WhatsApp Icon
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia menentukan apa yang layak diperjuangkan.

Suara yang keras lebih mudah didengar. Mereka yang memiliki kuasa lebih mudah mendapatkan perhatian. Mereka yang memiliki akses lebih besar lebih mudah mempertahankan kepentingannya.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki semua itu?

Hewan yang kehilangan habitatnya tidak dapat menyampaikan keberatan. Hutan yang ditebang tidak dapat meminta waktu untuk pulih. Masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan pihak yang jauh lebih berkuasa.

Mereka tetap mengalami dampaknya.

Hanya saja, mereka tidak selalu memiliki suara yang cukup kuat untuk membuat dunia berhenti dan mendengarkan.

Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri bahwa jangan-jangan sesuatu yang paling mudah dikorbankan justru adalah sesuatu yang paling tidak mampu membela dirinya sendiri.

Ketika Kekuatan Menentukan Siapa yang Didengar

Dalam kehidupan, kekuatan tidak selalu berbentuk jabatan atau uang.

Kekuatan dapat berupa akses, pengetahuan, jaringan, status sosial, kepemilikan, bahkan kemampuan untuk membuat suara kita didengar.

Sebaliknya, ketidakberdayaan juga memiliki banyak bentuk.

Ada orang yang tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ada yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan haknya. Ada yang takut berbicara karena khawatir kehilangan pekerjaan atau sumber penghidupan.

Ketika dua pihak memiliki kekuatan yang sangat berbeda, keputusan yang dihasilkan belum tentu mencerminkan keadilan.

Yang lebih kuat bisa menentukan arah.

Yang lebih lemah sering kali hanya menerima akibatnya.

Persoalannya menjadi semakin serius ketika ketimpangan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal.

“Mereka toh tidak bisa berbuat apa-apa.”

Kalimat semacam ini mungkin tidak pernah diucapkan secara terang-terangan. Namun ketika manusia mulai berpikir demikian, di situlah keserakahan menemukan ruang untuk tumbuh.

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan 

Yang Tidak Bisa Mengeluh Bukan Berarti Tidak Menderita

Salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan adalah mengukur penderitaan berdasarkan kemampuan seseorang untuk mengungkapkannya.

Kita lebih mudah memahami seseorang yang menangis daripada seseorang yang diam.

Lebih mudah memperhatikan orang yang menyampaikan keluhan daripada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk berbicara.

Padahal diam tidak selalu berarti tidak terluka.

Ketika lingkungan rusak, dampaknya dapat muncul bertahun-tahun kemudian. Ketika sumber penghidupan hilang, sebuah keluarga mungkin tidak langsung terlihat menderita di hadapan kita. Ketika kelompok rentan kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, dampaknya mungkin berlangsung jauh lebih panjang daripada pemberitaan tentang peristiwa tersebut.

Karena itu, kepedulian tidak seharusnya menunggu seseorang menjadi cukup kuat untuk meminta pertolongan.

Justru mereka yang paling lemah sering membutuhkan perhatian sebelum mampu meminta.

Islam Menempatkan Kekuatan sebagai Amanah

Islam tidak mengajarkan bahwa yang kuat boleh melakukan apa saja terhadap yang lemah.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)

Keadilan dalam ayat ini bukan sekadar memperlakukan semua orang dengan cara yang sama.

Keadilan juga berarti menempatkan sesuatu pada haknya dan tidak menggunakan posisi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan secara zalim.

Karena itu, kekuatan seharusnya melahirkan tanggung jawab.

Jika kita memiliki lebih banyak kemampuan, seharusnya semakin besar pula kemampuan kita untuk melindungi.

Jika memiliki pengaruh, seharusnya semakin besar keberanian untuk menyuarakan mereka yang tidak terdengar.

Jika memiliki sumber daya, seharusnya semakin besar kesadaran bahwa kehidupan orang lain tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar demi kepentingan kita.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa kepedulian memiliki tingkatan. Tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama, tetapi ketidakmampuan bukan alasan untuk kehilangan kepedulian.

Keserakahan Tidak Selalu Terlihat Seperti Mengambil

Kita sering membayangkan keserakahan sebagai seseorang yang ingin memiliki semakin banyak.

Namun ada bentuk yang lebih berbahaya yakni ketika seseorang menganggap penderitaan pihak lain sebagai biaya yang wajar untuk mencapai kepentingannya.

Ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada dampaknya.

Ketika kenyamanan sendiri dianggap lebih penting daripada kehidupan makhluk lain.

Ketika orang yang tidak mampu melawan dianggap sebagai pihak yang paling mudah dikorbankan.

Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar tentang memiliki terlalu banyak.

Ini tentang hilangnya batas moral ketika manusia mengejar kepentingannya.

Dan mungkin kita perlu bercermin.

Tidak harus pada persoalan besar.

Apakah kita pernah memanfaatkan orang yang sulit menolak?

Apakah kita pernah mengambil keuntungan dari seseorang karena tahu ia tidak memiliki posisi untuk membantah?

Apakah kita pernah mengabaikan kebutuhan orang lain hanya karena mereka tidak cukup dekat, tidak cukup kuat, atau tidak cukup mampu meminta?

Keserakahan bisa tumbuh dalam keputusan yang sangat kecil sebelum akhirnya menjadi kebiasaan besar.

Menjadi Kuat untuk Melindungi, Bukan Mengeksploitasi

Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang mampu membantu mereka yang membutuhkan.

Ia juga masyarakat yang tidak membiarkan pihak yang lemah semakin kehilangan daya.

Karena itu, kepedulian memiliki makna yang lebih luas daripada rasa kasihan.

Ia adalah kesediaan untuk menyadari bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati, termasuk mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkannya sendiri.

Semangat ini juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. BAZNAS, melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan, menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

ZIS dengan demikian bukan hanya tentang memberi kepada mereka yang meminta.

Ia juga menjadi pengingat bahwa ada hak dan kebutuhan orang lain yang mungkin tidak pernah sampai kepada kita dalam bentuk permintaan.

Sebelum Bertanya Siapa yang Pantas Dibantu

Mungkin kita terlalu sering menunggu suara terdengar sebelum memutuskan untuk peduli.

Padahal tidak semua penderitaan memiliki suara.

Tidak semua kehilangan mampu diceritakan.

Tidak semua ketidakadilan memiliki kekuatan untuk diperjuangkan.

Maka, mungkin ukuran kemanusiaan bukan hanya seberapa cepat kita merespons mereka yang mampu meminta pertolongan.

Tetapi juga seberapa peka kita melihat mereka yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk meminta.

Sebab kekuatan yang sebenarnya bukanlah kemampuan untuk membuat yang lemah tunduk.

Kekuatan adalah ketika kita memiliki kemampuan untuk mengambil keuntungan dari kelemahan seseorang, tetapi memilih untuk menggunakan kekuatan itu agar mereka tetap memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, dan bermartabat.

27/08/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?

Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?

Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul.

Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya?

Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan.

Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan? 

Ketika Semua Disebut “Sedekah”

Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah.

Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda.

Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya.

Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”

Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial.

Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah?

Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu.

Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta.

Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap kebaikan adalah sedekah.”
(HR. Muslim)

Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja.

Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri.

“Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?”

Di sinilah pemahaman menjadi penting.

Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan.

Semua itu adalah kebaikan.

Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat.

Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya.

Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan.

Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal.

Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?”

Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan.

Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi.

Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening.

Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain.

Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna

Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut.

Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya.

Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.

Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah.

Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan.

Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”

21/08/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?

Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?

Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima.

Sederhana.

Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?"

Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan?

Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?"

Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri.

Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan

Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan.

Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat.

Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya.

Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama.

Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?"

Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh.

Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi?

Di sinilah perspektifnya perlu dibalik.

Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan.

Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang?

Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu.

Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan.

Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan.

Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan

Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7:

“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”

Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan.

Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut.

Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…”

Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan.

Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi? 

Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan

Bayangkan dua bentuk bantuan.

Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari.

Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan.

Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat.

Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?”

Inilah inti dari pemberdayaan.

Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan.

Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri.

ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan

Di sinilah masyarakat memiliki peran.

Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan.

Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia.

Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?”

Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima

Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang.

Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan.

Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi.

Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita.

Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian.

Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.

19/08/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat

SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi.

Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
SUMPAH JABATAN

Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut:

  • Ketua: Aceng Najmudin Nawawi
  • Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah
  • Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin
  • Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan
  • Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh

Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS

Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031.

Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat.

Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi.

Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik.

BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat

13/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Jangan Abaikan Khusyuk, Karena Inilah Ruh Salat

Salat merupakan ibadah yang menjadi tiang agama dan pembeda antara seorang Muslim dengan kekafiran. Namun, tidak sedikit orang yang melaksanakan salat hanya sebagai rutinitas harian tanpa menghadirkan hati di hadapan Allah SWT. Gerakan dilakukan dengan benar, bacaan dilafalkan dengan fasih, tetapi pikiran justru melayang ke urusan dunia. Inilah sebabnya mengapa khusyuk menjadi ruh salat yang tidak boleh diabaikan.

Tanpa khusyuk, salat hanya menjadi rangkaian gerakan fisik. Sebaliknya, dengan khusyuk, salat menjadi sarana komunikasi yang penuh makna antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami pentingnya menjaga kekhusyukan agar salat benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan.

Apa Itu Khusyuk dalam Salat?

Khusyuk adalah keadaan hati yang penuh ketundukan, rasa takut, harap, dan pengagungan kepada Allah SWT saat melaksanakan salat. Khusyuk membuat seseorang fokus pada ibadah yang sedang dikerjakannya serta menjauhkan diri dari gangguan pikiran yang tidak bermanfaat.

Allah SWT berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”

(QS. Al-Mu’minun: 1-2)

Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri utama orang beriman yang beruntung adalah mereka yang menjaga kekhusyukan dalam salatnya.

Mengapa Khusyuk Disebut Ruh Salat?

Salat Tanpa Khusyuk Kehilangan Maknanya

Jangan Abaikan Khusyuk, Karena Inilah Ruh Salat  

Tujuan utama salat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika hati tidak hadir, maka hikmah dan pengaruh salat dalam kehidupan sehari-hari menjadi berkurang.

Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya seseorang selesai dari salatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari salatnya.”

(HR. Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas salat sangat dipengaruhi oleh tingkat kekhusyukan seseorang.

Khusyuk Membawa Ketenangan Jiwa

Di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, salat yang khusyuk menjadi tempat terbaik untuk menenangkan hati. Saat seseorang benar-benar menghadapkan diri kepada Allah SWT, ia akan merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Tanda-Tanda Salat yang Khusyuk

Hati Fokus kepada Allah SWT

Orang yang khusyuk menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini membuatnya lebih tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan salat.

Memahami Bacaan Salat

Ketika memahami arti bacaan yang diucapkan, hati akan lebih mudah tersentuh dan meresapi makna setiap doa serta ayat yang dibaca.

Menjaga Gerakan dengan Tenang

Salat yang khusyuk tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap rukuk, sujud, dan duduk dilakukan dengan tuma'ninah serta penuh penghayatan.

Cara Meningkatkan Khusyuk dalam Salat

Persiapkan Diri Sebelum Salat

Datang lebih awal ke masjid atau menenangkan diri sebelum takbiratul ihram dapat membantu mengurangi gangguan pikiran.

Pahami Makna Bacaan

Luangkan waktu untuk mempelajari arti bacaan salat. Semakin memahami maknanya, semakin mudah hati menghadirkan kekhusyukan.

Jauhkan Gangguan

Matikan atau senyapkan ponsel, pilih tempat yang tenang, dan hindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian saat salat.

Perbanyak Doa dan Istighfar

Memohon pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan hati yang khusyuk merupakan salah satu ikhtiar terbaik. Karena pada hakikatnya, kekhusyukan adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya.

Khusyuk yang Melahirkan Kepedulian

Salat yang khusyuk tidak hanya berdampak pada hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga memengaruhi sikapnya terhadap sesama manusia. Orang yang benar-benar memahami makna salat akan lebih mudah bersyukur, lebih rendah hati, dan lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan.

Allah SWT berfirman:

“Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.”

(QS. Al-Baqarah: 43)

Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan kepedulian sosial melalui zakat memiliki hubungan yang erat. Ibadah yang baik akan melahirkan kepedulian yang nyata kepada sesama.

Jadikan Salat sebagai Jalan Menuju Keberkahan

Saat kita berusaha memperbaiki kualitas salat, jangan lupa bahwa masih banyak saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan adalah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS

Berita Terbaru

Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan
Yang Tidak Bisa Bersuara Sering Menjadi yang Pertama Dikorbankan Ada sesuatu yang ganjil dalam cara manusia menentukan apa yang layak diperjuangkan. Suara yang keras lebih mudah didengar. Mereka yang memiliki kuasa lebih mudah mendapatkan perhatian. Mereka yang memiliki akses lebih besar lebih mudah mempertahankan kepentingannya. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki semua itu? Hewan yang kehilangan habitatnya tidak dapat menyampaikan keberatan. Hutan yang ditebang tidak dapat meminta waktu untuk pulih. Masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan pihak yang jauh lebih berkuasa. Mereka tetap mengalami dampaknya. Hanya saja, mereka tidak selalu memiliki suara yang cukup kuat untuk membuat dunia berhenti dan mendengarkan. Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri bahwa jangan-jangan sesuatu yang paling mudah dikorbankan justru adalah sesuatu yang paling tidak mampu membela dirinya sendiri. Ketika Kekuatan Menentukan Siapa yang Didengar Dalam kehidupan, kekuatan tidak selalu berbentuk jabatan atau uang. Kekuatan dapat berupa akses, pengetahuan, jaringan, status sosial, kepemilikan, bahkan kemampuan untuk membuat suara kita didengar. Sebaliknya, ketidakberdayaan juga memiliki banyak bentuk. Ada orang yang tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ada yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan haknya. Ada yang takut berbicara karena khawatir kehilangan pekerjaan atau sumber penghidupan. Ketika dua pihak memiliki kekuatan yang sangat berbeda, keputusan yang dihasilkan belum tentu mencerminkan keadilan. Yang lebih kuat bisa menentukan arah. Yang lebih lemah sering kali hanya menerima akibatnya. Persoalannya menjadi semakin serius ketika ketimpangan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal. “Mereka toh tidak bisa berbuat apa-apa.” Kalimat semacam ini mungkin tidak pernah diucapkan secara terang-terangan. Namun ketika manusia mulai berpikir demikian, di situlah keserakahan menemukan ruang untuk tumbuh. Yang Tidak Bisa Mengeluh Bukan Berarti Tidak Menderita Salah satu jebakan terbesar dalam kehidupan adalah mengukur penderitaan berdasarkan kemampuan seseorang untuk mengungkapkannya. Kita lebih mudah memahami seseorang yang menangis daripada seseorang yang diam. Lebih mudah memperhatikan orang yang menyampaikan keluhan daripada mereka yang tidak memiliki kesempatan untuk berbicara. Padahal diam tidak selalu berarti tidak terluka. Ketika lingkungan rusak, dampaknya dapat muncul bertahun-tahun kemudian. Ketika sumber penghidupan hilang, sebuah keluarga mungkin tidak langsung terlihat menderita di hadapan kita. Ketika kelompok rentan kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar, dampaknya mungkin berlangsung jauh lebih panjang daripada pemberitaan tentang peristiwa tersebut. Karena itu, kepedulian tidak seharusnya menunggu seseorang menjadi cukup kuat untuk meminta pertolongan. Justru mereka yang paling lemah sering membutuhkan perhatian sebelum mampu meminta. Islam Menempatkan Kekuatan sebagai Amanah Islam tidak mengajarkan bahwa yang kuat boleh melakukan apa saja terhadap yang lemah. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisa: 58) Keadilan dalam ayat ini bukan sekadar memperlakukan semua orang dengan cara yang sama. Keadilan juga berarti menempatkan sesuatu pada haknya dan tidak menggunakan posisi yang dimiliki untuk mengambil keuntungan secara zalim. Karena itu, kekuatan seharusnya melahirkan tanggung jawab. Jika kita memiliki lebih banyak kemampuan, seharusnya semakin besar pula kemampuan kita untuk melindungi. Jika memiliki pengaruh, seharusnya semakin besar keberanian untuk menyuarakan mereka yang tidak terdengar. Jika memiliki sumber daya, seharusnya semakin besar kesadaran bahwa kehidupan orang lain tidak boleh menjadi harga yang harus dibayar demi kepentingan kita. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya.”(HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa kepedulian memiliki tingkatan. Tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama, tetapi ketidakmampuan bukan alasan untuk kehilangan kepedulian. Keserakahan Tidak Selalu Terlihat Seperti Mengambil Kita sering membayangkan keserakahan sebagai seseorang yang ingin memiliki semakin banyak. Namun ada bentuk yang lebih berbahaya yakni ketika seseorang menganggap penderitaan pihak lain sebagai biaya yang wajar untuk mencapai kepentingannya. Ketika keuntungan menjadi lebih penting daripada dampaknya. Ketika kenyamanan sendiri dianggap lebih penting daripada kehidupan makhluk lain. Ketika orang yang tidak mampu melawan dianggap sebagai pihak yang paling mudah dikorbankan. Di titik itu, persoalannya bukan lagi sekadar tentang memiliki terlalu banyak. Ini tentang hilangnya batas moral ketika manusia mengejar kepentingannya. Dan mungkin kita perlu bercermin. Tidak harus pada persoalan besar. Apakah kita pernah memanfaatkan orang yang sulit menolak? Apakah kita pernah mengambil keuntungan dari seseorang karena tahu ia tidak memiliki posisi untuk membantah? Apakah kita pernah mengabaikan kebutuhan orang lain hanya karena mereka tidak cukup dekat, tidak cukup kuat, atau tidak cukup mampu meminta? Keserakahan bisa tumbuh dalam keputusan yang sangat kecil sebelum akhirnya menjadi kebiasaan besar. Menjadi Kuat untuk Melindungi, Bukan Mengeksploitasi Masyarakat yang sehat bukan hanya masyarakat yang mampu membantu mereka yang membutuhkan. Ia juga masyarakat yang tidak membiarkan pihak yang lemah semakin kehilangan daya. Karena itu, kepedulian memiliki makna yang lebih luas daripada rasa kasihan. Ia adalah kesediaan untuk menyadari bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati, termasuk mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkannya sendiri. Semangat ini juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial. BAZNAS, melalui berbagai program kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan, menjadi salah satu wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan. ZIS dengan demikian bukan hanya tentang memberi kepada mereka yang meminta. Ia juga menjadi pengingat bahwa ada hak dan kebutuhan orang lain yang mungkin tidak pernah sampai kepada kita dalam bentuk permintaan. Sebelum Bertanya Siapa yang Pantas Dibantu Mungkin kita terlalu sering menunggu suara terdengar sebelum memutuskan untuk peduli. Padahal tidak semua penderitaan memiliki suara. Tidak semua kehilangan mampu diceritakan. Tidak semua ketidakadilan memiliki kekuatan untuk diperjuangkan. Maka, mungkin ukuran kemanusiaan bukan hanya seberapa cepat kita merespons mereka yang mampu meminta pertolongan. Tetapi juga seberapa peka kita melihat mereka yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk meminta. Sebab kekuatan yang sebenarnya bukanlah kemampuan untuk membuat yang lemah tunduk. Kekuatan adalah ketika kita memiliki kemampuan untuk mengambil keuntungan dari kelemahan seseorang, tetapi memilih untuk menggunakan kekuatan itu agar mereka tetap memiliki ruang untuk hidup, tumbuh, dan bermartabat.
BERITA27/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan?
Zakat, Infak, dan Sedekah Bukan Sekadar Memberi: Apa yang Sebenarnya Sedang Kita Tunaikan? Di tengah kemudahan informasi hari ini, kita dapat menemukan jawaban tentang hampir apa pun hanya dalam hitungan detik. Termasuk ketika ingin mengetahui tentang zakat, infak, dan sedekah. Tinggal mengetik pertanyaan, berbagai jawaban langsung muncul. Namun, kemudahan tersebut menghadirkan persoalan baru yakni apakah kita benar-benar memahami apa yang kita lakukan, atau hanya mengetahui istilahnya? Kita mungkin sering mendengar kalimat, “yang penting berbagi.” Kalimat itu terdengar baik. Tetapi dalam Islam, berbagi bukan hanya persoalan seberapa banyak harta yang keluar dari tangan kita. Ada perbedaan antara kewajiban, anjuran, bentuk pemberian, dan makna kebaikan yang perlu dipahami agar ibadah tidak berhenti sebagai kebiasaan tanpa pengetahuan. Ketika Semua Disebut “Sedekah” Dalam percakapan sehari-hari, zakat, infak, dan sedekah sering digunakan seolah-olah memiliki arti yang sama. Seseorang membayar zakat disebut sedekah, memberikan uang kepada orang lain disebut sedekah, bahkan membantu seseorang dengan tenaga pun dapat disebut sedekah. Secara umum, istilah tersebut memang memiliki keterkaitan. Namun, dalam konteks syariat, ketiganya memiliki cakupan dan ketentuan yang berbeda. Zakat merupakan kewajiban bagi seorang Muslim yang memenuhi syarat tertentu. Ada ketentuan mengenai jenis harta, nisab, haul pada jenis harta tertentu, serta golongan yang berhak menerimanya. Artinya, zakat bukan sekadar, “Saya sedang ingin berbagi.”. Zakat adalah amanah yang memiliki aturan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang lebih dari sekadar pemberian sukarela. Ia merupakan bagian dari kewajiban yang memiliki fungsi penyucian harta sekaligus tanggung jawab sosial. Lalu, Apa Bedanya dengan Infak dan Sedekah? Secara sederhana, infak dapat dipahami sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk berbagai keperluan yang dibenarkan dalam Islam. Cakupannya lebih luas daripada zakat karena tidak terikat pada nisab dan ketentuan zakat tertentu. Sementara itu, sedekah memiliki makna yang lebih luas lagi. Sedekah tidak selalu berbentuk uang atau harta. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kebaikan adalah sedekah.”(HR. Muslim) Karena itu, membantu orang lain, memberikan manfaat, dan melakukan kebaikan juga dapat menjadi bentuk sedekah. Dari sini kita dapat memahami bahwa ketiganya bukan sekadar tiga kata yang dapat dipertukarkan begitu saja. Zakat memiliki kewajiban dan ketentuan. Infak berkaitan dengan pengeluaran harta untuk kebaikan. Sedekah memiliki cakupan kebaikan yang lebih luas, termasuk nonmateri. “Saya Sudah Banyak Sedekah, Berarti Sudah Cukup untuk Zakat?” Di sinilah pemahaman menjadi penting. Bayangkan seseorang memiliki harta yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Ia kemudian rutin memberikan uang kepada orang lain, membantu tetangga, memberi makanan, dan bersedekah melalui berbagai kesempatan. Semua itu adalah kebaikan. Namun, kebaikan tersebut tidak otomatis menggantikan kewajiban zakat. Mengapa? Karena zakat memiliki aturan tersendiri. Jika seseorang memang telah memenuhi syarat wajib zakat, maka kewajiban tersebut perlu ditunaikan sesuai ketentuannya. Sebaliknya, seseorang yang belum memenuhi syarat wajib zakat tidak perlu memaksakan diri seolah-olah ia memiliki kewajiban yang belum melekat padanya. Ia tetap dapat berbuat baik melalui infak dan sedekah sesuai kemampuan. Pemahaman seperti ini penting agar kita tidak hanya rajin beramal, tetapi juga tepat dalam beramal. Jangan Hanya Bertanya “Sudah Memberi atau Belum?” Menjadi Muslim bukan hanya tentang memperbanyak tindakan, tetapi juga tentang memahami mengapa, bagaimana, dan untuk apa tindakan tersebut dilakukan. Zakat mengajarkan kita tentang tanggung jawab terhadap harta. Infak mengajarkan kesediaan mengeluarkan sebagian harta untuk kebaikan. Sedekah mengajarkan bahwa kebaikan dapat hadir dalam bentuk yang lebih luas daripada materi. Ketika memahami perbedaannya, kita tidak lagi melihat ZIS sekadar sebagai aktivitas mengurangi uang dari rekening. Kita sedang belajar memahami hubungan antara harta, ibadah, tanggung jawab, dan kehidupan orang lain. Dari Tahu Istilah Menjadi Paham Makna Di era ketika jawaban dapat diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan yang semakin penting bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi memeriksa dan memahami informasi tersebut. Jangan sampai kita mengetahui banyak istilah agama, tetapi belum memahami konsekuensi di baliknya. Karena itu, jika harta kita telah memenuhi syarat wajib zakat, tunaikanlah zakat sesuai ketentuan. Dan jika belum, jangan berhenti berbuat baik. Sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Melalui lembaga pengelola ZIS, kita dapat menyalurkan dana kepada mereka yang berhak dan membutuhkan secara lebih terarah. Sebab menjadi umat yang lebih baik bukan hanya tentang seberapa banyak kita memberi, tetapi juga seberapa dalam kita memahami apa yang sedang kita tunaikan. Dan mungkin, pertanyaan yang perlu kita bawa setelah membaca artikel ini bukan lagi, “sudahkah saya bersedekah?”. Melainkan, “sudahkah saya memahami ibadah yang sedang saya lakukan?”
BERITA21/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi?
Mengapa Kita Lebih Sering Mengajarkan Orang untuk Menerima daripada Memberi? Ketika berbicara tentang kemiskinan, kita sering menggunakan satu pola yang hampir selalu sama, yaitu ada orang yang memiliki kelebihan, lalu ada orang yang membutuhkan. Yang satu memberi, yang lain menerima. Sederhana. Tetapi pernahkah kita bertanya, "sampai kapan seseorang harus berada di posisi sebagai penerima?" Apakah keberhasilan sebuah bantuan hanya diukur dari berapa banyak paket yang dibagikan, berapa banyak uang yang diberikan, atau berapa banyak orang yang mendapatkan bantuan? Atau seharusnya kita memiliki ukuran yang lebih jauh, "Berapa banyak penerima bantuan yang akhirnya memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri?" Pertanyaan ini penting karena tujuan membantu seharusnya bukan menciptakan penerima untuk selamanya, melainkan membuka jalan agar seseorang memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya dengan lebih mandiri. Ketika “Menerima” Menjadi Akhir dari Bantuan Tidak ada yang salah dengan menerima bantuan. Ketika seseorang kelaparan, makanan adalah pertolongan. Ketika seseorang kehilangan rumah akibat bencana, tempat tinggal sementara adalah kebutuhan. Ketika seorang anak tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, bantuan pendidikan dapat menjadi penyelamat. Namun, persoalannya muncul ketika bantuan berhenti pada kebutuhan sesaat tanpa melihat apa yang terjadi setelahnya. Seseorang mungkin menerima bantuan hari ini, tetapi besok masih menghadapi persoalan yang sama. Maka muncul sebuah pertanyaan, "apakah kita sedang menyelesaikan masalah, atau hanya membantu seseorang bertahan dari masalah yang sama berulang kali?" Pertanyaan tersebut bukan berarti bantuan konsumtif tidak penting. Justru, bantuan langsung tetap dibutuhkan dalam kondisi tertentu. Tetapi ketika keadaan sudah memungkinkan, bantuan dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih jauh berupa kesempatan untuk tumbuh. Bagaimana Jika Penerima Bantuan Suatu Hari Menjadi Pemberi? Di sinilah perspektifnya perlu dibalik. Selama ini kita mungkin melihat hubungan zakat sebagai orang yang memiliki harta memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan. Namun, bagaimana jika kita membayangkan sebuah siklus yang lebih panjang? Muzaki → ZIS → program pemberdayaan → mustahik → berdaya → mandiri → mampu membantu. Tidak berarti setiap mustahik harus atau pasti menjadi muzaki. Kondisi setiap orang berbeda. Tetapi semangatnya adalah memberikan kesempatan agar penerima bantuan memiliki kemampuan untuk memperbaiki kehidupannya, bukan sekadar mempertahankan ketergantungan. Dengan perspektif ini, keberhasilan zakat tidak hanya dilihat dari banyaknya bantuan yang tersalurkan, tetapi juga dari perubahan kehidupan yang terjadi setelah bantuan diberikan. Islam Mengajarkan Kemandirian dan Kebermanfaatan Islam tidak memandang harta hanya sebagai sesuatu yang dimiliki secara individual. Harta juga memiliki dimensi sosial. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 7: “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” Ayat ini menunjukkan pentingnya distribusi harta agar manfaat ekonomi tidak hanya berputar pada kelompok yang sudah memiliki kemampuan. Zakat menjadi salah satu instrumen penting dalam mewujudkan hal tersebut. Menariknya, Al-Qur'an juga menggambarkan tujuan yang lebih luas dari sekadar memenuhi kebutuhan sesaat. Dalam QS. At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka…” Zakat bukan hanya tentang memindahkan sebagian harta. Ia juga berkaitan dengan proses membersihkan harta, membangun solidaritas, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, ketika dikelola dengan baik, ZIS memiliki peluang untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Dari Memberi Bantuan Menjadi Membuka Kesempatan Bayangkan dua bentuk bantuan. Bantuan pertama memberikan seseorang kebutuhan untuk bertahan selama beberapa hari. Bantuan kedua membantu seseorang memperoleh keterampilan, alat kerja, modal, pendidikan, atau pendampingan yang membuatnya memiliki peluang memperoleh penghasilan. Keduanya sama-sama penting pada kondisi yang tepat. Tetapi bantuan kedua membawa sebuah pertanyaan tambahan, “apa yang bisa terjadi setelah bantuan ini selesai?” Inilah inti dari pemberdayaan. Memberdayakan bukan berarti menyuruh orang miskin untuk bekerja lebih keras sendirian. Memberdayakan berarti membantu menghadirkan akses, kemampuan, modal, pengetahuan, dan kesempatan agar kerja keras mereka memiliki peluang menghasilkan perubahan. Pada titik ini, bantuan tidak lagi hanya berbicara tentang berapa yang diberikan, tetapi juga seberapa jauh manfaat tersebut dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri. ZIS sebagai Bagian dari Siklus Kebaikan Di sinilah masyarakat memiliki peran. Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar bentuk kepedulian yang dilakukan ketika melihat seseorang sedang kesusahan. ZIS dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kebaikan yang berkelanjutan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang mengelola dan menyalurkan dana umat sesuai ketentuan serta program yang tersedia. Dengan menyalurkan ZIS melalui lembaga, kita tidak hanya bertanya mengenai “siapa yang bisa saya bantu hari ini?”, tetapi juga “bagaimana bantuan ini dapat menjadi bagian dari perubahan kehidupan seseorang?” Jangan Hanya Membantu Seseorang Menerima Kita mungkin tidak mampu mengubah kehidupan setiap orang. Namun, kita dapat mengambil bagian dalam menciptakan kesempatan. Tunaikan zakat bagi yang telah memenuhi kewajiban, serta sisihkan infak dan sedekah sesuai kemampuan melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Sebab kebaikan yang paling bermakna bukan hanya ketika seseorang menerima sesuatu dari kita. Tetapi ketika apa yang kita berikan menjadi jembatan menuju kemampuan, kesempatan, dan kemandirian. Dari muzaki, lahir manfaat. Dari manfaat, lahir keberdayaan. Dari keberdayaan, semoga lahir lebih banyak orang yang suatu hari mampu menjadi pemberi, serta jadikan harta yang kita miliki bukan hanya sebagai sesuatu yang kita kumpulkan, tetapi sebagai bagian dari siklus kebaikan yang terus berlanjut.
BERITA19/08/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi Periode 2026–2031 Resmi Dilantik, Siap Perkuat Pengelolaan Zakat
SUKABUMI — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi resmi memiliki kepengurusan baru untuk periode 2026–2031. Pelantikan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi tersebut dilaksanakan hari ini di Ruang Utama Balai Kota Sukabumi dan secara resmi dilakukan oleh Wali Kota Sukabumi. Pelantikan ini menjadi momentum penting dalam keberlanjutan pengelolaan zakat di Kota Sukabumi. Kepengurusan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai program yang telah berjalan sekaligus menghadirkan inovasi dalam penghimpunan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat untuk memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat. Adapun susunan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2026–2031 adalah sebagai berikut: Ketua: Aceng Najmudin Nawawi Wakil Ketua I Bidang Penghimpunan: K.H. Athoillah Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian & Pendayagunaan: Denden Sihabudin Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan & Pelaporan: Syahid Arsalan Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi Umum & Humas: Asep Saripulloh Dengan komposisi tersebut, BAZNAS Kota Sukabumi berkomitmen untuk terus memperkuat tata kelola kelembagaan, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mengoptimalkan potensi zakat sebagai instrumen pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Serah Terima Jabatan Pimpinan BAZNAS Usai pelantikan di Balai Kota Sukabumi, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan serah terima jabatan pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi periode 2021–2026 kepada pimpinan periode 2026–2031. Kegiatan serah terima jabatan berlangsung di Kantor BAZNAS Kota Sukabumi. Momen tersebut menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan sekaligus bentuk komitmen untuk menjaga keberlanjutan program dan pelayanan BAZNAS kepada masyarakat. Pergantian kepemimpinan ini diharapkan tidak hanya menjadi sebuah proses administratif, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dan semangat bersama dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Kota Sukabumi. Di bawah kepemimpinan periode 2026–2031, BAZNAS Kota Sukabumi diharapkan semakin profesional, transparan, akuntabel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, serta mampu menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi para mustahik. BAZNAS Kota Sukabumi — Selamat didunia, Bahagia di Akhirat
BERITA13/08/2026 | BAZNAS
Jangan Abaikan Khusyuk, Karena Inilah Ruh Salat
Jangan Abaikan Khusyuk, Karena Inilah Ruh Salat
Salat merupakan ibadah yang menjadi tiang agama dan pembeda antara seorang Muslim dengan kekafiran. Namun, tidak sedikit orang yang melaksanakan salat hanya sebagai rutinitas harian tanpa menghadirkan hati di hadapan Allah SWT. Gerakan dilakukan dengan benar, bacaan dilafalkan dengan fasih, tetapi pikiran justru melayang ke urusan dunia. Inilah sebabnya mengapa khusyuk menjadi ruh salat yang tidak boleh diabaikan. Tanpa khusyuk, salat hanya menjadi rangkaian gerakan fisik. Sebaliknya, dengan khusyuk, salat menjadi sarana komunikasi yang penuh makna antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memahami pentingnya menjaga kekhusyukan agar salat benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan. Apa Itu Khusyuk dalam Salat? Khusyuk adalah keadaan hati yang penuh ketundukan, rasa takut, harap, dan pengagungan kepada Allah SWT saat melaksanakan salat. Khusyuk membuat seseorang fokus pada ibadah yang sedang dikerjakannya serta menjauhkan diri dari gangguan pikiran yang tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1-2) Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri utama orang beriman yang beruntung adalah mereka yang menjaga kekhusyukan dalam salatnya. Mengapa Khusyuk Disebut Ruh Salat? Salat Tanpa Khusyuk Kehilangan Maknanya Tujuan utama salat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika hati tidak hadir, maka hikmah dan pengaruh salat dalam kehidupan sehari-hari menjadi berkurang. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang selesai dari salatnya, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari salatnya.” (HR. Abu Dawud) Hadits ini menunjukkan bahwa kualitas salat sangat dipengaruhi oleh tingkat kekhusyukan seseorang. Khusyuk Membawa Ketenangan Jiwa Di tengah kesibukan dan tekanan hidup modern, salat yang khusyuk menjadi tempat terbaik untuk menenangkan hati. Saat seseorang benar-benar menghadapkan diri kepada Allah SWT, ia akan merasakan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain. Tanda-Tanda Salat yang Khusyuk Hati Fokus kepada Allah SWT Orang yang khusyuk menyadari bahwa dirinya sedang berdiri di hadapan Allah SWT. Kesadaran ini membuatnya lebih tenang dan tidak tergesa-gesa dalam melaksanakan salat. Memahami Bacaan Salat Ketika memahami arti bacaan yang diucapkan, hati akan lebih mudah tersentuh dan meresapi makna setiap doa serta ayat yang dibaca. Menjaga Gerakan dengan Tenang Salat yang khusyuk tidak dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap rukuk, sujud, dan duduk dilakukan dengan tuma'ninah serta penuh penghayatan. Cara Meningkatkan Khusyuk dalam Salat Persiapkan Diri Sebelum Salat Datang lebih awal ke masjid atau menenangkan diri sebelum takbiratul ihram dapat membantu mengurangi gangguan pikiran. Pahami Makna Bacaan Luangkan waktu untuk mempelajari arti bacaan salat. Semakin memahami maknanya, semakin mudah hati menghadirkan kekhusyukan. Jauhkan Gangguan Matikan atau senyapkan ponsel, pilih tempat yang tenang, dan hindari hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian saat salat. Perbanyak Doa dan Istighfar Memohon pertolongan kepada Allah SWT agar diberikan hati yang khusyuk merupakan salah satu ikhtiar terbaik. Karena pada hakikatnya, kekhusyukan adalah karunia yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya. Khusyuk yang Melahirkan Kepedulian Salat yang khusyuk tidak hanya berdampak pada hubungan seorang hamba dengan Allah SWT, tetapi juga memengaruhi sikapnya terhadap sesama manusia. Orang yang benar-benar memahami makna salat akan lebih mudah bersyukur, lebih rendah hati, dan lebih peduli terhadap mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman: “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah: 43) Ayat ini menunjukkan bahwa salat dan kepedulian sosial melalui zakat memiliki hubungan yang erat. Ibadah yang baik akan melahirkan kepedulian yang nyata kepada sesama. Jadikan Salat sebagai Jalan Menuju Keberkahan Saat kita berusaha memperbaiki kualitas salat, jangan lupa bahwa masih banyak saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Salah satu bentuk syukur atas nikmat yang Allah berikan adalah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
BERITA05/08/2026 | BAZNAS
Cara Jaga Lisan dari Ghibah di Era Digital: Bijak Bermedia Sosial, Selamat Dunia Akhirat
Cara Jaga Lisan dari Ghibah di Era Digital: Bijak Bermedia Sosial, Selamat Dunia Akhirat
Cara Jaga Lisan dari Ghibah di Era Digital: Bijak Bermedia Sosial, Selamat Dunia Akhirat Di era digital seperti sekarang, menjaga lisan tidak lagi hanya tentang apa yang kita ucapkan secara langsung. Jari-jari yang mengetik komentar, membagikan unggahan, atau meneruskan pesan di grup media sosial juga termasuk bagian dari lisan yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Tanpa disadari, banyak orang terjerumus dalam ghibah melalui media digital. Mulai dari membicarakan aib seseorang di grup WhatsApp, memberikan komentar negatif di media sosial, hingga menyebarkan informasi yang belum tentu benar. Oleh karena itu, umat Islam perlu lebih berhati-hati agar tidak terjebak dalam dosa yang dapat mengurangi pahala dan merusak hubungan sesama manusia. Apa Itu Ghibah? Ghibah adalah membicarakan keburukan atau aib seseorang di belakangnya, meskipun apa yang dibicarakan tersebut benar adanya. Rasulullah ? bersabda: Para sahabat bertanya, "Apakah ghibah itu?" Rasulullah ? bersabda, "Engkau menyebut tentang saudaramu sesuatu yang tidak ia sukai."(HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa ghibah bukan hanya fitnah atau kebohongan. Bahkan ketika informasi yang disampaikan benar sekalipun, jika orang tersebut tidak menyukainya untuk dibicarakan, maka termasuk ghibah. Bahaya Ghibah Menurut Al-Qur'an Islam memberikan peringatan keras terhadap perilaku ghibah. Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."(QS. Al-Hujurat: 12) Perumpamaan memakan bangkai saudara sendiri menunjukkan betapa buruk dan hinanya perbuatan ghibah di sisi Allah SWT. Mengapa Ghibah Semakin Mudah Terjadi di Era Digital? Media Sosial Membuat Informasi Menyebar Cepat Satu komentar negatif dapat dibaca ribuan orang dalam hitungan menit. Satu unggahan yang berisi aib seseorang dapat tersebar luas tanpa bisa ditarik kembali. Grup Percakapan Sering Menjadi Tempat Ghibah Tidak sedikit percakapan di grup media sosial berubah menjadi ajang membicarakan keburukan orang lain. Padahal setiap pesan yang dikirim akan menjadi catatan amal yang kelak dipertanggungjawabkan. Anonimitas Membuat Orang Merasa Aman Sebagian orang merasa bebas berkomentar kasar atau membicarakan orang lain karena menggunakan akun anonim. Namun, tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengawasan Allah SWT. Cara Menjaga Lisan dari Ghibah di Era Digital Berpikir Sebelum Mengetik Sebelum mengirim pesan atau komentar, tanyakan pada diri sendiri: Apakah informasi ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah akan menyakiti orang lain? Apakah Allah ridha dengan apa yang saya tulis? Jika ragu, lebih baik diam. Hindari Menyebarkan Aib Orang Lain Tidak semua hal yang kita ketahui harus dibagikan. Menutupi aib sesama Muslim adalah salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Isi Media Sosial dengan Kebaikan Gunakan media sosial untuk menyebarkan ilmu, inspirasi, motivasi, dan ajakan berbuat baik. Dengan demikian, jejak digital kita menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya. Perbanyak Dzikir dan Muhasabah Orang yang sering mengingat Allah akan lebih berhati-hati dalam berbicara maupun menulis. Luangkan waktu setiap hari untuk mengevaluasi apa saja yang telah kita unggah, komentari, dan bagikan. Jadikan Jari-Jemari Sebagai Jalan Kebaikan Di era digital, satu klik dapat menjadi sumber pahala atau sumber dosa. Ketika kita menyebarkan kebaikan, mengingatkan dalam kebenaran, dan membantu sesama, maka teknologi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebaliknya, ketika media sosial digunakan untuk menyebarkan kebencian, fitnah, dan ghibah, maka ia dapat menjadi penyebab kerugian besar di akhirat. Karena itu, mari jadikan setiap kata yang kita tulis sebagai bentuk ibadah dan sarana menebar manfaat bagi sesama. Bersihkan Hati dengan Berbagi Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Salah satu cara melembutkan hati dan menjauhkan diri dari kebiasaan buruk seperti ghibah adalah memperbanyak amal saleh. Ketika hati sibuk membantu sesama, kita akan lebih sedikit membicarakan kekurangan orang lain. Hari ini masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan pangan, kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi. Mereka menunggu uluran tangan dari orang-orang baik seperti Anda. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. untuk melihat artikel lainnya KLIK DISINI
BERITA31/07/2026 | BAZNAS
Indahnya Berbagi Rezeki Lewat Sedekah Subuh: Membuka Pintu Keberkahan di Setiap Pagi
Indahnya Berbagi Rezeki Lewat Sedekah Subuh: Membuka Pintu Keberkahan di Setiap Pagi
Indahnya Berbagi Rezeki Lewat Sedekah Subuh: Membuka Pintu Keberkahan di Setiap Pagi Setiap orang tentu menginginkan hidup yang penuh keberkahan, hati yang tenang, serta rezeki yang lapang. Namun, sering kali kita mencari berbagai cara untuk meraih semua itu tanpa menyadari bahwa Islam telah mengajarkan amalan sederhana yang memiliki keutamaan luar biasa, yaitu sedekah subuh. Sedekah subuh adalah sedekah yang dilakukan pada waktu subuh atau setelah menunaikan salat Subuh. Amalan ini semakin banyak dilakukan oleh umat Islam karena diyakini menjadi salah satu jalan untuk mengundang keberkahan, melancarkan rezeki, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di balik nominal yang mungkin tidak seberapa, tersimpan pahala besar dan manfaat yang luar biasa, baik untuk kehidupan dunia maupun akhirat. [caption id="attachment_5379" align="alignnone" width="630" Apa Itu Sedekah Subuh?[/caption] Sedekah subuh bukanlah jenis sedekah yang berbeda dari sedekah pada umumnya. Namun, keistimewaannya terletak pada waktu pelaksanaannya, yaitu saat pagi hari ketika banyak orang baru memulai aktivitas. Waktu subuh merupakan waktu yang penuh keberkahan. Pada saat itulah doa-doa dipanjatkan, harapan-harapan dititipkan kepada Allah SWT, dan amal saleh memiliki nilai yang sangat istimewa. Malaikat Mendoakan Orang yang Bersedekah Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah para hamba memasuki waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun. Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.’ Sedangkan yang lainnya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah kebinasaan kepada orang yang menahan hartanya.’” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan betapa istimewanya sedekah yang dilakukan di pagi hari. Bahkan para malaikat mendoakan langsung orang-orang yang gemar berbagi. Keutamaan Sedekah Subuh Menurut Islam Membuka Pintu Rezeki Banyak orang memahami sedekah sebagai pengurangan harta. Padahal dalam Islam, sedekah justru menjadi salah satu sebab datangnya keberkahan dan kelapangan rezeki. Allah SWT berfirman: “Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik.” (QS. Saba': 39) Janji Allah ini memberikan keyakinan bahwa harta yang dikeluarkan di jalan kebaikan tidak akan sia-sia. Menenangkan Hati dan Menghilangkan Kekhawatiran Orang yang terbiasa bersedekah akan lebih mudah merasakan ketenangan hati. Ia tidak terlalu khawatir terhadap urusan dunia karena percaya bahwa Allah SWT adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Menjadi Amal yang Dicintai Allah Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Bahkan ketika dilakukan secara ikhlas dan rutin, sedekah dapat menjadi penyebab datangnya pertolongan Allah dalam berbagai urusan kehidupan. Cara Memulai Kebiasaan Sedekah Subuh Sisihkan Sebagian Rezeki Setiap Pagi Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. Mulailah dari nominal yang ringan sesuai kemampuan. Yang terpenting adalah keikhlasan dan konsistensi dalam melakukannya. Niatkan karena Allah SWT Jangan menjadikan sedekah sebagai sarana pamer atau mencari pujian manusia. Niatkan semata-mata untuk mengharap ridha Allah SWT dan membantu sesama yang membutuhkan. Salurkan kepada Lembaga Terpercaya Agar sedekah lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang luas, salurkan melalui lembaga resmi yang amanah dan profesional dalam mengelola dana umat. Sedekah Kecil, Dampaknya Besar Boleh jadi sedekah yang kita keluarkan setiap subuh menjadi penyebab seorang anak dapat melanjutkan pendidikan, seorang pasien mendapatkan pengobatan, atau sebuah keluarga memperoleh makanan untuk hari itu. Sedekah Subuh: Investasi Dunia dan Akhirat Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tantangan, sedekah subuh menjadi salah satu cara untuk mengawali hari dengan energi positif dan keberkahan. Ketika banyak orang sibuk memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri, orang yang bersedekah justru memilih berbagi kepada sesama. Inilah keindahan Islam. Semakin banyak memberi, semakin banyak keberkahan yang Allah limpahkan. Semakin peduli kepada sesama, semakin luas pula pintu kebaikan yang dibukakan. Yuk, Raih Keberkahan Pagi dengan Bersedekah Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Masih banyak saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Ada anak-anak yang membutuhkan biaya pendidikan, keluarga dhuafa yang kesulitan memenuhi kebutuhan harian, pasien yang membutuhkan bantuan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi untuk membantu masyarakat bangkit dari keterbatasan. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. untuk melihat artikel lainnya KLIK DISINI
BERITA31/07/2026 | BAZNAS Kota Sukabumi
Salat Dhuha yang Benar Bukan Sekadar 2 Rakaat, Ini Panduan Lengkapnya
Salat Dhuha yang Benar Bukan Sekadar 2 Rakaat, Ini Panduan Lengkapnya
Salat Dhuha yang Benar Bukan Sekadar 2 Rakaat, Ini Panduan Lengkapnya "Masih mengira Salat Dhuha hanya cukup 2 rakaat?" Faktanya, banyak umat Islam belum mengetahui bahwa Salat Dhuha memiliki tata cara, waktu pelaksanaan, dan jumlah rakaat yang lebih luas sesuai tuntunan Rasulullah ?. Memahami hal ini akan membuat ibadah kita semakin sempurna dan bernilai di sisi Allah SWT. Apa Itu Salat Dhuha? Salat Dhuha adalah salat sunnah yang dikerjakan setelah matahari terbit hingga menjelang waktu Zuhur. Ibadah ini dikenal sebagai salah satu amalan yang memiliki banyak keutamaan, di antaranya memohon keberkahan rezeki, menghapus dosa, dan menjadi bentuk syukur atas nikmat kesehatan yang Allah berikan. Rasulullah ? bersabda: "Pada setiap pagi, setiap persendian salah seorang di antara kalian wajib disedekahi... dan semua itu dapat dicukupi dengan dua rakaat Salat Dhuha."(HR. Muslim No. 720) Hadis ini menunjukkan betapa istimewanya Salat Dhuha sebagai bentuk sedekah atas seluruh anggota tubuh kita. Waktu Salat Dhuha Waktu Salat Dhuha dimulai sekitar 15–20 menit setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Namun, waktu yang paling utama adalah ketika matahari mulai terasa panas, sekitar pukul 09.00–11.00 (disesuaikan dengan waktu setempat). Berapa Rakaat Salat Dhuha? Inilah yang sering disalahpahami. Salat Dhuha bukan hanya 2 rakaat. Jumlah rakaat yang dapat dikerjakan adalah: Minimal: 2 rakaat. Boleh 4 rakaat. Boleh 6 rakaat. Boleh 8 rakaat, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ?. Sebagian ulama juga membolehkan 12 rakaat berdasarkan beberapa riwayat. Pelaksanaannya dilakukan 2 rakaat salam, kemudian dilanjutkan 2 rakaat berikutnya sesuai kemampuan. Tata Cara Salat Dhuha Berikut panduan singkat Salat Dhuha: Niat Salat Dhuha di dalam hati. Takbiratul ihram. Membaca doa iftitah (sunnah). Membaca Surah Al-Fatihah. Membaca surah atau ayat Al-Qur'an. Rukuk dengan thuma'ninah. I'tidal. Sujud pertama. Duduk di antara dua sujud. Sujud kedua. Berdiri untuk rakaat berikutnya. Tasyahud akhir dan salam. Tidak ada surah tertentu yang diwajibkan. Anda dapat membaca surah apa saja yang mudah dihafal. Keutamaan Salat Dhuha Beberapa keutamaan Salat Dhuha antara lain: Menjadi sedekah bagi seluruh persendian tubuh. Mendapat pahala sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT. Membuka pintu keberkahan rezeki. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah yang dicintai-Nya. Yang paling penting bukan sekadar banyaknya rakaat, tetapi keikhlasan, kekhusyukan, dan pelaksanaannya sesuai sunnah Rasulullah ?. Lengkapi Ibadah dengan Zakat, Infak, dan Sedekah Salat Dhuha mengajarkan kita untuk bersyukur kepada Allah. Salah satu bentuk rasa syukur tersebut adalah dengan berbagi kepada sesama melalui zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan, justru menjadi sebab datangnya keberkahan dan pertolongan-Nya. Mari tunaikan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi, agar bantuan yang Anda berikan dikelola secara amanah, profesional, dan disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Anda di sini: https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT menerima setiap ibadah kita, melapangkan rezeki, dan menjadikan kita hamba yang senantiasa istiqamah dalam beramal saleh. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Saya juga dapat membuat gambar hero website (16:9) untuk artikel ini dengan dominasi background putih cerah, objek seorang Muslim sedang Salat Dhuha, dan ruang kosong di sisi kiri untuk penempatan judul agar tampil profesional di website BAZNAS Kota Sukabumi.
BERITA24/07/2026 | BAZNAS
Mengapa Banyak Orang Memilih Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS?
Mengapa Banyak Orang Memilih Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS?
Mengapa Banyak Orang Memilih Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS? Zakat bukan hanya kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi syarat, tetapi juga menjadi salah satu cara terbaik untuk mewujudkan keberkahan dalam harta. Namun masih banyak orang yang bertanya, lebih baik menyalurkan zakat langsung kepada penerima atau melalui lembaga seperti BAZNAS? Faktanya, semakin banyak masyarakat Indonesia yang memilih menunaikan zakat melalui BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) . Alasannya bukan sekedar praktis, tetapi juga karena pengelolaannya lebih amanah, profesional, dan mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat. Lalu, apa saja alasan dibalik kepercayaan tersebut? Zakat Bukan Sekadar Memberi, tetapi Mengelola Amanah Ketika seseorang menunaikan zakat, yang dilakukan bukan hanya memindahkan sejumlah harta kepada orang lain. Zakat adalah ibadah yang memiliki aturan, sasaran penerima (asnaf), dan tata kelola yang telah ditetapkan dalam syariat Islam. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, orang-orang yang terjatuh, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah : 60) Ayat ini menunjukkan bahwa zakat memiliki aturan yang jelas. Diberdayakannya peran amil zakat menjadi sangat penting agar zakat benar-benar sampai kepada mereka yang berhak. Mengapa Banyak Orang Memilih BAZNAS? 1. Dikelola Secara Amanah dan Profesional BAZNAS merupakan lembaga resmi yang dibentuk oleh pemerintah berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Dana zakat yang diterima dikelola sesuai prinsip syariah, akuntabel, dan transparan. Artinya, para muzaki tidak perlu khawatir mengenai penyaluran zakatnya karena setiap dana dikelola dengan penuh tanggung jawab. 2. Tepat Sasaran Tidak semua orang yang terlihat termasuk termasuk golongan penerima zakat. BAZNAS memiliki proses pendataan, survei, dan verifikasi sehingga zakat dapat disalurkan kepada delapan golongan (asnaf) yang telah ditetapkan syariat. Dengan demikian, zakat yang Anda tunaikan benar-benar memberikan manfaat bagi mereka yang paling membutuhkan. 3. Dampaknya Lebih Luas Melalui BAZNAS, zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga diwujudkan dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat. Program yang Dirasakan Masyarakat Bantuan pendidikan untuk pelajar dan pelajar. Layanan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Bantuan modal usaha bagi pelaku UMKM. Bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana. Program dakwah dan pembinaan keagamaan. Renovasi rumah tidak layak huni. Pemberdayaan ekonomi keluarga. Dengan pengelolaan yang baik, zakat menjadi solusi jangka panjang yang membantu mustahik menjadi lebih mandiri. Rasulullah Mengajarkan Pentingnya Pengelolaan Zakat Pada masa Rasulullah zakat tidak disalurkan secara individual oleh setiap orang. Beliau mengangkat para amil untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat kepada yang berhak. Rasulullah bersabda: Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan “Zakat diambil dari orang-orang kaya mereka, lalu diberikan kepada orang-orang fakir di antara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan adanya proses pengambilan dan penyaluran zakat melalui petugas (amil), sehingga pendistribusiannya lebih tertata dan tepat sasaran. Keuntungan Menunaikan Zakat Melalui BAZNAS Lebih Mudah Kini zakat dapat terhubung secara online tanpa harus datang langsung ke kantor. Prosesnya cepat, praktis, dan dapat dilakukan kapan saja. Lebih Tenang Karena dikelola oleh lembaga resmi, Anda memperoleh rasa tenang bahwa zakat telah disalurkan sesuai ketentuan syariat. Lebih Berdampak Satu zakat yang Anda tunaikan dapat menjadi bagian dari program besar yang membantu ribuan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan dakwah. Zakat adalah Investasi Akhirat Sering kali kita menganggap zakat sebagai pengeluaran. Padahal, dalam pandangan Islam, zakat adalah investasi terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Allah SWT menjanjikan keberkahan bagi orang-orang yang gemar berbagi dan membersihkan hartanya melalui zakat. Harta yang dizakati tidak berkurang sebab kerugiannya di sisi Allah, justru menjadi datangnya keberkahan, ketenangan hati, dan pertolongan-Nya.
BERITA15/07/2026 | BAZNAS
Ke Mana Uang Zakat Disalurkan? Ini Kisah Nyata yang Jarang Diketahui
Ke Mana Uang Zakat Disalurkan? Ini Kisah Nyata yang Jarang Diketahui
Ke Mana Uang Zakat Disalurkan? Ini Kisah Nyata yang Jarang Diketahui Pernahkah terlintas di benak Anda, ke mana sebenarnya uang zakat yang kita tunaikan disalurkan? Mungkin sebagian orang masih bertanya-tanya, apakah zakat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan? Atau hanya berhenti sebagai angka dalam laporan? Padahal, di balik setiap rupiah zakat yang ditunaikan, ada kisah-kisah nyata yang penuh haru. Ada anak yang akhirnya bisa kembali sekolah, ada keluarga yang bisa makan dengan layak, ada pelaku usaha kecil yang bangkit dari keterpurukan, bahkan ada pasien yang mendapatkan pengobatan karena bantuan zakat. Inilah sisi zakat yang mungkin jarang kita lihat, namun dampaknya benar-benar dirasakan oleh penerima manfaat. Zakat Bukan Sekadar Memberi,Tetapi Mengubah Kehidupan Allah SWT telah menetapkan zakat sebagai salah satu rukun Islam yang memiliki dampak sosial yang sangat besar. Zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga menjadi jembatan kepedulian antara mereka yang memiliki rezeki lebih dengan saudara-saudara yang sedang diuji kesulitannya. Allah SWT berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Az-Zariyat : 19) Artinya, sebagian dari harta yang kita miliki memang terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat. Kisah Nyata di Balik Dana Zakat Mungkin kita tidak pernah bertemu langsung dengan penerima manfaat. Namun, setiap hari ada banyak kisah yang menjadi bukti bahwa zakat mampu menghadirkan harapan. Seorang Pedagang Kecil yang Bangkit Seorang ibu penjual gorengan sempat kehilangan modal usahanya karena kondisi ekonomi yang sulit. Melalui program ekonomi produktif dari BAZNAS, ia memperoleh bantuan modal usaha. Beberapa bulan kemudian, dagangannya mulai berkembang. Penghasilannya meningkat sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus bergantung pada bantuan orang lain. Bantuan zakat bukan hanya memberikan uang, tetapi juga mengembalikan rasa percaya diri dan semangat untuk bangkit. Anak Yatim yang Kembali Tersenyum Ada pula seorang anak yatim yang hampir putus sekolah karena keterbatasan biaya. Melalui dana zakat, kebutuhan sekolahnya dapat dipenuhi, mulai dari perlengkapan belajar hingga biaya pendidikan. Kini, ia bisa kembali mengejar cita-citanya. Senyum yang kembali hadir di wajahnya adalah bukti bahwa zakat mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Bantuan Kesehatan untuk Mereka yang Membutuhkan Tidak sedikit masyarakat yang harus menunda pengobatan karena keterbatasan biaya. Dana zakat juga disalurkan untuk membantu layanan kesehatan, pembelian obat, hingga pendampingan pasien yang membutuhkan. Bagi mereka, bantuan tersebut bukan sekadar biaya pengobatan, tetapi juga harapan untuk kembali sehat dan berkumpul bersama keluarga. Mengapa Menyalurkan Zakat Melalui BAZNAS? Penyaluran Lebih Tepat Sasaran BAZNAS memiliki mekanisme pendataan, survei, hingga verifikasi sehingga zakat disalurkan kepada mustahik yang benar-benar berhak menerimanya sesuai syariat Islam. Program yang Berkelanjutan Dana zakat tidak hanya diberikan dalam bentuk bantuan konsumtif, tetapi juga dikembangkan menjadi program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan dakwah sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Transparan dan Amanah Setiap dana yang dititipkan oleh para muzaki dikelola secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan, sehingga kepercayaan masyarakat tetap terjaga.Rasulullah ? Mengajarkan Pentingnya Membantu Sesama Rasulullah bersabda: "Barang siapa meringankan satu kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan satu kesulitannya pada hari kiamat. Barang siapa memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim No. 2699) Hadis ini mengingatkan bahwa setiap bantuan yang kita salurkan kepada orang lain akan kembali kepada diri kita dalam bentuk pertolongan dari Allah SWT. Zakat yang Anda Tunaikan Bisa Menjadi Harapan bagi Banyak Orang Sering kali kita tidak mengetahui siapa yang menerima zakat kita. Namun yakinlah, bisa jadi hari ini ada seorang anak yang kembali belajar, seorang lansia yang mendapatkan makanan, seorang pasien yang memperoleh pengobatan, atau seorang kepala keluarga yang kembali memiliki penghasilan berkat zakat yang Anda tunaikan. Itulah indahnya zakat. Kita mungkin tidak mengenal penerimanya, tetapi doa-doa mereka bisa menjadi keberkahan bagi kehidupan kita.
BERITA15/07/2026 | BAZNAS
Mengapa Menahan Dendam Justru Menutup Pintu Rezeki?
Mengapa Menahan Dendam Justru Menutup Pintu Rezeki?
Mengapa Menahan Dendam Justru Menutup Pintu Rezeki? Pernah tidak, kamu merasa hati sulit tenang karena terus mengingat seseorang yang pernah menyakitimu? Setiap kali namanya disebut, emosi langsung muncul. Rasanya ingin membalas atau setidaknya berharap dia merasakan sakit yang sama. Perasaan seperti itu sangat manusiawi. Tidak ada yang suka disakiti, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil. Namun, jika rasa sakit itu terus dipelihara hingga berubah menjadi dendam, tanpa disadari bukan hanya hati yang terluka, tetapi pintu-pintu kebaikan dalam hidup juga bisa ikut tertutup. Mungkin selama ini kita berpikir bahwa dendam hanya membuat hubungan dengan orang lain menjadi renggang. Padahal, dampaknya jauh lebih besar. Dendam bisa menghilangkan ketenangan, mengurangi keberkahan hidup, bahkan menghalangi datangnya rezeki yang Allah siapkan. Dendam Membuat Hati Selalu Sibuk dengan Masa Lalu Salah satu akibat terbesar dari dendam adalah hati yang sulit menikmati hari ini. Pikiran terus dipenuhi kenangan buruk. Setiap keberhasilan orang yang pernah menyakiti kita terasa menyakitkan. Setiap kegagalannya justru diam-diam membuat kita senang. Padahal, energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk memikirkan orang lain. Allah berfirman: "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?" "Hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22) Ayat ini mengingatkan bahwa memaafkan bukan hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang diri kita sendiri. Ketika kita memberi maaf, sesungguhnya kita sedang membebaskan hati dari beban yang selama ini kita pikul. Rezeki Bukan Hanya Soal Uang Rezeki Juga Berupa Ketenangan, Kesehatan, dan Hubungan yang Baik Banyak orang mengira rezeki hanya berupa gaji, keuntungan usaha, atau harta yang melimpah. Padahal, rezeki Allah jauh lebih luas. Hati yang damai adalah rezeki. Keluarga yang harmonis adalah rezeki. Teman-teman yang tulus adalah rezeki. Tubuh yang sehat adalah rezeki. Jika hati dipenuhi dendam, semua nikmat itu terasa hambar. Bahkan saat memiliki banyak harta, seseorang tetap merasa gelisah karena pikirannya terus dipenuhi kebencian. Tidak sedikit orang yang sulit bersyukur karena hatinya terlalu sibuk membenci. Dendam Menghalangi Datangnya Keberkahan Keberkahan bukan berarti memiliki segalanya, tetapi merasa cukup atas apa yang Allah berikan. Orang yang pendendam sering kali sulit merasakan keberkahan. Ia selalu membandingkan hidupnya dengan orang yang pernah menyakitinya. Akibatnya, rasa syukur semakin berkurang. Padahal Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur. Allah Mencintai Orang yang Mampu Menahan Amarah Memaafkan memang tidak mudah. Bahkan terkadang membutuhkan waktu yang panjang. Namun, setiap langkah menuju keikhlasan akan selalu bernilai ibadah. Allah berfirman: "...orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran: 134) Perhatikan urutannya. Menahan marah terlebih dahulu, kemudian memaafkan. Artinya, Allah memahami bahwa memaafkan adalah proses. Yang terpenting adalah kita mau melangkah ke arah itu. Rasulullah Mengajarkan untuk Tidak Menyimpan Kebencian Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian saling membenci, jangan saling iri, jangan saling membelakangi, jangan saling memutus hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa Islam tidak menginginkan hati seorang muslim dipenuhi kebencian. Sebab, kebencian hanya akan merusak diri sendiri sebelum akhirnya merusak hubungan dengan orang lain. Memaafkan Tidak Berarti Membenarkan Kesalahan Kamu Tetap Boleh Menjaga Jarak Ada anggapan bahwa memaafkan berarti harus kembali dekat dengan orang yang pernah menyakiti kita. Padahal tidak selalu demikian. Memaafkan adalah menghapus keinginan untuk membalas. Sementara menjaga jarak bisa menjadi bentuk menjaga diri agar luka yang sama tidak terulang. Kamu tetap bisa memaafkan tanpa harus kembali percaya sepenuhnya. Yang terpenting, jangan biarkan dendam tinggal di dalam hati. Hati yang Bersih Lebih Mudah Menerima Nikmat Allah Bayangkan hati seperti sebuah gelas. Jika gelas itu penuh lumpur berupa dendam, iri, dan kebencian, bagaimana mungkin air yang jernih bisa masuk? Begitu juga hati kita. Saat hati dipenuhi amarah, sulit bagi ketenangan, rasa syukur, dan keberkahan untuk menetap di dalamnya. Maka, salah satu cara menjemput rezeki bukan hanya dengan bekerja lebih keras, tetapi juga dengan membersihkan hati. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu, tetapi dapat mengubah masa depanmu. Orang yang kamu maafkan mungkin tidak pernah tahu bahwa kamu telah melepaskan dendam. Namun yang paling merasakan manfaatnya adalah dirimu sendiri. Hatimu menjadi lebih ringan, ibadah terasa lebih khusyuk, hubungan dengan Allah semakin dekat, dan hidup terasa lebih lapang. Jangan biarkan satu luka menutup begitu banyak pintu kebaikan yang Allah siapkan untukmu. Hari ini mungkin kamu belum bisa melupakan semuanya. Tidak apa-apa. Mulailah dengan satu doa sederhana, "Ya Allah, lapangkan hatiku dan bantulah aku untuk memaafkan karena-Mu." Siapa tahu, saat hatimu mulai bersih dari dendam, Allah sedang membuka pintu-pintu rezeki yang selama ini belum pernah kamu bayangkan. Bukakan Pintu Rezeki dengan Berbagi Memaafkan memang tidak selalu mudah. Namun, hati yang bersih akan lebih mudah menerima datangnya keberkahan dari Allah SWT. Salah satu cara mensyukuri setiap nikmat dan membuka jalan kebaikan adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi harta. Justru, Allah menjanjikan balasan yang lebih baik dan keberkahan yang tidak selalu berupa materi, tetapi juga ketenangan hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, serta kemudahan dalam setiap urusan. Mari jadikan hari ini sebagai langkah untuk membersihkan hati dari dendam sekaligus membersihkan harta melalui zakat, infak, dan sedekah.
BERITA03/07/2026 | BAZNAS
Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini
Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini
Saat Melihat Orang Lain Lebih Dulu Berhasil, Ingatlah Hal Ini Pernahkah kamu merasa sedih ketika melihat orang lain lebih dulu mencapai apa yang selama ini kamu impikan? BAZNAS Kota Sukabumi Temanmu sudah memiliki pekerjaan impian. Ada yang usahanya berkembang pesat. Ada yang menikah lebih dulu. Ada yang rumahnya sudah jadi. Bahkan ada yang tampak begitu mudah meraih apa yang sedang kamu perjuangkan bertahun-tahun. Di era media sosial seperti sekarang, perasaan itu semakin mudah muncul. Setiap hari kita melihat kabar bahagia orang lain. Tanpa sadar, hati mulai bertanya, "Kenapa mereka bisa lebih dulu? Kenapa aku masih di sini?" Jika kamu pernah merasakan hal itu, ketahuilah bahwa kamu tidak sendirian. Banyak orang pernah mengalaminya. Namun sebagai seorang muslim, ada satu hal penting yang perlu selalu diingat: Allah memiliki waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Hidup Bukan Perlombaan Siapa yang Paling Cepat Salah satu kesalahan yang sering membuat hati gelisah adalah membandingkan perjalanan hidup kita dengan perjalanan hidup orang lain. Padahal, setiap orang memiliki cerita, ujian, kemampuan, dan takdir yang berbeda. Bayangkan sebuah taman yang penuh dengan berbagai bunga. Ada bunga yang mekar lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Namun ketika waktunya tiba, masing-masing akan menunjukkan keindahannya sendiri. Begitu pula kehidupan manusia. Hanya karena seseorang berhasil lebih dulu bukan berarti kamu tertinggal. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membutuhkan proses lebih panjang agar hasilnya lebih baik. Sering kali kita hanya melihat hasil akhir seseorang, tetapi tidak melihat perjuangan, air mata, kegagalan, dan doa-doa yang telah mereka lalui. Karena itu, jangan jadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk meragukan dirimu sendiri. Allah Sudah Menentukan Porsi Rezeki Setiap Hamba Ketika melihat orang lain mendapatkan apa yang kita inginkan, hati terkadang menjadi sempit. Muncul rasa iri, kecewa, bahkan putus asa. Padahal rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah dengan penuh hikmah. Allah berfirman: Artinya: "Dan di langit terdapat rezekimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu." (QS. Adz-Dzariyat: 22) Ayat ini mengingatkan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Apa yang Allah tetapkan untukmu akan datang kepadamu pada waktu yang telah Dia tentukan. Tugas kita bukan sibuk menghitung keberhasilan orang lain, melainkan terus memperbaiki diri dan berikhtiar sebaik mungkin. Jangan Biarkan Perbandingan Merampas Kebahagiaanmu Salah satu pencuri kebahagiaan terbesar adalah kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Hari ini kamu mungkin belum memiliki apa yang mereka miliki. Namun bisa jadi kamu memiliki nikmat lain yang tidak mereka miliki. Mungkin penghasilanmu belum sebesar mereka, tetapi keluargamu harmonis. Mungkin bisnismu belum berkembang pesat, tetapi kesehatanmu masih terjaga. Mungkin impianmu belum tercapai, tetapi Allah masih memberimu kesempatan untuk beribadah dan memperbaiki diri. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Rasulullah SAW bersabda: Artinya: "Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita yang tinggi. Namun, kita diajarkan untuk tidak kehilangan rasa syukur hanya karena melihat keberhasilan orang lain. Mungkin Allah Sedang Menyiapkan Sesuatu yang Lebih Baik Ada kalanya kita merasa doa belum terkabul karena melihat orang lain sudah lebih dulu berhasil. Namun siapa yang tahu isi masa depan? Bisa jadi apa yang kamu minta saat ini belum Allah berikan karena waktunya belum tepat. Bisa jadi Allah sedang melindungimu dari sesuatu yang tidak kamu ketahui. Atau bahkan Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kamu bayangkan. Terkadang penundaan bukanlah penolakan. Allah tahu kapan hati kita siap menerima nikmat tersebut. Allah juga tahu kapan sebuah keberhasilan akan menjadi kebaikan bagi dunia dan akhirat kita. Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah melupakanmu hanya karena jalanmu lebih panjang. Terus Melangkah, Waktumu Juga Akan Tiba Saat melihat orang lain lebih dulu berhasil, jadikan itu sebagai inspirasi, bukan sumber kesedihan. Doakan kebaikan untuk mereka. Ambil pelajaran dari perjuangan mereka. Lalu lanjutkan perjalananmu dengan penuh keyakinan. Ingatlah, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tetap istiqamah berjalan di jalan yang benar. Jika hari ini kamu masih berjuang, jangan menyerah. Jika hari ini kamu masih menunggu, jangan putus asa. Jika hari ini kamu merasa tertinggal, jangan berkecil hati. Karena bisa jadi, Allah sedang menulis kisah yang indah untukmu. Dan ketika waktunya tiba, kamu akan memahami mengapa semua itu harus menunggu. Maka saat melihat orang lain lebih dulu berhasil, ingatlah satu hal: Allah tidak pernah terlambat dalam memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Yang perlu kamu lakukan hanyalah terus berusaha, bersabar, dan tetap percaya kepada-Nya. Terkadang kita melihat orang lain lebih dulu berhasil, usahanya berkembang, kariernya melesat, atau kehidupannya terlihat lebih baik. Di saat seperti itu, hati bisa merasa tertinggal. Namun ingatlah, Allah tidak pernah salah dalam membagikan rezeki dan waktu terbaik untuk setiap hamba-Nya. Kesuksesan orang lain bukanlah tanda bahwa jatah kita berkurang. Justru itu bisa menjadi pengingat bahwa Allah Maha Mampu memberikan keberkahan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Daripada sibuk membandingkan diri, alangkah baiknya kita memperbanyak amal kebaikan yang dapat mendatangkan keberkahan dalam hidup. Salah satu pintu keberkahan yang sering terlupakan adalah zakat, infak, dan sedekah. Harta yang kita keluarkan di jalan Allah tidak akan membuat kita miskin. Sebaliknya, itulah cara Allah membersihkan harta, melapangkan rezeki, dan menghadirkan ketenangan dalam hati.
BERITA19/06/2026 | BAZNAS
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan?
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan?
Kenapa Allah Mengambil Sesuatu yang Sangat Kamu Inginkan? Pernahkah kamu menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, berdoa setiap hari, berusaha semampunya, lalu pada akhirnya tetap kehilangan? BAZNAS Kota Sukabumi Mungkin itu pekerjaan yang sangat kamu harapkan. Mungkin seseorang yang begitu kamu cintai. Mungkin impian yang sudah lama kamu bangun. Atau mungkin sebuah kesempatan yang terasa begitu dekat, tetapi akhirnya lepas begitu saja. Di saat seperti itu, tidak sedikit orang yang bertanya dalam hati, "Ya Allah, kenapa harus ini yang Engkau ambil?" Pertanyaan itu sangat manusiawi. Karena pada dasarnya, kita semua memiliki harapan. Kita semua punya sesuatu yang ingin dipertahankan. Namun terkadang, justru hal yang paling kita inginkan itulah yang Allah ambil dari hidup kita. Lalu, kenapa Allah melakukan itu? Karena Allah Melihat Apa yang Tidak Kita Lihat Sebagai manusia, kita hanya melihat apa yang ada di depan mata. Kita melihat sesuatu itu baik karena membuat kita bahagia. Kita menganggap sesuatu itu penting karena sangat kita inginkan. Namun Allah melihat jauh melampaui apa yang bisa kita pahami. Allah SWT berfirman: ???????? ???? ?????????? ??????? ?????? ?????? ?????? ? ???????? ???? ????????? ??????? ?????? ????? ?????? ? ????????? ???????? ?????????? ??? ??????????? "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216) Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan benar-benar baik untuk kita. Bisa jadi kita melihat kebahagiaan di dalamnya, sementara Allah melihat kesedihan yang akan datang setelahnya. Bisa jadi kita melihat keuntungan, sementara Allah melihat kerugian yang tidak kita sadari. Kehilangan Tidak Selalu Berarti Hukuman Ketika kehilangan sesuatu yang berharga, sebagian orang langsung berpikir bahwa Allah sedang menghukumnya. Padahal tidak selalu demikian. Kadang kehilangan adalah cara Allah mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik. Kadang kehilangan adalah bentuk perlindungan. Kadang kehilangan adalah cara Allah mendekatkan hati kita kepada-Nya. Banyak orang yang justru menjadi lebih dekat dengan Allah setelah mengalami kegagalan, kehilangan, atau kekecewaan. Sebelum itu, mungkin mereka terlalu sibuk dengan dunia hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta. Apa yang terlihat menyakitkan hari ini, bisa jadi menjadi titik balik terbaik dalam hidupmu. Allah Tidak Pernah Mengambil Tanpa Menyiapkan Pengganti Salah satu hal yang sering membuat kehilangan terasa berat adalah karena kita hanya fokus pada apa yang pergi, bukan pada apa yang sedang Allah siapkan. Kita sibuk menangisi pintu yang tertutup sampai tidak menyadari bahwa ada pintu lain yang sedang dibuka. Rasulullah SAW bersabda: ????? ?????? ?????????? ???? ?????? ??????????? ??????? ??????? ????? ??????? ??????? ???????????? "Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka." (HR. Tirmidzi) Hadis ini mengingatkan bahwa ujian dan kehilangan tidak selalu menunjukkan murka Allah. Justru terkadang itu adalah tanda bahwa Allah sedang mendidik, mempersiapkan, dan mengangkat derajat hamba-Nya. Kita Sering Terlalu Melekat pada Dunia Ada kalanya Allah mengambil sesuatu karena hati kita mulai terlalu bergantung kepada hal tersebut. Kita merasa tidak bisa bahagia tanpa itu. Kita merasa hidup tidak akan baik-baik saja jika kehilangannya. Padahal seorang Muslim diajarkan untuk menggantungkan harapan tertinggi hanya kepada Allah, bukan kepada manusia, jabatan, harta, ataupun impian tertentu. Saat sesuatu yang kita cintai hilang, sebenarnya Allah sedang mengingatkan bahwa hanya Dia yang tidak akan pernah meninggalkan kita. Manusia bisa pergi. Kesempatan bisa hilang. Harta bisa habis. Namun Allah selalu ada. Mungkin Allah Sedang Menyiapkan yang Lebih Baik Sering kali kita baru memahami hikmah sebuah kehilangan bertahun-tahun kemudian. Apa yang dulu membuat kita menangis, ternyata menyelamatkan kita dari sesuatu yang lebih buruk. Apa yang dulu kita sesali, ternyata membuka jalan menuju kebahagiaan yang lebih besar. Karena itu, jika hari ini kamu sedang kehilangan sesuatu yang sangat kamu inginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa hidupmu telah hancur. Mungkin ini memang bukan akhir cerita. Mungkin Allah sedang memindahkanmu dari sesuatu yang baik menuju sesuatu yang lebih baik. Mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan ketergantungan yang lebih kuat kepada-Nya. Percayalah, Allah Tidak Pernah Salah Mengatur Hidupmu Kehilangan memang menyakitkan. Menangis karena kehilangan adalah hal yang manusiawi. Bahkan para nabi pun pernah merasakan kesedihan. Namun di balik setiap kehilangan, ada satu hal yang perlu selalu diingat: Allah tidak pernah salah dalam menetapkan takdir. Ketika Allah mengambil sesuatu yang sangat kamu inginkan, bukan berarti Dia ingin melihatmu menderita. Bisa jadi Dia sedang menyelamatkanmu, membimbingmu, atau menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang mampu kamu bayangkan. Jadi, jika hari ini hatimu masih sedih karena kehilangan, tetaplah berdoa dan bersabar. Karena suatu hari nanti, ketika kamu melihat kembali perjalanan hidupmu, mungkin kamu akan berkata: "Ya Allah, sekarang aku mengerti mengapa Engkau mengambilnya. Ternyata Engkau sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah." Mungkin hari ini ada sesuatu yang pernah sangat kamu harapkan, tetapi Allah justru mengambilnya darimu. Mungkin sebuah pekerjaan, hubungan, kesempatan, atau impian yang sudah lama kamu perjuangkan. Meski terasa berat, jangan sampai kehilangan itu membuatmu jauh dari Allah. Bisa jadi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik untukmu, atau sedang menghapus kesulitan yang belum kamu ketahui.
BERITA17/06/2026 | BAZNAS
Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua
Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua
Berbakti kepada Orang Tua adalah Amal yang Mulia Keutamaan Berbuat Baik Kepada Orang Tua Orang tua adalah sosok yang memiliki jasa besar dalam kehidupan setiap anak. Mereka merawat, membesarkan, mendidik, dan berjuang tanpa lelah sejak anak masih kecil hingga dewasa. Tidak ada pengorbanan yang mampu benar-benar membalas semua kasih sayang yang telah mereka berikan. Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Berbuat baik kepada orang tua bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga salah satu amal yang paling dicintai Allah SWT. Bahkan dalam Al-Qur’an, perintah berbakti kepada orang tua sering disebut setelah perintah menyembah Allah SWT. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang tua dalam Islam. Allah SWT berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.”(QS. Al-Isra: 23) Ayat ini menjadi pengingat bahwa menghormati dan menyayangi orang tua adalah bagian penting dari keimanan seorang Muslim. Tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menjaga sikap kepada ayah dan ibu. Dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik kepada orang tua bisa dilakukan dengan banyak cara. Membantu pekerjaan mereka, berbicara dengan lembut, mendengarkan nasihatnya, atau sekadar meluangkan waktu bersama termasuk bentuk bakti yang sangat berarti. Sayangnya, masih banyak orang yang baru menyadari pentingnya orang tua setelah kehilangan mereka. Ketika masih ada, terkadang anak justru mudah membantah, berbicara kasar, atau terlalu sibuk dengan urusannya sendiri hingga lupa memberi perhatian kepada orang tua. Padahal ridha Allah SWT sangat bergantung pada ridha kedua orang tua. Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”(HR. Tirmidzi) Hadis ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua di sisi Allah SWT. Membahagiakan mereka bisa menjadi jalan datangnya keberkahan hidup, sedangkan menyakiti hati mereka dapat membawa penyesalan. Terlebih seorang ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan merawat anak dengan penuh pengorbanan. Islam memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada ibu karena besarnya perjuangan yang dilakukan. Suatu ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ibumu.”Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?”Rasulullah menjawab, “Ayahmu.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa besar penghormatan Islam kepada seorang ibu. Namun bukan berarti peran ayah menjadi kecil. Ayah juga memiliki perjuangan luar biasa dalam mencari nafkah dan menjaga keluarganya. Berbuat baik kepada orang tua tidak hanya dilakukan ketika mereka masih hidup. Ketika orang tua telah meninggal dunia, seorang anak tetap bisa berbakti dengan mendoakan mereka, menjaga silaturahmi dengan kerabatnya, dan meneruskan amal-amal baik yang pernah mereka lakukan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim) Doa anak yang saleh menjadi salah satu hadiah terbaik untuk orang tua yang telah tiada. Karena itu, jangan pernah lupa mendoakan mereka setiap hari. Selain mendatangkan pahala, berbuat baik kepada orang tua juga membawa ketenangan hati dan keberkahan hidup. Banyak orang yang dimudahkan urusannya karena menjaga bakti kepada orang tua. Sebaliknya, menyakiti hati mereka sering kali menjadi penyebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Berbakti kepada orang tua juga mengajarkan seseorang menjadi pribadi yang lebih rendah hati, penyayang, dan penuh rasa syukur. Orang yang menghormati orang tuanya biasanya lebih mudah menghargai orang lain dalam kehidupannya. Di zaman sekarang, kesibukan sering membuat banyak anak jarang meluangkan waktu untuk orang tua. Padahal mereka tidak selalu menginginkan harta atau hadiah mahal. Terkadang perhatian kecil, kabar sederhana, dan waktu bersama sudah cukup membuat hati mereka bahagia. Karena itu, selama orang tua masih ada, manfaatkan kesempatan untuk membahagiakan mereka. Jangan menunggu terlambat untuk meminta maaf, membantu, atau menunjukkan rasa sayang. Semoga Allah SWT menjadikan kita anak-anak yang mampu berbakti kepada kedua orang tua, menjaga hati mereka, dan selalu mendoakan kebaikan untuk mereka. Karena sejatinya, orang tua adalah pintu keberkahan dan salah satu jalan terbaik menuju ridha Allah SWT. Menjadi pribadi yang baik bukan berarti hidup tanpa masalah tetapi tentang bagaimana hati tetap tenang, ikhlas, dan terus berusaha mendekat kepada Allah SWT. Kebaikan sekecil apa pun akan selalu memiliki nilai besar di sisi Allah, terlebih ketika dilakukan dengan tulus dan penuh kepedulian kepada sesama. Mari jadikan hidup lebih bermakna dengan memperbanyak amal kebaikan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menebarkan manfaat di tengah masyarakat. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi melalui program-program kebaikan bersama BAZNAS Kota Sukabumi. Karena sejatinya, hati yang paling tenang adalah hati yang tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain
BERITA25/05/2026 | BAZNAS
Seleksi Terbuka Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi 2026–2031 Resmi Dibuka !
Seleksi Terbuka Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi 2026–2031 Resmi Dibuka !
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Sukabumi, bersama Pemerintah Kota Sukabumi dan Kantor Kementerian Agama Kota Sukabumi, membuka seleksi Pimpinan Baznas Kota Sukabumi periode 2026 - 2031.Mengundang seluruh masyarakat untuk dapat berpatisipasi dalam pemilihan Calon Pimpinan BAZNAS Kota Sukabumi.Silakan dibaca dengan seksama, jadwal seleksi serta persyaratan pendaftaran untuk mengikuti seleksi. Link Pendaftaran : https://simzat.kemenag.go.id/simzat/apps/web/portal_seleksi_baznas/2026RJL0 Link Dokumen Persyaratan : https://s.id/SelekpimKotsi2026
BERITA04/05/2026 | BAZNAS
Stop Anggap Biasa! 4 Makna Luar Biasa Hari Raya Idul Fitri yang Sering Terlupakan
Stop Anggap Biasa! 4 Makna Luar Biasa Hari Raya Idul Fitri yang Sering Terlupakan
Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang sangat dinantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Hari raya ini menandai berakhirnya puasa selama satu bulan di bulan suci Ramadhan dan menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah, yakni kesucian hati dan jiwa kebersihan. Namun, selain sebagai ajang kemenangan setelah sebulan berpuasa, Idul Fitri juga memiliki makna yang lebih dalam perspektif Islam Makna Idul Fitri dalam Islam 1. Kembali ke Fitrah Jika dilihat dari gabungan katanya, Idul Fitri berasal dari dua kata, yaitu 'id' dan 'al-fitri'. Id secara bahasa berasal dari kata ada - ya'uudu, yang artinya kembali. Sedangkan kata al-fitri memiliki dua makna, yaitu suci dan berbuka. Suci artinya bersih dari segala dosa, kesalahan, dan keburukan. Hal ini mencerminkan bahwa setelah seseorang menjalankan ibadah puasa, seorang muslim diharapkan kembali kepada kesucian hati dan jiwa. 2. Hari Kemenangan Idul Fitri menjadi hari kemenanga karena umat Islam telah menyelesaikan salah satu ibadah yang berat, yakni puasa Ramadhan. Ini adalah kemenangan spiritual atas hawa nafsu dan godaan duniawi. Allah swt dalam firmannya di QS Al-Baqarah ayat 183 menyampaikan bahwa tujuan melaksanakan puasa adalah untuk mendapatkan gelar bertakwa. 3. Mempererat Silaturahmi Hari Raya Idul Fitri juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan silaturahmi antar sesama. Pada hari ini, umat Islam dianjurkan untuk saling bermaafan, baik kepada keluarga, sahabat, maupun tetangga. Tradisi saling memaafkan ini bukan sekedar kebiasaan, namun memiliki makna yang mendalam dalam Islam, yaitu membersihkan hati dari rasa dendam dan kesalahan di masa lalu. Dengan silaturahmi yang terjaga, hubungan persaudaraan akan semakin kuat dan penuh keberkahan. 4. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Idul Fitri juga mengajarkan umat Islam untuk memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang kurang mampu. Hal ini diwujudkan melalui kewajiban menunaikan zakat fitrah sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Dengan zakat fitrah, kebahagiaan di hari raya dapat dirasakan oleh semua orang, sehingga tidak ada yang merasakan kekurangan di hari yang penuh kebahagiaan tersebut. Nilai kepedulian inilah yang menjadi salah satu ajaran penting dalam Islam. Dalam menutup amal di bulan puasa ini kita harus menanamkan prinsip khauf dan raja'. Khauf khawatir apakah ibadah kita diterima oleh Allah swt atau tidak, sehingga kita tidak terlalu puas dan berbangga diri dengan pencapaian ibadah yang telah dilakukan. Sementara raja' adalah sikap optimisme bahwa Allah dengan sifat kasih sayang-Nya pasti mau menerima amal ibadah yang kita lakukan. Hikmah Idul Fitri dalam Kehidupan Seorang Muslim Hari Raya Idul Fitri bukan hanya tentang berakhirnya bulan Ramadhan, namun juga menjadi momentum bagi setiap umat Islam untuk memperbaiki diri. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa, memperbanyak doa, membaca Al-Qur'an, dan melakukan berbagai amal kebaikan, Idul Fitri menjadi titik awal untuk mempertahankan kebiasaan baik tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu hikmah besar dari Idul Fitri adalah memperkuat hubungan antar sesama manusia. Pada hari raya ini, umat Islam dianjurkan untuk saling memaafkan, baik kepada keluarga, sahabat, maupun masyarakat sekitar. Tradisi saling memaafkan ini mengandung makna yang sangat dalam, yaitu membersihkan hati dari rasa dendam, iri, dan kebencian. Rasulullah ? juga sangat mendukung umatnya untuk menjaga silaturahmi. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa menjaga silaturahmi dapat memperpanjang umur dan melapangkan rezeki. Oleh karena itu, momen Idul Fitri sering dimanfaatkan oleh banyak orang untuk berkumpul bersama keluarga dan mempererat hubungan yang mungkin sempat renggang. Selain itu, Idul Fitri juga menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya berasal dari makanan khas lebaran atau pakaian baru, tetapi dari hati yang bersih dan rasa syukur kepada Allah SWT. Kebahagiaan yang dirasakan saat Hari Raya Idul Fitri seharusnya mendorong kita untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan Zakat Fitrah : Menyempurnakan Ibadah Ramadhan Zakat Fitrah merupakan bagian penting dalam perayaan Idul Fitri dengan tujuan agar di hari raya tidak ada yang merasakan kekurangan. Selain itu, Zakat fitrah memiliki fungsi utama untuk menyucikan jiwa dan menyempurnakan ibadah puasa. Rasulullah ? bersabda: “Zakat fitrah diwajibkan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari amalan sia-sia dan ucapan keji, serta sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Zakat fitrah wajib ditunaikan oleh setiap Muslim sebelum pelaksanaan Salat Idul Fitri. Besarnya setara dengan sekitar 2,5 kg bahan makanan pokok, seperti beras untuk di Indonesia Salurkan Zakat Fitrah ke BAZNAS Tunaikan zakat fitrah Anda melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) agar penyalurannya tepat sasaran dan membantu saudara-saudara yang membutuhkan di hari raya. untuk membaca artikel lainnya klik link di bawah ini : Makna Hari Raya Idul Fitri https://baznaskotasukabumi.com/makna-hari-raya-idul-fitri/
BERITA27/02/2026 | BAZNAS
BAZNAS Siapkan Dapur Umum untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
BAZNAS Siapkan Dapur Umum untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI menyalurkan bantuan berupa dapur umum untuk korban banjir di Tapanuli Selatan. Kronologi Terjadinya Bencana Banjir di Tapanuli Selatan Bencana terjadi setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Tapsel sejak Senin, 24 November 2025. Curah hujan ekstrem ini menyebabkan sungai — terutama di wilayah bantaran seperti di kecamatan Batang Toru — meluap dan memicu banjir bandang serta tanah longsor. Bahkan dalam beberapa desa, arus deras membawa gelondongan kayu, sehingga daya hantam banjir menjadi sangat buruk dan merusak rumah, jalan, fasilitas umum, dan infrastruktur. Pada 25–26 November 2025, dampak bencana mulai terlihat: permukiman penduduk terdampak berat, banyak rumah rusak atau hanyut, akses jalan dan jembatan putus — menyebabkan isolasi sejumlah desa dan mempersulit evakuasi serta penyelamatan. Sejumlah korban jiwa mulai dilaporkan; data awal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sekurang-kurangnya 8 orang meninggal dan ribuan warga mengungsi. Seiring waktu, data korban terus diperbarui secara periodik oleh pihak berwenang. Pada 28 November dilaporkan 32 orang meninggal, 29 November meningkat menjadi 43 korban, dan pada 30 November tercatat 46 korban tewas serta puluhan hilang. Akhirnya, per 3 Desember 2025, korban meninggal di Tapsel dilaporkan mencapai 81 orang, dengan sekitar 33 orang hilang dan ratusan lainnya luka-luka; ribuan warga mengungsi akibat rumah dan fasilitas rusak berat. Saat ini, tim SAR gabungan bersama aparat daerah, relawan, dan masyarakat tengah melakukan upaya pencarian korban hilang, evakuasi pengungsi, serta distribusi bantuan — seperti logistik, air bersih, dan layanan medis — ke titik-titik pengungsian. Pendataan kerusakan pun terus dilakukan untuk menilai skala kerugian materiil dan kebutuhan pemulihan jangka panjang. BAZNAS RI Hadir Mengoperasikan Sejumlah Dapur Umum Memastikan ribuan penyintas bencana banjir dan tanah longsor di Tapanuli Selatan (Tapsel) mendapat pasokan makanan yang layak, BAZNAS RI melalui unit BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) telah mendirikan dan mengoperasikan sejumlah dapur umum di titik-titik terdampak berat. Operasi yang dipimpin langsung oleh Koordinator BTB untuk wilayah Tapsel, Sukamto, ini telah menghasilkan ribuan bungkus makanan siap santap bagi pengungsi. Di tengah kesibukan mengawasi produksi di Dapur Umum BAZNAS RI di Tapsel, Sumut, Kamis (4/12/2025), Sukamto memaparkan upaya logistik yang terus diperluas cakupannya. “Fokus kami adalah memastikan tidak ada penyintas yang kelaparan. Setelah assessment, kami segera mendirikan dapur umum di titik-titik dengan konsentrasi pengungsi tinggi dan di daerah yang sulit dijangkau,” ujarnya. Dapur Umum BAZNAS RI untuk Penyintas Bencana di Tapanuli Selatan Jaringan Dapur Umum BAZNAS Berdasarkan laporan operasional per Rabu (3/12/2025), jaringan dapur umum BAZNAS telah berkembang pesat. Titik utama berada di Desa Tandihat, di kompleks PTPN 5 Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan. Dapur ini secara konsisten memproduksi 1.950 bungkus makanan per hari untuk mendukung 630 jiwa pengungsi, dilengkapi dengan dapur air di dua titik. Tidak berhenti di situ, tim yang terdiri dari Sukamto, Septo P, personil BTB Provinsi Sumut, Baznas Kabupaten dan Kota Tapsel, serta 12 relawan masak, terus memperluas jangkauan. Dapur umum baru berhasil didirikan di Desa Tolang Julu, memproduksi 600 bungkus makanan per hari. Selain itu, dukungan logistik juga diberikan kepada dapur umum komunitas, seperti di Masjid Nurul, Jl. Murai Aekmanis, Kelurahan Sibolga Selatan, dengan menyuplai beras, lauk, dan bumbu untuk produksi 300 porsi per hari selama tiga hari. Yang patut dicatat adalah peningkatan kapasitas di beberapa titik. Dapur umum di Masjid An-Nursina, Kelurahan Sarudik, Tapanuli Tengah, yang awalnya memproduksi 600 bungkus, kini ditingkatkan menjadi 1.000 bungkus per hari (2x produksi) untuk menjangkau 568 jiwa. Begitu pula dengan dapur umum di Jalan Kamboja, Kelurahan Simare Mare, Kecamatan Sibolga Utara, yang langsung beroperasi dengan produksi 1.000 bungkus per hari untuk 450 jiwa. “Ini adalah kerja kolektif. Personil pusat, daerah, dan relawan lokal bersinergi. Setiap hari tim kami bergerak dengan 1 unit mobil dan 2 motor, membeli bahan baku, memasak, dan mendistribusikan, seringkali melalui jalur yang masih sulit,” jelas Sukamto yang baru saja menyelesaikan studi magister di UIN Yogyakarta dan langsung bertugas ke lokasi bencana. Operasi dapur umum ini menjadi penopang hidup utama bagi ribuan pengungsi yang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan pokok. Kehadiran BAZNAS tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memberikan kepastian dan harapan bagi warga di tengah situasi yang serba tidak menentu. Komitmen untuk melanjutkan operasi ini menunjukkan dedikasi BAZNAS RI dalam menjalankan amanah kemanusiaan, memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan hingga kondisi darurat pulih. Mari langitkan doa dan ringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS. Salurkan donasi Anda melalui: https://app.midtrans.com/payment-links/bantuankebencanaan Atau bisa memalui website resmi : https://baznaskotasukabumi.com/
BERITA05/12/2025 | indri irmayanti
BAZNAS Hadirkan Layanan Psikososial Anak bagi Penyintas Banjir Bandang di Kota Padang
BAZNAS Hadirkan Layanan Psikososial Anak bagi Penyintas Banjir Bandang di Kota Padang
BAZNAS RI menyalurkan layanan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak banjir Padang di tengah ribuan warga yang kehilangan rumah dan harta benda. Kronologi Banjir Padang : Hujan Deras, Jembatan Putus, dan Korban Jiwa Banjir besar melanda Kota Padang, Sumatra Barat, akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Selasa (25/11/2025) dini hari. Hujan deras tersebut menyebabkan Sungai Batang Kuranji meluap hingga pada Kamis (27/11/2025) pukul 06.35 WIB arus deras setinggi lebih dari 200 sentimeter menghantam dan merusak Jembatan Gunung Nago, sehingga akses jalan terputus. BNPB menyebutkan bahwa derasnya arus air menjadi penyebab utama rusaknya jembatan tersebut, sementara jalur alternatif masih dapat dilewati melalui Jembatan By Pass dan Jembatan Baru Kuranji. Banjir yang datang juga membawa material berupa lumpur dan batang pohon yang menerjang permukiman warga, terutama di kawasan Luminpark Cluster. Akibat kejadian tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia, serta sejumlah rumah dan kendaraan warga mengalami kerusakan. Bencana hidrometeorologi ini menimbulkan dampak yang cukup luas terhadap kehidupan masyarakat Kota Padang. Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kota Padang, tercatat sebanyak 27.433 warga terdampak banjir yang tersebar di sembilan kecamatan, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Koto Tangah. Kecamatan lain yang terdampak antara lain Nanggalo (2.232 jiwa), Padang Utara (1.486 jiwa), Lubuk Begalung (893 jiwa), Pauh (741 jiwa), Kuranji (601 jiwa), Padang Barat (321 jiwa), Padang Timur (150 jiwa), serta Bungus Teluk Kabung (26 jiwa). Selain itu, tercatat dua rumah hanyut, 61 rumah rusak sedang, 17 rumah rusak ringan, satu rumah ibadah rusak ringan, dua titik jalan longsor, dan dua petak sawah rusak berat. Di tengah proses pemulihan pascabencana, berbagai pihak turut ambil bagian dalam upaya kemanusiaan, salah satunya Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI yang memberikan layanan khusus bagi anak-anak korban banjir. BAZNAS RI Berikan Layanan Dukungan Psikososial bagi Anak-anak Korban Banjir Padang BAZNAS Hadirkan Layanan Psikososial Anak bagi Penyintas Banjir Bandang di Kota Padang Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memberikan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang difokuskan untuk membantu pemulihan mental anak-anak dan kelompok rentan yang mengalami dampak langsung dari bencana banjir dan longsor di Kota Padang. Sebanyak 25 anak mengikuti sesi layanan dukungan psikososial ini. Di akhir kegiatan, anak-anak menerima susu dan makanan ringan sebagai bentuk dukungan pemenuhan gizi serta penutup kegiatan yang menyenangkan. Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Saidah Sakwan, MA., menyampaikan, pendampingan psikososial merupakan bagian penting dalam pemulihan pascabencana, sehingga BAZNAS sejak awal berkomitmen menghadirkannya bagi masyarakat yang membutuhkan. “BAZNAS RI memastikan bahwa layanan psikososial menjadi bagian dari respon kemanusiaan, agar anak-anak terdampak bencana dapat kembali pulih secara mental dan emosional,” ujar Saidah dalam keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025). Dalam sesi layanan psikososial ini, anak-anak mengikuti berbagai permainan, aktivitas edukatif, dan dongeng interaktif yang dipandu langsung oleh Awam Prakoso, Founder Kampung Dongeng Indonesia. Sebagai pendongeng sekaligus fasilitator psikososial, kehadiran Awam Prakoso berhasil menghidupkan suasana, menghadirkan tawa, dan menciptakan rasa aman bagi anak-anak. “Layanan tersebut dirancang untuk memberikan ruang aman bagi anak-anak agar dapat kembali merasakan keceriaan setelah menghadapi situasi darurat. Melalui LDP ini, BAZNAS RI berupaya memastikan kebutuhan emosional dan psikologis penyintas mendapat perhatian yang sama pentingnya dengan kebutuhan fisik,” ucap Saidah. Saidah mengatakan bahwa kehadiran fasilitator profesional dan kegiatan yang menyenangkan membantu menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan. “Kegiatan ini memberi ruang bagi anak-anak untuk melepas ketegangan dan memulihkan diri setelah mengalami situasi yang traumatis,” ucap Saidah. Menurut Saidah, antusiasme anak-anak dan respons positif dari para orang tua menunjukkan bahwa layanan psikososial ini sangat dibutuhkan di tengah proses pemulihan. Banyak dari mereka merasa terbantu karena BAZNAS menyediakan ruang yang aman dan menghibur bagi anak-anak. “Para orang tua merasa sangat terbantu karena anak-anak mereka dapat bermain, belajar, dan tertawa kembali dalam suasana yang mendukung,” kata Saidah. Saidah menegaskan bahwa BAZNAS RI akan terus memperkuat layanan kemanusiaan di wilayah terdampak banjir bandang, termasuk dengan menghadirkan pendampingan lanjutan sesuai kebutuhan. “BAZNAS RI berkomitmen untuk terus hadir mendampingi masyarakat dalam setiap fase pemulihan, baik melalui layanan pangan, kesehatan, maupun dukungan psikososial,” tambahnya. Mari langitkan doa dan ringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana dengan bersedekah melalui Dompet Bencana dan Kemanusiaan BAZNAS. Salurkan donasi Anda melalui: https://app.midtrans.com/payment-links/bantuankebencanaan Atau bisa melalui website resmi: https://baznaskotasukabumi.com/
BERITA05/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Kunjungan studi implementasi kebijakan pencapaian Indeks zakat nasional ke kota sukabumi
Kunjungan studi implementasi kebijakan pencapaian Indeks zakat nasional ke kota sukabumi
SUKABUMI,26 November 2025 - Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui rombongan yang terdiri dari Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sidoarjo, Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Sidoarjo, dan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabupaten Sidoarjo, melaksanakan misi kerja dalam rangka Studi Implementasi Kebijakan Pencapaian Indeks Zakat Nasional (IZN) ke Kota Sukabumi. Kunjungan ini bertujuan untuk belajar secara langsung praktik dan strategi yang telah berhasil diterapkan oleh Kota Sukabumi dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat dan mencapai target IZN. Kolaborasi Lintas Sektoral di Kota Sukabumi Rombongan dari Sidoarjo mendapat sambutan hangat dari perwakilan instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi, menunjukkan sinergi kuat yang menjadi kunci keberhasilan di tingkat lokal. Pihak yang hadir dari Kota Sukabumi meliputi: Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kota Sukabumi Sekretariat Daerah (Setda) Kota Sukabumi Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sukabumi BAZNAS Kota Sukabumi Satuan Audit Internal (SAI) BAZNAS Kota Sukabumi Pembahasan Fokus pada Strategi Pencapaian IZN Dalam pertemuan tersebut, fokus diskusi utama adalah mengenai penguatan dimensi kelembagaan melalui regulasi daerah dan optimalisasi dimensi dampak melalui kolaborasi Pemda-BAZNAS . 1. Penguatan Dimensi Kelembagaan Melalui Peraturan Walikota Poin utama yang menjadi sorotan dan dipelajari oleh delegasi Sidoarjo adalah keberhasilan Kota Sukabumi dalam mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari Aparatur Sipil Negara (ASN). Regulasi yang Mengikat : Kota Sukabumi telah memiliki Peraturan Walikota yang secara eksplisit mengatur dan mendukung pemotongan ZIS wajib bagi ASN di cakupan pemerintah kota. Peraturan ini menjadi hukum yang kuat bagi BAZNAS Kota Sukabumi untuk melakukan penghimpunan secara terstruktur dan berkelanjutan. Mekanisme Penghimpunan : Melalui peraturan ini, pemotongan ZIS dilakukan secara otomatis dari gaji bulanan ASN, memastikan konsistensi dan transparansi dana yang dikumpulkan. Hal ini secara langsung memperkuat Dimensi Kelembagaan IZN, khususnya dalam aspek akuntabilitas dan efisiensi penghimpunan. 2. Dimensi Dampak: Kolaborasi Pemda dan BAZNAS dalam Optimalisasi ZIS Aspek kedua yang didalami adalah bagaimana kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Kesra dan Setda Kota Sukabumi) dengan BAZNAS berhasil menciptakan dampak (Dimensi Dampak IZN) yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat. Sinergi Program : Pemda Kota Sukabumi menjalin kerja sama erat dengan BAZNAS dalam penyelarasan data kemiskinan dan program pengentasan kemiskinan . Dana ZIS BAZNAS digunakan untuk mengisi celah (gap) yang tidak terjangkau oleh APBD, seperti program bedah rumah, bantuan modal usaha mikro, dan beasiswa untuk keluarga kurang mampu. Optimalisasi Penyaluran : Kolaborasi ini memungkinkan BAZNAS menyalurkan ZIS dengan sasaran yang lebih tepat dan terukur, sehingga hasil atau dampak ZIS terhadap peningkatan taraf hidup mustahik menjadi lebih optimal. Hadirnya Satuan Audit Internal (SAI) BAZNAS Kota Sukabumi dalam pertemuan tersebut juga menegaskan komitmen pada akuntabilitas, memastikan bahwa dana yang dihimpun dari ASN dan masyarakat disalurkan secara profesional dan memberikan dampak yang maksimal. Kunjungan studi implementasi yang melibatkan Kesra, Setda, Kemenag, BAZNAS, dan SAI Kota Sukabumi ini diharapkan dapat menjadi peta jalan bagi Kabupaten Sidoarjo untuk mereplikasi keberhasilan serupa, khususnya dalam penerbitan regulasi daerah yang mendukung penuh optimalisasi zakat.
BERITA26/11/2025 | baznas
Keutamaan dan Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib : Untuk Memperat Hubungan dengan Allah
Keutamaan dan Tata Cara Shalat Sunnah Rawatib : Untuk Memperat Hubungan dengan Allah
Shalat sunnah rawatib merupakan bagian dari amalan sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Ibadah ini menyertai shalat fardhu dan terbagi menjadi dua jenis, yaitu shalat sunnah qabliyah (sebelum shalat wajib) dan shalat sunnah ba’diyah (setelah shalat wajib). Meski bersifat sunnah, shalat rawatib memiliki keutamaan luar biasa yang mampu menyempurnakan kekurangan dalam ibadah wajib kita. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang tata cara sholat sunnah rawatib, niat, hingga keutamannya agar dapat mengamalkannya dengan baik. Tata Cara dan Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib Shalat Rawatib Subuh Jumlah Rakaat: 2 rakaat sebelum shalat fardhu subuh Niat: Ushalli sunnatas subhi rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala Artinya: Saya niat shalat sunnah qabliyah Subuh dua rakaat karena Allah ta’ala. Keutamaan: “Dua rakaat fajar (sebelum Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim) Shalat ini termasuk shalat sunnah muakkad, yang sangat dianjurkan dan tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW. Shalat Rawatib Dzuhur Jumlah Rakaat: 2- 4 rakaat sebelum dan 2–4 rakaat sesudah Niat: • Qabliyah: Ushalli sunnatad dzuhri arba’a rakaatin qabliyyatan lillahi ta’ala • Ba’diyah: Ushalli sunnatad dzuhri raka’ataini ba’diyatan lillahi ta’ala Keutamaan: “Siapa yang menjaga empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat setelahnya, maka Allah akan mengharamkan ia dari api neraka.” (HR. Tirmidzi) Shalat Rawatib Ashar Jumlah Rakaat: 4 rakaat sebelum Ashar Niat: Ushalli sunnatal ‘ashri arba’a rakaatin qabliyyatan lillahi ta’ala Keutamaan: “Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Shalat sunnah ini bukan termasuk sunnah muakkad Shalat Rawatib Maghrib Jumlah Rakaat: 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat setelah Niat: • Qabliyah: Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala • Ba’diyah: Ushalli sunnatal maghribi rak’ataini ba’diyatan lillahi ta’ala Keutamaan: “Barang siapa yang shalat dua rakaat setelah Maghrib sebelum berbicara, maka pahalanya dicatat di surga Illiyyin.” (HR. Thabrani) Shalat Rawatib Isya Jumlah Rakaat: 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat setelah Niat: • Qabliyah: Ushalli sunnatal ‘Isya rak’ataini qabliyyatan lillahi ta’ala • Ba’diyah: Ushalli sunnatal ‘Isya rak’ataini ba’diyatan lillahi ta’ala Keutamaan: Tidak kalah istimewa dengan yang lain, sholat rawatib isya juga memiliki ganjaran yang besar Itulah penjelasan mengenai tata cara dan keutamaan shalat sunnah rawatib di kelima waktu sholat. Semoga kita senantiasa menjadi hamba-Nya yang selalu memperbaiki shalat baik itu shalat fardhu maupun sunnah nya. Islam menganjurkan kita untuk selalu beramal dengan penuh keikhlasan dan tanpa mengharapkan imbalan, sehingga berpotensi mendapatkan ganjaran pahala yang lebih besar di sisi Allah Swt. Selain melaksanakan ibadah sunnah, berbagi dengan sesama melalui Infak maupun Sedekah juga harus dibiasakan.
BERITA11/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →