WhatsApp Icon

Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung

28/08/2026  |  Penulis: Baznas Kota Sukabumi

Bagikan:URL telah tercopy
Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung

Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung

Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung

Ada masa ketika masyarakat turun ke jalan karena merasa suaranya tidak cukup didengar. Ada pula masa ketika masyarakat justru berharap ada yang datang kepada mereka karena rumahnya terendam, sumber penghasilannya hilang, atau keluarganya membutuhkan pertolongan.

Dua keadaan tersebut terlihat berbeda. Yang satu berbicara tentang aspirasi, yang lain tentang bencana. Namun keduanya mempertemukan kita dengan satu persoalan yang sama yakni bagaimana kekuatan digunakan ketika manusia sedang berada dalam posisi yang membutuhkan perlindungan?

Dalam situasi seperti ini, kita mudah terjebak untuk memilih pihak. Membela kelompok tertentu, menyalahkan kelompok lain, lalu ikut memperpanjang perdebatan. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk direnungkan yaitu untuk siapa kekuatan itu sebenarnya ada?

Ketika Kekuatan Berhadapan dengan Mereka yang Lemah

Kekuatan dapat hadir dalam banyak bentuk.

Ia bisa berupa jabatan, kewenangan, uang, pendidikan, koneksi, jumlah massa, akses terhadap informasi, bahkan kemampuan untuk membuat suara seseorang didengar.

Karena itu, kekuatan tidak selalu berbentuk seragam atau jabatan resmi. Seorang atasan memiliki kekuatan terhadap bawahannya. Orang tua memiliki kekuasaan atas anaknya. Guru memiliki pengaruh terhadap muridnya. Orang yang memiliki banyak uang mempunyai pilihan yang lebih luas daripada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Masalahnya bukan pada keberadaan kekuatan tersebut.

Masalah dimulai ketika seseorang menggunakan kekuatan hanya untuk memastikan bahwa dirinya tidak pernah dirugikan, sementara orang lain harus menanggung akibatnya.

Di titik itu, kekuatan berhenti menjadi perlindungan dan mulai berubah menjadi alat untuk mengendalikan.

Semakin Besar Kekuatan, Semakin Besar Tanggung Jawab

Kita sering melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang menyenangkan: memiliki kewenangan, dihormati, didengar, dan mampu menentukan keputusan.

Islam melihatnya dari sisi yang berbeda.

Kekuasaan bukan hanya tentang hak untuk menentukan, tetapi juga kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keputusan tersebut.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkan dengan adil.”

Ayat ini mengajarkan bahwa amanah dan keadilan tidak dapat dipisahkan.

Ketika seseorang diberi kewenangan, ia tidak hanya memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan. Ia juga memperoleh tanggung jawab untuk memastikan keputusan tersebut tidak berubah menjadi jalan bagi kezaliman.

Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukan hanya seberapa kuat ia mampu mengendalikan keadaan.

Tetapi juga seberapa aman orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

Keadilan Tidak Berarti Semua Orang Mendapat Perlakuan yang Sama

Di sinilah kita perlu berhati-hati memahami keadilan.

Keadilan bukan selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah yang sama kepada semua orang. Keadilan berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pihak yang memang berhak.

Orang yang sedang menghadapi bencana mungkin membutuhkan pertolongan yang berbeda dengan orang yang sedang menyampaikan aspirasi.

Anak yang kehilangan kesempatan belajar membutuhkan pendidikan.

Keluarga yang kehilangan penghasilan membutuhkan pemulihan ekonomi.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Masyarakat yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan perlindungan.

Artinya, ketika sumber daya terbatas, persoalannya bukan sekadar berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana kita menentukan prioritas penggunaannya.

Inilah salah satu alasan mengapa kekuasaan membutuhkan kebijaksanaan.

Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung

Kekuatan Seharusnya Menghasilkan Rasa Aman

Bayangkan jika seseorang berada di hadapan pihak yang jauh lebih kuat darinya.

Ia tidak memiliki uang. Tidak memiliki koneksi. Tidak memiliki jabatan. Tidak memiliki kemampuan untuk membalas.

Apa yang seharusnya ia rasakan?

Takut?

Atau justru aman?

Dalam pandangan Islam, keberadaan pihak yang kuat seharusnya memberikan perlindungan kepada pihak yang lebih lemah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Ahmad, dengan riwayat yang dikenal luas dalam pembahasan keutamaan memberi manfaat)

Pesan ini sederhana, tetapi sangat dalam.

Kebaikan tidak berhenti pada apa yang kita miliki. Kebaikan terlihat dari apa yang keberadaan kita berikan kepada kehidupan orang lain.

Maka semakin besar kemampuan seseorang, seharusnya semakin besar pula manfaat yang dapat ia hadirkan.

Jangan Sampai Kita Menjadi Kuat dengan Membuat Orang Lain Lemah

Renungan ini sebenarnya tidak hanya ditujukan kepada pemerintah, pejabat, atau aparat.

Sebab kita semua pernah berada dalam posisi yang lebih kuat daripada orang lain.

Mungkin kita pernah menjadi kakak yang lebih berkuasa daripada adik.

Atasan yang dapat menentukan nasib bawahan.

Orang tua yang merasa seluruh keputusan keluarga harus mengikuti keinginannya.

Teman yang memiliki kelompok lebih besar sehingga mampu mengucilkan seseorang.

Atau seseorang yang memiliki akses lebih luas sehingga dapat memperoleh sesuatu yang sulit dijangkau orang lain.

Pada saat itulah kita perlu berhenti sejenak.

Jangan sampai kita menggunakan kelebihan yang Allah titipkan untuk membuat orang lain semakin tidak berdaya.

Sebab kekuatan yang tidak disertai kesadaran dapat membuat kita mengira bahwa karena kita bisa, maka kita juga berhak.

Padahal tidak semua yang bisa dilakukan pantas dilakukan.

Kemanusiaan Dimulai dari Cara Kita Menggunakan Kekuatan

Kemanusiaan sering dipahami sebatas memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan.

Padahal maknanya jauh lebih luas.

Kemanusiaan juga berarti bagaimana kita memperlakukan manusia ketika mereka tidak memiliki kemampuan untuk membalas kita.

Apakah kita tetap menghormati mereka?

Apakah kita mau mendengarkan?

Apakah kita memberikan ruang?

Apakah kita menjaga martabat mereka?

Atau justru karena mereka lemah, kita merasa bebas memperlakukan mereka sesuka hati?

Rasulullah SAW bukan hanya mengajarkan kasih sayang kepada mereka yang dekat. Keteladanan beliau menunjukkan bahwa kekuatan harus berjalan bersama rahmat, keadilan, dan kepedulian.

Allah bahkan menyebut Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat bukan berarti membiarkan segala sesuatu tanpa aturan. Rahmat berarti menghadirkan kebaikan dengan cara yang menjaga kehidupan dan martabat manusia.

Dari Kekuasaan Menuju Kepedulian

Prinsip ini juga dapat kita lihat dalam kehidupan sosial.

Ketika seseorang memiliki rezeki lebih, ia memiliki kemampuan untuk membantu.

Ketika seseorang memiliki ilmu lebih, ia memiliki kemampuan untuk mengajarkan.

Ketika seseorang memiliki akses lebih luas, ia memiliki kemampuan untuk membuka jalan bagi orang lain.

Ketika seseorang memiliki kewenangan, ia memiliki kemampuan untuk melindungi mereka yang tidak memiliki kekuatan yang sama.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pemberian.

ZIS mengajarkan bahwa apa yang kita miliki tidak hanya berbicara tentang berapa banyak yang dapat kita simpan, tetapi juga berapa banyak manfaat yang dapat kita teruskan kepada orang lain.

Melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk mengubah kepedulian tersebut menjadi manfaat nyata melalui berbagai program, termasuk bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan keagamaan.

Dengan demikian, membantu bukan berarti menempatkan diri sebagai pihak yang lebih tinggi.

Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa setiap kelebihan yang kita miliki membawa tanggung jawab untuk menghadirkan kemaslahatan.

Kekuatan yang Kita Miliki Adalah Ujian

Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang siapa yang paling kuat.

Bukan pula tentang siapa yang paling berkuasa.

Tetapi tentang untuk apa kekuatan itu digunakan.

Sebab seseorang dapat memiliki jabatan tetapi tidak menghadirkan rasa aman.

Seseorang dapat memiliki harta tetapi tidak menghadirkan manfaat.

Seseorang dapat memiliki ilmu tetapi menggunakannya untuk merendahkan.

Seseorang dapat memiliki pengaruh tetapi menggunakannya untuk membungkam.

Sebaliknya, seseorang yang memiliki sedikit kekuatan dapat menggunakannya untuk menolong orang lain bangkit.

Maka sebelum bertanya seberapa besar kekuatan yang kita miliki, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri tentang apakah orang lain menjadi lebih aman karena keberadaan kita?

Karena pada akhirnya, kekuatan bukan diukur dari siapa yang mampu kita hadapi, tetapi dari siapa yang mampu kita lindungi.

Dan mungkin di situlah salah satu bentuk kedewasaan seorang manusia: ketika ia tidak lagi menggunakan kelebihannya untuk memastikan dirinya selalu menang, tetapi menggunakannya agar orang lain tidak harus selalu kalah.

Sebab kekuatan yang benar bukanlah kekuatan yang membuat manusia lain takut.

Kekuatan yang benar adalah kekuatan yang membuat manusia lain merasa terlindungi.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →