WhatsApp Icon

Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak

28/08/2026  |  Penulis: Baznas Kota Sukabumi

Bagikan:URL telah tercopy
Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak

Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak

Yang Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak

Di dunia yang semakin ditentukan oleh koneksi, ada satu hal yang tidak boleh ikut menjadi privilese yakni hak.

Ketika Hak yang Sama Memiliki Jalan yang Berbeda

Kita hidup di tengah masyarakat yang tidak hanya mengenal uang sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu. Ada bentuk “mata uang” lain yang sering kali tidak terlihat seperti koneksi, kedekatan, jabatan, pengaruh, bahkan nama seseorang.

Karena itu, dua orang dapat memiliki kebutuhan yang sama, tetapi tidak selalu memiliki jalan yang sama untuk mendapatkannya.

Seseorang mungkin harus mengikuti antrean, memenuhi prosedur, menunggu giliran, dan menerima keputusan apa adanya. Sementara orang lain dapat memperoleh kemudahan karena mengenal seseorang yang memiliki kewenangan.

Pada titik tertentu, masalahnya bukan lagi tentang siapa yang mendapatkan kemudahan. Persoalannya adalah ketika kemudahan bagi sebagian orang berubah menjadi kesulitan bagi orang lain.

Sebab jika satu pintu dibuka karena hubungan tertentu, sementara orang lain tidak pernah memiliki kesempatan yang sama untuk mengetuknya, maka kesenjangan akses perlahan berubah menjadi kesenjangan kesempatan.

Dan ketika hal itu terus terjadi, masyarakat dapat mulai percaya bahwa memiliki hak saja tidak cukup.

Kita juga harus memiliki akses untuk memperjuangkannya.

Ketika “Orang Dalam” Mulai Terasa Lebih Penting daripada Hak

Fenomena ini dapat muncul dalam banyak bentuk kehidupan.

Ada orang yang mendapatkan informasi lebih cepat karena memiliki koneksi. Ada yang urusannya lebih mudah karena mengenal pihak tertentu. Ada pula yang memberikan sesuatu dengan harapan memperoleh kemudahan di kemudian hari.

Dalam batas tertentu, memiliki jaringan sosial tentu bukan sesuatu yang salah. Manusia memang saling mengenal, saling membantu, dan membangun hubungan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika hubungan tersebut digunakan untuk menggeser hak orang lain.

Di sinilah sebuah pertanyaan moral menjadi penting: apakah seseorang mendapatkan sesuatu karena memang berhak, atau karena memiliki akses yang tidak dimiliki orang lain?

Perbedaannya mungkin tidak selalu terlihat dari hasil akhirnya. Tetapi prosesnya menentukan apakah sebuah kesempatan benar-benar diberikan secara adil.

Sebab keadilan bukan berarti semua orang harus memperoleh hasil yang sama. Keadilan berarti seseorang tidak kehilangan haknya hanya karena ia tidak memiliki uang, koneksi, jabatan, atau kekuatan untuk memperjuangkannya.

Tidak Punya Akses Tidak Seharusnya Kehilangan Hak

Yang Paling Rentan Bukan Selalu yang Paling Sedikit Memiliki

Ketimpangan akses sering kali tidak langsung terlihat sebagai kemiskinan.

Seseorang bisa saja memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki jaringan. Memiliki potensi, tetapi tidak memiliki kesempatan. Memiliki hak, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk menyuarakannya.

Inilah yang membuat ketimpangan akses menjadi persoalan yang serius.

Bayangkan seorang anak yang memiliki kemampuan belajar tetapi keluarganya tidak mampu menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai. Bayangkan seseorang yang memiliki kemampuan bekerja tetapi tidak memiliki modal untuk memulai usaha. Atau seseorang yang membutuhkan layanan kesehatan tetapi terbentur keterbatasan ekonomi.

Mereka mungkin tidak kehilangan hak secara tertulis.

Tetapi tanpa akses yang memadai, hak tersebut dapat menjadi sesuatu yang sulit mereka nikmati dalam kehidupan nyata.

Karena itu, membantu seseorang tidak selalu berarti memberikan apa yang tidak ia punya. Terkadang, membantu berarti membuka kembali jalan yang sebelumnya terlalu sulit untuk ia tempuh sendirian.

Islam Tidak Mengenal Keadilan yang Bergantung pada Kedekatan

Islam memberikan perhatian yang sangat kuat terhadap persoalan keadilan.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 58:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”

Perhatikan satu bagian yang sederhana tetapi sangat dalam dalam kalimat “kepada yang berhak menerimanya.”

Bukan kepada orang yang paling dekat.

Bukan kepada orang yang paling kuat.

Bukan kepada orang yang paling banyak memberikan keuntungan kepada kita.

Tetapi kepada yang berhak.

Allah juga mengingatkan dalam QS. Al-Ma'idah ayat 8 agar kebencian terhadap suatu kaum tidak membuat manusia berlaku tidak adil. Artinya, keadilan tidak boleh berubah mengikuti siapa yang kita sukai atau siapa yang kita tidak sukai.

Prinsip ini menjadi semakin penting ketika seseorang memiliki kekuasaan atau akses.

Sebab semakin besar kemampuan seseorang untuk membuka pintu, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memastikan bahwa pintu tersebut tidak hanya terbuka bagi orang-orang tertentu.

Masalahnya Bukan Hanya pada Mereka yang Memiliki Akses

Namun artikel ini tidak seharusnya berhenti pada menyalahkan orang yang memiliki koneksi.

Kita juga perlu bercermin.

Sebab mungkin suatu hari kita berada di posisi yang memiliki akses lebih besar daripada orang lain.

Saat itu, kita memiliki pilihan.

Apakah akses tersebut akan kita gunakan untuk mengambil jalan yang menguntungkan diri sendiri?

Atau kita gunakan untuk membantu orang lain memperoleh kesempatan yang memang menjadi haknya?

Ada perbedaan besar antara menggunakan koneksi untuk memotong hak orang lain dan menggunakan koneksi untuk membuka jalan bagi seseorang yang kesulitan mendapatkan haknya.

Yang pertama mempersempit keadilan.

Yang kedua dapat menjadi bentuk kepedulian.

Maka memiliki akses sebenarnya bukan dosa. Yang perlu dijaga adalah bagaimana akses tersebut digunakan.

Zakat Mengajarkan Kita Bahwa Kepedulian Harus Sampai kepada yang Berhak

Di sinilah nilai zakat, infak, dan sedekah menemukan relevansinya.

Zakat tidak hanya berbicara tentang mengeluarkan sebagian harta. Di dalamnya terdapat kesadaran bahwa harta yang Allah titipkan kepada seseorang memiliki dimensi sosial.

Ada pihak-pihak yang berhak menerima zakat, dan ada tanggung jawab untuk memastikan manfaat tersebut sampai kepada mereka.

Dalam konteks ini, kepedulian bukan sekadar tentang “Saya ingin memberi.”

Tetapi juga tentang “Siapa yang membutuhkan, siapa yang berhak, dan bagaimana pemberian ini dapat memberikan manfaat?”

Melalui berbagai programnya di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan keagamaan, BAZNAS menjadi salah satu ruang untuk menerjemahkan kepedulian tersebut ke dalam bentuk yang lebih nyata.

Bantuan pendidikan, misalnya, bukan hanya tentang memberikan biaya. Ia dapat berarti membuka kesempatan bagi seseorang untuk belajar ketika keterbatasan ekonomi hampir menutup jalan tersebut.

Dukungan ekonomi bukan hanya tentang memberikan bantuan. Ia dapat menjadi jalan agar seseorang memiliki kesempatan untuk membangun kemandirian.

Dengan demikian, ZIS dapat dilihat bukan sekadar sebagai aktivitas memberi, tetapi sebagai bagian dari upaya memperluas kesempatan bagi mereka yang memiliki keterbatasan.

Jangan Sampai Kita Menjadi Alasan Jalan Orang Lain Menjadi Lebih Sempit

Pada akhirnya, kita mungkin tidak mampu menghilangkan seluruh ketimpangan akses yang ada di masyarakat.

Kita tidak selalu memiliki kekuasaan untuk mengubah sistem. Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuka setiap pintu.

Tetapi setiap orang memiliki pilihan untuk tidak menjadi bagian dari masalah tersebut.

Ketika memiliki uang, jangan menjadikannya alasan untuk merampas kesempatan orang lain.

Ketika memiliki koneksi, jangan menjadikannya jalan untuk menyingkirkan mereka yang tidak memilikinya.

Ketika memiliki jabatan, jangan menjadikan kedekatan sebagai ukuran siapa yang layak mendapatkan keadilan.

Dan ketika memiliki kemampuan untuk membantu, jangan menunggu sampai seseorang memiliki kekuatan yang cukup untuk meminta pertolongan.

Sebab mungkin ada orang yang diam bukan karena tidak membutuhkan.

Mereka hanya tidak memiliki akses untuk didengar.

Masyarakat yang adil bukanlah masyarakat yang membuat semua orang memiliki kekuatan yang sama. Masyarakat yang adil adalah masyarakat yang memastikan bahwa mereka yang tidak memiliki kekuatan tetap tidak kehilangan haknya.

Karena pada akhirnya, akses adalah keistimewaan, tetapi hak bukanlah privilese.

Dan ketika Allah memberikan kita sedikit lebih banyak akses daripada orang lain, mungkin itu bukan sekadar keuntungan yang harus kita nikmati.

Bisa jadi, itu adalah amanah untuk membuka jalan bagi mereka yang selama ini hanya berdiri di depan pintu.

Bagikan:URL telah tercopy

Artikel Lainnya

Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →