Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
28/08/2026 | Penulis: Baznas Kota Sukabumi
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Negeri yang Terlalu Sibuk Bertengkar Akan Kesulitan Mendengar Siapa yang Sedang Menderita
Ketika Semua Orang Berbicara, Tidak Semua Orang Benar-Benar Didengar
Ada masa ketika sebuah persoalan begitu besar sehingga hampir semua orang merasa perlu memiliki pendapat.
Berita muncul setiap hari. Potongan video beredar dari satu layar ke layar lain. Pernyataan dibalas dengan pernyataan. Kritik melahirkan pembelaan. Pembelaan kembali melahirkan kemarahan. Dalam waktu singkat, satu persoalan dapat berubah menjadi perdebatan panjang yang melibatkan begitu banyak orang.
Semua ingin didengar.
Semua merasa memiliki alasan.
Semua yakin sedang membela sesuatu yang penting.
Tidak ada yang salah dengan masyarakat yang berpikir dan bersuara. Kritik diperlukan. Perbedaan pendapat juga merupakan bagian dari kehidupan bersama. Bahkan diam terhadap persoalan yang salah bukan selalu tanda kebijaksanaan.
Namun ada sesuatu yang perlu kita renungkan ketika sebuah negeri terlalu lama tenggelam dalam pertengkaran.
Apa yang terjadi ketika semua orang sibuk berbicara, tetapi tidak ada lagi yang benar-benar mendengarkan?
Sebab di tengah suara yang semakin keras, sering kali ada suara lain yang justru semakin sulit terdengar.
Suara seorang anak yang membutuhkan kesempatan untuk tetap belajar.
Suara keluarga yang sedang mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Suara orang sakit yang membutuhkan pertolongan.
Suara lansia yang menjalani hari-harinya dengan keterbatasan.
Suara kelompok rentan yang tidak memiliki kekuatan, pengaruh, atau ruang sebesar mereka yang sedang berada di tengah perdebatan.
Mereka mungkin tidak memiliki mikrofon.
Tidak memiliki banyak pengikut.
Tidak memiliki kemampuan untuk membuat persoalan mereka menjadi perhatian banyak orang.
Tetapi kebutuhan mereka tidak berhenti hanya karena masyarakat sedang sibuk bertengkar.

Perdebatan Memiliki Cara untuk Mengambil Seluruh Perhatian Kita
Masalah sosial dan politik memiliki satu kekuatan besar karena ia mampu menyita perhatian.
Ketika sebuah isu menjadi perdebatan, kita ingin mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita mengikuti perkembangan terbaru, membaca komentar, melihat tanggapan, lalu mulai menentukan posisi.
Perhatian kita perlahan terkonsentrasi pada konflik.
Siapa yang mengatakan apa.
Siapa yang harus bertanggung jawab.
Siapa yang membela.
Siapa yang menyerang.
Siapa yang memenangkan perdebatan.
Tanpa sadar, kita dapat menghabiskan begitu banyak energi untuk mengikuti konflik, sampai lupa bahwa kehidupan tidak berhenti ketika perdebatan sedang berlangsung.
Seseorang tetap harus mencari nafkah.
Seorang ibu tetap memikirkan kebutuhan keluarganya.
Seorang anak tetap membutuhkan pendidikan.
Seorang pasien tetap membutuhkan perawatan.
Bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan, persoalan hidup tidak dapat ditunda sampai keadaan negara kembali tenang.
Inilah yang terkadang luput dari perhatian kita.
Konflik dapat menjadi pusat pembicaraan, tetapi penderitaan tidak selalu memiliki kemampuan untuk menjadi pusat perhatian.
Orang yang sedang kesulitan sering kali tidak memiliki cukup waktu untuk ikut memperdebatkan keadaan. Mereka sedang sibuk bertahan.
Dan mungkin, justru karena itulah suara mereka harus lebih sengaja kita dengarkan.
Tidak Semua yang Membutuhkan Pertolongan Mampu Meminta Perhatian
Ada anggapan bahwa orang yang membutuhkan akan datang dan meminta bantuan.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian.
Sebagian orang memilih diam karena merasa malu.
Sebagian tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.
Sebagian sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan sehingga menganggap kesulitan sebagai sesuatu yang harus dijalani sendiri.
Sebagian lainnya bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan persoalan yang sedang mereka hadapi.
Di sinilah empati seharusnya bekerja.
Empati bukan hanya kemampuan untuk merasa iba setelah seseorang menceritakan penderitaannya.
Empati juga merupakan kemampuan untuk menyadari bahwa tidak semua penderitaan datang kepada kita dengan suara yang keras.
Ada kesulitan yang tersembunyi di balik seseorang yang tetap tersenyum.
Ada keluarga yang tampak baik-baik saja, tetapi sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Ada anak yang datang ke sekolah setiap hari tanpa kita mengetahui betapa berat perjuangan keluarganya untuk mempertahankan pendidikannya.
Ada manusia yang tidak meminta untuk menjadi perhatian, tetapi tetap membutuhkan perhatian.
Karena itu, masyarakat yang beradab tidak hanya mendengarkan suara yang paling keras.
Ia juga berusaha mencari suara yang paling mudah diabaikan.
Islam Mengajarkan Kita untuk Tidak Kehilangan Arah di Tengah Keramaian
Islam tidak memisahkan keimanan dari kepedulian terhadap manusia.
Allah SWT berfirman:
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma'un: 1–3)
Ayat ini memberikan sebuah renungan yang sangat mendalam.
Keberagamaan tidak hanya berbicara tentang apa yang kita yakini atau apa yang kita ucapkan. Ada ukuran lain yang terlihat dari cara kita memperlakukan manusia, terutama mereka yang berada dalam keadaan lemah.
Anak yatim mungkin tidak memiliki orang tua yang memperjuangkan kepentingannya.
Orang miskin mungkin tidak memiliki sumber daya untuk memperjuangkan kebutuhannya.
Kelompok rentan mungkin tidak memiliki kekuatan untuk membuat suaranya terdengar.
Karena itu, Islam justru memberikan perhatian besar kepada mereka.
Di tengah kehidupan yang penuh dengan kepentingan, kita diajarkan untuk tidak hanya melihat siapa yang paling kuat.
Kita juga diminta untuk memperhatikan siapa yang paling membutuhkan perlindungan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang di langit.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kasih sayang dalam ajaran Islam bukan kelemahan.
Ia bukan sikap pasif.
Kasih sayang adalah kemampuan untuk tetap melihat manusia sebagai manusia, bahkan ketika dunia sedang sibuk membagi dirinya menjadi berbagai kelompok.
Ketika Kebenaran Berubah Menjadi Kompetisi untuk Menang
Salah satu bahaya dari perdebatan yang terlalu panjang adalah perubahan tujuan.
Pada awalnya, seseorang mungkin ingin memperjuangkan sesuatu yang ia anggap benar.
Namun perlahan, fokusnya dapat bergeser.
Bukan lagi, “Apa yang benar?”. Tetapi, “Bagaimana agar saya tidak kalah?”
Bukan lagi, “Apa yang bisa diperbaiki?”. Tetapi, “Bagaimana membuktikan bahwa mereka salah?”
Di sinilah perdebatan dapat kehilangan manfaatnya.
Kita mulai lebih sibuk mempertahankan posisi daripada memahami persoalan.
Lebih tertarik memenangkan argumen daripada mencari jalan keluar.
Lebih cepat merespons daripada mendengarkan.
Padahal tidak semua persoalan sosial dapat diselesaikan dengan menentukan siapa pemenang dalam sebuah perdebatan.
Ada persoalan yang membutuhkan tangan untuk bekerja.
Ada keluarga yang membutuhkan bantuan.
Ada anak yang membutuhkan akses pendidikan.
Ada masyarakat yang membutuhkan kesempatan untuk membangun kembali kehidupannya.
Mereka tidak selalu membutuhkan kita untuk memenangkan perdebatan bagi mereka.
Kadang mereka membutuhkan kita untuk benar-benar hadir.
Kepedulian Tidak Boleh Menunggu Keadaan Menjadi Sempurna
Sering kali kita berpikir bahwa untuk membantu orang lain, keadaan harus lebih dulu stabil.
Ekonomi harus membaik.
Situasi harus tenang.
Kehidupan pribadi harus mapan.
Pendapatan harus lebih besar.
Semua persoalan harus selesai.
Namun jika kepedulian selalu menunggu keadaan yang sempurna, mungkin kita akan terus memiliki alasan untuk menundanya.
Padahal kehidupan tidak pernah sepenuhnya bebas dari masalah.
Selalu ada berita yang membuat kita khawatir.
Selalu ada persoalan yang membuat kita kecewa.
Selalu ada alasan untuk berkata, “Nanti saja.”
Justru di tengah keadaan yang tidak sempurna, kita perlu mengingat bahwa manusia lain juga sedang menjalani ketidaksempurnaan yang mungkin jauh lebih berat.
Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh keadaan.
Tetapi bukan berarti kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu.
Satu orang mungkin tidak dapat menyelesaikan kemiskinan.
Tetapi banyak orang yang mengambil bagian dapat menciptakan perubahan yang lebih besar.
Inilah mengapa kepedulian membutuhkan ruang untuk bergerak.
Bukan hanya tinggal sebagai perasaan.
Dari Kebisingan Menuju Tindakan yang Memberi Manfaat
Mungkin kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan.
Tidak memiliki panggung untuk memengaruhi jutaan orang.
Tidak memiliki kemampuan untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang sedang terjadi.
Tetapi kita masih memiliki satu pertanyaan yang dapat menentukan posisi kita dalam kehidupan sosial yakni setelah mengetahui semua persoalan ini, apa yang dapat saya lakukan?
Pertanyaan tersebut mengubah kita dari sekadar penonton menjadi bagian dari solusi.
Jawabannya tentu tidak harus sama bagi setiap orang.
Ada yang berkontribusi melalui ilmu.
Ada yang bekerja melalui profesinya.
Ada yang menggunakan waktunya untuk menjadi relawan.
Ada yang memberikan tenaga.
Dan bagi mereka yang memiliki kemampuan, sebagian rezeki dapat menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat melalui zakat, infak, dan sedekah.
Di sinilah BAZNAS memiliki ruang yang penting.
BAZNAS bukan sekadar tempat seseorang menyalurkan dana. Lebih dari itu, ia menjadi salah satu jembatan yang mempertemukan kepedulian masyarakat dengan kebutuhan mereka yang membutuhkan.
Melalui berbagai program di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, dan keagamaan, zakat, infak, dan sedekah dapat bergerak dari niat menjadi tindakan.
Dari kepedulian menjadi bantuan.
Dari bantuan menjadi kesempatan.
Dan dari kesempatan, seseorang dapat memiliki ruang untuk melanjutkan kehidupannya dengan lebih baik.
Jangan Sampai Suara yang Paling Keras Membuat Kita Lupa Mendengar yang Paling Membutuhkan
Sebuah negeri akan selalu memiliki perbedaan.
Akan selalu ada kritik.
Akan selalu ada perdebatan.
Akan selalu ada persoalan yang membuat masyarakat marah, kecewa, bahkan kehilangan kepercayaan.
Namun ada satu hal yang tidak boleh ikut hilang mengenai kemampuan kita untuk melihat manusia di balik seluruh persoalan.
Ketika kita terlalu sibuk memperdebatkan siapa yang benar, jangan sampai ada manusia yang tidak lagi terlihat.
Ketika kita terlalu sibuk mengikuti konflik, jangan sampai ada anak yang kehilangan kesempatan belajar tanpa pernah menjadi perhatian.
Ketika kita terlalu sibuk memenangkan pendapat, jangan sampai ada keluarga yang sedang berjuang sendirian tanpa pernah kita dengar.
Barangkali tidak semua perubahan harus dimulai dari panggung yang besar.
Sebagian perubahan dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak membiarkan hati kita ikut terseret oleh kebisingan.
Untuk tetap berpikir sebelum bereaksi.
Untuk tetap adil ketika memiliki perbedaan.
Dan yang paling penting, untuk tetap peduli ketika orang lain mulai terlalu sibuk memperjuangkan dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, kualitas sebuah masyarakat mungkin bukan hanya terlihat dari seberapa keras ia menyuarakan pendapat.
Tetapi juga dari seberapa jauh ia masih mampu mendengar mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk bersuara.
Di tengah negeri yang penuh dengan suara, jangan sampai kita hanya menjadi orang yang pandai berbicara.
Belajarlah juga menjadi manusia yang mampu mendengar.
Sebab terkadang, orang yang paling membutuhkan pertolongan bukan mereka yang paling keras meminta perhatian, melainkan mereka yang selama ini tidak pernah memiliki kesempatan untuk didengar.
Artikel Lainnya
Hati yang Mati: Tanda Bahaya yang Wajib Diwaspadai Setiap Muslim
Tidak Semua yang Sah Itu Adil
Tidak Semua yang Bisa Kita Ambil Berarti Berhak Kita Miliki
Ironi Zakat: Ketika 26 Juta Mustahik Masih Terjebak dalam Kemiskinan
Ketika Ego Duduk di Kursi Kepemimpinan
3 Kunci Sukses Jadi Muslim Produktif di Tengah Gempuran Teknologi
Dari Zakat dan Sedekah, Tumbuh Harapan untuk Anak Yatim
Zakat Bukan Kuno: Anak Muda Kini Melek Kewajiban lewat BAZNAS
Ketika Penderitaan Orang Lain Mulai Terlihat Seperti Harga yang Wajar
Cinta Tak Berbatas Usia: BAZNAS Hadirkan Senyum bagi Lansia Panti Jompo
Tak Harus Kaya untuk Jadi Dermawan
Kekuatan yang Seharusnya Menjadi Pelindung
Antara Angka dan Nurani: Menilai Dampak Sosial 10 Tahun Perjalanan BAZNAS
Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak
Ketika Iman Mendorong Kita untuk Peduli kepada Sesama

Info Rekening Zakat
Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.
Lihat Daftar Rekening →