WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Jangan Bandingkan Takdirmu dengan Takdir Orang Lain: Setiap Orang Punya Jalan Rezeki dan Ujiannya Sendiri
Jangan Bandingkan Takdirmu dengan Takdir Orang Lain: Setiap Orang Punya Jalan Rezeki dan Ujiannya Sendiri
Jangan Bandingkan Takdirmu dengan Takdir Orang Lain: Setiap Orang Punya Jalan Rezeki dan Ujiannya Sendiri Pernah merasa hidup orang lain jauh lebih baik daripada hidup kita? Melihat teman sudah memiliki rumah, sementara kita masih berjuang membayar kebutuhan sehari-hari. Melihat orang lain mendapatkan pekerjaan impian, sementara kita masih mengirim lamaran ke berbagai tempat. Melihat seseorang sukses di usia muda, sedangkan perjalanan kita terasa begitu lambat. Tanpa sadar, kita mulai bertanya, “Mengapa hidupnya mudah, sementara hidupku seperti ini?” Perasaan seperti itu manusiawi. Namun, jika terus dipelihara, membandingkan hidup dengan orang lain dapat membuat kita lupa pada satu hal penting: setiap manusia memiliki takdir, rezeki, ujian, dan waktunya masing-masing. Takdir bukan perlombaan. Hidup juga bukan kompetisi untuk menjadi yang paling cepat, paling kaya, atau paling sukses. Apa yang terlihat dari kehidupan seseorang hanyalah sebagian kecil dari perjalanan mereka. Kita mungkin melihat keberhasilannya, tetapi tidak melihat doa yang panjang. Kita melihat rumahnya, tetapi tidak tahu perjuangannya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui air mata yang pernah jatuh. Karena itu, jangan bandingkan takdirmu dengan takdir orang lain. Setiap Orang Memiliki Jalan Hidup yang Berbeda Allah menciptakan manusia dengan kondisi, kemampuan, kesempatan, dan perjalanan yang berbeda. Ada yang diberi rezeki luas sejak muda. Ada yang harus berjuang bertahun-tahun sebelum merasakan kelapangan. Ada yang menikah lebih cepat. Ada yang menunggu lebih lama. Ada yang mendapatkan pekerjaan impian di usia 20-an. Ada pula yang baru menemukan jalannya setelah melewati banyak kegagalan. Perbedaan tersebut bukan berarti Allah lebih menyayangi seseorang dan melupakan yang lainnya. Justru, setiap kehidupan memiliki bentuk ujian masing-masing. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32) Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak terjebak dalam rasa iri terhadap apa yang Allah berikan kepada orang lain. Sebaliknya, kita diperintahkan untuk meminta karunia kepada Allah dan terus berusaha. Jangan Jadikan Kesuksesan Orang Lain sebagai Ukuran Kegagalanmu Kesalahan yang sering kita lakukan adalah menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri. Ketika orang lain membeli kendaraan baru, kita merasa tertinggal. Ketika teman mendapatkan promosi, kita merasa tidak cukup baik. Ketika seseorang membangun bisnis yang sukses, kita merasa usaha kita tidak ada artinya. Padahal, keberhasilan orang lain tidak otomatis berarti kegagalan kita. Jika hari ini seseorang berada di depanmu, bukan berarti selamanya dia akan berada di depan. Dan jika hari ini kamu masih berada di belakang, bukan berarti perjalananmu telah berakhir. Allah memiliki waktu yang berbeda untuk setiap hamba-Nya. Jangan Hanya Melihat Hasil, Lihat Juga Perjalananmu Media sosial sering membuat kita melihat kehidupan orang lain hanya dari sisi terbaiknya. Kita melihat foto liburan, pencapaian, kendaraan, rumah, bisnis, keluarga, dan berbagai kebahagiaan lainnya. Kemudian kita melihat kehidupan sendiri yang penuh dengan pekerjaan, tagihan, kegagalan, masalah, dan perjuangan. Akhirnya kita berpikir, “Kenapa hidupku tidak seperti mereka?” Padahal, kita sedang membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain. Kita tidak tahu apa yang mereka perjuangkan di balik layar. Karena itu, daripada terus melihat pencapaian orang lain, sesekali lihatlah perjalananmu sendiri. Mungkin dulu kamu sering mengeluh, tetapi sekarang sudah jauh lebih sabar. Mungkin dulu kamu tidak memiliki apa-apa, tetapi sekarang sudah mampu membantu keluarga. Mungkin dulu kamu hanya bisa bermimpi, tetapi hari ini sudah mulai mengambil langkah. Jangan remehkan perkembangan kecil. Tidak semua pertumbuhan harus terlihat besar. Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berusaha Menerima takdir bukan berarti pasrah tanpa melakukan apa-apa. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar, doa, dan tawakal. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, tugas kita bukan mengendalikan seluruh hasil, melainkan melakukan usaha terbaik yang mampu kita lakukan. Allah berfirman: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6) Perhatikan kata “bersama”. Kemudahan itu tidak selalu datang setelah seluruh kesulitan selesai. Dalam perjalanan yang sulit pun, Allah dapat menghadirkan jalan keluar, pertolongan, pengalaman, kekuatan, dan pelajaran yang tidak kita sangka. Mungkin rezekimu belum datang dalam bentuk uang. Mungkin saat ini rezekimu berupa kesehatan. Mungkin berupa keluarga yang masih menyayangimu. Mungkin berupa kesempatan untuk belajar. Mungkin berupa seseorang yang hadir membantu ketika kamu sedang berada di titik terendah. Dan mungkin, perjuangan yang sedang kamu jalani hari ini sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu yang lebih besar. Belajar Bersyukur atas Takdir yang Sedang Dijalani Bersyukur bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan. Kita tetap boleh bercita-cita menjadi lebih sukses, lebih mapan, memiliki rumah, membangun usaha, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga. Namun, jangan sampai keinginan tersebut membuat kita membenci kehidupan yang sedang dijalani. Allah mengingatkan: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23) Ayat ini mengajarkan keseimbangan hati. Ketika kehilangan sesuatu, jangan sampai kehilangan harapan. Ketika mendapatkan sesuatu, jangan sampai kehilangan kerendahan hati. Syukur Membuat Kita Melihat Apa yang Sudah Dimiliki Ada orang yang memiliki sedikit tetapi hatinya tenang. Ada pula yang memiliki banyak tetapi selalu merasa kurang. Perbedaannya bukan hanya pada jumlah harta, tetapi pada cara hati memandang kehidupan. Ketika kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, apa pun yang kita miliki akan terasa kurang. Namun ketika kita belajar bersyukur, hal-hal sederhana pun dapat terasa sangat berharga. Maka, sebelum berkata “Aku belum punya apa-apa,” cobalah bertanya: “Apa saja yang sudah Allah berikan kepadaku?” Mungkin jawabannya jauh lebih banyak daripada yang selama ini kita sadari. Rezeki Orang Lain Tidak Mengurangi Rezekimu Salah satu penyakit hati yang sering muncul karena perbandingan adalah iri. Ketika melihat orang lain mendapatkan rezeki, kita merasa kesempatan kita menjadi lebih sedikit. Padahal, rezeki bukan kue yang apabila seseorang mendapatkan bagian besar maka bagian kita otomatis mengecil. Allah memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Jika Allah mampu memberikan rezeki kepada orang lain, Allah juga mampu memberikan rezeki kepada kita melalui jalan yang tidak pernah kita bayangkan. Karena itu, ketika melihat seseorang berhasil, belajarlah berkata: “Masya Allah. Semoga Allah memberkahinya, dan semoga Allah memberikan kepadaku rezeki yang terbaik menurut-Nya.” Kalimat sederhana ini dapat mengubah rasa iri menjadi doa. Jadikan Perjalanan Orang Lain sebagai Inspirasi, Bukan Perbandingan Ada perbedaan besar antara terinspirasi dan membandingkan diri. Perbandingan membuat kita berkata: “Kenapa dia sudah sampai sana, sementara aku belum?” Inspirasi membuat kita berkata: “Kalau dia bisa berusaha, aku juga harus mulai berusaha.” Perbandingan melahirkan iri. Inspirasi melahirkan motivasi. Perbandingan membuat kita membenci diri sendiri. Inspirasi membuat kita ingin berkembang. Maka, ketika melihat keberhasilan orang lain, jangan tanyakan “Mengapa bukan aku?” Ubahlah menjadi: “Apa yang bisa aku pelajari dari perjalanan mereka?” Dengan begitu, kesuksesan orang lain tidak lagi menjadi sumber kegelisahan, tetapi menjadi sumber pelajaran. Jangan Lupa, Setiap Rezeki Memiliki Amanah Ketika seseorang diberikan harta lebih banyak, sesungguhnya semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Harta bukan hanya tentang memiliki. Ada hak orang lain di dalamnya. Ada keluarga yang harus diperhatikan. Ada orang yang membutuhkan. Ada zakat yang harus ditunaikan. Ada kesempatan untuk berbagi melalui infak dan sedekah. Karena itu, jangan hanya melihat berapa banyak yang dimiliki seseorang, tetapi lihat juga bagaimana ia menggunakan apa yang Allah titipkan. Begitu pula dengan diri kita. Jika hari ini Allah memberikan sedikit, mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran. Jika suatu hari Allah memberikan lebih banyak, semoga kita tetap ingat untuk berbagi. Sedekah: Mengubah Rasa Syukur Menjadi Manfaat Salah satu cara menjaga hati agar tidak terus sibuk membandingkan diri adalah belajar berbagi. Ketika kita bersedekah, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari apa yang bisa kita berikan. Ada keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada saudara kita yang membutuhkan dukungan untuk bangkit dan kembali mandiri. Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan semua persoalan mereka. Tetapi kita selalu bisa mengambil bagian dalam sebuah kebaikan. Sedekah yang kita keluarkan mungkin terasa kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi sangat berarti bagi orang yang menerimanya. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu berbagai program kemanusiaan dan pemberdayaan umat. Jika Allah telah memberikan sebagian rezeki kepada kita, mari jadikan sebagian dari rezeki itu sebagai jalan hadirnya kebahagiaan bagi orang lain. Takdirmu Tidak Perlu Sama dengan Takdir Orang Lain Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani perjalanan yang Allah berikan dengan iman, ikhtiar, kesabaran, dan rasa syukur. Jangan bandingkan takdirmu dengan takdir orang lain. Kamu tidak tahu seluruh cerita mereka. Dan mereka juga tidak tahu seluruh perjuanganmu. Mungkin hari ini kamu merasa terlambat. Tetapi bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu pada waktu yang paling tepat. Mungkin hari ini rezekimu terasa sedikit. Tetapi bisa jadi, Allah sedang mengajarkanmu cara menghargai setiap pemberian. Mungkin jalanmu terasa panjang. Tetapi bisa jadi, perjalanan panjang itulah yang akan membuatmu menjadi pribadi yang jauh lebih kuat. Tidak perlu iri dengan halaman kehidupan orang lain. Fokuslah menulis halamanmu sendiri. Teruslah berusaha. Teruslah berdoa. Teruslah bersyukur. Dan ketika Allah memberikan kelapangan, jangan lupa berbagi. Sebab boleh jadi, rezeki yang hari ini kamu syukuri bukan hanya menjadi kebahagiaan untukmu, tetapi juga menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Berapa Banyak Kebaikan yang Tidak Pernah Terjadi Hanya karena Kita Berkata, “Nanti”?
Berapa Banyak Kebaikan yang Tidak Pernah Terjadi Hanya karena Kita Berkata, “Nanti”?
Berapa Banyak Kebaikan yang Tidak Pernah Terjadi Hanya karena Kita Berkata, “Nanti”? Ada satu kata yang terdengar sederhana, tetapi diam-diam dapat mengubah banyak hal dalam hidup kita, nanti. Nanti belajar.Nanti meminta maaf.Nanti membantu.Nanti bersedekah.Nanti memperbaiki diri.Nanti mulai lebih dekat dengan Allah. Tidak ada yang salah dengan menunda sesuatu sesekali. Kita memang memiliki keterbatasan waktu, tenaga, dan keadaan. Tetapi masalah muncul ketika “nanti” tidak lagi menjadi keputusan sementara, melainkan berubah menjadi kebiasaan. Sebab tidak semua kebaikan gagal dilakukan karena kita tidak mampu. Ada kebaikan yang tidak pernah terjadi karena kita terlalu lama menunggu waktu yang dianggap tepat. Kita Sering Menunggu Saat yang Sempurna Manusia memiliki alasan yang terdengar masuk akal untuk menunda. “Kalau sudah punya lebih, saya akan membantu.” “Kalau sudah selesai kuliah, saya akan belajar lebih serius.” “Kalau keadaan sudah membaik, saya akan mulai bersedekah.” “Kalau sudah tidak sibuk, saya akan memperbaiki ibadah.” Masalahnya, kehidupan hampir tidak pernah benar-benar kosong dari kesibukan. Selalu ada pekerjaan berikutnya. Ada kebutuhan lain. Ada target baru. Ada masalah yang harus diselesaikan. Akhirnya, kita terus menunggu kondisi yang sempurna untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya bisa dimulai dari sekarang. Di sinilah kita perlu bertanya tentang "apakah kita benar-benar belum mampu, atau sebenarnya hanya belum bersedia memulai?" Pertanyaan ini penting karena keduanya sangat berbeda. Ketika Menunda Kebaikan Menjadi Kebiasaan Dalam kehidupan modern, kita mengenal istilah procrastination yaitu sebuah kecenderungan menunda sesuatu meskipun kita tahu bahwa hal tersebut perlu dilakukan. Namun ada bentuk penundaan yang lebih jarang kita bicarakan yakni menunda kebaikan. Kita mengetahui ada seseorang yang membutuhkan bantuan, tetapi berpikir, “Nanti saja.” Kita ingin menyisihkan sebagian rezeki, tetapi merasa bulan depan akan lebih memungkinkan. Kita ingin belajar, tetapi terus menunggu motivasi. Kita ingin berubah, tetapi merasa belum siap. Yang berbahaya bukan hanya satu kebaikan yang tertunda. Yang berbahaya adalah ketika penundaan berulang kali membuat kita terbiasa menjadi orang yang tidak bertindak. Lama-kelamaan, hati dapat terbiasa dengan kalimat yang bilang bahwa “Saya sebenarnya ingin, hanya belum sekarang.” Padahal, kita tidak pernah benar-benar dijanjikan akan memiliki “nanti”. Al-Qur'an Mengingatkan bahwa Waktu Tidak Bisa Diulang Allah SWT berfirman: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan...”(QS. Al-'Asr: 1–3) Menariknya, Allah bersumpah dengan waktu. Bukan tanpa alasan. Waktu adalah sesuatu yang terus berkurang meskipun kita tidak merasa sedang kehilangan apa pun. Uang yang hilang masih mungkin dicari kembali. Kesempatan tertentu mungkin masih dapat datang kembali. Tetapi satu jam yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah kita memiliki niat baik. Niat yang terus-menerus tidak diwujudkan pada akhirnya hanya menjadi keinginan yang tidak pernah menghasilkan perubahan. Tidak Semua Kebaikan Harus Menunggu Kita Menjadi “Mampu” Sering kali kita membayangkan kebaikan dalam ukuran yang terlalu besar. Kita berpikir membantu berarti harus memberikan banyak. Belajar berarti harus memiliki waktu berjam-jam. Berbagi berarti harus menunggu penghasilan meningkat. Padahal kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun...”(HR. Muslim) Pesannya sederhana: jangan meremehkan sesuatu hanya karena kecil. Sebuah bantuan mungkin tidak menyelesaikan seluruh masalah seseorang, tetapi bisa membuatnya bertahan satu hari lagi. Satu jam belajar mungkin tidak langsung mengubah masa depan, tetapi bisa menjadi awal dari kemampuan yang lebih besar. Sedekah yang sederhana mungkin tidak mengubah dunia, tetapi dapat mengubah hari seseorang. Kebaikan tidak selalu membutuhkan kita untuk menjadi luar biasa. Kadang ia hanya membutuhkan kita untuk berhenti menunda. Ketika “Nanti” Berubah Menjadi Tanggung Jawab Bersama Di sinilah persoalan procrastination tidak lagi hanya menjadi masalah pribadi. Bayangkan jika seseorang yang memiliki kemampuan terus menunda menggunakan kemampuannya untuk membantu orang lain. Potensi yang seharusnya menghasilkan manfaat akhirnya tidak pernah digunakan. Karena itu, pendidikan bukan hanya tentang memberikan akses untuk belajar. Ada persoalan lain mengenai bagaimana memastikan kesempatan tersebut benar-benar dimanfaatkan. Begitu pula dalam ekonomi dan kemanusiaan. Bantuan dapat membuka peluang, tetapi keberlanjutan perubahan membutuhkan kemauan untuk bergerak. Kesempatan dapat diberikan, tetapi manusia tetap perlu mengambil langkah. Melalui berbagai program pendidikan, ekonomi, dan kemanusiaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan kepedulian orang yang ingin memberi dengan kebutuhan orang yang membutuhkan dukungan. Zakat, infak, dan sedekah kemudian tidak hanya dipahami sebagai sesuatu yang “nanti akan dilakukan ketika sudah lebih mampu”, tetapi sebagai bentuk nyata bahwa kebaikan memang perlu memiliki waktu untuk diwujudkan. Mungkin yang Kita Butuhkan Bukan Waktu yang Lebih Banyak Kita sering mengatakan, “Nanti kalau ada waktu.” Tetapi mungkin masalahnya bukan selalu kekurangan waktu. Mungkin kita terlalu sering menunggu. Menunggu kaya untuk berbagi.Menunggu tenang untuk beribadah.Menunggu siap untuk berubah.Menunggu sempurna untuk berbuat baik. Padahal hidup terus berjalan tanpa menunggu kesiapan kita. Maka hari ini mungkin layak menjadi bahan renungan tentang, berapa banyak kebaikan yang sebenarnya bisa kita lakukan, tetapi sampai sekarang belum pernah terjadi hanya karena kita terus berkata, “nanti”? Sebab bisa jadi, yang paling kita sesali suatu hari nanti bukan kebaikan yang pernah kita lakukan. Melainkan kebaikan yang sebenarnya mampu kita lakukan, tetapi tidak pernah kita mulai.
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Bisakah Teknologi Menutup Celah Ketidakpercayaan terhadap BAZNAS?
Bisakah Teknologi Menutup Celah Ketidakpercayaan terhadap BAZNAS?
Bisakah Teknologi Menutup Celah Ketidakpercayaan terhadap BAZNAS? Di era digital, masyarakat semakin terbiasa mengetahui ke mana uang mereka pergi. Ketika seseorang membayar sesuatu melalui aplikasi, mereka bisa mendapatkan notifikasi, melihat riwayat transaksi, bahkan memantau status pembayaran. Lalu, bagaimana dengan zakat yang kita titipkan kepada BAZNAS? Pertanyaan seperti “Zakat saya disalurkan ke mana?”, “Siapa yang menerima?”, dan “Apakah benar-benar sampai kepada yang membutuhkan?” adalah bentuk kekhawatiran yang wajar. Di sinilah teknologi dan transparansi BAZNAS memiliki peran penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Namun, teknologi bukan sekadar alat pembayaran. Jika dimanfaatkan dengan tepat, teknologi dapat menjadi jembatan antara muzaki, pengelola zakat, dan mustahik. Mengapa Kepercayaan Menjadi Kunci dalam Pengelolaan Zakat? Zakat merupakan ibadah yang memiliki amanah besar. Muzaki tidak hanya menyerahkan harta, tetapi juga mempercayakan penyalurannya kepada pihak yang mengelola zakat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58) Ayat tersebut mengingatkan bahwa amanah harus disampaikan kepada pihak yang berhak. Dalam konteks pengelolaan zakat, prinsip amanah menjadi salah satu fondasi utama. Transparansi Bukan Sekadar Laporan Transparansi bukan hanya tentang menampilkan angka pemasukan dan penyaluran. Masyarakat juga membutuhkan informasi yang mudah dipahami mengenai bagaimana dana zakat dikelola dan memberikan manfaat. Ketika informasi tersedia dengan jelas, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami proses pengelolaan zakat secara lebih baik. Bagaimana Teknologi Bisa Membantu Membangun Kepercayaan? Teknologi menawarkan banyak peluang untuk membuat pengelolaan zakat semakin mudah, cepat, dan transparan. Pembayaran Zakat yang Lebih Mudah Platform digital memungkinkan masyarakat menunaikan zakat tanpa harus datang langsung ke kantor. Dengan perangkat yang ada di tangan, muzaki dapat menghitung dan membayar zakat secara lebih praktis. Kemudahan ini penting, terutama bagi generasi yang terbiasa melakukan transaksi secara digital. Informasi Penyaluran yang Lebih Terbuka Teknologi juga dapat membantu lembaga zakat menyampaikan informasi mengenai program dan penyaluran secara lebih luas. Dari Angka Menjadi Cerita Masyarakat tidak hanya ingin mengetahui jumlah dana yang terkumpul. Mereka ingin melihat dampak dari zakat yang diberikan. Misalnya, bagaimana zakat membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar, mendukung pendidikan, memberikan akses kesehatan, atau membantu penerima manfaat membangun kemandirian ekonomi. Cerita dan data yang disampaikan secara bertanggung jawab dapat membuat muzaki memahami bahwa zakat bukan sekadar angka dalam laporan, tetapi memiliki dampak nyata bagi kehidupan seseorang. Teknologi Saja Tidak Cukup Meski teknologi dapat mempersempit celah ketidakpercayaan, teknologi bukanlah satu-satunya jawaban. Aplikasi yang canggih tidak akan berarti jika informasi yang diberikan tidak akurat. Sistem digital yang modern juga tidak cukup jika pengelola tidak memiliki integritas. Amanah Tetap Menjadi Fondasi Rasulullah SAW bersabda: “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Pesan tersebut menunjukkan bahwa teknologi harus berjalan bersama amanah, kejujuran, dan tanggung jawab. Saatnya Membangun Kepercayaan Lewat Kolaborasi Membangun kepercayaan terhadap BAZNAS bukan hanya tugas lembaga. Masyarakat juga memiliki peran dengan menunaikan zakat melalui saluran resmi dan mencari informasi dari sumber yang terpercaya. Zakat Digital, Manfaat Nyata Bayangkan jika semakin banyak masyarakat merasa yakin menunaikan zakat melalui lembaga resmi. Semakin besar potensi zakat yang dapat dihimpun, semakin luas pula peluang menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Zakat dapat menjadi dukungan untuk kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi. Satu pembayaran zakat mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan bersama-sama, dampaknya dapat menjadi sangat besar. Jangan Biarkan Keraguan Menghentikan Kebaikan Keraguan boleh menjadi alasan untuk bertanya dan mencari informasi. Namun, jangan sampai keraguan membuat kita menunda kewajiban zakat. Mari dorong pengelolaan zakat yang semakin transparan, amanah, profesional, dan adaptif terhadap teknologi. Pada saat yang sama, mari menjadi muzaki yang kritis sekaligus aktif mencari informasi mengenai pengelolaan zakat. Mari Tunaikan Zakat dan Hadirkan Manfaat Teknologi mungkin tidak dapat menghapus seluruh keraguan dalam sekejap. Tetapi, teknologi dapat menjadi jembatan penting untuk menghadirkan transparansi dan mendekatkan muzaki dengan dampak zakat yang mereka tunaikan. Pada akhirnya, kepercayaan dibangun bukan hanya melalui teknologi, tetapi melalui konsistensi dalam menjaga amanah. Jika zakat adalah titipan, maka transparansi adalah salah satu cara untuk menjaga kepercayaan. Jika zakat adalah ibadah, maka dampaknya harus terus diupayakan agar semakin banyak kehidupan yang terbantu. Mari tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya dan jadikan setiap rupiah yang kita keluarkan sebagai bagian dari ikhtiar menghadirkan harapan, kemandirian, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Rahasia Khusyuk dalam Shalat: Mengikat Hati Saat Menghadap Ilahi
Rahasia Khusyuk dalam Shalat: Mengikat Hati Saat Menghadap Ilahi
Shalat bukan sekadar rangkaian gerakan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Di dalamnya ada perjumpaan seorang hamba dengan Rabb-nya, tempat hati beristirahat, mengadu, memohon pertolongan, sekaligus mengingat kembali tujuan hidup. Namun, pernahkah kita berdiri di atas sajadah, tetapi pikiran justru berjalan ke mana-mana? Lisan membaca ayat, tetapi hati memikirkan pekerjaan. Tubuh sedang rukuk, tetapi pikiran sibuk dengan masalah. Dahi menyentuh tempat sujud, tetapi hati masih mengejar urusan dunia. Inilah tantangan yang sering kita hadapi dalam menjaga kekhusyukan dalam shalat. Padahal, Allah SWT telah menyebut khusyuk sebagai salah satu sifat orang-orang beriman yang memperoleh keberuntungan. Al-Qur'an mengingatkan: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2) Ayat ini menunjukkan bahwa khusyuk bukan sekadar pelengkap dalam ibadah. Khusyuk menjadi bagian penting dari kualitas seorang mukmin. Apa Itu Khusyuk dalam Shalat? Secara sederhana, khusyuk dalam shalat adalah keadaan ketika hati tunduk, tenang, sadar akan kebesaran Allah, dan benar-benar hadir ketika melaksanakan ibadah. Khusyuk bukan berarti seseorang tidak pernah mengalami pikiran yang melayang. Manusia tetap memiliki keterbatasan. Namun, orang yang berusaha khusyuk akan terus mengembalikan hatinya kepada Allah ketika pikirannya mulai terdistraksi. Para ulama menjelaskan khusyuk berkaitan erat dengan ketundukan dan ketenangan hati. Tafsir atas QS. Al-Mu'minun ayat 2 juga mengaitkan khusyuk dengan merendahkan diri dan menghadirkan hati ketika shalat. Khusyuk Bukan Hanya Tentang Gerakan Seseorang mungkin dapat berdiri dengan sempurna, rukuk dengan benar, dan melakukan sujud sesuai tuntunan. Tetapi, kualitas shalat juga berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam hati. Shalat yang khusyuk membuat seseorang sadar: “Saat ini aku sedang menghadap Allah.” Kesadaran sederhana ini dapat mengubah cara kita memandang shalat. Bukan lagi sekadar kewajiban yang harus segera diselesaikan, tetapi kebutuhan hati yang seharusnya dirindukan. Mengapa Kita Sulit Khusyuk dalam Shalat? Salah satu penyebabnya adalah hati yang terlalu penuh dengan urusan dunia. Sebelum shalat, kita memikirkan pekerjaan. Ketika takbir, muncul pesan yang belum dibalas. Saat membaca Al-Fatihah, teringat persoalan keluarga. Ketika rukuk, terbayang target pekerjaan. Saat sujud, pikiran kembali kepada urusan yang belum selesai. Hal seperti ini sangat manusiawi. Namun, bukan berarti kita harus menyerah. Khusyuk adalah sesuatu yang perlu dilatih. Jika tubuh membutuhkan latihan untuk menjadi kuat, hati juga membutuhkan latihan agar mampu tenang ketika menghadap Allah. 5 Cara Melatih Khusyuk dalam Shalat 1. Pahami Makna Bacaan Shalat Salah satu cara sederhana untuk meningkatkan kekhusyukan adalah memahami apa yang kita baca. Bayangkan ketika membaca: “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” Jangan hanya mengucapkannya dengan lisan. Sadari bahwa kita sedang memuji Rabb yang menciptakan dan memelihara seluruh kehidupan. Ketika membaca: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Resapi bahwa kita sedang menyatakan ketergantungan kepada Allah. Semakin kita memahami makna bacaan shalat, semakin mudah hati mengikuti apa yang diucapkan oleh lisan. 2. Beri Jeda Sebelum Takbir Jangan selalu terburu-buru menuju shalat. Jika memungkinkan, berhentilah sejenak sebelum mengangkat tangan dan mengucapkan Allahu Akbar. Tarik napas dengan tenang. Tinggalkan sementara urusan dunia. Kemudian tanamkan dalam hati: “Aku sedang menghadap Allah.” Jeda beberapa detik sebelum shalat dapat membantu pikiran beralih dari aktivitas sehari-hari menuju ibadah. 3. Ingat Bahwa Allah Melihat Kita Salah satu prinsip penting dalam meningkatkan kualitas ibadah adalah menghadirkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita. Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan makna ihsan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim) Kesadaran inilah yang dapat membuat shalat terasa lebih hidup. Ketika kita sadar bahwa Allah mengetahui setiap gerakan, ucapan, bahkan isi hati, kita akan lebih berhati-hati dalam menjalankan shalat. 4. Jangan Terburu-buru dalam Shalat Khusyuk membutuhkan ketenangan. Rukuk bukan sekadar membungkukkan tubuh. Sujud bukan sekadar menempelkan dahi ke tempat sujud. Berikan waktu bagi hati untuk mengikuti setiap gerakan. Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya menyempurnakan shalat dan khusyuk di dalamnya. Dalam riwayat Muslim, beliau mengingatkan agar shalat dilakukan dengan baik dan benar. Karena itu, jangan menjadikan shalat sebagai perlombaan untuk selesai lebih cepat. Bukankah kita sedang menghadap Dzat yang paling kita butuhkan? 5. Kembali kepada Allah Saat Pikiran Teralihkan Jangan merasa gagal hanya karena pikiran sempat melayang. Ketika sadar bahwa pikiran sedang memikirkan hal lain, kembalikan perlahan kepada bacaan dan gerakan shalat. Kembali lagi. Dan kembali lagi. Itulah latihan. Khusyuk bukan tentang tidak pernah kehilangan fokus, tetapi tentang kesediaan hati untuk terus kembali kepada Allah. Shalat yang Khusyuk Mengubah Kehidupan Kualitas shalat tidak berhenti ketika salam diucapkan. Shalat yang dilakukan dengan kesadaran dapat membentuk karakter seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45) Artinya, shalat seharusnya memberikan pengaruh terhadap perilaku kita. Jika setelah shalat kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih lembut, lebih mudah memaafkan, dan lebih peduli kepada sesama, maka shalat tersebut mulai meninggalkan jejak dalam kehidupan. Dari Khusyuk Menuju Kepedulian Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya menyebut shalat ketika menggambarkan ciri orang beriman. Dalam rangkaian ayat Al-Mu'minun, setelah menyebut orang-orang yang khusyuk dalam shalat, Allah juga menyebut mereka yang berpaling dari perkara sia-sia dan menunaikan zakat. Ini menjadi pengingat bahwa ibadah kepada Allah seharusnya melahirkan kepedulian sosial. Hati yang dekat dengan Allah semestinya semakin peka melihat kesulitan orang lain. Jangan Hanya Memperbaiki Shalat, Perbaiki Juga Kepedulian Ada saudara kita yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada keluarga yang harus memilih antara membeli kebutuhan pokok atau membayar biaya pendidikan anak. Ada orang yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada pula masyarakat yang membutuhkan dukungan agar dapat bangkit dan memiliki kehidupan yang lebih mandiri. Di sinilah ibadah kita dapat menemukan makna sosialnya. Shalat mengikat hati kita kepada Allah. Zakat, infak, dan sedekah menggerakkan hati kita untuk peduli kepada sesama. Ketika kita menunaikan sebagian rezeki melalui lembaga zakat yang terpercaya, kebaikan tersebut dapat menjadi jalan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Sedekah: Bukti Bahwa Hati Tidak Hanya Dekat kepada Allah, tetapi Juga Peduli kepada Sesama Kita sering meminta kepada Allah agar rezeki dilapangkan. Kita memohon keluarga diberi kesehatan. Kita berdoa agar segala urusan dimudahkan. Lalu ketika Allah memberikan sebagian dari apa yang kita miliki, jangan lupa berbagi. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak. Karena terkadang, kebaikan yang terlihat kecil bagi kita bisa menjadi sangat berarti bagi orang lain. Mari jadikan kekhusyukan dalam shalat sebagai awal untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperluas kepedulian kepada sesama. Saatnya Mengubah Doa Menjadi Aksi Setiap hari kita memohon: “Ya Allah, berikanlah kami rezeki.” Ketika rezeki itu datang, salah satu bentuk syukur adalah berbagi. Jika hari ini Allah memberikan kelapangan kepada kita, mari sisihkan sebagian untuk zakat, infak, dan sedekah. Bukan karena kita memiliki terlalu banyak. Tetapi karena kita percaya bahwa setiap kebaikan yang diberikan karena Allah tidak akan pernah sia-sia.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Mengapa Keberhasilan Orang Lain Kadang Terasa Seperti Kegagalan Kita?
Mengapa Keberhasilan Orang Lain Kadang Terasa Seperti Kegagalan Kita?
Mengapa Keberhasilan Orang Lain Kadang Terasa Seperti Kegagalan Kita? Pernahkah kita melihat seseorang mendapatkan sesuatu yang sudah lama kita inginkan, lalu bukannya ikut bahagia, hati justru terasa tidak nyaman? Teman lulus lebih dulu.Orang lain mendapat pekerjaan yang kita inginkan.Seseorang membeli rumah.Teman mendapatkan penghargaan.Orang yang dulu berjalan bersama kita kini tampak jauh lebih maju. Tidak ada yang salah dengan keberhasilan mereka. Bahkan mungkin kita ikut mengucapkan selamat. Namun di dalam hati muncul pertanyaan yang sulit diakui tentang perasaan, “Kenapa bukan saya?” Pertanyaan sederhana itu menunjukkan bahwa terkadang keberhasilan orang lain tidak hanya kita lihat sebagai keberhasilan mereka. Tanpa sadar, kita menjadikannya sebagai cermin untuk menilai diri sendiri. Ketika Hidup Orang Lain Menjadi Alat Ukur Diri Manusia memang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita ingin mengetahui apakah kita sudah cukup berhasil, cukup pintar, cukup menarik, atau cukup maju. Masalahnya, perbandingan tersebut sering kali tidak adil. Kita membandingkan proses hidup kita dengan hasil hidup orang lain. Kita melihat teman mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak melihat berapa banyak penolakan yang ia alami sebelumnya. Kita melihat seseorang berhasil membangun usaha, tetapi tidak melihat tahun-tahun ketika usahanya belum menghasilkan. Kita melihat seseorang wisuda tepat waktu, tetapi tidak mengetahui perjuangan yang tidak pernah ia ceritakan. Akhirnya, pencapaian orang lain yang seharusnya menjadi kabar baik berubah menjadi bukti bahwa kita merasa tertinggal. Padahal, keberhasilan seseorang tidak otomatis mengurangi jatah keberhasilan kita. Dari Membandingkan, Perlahan Menjadi Iri Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Melihat orang lain berhasil dapat menjadi inspirasi untuk belajar dan berkembang. Namun, perbandingan dapat berubah menjadi iri ketika kebahagiaan orang lain mulai terasa mengganggu kebahagiaan kita sendiri. Kita tidak lagi berpikir tentang “Apa yang bisa saya pelajari dari keberhasilannya?”. Tetapi berubah menjadi, “Mengapa dia bisa mendapatkannya, sedangkan saya tidak?” Inilah bagian yang perlu kita waspadai. Iri tidak selalu muncul dalam bentuk kebencian terang-terangan. Kadang ia hadir sangat halus seperti sulit benar-benar bahagia ketika orang lain berhasil, merasa puas ketika orang lain gagal, atau diam-diam berharap pencapaian seseorang tidak terlalu jauh melampaui kita. Karena itu, masalahnya bukan hanya apa yang kita lakukan kepada orang lain, tetapi juga apa yang terjadi di dalam diri kita ketika melihat mereka berhasil. Al-Qur'an Mengajarkan Kita untuk Berhati-hati terhadap Perbandingan Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”(QS. An-Nisa: 32) Ayat ini menarik karena Allah tidak sekadar mengatakan bahwa setiap manusia harus memiliki hasil yang sama. Justru Allah mengakui bahwa manusia memiliki karunia dan bagian yang berbeda. Ada yang diberi kelebihan dalam ilmu. Ada yang diberi kemampuan ekonomi. Ada yang memiliki kesempatan yang tidak dimiliki orang lain. Ada yang diuji dengan sesuatu yang berbeda. Maka persoalannya bukan bagaimana membuat hidup semua orang menjadi sama. Persoalannya adalah bagaimana kita merespons ketidaksamaan tersebut tanpa membiarkan hati kehilangan rasa syukur. Tidak Semua Orang Harus Sampai di Tempat yang Sama Pendidikan sering kali tanpa sadar mengajarkan kita untuk melihat kehidupan sebagai perlombaan. Siapa yang nilainya paling tinggi?Siapa yang lulus paling cepat?Siapa yang mendapatkan pekerjaan lebih dulu? Padahal pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu bersaing, tetapi juga manusia yang mampu menghargai proses dan potensi orang lain. Sebab jika seluruh kehidupan hanya dipahami sebagai perlombaan, maka keberhasilan seseorang akan selalu terasa seperti ancaman bagi orang lain. Di sinilah kita perlu mengubah pertanyaan. Bukan mengenai “Mengapa saya tidak seperti dia?”, tetapi lebih pada “Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanan dia tanpa kehilangan penghargaan terhadap perjalanan saya sendiri?” Perubahan pertanyaan tersebut terlihat kecil, tetapi dapat mengubah cara kita memandang keberhasilan. Ketika Keberhasilan Orang Lain Bisa Menjadi Kebaikan untuk Kita Ada satu hal yang sering terlupakan yaitu keberhasilan orang lain sebenarnya dapat menjadi sumber manfaat bagi banyak orang. Seseorang yang berhasil dalam pendidikan dapat menggunakan ilmunya untuk mengajar. Seseorang yang berhasil dalam ekonomi dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Seseorang yang memiliki kemampuan dapat membantu mereka yang belum memiliki kesempatan. Artinya, keberhasilan tidak harus berhenti sebagai pencapaian pribadi. Dalam perspektif Islam, kelebihan yang dimiliki seseorang juga dapat menjadi amanah. Di sinilah program pendidikan dan keagamaan BAZNAS dapat dilihat dari sudut yang lebih luas. Dukungan terhadap pendidikan bukan hanya tentang membuat seseorang memperoleh ijazah atau mencapai prestasi, tetapi membuka kemungkinan agar ilmu yang diperoleh suatu hari dapat kembali memberikan manfaat kepada masyarakat. Begitu pula zakat, infak, dan sedekah. Ia mengajarkan bahwa apa yang Allah titipkan kepada kita tidak harus berhenti pada diri sendiri. Mungkin yang Perlu Kita Lawan Bukan Keberhasilan Orang Lain Kita tidak perlu mengecilkan pencapaian orang lain agar merasa cukup dengan diri sendiri. Kita juga tidak perlu memaksa hidup kita memiliki kecepatan yang sama dengan orang lain. Yang perlu kita lawan adalah suara dalam diri yang mengatakan bahwa ketika orang lain maju, berarti kita sedang kalah. Padahal hidup bukan papan peringkat. Ada orang yang sampai lebih dulu. Ada yang berjalan lebih lambat. Ada yang mengambil jalan berbeda sama sekali. Dan mungkin kedewasaan bukan ketika kita tidak pernah merasa iri. Melainkan ketika kita mampu menyadari rasa itu, mengoreksinya, kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik dengan melatih pola pikir bahwa keberhasilan orang lain tidak harus menjadi alasan untuk membenci mereka. Ia bisa menjadi pengingat bahwa setiap manusia memiliki jalan, kesempatan, dan amanahnya masing-masing. Sebab pada akhirnya, yang perlu kita tanyakan bukan “seberapa jauh saya dibandingkan dengan orang lain?”, melainkan “dengan apa yang Allah berikan kepada saya, sudah sejauh mana saya menjadi manusia yang bermanfaat?”
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Cepat Menghukum daripada Memahami?
Mengapa Kita Lebih Cepat Menghukum daripada Memahami?
Mengapa Kita Lebih Cepat Menghukum daripada Memahami? Hari ini, seseorang bisa kehilangan penilaian publik hanya dalam hitungan menit. Satu potongan video beredar. Satu kalimat dipisahkan dari konteksnya. Sebuah kesalahan ditemukan. Setelah itu, orang-orang mulai memberikan kesimpulan. “Dia memang seperti itu.” “Orang seperti dia pantas dihukum.” “Jangan beri kesempatan lagi.” Kita mungkin tidak mengenal orang tersebut. Tidak mengetahui cerita lengkapnya. Bahkan tidak selalu tahu apakah informasi yang kita terima benar. Namun kita sudah merasa cukup yakin untuk menghakimi. Di sinilah ada sesuatu yang perlu kita renungkan tentang mengapa memberikan penilaian terasa jauh lebih mudah daripada berusaha memahami? Kita Sering Melihat Kesalahan, Bukan Manusia di Baliknya Ketika seseorang melakukan kesalahan, perhatian kita sering langsung tertuju pada kesalahannya. Ia berbohong, lalu kita menyebutnya pembohong. Ia gagal menjalankan tanggung jawab, lalu kita menganggapnya tidak bertanggung jawab. Ia melakukan satu tindakan buruk, lalu seluruh dirinya seolah-olah menjadi buruk. Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada satu kesalahan. Seseorang dapat melakukan kesalahan tanpa seluruh hidupnya dapat diringkas oleh kesalahan tersebut. Persoalannya, otak manusia menyukai kesimpulan yang sederhana. Memberi label membuat kita tidak perlu berpikir terlalu panjang. Lebih mudah mengatakan “dia orang jahat” daripada bertanya hal seperti apa yang sebenarnya terjadi?, mengapa ia melakukan itu?, apakah ia menyadari kesalahannya?, dan apakah ia masih mungkin berubah? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan sesuatu yang lebih mahal daripada kemarahan yakni kesediaan untuk memahami. Ketika Kemarahan Menjadi Lebih Cepat daripada Empati Kemunculan media sosial membuat persoalan ini semakin rumit. Kita dapat bereaksi sebelum memahami. Membagikan sebelum memeriksa. Mengomentari sebelum mengetahui konteks. Kemarahan bahkan dapat terasa seperti sebuah bentuk keberanian moral. Kita merasa sedang membela kebenaran ketika mengecam seseorang. Tentu, kesalahan tetap perlu dikritik. Perbuatan yang merugikan orang lain tidak boleh dibenarkan hanya atas nama empati. Tetapi ada perbedaan besar antara mengoreksi kesalahan dan menghancurkan seseorang karena kesalahannya. Keadilan membutuhkan ketegasan. Tetapi kemanusiaan mengingatkan kita bahwa orang yang melakukan kesalahan tetaplah manusia. Al-Qur'an Mengajarkan Kita untuk Tidak Terburu-buru Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya...”(QS. Al-Hujurat: 6) Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan hari ini. Islam tidak mengajarkan kita untuk menerima setiap informasi hanya karena informasi tersebut sesuai dengan emosi kita. Periksa terlebih dahulu. Karena satu informasi yang tidak diperiksa dapat melahirkan satu penilaian. Satu penilaian dapat berubah menjadi tuduhan. Dan tuduhan dapat melukai seseorang yang mungkin bahkan tidak pernah kita kenal. Al-Qur'an juga mengingatkan: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain...”(QS. Al-Hujurat: 11) Artinya, menjaga kehormatan manusia bukan perkara kecil dalam Islam. Menahan Marah Bukan Berarti Membiarkan Kesalahan Ada anggapan bahwa memaafkan berarti lemah. Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan kekuatan yang berbeda. Beliau bersabda: “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Perhatikan: yang disebut kuat bukan orang yang paling keras membalas. Tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika memiliki alasan untuk marah. Ini penting karena kemarahan sering membuat kita merasa sedang memegang kendali, padahal justru sebaliknya. Ketika marah, kita dapat mengatakan sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali. Menyebarkan sesuatu yang tidak dapat dihapus sepenuhnya. Atau menghukum seseorang dengan kata-kata yang mungkin jauh lebih lama membekas daripada kesalahan yang ia lakukan. Menahan diri bukan berarti kehilangan keberanian untuk menegakkan kebenaran. Menahan diri berarti memastikan bahwa keberanian kita tidak berubah menjadi kezaliman. Kemanusiaan Tidak Berhenti pada Memberikan Bantuan Ketika berbicara tentang kemanusiaan, kita sering langsung membayangkan bantuan makanan, bantuan kesehatan, pendidikan, atau bantuan bagi korban bencana. Semua itu penting. Tetapi kemanusiaan memiliki bentuk yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari yaitu tentang bagaimana kita memperlakukan manusia ketika mereka sedang salah. Apakah kita masih mampu melihat manusia di balik kesalahannya? Apakah kita memberikan ruang untuk memperbaiki diri? Apakah kita mampu membedakan antara menghentikan perbuatan yang salah dengan membenci orang yang melakukannya? Nilai-nilai ini sejalan dengan semangat program kemanusiaan dan keagamaan BAZNAS. Kepedulian kepada sesama bukan hanya persoalan memberi sesuatu kepada mereka yang membutuhkan, tetapi juga membangun cara pandang yang membuat manusia tetap diperlakukan dengan martabat. Zakat, infak, dan sedekah pun pada akhirnya lahir dari kesadaran bahwa orang lain bukan sekadar angka, penerima bantuan, atau objek belas kasihan. Mereka adalah manusia yang memiliki kehormatan. Sebelum Menghakimi, Beri Diri Kita Satu Pertanyaan Kita mungkin tidak bisa mengubah cara seluruh dunia bereaksi. Tetapi kita dapat mengubah satu hal tentang cara kita sendiri memperlakukan kesalahan orang lain. Lain kali ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, mungkin kita tidak harus langsung bertanya tentang “hukuman apa yang pantas dia terima?”. Cobalah bertanya dalam hal “apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang bisa saya lakukan agar keadaan menjadi lebih baik?” Sebab tidak setiap kesalahan membutuhkan kebencian. Tidak setiap perbedaan membutuhkan permusuhan. Dan tidak setiap orang yang pernah jatuh harus selamanya dipandang sebagai orang yang gagal. Mungkin menjadi manusia yang lebih baik bukan berarti kita tidak pernah marah, tetapi kita belajar memastikan bahwa kemarahan tidak mengambil alih kemanusiaan kita. Di dunia yang semakin cepat memberikan penilaian, barangkali kemampuan untuk berhenti, memeriksa, memahami, lalu bertindak dengan adil adalah salah satu bentuk kebaikan yang semakin mahal.
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pahala Bersedekah: Kebaikan Kecil yang Bisa Menjadi Bekal Besar di Akhirat
Pahala Bersedekah: Kebaikan Kecil yang Bisa Menjadi Bekal Besar di Akhirat
Pahala Bersedekah: Kebaikan Kecil yang Bisa Menjadi Bekal Besar di Akhirat Pernahkah kita berpikir bahwa uang yang kita keluarkan untuk bersedekah sebenarnya bukan sekadar berkurang, tetapi sedang “ditanam” untuk kehidupan yang lebih panjang—kehidupan akhirat? Sering kali seseorang menunda bersedekah karena merasa belum memiliki banyak harta. “Nanti kalau sudah cukup,” pikirnya. Padahal, sedekah tidak selalu tentang nominal besar. Memberikan sebagian rezeki, membantu seseorang yang membutuhkan, menyediakan makanan, atau memberikan sesuatu dengan ikhlas bisa menjadi amal yang bernilai di sisi Allah SWT. Pahala bersedekah adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Sebab, kebaikan yang terlihat kecil di mata manusia dapat memiliki balasan yang besar di sisi-Nya. Bahkan, Al-Qur'an menggambarkan infak di jalan Allah seperti benih yang tumbuh dan menghasilkan berlipat-lipat. Pahala Bersedekah dalam Islam Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Selain menjadi bentuk kepedulian kepada sesama, sedekah juga merupakan bukti bahwa seorang Muslim menyadari bahwa sebagian rezeki yang dimilikinya adalah amanah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 261: Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Ayat ini menggambarkan betapa besar potensi pahala dari harta yang dikeluarkan di jalan Allah. Satu kebaikan dapat berkembang menjadi begitu banyak kebaikan lainnya. Kebaikan Kecil, Balasan yang Besar Kita mungkin hanya memberikan Rp10.000. Bagi kita, nominal tersebut mungkin terasa sederhana. Namun, jika uang itu digunakan untuk membeli makanan bagi seseorang yang sedang lapar, membantu pendidikan seorang anak, mendukung pengobatan orang yang membutuhkan, atau memenuhi kebutuhan keluarga dhuafa, nilainya bisa jauh lebih besar daripada nominalnya. Allah tidak hanya melihat jumlah yang diberikan. Keikhlasan, sumber harta, dan tujuan dari sedekah juga menjadi bagian penting dari amal tersebut. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa sedekah kita terlalu kecil untuk berarti. Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang Salah satu kekhawatiran yang sering muncul ketika seseorang ingin bersedekah adalah takut hartanya berkurang. Padahal, Rasulullah SAW justru mengajarkan sebaliknya. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim No. 2588). Hadis ini mengajarkan bahwa sedekah bukanlah kerugian. Apa yang keluar dari tangan seorang mukmin karena Allah tidak berarti hilang begitu saja. Bisa jadi nominalnya berkurang secara kasat mata, tetapi keberkahannya justru bertambah. Bisa jadi kita tidak melihat balasannya hari ini, tetapi Allah menyimpannya sebagai pahala yang akan kita butuhkan kelak. Mengapa Sedekah Bisa Menjadi Bekal Besar di Akhirat? Dunia memiliki batas. Harta, kendaraan, rumah, jabatan, dan berbagai kenikmatan yang kita miliki suatu hari akan kita tinggalkan. Namun, amal kebaikan akan menjadi bagian dari perjalanan kita menuju akhirat. Sedekah Melatih Keikhlasan Sedekah mengajarkan kita untuk memberikan sesuatu yang sebenarnya kita sayangi tanpa selalu mengharapkan pujian manusia. Inilah salah satu nilai penting dalam bersedekah. Jangan sampai kebaikan berubah menjadi ajang untuk mendapatkan pengakuan. Allah SWT mengingatkan agar sedekah tidak dirusak dengan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerimanya. Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi kepada orang miskin memiliki keutamaan. Bukan Seberapa Besar, Tetapi Seberapa Ikhlas Kita tidak harus menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Mulailah dari apa yang kita mampu. Rp5.000, Rp10.000, Rp50.000, atau nominal lainnya mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika diberikan dengan ikhlas dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan, kebaikan tersebut dapat menjadi bagian dari amal yang terus kita harapkan pahalanya. Sedekah Bisa Mengubah Kehidupan Seseorang Ada kalanya kita menganggap sedekah hanya sebagai aktivitas memberikan uang. Padahal, sedekah dapat menjadi jalan lahirnya sebuah perubahan. Bayangkan ketika sedekah membantu seorang anak mendapatkan perlengkapan sekolah. Bayangkan ketika donasi membantu seseorang mendapatkan layanan kesehatan. Bayangkan ketika bantuan modal membuat seorang ibu kembali berjualan dan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Bayangkan ketika makanan yang kita sedekahkan menjadi tenaga bagi seseorang untuk menjalani hari. Di situlah sedekah memiliki makna yang lebih luas. Kita tidak hanya memberikan uang. Kita sedang memberikan kesempatan. Dari Sedekah Menjadi Harapan Satu bantuan mungkin tidak langsung mengubah dunia. Tetapi bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, bantuan tersebut bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti. Inilah alasan mengapa bersedekah melalui lembaga yang amanah menjadi salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan. Dana yang terkumpul dapat dihimpun dan disalurkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih banyak penerima. Sedekah yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan antara orang yang memiliki kemampuan untuk berbagi dengan mereka yang sedang membutuhkan pertolongan. Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah Salah satu jebakan yang sering membuat seseorang menunda sedekah adalah menunggu memiliki rezeki lebih. “Kalau penghasilan saya sudah besar, saya akan lebih banyak bersedekah.” Padahal, belum tentu kesempatan itu datang. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, selama masih memiliki kesempatan, lakukan kebaikan sesuai kemampuan. Allah SWT berfirman: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan...” (QS. Al-Baqarah: 267). Ayat tersebut mengajarkan bahwa sedekah hendaknya diberikan dari sesuatu yang baik, bukan sesuatu yang memang sudah tidak kita inginkan. Karena jika kita sendiri tidak mau menerimanya, mengapa memberikannya kepada orang lain? Cara Memulai Kebiasaan Bersedekah Tidak perlu membuat target yang terlalu berat. Yang terpenting adalah konsisten. 1. Sisihkan Sedekah dari Penghasilan Setiap menerima penghasilan, sisihkan sebagian untuk sedekah. Nominalnya dapat disesuaikan dengan kemampuan. 2. Sedekah Secara Rutin Daripada hanya bersedekah ketika memiliki uang lebih, lebih baik membangun kebiasaan rutin. Sedikit tetapi konsisten dapat membantu membentuk karakter gemar berbagi. 3. Pilih Penyaluran yang Amanah Pastikan sedekah diberikan kepada pihak atau lembaga yang jelas dan dapat dipercaya. Dengan begitu, kita dapat lebih yakin bahwa bantuan tersebut sampai kepada orang yang membutuhkan. 4. Luruskan Niat Sebelum memberi, tanyakan kepada diri sendiri: “Untuk siapa saya bersedekah?” Jika jawabannya adalah karena Allah SWT, maka jagalah niat tersebut setelah sedekah diberikan. Jangan Biarkan Kesempatan Kebaikan Berlalu Ada orang yang hari ini membutuhkan bantuan, tetapi mungkin besok sudah tidak membutuhkan. Ada kesempatan yang hari ini terbuka, tetapi belum tentu datang kembali. Karena itu, ketika Allah memberikan kita kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menundanya. Sedekah bukan hanya tentang apa yang kita berikan kepada orang lain. Sedekah juga tentang bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kehidupan yang kekal. Harta yang kita simpan akan kita tinggalkan. Tetapi kebaikan yang kita ikhlaskan karena Allah adalah amal yang kita harapkan menjadi bekal di akhirat. Mari Jadikan Sedekah sebagai Kebiasaan Jika hari ini ada rezeki yang bisa dibagikan, mari sisihkan sebagian. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu memiliki banyak. Mulailah dari yang kita punya, mulai dari yang kita mampu, dan mulai hari ini. Sebab bisa jadi, sedekah yang menurut kita kecil justru menjadi salah satu amal yang sangat kita butuhkan ketika menghadap Allah SWT. Sedekah Hari Ini, Harapan untuk Masa Depan Mari salurkan sebagian rezeki untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan melalui program sosial yang amanah. Setiap rupiah yang diberikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan manfaat—membantu kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, maupun berbagai kebutuhan kemanusiaan. Jangan biarkan rezeki hanya berhenti di tangan kita. Jadikan sebagian darinya sebagai jalan hadirnya kebahagiaan untuk orang lain. Karena mungkin bagi kita, sedekah hanya sejumlah uang. Tetapi bagi mereka, sedekah bisa berarti makanan untuk hari ini, biaya pengobatan, kesempatan belajar, modal untuk bangkit, atau harapan untuk kembali menjalani kehidupan.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
7 Alasan Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Anak Pintar, tetapi Membentuk Manusia yang Berkarakter
7 Alasan Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Anak Pintar, tetapi Membentuk Manusia yang Berkarakter
7 Alasan Pendidikan Bukan Sekadar Membuat Anak Pintar, tetapi Membentuk Manusia yang Berkarakter Pendidikan sering kali diukur dari nilai ujian, prestasi akademik, atau kemampuan seorang anak memahami pelajaran. Padahal, pendidikan memiliki makna yang jauh lebih besar. Anak yang pintar belum tentu memiliki kepedulian, kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak yang baik. Pendidikan yang sesungguhnya adalah proses membentuk manusia agar mampu menggunakan ilmu untuk kebaikan. Karena itu, memberikan akses pendidikan kepada anak-anak yang membutuhkan bukan sekadar membantu mereka belajar, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Mengapa Pendidikan Sangat Penting bagi Masa Depan Anak? Allah SWT memberikan kedudukan istimewa kepada orang-orang yang berilmu. “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11) Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam kehidupan. Namun, ilmu akan semakin bermakna ketika digunakan dengan akhlak dan tanggung jawab. Pendidikan Membuka Jalan Kesempatan Tidak semua anak lahir dalam kondisi yang sama. Ada anak yang memiliki fasilitas belajar lengkap, sementara yang lain harus berbagi buku, belajar dengan keterbatasan, atau bahkan terancam putus sekolah karena kondisi ekonomi keluarga. Di sinilah kepedulian kita dibutuhkan. Dukungan pendidikan dapat menjadi jembatan bagi anak-anak untuk mengejar cita-cita dan keluar dari keterbatasan. 7 Alasan Pendidikan Membentuk Karakter Anak 1. Mengajarkan Tanggung Jawab Pendidikan membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Mereka belajar menyelesaikan tugas, menghargai waktu, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat. 2. Menumbuhkan Kejujuran Sekolah dan lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang untuk membiasakan anak bersikap jujur. Nilai akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kejujuran adalah bekal yang akan dibawa anak sepanjang kehidupannya. 3. Membentuk Kepedulian terhadap Sesama Pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi sukses secara pribadi. Anak juga perlu memahami pentingnya membantu, menghargai, dan menghormati orang lain. 4. Melatih Anak Menghadapi Kesulitan Kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Pendidikan mengajarkan anak untuk menghadapi kegagalan, mencari solusi, dan terus mencoba. Bukan Sekadar Pintar, tetapi Tangguh Anak yang memiliki karakter kuat akan memahami bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Mereka belajar bangkit dan menjadikan pengalaman sebagai pelajaran. 5. Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Akses terhadap pendidikan dapat membuat anak memiliki kesempatan mengembangkan potensi. Ketika mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan, kepercayaan diri pun dapat tumbuh. 6. Membantu Anak Mengenal Nilai Kebaikan Ilmu seharusnya berjalan bersama akhlak. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi) Hadis ini mengingatkan bahwa akhlak memiliki kedudukan yang sangat penting. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar kecerdasan, tetapi juga membangun karakter. 7. Mempersiapkan Generasi yang Bermanfaat Anak-anak hari ini adalah bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan masyarakat. Ketika mereka mendapatkan pendidikan yang layak sekaligus pembinaan karakter, peluang untuk tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat akan semakin besar. Saatnya Kita Ikut Membuka Jalan Pendidikan Masih ada anak-anak yang memiliki mimpi besar tetapi harus berhadapan dengan keterbatasan ekonomi. Mereka ingin belajar, tetapi kebutuhan sekolah menjadi beban bagi keluarga. Sedekah Pendidikan Bisa Menjadi Investasi Kebaikan Bantuan yang kita berikan dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan, menyediakan perlengkapan belajar, mendukung biaya sekolah, hingga menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik. Mungkin bagi kita sebuah bantuan pendidikan terlihat sederhana. Namun bagi seorang anak, bantuan tersebut bisa menjadi alasan untuk terus bersekolah dan mengejar cita-citanya. Mari Hadirkan Harapan untuk Generasi Masa Depan Jangan biarkan keterbatasan ekonomi menghentikan langkah anak-anak menuju masa depan. Mari sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah untuk mendukung pendidikan mereka melalui lembaga yang amanah dan terpercaya. Karena ketika kita membantu seorang anak mendapatkan pendidikan, kita tidak hanya membantu mencetak anak yang pintar, tetapi turut membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, bertanggung jawab, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama. Satu dukungan hari ini bisa menjadi awal lahirnya generasi berkarakter di masa depan. Mari bersama membuka jalan pendidikan dan menyalakan harapan mereka.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Berbagi Bukan Karena Berlebih, Tapi Karena Kita Peduli
Berbagi Bukan Karena Berlebih, Tapi Karena Kita Peduli
Ada kalanya kita berpikir, “Nanti saja bersedekah kalau sudah punya banyak.” Kita menunggu rezeki lebih besar, penghasilan meningkat, kebutuhan selesai, atau tabungan terasa aman. Padahal, berbagi tidak selalu menunggu kita berada dalam kondisi serba cukup. Berbagi bukan karena kita berlebih, tetapi karena kita peduli. Sebab, di sekitar kita selalu ada orang yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan hariannya. Ada keluarga yang harus memilih antara membayar kebutuhan sekolah atau membeli bahan makanan. Ada anak yang ingin belajar dengan layak. Ada lansia yang membutuhkan bantuan. Ada saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan dan hanya membutuhkan sedikit uluran tangan agar mampu kembali berdiri. Di situlah makna sedekah menjadi begitu indah. Sedekah bukan sekadar memberikan sebagian harta. Lebih dari itu, sedekah adalah bentuk kepedulian yang menghubungkan hati kita dengan mereka yang membutuhkan. Mengapa Kita Sering Menunggu Berlebih untuk Berbagi? Salah satu alasan seseorang menunda bersedekah adalah karena merasa belum memiliki cukup. “Penghasilan saya masih pas-pasan.” “Masih banyak kebutuhan keluarga.” “Nanti kalau sudah sukses, saya akan banyak membantu.” Pikiran seperti ini sangat manusiawi. Kita tentu memiliki kebutuhan dan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Namun, jangan sampai keinginan untuk menunggu kaya membuat kita lupa bahwa kebaikan tidak harus dimulai dari jumlah yang besar. Sedekah bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa tulus kita ingin berbagi. Bahkan sesuatu yang sederhana bisa memiliki arti besar bagi orang lain. Sebungkus makanan mungkin terlihat biasa bagi kita, tetapi bisa menjadi hidangan yang sangat berarti bagi seseorang yang sedang lapar. Sebagian rezeki yang kita keluarkan mungkin terasa kecil, tetapi bagi penerimanya bisa menjadi jalan untuk melewati hari yang berat. Sedekah Tidak Harus Menunggu Kaya Islam mengajarkan umatnya untuk gemar berinfak dan berbagi sesuai kemampuan. Allah SWT berfirman: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka kebaikannya untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahala secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Baqarah: 272) Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebaikan yang kita keluarkan pada akhirnya kembali menjadi kebaikan bagi diri kita sendiri. Sedekah Kecil Bisa Menghasilkan Dampak Besar Kita sering mengukur sedekah dari nominalnya. Padahal, Allah tidak hanya melihat angka. Ada keikhlasan, niat, perjuangan, dan manfaat yang menyertainya. Allah SWT menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Bayangkan sebuah biji kecil yang ketika ditanam dapat tumbuh dan menghasilkan banyak biji. Begitulah gambaran sedekah. Apa yang kita keluarkan mungkin terlihat kecil hari ini. Namun, di sisi Allah, kebaikan tersebut dapat memiliki balasan yang jauh lebih besar. Jangan Meremehkan Kebaikan yang Kecil Jangan pernah berkata, “Sedekah saya cuma sedikit.” Justru biasakan diri untuk berkata, “Saya mungkin belum mampu memberi banyak, tetapi saya tetap ingin berbuat baik.” Karena kepedulian tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Senyuman bisa menjadi kebaikan. Memberikan makanan bisa menjadi kebaikan. Membantu seseorang yang kesulitan bisa menjadi kebaikan. Memberikan sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan juga merupakan bentuk kepedulian yang luar biasa. Yang terpenting adalah jangan membiarkan kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja. Berbagi Adalah Cara Mengingat Bahwa Rezeki Kita Bukan Hanya untuk Kita Ketika rezeki bertambah, terkadang perhatian kita justru semakin banyak tertuju pada diri sendiri. Kita membeli sesuatu yang selama ini diinginkan. Meng-upgrade kebutuhan. Menambah tabungan. Mempersiapkan masa depan. Semua itu tidak salah. Namun, jangan lupa bahwa dalam setiap rezeki yang Allah titipkan, ada kesempatan untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Allah SWT berfirman: “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh Allah Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 92) Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat dalam: berbagi bukan hanya ketika kita memiliki sesuatu yang tidak kita sukai atau tidak kita butuhkan. Ada nilai besar ketika seseorang belajar memberikan sesuatu yang sebenarnya masih ia sukai. Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang Secara hitungan manusia, ketika kita memberikan uang kepada orang lain, jumlah uang yang tersimpan di dompet atau rekening memang berkurang. Namun, Islam mengajarkan kepada kita bahwa sedekah bukanlah sebuah kerugian. Justru, sedekah merupakan salah satu bentuk investasi kebaikan yang nilainya tidak hanya dihitung dengan angka. Apa yang kita keluarkan dengan ikhlas mungkin berkurang secara kasat mata, tetapi Allah menjanjikan keberkahan dan pahala bagi orang-orang yang gemar berbagi. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim No. 2588) Hadis ini menjadi pengingat penting bagi kita agar tidak melihat sedekah hanya dengan kalkulator dunia. Jangan sampai kita berpikir bahwa memberikan sebagian harta berarti membuat hidup semakin kekurangan. Sebab, rezeki tidak hanya berbentuk nominal yang terlihat. Rezeki juga dapat hadir dalam bentuk kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, kemudahan dalam pekerjaan, hubungan baik dengan orang lain, kesempatan mendapatkan solusi ketika menghadapi masalah, hingga keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang, kita memiliki banyak uang tetapi hati tidak tenang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana tetapi mampu tersenyum, bersyukur, dan merasa cukup karena hidupnya dipenuhi keberkahan. Di situlah kita belajar bahwa banyaknya harta belum tentu menjadi ukuran kebahagiaan, sementara keberkahan dapat membuat sesuatu yang sedikit terasa mencukupi. Sedekah Bukan Sekadar Mengeluarkan Harta Sedekah sering kali dipahami hanya sebagai memberikan uang kepada orang yang membutuhkan. Padahal, makna sedekah jauh lebih luas. Ketika kita memberikan makanan kepada seseorang yang lapar, itu sedekah. Ketika kita membantu seseorang yang kesulitan, itu sedekah. Ketika kita memberikan sebagian rezeki untuk program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, atau kebutuhan masyarakat, itu juga merupakan bentuk kepedulian. Bahkan kebaikan sederhana yang dilakukan dengan tulus pun memiliki nilai. Karena pada dasarnya, sedekah mengajarkan kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri. Kita belajar melihat bahwa di luar kehidupan kita, ada banyak orang yang sedang berjuang menghadapi keadaan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan. Ada orang tua yang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada anak yang ingin terus belajar meskipun fasilitasnya terbatas. Ada keluarga yang harus berhemat karena penghasilan hanya cukup untuk kebutuhan pokok. Ada saudara kita yang sedang menghadapi musibah. Dan ada orang-orang yang sebenarnya tidak meminta banyak. Mereka hanya membutuhkan sedikit bantuan agar mampu melewati hari dengan lebih baik. Di situlah sedekah menjadi jembatan antara rezeki yang kita miliki dan kebutuhan orang lain. Ada Keberkahan yang Tidak Bisa Dihitung dengan Angka Ketika kita bersedekah, mungkin yang terlihat hanyalah uang yang keluar. Namun, ada banyak hal yang tidak terlihat oleh mata. Ada rasa lega setelah membantu seseorang. Ada kebahagiaan ketika melihat wajah penerima bantuan tersenyum. Ada ketenangan ketika mengetahui bahwa sebagian rezeki yang kita miliki telah memberikan manfaat bagi orang lain. Ada rasa syukur karena Allah memberikan kita kemampuan untuk berbagi. Dan yang paling utama, ada harapan akan pahala dari Allah SWT. Karena itu, jangan selalu bertanya, “Setelah saya bersedekah, apa yang akan saya dapatkan?” Sesekali, ubahlah pertanyaan tersebut menjadi: “Setelah saya bersedekah, siapa yang mungkin bisa terbantu?” Pertanyaan sederhana itu dapat mengubah cara kita memandang sedekah. Sedekah bukan lagi sekadar pengeluaran, tetapi menjadi kesempatan untuk menghadirkan manfaat. Jangan Takut Berbagi karena Takut Kekurangan Salah satu hal yang sering membuat seseorang berat bersedekah adalah rasa takut kehilangan. Kita takut uang berkurang. Kita takut kebutuhan tidak terpenuhi. Kita takut suatu hari nanti membutuhkan uang tersebut. Kekhawatiran seperti ini sangat manusiawi. Namun, jangan sampai rasa takut membuat kita kehilangan kesempatan untuk berbuat baik. Allah mengajarkan kepada kita untuk percaya bahwa rezeki berada dalam ketetapan-Nya. Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, lakukanlah dengan penuh keikhlasan dan tetap bijaksana dalam memenuhi kebutuhan serta tanggung jawab kita. Tidak perlu memaksakan diri. Tidak perlu memberikan sesuatu di luar kemampuan. Tetapi jangan pula menjadikan alasan “belum punya banyak” sebagai alasan untuk tidak pernah berbagi. Sebab, kebaikan tidak selalu harus dimulai dari jumlah yang besar. Seribu rupiah yang diberikan dengan ikhlas tetap lebih berarti daripada niat besar yang tidak pernah diwujudkan. Berbagi Mengajarkan Kita Tentang Syukur Ketika melihat seseorang sedang mengalami kesulitan, sebenarnya kita sedang mendapatkan kesempatan untuk melihat kembali nikmat yang Allah berikan kepada kita. Masih bisa makan dengan layak adalah nikmat. Masih memiliki tempat tinggal adalah nikmat. Masih memiliki pekerjaan adalah nikmat. Masih mampu memenuhi kebutuhan keluarga adalah nikmat. Masih memiliki tubuh yang sehat untuk beraktivitas adalah nikmat. Masih memiliki kesempatan untuk beribadah adalah nikmat. Bahkan kemampuan untuk memberikan sebagian rezeki kepada orang lain pun merupakan sebuah nikmat. Karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ada yang memiliki harta lebih. Ada yang memiliki tenaga lebih. Ada yang memiliki ilmu lebih. Ada yang memiliki kesempatan lebih luas untuk membantu. Maka, ketika Allah memberikan kita kelebihan dalam bentuk apa pun, salah satu cara mensyukurinya adalah dengan menjadikan kelebihan tersebut sebagai jalan kebaikan. Semakin Bersyukur, Semakin Mudah Berbagi Orang yang terbiasa bersyukur biasanya lebih mudah menyadari bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan. Ia tidak merasa bahwa seluruh hartanya mutlak miliknya. Ia memahami bahwa ada amanah di balik rezeki yang Allah berikan. Karena itu, berbagi bukan lagi terasa sebagai sesuatu yang berat. Ketika mendapatkan rezeki, ia mulai berpikir: “Siapa yang bisa saya bantu dari rezeki ini?” Bukan hanya: “Apa yang bisa saya beli dengan rezeki ini?” Inilah perubahan kecil dalam cara berpikir yang dapat membuat kehidupan menjadi lebih bermakna. Karena semakin kita belajar berbagi, semakin kita memahami bahwa rezeki bukan hanya tentang apa yang masuk ke tangan kita, tetapi juga tentang apa yang bisa kita manfaatkan untuk memberikan kebaikan kepada orang lain. Jangan Menunggu Punya Banyak Ada sebuah kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa sadar: menunda kebaikan. “Nanti kalau sudah punya uang lebih.” “Nanti kalau bisnis sudah besar.” “Nanti kalau penghasilan sudah meningkat.” “Nanti kalau semua kebutuhan sudah terpenuhi.” Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan kondisi “sudah cukup” itu datang. Kebutuhan manusia akan selalu berkembang. Ketika penghasilan meningkat, kebutuhan bisa bertambah. Ketika mendapatkan sesuatu yang baru, muncul keinginan baru. Jika sedekah selalu menunggu kondisi berlebih, bisa jadi kita akan terus menundanya. Maka, mulailah dari apa yang kita mampu. Tidak harus besar. Tidak harus terlihat. Tidak harus diketahui banyak orang. Yang penting dilakukan dengan ikhlas. Berbagi dengan Ikhlas, Bukan untuk Dipuji Kepedulian akan menjadi semakin indah ketika dilakukan dengan ikhlas. Kita membantu bukan karena ingin disebut dermawan. Kita memberikan bantuan bukan karena ingin mendapatkan pujian. Kita bersedekah bukan untuk memperlihatkan bahwa kita lebih mampu daripada orang lain. Kita melakukannya karena Allah. Allah SWT mengingatkan agar orang yang berinfak tidak merusak kebaikannya dengan menyebut-nyebut pemberian atau menyakiti penerima. “Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah kemudian tidak mengiringi apa yang diinfakkannya itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 262) Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak cukup hanya dengan memberikan sesuatu. Cara kita memberikan juga penting. Jangan sampai seseorang yang sedang membutuhkan justru merasa rendah diri karena bantuan yang diterimanya. Jangan sampai sedekah yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan berubah menjadi luka karena penerima merasa dipermalukan. Jangan sampai pemberian yang seharusnya mendatangkan pahala justru diikuti dengan kalimat yang menyakitkan. Karena itu, berikanlah dengan cara yang baik. Berbagi Tanpa Merendahkan Orang yang menerima bantuan bukan berarti lebih rendah daripada orang yang memberikan bantuan. Hari ini kita mungkin berada pada posisi mampu membantu. Namun, kehidupan selalu berubah. Bisa saja suatu hari nanti kita yang membutuhkan bantuan. Karena itu, ketika berbagi, tempatkan penerima sebagai saudara yang sedang membutuhkan dukungan, bukan sebagai seseorang yang pantas direndahkan. Berikan dengan senyum. Berikan dengan bahasa yang baik. Berikan tanpa membuatnya merasa malu. Dan jika memungkinkan, berikan tanpa perlu memperlihatkan kepada banyak orang. Biarkan manusia mungkin tidak tahu, tetapi Allah mengetahui. Berbagi Karena Allah, Berbagi Karena Peduli Pada akhirnya, inti dari sedekah bukanlah sekadar memindahkan sebagian harta dari tangan kita kepada tangan orang lain. Sedekah adalah tentang kepedulian. Tentang bagaimana kita masih memiliki hati yang tergerak ketika melihat kesulitan. Tentang bagaimana kita tidak hanya menikmati rezeki sendiri, tetapi juga berusaha menghadirkan manfaat bagi sesama. Tentang bagaimana kita menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita mendapatkan sesuatu, tetapi terkadang justru ketika kita mampu memberikan sesuatu. Maka, ketika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan terlalu banyak berpikir tentang apakah pemberian kita cukup besar. Tanyakan kepada diri sendiri: “Apakah bantuan kecil ini bisa membuat hidup seseorang sedikit lebih ringan?” Jika jawabannya iya, maka jangan remehkan kebaikan tersebut. Karena mungkin bagi kita hanya sebagian kecil dari apa yang dimiliki. Tetapi bagi seseorang yang sedang membutuhkan, bisa jadi itulah pertolongan yang sangat berarti. Berbagilah bukan karena kita berlebih.Berbagilah karena kita peduli.Berbagilah bukan karena ingin dipuji.Berbagilah karena ingin mencari rida Allah. Dan ketika kita menyalurkan zakat, infak, atau sedekah melalui lembaga yang terpercaya, kebaikan tersebut dapat diarahkan agar memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat yang membutuhkan. Mari jadikan sebagian rezeki yang Allah titipkan sebagai jalan untuk menghadirkan harapan. Karena satu pemberian mungkin terasa kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi alasan seseorang kembali tersenyum, kembali bersemangat, bahkan kembali percaya bahwa masih ada orang yang peduli. Hari ini, mungkin kita belum bisa mengubah dunia. Tetapi kita bisa membantu mengubah hari seseorang menjadi sedikit lebih baik. Dan terkadang, kebaikan besar memang dimulai dari kepedulian kecil yang kita pilih untuk tidak abaikan. Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Kepedulian akan menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti sebagai rasa iba. Kita bisa melihat orang yang membutuhkan dan merasa kasihan. Tetapi setelah itu, apa yang kita lakukan? Di sinilah sedekah menjadi sebuah aksi nyata. Satu donasi dapat membantu memenuhi kebutuhan seseorang. Satu paket makanan dapat membuat keluarga tersenyum. Satu bantuan pendidikan dapat menjaga harapan seorang anak. Satu dukungan untuk program pemberdayaan dapat membantu seseorang memiliki kesempatan untuk bangkit dan mandiri. Mungkin bagi kita nilainya kecil. Namun, bagi mereka, manfaatnya bisa sangat besar. Jangan Tunggu Kaya untuk Berbuat Baik Tidak perlu menunggu memiliki jutaan rupiah. Tidak perlu menunggu hidup sempurna. Tidak perlu menunggu semua kebutuhan terpenuhi. Mulailah dari apa yang mampu kita berikan hari ini. Jika belum mampu banyak, berikan sedikit. Jika belum mampu membantu dengan harta, bantu dengan tenaga. Jika belum mampu dengan tenaga, bantu dengan doa. Sebab yang terpenting bukan seberapa besar kita memberi, tetapi apakah hati kita masih tergerak ketika melihat orang lain membutuhkan. Mari Berbagi, Karena Kita Peduli Ada orang yang mungkin hari ini sedang menunggu bantuan. Ada keluarga yang sedang berusaha bertahan. Ada anak yang masih menyimpan mimpi. Ada saudara kita yang ingin bangkit, tetapi membutuhkan sedikit dukungan untuk memulainya.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan: 7 Teladan Rasulullah SAW yang Bisa Mengubah Kehidupan
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan: 7 Teladan Rasulullah SAW yang Bisa Mengubah Kehidupan
Maulid Nabi Bukan Sekadar Perayaan: 7 Teladan Rasulullah SAW yang Bisa Mengubah Kehidupan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa risalah Islam kepada seluruh umat. Namun, Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada perayaan, lantunan selawat, atau kisah sejarah semata. Lebih dari itu, momen ini dapat menjadi pengingat untuk kembali menerapkan akhlak dan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT berfirman: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”(QS. Al-Ahzab: 21) Ayat tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW adalah teladan yang dapat dijadikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan. 7 Teladan Rasulullah SAW yang Bisa Mengubah Kehidupan 1. Menjaga Kejujuran dalam Setiap Keadaan Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang jujur dan amanah. Kejujuran bukan hanya tentang perkataan, tetapi juga bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawab. Di tengah kehidupan yang penuh persaingan, kejujuran menjadi nilai yang semakin penting. Meneladani Rasulullah berarti berani berkata benar meskipun terkadang tidak mudah. 2. Menumbuhkan Kepedulian kepada Sesama Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk memperhatikan orang lain, terutama mereka yang sedang mengalami kesulitan. Kepedulian dapat dimulai dari hal sederhana: membantu tetangga, berbagi makanan, menyisihkan sebagian rezeki, hingga memberikan dukungan kepada mereka yang membutuhkan. Kebaikan yang Kecil Bisa Berdampak Besar Tidak semua orang mampu memberikan bantuan dalam jumlah besar. Namun, setiap kebaikan memiliki nilai ketika dilakukan dengan ikhlas. 3. Menyayangi Keluarga Keteladanan Rasulullah SAW juga terlihat dalam kehidupan keluarga. Beliau mengajarkan pentingnya memperlakukan keluarga dengan kebaikan. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.”(HR. Tirmidzi no. 3895) Hadis ini mengingatkan bahwa akhlak yang baik seharusnya dimulai dari lingkungan terdekat. 4. Membiasakan Sabar Perjalanan dakwah Rasulullah SAW tidak selalu mudah. Beliau menghadapi penolakan, hinaan, dan berbagai ujian, tetapi tetap teguh menjalankan amanah. Sabar bukan berarti menyerah. Sabar berarti tetap berusaha melakukan kebaikan meskipun menghadapi kesulitan. 5. Gemar Berbagi Salah satu bentuk nyata meneladani Rasulullah SAW adalah membangun kepedulian sosial. Berbagi bukan hanya tentang memberikan sesuatu yang kita miliki, tetapi juga menghadirkan harapan bagi orang lain. Saatnya Mengubah Cinta Menjadi Aksi Momentum Maulid Nabi dapat menjadi pengingat untuk menyisihkan sebagian rezeki bagi saudara-saudara yang membutuhkan. Zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan melalui lembaga terpercaya dapat menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan manfaat yang lebih luas. 6. Menjaga Lisan Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berkata baik atau memilih diam. Dalam kehidupan digital, teladan ini semakin relevan. Sebelum menulis komentar, membagikan informasi, atau menyampaikan pendapat, mari bertanya kepada diri sendiri: apakah ucapan tersebut membawa manfaat atau justru menyakiti orang lain? 7. Menguatkan Hubungan dengan Allah SWT Di balik seluruh keteladanan Rasulullah SAW terdapat hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Karena itu, Maulid Nabi juga dapat menjadi momentum untuk memperbaiki ibadah, memperbanyak selawat, membaca Al-Qur'an, dan memperbanyak amal kebaikan. Maulid Nabi, Momentum Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya membawa perubahan nyata dalam kehidupan. Setelah mengenal kisah Rasulullah, sudah selayaknya kita berusaha mengikuti akhlaknya. Mulailah dari hal sederhana: jujur dalam bekerja, sabar menghadapi ujian, menyayangi keluarga, menjaga lisan, dan peduli kepada sesama. Mari Hadirkan Kebaikan untuk Mereka yang Membutuhkan Masih banyak saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, mendapatkan pendidikan, memperoleh layanan kesehatan, dan bangkit dari kondisi sulit. Di momentum Maulid Nabi ini, mari jadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai dorongan untuk memperbanyak kebaikan. Sedekah yang kita berikan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan. Yuk, lanjutkan semangat keteladanan Rasulullah SAW dengan berbagi dan membantu sesama. Karena Maulid Nabi bukan sekadar tentang mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi tentang menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan dan menjadikan kebaikan sebagai bagian dari keseharian kita.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Mengapa Orang yang Sudah Terbiasa Berbagi Tidak Boleh Berhenti Bertanya?
Mengapa Orang yang Sudah Terbiasa Berbagi Tidak Boleh Berhenti Bertanya?
Mengapa Orang yang Sudah Terbiasa Berbagi Tidak Boleh Berhenti Bertanya? Ada satu tahap dalam berbuat baik yang sering kita anggap sebagai akhir yaitu ketika seseorang sudah terbiasa memberi. Ia rutin menunaikan zakat. Ia menyisihkan infak. Ia bersedekah ketika memiliki kesempatan. Ia bahkan mungkin sudah mempercayakan ZIS-nya melalui lembaga amil. Kita kemudian mudah berkata, “Orang ini sudah baik.” Namun, apakah menjadi orang yang terbiasa memberi berarti perjalanan kebaikan telah selesai? Mungkin justru sebaliknya. Semakin sering seseorang memberi, semakin penting ia belajar bertanya. Bukan karena kebaikannya patut diragukan, tetapi karena setiap kebaikan membawa amanah: ada sesuatu yang kita keluarkan dari tangan kita dan berharap sesuatu yang baik terjadi setelahnya. Memberi Bukan Berarti Kita Berhenti Peduli pada Apa yang Terjadi Setelahnya Bayangkan seseorang memberikan bantuan kepada keluarga yang sedang kesulitan. Ia telah melakukan sesuatu yang baik. Tetapi setelah bantuan diterima, cerita tidak otomatis selesai. Apakah bantuan tersebut membuat kebutuhan dasar mereka terpenuhi?Apakah masalah mereka hanya tertunda?Apakah ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendesak?Apakah bantuan tersebut membuka peluang agar mereka dapat bangkit? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak mengurangi nilai sebuah pemberian. Justru sebaliknya, pertanyaan menunjukkan bahwa kita tidak ingin kebaikan berhenti pada tindakan memberi. Inilah yang dapat disebut sebagai impact consciousness yakni kesadaran bahwa sebuah kontribusi bukan hanya dinilai dari apa yang kita keluarkan, tetapi juga dari manfaat yang lahir setelahnya. Islam Tidak Hanya Mengajarkan Memberi, tetapi Juga Memperhatikan Cara Kita Memberi Dalam Islam, memberi bukan tindakan yang dilepaskan dari tanggung jawab. Allah SWT berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.”(QS. Ali 'Imran: 92) Ayat ini sering dipahami sebagai dorongan untuk mengeluarkan harta yang kita cintai. Namun ada pelajaran lain yang dapat direnungkan yaitu kebaikan memiliki kedalaman. Ia bukan sekadar perpindahan kepemilikan. Ada keikhlasan di dalamnya, ada kepedulian, dan ada tanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan. Karena itu, seorang yang telah terbiasa ber-ZIS tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan: “Sudahkah saya memberi?” Tetapi perlahan naik kepada pertanyaan: “Sudahkah pemberian saya menjadi bagian dari kebaikan yang benar-benar bermanfaat?” Tidak Semua Masalah Selesai dengan Bantuan yang Sama Kita sering memiliki cara berpikir yang sederhana terhadap masalah sosial. Orang lapar → berikan makanan.Orang kesulitan → berikan uang.Anak membutuhkan pendidikan → berikan biaya sekolah. Bantuan semacam itu dapat sangat berarti, terutama ketika kebutuhan sedang mendesak. Namun, kebutuhan manusia tidak selalu berhenti pada kebutuhan hari ini. Seseorang mungkin membutuhkan makanan sekarang, tetapi juga membutuhkan kemampuan untuk memperoleh penghasilan di kemudian hari. Sebuah keluarga mungkin membutuhkan bantuan saat mengalami musibah, tetapi setelah keadaan darurat berlalu, mereka mungkin membutuhkan proses pemulihan. Seorang anak mungkin membutuhkan biaya pendidikan, tetapi ia juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan potensinya berkembang. Di sinilah kita perlu membedakan antara meringankan masalah dan membantu seseorang bergerak keluar dari masalah. Bukan berarti semua bantuan harus menghasilkan perubahan besar. Ada keadaan tertentu di mana bantuan untuk bertahan hidup memang merupakan bentuk pertolongan yang paling tepat. Tetapi kesadaran ini membuat kita memahami bahwa setiap persoalan membutuhkan bentuk kepedulian yang mungkin berbeda. Dari “Saya Sudah Memberi” Menjadi “Apa yang Bisa Saya Bantu Bangun?” Pertanyaan yang lebih matang bukan lagi tentang seberapa banyak yang telah kita keluarkan. Tetapi tentang apa yang ingin kita bantu tumbuhkan. Apakah kita ingin membantu seseorang melewati masa sulit?Membantu seorang anak tetap memperoleh pendidikan?Membantu penyandang disabilitas memperoleh alat yang dibutuhkan?Membantu keluarga memenuhi kebutuhan dasar?Atau membantu seseorang membangun kembali kemandiriannya setelah mengalami keterpurukan? Perspektif ini membuat ZIS memiliki makna yang lebih luas. Zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang menyelesaikan kewajiban atau melakukan kebaikan sesaat. Ia juga dapat menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan yang lebih baik. Di Sinilah BAZNAS Menjadi Penghubung antara Niat dan Dampak Bagi seorang muzaki atau donatur, tidak selalu mudah mengetahui kebutuhan masyarakat secara langsung. Kita mungkin ingin membantu, tetapi tidak mengetahui siapa yang paling membutuhkan, bentuk bantuan apa yang tepat, atau bagaimana bantuan dapat diberikan secara terarah. Di sinilah lembaga seperti BAZNAS memiliki peran penting. Melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, kebencanaan, dan program sosial lainnya, ZIS yang dihimpun tidak berhenti sebagai niat baik seseorang. Ia diarahkan menjadi bagian dari program yang memiliki sasaran dan tujuan. Maka hubungan antara muzaki dan penerima manfaat tidak harus dipahami sebagai “Saya memberi, lalu selesai.” Tetapi, “Saya mempercayakan sebagian yang saya miliki agar dapat menjadi manfaat bagi orang lain.” Kepercayaan semacam itu seharusnya membuat kita semakin peduli terhadap bagaimana kebaikan dikelola dan apa manfaat yang dihasilkan. Orang yang Sudah Terbiasa Memberi Justru Harus Terus Belajar Pada akhirnya, pertanyaan bukanlah tanda bahwa kita kurang ikhlas. Pertanyaan adalah tanda bahwa kita peduli terhadap makna dari apa yang kita lakukan. Orang yang belum terbiasa memberi mungkin perlu belajar tentang pentingnya berbagi. Tetapi orang yang sudah terbiasa memberi memiliki tugas yang berbeda yaitu belajar memahami dampak dari kebaikannya. Sebab kebaikan tidak seharusnya berhenti pada tangan yang memberi. Ia seharusnya menemukan jalan menuju kehidupan yang menjadi lebih baik. Maka setelah berkata, “Saya sudah memberi,” barangkali sudah waktunya kita bertanya, “Lalu, apa yang terjadi setelah saya memberi?” Karena menjadi bagian dari kebaikan bukan hanya tentang seberapa sering kita mengeluarkan sesuatu dari milik kita, tetapi seberapa sadar kita terhadap manfaat yang ingin kita hadirkan melalui apa yang kita keluarkan.
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Jangan Remehkan Kebaikan: Amal Dahsyat yang Bisa Menyelamatkan Kita
Jangan Remehkan Kebaikan: Amal Dahsyat yang Bisa Menyelamatkan Kita
Jangan Remehkan Kebaikan: Amal Dahsyat yang Bisa Menyelamatkan Kita Pernahkah kita menganggap sebuah kebaikan terlalu kecil untuk dilakukan? Hanya tersenyum, membantu seseorang, memberikan makanan, atau menyisihkan sedikit rezeki untuk orang yang membutuhkan. Kita mungkin merasa, “Apa artinya bantuan sekecil ini?” Padahal, dalam Islam, kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia di hadapan Allah SWT. Bahkan, sesuatu yang kita anggap sederhana bisa menjadi amal yang bernilai besar dan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah. Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada amal yang benar-benar kecil. Setiap kebaikan tercatat dan akan diperlihatkan balasannya. Rasulullah SAW Juga Mengingatkan Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah berseri-seri.” (HR. Muslim no. 2626) Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar atau mahal. Bahkan keramahan kepada sesama pun termasuk kebaikan yang dianjurkan. Kebaikan Sederhana Bisa Mengubah Kehidupan Senyum yang Menguatkan Satu senyuman mungkin terlihat sederhana bagi kita. Namun, bagi seseorang yang sedang menghadapi hari berat, senyuman dan sapaan hangat bisa menjadi pengingat bahwa ia tidak sendirian. Karena itu, jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbuat baik. Kita bisa memulainya dari sikap, perkataan, perhatian, dan bantuan sederhana. Sedekah yang Menghadirkan Harapan Kebaikan juga dapat diwujudkan melalui sedekah. Sebagian rezeki yang kita keluarkan mungkin tidak terasa besar, tetapi bisa menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan, atau modal untuk seseorang kembali mandiri. Ketika Sedikit Menjadi Sangat Berarti Bayangkan jika banyak orang melakukan kebaikan secara bersama-sama. Sedekah yang awalnya terlihat kecil dapat dikumpulkan menjadi manfaat yang jauh lebih besar. Inilah mengapa berbagi tidak harus menunggu kaya. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kemauan untuk membantu sesuai kemampuan. Jangan Menunggu Momen Sempurna untuk Berbuat Baik Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah punya lebih banyak, saya akan bersedekah.” Kita menunggu memiliki penghasilan yang lebih besar, tabungan yang lebih banyak, atau kondisi yang dianggap cukup sebelum mulai berbagi. Padahal, kesempatan untuk berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Kita tidak pernah tahu kapan kesempatan itu berakhir, kapan keadaan berubah, atau kapan seseorang di sekitar kita benar-benar membutuhkan pertolongan. Hari ini mungkin kita masih diberikan kesehatan, pekerjaan, keluarga, makanan, tempat tinggal, dan rezeki. Semua itu adalah nikmat yang patut disyukuri sekaligus kesempatan untuk berbagi manfaat kepada sesama. Tidak harus menunggu menjadi kaya untuk bersedekah. Bahkan dari sebagian kecil yang kita miliki, kita sudah bisa membantu meringankan beban orang lain. Mungkin bagi kita, menyisihkan sebagian uang terasa sederhana. Namun, bagi seseorang yang sedang kesulitan membeli makanan, bantuan tersebut bisa menjadi penyelamat untuk memenuhi kebutuhan hari itu. Bagi seorang anak yang membutuhkan perlengkapan sekolah, bantuan kecil bisa menjadi alasan untuk tetap semangat belajar. Bagi keluarga yang sedang menghadapi kesulitan ekonomi, kepedulian kita dapat menjadi penguat agar mereka tidak merasa berjuang sendirian. Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan Jika Allah memberikan kelebihan kepada kita, jangan biarkan semuanya berhenti untuk diri sendiri. Ada saudara kita yang mungkin sedang membutuhkan uluran tangan. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang disalurkan secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, serta harapan bagi mereka yang membutuhkan. Saatnya Mengubah Kebaikan Menjadi Aksi Nyata Kita tidak pernah tahu amal mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah. Bisa jadi sedekah yang kita anggap kecil menjadi sangat berarti. Bisa jadi makanan yang kita berikan menjadi penguat bagi seseorang. Bisa jadi bantuan yang kita salurkan menjadi awal perubahan hidup sebuah keluarga. Mari Berbagi Hari Ini Jangan menunggu kaya untuk membantu. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik. Dan jangan menunggu kesempatan berlalu untuk peduli. Mari sisihkan sebagian rezeki yang kita miliki untuk saudara-saudara yang membutuhkan. Dengan berbagi melalui lembaga amil yang terpercaya, kebaikan kita dapat dikelola agar memberikan manfaat yang lebih luas. Karena pada akhirnya, kita tidak pernah tahu kebaikan mana yang akan menjadi amal paling berarti bagi kehidupan kita di dunia dan bekal di akhirat. Jangan remehkan kebaikan. Mungkin bagi kita hanya sedikit, tetapi bagi mereka bisa menjadi harapan besar.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Di Dunia yang Mengajarkan Kita untuk Menang, Mengapa Rasulullah Mengajarkan Kita untuk Tetap Menjadi Manusia?
Di Dunia yang Mengajarkan Kita untuk Menang, Mengapa Rasulullah Mengajarkan Kita untuk Tetap Menjadi Manusia?
Di Dunia yang Mengajarkan Kita untuk Menang, Mengapa Rasulullah Mengajarkan Kita untuk Tetap Menjadi Manusia? Kita hidup di dunia yang sangat pandai mengajarkan cara untuk menang. Sejak kecil, kita diperkenalkan pada peringkat. Ketika dewasa, kita mulai membandingkan penghasilan, jabatan, pencapaian, rumah, kendaraan, bahkan kehidupan yang ditampilkan orang lain. Dunia seolah memiliki ukuran yang sederhana yaitu siapa yang lebih cepat, lebih tinggi, lebih kaya, dan lebih berhasil. Tidak ada yang salah dengan ingin berkembang. Tidak ada yang keliru dengan bekerja keras dan mengejar keberhasilan. Islam pun tidak mengajarkan umatnya untuk berhenti berusaha. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan ketika terlalu sibuk mengejar kemenangan yaitu Apa yang tersisa dari diri kita jika untuk menang kita harus kehilangan cara memperlakukan manusia dengan baik? Mungkin, di tengah dunia yang semakin kompetitif, pertanyaan itu justru semakin penting. Ketika Hidup Berubah Menjadi Perlombaan Persaingan sering membuat kita memandang orang lain sebagai pembanding. Teman yang berhasil terasa seperti ukuran dari kegagalan kita. Rekan kerja menjadi pesaing. Kesuksesan orang lain terkadang tidak lagi menginspirasi, tetapi justru menimbulkan kegelisahan. Perlahan, kita tidak hanya ingin hidup dengan baik. Kita ingin hidup lebih baik daripada orang lain. Di titik tertentu, ambisi yang seharusnya mendorong manusia untuk berkembang dapat berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Kita mulai merasa harus selalu membuktikan sesuatu. Harus terlihat berhasil. Harus memiliki lebih banyak. Harus berada di depan. Padahal hidup tidak selalu meminta kita untuk memenangkan manusia lain. Kadang, tantangan terbesar justru adalah memenangkan diri sendiri dengan menahan kesombongan ketika berhasil, menjaga kejujuran ketika ada kesempatan untuk curang, dan tetap berlaku baik ketika kita sebenarnya mampu membalas keburukan. Di sinilah keberhasilan membutuhkan ukuran yang lebih dalam daripada sekadar hasil. Rasulullah SAW Mengajarkan bahwa Kekuatan Tidak Selalu Berarti Mengalahkan Dunia sering menganggap orang kuat sebagai orang yang mampu menguasai keadaan dan mengalahkan orang lain. Namun Rasulullah SAW memberikan ukuran yang berbeda. Beliau bersabda: “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini seakan membalik cara kita memahami kemenangan. Seseorang mungkin mampu memenangkan perdebatan, tetapi apakah ia mampu menjaga lisannya? Seseorang mungkin mampu membalas perlakuan buruk, tetapi apakah ia mampu memilih untuk tidak melampaui batas? Seseorang mungkin memiliki kekuasaan, tetapi apakah ia tetap adil ketika tidak ada yang mampu menegurnya? Ternyata, tidak semua kemenangan harus diperoleh dengan mengalahkan orang lain. Ada kemenangan yang jauh lebih sulit yaitu dengan tidak membiarkan ambisi mengubah kita menjadi manusia yang kehilangan hati. Menjadi Manusia di Tengah Dunia yang Sering Membuat Kita Lupa Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107) Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kedudukan Rasulullah SAW, tetapi juga membuka cara pandang tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya hadir di tengah kehidupan. Rasulullah hadir membawa rahmat. Artinya, keberadaan seorang manusia seharusnya tidak hanya diukur dari apa yang berhasil ia kumpulkan, tetapi juga dari apa yang menjadi lebih baik karena kehadirannya. Apakah orang lain merasa lebih aman ketika berurusan dengan kita? Apakah orang yang lebih lemah mendapatkan keadilan ketika berada di bawah kekuasaan kita? Apakah keberhasilan kita hanya memperbesar kehidupan sendiri, atau juga membuka manfaat bagi kehidupan orang lain? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak muncul dalam laporan pencapaian. Tidak ada peringkat khusus untuk orang yang paling mampu menjaga amanah. Tidak ada penghargaan besar setiap kali seseorang memilih berlaku jujur ketika ia bisa mengambil keuntungan. Namun, justru di sanalah kualitas kemanusiaan diuji. Ambisi Tidak Salah, tetapi Jangan Sampai Membuat Kita Buta Islam tidak meminta manusia untuk meninggalkan cita-cita. Kita boleh ingin berhasil, memiliki kehidupan yang lebih baik, membangun usaha, mengejar pendidikan, dan memberikan masa depan yang layak bagi keluarga. Yang perlu dijaga adalah arah dari perjalanan tersebut. Karena seseorang bisa naik sangat tinggi, tetapi semakin jauh dari orang-orang di sekitarnya. Seseorang bisa memiliki banyak hal, tetapi semakin sulit memahami orang yang tidak memiliki apa-apa. Seseorang bisa sibuk membangun masa depan, sampai lupa bahwa ada manusia lain yang sedang berjuang untuk sekadar melewati hari ini. Di sinilah keberhasilan perlu ditemani oleh kepedulian. Bukan karena kita harus merasa bersalah ketika hidup kita membaik, tetapi karena rezeki yang bertambah seharusnya memperluas kemampuan kita untuk menghadirkan manfaat. Ketika Keberhasilan Tidak Berhenti pada Diri Sendiri Mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemanusiaan. Kita tidak bisa menghapus semua kemiskinan, membiayai seluruh pendidikan, atau menolong setiap orang yang sedang menghadapi kesulitan. Tetapi ketidakmampuan untuk melakukan semuanya bukan alasan untuk tidak melakukan apa pun. Kepedulian dapat dimulai dari kesadaran bahwa kehidupan kita tidak berdiri sendiri. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah menemukan maknanya. Bukan sekadar sebagai aktivitas yang dilakukan setelah seseorang merasa hidupnya telah sempurna. Justru ZIS mengingatkan bahwa di tengah perjalanan mengejar keberhasilan, ada hak dan kebutuhan orang lain yang tidak seharusnya hilang dari perhatian kita. Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, kepedulian tersebut dapat disalurkan menjadi berbagai program yang menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Apa yang mungkin kecil bagi seseorang dapat menjadi bagian dari manfaat yang lebih besar ketika dihimpun dan dikelola bersama. Kemenangan Seperti Apa yang Sebenarnya Kita Cari? Pada akhirnya, dunia mungkin akan terus mengajarkan kita untuk menang. Menang dalam persaingan. Menang dalam pekerjaan. Menang dalam bisnis. Menang dalam berbagai ukuran keberhasilan yang terus berubah. Tetapi Rasulullah SAW mengajarkan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar melalui keteladanan hidupnya bahwa setelah semua yang kita kejar berhasil kita dapatkan, manusia seperti apa yang tersisa? Sebab mungkin kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil berada di atas orang lain. Melainkan ketika kita mampu tumbuh tanpa merendahkan, berhasil tanpa melupakan, memiliki tanpa menjadi sombong, dan berkuasa tanpa kehilangan keadilan. Di tengah dunia yang terus meminta kita untuk menjadi lebih dari orang lain, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan mengingat bahwa "tidak semua hal harus dimenangkan. Tetapi jangan sampai, demi memenangkan dunia, kita justru kalah menjadi manusia."
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Hidup Bukan Soal Seberapa Lama, tapi Seberapa Berkah
Hidup Bukan Soal Seberapa Lama, tapi Seberapa Berkah
Hidup Bukan Soal Seberapa Lama, tapi Seberapa Berkah Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, untuk apa sebenarnya kita hidup? Kita sering sibuk menghitung usia, mengejar pekerjaan, mengumpulkan harta, dan merencanakan masa depan. Namun, di tengah kesibukan itu, kita terkadang lupa bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa lama kita berada di dunia, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan dan keberkahan yang mampu kita hadirkan. Usia yang panjang adalah nikmat. Namun, usia yang dipenuhi amal saleh, kepedulian, dan manfaat bagi sesama adalah karunia yang jauh lebih berharga. Hidup Adalah Kesempatan untuk Mengumpulkan Amal Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dan kematian diciptakan sebagai ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya. “Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2) Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kehidupan bukan sekadar banyaknya waktu yang kita miliki, tetapi kualitas amal yang kita lakukan selama hidup. Jangan Sampai Waktu Berlalu Tanpa Makna Hari berganti, bulan berlalu, dan usia terus bertambah. Tanpa disadari, sebagian waktu mungkin habis untuk mengejar sesuatu yang hanya memberikan kesenangan sementara. Padahal, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Kita bisa memperbanyak ibadah, membantu keluarga, menyantuni mereka yang membutuhkan, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi. Keberkahan Hadir Ketika Hidup Memberi Manfaat Hidup yang berkah bukan berarti selalu memiliki harta berlimpah atau terbebas dari masalah. Keberkahan dapat terlihat ketika apa yang kita miliki membawa manfaat, ketenangan, dan kebaikan bagi diri sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. ath-Thabrani) Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa salah satu bentuk kehidupan yang bernilai adalah ketika keberadaan kita membawa manfaat bagi orang lain. Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kaya Berbuat baik tidak selalu membutuhkan harta dalam jumlah besar. Senyuman, membantu seseorang, memberikan makanan, mengajarkan ilmu, atau mendengarkan orang yang sedang membutuhkan teman juga dapat menjadi bentuk kebaikan. Namun, ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, kita memiliki kesempatan untuk memperluas manfaat melalui zakat, infak, dan sedekah. Sedikit dari Kita, Berarti Besar bagi Mereka Sebagian uang yang kita sisihkan mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi keluarga yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, bantuan tersebut bisa menjadi harapan. Sedekah kita dapat membantu menyediakan makanan, mendukung pendidikan, meringankan beban kesehatan, atau menjadi modal bagi seseorang untuk kembali mandiri. Di sinilah harta tidak hanya menjadi milik pribadi, tetapi berubah menjadi jalan kebermanfaatan. Jangan Menunggu Tua untuk Menjadi Berarti Sering kali kita berpikir bahwa nanti akan berbuat lebih banyak ketika sudah memiliki waktu dan harta yang cukup. Padahal, tidak ada yang menjamin kita akan memiliki kesempatan tersebut. Selagi masih sehat, masih memiliki penghasilan, dan masih diberikan kemampuan untuk berbagi, manfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin. Jadikan Hari Ini Lebih Berkah Mulailah dari hal sederhana. Sisihkan sebagian rezeki, bantu seseorang yang membutuhkan, dan hadirkan manfaat di lingkungan sekitar. Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Yang dibutuhkan adalah hati yang peduli dan kemauan untuk memulai. Saatnya Mengubah Usia Menjadi Amal Pada akhirnya, kita tidak bisa menentukan berapa lama akan hidup. Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana menjalani kehidupan tersebut. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menanam amal. Jadikan rezeki sebagai sarana berbagi. Jadikan waktu sebagai kesempatan berbuat baik. Dan jadikan keberadaan kita sebagai sumber manfaat bagi sesama. Mari Berbagi dan Hadirkan Keberkahan Masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, serta masyarakat yang membutuhkan dukungan untuk bangkit. Jangan menunggu memiliki lebih banyak untuk mulai berbagi. Sisihkan sebagian rezeki yang kita miliki melalui zakat, infak, dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan melalui lembaga yang amanah. Sebab, kita mungkin tidak tahu seberapa panjang usia yang tersisa. Namun, kita bisa memilih untuk membuat setiap waktu yang diberikan Allah menjadi lebih berarti. Hidup bukan soal seberapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan. Karena usia akan berakhir, tetapi kebaikan yang tulus dapat terus menjadi amal dan menghadirkan keberkahan.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Ketika Kesempatan Kecil Datang di Tengah Perjuangan
Ketika Kesempatan Kecil Datang di Tengah Perjuangan
Ada masa ketika hidup terasa seperti berjalan tanpa ujung. Sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasil belum juga terlihat. Sudah mencoba berbagai cara, tetapi keadaan seolah belum berpihak. Dalam kondisi seperti itu, terkadang Allah menghadirkan kesempatan kecil di tengah perjuangan—sebuah peluang yang terlihat sederhana, bahkan mungkin dianggap tidak berarti. Namun, jangan buru-buru meremehkannya. Bisa jadi, kesempatan kecil itulah yang menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup seseorang. Kesempatan tidak selalu datang dalam bentuk pekerjaan besar, modal yang melimpah, atau rezeki yang langsung mengubah keadaan. Terkadang, kesempatan hadir melalui bantuan sederhana, seseorang yang menawarkan pertolongan, peluang untuk belajar, atau bahkan satu orang yang memilih untuk peduli. Di situlah kita belajar bahwa pertolongan Allah bisa datang melalui jalan yang tidak pernah kita duga. Perjuangan Tidak Selalu Berakhir dengan Jalan yang Langsung Terlihat Ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, biasanya yang paling diinginkan adalah jalan keluar yang cepat. Kita ingin masalah selesai hari ini, kebutuhan terpenuhi segera, dan kehidupan kembali berjalan normal. Tetapi kehidupan tidak selalu bekerja seperti itu. Ada orang yang harus melewati proses panjang sebelum akhirnya menemukan titik terang. Ada yang memulai usaha dari sangat kecil, belajar dari kesalahan, mencoba kembali setelah gagal, hingga akhirnya perlahan menemukan jalan. Allah mengingatkan kita dalam Surah Asy-Syarh: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6) Ayat tersebut bukan sekadar penghiburan. Ia mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Kemudahan bisa hadir bersama kesulitan. Artinya, ketika seseorang sedang berjuang, mungkin sebenarnya Allah sudah menyiapkan jalan keluar. Hanya saja, jalan tersebut belum terlihat sebesar yang kita bayangkan. Jangan Meremehkan Awal yang Kecil Sering kali manusia terlalu fokus pada hasil besar sampai lupa menghargai langkah kecil. Padahal, sebuah usaha besar dimulai dari satu pelanggan. Sebuah bisnis berkembang dari satu transaksi. Sebuah perubahan hidup dapat dimulai dari satu kesempatan. Bahkan sebuah harapan bisa tumbuh hanya karena seseorang bersedia berkata, “Saya ingin membantu.” Karena itu, jangan meremehkan sesuatu hanya karena terlihat kecil. Bagi orang yang sedang berjuang, kesempatan kecil bisa memiliki arti yang sangat besar. Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Perjalanan hidup setiap orang berbeda. Ada yang mendapatkan kemudahan sejak awal, sementara yang lain harus berjuang lebih panjang. Ketika melihat keberhasilan orang lain, kita terkadang bertanya, “Kapan giliran saya?” Pertanyaan tersebut sangat manusiawi. Namun, jangan sampai membuat kita kehilangan keyakinan bahwa Allah mengetahui kemampuan kita. Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki kadar yang Allah ketahui. Bukan berarti setiap kesulitan akan terasa ringan, tetapi kita tidak sedang menjalani semuanya tanpa pengawasan Allah. Setiap Orang Memiliki Waktu yang Berbeda Kita sering membandingkan bab kehidupan kita dengan bab kehidupan orang lain. Orang lain mungkin sudah memiliki usaha yang berkembang, sementara kita baru mencari pelanggan pertama. Orang lain sudah mampu membantu banyak orang, sementara kita masih berjuang memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak apa-apa. Jangan menganggap langkah kecil sebagai kegagalan. Yang penting adalah terus berjalan. Sebab, bisa jadi kesempatan yang hari ini terlihat kecil merupakan bagian dari rencana Allah yang jauh lebih besar. Kesempatan Kecil Bisa Mengubah Kehidupan Seseorang Bayangkan seorang ibu yang memiliki usaha makanan rumahan. Setiap hari ia berusaha membuat beberapa produk untuk dijual. Keuntungannya tidak besar. Namun, dari hasil tersebut ia berharap dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Kemudian datang sebuah kesempatan. Ada seseorang yang membeli produknya dalam jumlah lebih banyak. Dari keuntungan itu, ia bisa membeli bahan baku kembali. Pesanan berikutnya datang. Perlahan usahanya berkembang. Bagi orang yang membeli, mungkin transaksi tersebut hanyalah pembelian biasa. Tetapi bagi sang ibu, itu mungkin adalah kesempatan untuk bangkit. Begitulah kebaikan bekerja. Terkadang kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak dari bantuan yang kita anggap kecil. Bantuan Kecil, Harapan yang Besar Satu paket sembako mungkin hanya terlihat sebagai kebutuhan sehari-hari. Satu bantuan modal mungkin terlihat sebagai nominal biasa. Satu perlengkapan sekolah mungkin hanya sebuah barang. Tetapi bagi penerimanya, semua itu bisa berarti jauh lebih besar. Bantuan tersebut dapat menjadi alasan seseorang kembali berusaha. Dapat membantu seorang anak tetap belajar. Dapat membuat sebuah keluarga memiliki harapan untuk melewati hari berikutnya. Inilah mengapa kepedulian tidak harus menunggu kita menjadi kaya. Kebaikan tidak selalu tentang seberapa besar yang kita berikan, tetapi seberapa besar manfaat yang bisa lahir dari pemberian tersebut. Sedekah Bisa Menjadi Jalan Datangnya Kebaikan Islam mengajarkan umatnya untuk saling membantu dan peduli terhadap sesama. Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma'idah: 2) Semangat inilah yang menjadi dasar pentingnya zakat, infak, dan sedekah. Ketika seseorang memberikan sebagian rezekinya, ia bukan hanya membantu orang lain. Ia juga sedang menanam kebaikan yang insyaAllah memiliki nilai di sisi Allah. Kita mungkin tidak tahu kapan kebaikan itu kembali kepada kita. Bisa melalui ketenangan hati, kemudahan urusan, keberkahan rezeki, atau bahkan pertolongan yang datang pada saat kita sendiri sedang membutuhkan. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi Salah satu alasan seseorang menunda bersedekah adalah merasa pemberiannya terlalu sedikit. "Nanti saja kalau sudah punya lebih." "Kalau sudah kaya, baru bisa membantu." Padahal, kebaikan tidak harus menunggu kita memiliki banyak. Rasulullah SAW bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) separuh kurma.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa kebaikan yang sederhana pun tidak boleh diremehkan. Maka, jika hari ini kita belum mampu memberikan banyak, berikan sesuai kemampuan. Karena mungkin bagi kita nilainya kecil, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang, nilainya bisa sangat berarti. Jadilah Kesempatan bagi Orang Lain Ada orang yang hari ini sedang menunggu kesempatan. Bukan kesempatan untuk menjadi kaya secara instan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk memulai kembali. Seorang pelaku usaha kecil mungkin membutuhkan tambahan modal. Seorang anak membutuhkan perlengkapan sekolah. Sebuah keluarga membutuhkan makanan untuk bertahan sampai akhir bulan. Seseorang yang sedang kesulitan mungkin hanya membutuhkan bantuan agar dapat kembali berdiri. Di sinilah kita bisa mengambil peran. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat menjadi bagian dari hadirnya kesempatan tersebut. Bersama BAZNAS, Kebaikan Bisa Menjadi Lebih Terarah Menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga pengelola zakat membantu kebaikan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan melalui program-program yang tepat sasaran. Karena itu, jangan biarkan rezeki yang kita miliki berhenti hanya sebagai milik pribadi. Mari ubah sebagian rezeki menjadi harapan bagi orang lain. Hari ini mungkin kita sedang berada di posisi yang mampu memberi. Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan ke depan. Bisa jadi suatu hari nanti, kitalah yang membutuhkan uluran tangan. Mungkin Kebaikan Anda Adalah Kesempatan yang Mereka Tunggu Tidak semua perjuangan terlihat. Ada seseorang yang setiap pagi membuka usaha kecil sambil memikirkan kebutuhan keluarganya. Ada orang tua yang diam-diam khawatir tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya. Ada keluarga yang tetap tersenyum meski harus menghitung kembali uang yang tersisa. Mereka tidak selalu meminta. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Dan mungkin, kesempatan itu datang melalui kita. Bukan karena kita memiliki harta yang sangat banyak, tetapi karena kita bersedia menyisihkan sebagian dari apa yang Allah titipkan. Saatnya Mengubah Sedikit Menjadi Manfaat Besar Jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki banyak untuk membantu. Sebab, satu kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Jika Anda memiliki rezeki lebih, mari sisihkan sebagian untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Rasulullah di Dunia yang Tidak Pernah Diam?
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Rasulullah di Dunia yang Tidak Pernah Diam?
Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Rasulullah di Dunia yang Tidak Pernah Diam? Ponsel baru saja diletakkan, lalu berbunyi lagi. Satu pesan masuk. Sebuah notifikasi muncul. Berita buruk berganti dengan berita berikutnya. Media sosial menawarkan kehidupan orang lain untuk kita lihat, bandingkan, lalu pikirkan kembali kehidupan kita sendiri. Di tengah semua itu, dunia juga terus meminta sesuatu yaitu lebih cepat, lebih produktif, lebih berhasil, dan jangan sampai tertinggal. Kita hidup pada zaman ketika diam justru terasa asing. Tubuh mungkin sedang beristirahat, tetapi pikiran tetap bekerja. Kita memikirkan pekerjaan yang belum selesai, masa depan yang belum jelas, kabar yang belum dibalas, dan kehidupan yang tampaknya terus bergerak tanpa mau menunggu siapa pun. Lalu muncul sebuah pertanyaan yaitu bagaimana manusia dapat tetap tenang ketika dunia seolah tidak pernah memberi kesempatan untuk berhenti? Kita tentu tidak dapat mengatakan apa yang akan Rasulullah SAW lakukan terhadap setiap persoalan modern yang tidak pernah beliau alami. Namun, kita dapat belajar dari Al-Qur'an dan keteladanan beliau tentang cara menghadapi tekanan, memperlakukan manusia, dan menjaga arah hidup ketika keadaan tidak selalu sesuai dengan keinginan. Tidak Semua yang Mendesak Harus Segera Kita Ikuti Salah satu kelelahan terbesar manusia hari ini adalah perasaan bahwa semua hal harus segera direspons. Pesan harus dibalas. Berita harus diketahui. Perdebatan harus diikuti. Tren harus dipahami. Kesempatan tidak boleh dilewatkan. Akhirnya, perhatian kita menjadi sesuatu yang terus diperebutkan. Padahal, memiliki banyak informasi tidak selalu berarti memiliki banyak pemahaman. Mengetahui banyak hal juga tidak otomatis membuat kita lebih bijaksana. Allah SWT berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra'd: 28) Ketenangan yang dimaksud bukan berarti kehidupan akan berhenti menghadirkan masalah. Namun ayat ini mengingatkan bahwa manusia membutuhkan tempat untuk kembali ketika terlalu banyak hal menariknya ke berbagai arah. Mungkin yang membuat kita lelah bukan hanya karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena terlalu sedikit kesempatan untuk benar-benar hadir dalam kehidupan yang sedang kita jalani. Di Tengah Dunia yang Reaktif, Tidak Semua Hal Harus Dibalas Dunia digital membuat manusia semakin mudah bereaksi. Seseorang berkata kasar, kita ingin membalas. Sebuah pendapat berbeda muncul, kita ingin memenangkan perdebatan. Kesalahan orang lain tersebar, kita ikut berkomentar. Semua terasa harus segera ditanggapi. Namun, kekuatan tidak selalu terletak pada kemampuan untuk memberikan respons paling cepat. Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang mampu menahan diri, seperti yang telah tertera dalam surat QS. Ali 'Imran: 134: “...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. Ali 'Imran: 134) Menahan diri bukan berarti membiarkan ketidakadilan. Memaafkan juga bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Tetapi ayat ini mengajarkan bahwa kita tidak harus menyerahkan kendali diri kepada setiap emosi yang datang. Di tengah dunia yang mendorong kita untuk selalu memiliki reaksi, menjaga diri agar tidak terburu-buru justru dapat menjadi bentuk kekuatan. Ketika Masa Depan Tidak Bisa Kita Kendalikan Ada hal lain yang sering membuat manusia modern lelah yaitu masa depan. Kita membuat rencana, menghitung kemungkinan, mempersiapkan berbagai jalan. Semua itu penting. Namun, ada titik ketika perencanaan berubah menjadi kecemasan yang tidak pernah selesai. Kita ingin mengetahui apa yang akan terjadi satu tahun dari sekarang. Kita ingin memastikan semua keputusan menghasilkan sesuatu yang baik. Kita ingin hidup berjalan sesuai dengan rencana. Padahal, tidak semua hal berada dalam kendali kita. Di sinilah tawakal sering disalahpahami. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha dan menyerahkan semuanya kepada keadaan. Justru Al-Qur'an mengajarkan dalam Al-Qur'an bahwa: “Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.”(QS. Ali 'Imran: 159) Ada usaha, ada keputusan, lalu ada kesadaran bahwa manusia tidak menguasai seluruh hasil. Mungkin tawakal adalah cara untuk tetap bekerja tanpa merasa harus mengendalikan seluruh kehidupan. Ketika Dunia Menjadi Keras, Mengapa Kita Harus Memilih Tetap Berbelas Kasih? Dunia yang penuh tekanan dapat membuat manusia berubah. Orang yang lelah menjadi mudah marah. Orang yang takut menjadi mudah curiga. Orang yang merasa terancam bisa kehilangan kemampuan untuk melihat manusia lain dengan kasih sayang. Namun, justru di tengah keadaan seperti itulah nilai rahmat menjadi semakin penting. Allah SWT berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107) Rasulullah SAW hadir sebagai pembawa rahmat. Keteladanan ini mengajarkan bahwa kerasnya dunia tidak harus selalu dibalas dengan kekerasan. Kita mungkin tidak dapat mengendalikan seluruh berita buruk yang muncul. Kita tidak bisa menghentikan semua konflik. Kita juga tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah manusia. Tetapi kita masih dapat memilih bagaimana keberadaan kita memengaruhi dunia di sekitar kita. Apakah kita menambah kemarahan atau mengurangi ketegangan? Apakah kita memperpanjang kebencian atau berusaha menjaga kemanusiaan? Apakah keberadaan kita hanya mengambil perhatian, atau juga memberikan manfaat? Berhenti Sejenak untuk Mengingat Arah Mungkin masalah terbesar manusia hari ini bukan hanya dunia yang bergerak terlalu cepat. Tetapi kita yang terlalu sibuk mengikuti gerakannya hingga lupa bertanya tentang sebenarnya, kita sedang menuju ke mana? Keteladanan Rasulullah SAW tidak harus dipahami sebagai cerita masa lalu yang hanya dikenang pada waktu tertentu. Ia dapat menjadi cermin untuk melihat kembali kehidupan kita hari ini. Kesabaran mengajarkan kita agar tidak dikendalikan oleh setiap tekanan. Tawakal mengingatkan bahwa hidup tidak harus selalu berada dalam kendali kita. Menjaga lisan mengajarkan bahwa tidak semua hal harus ditanggapi. Sementara rahmat mengingatkan bahwa sekeras apa pun dunia, kita masih memiliki pilihan untuk tidak ikut menjadi keras. Di tengah notifikasi yang tidak berhenti, tuntutan yang terus bertambah, dan masa depan yang sering membuat cemas, mungkin kita memang tidak bisa membuat dunia menjadi lebih sunyi. Tetapi kita dapat menciptakan ruang di dalam diri agar dunia tidak mengambil seluruh kendali atas hidup kita. Dan mungkin, di situlah keteladanan Rasulullah SAW terasa begitu dekat yang bukan karena beliau hidup dalam dunia yang sama dengan kita, tetapi karena nilai-nilai yang beliau bawa tetap dapat membantu manusia menjaga dirinya agar tidak hilang di tengah dunia yang tidak pernah diam.
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Satu Gerobak, Satu Usaha, dan Sebuah Harapan untuk Keluarga
Satu Gerobak, Satu Usaha, dan Sebuah Harapan untuk Keluarga
Ada keluarga yang tidak sedang meminta hidup mewah. Mereka hanya ingin satu hal sederhana: kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan halal setiap hari. Bagi sebagian orang, sebuah gerobak mungkin terlihat seperti benda biasa. Namun bagi keluarga yang sedang berjuang, satu gerobak bisa menjadi awal dari sebuah usaha. Dari sana, makanan bisa dijual, pelanggan bisa datang, penghasilan bisa dikumpulkan, dan kebutuhan keluarga perlahan dapat dipenuhi. Inilah mengapa bantuan modal usaha bukan sekadar memberikan barang. Di balik sebuah gerobak, ada ikhtiar, harga diri, harapan, dan masa depan sebuah keluarga. Ketika Satu Gerobak Menjadi Awal Perubahan Keterbatasan ekonomi sering kali membuat seseorang berada dalam posisi sulit. Mereka memiliki kemauan untuk bekerja, tetapi tidak memiliki modal yang cukup untuk memulai. Ada yang memiliki keterampilan memasak, tetapi tidak mempunyai tempat untuk berjualan. Ada yang mampu membuat makanan ringan, tetapi belum memiliki sarana untuk memasarkannya. Ada pula yang setiap hari ingin bekerja, namun modal yang terbatas membuat langkah mereka terhenti. Padahal, terkadang yang dibutuhkan bukan bantuan besar untuk selamanya. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk memulai. Satu gerobak usaha dapat menjadi salah satu bentuk dukungan yang memberikan kesempatan tersebut. Gerobak itu bisa digunakan untuk berjualan makanan, minuman, gorengan, sarapan, atau berbagai usaha kecil lainnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi penerima manfaat. Dari usaha kecil tersebut, diharapkan muncul penghasilan yang dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang Tidak Berhenti pada Hari Ini Bantuan konsumtif memang dapat meringankan kebutuhan sesaat. Namun bantuan berupa sarana usaha memiliki harapan yang lebih panjang. Ketika seseorang mendapatkan gerobak untuk berjualan, misalnya, bantuan tersebut dapat menjadi alat untuk menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan. Hari ini gerobaknya diberikan. Besok ia mulai berjualan. Hari berikutnya ia mendapatkan pelanggan. Perlahan, keuntungan dikumpulkan. Dari keuntungan tersebut, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi. Anak-anak dapat terus bersekolah. Kebutuhan rumah tangga dapat terbantu. Dan yang tidak kalah penting, penerima manfaat memiliki kesempatan untuk berdiri dengan usahanya sendiri. Islam Mengajarkan Kita untuk Saling Menguatkan Membantu seseorang agar mampu memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan bagian dari semangat kepedulian dalam Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma'idah: 2) Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebaikan akan menjadi lebih kuat ketika dilakukan bersama. Ketika seseorang memiliki kelebihan rezeki dan kemudian menggunakannya untuk membantu orang lain agar dapat berusaha, maka ada nilai kepedulian yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan bantuan. Menolong dengan Cara yang Memberdayakan Kepedulian tidak selalu harus berbentuk pemberian uang tunai. Kadang, bentuk bantuan terbaik adalah memberikan alat agar seseorang bisa bekerja. Satu gerobak dapat menjadi sarana bagi seorang ibu untuk berjualan makanan. Satu gerobak dapat menjadi tempat seorang ayah mencari nafkah. Satu gerobak dapat menjadi awal bagi sebuah keluarga untuk perlahan keluar dari kesulitan ekonomi. Inilah semangat pemberdayaan: bukan hanya membantu seseorang melewati hari ini, tetapi juga membuka jalan agar ia memiliki peluang menjalani hari-hari berikutnya dengan lebih mandiri. Rasulullah ? Mengajarkan Keutamaan Membantu Sesama Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa membantu meringankan kesulitan orang lain merupakan amal yang memiliki keutamaan besar. Beliau bersabda: “Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang Muslim dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Allah akan memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Abu Dawud no. 4946) Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu orang lain bukanlah tindakan yang sia-sia. Ada doa yang mungkin tidak pernah kita dengar. Ada rasa syukur yang mungkin tidak pernah kita lihat. Ada perjuangan sebuah keluarga yang mungkin tidak pernah kita ketahui seluruhnya. Namun kebaikan tetap tercatat sebagai amal. Satu Gerobak, Banyak Harapan Bayangkan ketika sebuah gerobak usaha mulai digunakan. Pagi hari, seorang ibu menyiapkan bahan makanan. Ia memasak dengan penuh harapan. Kemudian makanan tersebut dibawa ke tempat berjualan. Satu pelanggan datang. Kemudian dua. Lalu beberapa pelanggan lainnya. Tidak semua hari menghasilkan keuntungan besar. Tidak selalu dagangan habis. Ada hari yang mudah dan ada pula hari yang penuh tantangan. Tetapi ada sesuatu yang berbeda. Kini ada jalan untuk berusaha. Bantuan yang diterima tidak hanya menjadi sesuatu yang disimpan, tetapi digunakan sebagai sarana untuk menghasilkan. Dari Gerobak Menjadi Penghasilan Inilah alasan mengapa program bantuan usaha kecil memiliki makna yang begitu besar. Sebuah gerobak mungkin tidak langsung mengubah kehidupan seseorang dalam semalam. Namun gerobak tersebut dapat menjadi modal awal untuk sebuah perjalanan. Dari usaha kecil, seseorang bisa belajar mengelola modal. Dari keuntungan kecil, ia bisa menyisihkan sebagian untuk membeli bahan baku berikutnya. Dari pelanggan yang bertambah, omzet dapat berkembang. Dan jika dikelola dengan baik, usaha tersebut berpotensi menjadi sumber penghasilan keluarga. Tidak ada yang bisa menjamin seberapa besar perkembangan usaha seseorang. Namun memberikan kesempatan untuk berusaha adalah salah satu bentuk ikhtiar yang nyata. Karena di Balik Penerima Manfaat, Ada Keluarga yang Menunggu Sering kali ketika kita melihat bantuan usaha, kita hanya melihat penerimanya. Padahal di belakangnya ada keluarga. Ada anak yang membutuhkan biaya sekolah. Ada kebutuhan makan setiap hari. Ada biaya listrik. Ada kebutuhan kesehatan. Ada kebutuhan rumah tangga lainnya. Karena itu, ketika kita membantu satu orang mendapatkan sarana usaha, dampaknya berpotensi dirasakan oleh seluruh anggota keluarganya. Satu gerobak mungkin digunakan oleh satu orang, tetapi harapannya dapat menghidupi satu keluarga. Dan mungkin, suatu hari nanti, keluarga tersebut tidak lagi menjadi penerima bantuan. Mereka justru bisa menjadi orang yang membantu keluarga lainnya. Saatnya Mengubah Sedekah Menjadi Sebuah Kesempatan Sedekah bukan hanya tentang berapa besar nominal yang kita keluarkan. Lebih dari itu, ada tentang seberapa besar manfaat yang dapat lahir dari kebaikan tersebut. Ketika sebagian rezeki kita digunakan untuk membantu seseorang mendapatkan sarana usaha, kita sedang ikut membuka sebuah pintu. Pintu untuk bekerja. Pintu untuk berusaha. Pintu untuk mendapatkan penghasilan halal. Dan pintu untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih baik. Jangan Tunggu Kaya untuk Berbagi Kadang kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, kita harus memiliki uang dalam jumlah besar. Padahal kebaikan dapat dimulai dari kemampuan yang kita miliki. Jika banyak orang ikut berkontribusi, bantuan yang awalnya terasa berat dapat menjadi lebih ringan. Sedikit dari kita. Sedikit dari yang lain. Kemudian terkumpul menjadi sebuah gerobak. Gerobak itu kemudian menjadi usaha. Usaha tersebut menjadi penghasilan. Dan penghasilan tersebut menjadi harapan bagi sebuah keluarga. Begitulah kebaikan bekerja. Ia bermula dari sesuatu yang kecil, tetapi dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar. Mari Hadirkan Harapan Melalui Bantuan Usaha Hari ini, mungkin kita memiliki rezeki yang cukup untuk membeli kebutuhan keluarga. Sementara di luar sana, ada seseorang yang sebenarnya ingin bekerja tetapi belum memiliki modal untuk memulainya. Ia tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin kesempatan. Kesempatan untuk berjualan. Kesempatan untuk mendapatkan penghasilan. Kesempatan untuk menafkahi keluarga dengan usaha yang halal. Maka, jika kita memiliki kesempatan untuk membantu, jangan biarkan kesempatan tersebut berlalu begitu saja. Mari bersama menghadirkan satu gerobak untuk satu keluarga. Bukan sekadar gerobak. Bukan sekadar bantuan. Tetapi sebuah jalan menuju kemandirian. Satu Kebaikan dari Anda Bisa Menjadi Awal Perubahan Mari salurkan zakat, infak, atau sedekah melalui program pemberdayaan ekonomi BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap dukungan yang diberikan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan agar memiliki kesempatan berusaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Satu Gerobak, Satu Usaha, dan Sebuah Harapan untuk Keluarga Bagi sebagian orang, sebuah gerobak mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang berjuang, satu gerobak bisa menjadi awal dari sebuah usaha, sumber penghasilan, dan jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Uluran Tangan Kecil yang Mengubah Nasib Besar
Uluran Tangan Kecil yang Mengubah Nasib Besar
Uluran Tangan Kecil yang Mengubah Nasib Besar Pernahkah kita berpikir bahwa bantuan yang menurut kita kecil ternyata bisa menjadi harapan besar bagi orang lain? Sejumlah uang yang kita sisihkan, makanan yang kita berikan, atau perhatian sederhana yang kita tunjukkan mungkin terlihat biasa. Namun, bagi seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, uluran tangan kecil bisa menjadi awal dari perubahan besar. Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan memiliki nilai di sisi Allah SWT. Karena itu, jangan menunggu menjadi kaya atau memiliki banyak waktu untuk mulai membantu sesama. Selama masih memiliki kesempatan, mari jadikan sebagian rezeki sebagai jalan menghadirkan manfaat. Kebaikan Kecil Tidak Pernah Sia-Sia Allah SWT berfirman: “Siapakah yang mau memberi pinjaman yang baik kepada Allah? Dia akan melipatgandakannya untuknya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki), dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah: 245) Ayat ini mengingatkan bahwa harta yang kita keluarkan untuk kebaikan tidaklah benar-benar hilang. Apa yang kita berikan dengan ikhlas justru menjadi amal yang bernilai di hadapan Allah SWT. Jangan Menunggu Memiliki Banyak Sering kali kita berpikir, “Nanti kalau sudah punya lebih banyak, saya akan membantu.” Padahal, kebutuhan orang lain tidak selalu menunggu sampai kita merasa cukup. Hari ini kita mungkin masih memiliki makanan yang cukup, penghasilan, tempat tinggal, dan kesehatan. Semua itu merupakan nikmat sekaligus kesempatan untuk berbagi. Tidak harus dalam jumlah besar. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kepedulian. Satu Uluran Tangan Bisa Membawa Perubahan Bantuan yang kita berikan dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan. Sebungkus makanan dapat membantu seseorang melewati hari. Bantuan pendidikan dapat menjaga semangat seorang anak untuk terus belajar. Dukungan modal usaha dapat membantu keluarga bangkit dan memperoleh penghasilan kembali. Ketika Bantuan Menjadi Harapan Ada banyak orang yang tidak meminta kehidupan mewah. Mereka hanya ingin memiliki kesempatan untuk hidup dengan lebih layak. Di sinilah kepedulian kita menjadi berarti. Ketika sebagian rezeki disalurkan melalui zakat, infak, dan sedekah, bantuan tersebut dapat diarahkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pangan, pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi. Sedikit dari Kita, Besar bagi Mereka Kita mungkin menganggap nominal tertentu tidak terlalu besar. Namun, jika dilakukan bersama-sama, kebaikan kecil dari banyak orang dapat berubah menjadi kekuatan yang besar. Bayangkan jika satu orang membantu satu keluarga, lalu ribuan orang melakukan hal yang sama. Akan ada lebih banyak kehidupan yang terbantu, lebih banyak harapan yang tumbuh, dan lebih banyak keluarga yang memiliki kesempatan untuk bangkit. Rasulullah SAW Mengajarkan Kepedulian Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya membantu dan meringankan kesulitan orang lain. Beliau bersabda: “Barang siapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa membantu sesama bukan hanya memberikan manfaat kepada penerima. Kebaikan itu juga menjadi amal yang mendekatkan kita kepada pertolongan Allah SWT. Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Kepedulian tanpa tindakan mungkin hanya menjadi niat. Karena itu, jangan biarkan rasa iba berhenti dalam hati. Mari ubah kepedulian menjadi aksi nyata. Ulurkan Tangan, Hadirkan Harapan Tidak perlu menunggu memiliki harta berlimpah. Mulailah dari apa yang kita mampu. Sisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan dan salurkan melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola secara amanah dan tepat sasaran. Mungkin bagi kita, bantuan itu hanya sebagian kecil dari apa yang dimiliki. Namun, bagi penerimanya, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk keluarga, biaya sekolah, pengobatan, atau kesempatan untuk memulai kembali kehidupan. Mari Menjadi Bagian dari Perubahan Masih banyak saudara kita yang sedang berjuang menghadapi keterbatasan. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar rasa kasihan; mereka membutuhkan kepedulian, dukungan, dan kesempatan untuk bangkit. Hari ini, kita memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut. Mari sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, atau sedekah. Karena kita tidak pernah tahu, mungkin uluran tangan kecil dari kita adalah jawaban atas doa seseorang yang sedang menanti pertolongan. Jangan menunggu mampu memberi banyak. Mulailah dengan apa yang ada, karena kebaikan kecil yang dilakukan bersama dapat mengubah nasib besar.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Kapan Uang Berhenti Menjadi Alat dan Mulai Menjadi Tuan?
Kapan Uang Berhenti Menjadi Alat dan Mulai Menjadi Tuan?
Kapan Uang Berhenti Menjadi Alat dan Mulai Menjadi Tuan? Hampir setiap hari, kita memikirkan uang. Berapa penghasilan yang harus dicari. Berapa harga yang kembali naik. Berapa banyak yang harus disimpan untuk menghadapi masa depan. Di tengah biaya hidup yang terasa semakin berat dan kondisi ekonomi yang sering berubah, keinginan untuk memiliki keamanan finansial adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Tidak ada yang salah dengan ingin memiliki penghasilan yang lebih baik. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, membangun usaha, menabung, atau mempersiapkan masa depan. Masalahnya bukan ketika manusia mencari uang. Pertanyaannya adalah "kapan pencarian itu mulai mengambil alih seluruh arah hidup kita?" Sebab uang pada awalnya hanyalah alat. Namun tanpa disadari, alat yang seharusnya kita gunakan dapat perlahan berubah menjadi sesuatu yang menentukan apa yang kita kejar, apa yang kita tinggalkan, bahkan siapa diri kita. Ketika Rasa Aman Berubah Menjadi Rasa Tidak Pernah Cukup Ketidakpastian ekonomi membuat manusia ingin mempersiapkan diri. Kita ingin memiliki tabungan. Mencari pekerjaan yang lebih baik. Menambah sumber penghasilan. Belajar mengelola keuangan agar tidak mudah jatuh ketika keadaan berubah. Semua itu bentuk ikhtiar. Namun ada perbedaan tipis antara mempersiapkan masa depan dan hidup dalam ketakutan yang tidak pernah selesai terhadap masa depan. Kita mulai merasa bahwa apa pun yang dimiliki belum cukup. Setelah mencapai satu angka, muncul angka berikutnya. Setelah memperoleh satu sumber penghasilan, kita merasa harus mencari sumber lainnya. Ketika pendapatan bertambah, standar rasa aman juga ikut naik. Di sinilah uang tidak lagi sekadar menjawab kebutuhan. Ia mulai menentukan kapan kita merasa aman, kapan kita merasa berhasil, bahkan kapan kita merasa cukup. Padahal, jika rasa cukup selalu menunggu jumlah tertentu, mungkin masalahnya bukan pada sedikitnya uang yang kita miliki. Bisa jadi, kita sedang menyerahkan definisi “cukup” kepada sesuatu yang memang tidak mengenal kata selesai. Budaya Hustle dan Lahirnya “Hamba Cuan” Hari ini, bekerja keras sering kali tidak lagi cukup. Kita juga didorong untuk selalu menghasilkan. Waktu luang dianggap peluang yang belum dimonetisasi. Hobi harus menjadi bisnis. Kemampuan harus menghasilkan uang. Bahkan pertanyaan “Apa untungnya buat saya?” perlahan menjadi ukuran untuk menentukan apakah sesuatu layak dilakukan. Inilah salah satu wajah dari budaya hustle yang perlu direnungkan. Bukan berarti produktif itu buruk. Masalah muncul ketika nilai segala sesuatu hanya diukur dari kemampuannya menghasilkan keuntungan. Waktu bersama keluarga mungkin dianggap tidak produktif. Membantu seseorang dianggap membuang waktu. Istirahat terasa seperti kesalahan. Bahkan pilihan hidup sering hanya dinilai dari besar kecilnya pendapatan. Di titik itu, kita perlu berhenti dan bertanya "Apakah kita sedang menggunakan uang untuk menjalani hidup, atau justru seluruh hidup kita sudah diatur oleh keharusan untuk menghasilkan uang?" Seseorang tidak perlu kaya untuk menjadi “hamba cuan”. Sebaliknya, seseorang yang memiliki banyak harta belum tentu diperbudak olehnya. Persoalannya bukan terletak pada jumlah uang yang dimiliki, melainkan seberapa besar uang memiliki kuasa atas hati dan keputusan kita. Al-Qur'an Tidak Memusuhi Harta Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci harta atau berhenti mengejar kehidupan yang layak. Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan, menjaga keluarga, menuntut ilmu, membangun usaha, bahkan membantu orang lain. Namun Al-Qur'an mengingatkan tentang bahaya ketika keinginan untuk memiliki lebih berubah menjadi kelalaian. Allah SWT berfirman: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”(QS. At-Takatsur: 1–2) Ayat ini mengingatkan kita tentang sebuah perlombaan yang tidak selalu memiliki garis akhir dengan keinginan untuk terus lebih banyak daripada sebelumnya. Lebih banyak harta. Lebih tinggi pencapaian. Lebih besar kepemilikan. Padahal, masalahnya bukan pada harta yang berada di tangan. Masalah muncul ketika harta mulai menentukan nilai manusia dan menguasai arah hidupnya. Seorang Muslim boleh memiliki ambisi, tetapi ambisi tidak boleh membuatnya kehilangan kompas. Hamba Allah Bukan Berarti Menolak Kekayaan Menjadi hamba Allah bukan berarti hidup tanpa cita-cita. Seorang Muslim tetap perlu bekerja, mencari nafkah, merencanakan masa depan, dan berusaha memperbaiki kehidupannya. Namun ada perbedaan mendasar antara menjadikan uang sebagai tujuan tertinggi dan menjadikannya sebagai sarana untuk menjalankan tujuan yang lebih besar. Ketika uang menjadi tujuan utama, hampir semua hal akan dihitung dengan keuntungan pribadi. Tetapi ketika seseorang memiliki nilai yang lebih tinggi daripada uang, ia tetap mampu bertanya: Apakah cara saya mencari rezeki benar? Apakah keberhasilan ini membuat saya lebih bermanfaat? Apakah saya sedang membangun kehidupan, atau hanya terus mengejar angka? Di sinilah seorang Muslim tidak hanya dituntut pandai mencari harta, tetapi juga memahami untuk apa harta itu dicari dan ke mana ia seharusnya membawa kehidupan. ZIS: Ketika Harta Tidak Berhenti Berputar di Sekitar Diri Kita Zakat, infak, dan sedekah memberikan satu pelajaran penting bahwa tidak semua yang berada dalam genggaman harus berakhir untuk kepentingan diri sendiri. Zakat mengingatkan bahwa dalam harta terdapat kewajiban yang harus ditunaikan ketika syaratnya terpenuhi. Infak dan sedekah membuka ruang agar kepemilikan tidak membuat hati tertutup terhadap kebutuhan orang lain. Di sinilah ZIS bukan sekadar aktivitas mengeluarkan uang. Ia menjadi latihan untuk menjaga posisi kita terhadap harta. Kita bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi kita tidak membiarkannya menjadi pusat dari seluruh kehidupan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, zakat, infak, dan sedekah yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan untuk membantu masyarakat melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan kebutuhan sosial lainnya. Dengan begitu, harta tidak hanya bergerak menuju kepuasan pribadi, tetapi juga dapat berubah menjadi manfaat yang dirasakan lebih luas. Jadi, Siapa yang Sebenarnya Memegang Kendali? Pada akhirnya, kita memang membutuhkan uang. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa hidup dapat berjalan tanpa memikirkannya. Namun, kita juga perlu memastikan bahwa uang tidak menjadi satu-satunya alasan kita menjalani hidup. Karena mungkin pertanyaan terpenting bukan tentang, “Berapa banyak uang yang sudah saya miliki?”. Tetapi, tentang “Seberapa banyak dari hidup saya yang sudah dikendalikan oleh uang?” Kita boleh mengejar rezeki. Boleh bercita-cita tinggi. Boleh ingin hidup lebih baik. Tetapi jangan sampai, dalam perjalanan mengejar uang untuk membangun kehidupan, kita justru menyerahkan kehidupan sepenuhnya kepada uang. Sebab uang seharusnya tetap berada di tangan untuk digunakan, bukan naik ke tempat yang lebih tinggi untuk menentukan siapa yang kita layani dan ke arah mana hidup kita berjalan.
ARTIKEL26/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mereka Tidak Butuh Dikasihani, Mereka Hanya Butuh Kesempatan
Mereka Tidak Butuh Dikasihani, Mereka Hanya Butuh Kesempatan
Ada orang-orang yang setiap hari berjuang dalam diam. Mereka bangun pagi, bekerja keras, menahan lelah, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan kemampuan yang mereka punya. Namun, ketika keadaan ekonomi semakin sulit, yang mereka butuhkan sering kali bukan sekadar rasa iba. Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka hanya butuh kesempatan. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk memiliki usaha. Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesempatan untuk bangkit setelah jatuh. Dan yang paling penting, kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka mampu mengubah kehidupan dengan tangannya sendiri. Di sinilah kepedulian melalui zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang jauh lebih besar. Bantuan yang tepat bukan hanya membuat seseorang bertahan hari ini, tetapi bisa menjadi jalan agar mereka mampu berdiri sendiri di masa depan. Bukan Sekadar Memberi, Tetapi Membuka Jalan Memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan tentu merupakan perbuatan mulia. Namun, ada perbedaan besar antara memberi karena kasihan dan memberi dengan tujuan memberdayakan. Rasa kasihan mungkin hanya menghasilkan bantuan sesaat. Sementara pemberdayaan dapat menciptakan perubahan yang lebih panjang. Seseorang mungkin membutuhkan makanan hari ini. Tetapi bagaimana jika setelah itu ia mendapatkan modal usaha kecil? Bagaimana jika seorang ibu yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga mendapatkan peralatan untuk berjualan? Bagaimana jika seorang pemuda yang tidak memiliki keterampilan memperoleh pelatihan sehingga bisa mendapatkan pekerjaan? Di situlah sebuah bantuan berubah menjadi kesempatan. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2) Ayat ini mengajarkan bahwa kepedulian bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga bagaimana kita mengambil bagian dalam kebaikan. Mereka Punya Potensi, Hanya Belum Mendapat Kesempatan Jangan Melihat Kekurangan, Lihat Potensinya Sering kali kita melihat seseorang dari kondisi yang sedang mereka alami. Ketika melihat seseorang hidup dalam keterbatasan, kita langsung menyebutnya “orang tidak mampu”. Padahal, kondisi ekonomi hari ini tidak selalu menggambarkan kemampuan seseorang untuk masa depan. Bisa jadi di balik seorang pedagang kecil terdapat calon pengusaha. Di balik seorang ibu yang berjualan sederhana terdapat sosok yang mampu menopang keluarganya. Di balik seorang pemuda yang belum memiliki pekerjaan terdapat seseorang yang sebenarnya memiliki keterampilan, tetapi belum menemukan ruang untuk berkembang. Mereka mungkin tidak kekurangan semangat. Mereka hanya kekurangan kesempatan. Karena itu, program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, pendidikan, hingga pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat keluar dari kesulitan. Bantuan yang Mengubah “Menerima” Menjadi “Menghasilkan” Bayangkan seseorang menerima bantuan kebutuhan pokok. Bantuan tersebut tentu sangat berarti. Tetapi ketika ia memperoleh modal usaha dan pendampingan, manfaatnya bisa berkembang. Hari ini ia menerima modal. Besok ia mulai berjualan. Beberapa bulan kemudian usahanya berkembang. Lalu ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan suatu hari, mungkin ia bisa menjadi orang yang membantu orang lain. Inilah indahnya zakat dan sedekah yang dikelola untuk pemberdayaan. Kebaikan tidak berhenti pada satu penerima, tetapi dapat menciptakan rantai manfaat yang lebih panjang. Islam Mengajarkan Kita untuk Meringankan Kesulitan Islam sangat mendorong umatnya untuk membantu sesama. Bahkan, Rasulullah SAW memberikan gambaran bahwa membantu orang lain merupakan jalan datangnya pertolongan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim No. 2699) Hadis ini begitu kuat untuk menjadi pengingat bahwa membantu sesama bukanlah kerugian. Saat kita meringankan beban seseorang, Allah menjanjikan pertolongan-Nya. Sedekah Bisa Menjadi Awal dari Sebuah Perubahan Jangan Meremehkan Kebaikan yang Kecil Kadang kita berpikir, “Sedekah saya sedikit. Apakah benar-benar bisa membantu?” Jawabannya: bisa. Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah mengembangkan sebuah kebaikan. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Satu sedekah mungkin terlihat kecil di mata manusia. Namun, jika dikumpulkan dan dikelola dengan amanah, sedekah dapat menjadi modal usaha, bantuan pendidikan, layanan kesehatan, bantuan pangan, hingga program pemberdayaan ekonomi. Karena itu, jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Mulailah dari apa yang kita mampu. Beri Mereka Kesempatan untuk Berdiri dengan Kaki Sendiri Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat seseorang yang sebelumnya membutuhkan bantuan akhirnya mampu mandiri. Seorang ibu yang dahulu hanya berharap bantuan, kini mampu menghasilkan pendapatan dari usaha kecilnya. Seorang pemuda yang dahulu kesulitan mencari pekerjaan, kini memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk bekerja. Sebuah keluarga yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan harian, perlahan mampu membangun kehidupan yang lebih baik. Perubahan seperti ini mungkin tidak terjadi dalam satu malam. Tetapi semuanya bisa dimulai dari satu kesempatan. Dari Mustahik Menjadi Orang yang Berdaya Semangat pemberdayaan sesungguhnya bukan hanya membuat seseorang menerima bantuan, tetapi mendorong mereka agar memiliki kemampuan untuk keluar dari kesulitan. Inilah mengapa zakat, infak, dan sedekah memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen perubahan sosial. Dana yang kita titipkan melalui lembaga pengelola zakat dapat diarahkan kepada berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan bantuan kemanusiaan. Tujuannya bukan sekadar membuat mereka bertahan. Tujuannya adalah membantu mereka memiliki masa depan. Jangan Berhenti pada Rasa Kasihan Rasa iba adalah awal yang baik. Tetapi jangan berhenti di sana. Ketika melihat seseorang membutuhkan bantuan, mari bertanya lebih jauh: “Apa yang bisa kita lakukan agar mereka memiliki kesempatan untuk bangkit?” Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita memandang sedekah. Bukan lagi sekadar memberikan sesuatu kepada seseorang yang kekurangan. Tetapi ikut menciptakan jalan agar seseorang bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Sebab, mungkin bantuan yang kita berikan hari ini bukan hanya menyelesaikan masalah seseorang untuk satu hari. Bisa jadi, bantuan itu menjadi awal dari perubahan hidup sebuah keluarga. Saatnya Mengubah Kepedulian Menjadi Aksi Kita mungkin tidak mampu membantu semua orang. Kita juga mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Namun, kita selalu bisa mengambil bagian. Tidak harus menunggu memiliki banyak harta. Tidak harus menunggu menjadi orang kaya. Bahkan kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi berarti ketika diberikan pada waktu dan tempat yang tepat. Allah tidak menilai kebaikan hanya dari besarnya nominal, tetapi keikhlasan dan manfaat yang lahir darinya adalah bagian penting dari amal. Karena itu, mari jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai bentuk kepedulian nyata. Bukan sekadar memberi karena kasihan, tetapi memberi kesempatan agar mereka mampu bangkit. Mungkin bagi kita, sejumlah uang yang disedekahkan hanyalah sebagian kecil dari penghasilan. Namun bagi seseorang yang sedang berjuang, itu bisa menjadi modal untuk memulai usaha. Bagi seorang anak, bisa menjadi biaya pendidikan. Bagi sebuah keluarga, bisa menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dan bagi seorang mustahik, kesempatan itu mungkin menjadi titik balik kehidupannya.
ARTIKEL26/08/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →