Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
08/09/2026 | Penulis: Baznas Kota Sukabumi
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
Apa Bedanya Orang Hemat dengan Orang Kikir?
Ada orang yang sangat teliti mengatur uangnya.
Sebelum membeli sesuatu, ia membandingkan harga. Sebelum mengeluarkan uang, ia berpikir berkali-kali. Ia tahu mana kebutuhan dan mana keinginan. Ia tidak suka membuang-buang uang dan selalu berusaha menyimpan sebagian penghasilannya.
Sekilas, tidak ada yang salah.
Bahkan, sikap seperti ini bisa menjadi bentuk tanggung jawab. Kita memang tidak dianjurkan menghamburkan harta. Mengatur keuangan dengan baik adalah bagian dari ikhtiar menjaga apa yang Allah titipkan.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput tentang kapan sikap hemat berhenti menjadi bentuk kehati-hatian dan mulai berubah menjadi kekikiran?
Sebab, ada orang yang bukan tidak memiliki kemampuan untuk memberi. Ia hanya merasa terlalu berat ketika hartanya harus berkurang.
Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam.
Hemat Tidak Sama dengan Kikir
Hemat pada dasarnya berbicara tentang bagaimana seseorang menggunakan harta secara bijak.
Orang yang hemat tidak berarti selalu menolak mengeluarkan uang. Ia hanya berusaha memastikan bahwa uang yang dikeluarkan memang memiliki alasan yang tepat.
Ia bisa membeli sesuatu ketika memang membutuhkan.
Ia bisa membayar kewajibannya.
Ia bisa membantu keluarganya.
Ia juga bisa berbagi ketika melihat orang lain membutuhkan.
Artinya, orang hemat masih mampu menempatkan harta sesuai dengan fungsinya.
Sementara itu, kikir memiliki persoalan yang berbeda.
Masalahnya bukan lagi sekadar berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi mengapa seseorang begitu sulit mengeluarkannya meskipun ada sesuatu yang memang patut ditunaikan.
Misalnya, seseorang tidak keberatan mengeluarkan uang untuk kenyamanan dirinya sendiri, tetapi selalu merasa keberatan ketika diminta membantu orang lain.
Ia bisa mengatakan, “Saya harus menghemat.”
Namun pada saat yang sama, ia tetap membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Di titik ini, kita perlu berhenti menyebut semuanya sebagai “hemat”.
Sebab bisa jadi yang sedang dijaga bukan lagi keuangan, melainkan keengganan kehilangan bagian dari harta yang sudah dianggap sepenuhnya milik sendiri.
Masalahnya Bukan pada Menghitung
Menariknya, Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk menjadi ceroboh terhadap harta.
Al-Qur'an justru memberikan keseimbangan. Dalam QS. Al-Furqan ayat 67, Allah menggambarkan orang-orang yang baik sebagai mereka yang ketika membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi mengambil jalan pertengahan.
Artinya, persoalannya bukan “Haruskah kita menghitung uang?”
Tentu boleh.
Persoalannya berada pada “Apa yang kita jadikan dasar ketika menghitung?”
Kita mungkin sangat teliti menghitung berapa uang yang akan tersisa setelah membeli sesuatu.
Tetapi apakah kita juga pernah menghitung apa yang terjadi ketika sebuah kebutuhan orang lain kita abaikan?
Kita menghitung pengeluaran.
Kita menghitung tabungan.
Kita menghitung keuntungan.
Kita menghitung harga.
Tetapi agama mengajarkan kita untuk melihat sesuatu yang tidak selalu muncul dalam kalkulator seperti hak, kewajiban, kepedulian, dan tanggung jawab.
Karena tidak semua yang bisa dihitung adalah satu-satunya hal yang bernilai.
Ketika Harta Mulai Menentukan Sikap Kita
Ada perbedaan penting antara memiliki harta dan dikendalikan oleh rasa takut kehilangan harta.
Seseorang bisa memiliki banyak uang tetapi tetap hidup dengan perhitungan yang sehat.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki harta yang tidak terlalu banyak tetapi sudah terlalu terikat dengannya.
Ia terus merasa bahwa uangnya belum cukup.
Ketika diminta membantu, muncul banyak alasan.
Ketika harus mengeluarkan zakat, terasa berat.
Ketika keluarga membutuhkan sesuatu, ia merasa itu sebagai beban.
Ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan, ia mulai bertanya:
“Memangnya harus saya?”
Di sinilah kikir menjadi lebih dari sekadar persoalan keuangan.
Ia mulai memengaruhi cara seseorang melihat kewajiban terhadap orang lain.
Al-Qur'an bahkan memberikan peringatan yang sangat tegas tentang sifat bakhil. Dalam QS. Ali 'Imran ayat 180, Allah memperingatkan orang-orang yang kikir terhadap karunia yang diberikan-Nya agar tidak mengira bahwa menahan harta itu baik bagi mereka.
Ayat ini menarik karena masalahnya bukan hanya tindakan “tidak memberi”.
Ada sesuatu yang lebih dalam yaitu manusia bisa sampai menganggap menahan harta sebagai sesuatu yang baik bagi dirinya.
Padahal, bisa jadi justru itulah yang sedang merusak dirinya.
Mengapa Kikir Bisa Terlihat Seperti Kehati-hatian?
Ini bagian yang sering tidak kita sadari.
Kekikiran tidak selalu datang dalam bentuk seseorang yang berkata, “Saya tidak mau membantu.”
Kadang ia datang dengan kalimat yang terdengar sangat rasional, seperti:
“Takut nanti saya sendiri membutuhkan.”
“Harus mengutamakan diri sendiri.”
“Uang saya juga tidak banyak.”
“Kalau semua orang dibantu, nanti habis.”
Sebagian alasan tersebut memang bisa benar.
Seseorang memang perlu mempertimbangkan kondisi keuangannya. Kita tidak bisa memaksa orang memberikan sesuatu yang memang berada di luar kemampuannya.
Tetapi justru karena itulah kita perlu belajar membedakan ketidakmampuan dan ketidakrelaan.
Tidak mampu adalah ketika seseorang memang tidak memiliki kemampuan untuk memberi.
Sedangkan kikir dapat muncul ketika seseorang sebenarnya memiliki ruang untuk menunaikan sesuatu, tetapi hatinya terlalu berat untuk melepaskannya.
Perbedaannya bukan selalu terlihat dari jumlah uang.
Kadang perbedaannya justru terlihat dari sikap hati ketika uang harus keluar dari tangan kita.
Islam Tidak Hanya Meminta Kita Mengeluarkan Harta, tetapi Melatih Jiwa
QS. Al-Hasyr ayat 9 menyebutkan keberuntungan orang-orang yang dijaga dari syuhh dalam dirinya yaitu sifat kikir atau kecenderungan menahan sesuatu secara berlebihan. Ayat tersebut menggambarkan orang-orang yang bahkan mampu mendahulukan orang lain meskipun mereka sendiri berada dalam kebutuhan.
Ini menunjukkan bahwa persoalan kikir sebenarnya bukan hanya persoalan saldo.
Ia adalah persoalan jiwa.
Sebab kalau persoalannya hanya jumlah harta, orang kaya pasti mudah berbagi dan orang miskin pasti selalu kikir.
Kenyataannya tidak demikian.
Ada orang yang hartanya sedikit tetapi mudah berbagi.
Ada pula orang yang hartanya banyak tetapi selalu merasa bahwa memberikan sesuatu berarti mengurangi kehidupannya.
Maka latihan sebenarnya bukan sekadar, “Bagaimana supaya saya lebih banyak memberi?”
Tetapi, “Bagaimana supaya hati saya tidak menjadi terlalu berat ketika harus menunaikan sesuatu yang memang menjadi hak dan kewajiban saya?”
Ini jauh lebih mendasar.
Rasulullah Juga Memperingatkan Bahaya Sifat Kikir
Rasulullah ? bersabda agar umatnya menjauhi syuhh, karena sifat tersebut telah membinasakan umat-umat sebelum mereka dan mendorong manusia melakukan kezaliman serta melanggar hal-hal yang diharamkan. Hadis ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim 2578.
Peringatan ini membuat kita melihat kikir dari sudut yang lebih luas.
Kikir bukan hanya tentang seseorang yang tidak mau bersedekah.
Jika dibiarkan, kecenderungan untuk selalu mempertahankan kepentingan diri dapat berkembang menjadi sikap yang membuat seseorang rela mengabaikan kepentingan orang lain.
Hari ini mungkin hanya berkata, “Saya tidak mau kehilangan uang.”
Besok bisa berubah menjadi, “Saya tidak mau kehilangan kesempatan.”
Lalu berkembang menjadi, “Yang penting saya aman.”
Dan tanpa sadar, kepedulian terhadap orang lain semakin lama semakin berada di urutan paling belakang.
Karena itu, melawan sifat kikir bukan berarti memusuhi uang.
Kita justru sedang menjaga agar uang tidak mengubah cara kita memperlakukan manusia.
Lalu, Di Mana Batas Hemat dan Kikir?
Mungkin tidak ada satu angka yang bisa menjadi batasnya.
Bukan soal apakah kita mengeluarkan 5 persen, 10 persen, atau 20 persen dari penghasilan.
Yang perlu diperiksa justru beberapa pertanyaan sederhana yang diajukan kepada diri sendiri, berupa:
Apakah saya menahan uang karena memang membutuhkannya, atau karena takut kehilangan?
Apakah saya sedang mengatur keuangan, atau sedang mencari alasan untuk tidak menunaikan kewajiban?
Apakah saya mampu mengatakan “tidak” karena memang tidak mampu, atau karena saya tidak rela harta saya berkurang?
Dan yang paling penting adalah apakah cara saya menjaga harta masih membuat saya menjadi manusia yang bertanggung jawab kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi.
Justru sebaliknya.
Ia adalah cara untuk bercermin.
Karena mungkin selama ini kita mengira sedang menjadi orang yang hemat, padahal ada bagian dari diri kita yang sedang belajar terlalu mencintai apa yang kita miliki.
Harta yang Baik Bukan Hanya Harta yang Berhasil Disimpan
Islam tidak memandang harta sebagai sesuatu yang harus dibenci.
Harta dapat menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan, menjaga keluarga, membangun kehidupan, membantu orang lain, dan menjalankan berbagai kebaikan.
Karena itu, memiliki harta bukan masalah.
Mengatur harta juga bukan masalah.
Bahkan berhati-hati dalam menggunakan harta adalah sikap yang baik.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika keinginan mempertahankan harta membuat kita lupa bahwa ada bagian dari harta yang harus ditunaikan.
Pada akhirnya, kualitas seseorang bukan hanya terlihat dari seberapa pintar ia mengumpulkan dan mempertahankan harta.
Tetapi juga dari seberapa bijak ia menentukan kapan harta itu harus digunakan.
Sebab ada saatnya menyimpan adalah tanggung jawab.
Ada saatnya mengeluarkan adalah kewajiban.
Dan ada saatnya memberi bukan berarti kehilangan, melainkan menjalankan amanah.
BAZNAS dan Ruang untuk Menunaikan Amanah
Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki posisi yang penting.
ZIS bukan sekadar aktivitas memindahkan uang dari satu tangan ke tangan lainnya. Di dalamnya terdapat proses menunaikan amanah, menghimpun kepedulian, kemudian menyalurkannya kepada mereka yang membutuhkan sesuai ketentuan dan peruntukannya.
Melalui BAZNAS, masyarakat memiliki salah satu ruang untuk menunaikan zakat dan menyalurkan infak maupun sedekah secara terkelola.
Bagi pemberi, proses tersebut bukan hanya tentang mengurangi saldo.
Ada proses belajar melepaskan sebagian harta untuk tujuan yang lebih besar.
Dan bagi penerima, bantuan yang disalurkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan, menghadapi kondisi sulit, atau memperbaiki kehidupan.
Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar tentang, “Berapa banyak uang yang harus saya keluarkan?”
Tetapi, “Untuk apa harta yang Allah titipkan kepada saya seharusnya digunakan?”
Karena hemat mengajarkan kita untuk tidak membuang harta.
Sedangkan Islam mengajarkan sesuatu yang lebih lengkap yaitu jangan sampai karena terlalu sibuk menjaga harta, kita justru lupa menjaga amanah di balik harta tersebut.
Dan mungkin, di situlah batas antara hemat dan kikir sebenarnya berada.
Artikel Lainnya
7 Pelajaran Sabar dari Sejarah Islam Saat Menghadapi Ketidakadilan
7 Keajaiban Zakat BAZNAS yang Mengubah Kepedulian Menjadi Keberkahan
Apa Arti Rezeki Jika Tak Pernah Berbagi? BAZNAS Mengajak Kita Merenung
5 Alasan Mengapa Lalai Berzakat Bisa Menjadi Kerugian Besar
Zakat, Infak, dan Sedekah: 3 Amal yang Sering Disamakan, Padahal Beda
5 Realitas Pahit di Balik Kemiskinan: Mengapa Peran BAZNAS Semakin Penting?
Mengapa Allah Menjanjikan Balasan bagi Harta yang Kita Keluarkan?
Ada Kezaliman yang Mengambil Harta, Ada yang Mengambil Kehormatan, dan Ada yang Mengambil Kehidupan
Berapa Banyak Harta yang Sanggup Kita Pertanggungjawabkan?
7 Pesan Islam tentang Berbagi yang Menguatkan Hati
Mungkin Bencana Bukan Hanya Tentang Apa yang Terjadi, tetapi Tentang Apa yang Harus Kita Sadari
Kalau Harta Bisa Bicara, Mungkin Ia Akan Bertanya: “Sudahkah Kamu Berzakat?"
Saat Kesulitan Datang, Sejauh Mana Kepedulian Kita? BAZNAS Menjawab dengan Aksi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang Setelah Melihat Hidup Orang Lain?

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →