berada dalam posisi untuk memengaruhi orang lain.
Menjadi orang tua. Menjadi pasangan. Menjadi kakak. Menjadi teman. Menjadi atasan. Bahkan menjadi seseorang yang pendapatnya didengar.
Maka artikel ini bukan hanya tentang pemimpin.
Ini tentang kita.
Sebab kursi kepemimpinan tidak selalu berbentuk jabatan. Kadang ia berbentuk rumah, keluarga, pekerjaan, atau kepercayaan seseorang kepada kita.
Dan ketika suatu hari kita diberi kekuasaan, mungkin yang paling perlu kita takutkan bukan kehilangan posisi.
Melainkan kehilangan kemampuan untuk membedakan antara memimpin dengan menguasai, antara dihormati dengan ditakuti, dan antara amanah dengan kepentingan ego sendiri.
Karena masalah terbesar bukan ketika seseorang duduk di kursi kepemimpinan.
Masalahnya adalah ketika ego ikut duduk di sana dan tidak pernah mau turun.
ARTIKEL27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi
Teknologi hadir membawa banyak kemudahan. Dalam hitungan detik, kita dapat mencari informasi, bekerja, belajar, berkomunikasi, hingga menjalankan bisnis. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat tantangan yang tidak boleh diabaikan. Notifikasi yang terus bermunculan, media sosial yang membuat lupa waktu, serta hiburan tanpa batas dapat membuat seseorang kehilangan fokus dan menghabiskan waktu tanpa menghasilkan sesuatu yang berarti.
Menjadi Muslim produktif di era teknologi bukan berarti harus menjauhi perkembangan zaman. Justru, seorang muslim perlu mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk belajar, berkarya, mencari rezeki halal, dan memperbanyak manfaat bagi sesama. Produktivitas dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya pekerjaan yang selesai, tetapi juga dari seberapa besar aktivitas tersebut membawa kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
1. Kelola Waktu Sebelum Waktu Mengendalikanmu
Jangan Biarkan Teknologi Mencuri Waktu
Salah satu kunci menjadi Muslim produktif adalah memiliki kemampuan mengatur waktu. Teknologi sering membuat seseorang merasa hanya menggunakan ponsel “sebentar”, tetapi tanpa sadar waktu telah berlalu berjam-jam.
Allah SWT mengingatkan pentingnya waktu melalui QS. Al-'Asr:
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”(QS. Al-'Asr: 1–3)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa waktu merupakan amanah. Gunakan teknologi untuk sesuatu yang bermanfaat, bukan membiarkannya mengambil waktu untuk ibadah, keluarga, pekerjaan, dan belajar.
2. Jadikan Teknologi sebagai Alat untuk Berkarya
Gunakan Kemudahan untuk Hal yang Bernilai
Teknologi seharusnya menjadi alat, bukan pengendali kehidupan. Internet dapat digunakan untuk mempelajari ilmu baru, mengembangkan usaha, mencari pekerjaan, membuat konten edukatif, hingga menggalang kepedulian sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”(HR. Muslim No. 2664)
Pesan tersebut sangat relevan dengan kehidupan digital. Jangan hanya menjadi konsumen informasi. Jadilah seseorang yang mampu menghasilkan manfaat melalui teknologi.
Produktif Tidak Harus Selalu Sibuk
Produktif bukan berarti harus bekerja tanpa istirahat. Produktif berarti mampu menentukan prioritas dan menyelesaikan hal-hal yang memang penting. Sisihkan waktu untuk salat, membaca Al-Qur'an, bekerja, belajar, beristirahat, dan berbagi.
3. Seimbangkan Kesuksesan Dunia dengan Kepedulian
Produktivitas Harus Menghasilkan Manfaat
Kesuksesan seorang Muslim tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Rezeki, ilmu, kemampuan, dan teknologi yang dimiliki seharusnya dapat menjadi jalan untuk membantu orang lain.
Allah SWT berfirman:
“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”(QS. Asy-Syarh: 7–8)
Ayat tersebut mengajarkan semangat untuk terus berusaha sekaligus mengarahkan harapan kepada Allah SWT.
Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan
Produktif juga berarti mampu mengubah hasil kerja menjadi manfaat. Ketika mendapatkan penghasilan yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, tunaikanlah zakat dengan amanah. Sebagian rezeki yang kita keluarkan dapat membantu keluarga yang membutuhkan, mendukung pendidikan anak, membantu pemberdayaan ekonomi, dan membuka peluang kehidupan yang lebih baik.
Bayangkan jika semakin banyak Muslim produktif menyisihkan hartanya untuk zakat. Teknologi yang digunakan untuk mencari rezeki dapat terhubung dengan gerakan kebaikan yang membantu lebih banyak orang.
Saatnya Menjadi Muslim Produktif yang Berdampak
Gunakan Teknologi, Jangan Dikuasai Teknologi
Menjadi Muslim produktif di tengah gempuran teknologi membutuhkan disiplin, tujuan, dan kesadaran bahwa waktu adalah amanah. Kelola waktu dengan baik, manfaatkan teknologi untuk berkarya, dan jangan lupakan kepedulian kepada sesama.
Dari Produktif Menjadi Bermanfaat
Mari gunakan teknologi untuk memperluas kebaikan. Belajar lebih banyak, bekerja lebih sungguh-sungguh, berkarya dengan niat yang baik, dan sisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan.
Jangan hanya menjadi generasi yang sibuk dengan teknologi. Jadilah generasi Muslim yang mampu menaklukkan teknologi, menghasilkan karya, dan menghadirkan manfaat nyata bagi sesama. Tunaikan zakat dan jadikan rezeki yang kita miliki sebagai jalan menuju keberkahan dunia sekaligus bekal akhirat.
ARTIKEL27/08/2026 | BAZNAS

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →
