WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Kurban Bukan Hanya Tentang Menyembelih Hewan
Kurban Bukan Hanya Tentang Menyembelih Hewan
Kurban Bukan Hanya Tentang Menyembelih Hewan Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Pada hari tersebut, umat Islam melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih hewan seperti kambing, sapi, atau domba sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, kurban sebenarnya bukan hanya tentang menyembelih hewan. Di balik ibadah ini terdapat makna mendalam tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur'an bahwa inti ibadah kurban bukan terletak pada darah atau daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan orang yang menjalankannya. Dalam surat Al-Hajj ayat 37 disebutkan: “Daging (hewan kurban) dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” — QS. Al-Hajj : 37 Ayat tersebut mengajarkan bahwa kurban adalah bentuk ibadah yang ketegangan ketulusan hati dan keikhlasan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, seseorang yang berkurban hendaknya tidak hanya fokus pada pelaksanaan ritual, tetapi juga memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Makna kurban juga tidak bisa tertinggal dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa. Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih anak, Nabi Ismail menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Allah SWT berfirman dalam surat Ash-Shaffat ayat 102: "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Ia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insyaAllah kamu akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar.” — QS. Asy-Syafat : 102 Dari kisah tersebut, umat Islam belajar bahwa kurban bukan hanya soal materi, melainkan tentang kesiapan untuk mengorbankan sesuatu yang dicintai demi menjalankan perintah Allah SWT. Nilai inilah yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan modern, semangat kurban dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Tidak selalu harus berupa hewan atau harta benda, tetapi juga mengorbankan waktu, tenaga, dan perhatian untuk membantu orang lain. Misalnya, membantu tetangga yang mengalami kesulitan, menyisihkan sebagian rezeki untuk orang yang membutuhkan, atau menyumbangkan waktu untuk kegiatan sosial merupakan bentuk pengorbanan yang bernilai mulia. Selain mengajarkan keikhlasan, ibadah kurban juga memiliki nilai sosial yang sangat kuat. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama mereka yang kurang mampu. Dari sini terlihat bahwa Islam mengajarkan pentingnya berbagi kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan. Kurban menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa peduli dan empati terhadap sesama manusia. Rasulullah SAW juga menjelaskan besarnya keutamaan ibadah kurban. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Tidak ada amalan yang dilakukan manusia pada Hari Raya Kurban yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.” — SDM. Tirmidzi Hadis tersebut menunjukkan bahwa kurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu. Namun, pelaksanaannya harus disertai niat yang tulus dan semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW juga menggambarkan besarnya pahala bagi orang yang berkurban. Beliau bersabda: “Pada setiap helai bulu hewan kurban terdapat kebaikan.” — SDM. Ahmad dan Ibnu Majah Hadis ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk melaksanakan kurban dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur. Setiap pengorbanan yang dilakukan di jalan Allah akan mendapatkan balasan yang baik. Di sisi lain, ibadah kurban juga mengajarkan manusia untuk tidak terlalu mencintai harta benda secara berlebihan. Saat seseorang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk membeli hewan kurban, ia sedang belajar untuk mengendalikan sifat duniawi dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sikap seperti ini sangat penting di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia terlalu sibuk mengejar materi. Kurban juga sarana menjadi mempererat kebersamaan dalam masyarakat. Proses penyembelihan hingga pembagian daging biasanya dilakukan secara gotong royong. Momen tersebut menciptakan suasana hangat, penuh kepedulian, dan rasa persaudaraan. Anak-anak pun dapat belajar tentang pentingnya berbagi dan membantu sesama sejak dini. Pada akhirnya, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan semata. Lebih dari itu, kurban adalah pelajaran tentang keikhlasan, ketakwaan, kepedulian sosial, dan pengorbanan demi kebaikan yang lebih besar. Jika nilai-nilai tersebut mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka ibadah kurban tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi jalan untuk membentuk pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT. Ayo Tebar Kebaikan Lewat Ibadah Kurban Kurban bukan hanya tentang menyemangati hewan, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan, memperkuat kepedulian sosial, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Melalui ibadah kurban, kita belajar arti keikhlasan dan berkontribusi demi membantu sesama yang membutuhkan. Mari jadikan momen Iduladha tahun ini lebih bermakna dengan ikut berkurban dan menebar manfaat bagi banyak orang. Setiap daging kurban yang mati akan menghadirkan senyum dan kebahagiaan bagi mereka yang berkeringat. Bagi Anda yang ingin menyampaikan hewan kurban atau berdonasi kurban, silakan kunjungi website berikut: Konfirmasi CS BAZNAS : 081111112807 “Semoga setiap langkah kebaikan dan pengorbanan yang dilakukan menjadi amal ibadah yang diterima Allah SWT.”
ARTIKEL20/05/2026 | BAZNAS
Panduan Lengkap Cara Menghitung Zakat 2026: Mudah, dan Sesuai Syariat
Panduan Lengkap Cara Menghitung Zakat 2026: Mudah, dan Sesuai Syariat
Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Selain sebagai kewajiban ibadah, zakat berperan dalam menyucikan harta dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, memahami cara menghitung zakat secara benar dan sesuai syariat menjadi hal penting bagi setiap Muslim. Dengan mengetahui perhitungan zakat yang tepat, ibadah dapat ditunaikan dengan tenang serta memberi dampak maksimal bagi para mustahik (penerima zakat). Di Indonesia, tata kelola zakat telah diatur secara resmi oleh pemerintah bersama lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi. Penetapan nisab, kadar, dan mekanisme pengelolaan zakat mengacu pada prinsip syariat Islam serta kondisi ekonomi masyarakat. Makna dan Kewajiban Zakat dalam Islam Secara bahasa, zakat berarti suci, tumbuh, dan penuh keberkahan. Dalam syariat, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan apabila telah memenuhi syarat nisab dan haul. Allah SWT berfirman: &ldquo;Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka&hellip;&rdquo;(QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menegaskan bahwa zakat tidak hanya berdampak pada penerima, tetapi juga menyucikan jiwa dan harta pemberinya. Jenis Zakat yang Perlu Dipahami Sebelum menghitung zakat, penting mengetahui jenis-jenisnya: 1. Zakat Fitrah Zakat fitrah wajib ditunaikan menjelang Idulfitri oleh setiap Muslim.Untuk tahun 1447 H/2026 M, besaran zakat fitrah ditetapkan sebesar Rp45.000 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram. Penetapan ini disesuaikan dengan rata-rata harga beras di berbagai daerah sesuai dengan kondisi masyarakat. 2. Zakat Mal (Zakat Harta) - Zakat mal mencakup: - Zakat penghasilan/profesi - Zakat emas dan perak - Zakat perdagangan - Zakat pertanian - Zakat tabungan dan investasi Masing-masing memiliki ketentuan nisab dan cara perhitungan tersendiri. Cara Menghitung Zakat Penghasilan Tahun 2026 Zakat penghasilan dikenakan pada pendapatan rutin seperti gaji, honorarium, atau jasa profesional. BAZNAS RI menetapkan nisab zakat penghasilan tahun 2026 sebesar: Rp7.640.144 per bulan Rp91.681.728 per tahun Nilai ini setara dengan 85 gram emas 14 karat, berdasarkan harga rata-rata emas tahun 2025. Penetapan ini mengacu pada PMA Nomor 31 Tahun 2019 serta Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2003 tentang zakat penghasilan. Jika penghasilan seorang Muslim mencapai atau melebihi nisab tersebut, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5 persen. Rumus Cara Hitung Zakat Penghasilan Zakat = 2,5 persen &times; Penghasilan Bersih Contoh: Jika penghasilan bersih per bulan = Rp10.000.000Karena melebihi nisab Rp7.640.144: Zakat = 2,5 persen &times; Rp10.000.000= Rp250.000 per bulan Jika penghasilan di bawah nisab, zakat tidak wajib, namun dianjurkan bersedekah. Cara Menghitung Zakat Emas Zakat emas wajib ditunaikan jika kepemilikan telah mencapai 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun (haul). Rumus: Zakat = 2,5% &times; Total Nilai Emas Contoh: Memiliki 100 gram emasHarga per gram Rp1.000.000Total nilai = Rp100.000.000Zakat = 2,5% &times; 100.000.000= Rp2.500.000 per tahun Cara Menghitung Zakat Tabungan dan Investasi Tabungan atau investasi yang telah mencapai nisab dan tersimpan selama satu tahun wajib dizakati. Rumus: Zakat = 2,5% &times; Saldo Akhir Contoh: Saldo Rp120.000.000 selama 1 tahunZakat = 2,5% &times; 120.000.000= Rp3.000.000 Cara Menghitung Zakat Perdagangan Zakat perdagangan dihitung dari total aset usaha yang telah berjalan satu tahun. Rumus: Zakat = 2,5% &times; (Modal + Keuntungan + Piutang &ndash; Utang Jatuh Tempo) Contoh: Total aset Rp200.000.000Utang jatuh tempo Rp50.000.000Nilai bersih Rp150.000.000Zakat = 2,5% &times; 150.000.000= Rp3.750.000 Hikmah dan Manfaat Zakat Menunaikan zakat memberikan banyak manfaat, antara lain: Menyucikan harta dan jiwa Mengurangi kesenjangan sosial Membantu fakir miskin dan pemberdayaan ekonomi <li class="MsoNormal" style="--tw-border-spacing-x: 0; --tw-border-spacing-y: 0; --tw-translate-x: 0; --tw-translate-y: 0; --tw-rotate: 0; --tw-skew-x: 0; --tw-skew-y: 0; --tw-scale-x: 1; --tw-scale-y: 1; --tw-scroll-snap-strictness: proximity; --tw-ring-offset-width: 0px; --tw-ring-offset-color: #fff; --tw-ring-color: rgba(63,131,248,.5); --tw-ring-offset-shadow: 0 0 #0000; --tw-ring-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow: 0 0 #0000; --tw-shadow-colored: 0 0 #0000; box-sizing: border-box; border: 0px solid #e5e7eb; margin: 0cm 0cm 0.0001pt; font-size: 12pt; font-family: Calibri, sans-serif;" data-start="3972" data-end=&q
ARTIKEL20/05/2026 | BAZNAS
Jangan Takut Gagal, Karena Gagal Juga Bagian dari Proses Hidup
Jangan Takut Gagal, Karena Gagal Juga Bagian dari Proses Hidup
Jangan Takut Gagal Pernah nggak sih, kamu merasa takut banget untuk mencoba sesuatu karena khawatir gagal? Takut usaha nggak berhasil. Takut kecewa. Takut dianggap tidak mampu oleh orang lain. Perasaan itu wajar. Hampir semua orang pernah mengalaminya. Tapi yang perlu kita ingat, gagal bukan berarti hidup kita berakhir. Gagal itu bagian dari perjalanan hidup yang memang harus dilewati setiap manusia. Kadang kita terlalu fokus pada hasil akhir sampai lupa bahwa semua orang hebat juga pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Tidak ada orang sukses yang langsung berhasil dalam sekali mencoba. Mereka juga pernah jatuh, kecewa, ditolak, bahkan merasa ingin menyerah. Bedanya, mereka memilih untuk bangkit lagi. Sebenarnya, kegagalan bukan sesuatu yang harus dibenci. Karena sering kali justru dari kegagalan itulah kita belajar menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dewasa. Allah SWT berfirman: &ldquo;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.&rdquo; &mdash; QS. Al-Baqarah: 216 Ayat ini mengajarkan kita bahwa tidak semua hal yang terasa menyakitkan itu buruk untuk hidup kita. Kadang apa yang kita anggap sebagai kegagalan ternyata adalah cara Allah menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak baik. Mungkin kamu pernah gagal mendapatkan pekerjaan yang sangat diinginkan. Mungkin pernah ditinggalkan seseorang yang sangat dicintai. Mungkin pernah merasa usaha yang dilakukan bertahun-tahun berakhir sia-sia. Saat itu pasti sakit. Sangat sakit bahkan. Tapi siapa tahu, kalau semua berjalan sesuai keinginanmu waktu itu, justru kamu akan semakin jauh dari Allah, semakin lalai, atau masuk ke lingkungan yang tidak baik untuk hidupmu. Kita sering meminta sesuatu kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa itu yang terbaik. Padahal Allah lebih tahu apa yang benar-benar kita butuhkan. Karena itu, jangan terlalu membenci kegagalan. Bisa jadi hari ini Allah menutup satu jalan, karena Allah sedang menyiapkan jalan lain yang lebih baik untukmu. Kadang manusia ingin semuanya serba cepat. Ingin doa langsung terkabul. Ingin usaha langsung berhasil. Padahal hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang mampu bertahan dan terus berjalan. Kegagalan juga mengajarkan kita tentang arti sabar. Saat semua tidak berjalan sesuai rencana, di situlah hati kita diuji. Apakah kita tetap percaya kepada Allah atau malah menyerah pada keadaan. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.&rdquo; &mdash; HR. Muslim Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Bukan juga berarti harus selalu terlihat baik-baik saja. Karena setiap orang pasti punya luka dan masalahnya masing-masing. Kuat itu ketika kamu tetap mencoba lagi setelah gagal. Kuat itu ketika kamu tetap berdoa meskipun harapan belum terlihat nyata. Kuat itu ketika hatimu masih percaya bahwa Allah punya rencana terbaik, walaupun hidup sedang terasa berat. Jangan malu kalau hari ini kamu sedang berada di titik terendah. Tidak apa-apa berjalan pelan. Tidak apa-apa beristirahat sebentar. Yang penting jangan berhenti. Ingat, bahkan langit pun tidak selalu cerah. Ada waktunya hujan turun sangat deras. Tapi setelah itu, langit akan kembali terang. Begitu juga hidup. Kesedihan tidak akan selamanya tinggal. Kegagalan tidak akan selamanya menetap. Semua akan berlalu. Mungkin hari ini kamu menangis karena merasa hidup tidak adil. Tapi suatu saat nanti kamu akan melihat ke belakang dan berkata: &ldquo;Ternyata kegagalan itu yang membuatku jadi lebih kuat.&rdquo; Banyak orang baru menyadari hikmah dari kegagalan setelah waktu berlalu cukup lama. Karena memang tidak semua jawaban bisa langsung kita pahami sekarang. Tugas kita hanyalah terus berusaha, terus berdoa, dan terus percaya kepada Allah. Kalau hari ini gagal, coba lagi. Kalau jatuh, bangkit lagi. Kalau lelah, istirahat sebentar lalu lanjutkan lagi. Jangan menyerah hanya karena satu atau dua kegagalan. Karena siapa tahu, keberhasilanmu tinggal selangkah lagi. Dan jangan terlalu sibuk membandingkan hidupmu dengan orang lain. Setiap orang punya waktunya masing-masing. Ada yang berhasil lebih cepat, ada yang harus melewati banyak ujian dulu sebelum sampai di titik bahagia. Tidak masalah. Karena hidup bukan perlombaan. Yang terpenting adalah tetap berjalan di jalan yang baik dan tidak kehilangan harapan kepada Allah. Percayalah, Allah tidak pernah tidur. Allah melihat setiap air mata, setiap doa, setiap perjuangan yang diam-diam kamu lakukan. Mungkin manusia lain tidak mengerti lelahmu, tapi Allah tahu. Jadi, jangan takut gagal. Takutlah jika kamu berhenti berusaha dan berhenti percaya bahwa hidupmu masih bisa berubah menjadi lebih baik. Karena gagal bukan tanda bahwa hidupmu selesai. Gagal hanyalah bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dekat dengan Allah SWT. Yuk Tebar Kebaikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Di setiap rezeki yang kita miliki, ada hak orang lain yang Allah titipkan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam hidup. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Sedekah tidak akan mengurangi harta.&rdquo; &mdash; HR. Muslim Mari bersama menebar manfaat dan membantu masyarakat yang membutuhkan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Untuk informasi dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah dapat mengunjungi: BAZNAS Kota Sukabumi Official Website Baca artikel lengkap lainnya di: Artikel Islami Inspiratif
ARTIKEL20/05/2026 | BAZNAS
Allah Tahu Isi Hatimu, Bahkan Saat Kamu Tidak Bisa Menjelaskannya
Allah Tahu Isi Hatimu, Bahkan Saat Kamu Tidak Bisa Menjelaskannya
Allah Tahu Isi Hatimu Ada Rasa Lelah yang Tidak Bisa Dijelaskan Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa sangat lelah, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang sedang dirasakannya. Hati terasa penuh, pikiran terasa sesak, dan semuanya bercampur menjadi satu. Ketika ditanya oleh orang lain, &ldquo;Kamu kenapa?&rdquo; kita hanya bisa tersenyum kecil sambil berkata, &ldquo;Tidak apa-apa.&rdquo; Padahal di dalam hati, ada banyak hal yang sedang dipikirkan. Kadang bukan karena tidak ingin bercerita, tetapi memang sulit menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Ada luka yang terlalu dalam untuk diucapkan. Ada kecewa yang terlalu lama dipendam. Ada air mata yang jatuh diam-diam tanpa pernah diketahui siapa pun. Tidak semua orang mengerti perjuangan yang sedang kita hadapi. Banyak orang hanya melihat kita dari luar terlihat baik-baik saja, padahal sebenarnya hati sedang sangat lelah. Kita tetap tersenyum, tetap bekerja, tetap menjalani aktivitas seperti biasa, tetapi di dalam diri ada rasa hancur yang disembunyikan. Malam hari sering menjadi waktu paling berat. Saat suasana mulai sepi dan semua orang tertidur, pikiran justru semakin ramai. Kenangan, rasa takut, kecewa, dan berbagai masalah datang bersamaan memenuhi hati. Sampai terkadang seseorang menangis sendiri tanpa tahu harus mengadu kepada siapa. Allah Mengetahui Semua yang Kamu Rasakan Namun di saat seperti itu, ada satu hal yang harus selalu kita ingat: Allah mengetahui semuanya. Allah SWT tidak pernah buta terhadap air mata hamba-Nya. Allah tidak pernah lalai melihat kesedihan yang kita sembunyikan. Bahkan sebelum kita mampu menjelaskan isi hati kita sendiri, Allah sudah lebih dulu mengetahuinya. Allah SWT berfirman: &ldquo;Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan.&rdquo; &mdash; QS. Al-Hijr: 97 Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memahami rasa sesak yang ada di dalam hati manusia. Allah tahu ketika hati kita kecewa. Allah tahu ketika kita merasa sendirian. Allah tahu ketika kita berusaha terlihat kuat padahal sebenarnya ingin menyerah. Tidak ada satu pun rasa sakit yang tersembunyi dari Allah. Bahkan mungkin manusia lain tidak memahami perjuanganmu, tetapi Allah memahami semuanya tanpa perlu kamu ceritakan panjang lebar. Allah tahu isi hati yang paling dalam. Allah tahu doa-doa yang hanya diucapkan dalam diam. Allah tahu harapan yang terus kamu simpan meskipun keadaan terasa berat. Kadang kita merasa tidak ada yang peduli dengan hidup kita. Kita merasa sendirian menghadapi semuanya. Tetapi sebenarnya Allah selalu ada bersama kita. Saat semua orang pergi, Allah tetap mendengar. Saat semua orang tidak memahami kita, Allah tetap mengerti. Jangan Takut Menangis di Hadapan Allah Sering kali kita terlalu sibuk terlihat kuat di depan manusia sampai lupa bahwa kita boleh lemah di hadapan Allah. Padahal Allah tidak pernah meminta hamba-Nya untuk memendam semuanya sendirian. Allah justru menyukai hamba yang datang kepada-Nya dengan penuh harapan dan doa. Jika hati terasa berat, menangislah dalam sujudmu. Jika hidup terasa melelahkan, ceritakan semuanya kepada Allah. Tidak perlu menggunakan kata-kata yang indah. Tidak perlu terlihat sempurna. Karena Allah memahami bahkan isi hati yang tidak mampu dijelaskan oleh lisan. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Allah lebih sayang kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya.&rdquo; &mdash; HR. Bukhari dan Muslim Betapa luar biasanya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Kasih sayang seorang ibu saja begitu besar, selalu memaafkan dan selalu peduli kepada anaknya. Lalu kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada itu. Maka jangan pernah berpikir bahwa Allah meninggalkanmu hanya karena hidupmu sedang sulit. Kadang Allah mengizinkan kita melewati rasa sakit agar kita kembali dekat kepada-Nya. Kadang Allah mengizinkan air mata jatuh agar hati kita belajar bersabar dan bergantung hanya kepada-Nya. Semua Kesedihan Tidak Akan Sia-Sia Apa pun masalah yang sedang kamu hadapi hari ini, percayalah bahwa semua itu tidak akan sia-sia di hadapan Allah. Setiap air mata yang jatuh karena beratnya hidup akan bernilai pahala jika kita bersabar. Setiap rasa kecewa akan diganti Allah dengan sesuatu yang lebih baik pada waktunya. Setiap doa yang terus dipanjatkan tidak pernah benar-benar hilang. Mungkin hari ini hidup terasa berat. Mungkin doa yang kamu panjatkan belum juga dikabulkan. Mungkin kamu masih sering merasa lelah dan kecewa. Tetapi jangan menyerah. Karena setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Setelah malam yang gelap selalu ada pagi yang terang. Dan setelah air mata, insyaAllah akan ada kebahagiaan yang Allah siapkan. Tetaplah bertahan meskipun pelan. Tetaplah berdoa meskipun hati sedang lemah. Tetaplah percaya kepada Allah meskipun keadaan belum berubah. Jangan biarkan kesedihan membuatmu jauh dari Allah. Justru jadikan rasa sakit itu sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Nya. Allah Tidak Pernah Meninggalkanmu Saat dunia terasa terlalu ramai dan melelahkan, kembalilah kepada Allah. Saat hati terasa hancur, dekatkan dirimu kepada Allah. Saat tidak ada manusia yang memahami perasaanmu, ingatlah bahwa Allah selalu memahami isi hatimu. Dan percayalah&hellip; Sebesar apa pun luka yang kamu rasakan hari ini, kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada semua rasa sakit itu. Jadi tetaplah kuat. Tetaplah berharap. Tetaplah melangkah. Karena Allah tidak pernah meninggalkanmu sedikit pun. Yuk Tebar Kebaikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Di setiap rezeki yang kita miliki, ada hak orang lain yang Allah titipkan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam hidup. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Sedekah tidak akan mengurangi harta.&rdquo; &mdash; HR. Muslim Mari bersama menebar manfaat dan membantu masyarakat yang membutuhkan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Untuk informasi dan penyaluran zakat, infak, serta sedekah dapat mengunjungi: BAZNAS Kota Sukabumi Official Website Baca artikel lengkap lainnya di: Artikel Islami Inspiratif
ARTIKEL20/05/2026 | BAZNAS
Kurban Bukan Tentang Mahal, Tapi Tentang Ketakwaan
Kurban Bukan Tentang Mahal, Tapi Tentang Ketakwaan
Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Pada hari yang penuh keberkahan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun di tengah perkembangan zaman, masih ada sebagian orang yang memandang kurban dari sisi kemewahan dan harga hewan semata. Padahal, hakikat kurban bukanlah tentang mahal atau besarnya hewan yang disembelih, melainkan tentang ketakwaan dan keikhlasan hati kepada Allah SWT. Idul Adha mengajarkan bahwa nilai ibadah tidak diukur dari seberapa besar harta yang dikeluarkan, tetapi dari ketulusan niat dan keimanan seseorang. Seekor kambing yang dikurbankan dengan hati yang ikhlas bisa lebih mulia di sisi Allah dibanding kurban mahal yang dilakukan demi pujian manusia. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur&rsquo;an: &ldquo;Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo; (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menjadi pengingat penting bahwa Allah tidak membutuhkan daging ataupun darah hewan kurban. Semua itu hanyalah simbol ibadah. Yang benar-benar Allah lihat adalah ketakwaan, keikhlasan, dan kesungguhan hati seorang hamba dalam menjalankan perintah-Nya. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi dasar utama dalam ibadah kurban. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya sendiri, beliau menunjukkan ketaatan yang luar biasa. Begitu pula Nabi Ismail AS yang menerima perintah tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, &lsquo;Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!&rsquo; Dia (Ismail) menjawab, &lsquo;Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.&rsquo;&rdquo; (QS. Ash-Shaffat: 102) Dari kisah ini, kita belajar bahwa inti dari kurban adalah ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS tidak diuji tentang kekayaan, tetapi diuji tentang keimanan dan kecintaannya kepada Allah. Di zaman sekarang, terkadang muncul rasa minder bagi sebagian orang yang hanya mampu berkurban seekor kambing sederhana, sementara orang lain mampu membeli sapi dengan harga yang sangat mahal. Padahal dalam Islam, setiap ibadah dihargai sesuai kemampuan dan ketulusan pelakunya. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.&rdquo; (HR. Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat, kurban sederhana tetap memiliki nilai besar di sisi Allah SWT. Selain menjadi bentuk ibadah, kurban juga mengajarkan kepedulian sosial. Daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Dari sinilah muncul rasa persaudaraan, kebersamaan, dan kebahagiaan yang dirasakan banyak orang. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Tidak ada suatu amalan yang dilakukan manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).&rdquo; (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa mulianya ibadah kurban. Namun kemuliaan itu tidak diukur dari mahalnya hewan, melainkan dari ketakwaan dan niat yang tulus karena Allah SWT. Kurban juga menjadi pelajaran untuk melawan sifat sombong dan riya. Ketika seseorang berkurban hanya untuk dipuji atau dianggap mampu oleh orang lain, maka nilai keikhlasannya bisa berkurang. Islam mengajarkan bahwa ibadah terbaik adalah yang dilakukan dengan hati yang bersih dan hanya mengharap ridha Allah. Menjelang Idul Adha, penting bagi kita untuk kembali meluruskan niat. Jangan sampai ibadah kurban berubah menjadi ajang pamer atau gengsi sosial. Sebab pada akhirnya, yang paling bernilai di hadapan Allah bukanlah kemewahan, tetapi ketakwaan. Idul Adha mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Baik yang berkurban dengan kambing sederhana maupun sapi terbaik, semuanya memiliki peluang mendapatkan pahala besar selama dilakukan dengan hati yang ikhlas. Semoga Hari Raya Idul Adha tahun ini menjadikan kita pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, dan lebih ikhlas dalam beribadah. Karena sejatinya, kurban bukan tentang mahal atau murahnya hewan, tetapi tentang seberapa tulus hati kita dalam menjalankan perintah Allah SWT. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Bersama BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, profesional, dan tepat sasaran. - Hewan kurban berkualitas dan sesuai syariat - Penyaluran hingga daerah minim pekurban - Laporan transparan dan terpercaya Konfirmasi CS BAZNAS : 081111112807 Mari jadikan Idul Adha tahun ini lebih bermakna. Karena kurban bukan soal kemewahan, tapi soal keikhlasan, kepedulian, dan cinta kepada sesama.
ARTIKEL19/05/2026 | BAZNAS
Capek Itu Wajar, Allah Tahu Kamu Sedang Berjuang
Capek Itu Wajar, Allah Tahu Kamu Sedang Berjuang
Di zaman sekarang, banyak orang hidup dalam tekanan yang tidak sedikit. Setiap hari harus bangun pagi, menjalani rutinitas, mengejar target, memenuhi ekspektasi orang lain, dan tetap terlihat baik-baik saja meskipun hati sedang tidak tenang. Kadang seseorang terlihat tersenyum di luar, tetapi sebenarnya sedang menyimpan banyak lelah di dalam dirinya. Tidak sedikit juga orang yang merasa harus selalu kuat. Harus selalu produktif. Harus selalu bisa mengerjakan semuanya sendiri. Sampai akhirnya lupa bahwa dirinya juga manusia yang bisa lelah, sedih, dan butuh istirahat. Padahal dalam Islam, merasa lelah adalah hal yang wajar. Menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa capek. Justru Allah SWT mengetahui setiap perjuangan yang sedang kita jalani, bahkan hal-hal kecil yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Ada hari ketika hati terasa penuh. Pikiran terasa berat. Tugas menumpuk, masalah datang bersamaan, dan semuanya terasa melelahkan. Dalam kondisi seperti itu, terkadang seseorang mulai bertanya dalam hati, &ldquo;Kenapa hidup terasa berat sekali?&rdquo; Namun sebagai seorang muslim, kita perlu percaya bahwa setiap ujian yang Allah berikan selalu memiliki hikmah di baliknya. Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya berjuang sendirian. Allah SWT berfirman: &ldquo;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.&rdquo; &mdash; QS. Al-Baqarah: 286 Ayat ini menjadi pengingat yang sangat menenangkan. Apa pun yang sedang kita hadapi hari ini, Allah tahu bahwa kita mampu melewatinya. Mungkin terasa berat sekarang, mungkin membuat hati lelah, tetapi semuanya tidak pernah di luar batas kemampuan kita. Kadang yang membuat seseorang semakin lelah bukan hanya masalah hidup, tetapi juga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Melihat orang lain terlihat sukses, bahagia, dan hidupnya berjalan lancar membuat kita merasa tertinggal. Padahal setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Dalam Islam, kita diajarkan untuk bersyukur atas apa yang dimiliki dan percaya bahwa rezeki setiap manusia sudah Allah atur dengan sebaik-baiknya. Tidak semua hal harus berjalan cepat. Tidak semua impian harus tercapai hari ini juga. Ada proses yang perlu dilalui, ada kesabaran yang perlu dijaga. Saat merasa capek menjalani hidup, jangan lupa bahwa istirahat juga bagian dari kebutuhan manusia. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memaksakan diri tanpa henti. Tubuh memiliki hak untuk dijaga, hati juga memiliki hak untuk ditenangkan. Kadang kita terlalu keras kepada diri sendiri. Merasa bersalah ketika berhenti sejenak. Merasa tidak berguna ketika tidak produktif satu hari saja. Padahal beristirahat bukan berarti malas. Beristirahat adalah cara untuk memulihkan tenaga agar bisa kembali melangkah dengan lebih baik. Istirahat dalam Islam bukan hanya tidur atau rebahan. Menenangkan hati dengan shalat, membaca Al-Qur&rsquo;an, berdzikir, atau sekadar berbicara kepada Allah lewat doa juga bisa menjadi bentuk istirahat terbaik. Allah SWT berfirman: &ldquo;Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.&rdquo; &mdash; QS. Ar-Ra&rsquo;d: 28 Banyak orang mencari ketenangan dengan berbagai cara, tetapi sering lupa bahwa hati manusia sebenarnya paling tenang ketika dekat dengan Allah. Saat dunia terasa terlalu ramai dan melelahkan, kembali kepada Allah adalah tempat pulang terbaik. Terkadang kita tidak membutuhkan jawaban atas semua masalah. Kita hanya butuh hati yang lebih kuat untuk melewatinya. Dan kekuatan itu sering datang dari doa-doa sederhana yang dipanjatkan dengan tulus. Tidak perlu merasa malu ketika sedang lelah. Bahkan Rasulullah ? juga pernah merasakan sedih, lelah, dan beratnya ujian hidup. Namun beliau mengajarkan bahwa dalam setiap kesulitan selalu ada harapan kepada Allah. Allah SWT juga berfirman: &ldquo;Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.&rdquo; &mdash; QS. Al-Insyirah: 6 Perhatikan bagaimana Allah tidak mengatakan &ldquo;setelah kesulitan ada kemudahan,&rdquo; tetapi &ldquo;bersama kesulitan ada kemudahan.&rdquo; Artinya, di tengah masalah yang sedang kita hadapi saat ini pun sebenarnya Allah sedang menyiapkan pertolongan dan jalan keluar. Mungkin hari ini hidup terasa berat. Mungkin hati sedang capek karena terlalu banyak hal yang dipikirkan. Tetapi jangan menyerah pada keadaan. Tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan tetap melangkah. Tidak apa-apa beristirahat sebentar, asalkan tidak berhenti berharap kepada Allah. Percayalah, setiap air mata yang jatuh karena lelah, setiap doa yang dipanjatkan di tengah malam, dan setiap usaha untuk tetap bertahan tidak pernah sia-sia di hadapan Allah SWT. Jadi jika hari ini kamu merasa capek, tarik napas sebentar. Tenangkan hati. Kurangi menyalahkan diri sendiri. Lalu ingat bahwa kamu tidak sendirian. Ada Allah yang selalu mendengar doa-doamu, memahami isi hatimu, dan menemani setiap langkah perjuanganmu. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling kuat terlihat di depan manusia, tetapi siapa yang tetap bertahan dan terus percaya kepada Allah meski berkali-kali merasa lelah.
ARTIKEL19/05/2026 | BAZNAS
Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri, Allah Tahu Kamu Sudah Berusaha
Jangan Terlalu Keras pada Diri Sendiri, Allah Tahu Kamu Sudah Berusaha
Tidak semua orang yang terlihat tersenyum benar-benar bahagia. Ada banyak orang yang setiap hari berusaha terlihat kuat, padahal hatinya sedang lelah menghadapi kehidupan. Masalah datang silih berganti, harapan belum tercapai, dan pikiran terasa penuh oleh berbagai hal yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun. Di zaman sekarang, banyak orang merasa harus selalu sempurna. Harus selalu berhasil, harus terlihat kuat, dan harus mampu memenuhi ekspektasi orang lain. Akibatnya, seseorang sering lupa bahwa dirinya juga manusia biasa yang punya batas kemampuan. Kadang kita terlalu keras kepada diri sendiri. Ketika gagal sedikit saja, kita langsung menyalahkan diri. Saat merasa lelah, kita menganggap diri kurang bersyukur. Bahkan ketika sedang berjuang sekuat tenaga, kita masih merasa belum cukup baik. Padahal Allah SWT tidak pernah melihat hamba-Nya hanya dari hasil akhirnya saja. Allah melihat usaha, kesabaran, dan niat baik yang ada di dalam hati seseorang. Sekecil apa pun perjuangan yang dilakukan, semuanya tidak pernah luput dari penilaian Allah. Allah SWT berfirman: &ldquo;Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.&rdquo; &mdash; QS. At-Taubah: 120 Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia. Mungkin manusia tidak melihat perjuangan kita, tetapi Allah melihat semuanya dengan sangat jelas. Sering kali seseorang merasa lelah karena terlalu banyak memikirkan hidup orang lain. Melihat pencapaian teman, kehidupan orang lain di media sosial, atau membandingkan diri dengan mereka yang terlihat lebih sukses. Padahal setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Ada orang yang berhasil lebih cepat, ada juga yang harus melewati banyak proses terlebih dahulu. Semua sudah Allah atur dengan waktu terbaik. Karena itu, tidak perlu merasa tertinggal hanya karena perjalanan hidup kita tidak sama dengan orang lain. Dalam Islam, kita diajarkan untuk percaya bahwa rezeki, kebahagiaan, dan masa depan setiap manusia sudah ditentukan oleh Allah SWT. Tugas kita hanyalah berusaha, berdoa, dan terus memperbaiki diri. Saat hidup terasa berat, jangan menjauh dari Allah. Justru di saat hati paling lelah, kita paling membutuhkan Allah. Kadang manusia bisa pergi, dunia bisa mengecewakan, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Allah SWT berfirman: &ldquo;Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.&rdquo; &mdash; QS. Al-Hadid: 4 Betapa menenangkannya ayat tersebut. Dalam keadaan apa pun, Allah selalu ada. Saat kita menangis diam-diam, merasa sendiri, atau kehilangan arah, Allah tetap mendengar semua doa dan keluh kesah hamba-Nya. Tidak semua luka harus dijelaskan kepada manusia. Ada rasa sakit yang cukup disampaikan kepada Allah lewat doa-doa panjang di malam hari. Dan sering kali, hati menjadi lebih tenang setelah berserah diri kepada-Nya. Selain berusaha kuat, seorang muslim juga perlu belajar menerima bahwa dirinya tidak harus sempurna setiap saat. Tidak apa-apa merasa lelah. Tidak apa-apa menangis. Tidak apa-apa beristirahat sejenak ketika hidup terasa terlalu berat. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memendam semua rasa sendiri. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Setelah berusaha semampunya, serahkan hasilnya kepada Allah. Kadang yang membuat hati semakin berat adalah keinginan untuk mengontrol semua hal dalam hidup. Padahal tidak semua hal bisa berjalan sesuai rencana manusia. Ada hal-hal yang memang harus diterima dengan ikhlas karena Allah punya rencana yang lebih baik. Allah SWT berfirman: &ldquo;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.&rdquo; &mdash; QS. Al-Baqarah: 216 Apa yang hari ini membuat kita kecewa, bisa jadi justru menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Apa yang tertunda sekarang, mungkin sedang Allah siapkan menjadi sesuatu yang lebih indah di waktu yang tepat. Karena itu, jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kamu sudah berusaha sejauh ini, dan itu sudah sangat berarti. Tidak semua proses harus cepat. Tidak semua impian harus langsung tercapai hari ini juga. Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat berhasil. Hidup adalah perjalanan panjang untuk belajar sabar, ikhlas, dan percaya kepada Allah. Jika hari ini kamu merasa lelah, istirahatlah sebentar. Tenangkan hati, perbaiki doa, lalu lanjutkan lagi pelan-pelan. Jangan menyerah hanya karena jalan hidup terasa sulit. Sebab setelah kesulitan, Allah selalu menyiapkan kemudahan bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan tetap percaya kepada-Nya.
ARTIKEL19/05/2026 | BAZNAS
Jangan Membenci Prosesmu, Allah Sedang Membentuk Dirimu Menjadi Lebih Kuat
Jangan Membenci Prosesmu, Allah Sedang Membentuk Dirimu Menjadi Lebih Kuat
Setiap orang pasti memiliki proses hidup yang berbeda-beda. Ada yang jalannya terlihat mudah, ada yang harus melewati banyak tangis dan kegagalan terlebih dahulu. Kadang kita melihat hidup orang lain terasa begitu tenang, sementara diri sendiri masih terus berjuang menghadapi berbagai masalah yang datang tanpa henti. Di masa-masa sulit seperti itu, tidak sedikit orang mulai lelah dengan proses hidupnya sendiri. Merasa capek menunggu, capek berusaha, bahkan capek berharap. Hati mulai bertanya, &ldquo;Kenapa hidupku tidak semudah orang lain?&rdquo; Padahal tanpa disadari, setiap proses yang sedang kita jalani sebenarnya sedang membentuk diri kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Allah SWT tidak pernah memberikan ujian tanpa tujuan. Di balik setiap kesulitan, ada pelajaran yang sedang Allah ajarkan kepada hamba-Nya. Kadang seseorang ingin langsung sampai di tujuan tanpa mau melewati prosesnya. Ingin segera berhasil tanpa pernah merasakan gagal. Ingin cepat bahagia tanpa pernah belajar sabar. Padahal justru dari proses itulah seseorang belajar menjadi lebih dewasa, lebih ikhlas, dan lebih dekat kepada Allah. Allah SWT berfirman: &ldquo;Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.&rdquo; &mdash; QS. Al-Insyirah: 6 Ayat ini bukan sekadar penghibur, tetapi janji dari Allah. Bahwa setiap kesulitan yang kita hadapi pasti akan disertai jalan keluar dan kemudahan. Mungkin hari ini kita belum melihat hasilnya, tetapi bukan berarti Allah meninggalkan kita. Sering kali manusia hanya fokus pada hasil akhir, sampai lupa menikmati proses yang sedang dijalani. Ketika doa belum terkabul, kita mulai kecewa. Ketika usaha belum membuahkan hasil, kita mulai merasa gagal. Padahal bisa jadi Allah sedang mempersiapkan waktu terbaik untuk semuanya. Dalam Islam, proses juga bagian dari ibadah. Saat seseorang tetap berusaha meskipun lelah, tetap sabar meskipun kecewa, dan tetap berdoa meskipun belum melihat jawaban dari Allah, di situlah nilai perjuangan seorang hamba terlihat. Tidak ada usaha yang sia-sia di hadapan Allah. Bahkan air mata yang jatuh karena lelah pun diketahui oleh-Nya. Allah SWT berfirman: &ldquo;Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.&rdquo; &mdash; QS. Al-Baqarah: 153 Menjadi sabar bukan berarti tidak pernah sedih. Sabar adalah tetap bertahan dan tetap percaya kepada Allah meskipun keadaan belum sesuai harapan. Kadang kita berpikir bahwa hidup orang lain jauh lebih baik, padahal setiap orang juga sedang berjuang dengan ujiannya masing-masing. Ada orang yang terlihat bahagia tetapi sebenarnya hatinya lelah. Ada yang terlihat tenang tetapi sedang menyimpan banyak masalah. Karena itu, jangan terlalu sering membandingkan perjalanan hidupmu dengan orang lain. Allah memiliki cara berbeda untuk membentuk setiap hamba-Nya. Ada yang diuji lewat kegagalan, ada yang diuji lewat kehilangan, dan ada juga yang diuji lewat penantian panjang. Semua itu bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk menguatkan. Mungkin hari ini kamu sedang berada di fase hidup yang melelahkan. Merasa usahamu belum dihargai, doamu belum dikabulkan, dan jalanmu terasa lebih berat dibanding orang lain. Tetapi percayalah, Allah tidak pernah salah memilih proses untuk hamba-Nya. Bisa jadi proses panjang yang sedang kamu jalani sekarang akan membuatmu menjadi pribadi yang jauh lebih kuat di masa depan. Sebab seseorang yang pernah jatuh dan bangkit kembali biasanya memiliki hati yang lebih dewasa dan lebih memahami arti kehidupan. Saat merasa lelah dengan prosesmu sendiri, jangan lupa untuk beristirahat sejenak. Dekatkan hati kepada Allah, perbaiki doa, dan tenangkan pikiran. Tidak perlu terburu-buru. Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat berhasil. Yang terpenting adalah tetap berjalan, meskipun pelan. Tetap percaya kepada Allah, meskipun keadaan belum berubah. Dan tetap bersyukur, meskipun hidup belum sepenuhnya mudah. Allah SWT berfirman: &ldquo;Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.&rdquo; &mdash; QS. Al-Baqarah: 216 Bisa jadi proses yang hari ini kamu keluhkan justru menjadi jalan terbaik yang Allah siapkan untuk hidupmu. Karena Allah lebih tahu apa yang benar-benar dibutuhkan oleh hamba-Nya. Jadi jangan membenci proses hidupmu. Jangan menyerah hanya karena jalan terasa panjang. Sebab setiap langkah yang dijalani dengan sabar dan ikhlas akan membawa seseorang menuju versi terbaik dari dirinya sendiri. Percayalah, Allah sedang membentukmu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
ARTIKEL19/05/2026 | BAZNAS
7 Hikmah Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-Hari
7 Hikmah Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-Hari
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang penuh dengan makna dan pelajaran hidup. Tidak hanya tentang penyembelihan hewan kurban, Idul Adha juga mengajarkan banyak nilai penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, umat Islam belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, hingga kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Idul Adha bukan hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momen untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Berikut tujuh hikmah Idul Adha yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 1. Belajar Ikhlas dalam Menjalani Kehidupan Hikmah terbesar dari Idul Adha adalah tentang keikhlasan. Nabi Ibrahim AS menunjukkan ketaatan luar biasa ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, &lsquo;Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.&rsquo;&rdquo;(QS. Ash-Shaffat: 102) Dari kisah ini, kita belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Terkadang ada ujian yang harus diterima dengan hati yang ikhlas dan penuh keyakinan kepada Allah SWT. 2. Mengajarkan Arti Pengorbanan Idul Adha mengingatkan bahwa setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang harus rela berjuang demi keluarga, pekerjaan, pendidikan, maupun masa depan yang lebih baik. Pengorbanan juga berarti mampu menahan ego dan mendahulukan kepentingan orang lain. Inilah nilai besar yang diajarkan Idul Adha kepada umat Islam. 3. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Saat Idul Adha, daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini mengajarkan pentingnya berbagi rezeki dan membantu sesama. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.&rdquo;(QS. Al-Hajj: 28) Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan kepedulian sosial. Kebahagiaan sejati bukan hanya ketika menerima, tetapi juga ketika mampu memberi kepada orang lain. 4. Mengajarkan Ketakwaan kepada Allah Hakikat kurban bukan terletak pada mahal atau besarnya hewan yang disembelih, tetapi pada ketakwaan hati seseorang. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo;(QS. Al-Hajj: 37) Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini mengajarkan bahwa Allah melihat ketulusan hati dan niat seseorang, bukan sekadar penampilan luar. 5. Melatih Kesabaran dan Keimanan Idul Adha juga mengajarkan pentingnya bersabar dalam menghadapi ujian hidup. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menunjukkan kesabaran luar biasa ketika menjalankan perintah Allah SWT. Dalam kehidupan modern yang penuh tekanan dan masalah, kesabaran menjadi salah satu kunci agar seseorang tetap kuat dan tidak mudah menyerah. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Semua urusannya baik baginya.&rdquo;(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa setiap ujian hidup pasti memiliki hikmah bagi orang yang beriman dan bersabar. 6. Menanamkan Rasa Syukur Idul Adha membuat banyak orang menyadari bahwa masih banyak nikmat Allah yang sering dilupakan. Saat melihat orang lain hidup dalam keterbatasan, kita belajar untuk lebih bersyukur atas apa yang dimiliki. Rasa syukur membuat hati menjadi lebih tenang dan tidak mudah mengeluh. Dengan bersyukur, hidup terasa lebih cukup dan penuh kebahagiaan. 7. Mempererat Tali Persaudaraan Momen Idul Adha biasanya dipenuhi dengan kebersamaan. Mulai dari salat Id berjamaah, penyembelihan hewan kurban, hingga pembagian daging kepada masyarakat. Semua itu mempererat hubungan antar sesama. Idul Adha mengajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu adalah bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.&rdquo;(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi pengingat agar umat Islam selalu menjaga persaudaraan dan saling peduli satu sama lain. Idul Adha bukan hanya tentang ritual ibadah, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kebaikan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Keikhlasan, pengorbanan, kepedulian, kesabaran, dan rasa syukur adalah pelajaran besar yang dapat menjadikan hidup lebih bermakna. Semoga Idul Adha tahun ini membawa keberkahan dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik, lebih ikhlas, serta lebih dekat kepada Allah SWT. Aamiin. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Melalui BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, terpercaya, dan tepat sasaran untuk masyarakat yang membutuhkan. Konfirmasi CS BAZNAS : 081111112807
ARTIKEL19/05/2026 | BAZNAS
Menjelang Idul Adha: 8 Hari untuk Memperbaiki Diri dan Menambah Amal
Menjelang Idul Adha: 8 Hari untuk Memperbaiki Diri dan Menambah Amal
Tak terasa, Hari Raya Idul Adha semakin dekat. Tinggal 8 hari lagi umat Islam di seluruh dunia akan menyambut hari penuh keberkahan ini. Idul Adha bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga momentum untuk memperbaiki diri, memperkuat keikhlasan, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Hari-hari menjelang Idul Adha menjadi kesempatan emas bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal saleh. Bahkan, dalam Islam terdapat keutamaan besar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa amal ibadah pada hari-hari tersebut sangat dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.&rdquo; (HR. Bukhari) Hadis ini menjadi pengingat bahwa waktu menjelang Idul Adha bukanlah hari biasa. Inilah saat terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan juga sesama manusia. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur&rsquo;an: &ldquo;Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan...&rdquo; (QS. Al-Hajj: 28) Ayat ini menunjukkan bahwa Idul Adha membawa banyak pelajaran dan manfaat, baik secara spiritual maupun sosial. Oleh karena itu, menjelang hari raya kurban, sudah sepatutnya kita mulai mempersiapkan hati, bukan hanya sekadar persiapan materi. Salah satu cara memperbaiki diri adalah dengan memperbanyak istighfar dan taubat. Manusia tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Bisa jadi selama ini kita masih lalai dalam ibadah, kurang bersyukur, atau bahkan sering menyakiti hati orang lain. Maka, delapan hari menuju Idul Adha dapat menjadi awal untuk kembali mendekat kepada Allah SWT. Selain itu, memperbanyak shalat sunnah, membaca Al-Qur&rsquo;an, berdzikir, dan bersedekah juga menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Tidak harus menunggu menjadi orang kaya untuk berbagi. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan bernilai besar di sisi Allah. Idul Adha juga mengajarkan makna pengorbanan dan keikhlasan melalui kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya yang sangat dicintai, beliau tetap taat menjalankan perintah Allah. Kisah ini menjadi bukti bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala-galanya. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, &lsquo;Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!&rsquo; Dia (Ismail) menjawab, &lsquo;Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.&rsquo;&rdquo; (QS. Ash-Shaffat: 102) Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa Idul Adha bukan hanya tentang hewan kurban, tetapi tentang bagaimana kita rela mengorbankan ego, kesombongan, dan sifat buruk dalam diri. Menjelang Idul Adha, mari mulai memperbaiki hubungan dengan keluarga, meminta maaf kepada orang tua, mempererat silaturahmi, dan membantu mereka yang membutuhkan. Jangan sampai hari raya datang, tetapi hati kita masih dipenuhi iri, dendam, dan kebencian. Bagi yang Allah mampukan untuk berkurban, niatkan ibadah tersebut semata-mata karena Allah SWT, bukan karena gengsi atau ingin dipuji manusia. Sebab Allah menilai ketakwaan, bukan besar kecilnya hewan kurban. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.&rdquo; (QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini mengingatkan bahwa inti dari kurban adalah ketulusan hati dan ketakwaan kepada Allah. Delapan hari menuju Idul Adha masih menjadi waktu yang sangat cukup untuk berubah menjadi lebih baik. Mulailah dari hal kecil: memperbaiki shalat, menjaga lisan, memperbanyak doa, dan membantu sesama. Semoga ketika Idul Adha tiba, kita bukan hanya merayakan hari raya, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, melapangkan rezeki untuk berkurban, dan menjadikan Idul Adha tahun ini penuh keberkahan. Aamiin. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Bersama BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, profesional, dan tepat sasaran. - Hewan kurban berkualitas dan sesuai syariat - Penyaluran hingga daerah minim pekurban - Laporan transparan dan terpercaya
ARTIKEL18/05/2026 | BAZNAS
Keutamaan Puasa Dzulhijjah 2026 yang Sayang untuk Dilewatkan
Keutamaan Puasa Dzulhijjah 2026 yang Sayang untuk Dilewatkan
Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam. Di dalamnya terdapat banyak amalan yang memiliki keutamaan besar di sisi Allah SWT, salah satunya adalah puasa sunnah pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Menjelang Idul Adha 2026, umat Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan momen penuh berkah ini dengan memperbanyak ibadah, doa, dzikir, dan puasa sunnah. Banyak orang mungkin lebih mengenal puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Padahal, puasa pada hari-hari pertama bulan Dzulhijjah juga termasuk amalan yang sangat dicintai Allah SWT. Kesempatan ini tentu menjadi momen berharga untuk meningkatkan ketakwaan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur&rsquo;an: &ldquo;Demi fajar, dan malam yang sepuluh.&rdquo; (QS. Al-Fajr: 1-2) Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud &ldquo;malam yang sepuluh&rdquo; dalam ayat tersebut adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini menunjukkan betapa mulianya hari-hari tersebut di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan amal saleh pada hari-hari Dzulhijjah melalui hadis berikut: &ldquo;Tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Dzulhijjah.&rdquo; Para sahabat bertanya, &ldquo;Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?&rdquo; Beliau menjawab, &ldquo;Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali sedikit pun.&rdquo; (HR. Bukhari) Hadis ini menjadi bukti bahwa amal ibadah di awal Dzulhijjah memiliki nilai yang sangat tinggi, termasuk puasa sunnah. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak melewatkan kesempatan emas ini. Puasa Dzulhijjah sendiri biasanya dilakukan sejak tanggal 1 hingga 9 Dzulhijjah. Khusus tanggal 9 Dzulhijjah dikenal sebagai puasa Arafah yang memiliki keutamaan luar biasa. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.&rdquo; (HR. Muslim) Betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Hanya dengan menjalankan puasa sunnah satu hari, Allah memberikan pahala berupa pengampunan dosa selama dua tahun. Tentu ini menjadi kesempatan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain mendapatkan pahala dan ampunan dosa, puasa Dzulhijjah juga melatih keikhlasan serta kesabaran dalam beribadah. Di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, seorang Muslim tetap berusaha menjaga puasanya karena mengharap ridha Allah SWT. Puasa sunnah ini juga menjadi bentuk persiapan hati menjelang Hari Raya Idul Adha. Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang ketundukan, pengorbanan, dan keikhlasan sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Dengan berpuasa, hati menjadi lebih lembut dan lebih mudah untuk bersyukur. Kita diajak untuk merasakan lapar dan haus sehingga tumbuh rasa empati terhadap saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan. Inilah salah satu hikmah besar dari ibadah puasa yang sering kali terlupakan. Agar puasa Dzulhijjah semakin maksimal, umat Muslim juga dianjurkan memperbanyak amalan lainnya seperti membaca Al-Qur&rsquo;an, bersedekah, memperbanyak takbir, tahmid, tahlil, serta memperbanyak doa. Hari-hari ini merupakan waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Menjelang Idul Adha 2026, mari jadikan momen Dzulhijjah sebagai kesempatan memperbanyak amal saleh. Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai beribadah. Mulailah dari langkah kecil dan niat yang tulus. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk menjalankan puasa Dzulhijjah, menerima amal ibadah kita, serta memberikan keberkahan dalam hidup dan keluarga kita. Aamiin.
ARTIKEL18/05/2026 | BAZNAS
Kenapa Idul Adha Selalu Punya Makna yang Berbeda Setiap Tahun?
Kenapa Idul Adha Selalu Punya Makna yang Berbeda Setiap Tahun?
Kenapa Idul Adha Selalu Punya Makna yang Berbeda Setiap Tahun? Setiap tahunnya, Hari Raya Idul Adha datang membawa suasana yang begitu khas. Takbir berkumandang di masjid-masjid, kurban hewan mulai dipersiapkan, dan umat Islam berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan. Namun ada satu hal yang sering dirasakan banyak orang: Idul Adha selalu memiliki makna yang berbeda setiap tahunnya. Idul Adha selalu punya makna yang berbeda setiap tahun? Bagi sebagian orang, Idul Adha menjadi momen belajar ikhlas. Bagi yang lain, Idul Adha terasa begitu mengharukan karena mengingat perjuangan hidup, keluarga, atau kondisi yang sedang menghadang. Bahkan tidak sedikit yang merasa bahwa setiap Idul Adha datang dengan pelajaran baru yang membuat hati lebih dekat kepada Allah SWT. Idul Adha memang bukan sekadar perayaan tahunan. Di balik ibadah kurban, tersimpan makna besar tentang cinta, pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka berpikirlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar.'&rdquo; (QS. Ash-Shaffat: 102) Ayat ini menceritakan kisah luar biasa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sebuah kisah yang mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya. Dari sinilah makna Idul Adha terus hidup hingga hari ini. Setiap tahun, kondisi hidup seseorang pasti berubah. Ada yang tahun lalu masih memiliki keluarga lengkap, namun kini harus merayakan Idul Adha dengan kerinduan. Ada yang dahulu belum mampu berkurban, lalu tahun ini Allah beri rezeki untuk berbagi. Ada pula yang sedang diuji kesulitan hidup, sehingga Idul Adha menjadi pengingat tentang kesabaran dan tawakal. Karena itulah Idul Adha terasa berbeda setiap tahunnya. Allah menghadirkan momen ini bukan hanya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai cara untuk menyentuh hati manusia dengan pelajaran yang berbeda-beda. Ibadah kurban sendiri bukan tentang siapa yang paling mahal hewan kurbannya. Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: &ldquo;Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo; (QS. Al-Hajj : 37) Ayat ini mengingatkan bahwa inti dari Idul Adha adalah ketulusan hati. Bukan gengsi, bukan pujian manusia, dan bukan kemewahan. Yang Allah lihat adalah niat, keikhlasan, dan ketakwaan dari hamba-Nya. Rasulullah SAW juga bersabda: &ldquo;Tidak ada suatu amalan yang dilakukan manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).&rdquo; (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa besarnya kemuliaan ibadah kurban di sisi Allah SWT. Namun lebih dari itu, Idul Adha juga mengajarkan arti berbagi kepada sesama. Saat daging kurban ditayangkan, banyak keluarga yang merasakan kebahagiaan. Ada senyum anak-anak, rasa syukur dari mereka yang membutuhkan, dan kebersamaan yang tercipta di tengah masyarakat. Inilah salah satu alasan mengapa Idul Adha selalu terasa istimewa. Ia bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga ibadah sosial yang mempererat persaudaraan dan kepedulian. Di era sekarang, ketika kehidupan sering dipenuhi kesibukan dan urusan dunia, Idul Adha hadir sebagai pengingat untuk kembali menata hati. Mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar materi, tetapi juga tentang pengorbanan, kepedulian, dan ketaatan kepada Allah SWT. Kadang-kadang seseorang baru benar-benar memahami makna Idul Adha setelah melewati ujian kehidupan tertentu. Ada yang belajar tentang kehilangan, ada yang belajar bersyukur, dan ada pula yang belajar bahwa berbagi ternyata menghadirkan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Menjelang Idul Adha tahun ini, mari jadikan momen ini sebagai kesempatan memperbaiki diri. Tidak harus menunggu sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah. Mulailah dengan niat yang baik, hati yang tulus, dan semangat untuk berbagi kepada sesama. Semoga Idul Adha tahun ini membawa keberkahan, ketenangan hati, serta menjadikan kita pribadi yang lebih ikhlas dan lebih peduli terhadap orang lain. Karena pada akhirnya, Idul Adha bukan hanya tentang hari raya, tetapi tentang perjalanan hati menuju ketakwaan kepada Allah SWT. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Melalui BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, terpercaya, dan tepat sasaran untuk masyarakat yang membutuhkan. Konfirmasi CS BAZNAS : 081111112807
ARTIKEL18/05/2026 | BAZNAS
Mengapa Idul Adha Selalu Menghadirkan Pelajaran Hidup?
Mengapa Idul Adha Selalu Menghadirkan Pelajaran Hidup?
Hari Raya Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan kurban atau perayaan tahunan umat Islam. Lebih dari itu, Idul Adha selalu menghadirkan banyak pelajaran hidup yang menyentuh hati. Setiap tahunnya, momen ini datang membawa makna baru bagi setiap orang, sesuai dengan perjalanan hidup yang sedang dijalani. Ada yang belajar tentang keikhlasan, ada yang belajar tentang kesabaran, dan ada pula yang mulai memahami arti berbagi kepada sesama. Karena itulah Idul Adha terasa begitu istimewa. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi juga pengingat tentang hubungan manusia dengan Allah SWT dan dengan sesama manusia. Kisah utama dalam Idul Adha adalah tentang Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kisah ini menjadi simbol ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa. Allah SWT menguji Nabi Ibrahim AS melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS. Meskipun sangat berat, Nabi Ibrahim tetap taat kepada perintah Allah. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, &lsquo;Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!&rsquo; Dia (Ismail) menjawab, &lsquo;Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.&rsquo;&rdquo;(QS. Ash-Shaffat: 102) Dari ayat ini, kita belajar bahwa ketaatan kepada Allah membutuhkan keikhlasan dan keyakinan yang kuat. Nabi Ibrahim AS tidak mempertanyakan perintah Allah, begitu pula Nabi Ismail AS yang dengan penuh kesabaran menerima ujian tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia juga memiliki &ldquo;kurban&rdquo; masing-masing. Ada yang harus mengorbankan waktu demi keluarga, ada yang berjuang meninggalkan kebiasaan buruk, dan ada pula yang harus bersabar menghadapi ujian hidup. Idul Adha mengajarkan bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah sia-sia. Selain tentang pengorbanan, Idul Adha juga mengajarkan arti ketakwaan. Banyak orang mengira bahwa yang paling penting dalam kurban adalah besar atau mahalnya hewan yang disembelih. Padahal, Allah SWT menegaskan bahwa yang paling utama adalah ketakwaan hati. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo;(QS. Al-Hajj: 37) Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah tidak melihat kemewahan atau penampilan luar seseorang. Yang Allah nilai adalah niat, keikhlasan, dan ketulusan hati dalam beribadah. Idul Adha juga mengajarkan kepedulian sosial. Saat daging kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama kepada mereka yang membutuhkan, di situlah rasa persaudaraan tumbuh semakin kuat. Banyak keluarga yang mungkin hanya bisa menikmati daging saat Idul Adha tiba. Dari sinilah kita belajar bahwa berbagi kebahagiaan kepada orang lain adalah bagian penting dari ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Tidak ada suatu amalan yang dilakukan manusia pada hari raya kurban yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah (hewan kurban).&rdquo;(HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan besarnya kemuliaan ibadah kurban di sisi Allah SWT. Namun di balik itu, ada nilai kemanusiaan dan kepedulian yang sangat besar. Kurban bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga bentuk cinta kepada sesama. Selain itu, Idul Adha mengajarkan kita untuk lebih bersyukur. Ketika melihat banyak orang masih hidup dalam keterbatasan, kita diingatkan untuk tidak terus-menerus mengeluh atas apa yang belum dimiliki. Idul Adha membuat hati lebih peka terhadap nikmat Allah yang sering kali terlupakan. Setiap tahun, makna Idul Adha bisa terasa berbeda karena kondisi hidup manusia juga terus berubah. Ada yang tahun ini diuji dengan kesedihan, ada yang diberi kebahagiaan, dan ada yang mulai menemukan ketenangan setelah perjalanan hidup yang panjang. Semua itu membuat Idul Adha hadir dengan pelajaran yang berbeda-beda. Menjelang Idul Adha, mari jadikan momen ini sebagai waktu untuk memperbaiki diri. Tidak hanya sibuk mempersiapkan kebutuhan lahiriah, tetapi juga mempersiapkan hati agar lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih peduli kepada sesama. Semoga Idul Adha tahun ini membawa keberkahan, memperkuat iman, dan menjadikan kita pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT. Karena sejatinya, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi tentang bagaimana kita belajar menjadi manusia yang lebih baik dari tahun ke tahun.
ARTIKEL18/05/2026 | BAZNAS
Fokus pada Hasil: Wujudkan Niat Suci! 3 Rahasia Sukses Banyak Orang Bisa Kurban Tiap Tahun.
Fokus pada Hasil: Wujudkan Niat Suci! 3 Rahasia Sukses Banyak Orang Bisa Kurban Tiap Tahun.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, umat Islam mulai disibukkan dengan persiapan ibadah kurban. Banyak orang rela menyisihkan sebagian rezekinya sedikit demi sedikit demi bisa membeli hewan kurban. Ada yang menabung sejak awal tahun, ada pula yang menyisihkan uang setiap hari demi mewujudkan niat beribadah kepada Allah SWT. Mengapa banyak orang begitu bersemangat untuk berkurban? Karena kurban bukan hanya sekedar menyembelih hewani, tetapi bentuk ketaatan, cinta, dan ketakwaan kepada Allah SWT. Kurban juga merupakan simbol menjadi kepedulian sosial dan kebahagiaan berbagi kepada sesama. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.&rdquo; (QS. Al-Kautsar : 2) Ayat ini menjadi perintah bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS Kisah kurban sendiri tidak lepas dari keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra, keduanya menunjukkan ketaatan luar biasa kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman: Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka berpikirlah bagaimana pendapatmu!' Ia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'&rdquo; (QS. As-Saffat: 102) Dari kisah ini, umat Islam belajar bahwa ibadah kurban mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan mendahulukan perintah Allah SWT di atas kepentingan pribadi. Tidak mengherankan jika banyak orang rela menabung demi bisa berkurban. Mereka ingin menjadi bagian dari ibadah mulia yang dicintai Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.&rdquo; (HR. Tirmidzi) 2. kurban juga membawa kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda: &ldquo;Barang siapa yang memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami.&rdquo; (HR.Ahmad dan Ibnu Majah) Hadis ini menunjukkan betapa besarnya perhatian Islam terhadap ibadah kurban bagi mereka yang mampu. Selain bernilai ibadah, kurban juga membawa kebahagiaan bagi masyarakat yang membutuhkan. Di banyak daerah, masih ada keluarga yang jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari. Momentum Iduladha menjadi hari penuh kebahagiaan karena mereka bisa merasakan nikmatnya hidangan bersama keluarga. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo; (QS. Al-Hajj : 37) Ayat ini mengingatkan bahwa yang paling utama dalam ibadah kurban bukanlah besarnya hewan atau banyaknya daging, tetapi ketakwaan dan keikhlasan hati. Kini, berkurban juga semakin mudah dilakukan melalui berbagai program kurban terpercaya yang diselenggarakan oleh BAZNAS . Penyaluran kurban dapat menjangkau daerah pelosok, wilayah minim pekurban, hingga masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Dari seekor hewan kurban, lahir banyak kebahagiaan. Anak-anak tersenyum, keluarga berkumpul, dan masyarakat merasakan indahnya berbagi. Inilah alasan mengapa banyak orang rela menabung demi kurban. Karena mereka percaya, setiap pengorbanan yang dilakukan di jalan Allah SWT tidak akan pernah sia-sia. Maka, jika hari ini belum mampu berkurban, jangan berhenti berniat. Mulailah menabung dari sekarang. Sedikit demi sedikit, insyaAllah akan menjadi jalan menuju ibadah yang penuh keberkahan dan manfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah kebaikan dan menerima amal ibadah kurban kita semua dengan penuh keberkahan. [caption id="attachment_3830" align="alignnone" width="606"] Baznas Kota Sukabumi[/caption] Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Melalui BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, terpercaya, dan tepat sasaran untuk masyarakat yang membutuhkan. Konfirmasi CS BAZNAS : 081111112807 &ldquo;Kurban Anda, Kebahagiaan Mereka.&rdquo;
ARTIKEL13/05/2026 | BAZNAS
Ibadah Tanpa Kasta: Karena Setiap Niat Tulus Berhak Menjadi Kurban.
Ibadah Tanpa Kasta: Karena Setiap Niat Tulus Berhak Menjadi Kurban.
Hari Raya Idul Adha selalu menjadi momen istimewa bagi umat Islam. Selain menjadi hari besar penuh keberkahan, Idul Adha juga mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama melalui ibadah kurban. Namun hingga hari ini, masih banyak orang yang berpikir bahwa kurban hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya dan memiliki banyak harta. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. berkurban tanpa kasta[/caption] Dalam Islam, kurban bukan tentang siapa yang paling kaya atau siapa yang mampu membeli hewan paling mahal. Kurban adalah tentang ketakwaan, niat yang tulus, dan kesungguhan seorang hamba dalam menjalankan perintah Allah SWT. Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.&rdquo; (QS. Al-Kautsar : 2) Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah kurban merupakan bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Allah SWT. Perintah ini bukan hanya untuk orang-orang yang bergelimang harta, tetapi untuk setiap muslim yang memiliki kemampuan sesuai kadar rezekinya. Banyak orang yang hari ini mampu berkurban sebenarnya memulai dari langkah sederhana. Ada yang menabung sedikit demi sedikit setiap hari, menyisihkan uang mingguan, atau mengurangi pengeluaran yang tidak terlalu penting demi mewujudkan niat berkurban. Dari usaha kecil itulah lahirlah ibadah besar yang penuh keberkahan. Kurban mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah kemewahan hewan yang dibeli, tetapi keikhlasan hati dalam menjalankan perintah Allah SWT. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo; (QS. Al-Hajj : 37) Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah SWT tidak melihat besar kecilnya hewan kurban, melainkan melihat ketakwaan dan keikhlasan orang yang berkurban. Seekor kambing hasil tabungan bertahun-tahun bisa menjadi jauh lebih mulia di sisi Allah dibandingkan kurban mewah yang dilakukan hanya untuk mendapat pujian manusia. Rasulullah SAW juga menjelaskan betapa besarnya keutamaan ibadah kurban. Beliau bersabda: &ldquo;Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.&rdquo; (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Bahkan setiap tetes darah hewan kurban menjadi amalan yang sangat dicintai-Nya. Selain bernilai ibadah, kurban juga memiliki dampak sosial yang luar biasa. Di berbagai daerah, masih banyak keluarga yang jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari. Momentum Iduladha menjadi hari yang sangat dinanti karena mereka dapat merasakan nikmatnya hidangan bersama keluarga. Senyum anak-anak, rasa syukur para orang tua, dan kebahagiaan masyarakat sederhana menjadi bukti bahwa kurban membawa manfaat besar bagi sesama. Dari satu hewan kurban, lahir banyak kebahagiaan dan harapan baru. Oleh karena itu, jangan pernah merasa minder jika belum mampu membeli hewan kurban yang besar atau mahal. Islam tidak mewajibkan kepuasan dalam beribadah. Yang Allah SWT lihat adalah usaha, niat, dan keikhlasan hati kita. Mulailah dari langkah kecil. Jika hari ini belum mampu berkurban, mulailah belajar menabung dari sekarang. Sisihkan sedikit demi sedikit rezeki yang dimiliki. Tidak perlu menunggu kaya raya untuk mulai berkurban, karena semua orang bisa memulainya sesuai kemampuan masing-masing. Kisah Nabi Ibrahim AS juga mengajarkan bahwa inti dari kurban adalah ketaatan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Dari situlah umat Islam belajar tentang arti pengorbanan dan keikhlasan yang sesungguhnya. Jadi, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan. Iduladha adalah tentang menyemangati rasa egois, melatih kepedulian, dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Bersama BAZNAS Mari hadirkan manfaat dan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah dan terpercaya. - Hewan kurban sesuai syariat - Penyaluran tepat sasaran - Membantu masyarakat di daerah minim pekurban - Laporan transparan dan profesional Konfirmasi Kurban BAZNAS : 081111112807 Mari jadikan kurban tahun ini lebih bermakna. Karena kurban bukan hanya milik orang kaya, namun ibadah mulia yang bisa dimulai oleh siapa saja dengan hati yang tulus dan penuh keikhlasan.
ARTIKEL13/05/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Sia-sia! Bahaya Mengutamakan Gengsi Daripada Keikhlasan Saat Berkurban
Jangan Sampai Sia-sia! Bahaya Mengutamakan Gengsi Daripada Keikhlasan Saat Berkurban
Jangan Sampai Sia-sia! Bahaya Mengutamakan Gengsi Daripada Keikhlasan Saat Berkurban Hari Raya Idul Adha selalu menghadirkan suasana penuh makna bagi umat Islam. Kumandang takbir menggema di berbagai penjuru, masjid dan lapangan dipenuhi jamaah, serta hewan-hewan kurban mulai dipersiapkan untuk disembelih. Namun di balik semarak tersebut, ada satu pelajaran besar yang perlu kita renungkan bersama: kurban bukan soal kemewahan, tetapi soal keikhlasan. BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Sebagian besar orang sering merasa tidak pantas berkurban karena kondisi ekonomi yang terbatas. Ada yang berkata, &ldquo;Nanti saja kalau sudah kaya.&rdquo; Ada pula yang merasa minder karena tidak mampu membeli hewan kurban yang besar atau mahal. Padahal, dalam pandangan Islam, nilai utama ibadah kurban tidak diukur dari mahalnya hewan, melainkan dari ketakwaan dan keikhlasan hati orang yang melaksanakannya. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: Baik daging maupun darah mereka tidak sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kalian. &ldquo;Daging unta dan darahnya tidak akan pernah sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu.&rdquo; (QS. Al-Hajj : 37) Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah SWT tidak melihat seberapa besar hewan kurban yang kita beli, tetapi melihat seberapa ikhlas hati kita dalam menjalankan perintah-Nya. Seekor kambing yang dibeli dari hasil tabungan bertahun-tahun bisa jadi lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan kurban mahal yang dilakukan tanpa keikhlasan. Kurban juga mengajarkan makna pengorbanan. Saat seseorang rela menyisihkan sebagian hartanya demi membeli hewan kurban, sejatinya ia sedang belajar untuk mendahulukan cinta kepada Allah SWT di atas keinginan duniawi. Dari ibadah ini, kita belajar bahwa harta hanyalah titipan, dan sebagian darinya ada hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS merupakan contoh yang sangat baik dalam hal pengorbanan. Ketika Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra kesayangannya, beliau menaatinya tanpa ragu-ragu. Nabi Ismail AS pun menerima perintah itu dengan penuh kesabaran dan keimanan. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: Maka ketika anak itu mencapai usia yang cukup untuk bekerja bersamanya, Ibrahim berkata: 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku akan menyembelihmu. Maka berpikirlah, apa pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. As-Saffat: 102) Dari kisah ini, kita belajar bahwa pengorbanan bukanlah tentang kemewahan atau mencari pujian manusia. Pengorbanan adalah bentuk cinta, ketaatan, dan pengabdian kepada Allah SWT. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga menjelaskan keutamaan besar dari kurban melalui sabda beliau: Pada Hari Raya Kurban, tidak ada perbuatan yang lebih dicintai Allah dari anak Adam selain menumpahkan darah. &ldquo;Tidak ada amal perbuatan anak Adam di Hari Kiamat yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban.&rdquo; (Diriwayatkan oleh Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah kurban di sisi Allah SWT. Bahkan, setiap tetes darah hewan kurban menjadi amalan yang sangat dicintai-Nya. Selain bernilai ibadah, kurban juga memiliki dampak sosial yang luar biasa. Di berbagai pelosok negeri, masih banyak saudara kita yang jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran daging kurban menjadi kebahagiaan besar bagi mereka. Anak-anak tersenyum bahagia, keluarga berkumpul menikmati hidangan sederhana, dan masyarakat merasakan hangatnya kepedulian sesama muslim. Inilah indahnya kurban. Bukan hanya mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga mempererat persaudaraan dan menghadirkan kebahagiaan bagi banyak orang. Oleh karena itu, jangan menunggu kaya untuk mulai berkurban. Mulailah dari niat terbaik dan kemampuan yang dimiliki hari ini. Menabung sedikit demi sedikit untuk kurban adalah langkah mulia yang insyaAllah bernilai pahala di sisi Allah SWT. Allah Yang Maha Kuasa berfirman: Kurban kepada Tuhanmu. &ldquo;Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan bersembelihlah kurban.&rdquo; (QS. Al-Kawthar : 2) Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Anda Bersama BAZNAS Mari hadirkan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, profesional, dan tepat sasaran. - Hewan kurban berkualitas dan sesuai syariat - Penyaluran hingga daerah minimal pekurban - Laporan transparan dan terpercaya
ARTIKEL13/05/2026 | BAZNAS
Masyaallah! Bukan Sekadar Daging, Inilah Rahasia Pahala Kurban yang Menembus Langit.
Masyaallah! Bukan Sekadar Daging, Inilah Rahasia Pahala Kurban yang Menembus Langit.
Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momen yang paling dinantikan umat Islam di seluruh dunia. Pada hari penuh keberkahan ini, umat Muslim melaksanakan ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Di balik penyembelihan hewan kurban, ternyata tersimpan pahala yang begitu besar dan luar biasa. Tidak mengherankan jika banyak orang rela menabung sejak jauh hari demi bisa berkurban. Sebab mereka percaya bahwa setiap pengorbanan yang dilakukan di jalan Allah SWT tidak akan pernah sia-sia. Kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, ketakwaan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan. Melalui ibadah ini, seorang muslim belajar untuk mendahulukan perintah Allah dibandingkan kecintaan terhadap harta dan dunia. baznas kota sukabumi[/caption] Allah SWT berfirman: &ldquo;Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah.&rdquo; (QS. Al-Kautsar : 2) Ayat ini menjadi salah satu dasar perintah berkurban bagi umat Islam. Kurban adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan sebagai wujud rasa syukur dan penghambaan kepada Allah SWT. Besarnya pahala kurban juga dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Beliau bersabda: &ldquo;Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih hewan kurban.&rdquo; (HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah kurban memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Allah SWT. Bahkan di hari Iduladha, tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah hewan kurban. Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari berhenti lengkap dengan tanduk, bulu, dan kukunya.&rdquo; (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) Hadis ini menggambarkan betapa besarnya balasan bagi orang yang berkurban. Seluruh bagian hewan kurban akan menjadi Saksi amal ibadah di hadapan Allah SWT pada hari berhenti kelak. Namun Allah SWT juga mengingatkan bahwa inti dari ibadah kurban bukanlah kemewahan hewan yang disembelih, melainkan ketakwaan dan keikhlasan hati. Allah SWT berfirman: &ldquo;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.&rdquo; (QS. Al-Hajj : 37) Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah SWT tidak melihat betapa mahalnya hewan kurban kita, tetapi melihat keikhlasan niat dan keikhlasan dalam menjalankan perintah-Nya. Kurban juga memiliki dampak sosial yang luar biasa. Di berbagai pelosok negeri, masih banyak keluarga yang jarang menikmati daging dalam kehidupan sehari-hari. Momentum Iduladha menjadi hari penuh kebahagiaan bagi mereka karena bisa menikmati hidangan bersama keluarga. Senyum anak-anak, rasa syukur para orang tua, dan kebersamaan masyarakat sederhana menjadi bukti bahwa ibadah kurban membawa manfaat yang sangat besar. Dari satu hewan kurban, lahir banyak kebahagiaan dan keberkahan. Inilah indahnya kurban. Satu ibadah menghadirkan dua kebaikan sekaligus: mendekatkan diri kepada Allah SWT dan membahagiakan sesama manusia. Oleh karena itu, jangan pernah ragu untuk mulai berkurban. Tidak harus menunggu menjadi kaya raya. Banyak orang yang mampu berkurban justru karena terbiasa menabung sedikit demi sedikit sejak jauh hari. Yang paling penting adalah niat yang tulus dan usaha terbaik untuk menjalankan ibadah ini. Kurban juga mengajarkan bahwa sebagian dari rezeki yang kita miliki terdapat hak saudara-saudara kita yang membutuhkan. Dengan berkurban, kita belajar berbagi, peduli, dan menghadirkan kebahagiaan untuk sesama. Mari jadikan Iduladha tahun ini sebagai momentum memperkuat keimanan dan kepedulian sosial. Sebab setiap tetes darah hewan kurban bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi jalan hadirnya senyum dan harapan bagi banyak orang. Yuk Tunaikan Kurban Terbaik Bersama BAZNAS Mari hadirkan manfaat dan kebahagiaan hingga pelosok negeri melalui program kurban yang amanah, profesional, dan tepat sasaran. - Hewan kurban sesuai syariat - Penyaluran hingga daerah minim pekurban - Membantu masyarakat yang membutuhkan - Laporan transparan dan terpercaya
ARTIKEL13/05/2026 | BAZNAS
Hidup Ingin Tenang? Hindari 5 Sikap Buruk yang Sering Terjadi Sehari-hari
Hidup Ingin Tenang? Hindari 5 Sikap Buruk yang Sering Terjadi Sehari-hari
Hidup ingin tenang tidak cukup hanya dengan harapan. Hindari 5 sikap buruk yang sering terjadi sehari-hari agar hati lebih damai, rezeki lancar, dan hidup lebih berkah menurut ajaran Islam. Hidup Ingin Tenang? Banyak Orang Salah di Bagian Ini Setiap orang pasti ingin hidup ingin tenang.Ingin hati damai, rezeki lancar, keluarga harmonis, dan pikiran tidak gelisah. Namun kenyataannya, banyak orang merasa hidupnya berat, mudah stres, sering kesal, bahkan sulit merasa bahagia.Padahal bisa jadi bukan karena kurang harta, tapi karena masih ada sikap buruk yang sering dilakukan setiap hari. Dalam Islam, ketenangan hidup sangat berkaitan dengan kebersihan hati dan amal baik. Kalau hidup terasa tidak tenang, coba periksa diri.Mungkin ada kebiasaan buruk yang masih sering dilakukan tanpa sadar. Berikut 5 sikap buruk sehari-hari yang harus dihindari jika ingin hidup lebih tenang. 1. Sering Mengeluh, Padahal Nikmat Banyak Salah satu penyebab hidup tidak tenang adalah terlalu sering mengeluh. Sedikit masalah langsung mengeluh,sedikit capek langsung mengeluh,melihat orang lain lebih berhasil langsung merasa kurang. Padahal Allah sudah memberi banyak nikmat. Allah berfirman: &ldquo;Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmatmu.&rdquo;(QS. Ibrahim: 7) Orang yang suka bersyukur biasanya hidupnya lebih ringan.Sebaliknya, orang yang sering mengeluh sulit merasakan ketenangan. Kalau ingin hidup ingin tenang, biasakan melihat nikmat, bukan kekurangan. 2. Mudah Marah dan Emosi Marah berlebihan membuat hati panas dan pikiran tidak jernih. Banyak masalah terjadi karena tidak bisa menahan emosi.Persahabatan rusak, keluarga bertengkar, pekerjaan jadi tidak nyaman. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Orang kuat bukan yang menang dalam bergulat, tapi yang mampu menahan marah.&rdquo;(HR. Bukhari dan Muslim) Menahan marah bukan berarti lemah.Justru itu tanda hati yang kuat. Kalau ingin hidup ingin tenang, belajar sabar adalah kunci. 3. Pelit Berbagi, Tapi Ingin Hidup Berkah Banyak orang ingin hidup tenang dan rezeki lancar, tapi sulit bersedekah. Padahal sedekah adalah salah satu sebab datangnya ketenangan. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Sedekah tidak akan mengurangi harta.&rdquo;(HR. Muslim) Orang yang suka berbagi biasanya hatinya lebih lapang.Tidak mudah gelisah, tidak mudah iri, dan lebih merasa cukup. Sebaliknya, orang yang terlalu cinta harta sering merasa takut kehilangan. Kalau ingin hidup ingin tenang, biasakan berinfaq walau sedikit. 4. Suka Iri Melihat Orang Lain Iri adalah penyakit hati yang sering tidak disadari. Melihat orang sukses jadi kesal,melihat orang bahagia jadi tidak suka,melihat orang punya rezeki lebih jadi panas hati. Padahal iri hanya membuat hati sendiri tidak tenang. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Hindarilah hasad, karena hasad memakan kebaikan seperti api memakan kayu bakar.&rdquo;(HR. Abu Dawud) Kalau ingin hidup ingin tenang, belajar ridha dengan takdir Allah.Setiap orang punya rezeki masing-masing. 5. Lalai Ibadah Tapi Ingin Hati Tenang Ini yang paling sering terjadi. Ingin hidup damai, tapi sholat masih bolong.Ingin hati tenang, tapi jarang dzikir.Ingin berkah, tapi jarang sedekah. Padahal ketenangan tidak datang dari dunia, tapi dari dekat dengan Allah. Allah berfirman: &ldquo;(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.&rdquo; (QS. Ar-Ra&rsquo;d: 28) Kalau ingin hidup ingin tenang, perbaiki ibadah dulu.Karena hati yang dekat dengan Allah lebih mudah merasa damai. Hidup Tenang Dimulai dari Memperbaiki Sikap Sehari-hari Hidup ingin tenang bukan hanya soal punya banyak uang atau hidup tanpa masalah.Ketenangan datang dari hati yang bersih, sikap yang baik, dan ibadah yang dijaga. Hindari kebiasaan mengeluh, marah, pelit, iri, dan lalai ibadah.Biasakan bersyukur, sabar, berbagi, dan mendekat kepada Allah. Semakin baik sikap kita, semakin tenang hidup kita. Karena itu, jangan tunggu nanti untuk berubah.Mulai dari sekarang, mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri. Salurkan Infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi Agar infaq lebih aman, tepat sasaran, dan membawa berkah, salurkan melaluiBAZNAS Kota Sukabumi. ???? Mari biasakan infaq sekarang juga melalui BAZNAS Kota Sukabumi.Sedikit dari kita, sangat berarti bagi mereka. untuk melihat artikel lainnya klik link dibawah ini : Mengejutkan! 7 Kesalahan Orang Tua yang Sering Terjadi Tanpa Disadari https://baznaskotasukabumi.com/hidup-tenang-dengan-cukup/
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
MasyaAllah! Ternyata Ibu Hamil Punya Kedudukan Istimewa dalam Islam, Ini Penjelasannya
MasyaAllah! Ternyata Ibu Hamil Punya Kedudukan Istimewa dalam Islam, Ini Penjelasannya
Menjadi seorang ibu adalah perjalanan yang penuh keajaiban, tantangan, sekaligus limpahan pahala. Bagi Anda yang saat ini tengah mengandung, mungkin sering merasa lelah, mual, atau sulit tidur. Namun, tahukah Anda? Di balik setiap tetes keringat dan rasa pegal itu, Allah SWT sedang menaikkan derajat Anda ke tempat yang sangat tinggi. Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam bukan sekadar kalimat penghibur. Ini adalah janji nyata dari Allah dan Rasul-Nya. Mari kita bedah satu per satu mengapa masa kehamilan adalah masa "panen pahala" yang luar biasa. 1. Setiap Detik Adalah Ibadah dan Jihad Dalam Islam, proses mengandung dianggap setara dengan perjuangan di jalan Allah (Jihad fi Sabilillah). Ketika seorang wanita mengandung, setiap rasa sakit yang dirasakannya, mulai dari mual di pagi hari hingga beratnya melangkah, dihitung sebagai pahala yang terus mengalir selama 24 jam nonstop. Rasulullah SAW bersama para sahabat pernah membahas tentang keutamaan wanita. Beliau menyampaikan bahwa wanita yang hamil hingga melahirkan dan menyusui, mereka mendapatkan pahala seperti pejuang yang berjaga di garis depan pertempuran. Jika ia meninggal dalam masa itu, maka baginya pahala mati syahid. 2. Shalatnya Ibu Hamil Berlipat Ganda Pahalanya Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam bahkan dalam urusan ritual ibadah harian. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa shalat dua rakaat yang dilakukan oleh wanita hamil jauh lebih baik daripada 80 rakaat yang dilakukan oleh wanita yang tidak hamil. Mengapa demikian? Karena saat shalat, ia membawa janin yang juga bertasbih kepada Allah SWT. Ada dua nyawa yang sedang bersujud, namun hanya satu raga yang bergerak. Sungguh sebuah keberkahan yang tidak ternilai harganya. 3. Diampuni Dosa-dosanya Saat Melahirkan Momen melahirkan adalah puncak dari perjuangan seorang ibu. Rasa sakitnya digambarkan sebagai salah satu rasa sakit fisik tertinggi yang bisa dialami manusia. Namun, Islam memberikan kabar gembira. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa ketika seorang wanita melahirkan, maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti hari saat ia dilahirkan oleh ibunya. Allah menghapuskan segala kesalahan masa lalunya sebagai imbalan atas taruhan nyawa yang ia lakukan demi menghadirkan hamba baru ke muka bumi. 4. Doanya Sangat Mustajab Pernahkah Anda merasa sangat dekat dengan Tuhan saat sedang hamil? Itu bukan perasaan belaka. Ibu hamil punya kedudukan istimewa dalam Islam sehingga doa-doanya sangat didengar oleh Allah. Logikanya, ibu hamil sedang dalam kondisi "darurat" atau kesulitan fisik yang terus-menerus (masyaqqah). Allah sangat dekat dengan hamba-Nya yang sedang merasa lemah dan bersandar penuh pada-Nya. Oleh karena itu, para calon ibu sangat dianjurkan untuk memperbanyak doa, baik untuk dirinya, keluarganya, maupun untuk anak yang dikandungnya agar menjadi anak yang shalih dan shalihah. 5. Memperoleh Pahala Puasa dan Tahajud Sepanjang Hari Secara fisik, mungkin ibu hamil tidak kuat untuk melakukan shalat malam yang panjang atau berpuasa sunnah setiap hari. Namun, karena kelelahan yang ia alami akibat menjaga janin, Allah memberikan "bonus" pahala. Selama janin tersebut ada dalam kandungan, sang ibu mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa di siang hari dan melakukan shalat tahajud di malam hari. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa bagi para wanita. 6. Malaikat Beristighfar untuk Ibu Hamil Bayangkan, makhluk yang tidak pernah berdosa (malaikat) memohonkan ampunan untuk Anda. Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa ketika seorang wanita hamil, para malaikat senantiasa memohonkan ampunan (istighfar) untuknya. Bahkan, setiap teguk air yang diminum oleh ibu hamil untuk menghilangkan dahaganya, dan setiap suap makanan yang ia makan untuk memberi nutrisi pada janinnya, Allah catatkan sebagai sedekah. 7. Jaminan Surga Melalui Ridha Anak Keistimewaan ini berlanjut bahkan setelah anak lahir. Kita semua tahu hadits populer: "Surga berada di bawah telapak kaki ibu." Kedudukan ini bermula dari masa kehamilan. Perjuangan sembilan bulan itulah yang membuat seorang ibu berhak mendapatkan penghormatan tiga kali lebih besar daripada ayah. Islam menempatkan ibu hamil sebagai sosok yang suci dan mulia. Jadi, untuk para Bunda di luar sana, jika hari ini terasa berat, ingatlah bahwa Allah sedang tersenyum melihat perjuanganmu. Pentingnya Menjaga Keberkahan dengan Berbagi Keistimewaan yang Allah berikan sebaiknya dibarengi dengan rasa syukur. Salah satu cara terbaik untuk mensyukuri nikmat kehamilan dan memohon keselamatan hingga persalinan adalah dengan bersedekah atau membayar infaq. Zakat, Infaq, dan Sedekah bukan hanya membersihkan harta, tapi juga menjadi penolak bala (daf&rsquo;ul bala). Dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan, kita berharap Allah memberikan kemudahan dalam setiap proses persalinan nanti. Ayo, alirkan keberkahan kehamilanmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi! BAZNAS Kota Sukabumi siap membantu Anda mendistribusikan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Dengan berinfaq, kita menjaga diri dari sifat serakah dan memastikan harta kita membawa manfaat dunia hingga akhirat. Salurkan Infaq Terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. &gt; "Harta tidak akan berkurang karena sedekah, justru akan semakin berkah dan melimpah." Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/sedekah-alat-ibadah-untuk-lansia https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/masyaallah-rahasia-parenting-islami-untuk-menciptakan-keluarga-bahagia-dan-penuh-berkah/41607
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Pernah Merasa Sendiri di Tengah Keramaian? Ini Penjelasannya
Pernah Merasa Sendiri di Tengah Keramaian? Ini Penjelasannya
Pernahkah Anda berada di sebuah pesta yang bising, rapat kantor yang penuh sesak, atau bahkan berkumpul bersama keluarga besar, namun tiba-tiba merasa sangat terisolasi? Seolah-olah ada dinding kaca transparan yang memisahkan Anda dari dunia luar. Jika pernah, Anda tidak sendirian. Fenomena merasa sendiri di tengah keramaian adalah pengalaman manusiawi yang sangat umum, meskipun sering kali terasa menyakitkan dan membingungkan. Ini bukan tentang jumlah orang yang ada di sekitar Anda, tetapi tentang kualitas koneksi yang Anda rasakan. Merasa sendiri di tengah keramaian bisa dialami siapa saja, dari seorang introvert yang pendiam hingga seorang ekstrovert yang tampak populer. Mari kita bedah lima alasan psikologis dan spiritual mengapa perasaan ini bisa muncul dan bagaimana sudut pandang Islam melihatnya. 1. Kegagalan Koneksi Emosional yang Mendalam Faktor utama yang menyebabkan seseorang merasa sendiri di tengah keramaian bukanlah kurangnya interaksi fisik, melainkan kurangnya koneksi emosional. Anda mungkin sedang mengobrol, tertawa, atau berdiskusi, tetapi jika percakapan itu hanya sebatas basa-basi di permukaan, jiwa Anda tidak merasa "terpenuhi." Kita hidup di era di mana kita sangat terhubung secara digital, tetapi sering kali merasa "terputus" secara emosional. Percakapan yang dangkal tidak memuaskan kebutuhan dasar manusia untuk dimengerti, diterima, dan dihargai. Saat interaksi hanya terjadi di level luar, rasa hampa bisa merayap masuk, membuat Anda merasa sendiri di tengah keramaian. 2. Mengenakan "Topeng" Sosial Sering kali, untuk bisa diterima dalam suatu kelompok atau untuk menyembunyikan kerapuhan kita, kita mengenakan "topeng." Kita berpura-pura bahagia padahal sedih, berpura-pura setuju padahal tidak, atau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri kita. Semakin keras kita berusaha mempertahankan image tersebut, semakin kita menjauhkan diri kita yang asli dari orang lain. Ketika Anda tidak otentik, Anda menciptakan jarak yang tidak terlihat antara diri Anda dan lingkungan sekitar. Anda merasa sendiri di tengah keramaian karena tidak ada yang benar-benar mengenal siapa Anda yang sebenarnya, termasuk diri Anda sendiri yang sedang berpura-pura itu. 3. Ketidakselarasan Nilai dan Tujuan Penyebab lain merasa sendiri di tengah keramaian adalah ketika Anda berada di lingkungan yang nilai-nilai atau tujuan hidupnya tidak sejalan dengan Anda. Mungkin Anda berada di antara sekelompok orang yang hanya sibuk mengejar materi, sementara Anda mendambakan kedamaian spiritual atau kontribusi sosial. Ketidakselarasan ini bisa menciptakan rasa tidak "klik" dan keterasingan. Jiwa Anda merasakan kekosongan karena tidak menemukan "rumah" yang frekuensinya sama. 4. Tuntutan Modern dan Kelelahan Mental Kehidupan modern dengan segala tuntutannya media sosial, ambisi karier, hingga hiruk-pikuk kota bisa sangat melelahkan. Kelelahan mental ini (burned out) sering kali membuat seseorang menarik diri secara emosional dari lingkungan, meskipun secara fisik masih ada. Di sinilah pandangan spiritual, khususnya Islam, memberikan kedalaman makna. Rasa sendiri di tengah keramaian bisa menjadi alarm dari Allah agar kita kembali mengingat-Nya. Sering kali, rasa hampa itu muncul karena kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan melupakan koneksi yang paling utama, yaitu hubungan kita dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman: "...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28) Ketenangan sejati, yang menghalau rasa kesepian, hanya bisa ditemukan ketika hati terhubung dengan sumber segala ketenangan. Rasa sendiri di tengah keramaian adalah sinyal untuk ber-muhasabah (introspeksi diri), memperbanyak zikir, dan shalat, untuk mengisi kembali kekosongan jiwa. 5. Kebutuhan untuk Kembali pada Koneksi Spiritual Fenomena merasa sendiri di tengah keramaian juga mengingatkan kita pada hadits Rasulullah SAW tentang akhir zaman, di mana umat Muslim jumlahnya banyak, namun ibarat buih di lautan banyak, tetapi tidak memiliki bobot karena kualitas iman mereka yang rapuh. Nabi Muhammad SAW bersabda: &ldquo;Akan datang suatu zaman di mana manusia seperti buih di lautan...&rdquo; Para sahabat bertanya, &ldquo;Apakah karena jumlah kami sedikit pada waktu itu, wahai Rasulullah?&rdquo; Beliau menjawab, &ldquo;Tidak, bahkan jumlah kalian banyak pada waktu itu, akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dalam diri musuh kalian, dan Allah akan menimpakan penyakit wahn dalam hati kalian.&rdquo; Mereka bertanya, &ldquo;Apa itu penyakit wahn, wahai Rasulullah?&rdquo; Beliau menjawab, &ldquo;Cinta dunia dan takut mati.&rdquo; (HR. Abu Dawud) Merasakan sendiri di tengah keramaian juga bisa bermakna seperti buih tersebut; terlihat banyak, namun terasa rapuh dan tidak memiliki tujuan yang jelas. Rasa sepi ini bisa menjadi motivasi untuk menguatkan iman, memperbanyak amal saleh, dan mencari lingkungan yang suportif secara spiritual. Solusi Praktis Melawan Rasa Sepi di Tengah Keramaian Validasi Perasaan Anda: Jangan menyalahkan diri sendiri. Akui bahwa rasa sendiri di tengah keramaian adalah valid. Cari Koneksi yang Lebih Dalam: Fokus pada satu atau dua hubungan yang berkualitas, bukan puluhan hubungan yang dangkal. Hadir Sepenuhnya (Mindfulness): Saat bersama orang lain, simpan ponsel dan dengarkan dengan tulus. Hadirkan Tuhan dalam Hati: Jadikan Allah sebagai sahabat terdekat. Temukan kenyamanan dalam doa dan ibadah. Berbuat Baik: Alihkan fokus dari kesepian diri sendiri dengan membantu orang lain. Memberi bisa mengisi kekosongan hati. Mengubah Rasa Sepi Menjadi Energi Kebaikan Salah satu cara paling ampuh untuk mengikis rasa sendiri di tengah keramaian dan sekaligus mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berbuat baik secara nyata. Ketika Anda membantu orang lain, Anda tidak hanya meringankan beban mereka, tetapi juga mengisi hati Anda dengan kepuasan spiritual. Anda akan menyadari bahwa keberadaan Anda berarti bagi orang lain, dan rasa keterasingan itu perlahan akan memudar. Koneksi dengan sesama manusia melalui kebaikan adalah perpanjangan dari koneksi kita kepada Allah. Mari jadikan perasaan ini sebagai pemicu untuk berbuat lebih banyak kebaikan, terutama bagi mereka yang membutuhkan di sekitar kita. Mari Salurkan Kepedulian Anda Melalui BAZNAS Kota Sukabumi! Bagi Anda, warga Sukabumi dan sekitarnya, rasa sendiri di tengah keramaian bisa Anda ubah menjadi energi positif dengan membantu sesama melalui instansi resmi yang tepercaya. Salurkan Infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk mendukung program-program pemberdayaan umat dan sosial. Setiap Infaq yang Anda berikan bukan hanya angka, melainkan wujud cinta kasih yang dapat menghangatkan hati banyak orang, dan pada gilirannya, menghangatkan hati Anda sendiri. Ubah rasa sepi menjadi bukti kepedulian. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/tebar-kebahagiaan-dengan-berbagi-paket-sembako https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/ketika-dunia-tidak-ramah-jadilah-rumah-untuk-dirimu-sendiri/33441
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →