Takut Ketinggalan Sukses? Mungkin Kita Perlu Berhenti Membandingkan Takdir
27/08/2026 | Penulis: BAZNAS
Takut Ketinggalan Sukses? Mungkin Kita Perlu Berhenti Membandingkan Takdir
Pernah merasa tertinggal ketika melihat teman sudah punya rumah, karier semakin bagus, bisnisnya berkembang, atau kehidupan orang lain terlihat jauh lebih bahagia?
Di era media sosial, perasaan seperti itu semakin mudah muncul. Kita melihat pencapaian orang lain hanya dalam beberapa detik, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan hidup sendiri. Mereka sudah sampai di suatu tempat, sementara kita merasa masih berjalan di tempat.
Padahal, setiap orang memiliki jalan hidup, waktu, ujian, dan rezeki yang berbeda.
Bisa jadi, yang selama ini membuat kita lelah bukan karena hidup kita terlalu berat, tetapi karena kita terus-menerus membandingkan perjalanan sendiri dengan perjalanan orang lain.
Setiap Orang Memiliki Waktu Sukses yang Berbeda
Kita sering menganggap sukses memiliki jadwal yang sama.
Lulus di usia tertentu. Mendapat pekerjaan di usia tertentu. Menikah di usia tertentu. Membeli rumah, memiliki kendaraan, membangun bisnis, atau mencapai target finansial sebelum usia tertentu.
Ketika semua itu belum tercapai, muncul pertanyaan:
"Kenapa aku belum seperti mereka?"
"Apa aku gagal?"
"Kenapa rezekiku belum sebesar orang lain?"
Padahal, Allah tidak pernah menjanjikan bahwa perjalanan hidup setiap manusia akan memiliki garis waktu yang sama.
Ada orang yang mendapatkan keberhasilan di usia muda. Ada yang harus melewati kegagalan berkali-kali sebelum menemukan jalannya. Ada yang rezekinya datang melalui pekerjaan. Ada pula yang melalui usaha kecil, keluarga, kesehatan, kesempatan, atau kebaikan yang tidak pernah ia sangka.
Karena itu, jangan buru-buru menyebut diri sendiri tertinggal hanya karena melihat orang lain lebih dahulu sampai.
Sukses Bukan Perlombaan Melawan Orang Lain

Kehidupan bukan perlombaan siapa yang paling cepat.
Jika kita terus mengukur diri dengan pencapaian orang lain, sebanyak apa pun yang kita miliki akan terasa kurang.
Hari ini memiliki pekerjaan, tetapi iri melihat orang yang punya bisnis.
Sudah memiliki bisnis, tetapi merasa tertinggal melihat orang lain memiliki omzet lebih besar.
Sudah memiliki keluarga, tetapi masih membandingkan rumah tangga sendiri dengan kehidupan orang lain.
Inilah jebakan perbandingan.
Kita lupa melihat apa yang sudah Allah berikan karena terlalu sibuk menghitung apa yang dimiliki orang lain.
Al-Qur'an Mengajarkan Kita untuk Tidak Terlalu Larut pada Apa yang Luput
Allah memberikan pengingat yang sangat kuat dalam Surah Al-Hadid ayat 23:
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri."
(QS. Al-Hadid: 23)
Ayat ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau merasa bahagia ketika mendapatkan keberhasilan.
Justru, ayat ini mengajarkan keseimbangan.
Ketika sesuatu belum menjadi milik kita, jangan sampai kesedihan membuat kita kehilangan harapan. Sebaliknya, ketika mendapatkan keberhasilan, jangan sampai keberhasilan membuat kita sombong dan merendahkan orang lain.
Yang Luput Belum Tentu Buruk untuk Kita
Ada kalanya kita sangat menginginkan sesuatu.
Kita sudah berusaha, berdoa, bahkan berharap berkali-kali. Namun, ternyata sesuatu itu tidak terjadi.
Pekerjaan yang diinginkan tidak didapatkan.
Bisnis yang direncanakan belum berhasil.
Kesempatan yang dinantikan justru diberikan kepada orang lain.
Pada titik itu, kita mungkin merasa Allah sedang memperlambat langkah kita.
Padahal, kita tidak pernah mengetahui seluruh alasan di balik sebuah takdir.
Apa yang menurut kita terlambat, bisa jadi sedang dipersiapkan.
Apa yang kita anggap kegagalan, bisa jadi sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.
Apa yang terlihat sebagai kehilangan, mungkin justru menjadi perlindungan.
Rasulullah SAW Mengajarkan Cara Menghadapi Takdir
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar seorang Muslim tetap berusaha, meminta pertolongan kepada Allah, dan tidak terus-menerus tenggelam dalam penyesalan atas sesuatu yang telah terjadi.
Beliau bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah."
Dalam lanjutan hadis tersebut, Rasulullah ? mengajarkan ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi agar kita tidak larut dalam kalimat "seandainya aku melakukan ini dan itu...", tetapi mengatakan: "Qadarullah wa ma sya'a fa'ala" — "Allah telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki Dia lakukan."
(HR. Muslim no. 2664)
Pesannya sangat relevan dengan kehidupan hari ini.
Berusaha, tetapi jangan menyembah hasil.
Kita boleh mengejar kesuksesan, tetapi jangan sampai kesuksesan menjadi satu-satunya ukuran harga diri.
Berhenti Membandingkan Takdir, Mulailah Membandingkan Diri dengan Diri Sendiri
Mungkin sudah waktunya mengganti pertanyaan.
Bukan lagi:
"Kenapa dia lebih sukses dariku?"
Tetapi:
"Apa yang bisa aku perbaiki dari diriku hari ini?"
Bukan:
"Kenapa rezekinya lebih besar?"
Tetapi:
"Apa yang sudah kulakukan dengan rezeki yang Allah berikan kepadaku?"
Bukan:
"Kapan aku seperti dia?"
Tetapi:
"Apa langkah kecil yang bisa kulakukan hari ini?"
Fokus pada Proses yang Bisa Kita Kendalikan
Ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.
Kita tidak bisa mengatur kapan orang lain sukses.
Kita tidak bisa menentukan berapa besar rezeki orang lain.
Kita tidak bisa mengatur bagaimana perjalanan hidup seseorang.
Namun, kita bisa mengatur usaha kita.
Kita bisa memperbaiki keterampilan.
Kita bisa belajar.
Kita bisa bekerja dengan lebih jujur.
Kita bisa memperbaiki ibadah.
Kita bisa memperbanyak doa.
Kita bisa berbagi kepada sesama.
Dan kita bisa terus menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin.
Itulah bentuk perjuangan yang jauh lebih sehat.
Jangan Sampai Mengejar Dunia Membuat Kita Lupa Berbagi
Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika kita terlalu sibuk mengejar kesuksesan: rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagikan.
Allah memberikan rezeki kepada manusia dengan kadar yang berbeda-beda. Ada yang diberi kelapangan, ada yang diberi kecukupan, dan ada pula yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, ketika Allah memberikan kelebihan, jangan hanya bertanya:
"Apa yang bisa aku beli?"
Cobalah bertanya:
"Siapa yang bisa aku bantu?"
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang sangat dalam.
Sedekah Bisa Menjadi Cara Mengubah Perspektif tentang Rezeki
Ketika kita berbagi, kita belajar bahwa rezeki bukan hanya tentang jumlah yang masuk ke rekening.
Rezeki juga tentang kebermanfaatan.
Mungkin sebagian dari kita merasa belum memiliki banyak.
Tetapi bagi seseorang yang sedang kesulitan, sedikit yang kita berikan bisa menjadi sangat berarti.
Artikel Lainnya
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
Apa Gunanya Terlihat Baik di Hadapan Manusia Jika Hati Tidak Peduli?
Belajar Menerima Takdir Tanpa Berhenti Berusaha
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
Cinta Tak Berbatas Usia: BAZNAS Hadirkan Senyum bagi Lansia Panti Jompo
Ketika Iman Mendorong Kita untuk Peduli kepada Sesama
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
Ego yang Tidak Dikendalikan Selalu Mencari Seseorang untuk Dikendalikan
Ada Balasan yang Tidak Selalu Terlihat Setelah Kita Bersedekah
Ada Perbedaan Besar antara Ibadah karena Kebiasaan dan Ibadah karena Cinta
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
Kita Sedang Hidup, atau Sedang Mengejar Sensasi agar Merasa Hidup?
Penyakit Hati yang Diam-diam Menjauhkanmu dari Allah

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →