Artikel Terbaru
BAZNAS di Era Digital: Inovasi Pengelolaan Zakat untuk Generasi Modern
BAZNAS di Era Digital: Inovasi Pengelolaan Zakat untuk Generasi Modern
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, hampir seluruh aktivitas masyarakat kini terhubung dengan dunia digital. Mulai dari bekerja, berbelanja, berkomunikasi, hingga melakukan transaksi keuangan dapat dilakukan hanya melalui smartphone. Perubahan ini juga membuka peluang besar dalam pengelolaan zakat di era digital .
BAZNAS terus menghadirkan inovasi agar masyarakat modern dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah dengan lebih mudah. Saat ini, layanan digital BAZNAS memungkinkan muzaki memilih program, menentukan metode pembayaran, hingga menerima bukti setor zakat secara digital.
Namun, digitalisasi bukan sekadar tentang teknologi. Lebih dari itu, transformasi digital menjadi cara untuk mendekatkan kebaikan kepada lebih banyak orang dan memperluas manfaat zakat bagi masyarakat.
Mengapa Zakat Perlu Beradaptasi di Era Digital?
Generasi modern memiliki pola hidup yang cepat, praktis, dan terhubung dengan teknologi. Oleh karena itu, lembaga pengelola zakat perlu menghadirkan layanan yang mudah diakses tanpa menghilangkan nilai amanah dan pemenuhan syariah.
BAZNAS telah mengembangkan berbagai kanal digital untuk pembayaran ZIS, termasuk layanan melalui website, QRIS, perbankan, serta berbagai platform pembayaran digital.
Kemudahan Membayar Zakat Kapan Saja
Dulu, seseorang mungkin harus datang langsung ke kantor lembaga zakat untuk menunaikan kewajibannya. Kini, pembayaran zakat dapat dilakukan secara online dari rumah maupun tempat kerja.
Kemudahan ini sangat relevan bagi generasi produktif yang memiliki mobilitas tinggi. Melalui layanan digital BAZNAS, masyarakat dapat memilih jenis dana atau program, memasukkan data, menentukan metode pembayaran, dan memperoleh notifikasi serta Bukti Setor Zakat setelah transaksi berhasil.
Teknologi sebagai Sarana Kebaikan
Pada hakikatnya, teknologi hanyalah sarana. Nilai ibadah tetap terletak pada niat, ketentuan zakat yang dipenuhi, serta penyaluran kepada pihak yang berhak.
Dengan demikian, zakat online dapat menjadi solusi praktis bagi masyarakat modern tanpa mengubah esensi zakat sebagai ibadah kepada Allah SWT.
Dalil tentang Zakat dan Amanah Mengelola Harta
Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah : 103)
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki fungsi spiritual sekaligus sosial. Harta yang ditunaikan melalui zakat menjadi sarana penyucian diri dan bentuk kepedulian terhadap sesama.
Di era digital, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui layanan yang semakin mudah, cepat, dan transparan.
Inovasi BAZNAS untuk Generasi Modern
Digitalisasi pengelolaan zakat membuka banyak peluang untuk meningkatkan pelayanan kepada muzaki sekaligus memperluas jangkauan manfaat bagi mustahik.
1. Pembayaran Zakat Secara Digital
Salah satu inovasi paling terasa adalah kemudahan pembayaran. BAZNAS menyediakan layanan pembayaran melalui kanal digital dan berbagai mitra pembayaran sehingga masyarakat dapat menunaikan ZIS tanpa harus membawa uang tunai.
2. Edukasi dan Konsultasi Zakat
Generasi digital membutuhkan informasi yang cepat dan mudah dipahami. Oleh karena itu, teknologi juga dapat menjadi media edukasi mengenai nisab, jenis zakat, cara menghitung zakat, serta pentingnya berbagi.
BAZNAS bahkan mengembangkan layanan digital untuk edukasi dan pembayaran zakat, termasuk chatbot ZAVIRA dan berbagai inovasi berbasis teknologi.
3. Meningkatkan Transparansi dan Kepercayaan
Transformasi digital juga dapat mendukung transparansi dan akuntabilitas. BAZNAS menyebut pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan muzaki dan mustahik, mempercepat distribusi, serta meningkatkan akses informasi.
Kepercayaan menjadi modal penting dalam pengelolaan dana umat. Ketika masyarakat merasa mudah mendapatkan informasi dan bukti transaksi, semakin besar peluang mereka untuk berbagi secara konsisten.
Saatnya Generasi Modern Berbagi
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”
(HR.Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa berbagi bukanlah kehilangan. Ada keberkahan dan nilai kebaikan yang menyertai harta yang dikeluarkan di jalan Allah.
Satu Klik, Hadirkan Manfaat Lebih Luas
Bayangkan jika kemudahan teknologi digunakan untuk memperbanyak kebaikan. Satu transaksi zakat dapat menjadi bagian dari dukungan untuk keluarga yang membutuhkan, pendidikan anak, pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan, hingga program sosial lainnya.
Oleh karena itu, jangan biarkan kemudahan digital hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jadikan teknologi sebagai jalan untuk berbagi dan menghadirkan perubahan.
Tunaikan Zakat, Mulai Kebaikan Hari Ini
Kini, menunaikan zakat dapat dilakukan dengan lebih mudah melalui layanan digital resmi BAZNAS. Mari memanfaatkan teknologi untuk menjalankan kewajiban sekaligus membantu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi sesama.
Tunaikan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda bersama BAZNAS.
Karena di era digital, kebaikan tidak perlu menunggu. Cukup mulai dari satu niat, satu tindakan, dan satu kebaikan yang kita salurkan hari ini.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
81 Tahun Indonesia Merdeka, Tapi Apakah Kita Sudah Merdeka dari Sikap Tidak Peduli?
81 Tahun Indonesia Merdeka, Tapi Apakah Kita Sudah Merdeka dari Sikap Tidak Peduli?
Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia seolah memiliki cara yang sama untuk mengingat kemerdekaan. Bendera merah putih dikibarkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara dilaksanakan, dan berbagai perlombaan digelar. Kita merayakan 81 tahun perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.
Namun, tahun ini ada pemandangan yang membuat makna kemerdekaan terasa berbeda.
Ketika sebagian masyarakat menikmati perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur justru sedang menghadapi masa sulit setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga 17 Agustus, ribuan rumah dilaporkan mengalami kerusakan dan masyarakat masih menghadapi dampak serta gempa susulan. (BMKG)
Di satu sisi, kita mengibarkan bendera sebagai simbol kemerdekaan. Di sisi lain, ada keluarga yang mungkin tidak lagi memiliki rumah untuk memasang bendera.
Lalu, apa sebenarnya arti kemerdekaan?
Kemerdekaan Tidak Hanya Tentang Perayaan
Kemerdekaan bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga memiliki makna tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan aman, bermartabat, dan saling menjaga sebagai satu bangsa.
Karena itu, ketika bencana terjadi di satu wilayah Indonesia, persoalannya bukan hanya milik masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. NTT bukan “jauh”. Mereka adalah bagian dari Indonesia yang sama dengan kita.
Mungkin kita tidak mengenal nama korban yang terdampak. Kita mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di desa tempat mereka tinggal. Namun, jarak geografis seharusnya tidak menciptakan jarak kemanusiaan.
Justru dalam situasi seperti inilah rasa sebagai satu bangsa diuji.
Kemanusiaan Harus Hadir Ketika Perayaan Berakhir
Mudah untuk berbicara tentang persatuan ketika semuanya sedang baik-baik saja. Kita mengenakan atribut merah putih, menyanyikan lagu perjuangan, dan mengucapkan “Dirgahayu Indonesia”.
Tetapi kemanusiaan memiliki makna yang lebih dalam ketika kita mampu mengatakan:
“Kamu sedang kesulitan, maka aku tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian.”
Kepedulian tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Sebagian orang mungkin dapat membantu dengan tenaga. Sebagian lainnya dapat menyebarkan informasi yang benar, mendoakan, menjadi relawan, atau memberikan bantuan materi.
Yang terpenting adalah jangan sampai kemerdekaan berhenti sebagai seremoni.
Sebab Indonesia yang merdeka seharusnya bukan hanya Indonesia yang mampu mengibarkan bendera, tetapi juga Indonesia yang masyarakatnya mampu saling menguatkan ketika sebagian dari mereka sedang kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan orang-orang yang dicintai.
Dari Rasa Peduli Menjadi Aksi Nyata
Bencana mengajarkan satu hal sederhana: manusia tidak pernah tahu kapan keadaan akan berubah.
Hari ini kita masih bisa menikmati rumah yang aman. Kita masih bisa bekerja, belajar, berkumpul bersama keluarga, dan merayakan kemerdekaan. Sementara di tempat lain, seseorang mungkin sedang berusaha mencari kembali barang-barang yang tersisa dari rumahnya.
Karena itu, jangan biarkan kepedulian hanya berhenti pada rasa iba.
Jika memiliki kemampuan, mari mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.
Salah satu caranya adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Bukan semata-mata karena kita ingin membantu korban bencana, tetapi karena berbagi merupakan bentuk nyata dari kepedulian terhadap sesama.
Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang memiliki peran dalam pengelolaan dan penyaluran dana umat.
Memaknai Kemerdekaan dengan Kemanusiaan
81 tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi pengingat bahwa kita bukan sekadar kumpulan manusia yang tinggal di pulau-pulau berbeda.
Kita adalah satu bangsa.
Ketika saudara kita di NTT sedang berduka, kemerdekaan mengajarkan kita untuk tidak hanya berkata “Indonesia tangguh”, tetapi juga menunjukkan ketangguhan itu melalui kepedulian.
Mari menjadikan peringatan kemerdekaan tahun ini bukan hanya sebagai momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga untuk meneruskan semangat perjuangan dalam bentuk yang dapat kita lakukan hari ini, yaitu menolong, berbagi, dan menjaga sesama.
Karena mungkin, salah satu bentuk paling nyata dari mencintai Indonesia adalah ketika kita tidak membiarkan saudara sebangsa menghadapi kesulitan seorang diri.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Karena kemerdekaan akan terasa lebih berarti ketika kita mampu menghadirkan kemanusiaan di dalamnya.
Satu kepedulian dari kita, dapat menjadi harapan bagi mereka yang sedang berjuang untuk bangkit.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ke Mana Perginya Zakat Kita? Mengungkap Peran BAZNAS dalam Mengubah Zakat Menjadi Manfaat
Ke Mana Perginya Zakat Kita? Mengungkap Peran BAZNAS dalam Mengubah Zakat Menjadi Manfaat
Pernahkah kita bertanya, ke mana perginya zakat yang kita tunaikan? Ketika sebagian harta disisihkan untuk zakat, tentu ada harapan agar kebaikan tersebut benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan dan membawa perubahan nyata.
Zakat bukan sekadar kewajiban yang selesai setelah dibayarkan. Di baliknya terdapat amanah untuk mengelola, mendistribusikan, dan mendayagunakan dana umat agar memberikan manfaat sebesar-besarnya.
Sebagai lembaga yang berwenang melakukan pengelolaan zakat secara nasional, BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) menjalankan fungsi perencanaan, pengumpulan, pendistribusian, pendayagunaan, pengendalian, serta pelaporan dan pertanggungjawaban zakat.
Lalu, bagaimana zakat kita diubah menjadi manfaat?
Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Mengubah
Islam menempatkan zakat sebagai salah satu instrumen penting dalam kehidupan umat. Zakat membantu membersihkan harta sekaligus menghadirkan kepedulian sosial.
Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka dengan zakat itu, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”(QS. At-Taubah: 103)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual sekaligus sosial. Ketika dikelola dengan baik, zakat dapat menjadi jalan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Dari Muzaki untuk Mustahik
Dana zakat yang dihimpun BAZNAS disalurkan kepada mustahik, yaitu mereka yang berhak menerima zakat. Namun, manfaat zakat tidak selalu berhenti pada bantuan kebutuhan sehari-hari.
BAZNAS juga mengembangkan pendayagunaan zakat melalui berbagai program pemberdayaan yang bertujuan meningkatkan kemandirian masyarakat.
Ke Mana Zakat Kita Disalurkan?
Pertanyaan ini penting karena kepercayaan merupakan bagian utama dalam pengelolaan dana umat.
1. Membantu Kebutuhan Masyarakat
Sebagian zakat dapat menjadi bantuan bagi masyarakat yang berada dalam kondisi sulit. Bantuan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar dan meringankan beban kehidupan mustahik.
2. Mendorong Kemandirian Ekonomi
Zakat juga dapat menjadi modal perubahan. BAZNAS memiliki program pemberdayaan ekonomi yang mencakup bantuan modal, pelatihan, pendampingan usaha, hingga fasilitas pemasaran produk.
Dari Bantuan Menjadi Penghasilan
Bayangkan seorang pelaku UMKM yang memiliki keterampilan tetapi terkendala modal. Dengan dukungan yang tepat, ia dapat mengembangkan usaha, meningkatkan pendapatan, dan perlahan membangun kemandirian ekonomi.
BAZNAS juga menjalankan program pemberdayaan seperti pengembangan UMKM, Z-Mart, Z-Chicken, ketahanan pangan, dan community development.
3. Mendukung Pendidikan dan Kesehatan
Pemberdayaan zakat tidak hanya berbicara tentang ekonomi. Program Zakat Community Development BAZNAS mengintegrasikan aspek ekonomi, dakwah, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan dalam pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, satu amanah zakat dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah keluarga menuju kehidupan yang lebih baik.
Mengapa Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS?
Mengelola dana umat membutuhkan profesionalisme dan akuntabilitas. BAZNAS memiliki mandat nasional untuk melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, serta pelaporan pengelolaan zakat.
Zakat yang Dikelola, Manfaat yang Diperluas
BAZNAS juga menempatkan modernisasi, digitalisasi, riset, inovasi, serta penguatan tata kelola sebagai bagian dari misi pengelolaan zakat.
Artinya, tujuan akhirnya bukan sekadar menghimpun dana, tetapi memastikan zakat dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”(HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Ada keberkahan yang menyertai harta yang dikeluarkan di jalan Allah.
Mari Ubah Zakat Menjadi Manfaat
Hari ini, mungkin kita tidak melihat langsung siapa yang menerima zakat kita. Namun, melalui lembaga pengelola zakat yang amanah, zakat dapat menjadi makanan bagi keluarga yang membutuhkan, modal bagi pelaku usaha kecil, dukungan pendidikan bagi anak-anak, hingga pemberdayaan masyarakat untuk menjadi lebih mandiri.
Saatnya Berbagi dan Menghadirkan Perubahan
Ke mana perginya zakat kita? Jawabannya bukan hanya tentang ke mana dana disalurkan, tetapi tentang perubahan apa yang berhasil diwujudkan melalui zakat tersebut.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik melalui BAZNAS. Jadikan sebagian harta yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Satu zakat yang kita tunaikan hari ini dapat menjadi awal dari perubahan kehidupan seseorang.
Mari bersama BAZNAS, ubah zakat menjadi manfaat, bantuan menjadi kemandirian, dan kepedulian menjadi perubahan nyata.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Stop! Jangan Bangga Dulu dengan Banyaknya Amal Sebelum Membaca Ini
Pernah merasa bangga karena sudah banyak melakukan amal? Rajin salat, rutin membaca Al-Qur’an, bersedekah, membantu orang lain, atau aktif dalam berbagai kegiatan sosial? Semua itu tentu merupakan kebaikan yang patut disyukuri.
Namun, ada satu hal penting yang sering terlupakan: banyaknya amal belum tentu menjadi jaminan bahwa amal tersebut diterima Allah.
Jangan sampai kita sibuk menghitung berapa banyak kebaikan yang sudah dilakukan, tetapi lupa bertanya, “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?”
Dalam Islam, kualitas amal tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari keikhlasan dan niat di baliknya.
Banyak Amal, Tapi Jangan Lupa Periksa Niat
Amal yang terlihat besar di mata manusia belum tentu besar di sisi Allah. Sebaliknya, amal sederhana yang dilakukan dengan ikhlas bisa memiliki nilai yang sangat besar.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada manusia...”
(QS. Al-Baqarah: 264)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa sedekah pun dapat kehilangan nilainya ketika dilakukan dengan riya atau disertai sikap yang merusak.
Riya Bisa Datang Tanpa Disadari
Riya adalah melakukan amal agar mendapatkan perhatian, pujian, atau pengakuan manusia.
Kadang bentuknya sangat halus.
Kita mungkin tidak mengatakan, “Saya ingin dipuji.” Namun hati merasa senang ketika orang mengetahui sedekah yang kita berikan. Kita merasa kurang puas ketika kebaikan tidak ada yang melihat. Bahkan terkadang muncul keinginan agar amal kita dibicarakan orang lain.
Di sinilah kita perlu berhati-hati.
Jangan sampai amal yang awalnya karena Allah perlahan berubah menjadi pencarian pengakuan manusia.
Rasulullah SAW Mengingatkan Bahaya Amal yang Tidak Ikhlas
Rasulullah SAW memberikan peringatan yang sangat serius tentang orang yang melakukan amal besar, tetapi ternyata memiliki tujuan untuk mendapatkan pujian manusia.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ? bersabda tentang orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat. Di antaranya adalah orang yang berjihad, orang berilmu yang membaca Al-Qur’an, dan orang kaya yang gemar berinfak.
Namun, mereka mengaku melakukan semuanya karena Allah. Ternyata tujuan mereka adalah agar disebut pemberani, alim, atau dermawan.
Rasulullah SAW bersabda:
Dalam hadis tersebut, Allah menunjukkan bahwa amal yang tampak sangat besar bisa menjadi sia-sia ketika niatnya bukan karena Allah. Orang yang bersedekah pun bisa mendapatkan ancaman serupa apabila tujuannya hanya agar disebut sebagai orang yang dermawan.
Jadi, Apa yang Harus Kita Takutkan?
Bukan takut beramal.
Justru kita harus semakin banyak beramal. Tetapi bersamaan dengan itu, kita juga perlu takut kehilangan keikhlasan.
Jangan berhenti bersedekah hanya karena khawatir riya. Jangan berhenti membantu karena takut dipuji. Yang harus dilakukan adalah terus memperbaiki niat.
Sebelum beramal, tanyakan:
“Apakah ini benar-benar untuk Allah?”
Saat sedang beramal, tanyakan:
“Apakah hatiku masih mengharap ridha Allah?”
Setelah beramal, tanyakan:
“Apakah aku masih membutuhkan pujian manusia?”
Amal yang Ikhlas Tidak Harus Selalu Terlihat
Ada kebaikan yang memang dilakukan secara terbuka untuk mengajak orang lain berbuat baik. Namun, ada pula amal yang jauh lebih aman ketika hanya diketahui oleh Allah.
Sedekah secara diam-diam, membantu seseorang tanpa mengumumkannya, mendoakan orang lain tanpa mereka tahu, atau memberikan infak tanpa mengharapkan ucapan terima kasih adalah bentuk latihan untuk menjaga keikhlasan.
Bukan berarti amal yang terlihat pasti riya. Yang mengetahui isi hati seseorang hanyalah Allah.
Karena itu, jangan mudah menuduh orang lain riya. Lebih baik gunakan nasihat ini untuk mengoreksi diri sendiri.
Jangan Hanya Mengejar Banyaknya Amal
Kejar Amal yang Diterima Allah
Ada perbedaan antara banyak beramal dan banyak mendapatkan pahala.
Kita mungkin mampu bersedekah berkali-kali, tetapi jangan lupa menjaga hati. Kita mungkin mampu membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi jangan sampai membaca hanya untuk mendapatkan pengakuan. Kita mungkin aktif membantu banyak orang, tetapi jangan sampai kebaikan tersebut membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Karena itu, selain memperbanyak amal, mari memperbanyak istighfar dan memohon kepada Allah agar amal kita diterima.
Amal yang sedikit tetapi ikhlas jauh lebih berharga daripada amal yang banyak tetapi dipenuhi keinginan untuk dipuji.
Saatnya Sedekah dengan Niat yang Lebih Bersih
Salah satu cara melatih keikhlasan adalah bersedekah tanpa perlu menunggu dikenal.
Ada saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan pangan, pemberdayaan ekonomi, hingga kebutuhan kemanusiaan. Mereka mungkin tidak mengenal siapa yang membantu. Namun, Allah mengetahui setiap rupiah yang kita keluarkan.
Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi.
Jangan menunggu memiliki banyak untuk bersedekah.
Dan jangan pula menunggu orang lain melihat kebaikan kita.
Sedekah Hari Ini, Biarkan Allah yang Membalas
Ketika kita menyalurkan zakat, infak, atau sedekah melalui lembaga yang amanah seperti BAZNAS Kota Sukabumi, niatkan semuanya sebagai bentuk ibadah dan kepedulian kepada sesama.
Tidak harus besar.
Yang terpenting adalah ikhlas, halal, dan dilakukan dengan penuh kepedulian.
Karena boleh jadi nominal yang menurut kita kecil justru menjadi jalan hadirnya kebahagiaan bagi seseorang yang sedang membutuhkan.
Jangan Bangga, Tapi Bersyukurlah
Memiliki banyak amal bukan alasan untuk merasa lebih baik daripada orang lain.
Sebaliknya, semakin banyak amal yang kita lakukan, seharusnya semakin rendah hati kita di hadapan Allah.
Jangan berkata dalam hati, “Aku sudah banyak beramal.”
Ubahlah menjadi:
“Ya Allah, terimalah amal yang sedikit ini dan jangan biarkan hatiku berpaling dari-Mu.”
Sebab tugas kita bukan memastikan manusia melihat kebaikan kita.
Tugas kita adalah memastikan setiap kebaikan yang kita lakukan benar-benar kita niatkan untuk Allah.
Mari terus berbuat baik, terus bersedekah, terus membantu sesama, dan terus memperbaiki niat. Semoga setiap rupiah yang kita keluarkan, setiap bantuan yang kita berikan, dan setiap kebaikan yang kita lakukan menjadi amal yang diterima Allah SWT.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Kalau Tidak Viral, Apakah Penderitaan Menjadi Kurang Layak Dibantu?
Kalau Tidak Viral, Apakah Penderitaan Menjadi Kurang Layak Dibantu?
Hari ini, sebuah bencana dapat menyebar ke seluruh Indonesia hanya dalam hitungan jam. Satu video korban yang menangis, satu unggahan rumah yang hancur, atau satu cerita tentang keluarga yang kehilangan tempat tinggal dapat membuat ribuan orang bergerak memberikan bantuan.
Donasi berdatangan. Informasi dibagikan. Banyak orang menunjukkan kepedulian.
Namun, coba bayangkan jika cerita tersebut tidak masuk beranda kita.
Tidak ada video yang viral. Tidak ada influencer yang membagikannya. Tidak ada unggahan yang mendapatkan jutaan tayangan.
Apakah penderitaan mereka kemudian menjadi kurang layak untuk dibantu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyentuh persoalan yang semakin relevan di era digital, yaitu apakah kepedulian kita mulai ditentukan oleh apa yang berhasil menarik perhatian algoritma?
Ketika Algoritma Mulai Menentukan Apa yang Kita Pedulikan
Media sosial telah mengubah cara kita mengenal penderitaan orang lain.
Dulu, kita mungkin mengetahui sebuah bencana melalui berita televisi, surat kabar, atau informasi dari lingkungan sekitar. Sekarang, penderitaan dapat muncul di layar ponsel di antara konten hiburan, tren, dan iklan.
Masalahnya, algoritma tidak dirancang untuk menentukan siapa yang paling membutuhkan pertolongan. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian.
Cerita yang emosional lebih mudah mendapatkan tontonan. Gambar yang menyentuh lebih mudah dibagikan. Peristiwa yang ramai diperbincangkan lebih cepat memperoleh perhatian.
Akibatnya, tanpa sadar terbentuk apa yang bisa disebut sebagai “algoritma kepedulian” yaitu sebuah fenomena dimana kita cenderung lebih mudah membantu sesuatu yang lebih sering kita lihat.
Padahal, yang tidak viral bukan berarti tidak membutuhkan bantuan.
Ada keluarga yang tetap kesulitan meskipun kisahnya tidak pernah masuk media sosial. Ada anak yang membutuhkan biaya pendidikan tanpa memiliki cerita dramatis yang dapat menjadi viral. Ada masyarakat yang berjuang keluar dari kemiskinan tanpa kamera yang merekam perjuangan mereka.
Apakah Kita Hanya Peduli Ketika Penderitaan Terlihat?
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Jangan-jangan masalah kemanusiaan hari ini bukan karena manusia semakin tidak peduli, tetapi karena kepedulian kita terlalu bergantung pada apa yang terlihat.
Ketika sebuah bencana viral, kita tergerak.
Ketika pemberitaan berhenti, perhatian ikut berpindah.
Kemudian muncul fenomena compassion fatigue kelelahan emosional karena terlalu sering melihat berbagai penderitaan. Kita terus melihat korban bencana, kemiskinan, kelaparan, dan penggalangan dana hingga akhirnya semua terasa seperti konten yang lewat begitu saja.
Kalau kebaikan hanya muncul ketika emosi kita berhasil disentuh, maka ada pertanyaan yang lebih besar yaitu,
"Bagaimana dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan ketika tidak ada seorang pun yang sedang memperhatikan?"
Kemanusiaan seharusnya tidak bekerja seperti algoritma.
Islam Mengajarkan Kebaikan yang Tidak Bergantung pada Sorotan
Islam memiliki perspektif yang menarik tentang amal. Kebaikan tidak bergantung pada seberapa banyak orang melihatnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 274:
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.”
Ayat ini menunjukkan bahwa nilai infak tidak ditentukan oleh apakah perbuatan tersebut menjadi tontonan banyak orang.
Bahkan, dalam banyak keadaan, kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui manusia justru menjadi bentuk keikhlasan yang sangat berharga.
Rasulullah SAW juga menyebutkan salah satu golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah seseorang yang bersedekah dengan begitu ikhlas hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanannya. (HR. Bukhari dan Muslim).
Pesannya jelas yaitu kebaikan tidak membutuhkan penonton untuk menjadi berarti.
Jangan Biarkan Viralitas Menjadi Syarat untuk Berbuat Baik
Media sosial tentu bukan musuh kemanusiaan. Justru teknologi dapat menjadi sarana luar biasa untuk menyebarkan informasi, menghubungkan orang yang membutuhkan dengan orang yang mampu membantu, dan memperluas jangkauan penggalangan dana.
Yang perlu diubah adalah cara kita menggunakannya.
Jangan menunggu sebuah penderitaan menjadi viral untuk mulai peduli.
Bangun kebiasaan berbagi bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam dan tidak ada cerita yang sedang ramai diperbincangkan.
Sebab kebaikan yang konsisten jauh lebih kuat daripada kepedulian yang hanya muncul sesekali.
ZIS: Membuat Kebaikan Tidak Bergantung pada Viralitas
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki peran penting.
Kita tidak harus menunggu sebuah bencana muncul di beranda untuk mengeluarkan sebagian harta. ZIS dapat menjadi bagian dari kebiasaan berbagi yang dilakukan secara rutin.
Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat dapat dihimpun dan dikelola untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai dengan ketentuan dan program yang tersedia.
Dengan demikian, kepedulian tidak hanya diarahkan kepada mereka yang paling terlihat, tetapi juga dapat menjangkau mereka yang mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk menceritakan penderitaannya kepada dunia.
Jangan Tunggu Viral untuk Peduli
Mungkin kita tidak bisa membantu semua orang.
Tetapi kita selalu bisa memilih untuk tidak menjadi orang yang hanya peduli ketika penderitaan seseorang masuk ke layar kita.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban. Sisihkan infak dan sedekah secara rutin sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Jadikan kebaikan sebagai kebiasaan, bukan reaksi terhadap viralitas.
Karena orang yang membutuhkan pertolongan tidak menjadi lebih layak dibantu hanya karena kisahnya viral.
Dan penderitaan yang tidak terlihat tetap merupakan penderitaan.
Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jangan menunggu sebuah kisah menjadi viral untuk membuat kebaikan menjadi nyata.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Percaya BAZNAS atau Salurkan Zakat Sendiri? Dua Pilihan, Satu Tujuan
Percaya BAZNAS atau Salurkan Zakat Sendiri? Dua Pilihan, Satu Tujuan
Zakat adalah kewajiban, tetapi cara penyampaiannya sering menjadi pertanyaan. Apakah lebih baik menyalurkan zakat langsung kepada orang yang membutuhkan, atau mempercayakannya kepada lembaga seperti BAZNAS?
Pertanyaan ini wajar. Setiap muzaki tentu ingin memastikan zakat yang dikeluarkan benar-benar sampai kepada yang berhak dan memberikan manfaat nyata.
Pada akhirnya, baik melalui amil yang amanah maupun penyaluran langsung sesuai ketentuan syariat, tujuan zakat tetap sama: menunaikan kewajiban kepada Allah SWT sekaligus membantu mereka yang berhak menerima zakat. Di Indonesia, BAZNAS mempunyai mandat untuk mengelola zakat secara nasional, termasuk pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat.
Zakat Adalah Amanah yang Harus Disalurkan dengan Tepat
Allah SWT telah menjelaskan kelompok yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk memerdekakan orang-orang yang melakukan, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.”
(QS. At-Taubah : 60)
Ayat ini menjadi dasar penting bahwa zakat memiliki sasaran yang jelas. Oleh karena itu, tepat dalam menentukan penerima dan pengelolaan dana menjadi bagian dari amanah.
Apa Peran Amil Zakat?
Dalam Fatwa MUI Nomor 8 Tahun 2011, amil zakat dijelaskan sebagai pihak yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola pelaksanaan zakat atau membentuk masyarakat dengan pengesahan pemerintah.
Artinya, amil bukan sekedar perantara pembayaran. Amil mempunyai tugas dalam menghimpun, mengelola, dan menyalurkan zakat kepada mustahik.
Menyalurkan Zakat Sendiri: Apa Kelebihannya?
Menyalurkan zakat secara langsung dapat membuat muzaki melihat sendiri kondisi penerima manfaat. Misalnya, seseorang mengetahui tetangganya yang fakir atau keluarga di sekitarnya yang sedang mengalami kesulitan.
Kedekatan Membantu Menemukan Mustahik
Penyaluran langsung dapat menjadi bentuk kepedulian sosial yang sangat dekat. Kita bisa memahami kebutuhan penerima dan memberikan bantuan secara langsung.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan: memastikan penerima memang termasuk golongan yang berhak menerima zakat dan menentukan jenis zakat yang tepat.
Jangan Sampai Zakat Salah Sasaran
Niat baik saja belum cukup. Zakat memiliki ketentuan syariah mengenai penerima dan kegunaannya. Oleh karena itu, jika terdapat keraguan mengenai mustahik, nisab, jenis zakat, atau tata cara penyaluran, berkonsultasi dengan amil atau lembaga zakat terpercaya dapat menjadi pilihan yang bijak.
Mengapa Memilih BAZNAS?
Mempercayakan zakat kepada BAZNAS memberikan pendekatan yang berbeda. Dana yang dihimpun tidak hanya dipandang sebagai bantuan satu kali, tetapi dapat dikelola melalui program pendistribusian dan pendayagunaan.
BAZNAS menjelaskan bahwa pengelolaan zakat dilakukan melalui tahapan penghimpunan, pendistribusian, pendayagunaan, serta pelaporan dan pertanggungjawaban.
Zakat Dikelola untuk Manfaat yang Lebih Luas
Zakat dapat disalurkan untuk membantu kebutuhan mustahik sekaligus mendukung pemberdayaan. BAZNAS pada tahun 2026 juga menegaskan komitmennya memperkuat zakat sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi mustahik dan pemerataan kesejahteraan melalui berbagai program.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Bayangkan bantuan zakat yang kita tunaikan tidak berhenti pada konsumsi, tetapi menjadi bagian dari perjalanan seorang mustahik untuk mendapatkan pendampingan usaha, meningkatkan keterampilan, atau membangun sumber penghasilan.
Inilah salah satu kekuatan pengelolaan zakat melalui BAZNAS : kebaikan dari banyak muzaki dapat dihimpun dan diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
Dua Pilihan, Satu Tujuan: Menghadirkan Kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR.Muslim)
Pesan ini mengingatkan kita bahwa berbagi bukanlah kerugian. Ada keberkahan dalam harta yang dikeluarkan untuk kebaikan.
Pilih Cara Membuat Zakat Lebih Tepat dan Amanah
Menyalurkan zakat secara langsung dapat menjadi pilihan ketika kita benar-benar mengetahui penerima yang memenuhi ketentuan. Sementara itu, penggunaan BAZNAS sebagai lembaga amil zakat dapat membantu ketika kita membutuhkan pengelolaan yang lebih terstruktur, terukur, dan menjangkau penerima manfaat secara lebih luas.
Yang terpenting adalah memastikan kewajiban zakat ditunaikan dengan benar dan sampai kepada mereka yang berhak.
Saatnya Zakat Menjadi Manfaat
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya “percaya BAZNAS atau salurkan zakat sendiri?” , tetapi:
“Bagaimana zakat kita dapat memberikan manfaat terbaik bagi mereka yang berhak menerimanya?”
Jika Anda memilih mempercayakan zakat kepada BAZNAS, Anda juga mendukung pengelolaan zakat yang terorganisasi dan program pendistribusian serta pemberdayaan masyarakat. BAZNAS sendiri menyediakan layanan zakat resmi untuk memudahkan masyarakat menunaikan zakat.
Mari Tunaikan Zakat Hari Ini
Jangan biarkan niat baik ditunda. Salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS dan jadikan sebagian harta yang dimiliki sebagai jalan menghadirkan harapan.
Satu zakat dari Anda mungkin menjadi awal perubahan bagi sebuah keluarga.
Bayangkan, tunaikan, dan jadikan zakat sebagai manfaat nyata.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Kita Terlalu Sibuk Menghitung Kekayaan, Sampai Lupa Menghitung Berapa Banyak Kebaikan yang Bisa Dilakukan
Kita Terlalu Sibuk Menghitung Kekayaan, Sampai Lupa Menghitung Berapa Banyak Kebaikan yang Bisa Dilakukan
Setiap bulan kita terbiasa menghitung banyak hal. Berapa gaji yang masuk, berapa jumlah tabungan, berapa cicilan yang harus dibayar, berapa harga investasi yang dimiliki, bahkan berapa banyak barang yang berhasil dibeli. Kita diajarkan untuk mengelola keuangan dengan baik agar kehidupan semakin aman dan terencana.
Namun, pernahkah kita menghitung sesuatu yang berbeda?
Dari seluruh harta yang kita miliki, berapa banyak kebaikan yang sudah berhasil kita hasilkan?
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi mungkin justru lebih sulit dijawab daripada menghitung jumlah saldo di rekening.
Ketika Harta Berhenti Menjadi Angka
Tidak ada yang salah dengan memiliki tabungan, kendaraan, rumah, investasi, atau barang yang kita inginkan. Memiliki harta bukan sesuatu yang harus dianggap buruk. Justru, kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari kehidupan.
Namun, persoalannya muncul ketika ukuran keberhasilan finansial hanya berhenti pada seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.
Kita merasa berhasil ketika tabungan bertambah. Merasa aman ketika aset semakin banyak. Merasa maju ketika penghasilan meningkat.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput yaitu,
“Setelah semua kebutuhan saya terpenuhi, apakah harta yang saya miliki juga memberikan manfaat bagi kehidupan orang lain?”
Sebab harta dapat menjadi dua hal sekaligus, yaitu sesuatu yang kita miliki dan sesuatu yang kita manfaatkan.
Ketika harta hanya berhenti sebagai angka, nilainya mungkin hanya terasa bagi pemiliknya. Tetapi ketika sebagian harta berubah menjadi makanan bagi yang lapar, biaya pendidikan bagi anak yang membutuhkan, modal bagi seseorang untuk bangkit, atau bantuan bagi korban bencana, harta tersebut mulai memiliki nilai sosial yang jauh lebih luas.
Apakah Kita Mengumpulkan Harta atau Mengumpulkan Manfaat?
Di sinilah cara kita memandang kekayaan perlu diperluas.
Kita sering bertanya, “Berapa banyak yang sudah saya punya?”
Mungkin sudah saatnya pertanyaan tersebut diubah menjadi:
“Berapa banyak manfaat yang bisa saya ciptakan dari apa yang saya punya?”
Perubahan pertanyaan ini bukan berarti kita harus memberikan seluruh harta yang dimiliki. Bukan pula berarti kita tidak boleh menikmati hasil kerja keras sendiri.
Justru, kita diajak untuk menyadari bahwa dalam rezeki yang kita miliki terdapat ruang untuk kepentingan orang lain.
Masalahnya, berbagi sering ditempatkan sebagai aktivitas yang dilakukan jika masih ada sisa.
Setelah kebutuhan terpenuhi, setelah keinginan tercapai, setelah tabungan aman, barulah kebaikan dipertimbangkan.
Padahal, jika kebaikan selalu menunggu sisa, kita mungkin akan selalu merasa belum memiliki cukup.
Islam Tidak Hanya Mengajarkan Memiliki, tetapi Juga Menyalurkan
Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan. Harta merupakan amanah yang di dalamnya terdapat tanggung jawab.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 7:
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari apa yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya.”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dan amanah dari Allah SWT.
Karena itu, keberkahan harta tidak hanya dapat dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari bagaimana harta tersebut digunakan.
Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dari tanggung jawab tersebut. Ia bukan sekadar memberikan sebagian harta kepada orang lain, tetapi merupakan kewajiban bagi orang yang telah memenuhi syarat untuk menunaikannya.
Sementara infak dan sedekah membuka ruang yang lebih luas untuk berbagi sesuai kemampuan.
Bagaimana Jika Kita Mulai Menghitung “Kebaikan” dalam Keuangan?
Kita mungkin sudah memiliki anggaran untuk makan, transportasi, hiburan, tabungan, investasi, dan kebutuhan lainnya.
Mengapa tidak mulai menyediakan ruang untuk anggaran kebaikan?
Tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar.
Kita dapat mulai dari jumlah yang mampu diberikan secara rutin. Ketika menerima penghasilan, sebagian digunakan untuk kebutuhan, sebagian disimpan untuk masa depan, dan sebagian disisihkan untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Dengan cara tersebut, zakat, infak, dan sedekah tidak lagi menjadi keputusan spontan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. Berbagi berubah menjadi kebiasaan dalam mengelola rezeki.
Dan ketika dilakukan bersama-sama, sesuatu yang tampak kecil dari satu orang dapat menjadi kekuatan besar bagi banyak orang.
Dari Harta Pribadi Menjadi Manfaat Bersama
Di sinilah peran lembaga zakat menjadi penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan orang yang mau memberi, tetapi juga membutuhkan pengelolaan dana yang dapat menghubungkan kebaikan para pemberi dengan kebutuhan masyarakat secara lebih terarah.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menunaikan zakat, infak, dan sedekah serta berkontribusi dalam menghadirkan manfaat bagi mereka yang membutuhkan.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah cara menghitung kekayaan.
Jangan hanya menghitung berapa rupiah yang berhasil kita kumpulkan.
Mulailah menghitung, "Berapa banyak orang yang bisa terbantu? Berapa banyak kehidupan yang bisa menjadi lebih baik? Berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari rezeki yang Allah titipkan kepada kita?"
Sebab pada akhirnya, ukuran kekayaan tidak hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan melalui apa yang kita miliki.
Sisihkan Harta, Hadirkan Manfaat
Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk mulai berbagi. Tidak perlu menunggu memiliki kelebihan untuk melakukan kebaikan.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta perbanyak infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Mari ubah sebagian harta yang kita miliki menjadi manfaat yang dapat dirasakan orang lain.
Karena harta yang hanya tersimpan mungkin menambah angka, tetapi harta yang dibagikan dapat menambah kebermanfaatan.
Sisihkan sebagian dari apa yang kita miliki hari ini. Sebab bisa jadi, kebaikan yang kita berikan bukan hanya mengubah kehidupan orang lain, tetapi juga menjadi salah satu cara kita mempertanggungjawabkan rezeki yang telah Allah titipkan.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Rp50 Ribu Terasa Kecil Saat Belanja, Tapi Terasa Besar Saat Bersedekah. Kenapa?
Rp50 Ribu Terasa Kecil Saat Belanja, Tapi Terasa Besar Saat Bersedekah. Kenapa?
Pernahkah kita membeli kopi seharga Rp50 ribu tanpa terlalu banyak berpikir? Atau mengeluarkan nominal yang sama untuk ongkos, makanan, langganan aplikasi, skincare, bahkan sekadar jajan karena sedang ingin sesuatu?
Anehnya, ketika nominal Rp50 ribu yang sama ditawarkan untuk disedekahkan, kita tiba-tiba berhenti dan berpikir, “Nanti dulu, masih banyak kebutuhan lain.”
Padahal nominalnya sama.
Lalu, sebenarnya apa yang membuat Rp50 ribu terasa kecil ketika digunakan untuk diri sendiri, tetapi terasa besar ketika diberikan kepada orang lain?
Bukan Soal Punya atau Tidak Punya
Pertanyaan ini mungkin sedikit mengganggu. Sebab, bisa jadi persoalannya bukan karena kita benar-benar tidak memiliki uang untuk bersedekah. Kita hanya lebih terbiasa memberikan uang kepada sesuatu yang manfaatnya dapat kita rasakan secara langsung.
Ketika membeli makanan, kita kenyang. Ketika membeli pakaian, kita bisa memakainya. Ketika membeli hiburan, kita mendapatkan kesenangan.
Sementara ketika bersedekah, hasilnya tidak selalu bisa kita lihat. Uang yang kita keluarkan mungkin berubah menjadi makanan untuk keluarga yang membutuhkan, biaya pendidikan seorang anak, bantuan kesehatan, atau dukungan bagi seseorang agar dapat bangkit dari kesulitan.
Di sinilah cara kita memandang uang perlu dipertanyakan.
Apakah nilai uang hanya ditentukan oleh apa yang bisa kita beli untuk diri sendiri, atau juga oleh seberapa besar manfaat yang bisa dihadirkannya untuk orang lain?
Ketika “Nanti” Menjadi Kebiasaan
Sering kali kita tidak benar-benar menolak untuk berbuat baik. Kita hanya menundanya.
“Nanti kalau gaji sudah naik.”
“Nanti kalau kebutuhan sudah terpenuhi.”
“Nanti kalau punya uang lebih.”
Masalahnya, kata “nanti” dapat menjadi kebiasaan. Ketika penghasilan bertambah, kebutuhan dan keinginan pun ikut bertambah. Apa yang dulu dianggap cukup, perlahan terasa kurang.
Akibatnya, berbagi selalu ditempatkan setelah semua keinginan terpenuhi.
Padahal, jika kebaikan selalu menunggu sisa, mungkin kita akan terus mencari alasan bahwa belum ada yang tersisa.
Karena itu, sedekah seharusnya tidak selalu diposisikan sebagai pengeluaran setelah kebutuhan selesai. Ia dapat menjadi kebiasaan yang memang sengaja disisihkan sejak awal.
Islam Mengajarkan Kita untuk Melepaskan yang Dicintai
Islam tidak mengajarkan bahwa harta harus dijauhi. Harta boleh dimiliki, digunakan, dan dinikmati. Namun, harta juga memiliki dimensi sosial dan tanggung jawab di dalamnya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 92:
“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.”
Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya berbicara tentang memberikan sesuatu yang sudah tidak kita inginkan.
Justru ada penekanan pada apa yang kita cintai.
Artinya, berbagi bukan sekadar memindahkan uang dari tangan kita kepada orang lain. Ada proses belajar melepaskan keterikatan terhadap harta.
Mungkin Rp50 ribu tidak akan membuat kita kaya. Tetapi kebiasaan menyisihkannya dapat mengubah cara kita memandang kekayaan.
Mulai dari Bukan Berapa Besar, tetapi Berapa Konsisten
Tidak semua orang memiliki kemampuan finansial yang sama. Karena itu, membandingkan nominal sedekah bukanlah tujuan.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan.
Kita dapat mulai dengan menyisihkan sebagian rezeki secara rutin. Ketika menerima penghasilan, sisihkan untuk kebutuhan, tabungan, dan juga kebaikan.
Dengan begitu, sedekah tidak lagi menunggu hati tergerak setelah melihat sebuah video viral atau kisah yang menyentuh. Kebaikan menjadi bagian dari cara kita mengelola rezeki.
Dan ketika kemampuan finansial meningkat, ruang untuk berbagi pun dapat diperluas.
Bagi yang telah memenuhi syarat, zakat bukan sekadar pilihan, tetapi kewajiban yang harus ditunaikan. Sementara infak dan sedekah dapat menjadi ruang untuk memperluas manfaat dari rezeki yang kita miliki.
Ubah Rp50 Ribu Menjadi Manfaat
Bayangkan jika kebiasaan kecil dilakukan oleh banyak orang.
Satu orang mungkin hanya mampu menyisihkan Rp50 ribu. Namun ketika banyak orang melakukan hal yang sama secara konsisten, nominal tersebut dapat dikumpulkan dan dikelola menjadi manfaat yang jauh lebih besar.
Di sinilah lembaga zakat memiliki peran. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pemberdayaan. BAZNAS Kota Sukabumi juga menyatakan komitmennya terhadap pengelolaan ZIS yang terukur, transparan, akuntabel, serta keterlibatan dalam kondisi bencana dan krisis.
Jadi, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaannya.
Bukan lagi, “Rp50 ribu ini terlalu besar untuk disedekahkan?”
Tetapi,
“Dari seluruh uang yang saya keluarkan bulan ini, mengapa tidak ada sebagian yang sengaja saya sisihkan untuk menjadi manfaat bagi orang lain?”
Karena pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan tentang seberapa banyak harta yang kita punya.
Tetapi tentang ke mana harta yang kita punya diarahkan.
Saatnya Menyisihkan, Bukan Menunggu Sisa
Mari mulai dari kemampuan yang kita miliki hari ini. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya, serta perbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk syukur sekaligus ikhtiar menghadirkan manfaat bagi sesama.
Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara mudah melalui kanal pembayaran resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu tersisa untuk berbuat baik. Sisihkan hari ini, karena kebaikan yang kecil ketika dilakukan dengan ikhlas dan konsisten dapat menjadi manfaat yang besar.
ARTIKEL18/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Ternyata Bukan Kurang Ibadah, Ini yang Mengganggu Ketenangan Hati
Pernah merasa sudah berusaha rajin beribadah, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berdzikir, tetapi hati masih terasa gelisah? Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ibadah kita kurang. Bisa jadi, ada sesuatu di dalam hati yang belum selesai: dendam, iri, dengki, terlalu memikirkan penilaian manusia, atau sulit menerima sesuatu yang sudah Allah tetapkan.
Ketenangan hati bukan hanya tentang seberapa banyak ibadah yang dilakukan, tetapi juga tentang bagaimana kita membersihkan hati dan belajar menyerahkan segala urusan kepada Allah.
Mengapa Hati Sulit Merasa Tenang?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering sibuk memperbaiki keadaan di luar diri, tetapi lupa merawat keadaan di dalam hati. Kita bisa terlihat baik-baik saja, tersenyum di depan orang lain, bahkan aktif dalam berbagai kegiatan kebaikan. Namun, hati mungkin masih menyimpan luka.
Rasa kecewa, membandingkan diri dengan orang lain, iri terhadap rezeki orang lain, hingga keinginan untuk membalas kesalahan seseorang dapat menjadi beban yang diam-diam melelahkan.
Allah berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini mengingatkan bahwa ketenangan sejati bersumber dari kedekatan dengan Allah. Namun, hati juga perlu dilatih untuk melepaskan hal-hal yang membuatnya terus terikat pada luka dan urusan dunia.
Bukan Sekadar Menambah Ibadah, Tapi Membersihkan Hati
Menambah ibadah tentu merupakan sesuatu yang baik. Namun, jangan sampai kita hanya sibuk menghitung jumlah ibadah tanpa mengevaluasi kondisi hati.
1. Belajar Memaafkan
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan berarti memilih untuk tidak terus-menerus membiarkan kesalahan tersebut menguasai hati.
Ketika kita menyimpan dendam, orang yang menyakiti kita mungkin sudah melanjutkan hidupnya, sementara kita masih membawa luka itu setiap hari.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Memaafkan membutuhkan kekuatan hati. Ia adalah bentuk pengendalian diri sekaligus usaha untuk menjaga hati tetap bersih.
2. Berhenti Membandingkan Rezeki
Salah satu sumber kegelisahan adalah terlalu sering melihat kehidupan orang lain.
Melihat seseorang mendapatkan pekerjaan lebih baik, memiliki rumah lebih bagus, usaha lebih maju, atau kehidupan yang terlihat lebih bahagia dapat membuat kita lupa bahwa Allah memberikan rezeki dengan cara dan waktu yang berbeda.
Daripada terus bertanya, “Mengapa dia mendapatkannya dan saya tidak?”, lebih baik bertanya, “Apa yang sudah Allah berikan kepada saya yang selama ini saya lupa syukuri?”
Syukur Mengubah Cara Kita Melihat Kehidupan
Ketika hati dipenuhi syukur, kita tidak lagi hanya melihat apa yang belum dimiliki. Kita mulai menyadari bahwa nikmat Allah ternyata jauh lebih banyak daripada keluhan kita.
Jangan Biarkan Dengki Mengambil Ketenangan
Dengki membuat hati sulit menikmati kebahagiaan. Ketika orang lain mendapatkan nikmat, hati justru merasa tidak nyaman.
Padahal, rezeki orang lain tidak pernah mengurangi jatah yang Allah tetapkan untuk kita.
Karena itu, ketika melihat orang lain berhasil, cobalah mengganti rasa iri dengan doa:
“Ya Allah, berkahilah rezekinya dan berikan pula kepadaku rezeki yang baik, halal, dan penuh keberkahan.”
Perlahan, hati akan belajar menerima bahwa kebahagiaan orang lain bukan ancaman bagi kehidupan kita.
Sedekah, Cara Sederhana Melatih Hati untuk Ikhlas
Selain memperbaiki hubungan dengan Allah, kita juga perlu melatih hati untuk peduli kepada sesama. Salah satunya melalui zakat, infak, dan sedekah.
Berbagi mengajarkan kita bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati sendiri. Ada kebahagiaan ketika sebagian yang kita miliki menjadi jalan bagi orang lain untuk bertahan, bangkit, dan tersenyum.
Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas, meski sederhana, dapat menjadi pengingat bahwa nikmat yang kita miliki adalah amanah dari Allah.
Saatnya Membersihkan Hati dengan Kebaikan
Jika hari ini hati terasa berat, mungkin bukan hanya tubuh yang membutuhkan istirahat. Bisa jadi hati juga membutuhkan ruang untuk melepaskan dendam, mengurangi iri, memperbanyak dzikir, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan kembali bersyukur.
Mari jangan hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbaiki hati yang menjadi tempat tumbuhnya amal tersebut.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
Kok Bisa?! Rajin Ibadah, Tapi Hati Masih Mudah Iri dan Gelisah?
Pernah merasa sudah rajin salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bahkan rutin bersedekah, tetapi hati masih mudah iri ketika melihat keberhasilan orang lain? Atau tiba-tiba gelisah ketika teman mendapatkan rezeki, karier, atau kebahagiaan yang belum kita miliki?
Kok bisa?
Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebab, ibadah bukan hanya tentang memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga tentang membersihkan hati. Hati yang sehat akan mendorong seseorang semakin dekat kepada Allah, mudah bersyukur, dan mampu ikut bahagia atas nikmat yang diterima orang lain.
Rajin Ibadah, Mengapa Hati Masih Bisa Iri?
Iri atau hasad muncul ketika seseorang tidak senang melihat nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang. Perasaan seperti ini bisa muncul tanpa disadari.
Misalnya, ketika melihat teman membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, usahanya berkembang, atau mendapatkan pencapaian tertentu. Bukannya ikut bahagia, hati justru berkata, “Kok dia bisa, ya? Kenapa saya belum?”
Perasaan sesaat mungkin manusiawi. Namun, jika terus dipelihara, iri dapat berubah menjadi penyakit hati.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan umatnya agar tidak saling iri.
Rasulullah SAW Melarang Sifat Hasad
Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling memutus hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga hati merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ibadah Seharusnya Membentuk Hati yang Lebih Baik
Ibadah tidak berhenti pada gerakan salat atau banyaknya bacaan dzikir. Ibadah seharusnya perlahan membentuk akhlak dan hati kita.
Ketika hati masih mudah iri, mungkin bukan berarti seluruh ibadah kita sia-sia. Namun, bisa jadi ada bagian dari hati yang masih perlu terus dibersihkan.
Belajar Melihat Nikmat Orang Lain dengan Lapang
Allah memberikan rezeki kepada setiap manusia dengan cara dan waktu yang berbeda. Apa yang dimiliki orang lain bukan berarti mengurangi jatah kita.
Allah menggambarkan keutamaan orang yang mampu menghilangkan rasa sempit dalam hati melalui firman-Nya:
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Hasyr: 9)
Ayat ini mengajarkan bahwa keberuntungan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kemampuan menjaga hati dari sifat buruk.
Bagaimana Cara Membersihkan Hati dari Rasa Iri?
1. Perbanyak Bersyukur
Ketika melihat kelebihan orang lain, segera ingat nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Bersyukur membantu hati berhenti membandingkan diri secara berlebihan.
2. Ubah Iri Menjadi Doa
Ketika melihat seseorang mendapatkan keberhasilan, cobalah berkata dalam hati, “Ya Allah, berkahilah rezekinya dan berikan pula kepadaku rezeki yang baik.”
Dengan begitu, rasa iri perlahan berubah menjadi doa dan harapan yang positif.
3. Perbanyak Sedekah
Sedekah bukan hanya membantu orang lain. Ia juga menjadi latihan bagi hati untuk melepaskan rasa memiliki secara berlebihan dan belajar berbagi.
Saat kita memberikan sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang mengingatkan diri bahwa rezeki adalah amanah dari Allah.
4. Belajar Memaafkan dan Melepaskan
Terkadang kegelisahan bukan hanya berasal dari iri, tetapi juga dari luka, kecewa, atau dendam yang masih disimpan.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa permusuhan yang tersimpan di dalam hati dapat menjadi penghalang datangnya ampunan hingga kedua pihak berdamai.
Karena itu, membersihkan hati berarti belajar melepaskan apa yang tidak perlu dibawa terlalu lama.
Jangan Hanya Memperbanyak Amal, Tapi Rawat Juga Hati
Kita boleh mengejar banyaknya ibadah. Kita boleh memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan melakukan berbagai amal kebaikan.
Namun, jangan lupa bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah semua ibadah itu sudah membuat hati saya lebih lembut?”
Jika hari ini kita masih mudah iri, jangan menyerah. Jadikan itu sebagai tanda untuk semakin mendekat kepada Allah dan memperbaiki hati.
Saatnya Mengubah Iri Menjadi Peduli
Salah satu cara sederhana untuk melatih hati agar tidak terjebak dalam rasa iri adalah berbagi kepada sesama.
Daripada terus membandingkan apa yang belum kita miliki, mari melihat mereka yang bahkan sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Sedikit rezeki yang kita sisihkan melalui zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL18/08/2026 | BAZNAS
7 Manfaat Luar Biasa Zakat untuk Membawa Harapan dan Kebaikan bagi Sesama
Zakat bukan hanya kewajiban bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat. Lebih dari itu, zakat adalah bentuk kepedulian yang mampu menghadirkan harapan, meringankan beban, dan menebarkan kebaikan bagi sesama. Ketika sebagian harta yang kita miliki disalurkan kepada mereka yang berhak, manfaatnya dapat dirasakan tidak hanya oleh penerima zakat, tetapi juga oleh masyarakat secara lebih luas.
Di tengah berbagai kebutuhan masyarakat, zakat menjadi salah satu instrumen penting untuk membantu mereka yang membutuhkan. BAZNAS Kota Sukabumi sendiri mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk berbagai program yang mencakup pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Lalu, apa saja manfaat zakat yang luar biasa bagi kehidupan? Berikut tujuh di antaranya.
1. Membersihkan Harta dan Menyucikan Jiwa
Salah satu manfaat utama zakat adalah membersihkan harta sekaligus menyucikan jiwa dari sifat kikir dan terlalu mencintai harta.
Dalil Al-Qur'an tentang Zakat
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual. Menunaikan zakat bukan sekadar mengeluarkan sebagian harta, tetapi juga menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT.
2. Membantu Meringankan Beban Sesama
Zakat memiliki manfaat sosial yang sangat besar. Dana yang disalurkan kepada mustahik dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Dari Zakat Menjadi Harapan
Bagi seseorang yang sedang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, bantuan zakat dapat memberikan ruang untuk bernapas. Bagi seorang anak dari keluarga kurang mampu, dukungan pendidikan dapat menjadi jalan untuk meraih masa depan.
Inilah kekuatan zakat: sesuatu yang kita keluarkan dapat berubah menjadi harapan bagi orang lain.
3. Mengurangi Kesenjangan Sosial
Zakat juga dapat menjadi salah satu sarana untuk membangun kepedulian dan solidaritas sosial. Ketika orang yang memiliki kemampuan membantu mereka yang membutuhkan, hubungan sosial dalam masyarakat menjadi semakin kuat.
Membangun Kepedulian Bersama
Zakat mengajarkan bahwa keberhasilan pribadi tidak seharusnya membuat kita lupa kepada orang lain. Sebagian rezeki yang kita miliki memiliki manfaat ketika dibagikan kepada mereka yang membutuhkan.
Dengan pengelolaan yang baik, zakat dapat mendukung berbagai bentuk pemberdayaan masyarakat, termasuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kemanusiaan.
4. Membuka Jalan Keberkahan
Zakat juga menjadi bentuk rasa syukur atas rezeki yang telah Allah SWT berikan. Ketika kita berbagi dengan ikhlas, kita belajar bahwa keberkahan tidak hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang manfaat yang dihasilkan dari harta tersebut.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan orang lain kecuali Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim No. 2588).
Hadits tersebut mengajarkan bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Justru, kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
5. Mendukung Pendidikan dan Masa Depan
Salah satu manfaat zakat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang adalah dukungan terhadap pendidikan.
Membantu Anak Meraih Cita-Cita
Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan. Dukungan dari dana zakat dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk membantu mereka terus belajar dan mengembangkan potensi.
Pendidikan bukan hanya bantuan untuk hari ini, tetapi investasi untuk masa depan.
6. Mendorong Kemandirian Ekonomi
Zakat juga dapat diarahkan untuk membantu penerima manfaat agar lebih mandiri. Bukan hanya memberikan bantuan konsumtif, tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi melalui bantuan usaha dan pendampingan.
Dari Mustahik Menuju Kemandirian
Harapannya, penerima manfaat tidak selamanya bergantung pada bantuan. Dengan pemberdayaan yang tepat, mereka dapat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kondisi ekonominya dan membangun kehidupan yang lebih baik.
7. Menjadi Amal yang Membawa Kebaikan
Pada akhirnya, zakat adalah bentuk ibadah yang menghubungkan hubungan manusia dengan Allah SWT sekaligus hubungan manusia dengan sesama.
Setiap Rupiah Bisa Berarti
Mungkin nominal yang kita keluarkan terlihat kecil. Namun, ketika dikelola dan disalurkan dengan tepat, manfaatnya dapat menjadi besar bagi orang lain. BAZNAS Kota Sukabumi menyampaikan bahwa dana ZIS dapat menjadi bagian dari bantuan pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga program kemanusiaan.
Karena itu, jangan menunggu memiliki harta berlimpah untuk mulai peduli. Mulailah dari kewajiban yang memang harus ditunaikan dan dari kemampuan yang kita miliki.
Yuk, Tunaikan Zakat dan Tebarkan Harapan
Setiap zakat yang kita tunaikan adalah bentuk kepedulian. Setiap rupiah yang kita sisihkan dapat menjadi bagian dari senyum, pendidikan, kesehatan, kebutuhan hidup, atau kesempatan bagi seseorang untuk bangkit.
Kalau hari ini kita mampu berbagi, mengapa harus menunggu?
Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Jadikan sebagian rezeki kita sebagai jalan untuk membersihkan harta, memperkuat kepedulian, dan membawa harapan bagi sesama.
Jangan Tunda Kebaikan Hari Ini
Zakat bukan sekadar kewajiban. Zakat adalah jalan untuk berbagi, membantu, memberdayakan, dan menghadirkan harapan.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Ketika Kepedulian Menjadi Cahaya bagi Sesama
Kepedulian adalah salah satu nilai luhur yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, masih banyak saudara kita yang berjuang menghadapi kesulitan ekonomi, keterbatasan pendidikan, hingga masalah kesehatan. Di sinilah kepedulian memiliki peran besar sebagai cahaya yang menerangi kehidupan mereka.
Bukan hanya sekadar membantu, kepedulian adalah bentuk nyata dari keimanan. Ketika seseorang mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan, ia tidak hanya meringankan beban sesamanya, tetapi juga sedang menanam pahala yang akan terus mengalir di sisi Allah SWT.
Mengapa Kepedulian Begitu Penting dalam Islam?
Islam mengajarkan umatnya untuk hidup saling membantu dan memperhatikan kondisi sesama. Allah SWT berfirman:
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Maidah: 2)
Ayat ini menjadi landasan kuat bahwa setiap Muslim memiliki tanggung jawab sosial untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain. Kepedulian bukan hanya pilihan, tetapi bagian dari ibadah yang dicintai Allah SWT.
Kepedulian Melahirkan Keberkahan
Sering kali kita berpikir bahwa membantu orang lain akan mengurangi harta yang kita miliki. Padahal, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa sedekah justru mendatangkan keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim)
Hadis ini memberikan keyakinan bahwa setiap bantuan yang diberikan tidak akan membuat seseorang menjadi miskin. Sebaliknya, Allah SWT akan mengganti dan melipatgandakan keberkahan dalam kehidupannya.
Ketika Bantuan Kecil Menjadi Harapan Besar
Tidak semua bentuk kepedulian harus diwujudkan dalam jumlah yang besar. Terkadang, bantuan yang menurut kita kecil justru menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
Membantu Pendidikan Anak Dhuafa
Bagi sebagian anak, membeli buku atau perlengkapan sekolah adalah hal yang mudah. Namun, bagi anak-anak dhuafa, hal tersebut bisa menjadi impian yang sulit diwujudkan.
Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat membantu mereka memperoleh pendidikan yang layak sehingga memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Meringankan Beban Keluarga Kurang Mampu
Banyak keluarga yang harus berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan sembako, modal usaha, maupun santunan dapat menjadi penyelamat di saat mereka berada dalam kondisi sulit.
Kepedulian yang diberikan hari ini bisa menjadi titik balik kehidupan mereka di masa depan.
Menjadi Sahabat bagi Mereka yang Terlupakan
Tidak semua kebutuhan bersifat materi. Banyak lansia, yatim, dan kaum dhuafa yang membutuhkan perhatian serta kasih sayang. Kehadiran kita, doa, dan dukungan moral juga merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Allah Mencintai Hamba yang Peduli kepada Sesama
Rasulullah SAW menggambarkan hubungan sesama Muslim seperti satu tubuh yang saling merasakan.
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa penderitaan saudara kita seharusnya menjadi perhatian bersama. Kepedulian bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang merasakan dan memahami kesulitan orang lain.
Cahaya Kepedulian yang Tak Pernah Padam
Ketika seseorang membantu orang lain karena Allah SWT, sesungguhnya ia sedang menyalakan cahaya kebaikan. Cahaya tersebut tidak hanya menerangi kehidupan penerima manfaat, tetapi juga menerangi perjalanan hidup orang yang memberi.
Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Jalan Kepedulian
Salah satu cara terbaik untuk mewujudkan kepedulian adalah melalui zakat, infak, dan sedekah. Dengan berbagi, kita ikut membantu program pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan, serta berbagai program sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Setiap rupiah yang disalurkan dapat berubah menjadi makanan bagi yang lapar, pendidikan bagi anak yatim, pengobatan bagi yang sakit, dan harapan bagi mereka yang hampir kehilangan semangat hidup.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Apakah Sedekah Online Itu Amanah? Jangan Asal Klik Sebelum Tahu Fakta Ini!
Apakah Sedekah Online Itu Amanah? Jangan Asal Klik Sebelum Tahu Fakta Ini!
Kemudahan teknologi digital saat ini telah mengubah paradigma kita dalam berbagi kepada sesama. Hanya dengan beberapa sentuhan layar ponsel, kita bisa menyalurkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan dalam hitungan detik. Namun, di balik masifnya tren digital fundraising yang sangat praktis, muncul pertanyaan krusial yang sering kali diabaikan oleh para dermawan yaitu, Apakah sedekah online itu amanah?
Maraknya aksi galang dana ilegal dan platform tidak resmi yang bermunculan di media sosial membuat masyarakat harus lebih jeli dan waspada. Artikel ini akan membedah pentingnya literasi digital filantropi agar kebaikan Anda tidak salah alamat, sekaligus menyoroti keunggulan sistem pengelolaan dana resmi yang transparan di bawah naungan pemerintah daerah.
Memahami Pentingnya Literasi Digital Filantropi di Era Modern
Di era di mana informasi tersebar secepat kilat, kemampuan untuk memfilter informasi menjadi sangat krusial. Kemudahan membuat tautan donasi di berbagai platform media sosial sering kali disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk kepentingan pribadi. Tanpa adanya regulasi yang ketat dan audit publik yang jelas, dana umat yang terkumpul rawan disalahgunakan atau bahkan tidak pernah sampai kepada mustahik yang sebenarnya berhak menerima.
Risiko Terjebak Platform Donasi Ilegal
Sebagai warga yang cerdas, kita perlu memahami bahwa menyalurkan dana kemanusiaan tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Literasi digital filantropi menuntut kita untuk selalu melakukan verifikasi sebelum berdonasi. Kita harus mampu mengenali ciri-ciri lembaga amil zakat resmi yang memiliki legalitas hukum yang kuat, seperti sedekah online amanah BAZNAS Kota Sukabumi. Ketidakwaspadaan dalam memilih platform donasi digital tidak hanya merugikan donatur secara materiil, tetapi juga dapat mematikan kepercayaan masyarakat terhadap gerakan filantropi secara umum.
Ciri-Ciri Lembaga Resmi dan Kredibel
Sebelum menyumbangkan harta, pastikan platform atau lembaga tersebut memenuhi kriteria berikut:
Legalitas Hukum: Lembaga harus memiliki izin operasional resmi dari kementerian, badan amil zakat nasional, atau pemerintah daerah terkait.
Akuntabilitas: Lembaga bertanggung jawab untuk menyediakan laporan pertanggungjawaban dana secara berkala yang bisa diakses oleh publik.
Transparansi Program: Lembaga harus menjelaskan secara rinci program penyaluran bantuan dan profil mustahik yang akan dibantu sebagai transparansi dari program yang dijalankan.
Sistem Verifikasi: Platform yang disediakan memiliki kanal komunikasi resmi dan alamat fisik yang dapat dikunjungi.
Keunggulan Sistem Pengelolaan Resmi Pemerintah
Mengapa Anda harus memilih lembaga resmi bentukan pemerintah dibandingkan platform pihak ketiga yang tidak jelas? Lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi menerapkan tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel. Setiap rupiah dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang Anda titipkan dicatat secara sistematis dan diaudit agar sesuai dengan prinsip syariah.
Legalitas dan Pengawasan: Lembaga beroperasi berdasarkan undang-undang zakat dan diawasi langsung oleh instansi berwenang, sehingga meminimalisir risiko penyelewengan.
Penyaluran Tepat Sasaran: Lembaga memiliki database dan akses valid mengenai kondisi mustahik dan dhuafa di wilayah Kota Sukabumi, sehingga bantuan langsung menyentuh mereka yang membutuhkan.
Transparansi Laporan: Seluruh donatur dapat memantau bagaimana dana dikelola, baik untuk program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, maupun bantuan darurat kemanusiaan.
Untuk memperluas wawasan mengenai tata kelola filantropi yang baik, Anda dapat membaca panduan transparansi lembaga amal melalui Kemenag RI. Anda juga dapat mempelajari program-program pemberdayaan umat secara langsung melalui situs resmi BAZNAS serta membaca informasi lebih mendalam terkait operasional kami melalui laman informasi internal kami.
Peran Aktif Warga Sukabumi dalam Kemanusiaan
Sebagai bagian dari masyarakat Kota Sukabumi, kepedulian kita adalah motor utama penggerak kesejahteraan sesama. Melalui program-program kemanusiaan lokal, setiap kontribusi sekecil apa pun yang Anda berikan akan berdampak besar bagi warga prasejahtera, anak yatim, dan lansia telantar yang berada tepat di lingkungan sekitar kita.
Di tengah tantangan ekonomi global, gotong royong warga melalui platform resmi menjadi benteng pertahanan sosial yang paling efektif. Jangan biarkan keraguan atau berita hoaks merusak niat baik Anda untuk berbagi. Mari pastikan setiap kebaikan yang ditebar benar-arah, tepat sasaran, dan mendatangkan keberkahan maksimal bagi diri sendiri maupun penerima manfaat.
Pastikan kebaikan Anda sampai pada pihak yang tepat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah dengan aman, mudah, dan terpercaya melalui kanal resmi BAZNAS Kota Sukabumi. Mari bersamai langkah mereka menuju kesejahteraan!
ARTIKEL14/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Jangan Biarkan Kepedulian Berhenti di Rasa Iba
Jangan Biarkan Kepedulian Berhenti di Rasa Iba
Ketika Rasa Iba Hanya Berhenti pada Perasaan
Di tengah kehidupan yang terus bergerak, kita sering kali berhadapan dengan berbagai cerita tentang sesama yang sedang mengalami kesulitan. Ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak-anak yang membutuhkan pendidikan, lansia yang hidup seorang diri, hingga masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk kembali bangkit secara ekonomi.
Tidak jarang, hati kita tergerak ketika melihat kondisi tersebut. Muncul rasa iba, sedih, bahkan keinginan untuk membantu. Namun, terkadang rasa tersebut hanya berhenti sebagai perasaan. Kita merasa prihatin, tetapi belum mengambil langkah untuk memberikan bantuan.
Padahal, kepedulian tidak seharusnya berhenti pada rasa iba. Kepedulian menjadi lebih bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
lebih bermakna ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.
Islam Mengajarkan Kepedulian kepada Sesama
Dalam Islam, membantu orang yang membutuhkan bukan sekadar bentuk kebaikan sosial, tetapi juga bagian dari ajaran agama. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”
Ayat tersebut menggambarkan bahwa kebaikan yang diberikan di jalan Allah dapat memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada apa yang kita bayangkan.
Berbagi juga tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah besar. Kemampuan setiap orang berbeda. Ada yang mampu menunaikan zakat, ada yang dapat berinfak secara rutin, dan ada pula yang memberikan sedekah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk mengubah kepedulian menjadi aksi.
Sedikit dari Kita, Berarti bagi Mereka
Sering kali kita berpikir bahwa membantu harus dilakukan dengan jumlah yang besar. Pemikiran tersebut dapat membuat seseorang mengurungkan niat untuk berbagi karena merasa belum memiliki cukup kemampuan.
Padahal, kebaikan tidak selalu diukur dari besar kecilnya nominal, tetapi juga dari keikhlasan dan kebermanfaatannya.
Infak dan sedekah yang diberikan secara sukarela dapat menjadi bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan. Ketika dilakukan bersama-sama, kontribusi yang terlihat kecil dari satu orang dapat menjadi dukungan yang lebih besar bagi banyak penerima manfaat.
Di sinilah pentingnya membangun kebiasaan berbagi. Bukan hanya ketika kita melihat sebuah musibah atau merasa tersentuh oleh suatu cerita, tetapi menjadikan kepedulian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dari Rasa Iba Menjadi Aksi Nyata
Merasakan kesedihan orang lain adalah awal dari empati. Namun, empati akan memiliki makna yang lebih besar ketika mendorong kita untuk melakukan sesuatu.
Ketika melihat seseorang membutuhkan bantuan, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Mungkin kita belum mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang mereka hadapi. Namun, kita tetap dapat mengambil bagian sesuai dengan kemampuan. Salah satunya dengan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang memiliki amanah dalam menghimpun dan menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan.
Melalui lembaga zakat, kepedulian masyarakat dapat disalurkan secara lebih terarah sehingga manfaatnya dapat menjangkau penerima yang membutuhkan.
Bersama BAZNAS Kota Sukabumi, Wujudkan Kepedulian
BAZNAS Kota Sukabumi hadir sebagai lembaga yang menghimpun dan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada masyarakat yang membutuhkan. Melalui kontribusi masyarakat, dana yang terkumpul dapat menjadi bagian dari berbagai bentuk bantuan dan program kemanusiaan serta pemberdayaan.
Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam kebaikan. Tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk mulai berbagi. Tidak perlu menunggu sampai melihat penderitaan di depan mata untuk menunjukkan kepedulian.
Karena terkadang, sebuah kebaikan yang kita anggap sederhana dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya kepedulian melalui sabdanya:
“Barang siapa melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat.”(HR. Muslim)
Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa membantu meringankan kesulitan orang lain merupakan perbuatan yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Jangan Berhenti pada Rasa Iba
Pada akhirnya, kepedulian bukan hanya tentang apa yang kita rasakan, tetapi juga tentang apa yang kita lakukan setelahnya.
Jika hari ini hati kita tergerak ketika melihat saudara kita membutuhkan bantuan, jangan biarkan perasaan itu berlalu begitu saja. Jadikan rasa iba sebagai awal untuk menumbuhkan empati, dan jadikan empati sebagai alasan untuk mengambil tindakan.
Mari salurkan kebaikan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajibannya. Salurkan infak sesuai kemampuan. Dan jangan ragu memberikan sedekah, meskipun dengan jumlah yang sederhana.
Karena kebaikan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari satu langkah kecil, dari sebagian rezeki yang kita sisihkan, dan dari kepedulian yang kita wujudkan hari ini.
Jangan biarkan kepedulian berhenti di rasa iba. Mari ubah kepedulian menjadi aksi, dan bersama BAZNAS Kota Sukabumi, hadirkan lebih banyak harapan untuk mereka yang membutuhkan.
Zakat, Infak, dan Sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi — satu kebaikan dari kita, menjadi harapan bagi sesama.
ARTIKEL14/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Kenapa Kita Begitu Cepat Membantu Korban Bencana Jauh, Tapi Buta dengan Dhuafa di Lorong Sendiri?
Kenapa Kita Begitu Cepat Membantu Korban Bencana Jauh, Tapi Buta dengan Dhuafa di Lorong Sendiri?
Ketika Empati Lebih Mudah Menjangkau yang Jauh
Ketika bencana terjadi di berbagai daerah, hati kita sering kali tergerak. Berita tentang rumah yang hancur, keluarga yang kehilangan tempat tinggal, atau anak-anak yang membutuhkan makanan dapat dengan cepat mengundang simpati. Tidak sedikit masyarakat yang kemudian menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu.
Kepedulian seperti ini tentu merupakan hal yang baik. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, "mengapa penderitaan yang jauh terkadang lebih mudah kita lihat dibandingkan kesulitan yang terjadi di sekitar kita sendiri?"
Di balik ramainya pemberitaan tentang bencana, mungkin ada seorang lansia di lingkungan kita yang hidup seorang diri. Ada keluarga yang diam-diam kesulitan membeli kebutuhan pokok. Ada pula tetangga yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, tetapi tidak pernah menceritakan kesulitannya kepada siapa pun.
Mereka mungkin tidak muncul di layar televisi. Tidak menjadi viral di media sosial. Namun, kesulitan mereka tetap nyata.
Jangan Sampai Dhuafa di Sekitar Kita Terlupakan
Islam mengajarkan bahwa kepedulian kepada sesama tidak mengenal jarak. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 177:
“...dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir...”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa membantu orang yang membutuhkan merupakan bagian dari kebajikan. Bahkan, kerabat dan orang-orang yang berada di sekitar kita termasuk pihak yang perlu mendapatkan perhatian.
Prinsip ini juga dapat menjadi pengingat dalam membangun kepedulian sosial. Ketika kita ingin berbagi, jangan hanya bertanya, “Di mana bencana terbesar sedang terjadi?” tetapi juga tanyakan, “Siapa yang membutuhkan bantuan di sekitar saya?”
Sebab, tidak semua kesulitan memiliki kamera yang merekamnya.
Kepedulian Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Kota Sukabumi juga memiliki masyarakat yang membutuhkan perhatian. Ada fakir miskin, lansia, keluarga rentan, anak yatim, serta masyarakat yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan membutuhkan dukungan untuk menjalani kehidupan yang lebih layak.
Mereka mungkin tinggal tidak jauh dari tempat kita bekerja, belajar, beribadah, atau menjalankan aktivitas sehari-hari.
Sering kali, kita tidak mengetahui kondisi mereka bukan karena tidak peduli, tetapi karena mereka tidak selalu mampu menyampaikan kesulitannya. Karena itu, kepedulian membutuhkan lebih dari sekadar rasa iba. Kita membutuhkan pihak yang mampu mengidentifikasi, menghimpun, dan menyalurkan bantuan kepada mereka secara tepat.
Di sinilah peran lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi menjadi penting. Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, kepedulian masyarakat dapat dihimpun dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan di wilayah Kota Sukabumi.
Dengan demikian, kebaikan yang kita berikan tidak hanya berhenti sebagai niat, tetapi dapat menjadi manfaat yang dirasakan secara nyata.
Yang Dekat Bukan Berarti Kurang Penting
Membantu korban bencana di luar daerah adalah bentuk kemanusiaan yang mulia. Namun, kepedulian kepada mereka tidak seharusnya membuat kita melupakan orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan bahwa hubungan dengan orang-orang terdekat juga memiliki nilai penting dalam ajaran Islam.
Mungkin kita tidak dapat membantu semua orang. Namun, kita dapat memulai dari mereka yang paling dekat dan paling mungkin kita jangkau.
Satu paket kebutuhan pokok. Satu bantuan untuk keluarga yang sedang kesulitan. Satu sedekah yang disalurkan melalui lembaga terpercaya. Semua dapat menjadi bentuk kepedulian yang berarti.
Mari Mulai dari Sukabumi
Kita tidak harus menunggu bencana besar untuk membantu sesama. Tidak harus menunggu sebuah kisah menjadi viral agar kita tergerak. Karena di sekitar kita, mungkin ada mereka yang sedang berjuang dalam diam.
Hari ini, mari perluas cara kita memandang kepedulian. Bantu mereka yang jauh ketika mereka membutuhkan, tetapi jangan lupa melihat ke kiri dan kanan—karena boleh jadi, ada seseorang di dekat kita yang juga sedang menunggu uluran tangan.
Mulai peduli dari yang terdekat.
Salurkan infak dan sedekah kemanusiaan Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu warga yang membutuhkan. Bagi yang telah memenuhi syarat, tunaikan pula zakat sebagai bentuk kewajiban sekaligus kepedulian kepada sesama.
Jangan biarkan penderitaan di sekitar kita menjadi tidak terlihat hanya karena tidak diberitakan.
Mari hadirkan kepedulian yang lebih dekat, lebih nyata, dan lebih bermakna.
BAZNAS Kota Sukabumi — dari kepedulian masyarakat, untuk membantu masyarakat.
ARTIKEL14/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Zakat yang Berdampak: Menguatkan Sesama, Mewujudkan Kesejahteraan
Zakat bukan hanya kewajiban yang harus ditunaikan oleh umat Islam yang telah memenuhi syarat. Zakat adalah bentuk kepedulian yang dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupan sesama.m Dari sebagian harta yang kita keluarkan, lahir peluang untuk membantu kebutuhan sehari-hari, mendukung pendidikan, memperkuat ekonomi, hingga menghadirkan harapan bagi keluarga yang membutuhkan.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, zakat dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kepedulian sosial. Melalui pengelolaan yang amanah, zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan dan mendukung berbagai program pemberdayaan.
Karena itu, zakat bukan sekadar tentang memberi. Zakat adalah tentang menciptakan dampak.
Apa Arti Zakat yang Berdampak?
Zakat yang berdampak adalah zakat yang tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi mampu memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi penerima.
Dari Bantuan Menjadi Harapan
Bayangkan seorang ibu yang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya. Bayangkan seorang anak yang membutuhkan dukungan pendidikan. Atau seorang pelaku usaha kecil yang ingin kembali bangkit.
Bagi kita, sebagian harta yang dikeluarkan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi mereka, zakat tersebut bisa menjadi makanan untuk hari ini, biaya pendidikan untuk esok, atau modal untuk membangun kembali kehidupan.
Inilah mengapa zakat memiliki kekuatan untuk mengubah kepedulian menjadi manfaat nyata.
Zakat dalam Al-Qur'an
Islam telah memberikan landasan yang kuat mengenai kewajiban dan manfaat zakat. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:
Artinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa
Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat memiliki dimensi spiritual dan sosial. Dengan menunaikan zakat, seorang Muslim belajar membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menumbuhkan kepedulian kepada orang lain.
Zakat mengingatkan kita bahwa dalam rezeki yang dimiliki terdapat amanah dan tanggung jawab sosial.
5 Dampak Zakat bagi Kehidupan Sesama
Zakat yang dikelola dan disalurkan dengan baik dapat memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat.
1. Meringankan Beban Kebutuhan
Bantuan zakat dapat membantu mustahik menghadapi kebutuhan dasar dan kondisi sulit. Dukungan tersebut dapat memberikan rasa aman sekaligus meringankan beban kehidupan.
2. Mendukung Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dukungan zakat dapat membantu anak-anak dari keluarga yang membutuhkan agar tetap memiliki kesempatan belajar dan meraih cita-cita.
3. Menguatkan Ekonomi
Zakat tidak harus selalu berhenti pada bantuan konsumtif. Melalui program pemberdayaan, zakat juga dapat menjadi sarana mendukung usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi penerima manfaat.
4. Mengurangi Kesenjangan Sosial
Ketika orang yang memiliki kemampuan berbagi kepada mereka yang membutuhkan, tercipta solidaritas sosial. Zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kepedulian dan mengurangi kesenjangan di masyarakat.
5. Menumbuhkan Kepedulian
Zakat mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada orang lain.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Selain zakat, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak infak dan sedekah sebagai bentuk kepedulian.
Hadits tentang Berbagi
Rasulullah SAW memberikan banyak teladan tentang pentingnya berbagi dan membantu sesama. Sedekah tidak hanya menjadi bentuk kepedulian kepada orang lain, tetapi juga menjadi salah satu amalan yang memiliki nilai besar di sisi Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan orang lain kecuali Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim No. 2588).
Hadits tersebut menjadi pengingat bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Ketika seseorang mengeluarkan sebagian hartanya untuk membantu orang lain dengan penuh keikhlasan, ia bukan sedang kehilangan sesuatu yang berharga, tetapi sedang menanam kebaikan.
Sedekah juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu terikat pada harta. Harta yang dimiliki memang penting untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi akan menjadi lebih berarti ketika sebagian darinya dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Berbagi juga dapat menumbuhkan rasa syukur. Ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang yang membutuhkan bantuan, kita akan semakin menghargai rezeki yang telah diberikan Allah SWT. Dari rasa syukur tersebut, tumbuh kepedulian untuk membantu dan berbagi sesuai dengan kemampuan.
Tidak harus dalam jumlah besar. Sedekah dapat dimulai dari nominal yang sederhana, selama diberikan dengan niat yang baik dan ikhlas. Ketika banyak orang melakukan kebaikan kecil secara bersama-sama, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar.
Bersama BAZNAS Kota Sukabumi, Ciptakan Dampak Nyata
Zakat akan semakin bermakna ketika dikelola secara amanah dan disalurkan kepada mereka yang berhak menerima. BAZNAS Kota Sukabumi menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk menunaikan zakat, infak, dan sedekah sekaligus berkontribusi dalam berbagai upaya sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui zakat, infak, dan sedekah yang ditunaikan, masyarakat dapat ikut mengambil bagian dalam menghadirkan manfaat bagi sesama. Setiap bentuk kontribusi dapat menjadi bagian dari upaya untuk membantu mereka yang sedang menghadapi kesulitan.
Zakat Anda, Harapan Mereka
Setiap rupiah yang kita keluarkan dapat menjadi bagian dari sebuah perubahan. Ketika dilakukan bersama-sama, kontribusi yang terlihat kecil dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.
Bayangkan jika satu orang berbagi hari ini, kemudian sepuluh orang melakukan hal yang sama, lalu ratusan bahkan ribuan orang ikut berkontribusi. Kebaikan tersebut dapat berkembang menjadi sebuah gerakan sosial yang memberikan manfaat lebih luas.
Mungkin kita tidak bisa membantu semua orang. Tetapi kita bisa membantu seseorang melalui apa yang kita miliki.
Zakat yang kita tunaikan dapat menjadi bentuk kepedulian bagi mereka yang membutuhkan. Infak yang kita berikan dapat menjadi tambahan manfaat bagi masyarakat. Sedangkan sedekah yang kita sisihkan dapat menjadi bentuk sederhana dari rasa syukur atas rezeki yang kita terima.
Jangan Tunggu untuk Memberi Dampak
Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu memiliki banyak. Tidak perlu menunggu sampai kondisi benar-benar sempurna untuk mulai berbagi.
Ketika kewajiban zakat telah terpenuhi sesuai ketentuannya, tunaikan zakat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Ketika memiliki kesempatan untuk berinfak dan bersedekah, jangan biarkan kesempatan tersebut berlalu begitu saja.
Sebab, kita tidak pernah tahu kapan bantuan kecil yang kita berikan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.
Mungkin bagi kita, sejumlah uang yang disisihkan hanya sebagian kecil dari penghasilan. Namun bagi seseorang yang sedang kesulitan, bantuan tersebut bisa berarti makanan untuk keluarga, biaya pendidikan untuk anak, kebutuhan kesehatan, atau modal untuk kembali berusaha.
Kebaikan yang Dilakukan Hari Ini
Berbagi juga tidak harus selalu menunggu adanya momentum tertentu. Kebaikan dapat dilakukan kapan saja selama kita memiliki kesempatan dan kemampuan.
Jadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai kebiasaan, bukan sekadar aktivitas sesekali. Dengan membiasakan diri berbagi, kita tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membangun karakter yang lebih peduli, bersyukur, dan peka terhadap kondisi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, zakat bukan hanya tentang memberikan sebagian harta, tetapi tentang menghadirkan manfaat dari harta tersebut. Ada harapan yang tumbuh, ada beban yang menjadi lebih ringan, dan ada kehidupan yang mungkin berubah menjadi lebih baik.
Yuk, Mulai Kebaikan dari Sekarang
Tidak perlu menunggu hari esok untuk melakukan kebaikan. Jika hari ini kita memiliki rezeki dan kesempatan untuk berbagi, mengapa harus menunggu?
Mari bersama BAZNAS Kota Sukabumi menyalurkan zakat, infak, dan sedekah. Jadikan sebagian rezeki yang kita miliki sebagai jalan untuk membantu sesama dan menciptakan dampak yang lebih luas.
Karena satu kebaikan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa menjadi harapan besar bagi mereka yang membutuhkan.
Yuk, Tunaikan Zakat dan Wujudkan Kesejahteraan
Saatnya menjadikan zakat sebagai lebih dari sekadar kewajiban. Mari ubah sebagian rezeki menjadi manfaat, kepedulian, dan harapan bagi sesama.
Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Bersama-sama, kita dapat menguatkan mereka yang membutuhkan dan ikut mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Satu Kebaikan, Banyak Dampak
Zakat Anda hari ini dapat menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Jangan tunda kebaikan. Salurkan ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan rezeki yang kita miliki sebagai jalan untuk menghadirkan perubahan.
Zakat yang berdampak bukan hanya tentang berapa banyak yang kita berikan, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang lahir dari pemberian tersebut.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Mengapa Allah Mencintai Orang yang Gemar Bersedekah?
Sedekah adalah salah satu amalan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Tidak hanya menjadi sarana membantu sesama, sedekah juga merupakan bukti keimanan dan rasa syukur seorang hamba kepada Allah SWT. Menariknya, Allah SWT secara khusus mencintai orang-orang yang gemar berbagi dan menolong sesama melalui hartanya.
Di tengah kehidupan yang penuh tantangan, masih banyak saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar, mendapatkan pendidikan yang layak, hingga memperoleh layanan kesehatan. Melalui sedekah, kita dapat menjadi perantara kebaikan yang menghadirkan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Lalu, mengapa Allah begitu mencintai orang yang gemar bersedekah?
Sedekah Adalah Bukti Keimanan yang Tulus
Salah satu alasan Allah mencintai orang yang gemar bersedekah adalah karena sedekah menunjukkan keimanan yang kuat kepada-Nya. Orang yang bersedekah yakin bahwa harta yang dimilikinya hanyalah titipan Allah dan akan dipertanggungjawabkan kelak.
Allah SWT berfirman:
“Dan kebaikan apa saja yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapat balasannya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Baqarah: 110)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap sedekah yang diberikan tidak akan sia-sia. Allah mengetahui setiap rupiah yang dikeluarkan dengan ikhlas dan akan membalasnya dengan pahala yang berlipat ganda.
Keutamaan Orang yang Gemar Bersedekah
Sedekah Mendatangkan Cinta Allah
Allah mencintai hamba yang peduli terhadap sesama. Ketika seseorang membantu orang lain yang sedang kesulitan, sesungguhnya ia sedang meneladani sifat kasih sayang yang Allah cintai.
Rasulullah SAW bersabda:
“Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Thabrani)
Sedekah adalah salah satu bentuk manfaat terbesar yang dapat diberikan kepada orang lain, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan.
Sedekah Tidak Mengurangi Harta
Banyak orang takut bersedekah karena khawatir hartanya berkurang. Padahal Rasulullah telah memberikan jaminan yang luar biasa.
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Justru dengan sedekah, Allah membuka pintu keberkahan, kemudahan rezeki, dan ketenangan hidup yang tidak dapat diukur hanya dengan angka.
Sedekah Membuka Pintu Keberkahan
Allah Melipatgandakan Balasan Sedekah
Allah SWT menggambarkan besarnya pahala sedekah dalam Al-Qur'an:
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah bukanlah kehilangan, melainkan investasi yang hasilnya jauh lebih besar di sisi Allah SWT.
Menjadi Penolong di Hari Akhir
Harta yang kita miliki hari ini tidak akan dibawa ke alam kubur. Namun, sedekah yang kita keluarkan dengan ikhlas akan menjadi bekal yang terus menemani hingga akhirat.
Bahkan sedekah yang membantu pendidikan anak yatim, pembangunan fasilitas umat, atau pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Sedekah Membersihkan Hati dari Sifat Buruk
Menghilangkan Sifat Kikir dan Cinta Dunia
Sedekah melatih hati agar tidak terlalu bergantung pada harta. Semakin seseorang gemar berbagi, semakin mudah ia bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
Selain itu, sedekah juga membantu membersihkan hati dari rasa iri, dengki, dan egoisme. Hati menjadi lebih lembut, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Sedekah Menumbuhkan Empati
Ketika kita membantu fakir miskin, anak yatim, lansia, atau korban musibah, kita belajar memahami kesulitan yang mereka hadapi. Dari situlah lahir rasa empati dan kepedulian yang menjadi ciri orang-orang beriman.
Mari Raih Cinta Allah dengan Bersedekah
Hari ini mungkin kita hidup dalam kecukupan. Namun di luar sana masih banyak saudara yang membutuhkan uluran tangan. Ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, serta masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Setiap sedekah yang Anda berikan bukan hanya membantu mereka bertahan hidup, tetapi juga menjadi jalan untuk meraih cinta Allah SWT.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Mereka Ingin Sekolah, Tapi Apakah Kita Mau Peduli?
Pendidikan merupakan salah satu jalan penting bagi anak-anak untuk meraih masa depan yang lebih baik. Di balik seragam sekolah, buku, dan semangat belajar, terdapat anak-anak yang memiliki cita-cita besar. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, pengusaha, maupun profesi lainnya. Namun, tidak semua anak memiliki kesempatan pendidikan yang sama.
Bagi sebagian keluarga, keterbatasan ekonomi dapat membuat kebutuhan sekolah menjadi tantangan. Biaya perlengkapan sekolah, buku, transportasi, dan kebutuhan pendidikan lainnya terkadang harus dipenuhi bersamaan dengan kebutuhan sehari-hari. Ketika kondisi ekonomi keluarga terbatas, orang tua harus menentukan prioritas dan tidak jarang kebutuhan pendidikan menjadi salah satu hal yang sulit dipenuhi.
Pertanyaannya, mereka ingin sekolah, tetapi apakah kita mau peduli?
Zakat untuk Pendidikan Membuka Kesempatan Belajar
Zakat untuk pendidikan merupakan salah satu bentuk kepedulian yang dapat membantu masyarakat yang membutuhkan. Dukungan terhadap pendidikan dapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk terus belajar dan mengembangkan potensi mereka.
Menurut BAZNAS, zakat dapat menjadi salah satu instrumen untuk membantu anak-anak dhuafa memperoleh kesempatan pendidikan. Melalui pengelolaan zakat yang tepat, bantuan dapat diberikan kepada penerima manfaat sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan nilai. Pendidikan juga menjadi bekal untuk membangun kemampuan, kepercayaan diri, dan masa depan seseorang. Dengan pendidikan yang baik, anak-anak memiliki peluang untuk mengembangkan keterampilan, memperluas wawasan, serta menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Zakat untuk Pendidikan Membantu Mengatasi Keterbatasan
Bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, kebutuhan pendidikan terkadang menjadi beban tambahan. Orang tua harus memenuhi kebutuhan pokok sekaligus memastikan anak tetap dapat bersekolah.
Di sinilah zakat untuk pendidikan dapat menjadi bagian dari solusi sosial. Bantuan yang diberikan dapat membantu meringankan beban dan memberikan kesempatan kepada anak untuk tetap melanjutkan pendidikan.
Satu dukungan mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang anak yang membutuhkan, bantuan tersebut dapat menjadi penyemangat untuk terus belajar dan mengejar cita-cita. Ketika kebutuhan pendidikan dapat terbantu, anak juga dapat lebih fokus mengikuti proses belajar tanpa terlalu memikirkan keterbatasan yang dihadapi keluarganya.
Zakat untuk Pendidikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi
Kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua dan sekolah. Masyarakat juga dapat mengambil bagian melalui zakat, infak, dan sedekah.
BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat memiliki berbagai program yang berkaitan dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Dukungan masyarakat melalui zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi bagian dari upaya membantu mereka yang membutuhkan.
Bagi masyarakat Sukabumi, kepedulian tersebut dapat diwujudkan dengan menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dengan menyalurkan melalui lembaga pengelola zakat, masyarakat dapat ikut berkontribusi dalam membantu penerima manfaat secara lebih terarah.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program zakat dan pendidikan, masyarakat juga dapat mengunjungi BAZNAS RI.
Zakat untuk Pendidikan Bukan Sekadar Bantuan
Zakat untuk pendidikan bukan hanya tentang memberikan bantuan materi. Lebih dari itu, terdapat harapan agar anak-anak dapat terus belajar, berkembang, dan memiliki kesempatan untuk meraih masa depan.
Bayangkan ketika seorang anak yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah akhirnya dapat kembali belajar dengan tenang. Bayangkan pula ketika dukungan yang diberikan membuat seorang anak semakin percaya diri mengejar cita-citanya.
Kebaikan yang kita berikan hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Namun, pendidikan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi kehidupan seseorang, keluarga, bahkan masyarakat. Seorang anak yang mendapatkan kesempatan belajar hari ini dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berkontribusi di masa depan.
Karena itu, membantu pendidikan berarti ikut menanam harapan. Setiap kepedulian yang diberikan dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang anak untuk mencapai cita-citanya.
Zakat untuk Pendidikan Adalah Bentuk Kepedulian Kita
Kita mungkin tidak dapat membantu semua anak. Namun, kita dapat membantu sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.
Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa masih ada kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan.
Kepedulian juga tidak harus selalu dalam bentuk yang besar. Ketika dilakukan bersama-sama, kontribusi dari banyak orang dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Semangat berbagi inilah yang perlu terus ditumbuhkan agar semakin banyak anak memiliki kesempatan untuk belajar dan meraih masa depan.
Mereka ingin sekolah. Mereka ingin belajar. Mereka ingin meraih cita-cita. Sekarang, apakah kita mau peduli?
Zakat untuk Pendidikan: Yuk, Jadi Bagian dari Kebaikan!
Mari jadikan sebagian rezeki kita sebagai jalan untuk membantu sesama. Kepedulian kita dapat menjadi dukungan bagi anak-anak yang membutuhkan kesempatan untuk terus belajar.
Tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Bersama, kita dapat mendukung kesempatan pendidikan bagi anak-anak yang membutuhkan dan membantu mereka melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Mengapa Ada Orang yang Hidupnya Selalu Tenang Meski Banyak Masalah?
Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan, kita sering bertanya-tanya: mengapa ada orang yang tetap terlihat tenang meski sedang menghadapi banyak masalah? Ketika sebagian orang mudah panik, stres, dan kehilangan arah saat diuji, ada sebagian lainnya yang tetap mampu tersenyum, berpikir jernih, dan menjalani hidup dengan lapang dada.
Apakah mereka tidak memiliki masalah? Tentu saja tidak. Mereka juga menghadapi ujian, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, bahkan kehilangan orang yang dicintai. Namun, yang membedakan adalah cara mereka memandang dan menghadapi setiap ujian kehidupan.
Ketenangan Hati Bukan Karena Hidup Tanpa Masalah
Banyak orang mengira ketenangan hanya bisa diraih ketika semua urusan berjalan lancar. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Ketenangan sejati bukanlah tidak adanya masalah, melainkan hadirnya keyakinan bahwa Allah SWT selalu bersama hamba-Nya.
Allah SWT berfirman:
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini menjelaskan bahwa sumber ketenangan bukanlah harta, jabatan, atau kemudahan hidup, melainkan kedekatan dengan Allah SWT.
Rahasia Orang yang Tetap Tenang Saat Diuji
Mereka Yakin Bahwa Semua Ujian Memiliki Hikmah
Orang yang beriman memahami bahwa setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya tidak pernah sia-sia. Mereka percaya bahwa Allah sedang mendidik, menguatkan, dan mengangkat derajat hamba-Nya melalui ujian.
Ketika masalah datang, mereka tidak hanya bertanya, "Mengapa ini terjadi?" tetapi juga, "Apa pelajaran yang Allah ingin saya ambil dari kejadian ini?"
Mereka Membiasakan Diri Bersabar
Kesabaran adalah salah satu kunci utama ketenangan hati.
Allah SWT berfirman:
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Orang yang sabar tidak berarti tidak sedih atau tidak merasa sakit. Mereka tetap merasakan kesedihan, tetapi tidak membiarkan kesedihan menguasai hidupnya.
Mereka Menyerahkan Hasil kepada Allah
Setelah berusaha maksimal, mereka bertawakal kepada Allah SWT. Mereka memahami bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.
Ketika hati sudah yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pengatur kehidupan, kecemasan perlahan akan berkurang.
Rasulullah Mengajarkan Ketenangan dalam Segala Keadaan
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya.”
(HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin bersyukur sehingga itu menjadi kebaikan baginya. Ketika mendapatkan musibah, ia bersabar sehingga itu pun menjadi kebaikan baginya.
Inilah pola pikir yang membuat seorang mukmin tetap tenang dalam berbagai kondisi.
Cara Menumbuhkan Ketenangan Hati
Perbanyak Dzikir dan Doa
Dzikir membuat hati selalu terhubung dengan Allah SWT. Saat hati dekat dengan Sang Pencipta, rasa takut dan cemas akan berkurang.
Perbaiki Hubungan dengan Sesama
Sering kali hati menjadi gelisah karena dipenuhi iri, dengki, dendam, dan kebencian. Memaafkan serta memperbanyak kebaikan kepada sesama dapat membuat hati lebih ringan.
Perbanyak Sedekah
Sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga menjadi terapi bagi hati. Saat kita berbagi, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya datang dari menerima, tetapi juga dari memberi.
Sedekah Membuka Pintu Ketenangan
Banyak orang yang mengaku merasa lebih tenang setelah membantu sesama. Sebab, sedekah menumbuhkan rasa syukur dan mengingatkan bahwa rezeki yang kita miliki adalah titipan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Sebaliknya, sedekah justru menghadirkan keberkahan yang sering kali tidak terduga.
Ketika Membantu Orang Lain, Hati Menjadi Lebih Lapang
Di luar sana, masih banyak saudara kita yang sedang berjuang menghadapi kesulitan hidup. Ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan, keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, serta masyarakat yang membutuhkan bantuan kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Ketika kita ikut membantu mereka, bukan hanya penerima manfaat yang merasakan kebahagiaan. Hati kita pun ikut dipenuhi ketenangan karena menjadi bagian dari solusi atas kesulitan sesama.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS
Kalau Bisa Berbagi, Kenapa Harus Menunggu
Pernahkah kita berkata, “Nanti saja kalau sudah punya lebih” ketika ingin bersedekah atau membantu orang lain? Tanpa disadari, kalimat tersebut sering membuat kita menunda kebaikan. Padahal, berbagi tidak harus kaya, memiliki banyak uang, atau menunggu kondisi sempurna.
Selama masih memiliki rezeki yang dapat disisihkan, selalu ada kesempatan untuk berbagi. Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) merupakan bentuk kepedulian yang dapat memberikan manfaat bagi sesama sekaligus menjadi bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Melalui BAZNAS Kota Sukabumi , masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga yang terpercaya, kami dapat mendukung berbagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Mengapa Kita Tidak Perlu Menunggu untuk Berbagi?
Berbagi sering kali dianggap harus dilakukan ketika memiliki kelebihan harta. Padahal, nilai suatu kebaikan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya yang diberikan, tetapi juga oleh keikhlasan dan niat di baliknya.
Kebaikan Tidak Harus Dimulai dari Nominal Besar
Sedekah dapat dimulai dari kemampuan masing-masing. Tidak perlu membandingkan nominal kita dengan orang lain. Yang terpenting adalah kemauan untuk menyisihkan sebagian rezeki dan membantu mereka yang membutuhkan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Surat Al-Baqarah ayat 261 :
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa harta yang dikeluarkan untuk kebaikan tidaklah sia-sia. Allah SWT menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan-Nya.
Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta
Salah satu alasan seseorang ragu untuk bersedekah adalah kekhawatiran bahwa hartanya akan berkurang. Padahal, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira tentang keutamaan sedekah.
Hadits tentang Keutamaan Sedekah
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memaafkan orang lain kecuali Allah akan menambah kemuliaannya, dan tidaklah seseorang memenuhi dirinya karena Allah kecuali Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR.Muslim No.2588).
Hadits ini menjadi pengingat bahwa berbagi bukanlah sebuah kerugian. Sedekah merupakan bentuk ibadah yang dapat menjadi jalan untuk mendapatkan keberkahan dan kemuliaan dari Allah SWT.
Sedikit dari Kita Bisa Berarti Besar
Bayangkan ketika banyak orang menyisihkan sebagian kecil rezekinya. Nominal yang terlihat sederhana bagi satu orang dapat menjadi sangat berarti ketika dikumpulkan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Inilah mengapa zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting dalam membangun kepedulian sosial. Dana yang terkumpul dapat mendukung berbagai program yang bertujuan membantu masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi membutuhkan.
Zakat, Infak, dan Sedekah: Apa Bedanya?
Ketiganya sama-sama merupakan bentuk kebaikan, tetapi memiliki ketentuan yang berbeda.
Zakat
Zakat merupakan kewajiban umat Islam yang memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti mencapai nisab dan haul untuk jenis harta tertentu. Zakat memiliki ketentuan mengenai harta, kadar, serta golongan penerima yang berhak.
Infak
Infak merupakan pengeluaran harta untuk berbagai kepentingan yang sesuai dengan ajaran Islam. Infak dapat dilakukan sesuai kemampuan dan tidak terbatas pada kondisi tertentu seperti zakat.
Sedekah
Sedekah memiliki makna yang luas. Selain berupa harta, sedekah juga dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk kebaikan. Senyum, membantu orang lain, dan memberikan manfaat juga termasuk bentuk sedekah.
Salurkan ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi
Menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi menjadi salah satu cara untuk ikut berkontribusi dalam membantu masyarakat. Dana yang dihimpun dapat dikelola dan disalurkan melalui program-program yang ditujukan bagi penerima manfaat.
Bersama Membangun Sukabumi yang Lebih Peduli
Kepedulian sosial bukan hanya tanggung jawab satu orang. Ketika masyarakat bergerak bersama, kebaikan dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Kita mungkin tidak dapat membantu semua orang. Namun, kita selalu dapat membantu seseorang sesuai kemampuan kita.
Jangan Tunggu Punya Banyak
Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki banyak hal untuk peduli. Dan jangan menunggu besok jika hari ini kita sudah memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Kalau bisa berbagi hari ini, kenapa harus menunggu?
Yuk Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah Hari Ini!
Saatnya menjadikan sebagian rezeki kita sebagai jalan kebaikan. Mari bersama BAZNAS Kota Sukabumi menghadirkan manfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Tunai zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi.
Mulai kebaikan hari ini. Jangan tunggu nanti untuk berbagi.
Karena bisa jadi, apa yang kita anggap kecil hari ini adalah harapan besar bagi seseorang yang sedang membutuhkan.
ARTIKEL14/08/2026 | BAZNAS

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →
