WhatsApp Icon

Kok Bisa?! Rajin Ibadah, Tapi Hati Masih Mudah Iri dan Gelisah?

18/08/2026  |  Penulis: BAZNAS

Bagikan:URL telah tercopy
Kok Bisa?! Rajin Ibadah, Tapi Hati Masih Mudah Iri dan Gelisah?

Kok Bisa?! Rajin Ibadah, Tapi Hati Masih Mudah Iri dan Gelisah?

Pernah merasa sudah rajin salat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bahkan rutin bersedekah, tetapi hati masih mudah iri ketika melihat keberhasilan orang lain? Atau tiba-tiba gelisah ketika teman mendapatkan rezeki, karier, atau kebahagiaan yang belum kita miliki?

Kok bisa?

Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebab, ibadah bukan hanya tentang memperbanyak amal lahiriah, tetapi juga tentang membersihkan hati. Hati yang sehat akan mendorong seseorang semakin dekat kepada Allah, mudah bersyukur, dan mampu ikut bahagia atas nikmat yang diterima orang lain.

Rajin Ibadah, Mengapa Hati Masih Bisa Iri?

Kok Bisa! Rajin Ibadah, Tapi Hati Masih Mudah Iri dan Gelisah

Iri atau hasad muncul ketika seseorang tidak senang melihat nikmat yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang. Perasaan seperti ini bisa muncul tanpa disadari.

Misalnya, ketika melihat teman membeli rumah, mendapatkan pekerjaan baru, usahanya berkembang, atau mendapatkan pencapaian tertentu. Bukannya ikut bahagia, hati justru berkata, “Kok dia bisa, ya? Kenapa saya belum?”

Perasaan sesaat mungkin manusiawi. Namun, jika terus dipelihara, iri dapat berubah menjadi penyakit hati.

Rasulullah SAW bahkan mengingatkan umatnya agar tidak saling iri.

Rasulullah SAW Melarang Sifat Hasad

Rasulullah SAW bersabda:

“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci, jangan saling memutus hubungan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

(HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga hati merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ibadah Seharusnya Membentuk Hati yang Lebih Baik

Ibadah tidak berhenti pada gerakan salat atau banyaknya bacaan dzikir. Ibadah seharusnya perlahan membentuk akhlak dan hati kita.

Ketika hati masih mudah iri, mungkin bukan berarti seluruh ibadah kita sia-sia. Namun, bisa jadi ada bagian dari hati yang masih perlu terus dibersihkan.

Belajar Melihat Nikmat Orang Lain dengan Lapang

Allah memberikan rezeki kepada setiap manusia dengan cara dan waktu yang berbeda. Apa yang dimiliki orang lain bukan berarti mengurangi jatah kita.

Allah menggambarkan keutamaan orang yang mampu menghilangkan rasa sempit dalam hati melalui firman-Nya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Al-Hasyr: 9)

Ayat ini mengajarkan bahwa keberuntungan bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi juga tentang kemampuan menjaga hati dari sifat buruk.

Bagaimana Cara Membersihkan Hati dari Rasa Iri?

1. Perbanyak Bersyukur

Ketika melihat kelebihan orang lain, segera ingat nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita. Bersyukur membantu hati berhenti membandingkan diri secara berlebihan.

2. Ubah Iri Menjadi Doa

Ketika melihat seseorang mendapatkan keberhasilan, cobalah berkata dalam hati, “Ya Allah, berkahilah rezekinya dan berikan pula kepadaku rezeki yang baik.”

Dengan begitu, rasa iri perlahan berubah menjadi doa dan harapan yang positif.

3. Perbanyak Sedekah

Sedekah bukan hanya membantu orang lain. Ia juga menjadi latihan bagi hati untuk melepaskan rasa memiliki secara berlebihan dan belajar berbagi.

Saat kita memberikan sebagian rezeki kepada mereka yang membutuhkan, kita sedang mengingatkan diri bahwa rezeki adalah amanah dari Allah.

4. Belajar Memaafkan dan Melepaskan

Terkadang kegelisahan bukan hanya berasal dari iri, tetapi juga dari luka, kecewa, atau dendam yang masih disimpan.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa permusuhan yang tersimpan di dalam hati dapat menjadi penghalang datangnya ampunan hingga kedua pihak berdamai.

Karena itu, membersihkan hati berarti belajar melepaskan apa yang tidak perlu dibawa terlalu lama.

Jangan Hanya Memperbanyak Amal, Tapi Rawat Juga Hati

Kita boleh mengejar banyaknya ibadah. Kita boleh memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan melakukan berbagai amal kebaikan.

Namun, jangan lupa bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah semua ibadah itu sudah membuat hati saya lebih lembut?”

Jika hari ini kita masih mudah iri, jangan menyerah. Jadikan itu sebagai tanda untuk semakin mendekat kepada Allah dan memperbaiki hati.

Saatnya Mengubah Iri Menjadi Peduli

Salah satu cara sederhana untuk melatih hati agar tidak terjebak dalam rasa iri adalah berbagi kepada sesama.

Daripada terus membandingkan apa yang belum kita miliki, mari melihat mereka yang bahkan sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Sedikit rezeki yang kita sisihkan melalui zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →