WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Ayat Seribu Dinar: Kunci Pembuka Pintu Rezeki bagi Umat Muslim
Ayat Seribu Dinar: Kunci Pembuka Pintu Rezeki bagi Umat Muslim
Siapa yang tak ingin memiliki rezeki lancar dan berkah? Rasanya keinginan ini sering kita selipkan ke dalam doa agar Allah membuka pintu rezeki. Agar pintu rezeki dibukakan oleh Allah swt tentunya kita harus berusaha dengan cara yang Allah ridhoi dan juga diiringi dengan doa Doa adalah senjata bagi umat musim, salah satu doa yang dipercaya dapat mendatangkan rezeki bagi umat muslim adalah dengan mengamalkan ayat seribu dinar. Ayat seribu dinar ini adalah ayat Al-Quran yang terletak dalam ayat 2-3 di Surat At-Thalaq. Ayat ini banyak diamalkan umar muslim sebagai doa untuk memohon kelancaran rezeki Berikut adalah bacaan Ayat Seribu Dinar dalam bahasa Latin: Wa may yattaqillaha yaj al-lahu makhraja. Wa yarzuq-hu min aisu la yahtasib, wa may yatawakkal alallahi fa huwa hasbuh, innallaha baligu amrih, qad ja alallahu likulli syai in qadra. Artinya: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya, sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 2-3) Tujuan membaca ayat seribu dinar adalah meningkatkan ketakwaan kepada Allahs wt, sehingga jika hambanya bertakwa, Allah swt akan memberikan kita jalan keluar dari keseulitan serta mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Tentunya rezeki yang dimaksud tidak hanya tentang materi tapi ketenangan, kelapangan , kepuasan batin, kesehatan, dan masih banyak hal lainnya juga termasuk rezeki. Ayat seribu dinar ini sebaiknya rutin dibaca setipa hari atau setelah mendirikan sholat, karena doa setelah sholat juga merupakan doa mustajab. Jangan lupa iringi doa ini dengan ikhtiar dan menolong orang lain. Niscaya Allah akan menolong hambanya yang meringankan beban orang lain.
ARTIKEL09/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Makna Berkah dan Ciri Keberkahan
Makna Berkah dan Ciri Keberkahan
Kata berkah sering kita dengar dan kita ucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak jarang, berkah juga menjadi doa yang kita dipanjatkan. Tapi apakah sahabat tahu arti keberkahan itu sendiri ? Makna Berkah Menurut bahasa, berkah --berasal dari bahasa Arab: barokah (????), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain berkah dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Sementara Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia” Menurut Imam Al-Ghazali, berkah (barokah) adalah bertambahnya kebaikan (Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79). Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. Berkah dalam Al-Quran terdapat di dalam Surat Al-A’raf ayat 96 “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." Langit dan bumi adalah semesta yang melingkupi hidup manusia. Semua yang terdapat di langit dan bumi mulai dari air hujan, tumbuhan, hewan, dan segala macam sumber-sumber kehidupan telah Allah limpahkan untuk manusia. Untuk itu, keberkahan ini berarti bahwa memang Allah memberikan nikmat berupa segala materi yang dibutuhkan manusia Berdasarkan Q.S Al-A’raf ayat 96 dapat dipahami jika keberkahan datangnya dari Allah swt kepada orang yang beriman dan bertakwa. Lalu bagaimana ciri orang yang merasakan hidupnya penuh berkah? Kita kembali mengacu pada Al Quran maupun hadits Rasulullah Saw. Ada beberapa indikator orang-orang yang mendapat berkah dalam hidupnya sesuai dengan kriteria Al Quran antara lain: 1. Merasa nikmat dalam beramal shaleh “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam” (QS: Al-An'am: 125) Dalam ayat ini dijelaskan bahwa keberkahan hidup dari Allah salah satunya adalah dengan merasakan nikmat Iman dan Islam serta kenikmatan dalam beribadah. Kenikamtan beribadah dengan dada yang lapang, tanpa tekanan melainkan mendapatkan kenikmataan dalam menjalankan ibadah. 2. Konsisten (istiqamah) dalam kebaikan “Dan bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya (Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh, dia diberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS Ali Imron: 101) Orang yang dalam hidupnya penuh dengan keberkahan maka dia akan menjalankan kebaikan tersebut secara konsisten sampai akhir hidupnya. Salah satu kebaikan yang sahabat bisa lakukan dengan mudah dan konsisten adalah bersedekah 3. Selalu Sabar Menghadapi Ujian “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS Ali Imran: 200) Dengan keberkahan dari Allah SWT, maka orang-orang tersebut akan mudah untuk bersabar dalam menghadapi berbagai ujian. Baik ujian dalam kebahagiaan atau kesulitan. Seluruhnya adalah hal dengan ikhlas mereka hadapi. Setidaknya jika kita dapat merasakan indikator tersebut maka secara pribadi atau individu boleh disebut hidupnya penuh keberkahan. Namun demikian setiap pribadi tentu akan merasakan keberkahan hidupnya yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya Makna berkah dalam hidup memang bisa berbeda dari setiap orang. Namun, sebenarnya Allah senantiasa memberikan kemudahan dan kebutuhan dalam hidup kita, baik kita sadari ataupun tidak. Semoga sebagai manusia kita selalu menyadarinya dan bersyukur setiap saat akan kenikmatan yang menjadi berkah dalam hidup kita. Untuk menambah keberkahan dalam hidup, sedekah bisa menjadi salah satu kuncinya. Rezeki yang merupakan salah satu nikmat dalam hidup ini, akan bertambah keberkahannya jika kita membagikannya kepada orang lain membutuhkan.
ARTIKEL09/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Berkenalan Dengan Zakat
Berkenalan Dengan Zakat
Sebagai seorang muslim, tentu kita tidak asing dengan kata Zakat. Istilah itu bahkan sudah dikenalkan saat kecil kita menghafal rukun islam. Berada di urutan ke-tiga dalam rukun islam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim, sudah diperintahkan sejak kepemimpinan Rasulullah Saw, dan seringkali disebut dalam firman Allah bersamaan dengan shalat. “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku” (QS. Al Baqarah [2]: 43) Tapi sudahkah kita mengenal apa itu zakat ? seberapa penting zakat ? apa keutamannya ? mengapa perlu kita mengeluarkan zakat ? atau bahkan kita sendiri tidak tahu apa arti kata zakat ? Mari kita berkenalan dengan zakat, dimulai dari arti kata zakat itu sendiri. Zakat berasal dari bentuk kata "zaka" yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Dinamakan zakat, karena di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh berkah, membersihkan jiwa dan memupuknya dengan berbagai kebaikan (Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq: 5) Makna tumbuh dalam arti zakat menunjukkan bahwa mengeluarkan zakat sebagai sebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta, pelaksanaan zakat itu mengakibatkan pahala menjadi banyak. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat adalah mensucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan dan pensuci dari dosa-dosa. Menurut istilah, dalam Kitab Al-Hawi, Al-Mawardi mendefinisikan pengertian zakat dengan nama pengambilan tertentu, dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Sementara menurut Peraturan Menteri Agama No 52 Tahun 2014, Zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha yang dimiliki oleh orang Islam untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan syariat Islam. Maka bisa kita maknai, jika zakat adalah harta yang wajib dikeluarkan untuk memperoleh berkah atas rezeki yang telah Allah beri dan sebagai sarana membersihkan harta demi kebaikan jiwa kita pribadi. Perintah membayar zakat sudah dilakukan sejak kepemimpinan Rasulullah Saw untuk membantu meningkatkan perekonomian umat. Jadi, selain untuk menunaikan kewajiban pemilik harta dan membersihkannya, zakat juga memiliki dimensi sosial karena hasil zakat akan diberikan kepada yang berhak untuk membantu perekonomian umat. Manfaat yang dirasakan tidak hanya didapatkan oleh pemilik harta yang berzakat melainkan juga bisa dirasakan oleh penerima zakat Masya Allah ya sahabat betapa banyak manfaat yang bisa dirasakan karena zakat. Semoga Allah selalu mampukan kita untuk menunaikan zakat. Mari berbagi kebahagian dengan berzakat di BAZNAS Kota Sukabumi
ARTIKEL08/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
APA SIH AMAL JARIYAH ITU???
APA SIH AMAL JARIYAH ITU???
Amal jariyah berasal dari kata ‘amal yang artinya perbuatan, dan jariyah yang berarti mengalir. Jadi, amal jariyah adalah perbuatan baik yang pahalanya terus mengalir meski pelakunya telah meninggal dunia. Dalam Islam, amal jariyah termasuk dalam jenis amal yang tidak akan terputus meskipun usia seseorang sudah berhenti di dunia. Rasulullah bersabda: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa ada amalan tertentu yang pahalanya akan terus mengalir meski sudah meninggal dunia, selama amalan tersebut masih bermanfaat bagi orang lain. Perbedaan Amal Jariyah dengan Amal Biasa dan contohnya Tidak semua amalan yang dilakukan seseorang bisa disebut sebagai amal jariyah. Seperti yang sudah dibahas, Amal jariyah artinya adalah amalan yang manfaatnya masih terus dirasakan oleh orang lain. Sebagai contoh: Sholat dan puasa adalah ibadah yang berpahala, tetapi pahalanya berhenti saat seseorang meninggal sementara Membangun masjid atau sumur adalah amal jariyah karena selama maasjid dan sumur tersebut masih digunakan, pahalanya tetap mengalir. Mengapa Amal Jariyah Sangat Dianjurkan? Islam mengajarkan umatnya untuk selalu melakukan kebaikan yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Amal jariyah artinya adalah investasi akhirat yang tidak pernah merugi, karena seseorang tetap mendapatkan pahala meskipun sudah tidak bisa beramal lagi di dunia. Banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta di dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk akhirat. Amal jariyah artinya adalah cara terbaik untuk berinvestasi di akhirat. Dengan melakukan amal jariyah, seseorang bisa terus mendapatkan pahala meskipun ia telah wafat. Contoh Amalan yang Tidak Terputus A. Sedekah Jariyah Sedekah jariyah adalah salah satu bentuk utama dari amal jariyah artinya sedekah yang terus memberikan manfaat bagi orang lain dalam jangka panjang. Beberapa contoh sedekah jariyah antara lain: Membangun masjid Membantu pembangunan pesantren Menyediakan Al-Qur’an di masjid atau sekolah Membangun sumur untuk masyarakat yang membutuhkan Selama sedekah tersebut masih bermanfaat bagi orang lain, pahalanya akan terus mengalir kepada pemberinya. B. Ilmu yang Bermanfaat Ilmu yang diajarkan kepada orang lain dan terus digunakan juga termasuk dalam kategori amal jariyah artinya. Beberapa contoh ilmu yang bermanfaat antara lain: Mengajarkan ilmu agama kepada murid Menulis buku yang bermanfaat Membuat konten dakwah atau edukasi di media sosial Mengajarkan keterampilan yang bisa membantu kehidupan orang lain Jika ilmu tersebut digunakan dan diajarkan kembali kepada orang lain, maka pahalanya akan terus mengalir. C. Anak Saleh yang Mendoakan Orang Tuanya Mendidik anak agar dia menjadi pribadi yang baik serta taat Kepada Allah adalah investasi amal jariyah. Seperti yang disebutkan dalam hadist sebelumnya, salah satu amal jariyah artinya adalah memiliki anak saleh yang selalu mendoakan orang tuanya. Jika sesorang anak di didik dengan baik, Insya Allah dia akan selalu berdoa untuk orang tuanya, membaca Al-Qur’an, dan melakukan amal kebaikan lainnya yang dicontohkan orang tuanya sehingga hal tersebut akan menjadi sumber pahala yang tidak terputus bagi kedua orang tuanya. D. Membangun Fasilitas Umum Membangun fasilitas yang bisa dimanfaatkan banyak orang juga termasuk dalam amal jariyah artinya amalan yang pahalanya terus mengalir. Beberapa contoh fasilitas umum yang bisa menjadi amal jariyah antara lain: Membangun sekolah atau perpustakaan Membangun rumah sakit atau klinik gratis Menyediakan jalan atau jembatan untuk masyarakat Selama fasilitas tersebut masih digunakan, pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang berkontribusi dalam pembangunannya. E. Wakaf untuk Kepentingan Umat Wakaf adalah salah satu bentuk sedekah jariyah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Amal jariyah artinya salah satunya adalah dengan memberikan wakaf berupa tanah, bangunan, atau aset lainnya yang bisa digunakan untuk kepentingan umat. Misalnya, seseorang mewakafkan tanah untuk pembangunan masjid, sekolah, atau rumah sakit. Selama tanah tersebut digunakan untuk kebaikan, maka pahalanya akan terus mengalir kepada pemberi wakaf. Dengan memahami amal jariyah artinya, kita bisa lebih termotivasi untuk melakukan kebaikan yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di dunia, tetapi juga menjadi bekal pahala yang terus mengalir di akhirat. Semoga kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang senantiasa berlomba-lomba dalam melakukan amal jariyah.
ARTIKEL08/09/2025 | Khoirunisa
Rabiul Awal, Bulan Kelahiran dan Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Rabiul Awal, Bulan Kelahiran dan Wafatnya Nabi Muhammad SAW
Rabiul awal merupakan bulan ketiga dalam kalender Hijriyah setelah bulan Muharram dan bulan Safar. Di bulan ini juga sosok penutup nabi dan rasul, Muhammad saw lahir ke dunia. Rasulullah saw lahir pada 12 Rabiul Awal, maka di tahun ini akan jatuh pada tanggal 5 September 2025. Terdapat beberapa keutamaan dari bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid, sebagai berikut: 1. Bulan kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad SAW Bulan Rabiul Awal dianggap sebagai bulan yang mulia dikarenakan sosok Sang Pencerah, Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, tepatnya di kota Mekkah Al-Mukarramah pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 571 masehi. Kelahiran baginda Rasul di bulan ini sangatlah menarik, sebab bulan Rabiul Awal dianggap sebagai bulan yang penuh dengan bunga dan turunnya hujan di padang pasir. Dalam artian, lahirnya Nabi Muhammad SAW ibarat sebuah isyarat bahwa akan ada sosok penyubur di tengah gersangnya peradaban masyarakat jahiliyyah saat itu. Rasulullah SAW juga wafat pada hari, tanggal, dan bulan yang sama. Tidak ada manusia yang lahir dan wafatnya bersamaan seperti Rasulullah SAW, maka dari itulah Maulid Nabi SAW diperingati. Meskipun hari lahir dan wafatnya bersamaan, namun pada 12 Rabiul Awal, umat Islam tetap merayakan hari kelahiran Nabi, bukan memperingati wafatnya. Hal ini dikarenakan kelahiran Rasulullah SAW merupakan anugerah dari Allah yang patut disyukuri oleh umat manusia, dan kepergiannya patut ditangisi. 2. Bulan hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah Selain menjadi bulan kelahiran dan wafatnya Nabi Muhammad SAW, Rabiul Awal juga menjadi bulan di mana baginda Rasul melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Hijrah tersebut dilakukan Nabi Muhammad SAW atas perintah Allah SWT sebagai upaya untuk menghindari penindasan oleh kaum kafir Quraisy terhadap beliau yang sedang berjuang menyebarkan dakwah Islam. Perjalanan Rasulullah SAW saat hijrah tidaklah mudah, namun beliau senantiasa bersabar, ikhlas, dan bertawakal kepada Allah. 3. Bulan perayaan Maulid Nabi Perayaan Maulid Nabi pada 12 Rabiul Awal menjadi salah satu tradisi yang diadakan oleh umat muslim sebagai bentuk rasa gembira sekaligus penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Kegiatan Maulid Nabi biasa diisi membaca Al-Quran, bershalawat, berzikir, melantunkan doa kepada Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabat, serta berbagi makanan. Kecintaan umat muslim terhadap Rasulullah SAW juga merupakan cerminan dari kecintaan kepada Allah SWT. Sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al-Ahzab ayat 56 berikut: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." 4. Disunahkan memperbanyak shalawat Salah satu keistimewaan dari bulan Rabiul Awal ialah menjadi bulannya shalawat. Pada bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk banyak bershalawat demi memperoleh keberkahan dan ridha Allah SWT di Hari Kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan shawalat kepadanya 10 kali." (HR. Muslim No. 408). Mari kita memanfaatkan momentum bulan Rabiul Awal dengan berbagai amalan baik. Salah satunya dengan menunaikan zakat, infak dan sedekah melalui di BAZNAS Kota Sukabumi.
ARTIKEL08/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Pengertian, jenis dan Syarat Zakat Perusahaan
Pengertian, jenis dan Syarat Zakat Perusahaan
Zakat bukan hanya kewajiban individu muslim, tetapi juga melekat pada perusahaan yang telah memenuhi syarat nishab dan haul. Dalam konteks modern, zakat perusahaan menjadi instrumen penting yang mampu menghubungkan dunia bisnis dengan tanggung jawab sosial, serta menghadirkan keberkahan dalam setiap aktivitas usaha. Perusahaan sebagai entitas hukum dapat dikenai kewajiban zakat atas harta yang dimilikinya. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat serta fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dengan menunaikan zakat, perusahaan tidak hanya melaksanakan kewajiban agama, tetapi juga berkontribusi dalam pembangunan sosial dan pengentasan kemiskinan. Objek zakat perusahaan meliputi berbagai sumber pendapatan dan aset, seperti keuntungan usaha, simpanan, modal yang diputar, hingga hasil investasi yang halal. Jika total kekayaan bersih perusahaan telah mencapai nishab setara dengan 85 gram emas dan telah berjalan selama satu tahun (haul), maka wajib dizakati sebesar 2,5%. Dalam praktiknya, zakat perusahaan dapat dihitung dari laba bersih setelah pajak, atau berdasarkan total aset produktif yang dimiliki. Mekanisme ini memudahkan perusahaan untuk menjalankan kewajiban tanpa mengganggu keberlangsungan operasional. BAZNAS Kota Sukabumi sebagai lembaga resmi pengelola zakat siap membantu proses perhitungan, konsultasi, hingga pelaporan zakat perusahaan dengan transparan. Menunaikan zakat perusahaan memiliki dampak besar bagi masyarakat. Dana zakat yang dihimpun akan disalurkan ke berbagai program pemberdayaan, mulai dari pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Dengan demikian, zakat perusahaan bukan hanya sekadar kewajiban ritual, tetapi juga bentuk nyata dari kepedulian sosial perusahaan. Selain manfaat sosial, zakat perusahaan juga menghadirkan manfaat spiritual dan keberkahan dalam bisnis. Banyak perusahaan besar di dunia yang meyakini bahwa konsistensi dalam berbagi membawa ketenangan, memperkuat reputasi, serta membuka pintu-pintu rezeki yang lebih luas. Dalam perspektif Islam, zakat yang ditunaikan justru menyucikan harta dan memperkokoh keberlangsungan usaha. Dari sisi regulasi, perusahaan yang menyalurkan zakat melalui BAZNAS dapat memperoleh manfaat fiskal berupa pengurang pajak penghasilan (PPh). Hal ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan, yang menyatakan bahwa zakat dapat menjadi pengurang penghasilan kena pajak apabila disalurkan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS. Dengan adanya insentif pajak tersebut, zakat perusahaan menjadi pilihan strategis bagi manajemen untuk menyelaraskan kepatuhan hukum, tanggung jawab sosial, dan nilai spiritual. Perusahaan tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga memperkuat tata kelola bisnis yang berintegritas. BAZNAS Kota Sukabumi mengundang seluruh perusahaan di wilayah Kota Sukabumi untuk berkolaborasi dalam kebaikan ini. Dengan dukungan perusahaan, misi BAZNAS dalam memberdayakan mustahik dan menyejahterakan umat akan semakin kuat. Perusahaan dapat menjadi bagian dari gerakan besar membangun masyarakat yang lebih mandiri, berdaya, dan berkeadilan. Mari jadikan zakat perusahaan sebagai budaya korporasi yang melekat pada setiap langkah bisnis. Dengan menunaikannya melalui BAZNAS Kota Sukabumi, perusahaan tidak hanya mendapatkan keberkahan usaha, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial yang berperan aktif dalam mewujudkan masyarakat sejahtera. Tunaikan zakat perusahaan Anda sekarang, karena keberkahan bisnis dimulai dari keberkahan harta.
ARTIKEL08/09/2025 | Khoirunisa
Pengertian, Jenis dan Syarat Zakat Saham
Pengertian, Jenis dan Syarat Zakat Saham
Perkembangan dunia investasi membuat saham kini menjadi salah satu instrumen populer di kalangan masyarakat. Dalam Islam, kepemilikan saham yang memberikan keuntungan juga termasuk harta yang wajib dizakati apabila telah memenuhi syarat. Zakat saham menjadi wujud nyata penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial investor muslim. Saham pada dasarnya adalah bukti kepemilikan seseorang terhadap sebuah perusahaan. Karena saham bernilai finansial dan memberikan keuntungan berupa dividen maupun capital gain, maka saham termasuk objek zakat apabila mencapai nishab dan haul. Nishab zakat saham disamakan dengan zakat emas, yaitu setara 85 gram emas. Apabila nilai saham yang dimiliki telah mencapai jumlah tersebut dan disimpan selama satu tahun (haul), maka wajib dizakati sebesar 2,5%. Cara menghitung zakat saham bisa dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, jika saham dimiliki sebagai investasi jangka panjang (mirip harta simpanan), maka zakat dihitung berdasarkan nilai pasar saham saat haul tiba, dikalikan 2,5%. Kedua, jika saham diperdagangkan aktif (trading), maka zakat dihitung dari nilai saham ditambah keuntungan bersih, setelah dikurangi kewajiban atau utang terkait investasi. Contoh sederhana: seorang investor memiliki portofolio saham senilai Rp200 juta. Karena nilainya sudah melebihi nishab, maka ia wajib menunaikan zakat sebesar 2,5% × Rp200 juta = Rp5 juta. Zakat tersebut bisa ditunaikan dalam bentuk uang tunai senilai harga saham, bukan dalam bentuk saham fisik. Zakat saham tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga mendatangkan keberkahan bagi investor. Dengan menunaikannya, keuntungan investasi tidak hanya memberikan manfaat pribadi, tetapi juga mengalir untuk kemaslahatan umat. Dari sisi sosial, zakat saham yang disalurkan melalui BAZNAS Kota Sukabumi akan digunakan untuk mendukung berbagai program pemberdayaan umat, seperti pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, zakat saham menjadi bagian penting dalam menciptakan keadilan sosial. Selain manfaat spiritual dan sosial, zakat saham juga memberikan manfaat legal. Zakat yang ditunaikan melalui BAZNAS dapat menjadi pengurang pajak penghasilan (PPh), sehingga investor mendapatkan keberkahan sekaligus manfaat fiskal. BAZNAS Kota Sukabumi siap memfasilitasi para investor dalam menghitung, menunaikan, dan melaporkan zakat saham secara aman, transparan, dan sesuai syariat. Layanan digital yang tersedia memudahkan muzaki untuk membayar zakat saham kapan saja dan di mana saja. Mari jadikan zakat saham sebagai komitmen moral dan spiritual dalam berinvestasi. Dengan menunaikannya melalui BAZNAS Kota Sukabumi, Anda tidak hanya menjaga kesucian harta, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan besar untuk mewujudkan kesejahteraan umat. Tunaikan zakat saham Anda sekarang, agar investasi dunia dan akhirat berjalan seimbang.
ARTIKEL08/09/2025 | Khoirunisa
Niat Puasa Daud: Tata Cara dan Manfaatnya untuk Menumbuhkan Ketakwaan
Niat Puasa Daud: Tata Cara dan Manfaatnya untuk Menumbuhkan Ketakwaan
Puasa Daud adalah salah satu bentuk ibadah puasa sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Cara melakukan puasa daud dilakukan secara selang-seling: sehari berpuasa dan sehari berbuka. Sebelum menjalankan ibadah ini, penting bagi setiap Muslim untuk memahami niat puasa Daud, karena tanpa niat, sebuah amalan tidak akan diterima serta tata cara puasanya Apa Itu Puasa Daud? Puasa Daud merupakan ibadah sunnah yang berpahala besar bagi yang mengamalkannya. Meskipun tidak berdosa bila ditinggalkan, puasa ini memiliki nilai spiritual tinggi yang mendidik jiwa untuk hidup seimbang: satu hari menikmati dunia, satu hari menahan diri dari hal-hal duniawi. Untuk pelaksanaan puasa daud hampir sama dengan puasa pada umumnya Niat Puasa Daud Niat adalah langkah pertama dan utama dalam melaksanakan puasa Daud. Tidak seperti puasa wajib yang harus diniatkan sebelum fajar, puasa sunnah ini boleh diniatkan di pagi hari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Niat di malam hari: "Nawaitu shouma Dawuda sunnatan lillahi ta’ala" (Aku berniat puasa sunnah Daud karena Allah ta’ala) Niat di pagi hari (setelah subuh dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa): "Nawaitu shauma hadzal yaumi an ada’i sunnati Dawuda lillahi ta’ala" (Aku berniat puasa sunnah Daud hari ini karena Allah ta’ala) Tata Cara Menjalankan Puasa Daud 1. Membaca Niat Dianjurkan membaca niat di malam hari, namun diperbolehkan di pagi hari sebelum tergelincir pada hal-hal yang membatalkan puasa. 2. Makan Sahur Sahur adalah sunnah yang penuh berkah. Jika terlewat, puasa tetap sah selama belum membatalkannya. 3. Menahan Diri dari Pembatal Puasa Dari terbit fajar hingga terbenam matahari, seseorang harus menahan diri dari makan, minum, serta perbuatan yang bisa merusak nilai puasa seperti berbohong, gibah, dan maksiat lainnya. 4. Berbuka Puasa Tepat Waktu Waktu berbuka puasa sama seperti puasa lainnya, yaitu saat matahari terbenam. Disunnahkan untuk segera berbuka demi menjaga kesehatan dan mengikuti sunah Nabi. Keutamaan dan Manfaat Puasa Daud Puasa Daud adalah latihan spiritual yang luar biasa. Seseorang belajar untuk mengendalikan diri, menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, serta mendidik hati agar tidak terikat pada kenikmatan dunia semata. Dari sisi kesehatan, puasa Daud juga memberikan banyak manfaat, seperti detoksifikasi tubuh dan memperkuat sistem metabolisme. Dari sisi ruhani, puasa ini meningkatkan ketakwaan dan keikhlasan. Puasa Daud boleh dilakukan sepanjang tahun, kecuali pada hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti: 1 Syawal (Idul Fitri) 10–13 Dzulhijjah (Idul Adha dan hari-hari Tasyrik) Seluruh bulan Ramadhan (karena sudah ada kewajiban puasa) Islam mengajarkan kita untuk beribadah dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih duniawi. Puasa Daud adalah salah satu wujud pengabdian yang dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT. Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli pada kesejahteraan umat, BAZNAS Kota Sukabumi terus mengajak masyarakat untuk meningkatkan amal ibadah, termasuk melalui sedekah dan infak. Kebaikan yang kita tanam hari ini, insyaAllah akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Mari wujudkan semangat berbagi dengan mengakses layanan Sedekah Online BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap rupiah yang Anda sumbangkan, adalah harapan dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.
ARTIKEL08/09/2025 | Khoirunisa
Definisi Sedekah dan Keutamaan
Definisi Sedekah dan Keutamaan
Sedekah merupakan kata yang sangat familiar di kalangan umat Islam. Sedekah diambil dari kata bahasa Arab yaitu “shadaqah”, berasal dari kata sidq (sidiq) yang berarti “kebenaran”. Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Sedekah merupakan amalan yang dicintai Allah SWT. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sedekah, salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 271, “Jika kamu menampakkan sedekah (mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah: 271). Keutamaan Sedekah 1. Sedekah Tidak Mengurangi Harta “Sedekah adalah ibadah yang tidak akan mengurangi harta, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda untuk mengingatkan kita dalam sebuah riwayat Muslim, “sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim). Mengapa sedekah tidak akan mengurangi harta? Karena meskipun secara tersurat harta terlihat berkurang, namun kekurangan tersebut akan ditutup dengan pahala di sisi Allah SWT dan akan terus bertambah kelipatannya menjadi lebih banyak. Hal ini merupakan janji Allah yang termaktub dalam surat Saba “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). 2. Sedekah Menghapus Dosa Sebagai makhluk Allah SWT yang tak luput dari dosa, umat Islam senantiasa diberikan berbagai keistimewaan agar berkesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Salah satunya dengan sedekah. Sedekah merupakan ibadah yang istimewa, ia dapat memudahkan kita dalam menghapus dosa-dosa. Rasulullah SAW pernah bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api. (HR. At-Tirmidzi). 3. Sedekah Melipatgandakan Pahala Sedekah memberikan banyak keistimewaan kepada pelakunya, salah satu diantaranya adalah Allah SWT akan memberikan pahala yang banyak untuk orang yang bersedekah. Allah SWT berfiman, “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18) Itulah beberapa keistimewaan sedekah. Begitu banyak nikmat Allah dalam bersedekah, semoga kita termasuk ke dalam orang orang yang diringankan dalam melakukan ibadah istimewa ini. Aamiin. Tunaikan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi via link berikut: kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL08/09/2025 | Khoirunisa
KEUTAMAAN SHALAT DHUHA DAN DO’A SHALAT DHUHA
KEUTAMAAN SHALAT DHUHA DAN DO’A SHALAT DHUHA
Shalat dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang sangat diajurkan oleh Rasululah SAW. Sangat banyak sekali keterangan dan penjelasan hadits yang menjelaskan kelebihan, keistimewaan, dan keutamaan shalat dhuha ini. Kita tentu akan merasa lebih semangat jika mengetahui keutamaan dari shalat dhuha ini. Karena dengan kita mengetahui keuntungan dan kebaikan bahkan keutamaan dari shalat dhuha kita akan menjadi lebih bersemangat untuk melakukan shalat dhuha ini. Banyak sekali penjelasan dari para ulama yang diungkapkan Rasulullah saw mengenai keutamaan shalat dhuha ini, yaitu: 1. Menjanjikan akan tercukupi hidupnya Shalat dhuha merupakan shalat permohonan rezeki. Dan Allah swt juga berjanji bagi siapa saja yang sering melakukan shalat dhuha Allah akan mencukupi semua kebutuhan umatnya. Dengan janji yang sudah Allah berikan itu, Allah bermaksud memberikan balasan atau timbal balik kepada umatnya yang sudah bersiap mengingat Allah dengan cara melakukan shalat dhuha. Dan janji Allah ini bisa dilihat dalam hadits qudsi. Na'im bin Hammar berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: Allah berfirman, 'Wahai Anak Adam, janganlah sekali-sekali engkau malas melakukan shalat empat rakaat pada pagi hari (salat dhuha) karena akan memenuhi kebutuhanmu hingga sore hari'.” (Hr.Abu Daud) 2. Shalat dhuha sebagai amal persediaan Dan salah satu keutamaan dari shalat dhuha ini ialah shalat sunnah (dhuha) dapat menyempurnakan kekurangan shalat wajib. Seperti yang kita ketahui, shalat adalah salah satu amalan yang pertama kali akan ditanyakan di hari akhir. Dan shalat juga kunci semua amal kebaikan. Jika shalatnya baik maka baiklah amal ibadah yang lainnya. Alasan mengapa shalat dhuha bisa dikatakan sebagai amal ibadah, karena shalat sunnah (dhuha) bisa menjadi amal cadangan yang nantinya dapat menyempurnakan kekurangan dari shalat fardhu. Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari akhir amalannya adalah shalat. Apabila benar shalatnya maka ia telah lulus dan beruntung, dan sebaliknya jika shalatnya rusak maka ia akan kecewa dan rugi. Jika terdapat kekurangan pada shalat wajibnya, maka Allah berfirman, 'perhatikanlah, jikalau hamba-ku mempunyai shalat sunnah maka sempurnakanlah dengan shalat sunnah sekedar apa yang menjadi kekurangan pada shalat wajibnya. Jika urusan shalat, barulah amalan lainnya.” (Hr. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA) 3. Dijauhkan dari siksa api neraka pada hari janji nanti Shalat dhuha menjadi salah satu cara kita untuk menghindari api neraka. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa melakukan shalat fajar, kemudian ia tetap duduk di tempat shalatnya sambal berdzikir hingga matahari terbit kemudia ia melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua rakaat, niscaya allah swt akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya.” (HR. Al-Baihaqi) setelah sahabat shalat doa sebaiknya juga disertai dengan doa sebagai berikut DO' A SHALAT DHUHA Allahumma innad-duhaa'a duhaa'uka wal bahaa'a bahaa'auka wal-jamaala jamaaluka wal-quwwata quwwatuka wal-qudrota qudratuka wal-'ismata 'ismatuka. Allahumma dalam kaana rizqii fis-samaa'i fa anzilhu, wa dalam kaana fil-ardi fa akhrijhu, wa dalam kaana mu'assiran fa yassirhu, wa dalam kaana haraaman fa tahhirhu wa dalam kaana ba'iidan fa qarribhu bi haqqi duhaa'ika wa bahaa'ika wa jamaalika wa quwwatika wa qudratika, aatinii maa aataita 'ibaadakash-shalihiin. Artinya: "Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu Dhuha adalah waktu DhuhaMu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahanMu, kekuatan adalah kekuatanMu, penjagaan adalah penjagaan-Mu" "Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, jika berada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika jauh dekatkanlah dengan kebenaran DhuhaMu, kekuasaanMu (wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang sholeh" untuk menambah rezeki yang berlipat ganda juga bisa dengan bersedekah. karena Allah akan memberikan balasan 7x lipat dari apa yang kita sedekahkan.
ARTIKEL08/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Pengertian, Jenis dan Syarat Zakat Emas
Pengertian, Jenis dan Syarat Zakat Emas
Emas merupakan salah satu harta yang paling bernilai dan banyak dimiliki oleh umat Islam, baik dalam bentuk perhiasan, tabungan, maupun investasi. Islam mengajarkan bahwa emas yang telah mencapai nishab dan haul wajib dizakati. Zakat emas bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga sarana untuk menyucikan harta dan menjaga keberkahannya. Ketentuan zakat emas telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW. Nishab zakat emas ditetapkan sebesar 85 gram emas. Jika seorang muslim memiliki emas dengan jumlah tersebut atau lebih, dan sudah dimiliki selama satu tahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5%. Emas yang wajib dizakati meliputi emas simpanan, emas batangan, maupun emas perhiasan yang tidak dipakai sehari-hari. Sedangkan emas perhiasan yang dipakai secara wajar sebagai kebutuhan, sebagian ulama berpendapat tidak wajib dizakati, namun dianjurkan untuk tetap berzakat sebagai bentuk kehati-hatian dan penyucian harta. Cara menghitung zakat emas cukup mudah. Pertama, hitung total berat emas yang dimiliki. Kedua, pastikan apakah jumlahnya telah mencapai nishab (85 gram). Jika ya, maka zakat yang dikeluarkan adalah 2,5% dari total berat emas yang dimiliki. Zakat ini bisa dibayarkan dalam bentuk emas maupun uang setara nilai emas. Contoh sederhana: jika seseorang memiliki 100 gram emas yang disimpan selama lebih dari satu tahun, maka zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% × 100 gram = 2,5 gram emas, atau senilai harga 2,5 gram emas pada tahun berjalan. Zakat emas tidak akan mengurangi harta, justru menyucikan dan memberkahinya. Rasulullah SAW menegaskan bahwa harta yang dizakati tidak akan berkurang, melainkan akan mendatangkan keberkahan dan menolak bala. Dengan berzakat, pemilik emas turut berbagi kebahagiaan dan membantu mereka yang membutuhkan. Selain kewajiban spiritual, zakat emas juga membawa manfaat sosial yang luas. Dana zakat emas yang terkumpul melalui BAZNAS Kota Sukabumi akan disalurkan kepada mustahik dalam program pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi. Dengan demikian, zakat emas menjadi instrumen nyata dalam mengurangi kesenjangan sosial. BAZNAS Kota Sukabumi sebagai lembaga resmi pengelola zakat hadir untuk mempermudah muzaki dalam menunaikan zakat emas. Melalui layanan digital, muzaki dapat langsung menghitung, membayar, dan menerima laporan penyaluran zakat dengan aman dan transparan. Menunaikan zakat emas melalui BAZNAS Kota Sukabumi juga memiliki nilai tambah dari sisi regulasi. Sesuai ketentuan Undang-Undang, zakat yang disalurkan melalui BAZNAS dapat menjadi pengurang pajak penghasilan (PPh), sehingga muzaki memperoleh manfaat ganda: keberkahan spiritual dan keringanan fiskal. Mari jadikan zakat emas sebagai bagian dari gaya hidup islami yang penuh berkah. Jangan biarkan emas kita hanya tersimpan, tapi jadikan ia sebagai sumber kebermanfaatan bagi sesama. Tunaikan zakat emas Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, agar harta semakin suci, hidup semakin berkah, dan umat semakin sejahtera.
ARTIKEL04/09/2025 | Khoirunisa
Pengertian, jenis dan Syarat Zakat Perdagangan
Pengertian, jenis dan Syarat Zakat Perdagangan
Dalam Islam, setiap harta yang dimiliki seorang muslim memiliki kewajiban zakat apabila telah memenuhi syarat. Salah satunya adalah harta yang diperoleh dari aktivitas perdagangan. Zakat perdagangan menjadi instrumen penting untuk membersihkan harta, menumbuhkan keberkahan usaha, sekaligus mendukung kehidupan masyarakat yang membutuhkan. Zakat perdagangan dikenakan atas harta yang diperoleh dari aktivitas jual beli barang atau jasa, baik dalam skala kecil maupun besar. Pedagang pasar tradisional, pengusaha toko modern, distributor, hingga pemilik bisnis daring (online shop) semuanya berpotensi memiliki kewajiban zakat apabila hartanya sudah mencapai nishab. Ketentuan zakat perdagangan merujuk pada Al-Qur’an, hadis, dan ijma’ ulama. Nishab zakat perdagangan setara dengan 85 gram emas. Jika total nilai barang dagangan dan modal usaha setelah dikurangi hutang mencapai nishab dan telah berlalu satu tahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5%. Cara menghitung zakat perdagangan cukup sederhana. Pertama, hitung nilai seluruh barang dagangan dan aset lancar yang diperdagangkan. Kedua, tambahkan dengan kas atau piutang yang mungkin diterima. Ketiga, kurangi dengan utang jangka pendek yang jatuh tempo. Jika hasil akhirnya mencapai nishab, maka wajib dizakati 2,5%. Contoh sederhana: seorang pedagang memiliki persediaan barang senilai Rp100 juta, kas Rp20 juta, dan piutang Rp10 juta. Ia juga memiliki utang jangka pendek Rp15 juta. Total harta bersihnya adalah Rp115 juta. Karena nilainya melebihi nishab (setara 85 gram emas), maka ia wajib menunaikan zakat perdagangan sebesar 2,5% dari Rp115 juta, yaitu Rp2,875 juta. Zakat perdagangan tidak hanya melaksanakan kewajiban agama, tetapi juga menumbuhkan etika bisnis yang sehat. Pedagang yang konsisten berzakat akan lebih berhati-hati dalam mencari rezeki, menjaga kejujuran, dan mengutamakan kebermanfaatan usaha bagi banyak orang. Selain manfaat spiritual, zakat perdagangan memiliki dampak sosial yang besar. Dana zakat yang terkumpul melalui BAZNAS Kota Sukabumi akan disalurkan kepada mustahik dalam bentuk program pendidikan, kesehatan, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Dengan begitu, zakat perdagangan turut mendorong perputaran ekonomi yang lebih adil. Bagi para pedagang modern, termasuk pelaku e-commerce dan UMKM digital, zakat perdagangan dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kepercayaan pelanggan. Bisnis yang menunaikan zakat akan dipandang lebih amanah dan memiliki tanggung jawab sosial tinggi. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas konsumen sekaligus memperluas pasar. BAZNAS Kota Sukabumi sebagai lembaga resmi pengelola zakat hadir untuk memfasilitasi para pedagang dalam menunaikan kewajiban ini. Kami menyediakan layanan konsultasi perhitungan zakat, kemudahan pembayaran melalui berbagai platform digital, serta laporan penyaluran yang transparan dan akuntabel. Mari sucikan harta dan usahakan keberkahan dalam setiap transaksi dengan menunaikan zakat perdagangan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, zakat Anda akan dikelola secara profesional, sesuai syariat, dan memberi dampak nyata bagi umat. Tunaikan zakat perdagangan Anda sekarang, karena setiap rupiah yang dizakati akan menjadi investasi keberkahan yang tak ternilai.
ARTIKEL04/09/2025 | Khoirunisa
Tadarus Adalah : Makna, Manfaat, dan Praktinya dalam Islam
Tadarus Adalah : Makna, Manfaat, dan Praktinya dalam Islam
Dalam keseharian umat Islam, terutama ketika bulan Ramadhan tiba, kita sering mendengar istilah tadarus Al-Qur’an. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna dari tadarus itu sendiri? Apa yang membedakannya dari sekadar membaca Al-Qur’an? Dan bagaimana praktik tadarus pada zaman Nabi Muhammad SAW hingga kini? Artikel ini akan membahas makna tadarus, manfaatnya dalam kehidupan spiritual, serta praktik yang telah dilakukan para salafus shalih. Yuk, simak selengkapnya! Makna Tadarus : Apa Itu Tadarus? Tadarus berasal dari bahasa Arab, dari akar kata darasa yang berarti mempelajari, meneliti, menelaah, dan mengambil pelajaran. Dalam ilmu nahwu, kata tad?rus termasuk dalam wazan taf?’ul, yang menunjukkan bahwa kegiatan ini melibatkan interaksi dua orang atau lebih. Secara istilah, tadarus adalah aktivitas membaca dan memahami Al-Quran secara bersama dan diulang-ulang. Aktivitas ini tidak hanya terbatas pada pembacaan secara lisan, tetapi juga mencakup penyimak yang harus siaga mendengarkan dan mengamati bacaan sekaligus akan mengganti posisi pembaca pertama, bila kemudian berhenti. Makna Spiritual dari Tadarus Dalam Islam, Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, tetapi juga pedoman hidup. Oleh karena itu, membaca dan mempelajari Al-Qur’an adalah ibadah yang sangat mulia. Tadarus menjadi sarana untuk: • Mendekatkan diri kepada Allah SWT • Membersihkan hati dari penyakit ruhani • Menjadikan hidup lebih terarah dan bermakna • Mempererat ukhuwah saat dilakukan bersama-sama Manfaat Tadarus Al-Qur’an Berikut adalah beberapa keutamaan tadarus yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits: 1. Mendapat Syafaat di Hari Kiamat Tadarus adalah salah satu amalan yang dapat memberi syafaat, atau pertolongan, di hari akhir. Rasulullah SAW bersabda: "Bacalah Al-Qur’an. Sesungguhnya ia akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat." (HR Muslim) 2. Menjadi Teman Para Malaikat Orang yang ahli dan rajin membaca Al-Qur’an akan dikumpulkan bersama para malaikat yang taat: "Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan orang yang terbata-bata dan merasa kesulitan, maka dia mendapat dua pahala." (HR Bukhari dan Muslim) 3. Mendapat Ketenangan Hati Bacaan Al-Qur’an yang dilakukan secara rutin mampu menghadirkan ketenangan dan kesejukan hati, serta menjauhkan dari rasa cemas berlebihan. 4. Meningkatkan Konsentrasi dan Fokus Aktivitas tadarus yang dilakukan dengan khusyuk dapat melatih konsentrasi, meningkatkan kecerdasan spiritual dan emosional. 5. Menguatkan Hafalan Tadarus yang dilakukan secara rutin, terutama dengan cara membaca bersama atau menyimak bacaan orang lain, membantu menguatkan hafalan Al-Qur’an. Etika dan Adab Saat Tadarus Agar aktivitas tadarus menjadi lebih bermakna dan berpahala, berikut beberapa adab yang perlu diperhatikan: 1. Dalam Keadaan Suci Melakukan wudhu sebelum menyentuh mushaf Al-Qur’an. 2. Berpakaian Rapi dan Bersih Sebaiknya memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat. 3. Menghadap Kiblat Disarankan untuk menghadap kiblat sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an. 4. Membaca Taawudz dan Basmalah Selalu memulai dengan membaca a'udzubillah dan bismillah. 5. Membaca dengan Tartil Yaitu membaca dengan perlahan, jelas, dan memperhatikan tajwid. 6. Tidak Membuat Keributan Tadarus dilakukan dengan sikap khusyuk, tenang, dan penuh adab. Praktik Tadarus di Zaman Nabi Muhammad SAW Pada masa Rasulullah SAW, tadarus dilakukan dalam berbagai bentuk. Beliau sering berdiskusi dan memperdengarkan bacaan Al-Qur’an kepada para sahabat, terutama kepada Malaikat Jibril saat bulan Ramadhan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, disebutkan bahwa: "Jibril datang kepada Nabi SAW setiap malam di bulan Ramadhan, lalu keduanya mudarasah (tadarus) Al-Qur'an." (HR Bukhari) Ini menjadi dasar dari tradisi tadarus di bulan Ramadhan, meskipun pada kenyataannya tadarus dapat dan sangat dianjurkan untuk dilakukan sepanjang tahun. Tradisi Tadarus Para Ulama Salaf Para salafus shalih memiliki berbagai metode dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Salah satu yang paling terkenal adalah rumus “Fami Bi Syuq?n” yang digunakan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Berikut pembagiannya: • Jumat: Al-Fatihah – An-Nisa (4 surat) • Sabtu: Al-Maidah – At-Taubah (5 surat) • Ahad: Yunus – An-Nahl (7 surat) • Senin: Al-Isra – Al-Furqan (9 surat) • Selasa: Asy-Syuara – Yasin (11 surat) • Rabu: As-Saffat – Al-Hujurat (13 surat) • Kamis: Qaf – An-Nas (65 surat) Metode ini memungkinkan seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap pekan atau 7 hari. Meskipun tadarus identik dengan bulan Ramadhan, tidak ada larangan untuk bertadarus sepanjang tahun. Bahkan, menjadikan tadarus sebagai kebiasaan harian bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga hubungan dengan Allah. Mari kita jadikan tadarus sebagai bagian dari rutinitas hidup, bukan hanya ketika Ramadhan, tetapi juga di hari-hari biasa.
ARTIKEL04/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk : Peran Mereka dalam Kehidupan Manusia
Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk : Peran Mereka dalam Kehidupan Manusia
Dalam ajaran Islam, tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengawasan. Setiap tindakan, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun diam-diam, semuanya dicatat. Setiap individu diawasi oleh dua malaikat pencatat amal, yang dikenal sebagai Kiraman Katibin. Kedua malaikat ini memiliki tugas khusus: mencatat semua perbuatan manusia, baik yang baik maupun buruk.Salah satu dari mereka adalah malaikat Raqib, yang bertugas mencatat amal baik. Mengetahui keberadaan mereka bukan hanya sekadar pengetahuan agama, tetapi juga sumber motivasi kuat untuk hidup dalam kebaikan dan taat kepada Allah SWT. Siapa Itu Kiraman Katibin? Kiraman Katibin adalah dua malaikat mulia yang senantiasa menyertai setiap manusia. Raqib: Berada di bahu kanan, bertugas mencatat amal baik. Atid: Berada di bahu kiri, mencatat amal buruk. Allah SWT menyebutkan mereka sebagai malaikat yang mulia dan mencatat, yang tidak pernah lalai dalam mencatat segala amal perbuatan. “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (perbuatan-perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10–12) Peran Malaikat Pencatat Amal Baik dan Buruk dalam Kehidupan Manusia Umat Islam harus percaya bahwa Malaikat Raqib dan Malaikat Atid melihat dan mencatat segala amal yang kita lakukan. Kita juga harus percaya bahwa amal yang dicatat itu akan ditunjukkan kembali pada hari akhirat dan Allah akan memberikan balasan berdasarkan catatan itu. Islam sangat menghargai amal kecil namun konsisten. Allah menjamin bahwa tak ada satu pun kebaikan yang luput dari balasan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7) Karena itu berarti tidak ada amal baik yang sia-sia. Dari sedekah besar hingga sekedar senyum kepada orang lain, semua dicatat oleh Malaikat Kesadaran akan adanya malaikat pencatat amal mendorong manusia untuk lebih berhati-hati dalam setiap perbuatan dan perkataan. Mereka termotivasi untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, karena mereka tahu bahwa setiap tindakan mereka diawasi dan dicatat. Ajaran tentang malaikat pencatat amal baik dan buruk juga berfungsi sebagai pendidikan moral dan etika bagi umat Islam. Hal ini mengajarkan pentingnya integritas, kejujuran, dan tanggung jawab pribadi dalam setiap aspek kehidupan. Manusia diajarkan untuk senantiasa berperilaku baik, meskipun tidak ada orang lain yang melihat, karena mereka yakin bahwa malaikat selalu mengawasi. Dengan memahami bahwa setiap tindakan dan perkataan dicatat oleh malaikat, seorang Muslim akan lebih mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang dilarang dan mendorong untuk melakukan hal-hal yang diridhai Allah. Keberadaan malaikat pencatat amal menumbuhkan kesadaran spiritual yang lebih dalam. Manusia menjadi lebih peka terhadap perbuatan mereka dan berusaha untuk memperbaiki diri secara kontinu. Memahami bahwa amal baik dan buruk dicatat juga mengajarkan pentingnya menerima konsekuensi dari setiap perbuatan. Ini membangun rasa tanggung jawab yang kuat dalam diri setiap individu untuk selalu berbuat baik. Malaikat pencatat amal baik dan buruk, Raqib dan Atid, memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Mereka bukan hanya sekadar pencatat, tetapi juga menjadi pengingat bagi manusia untuk selalu berada di jalan yang benar. Kesadaran akan keberadaan mereka mendorong manusia untuk meningkatkan amal baik dan menghindari perbuatan buruk, serta menumbuhkan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, peran mereka sangat signifikan dalam membentuk moral dan etika umat Islam, serta membantu mereka mencapai kehidupan yang diridhai Allah.
ARTIKEL04/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Harga Pertamax Hari Ini: Naik Turun Gak Karuan, Apa Penyebabnya?
Harga Pertamax Hari Ini: Naik Turun Gak Karuan, Apa Penyebabnya?
Harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertamax, sering mengalami fluktuasi yang membingungkan masyarakat. Pada 29 Maret 2025, PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga Pertamax menjadi Rp12.500 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Perubahan harga yang tidak menentu ini menimbulkan pertanyaan, apa sebenarnya yang menyebabkan naik turunnya harga Pertamax? Faktor-Faktor Penyebab Fluktuasi Harga Pertamax 1. Harga Minyak Dunia Harga minyak mentah global sangat mempengaruhi harga BBM di dalam negeri. Kenaikan harga minyak dunia akan meningkatkan biaya produksi BBM, yang kemudian diteruskan ke konsumen. Sebaliknya, penurunan harga minyak dunia dapat memungkinkan penurunan harga BBM. Misalnya, penyesuaian harga BBM nonsubsidi sering mengikuti tren harga rata-rata publikasi minyak seperti Mean of Platts Singapore (MOPS) atau Argus. 2. Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS BBM merupakan produk yang sebagian besar komponennya dipengaruhi oleh transaksi internasional dalam dolar AS. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar akan meningkatkan biaya impor dan produksi, yang dapat menyebabkan kenaikan harga BBM. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat membantu menurunkan harga BBM. 3. Kebijakan Pemerintah Pemerintah memiliki peran dalam menetapkan formula harga BBM non-subsidi. Regulasi yang diterapkan dapat mempengaruhi kapan dan seberapa besar penyesuaian harga BBM dilakukan. Misalnya, keputusan untuk menyesuaikan harga BBM dapat dipengaruhi oleh pertimbangan stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. 4. Biaya Produksi dan Distribusi Faktor internal seperti biaya produksi, distribusi, dan operasional juga mempengaruhi harga BBM. Perubahan dalam biaya-biaya ini, misalnya akibat perawatan kilang atau perubahan biaya logistik, dapat mempengaruhi harga jual BBM. 5. Faktor Musiman dan Permintaan Konsumen Pada periode tertentu seperti menjelang hari raya atau musim liburan, permintaan BBM cenderung meningkat. Hal ini dapat menyebabkan harga BBM naik karena tingginya konsumsi masyarakat. Sebaliknya, pada saat aktivitas ekonomi menurun, harga BBM bisa lebih stabil atau bahkan turun. Dampak Fluktuasi Harga BBM terhadap Masyarakat Perubahan harga BBM, seperti Pertamax, memiliki dampak langsung pada pengeluaran harian masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari. Kenaikan harga BBM dapat meningkatkan biaya transportasi dan harga barang lainnya akibat meningkatnya biaya distribusi. Sebaliknya, penurunan harga BBM dapat memberikan sedikit keringanan bagi anggaran rumah tangga. Selain itu, industri transportasi seperti ojek online dan angkutan umum sangat terdampak oleh perubahan harga BBM. Jika harga Pertamax naik, tarif transportasi pun bisa ikut naik, sehingga membebani pengguna layanan tersebut. Bagaimana Masyarakat Bisa Beradaptasi? Berikut beberapa cara agar masyarakat bisa lebih bijak menghadapi fluktuasi harga BBM: Menggunakan kendaraan yang lebih hemat BBM seperti motor atau mobil dengan teknologi hybrid. Beralih ke transportasi umum seperti bus, MRT, atau KRL untuk menghemat pengeluaran. Mengoptimalkan perjalanan dengan perencanaan rute yang lebih efisien guna menghemat penggunaan BBM. Menggunakan aplikasi perbandingan harga BBM untuk mengetahui SPBU dengan harga yang lebih terjangkau. Kesimpulan Fluktuasi harga Pertamax dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, kebijakan pemerintah, dan biaya produksi serta distribusi. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu masyarakat lebih bijak dalam merencanakan pengeluaran dan mengantisipasi perubahan yang mungkin terjadi. Di tengah dinamika ekonomi yang mempengaruhi harga BBM, penting bagi kita untuk tetap peduli terhadap sesama. Salah satu cara nyata adalah dengan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi. Kontribusi Anda akan membantu mereka yang membutuhkan dan memberikan keberkahan dalam hidup. ???? Yuk, berdonasi sekarang! Sedikit bantuan dari kita, besar manfaatnya bagi mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL30/03/2025 | Duta Zakat
Ini Niat Mandi Idul Fitri! Sunnah Sepele yang Bisa Bikin Lebaran Makin Berkah
Ini Niat Mandi Idul Fitri! Sunnah Sepele yang Bisa Bikin Lebaran Makin Berkah
Hari Raya Idul Fitri merupakan momen kemenangan bagi umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa. Selain melaksanakan sholat Idul Fitri, terdapat berbagai amalan sunnah yang dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah di hari yang fitri ini. Salah satunya adalah mandi sunnah sebelum sholat Idul Fitri. Meskipun terdengar sepele, amalan ini memiliki makna mendalam dan dapat menambah keberkahan di hari raya. Dalam Islam, kebersihan adalah bagian dari iman. Rasulullah SAW mencontohkan bahwa sebelum melaksanakan ibadah penting, seperti sholat Jumat dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), beliau selalu mandi terlebih dahulu. Lalu, bagaimana niat dan tata cara mandi sunnah Idul Fitri? Dan bagaimana pandangan para ulama mengenai sunnah ini? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini. Keutamaan Mandi Sunnah Idul Fitri Mandi sunnah sebelum sholat Idul Fitri dianjurkan sebagai bentuk penyucian diri dan persiapan menyambut hari kemenangan. Amalan ini mencerminkan rasa syukur dan penghormatan terhadap datangnya hari raya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah SAW biasa mandi pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Ibnu Majah) Hadits ini menunjukkan bahwa mandi sebelum berangkat sholat Idul Fitri adalah sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Islam. Bacaan Niat Mandi Idul Fitri Sebelum melaksanakan mandi sunnah Idul Fitri, disarankan untuk membaca niat terlebih dahulu. Berikut adalah lafal niat yang dapat diucapkan: ???????? ????????? ???????? ????????? ??????? ????? ???????? Nawaitul ghusla li ‘îdil fithri sunnatan lillâhi ta‘âlâ. Artinya: "Aku niat mandi untuk merayakan Idul Fitri sebagai sunnah karena Allah Ta'ala." Tata Cara Mandi Sunnah Idul Fitri Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diikuti saat melaksanakan mandi sunnah Idul Fitri: Membaca Niat: Ucapkan niat mandi sunnah Idul Fitri dalam hati sebelum memulai mandi. Membasahi Seluruh Tubuh: Guyur seluruh tubuh dengan air bersih, dimulai dari kepala hingga kaki, pastikan semua bagian tubuh terkena air. Membersihkan Bagian Tubuh: Bersihkan bagian-bagian tubuh seperti sela-sela jari, ketiak, dan lipatan-lipatan lainnya untuk memastikan kebersihan maksimal. Berwudhu: Setelah mandi, disunnahkan untuk berwudhu seperti wudhu saat hendak sholat. Pendapat Ulama tentang Mandi Sunnah Idul Fitri Para ulama dari berbagai mazhab sepakat bahwa mandi sebelum sholat Idul Fitri adalah sunnah. Berikut adalah pandangan masing-masing mazhab: Mazhab Hanafi: Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mandi sebelum sholat Idul Fitri termasuk dalam amalan sunnah yang dianjurkan. Namun, menurut beliau, tidak ada dosa jika seseorang meninggalkannya. Mazhab Maliki: Imam Malik berpendapat bahwa mandi sebelum sholat Idul Fitri termasuk dalam sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Beliau menekankan pentingnya kebersihan saat menghadiri perkumpulan besar seperti sholat Idul Fitri. Mazhab Syafi’i: Imam Syafi’i berpendapat bahwa mandi sebelum sholat Idul Fitri sangat dianjurkan dan lebih utama dilakukan sebelum berangkat ke tempat sholat. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan bahwa mandi sunnah ini dilakukan setelah fajar menyingsing sebelum berangkat sholat Idul Fitri. Mazhab Hanbali: Imam Ahmad bin Hanbal juga menganggap mandi sebelum sholat Idul Fitri sebagai sunnah. Menurut beliau, hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW biasa mandi sebelum sholat dua hari raya. Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa mandi sebelum sholat Idul Fitri memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Islam dan disepakati oleh mayoritas ulama. Amalan Sunnah Lain Sebelum Sholat Idul Fitri Selain mandi sunnah, terdapat beberapa amalan lain yang dianjurkan sebelum melaksanakan sholat Idul Fitri: Makan Sebelum Sholat: Disunnahkan untuk makan terlebih dahulu sebelum berangkat sholat Idul Fitri, seperti mengonsumsi kurma dengan jumlah ganjil. Berhias dan Memakai Pakaian Terbaik: Mengenakan pakaian terbaik dan memakai wangi-wangian sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya. Mengumandangkan Takbir: Memperbanyak membaca takbir sejak malam hingga menjelang pelaksanaan sholat Idul Fitri. Mandi sunnah sebelum sholat Idul Fitri merupakan amalan sederhana namun memiliki makna yang mendalam dalam menyambut hari kemenangan. Dengan melaksanakan amalan ini, kita menunjukkan rasa syukur dan penghormatan terhadap datangnya Idul Fitri. Selain itu, menyempurnakan ibadah di hari raya dengan berbagai amalan sunnah lainnya dapat menambah keberkahan dalam hidup kita. Dalam momen yang penuh berkah ini, mari kita juga meningkatkan kepedulian terhadap sesama dengan menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dengan berbagi, kita tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Klik tombol di bawah ini untuk berdonasi dan sebarkan kebaikan di hari yang fitri ini!
ARTIKEL30/03/2025 | Duta Zakat
Momen Haru di Seluruh Negeri! Kumandang Takbir Idul Fitri 2025 Bergema, Begini Keutamaannya
Momen Haru di Seluruh Negeri! Kumandang Takbir Idul Fitri 2025 Bergema, Begini Keutamaannya
Takbir Idul Fitri merupakan salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Suara takbir menggema di masjid-masjid, mushola, dan rumah-rumah, menciptakan suasana yang penuh kebahagiaan dan haru. Pada Idul Fitri 2025, kumandang takbir kembali menyelimuti negeri, menjadi simbol kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Namun, tahukah Anda bahwa takbir Idul Fitri memiliki keutamaan yang luar biasa dalam Islam? Simak penjelasannya berikut ini. Keutamaan Takbir Idul Fitri Takbir Idul Fitri bukan sekadar lantunan biasa, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki banyak keutamaan. Berikut beberapa keutamaan yang perlu diketahui: 1. Menunjukkan Rasa Syukur kepada Allah Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: "... dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah: 185) Lantunan takbir pada malam Idul Fitri adalah bentuk rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk menjalani bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan amalan yang baik. 2. Menyempurnakan Ibadah Puasa Takbir menjadi pelengkap ibadah Ramadan yang telah dijalankan. Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak bacaan takbir di malam Idul Fitri hingga menjelang sholat Ied. 3. Menambah Pahala dan Mendekatkan Diri kepada Allah Rasulullah SAW bersabda: "Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah dan lebih dicintai untuk dilakukan amalan-amalan kebaikan daripada 10 hari pertama Dzulhijjah. Maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya." (HR. Ahmad) Meskipun hadis ini berkaitan dengan Dzulhijjah, keutamaan takbir juga berlaku dalam konteks Idul Fitri. Bacaan Takbir Idul Fitri Berikut bacaan takbir yang sering dikumandangkan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. Bacaan ini dapat dilantunkan secara berulang-ulang sejak malam takbiran hingga menjelang sholat Idul Fitri. Tata Cara Takbiran Idul Fitri Agar takbiran semakin khusyuk dan sesuai tuntunan, berikut adalah tata cara yang bisa dilakukan: Memulai setelah Maghrib di malam Idul Fitri Dapat dilakukan sendiri atau berjamaah Menggunakan suara lantang dan penuh penghayatan Dilakukan hingga menjelang sholat Ied Takbiran dan Tradisi di Berbagai Negara Takbiran Idul Fitri dirayakan dengan berbagai cara di setiap negara Muslim: Indonesia: Takbiran dilakukan dengan arak-arakan keliling kampung atau kota, baik dengan berjalan kaki maupun kendaraan. Arab Saudi: Suara takbir menggema di seluruh Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan suasana yang begitu khidmat. Mesir: Takbiran sering disertai dengan nyanyian Islami dan acara berkumpul keluarga. Turki: Kumandang takbir bergema di berbagai masjid besar dengan suasana penuh hikmat. Ajakan Berbagi di Hari Kemenangan Hari Raya Idul Fitri bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga tentang berbagi kebahagiaan dengan sesama. Salah satu bentuk berbagi yang dianjurkan dalam Islam adalah menyalurkan zakat, infaq, dan sedekah. BAZNAS Kota Sukabumi mengajak Anda untuk ikut serta dalam momen penuh berkah ini dengan berdonasi kepada mereka yang membutuhkan. Dengan zakat dan sedekah yang Anda berikan, kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. Mari berbagi kebahagiaan di hari kemenangan! Salurkan zakat dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dengan lantunan takbir yang menggema dan hati yang penuh syukur, mari kita rayakan Idul Fitri 2025 dengan kebahagiaan dan kepedulian terhadap sesama. Semoga amal ibadah kita diterima dan kita semua diberkahi di hari yang suci ini. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H!
ARTIKEL30/03/2025 | Duta Zakat
Rahasia Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah yang Bisa Mengubah Hidupmu
Rahasia Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah yang Bisa Mengubah Hidupmu
Bulan Ramadhan merupakan momen istimewa bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika Ramadhan mencapai penghujungnya, perasaan haru dan syukur sering menyelimuti hati kaum Muslimin. Di saat-saat seperti ini, doa akhir Ramadhan sesuai sunnah menjadi amalan penting yang dapat membawa perubahan signifikan dalam hidup kita. Artikel ini akan mengulas bacaan doa akhir Ramadhan, keutamaannya, serta bagaimana doa tersebut dapat mengubah hidup Anda. Pembahasan Utama Bacaan Doa Akhir Ramadhan Sesuai Sunnah Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca pada akhir Ramadhan adalah: ?????????? ??? ?????????? ????? ????????? ???? ?????????? ????????? ?????? ?????????? ????????????? ??????????? ????? ???????????? ??????????? Latin: Allahumma laa taj'alhu aakhiral 'ahdi min shiyaminaa iyyaahu, fa'in ja'altahu f-aj'alnii marhuuman wa laa taj'alnii mahruuman. Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini yang terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikannya sebagai yang terakhir, maka jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau rahmati dan jangan jadikan aku sebagai orang yang Engkau jauhkan dari rahmat-Mu." Keutamaan Doa Akhir Ramadhan 1. Memohon Keberkahan untuk Bertemu Ramadhan Berikutnya Doa ini mencerminkan harapan seorang Muslim untuk dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan di tahun berikutnya, sehingga dapat terus meningkatkan kualitas ibadah dan meraih ampunan Allah SWT. 2. Mendapatkan Rahmat dan Ampunan Dengan membaca doa ini, kita memohon agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya, serta menerima segala amal ibadah yang telah dilakukan selama bulan suci. 3. Meningkatkan Kesadaran Spiritual Membaca doa akhir Ramadhan membantu kita merenungkan perjalanan spiritual selama sebulan penuh, mengevaluasi diri, dan berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang. Pendapat Para Ulama tentang Doa Akhir Ramadhan Mazhab Hanafi Menurut mazhab Hanafi, doa pada akhir Ramadhan sangat dianjurkan sebagai bentuk penghormatan kepada bulan suci yang akan segera berakhir. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa doa-doa yang dipanjatkan pada hari-hari terakhir Ramadhan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Mazhab Maliki Dalam mazhab Maliki, doa di akhir Ramadhan juga dikaitkan dengan permohonan agar amal ibadah yang dilakukan selama sebulan penuh diterima oleh Allah SWT. Imam Malik menekankan pentingnya keikhlasan dalam setiap doa yang dipanjatkan. Mazhab Syafi’i Imam Syafi’i berpendapat bahwa doa-doa di akhir Ramadhan harus mencakup permohonan ampunan, rahmat, serta harapan agar dapat berjumpa dengan Ramadhan berikutnya. Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat sering berdoa di akhir bulan Ramadhan. Mazhab Hambali Menurut mazhab Hambali, doa akhir Ramadhan sangat dianjurkan dan lebih baik jika dilakukan dengan penuh ketundukan dan rasa syukur. Imam Ahmad bin Hanbal menyarankan agar doa ini dilakukan setelah shalat malam atau saat sahur terakhir di bulan Ramadhan. Doa Tambahan di Akhir Ramadhan Selain doa di atas, terdapat doa lain yang dianjurkan untuk dibaca di penghujung Ramadhan: ???????? ????????? ?????? ?????????? ???????????? ????????????? ????????????? ?????????????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? Latin: Rabbanaa taqabbal minnaa shiyaamanaa wa qiyaamanaa wa ruku'anaa wa sujuudanaa wa tilaawaatanaa innaka anta as-samii'ul 'aliim. Artinya: "Ya Tuhan kami, terimalah puasa kami, shalat kami, ruku' kami, sujud kami, dan tilawah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Doa akhir Ramadhan sesuai sunnah merupakan amalan yang sarat makna dan keutamaan. Melalui doa ini, kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan berikutnya, serta mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Selain itu, doa ini membantu kita merenungkan perjalanan spiritual selama Ramadhan dan berkomitmen untuk terus memperbaiki diri. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan selama bulan suci, mari kita tingkatkan kepedulian terhadap sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. BAZNAS Kota Sukabumi siap membantu menyalurkan donasi Anda kepada mereka yang membutuhkan. Dengan berdonasi, kita tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang kurang mampu. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan yang akan datang. Aamiin.
ARTIKEL30/03/2025 | Duta Zakat
Idul Fitri 2025: Kapan Tepatnya? Ini Tanggal Resmi & Perbedaannya di Berbagai Negara!
Idul Fitri 2025: Kapan Tepatnya? Ini Tanggal Resmi & Perbedaannya di Berbagai Negara!
Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia sebagai penanda berakhirnya bulan suci Ramadan. Namun, penetapan tanggal 1 Syawal atau Idul Fitri seringkali berbeda di berbagai negara, bahkan antar organisasi keagamaan dalam satu negara. Lantas, kapan tepatnya Idul Fitri 2025 akan dirayakan? Artikel ini akan membahas tanggal resmi Idul Fitri 2025 di Indonesia dan perbedaannya di berbagai negara. Penetapan Idul Fitri 2025 di Indonesia Di Indonesia, penetapan tanggal Idul Fitri dilakukan melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Sidang ini mempertimbangkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal). Pada tahun 2025, sidang isbat dijadwalkan pada 29 Maret 2025 untuk menentukan apakah 1 Syawal 1446 H jatuh pada 30 atau 31 Maret 2025. Prediksi awal menunjukkan bahwa Idul Fitri kemungkinan besar akan dirayakan serentak pada Senin, 31 Maret 2025. Penetapan oleh Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1446 H jatuh pada Senin, 31 Maret 2025, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal yang mereka anut. Sementara itu, Nahdlatul Ulama (NU) menunggu hasil rukyat hilal pada 29 Ramadan 1446 H (29 Maret 2025) untuk menentukan tanggal Idul Fitri. Jika hilal terlihat, Idul Fitri akan jatuh pada 30 Maret 2025; jika tidak, Ramadan digenapkan menjadi 30 hari, sehingga Idul Fitri jatuh pada 31 Maret 2025. Perbedaan Tanggal Idul Fitri di Berbagai Negara Penetapan Idul Fitri di berbagai negara dapat berbeda karena perbedaan metode dan lokasi geografis. Arab Saudi: Idul Fitri 2025 diperkirakan jatuh pada 30 atau 31 Maret 2025, tergantung hasil rukyat hilal. Amerika Serikat: Penetapan Idul Fitri bergantung pada pengamatan hilal lokal. Dengan awal Ramadan pada 1 Maret 2025, Idul Fitri berpotensi jatuh pada 30 atau 31 Maret 2025. Malaysia dan Brunei: Biasanya mengikuti keputusan rukyat di negara masing-masing atau Arab Saudi. Turki: Menggunakan metode hisab sehingga penetapan Idul Fitri biasanya sudah pasti lebih awal dibandingkan negara lain. Tradisi Idul Fitri di Berbagai Negara Meskipun perayaan Idul Fitri di berbagai negara memiliki perbedaan, esensi dari hari raya ini tetap sama, yaitu momen kemenangan dan kebersamaan. Beberapa tradisi unik Idul Fitri di berbagai negara antara lain: Indonesia: Mudik, halal bihalal, dan tradisi berbagi THR. Arab Saudi: Sholat Id di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta perayaan keluarga. Turki: "?eker Bayram?" atau Festival Gula, dengan berbagi permen dan makanan manis. Pakistan & India: Festival "Eid Milan" yang diisi dengan makanan khas seperti seviyan (sajian bihun manis). Malaysia: Rumah terbuka dan makan bersama keluarga besar. Hikmah dan Makna Idul Fitri Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi juga saat untuk introspeksi diri. Beberapa nilai utama yang dapat diambil dari Idul Fitri adalah: Meningkatkan Ketaqwaan: Ramadan telah melatih kita untuk lebih dekat dengan Allah SWT, dan Idul Fitri adalah momentum untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut. Mempererat Silaturahmi: Idul Fitri adalah kesempatan emas untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, dan sesama umat Islam. Menjaga Kepedulian Sosial: Kewajiban zakat fitrah sebelum Idul Fitri adalah bentuk kepedulian sosial agar semua umat Islam dapat merayakan hari kemenangan dengan bahagia. Kesimpulan Penetapan tanggal Idul Fitri 2025 di Indonesia dan berbagai negara dapat berbeda berdasarkan metode perhitungan dan pengamatan hilal yang digunakan. Meskipun demikian, perbedaan ini seharusnya tidak mengurangi makna dan kekhidmatan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sebagai umat Muslim, momen Idul Fitri juga menjadi waktu yang tepat untuk meningkatkan kepedulian sosial melalui zakat, infak, dan sedekah. BAZNAS Kota Sukabumi mengajak Anda untuk menyalurkan zakat dan sedekah guna membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mari bersama-sama membangun masyarakat yang lebih sejahtera dan harmonis.
ARTIKEL29/03/2025 | Duta Zakat
Jangan Salah! Doa Zakat Ini Bikin Hartamu Berkah & Hidup Makin Tenang
Jangan Salah! Doa Zakat Ini Bikin Hartamu Berkah & Hidup Makin Tenang
Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim yang mampu. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, zakat juga berperan dalam membersihkan harta dan jiwa, serta membantu mereka yang membutuhkan. Namun, dalam menunaikan zakat, penting untuk memahami doa dan niat yang tepat agar ibadah ini diterima dan memberikan keberkahan dalam hidup. Artikel ini akan membahas berbagai doa zakat, khususnya zakat fitrah, beserta tata cara dan manfaatnya. Pembahasan Utama 1. Pentingnya Niat dalam Zakat Niat merupakan inti dari setiap ibadah, termasuk zakat. Tanpa niat yang benar, ibadah bisa menjadi sia-sia. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari & Muslim) Oleh karena itu, sebelum menunaikan zakat, penting untuk melafalkan niat sesuai dengan jenis zakat yang akan ditunaikan. 2. Niat Zakat Fitrah Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim menjelang Idul Fitri sebagai penyucian diri setelah berpuasa selama Ramadan. Berikut adalah beberapa bacaan niat zakat fitrah sesuai dengan penerimanya: Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri Nawaitu an ukhrija zakatal fithri 'an nafsi fardhan lillahi ta'ala. Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku sendiri, fardu karena Allah Ta'ala." Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri dan Keluarga Nawaitu an ukhrija zakatal fithri 'anni wa 'an jami'i ma yalzamuni nafaqatuhum syar'an fardhan lillahi ta'ala. Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk diriku dan seluruh orang yang nafkahnya menjadi tanggunganku, fardu karena Allah Ta'ala." Niat Zakat Fitrah untuk Istri Nawaitu an ukhrija zakatal fithri 'an zaujati fardhan lillahi ta'ala. Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk istriku, fardu karena Allah Ta'ala." Niat Zakat Fitrah untuk Anak Nawaitu an ukhrija zakatal fithri 'an waladi (sebut nama) fardhan lillahi ta'ala. Artinya: "Aku niat mengeluarkan zakat fitrah untuk anakku (sebut nama), fardu karena Allah Ta'ala." 3. Doa Setelah Membayar Zakat Selain niat, ada doa khusus yang bisa dibaca setelah membayar zakat agar mendapatkan keberkahan: “Allahumma taqabbal minni wa min jami’il muslimin.” Artinya: “Ya Allah, terimalah zakatku ini dan zakat seluruh kaum Muslimin.” 4. Besaran Zakat Fitrah Tahun 2025 Besaran zakat fitrah ditetapkan berdasarkan harga makanan pokok yang dikonsumsi sehari-hari. Untuk tahun 2025, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menetapkan besaran zakat fitrah sebagai berikut: Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek): Rp47.000 per jiwa, setara dengan 2,5 kg atau 3,5 liter beras premium. Wilayah Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Lebak: Rp40.000 per jiwa. Besaran ini dapat berbeda di setiap daerah, tergantung pada harga beras yang berlaku. 5. Cara Membayar Zakat Fitrah Secara Online Di era digital, membayar zakat fitrah menjadi lebih mudah melalui layanan online. BAZNAS Kota Sukabumi menyediakan platform pembayaran zakat fitrah secara online yang aman dan terpercaya. Berikut langkah-langkahnya: Kunjungi Situs Resmi BAZNAS Kota Sukabumi Masuk ke laman resmi BAZNAS Kota Sukabumi untuk menemukan opsi pembayaran zakat fitrah. Pilih Jenis Zakat yang Akan Dibayarkan Pastikan memilih kategori zakat fitrah sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Masukkan Nominal Sesuai Ketentuan Sesuaikan nominal pembayaran dengan jumlah jiwa yang akan dibayarkan. Lakukan Pembayaran Gunakan metode pembayaran yang tersedia, seperti transfer bank, dompet digital, atau QRIS. Konfirmasi Pembayaran Simpan bukti pembayaran dan pastikan dana sudah diterima oleh BAZNAS. 6. Manfaat Menunaikan Zakat Fitrah Menunaikan zakat fitrah tidak hanya bernilai ibadah tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi, seperti: Membersihkan Diri dan Harta – Zakat fitrah berfungsi sebagai penyucian jiwa setelah Ramadan. Membantu Kaum Dhuafa – Dana zakat disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya. Meningkatkan Solidaritas Sosial – Masyarakat lebih peduli terhadap sesama. Mendapatkan Keberkahan Hidup – Allah SWT akan melipatgandakan rezeki bagi mereka yang bersedekah. Kesimpulan Zakat fitrah adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu dan harus ditunaikan sebelum hari raya Idul Fitri. Dengan memahami niat dan doa zakat, kita dapat melaksanakan ibadah ini dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Selain itu, membayar zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi memastikan bahwa dana zakat Anda dikelola dengan baik dan sampai kepada yang berhak menerimanya. Jangan tunda lagi, tunaikan zakat fitrah Anda sekarang juga melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadilah bagian dari kebaikan!
ARTIKEL29/03/2025 | Duta Zakat
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →