Siapa Saja yang Dimaksud Anak Yatim Menurut Islam ?
11/09/2025 | Penulis: Yessi Ade Lia Putri
Muliakan Anak Yatim, Raih Surga
Sahabat mungkin sering mendengar tentang anak yatim piatu. Tapi sebenarnya bagaimana pengertian yatim dalam islam dan bagaiman agama islam memandangnya?
Definisi Anak Yatim
yatim berasal dari kata al-fardu yang artinya adalah sendirian dan segala sesuatu yang ditinggal oleh sesuatu yang serupa dengannya. Yatim menurut syariah ialah tidak jauh berbeda dengan makna secara bahasa, yaitu orang yang ditinggal wafat oleh bapaknya dan belum kondisi baligh.
Imam as-Syairazi as-Syafi'i menyebutkan bahwa, Yatim adalah seorang yang tak punya bapak, sedangkan dia belum baligh, Setelah baligh maka orang itu tidak disebut Yatim ( Abu ishaq as-Syairazi w. 474 H, al-Muhaddzab, H3/301).
Menurut Syekh Sulaiman al-jamal (wafat 1024 H) dalam karyanya menyebutkan yaitu bahwa yatim adalah anak kecil yang ditinggal wafat oleh ayahnya, sekalipun dia masih memiliki ibu atau kakek dan nenek.
Dari penjelasan diatas, bahwa tolak ukur seorang anak yang bisa disebut sebagai yatim ialah dia yang tidak mempunyai ayah. Jika ayahnya sudah tiada, sementara ibu, kakek dan neneknya masih ada, maka itu tetap disebut kategori yatim. Sedangkan jika ibunya yang sudah tiada, dan ayahnya masih ada maka tidak bisa dikatakan yatim.
Adapun anak kecil yang ditinggal mati ibunya tidak disebut yatim, tapi punya istilah khusus yaitu ‘ajiyy/’ajiyyah, dan dalam bahasa Indonesia disebut piatu. Piatu tidak disebut bersama yatim karena kematian ayahlah yang biasanya membuat seorang anak lemah dan kehilangan nafkah; karena memberi nafkah adalah tugas ayah, bukan ibu.
Dalam tradisi masyarakat Indonesia, kita menyebut seorang anak yang ditinggal wafat oleh ayahnya disebut yatim, sedangkan ketika ditinggal wafat oleh ibunya disebut piatu. Sedangkan yatim piatu adalah gabungan dari keduanya, yakni seorang anak dalam usia yang belum balig telah ditinggal kedua orang tuanya.
Bagaimana Hukum Memberi Kepada Yatim yang Sudah Baligh?
Islam memperbolehkan membantu anak yatim yang telah baligh (dewasa), akan tetapi statusnya bukan santunan yatim lagi. Misalnya, atas nama sumbangan anak-anak untuk keluarga tidak mampu. Ada anak yatim yang sudah dewasa, namun hidup serba kekurangan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ada anak yatim yang sudah baligh dan hidup berkecukupan.
Keutamaan Membahagiakan Anak Yatim
Dekat dengan rasulullah di surga seperti jarak anatara jari telunjuk dan jari tengah
Rasulullah SAW bersabda: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu akan masuk surga seperti ini,”. Nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggang keduanya. (HR. Bukhari).
Dijamin masuk surga
Siapa yang tidak ingin masuk surga? Tempat yang penuh kenikmatan tapi untuk meraihnya tentu tidak mudah, memerlukan ketakwaan. Kabar baiknya, ada jaminan masuk surga untuk orang-orang yang memilihara anak yatim
“Orang-orang yang memelihara anak yatim di antara umat muslimin, memberikan mereka makan dan minum, pasti Allah memasukkannya ke dalam surga, kecuali ia melakukan dosa yang tidak bisa diampuni.” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas).
Terhindar dari siksa pada hari kiamat
Pada hari kiamat saat semua amal diperhitungkan, kita tentu akan mendapat balasan dari apa yang kita perbuat di dunia. Namun kabar baik bagi yang menyayangi anak yatim Allah tidak akan menyiksa pada hari akhir
“Demi Yang Mengutusku dengan haq, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, serta menyayangi keyatiman serta kelemahannya.” (HR Thabrani dari Abu Hurairah).
Amal yang tidak terputus
Ketika kita meninggal kelak akan terpustus amal kita kecuali, tiga perkara yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakan. Apabila kita mengurus anak yatim insya Allah mereka juga tidak akan lupa untuk mendoakan kita
Jika manusia mati atau terputus amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat serta anak saleh yang selalu mendoakannya,” (HR Muslim Abu Hurairah).
Itulah beberapa keutamaan yang bisa kita raih dengan menyantuni anak yatim. Sahabat, menjadi yatim tentu bukanlah kemauan mereka ataupun pilihan yang mereka inginkan. Takdir yang berkehendak terhadap kematian seseorang.
Keberadaan anak yatim diantara kita adalah ladang kebajikan. Begitu mulia kedududukan mereka hingga banyak hadist yang membahasnya. Bahkan Rasulullah pun juga menyandang status yatim. Mari kita muliakan mereka, bahagiakan mereka agar mereka tidak berpuptus asa menggapai asa.
Artikel Lainnya
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Ketika Biaya Berobat Jadi Beban, Zakat BAZNAS Hadir Membawa Harapan
5 Tanda Penting untuk Membedakan Musibah dan Azab dalam Islam
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?
3 Sikap Mulia yang Rasulullah Ajarkan Saat Melihat Musibah Orang Lain
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →