WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Seberapa Jauh Zakat Bisa Menolong di Tengah Tekanan Ekonomi?
Seberapa Jauh Zakat Bisa Menolong di Tengah Tekanan Ekonomi?
Seberapa Jauh Zakat Bisa Menolong di Tengah Tekanan Ekonomi? Seberapa jauh zakat dapat membantu masyarakat di tengah tekanan ekonomi? Simak bagaimana zakat menjadi bantuan sekaligus jalan pemberdayaan ekonomi bagi mustahik. Harga kebutuhan hidup, ketidakpastian pekerjaan, dan keterbatasan penghasilan membuat sebagian masyarakat harus semakin cermat mengatur kehidupan. Bagi keluarga rentan, sedikit perubahan ekonomi dapat berarti berkurangnya kebutuhan pangan, tertundanya pengobatan, atau sulitnya mempertahankan usaha. Di tengah kondisi seperti ini, muncul pertanyaan penting: seberapa jauh zakat bisa menolong? Jawabannya tidak sesederhana memberikan sejumlah uang lalu persoalan selesai. Zakat memiliki potensi untuk membantu kebutuhan mustahik sekaligus menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi. BAZNAS sendiri menempatkan zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi mustahik dan pemerataan kesejahteraan. Zakat Ketika Ekonomi Sedang Tertekan Tekanan ekonomi tidak dirasakan dengan cara yang sama oleh semua orang. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kenaikan kebutuhan sehari-hari bisa langsung memengaruhi kehidupan. Ketika Penghasilan Tidak Lagi Cukup Seseorang yang kehilangan pekerjaan harus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga. Pedagang kecil mungkin harus menghadapi modal yang terbatas. Pekerja informal dapat kehilangan penghasilan ketika tidak bisa bekerja. Dalam kondisi tersebut, bantuan bukan sekadar soal uang. Bantuan dapat menjadi kesempatan untuk bertahan, kemudian bangkit. Mengapa Zakat Bisa Menjadi Bagian dari Solusi? Allah SWT telah menetapkan kelompok yang berhak menerima zakat: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki sasaran yang jelas. Di dalamnya terdapat perhatian terhadap kelompok masyarakat yang menghadapi keterbatasan dan kesulitan. Dari Bantuan Menuju Pemberdayaan Zakat dapat digunakan untuk membantu kebutuhan mustahik sesuai ketentuan syariah. Dalam pengelolaan tertentu, zakat juga dapat didayagunakan untuk pemberdayaan ekonomi. BAZNAS, misalnya, menjalankan program yang mencakup bantuan modal, pelatihan, pendampingan, akses pemasaran, hingga pengembangan usaha mustahik. Artinya, zakat tidak harus berhenti pada pertanyaan “berapa yang diberikan?” Kita juga dapat bertanya: “Apa yang bisa terjadi setelah bantuan itu diterima?” Zakat Bisa Membuka Jalan Menuju Kemandirian Bayangkan seorang pedagang kecil yang usahanya hampir berhenti karena keterbatasan modal. Bantuan yang tepat dapat membantunya kembali menyediakan barang dagangan. Ketika disertai pendampingan, ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki pengelolaan usaha dan meningkatkan penghasilan. Dari Mustahik Menjadi Lebih Mandiri Inilah salah satu potensi zakat produktif. BAZNAS memiliki berbagai program pemberdayaan ekonomi seperti UMKM, ZMart, Lumbung Pangan, dan Zakat Community Development yang menggabungkan dukungan ekonomi dengan pendampingan. Dalam program pemberdayaan ekonomi, penerima manfaat tidak hanya memperoleh bantuan, tetapi juga didorong untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, dan membangun sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan. Zakat yang Membuka Kesempatan Perubahan seperti ini tidak selalu terjadi dalam satu hari. Ada proses. Ada pendampingan. Ada kegagalan yang mungkin harus dilewati. Namun, sebuah bantuan dapat menjadi titik awal dari perjalanan menuju kemandirian. Islam Mengajarkan untuk Meringankan Kesulitan Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang Muslim, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa meringankan kesulitan orang lain merupakan amal yang memiliki nilai besar. Ketika kita memiliki kemampuan untuk membantu, mengapa tidak menjadikannya sebagai jalan kebaikan? Seberapa Jauh Zakat Bisa Menolong? Zakat tentu bukan satu-satunya jawaban atas seluruh persoalan ekonomi. Pemerintah, dunia usaha, lapangan pekerjaan, pendidikan, dan berbagai kebijakan sosial tetap memiliki peran penting. Namun, zakat dapat menjadi salah satu kekuatan yang membantu masyarakat menghadapi tekanan ekonomi. Dari Nominal Menjadi Dampak Kita mungkin hanya melihat angka ketika membayar zakat. Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, angka tersebut dapat berubah menjadi kebutuhan pokok, dukungan usaha, pelatihan, atau kesempatan untuk kembali produktif sesuai program dan ketentuan penyaluran. Itulah mengapa zakat memiliki makna yang jauh lebih besar daripada nominalnya. Mari Jadikan Zakat Sebagai Jalan Kebaikan Di luar sana, ada orang yang sedang berusaha mempertahankan keluarganya. Ada yang ingin kembali bekerja. Ada pedagang kecil yang ingin mempertahankan usahanya. Ada keluarga yang hanya membutuhkan sedikit ruang untuk bernapas sebelum kembali bangkit. Zakat Anda, Harapan Mereka Kita mungkin tidak mampu mengatasi seluruh tekanan ekonomi yang terjadi. Tetapi kita bisa mengambil bagian. Tunaikan zakat Anda melalui BAZNAS dan dukung upaya pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan. BAZNAS menyediakan program pemberdayaan ekonomi yang mencakup bantuan usaha, pelatihan, pendampingan, dan pengembangan akses pasar. Jangan Biarkan Kebaikan Berhenti pada Nominal Zakat yang kita keluarkan mungkin hanya terlihat sebagai angka di rekening. Namun, di tangan mereka yang membutuhkan, zakat dapat menjadi kesempatan untuk bertahan, bangkit, dan menata kembali masa depan. Mari tunaikan zakat hari ini. Karena di tengah tekanan ekonomi, zakat kita mungkin tidak menyelesaikan semuanya—tetapi bisa menjadi awal dari perubahan hidup seseorang.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Dampak Judi Online terhadap Ekonomi Keluarga: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Pemulihan?
Dampak Judi Online terhadap Ekonomi Keluarga: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Pemulihan?
Dampak Judi Online terhadap Ekonomi Keluarga: Bisakah Zakat Menjadi Jalan Pemulihan? Judi online bukan hanya menghabiskan uang, tetapi dapat mengganggu ekonomi keluarga. Simak bagaimana zakat dapat menjadi bagian dari jalan pemulihan bagi mereka yang memenuhi syarat sebagai mustahik. Judi online sering kali dimulai dari sesuatu yang terlihat kecil. Satu taruhan, satu putaran, atau harapan mendapatkan keuntungan dengan cepat. Namun, ketika kebiasaan tersebut terus berulang, uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dapat ikut terseret. Dampaknya bukan hanya kehilangan uang. Ekonomi keluarga dapat terganggu, kebutuhan sehari-hari terabaikan, utang bertambah, bahkan hubungan dalam keluarga dapat ikut mengalami tekanan. Lalu, ketika seseorang atau sebuah keluarga sudah terpuruk akibat kondisi tersebut, muncul pertanyaan: bisakah zakat menjadi jalan pemulihan? Jawabannya bisa, jika penerima memenuhi kriteria mustahik sesuai syariat. Zakat bukan dana untuk menutup kerugian judi secara otomatis, tetapi dapat membantu fakir, miskin, dan golongan lain yang memang berhak menerima zakat. Judi Online Bukan Sekadar Kehilangan Uang Dampak judi online terhadap ekonomi keluarga dapat berkembang jauh lebih luas daripada nominal yang dipertaruhkan. Ketika Penghasilan Rumah Tangga Terkikis Penghasilan yang seharusnya digunakan untuk membeli makanan, membayar pendidikan, memenuhi kebutuhan kesehatan, atau mengembangkan usaha bisa habis untuk aktivitas perjudian. Masalah semakin berat ketika seseorang mulai menggunakan utang untuk mengejar kekalahan. Dari Kerugian Menjadi Lingkaran Masalah Kekalahan dapat mendorong seseorang untuk kembali bermain dengan harapan mendapatkan kembali uang yang hilang. Jika terus berlangsung, terbentuk sebuah siklus yang sulit dihentikan. Akibatnya, keluarga dapat menghadapi: berkurangnya uang untuk kebutuhan pokok; bertambahnya utang; terganggunya usaha atau pekerjaan; tekanan psikologis dan konflik keluarga; serta menurunnya kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Islam dengan Tegas Melarang Perjudian Islam tidak memandang judi sebagai cara mencari penghasilan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.”(QS. Al-Ma’idah: 90) Allah juga menjelaskan dampak sosial perjudian: “Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?”(QS. Al-Ma’idah: 91) Ayat tersebut menunjukkan bahwa perjudian bukan hanya persoalan finansial, tetapi juga dapat membawa dampak sosial dan spiritual. Bisakah Zakat Menjadi Jalan Pemulihan? Di sinilah zakat dapat memiliki peran, tetapi harus ditempatkan secara tepat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Bukan untuk Membayar Kebiasaan Judi Penting dipahami: zakat bukan solusi untuk membiayai perjudian atau sekadar melunasi kerugian akibat judi online. Namun, apabila seseorang atau keluarganya benar-benar berada dalam kondisi fakir, miskin, atau termasuk golongan mustahik lainnya, mereka dapat memperoleh bantuan zakat sesuai ketentuan syariah. Zakat kemudian dapat menjadi bagian dari proses pemulihan kebutuhan hidup dan pemberdayaan. Dari Bertahan Menuju Bangkit Pemulihan ekonomi keluarga membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Membuka Kembali Kesempatan Bagi keluarga yang memenuhi syarat sebagai mustahik, dukungan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar. Dalam konteks pemberdayaan, bantuan juga dapat diarahkan untuk membuka kesempatan produktif sesuai ketentuan program dan syariah. Seorang kepala keluarga dapat kembali berusaha. Pelaku usaha kecil dapat memperoleh dukungan. Keluarga yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan pokok dapat memiliki ruang untuk menata kembali kehidupan. Zakat Menjadi Awal, Bukan Akhir Tujuannya bukan membuat seseorang terus bergantung pada bantuan. Harapannya adalah membantu mereka melewati masa sulit dan, ketika memungkinkan, bergerak menuju kemandirian. Mari Hadir untuk Mereka yang Ingin Bangkit Tidak semua orang yang terpuruk mampu bangkit sendirian. Ada keluarga yang membutuhkan kesempatan kedua. Ada orang yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk dan kembali menata kehidupannya. Ada keluarga yang terdampak secara ekonomi dan membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Zakat Anda Bisa Menjadi Bagian dari Pemulihan Melalui lembaga pengelola zakat seperti BAZNAS, zakat dapat disalurkan kepada mereka yang berhak sesuai ketentuan syariah dan kebutuhan program. Jangan biarkan zakat berhenti sebagai angka. Jadikan zakat sebagai bentuk kepedulian untuk membantu mereka yang benar-benar membutuhkan kesempatan untuk bangkit. Saatnya Membantu, Bukan Menghakimi Judi online memang harus dijauhi. Namun, ketika seseorang dan keluarganya telah terdampak, kepedulian tetap dibutuhkan. Zakat Anda mungkin tidak menghapus masa lalu mereka, tetapi dapat membantu menghadirkan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Mari tunaikan zakat melalui lembaga yang amanah dan dukung pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan. Karena pemulihan bukan hanya tentang keluar dari masalah, tetapi tentang mendapatkan kesempatan untuk kembali berdiri.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Klik, Bayar, Berdampak: Revolusi Zakat Digital BAZNAS di Tengah Generasi Serba Digital
Klik, Bayar, Berdampak: Revolusi Zakat Digital BAZNAS di Tengah Generasi Serba Digital
Klik, Bayar, Berdampak: Revolusi Zakat Digital BAZNAS di Tengah Generasi Serba Digital Zakat digital BAZNAS membuat pembayaran zakat semakin mudah, cepat, dan praktis. Inilah bagaimana teknologi mengubah kebiasaan berzakat generasi digital menjadi dampak nyata. Hari ini, hampir semua hal dapat dilakukan melalui smartphone. Membeli makanan, membayar tagihan, berbelanja, hingga mengirim uang hanya membutuhkan beberapa sentuhan layar. Lalu, bagaimana dengan zakat? Di tengah generasi yang serba digital, membayar zakat tidak lagi harus dilakukan dengan datang langsung ke kantor lembaga amil. Zakat digital BAZNAS hadir sebagai salah satu bentuk inovasi agar ibadah tetap dekat dengan kebiasaan masyarakat modern. BAZNAS menyediakan berbagai kanal pembayaran digital, termasuk platform resmi, layanan perbankan, platform komersial, crowdfunding, media sosial, hingga metode pembayaran digital lainnya. Zakat Berubah Cara, Bukan Nilai Ibadahnya Digitalisasi mungkin mengubah cara seseorang menunaikan zakat, tetapi tidak mengubah hakikat zakat sebagai kewajiban. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan zakat bukan sekadar transaksi keuangan. Ada proses membersihkan harta, menyucikan jiwa, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Teknologi Hanya Menjadi Jembatan Jika dahulu seseorang harus mencari kantor zakat, kini smartphone dapat menjadi jembatan menuju ibadah. BAZNAS menyediakan layanan pembayaran online yang memungkinkan muzaki menghitung zakat, memilih jenis dana, menentukan metode pembayaran, dan memperoleh bukti setor setelah transaksi. Generasi Digital, Zakat Harus Semakin Mudah Generasi saat ini terbiasa dengan layanan yang cepat dan praktis. Mereka terbiasa dengan QR code, mobile banking, dompet digital, dan transaksi tanpa uang tunai. Dari Scroll Menjadi Amal Setiap hari kita menghabiskan waktu di dunia digital. Kita scrolling media sosial. Membuka marketplace. Membayar tagihan. Melakukan transfer. Mengapa tidak menjadikan ruang digital sebagai jalan untuk memperbanyak kebaikan? Inilah peluang besar zakat digital. Satu klik dapat menjadi awal dari manfaat yang jauh lebih panjang bagi orang lain. Klik, Bayar, Berdampak Kemudahan bukan berarti mengurangi makna. Justru, ketika hambatan pembayaran semakin kecil, kesempatan masyarakat untuk menunaikan zakat dapat semakin terbuka. BAZNAS terus mengembangkan layanan digital. Pada Juli 2026, misalnya, BAZNAS RI bersama LinkAja Syariah menghadirkan fitur kalkulator zakat dan menu BAZNAS dalam aplikasi LinkAja Syariah untuk membantu masyarakat menghitung sekaligus menunaikan ZIS secara digital. Di Balik Satu Transaksi, Ada Kehidupan Kesalahan terbesar dalam melihat zakat adalah menganggapnya hanya sebagai nominal yang berpindah dari satu rekening ke rekening lain. Padahal, dampak zakat jauh lebih besar daripada angka pada bukti pembayaran. Zakat Menjadi Manfaat Dana zakat yang dikelola melalui lembaga amil dapat disalurkan kepada mustahik sesuai ketentuan syariah dan program yang dijalankan. Dari sana, zakat dapat mendukung berbagai kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga perjalanan zakat bukan sekadar: Klik → Bayar → Selesai. Tetapi: Klik → Bayar → Disalurkan → Memberdayakan → Berdampak. BAZNAS juga menekankan bahwa sistem digital dibuat bukan hanya untuk memudahkan pembayaran, tetapi agar penghimpunan dan penyaluran ZIS dapat memberikan dampak yang terukur bagi mustahik. Rasulullah Mengajarkan Kepedulian Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu sesama adalah bagian dari kebaikan yang memiliki nilai besar. Di era digital, kesempatan untuk membantu bahkan semakin dekat. Saatnya Mengubah Kemudahan Menjadi Kebaikan Teknologi telah membuat banyak hal menjadi lebih mudah. Sekarang, jangan hanya gunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jadikan Smartphone sebagai Jalan Berbagi Ketika kewajiban zakat telah terpenuhi, jangan biarkan kesibukan menjadi alasan untuk menundanya. Dengan layanan digital, zakat dapat ditunaikan secara praktis melalui kanal resmi BAZNAS. Bahkan, layanan pembayaran BAZNAS menyediakan berbagai pilihan seperti virtual account, QRIS, dan sejumlah metode pembayaran online. Satu Klik untuk Sebuah Harapan Bayangkan jika satu transaksi digital yang sederhana dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan, mempertahankan usaha, memperoleh pendampingan, atau mendapatkan kesempatan untuk bangkit. Bagi kita mungkin hanya beberapa detik. Bagi mereka, dampaknya bisa jauh lebih panjang. Mari Tunaikan Zakat di Era Digital Generasi digital tidak harus memilih antara teknologi dan kepedulian. Keduanya bisa berjalan bersama. Klik ketika waktunya tiba. Bayar dengan aman. Dan biarkan zakat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang. Mari tunaikan zakat melalui BAZNAS melalui kanal resmi dan dukung pengelolaan zakat yang amanah serta berdampak. Karena Zakat Bukan Sekadar Transaksi Satu klik mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Tetapi ketika zakat dikelola dan disalurkan dengan amanah, manfaatnya dapat menjangkau kehidupan orang lain. Klik. Bayar. Berdampak. Zakat hari ini, harapan untuk mereka esok hari.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
5 Fakta Mengejutkan tentang Kemiskinan yang Sering Kita Abaikan
5 Fakta Mengejutkan tentang Kemiskinan yang Sering Kita Abaikan
5 Fakta Mengejutkan tentang Kemiskinan yang Sering Kita Abaikan Kemiskinan sering kali hanya terlihat sebagai angka dalam laporan. Padahal, di balik angka tersebut ada keluarga yang sedang berjuang membeli makanan, anak yang membutuhkan pendidikan, pedagang kecil yang mempertahankan usahanya, dan orang-orang yang berusaha bertahan di tengah keterbatasan. Menurut Laporan Pengelolaan Zakat Nasional 2025, masih terdapat 23,36 juta penduduk miskin di Indonesia berdasarkan garis kemiskinan nasional pada September 2025. Laporan yang sama menunjukkan bahwa program zakat secara nasional telah menjangkau jutaan penerima manfaat di berbagai bidang. Karena itu, kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah persoalan sosial yang membutuhkan kepedulian dan tindakan bersama. 1. Kemiskinan Tidak Selalu Terlihat Ada Kemiskinan di Sekitar Kita Tidak semua orang miskin hidup di jalanan atau terlihat meminta bantuan. Ada keluarga yang masih memiliki rumah, tetapi kesulitan memenuhi kebutuhan makan. Ada pekerja yang memiliki penghasilan, tetapi penghasilannya habis untuk kebutuhan dasar. Ada pula pelaku usaha kecil yang tampak baik-baik saja, padahal modalnya terus tergerus. Jangan Menilai dari Apa yang Terlihat Kemiskinan sering tersembunyi di balik kehidupan yang tampak normal. Karena itu, kepedulian sosial tidak boleh hanya muncul ketika kita melihat seseorang meminta bantuan. Kita juga perlu memahami bahwa kondisi ekonomi setiap keluarga dapat berbeda. 2. Kemiskinan Bukan Hanya Soal Tidak Punya Uang Kemiskinan dapat berkaitan dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, modal usaha, dan kesempatan untuk berkembang. Ketika seseorang tidak memiliki akses tersebut, kemiskinan dapat menjadi lingkaran yang sulit diputus. Bantuan Saja Tidak Selalu Cukup Bantuan untuk kebutuhan dasar tetap penting, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi mendesak. Namun, dalam jangka panjang, pemberdayaan juga dibutuhkan agar masyarakat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. BAZNAS menjelaskan bahwa zakat dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kemandirian. 3. Zakat Adalah Bentuk Kepedulian yang Memiliki Sasaran Islam memberikan perhatian besar kepada kelompok yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki sasaran yang jelas. Fakir dan miskin termasuk golongan yang secara tegas disebut sebagai penerima zakat. Zakat Tidak Berhenti pada Pemberian Ketika dikelola dengan baik, zakat dapat menjadi instrumen untuk membantu memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat. BAZNAS menyebut pemberdayaan ekonomi sebagai salah satu pendekatan agar mustahik tidak hanya menerima bantuan sesaat, tetapi memiliki peluang untuk membangun kemandirian. 4. Satu Zakat Bisa Memiliki Dampak Panjang Bayangkan seorang pedagang kecil yang tidak memiliki modal cukup untuk mempertahankan usahanya. Bantuan yang tepat dapat menjadi titik awal untuk kembali berdagang. Jika kemudian disertai pelatihan dan pendampingan, manfaatnya dapat berkembang menjadi sumber penghasilan bagi keluarga. Dari Mustahik Menuju Kemandirian Inilah mengapa zakat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai nominal yang berpindah tangan. Di baliknya ada peluang untuk menghadirkan perubahan. Data BAZNAS menunjukkan bahwa pengelolaan zakat nasional sepanjang 2025 tercatat berkontribusi terhadap pengentasan 302.994 jiwa dari kemiskinan. Angka tersebut menunjukkan bahwa zakat dapat memiliki dampak sosial ketika dikelola secara terarah. 5. Kemiskinan Bukan Alasan untuk Berhenti Berharap Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang Muslim, niscaya Allah akan melepaskan satu kesusahannya dari kesusahan-kesusahan pada hari Kiamat.”(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa membantu meringankan kesulitan orang lain merupakan bentuk kebaikan yang bernilai besar. Saatnya Kepedulian Menjadi Aksi Kita mungkin tidak mampu mengentaskan kemiskinan seorang diri. Namun, kita bisa mengambil bagian. Zakat yang kita tunaikan melalui lembaga pengelola zakat dapat menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan, sekaligus mendukung program pemberdayaan. BAZNAS saat ini juga memiliki berbagai program prioritas yang mencakup penanganan kemiskinan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. Mari Jangan Hanya Melihat, Mari Membantu Kemiskinan bukan sekadar angka. Di baliknya ada kehidupan yang sedang diperjuangkan. Ada orang tua yang ingin anaknya tetap sekolah. Ada pedagang yang ingin mempertahankan usahanya. Ada keluarga yang hanya membutuhkan kesempatan untuk kembali berdiri. Zakat Kita, Harapan Mereka Jika hari ini kita memiliki kemampuan untuk berbagi, jangan biarkan kesempatan itu berlalu. Tunaikan zakat melalui BAZNAS dan dukung upaya pemberdayaan masyarakat yang membutuhkan. Sebab, satu zakat mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bagi seseorang yang sedang berjuang, ia dapat menjadi awal dari sebuah perubahan besar. Jangan hanya melihat kemiskinan. Mari menjadi bagian dari jalan keluarnya.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?
Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan?
Kenapa Uang Tambahan Selalu Terasa Seperti Uang yang Boleh Dihabiskan? Pernahkah kita memperhatikan bahwa tidak semua uang terasa sama? Rp100.000 dari gaji mungkin kita pikirkan berkali-kali sebelum digunakan. Kita menghitungnya untuk makan, transportasi, tagihan, atau kebutuhan lain. Namun, Rp100.000 yang datang dari cashback, bonus, hadiah, atau rezeki tak terduga sering terasa berbeda. Karena tidak masuk dalam rencana awal, uang itu terasa seperti memiliki satu fungsi khusus yaitu boleh dinikmati. “Lumayan, buat jajan.” “Anggap saja bonus.” “Karena ini uang tambahan, tidak apa-apa dipakai.” Padahal, jika dilihat secara nominal, uang tetaplah uang. Rp100.000 dari gaji memiliki nilai yang sama dengan Rp100.000 dari bonus. Namun, mengapa sumber datangnya uang dapat mengubah cara kita memperlakukannya? Mungkin masalahnya bukan pada uang yang kita miliki, melainkan pada cara pikiran kita memberikan makna kepada uang tersebut. Kita Memberi Label yang Berbeda pada Uang Dalam perilaku ekonomi, terdapat konsep yang dikenal sebagai mental accounting. Secara sederhana, manusia sering membuat “rekening” di dalam pikirannya sendiri. Ada uang gaji yang harus dijaga. Ada uang tabungan yang tidak boleh disentuh. Ada uang untuk kebutuhan. Ada pula uang bonus yang terasa lebih bebas digunakan. Tanpa sadar, kita tidak hanya menghitung uang berdasarkan jumlahnya, tetapi juga berdasarkan asal dan label yang kita berikan kepadanya. Di sinilah muncul pertanyaan yang menarik yaitu ketika uang tambahan datang, mengapa label pertama yang sering muncul adalah “uang untuk dinikmati”, bukan “uang yang memiliki banyak kemungkinan untuk dimanfaatkan”? Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil dari apa yang kita peroleh. Memberi penghargaan kepada diri sendiri juga bukan sesuatu yang harus dipandang buruk. Namun, persoalannya muncul ketika setiap tambahan rezeki selalu otomatis diterjemahkan menjadi tambahan keinginan. Bonus datang, standar konsumsi bertambah. Pendapatan naik, pengeluaran ikut naik. Ada uang tambahan, selalu ada sesuatu yang baru untuk dibeli. Seolah-olah setiap rezeki yang bertambah harus segera diikuti oleh sesuatu yang juga bertambah untuk diri sendiri. Mengapa yang Terasa Sekarang Lebih Menggoda? Selain mental accounting, ada kecenderungan lain yang dapat membantu menjelaskan fenomena ini, yaitu present bias. Manusia cenderung memberikan nilai lebih besar pada sesuatu yang manfaatnya dapat dirasakan sekarang dibandingkan manfaat yang mungkin terasa di masa depan. Membeli makanan yang kita inginkan memberikan kepuasan hari ini. Membeli barang baru bisa langsung digunakan. Memanfaatkan bonus untuk liburan memberikan pengalaman yang segera terasa. Sementara itu, menggunakan sebagian rezeki untuk membantu orang lain mungkin tidak memberikan manfaat yang langsung terlihat oleh kita. Kita tidak selalu melihat siapa yang menerima, bagaimana kehidupannya berubah, atau kapan dampaknya benar-benar dirasakan. Karena itulah, pilihan yang memberikan kepuasan saat ini sering terasa lebih menarik. Bukan berarti manusia tidak peduli. Bisa jadi, kita hanya lebih mudah tertarik pada sesuatu yang hasilnya langsung dapat kita rasakan. Namun, di tengah kebiasaan tersebut, ada satu pertanyaan yang layak direnungkan yakni "ketika rezeki kita bertambah, mengapa yang pertama kali bertambah sering kali hanya daftar keinginan kita?" Rezeki Tambahan Tidak Harus Selalu Berarti Konsumsi Tambahan Setiap orang tentu memiliki hak untuk menentukan bagaimana hartanya digunakan. Tidak semua bonus harus diberikan kepada orang lain, dan tidak semua rezeki tambahan harus dihabiskan untuk kebutuhan sosial. Namun, mungkin kita dapat mulai melihat uang tambahan dengan perspektif yang lebih luas. Jika selama ini sebuah bonus selalu berarti kesempatan untuk membeli sesuatu, bagaimana jika sesekali kita bertanya, yaitu selain memberi sesuatu kepada diri sendiri, dampak apa yang bisa lahir dari sebagian rezeki tambahan ini? Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.”(QS. Az-Zariyat: 19) Ayat ini mengingatkan bahwa harta tidak hanya berkaitan dengan apa yang dapat kita nikmati sendiri. Di dalamnya terdapat dimensi sosial dan tanggung jawab terhadap orang lain. Mungkin inilah yang sering terlupakan ketika rezeki datang secara tidak terduga. Kita terlalu cepat bertanya, “mau beli apa?”. Padahal ada pertanyaan lain yang juga bisa kita ajukan berupa “Dengan sebagian rezeki ini, kebaikan apa yang bisa ikut terjadi?”. Ketika Rezeki Berubah Menjadi Dampak Di sinilah zakat, infak, dan sedekah dapat dilihat bukan sekadar sebagai pengeluaran, tetapi sebagai salah satu kemungkinan penggunaan harta. Sebagian rezeki yang bagi kita hanya terasa sebagai “uang tambahan” dapat memiliki arti yang jauh berbeda bagi orang lain. Ketika dihimpun dan dikelola secara kolektif, dana ZIS dapat disalurkan untuk membantu berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bantuan kemanusiaan, kesehatan, pendidikan, hingga kelompok rentan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat memiliki salah satu saluran untuk mengubah sebagian rezekinya menjadi manfaat yang lebih luas. Bukan karena setiap uang tambahan harus diberikan, tetapi karena setiap tambahan rezeki selalu memberi kita lebih banyak pilihan tentang bagaimana harta tersebut akan digunakan. Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang seberapa besar bonus yang kita terima atau seberapa banyak yang mampu kita berikan. Pertanyaannya justru lebih sederhana yaitu "ketika rezeki datang lebih dari yang kita rencanakan, apakah yang bertambah hanya apa yang kita inginkan, atau juga ruang yang kita berikan untuk kebaikan?" Karena mungkin, uang tambahan memang boleh dinikmati. Tetapi tidak ada salahnya jika sebagian darinya juga menjadi alasan bagi orang lain untuk tetap memiliki harapan. Mari jadikan setiap rezeki sebagai kesempatan untuk menciptakan lebih banyak manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi, dan ubah sebagian dari apa yang kita terima menjadi kebaikan yang dapat dirasakan oleh sesama.
ARTIKEL20/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Kita Takut Donasi Salah Sasaran. Tapi Pernahkah Kita Takut Tidak Membantu Siapa-Siapa?
Kita Takut Donasi Salah Sasaran. Tapi Pernahkah Kita Takut Tidak Membantu Siapa-Siapa?
Kita Takut Donasi Salah Sasaran. Tapi Pernahkah Kita Takut Tidak Membantu Siapa-Siapa? Ketika melihat berita tentang bencana, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, atau kelompok rentan yang membutuhkan bantuan, biasanya rasa iba muncul lebih dulu. Kita ingin membantu. Namun beberapa detik kemudian, muncul pertanyaan seperti “Benarkah bantuan ini sampai kepada orang yang membutuhkan?”, atau “Bagaimana kalau ternyata penggalangannya tidak aman?”, hingga “Kalau saya salah memilih tempat berdonasi bagaimana?”. Pertanyaan tersebut sebenarnya wajar. Di tengah maraknya penggalangan dana digital, kehati-hatian justru diperlukan. Namun, ada satu persoalan yang jarang kita sadari yakni ketakutan untuk salah membantu terkadang membuat kita memilih untuk tidak membantu sama sekali. Ketika Kehati-hatian Berubah Menjadi Keraguan Manusia memiliki kecenderungan untuk lebih sensitif terhadap kemungkinan kehilangan dibandingkan memperoleh sesuatu yang nilainya setara. Dalam psikologi perilaku, kecenderungan ini dikenal sebagai loss aversion. Dalam hal berdonasi, “kehilangan” tidak selalu berarti kehilangan uang. Kita bisa merasa takut kehilangan kepercayaan, rasa aman, kendali, atau keyakinan bahwa keputusan kita benar. Misalnya, seseorang ingin berdonasi Rp100.000. Bukan nominalnya yang selalu menjadi persoalan. Ia mungkin justru berpikir, “Bagaimana kalau uang saya tidak digunakan sebagaimana mestinya?” Akhirnya, daripada mengambil risiko salah memilih, keputusan yang paling aman terasa seperti tidak melakukan apa-apa. Padahal, di sinilah muncul sebuah paradoks berupa kita begitu takut salah membantu sampai lupa bahwa tidak membantu juga merupakan sebuah pilihan. Bukan berarti setiap orang harus memberikan bantuan kepada setiap penggalangan dana yang ditemuinya. Justru sebaliknya, kepedulian perlu disertai kehati-hatian. Persoalannya adalah ketika kehati-hatian tidak lagi menjadi alat untuk memilih bantuan yang tepat, tetapi berubah menjadi alasan untuk berhenti peduli. Kita Tidak Selalu Menghindari Pengeluaran, Kita Menghindari Ketidaknyamanan Menariknya, keputusan untuk tidak berdonasi terkadang tidak hanya berkaitan dengan pertimbangan rasional. Ada sisi emosional di dalamnya. Melihat penderitaan orang lain dapat menghadirkan perasaan yang tidak nyaman seperti sedih, bersalah, takut, bahkan merasa tidak berdaya. Kita kemudian dihadapkan pada persoalan yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan satu tindakan. Berbeda dengan membeli sesuatu untuk diri sendiri. Kita dapat memilih makanan yang kita sukai, membeli barang yang diinginkan, atau melakukan self-reward. Hasil emosionalnya langsung terasa seperti merasakan perasaan senang, puas, hingga terhibur. Sementara membantu orang lain berarti berhadapan dengan kenyataan bahwa masih ada masalah yang tidak dapat kita selesaikan sendirian. Karena itu, terkadang kita bukan tidak peduli. Kita hanya lebih nyaman menghindari perasaan tidak berdaya tersebut. Ketika Rasa Iba Tidak Pernah Menjadi Tindakan Di sinilah kita perlu membedakan antara merasakan penderitaan orang lain dan merespons penderitaan tersebut. Rasa iba adalah awal dari kepedulian, tetapi ia belum menjadi pertolongan. Kita bisa merasa sedih melihat korban bencana. Kita bisa terharu membaca kisah keluarga yang kesulitan. Kita bisa membagikan informasi tentang mereka. Namun, jika semuanya berhenti pada perasaan, maka penderitaan tersebut tidak mengalami perubahan apa pun. Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa...”(QS. Al-Ma'idah: 2) Ayat tersebut mengingatkan bahwa kebaikan bukan hanya sesuatu yang dirasakan dalam hati, tetapi juga sesuatu yang dilakukan bersama. Persoalannya kemudian bukan “bisakah saya membantu semua orang?”, tentu tidak. Pertanyaan yang lebih realistis adalah “ketika saya tidak mampu membantu semua orang, apakah saya tetap akan memilih untuk membantu seseorang?” Di Sinilah Kepercayaan Menjadi Bagian dari Kebaikan Di era digital, niat baik semakin mudah diwujudkan. Namun kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan nyata berupa masyarakat harus mampu menentukan saluran yang aman, terpercaya, dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah lembaga seperti BAZNAS memiliki peran penting. Penghimpunan zakat, infak, dan sedekah bukan hanya tentang menyediakan tempat bagi masyarakat untuk menyalurkan dana. Ada tanggung jawab untuk memastikan dana yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan kepada pihak yang membutuhkan melalui program-program kemanusiaan. Bantuan sosial, respons bencana, dukungan bagi kelompok rentan, layanan kesehatan, pendidikan, dan berbagai bentuk pemberdayaan merupakan contoh bagaimana dana yang dihimpun dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata. Dengan demikian, persoalan digital fundraising bukan sekadar “bagaimana membuat orang mau berdonasi?”, tetapi juga “bagaimana memastikan niat baik masyarakat memiliki saluran yang dapat dipercaya?” Jangan Biarkan Takut Salah Membuat Kita Tidak Melakukan Apa-Apa Kehati-hatian tetap penting. Kita memang perlu memastikan lembaga atau saluran yang dipilih memiliki kredibilitas dan pengelolaan yang jelas. Namun, setelah menemukan saluran yang terpercaya, jangan sampai keraguan terus menjadi alasan untuk menunda kebaikan. Sebab mungkin kita tidak pernah mampu membantu semua orang yang membutuhkan. Tetapi kita selalu memiliki kesempatan untuk membantu seseorang. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan apakah kita mampu menyelesaikan seluruh persoalan kemanusiaan. Melainkan, ketika hati kita sudah tergerak, apakah kita akan membiarkannya berhenti sebagai rasa iba, atau mengubahnya menjadi tindakan? Melalui zakat, infak, dan sedekah bersama BAZNAS Kota Sukabumi, sebagian dari apa yang kita miliki dapat menjadi bagian dari ikhtiar membantu mereka yang membutuhkan. Karena kebaikan tidak harus dimulai dari kemampuan untuk melakukan semuanya. Kadang, ia hanya membutuhkan keberanian untuk melakukan sesuatu.
ARTIKEL20/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Tidak Semua Orang yang Meminta Bantuan Bisa Langsung Menerimanya?
Mengapa Tidak Semua Orang yang Meminta Bantuan Bisa Langsung Menerimanya?
Mengapa Tidak Semua Orang yang Meminta Bantuan Bisa Langsung Menerimanya? Ketika seseorang datang meminta bantuan, naluri pertama kita mungkin sederhana pasti respon berupa 'kalau membutuhkan, ya bantu.' Namun, bagaimana jika pada hari yang sama ada puluhan orang datang dengan kebutuhan yang sama mendesaknya, sementara sumber daya yang tersedia hanya cukup untuk membantu sebagian? Siapa yang harus didahulukan? Mereka yang datang lebih awal? Mereka yang kondisinya paling terlihat? Atau mereka yang ternyata memiliki kebutuhan paling mendesak tetapi tidak pernah datang meminta? Pertanyaan tersebut membawa kita pada satu kenyataan yang jarang dibicarakan dalam isu kemanusiaan berupa membantu ternyata tidak selalu sesederhana memberi. Ketika Kebutuhan Lebih Banyak daripada Kemampuan untuk Membantu Kebutuhan manusia tidak pernah datang dalam jumlah yang sedikit. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, anak yang membutuhkan biaya pendidikan, masyarakat yang terdampak bencana, lansia yang membutuhkan perhatian, hingga penyandang disabilitas yang memerlukan alat bantu. Semuanya nyata. Semuanya penting. Namun, sumber daya untuk membantu memiliki batas. Dana yang dihimpun dari zakat, infak, dan sedekah perlu dikelola agar dapat memberikan manfaat kepada penerima yang tepat. Karena itu, ketika tidak semua orang dapat langsung menerima bantuan, kondisi tersebut tidak selalu berarti bahwa lembaga atau masyarakat tidak peduli. Justru di situlah kepedulian membutuhkan pertimbangan. Sebab semakin terbatas sumber daya yang tersedia, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan bantuan tidak diberikan secara sembarangan. Yang Meminta Belum Tentu yang Paling Membutuhkan Ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian kita. Tidak semua orang yang membutuhkan memiliki keberanian atau kemampuan untuk meminta. Ada orang yang datang mengetuk pintu bantuan. Tetapi ada pula yang memilih diam karena malu, tidak mengetahui harus meminta kepada siapa, atau bahkan tidak mampu menyampaikan kondisinya. Akibatnya, orang yang paling terlihat belum tentu menjadi orang yang paling membutuhkan. Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling cepat meminta atau siapa yang paling sering terlihat, kelompok yang tidak terlihat bisa saja terlewatkan. Karena itu, bantuan kemanusiaan membutuhkan proses untuk melihat lebih jauh dari sekadar permintaan. Bukan hanya bertanya “siapa yang meminta bantuan?”, tetapi juga “siapa yang benar-benar membutuhkan bantuan, dan bantuan seperti apa yang paling tepat untuk mereka?” Mengapa Bantuan Perlu Dipertimbangkan dan Diverifikasi? Di sinilah peran lembaga pengelola zakat seperti BAZNAS menjadi penting. BAZNAS tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana menghimpun dana masyarakat, tetapi juga bagaimana memastikan dana tersebut dikelola dan disalurkan secara amanah. Ada kebutuhan untuk memahami kondisi penerima, melihat tingkat urgensinya, menentukan bentuk bantuan yang sesuai, serta mempertimbangkan ketentuan penyaluran dana ZIS. Dengan kata lain, proses verifikasi bukan tanda bahwa kepedulian sedang dipersulit. Sebaliknya, proses tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga agar kepedulian tidak salah sasaran. Sebab ketika seseorang menitipkan zakat, infak, atau sedekah, yang dititipkan bukan hanya uang. Ada kepercayaan dan amanah di dalamnya. Keadilan Tidak Selalu Berarti Semua Mendapat Hal yang Sama Kita sering memahami keadilan sebagai sesuatu yang harus dibagi rata. Padahal, kebutuhan manusia tidak selalu sama. Memberikan bantuan dengan jumlah yang sama kepada dua orang belum tentu menghasilkan manfaat yang sama. Seseorang mungkin membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, sementara orang lain membutuhkan alat bantu agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, keadilan dalam bantuan sosial terkadang bukan tentang semua mendapatkan bagian yang sama. Melainkan, setiap orang mendapatkan bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya. Dalam hal yang berkaitan dengan zakat, prinsip tersebut bahkan memiliki landasan yang jelas. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 60 mengenai golongan yang berhak menerima zakat, termasuk fakir, miskin, amil, mualaf, orang yang terlilit utang, dan beberapa golongan lainnya. Artinya, zakat bukan sekadar dana yang diberikan kepada siapa pun yang meminta. Di dalamnya terdapat ketentuan, sasaran, dan tanggung jawab. Kalau Kebutuhan Tidak Pernah Habis, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada kita sebagai masyarakat. Jika kita tahu bahwa kebutuhan manusia jauh lebih besar daripada kemampuan satu lembaga atau satu orang untuk memenuhinya, bukan berarti kita harus berhenti membantu. Justru sebaliknya. Semakin banyak kebutuhan yang ada, semakin penting semakin banyak orang mengambil bagian. Seseorang mungkin tidak mampu membantu satu keluarga sendirian. Namun ketika ribuan orang menyisihkan sebagian dari rezekinya melalui zakat, infak, dan sedekah, kontribusi kecil tersebut dapat dihimpun menjadi kekuatan yang lebih besar untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Di sinilah digital fundraising memiliki peran. Teknologi membuat masyarakat dapat mengambil bagian dalam kebaikan dengan lebih mudah, sementara lembaga seperti BAZNAS menjadi jembatan antara niat baik masyarakat dan kebutuhan nyata di lapangan. Tidak Semua Bisa Dibantu Hari Ini, Tetapi Kita Bisa Membantu Lebih Banyak Esok Hari Pada akhirnya, tidak semua orang yang meminta bantuan dapat langsung menerima bantuan. Bukan karena penderitaan mereka tidak penting, tetapi karena setiap bantuan memiliki keterbatasan dan harus dipertanggungjawabkan. Namun, keterbatasan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berbuat baik. Mungkin kita memang tidak mampu membantu semua orang. Tetapi kita dapat ikut memperbesar kemampuan untuk membantu lebih banyak orang. Zakat, infak, dan sedekah yang kita titipkan melalui BAZNAS Kota Sukabumi bukan sekadar pemberian, tetapi bagian dari upaya bersama untuk memastikan semakin banyak kebutuhan dapat dijangkau dengan tepat, amanah, dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, persoalannya bukan tentang apakah semua orang bisa kita bantu. Melainkan, “apa yang bisa kita lakukan agar semakin sedikit orang yang harus menghadapi kesulitannya sendirian?”.
ARTIKEL20/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Bisa Percaya Membeli Barang Online, tetapi Masih Ragu Berdonasi Online?
Mengapa Kita Bisa Percaya Membeli Barang Online, tetapi Masih Ragu Berdonasi Online?
Mengapa Kita Bisa Percaya Membeli Barang Online, tetapi Masih Ragu Berdonasi Online? Kita Berani Membeli, tetapi Mengapa Ragu Ketika Memberi? Coba perhatikan kebiasaan kita ketika menggunakan internet. Kita bisa membuka marketplace, memilih barang seharga ratusan ribu rupiah, memasukkan alamat, melakukan pembayaran, lalu menunggu barang datang. Bahkan, kita sering menyimpan data pembayaran untuk mempermudah transaksi berikutnya. Namun, ketika menemukan tombol “Donasi Rp50.000”, sikap kita bisa berubah. Tiba-tiba muncul pertanyaan seperti“Ini lembaganya terpercaya atau tidak?”, “Uangnya benar-benar sampai kepada penerima?”, dan “Bagaimana kalau ternyata penipuan?” Menariknya, keraguan tersebut justru muncul ketika kita hendak memberikan uang tanpa mengharapkan barang sebagai imbalannya. Lalu, mengapa kita bisa mempercayai internet untuk membeli sesuatu, tetapi lebih sulit mempercayainya ketika ingin berbuat baik? Ketika Risiko Terasa Berbeda Dalam membeli barang secara online, kita memiliki sesuatu yang dapat menjadi bukti transaksi. Ada produk yang bisa dilihat, harga yang tercantum, ulasan pelanggan, status pengiriman, hingga notifikasi bahwa barang telah diterima. Donasi berbeda. Ketika memberikan Rp50.000, kita tidak menerima barang untuk diri sendiri. Kita mempercayakan uang tersebut agar berubah menjadi sesuatu yang mungkin tidak pernah kita lihat secara langsung, makanan untuk keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan, bantuan kesehatan, atau dukungan bagi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan. Di sinilah muncul perceived risk, yaitu persepsi seseorang terhadap kemungkinan risiko sebelum mengambil keputusan. Bagi donatur, risikonya bukan hanya kehilangan uang. Ada risiko yang lebih besar yaitu “bagaimana kalau niat baik saya tidak sampai kepada orang yang seharusnya?” Karena itu, keputusan berdonasi secara digital membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemudahan pembayaran. Ia membutuhkan kepercayaan. Tombol “Donasi” Saja Tidak Cukup Teknologi dapat membuat seseorang berdonasi hanya dalam hitungan detik. Tetapi kemudahan tersebut tidak otomatis membuat orang percaya. Sebuah lembaga pengelola dana umat perlu menunjukkan mengapa masyarakat layak mempercayakan hartanya kepada mereka. Informasi yang jelas, identitas lembaga, kanal pembayaran resmi, mekanisme konfirmasi, serta akuntabilitas pengelolaan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan. Dengan kata lain, digital fundraising bukan hanya tentang membuat orang mudah membayar, tetapi juga membuat orang merasa aman untuk mempercayakan. Karena ketika seseorang menekan tombol donasi, sebenarnya ia sedang menyerahkan sesuatu yang bernilai berdasarkan sebuah keyakinan, yaitu bahwa dana tersebut akan dikelola secara amanah. Dalam Islam, Kepercayaan adalah Amanah Persoalan kepercayaan bukan hanya relevan dalam ekonomi digital. Dalam Islam, amanah merupakan nilai yang sangat fundamental. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...” Ayat tersebut mengingatkan bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus disampaikan kepada pihak yang berhak dan dikelola dengan tanggung jawab. Dalam konteks zakat, infak, dan sedekah, pesan tersebut menjadi semakin penting. Ketika seseorang menyerahkan sebagian hartanya melalui lembaga, dana tersebut bukan sekadar angka dalam rekening. Di dalamnya terdapat kepercayaan, niat ibadah, dan harapan agar harta tersebut memberikan manfaat. Karena itu, pengelolaan ZIS tidak cukup hanya cepat. Ia juga harus memperhatikan amanah dan pertanggungjawaban. Donatur Digital Juga Harus Cerdas Namun, membangun kepercayaan bukan hanya tanggung jawab lembaga. Sebagai masyarakat, kita juga perlu menjadi donatur digital yang cerdas. Sebelum berdonasi, biasakan memeriksa siapa lembaganya, menggunakan kanal resmi, memperhatikan informasi pembayaran, memahami tujuan penghimpunan dana, serta menyimpan bukti transaksi. Jangan hanya bertanya “Berapa nominal yang ingin saya berikan?”, tetapi tanyakan juga “Kepada siapa saya mempercayakan harta ini?” Sikap kritis bukan berarti mengurangi keikhlasan. Justru, memastikan bahwa harta dititipkan melalui jalur yang tepat merupakan bagian dari kehati-hatian dalam berbuat baik. BAZNAS sebagai Jembatan Kepercayaan Di sinilah keberadaan lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi menjadi relevan dalam ekosistem digital fundraising. Masyarakat tidak harus mencari penerima manfaat satu per satu. Zakat, infak, dan sedekah dapat disalurkan melalui lembaga untuk kemudian dikelola dan disalurkan kepada penerima manfaat melalui program-program sesuai ketentuan dan kebutuhan yang ada. Dengan demikian, hubungan yang terbentuk bukan sekadar Donatur → Transfer → Selesai. Tetapi, Donatur → ZIS → Pengelolaan → Penyaluran → Manfaat. Teknologi menjadi alat yang mempermudah prosesnya, sementara amanah, transparansi, dan akuntabilitas menjadi fondasi kepercayaannya. Jangan Sampai Ragu Berbuat Baik, tetapi Tetaplah Bijak Mungkin kita memang perlu berhenti sejenak sebelum menekan tombol “Donasi Sekarang.” Bukan untuk mencari alasan agar tidak memberi. Tetapi untuk memastikan bahwa kebaikan kita disalurkan melalui jalan yang tepat. Kita boleh percaya pada teknologi. Tetapi kita juga harus belajar cerdas dalam mempercayakan harta. Jika telah memenuhi ketentuan, tunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Bagi yang ingin membangun kebiasaan berbagi, salurkan pula infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui kanal resmi BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab pada akhirnya, teknologi hanya mempersingkat proses dari niat menuju transaksi. Yang membuat sebuah donasi benar-benar berarti adalah ketika kemudahan tersebut bertemu dengan kepercayaan, amanah, dan manfaat yang nyata. Dan mungkin, pertanyaan terpenting sebelum berdonasi online bukan hanya “Apakah uang saya aman?”, tetapi juga “Apakah saya sudah memastikan kebaikan saya dititipkan kepada pihak yang tepat?”
ARTIKEL20/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Lebih dari Sekadar Zakat: Perjalanan BAZNAS Membangun Masyarakat yang Sehat, Mandiri, dan Sejahtera
Lebih dari Sekadar Zakat: Perjalanan BAZNAS Membangun Masyarakat yang Sehat, Mandiri, dan Sejahtera
Lebih dari Sekadar Zakat: Perjalanan BAZNAS Membangun Masyarakat yang Sehat, Mandiri, dan Sejahtera Lebih dari sekadar kewajiban, zakat dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera. Kenali peran BAZNAS dalam mengelola zakat dan menghadirkan manfaat bagi umat. Zakat sering kali dipahami sebagai kewajiban untuk mengeluarkan sebagian harta bagi mereka yang berhak menerimanya. Namun, jika dikelola dengan baik, zakat memiliki makna yang jauh lebih luas. Di balik zakat yang kita tunaikan, ada peluang untuk menghadirkan perubahan. Ada keluarga yang kembali memiliki harapan, masyarakat yang memperoleh akses kesehatan, pelaku usaha kecil yang berusaha bangkit, hingga anak-anak yang mendapatkan kesempatan untuk terus belajar. Zakat bukan hanya tentang memberi. Zakat adalah tentang menghadirkan manfaat dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam perjalanan pengelolaan zakat di Indonesia, BAZNAS hadir sebagai lembaga yang mengelola zakat secara nasional dan berupaya mengoptimalkan manfaat dana zakat bagi masyarakat yang membutuhkan. Zakat sebagai Kekuatan untuk Membangun Kehidupan Allah SWT telah menetapkan penerima zakat dalam Al-Qur'an. Salah satunya melalui firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi sosial yang penting. Harta yang ditunaikan oleh orang yang berkewajiban berzakat disalurkan kepada golongan yang telah ditetapkan syariat. Dari Bantuan Menuju Pemberdayaan Zakat dapat menjadi bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Namun, manfaatnya juga dapat diarahkan pada upaya pemberdayaan sesuai ketentuan syariah dan kebutuhan mustahik. Ketika seseorang mendapatkan dukungan untuk mengembangkan keterampilan atau usaha, misalnya, zakat dapat menjadi bagian dari proses menuju kemandirian. Inilah yang membuat zakat memiliki dampak yang lebih panjang. Membangun Masyarakat yang Sehat Kesehatan merupakan bagian penting dari kualitas hidup. Ketika seseorang tidak mampu memperoleh layanan kesehatan, dampaknya dapat merambat ke kehidupan keluarga. Biaya pengobatan dapat menguras penghasilan, sementara sakit dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk bekerja. Kepedulian yang Menjaga Kehidupan Islam sangat menghargai kehidupan manusia. Allah SWT berfirman: “Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”(QS. Al-Ma'idah: 32) Pesan tersebut mengingatkan kita bahwa menjaga kehidupan merupakan perkara yang sangat bernilai. Melalui dukungan kepada masyarakat yang membutuhkan, kepedulian dapat menjadi jalan agar mereka memiliki kesempatan memperoleh layanan kesehatan dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Mendorong Masyarakat Menjadi Lebih Mandiri Kesejahteraan tidak hanya berarti memiliki cukup untuk hari ini. Kesejahteraan juga berarti memiliki kesempatan untuk membangun masa depan. Zakat dan Penguatan Ekonomi Bagi keluarga kurang mampu, dukungan ekonomi yang tepat dapat membuka peluang baru. Seorang pelaku usaha kecil mungkin membutuhkan peralatan untuk bekerja. Seorang ibu mungkin memiliki keterampilan tetapi tidak memiliki modal pendukung. Seorang pekerja mungkin membutuhkan sarana agar dapat meningkatkan produktivitas. Di sinilah pemberdayaan ekonomi berbasis zakat dapat memiliki peran penting. Tujuannya bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membantu menciptakan peluang agar mustahik dapat berkembang dan memiliki kehidupan yang lebih mandiri. Karena Setiap Orang Berhak Memiliki Harapan Rasulullah SAW bersabda: “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”(HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa kepedulian kepada sesama bukanlah sesuatu yang sia-sia. Menolong mereka yang sedang kesulitan merupakan bagian dari kebaikan yang memiliki nilai di sisi Allah SWT. Dari Zakat Kita, Tumbuh Sejahtera Bersama Bayangkan jika zakat yang kita tunaikan menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga untuk bangkit. Ada anak yang dapat kembali belajar. Ada orang tua yang mendapatkan akses kesehatan. Ada pelaku usaha yang kembali bekerja. Ada keluarga yang perlahan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Semua itu berawal dari kepedulian. Zakat Kita, Harapan Mereka Zakat yang kita keluarkan mungkin terasa kecil dibandingkan kebutuhan dunia yang begitu besar. Tetapi ketika dikelola dan disalurkan kepada mereka yang berhak, setiap kontribusi dapat menjadi bagian dari perubahan. Karena itu, jangan melihat zakat hanya sebagai kewajiban yang harus selesai ditunaikan. Lihatlah zakat sebagai amanah yang dapat membawa manfaat bagi kehidupan orang lain. Mari Bersama BAZNAS Hadirkan Perubahan Perjalanan menuju masyarakat yang sehat, mandiri, dan sejahtera membutuhkan kepedulian dari banyak pihak. Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Namun kita dapat mengambil satu langkah nyata: menunaikan zakat dan mempercayakannya kepada pengelola zakat yang amanah. Saatnya Harta Menjadi Jalan Kebaikan Hari ini, mungkin kita sedang diberi kemampuan untuk berbagi. Di luar sana, ada saudara kita yang sedang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, memperoleh layanan kesehatan, menyekolahkan anak, atau membangun kembali sumber penghasilan. Mari jadikan zakat sebagai jembatan antara kemampuan kita dan harapan mereka. Tunaikan zakat Anda melalui BAZNAS. Bersama, kita dapat menghadirkan manfaat yang lebih luas—mendukung kesehatan, memperkuat kemandirian ekonomi, dan membantu masyarakat menjalani kehidupan yang lebih sejahtera. Karena zakat bukan sekadar tentang harta yang kita keluarkan. Zakat adalah tentang kehidupan yang kita bantu, harapan yang kita tumbuhkan, dan masa depan yang kita perjuangkan bersama. Mari Tunaikan Zakat, Hadirkan Manfaat Satu kebaikan hari ini dapat menjadi awal dari perubahan besar bagi seseorang. Salurkan zakat Anda sekarang dan jadikan harta yang Allah titipkan sebagai jalan untuk menghadirkan kesehatan, kemandirian, dan kesejahteraan bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Kita Hanya Melihat Nominalnya, Tapi Tidak Melihat Apa yang Terjadi Setelahnya
Kita Hanya Melihat Nominalnya, Tapi Tidak Melihat Apa yang Terjadi Setelahnya
Kita Hanya Melihat Nominalnya, Tapi Tidak Melihat Apa yang Terjadi Setelahnya Kita sering melihat zakat hanya sebagai nominal yang dikeluarkan. Padahal, di baliknya ada kehidupan yang diperjuangkan. Kenali bagaimana zakat dapat menjadi jalan menuju kesehatan, kemandirian, dan kesejahteraan. Setiap kali menunaikan zakat, mungkin yang kita ingat hanyalah satu hal: berapa nominal yang harus dikeluarkan? Kita menghitung harta, menghitung kewajiban, lalu menunaikannya. Setelah itu, selesai. Namun, pernahkah kita bertanya: apa yang terjadi setelah zakat kita tunaikan? Di balik nominal yang terlihat sederhana, ada kehidupan yang mungkin sedang diperjuangkan. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ada seseorang yang ingin kembali bekerja. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada masyarakat yang berjuang mendapatkan akses kesehatan dan kehidupan yang lebih layak. Zakat bukan sekadar angka yang berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Zakat adalah amanah yang dapat menjadi jalan hadirnya harapan. Zakat Bukan Hanya Tentang Memberi Allah SWT telah menetapkan bahwa zakat memiliki tujuan sosial yang sangat jelas. Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Ayat ini mengingatkan bahwa zakat bukan hanya kewajiban finansial. Di dalamnya terdapat proses penyucian harta sekaligus kepedulian terhadap sesama. Ada Kehidupan di Balik Setiap Zakat Nominal yang bagi kita mungkin terasa biasa, bisa memiliki arti berbeda bagi penerima manfaat. Bagi sebuah keluarga, bantuan dapat berarti kebutuhan pangan yang terpenuhi. Bagi seorang pekerja, dukungan dapat menjadi kesempatan untuk kembali produktif. Bagi seseorang yang sedang sakit, bantuan dapat membantu membuka akses terhadap pengobatan. Bagi pelaku usaha kecil, pemberdayaan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kembali penghasilan. Kita melihat nominalnya. Mereka merasakan manfaatnya. Ketika Zakat Menjadi Jalan Menuju Kemandirian Zakat yang dikelola dengan baik tidak harus berhenti pada bantuan sesaat. Dalam konteks pemberdayaan, zakat dapat menjadi bagian dari ikhtiar membantu mustahik agar memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai kebutuhan dan ketentuan syariah. Dari Bertahan Menjadi Bangkit Bayangkan seseorang yang selama ini hanya mampu memenuhi kebutuhan hari demi hari. Kemudian ia mendapatkan dukungan untuk mengembangkan keterampilan atau usaha yang dimilikinya. Perubahannya mungkin tidak langsung terlihat. Tetapi perlahan, ia mulai memiliki penghasilan. Keluarganya menjadi lebih kuat. Anak-anaknya mendapatkan kebutuhan yang lebih baik. Dan yang paling penting, tumbuh kembali rasa percaya diri untuk menjalani kehidupan. Zakat yang Menghidupkan Harapan Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa membantu memenuhi kebutuhan orang lain merupakan kebaikan yang sangat bernilai. Kita Tidak Selalu Melihat Perubahannya Salah satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa tidak semua dampak kebaikan dapat kita lihat secara langsung. Kita mungkin tidak melihat wajah orang yang terbantu. Kita mungkin tidak mengetahui perjalanan hidupnya. Kita bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa zakat yang kita tunaikan menjadi bagian dari sebuah keluarga untuk melewati masa sulit. Namun, ketidakterlihatan bukan berarti tidak ada perubahan. Ada Perjuangan yang Tidak Banyak Diceritakan Tidak semua orang yang membutuhkan pertolongan datang meminta. Sebagian tetap bekerja meski penghasilannya terbatas. Sebagian tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga meski menghadapi banyak keterbatasan. Karena itu, kepedulian melalui zakat menjadi penting. Melalui lembaga pengelola zakat seperti BAZNAS, masyarakat memiliki kesempatan untuk menyalurkan zakat secara terarah kepada mereka yang berhak sesuai ketentuan yang berlaku. Saatnya Melihat Zakat dari Sisi yang Berbeda Zakat bukan hanya tentang “berapa yang saya keluarkan?” Tetapi juga tentang: “Berapa banyak harapan yang bisa tumbuh dari apa yang saya keluarkan?” Dari Nominal Menjadi Manfaat Seratus ribu rupiah, satu juta rupiah, atau nominal lainnya mungkin hanya terlihat sebagai angka. Tetapi ketika sampai kepada mereka yang membutuhkan, angka tersebut dapat berubah menjadi makanan, dukungan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, atau bentuk manfaat lain sesuai program dan ketentuan penyaluran. Itulah mengapa zakat memiliki potensi untuk menghadirkan dampak yang lebih luas. Mari Jangan Berhenti pada Nominal Hari ini kita mungkin hanya melihat jumlah zakat yang keluar dari rekening. Tetapi di tempat lain, ada seseorang yang sedang menunggu kesempatan untuk bangkit. Ada keluarga yang berharap kehidupannya menjadi lebih baik. Ada mereka yang ingin kembali mandiri. Dan mungkin, zakat yang kita tunaikan menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Zakat Anda, Harapan Mereka Mari tunaikan zakat melalui lembaga yang amanah dan terpercaya. Jangan hanya melihat nominalnya. Lihatlah kehidupan di baliknya. Lihat harapan yang mungkin tumbuh. Lihat kesempatan yang mungkin terbuka. Lihat perjuangan yang mungkin menjadi lebih ringan. Saatnya Zakat Menjadi Perubahan Tunaikan zakat Anda hari ini. Jadikan harta yang Allah titipkan bukan hanya sebagai kewajiban yang selesai ditunaikan, tetapi sebagai jalan untuk menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. Karena kita mungkin hanya melihat nominalnya, tetapi di baliknya ada kehidupan yang sedang diperjuangkan.
ARTIKEL20/08/2026 | BAZNAS
Rezeki Makin Banyak, Jangan Sampai Kita Lupa untuk Berbagi
Rezeki Makin Banyak, Jangan Sampai Kita Lupa untuk Berbagi
Ada masa ketika kita berdoa agar rezeki bertambah. Ingin pekerjaan lebih baik, usaha semakin lancar, penghasilan meningkat, dan kebutuhan keluarga tercukupi. Namun, ketika rezeki benar-benar datang lebih banyak, ada satu hal yang jangan sampai kita lupakan: berbagi kepada sesama. Sebab, rezeki bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan. Dalam Islam, harta adalah amanah. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang membutuhkan melalui zakat, infak, dan sedekah. Ketika Rezeki Bertambah, Jangan Lupa Bersyukur Bertambahnya rezeki tentu menjadi nikmat yang patut disyukuri. Namun, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Salah satu bentuk syukur yang nyata adalah menggunakan sebagian rezeki untuk kebaikan. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7) Berbagi menjadi salah satu cara menjaga hati agar tidak terjebak pada rasa memiliki yang berlebihan. Ketika penghasilan bertambah, jangan hanya menambah daftar keinginan. Sisihkan pula sebagian untuk membantu mereka yang membutuhkan. Harta Bertambah, Kepedulian Jangan Berkurang Terkadang manusia begitu sibuk mengejar lebih banyak sampai lupa bahwa di sekitarnya masih ada orang yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan pendidikan. Ada lansia yang hidup sendiri. Ada anak yatim yang membutuhkan perhatian. Ada masyarakat kurang mampu yang berharap mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih layak. Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting. Harta yang kita keluarkan untuk kebaikan dapat menjadi jalan hadirnya manfaat bagi banyak orang. Sedekah Tidak Membuat Harta Berkurang Sebagian orang mungkin masih berpikir, “Kalau saya banyak berbagi, nanti uang saya berkurang.” Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah seorang hamba karena memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran keberkahan harta bukan sekadar nominal yang tersimpan, tetapi juga manfaat yang lahir dari harta tersebut. Berbagi Bisa Dimulai dari Hal Sederhana Tidak harus menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Sedekah dapat dimulai dari kemampuan yang kita miliki. Sisihkan Sebagian Rezeki Ketika menerima penghasilan, biasakan menyisihkan sebagian untuk zakat, infak, atau sedekah. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bentuk kepedulian yang besar. Bantu Mereka yang Membutuhkan Salurkan bantuan kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Bantuan yang kita berikan mungkin terlihat sederhana bagi kita, tetapi bisa sangat berarti bagi penerimanya. Jangan Menunggu Berlebih Kebaikan tidak harus menunggu kaya. Bahkan ketika rezeki kita belum banyak, tetap ada kesempatan untuk berbagi sesuai kemampuan. Allah SWT menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya: ?????? ????????? ??????????? ????????????? ??? ??????? ??????? ???????? ??????? ?????????? ?????? ????????? ??? ????? ?????????? ??????? ??????? ? ????????? ????????? ?????? ??????? ? ????????? ??????? ??????? “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah: 261) Jangan Hanya Menambah Harta, Tambah Juga Manfaat Rezeki yang bertambah seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah dan semakin peduli kepada sesama. Jika hari ini Allah memberikan kelapangan, mari manfaatkan kesempatan tersebut untuk membantu mereka yang membutuhkan. Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung apa yang kita punya sampai lupa bahwa ada orang lain yang sedang menunggu uluran tangan. Melalui zakat, infak, dan sedekah, sebagian rezeki kita dapat berubah menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, bantuan pendidikan bagi anak-anak, dukungan bagi masyarakat kurang mampu, serta berbagai program sosial yang memberikan manfaat nyata.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Zakat Kita ke Mana? Menyingkap Amanah, Transparansi, dan Dampak di Balik Dana Zakat
Zakat Kita ke Mana? Menyingkap Amanah, Transparansi, dan Dampak di Balik Dana Zakat
Zakat Kita ke Mana? Menyingkap Amanah, Transparansi, dan Dampak di Balik Dana Zakat Pernahkah kita bertanya, “Zakat kita ke mana?” Setelah menunaikan kewajiban zakat, tentu muncul harapan agar dana tersebut dikelola dengan amanah dan benar-benar memberikan manfaat kepada mereka yang membutuhkan. Pertanyaan ini penting karena zakat bukan sekadar transaksi keuangan. Zakat adalah amanah dari muzaki untuk mustahik, sekaligus instrumen untuk membantu mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai lembaga yang mendapat amanah mengelola zakat secara nasional, BAZNAS menjalankan fungsi pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan, pengendalian, serta pelaporan dan pertanggungjawaban pengelolaan zakat. Zakat Adalah Amanah yang Harus Dijaga Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103) Ayat ini mengingatkan bahwa zakat memiliki nilai ibadah sekaligus sosial. Harta yang dikeluarkan bukan sekadar berkurang secara nominal, tetapi menjadi sarana penyucian harta dan kepedulian kepada sesama. Siapa yang Berhak Menerima Zakat? Allah SWT juga telah menetapkan golongan penerima zakat: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk membebaskan orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”(QS. At-Taubah: 60) Karena penerima zakat telah ditentukan, pengelolaannya membutuhkan ketelitian, profesionalitas, dan tanggung jawab. Bagaimana Dana Zakat Dikelola BAZNAS? Pertanyaan “zakat kita ke mana?” dapat dijawab dengan melihat bagaimana dana tersebut dihimpun, disalurkan, dan dipertanggungjawabkan. Pengumpulan Zakat Secara Terorganisasi BAZNAS menghimpun zakat melalui berbagai kanal sehingga masyarakat dapat menunaikan kewajibannya dengan lebih mudah. Setelah dihimpun, dana tersebut masuk dalam sistem pengelolaan yang terstruktur. Pendistribusian dan Pendayagunaan Dana zakat kemudian disalurkan melalui berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah. BAZNAS menjelaskan bahwa proses pengelolaan mencakup penghimpunan, pendistribusian, pendayagunaan, hingga pelaporan. Dari Bantuan Menuju Kemandirian Manfaat zakat tidak harus berhenti pada bantuan kebutuhan sehari-hari. Pendayagunaan zakat juga dapat diarahkan untuk membantu mustahik meningkatkan kemampuan dan kemandirian. Misalnya, dukungan ekonomi dapat menjadi bagian dari perjalanan pelaku usaha kecil untuk memperoleh modal, mengembangkan keterampilan, dan meningkatkan penghasilan. Dengan demikian, zakat untuk pemberdayaan masyarakat bukan hanya membantu seseorang bertahan, tetapi juga membuka peluang untuk bangkit. Transparansi: Ke Mana Dana Zakat Disalurkan? Kepercayaan masyarakat adalah modal penting dalam pengelolaan zakat. Karena itu, transparansi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari amanah. BAZNAS menyatakan bahwa pengelolaan ZIS dilakukan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Pengelolaan juga didukung mekanisme pengawasan serta pelaporan. Laporan untuk Menjaga Kepercayaan BAZNAS menyediakan Laporan Pengelolaan Zakat Nasional yang dapat diakses publik. Laporan tersebut menjadi salah satu bentuk pertanggungjawaban atas pengelolaan dana zakat di Indonesia. Dalam laporan nasional 2025, BAZNAS mencatat total pengumpulan zakat nasional sebesar sekitar Rp44,698 triliun, sementara pendistribusian dan pendayagunaan tercatat sekitar Rp44,263 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi zakat sebagai kekuatan sosial. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana dana tersebut terus dikelola agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Dampak Zakat bagi Kehidupan Masyarakat Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Pesan ini mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Ketika sebagian harta kita diberikan untuk kebaikan, ada keberkahan dan manfaat yang menyertainya. Dari Satu Muzaki untuk Banyak Penerima Manfaat Bayangkan jika zakat dari satu orang digabungkan dengan zakat dari ribuan bahkan jutaan muzaki. Potensi tersebut dapat menjadi kekuatan besar untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Zakat dapat menjadi makanan bagi keluarga yang kesulitan, dukungan pendidikan bagi anak-anak, bantuan kesehatan, modal usaha, hingga program pemberdayaan yang membantu mustahik membangun kemandirian. Saatnya Mengubah Zakat Menjadi Dampak Nyata Kini, pertanyaannya bukan lagi hanya “Zakat kita ke mana?”, tetapi “seberapa besar manfaat yang bisa kita hadirkan melalui zakat kita?” Setiap rupiah yang ditunaikan adalah amanah. Setiap amanah membutuhkan pengelolaan yang bertanggung jawab. Dan setiap kebaikan memiliki potensi untuk menghadirkan perubahan. Mari Tunaikan Zakat Bersama BAZNAS Jika Anda sedang mencari cara untuk menyalurkan zakat secara amanah, mari percayakan zakat, infak, dan sedekah melalui kanal resmi BAZNAS. Jangan biarkan niat baik berhenti sebagai niat. Jadikan harta yang kita keluarkan sebagai jalan untuk menghadirkan harapan, menguatkan keluarga yang membutuhkan, dan membangun masyarakat yang lebih mandiri. Satu Zakat, Banyak Manfaat Mari tunaikan zakat hari ini bersama BAZNAS. Karena zakat kita bukan sekadar angka. Di baliknya ada amanah, harapan, dan kehidupan yang sedang menunggu untuk berubah.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Ternyata Rezeki yang Kita Miliki Tidak Sepenuhnya Milik Kita
Ternyata Rezeki yang Kita Miliki Tidak Sepenuhnya Milik Kita
Pernahkah kita merasa bahwa uang, rumah, kendaraan, atau usaha yang dimiliki sepenuhnya adalah hasil kerja keras sendiri? Kita bekerja, berusaha, menabung, lalu menikmati hasilnya. Namun, dalam Islam ada satu kesadaran penting yang sering terlupakan: rezeki yang Allah titipkan kepada kita bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Di dalamnya ada hak orang lain. Kesadaran inilah yang membuat seorang Muslim tidak hanya pandai mencari rezeki, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Sebab, harta bukan sekadar milik yang bisa dikumpulkan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Harta yang Kita Miliki Adalah Amanah dari Allah Allah memberikan rezeki kepada manusia dengan kadar dan jalan yang berbeda-beda. Ada yang diberikan kelapangan dalam usaha, ada yang diberi kesehatan, pekerjaan, keluarga yang mendukung, hingga kesempatan untuk terus berkembang. Namun, semua itu pada hakikatnya adalah titipan. Allah SWT berfirman: “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah), mereka memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid: 7) Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia adalah pengelola atas harta yang Allah titipkan. Karena itu, memiliki banyak harta bukan alasan untuk lupa berbagi. Ada Hak Orang Lain dalam Harta Kita Al-Qur'an juga menyampaikan: “Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19) Ayat ini menjadi pengingat bahwa kepedulian sosial bukan sekadar pilihan, tetapi bagian dari ajaran Islam. Melalui zakat, infak, dan sedekah, sebagian rezeki yang kita miliki dapat menjadi jalan hadirnya kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Mengapa Kita Perlu Berbagi Rezeki? Berbagi bukan berarti mengurangi kekayaan. Justru, Islam mengajarkan bahwa sedekah memiliki keberkahan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim no. 2588) Hadis ini mengajarkan bahwa jangan sampai rasa takut kekurangan membuat kita enggan bersedekah. Secara hitungan manusia, harta memang terlihat berkurang ketika dikeluarkan. Namun, dalam perspektif iman, sedekah dapat menjadi jalan datangnya keberkahan dan pahala. Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah banyak rezeki, saya akan berbagi.” Padahal, kebaikan tidak harus menunggu kaya. Sedekah bisa dimulai dari jumlah yang sederhana, sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi. Rasulullah SAW juga bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim) Tangan di atas menggambarkan orang yang memberi, sedangkan tangan di bawah menggambarkan orang yang menerima. Ini menjadi motivasi bagi kita untuk menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat kepada sesama. Saat Rezeki Menjadi Jalan Kebaikan Bayangkan ketika sebagian rezeki yang kita keluarkan dapat membantu seorang anak mendapatkan pendidikan, membantu keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan, mendukung program kemanusiaan, atau meringankan beban saudara yang sedang menghadapi ujian. Mungkin nominalnya terlihat kecil bagi kita. Tetapi bagi penerima manfaat, bantuan tersebut bisa memiliki arti yang sangat besar. Inilah indahnya zakat, infak, dan sedekah. Harta yang awalnya hanya berada di tangan kita dapat berubah menjadi makanan bagi yang lapar, bantuan bagi yang membutuhkan, pendidikan bagi generasi muda, dan harapan bagi mereka yang sedang berjuang. Jangan Hanya Bertanya, “Berapa Banyak yang Saya Punya?” Sesekali, ubahlah pertanyaan menjadi: “Berapa banyak kebaikan yang bisa saya lakukan dengan rezeki yang Allah titipkan?” Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita memandang harta. Sebab, sebanyak apa pun yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan. Yang akan menemani kita bukan saldo rekening, kendaraan, atau kemewahan, melainkan amal yang kita kerjakan.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Makin Banyak Zakat, Makin Sejahtera? Menguji Dampak BAZNAS bagi Masyarakat
Makin Banyak Zakat, Makin Sejahtera? Menguji Dampak BAZNAS bagi Masyarakat
Makin Banyak Zakat, Makin Sejahtera? Menguji Dampak BAZNAS bagi Masyarakat Apakah semakin banyak zakat yang terkumpul otomatis membuat masyarakat semakin sejahtera? Pertanyaan ini penting untuk dijawab. Sebab, keberhasilan zakat bukan hanya diukur dari berapa banyak dana yang terkumpul, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh mustahik. Di sinilah peran BAZNAS menjadi penting. Melalui pengelolaan zakat yang terencana, pendistribusian, pendayagunaan, serta pengukuran dampak, zakat diarahkan agar tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian masyarakat. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang 2025, pengumpulan ZIS-DSKL secara nasional mencapai Rp44,698 triliun, sedangkan pendistribusian dan pendayagunaan mencapai Rp44,268 triliun. Program zakat juga menjangkau sekitar 43,741 juta mustahik di berbagai bidang. Zakat Bukan Sekadar Tentang Jumlah Dana Zakat memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar memindahkan sebagian harta dari orang yang mampu kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual dan sosial. Zakat menyucikan harta sekaligus menjadi sarana membantu kehidupan sesama. Dari Bantuan Menuju Perubahan Jika zakat hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, manfaatnya tentu sangat berarti. Namun, jika zakat juga mampu membantu mustahik memperoleh penghasilan dan membangun kemandirian, dampaknya dapat menjadi lebih panjang. Karena itu, pengelolaan zakat BAZNAS tidak hanya berorientasi pada bantuan konsumtif. BAZNAS juga mengembangkan program pemberdayaan ekonomi yang diarahkan untuk membangun kemandirian mustahik. Bagaimana BAZNAS Mengukur Dampak Zakat? Pertanyaan penting berikutnya adalah: bagaimana kita tahu bahwa zakat benar-benar memberikan dampak? BAZNAS menggunakan instrumen seperti Indeks Zakat Nasional (IZN) dan Kaji Dampak Zakat (KDZ) untuk mengukur kualitas pengelolaan zakat serta dampaknya terhadap kondisi sosial dan ekonomi mustahik. Mengukur Lebih dari Sekadar Penyaluran Pengukuran dampak membuat keberhasilan zakat tidak berhenti pada angka dana yang disalurkan. Yang diperhatikan juga adalah perubahan yang terjadi setelah program diberikan. Apakah pendapatan mustahik meningkat? Apakah mereka semakin mandiri? Apakah kondisi sosial dan ekonominya membaik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar dana umat terus dikelola dengan pendekatan yang semakin efektif. Bukti Dampak Zakat di Masyarakat Berdasarkan kajian BAZNAS yang dipublikasikan pada 2026, pengelolaan zakat nasional sepanjang 2025 dilaporkan berhasil membantu 302.994 jiwa keluar dari garis kemiskinan. BAZNAS RI sendiri disebut berkontribusi membantu 18.035 jiwa terbebas dari kemiskinan. Angka ini tentu tidak berarti zakat sendirian dapat menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki potensi nyata sebagai salah satu instrumen untuk membantu mengurangi kemiskinan. Ketika Zakat Menjadi Kekuatan Ekonomi Salah satu kunci agar zakat berdampak lebih panjang adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat. Zakat untuk Membangun Kemandirian Dana zakat dapat digunakan dalam program pemberdayaan yang membantu mustahik mengembangkan usaha, memperoleh keterampilan, dan meningkatkan kemampuan ekonomi. Dengan pendekatan tersebut, seorang penerima manfaat tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih mandiri. Bayangkan ketika modal usaha kecil mampu membantu seorang pedagang meningkatkan pendapatan. Bayangkan ketika pelatihan keterampilan membuka peluang pekerjaan baru. Di situlah zakat mulai berubah dari sekadar bantuan menjadi pemberdayaan. Semakin Banyak Zakat, Semakin Besar Potensi Manfaatnya Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kehilangan. Harta yang dikeluarkan untuk kebaikan justru memiliki nilai keberkahan. Kekuatan Zakat Ada pada Kepedulian Kita Semakin banyak masyarakat yang menunaikan zakat sesuai ketentuan, semakin besar pula potensi dana yang dapat dikelola untuk membantu mustahik. Namun, jumlah saja tidak cukup. Zakat yang besar membutuhkan pengelolaan yang amanah, transparan, tepat sasaran, dan berorientasi pada dampak. BAZNAS menerbitkan laporan pengelolaan zakat nasional sebagai bagian dari upaya menghadirkan transparansi dan akuntabilitas kepada masyarakat. Mari Jadikan Zakat sebagai Jalan Kebaikan Jadi, apakah makin banyak zakat berarti makin sejahtera? Jawabannya: potensinya iya, tetapi dampaknya bergantung pada bagaimana zakat dikelola dan didayagunakan. Zakat yang dikelola dengan baik dapat membantu memenuhi kebutuhan, membuka peluang ekonomi, mendukung pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai program pemberdayaan masyarakat. Saatnya Zakat Kita Memberikan Dampak Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan seorang diri. Tetapi kita bisa mengambil bagian melalui zakat yang kita tunaikan. Jangan biarkan harta hanya berhenti sebagai angka. Jadikan zakat sebagai energi kebaikan yang menguatkan mereka yang membutuhkan. Tunaikan Zakat, Hadirkan Harapan Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Bersama, kita dapat mengubah kepedulian menjadi aksi, bantuan menjadi kemandirian, dan zakat menjadi manfaat yang lebih luas. Karena satu zakat dari kita mungkin menjadi awal perubahan besar bagi kehidupan seseorang.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Saat Rezeki Kita Menjadi Jalan Kebaikan bagi Sesama
Saat Rezeki Kita Menjadi Jalan Kebaikan bagi Sesama
Pernahkah kita berpikir bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya tentang apa yang bisa kita gunakan untuk diri sendiri? Di balik setiap rupiah yang Allah titipkan, ada kesempatan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Rezeki bukan sekadar jumlah yang tersimpan di rekening, makanan yang tersaji di meja, atau barang yang berhasil kita beli. Rezeki juga bisa menjadi jalan kebaikan, sarana berbagi, dan bekal amal yang terus mengalir. Rezeki Adalah Amanah dari Allah Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah. Karena itu, Islam mengajarkan agar harta tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga digunakan untuk membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan yang kita keluarkan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang. Justru, Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang menginfakkan hartanya dengan ikhlas. Sedikit yang Kita Berikan, Bisa Berdampak Besar Mungkin bagi kita, memberikan sebagian rezeki terasa kecil. Namun bagi seseorang yang sedang membutuhkan, bantuan tersebut bisa sangat berarti. Sebungkus makanan dapat menjadi penghilang lapar. Bantuan biaya pendidikan dapat menjaga harapan seorang anak. Santunan dapat membuat keluarga yang sedang kesulitan merasa bahwa mereka tidak sendirian. Inilah indahnya berbagi: nominalnya mungkin sederhana, tetapi dampaknya bisa luar biasa. Sedekah Tidak Membuat Rezeki Berkurang Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah, "Kalau sebagian harta saya diberikan, nanti apakah rezeki saya berkurang?" Rasulullah SAW justru mengajarkan sebaliknya. Beliau bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa berbagi bukanlah tanda kehilangan. Sedekah adalah bentuk kepercayaan kepada Allah bahwa rezeki kita berada dalam kuasa-Nya. Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan Mulai dari yang Kita Mampu Berbuat baik tidak harus menunggu menjadi kaya. Kita bisa memulainya dari apa yang dimiliki hari ini. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk sedekah, membantu tetangga yang membutuhkan, berbagi makanan, mendukung pendidikan anak kurang mampu, hingga menunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya merupakan berbagai bentuk nyata menjadikan rezeki sebagai jalan kebaikan. Jangan Menunggu Banyak untuk Berbagi Sering kali kita berkata, "Nanti kalau sudah punya lebih, saya akan bersedekah." Padahal, kesempatan berbuat baik adalah hari ini. Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu memiliki banyak uang. Karena boleh jadi, sedekah yang kita anggap kecil justru menjadi amal besar di sisi Allah. Berbagi dengan Ikhlas, Tanpa Menyakiti Islam juga mengajarkan bahwa kebaikan harus dilakukan dengan cara yang baik. Allah berfirman: "Orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah, kemudian tidak mengiringi apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih." (QS. Al-Baqarah: 262) Karena itu, berbagi bukan hanya tentang memberikan harta. Berbagi juga tentang menjaga perasaan, menghormati penerima, dan memastikan bantuan diberikan dengan penuh keikhlasan. Saatnya Mengubah Rezeki Menjadi Manfaat Kita mungkin tidak bisa membantu semua orang. Tetapi kita selalu bisa membantu seseorang. Ada keluarga yang membutuhkan makanan. Ada anak yang membutuhkan pendidikan. Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan. Ada saudara kita yang sedang menghadapi kesulitan dan hanya membutuhkan sedikit uluran tangan untuk kembali berdiri. Di sinilah rezeki kita menemukan makna yang lebih besar: ketika apa yang Allah titipkan kepada kita dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Mari Sisihkan Rezeki untuk Sesama Jangan biarkan seluruh rezeki hanya berhenti untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Sisihkan sebagian untuk menjadi kebaikan yang dirasakan orang lain. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga terpercaya agar kebaikan yang kita titipkan dapat disalurkan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Dari Penerima Zakat Jadi Pemilik Usaha: Cara BAZNAS Memicu “Keajaiban” Ekonomi
Dari Penerima Zakat Jadi Pemilik Usaha: Cara BAZNAS Memicu “Keajaiban” Ekonomi
Dari Penerima Zakat Jadi Pemilik Usaha: Cara BAZNAS Memicu “Keajaiban” Ekonomi Bayangkan jika zakat yang diterima seseorang tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga menjadi modal untuk membuka usaha, meningkatkan pendapatan, dan membangun masa depan. Inilah gagasan di balik pemberdayaan ekonomi melalui zakat. Zakat tidak harus berhenti sebagai bantuan konsumtif. Jika dikelola secara tepat, dana zakat dapat menjadi bagian dari proses transformasi mustahik menuju kemandirian ekonomi. BAZNAS mengembangkan berbagai program pemberdayaan ekonomi melalui bantuan modal, pelatihan, pendampingan, hingga akses pemasaran. Tujuannya adalah membantu mustahik meningkatkan kapasitas usaha dan penghasilannya secara berkelanjutan. Zakat Bukan Sekadar Bantuan, tetapi Jalan Menuju Kemandirian Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial. Zakat dapat menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan dan membangun kehidupan yang lebih baik. Ketika Mustahik Diberi Kesempatan untuk Tumbuh Tidak semua orang miskin tidak memiliki kemampuan. Banyak yang memiliki keterampilan, pengalaman, bahkan usaha kecil, tetapi terbentur modal, akses pasar, pengetahuan bisnis, atau keterbatasan peralatan. Karena itu, pendekatan zakat produktif berusaha menjawab persoalan tersebut dengan memberikan dukungan yang lebih menyeluruh. Bagaimana BAZNAS Mengubah Zakat Menjadi Modal Perubahan? 1. Memberikan Akses Modal Usaha Modal sering menjadi salah satu hambatan terbesar bagi pelaku usaha kecil. Melalui program pemberdayaan ekonomi, BAZNAS memberikan bantuan modal kepada mustahik agar mereka dapat mengembangkan usaha. Program Zmart, misalnya, dirancang untuk memperkuat usaha ritel mikro melalui bantuan modal, penguatan branding, pengembangan rantai pasok, dan pendampingan. Bukan Sekadar Memberi Uang Yang menarik, pemberdayaan tidak berhenti setelah bantuan diberikan. Mustahik juga mendapatkan pendampingan agar bantuan tersebut dapat digunakan secara produktif. 2. Memberikan Pelatihan dan Pendampingan Memiliki modal saja belum tentu membuat usaha berkembang. Seorang pelaku UMKM juga membutuhkan pengetahuan mengenai pencatatan keuangan, pemasaran, pengelolaan stok, hingga strategi pengembangan produk. Program pemberdayaan UMKM BAZNAS mencakup pelatihan, bantuan modal, pendampingan, legalitas usaha, serta akses pemasaran online maupun offline. 3. Membuka Akses Pasar Produk yang bagus membutuhkan pasar. Karena itu, BAZNAS juga membantu penerima manfaat mengembangkan dan memasarkan produknya. Pendekatan ini membuat zakat tidak hanya memberikan ikan, tetapi juga membantu mustahik memiliki kemampuan untuk terus menghasilkan. Dari Mustahik Menjadi Muzaki, Mungkinkah? Jawabannya: mungkin, tetapi membutuhkan proses. Salah satu kisah yang dibagikan BAZNAS adalah Mahmudin, seorang mekanik yang sebelumnya menjadi mustahik. Melalui program Z-Auto, ia memperoleh bantuan modal dan pendampingan hingga kondisi ekonominya meningkat dan ia kemudian menjadi muzaki. Kisah seperti ini menjadi gambaran bahwa keberhasilan zakat tidak selalu hanya diukur dari jumlah bantuan yang diberikan. Ukuran Keberhasilan yang Lebih Besar Keberhasilan pemberdayaan dapat terlihat ketika mustahik: memiliki usaha yang lebih stabil, meningkatkan pendapatan, mampu memenuhi kebutuhan keluarga, memiliki aset produktif, dan pada akhirnya mampu keluar dari ketergantungan bantuan. Inilah “keajaiban” ekonomi dari zakat: ketika bantuan menjadi modal, modal menjadi usaha, usaha menghasilkan pendapatan, dan pendapatan membuka jalan menuju kemandirian. Zakat dan Semangat Saling Menguatkan Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Harta yang dikeluarkan untuk kebaikan dapat menjadi sumber keberkahan dan manfaat bagi banyak orang. Satu Zakat, Banyak Perubahan Ketika zakat dikumpulkan dan dikelola secara profesional, dampaknya dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Pada 2026, BAZNAS terus memperkuat zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi mustahik melalui berbagai program. Di Kota Bogor, misalnya, BAZNAS pada Juni 2026 menyalurkan total Rp500 juta kepada 55 mustahik melalui program Zmart dan Z-Auto, berupa bantuan modal dan pelatihan untuk memperkuat usaha. Saatnya Zakat Menjadi Awal Kebangkitan Kemiskinan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan bantuan sesaat. Terkadang, seseorang membutuhkan kesempatan, modal, keterampilan, pendampingan, dan kepercayaan untuk bangkit. Di situlah zakat dapat memainkan peran strategis. Mari Dukung Pemberdayaan Mustahik Jika Anda ingin zakat dan sedekah menjadi bagian dari perubahan nyata, mari ikut mendukung program pemberdayaan ekonomi mustahik melalui BAZNAS. Jangan biarkan kebaikan berhenti sebagai bantuan sesaat. Jadikan zakat sebagai jalan menuju kemandirian. Satu kontribusi dari Anda dapat membantu membuka peluang usaha, menguatkan ekonomi keluarga, dan menghadirkan harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang. Dari Kita untuk Kemandirian Mereka Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Karena mungkin, dari zakat yang kita keluarkan hari ini, lahir seorang pengusaha baru yang kelak mampu membantu orang lain. Dari penerima zakat, menjadi pemilik usaha. Dari mustahik, menuju muzaki. Dari bantuan, menjadi kemandirian.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Ada yang Bertambah Saat Kamu Mengira Sedang Kehilangan
Ada yang Bertambah Saat Kamu Mengira Sedang Kehilangan
Pernah merasa berat ketika harus melepaskan sesuatu? Uang yang disedekahkan, waktu yang diberikan untuk membantu orang lain, atau kesempatan yang dikorbankan demi kebaikan. Secara kasat mata, kita mungkin merasa sedang kehilangan. Namun, dalam Islam, tidak semua yang berkurang berarti benar-benar hilang. Ada kebaikan yang justru tumbuh setelah kita melepaskannya. Ada keberkahan yang datang ketika kita berbagi. Bahkan ada ketenangan yang baru terasa setelah kita belajar mengikhlaskan. Inilah salah satu rahasia kehidupan: kadang kita merasa kehilangan, padahal Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih bernilai. Ketika Kehilangan Tidak Selalu Berarti Berkurang Manusia sering mengukur keuntungan dari apa yang terlihat. Ketika uang keluar, kita merasa berkurang. Ketika memberikan sebagian rezeki kepada orang lain, saldo memang turun. Tetapi dalam pandangan Allah, sebuah pemberian yang ikhlas memiliki nilai yang jauh lebih besar. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261). Ayat ini mengajarkan bahwa sesuatu yang kita keluarkan karena Allah tidak berhenti pada apa yang terlihat oleh mata. Sebuah sedekah dapat menjadi benih kebaikan yang Allah tumbuhkan dengan cara dan waktu yang tidak selalu kita duga. Yang Berkurang di Tangan, Bisa Bertambah dalam Keberkahan Kita mungkin kehilangan sebagian harta ketika bersedekah. Tetapi bisa jadi yang bertambah adalah keberkahan, ketenangan, kepedulian, dan pahala yang terus mengalir. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena ia memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim No. 2588). Pesannya begitu kuat: sedekah bukan tentang kehilangan, tetapi tentang menanam. Ada Kebaikan yang Tidak Langsung Terlihat Tidak semua balasan kebaikan datang dalam bentuk uang yang kembali ke rekening. Terkadang balasannya berupa hati yang lebih tenang, keluarga yang semakin erat, kemudahan dalam menghadapi masalah, atau kesempatan untuk menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain. Allah memiliki cara sendiri dalam membalas setiap kebaikan. Sedekah Mengajarkan Kita untuk Percaya Ketika seseorang bersedekah, sebenarnya ia sedang belajar percaya kepada Allah. Ia percaya bahwa rezeki tidak hanya ditentukan oleh apa yang disimpan, tetapi juga oleh keberkahan dari apa yang diberikan. Karena itu, jangan tunggu merasa berlebih untuk berbagi. Sebab kebaikan bukan hanya milik mereka yang memiliki banyak. Sedikit yang diberikan dengan ikhlas tetap berarti. Jangan Takut Berbagi Ketika Ada yang Membutuhkan Di sekitar kita, masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, lansia yang hidup dalam keterbatasan, hingga masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk bangkit dari kesulitan. Di sinilah sedekah menjadi lebih dari sekadar pemberian. Sedekah adalah bentuk kepedulian. Ia bisa menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, bantuan pendidikan bagi anak-anak, layanan kesehatan bagi mereka yang kesulitan, dan dukungan bagi masyarakat agar dapat kembali berdiri. Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan Kita tidak pernah tahu kebaikan kecil mana yang kelak menjadi sangat berarti di hadapan Allah. Mungkin hari ini kita hanya memberikan sebagian rezeki. Tetapi bagi seseorang yang menerimanya, bantuan itu bisa berarti satu hari penuh tanpa rasa lapar, biaya sekolah yang akhirnya terbayar, atau harapan yang kembali tumbuh. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Apa yang akan berkurang jika saya memberi?” Cobalah bertanya: “Kebaikan apa yang bisa bertambah karena saya memilih berbagi?”
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Putus Sekolah Bukan Lagi Pilihan: Rahasia BAZNAS Mengubah Zakat Jadi Beasiswa Masa Depan
Putus Sekolah Bukan Lagi Pilihan: Rahasia BAZNAS Mengubah Zakat Jadi Beasiswa Masa Depan
Putus Sekolah Bukan Lagi Pilihan: Rahasia BAZNAS Mengubah Zakat Jadi Beasiswa Masa Depan Bagi sebagian keluarga dhuafa, biaya pendidikan bukan sekadar angka. Seragam, buku, transportasi, uang sekolah, hingga biaya kuliah dapat menjadi beban yang membuat anak harus menghadapi pilihan sulit: melanjutkan pendidikan atau membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Padahal, pendidikan adalah salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Karena itu, zakat dapat memiliki peran yang lebih luas ketika dikelola untuk membuka akses pendidikan bagi mereka yang membutuhkan. BAZNAS melalui berbagai program pendidikan dan beasiswa berupaya memastikan keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar. BAZNAS sendiri menyebut pendidikan sebagai salah satu jalan nyata untuk membantu memutus rantai kemiskinan. Mengapa Zakat Penting untuk Pendidikan? Allah SWT berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”(QS. Al-Ma'idah: 2) Semangat berbagi dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan membantu kebutuhan hari ini, tetapi juga menghadirkan kesempatan agar seseorang dapat memperbaiki kehidupannya. Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan Anak dari keluarga kurang mampu memiliki potensi yang sama untuk menjadi guru, dokter, pengusaha, ilmuwan, atau pemimpin. Yang sering menjadi pembeda adalah kesempatan. Ketika zakat membantu biaya pendidikan, yang diberikan bukan hanya uang. Ada kesempatan untuk belajar, berkembang, memperoleh keterampilan, dan membangun masa depan yang lebih baik. Bagaimana BAZNAS Mengubah Zakat Menjadi Beasiswa? BAZNAS memiliki berbagai program pendidikan, termasuk Beasiswa Cendekia BAZNAS, Sekolah Cendekia BAZNAS, beasiswa khusus, beasiswa riset, dan beasiswa santri. Program tersebut menyasar penerima manfaat dari berbagai jenjang pendidikan. Beasiswa Bukan Sekadar Membayar Biaya Sekolah Inilah salah satu hal penting dalam pemberdayaan pendidikan. Dukungan pendidikan tidak selalu berhenti pada pembayaran biaya kuliah atau kebutuhan sekolah. Pada program Beasiswa Cendekia BAZNAS, misalnya, bantuan pendidikan juga diarahkan pada pengembangan diri mahasiswa. Program tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa D4/S1 dari keluarga kurang mampu, dengan dukungan biaya pendidikan dan pengembangan kapasitas. Membentuk Generasi yang Berdaya Pendidikan yang didukung zakat diharapkan dapat melahirkan generasi yang bukan hanya menyelesaikan sekolah, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi kepada masyarakat. Dengan demikian, zakat menjadi bagian dari proses panjang: zakat → beasiswa → pendidikan → keterampilan → kemandirian → masa depan. Dari Mustahik Menjadi Generasi Mandiri Ketika seorang anak mendapatkan beasiswa, dampaknya bisa meluas hingga keluarganya. Seorang mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan, membangun usaha, atau menciptakan kontribusi sosial. Pada akhirnya, perubahan tersebut dapat membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Memutus Rantai Kemiskinan melalui Pendidikan BAZNAS menegaskan pentingnya pendidikan dalam memutus rantai kemiskinan. Pada April 2026, Menteri Agama juga meminta BAZNAS memperkuat program beasiswa bagi mustahik dengan alasan bahwa kemiskinan bukan hanya berkaitan dengan kekurangan materi, tetapi juga keterbatasan ilmu. Inilah alasan zakat untuk pendidikan memiliki dampak yang sangat penting. Bantuan hari ini dapat menjadi modal pengetahuan untuk kehidupan bertahun-tahun ke depan. Kisah Kecil yang Bisa Menjadi Perubahan Besar Bayangkan seorang siswa yang hampir berhenti sekolah karena orang tuanya tidak mampu membayar kebutuhan pendidikan. Kemudian datang bantuan beasiswa. Ia tetap bersekolah. Ia lulus. Ia melanjutkan pendidikan. Ia memperoleh pekerjaan atau membangun usaha. Penghasilannya membantu keluarga. Bahkan suatu hari, ia mungkin menjadi orang yang menunaikan zakat dan membantu pendidikan anak lainnya. Satu Beasiswa, Banyak Harapan Inilah kekuatan zakat. Manfaatnya tidak selalu terlihat dalam satu hari. Kadang, dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian. BAZNAS juga terus memperluas akses pendidikan. Pada Juli 2026, BAZNAS memberikan beasiswa kepada santri dari keluarga kurang mampu dan menegaskan komitmen untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mereka. Rasulullah Mengajarkan Pentingnya Berbagi Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini mengingatkan bahwa harta yang dibagikan untuk kebaikan bukanlah sebuah kerugian. Ketika sebagian harta kita menjadi biaya pendidikan seorang anak, yang tumbuh bukan hanya ilmu, tetapi juga harapan. Saatnya Zakat Menjadi Beasiswa Masa Depan Kita mungkin tidak mampu membiayai pendidikan semua anak secara pribadi. Namun, melalui zakat yang dikelola bersama, kontribusi kita dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas. Jangan biarkan keterbatasan ekonomi menentukan masa depan seorang anak. Jika kewajiban zakat telah terpenuhi, mari lanjutkan semangat berbagi melalui infak dan sedekah untuk mendukung pendidikan mereka yang membutuhkan. Mari Bantu Mereka Tetap Sekolah Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Karena di balik satu beasiswa, ada seorang anak yang kembali berani bermimpi. Hari ini kita membantu biaya pendidikannya. Esok, mungkin ia yang membantu kehidupan keluarganya. Zakat kita hari ini, pendidikan mereka untuk masa depan.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
1 Zakat, 1000 Dampak: Seberapa Besar Perubahan yang Dihadirkan BAZNAS?
1 Zakat, 1000 Dampak: Seberapa Besar Perubahan yang Dihadirkan BAZNAS?
1 Zakat, 1000 Dampak: Seberapa Besar Perubahan yang Dihadirkan BAZNAS? Pernahkah kita membayangkan bahwa satu zakat yang kita tunaikan dapat menghadirkan banyak perubahan? Di tangan pengelolaan yang tepat, zakat bukan hanya menjadi bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Zakat dapat menjadi dukungan pendidikan, bantuan kesehatan, penguatan ekonomi, hingga jalan menuju kemandirian. Inilah yang membuat zakat memiliki kekuatan sosial yang besar. Melalui pengelolaan yang terencana, BAZNAS berupaya mengubah dana zakat menjadi manfaat yang lebih luas bagi mustahik. Laporan Pengelolaan Zakat Nasional 2025 mencatat bahwa dana ZIS-DSKL yang terkumpul secara nasional mencapai Rp44,698 triliun, sementara pendistribusian dan pendayagunaan mencapai Rp44,268 triliun. Program zakat tersebut menjangkau sekitar 43,741 juta mustahik di berbagai bidang. Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Mengubah Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103) Ayat tersebut menggambarkan zakat sebagai ibadah yang memiliki dimensi sosial. Harta yang dikeluarkan bukan hanya memenuhi kewajiban, tetapi juga dapat menjadi sarana menghadirkan kebaikan bagi sesama. Dari Bantuan Menjadi Pemberdayaan Dampak zakat akan semakin besar ketika bantuan tidak berhenti pada kebutuhan sesaat. Melalui program pemberdayaan ekonomi, dana zakat dapat diarahkan untuk membantu mustahik mengembangkan usaha, meningkatkan keterampilan, dan membangun kemandirian. BAZNAS menyebut program ekonomi sebagai salah satu bentuk pemanfaatan zakat untuk membantu masyarakat bangkit secara berkelanjutan. Zakat yang Membuka Peluang Bayangkan seorang pedagang kecil yang memperoleh dukungan untuk mengembangkan usahanya. Bantuan tersebut dapat membantu meningkatkan penghasilan keluarga. Bayangkan pula seorang anak dari keluarga kurang mampu yang memperoleh beasiswa. Pendidikan yang ia dapatkan hari ini bisa menjadi bekal untuk mendapatkan pekerjaan atau membangun usaha di masa depan. Satu zakat dapat memiliki dampak yang jauh lebih panjang daripada nilai nominalnya. Seberapa Besar Dampak Zakat BAZNAS? Pertanyaan ini penting karena keberhasilan pengelolaan zakat tidak cukup diukur dari berapa banyak dana yang terkumpul. Yang juga perlu dilihat adalah apa yang berubah setelah zakat disalurkan. Zakat dan Pengentasan Kemiskinan Hasil Kaji Dampak Zakat yang disampaikan BAZNAS pada 2026 menunjukkan bahwa pengelolaan zakat sepanjang 2025 secara nasional disebut berhasil membantu 302.994 jiwa keluar dari kemiskinan. Angka tersebut memberikan gambaran bahwa zakat memiliki potensi sebagai salah satu instrumen untuk membantu mengurangi kemiskinan. Namun, penting dipahami bahwa zakat bukan satu-satunya solusi atas persoalan kemiskinan. Dampaknya akan semakin optimal ketika zakat dipadukan dengan pendidikan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, dan berbagai upaya sosial lainnya. Mengukur Agar Zakat Semakin Berdampak BAZNAS juga menggunakan Indeks Zakat Nasional (IZN) dan Kaji Dampak Zakat untuk mengevaluasi pengelolaan serta dampak program. Pengukuran tersebut membantu melihat kekuatan dan kelemahan tata kelola sekaligus memastikan dana zakat memberikan manfaat nyata bagi mustahik. Dengan demikian, zakat tidak hanya berbicara tentang berapa rupiah yang diberikan, tetapi juga tentang perubahan kehidupan yang dihasilkan. 1 Zakat, Banyak Jalan Kebaikan Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Ketika harta digunakan untuk membantu orang lain, manfaatnya dapat terus mengalir. Dari Satu Muzaki untuk Banyak Mustahik Ketika zakat dihimpun secara bersama-sama, dana tersebut memiliki daya jangkau yang lebih luas. Zakat dapat hadir dalam berbagai bentuk: membantu kebutuhan dasar keluarga dhuafa, mendukung pendidikan anak-anak mustahik, memberikan akses layanan kesehatan, membantu pengembangan usaha kecil, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Inilah alasan mengapa manfaat zakat BAZNAS tidak dapat dilihat hanya dari satu program atau satu penerima manfaat. Transparansi Menjadi Bagian dari Amanah Besarnya dana zakat yang dikelola tentu harus diikuti dengan tanggung jawab yang besar. Karena itu, transparansi dan akuntabilitas menjadi bagian penting dalam pengelolaan zakat. BAZNAS menerbitkan Laporan Pengelolaan Zakat Nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban dan upaya meningkatkan transparansi pengelolaan zakat di Indonesia. Kepercayaan Muzaki, Amanah bagi Mustahik Setiap zakat yang ditunaikan membawa kepercayaan dari muzaki. Di sisi lain, ada mustahik yang menunggu manfaat dari dana tersebut. Karena itu, pengelolaan zakat harus terus diperkuat agar semakin profesional, transparan, tepat sasaran, dan berorientasi pada dampak. Mari Jadikan Zakat sebagai Energi Perubahan 1 zakat mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi dapat menjadi besar bagi seseorang yang sedang membutuhkan. Satu bantuan dapat membantu keluarga melewati masa sulit. Satu beasiswa dapat menjaga seorang anak tetap bersekolah. Satu dukungan usaha dapat membuka jalan menuju kemandirian. Saatnya Zakat Kita Memberi Dampak Jika kewajiban zakat Anda telah terpenuhi, jangan biarkan kesempatan berbagi berhenti di sana. Infak dan sedekah juga dapat menjadi bagian dari gerakan kebaikan yang membantu lebih banyak masyarakat. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS. Jadikan sebagian harta kita sebagai jalan untuk menghadirkan pendidikan, kesehatan, ketahanan ekonomi, dan harapan bagi mereka yang membutuhkan. Satu Zakat, Seribu Harapan Karena zakat bukan sekadar tentang harta yang kita keluarkan. Zakat adalah tentang kehidupan yang kita bantu bangkitkan. Satu zakat dari kita. Seribu dampak untuk mereka.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Apa yang Tidak Terlihat dari Sebuah Sedekah?
Apa yang Tidak Terlihat dari Sebuah Sedekah?
Sedekah sering kali terlihat sederhana: kita memberikan sebagian harta kepada orang yang membutuhkan, lalu selesai. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa ada banyak hal yang tidak terlihat dari sebuah sedekah? Di balik uang yang berpindah tangan, ada doa yang mungkin terpanjatkan, kebutuhan yang terbantu, hati yang menjadi lebih tenang, dan pahala yang terus mengalir atas izin Allah. Bahkan, sesuatu yang menurut kita kecil bisa memiliki nilai yang sangat besar di sisi-Nya. Inilah mengapa sedekah dalam Islam bukan sekadar tentang memberi, tetapi juga tentang menumbuhkan kepedulian, membersihkan hati, dan memperkuat hubungan sesama manusia. Sedekah Tidak Pernah Sesederhana yang Terlihat Ketika seseorang bersedekah Rp10.000, yang terlihat mungkin hanya nominalnya. Namun, kita tidak pernah tahu dampak yang muncul setelahnya. Bisa jadi uang tersebut membantu seseorang mendapatkan makanan. Bisa menjadi bagian dari biaya pendidikan seorang anak. Bisa membantu keluarga yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, sedekah mengajarkan kita bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Ada hak dan kebahagiaan orang lain yang bisa kita hadirkan melalui sebagian rezeki yang Allah titipkan. Allah Menjanjikan Balasan yang Berlipat Allah SWT menggambarkan besarnya balasan bagi orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menggambarkan bahwa nilai sedekah tidak berhenti pada nominal yang kita keluarkan. Allah dapat melipatgandakannya dengan cara dan kadar yang Dia kehendaki. Apa yang Tidak Terlihat dari Sebuah Sedekah? 1. Ada Kebahagiaan yang Tumbuh Sedekah dapat menghadirkan kebahagiaan bagi penerima. Senyum seseorang setelah mendapatkan bantuan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi orang yang sedang berada dalam kesulitan, bantuan tersebut bisa terasa sangat berarti. 2. Ada Hati yang Sedang Dibersihkan Sedekah juga menjadi latihan untuk melepaskan keterikatan berlebihan terhadap harta. Kita belajar bahwa memiliki banyak bukan berarti harus menyimpan semuanya. Ketika kita memberi dengan ikhlas, hati dilatih untuk lebih bersyukur dan peduli. 3. Ada Keberkahan yang Tidak Bisa Dihitung Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim No. 2588) Hadis ini mengingatkan bahwa sedekah bukanlah kerugian. Secara kasat mata, jumlah harta memang berkurang. Namun, keberkahan, pahala, ketenangan, dan balasan dari Allah tidak selalu dapat dihitung dengan angka. Jangan Menunggu Kaya untuk Bersedekah Salah satu alasan seseorang menunda sedekah adalah merasa belum memiliki cukup harta. “Kalau sudah punya banyak uang, nanti saya sedekah.” Padahal, sedekah tidak selalu harus menunggu kaya. Yang terpenting adalah keikhlasan dan kemampuan kita dalam memberi. Sedekah bisa dimulai dari nominal yang sederhana. Yang kecil bagi kita mungkin sangat berarti bagi orang lain. Mulai dari yang Bisa Kita Berikan Tidak perlu menunggu momentum besar. Jangan menunggu rezeki berlebih. Jangan menunggu kehidupan sempurna. Mulailah dari apa yang kita punya hari ini. Karena bisa jadi, sedekah yang kita anggap kecil justru menjadi amal yang sangat besar nilainya di sisi Allah. Mari Hadirkan Manfaat Melalui Sedekah Di luar sana, masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Ada keluarga yang membutuhkan bantuan, anak-anak yang membutuhkan dukungan pendidikan, masyarakat yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan berbagai kebutuhan umat yang menunggu kepedulian kita. Melalui sedekah, kita tidak hanya memberikan materi. Kita sedang menghadirkan harapan. Mungkin kita tidak melihat seluruh dampaknya. Tetapi Allah melihat setiap rupiah yang kita keluarkan dengan ikhlas. Karena itu, jangan biarkan kesempatan berbuat baik berlalu begitu saja. Sedekah Hari Ini, Kebaikan untuk Sesama Jika Allah sedang memberikan kita rezeki, mari sisihkan sebagian untuk mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL19/08/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →