FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
24/08/2026 | Penulis: BAZNAS
FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
FOMO Sama Dunia? 7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman membeli barang baru, traveling ke tempat impian, memiliki karier cemerlang, atau menjalani kehidupan yang terlihat sempurna di media sosial? Perasaan takut tertinggal atau FOMO (Fear of Missing Out) semakin mudah muncul ketika kita terus membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain.
Masalahnya bukan sekadar ingin mengikuti tren. Jika tidak dikendalikan, FOMO sama dunia dapat membuat kita terlalu sibuk mengejar pengakuan hingga lupa mempersiapkan akhirat.
Islam tidak melarang seseorang menikmati kehidupan dunia. Namun, dunia tidak boleh menjadi tujuan utama. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan sementara.
Mengapa FOMO Sama Dunia Bisa Membuat Hati Lalai?
Media sosial membuat kita mudah melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada yang membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, memiliki kendaraan impian, hingga menikmati liburan mewah.
Tanpa disadari, muncul pikiran, “Mengapa hidupku tidak seperti mereka?”
Perasaan tersebut dapat mendorong seseorang mengejar sesuatu bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin terlihat berhasil. Padahal, kebahagiaan tidak selalu diukur dari apa yang terlihat di dunia.
Dunia Itu Indah, Tetapi Sementara
Allah SWT berfirman:
Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Ayat ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Pesannya adalah jangan sampai kenikmatan dunia membuat kita lupa bahwa ada kehidupan yang lebih kekal.
7 Cara Ampuh agar Hati Tak Lupa Akhirat
1. Kurangi Membandingkan Diri
Setiap orang memiliki jalan hidup berbeda. Berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran harga diri.
Fokus pada Perjalanan Sendiri
Syukuri apa yang Allah berikan dan gunakan nikmat tersebut untuk kebaikan.
2. Batasi Konsumsi Media Sosial
Tidak semua yang terlihat di media sosial menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Berikan waktu bagi hati untuk beristirahat dari budaya membandingkan diri.
3. Perkuat Salat dan Ibadah
Ketika dunia terasa semakin bising, ibadah menjadi ruang untuk kembali mengingat tujuan hidup. Jangan biarkan kesibukan mengejar dunia membuat salat menjadi sesuatu yang dikesampingkan.
4. Ingat bahwa Dunia Hanya Persinggahan
Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari No. 6416)
Hadis ini mengajarkan agar kita tidak menjadikan dunia sebagai tempat bergantung sepenuhnya.
5. Ubah Keinginan Menjadi Kesyukuran
Saat melihat keberhasilan orang lain, biasakan berkata, “Masya Allah, semoga Allah memberkahinya.” Kemudian tanyakan kepada diri sendiri, “Nikmat apa yang sudah Allah berikan kepadaku?”
Rasa syukur membantu hati melihat apa yang dimiliki, bukan terus mengejar apa yang belum ada.
6. Sisihkan Harta untuk Sedekah
Salah satu cara terbaik melawan keterikatan berlebihan pada dunia adalah berbagi.
Ketika sebagian rezeki kita diberikan kepada orang yang membutuhkan, kita belajar bahwa harta bukan sekadar sesuatu untuk dinikmati sendiri, tetapi juga amanah yang dapat menjadi jalan kebaikan.
Sedikit yang Kita Berikan, Bisa Berarti Besar
Bayangkan jika sebagian uang yang biasanya digunakan untuk mengikuti tren dialihkan menjadi makanan bagi keluarga dhuafa, beasiswa anak yatim, bantuan kesehatan, atau pemberdayaan masyarakat.
Sedekah hari ini mungkin tidak membuat kita terlihat lebih kaya di mata manusia, tetapi dapat menjadi bekal berharga di hadapan Allah.
7. Jadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama
Miliki cita-cita dunia, tetapi jangan kehilangan arah akhirat. Bekerja keras boleh, memiliki rumah boleh, mengejar pendidikan boleh, bahkan menikmati hasil kerja juga boleh.
Yang perlu dijaga adalah hati: jangan sampai dunia berada di tangan, tetapi justru menguasai hati.
Saatnya Mengubah FOMO Menjadi FOMO pada Kebaikan
Bagaimana jika kita tidak lagi takut tertinggal tren dunia, tetapi takut tertinggal dalam kebaikan?
Takut kehilangan kesempatan bersedekah. Takut melewatkan kesempatan membantu sesama. Takut memiliki rezeki tetapi lupa berbagi.
Inilah saatnya mengubah FOMO sama dunia menjadi semangat mengejar amal yang membawa manfaat.
Yuk, Jadikan Rezeki sebagai Jalan Kebaikan
Jangan biarkan seluruh perhatian kita habis untuk mengejar apa yang sementara. Sisihkan sebagian rezeki melalui zakat, infak, dan sedekah agar manfaatnya dapat dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Bersama BAZNAS, mari ubah sebagian rezeki menjadi makanan, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan, dan harapan.
Karena dunia boleh dikejar, tetapi akhirat jangan sampai dilupakan. Dan kebaikan yang kita tanam hari ini, semoga menjadi bekal yang menyelamatkan kita kelak.
Artikel Lainnya
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan: Mengapa Peran BAZNAS Semakin Penting?
Ketika Biaya Berobat Jadi Beban, Zakat BAZNAS Hadir Membawa Harapan
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?
5 Tanda Penting untuk Membedakan Musibah dan Azab dalam Islam
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan
5 Alasan Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →