WhatsApp Icon

Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar

27/08/2026  |  Penulis: Baznas Kota Sukabumi

Bagikan:URL telah tercopy
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar

Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar

Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar

Ada sesuatu yang lebih mengkhawatirkan daripada melihat penderitaan yakni terbiasa melihatnya.

Pada awalnya, kemiskinan mungkin membuat kita berhenti sejenak. Melihat seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga membuat kita merasa iba. Mendengar ada anak yang harus berhenti sekolah membuat kita bertanya-tanya. Menyaksikan lingkungan rusak atau masyarakat kehilangan sumber penghidupan mungkin membuat kita merasa prihatin.

Namun, ketika hal-hal itu terus muncul di sekitar kita, ada kemungkinan sesuatu berubah.

Bukan keadaan yang berubah.

Kita yang berubah.

Kita mulai berkata, “Memang hidup seperti itu.”
“Memang tidak semua orang bisa sejahtera.”
“Itu bukan urusan saya.”
“Sudah biasa terjadi.”

Kalimat-kalimat tersebut terdengar sederhana. Tetapi tanpa disadari, ia dapat membuat penderitaan orang lain perlahan kehilangan daya untuk mengusik hati kita.

Dan ketika penderitaan sudah tidak lagi mengusik, kepedulian pun menjadi semakin mudah ditunda.

Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar

Ketika Sesuatu yang Salah Terlalu Sering Dilihat

Manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.

Kita dapat terbiasa dengan suara bising, rutinitas yang melelahkan, bahkan keadaan yang sebelumnya membuat kita merasa tidak nyaman. Hal yang sama dapat terjadi ketika kita terus-menerus berhadapan dengan penderitaan sosial.

Kemiskinan menjadi pemandangan biasa.

Anak-anak yang membutuhkan bantuan pendidikan menjadi angka.

Orang sakit yang tidak mampu membayar kebutuhan kesehatan menjadi berita.

Keluarga yang kehilangan penghasilan menjadi bagian dari statistik.

Masalahnya bukan karena kita tidak mengetahui bahwa semua itu terjadi.

Kita justru terlalu sering mengetahuinya.

Namun pengetahuan tidak selalu menghasilkan kepedulian.

Ketika sesuatu terlalu sering kita lihat tanpa kita lakukan apa-apa, hati dapat belajar menganggapnya sebagai bagian normal dari kehidupan.

Di sinilah kita perlu membedakan antara menerima kenyataan dan membenarkan keadaan.

Menerima kenyataan berarti menyadari bahwa masalah itu ada.

Membenarkan keadaan berarti mulai berpikir bahwa karena masalah tersebut sudah biasa terjadi, maka tidak ada yang perlu dilakukan.

Padahal sesuatu yang sering terjadi tidak otomatis menjadi sesuatu yang benar.

Saat Penderitaan Berubah Menjadi “Biaya”

Ada sisi lain yang lebih sulit kita sadari.

Dalam kehidupan ekonomi, kita terbiasa menghitung berbagai macam biaya.

Ada biaya produksi, biaya distribusi, biaya operasional, biaya tenaga kerja, bahkan biaya kesempatan.

Semuanya dapat dimasukkan ke dalam perhitungan.

Tetapi ada jenis biaya yang sering tidak muncul dalam laporan apa pun yaitu biaya yang dibayar oleh manusia.

Ketika seseorang mendapatkan keuntungan, kita mudah melihat apa yang ia peroleh.

Tetapi apakah kita juga melihat siapa yang harus menanggung akibatnya?

Ketika sebuah keluarga kehilangan sumber penghasilan, apakah kehilangan itu ikut masuk dalam perhitungan?

Ketika seorang anak kehilangan kesempatan belajar, apakah masa depannya dianggap sebagai bagian dari “biaya”?

Ketika kelompok rentan harus hidup dengan keterbatasan yang berlangsung bertahun-tahun, siapa yang menghitung kesempatan yang telah hilang?

Pertanyaan ini tidak berarti setiap keuntungan adalah sesuatu yang buruk. Ekonomi, bisnis, dan pembangunan tetap dibutuhkan.

Yang perlu kita pertanyakan adalah apakah keuntungan dan kemajuan selalu harus dibayar dengan penderitaan pihak lain.

Sebab tidak semua hal yang menguntungkan kita otomatis baik jika cara mendapatkannya membuat orang lain kehilangan hak, kesempatan, atau martabat.

Moral Disengagement: Ketika Kita Belajar Membenarkan

Dalam psikologi, terdapat konsep moral disengagement, yaitu ketika seseorang menemukan cara untuk melepaskan dirinya dari rasa tanggung jawab moral terhadap dampak yang ditimbulkan.

Sederhananya, manusia dapat melakukan atau membiarkan sesuatu yang merugikan tanpa merasa dirinya benar-benar melakukan kesalahan.

Misalnya dengan mengatakan:

“Saya hanya mengikuti keadaan.”

“Kalau bukan saya, orang lain juga akan melakukannya.”

“Mereka memang kurang berusaha.”

“Saya tidak bisa membantu semua orang.”

Sebagian kalimat tersebut memang dapat memiliki konteks yang benar. Kita memang tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan dunia.

Namun persoalannya muncul ketika kalimat tersebut digunakan bukan untuk memahami keterbatasan, melainkan untuk membebaskan diri dari kepedulian.

Kita akhirnya tidak lagi bertanya “Apa yang bisa saya lakukan?”. Tetapi, “Mengapa saya harus peduli?”

Perubahan kecil dalam pertanyaan itu dapat mengubah cara kita melihat manusia lain.

Islam Tidak Mengajarkan Kita untuk Kebal terhadap Penderitaan

Islam tidak meminta manusia menyelesaikan seluruh persoalan dunia seorang diri.

Tetapi Islam berkali-kali mengingatkan agar manusia tidak kehilangan kepedulian terhadap sesama.

Allah SWT berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma'un: 1–3)

Menariknya, Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang ritual.

Surah Al-Ma'un justru memberikan gambaran bahwa persoalan keimanan juga tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan mereka yang lemah dan membutuhkan.

Bahkan yang disoroti bukan hanya orang yang tidak memberi.

Ayat tersebut juga menyebut orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Artinya, kepedulian sosial bukan sesuatu yang seharusnya dianggap sebagai urusan tambahan setelah seseorang selesai dengan kehidupan pribadinya.

Ia merupakan bagian dari karakter seorang Muslim.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini membawa kita pada sebuah ukuran yang sederhana tetapi dalam dengan menekankan bagaimana kita ingin diperlakukan ketika berada dalam kesulitan, dan bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika kita berada dalam keadaan yang lebih baik?

Yang Perlu Diubah Bukan Selalu Keadaan, tetapi Cara Kita Merespons

Kita sering berpikir bahwa kepedulian baru berarti jika kita mampu melakukan sesuatu yang besar.

Padahal tidak demikian.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan kemiskinan.

Tidak mampu menyediakan pendidikan bagi semua anak.

Tidak mampu mengobati seluruh orang yang sakit.

Tidak mampu membantu setiap keluarga yang mengalami kesulitan.

Tetapi keterbatasan itu tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk tidak melakukan apa pun.

Kepedulian dapat dimulai dari keputusan sederhana dengan tidak menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang wajar hanya karena kita sudah sering melihatnya.

Sebab persoalan kemanusiaan bukan hanya tentang jumlah orang yang membutuhkan bantuan.

Persoalannya juga tentang berapa banyak orang yang sebenarnya mampu peduli, tetapi perlahan belajar untuk tidak merasa terganggu lagi.

Zakat, Infak, dan Sedekah sebagai Bentuk Kepedulian yang Digerakkan

Pada titik inilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas.

ZIS bukan hanya aktivitas ketika seseorang merasa kasihan kepada orang lain.

Ia dapat menjadi bentuk nyata dari kesadaran bahwa kehidupan kita tidak berdiri sendiri.

Ada orang lain yang mungkin sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Ada anak yang membutuhkan kesempatan belajar.

Ada keluarga yang membutuhkan dukungan ketika menghadapi keadaan sulit.

Ada kelompok rentan yang membutuhkan perhatian lebih.

Dan tidak semua dari mereka mampu datang kepada kita untuk meminta.

Karena itu, kepedulian tidak selalu harus menunggu sebuah permintaan.

Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu wadah untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah agar dapat dikelola dan disalurkan melalui berbagai program, termasuk bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan.

Di sini, ZIS dapat dipahami bukan hanya sebagai “saya memberikan sebagian yang saya miliki.”

Tetapi juga sebagai “saya menolak untuk menganggap kesulitan orang lain sebagai sesuatu yang bukan urusan saya.”

Itulah perbedaan antara sekadar merasa iba dan benar-benar memiliki kepedulian.

Jangan Sampai Hati Kita Lebih Cepat Beradaptasi daripada Berempati

Mungkin kita tidak bisa mengubah seluruh dunia.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana hati kita merespons dunia.

Ketika melihat kemiskinan, apakah kita hanya melihat angka?

Ketika melihat anak yang kehilangan kesempatan belajar, apakah kita hanya melihat sebuah berita?

Ketika melihat keluarga yang sedang kesulitan, apakah kita langsung menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan?

Atau kita masih mampu berhenti sejenak dan berkata “Ada manusia di balik semua ini.”

Sebab sesuatu yang menjadi biasa belum tentu menjadi benar.

Penderitaan yang terus berulang bukan alasan bagi kita untuk berhenti peduli.

Dan ketidakmampuan kita untuk membantu semua orang bukan alasan untuk tidak membantu siapa pun.

Barangkali salah satu bentuk moral disengagement yang paling berbahaya bukan ketika manusia secara terang-terangan memilih berbuat buruk.

Melainkan ketika ia sudah terlalu terbiasa melihat sesuatu yang buruk sampai tidak lagi merasa perlu melakukan kebaikan.

Maka, jangan biarkan hati kita belajar bahwa penderitaan adalah harga yang wajar dari kehidupan.

Karena selama masih ada manusia yang membutuhkan, kepedulian bukan sekadar pilihan untuk menjadi baik, ia adalah cara kita memastikan bahwa hati kita tidak kehilangan kemanusiaannya.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →