WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Stop anggap remeh! 6 Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan yang Bisa Membawa Kita ke Surga
Stop anggap remeh! 6 Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan yang Bisa Membawa Kita ke Surga
Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan adalah topik yang selalu relevan setiap tahunnya. Bulan suci ini bukan sekedar soal menahan lapar dan haus, tapi juga tentang mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan rasa empati terhadap sesama. Bagi setiap muslim, Ramadhan adalah kesempatan emas yang bisa membawa surga jika dijalani dengan benar. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa puasa di bulan Ramadhan memiliki keuntungan besar, yaitu pengampunan dosa dan janji surga. 1. Menyucikan Diri dan Mendekatkan Hati kepada Allah Puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, perbuatan, dan hati dari hal-hal yang dilarang. Rasulullah SAW bersabda: “Puasa adalah perisai; maka jika salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat bodoh.” (HR.Ahmad) Dengan menjaga diri selama puasa, hati menjadi lebih bersih, dan kedekatan dengan Allah semakin kuat. Inilah salah satu Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan yang paling utama: membersihkan jiwa dan memperkuat iman. 2. Mendapat Pahala yang Berlipat Ganda Setiap amalan kebaikan di bulan Ramadhan dilipatgandakan pahalanya. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap amal kebaikan anak Adam yang dilipatkan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat.” (HR.Bukhari) Tidak hanya shalat dan sedekah, bahkan menahan diri dari perbuatan buruk akan mendapatkan ganjaran besar. Ini menjadikan Ramadhan menjadi bulan yang penuh keuntungan spiritual dan pahala yang bisa membawa surga. 3. Melatih Kesabaran dan Disiplin Puasa mengajarkan kita kesabaran dalam menghadapi lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Allah SWT berfirman: “Dan bersabarlah kamu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah : 153) Kedisiplinan ini akan tercermin dalam aktivitas sehari-hari bahkan setelah Ramadhan. Orang yang sabar dan disiplin memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan rahmat dan surga Allah. 4. Meningkatkan Empati dan Kepedulian Sosial Puasa mengajarkan kita merasakan penderitaan orang lain yang kurang beruntung. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa.” (HR. Tirmidzi) Dengan demikian, puasa bukan hanya soal menahan diri, tapi juga menumbuhkan kepedulian sosial, rasa syukur, dan kemurahan hati—semua hal yang bisa membuka pintu surga. 5. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Selain manfaat spiritual, Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan juga sangat terlihat pada aspek fisik dan mental. Saat berpuasa, tubuh kita diberi kesempatan untuk melakukan detoksifikasi alami , yaitu proses membersihkan racun dan sisa metabolisme yang menumpuk. Selama berpuasa, tubuh tidak terus-menerus menerima asupan makanan, sehingga sistem pencernaan memiliki waktu istirahat dan bisa memperbaiki fungsi organ-organ internal seperti hati, ginjal, dan lambung. Detoksifikasi ini membantu memperkuat sistem imun, sehingga tubuh lebih sehat dan lebih siap melawan penyakit. Lebih lanjutnya, puasa dapat memperbaiki metabolisme tubuh . Ketika berpuasa, tubuh mulai membakar cadangan lemak untuk energi, tidak hanya bergantung pada glukosa dari makanan. Proses ini membantu mengontrol kadar gula darah, menurunkan kolesterol jahat, dan menjaga berat badan tetap ideal. Bahkan para ahli kesehatan modern menekankan bahwa puasa intermiten—yang mirip dengan puasa Ramadhan—dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan mendukung kesehatan jantung. Selain itu, puasa juga memiliki manfaat mental yang signifikan. Ketika menahan lapar dan haus, seseorang belajar mengendalikan diri dan melatih kesabaran. Aktivitas ini merangsang otak untuk fokus pada pikiran positif, refleksi diri, dan pengendalian emosi. Banyak orang melaporkan bahwa setelah beberapa hari berpuasa, mereka merasa lebih tenang, lebih sabar dalam menghadapi masalah, dan lebih mampu berpikir jernih. Hal ini karena hormon kortisol—hormon stres—cenderung menurun saat tubuh menyesuaikan diri dengan pola puasa. Tidak hanya mental, manfaat puasa emosional juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Berpuasa mengajarkan kita untuk lebih berempati terhadap orang yang kurang beruntung, karena kita merasakan sendiri lapar dan dahaga. Rasa empati ini membuat hati lebih lembut, hubungan sosial lebih harmonis, dan kemampuan untuk membantu orang lain meningkat. Hati yang lembut dan pikiran yang tenang ini merupakan kombinasi yang mendukung kesehatan emosional secara keseluruhan. Selain itu, puasa dapat meningkatkan kualitas tidur dan relaksasi . Ketika tubuh tidak terbebani dengan pencernaan terus-menerus, pola tidur cenderung lebih teratur, terutama jika kita tetap menjaga sahur dan berbuka secara seimbang. Tidur yang berkualitas juga berperan penting dalam memperbaiki memori, meningkatkan konsentrasi, dan menjaga keseimbangan hormon-hormon penting dalam tubuh. Dalam jangka panjang, puasa juga menjadi latihan kesehatan holistik bagi tubuh dan jiwa . Tubuh menjadi lebih sehat secara fisik, pikiran lebih fokus, dan hati lebih tenang. Semua ini saling terkait: kesehatan fisik mendukung kesehatan mental, kesehatan mental memperkuat spiritualitas, dan spiritualitas yang kuat membuat kita lebih disiplin dalam menjaga pola hidup sehat. Dengan kata lain, puasa bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga investasi untuk tubuh, pikiran, dan jiwa . Contoh praktis yang bisa dilakukan agar manfaat ini optimal: Sahur Bergizi – Konsumsi protein, serat, dan lemak sehat untuk menjaga energi sepanjang hari. Berbuka dengan yang ringan – Hindari makanan terlalu manis atau pedas, agar pencernaan tetap sehat. Tetap aktif – Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki atau peregangan untuk menjaga metabolisme. Tidur cukup – Atur jadwal tidur agar tetap produktif dan fokus sepanjang Ramadhan. Meditasi dan dzikir – Menenangkan pikiran dengan dzikir atau zikir ringan membantu mengurangi stres. Dengan menerapkan semua ini, puasa menjadi lebih dari sekadar menahan lapar dan haus . Ia menjadi proses menyeluruh yang menyehatkan tubuh, menenangkan pikiran, dan menyejukkan hati. Tidak heran jika para ulama menekankan bahwa puasa adalah perisai, bukan hanya dari dosa, tetapi juga dari gangguan fisik dan mental yang dapat memicu iman. Jangan Lupa Berinfaq untuk Memperkuat Pahala Keuntungan puasa akan semakin lengkap jika diikuti dengan sedekah dan infaq. Sedekah di bulan Ramadhan memiliki pahala berlipat dan mendekatkan kita ke surga. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah janji dosa memenuhi air janji api.” (HR. Tirmidzi) Anda dapat menyampaikan infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi , agar bantuan tersalurkan tepat sasaran, mendukung pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Infaq yang konsisten tidak hanya memberi manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menambah keberkahan hidup bagi pemberinya. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Keuntungan Puasa di Bulan Ramadhan, bisa dirindukan Surga https://baznaskotasukabumi.com/jaga-amalan--bulan-ramadhan/
ARTIKEL27/02/2026 | BAZNAS
Stop Anggap Remeh! Ketahuilah Makna Puasa yang Sebenarnya agar Ibadahmu Tidak Sia-Sia
Stop Anggap Remeh! Ketahuilah Makna Puasa yang Sebenarnya agar Ibadahmu Tidak Sia-Sia
Puasa tidak hanya sekedar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istir tapi ibadah puasa dalam agama islam juga memiliki makna yang mendalam. Ibadah puasa diibaratkan sebagai perisai yang melindungi umat Islam serta mengajarkan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah swt. Selain dari sisi spiritual, puasa juga mengajarkan kepada kita nilai-nilai sosial yang mulia. Mari bersama kita ulas mulai dari pengertian, makna, dan pentingnya puasa bagi kehidupan setiap orang yang beragama Islam. Pengertian Puasa? Mengutip dari Jurnal Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), pengertian puasa secara etimologis berasal dari kata “As-shaum”, yang secara harfiah berarti menahan diri dari melakukan suatu tindakan. Namun menurut ajaran agama Islam, puasa Merujuk pada menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan diiringi niat dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Dengan demikian, puasa juga berarti menahan diri dari makan dan minum, mengendalikan hawa nafsu, serta menahan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna atau yang dilarang oleh Allah SWT. Ini juga termasuk dalam konteks puasa adalah menghindari memasukkan substansi fisik apapun ke dalam tubuh, termasuk minum obat dan sejenisnya. Dalam Al-Qur'an, istilah shaum juga berarti menahan diri dari hal-hal negatif, seperti berbicara yang tidak bermanfaat. Misalnya saja dalam QS Maryam ayat 26, Maryam diperintahkan untuk menahan diri saat berbicara. Hal ini mengajarkan umat Islam bahwa puasa bukan hanya tentang fisik tetapi juga menjaga lisan, pikiran, dan perilaku. Makna Spiritualitas dalam Puasa Ibadah Puasa mengajarkan umat Islam untuk lebih bertakw serta mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan kewajiban menahan diri dari makan dan minum serta hawa nafsu, seorang muslim melatih ketahanan, pengendalian diri, dan keikhlasan dalam beribadah. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa adalah perisai bagi seorang muslim. Artinya, ibadah ini dapat melindungi dari godaan hawa nafsu dan keburukan, sehingga menjadikan seseorang lebih kuat secara spiritual. Dimensi Sosial dari Puasa Tidak hanya dari segi spiritual, tetapi puasa juga memiliki nilai dari segi dimensi sosial. Dengan menahan diri dari makan dan minum, Allah swt mengajarkan kita untuk merasakan keseharian orang-orang yang kurang mampu, yang harus menahan lapar karena tidak sanggup membeli sesuap nasi. Oleh karena itu, bulan Ramadhan menjadi momen bagi kita untuk meningkatkan rasa empati dengan berbagi. Selain bernilai pahala, berbagi juga bisa menetramkan hati. Tradisi berbagi takjil, membantu fakir miskin, bersedekah, serrta kewajiban menunaikan zakat fitrah mencerminkan kepedulian yang berarti. Puasa juga menciptakan kebersamaan dalam keluarga dan masyarakat. Suasana berbuka puasa bersama, shalat tarawih, hingga berbagi rezeki menjadi momen yang mempererat hubungan antar sesama muslim. Pentingnya Puasa dalam Kehidupan Seorang Muslim Setelah memahami pengertian dan maknanya, penting bagi kita untuk menyadari bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan yang datang di bulan Ramadhan . Puasa adalah sarana pembentukan karakter dan penyucian jiwa yang berdampak panjang dalam kehidupan seorang muslim. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Ketakwaan inilah tujuan utama dari ibadah puasa. Bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, namun melatih diri agar lebih sadar bahwa setiap perbuatan selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Puasa mendidik kejujuran. Ketika seseorang berpuasa, tidak ada manusia lain yang benar-benar bisa memastikan apakah ia tetap menahan diri atau diam-diam membatalkan puasanya. Namun karena iman, ia memilih untuk tetap taat. Di dalam pendiriannya membangun integritas pribadi yang kuat. Selain itu, puasa juga mengajarkan disiplin waktu. Seorang Muslim harus memperhatikan waktu sahur, imsak, dan berbuka dengan tertib. Kebiasaan ini melatih keteraturan hidup yang jika diterapkan secara konsisten akan berdampak positif dalam aktivitas sehari-hari, baik dalam pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial. Puasa sebagai Latihan Pengendalian Diri Di era modern yang penuh godaan, puasa menjadi latihan pengendalian diri yang sangat relevan. Bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan amarah, menjaga pandangan, serta mengontrol ucapan. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus yang ia tahan.” (HR.Muhammad al-Bukhari ) Hadis ini menegaskan bahwa hakikat puasa terletak pada perubahan sikap dan perilaku. Jika setelah berpuasa seseorang masih mudah marah, gemar berkata kasar, atau berbuat zalim, maka ia belum menangkap makna sejati dari ibadah tersebut. Dampak Puasa bagi Kesehatan dan Mental Secara fisik, puasa juga memiliki manfaat kesehatan. Pola makan yang teratur saat sahur dan berbuka dapat membantu sistem metabolisme tubuh bekerja lebih seimbang. Tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat dari aktivitas pencernaan yang terus-menerus. Secara mental, puasa melatih ketenangan dan kestabilan emosi. Rasa lapar yang ditahan dengan sabar membentuk daya tahan psikologis. Inilah sebabnya banyak orang merasakan kedamaian batin yang lebih dalam selama bulan Ramadhan. Puasa sebagai Momentum Perubahan Titik seharusnya menjadi titik awal perubahan diri. Jika selama sebelas bulan seseorang lalai, maka Ramadhan hadir sebagai kesempatan memperbaiki diri. Momentum ini mendorong umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah seperti membaca Al-Qur'an, memperbanyak doa, mempererat silaturahmi, dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Perubahan yang dibangun selama puasa idealnya tidak berhenti saat Ramadhan usai. Nilai kesabaran, empati, kejujuran, dan kedisiplinan hendaknya terus terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, puasa bukan sekedar kewajiban, melainkan kebutuhan ruhani setiap muslim. Ia membersihkan hati, menguatkan iman, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Ketika puasa dimulai dengan penuh kesadaran dan keikhlasan, maka ia benar-benar menjadi perisai yang menjaga diri dari keburukan dan mengantarkan pada derajat takwa yang lebih tinggi. Sempurnakan puasa kita dengan berbagi kepada sesama. Yuk, salurkan infaq dan shadaqah terbaik melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan jadikan Ramadhan lebih penuh berkah. Yuk, salurkan infaq dan shadaqah terbaikmu sekarang juga melalui BAZNAS dan jadikan Ramadan ini lebih bermakna! ???? Untuk melihat artikel lainnya klik link dibawah ini : Pengertian Puasa: Makna dan Signifikansi dalam Agama Islam https://baznaskotasukabumi.com/tips-ibadah-puasa-ramadhan/
ARTIKEL27/02/2026 | BAZNAS
Stop Anggap Remeh! 7 Rahasia Terbukti Niat Puasa Qadha Ramadhan: Jangan Salah Fatal agar Sah & Pahalanya Maksimal!
Stop Anggap Remeh! 7 Rahasia Terbukti Niat Puasa Qadha Ramadhan: Jangan Salah Fatal agar Sah & Pahalanya Maksimal!
Pentingnya Niat dalam Puasa Qadha Ramadhan Bagi umat Islam yang tidak dapat menjalankan puasa Ramadhan karena alasan syar'i, seperti sakit, hai, atau perjalanan jauh, diwajibkan untuk menggantinya di waktu lain. Puasa pengganti ini dikenal sebagai puasa qadha. Agar ibadah ini sah dan diterima oleh Allah, puasa qadha harus dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai dengan tuntunan syariat. Hukum dan Waktu Mengqadha Puasa Ramadhan Hukum mengadha puasa ramadhan bagi yang meninggalkan dengan alasan syar'i adalah wajib sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Baqarah : 185 "Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari-hari yang lain." Sementara untuk waktu mengqadha puasa dapat dilakukan kapan saja setelah Ramadhan hingga sebelum masuk Ramadhan berikutnya. Namun, disarankan untuk menggantinya secepat mungkin agar tidak menumpuk. Bacaan Niat Puasa Qadha Ramadhan Niat adalah salah satu syarat sah dalam menjalankan puasa qadha. Berikut adalah bacaan niat puasa qadha Ramadhan: Nawaitu shauma ghadin 'an qadha'i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta'ala Artinya: “Aku bermaksud untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.” Bacaan niat ini harus dilakukan sebelum waktu subuh, sebagaimana puasa wajib lainnya. Jika seseorang lupa berniat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah dan harus diulang lagi. Tata Cara Melaksanakan Puasa Qadha Membaca niat sebelum fajar: Puasa qadha harus diawali dengan niat yang jelas dan dilakukan sebelum waktu subuh. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa: Seperti makan, minum, dan segala hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga maghrib. Memperbanyak ibadah: Agar puasa lebih bermakna, dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunnah, seperti shalat sunnah, membaca Al-Qur'an, dan berzikir. Berbuka puasa saat maghrib tiba: Dengan makanan yang halal dan diawali dengan doa berbuka puasa. Keutamaan Menunaikan Puasa Qadha Menunaikan kewajiban yang telah ditetapkan Allah dalam Al-Qur'an: Dengan mengganti puasa yang tertinggal, seorang Muslim memenuhi perintah Allah. Menghapus dosa akibat meninggalkan puasa Ramadhan dengan uzur syar'i: Menunjukkan kesungguhan dalam bertaubat dan memperbaiki diri. Menambah kedekatan dengan Allah melalui ibadah yang dilakukan dengan ikhlas: Meningkatkan spiritualitas dan keimanan. Dengan niat yang benar dan pelaksanaan sesuai tutunan, ibadah puasa qadha akan menjadi sah dan berpahala. Oleh karena itu, umat Islam yang memiliki hutang puasa sebaiknya segera menggantinya agar tidak menumpuk sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Hikmah di Balik Niat yang Tulus Niat yang tulus akan menghadirkan rasa ikhlas dan kesadaran bahwa ibadah dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Dengan niat yang benar, puasa qadha tidak sekadar menjadi kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga menjadi sarana memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritual. Oleh karena itu, bagi umat Islam yang memiliki hutang puasa Ramadhan, segeralah menunaikannya dengan niat yang benar dan tata cara yang sesuai tuntunan syariat. Jangan menunda hingga mendekati Ramadhan berikutnya. Dengan niat yang lurus dan pelaksanaan yang tepat, puasa qadha akan menjadi ibadah yang sah, bernilai pahala, dan membawa keberkahan dalam kehidupan. Apa Itu Niat Puasa Qadha Ramadhan? Niat Puasa Qadha Ramadhan adalah kunci utama agar ibadah pengganti puasa menjadi sah dan bernilai pahala. Tanpa niat yang benar, puasa qadha bisa kehilangan keutamaannya. Islam mengajarkan bahwa setiap amal tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah ? dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim: “sebenarnya setiap amal tergantung pada niatnya.” Oleh karena itu, memahami niat puasa qadha Ramadhan bukan sekedar formalitas, tetapi fondasi sahnya ibadah. 1. Dilakukan di Malam Hari Mayoritas ulama sepakat bahwa niat puasa wajib, termasuk qadha, harus dilakukan sebelum fajar. Berbeda dengan puasa sunnah yang boleh diniatkan di pagi hari selama belum makan dan minum. 2. Niat dalam Hati Sudah Cukup Melafalkan niat bukan syarat wajib, yang terpenting adalah tekad di dalam hati. Namun melafalkan membantu menghadirkan kekhusyukan dan kesungguhan. 3. Tidak Boleh Digabung Sembarangan Sebagian ulama mebolehkan menggabungkan niat qadha dengan puasa sunnah tertentu, namun lebih utama lagi memisahkannya agar mendapatkan pahala yang sempurna. 4. Segera Menunaikan Qadha Dalam sebuah riwayat dari Aisyah RA disebutkan bahwa ia memiliki hutang puasa Ramadhan dan menggantinya di bulan Sya'ban (HR. Bukhari dan Muslim). Ini ditahan boleh ditahan, namun tetap wajib ditunaikan sebelum Ramadhan berikutnya. 5. Tetap Menjaga Adab Puasa Walaupun qadha dilakukan di luar bulan Ramadhan, adabnya tetap sama: menjaga lisan, pandangan, dan perilaku agar pahala tidak berkurang. 6. Pahala Tetap Mengalir Allah Maha Mengetahui kesungguhan hamba-Nya. Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tutunan, pahala puasa qadha tetap besar sebagaimana puasa Ramadhan. 7. Menguatkan Komitmen Ibadah Melaksanakan Niat Puasa Qadha Ramadhan dengan benar melatih disiplin dan tanggung jawab spiritual seorang Mari Sempurnakan Ibadah Qadha Ramadhan dengan Infaq Terbaik Salurkan infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi sebagai lembaga resmi pengelola zakat dan infaq terpercaya. Dengan menyalurkan donasi melalui BAZNAS Kota Sukabumi, Anda turut membantu program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Jadikan Ramadhan ini lebih bermakna. Jangan tunda kebaikan. Setiap rupiah yang Anda keluarkan menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Yuk, tunaikan infaq terbaik Anda sekarang juga melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan raih keberkahan Ramadhan yang luar biasa! Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Niat Puasa Qadha Ramadhan agar Ibadah Menjadi Sah dan Berpahala https://baznaskotasukabumi.com/mengganti-puasa-ramadhan/
ARTIKEL27/02/2026 | BAZNAS
Pahami Hukum Zakat kepada Keluarga agar Sah, Berkah, dan Tidak Sia-sia
Pahami Hukum Zakat kepada Keluarga agar Sah, Berkah, dan Tidak Sia-sia
Zakat merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim yang mampu, dan ini merupakan salah satu rukun Islam yang bertujuan untuk membersihkan harta serta membantu sesama. Namun dalam praktiknya, sering kali timbul pertanyaan: Bolehkah zakat diberikan kepada anggota keluarga? Untuk menjawab pertanyaan ini, sangat penting untuk memahami ketentuan syariat mengenai penerima zakat, yang telah diatur dalam Al-Qur'an dan hadist. Hukum zakat untuk keluarga sering menimbulkan pertanyaan. Simak 7 fakta penting agar zakat tidak gugur dan justru menjadi pahala besar sesuai syariat Islam. Secara umum, zakat diperuntukkan bagi delapan asnaf yang diatur dalam Surat At-T aubah ayat 60 ? ???????? ??????????? ?????????????? ??????????????? ??????????????? ????????? ???????????????? ???????????? ????? ?????????? ??????????????? ?????? ???????? ??????? ??????? ???????????? ?????????? ????? ??????? ?????????? ???????? ???????? ?? “Sejujurnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang bekerja, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Pendapat para ulama memperkuat ketentuan ini. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah kepada orang miskin adalah sedekah biasa, tetapi sedekah kepada kerabat memiliki dua pahala: pahala sedekah dan pahala menjaga hubungan kekeluargaan.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan An-Nasa'i). Hadis ini menunjukkan bahwa memberikan zakat kepada kerabat yang berhak tidak hanya diperbolehkan, tetapi juga memiliki keutamaan tambahan, yaitu mempererat tali silaturahmi. Para ulama berpendapat memberikan zakat kepada keluarga sendiri diperbolehkan dengan syarat tertentu. Berikut syaratnya: 1. Bukan Keluarga Berdasarkan Satu Garis Keturunan Keluarga yang disalurkan zakat bukanlah orang tua, saudara kandung kakak atau adik, dan anak keturunan sendiri. Memberikan harta kepada orang tua kandungnya tidak dapat disebut sebagai zakat. Melainkan bentuk pemberian sebagai rasa sayang dari anak kepada orang tua. Sementara kepada Istri dan anak, mereka adalah orang-orang yang wajib dinafkahi, sehingga tidak boleh disalurkan zakat. 2. Keluarga Terdekat yang Masuk ke Dalam 8 Asnaf Penerima Zakat Ulama mebolehkan umat muslim menyalurkan zakat untuk keluarga terdekat. Seperti paman, bibi, keponakan, apabila mereka masuk ke dalam 8 asnaf penerima zakat. Misalkan, kamu memiliki keponakan yang yatim piatu dan kondisi ekonominya masuk ke dalam kategori miskin, maka diperbolehkan menyalurkan zakat. Begitu juga dengan anggota keluarga yang memiliki banyak utang (gharim) atau sedang dalam perjalanan jauh tanpa bekal (ibnu sabil). Seperti yang sudah disebutkan di atas, Beberapa ulama bahkan menganjurkan agar memberikan zakat kepada kerabat, selama tidak berada dalam tanggungan wajib, karena selain menunaikan kewajiban zakat, hal tersebut juga dapat mempererat tali silaturahmi. Sebelum memberikan zakat kepada keluarga, penting untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memenuhi syarat sebagai mustahik. Jika tidak, zakat yang disalurkan tidak dianggap sah dan kewajiban belum terpenuhi. Oleh karena itu, konsultasi dengan ulama atau lembaga zakat terpercaya dapat membantu memastikan penyaluran zakat dilakukan sesuai syariah. Perbedaan Zakat dan Nafkah kepada Keluarga Penting untuk memahami perbedaan antara zakat dan nafkah. Nafkah adalah kewajiban yang harus diberikan kepada orang-orang yang berada dalam tanggungan, seperti orang tua (dalam kondisi tertentu), istri, dan anak. Sedangkan zakat adalah kewajiban ibadah yang memiliki ketentuan penerima (mustahik) yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an , khususnya dalam Surah At-Taubah ayat 60. Oleh karena itu, zakat tidak dapat menggantikan kewajiban nafkah. Misalnya, seorang suami tidak boleh memberikan zakat kepada istrinya dengan niat menggugurkan kewajiban zakat sekaligus nafkah. Begitu pula seorang ayah kepada anaknya yang masih menjadi tanggung jawabnya. Namun, jika ada anggota keluarga yang bukan tanggungan wajib dan termasuk dalam golongan fakir, miskin, gharim (terlilit utang), atau ibnu sabil, maka zakat boleh diberikan kepada mereka. Hikmah Mendahulukan Keluarga dalam Zakat Ada beberapa hikmah mengapa Islam memberi ruang untuk menyalurkan zakat kepada keluarga yang berhak: Memperkuat Ikatan Keluarga Zakat tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga mempererat hubungan darah yang mungkin renggang karena faktor ekonomi. Alasan Kecemburuan Sosial Ketika keluarga sendiri dalam kesulitan tetapi justru orang lain yang dibantu, hal ini bisa memicu rasa kurang nyaman dalam hubungan keluarga. Meningkatkan Keberkahan Harta Membantu keluarga yang membutuhkan dapat menjadi sebab turunnya keberkahan karena disertai niat ibadah dan silaturahmi. Mewujudkan Keadilan Sosial dalam Lingkup Terdekat Islam membangun kepedulian sosial dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Jika Anda masih ragu apakah zakat boleh diberikan kepada keluarga atau tidak, jangan ambil risiko. Pastikan zakat Anda sah dan tepat sasaran dengan disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). ???? Tunaikan zakat dan infaq sekarang juga melalui BAZNAS agar lebih aman, sesuai syariat, dan penuh keberkahan. untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Bagaimana Hukum Menyalurkan Zakat Untuk Keluarga? https://baznaskotasukabumi.com/bolehkah-zakat/
ARTIKEL27/02/2026 | BAZNAS
7 Rahasia Dahsyat Doa Harian Ramadhan yang Penuh Keajaiban dan Berkah
7 Rahasia Dahsyat Doa Harian Ramadhan yang Penuh Keajaiban dan Berkah
Doa harian Ramadhan adalah amalan sederhana namun memiliki kekuatan luar biasa dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sejak hari pertama hingga akhir bulan suci, doa harian Ramadhan menjadi penguat hati, penenang jiwa, sekaligus pembuka pintu keberkahan. Tidak hanya sebagai rutinitas ibadah, doa harian Ramadhan juga menjadi sarana memohon pengampunan, rezeki, kesehatan, dan keselamatan dunia akhirat. Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Di dalamnya terdapat banyak keistimewaan: diturunkannya Al-Qur'an, dilipatgandakannya pahala amal kebaikan, serta dibukanya pintu-pintu surga dan ditutupnya pintu-pintu neraka. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila datang bulan Ramadhan, terbukalah pintu-pintu surga, tertutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Keutamaan ini menjadikan doa harian Ramadhan memiliki nilai yang sangat istimewa. Setiap doa yang dipanjatkan pada bulan ini memiliki peluang besar untuk dikabulkan, selama disertai keikhlasan dan keyakinan penuh kepada Allah SWT. Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga momentum memperbanyak doa dan memperbaiki kualitas hubungan spiritual. Menariknya, ayat tentang doa ini terletak di tengah-tengah ayat yang membahas tentang puasa Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa doa harian Ramadhan memiliki kedudukan yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari ibadah puasa itu sendiri. Puasa melatih kesabaran dan ketundukan, sedangkan doa adalah wujud penghambaan dan pengakuan bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT. Doa harian Ramadhan juga menjadi sarana introspeksi diri. Saat berpuasa, seseorang lebih mudah merasakan kelemahan dan keterbatasannya sebagai manusia. Rasa lapar dan haus mengingatkan bahwa kita tidak memiliki daya dan usaha tanpa pertolongan Allah. Dalam kondisi seperti inilah doa menjadi lebih khusyuk, lebih tulus, dan lebih menyentuh hati. Selain itu, doa harian Ramadhan berfungsi sebagai penjaga hati dari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR.Bukhari) Dengan memperbanyak doa, seorang muslim akan lebih terjaga lisannya, lebih sabar dalam bernafsu, dan lebih mampu mengendalikan emosi. Doa menjadi pengingat bahwa puasa bukan sekedar menahan diri secara fisik, tetapi juga menjaga akhlak dan perilaku. Tidak hanya itu, doa harian Ramadhan juga menjadi jembatan harapan. Banyak orang memanfaatkan bulan ini untuk memohon perubahan hidup: dari kesulitan menuju kemudahan, dari kesempitan menuju kelapangan, dari kegelisahan menuju ketenangan. Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulai kembali, memperbaiki kesalahan, dan menata niat agar menjadi pribadi yang lebih baik. Ramadhan juga mengajarkan bahwa doa harus dilakukan dengan usaha nyata. Memohon rezeki harus disertai kerja keras dan kejujuran. Memohon ampunan harus disertai taubat dan perbaikan diri. Memohon keberkahan harus disertai dengan berbagi dan bersedekah. Doa harian Ramadhan menjadi bermakna ketika tercermin dalam tindakan sehari-hari. Akhirnya, doa harian Ramadhan bukan sekedar bacaan yang dihafal, tetapi ruh yang menghidupkan ibadah puasa. Ia menuntun hati untuk selalu bergantung kepada Allah SWT, mengajarkan kerendahan hati, serta menumbuhkan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluar. Dengan memperbanyak doa di bulan Ramadhan, kita sedang menanam benih keberkahan yang insyaAllah akan membuahkan kebaikan, tidak hanya di dunia, tetapi juga di kelak akhirat. 1. Doa Niat Puasa Ramadhan Niat merupakan penentu sah atau tidaknya ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Sejujurnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Doa niat puasa dibaca pada malam hari sebelum fajar. Dengan membaca doa harian Ramadhan ini, kita meneguhkan tekad untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. 2. Doa Berbuka Puasa yang Mustajab Salah satu momen paling istimewa dalam doa harian Ramadhan adalah ketika berbuka. Rasulullah SAW bersabda: “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa hingga ia berbuka…” (HR. Tirmidzi) Doa berbuka puasa: Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa 'ala rizqika afthartu. Momentum ini menjadi saat terbaik permohonan pengampunan dan keberkahan rezeki. 3. Doa Memohon Ampunan di Bulan Ramadhan Ramadhan dikenal sebagai bulan maghfirah. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari) Salah satu doa harian Ramadhan yang dianjurkan adalah: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni. Doa ini sangat dianjurkan terutama pada malam Lailatul Qadar. 4. Doa Memohon Kesehatan dan Kekuatan Menjalani puasa sebulan penuh membutuhkan fisik yang sehat. Oleh karena itu, doa harian Ramadhan juga mencakup permohonan kesehatan: Allahumma inni as'aluka sihhatan fid din wa 'afiyatan fil jasad. Dengan kesehatan, ibadah tarawih, tadarus, dan sedekah dapat dilakukan dengan maksimal. 5. Doa Agar Diberi Rezeki Berkah Ramadhan juga bulan berbagi. Rasulullah SAW dikenal sangat dermawan, terutama di bulan Ramadhan (HR. Bukhari). Maka doa harian Ramadhan untuk keberkahan rezeki menjadi penting: Allahumma barik lana fi rizqina wa qina 'adzaban nar. Rezeki yang berkah akan membawa ketenangan hidup dan kebermanfaatan bagi sesama. 6. Doa untuk Keluarga dan Umat Muslim Ramadhan mengajarkan kepedulian sosial. Dalam Al-Qur'an disebutkan: “Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata…” (QS. Al-Furqan: 74) Melalui doa harian Ramadhan, kami memohon agar keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT serta diberikan keimanan yang kuat. 7. Doa Menyambut Lailatul Qadar Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Pada malam ini, doa harian Ramadhan menjadi sangat istimewa karena setiap amal dilipatgandakan. Perbanyak istighfar, dzikir, dan doa memohon keselamatan dunia akhirat. Malam ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Keutamaan Membaca Doa Harian Ramadhan Secara Konsisten Konsistensi dalam membaca doa harian Ramadhan akan membentuk kebiasaan spiritual yang kuat. Hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan hidup terasa lebih terarah. Ramadhan bukan sekedar menahan lapar dan haus, namun juga memperbanyak doa serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia. Selain berdoa, Ramadhan juga identik dengan berbagi. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini mengingatkan bahwa setiap infaq yang kita keluarkan akan dilipatgandakan pahalanya. Mari Sempurnakan Doa Harian Ramadhan dengan Infaq Terbaik Setelah mengamalkan doa harian Ramadhan, langkah nyata berikutnya adalah berbagi kepada yang membutuhkan. Infaq yang kita tunaikan bukan hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi bukti nyata keimanan. Salurkan infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi sebagai lembaga resmi pengelola zakat dan infaq terpercaya. Dengan menyalurkan donasi melalui BAZNAS Kota Sukabumi, Anda turut membantu program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dan pemberdayaan ekonomi umat. Jadikan Ramadhan ini lebih bermakna. Jangan tunda kebaikan. Setiap rupiah yang Anda keluarkan menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Yuk, tunaikan infaq terbaik Anda sekarang juga melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan raih keberkahan Ramadhan yang luar biasa! Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: 7 Cara Dahsyat Menyambut Ramadhan agar Ibadah Lebih Maksimal dan Penuh Berkah https://baznaskotasukabumi.com/tips-ibadah-puasa-ramadhan/
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
Malam Lailatul Qadar Begitu Istimewa! Ini Cara Terbaik Menyambutnya dengan Penuh Berkah
Malam Lailatul Qadar Begitu Istimewa! Ini Cara Terbaik Menyambutnya dengan Penuh Berkah
Malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Dalam Al-Qur'an, malam ini disebut lebih baik dari seribu bulan (QS. Al-Qadr: 3). Oleh karena itu, banyak ulama yang memberikan panduan bagaimana cara terbaik untuk menyambut malam istimewa ini agar kita mendapatkan pahala dan keberkahan yang maksimal. Berikut beberapa tips dari ulama yang dapat kita amalkan: 1. Tingkatkan Ibadah di 10 Malam Terakhir Ramadhan Ulama tidak agar umat Islam memperbanyak ibadah pada 10 malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan). Rasulullah SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim) 2. Perbanyak Doa, Khususnya Doa yang Diajarkan Rasulullah Salah satu doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam Lailatul Qadar adalah: “Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'anni.” Artinya: Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai ampunan, maka ampunilah aku. (HR. Tirmidzi) 3. Mendirikan Shalat Malam (Qiyamul Lail) Shalat malam merupakan amalan utama di malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim) 4. Perbanyak Sedekah dan Berbagi kepada Sesama Selain ibadah pribadi, para ulama juga diperingatkan untuk memperbanyak sedekah di malam-malam terakhir Ramadhan. Sedekah yang diberikan pada waktu yang mulia akan mendatangkan keberkahan yang berlipat ganda. 5. I'tikaf di Masjid I'tikaf atau berdiam diri di masjid untuk beribadah adalah sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW, terutama pada 10 malam terakhir Ramadhan. Ini merupakan kesempatan untuk lebih fokus dalam ibadah, menjauh dari gangguan dunia, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. 6. Perbanyak Membaca Al-Qur'an dan Merenungi Maknanya Malam Lailatul Qadar adalah malam diturunkannya Al-Qur'an (QS. Al-Qadr: 1). Oleh karena itu, salah satu amalan utama adalah membaca dan mentadabburi ayat-ayat suci Al-Qur'an. 7. Muhasabah Diri dan Taubat Nasuha sebagai Penutup Malam Lailatul Qadar Malam Lailatul Qadar adalah waktu terbaik untuk melakukan muhasabah diri secara mendalam. Para ulama berpikir agar seorang muslim tidak hanya sibuk dengan ibadah fisik, tetapi juga berani menilai kembali perjalanan hidupnya. Renungkan dosa-dosa yang pernah dilakukan, baik yang disengaja maupun tidak, lalu iringi dengan taubat nasuha yang sungguh-sungguh. Taubat di malam yang lebih baik dari seribu bulan memiliki keutamaan luar biasa. Dengan taubat yang tulus, seorang hamba membuka pintu rahmat Allah SWT seluas-luasnya. Inilah saat yang tepat untuk berjanji pada diri sendiri agar setelah Ramadhan berlalu, semangat ibadah tidak ikut menghilang. Muhasabah yang jujur ??akan melahirkan tekad yang kuat untuk memperbaiki shalat, menjaga lisan, memperbaiki akhlak, dan meningkatkan kepedulian sosial. Menutup malam Lailatul Qadar dengan istighfar, doa, dan harapan kepada Allah SWT menjadi simbol lahirnya pribadi baru yang lebih bertakwa. Semoga malam penuh kemuliaan ini benar-benar menjadi titik balik perubahan hidup menuju keberkahan dunia dan akhirat. Aamiin. Selain meningkatkan ibadah lahiriah, para ulama juga mengingatkan pentingnya memperbaiki akhlak dan hubungan sosial. Malam Lailatul Qadar bukan hanya tentang shalat dan doa, tetapi juga tentang bagaimana seorang hamba membersihkan hatinya dari rasa dengki, dendam, dan kebencian. Hati yang bersih akan lebih mudah menerima limpahan rahmat Allah SWT. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa penghalang terbesar turunnya keberkahan adalah hati yang masih dipenuhi dosa sosial, seperti menyakiti sesama dan enggan memaafkan. Momen sepuluh malam terakhir Ramadhan seharusnya menjadi waktu evaluasi diri. Apakah Ramadhan yang kita jalani sudah membawa perubahan? Apakah ibadah kita meningkat dibandingkan bulan-bulan sebelumnya? Malam Lailatul Qadar adalah kesempatan emas untuk memulai lembaran baru. Banyak ulama berkumpul agar di malam ini seorang muslim memperbanyak taubat nasuha, menyesali dosa-dosa masa lalu, dan tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih taat setelah Ramadhan berakhir. Membaca dan mentadabburi Al-Qur'an juga menjadi amalan yang sangat ditekankan. Bukan sekedar mengejar jumlah halaman, namun berusaha memahami pesan-pesan Allah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat tentang rahmat, ampunan, dan janji surga seharusnya mampu menggetarkan hati dan mendorong kita untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan pemikiran maknanya, Al-Qur’an tidak hanya dibaca secara lisan, tetapi juga dihidupkan dalam perilaku sehari-hari. Di sisi lain, memperbanyak sedekah di malam-malam terakhir Ramadhan juga merupakan bentuk ibadah sosial yang sangat dianjurkan. Sedekah menjadi bukti nyata bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga menyentuh kepedulian terhadap sesama manusia. Ulama menjelaskan bahwa harta yang dikeluarkan pada waktu yang mulia akan menyebabkan turunnya keberkahan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. ???? Mari sempurnakan ibadah Lailatul Qadar dengan berbagi kebaikan. Salurkan sedekah dan infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Provinsi Jawa Barat agar manfaatnya dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. Semoga setiap amal yang kita lakukan di malam Lailatul Qadar menjadi saksi kebaikan yang mengantarkan kita pada ampunan, keberkahan, dan ridha Allah SWT. Aamiin. untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Makna Malam Lailatul Qadar dan Keutamaannya https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/tips-dari-ulama-untuk-menyambut-malam-lailatul-qadar/30543
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
500 Porsi Hidangan Buka Puasa untuk Gaza Utara: Aksi Nyata Penuh Haru dari Indonesia
500 Porsi Hidangan Buka Puasa untuk Gaza Utara: Aksi Nyata Penuh Haru dari Indonesia
500 Porsi Hidangan Buka Puasa untuk Gaza Utara menjadi kabar yang begitu menghangatkan hati. Di tengah keterbatasan dan ujian berat yang dialami saudara-saudara kita di Palestina, amanah dari masyarakat Indonesia kembali tersampaikan melalui BAZNAS Kota Sukabumi . Sepiring hidangan hangat bukan sekadar makanan, melainkan simbol cinta, kepedulian, dan harapan yang dikirimkan dari tanah air untuk mereka yang berjuang bertahan hidup. Ramadhan selalu menghadirkan nuansa kebersamaan. Namun bagi masyarakat di Gaza Utara, suasana berbuka puasa jauh dari kata mudah. Keterbatasan bahan makanan, akses air bersih, serta kondisi keamanan yang belum stabil membuat banyak keluarga harus berjuang keras hanya untuk menikmati hidangan sederhana saat adzan Maghrib berkumandang. Disampaikan artikel penting 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara. Bantuan ini menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (QS. Al-Insan : 8) Ayat ini menegaskan bahwa memberi makan kepada yang membutuhkan adalah amalan mulia yang dicintai Allah. Apa yang dilakukan melalui penyaluran 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara adalah wujud nyata dari perintah tersebut. Masyarakat Indonesia mengambil bagian dalam menghadirkan senyum di tengah duka. Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menjadi penyemangat bagi kita semua. Setiap rupiah yang disalurkan untuk program 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara insyaAllah menghasilkan pahala berlipat ganda. Bayangkan, ketika satu keluarga di Gaza dapat menikmati makanan hangat sambil berbuka, pahala itu terus mengalir kepada para donatur yang turut berkontribusi. Lebih dari sekedar bantuan konsumsi, program ini adalah penguat ikatan ukhuwah Islamiyah. Islam mengajarkan bahwa kaum Muslimin ibarat satu tubuh. Rasulullah SAW bersabda: “Perumamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakitnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Apa yang dirasakan masyarakat Gaza adalah luka bersama. Maka 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara adalah bagian dari respon kepedulian kita sebagai satu umat. Kita mungkin terpisah jarak ribuan kilometer, namun doa dan kepedulian mampu menembus batas geografis. Program kemanusiaan ini juga menunjukkan bahwa solidaritas bangsa Indonesia terhadap Palestina tidak pernah padam. Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat menitipkan amanahnya melalui lembaga resmi agar bantuan terselurkan dengan tepat. BAZNAS sebagai lembaga pengelola zakat nasional terus berupaya memastikan bantuan sampai kepada yang berhak secara transparan dan amanah. Setiap porsi makanan yang disebarkan berisi kebutuhan dasar berbuka puasa yang layak dan bergizi. Bagi kita mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mereka, itu adalah kekuatan untuk melanjutkan hari esok. Anak-anak yang sebelumnya menahan lapar dapat tersenyum, bagi orang tua merasa sedikit lega karena keluarganya bisa berbuka dengan makanan yang cukup. Ramadhan adalah bulan berbagi. Allah SWT menjanjikan balasan balasan ganda bagi orang yang bersedekah. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 menyebutkan bahwa perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji. Artinya, satu kebaikan dapat berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan pahala. Oleh karena itu, 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan kebaikan yang lebih besar. Selama masih ada saudara kita yang membutuhkan, selama itu pula pintu pahala terbuka lebar bagi saja yang ingin membantu. 3 Dampak Nyata dari 500 Porsi Hidangan Buka Puasa untuk Gaza Utara Program 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara bukan sekadar bantuan makanan biasa. Di balik angka 500 tersebut, ada dampak besar yang dirasakan langsung oleh masyarakat Palestina. Berikut 3 dampak nyata yang bisa kita pahami bersama: 1. Menguatkan Ketahanan Fisik di Tengah Keterbatasan Banyak keluarga di Gaza Utara mengalami keterbatasan akses pangan. Dalam kondisi seperti ini, satu porsi makanan bergizi saat berbuka puasa memiliki arti besar. Asupan nutrisi membantu menjaga energi dan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan. Rasulullah SAW bersabda: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”(HR. Muslim) Melalui 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara, kita turut membantu menjaga kekuatan fisik saudara-saudara kita agar tetap bertahan menjalani hari-hari sulit mereka. 2. Menghadirkan 1 Harapan di Setiap Meja Berbuka Bayangkan ada 500 keluarga atau kelompok penerima manfaat yang bisa merasakan kebersamaan saat berbuka. Satu meja sederhana dengan hidangan hangat bisa menghadirkan kembali rasa kemanusiaan dan harapan. Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 32 disebutkan bahwa menyelamatkan satu jiwa seakan-akan menyelamatkan seluruh manusia. Memberi makan di tengah krisis adalah bagian dari menjaga keberlangsungan hidup dan semangat mereka. Satu porsi mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi mereka itu adalah 1 harapan baru. 3. Mengalirkan Pahala Berlipat Ganda untuk 500 Donatur dan Lebih Setiap orang yang ikut berkontribusi dalam program 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara berkesempatan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut.”(HR. Tirmidzi) Artinya, jika 500 porsi tersalurkan, maka pahala pun mengalir untuk setiap pihak yang terlibat. Bahkan bisa jadi lebih dari 500 orang yang turut mendapatkan keberkahan dari program ini. 2 Nilai Besar di Balik Angka 500 Selain dampak langsung, ada 2 nilai besar yang terkandung dalam aksi ini: 1. Nilai Solidaritas UmatIndonesia dan Palestina mungkin terpisah ribuan kilometer, tetapi iman menyatukan hati. Kepedulian ini adalah bukti bahwa umat Islam adalah satu tubuh. 2. Nilai Amanah dan KepercayaanSetiap donasi yang dititipkan adalah amanah. Ketika tersalurkan dengan baik, kepercayaan masyarakat semakin kuat dan gerakan kebaikan bisa terus berlanjut. Dengan memahami 3 dampak nyata dan 2 nilai besar ini, kita semakin yakin bahwa 500 porsi hidangan buka puasa untuk Gaza Utara bukan hanya angka, melainkan gerakan kemanusiaan yang penuh makna. Mari lanjutkan aksi nyata ini. Basuh luka Palestina dengan meringankan beban mereka melalui rekening kemanusiaan: BSI : 496.496.496.9 an. BAZNAS Kota Sukabumi Atau salurkan donasi secara mudah melalui link berikut: https://bazn.as/z1TaA Setiap donasi yang Anda berikan adalah bukti cinta dan kepedulian. Jangan menunggu hingga esok, karena kebutuhan mereka adalah hari ini. Jadikan Ramadhan dan setiap momentum kebaikan sebagai kesempatan untuk menanam amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Bantu Jutaan Muslim Palestina
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Keliru! Ini Nilai Nisab Zakat Terbaru yang Wajib Kamu Tahu
Jangan Sampai Keliru! Ini Nilai Nisab Zakat Terbaru yang Wajib Kamu Tahu
Menunaikan zakat bukan hanya soal niat baik, tapi juga soal perhitungan perhitungan . Salah satu hal paling krusial yang sering membuat masyarakat bingung adalah nilai nisab zakat . Padahal, nisab inilah yang menjadi penentu utama apakah harta yang kita miliki sudah wajib dizakati atau belum. Melalui informasi visual yang tersebar dan mudah dipahami, masyarakat kini diajak untuk lebih sadar dan cermat dalam menunaikan kewajiban zakat. Nisab sendiri merupakan batas minimal kepemilikan harta yang membuat seseorang terkena kewajiban zakat. Jika harta belum mencapai nisab, maka zakat belum diwajibkan. Namun jika sudah melampaui batas tersebut dan memenuhi syarat lainnya, maka zakat wajib ditunaikan tanpa ditunda. Apa Itu Nisab dan Mengapa Penting? Nisab adalah batas minimal kepemilikan harta yang menjadikan seseorang wajib mengeluarkan zakat. Konsep ini menunjukkan bahwa Islam sangat adil: zakat hanya diwajibkan kepada mereka yang benar-benar mampu. Tanpa memahami nisab, seseorang bisa: Merasa wajib belum padahal sudah memenuhi syarat Mengeluarkan zakat tidak sesuai ketentuan Meyamakan zakat dengan sedekah Padahal, zakat memiliki aturan yang jelas dan berdampak langsung pada kesejahteraan umat. Rincian Nisab Zakat Berdasarkan Jenis Harta Sesuai dengan isi gambar, nisab zakat tidak berlaku pada satu jenis saja. Berikut penjelasan penting yang perlu diketahui masyarakat: 1. Nisab Zakat Emas dan Perak Zakat emas dikenakan apabila seseorang memiliki emas setara 85 gram emas dan telah disimpan selama satu tahun (haul). Hal yang sama juga berlaku untuk perak dengan ketentuan jumlah tertentu. Emas yang dimaksud bukan hanya perhiasan, tetapi juga emas simpanan atau investasi. 2. Nisab Penghasilan Zakat (Profesi) Penghasilan zakat sering kali menjadi topik paling relevan saat ini. Dalam gambar tersebut dijelaskan bahwa zakat penghasilan dihitung dari total pendapatan bersih, baik gaji, kehormatan, maupun upah jasa. Jika dalam satu tahun penghasilan tersebut setara atau melebihi nisab emas, maka zakat wajib ditunaikan sebesar 2,5 persen. Artinya, banyak pekerja yang sebenarnya sudah wajib zakat , namun belum menyadarinya. 3. Nisab Zakat Perdagangan Bagi pelaku usaha dan pedagang, zakat dikenakan atas modal usaha dan keuntungan bersih yang telah berjalan selama satu tahun. Jika nilainya setara dengan nisab emas, maka zakat perdagangan wajib ditunaikan. Gambar ini mengingatkan bahwa usaha kecil hingga menengah juga perlu menghitung zakat dengan cermat. 4. Nisab Zakat Tabungan dan Simpanan Uang yang disimpan di bank, koperasi, atau bentuk simpanan lain juga termasuk harta yang wajib dizakati jika mencapai nisab dan haul. Banyak orang merasa aman karena uang “hanya disimpan”, padahal dalam Islam simpanan tetap memiliki kewajiban zakat. 5. Nisab Zakat Pertanian Berbeda dengan zakat lainnya, zakat pertanian tidak mensyaratkan haul satu tahun. Jika hasil panen telah mencapai nisab tertentu, zakat wajib dikeluarkan pada saat panen. Hal ini menunjukkan bahwa zakat benar-benar menyentuh sektor riil dan kehidupan petani. 6. Nisab Zakat Peternakan Gambar juga menyinggung zakat peternakan seperti kambing, sapi, dan unta. Zakat yang dikenakan berdasarkan jumlah hewan ternak yang dimiliki dan lama kepemilikannya. Ini menjadi pengingat bahwa zakat tidak hanya berlaku bagi pekerja kantoran, tetapi juga bagi peternak. Nisab Zakat, Bukan Sekadar Angka Banyak orang mengira nisab hanyalah angka biasa. Padahal, di balik angka tersebut terdapat hikmah besar agar zakat benar-benar dikeluarkan oleh mereka yang mampu, tanpa anggotaatkan yang belum cukup. Inilah bentuk keadilan Islam yang sangat relevan dengan kehidupan sosial. Dalam konteks zakat maal, nisab umumnya disetarakan dengan emas 85 gram . Nilai ini kemudian dikonversikan ke rupiah sesuai dengan harga emas yang berlaku saat ini. Artinya, nilai nisab bisa berubah mengikuti kondisi ekonomi, sehingga umat Islam perlu memperbarui informasi secara berkala. Visual pada gambar menunjukkan bahwa nisab tidak hanya berlaku untuk satu jenis zakat. Ada nisab zakat penghasilan, zakat perdagangan, hingga zakat simpanan. Semua disajikan secara ringkas agar mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Edukasi Visual yang Mencerahkan Penyajian informasi nisab dalam bentuk gambar dinilai sangat efektif. Masyarakat tidak perlu membaca teks panjang atau istilah rumit. Cukup melihat ilustrasinya, mereka bisa langsung memahami: “Oh, kalau penghasilanku segini, berarti sudah wajib zakat.” Langkah ini sejalan dengan upaya edukasi yang terus didorong oleh lembaga resmi seperti Kementerian Agama dan BAZNAS agar zakat tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar dilakukan dengan ilmu dan kesadaran. Kesalahan Umum yang Masih Sering Terjadi Sayangnya, masih banyak masyarakat yang: Mengira zakat hanya wajib saat Ramadhan Menghitung zakat tanpa memperhatikan nisab Meyamakan zakat penghasilan dengan sedekah biasa Padahal, zakat memiliki aturan khusus yang tidak bisa disamakan dengan infak atau sedekah. Jika sudah mencapai nisab dan haul, zakat wajib ditunaikan, bukan pilihan. Gambar tentang nilai nisab ini menjadi alarm pengingat agar umat Islam tidak lalai. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang semakin dinamis, banyak orang sebenarnya sudah mencapai nisab tanpa disadari. Dampak Besar dari Kesadaran Zakat Ketika zakat ditunaikan dengan benar, dampaknya luar biasa. Zakat tidak hanya membersihkan harta, tetapi juga menjadi penggerak perekonomian umat . Dana zakat dapat disalurkan untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga bantuan kemanusiaan. Inilah mengapa memahami nisab bukan sekadar urusan pribadi, tapi juga bagian dari kontribusi sosial. Satu orang yang taat zakat bisa membantu banyak kehidupan. Yuk, cek kembali harta kita sesuai nisabnya. Jangan sampai niat tertunda hanya karena kurang informasi. Zakat yang tepat, akan menghadirkan manfaat yang dahsyat bagi banyak orang. Salurkan zakat terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi Infaq Anda akan membantu mustahik, yatim, dan program kemanusiaan yang amanah dan tepat sasaran. untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Nisab Zakat Profesi: Cara Menghitung dan Batas Gaji Minimum yang Wajib Dizakati https://baznas.go.id/news-show/BAZNAS_RI_Tetapkan_Nisab_Zakat_Penghasilan_dan_Jasa_2026_Rp7.640.144_per_bulan/3777
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
Jangan Lewatkan! Kisah Nuzulul Qur’an dan Makna Besar di Balik Turunnya Wahyu Pertama
Jangan Lewatkan! Kisah Nuzulul Qur’an dan Makna Besar di Balik Turunnya Wahyu Pertama
Al-Qur'an bukan sekadar kitab suci, tetapi juga petunjuk bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Sebagai pedoman utama, Al-Qur'an memiliki sejarah panjang yang dimulai dari momen luar biasa yang dikenal sebagai Nuzulul Qur'an, peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan hanya awal dari risalah Islam, tetapi juga titik balik peradaban manusia. Apa Itu Nuzulul Qur'an? Nuzulul Qur'an adalah peristiwa ketika Al-Qur'an pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril. Ini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, di Gua Hira, ketika Rasulullah SAW sedang berkhalwat (menyendiri). Sebelum menerima wahyu, Rasulullah sering mengasingkan diri ke Gua Hira' di Jabal Nur. Dalam kesunyian, ia menghabiskan waktunya untuk mendengarkan dan merenungkan kebesaran alam di sekelilingnya serta menyadari akan adanya kekuasaan yang agung dibalik semua ciptaan ini. Malaikat Jibril Menyampaikan Wahyu Pertama Pada malam yang penuh keberkahan itu, Malaikat Jibril datang dan memeluk Nabi sebanyak tiga kali, lalu berkata: “Iqra… Iqra… Iqra…” Namun, Rasulullah SAW dengan penuh kesulitan menjawab: “Saya tidak bisa membaca.” Jibril kemudian membacakan lima ayat pertama dari Surah Al-'Alaq: ???????? ??????? ??????? ???????? ??????? ? ?????? ???????????? ???? ??????? ? ???????? ????????? ???????????? ? ???????? ??????? ???????????? ? ??????? ???????????? ??? ???? ????????? ? Artinya: 1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! 2. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, 4. Yang mengajar (manusia) dengan pena. 5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Kepanikan Rasulullah SAW Setelah kejadian itu, Rasulullah SAW kembali ke rumah dalam keadaan takut dan gemetar. Beliau berkata kepada Khadijah: "Selimuti aku! Selimuti aku!" Dengan penuh kasih sayang, Khadijah menenangkan beliau. Setelah itu, Khadijah membawa Nabi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin 'Abdil 'Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khadijah, saudara laki-laki ayahnya. Khadijah bertanya kepada Waraqah tentang apa yang sedang menimpa suaminya. Waraqah yang saat itu sudah berusia tua mengatakan bahwa suaminya yang ditemuinya adalah Malaikat Jibril. Tidak hanya itu, Waraqah juga mengatakan bahwa Muhammad SAW kemungkinan besar adalah seorang nabi. Peristiwa Nuzulul Qur'an adalah momen luar biasa yang mengubah sejarah dunia. Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus kepada Rasulullah SAW. Ayat-ayat Al Qur'an diturunkan secara bertahap, sedikit demi sedikit dan perlahan-angsur dalam kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Melaui momen Nuzulul Quran, marilah kita lebih mendekatkan diri kepada Al-Qur'an, membaca, memahami, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Makna Penting Nuzulul Qur'an bagi Umat Islam Peristiwa Nuzulul Qur'an bukan sekadar kisah sejarah, melainkan memiliki makna mendalam bagi seluruh umat Islam hingga saat ini. Turunnya wahyu pertama menjadi tanda bahwa Al-Qur'an hadir sebagai petunjuk kehidupan yang menyeluruh, meliputi aspek akidah, ibadah, akhlak, hingga sosial kemasyarakatan. Nuzulul Qur’an juga menegaskan bahwa Islam adalah agama ilmu. Perintah pertama yang diturunkan adalah “Iqra” (bacalah), menunjukkan bahwa membaca, belajar, dan memahami ilmu pengetahuan merupakan landasan utama dalam membangun peradaban. Tidak heran jika Al-Qur'an kemudian menjadi sumber inspirasi lahirnya peradaban Islam yang maju dalam ilmu, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Mengapa Al-Qur'an Diturunkan Secara Bertahap? Al-Qur'an tidak diturunkan sekaligus, melainkan berkelanjutan-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Hal ini memiliki hikmah besar, di antaranya: Memudahkan pemahaman dan pengamalan Ayat-ayat yang turun secara bertahap membantu Rasulullah dan para sahabat memahami serta mengamalkan ajaran Islam secara perlahan namun mendalam. Menguatkan hati Rasulullah SAW Setiap wahyu yang turun menjadi penguat bagi perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW di tengah penolakan dan penolakan. Menjawab persoalan umat sesuai konteks Banyak ayat Al-Qur'an turun sebagai jawaban atas peristiwa atau persoalan yang sedang dihadapi umat saat itu, sehingga ajarannya terasa hidup dan relevan. Nuzulul Qur'an dan Perintah Membaca Ayat pertama Surat Al-'Alaq menegaskan bahwa membaca bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah. Membaca dengan menyebut nama Allah berarti menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Inilah pesan utama Nuzulul Qur'an yang sering terlupakan. Melalui peristiwa ini, umat Islam diajak untuk tidak hanya membaca Al-Qur'an secara lisan, tetapi juga membaca makna, memahami pesan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari . Inilah esensi peringatan Nuzulul Qur'an yang sesungguhnya. Cara Memaknai Nuzulul Qur'an di Zaman Sekarang Agar peringatan Nuzulul Qur'an tidak sekedar seremonial, ada beberapa hal yang bisa dilakukan: Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari , meski hanya beberapa ayat Mempelajari tafsir Al-Qur'an agar tidak salah dalam memahami makna ayat Mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an , seperti kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial Mengajarkan Al-Qur'an kepada keluarga dan anak-anak sejak dini Dengan cara ini, Al-Qur'an benar-benar menjadi pedoman hidup, bukan sekedar bacaan ritual belaka. Hikmah Nuzulul Qur'an sebagai Momentum Perubahan Nuzulul Qur'an mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ilmu dan hidayah. Dari Gua Hira yang sunyi, cahaya Al-Qur'an menyebar ke seluruh penjuru dunia dan mengubah wajah peradaban manusia. Melalui momentum Nuzulul Qur'an, mari kita jadikan Ramadhan sebagai waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur'an. Bukan sekedar membaca lebih sering, tetapi juga menghidupkan nilai-nilainya dalam sikap, ucapan, dan perbuatan sehari-hari . Dengan demikian, peringatan Nuzulul Qur'an tidak hanya meningkatkan keimanan, tetapi juga membentuk pribadi muslim yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama. Mari jadikan momentum Nuzulul Qur'an sebagai waktu terbaik untuk berbagi kebaikan. Dengan infaq dan sedekah , kita tidak hanya membersihkan harta, tapi juga membantu saudara-saudara yang membutuhkan. Salurkan infaq dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi , lembaga resmi dan terpercaya. Satu kebaikan hari ini, menjadi keberkahan untuk kehidupan masa depan. ????? untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Nuzulul Quran Adalah Malam Turunnya Petunjuk! Ini Keistimewaan yang Harus Kamu Ketahui https://baznaskotasukabumi.com/nuzulul-quran/
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
11 Rahasia Penting Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Terbaik Mengucapkannya, Jangan Salah Fatal!
11 Rahasia Penting Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Terbaik Mengucapkannya, Jangan Salah Fatal!
Niat puasa Ramadhan adalah landasan utama sebelum menjalankan ibadah di bulan suci. Tanpa niat puasa Ramadhan, ibadah puasa bisa menjadi tidak sah. Oleh karena itu, memahami niat puasa Ramadhan dan waktu yang tepat untuk mengucapkannya menjadi hal penting bagi setiap umat Islam agar puasanya diterima oleh Allah SWT. 1. Apa Itu Niat Puasa Ramadhan? Secara bahasa, niat berarti keinginan dalam hati untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks ibadah, niat menjadi pembeda antara aktivitas biasa dan ibadah. Rasulullah SAW bersabda: “Sejujurnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa niat puasa Ramadhan tidak cukup hanya menahan lapar dan haus, tetapi harus disertai kesungguhan hati karena Allah SWT. Bacaan niat puasa Ramadhan yang umum dilafalkan adalah: Nawaitu shauma ghadin 'an ada'i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala. Artinya: Saya niat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala. 2. Waktu Tepat Mengucapkan Niat Puasa Ramadhan Mayoritas ulama berpendapat bahwa niat puasa Ramadhan dilakukan pada malam hari, sejak terbenam matahari hingga sebelum terbit fajar. Hal ini berdasarkan hadits: “Barang siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.” (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi) Artinya, niat puasa Ramadhan sebaiknya dilakukan setelah salat Isya, sebelum tidur, atau saat sahur. Yang terpenting adalah niat sudah tertanam dalam hati sebelum masuk waktu Subuh. Menurut pendapat Mazhab Syafi'i, niat harus diperbarui setiap malam. Sedangkan Mazhab Maliki membolehkan satu niat di awal Ramadhan untuk satu bulan penuh, selama tidak terputus oleh uzur seperti sakit atau safar. 3. Apakah Niat Harus Dilafalkan? Sebenarnya, niat puasa Ramadhan cukup dalam hati. Melafalkannya bukan syarat sah, tetapi membantu menghadirkan kesungguhan dan kekhusyukan. Imam Nawawi menjelaskan bahwa tempat niat adalah hati, sedangkan lisan hanya membantu menguatkan. Jadi, jika seseorang sudah berniat dalam hati untuk berpuasa esok hari, maka itu sudah sah meskipun tidak diucapkan secara lisan. 4. Hikmah Penting di Balik Niat Puasa Ramadhan Ada banyak hikmah dari niat puasa Ramadhan, di antaranya: Melatih keikhlasan hanya kepada Allah SWT. Menumbuhkan kesadaran spiritual sejak malam hari. Membedakan antara puasa wajib dan puasa sunnah. Menguatkan komitmen ibadah selama bulan Ramadhan. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa diwajibkan agar manusia bertakwa. Ketakwaan itu dimulai dari niat yang tulus. 5. Kesalahan yang Sering Terjadi Beberapa orang lupa memperbarui niat puasa Ramadhan setiap malam. Ada juga yang menganggap niatnya cukup terucap saat sahur tanpa sadar hati. Padahal, inti dari niat adalah kesungguhan dan kesadaran penuh untuk mendengarkan. Oleh karena itu, biasakan sebelum tidur atau setelah tarawih untuk memastikan niat puasa Ramadhan sudah tertanam kuat di dalam hati. 6. Puasa dan Kepedulian Sosial Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar, namun juga meningkatkan kepedulian sosial. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadhan. Semangat niat puasa Ramadhan seharusnya juga mendorong kita untuk berbagi kepada sesama. Salah satu cara terbaik menyebarkan infaq adalah melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi . Dengan menunaikan infaq melalui lembaga terpercaya, bantuan dapat tersalurkan secara tepat sasaran kepada mereka yang membutuhkan. Mari sempurnakan niat puasa Ramadhan kita dengan memperbanyak amal kebaikan. Salurkan infaq terbaik Anda hari ini melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan Ramadhan lebih bermakna, penuh berkah, serta membawa kebahagiaan bagi sesama. 7. Keutamaan Niat Puasa Ramadhan dalam Perspektif Ulama Para ulama menjelaskan bahwa niat puasa Ramadhan bukan hanya syarat sah, tetapi juga pembuka pintu pahala. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa niat adalah pembedaan antara ibadah dan kebiasaan. Seseorang bisa saja menahan lapar seharian karena diet atau kesibukan, tapi tanpa niat puasa Ramadhan, itu tidak bernilai ibadah. Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan bahwa niat termasuk amalan hati yang sangat agung. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa memperbaiki niat lebih berat daripada memperbanyak amal. Oleh karena itu, sebelum memasuki bulan Ramadhan, penting bagi setiap Muslim untuk memperbarui komitmen dan menjaga tujuan ibadahnya. 8. Perbedaan Niat Puasa Wajib dan Puasa Sunnah Niat puasa Ramadhan berbeda dengan puasa sunnah. Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, qadha, atau nazar, niat harus dilakukan sebelum terbit fajar. Sedangkan puasa sunnah, menurut sebagian ulama, boleh berniat di pagi hari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya niat puasa Ramadhan karena ia termasuk ibadah wajib yang memiliki aturan lebih ketat. Maka dari itu, jangan sampai lalai dalam niat sudah ada sebelum waktu Subuh. 9. Bagaimana Jika Lupa Berniat? Pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana jika seseorang lupa berniat puasa Ramadhan di malam hari? Menurut Mazhab Syafi'i, jika benar-benar tidak ada niat sebelum fajar, maka puasanya tidak sah dan wajib diqadha. Namun, jika seseorang sudah memiliki tekad umum untuk berpuasa selama Ramadhan dan tidak ada niat untuk membatalkannya, sebagian ulama memandangnya sudah termasuk niat secara global. Oleh karena itu, solusi terbaik adalah membiasakan niat setiap malam agar tidak ragu dan lebih tenang dalam menjalankan ibadah. 10 Niat Puasa Ramadhan dan Konsistensi Ibadah Niat puasa Ramadhan juga berperan dalam menjaga konsistensi ibadah selama satu bulan penuh. Ramadhan bukan hanya tentang menahan diri di siang hari, tetapi juga memperbanyak ibadah malam seperti tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan sedekah. Ketika niat sudah kuat sejak awal, seseorang akan lebih mudah menjaga semangat hingga akhir bulan. Niat yang benar akan melahirkan kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam menghadapi rasa lapar, haus, dan godaan lainnya. 11. Menguatkan Niat dengan Ilmu dan Lingkungan yang Baik Salah satu cara menjaga niat puasa Ramadhan tetap lurus adalah dengan memperdalam ilmu agama. Seperti kajian, membaca buku keislaman, atau mendengarkan ceramah tentang Ramadhan dapat membantu memperkuat motivasi ibadah. Lingkungan juga sangat berpengaruh. Berada di tengah keluarga atau komunitas yang semangat beribadah akan membuat niat semakin kokoh. Sebaliknya, lingkungan yang lalai bisa meningkatkan semangat puasa. Menjadikan Ramadhan Lebih Bermakna Niat puasa Ramadhan yang benar akan membawa perubahan positif dalam diri. Bukan sekedar menahan lapar, tapi juga menjaga lisan, pandangan, dan perilaku. Inilah makna puasa yang sesungguhnya: membentuk pribadi yang bertakwa. Mari kita sambut Ramadhan dengan niat yang tulus, ilmu yang cukup, dan semangat berbagi yang tinggi. Sempurnakan ibadah puasa Anda dengan memperbanyak amal kebaikan. Salurkan infaq terbaik melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar Ramadhan kita semakin penuh berkah, membawa manfaat luas, dan menjadi ladang pahala yang terus mengalir hingga akhirat. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Niat Puasa Ramadhan dan Waktu Tepat Mengucapkannya https://baznaskotasukabumi.com/campaign/berbagi-kebahagiaan-ramadhan-berkah
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
10 Panduan Bijak: Baju Lebaran Dulu atau Sedekah Dulu Saat Idul Fitri?
10 Panduan Bijak: Baju Lebaran Dulu atau Sedekah Dulu Saat Idul Fitri?
Baju Lebaran dulu atau sedekah dulu sering jadi pertanyaan menjelang hari raya. Banyak orang yang sibuk menyiapkan pakaian baru, padahal Idul Fitri bukan sekadar tentang penampilan. Para ulama mengingatkan dengan ungkapan masyhur: (“Laisa al-'iedu liman labisa al-jadid, walakinna al-'iedu liman tha'atuhu tazid.” ) Artinya, bukanlah hari raya itu bagi yang memakai pakaian baru, tetapi bagi yang bertambah ketaatannya. Idul Fitri merupakan momentum kembali kepada fitrah, yakni keadaan suci setelah ditempa oleh ibadah puasa, qiyamul lail, tilawah Al-Qur'an, serta berbagai amal kebaikan lainnya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-A'la ayat 14–15 bahwa beruntunglah orang yang membersihkan diri, mengingat nama Tuhannya, lalu melaksanakan shalat. Ayat ini menegaskan bahwa kekayaan di hari raya bukan diukur dari pakaian yang dikenakan, melainkan dari kebersihan jiwa dan kedekatan kepada Allah SWT. Jika selama Ramadhan seseorang berhasil menahan amarah, menjaga lisan, serta memperbanyak sedekah, maka itulah tanda kemenangan yang sesungguhnya. Memakai pakaian terbaik saat Idul Fitri memang termasuk sunnah. Rasulullah SAW diriwayatkan mengenakan pakaian terbaiknya ketika hari raya. Namun para ulama menjelaskan bahwa pengertian pakaian terbaik adalah yang paling baik dan pantas dimiliki, bukan harus membeli yang baru. Jika seseorang memiliki pakaian lama yang masih bersih dan rapi, maka itu sudah cukup untuk menunaikan sunnah. Islam tidak pernah menekankan kewajiban umatnya dengan sifat penampilan semata. Di sisi lain, menjelang Idul Fitri terdapat kewajiban sosial yang tidak boleh diabaikan, yaitu zakat fitrah. Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa zakat fitrah diwajibkan untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata sia-sia dan untuk memberi makan kepada orang miskin. Ini menunjukkan bahwa sebelum merayakan hari kemenangan, seorang Muslim diperintahkan untuk memastikan saudaranya juga dapat merasakan kebahagiaan. Maka jika harus memilih antara membeli baju baru atau menunaikan sedekah dalam kondisi terbatas, mendahulukan kewajiban sosial tentu lebih utama. Sering kali budaya konsumtif membuat sebagian orang merasa kurang percaya diri jika tidak memakai pakaian baru saat lebaran. Padahal kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT bukan terletak pada apa yang dikenakannya, melainkan pada ketakwaannya. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Ayat ini menjadi pengingat bahwa standar kemuliaan dalam Islam bukanlah penampilan, melainkan kualitas iman dan amal saleh. Lebih jauh lagi, sedekah memiliki dampak sosial yang luar biasa. Dengan berbagi, kami membantu meringankan beban fakir miskin, anak yatim, dan mereka yang membutuhkan. Senyum mereka di hari raya bisa menjadi lebih berharga dari sekedar kepuasan mengenakan pakaian baru. Kebahagiaan yang lahir dari memberi sering kali lebih mendalam dan bertahan lama dibandingkan kebahagiaan menerima atau membeli sesuatu untuk diri sendiri. Namun Islam juga agama yang seimbang. Bagi yang memiliki kelapangan rezeki, membeli pakaian baru sekaligus bersedekah tentu bukan masalah. Yang terpenting adalah tidak berlebihan dan tetap menjadikan ibadah serta kepedulian sosial sebagai prioritas utama. Jangan sampai semangat berbelanja justru melupakan makna syukur dan kenangan yang diajarkan selama Ramadhan. Pada akhirnya, pertanyaan baju Lebaran dulu atau sedekah dulu seharusnya dijawab dengan kesadaran iman. Idul Fitri bukan tentang apa yang tampak di luar, tapi tentang perubahan yang terjadi di dalam hati. Jika setelah Ramadhan kita lebih menjadi dermawan, lebih sabar, dan lebih taat, maka itulah kemenangan yang sejati. Jadikan hari raya sebagai momentum memperkuat kepedulian dan memperluas manfaat bagi sesama, sehingga kebahagiaan Idul Fitri benar-benar dirasakan oleh semua. 1. Momentum Idul Fitri Kembali Suci Idul Fitri berarti kembali kepada fitrah. Esensinya adalah peningkatan iman setelah Ramadhan, bukan sekadar simbol pakaian baru. 2. Dalil Keutamaan Sedekah Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebelum salat Id sebagai bentuk kepedulian sosial. Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa zakat fitrah berfungsi menyucikan orang yang berpuasa dan memberi makan kepada orang miskin. 3. Baju Baru Boleh, Tapi Bukan Prioritas Memakai pakaian terbaik saat Idul Fitri dianjurkan. Namun itu bukan kewajiban. Jika kondisi keuangan terbatas, mendahulukan sedekah lebih utama. 4. Keimanan yang Bertambah adalah Tujuan Kalimat laisa lil jadid mengingatkan bahwa ukuran kebahagiaan bukan pada pakaian baru, tetapi pada amal dan ketakwaan. 5. Menumbuhkan Empati Sosial Saat kita membeli baju lebaran, bentrok dengan saudara yang kesulitan makan. Sedekah menghadirkan kebahagiaan yang lebih luas. 6. Prioritas dalam Islam Dalam kaidah fiqih, mendahulukan kewajiban lebih utama daripada pelengkap. Sedekah, terutama zakat dan infaq, bernilai ibadah sosial tinggi. 7. Meneladani Rasulullah SAW Rasulullah dikenal sangat dermawan, terutama di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. 8. Kebahagiaan Hakiki Kebahagiaan sejati lahir dari hati yang bersih, bukan dari lemari yang penuh pakaian baru. 9. Pengaturan Keuangan dengan Bijak Jika mampu membeli baju dan tetap bersedekah, itu baik. Namun jika harus memilih, dahulukan kewajiban dan kepedulian. 10. Sempurnakan Idul Fitri dengan Berbagi Mari jadikan Idul Fitri sebagai momen berbagi. Salurkan infaq dan sedekah Anda melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi agar tepat sasaran dan membawa keberkahan bagi banyak orang. Sebelum membeli baju baru, tanyakan pada hati: sudahkah kita berbagi hari ini? Yuk, sempurnakan kebahagiaan Idul Fitri dengan menunaikan infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Karena sejatinya, Idul Fitri bukan tentang apa yang kita pakai, tapi tentang iman yang semakin baik dan kepedulian yang semakin kuat. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Ibadah Istiqomah dengan Sedekah Rutin https://baznaskotasukabumi.com/makna-hari-raya-idul-fitri/
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
Wajib Tahu! Jangan Abaikan Fidyah dan Qada Puasa Biar Ibadahmu Aman & Tenang
Wajib Tahu! Jangan Abaikan Fidyah dan Qada Puasa Biar Ibadahmu Aman & Tenang
Fidyah dan qada puasa adalah dua kewajiban yang sering muncul saat Ramadhan, namun masih banyak umat Islam yang salah dalam penerapannya. Ada yang seharusnya qada, malah membayar fidyah. Ada juga yang seharusnya fidyah, tapi terus menahan qada yang tak mungkin dilakukan. Padahal, memahami fidyah dan qada puasa dengan benar adalah bagian dari tanggung jawab ibadah agar puasa kita benar-benar sah dan bernilai di sisi Allah SWT. Allah SWT berfirman: “Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa), wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah : 184) Ayat ini menjadi dasar utama kewajiban fidyah bagi kelompok tertentu. Apa Bedanya Fidyah dan Qada Puasa? Sebelum masuk ke kriteria, penting untuk memahami perbedaannya: Qada puasa : Menggantikan puasa Ramadhan di hari lain sesuai jumlah yang ditinggalkan. Fidyah : Membayar dengan memberi makan fakir miskin sebagai pengganti puasa yang tidak mampu dilakukan. Tidak semua orang bebas memilih. Fidyah dan qada puasa memiliki ketentuan yang jelas dalam syariat. Kriteria Orang yang Wajib Qada Puasa Berikut ini kumpulan WAJIB qada puasa : Orang sakit sementara Jika sakitnya masih ada harapan sembuh, maka cukup qada setelah sehat. Musafir (dalam perjalanan jauh) Diperbolehkan tidak puasa dan wajib menggantinya di hari lain. Wanita haid dan nifas Tidak sah puasanya dan wajib qada , tanpa fidyah. Orang yang membatalkan puasa karena uzur syar'i Seperti muntah yang disengaja atau kondisi darurat. Rasulullah SAW bersabda: “Bukankah jika wanita haid tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menegaskan kewajiban qada bagi wanita haid dan nifas. Kriteria Orang yang Wajib Fidyah Berikut kumpulan WAJIB fidyah , tanpa qada: Orang tua renta Sudah tidak mampu berpuasa dan tidak ada harapan kuat kembali. Orang sakit melaporkan Penyakit kronis yang secara medis tidak memungkinkan untuk berpuasa. Ibu hamil dan menyusui (menurut sebagian ulama) Jika khawatir terhadap keselamatan bayi, maka wajib fidyah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: “Ayat ini berlaku bagi orang tua yang tidak mampu berpuasa, maka ia memberi makan orang miskin setiap hari.” (HR.Bukhari) Bagaimana Jika Menunda Qada Puasa Bertahun-Tahun? Jika seseorang menunda qada puasa sampai datang Ramadhan berikutnya tanpa uzur , maka sebagian besar ulama menyatakan: Tetap wajib qada Ditambah fidyah sebagai bentuk tanggung jawab Inilah memahami pentingnya fidyah dan qada puasa sejak awal agar tidak menumpuk kewajiban. Ukuran Fidyah yang Wajib Dibayarkan Ukuran fidyah umumnya: 1 lumpur makanan pokok (± 0,6–0,75 kg beras) Diberikan kepada 1 fakir miskin per 1 hari puasa Fidyah boleh menggelar dalam bentuk makanan siap saji atau melalui lembaga resmi agar tepat sasaran. Apakah Boleh Menggabungkan Qada Puasa dan Fidyah Sekaligus? Pertanyaan ini sering muncul di masyarakat. Jawabannya tergantung kondisi orangnya . Jika seseorang wajib qada saja (misalnya sakit sementara atau haid), tidak perlu fidyah . Jika seseorang wajib fidyah saja (orang tua renta atau sakit menahun), tidak ada kewajiban qada . Namun, jika seseorang mengadakan qada tanpa uzur hingga Ramadhan berikutnya , maka menurut jumhur ulama: Tetap wajib qada Ditambah fidyah sebagai denda yang tertunda Ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak meremehkan kewajiban fidyah dan qada puasa . Kesalahan Fatal yang Sering Terjadi Terkait Fidyah dan Qada Puasa Agar pembaca tidak salah, berikut kesalahan yang sering terjadi di masyarakat: Mengira fidyah boleh dipilih sesuka hati Padahal fidyah hanya untuk orang yang benar-benar tidak mampu berpuasa secara permanen. Menunda qada bertahun-tahun tanpa alasan Ini justru menambah beban ibadah dan tanggungan fidyah. Memberikan fidyah tidak sesuai ketentuan Fidyah harus berupa makanan pokok atau makanan siap santap, bukan sekadar uang tanpa kejelasan penyaluran. Tidak menghitung jumlah hari secara tepat Setiap hari puasa yang ditinggalkan memiliki kewajiban tersendiri. Kesalahan-kesalahan ini bisa membuat fidyah dan qada puasa tidak sah atau tidak sempurna. Waktu Terbaik Membayar Fidyah dan Qada Puasa Qada puasa : Boleh dilakukan kapan saja sebelum Ramadhan berikutnya, kecuali hari-hari yang diharamkan berpuasa. Fidyah : Boleh dibayarkan: Saat Ramadhan Setelah Ramadhan Bahkan sebelum Ramadhan (menurut sebagian ulama) Artinya, fidyah dan qada puasa tidak perlu menunggu lama, justru semakin cepat ditunaikan semakin baik. ???? Salurkan fidyah dan infaq terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi . InsyaAllah lebih amanah, transparan, dan tepat sasaran untuk membantu fakir miskin dan mustahik yang membutuhkan. ? Satu fidyah yang kamu tunaikan, bisa menjadi senyum bagi mereka dan pahala besarmu untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menupuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah https://kabtrenggalek.baznas.go.id/artikel/show/ramadan-semakin-dekat-saatnya-menunaikan-fidyah-sebagai-bentuk-tanggung-jawab-ibadah/37122
ARTIKEL26/02/2026 | BAZNAS
Stop Lakukan Ini! 7 Kesalahan Zakat Perusahaan yang Bisa Bikin Bisnis Kurang Berkah
Stop Lakukan Ini! 7 Kesalahan Zakat Perusahaan yang Bisa Bikin Bisnis Kurang Berkah
Apa Dasar Hukum zakat perusahaan? Perintah zakat secara umum terdapat dalam Al-Qur'an: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At-Taubah: 103) Rasulullah ? juga bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: …menunaikan zakat…” (HR. Bukhari dan Muslim) Meskipun di masa Rasulullah ? belum ada istilah korporasi modern, konsep zakat perdagangan sudah ada. Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Rasulullah memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari apa yang kami persiapkan untuk diperjualbelikan.” (HR.Abu Dawud) Dari kesimpulan para ulama menyimpulkan bahwa zakat perusahaan termasuk dalam kategori zakat perdagangan, yang wajib ditunaikan ketika telah mencapai nisab dan haul. 1. Memahami Nisab dan Haul Zakat Perusahaan Nisab zakat perusahaan dianalogikan dengan nisab emas, yaitu setara 85 gram emas. Jika total aset lancar perusahaan—dikurangi kewajiban jangka pendek—mencapai nilai tersebut dan telah berjalan selama satu tahun (haul), maka wajib dikeluarkan zakat sebesar 2,5%. Perhitungan ini meliputi kas, piutang lancar, dan persediaan barang dagangan. Artinya, zakat perusahaan tidak hanya dihitung dari keuntungan bersih, tetapi dari total aset yang berputar dalam usaha. 2. Membersihkan Harta dan Menarik Keberkahan Zakat perusahaan bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah sarana penyucian harta. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 276: “Allah menggambarkan riba dan menyuburkan sedekah.” Secara spiritual, zakat menjadi sebab bertambahnya keberkahan. Secara sosial, zakat memperkuat daya beli masyarakat sehingga ekosistem ekonomi ikut tumbuh. 3. Meningkatkan Citra dan Kepercayaan Publik Perusahaan yang rutin menunaikan zakat perusahaan menunjukkan komitmen terhadap tanggung jawab sosial. Hal ini dapat meningkatkan reputasi bisnis, kepercayaan konsumen, serta loyalitas mitra usaha. Di Indonesia, pengelolaan zakat dapat dilakukan melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi yang berada di bawah naungan Badan Amil Zakat Nasional . 4. Menguatkan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dalam konsep Islam, bisnis tidak dapat berdiri sendiri tanpa memikirkan kesejahteraan umat. Zakat perusahaan menjadi instrumen pendistribusian kekayaan agar tidak berputar di kalangan tertentu saja, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hasyr : 7. Dengan menunaikan zakat perusahaan, pelaku usaha turut membantu fakir miskin, beasiswa pendidikan, bantuan kesehatan, hingga program pemberdayaan ekonomi. 5. Cara Menghitung Zakat Perusahaan Secara Praktis Untuk mempermudah penghitungan zakat perdagangan kami sertakan link https://baznaskotasukabumi.com/zakat/ Berikut langkah sederhananya: Hitung total aset lancar (kas, bank, koleksi, persediaan). Kurangi dengan kewajiban jangka pendek (utang jatuh tempo). Jika hasilnya mencapai nisab (85 gram emas), keluarkan 2,5%. Tunaikan setelah mencapai haul satu tahun. Contoh: Jika aset bersih perusahaan Rp1.000.000.000, maka zakat perusahaan yang wajib dikomunikasikan adalah: 2,5% x Rp1.000.000.000 = Rp25.000.000 6. Perusahaan Zakat sebagai Investasi Akhirat Rasulullah ? bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR.Muslim) Secara logika bisnis mungkin terlihat berkurang, namun dalam perspektif iman, zakat perusahaan adalah investasi jangka panjang—baik di dunia maupun akhirat. 7. Menyalurkan Perusahaan Zakat dengan Aman dan Tepat Sasaran Agar zakat terselurkan sesuai syariat dan tepat sasaran, penting memilih lembaga resmi dan terpercaya. Di Sukabumi, Anda dapat menyalurkan zakat maupun infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi yang memiliki program pemberdayaan ekonomi, bantuan kemanusiaan, serta layanan transparan dan akuntabel. Mengapa Pebisnis Tidak Boleh Menunda? Menunda zakat suatu perusahaan berarti menjamin hak orang lain yang ada dalam harta kita. Dalam setiap keuntungan usaha, terdapat bagian untuk mustahik. Semakin cepat ditunaikan, semakin cepat pula keberkahan mengalir. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang menantang, zakat perusahaan bisa menjadi solusi nyata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Saatnya Tunaikan dan Sempurnakan Keberkahan Usaha Anda Kini tidak ada alasan untuk menunda zakat perusahaan maupun infaq. Mari wujudkan bisnis yang tidak hanya berkembang secara finansial, tetapi juga berdampak sosial dan bernilai ibadah. ???? Yuk, segera bayar infaq dan zakat perusahaan Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi hari ini juga! Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: zakat profesi!!! Gaji Sudah Cukup, Sudahkah Anda Tunaikan 2,5%-nya? Zakat perdagangan
ARTIKEL25/02/2026 | BAZNAS
Hati-Hati!!! 10 Kesalahan fatal dalam Besaran Zakat Fitrah Bisa Berdampak Serius
Hati-Hati!!! 10 Kesalahan fatal dalam Besaran Zakat Fitrah Bisa Berdampak Serius
Menjelang Idul Fitri, banyak masyarakat bertanya-tanya: berapa besaran zakat fitrah di Sukabumi, siapa saja yang berhak memilikinya, dan bagaimana doa atau hadits terkaitnya Menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak masyarakat bertanya-tanya mengenai besaran zakat fitrah di Sukabumi, siapa saja yang berhak memilikinya, serta bagaimana niat dan dalil hadits yang mendasarinya. Pertanyaan ini wajar muncul setiap akhir Ramadhan karena zakat fitrah merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap muslim. Dengan memahami ketentuannya secara benar, kita tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban, tetapi juga menyempurnakan ibadah puasa yang telah dijalani selama sebulan penuh. Zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan atas jiwa setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Kewajiban ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar , bahwa Rasulullah ? mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha' kurma atau gandum atas setiap Muslim, baik budak maupun merdeka. Hadits ini menunjukkan bahwa zakat fitrah bersifat universal dan tidak membedakan status sosial. Selama seseorang beragama Islam dan memiliki kelebihan makanan pada malam Idul Fitri, maka ia wajib menunaikannya. Di wilayah Sukabumi, besaran zakat fitrah umumnya mengikuti ketentuan dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) setempat. Secara umum, zakat fitrah ditunaikan dalam bentuk makanan pokok sebanyak 2,5 kilogram atau sekitar 3,5 liter beras per jiwa. Namun, masyarakat juga diperbolehkan membayarnya dalam bentuk uang yang setara dengan harga konsumsi beras yang layak di daerah tersebut. Karena harga beras bisa berbeda setiap tahun, biasanya menjelang Idul Fitri pihak BAZNAS atau Dewan Kemakmuran Masjid akan mengumumkan nominal resmi agar masyarakat tidak salah. Zakat fitrah memiliki tujuan yang sangat mulia. Selain sebagai penyempurna ibadah puasa, zakat fitrah juga berfungsi sebagai bentuk kepedulian sosial. Selama menjalani Ramadhan, mungkin saja seseorang melakukan kesalahan kecil seperti berkata sia-sia atau kurang menjaga lisan. Maka zakat fitrah hadir sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa. Di sisi lain, zakat fitrah juga memastikan bahwa kaum fakir dan miskin dapat merasakan kebahagiaan di hari raya tanpa harus merasa kekurangan. Bagi penerima zakat fitrah termasuk dalam golongan mustahik yang disebutkan dalam Al-Qur'an, yaitu delapan golongan sebagaimana tercantum dalam Surat At-Taubah ayat 60. Namun dalam praktiknya, para ulama mengajarkan agar zakat fitrah diprioritaskan kepada fakir dan miskin. Hal ini agar mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan pada hari raya dan ikut merasakan suasana Idul Fitri dengan penuh kegembiraan. Penyaluran yang tepat sasaran akan membuat makna zakat semakin terasa manfaatnya. Waktu pembayaran zakat fitrah juga perlu diperhatikan. Waktu yang paling utama adalah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Bahkan Rasulullah ? transmisi agar zakat fitrah ditunaikan sebelum shalat Id agar langsung dapat disiarkan kepada yang membutuhkan. Jika setelah shalat Id tanpa alasan yang diperbolehkan, maka nilai hanya menjadi sedekah biasa dan tidak lagi bernilai zakat fitrah yang sempurna. Dalam pelaksanaannya, niat zakat fitrah cukup di dalam hati karena niat merupakan amalan batin. Namun melafalkannya diperbolehkan untuk membantu kekhusyukan. Kepala keluarga biasanya mengeluarkan zakat untuk dirinya sendiri dan seluruh anggota keluarga yang menjadi tanggungannya, termasuk istri dan anak-anaknya. Bahkan bayi yang lahir sebelum matahari terbenam pada akhir Ramadhan pun sudah wajib mengeluarkan zakatnya. Melalui zakat fitrah, Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama manusia. Ibadah puasa melatih kesabaran dan pengendalian diri, sedangkan zakat fitrah melatih kepekaan sosial. Kombinasi keduanya menjadikan Ramadhan sebagai bulan pelatihan spiritual sekaligus pelatihan sosial. Tidak heran jika zakat fitrah menjadi penutup rangkaian ibadah Ramadhan yang penuh makna. Oleh karena itu, menjelang Idul Fitri, mari pastikan zakat fitrah kita telah ditunaikan sesuai ketentuan yang berlaku di Sukabumi. Pilihlah beras dengan kualitas yang baik sebagaimana yang kita konsumsi sehari-hari, atau bayarkan sesuai nominal yang telah ditetapkan lembaga resmi. Tunaikan dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur, karena pada hakikatnya harta yang kita keluarkan akan kembali sebagai keberkahan dalam kehidupan kita. Semoga dengan menunaikan zakat fitrah secara benar dan tepat waktu, ibadah Ramadhan kita diterima oleh Allah SWT dan kita termasuk orang-orang yang kembali fitrah di hari kemenangan. Aamiin. 1?? Sejarah dan Tujuan Zakat Fitrah Zakat fitrah pertama kali diwajibkan oleh Rasulullah ? pada akhir Ramadhan sebelum shalat Id. Tujuannya bukan hanya membersihkan diri dari dosa kecil dan ucapan sia-sia, tetapi juga memastikan bahwa semua umat Islam, terutama fakir miskin, dapat merayakan Idul Fitri dengan layak. Rasulullah ? bersabda: “Zakat fitrah itu sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari kata sia-sia dan perbuatan keji serta sebagai makanan bagi orang miskin.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) Hadits ini menegaskan dua hikmah zakat fitrah: pembersihan spiritual dan menyediakan kebutuhan sosial . 2?? Besaran Zakat Fitrah di Sukabumi Menurut standar nasional dan ketentuan BAZNAS Kota Sukabumi, zakat fitrah ditentukan 1 sha' bahan makanan pokok , yaitu setara dengan: 2,5 kg atau sekitar 3,5 liter beras per jiwa Setiap anggota keluarga wajib dizakati, antara lain: Suami dan istri Anak-anak (termasuk bayi) Tamu yang tinggal satu rumah selama Ramadhan (jika memungkinkan) 3?? Variasi Bahan Zakat Fitrah Selain beras, syariat membolehkan zakat fitrah menjual dalam bentuk makanan pokok lain sesuai kebiasaan lokal. Beberapa pilihan umum di Indonesia: Beras Gandum atau tepung Kurma Jagung atau sagu Masyarakat Sukabumi biasanya menggunakan beras , karena mudah didistribusikan dan sesuai sunnah. 4?? Waktu yang berbayar Membayar Zakat Fitrah Waktu terbaik adalah mulai awal Ramadhan hingga menjelang shalat Idul Fitri . Pembayaran terlalu dini (awal Ramadhan) diperbolehkan, namun pembagian lebih efektif jika dilakukan 1–2 hari sebelum Id agar mustahik bisa segera memanfaatkannya. Rasulullah ? bersabda: “Barang siapa menunaikannya sebelum shalat Id, maka itu adalah zakat yang diterima. Barang siapa menunaikannya setelah shalat Id, maka itu hanya sedekah biasa.” (HR.Abu Dawud) 5?? Siapa yang Berhak Menerima Zakat Fitrah? Penerima zakat (mustahik) khusus zakat fitrah lebih diprioritaskan untuk fakir dan miskin , sehingga mereka bisa merayakan Idul Fitri. Secara umum, Al-Qur'an dalam QS. At-Taubah: 60 Menyebutkan 8 golongan penerima zakat, namun zakat fitrah fokus pada yang paling membutuhkan. 6?? Tata Cara Membayar Zakat Fitrah Berikut langkah-langkah praktis membayar zakat fitrah: Tentukan jumlah anggota keluarga yang harus dizakati. Hitung 2,5 kg atau 3,5 liter beras per jiwa . Siapkan zakat dalam bentuk beras atau uang senilai harga beras. Salurkan kepada fakir/miskin secara langsung atau melalui lembaga resmi. Di Sukabumi, penyaluran zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi menjadi pilihan yang aman, transparan, dan tepat sasaran. 7?? Doa Saat Menerima Zakat Ketika menerima zakat, penerima dianjurkan untuk mendoakan muzakki (pemberi zakat). Doa singkatnya: “Allahumma Shalli 'Alaihim” (Ya Allah, berikan rahmat kepada mereka) Atau versi panjang: “Semoga Allah membalas kebaikan Anda, memberkahi harta Anda, dan menjadikannya pembersih bagi jiwa Anda.” Doa ini sesuai sunnah dan menunjukkan rasa syukur sekaligus membangun ukhuwah Islamiyah. 8?? Manfaat Sosial dan Zakat Fitrah Spiritual A. Manfaat Spiritual Membersihkan dosa kecil dan ucapan sia-sia Menambah pahala Ramadhan Membiasakan kejujuran dan tanggung jawab sosial B. Manfaat Sosial Membantu fakir miskin Id mengingat sosial Memperkuat solidaritas dan persaudaraan antarwarga 9?? Contoh Perhitungan Praktis Zakat Fitrah Misal sebuah keluarga di Sukabumi terdiri dari 4 orang: Jumlah anggota keluarga: 4 orang Besaran zakat per orang: 3,5 liter beras Total zakat fitrah = 4 x 3,5 liter = 14 liter beras Jika ingin disalurkan melalui BAZNAS Kota Sukabumi, cukup konversi menjadi uang sesuai harga beras lokal dan bayar online melalui link resmi. 10?? Berbagi Zakat fitrah bukan sekedar ritual kewajiban, tapi wujud kepedulian, pembersihan diri, dan penyebaran keberkahan Ramadhan. Selain zakat, memperbanyak infaq juga menjadi ladang pahala tambahan. Mari salurkan zakat dan infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk memastikan distribusi tepat sasaran, amanah, dan bermanfaat bagi umat. ???? Klik link berikut untuk membayar infaq: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bayar-infaq Dengan menunaikan zakat fitrah dan infaq, kita ikut menebar kebaikan, membersihkan harta, serta menambah keberkahan keluarga dan masyarakat. Semoga Allah menerima ibadah kita semua. Aamiin. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Zakat Fitrah: Siapa yang Wajib Membayar dan Bagaimana Cara Menghitungnya Sedekah Alat Ibadah Untuk Lansia
ARTIKEL25/02/2026 | BAZNAS
Menuju Berkah! 6 Penjelasan Lengkap Zakat Maal agar Kewajiban Zakat Terlaksana dengan Baik
Menuju Berkah! 6 Penjelasan Lengkap Zakat Maal agar Kewajiban Zakat Terlaksana dengan Baik
Di tengah meningkatnya kesadaran berzakat, masih banyak umat Islam yang merasa ragu dan bingung ketika mendengar istilah Zakat Maal . Sebagian berspekulasi rumit, sebagian lagi merasa belum termasuk golongan yang wajib menunaikannya. Tak jarang pula Zakat Maal disamakan dengan sedekah biasa, sehingga kewajiban ini justru terabaikan tanpa disadari. Padahal, pemahaman yang keliru tentang Zakat Maal bisa berdampak pada tertundanya hak orang lain yang seharusnya ditunaikan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami makna dan hakikat Zakat Maal agar ibadah ini dijalankan dengan yakin, tenang, dan sesuai tuntunan syariat. Pengertian Zakat Maal yang Sering Disalahpahami Zakat Maal adalah zakat yang dikeluarkan dari harta kekayaan yang dimiliki oleh seorang muslim ketika telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Kata maal berarti harta, sehingga zakat mencakup segala bentuk kekayaan yang bernilai dan berkembang, seperti uang, emas, tabungan, hasil usaha, dan investasi. Masih banyak orang mengira Zakat Maal hanya berlaku untuk orang kaya raya. Padahal, Islam menetapkan ukuran yang jelas berupa nisab dan haul , bukan sekadar perasaan “kaya” atau “tidak”. Jika harta sudah mencapai batas tertentu dan dimiliki selama satu tahun, maka Zakat Maal menjadi kewajiban yang tidak boleh ditunda. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah : 103) Ayat ini menegaskan bahwa Zakat Maal bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga menyucikan jiwa pemiliknya. Jenis-Jenis Zakat Maal yang Perlu Kamu Ketahui Agar tidak salah hitung dan salah niat, penting memahami jenis-jenis Zakat Maal yang umum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, zakat emas dan perak , yang wajib dikeluarkan apabila mencapai nisab setara 85 gram emas dan dimiliki selama satu tahun. Kedua, zakat uang dan tabungan , termasuk saldo tabungan, deposito, dan simpanan lain yang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok. Ketiga, zakat perdagangan , yaitu zakat dari harta usaha yang berputar dan menghasilkan keuntungan. Keempat, zakat pertanian , yang dikeluarkan dari hasil panen dengan ketentuan nisab tertentu. Kelima, zakat peternakan , seperti sapi, kambing, dan domba sesuai jumlah dan masa kepemilikan. Selain itu, ada zakat investasi seperti saham syariah, serta zakat rikaz , yaitu harta temuan bernilai besar. Semua ini menunjukkan bahwa Zakat Maal sangat luas dan relevan dengan kondisi ekonomi modern. Syarat Wajib Zakat Maal yang Harus Dipenuhi Tidak semua harta otomatis wajib dizakati. Zakat Maal baru wajib jika memenuhi beberapa syarat utama, yaitu harta yang dimiliki secara penuh, diperoleh dari sumber halal, dan bersifat berkembang atau berpotensi berkembang. Selain itu, harta tersebut harus mencapai nisab dan dimiliki selama satu tahun (haul), kecuali zakat pertanian dan rikaz yang tidak mensyaratkan haul. Harta juga tidak digunakan untuk kebutuhan pokok dan tidak habis untuk membayar hutang yang mengurangi nisab. Rasulullah ? bersabda: “Tidak ada kewajiban zakat pada harta hingga melewati satu tahun.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini landasan menjadi penting dalam penetapan waktu wajib Zakat Maal. Dasar Hukum Zakat Maal Menurut Negara Di Indonesia, pengelolaan Zakat Maal diatur secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat . UU ini mengatur bahwa zakat dikelola oleh lembaga resmi agar pendistribusiannya tepat sasaran, transparan, dan akuntabel. Dengan adanya peraturan ini, masyarakat muslim memiliki kepastian hukum dan kenyamanan dalam menunaikan Zakat Maal melalui lembaga yang diakui negara. Kenapa Zakat Maal Itu Penting Banget? Zakat Maal memiliki dampak yang besar, bukan hanya bagi penerimanya, tetapi juga bagi yang menunaikannya. Zakat membantu mengurangi kesenjangan sosial, memperkuat solidaritas umat, dan menjadi sarana pemerataan ekonomi. Bagi muzakki, Zakat Maal menghadirkan ketenangan batin, keberkahan rezeki, serta perlindungan harta dari hal-hal yang tidak diinginkan. Inilah bukti bahwa zakat bukan pengurang harta, melainkan penumbuh keberkahan. Kesalahan Umum Saat Menunaikan Zakat Maal Masih banyak orang yang niatnya baik, namun keliru dalam mengamalkan Zakat Maal . Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menunda zakat padahal harta sudah mencapai nisab dan haul. Ada juga yang mengira zakat bisa diganti sepenuhnya dengan sedekah biasa, padahal zakat dan sedekah memiliki hukum yang berbeda. Kesalahan lainnya adalah hanya menghitung tabungan, tetapi lupa memasukkan emas, investasi, atau aset usaha yang dimiliki. Padahal, semua harta yang berkembang dan memenuhi syarat harus diperhitungkan dalam Zakat Maal. Dengan pemahaman yang benar, ibadah zakat menjadi lebih tenang dan sesuai tuntunan syariat. Zakat Maal bukan hanya kewajiban individu, tetapi juga instrumen sosial yang sangat kuat. Dana zakat yang dikelola dengan baik dapat membantu keluarnya masyarakat dari kemiskinan, membiayai pendidikan anak-anak kurang mampu, hingga mendukung usaha produktif bagi keluarga prasejahtera. Inilah bukti bahwa Zakat Maal bukan sekedar ritual kewajiban, melainkan solusi nyata untuk membangun kesejahteraan bersama. Ketika zakat ditunaikan secara kolektif, dampaknya akan terasa luas dan berkelanjutan. Yuk, Mulai Kebaikan dari Sekarang! Jangan tunggu nanti. Saat harta sudah memenuhi syarat, tunaikan Zakat Maal dan sempurnakan dengan infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi . Kebaikan kecil dari kita bisa menjadi harapan besar bagi sesama. untuk membaca artikel lainnya klik link di bawah ini : Berkenalan Dengan Zakat https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel
ARTIKEL25/02/2026 | BAZNAS
Zakat Perusahaan
Zakat Perusahaan
dasar & landasan Legitimasi Syariat Zakat Perusahaan a. Pendahuluan Islam memberi perhatian pada muamalah keuangan dan ekonomi dengan sistem perserikatan, karena di dalamnya terdapat kebaikan, pertumbuhan dan keberkahan. Di dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Allah disebutkan: Artinya: “Aku adalah yang ketiga diantara dua orang yang berserikat selama salah satu dari mereka tidak mengkhianati yang lain. Jika salah seorang dari mereka mengkhianati temannya, aku keluar dari (perserikatan) mereka.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah) Islam mengandung hukum-hukum fikih yang mengatur akad dan muamalah dalam sebuah perusahaan termasuk terkait perhitungan zakat bagi perusahaan yang wajib mereka keluarkan. b. Perusahaan dalam Khazanah Fikih Perusahaan atau yang biasa disebut sebagai perseroan adalah sebuah bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih dalam bidang usaha bisnis dengan tujuan mencari profit (keuntungan). Sebagaimana dipahami, mencari keuntungan adalah suatu keniscayaan bagi manusia didalam kehidupan ini, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Definisi syirkah/perusahaan dalam fikih Islam adalah penyertaan modal, bekerja sama dan berbagi untung rugi sesuai dengan kesepakatan bersama. Keberadaan syirkah dalam khazanah fikih telah disyariatkan baik dari dalil Alquran, sunnah maupun ijma’. Firman Allah: Artinya: “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (QS. Shad/38: 24) Demikian para ulama juga telah bersepakat tentang disyariatkannya syirkah secara umum dengan berbagai ragam dan model. c. Jenis Perusahaan dalam Khazanah Fikih Berbagai kitab fikih klasik menyebut ada beberapa jenis dan model syirkah, diantaranya: 1. Syirkah ‘Inan yaitu kesepakatan antara dua orang atau lebih, dimana masing-masing akan menyertakan sejumlah uang dan ikut andil dalam melakukan pekerjaan, dimana mereka akan membagi keuntungan dan kerugian sesuai dengan apa yang mereka sepakati. Dalam jenis ini tidak disyaratkan kesamaan modal, pekerjaan, laba, ataupun kerugian. 2. Syirkah mufawadhah yaitu sebuah akad kesepakatan diantara dua orang atau lebih, dimana masing-masing akan menyertakan sejumlah uang dan ikut andil dalam melakukan pekerjaan, dimana mereka akan membagi keuntungan dan kerugian sama besar. Dalam hal ini disyaratkan adanya kesamaan dalam modal, pekerjaan, laba dan kerugian. 3. Syirkah Wujuh yaitu kesepakatan antara dua orang atau lebih, dari para pelaku bisnis yang memiliki reputasi yang baik, kedudukan yang terhormat dan kemampuan untuk mengelola barang-barang dengan baik. Mereka sepakat untuk membeli barang-barang secara kredit dari beberapa firma atau perusahaan dengan modal reputasi dan pengalaman mereka, lalu menjualnya secara tunai. Pemilik barang akan memperoleh harga barangnya secara penuh tanpa ditambah atau dikurangi dan juga tanpa melihat keuntungan ataupun kerugian dari hasil penjualannya. Lalu mereka membagikan keuntungan atau kerugian diantara mereka sesuai dengan kesepakatan. Dengan demikian, jenis syirkah ini tidak membutuhkan modal, karena ia berdasarkan pada kepercayaan. 4. Syirkah A’mal yaitu kesepakatan antara dua orang untuk menerima suatu pekerjaan, dan upah dari pekerjaan itu dibagi diantara mereka sesuai dengan kesepakatan.6 Maka bisa saja dua orang sepakat melakukan satu pekerjaan yang sama ataupun berbeda, dimana mereka bersama-sama melakukan suatu pekerjaan yang tidak membutuhkan modal besar, lalu mereka membagi pemasukan yang mereka peroleh dari pekerjaan-pekerjaan tersebut sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat. Jenis syirkah ini terkadang juga disebut syirkah abdan, atau syirkah shana’i’. 5. Syirkah Mudharabah. Para fuqaha berbeda pendapat dalam menentukan hukum fikih untuk syirkah mudharabah. Ada yang berpendapat bahwa ia termasuk syirkah seperti Hanabilah.7 Ada pula yang tidak menggolongkannya sebagai syirkah, namun termasuk ijarah. Syirkah Mudharabah adalah akad kesepakatan antara dua orang, dimana orang pertama memberikan uang kepada orang kedua untuk digunakan berdagang, dan mendapatkan bagian yang besar dari keuntungannya. Orang kedua disebut mudharib atau orang yang melakukan pekerjaan. Orang kedua menggunakan dan mengelola uang itu sebagai seorang wakil. Mereka berdua membagi keuntungan yang dianugerahkan Allah kepada mereka sesuai dengan kesepakatan. Adapun kerugiannya ditanggung oleh pemilik modal, sementara orang kedua merugi dari sisi tenaganya. Bisa dikatakan bahwa mudharabah adalah syirkah dalam bentuk khusus, karena ia juga memenuhi rukun-rukun akad syirkah. Berdasarkan telaah fikih, tidak terdapat larangan dalam mengembangkan model dan ragam syirkah seperti di atas. Hal ini memberi ruang munculnya model syirkah atau perusahaan baru yang berbeda dengan jenis-jenis syirkah yang telah disebutkan di atas, selama itu tidak bertentangan dengan hukum dan prinsip-prinsip syariat islam, dan akadnya memenuhi semua rukun dan syarat yang dibuat oleh para fuqaha. Artinya, syariat islam membolehkan perusaahaan saham (syirkah musahimah/ joint stock company), perusahaan induk (syirkah qabidhah/ holding company) dan perusahaan konsorsium (syirkah tabi’ah) dan perusahaan dengan multi nationality dan lintas benua. Begitu juga dengan perusahaan rekanan (syirkah asykhash/ partnership company) dan perusahaan kemitraan (syirkah muhashah/ particular partnership company) selama usahanya dilakukan dalam bidang yang halal dan baik, dan konsisten dengan hukum dan prinsip-prinsip syariat Islam di dalam semua muamalahnya. d. Karakteristik Perusahaan dalam Fikih Islam Di dalam konsep dan sistem Islam, Shahatah menyatakan sebuah perusahaan dikatakan sesuai syariat apabila memenuhi unsur-unsur dibawah ini: 1. Tujuan utama dari pendirian perusahaan adalah untuk memperoleh keuntungan yang halal dan baik. Selain mewujudkan pertumbuhan dan pertambahan pada modal, perusahaan juga mempunyai tujuan bagi kemaslahatan kehidupan bumi, dapat membiayai kebutuhan pokok, dan membantu dalam beribadah kepada Allah. Ia juga bertujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi dan sosial bagi umat islam. 2. Terikat dengan nilai-nilai akhlak yang baik dan perilaku yang lurus dalam semua muamalah dan sikap. Karena di dalam itu terdapat bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah, juga salah satu sarana untuk memperoleh keuntungan, pertumbuhan dan pertambahan modal. 3. Aktivitas perusahaan hendaknya dilakukan dalam bidang yang halal dan baik, yang dapat memberikan manfaat dan kebaikan bagi para pemegang saham, mitra, pekerja, dan masyarakat. Karena sesungguhnya yang buruk itu tidak pernah sama dengan yang baik, meskipun yang buruk itu banyak. 4. Pemilihan mitra, pemegang saham, investor, dan pekerja berdasarkan profesionalitas, akhlak, pengalaman, dan kepandaian. Juga tidak mengabaikan faktor keimanan dan spiritualias karena hal ini dapat memberi keberkahan tersendiri bagi sebuah perusahaan. 5. Memberikan hak Allah di dalam harta, diantaranya: zakat, sedekah, dan hal-hal lain yang diwajibkan oleh syariat, demi terwujudnya pertumbuhan, keberkahan, dan kebersihan di dalam harta. 6. Memberikan hak masyarakat di dalam keuntungan, seperti pajak, dan Corporate Social Responsibility (CSR). Selain itu tidak boleh memakan harta orang lain dengan batil, atau dengan merampas hak-hak masyarakat. 7. Menulis dan mencatat semua akad, perjanjian, kesepakatan dan transaksi, demi menghindari adanya keraguan dan pertikaian. e. Dalil Kewajiban Zakat Perusahan Harta yang diinvestasikan di dalam syirkah dengan mengandalkan usaha manusia (pekerjaan) yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan dan pertumbuhan merupakan salah satu harta wajib zakat. Kewajiban tersebut berdasarkan pada penjelasan dalil-dalil di bawah ini: 1. Secara umum, harta yang berkembang dan harta yang bisa berkembang harus tunduk kepada zakat. Sebagaimana firman Allah: Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Taubah/9: 103) Begitu pula sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Muadz bin Jabal saat beliau mengutusnya sebagai wali ke Yaman: Artinya: “Sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, harta yang dikelola di perusahaan yang memilik objek berkembang, baik secara riil maupun estimasi tunduk kepada harta wajib zakat. 2. Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk mengeluarkan zakat dari apa yang mereka persiapkan untuk jual beli(Urudh al-Tijarah). Sabda beliau: Artinya: “Pada unta ada zakatnya, pada kambing ada zakatnya, dan pada al-Bazzu ada zakatnya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Al-Hakim). Perkataan al-Bazzu di sini mempunyai makna apa saja yang disiapkan untuk jual beli, seperti kain, barang-barang, dan yang lainnya. Abu Dawud meriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: Artinya: “Memerintahkan kami untuk mengeluarkan zakat dari apa-apa yang kami siapkan untuk dijual.” (HR. Abu Dawud). 3. Para fuqaha baik salaf maupun khalaf telah sepakat tentang wajibnya zakat pada harta yang diinvestasikan pada perdagangan atau yang semisalnya. Dari kalangan salaf misalnya Abu Ubaid berkata: Artinya: “Apabila tiba waktumu untuk mengeluarkan zakat, maka hitunglah uang atau barang-barang yang diperdagangkan dan hitung sesuai dengan nilai uangnya. Hitung pula piutangmu yang ada pada orang lain. Kemudian kurangi dengan hutangmu kepada orang lain, lalu keluarkan zakat dari hartamu yang tersisa.” Al-Zaila’i berkata: “Dan barang-barang dagangan yang telah mencapai nishab uang atau emas, zakatnya 2,5%.” Ibnu Qudamah juga berkata: Artinya:“Barang siapa yang memiliki barang untuk diperdagangkan, lalu tiba haulnya saat ia telah mencapai nishab, maka hitunglah di akhir haul, jika mencapai nishab keluarkan zakatnya, yaitu 2,5%. Dan kami mengetahui bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ahli ilmu tentang diperhitungkannya haul.” Pernyataan fuqaha salaf di atas menunjukan harta komoditas perdagangan wajib untuk dizakati. Sedangkan untuk aset tetap yang tidak dipersiapkan untuk jual beli, dan hanya untuk pemakaian pribadi, maka tidak ada kewajiban zakat di dalamnya. Adapun aset tetap yang disewakan kepada orang lain, maka penyewaan itu tunduk kepada zakat. Begitu pula fuqaha dari kalangan khalaf bersepakat tentang wajibnya zakat pada harta-harta yang diinvestasikan, baik pada sektor perdagangan maupun pada sektor industri. Yusuf Al-Qaradhawi (1973) dalam bukunya Fiqh al-Zakah menyatakan zakat wajib bagi para pedagang, baik secara personal maupun yang berserikat. Dalam hal ini, diriwayatkan dari Abu Dawud dengan sanadnya Qais bin Abi Gharazah: Artinya: “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah berjalan melewati kami, dan beliau bersabda, “Wahai para pedagang, sesungguhnya jual beli itu diwarnai dengan perilaku sia-sia dan sumpah, maka bersihkan ia dengan zakat.” (HR. Abu Dawud). Hadits ini menegaskan tentang kebutuhan pedagang kepada proses pembersihan yang berkelanjutan dari noda-noda perniagaan. Maka jika pedagang telah mengeluarkan zakatnya, itu merupakan kafarat dari noda-noda yang mengotori perniagaannya. Dalam konteks ini, para fuqaha telah bersepakat tentang wajibnya zakat pada barang-barang dagangan (urudh tijarah). Barang-barang perdagangan yang ditujukan untuk dikembangkan dan mendapatkan keuntungan dikiaskan dengan hewan ternak yang dikembangbiakkan sehingga wajib zakat atasnya. Hanya saja masing-masing dizakati sesuai dengan jenisnya. Zakat perdagangan berdasarkan nilainya, sedangkan zakat hewan ternak berdasarkan jumlahnya. Keduanya memiliki kesamaan dalam pokok dasar kewajiban zakat. f. Ketentuan Hukum Zakat Perusahaan Para fuqaha berpendapat bahwa padanya (zakat perusahaan) berlaku pula hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang sama dengan kewajiban zakat pada perseorangan. Hal tersebut berdasarkan argumentasi berikut: Pertama: Zakat Merupakan Kewajiban Prinsip Firman Allah: Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Taubah/9: 60) Sabda Rasulullah kepada Muadz bin Jabal saat beliau mengutusnya ke Yaman: Artinya: “Sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Firman Allah: Artinya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui..” (QS. Al-Taubah/9: 11) Sabda Rasulullah: Artinya: “Islam dibangun di atas lima perkara; kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menunaikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah pernah membai’at orang yang masuk Islam untuk menunaikan kewajiban zakatnya. Beliau bersabda: Artinya:“Sesungguhnya kesempurnaan islam kalian adlah dengan mengeluarkan zakat harta kalian.” (HR. Al-Bazzar). Dengan statusnya sebagai prinsip beragama, maka siapa saja yang mengingkarinya berarti ia telah mengingkari kewajiban syariat dan dapat masuk pada kategori kafir. Adapun orang yang mengakuinya namun tidak menunaikannya, maka ia adalah seorang muslim yang bermaksiat. Kedua: Zakat Merupakan Ibadah Harta Zakat merupakan ibadah mahdhah yang memiliki dimensi dunia, yakni mensucikan harta; sebagaimana firman Allah: Artinya:“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka (jiwa dan hartanya) dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka.” (QS. Al-Taubah/90: 103) Zakat menandakan ketaatan seorang mukmin, sebagaimana firman Allah dan Sabda Rasul: Artinya:“Dan orang-orang yang menunaikan zakat.” (QS. Al-Mu’minun/23: 4) Artinya: “Dan sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim) Maka, kejujuran iman, pengakuan atas rasa syukur kepada Allah ditandai dengan taatnya seorang hamba terhadap ibadah zakat. Bahkan bukan saja bagi yang sudah mukallaf, zakat diwajibkan juga kepada yang belum mukallaf sebagaimana sabda Rasulullah: Artinya: “Ketahuilah, barang siapa yang menjadi wali bagi anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia menggunakannya untuk berdagang atas nama anak itu, dan jangan ia membiarkannya sehingga harta itu dimakan oleh zakat.” (HR. Al-Tirmidzi). Ketiga: Zakat Sejatinya Mengembangkan Harta Allah berfirman: Artinya:“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Rum/30: 39) Rasulullah bersabda: Artinya: “Tidaklah harta akan berkurang karena sedekah.” (HR. Ahmad) Hal ini menegaskan bahwa jalan yang diberkahi untuk mengembangkan harta adalah dengan menunaikan zakat. Keempat: Zakat Merupakan Hak Para Mustahik Zakat bukanlah bersifat charity atau sukarela, dari orang kaya kepada orang miskin, namun zakat merupakan keharusan, haknya para mustahik. Allah berfirman: Artinya: “dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),” (QS. Al-Ma’arij/70: 24-25) Begitu juga pesan Rasulullah kepada Muadz bin Jabal: Artinya: “Sampaikan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka zakat yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir diantara mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kelima: Zakat Merupakan Tanggung Jawab Ulil amri (Penguasa) Diantara tugas penguasa/ pemerintah ditengah-tengah komunitas muslim adalah memberi fasilitas terbaik demi terkumpulnya dana zakat yang maksimal dan dapat meningkatkan kesejahteraan para mustahik. Baik dalam bentuk dukungan regulasi maupun dukungan iklim bagi terwujudnya pengolaan zakat yang terbaik. Sebagaimana firman Allah: Artinya: “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj/22: 41) Khalifah Abu Bakar Shiddiq dalam kisahnya, pada saat beliau berkuasa, beliau sangat konsen dan tegas memberantas orang-orang yang enggan membayar zakat, dan ia berkata: Artinya: “Demi Allah, andai mereka enggan menunaikan seekor anak kambing yang dulu mereka tunaikan kepada Rasulullah, sungguh aku akan memerangi mereka karenanya.” (HR. Jamaah kecuali Ibnu Majah). Dengan demikian, antara tugas pemerintah dalam memfasilitasi pengelolaan zakat orang-orang kaya adalah dengan mengeluarkan regulasi khusus untuk perusahaan yang hendak menunaikan zakatnya secara benar, bahkan jika memungkinkan bersifat wajib. g. Ketentuan Hitungan Zakat Perusahaan Dewasa ini perputaran uang didominasi oleh para pelaku bisnis dan perdagangan melalui jenis dan model usaha yang beragam. Sebagai bagian dari sistem ekonomi Islam, jelas zakat memiliki kontrbusi yang sangat besar dalam mendekatkan jurang ekonomi. Hal ini lantaran zakat diwajibkan kepada pemilik harta dan didistribusikan kepada pihak yang kesusahan dan kekurangan. Atas prinsip inilah, sebagaimana zakat diwajibkan ke atas individu yang memiliki harta, maka zakat juga diwajibkan kepada perusahaan sebagai pusat berputarnya harta khususnya pada zaman modern saat ini. Beberapa perlakuan fikih yang perlu diperhatikan pada saat proses menghitung zakat perusahaan, diantaranya adalah: Pertama: Harta Shareholder Sebagaimana lazimnya bahwa harta perusahaan merupakan harta milik dua orang mitra atau lebih yang dikelola oleh satu manajemen. Kondisi demikian dinisbahkan bagai satu harta, karena adanya kesamaan dalam sifat dan kondisi, yakni kesamaan tujuan. Pada prakteknya harta masing-masing mitra (shareholder) harus dilihat secara detail, kapan dan berapa dari segi haulnya, takaran zakatnya, nishabnya, presentasenya, dan jumlahnya. Tatkala sudah diketahui berapa jumlah yang wajib dikeluarkan oleh masing-masing mitra mitra sesuai kepemilikan sahamnya (modal perusahaan). Setelahnya, manajemen perusahaanlah sebagai wali mempunyai kewajiban untuk mengurusnya. Kedua: Perusahaan Adalah Syakhsiyah I’tibariyah Dalam pandangan fikih, sebuah korporasi yang diibaratkan sebagai pribadi (Syakhsiyah I’tibariyah) atau satu orang. Maka zakat perusahaan layaknya dihitung sebagai satu kesatuan harta. Setelah itu dibagikan kepada semua mitra sesuai dengan saham mereka masing-masing pada modal perusahaan. Ketiga: Kewajiban Zakat Pada Mitra Kewajiban zakat hanya kepada para pemegang saham yang beragama Islam berdasarkan apa yang ia miliki di perusahaan adapun mitra atau pemegang saham non muslim, mereka tidak wajib zakat. Namun mereka bisa saja dibebankan bayaran lain sesuai dengan regulasi perusahaan yang berlaku. Dasar Penghitungan Zakat Perusahaan a. Prinsip Dasar Hitungan Zakat Perusahaan Prinsip-prinsip ini merupakan hasil adopsi dari bahasan fikih zakat untuk kemudian disajikan dalam sebuah standar laporan zakat perusahaan. Sebagaimana berikut: 1. Tahunan (perhaul): Bahwa penaggalan haul, awa
ARTIKEL25/02/2026 | BAZNAS
Kesalahan Fatal dalam Menghitung Zakat Peternakan yang Wajib Dihindari
Kesalahan Fatal dalam Menghitung Zakat Peternakan yang Wajib Dihindari
Zakat peternakan sering dianggap hal kecil oleh sebagian orang. Bahkan ada yang merasa sudah cukup bersedekah atau membantu tetangga sekitar, sehingga zakat dari hewan ternak terasa seperti kewajiban tambahan yang bisa ditunda. Padahal, zakat peternakan justru menyimpan pahala besar yang sering bekerja secara diam-diam—membersihkan harta, menenangkan hati, dan mengalirkan manfaat bagi banyak orang. Dalam Islam, harta bukan sekedar milik pribadi. Di dalamnya ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Allah SWT berfirman: “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS.Adz-Dzariyat : 19) Ayat ini menegaskan bahwa zakat peternakan bukan pilihan, melainkan amanah. Apa Itu Zakat Peternakan? Zakat peternakan adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari hewan ternak tertentu, yaitu unta, sapi atau kerbau, serta kambing atau domba. Zakat ini berlaku apabila hewan ternak: Dimiliki secara penuh, Digembalakan dan bukan untuk kerja berat, Telah mencapai nisab, Dimiliki selama satu tahun (haul). Meski terlihat sederhana, zakat peternakan punya aturan yang jelas dan sudah dicontohkan sejak masa Rasulullah ?. Jenis dan Nisab Zakat Peternakan Dalam praktiknya, zakat peternakan memiliki ketentuan nisab sebagai berikut: Kambing atau domba : minimal 40 ekor → zakat 1 ekor kambing Sapi atau kerbau : minimal 30 ekor → zakat 1 ekor sapi usia satu tahun Unta : nisab dimulai dari 5 ekor Rasulullah ? bersabda: “Tidak ada kewajiban zakat pada harta yang belum mencapai nisab.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat adil dan tidak memberatkan, termasuk dalam urusan zakat peternakan . Kenapa Zakat Peternakan Terasa “Kecil” tapi Pahalanya Besar? Banyak peternak yang merasa satu ekor kambing atau sapi tidak cukup. Namun di sisi Allah, keikhlasan dan ketaatan jauh lebih bernilai dibandingkan kuantitas. Justru dari hal yang terasa kecil inilah, pahala besar mengalir tanpa disadari. Zakat berkenan membantu: Memenuhi kebutuhan pangan fakir miskin, Menggerakkan ekonomi masyarakat desa, Menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Zakat yang dikeluarkan bukan mengurangi, namun menumbuhkan keberkahan. Zakat Peternakan di Zaman Sekarang Di era modern, zakat peternakan bisa ditunaikan dengan lebih mudah dan aman melalui lembaga resmi. Pengelolaan zakat yang profesional memastikan zakat sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, serta digunakan untuk program pemberdayaan umat. Islam sangat memahami pengelolaan zakat yang tertib dan amanah, agar manfaatnya berkelanjutan dan tidak salah sasaran. Zakat Peternakan dan Dampaknya bagi Kehidupan Sosial Saat peternakan zakat ditunaikan secara rutin, dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi juga spiritual. Masyarakat menjadi lebih peduli, hubungan sosial menguat, dan kerabatan perlahan berkurang. Zakat bukan hanya soal memberi, tapi juga membangun. Dari satu ekor ternak, bisa lahir harapan bagi banyak keluarga. Cara Menghitung Zakat Peternakan Menghitung zakat peternakan sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Selama mengetahui jenis ternaknya, jumlahnya, dan sudah berapa lama dimiliki , zakat bisa langsung ditentukan. Dalam Islam, zakat peternakan tidak dihitung dari harga jual , tetapi dari jumlah ekor ternak . 1. Syarat Umum Sebelum Menghitung Zakat Peternakan Sebelum masuk ke hitungan, pastikan dulu ternak kita memenuhi syarat berikut: Ternak milik sendiri , bukan titipan Dipelihara selama 1 tahun (haul) Digembalakan atau sebagian besar makannya dari rumput alami Jumlahnya sudah mencapai nisab Kalau syarat ini belum terpenuhi, belum wajib zakat . 2. Cara Menghitung Zakat Peternakan Kambing/Domba Ini yang paling sering ditemui di masyarakat. Nisab dan zakatnya: 40–120 ekor → zakat 1 ekor kambing 121–200 ekor → zakat 2 ekor kambing 201–300 ekor → zakat 3 ekor kambing Lebih dari itu → setiap tambahan 100 ekor, tambah 1 zakat kambing Contoh: Pak Ahmad punya 50 ekor kambing selama 1 tahun penuh. ???? Karena sudah mencapai nisab (40 ekor), maka zakatnya 1 ekor kambing . 3. Cara Menghitung Zakat Peternakan Sapi/Kerbau Untuk sapi atau kerbau, hitungannya sedikit berbeda. Nisab dan zakatnya: 30–39 ekor → zakat 1 ekor sapi umur 1 tahun (tabi') 40–59 ekor → zakat 1 ekor sapi umur 2 tahun (musinnah) 60 ekor → zakat 2 ekor sapi umur 1 tahun Setelah itu, kombinasi tiap 30 dan 40 ekor contoh : Bu Siti punya 35 ekor sapi selama 1 tahun. ???? Zakatnya 1 ekor sapi umur 1 tahun . 4. Cara Menghitung Zakat Peternakan Unta (Ringkas) Meski jarang, Islam tetap mengaturnya: 5–9 ekor → zakat 1 ekor kambing 10–14 ekor → zakat 2 ekor kambing 15–19 ekor → zakat 3 ekor kambing 20–24 ekor → zakat 4 ekor kambing Mulai 25 ekor → zakat berupa unta dengan usia tertentu 5. Boleh Diganti Uang atau Tidak? Secara fiqih, zakat peternakan idealnya berupa hewan ternak . Namun dalam praktik sekarang, dapat diganti uang jika lebih maslahat dan disalurkan melalui lembaga resmi agar tepat sasaran. Hal ini memudahkan peternak dan penerima zakat, terutama di daerah perkotaan. 6. Kalau Masih Ragu, Harus Bagaimana? Kalau masih bingung menghitungnya, jangan ditunda . Lebih aman: Konsultasi ke amil zakat Menyalurkan zakat melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Mereka akan membantu menghitung, menyalurkan, dan memastikan zakat kita sah serta bermanfaat. Ayo Tunaikan Zakat dan Infaq Sekarang Agar zakat peternakan dan infaq kita tersalurkan dengan tepat, aman, dan penuh manfaat, mari percayakan penyalurannya melalui BAZNAS Kota Sukabumi . Dengan berinfaq dan berzakat melalui lembaga resmi: untuk melihat artikel lainya klik link di bawah ini : Mengenal Zakat Hewan Ternak https://baznaskotasukabumi.com/cara-menunaikan-zakat-peternakan/
ARTIKEL25/02/2026 | BAZNAS
Sudah Tahu Cara Hitung Zakat Perdagangan yang Benar? Yuk Pahami Bareng!
Sudah Tahu Cara Hitung Zakat Perdagangan yang Benar? Yuk Pahami Bareng!
Zakat perdagangan adalah kewajiban syariat bagi setiap muslim yang memiliki usaha dan telah memenuhi syarat nishab serta haul. Zakat perdagangan bukan hanya kewajiban ibadah, tetapi juga sistem distribusi kekayaan yang adil dan menenangkan hati. Lalu, bagaimana ketentuan lengkapnya dan siapa saja penerima zakat? Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” Ayat ini menunjukkan bahwa zakat perdagangan berfungsi sebagai pembersih harta (tazkiyah) dan penyuci jiwa. Bahkan Rasulullah SAW bersabda: “Pada harta perdagangan itu ada zakatnya.” (HR.Abu Dawud) Hadits ini menjadi dasar kuat bahwa aktivitas bisnis dalam Islam tidak terlepas dari kewajiban zakat. Apa yang Termasuk Zakat Perdagangan? Zakat perdagangan adalah zakat yang dikenakan atas barang atau aset yang diperjualbelikan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Yang termasuk dalam perhitungan antara lain: Stok barang dagangan Uang kas usaha Tabungan usaha Piutang lancar yang bisa ditagih Semua komponen tersebut dihitung pada akhir tahun (haul), kemudian dikurangi dengan kewajiban jangka pendek seperti utang dagang. Menurut sebagian besar ulama, nishab zakat perdagangan setara dengan 85 gram emas. Jika nilai total aset bersih sudah mencapai batas tersebut dan telah berjalan satu tahun, maka wajib dikeluarkan 2,5%. Contoh Perhitungan yang Lebih Detail Misalnya sebuah toko memiliki: Stok barang: Rp120.000.000 Modal usaha: Rp30.000.000 Piutang lancar: Rp20.000.000 Total aset = Rp170.000.000 Utang jangka pendek = Rp20.000.000 Total bersih = Rp150.000.000 Zakat perdagangan yang wajib dibayar: 2,5% × Rp150.000.000 = Rp3.750.000 Perhitungan ini menunjukkan bahwa zakat perdagangan sangat terukur dan tidak memberatkan. Rasulullah SAW bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR.Muslim) Secara spiritual, ini adalah jaminan keberkahan. Secara ekonomi, zakat justru menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Untuk mempermudah penghitungan zakat perdagangan kami sertakan https://baznas.go.id/kalkulatorzakat Siapa Saja Penerima Zakat? Pertanyaan penting berikutnya: siapa saja penerima zakat? Allah SWT menjelaskan secara rinci dalam QS. At-Taubah ayat 60 bahwa terdapat delapan golongan (asnaf): Fakir – tidak memiliki harta dan pekerjaan. Miskin – memiliki penghasilan tetapi tidak mencukupi kebutuhan dasar. Amil – pengelola zakat. Muallaf – orang yang baru masuk Islam. Riqab – budak yang ingin memerdekakan diri. Gharim – orang yang terlilit utang karena kebutuhan halal. Fisabilillah – orang yang berjuang di jalan Allah. Ibnu Sabil – musafir yang kehabisan bekal. Pendistribusian zakat syariah harus tepat sasaran agar tujuan tercapai, yaitu keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Di Indonesia, pengelolaan zakat dilakukan oleh Badan Amil Zakat Nasional sebagai lembaga resmi negara. Lembaga ini memastikan zakat tersalurkan sesuai ketentuan syariah dan peraturan-undangan. Khusus wilayah Sukabumi, BAZNAS Kota Sukabumi berperan aktif dalam menghimpun dan mendistribusikan zakat perdagangan melalui program pemberdayaan ekonomi, bantuan pendidikan, layanan kesehatan, hingga bantuan kemanusiaan. Landasan Fikih Zakat Perdagangan Para ulama mazhab Imam Abu Hanifah , Imam Malik , Imam Syafi'i , dan Imam Ahmad bin Hanbal sepakat bahwa harta perdagangan wajib dizakati apabila memenuhi syarat nishab dan haul. Dalilnya di antaranya firman Allah SWT dalam QS. Surat Al-Baqarah ayat 267: “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” Ayat ini menjadi landasan bahwa hasil usaha (termasuk perdagangan) memiliki kewajiban untuk mengeluarkan zakatnya. Cara Menentukan Nilai Aset Dagang Dalam praktik modern, penilaian aset dagang mengikuti harga pasar saat jatuh tempo haul, bukan harga beli. Artinya: Jika harga barang naik → nilai zakat mengikuti harga terbaru. Jika harga turun → ikuti harga pasar saat itu. Hal ini menunjukkan bahwa zakat perdagangan bersifat realistis dan menyesuaikan kondisi ekonomi aktual. Waktu Pembayaran Zakat Zakat perdagangan ketika genap satu tahun kepemilikan usaha (haul). Banyak usaha pelaku menetapkan tanggal tetap setiap tahun agar konsisten dan mudah dalam pembukuan. Bahkan sebagian ulama membolehkan membayar zakat lebih awal (ta'jil zakat) jika dirasa ada kebutuhan mendesak di masyarakat. Hikmah Ekonomi dan Sosial Zakat Perdagangan Perdagangan zakat mempunyai dampak luar biasa, tidak hanya secara individu tetapi juga sosial: Mengurangi kesenjangan ekonomi Membantu pelaku usaha kecil berkembang Inovasi stabilitas sosial Menumbuhkan empati dan solidaritas Dalam perspektif ekonomi Islam, zakat berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan agar tidak hanya beredar di kalangan orang kaya saja. Zakat juga menjadi bukti bahwa Islam mendorong aktivitas bisnis yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab. Sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT sekaligus kontribusi nyata bagi kesejahteraan umat, para pelaku usaha dapat menunaikan zakat perdagangannya melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar penyalurannya tepat sasaran dan sesuai ketentuan syariah. untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Bantuan BAZNAS 2025: Siapa yang Berhak dan Bagaimana Cara Mendapatkannya? https://baznaskotasukabumi.com/zakat-perdagangan-panduan/
ARTIKEL24/02/2026 | BAZNAS
Zakat Profesi: Gaji Sudah Cukup, Sudahkah Anda Tunaikan 2,5%-nya?
Zakat Profesi: Gaji Sudah Cukup, Sudahkah Anda Tunaikan 2,5%-nya?
Apa Itu Zakat Profesi? Zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan atau keahlian tertentu. Penghasilan tersebut bisa berasal dari gaji karyawan, honorarium, jasa konsultan, dokter, pengacara, dosen, hingga pekerja lepas. Dalam khazanah fikih klasik, istilah zakat profesi memang tidak disebutkan secara eksplisit. Namun, para ulama kontemporer mengqiyaskannya dengan zakat emas, perak, dan hasil pertanian berdasarkan keumuman dalil tentang kewajiban menunaikan zakat dari harta yang diperoleh secara halal. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: “Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik…” (QS. Al-Baqarah: 267) Ayat ini menjadi landasan bahwa setiap penghasilan yang baik dan halal memiliki kewajiban untuk ditunaikan zakatnya apabila telah memenuhi syarat. Dalil Hadits Tentang Kewajiban Zakat Rasulullah ? bersabda: “Islam dibangun atas lima hal: mencerminkan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan berhaji bagi yang mampu.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa zakat merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan. Dalam konteks modern, zakat profesi menjadi bentuk implementasi kewajiban tersebut atas penghasilan rutin yang diterima seorang muslim. Menurut fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), penghasilan yang mencapai nisab wajib dizakati sebesar 2,5%. Siapa yang Wajib Membayar Zakat Profesi? Tidak semua orang otomatis wajib membayar zakat profesi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi: Beragama Islam Penghasilan halal dibatasi nisab (setara 85 gram emas) Melebihi kebutuhan pokok Jika harga emas misalnya Rp1.000.000 per gram, maka nisab zakat profesi setara dengan Rp85.000.000 per tahun atau sekitar Rp7.083.333 per bulan. Apabila penghasilan bersih per bulan telah melebihi nisab tersebut, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Cara Menghitung Zakat Profesi dengan Mudah Untuk mempermudah pengungkapan zakat profesi kami sertakanhttps://simba.baznas.go.id/news/form Ada dua metode umum dalam menghitung zakat profesi: 1. Metode Bruto Zakat dihitung dari total penghasilan sebelum dikurangi kebutuhan. Rumus: 2,5% × total penghasilan bulanan 2. Metode Neto Zakat dihitung setelah dikurangi kebutuhan pokok. Rumus: 2,5% × (penghasilan – kebutuhan pokok) Hikmah dan Manfaat Zakat Profesi Menunaikan zakat profesi bukan sekedar kewajiban administratif. Ada hikmah besar di baliknya: 1. Membersihkan Harta Rasulullah ? bersabda: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (QS. At-Taubah: 103) Zakat profesi sarana menjadi penyucian jiwa dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. 2. Menumbuhkan Keberkahan Harta yang dizakati tidak akan berkurang, justru Allah tambahkan keberkahannya. 3. Mengurangi Kesenjangan Sosial Dana zakat membantu mustahik memenuhi kebutuhan hidup, pendidikan, hingga modal usaha. Perbedaan Zakat Profesi dan Infaq Walaupun sering disamakan, profesi zakatnya berbeda dengan infaq. Zakat profesi bersifat wajib jika memenuhi nisab. Infaq bersifat sunnah dan tidak terikat nisab. Keduanya sama-sama bernilai pahala besar di sisi Allah SWT. Bahkan dalam banyak ayat, perintah shalat sering disandingkan dengan perintah zakat dan infaq. Waktu Pembayaran Zakat Profesi Berbeda dengan zakat maal yang menunggu haul (1 tahun), profesi zakat dapat melaksanakan setiap menerima gaji atau dikumpulkan selama setahun. Banyak ulama mengadakan pembayaran bulanan agar lebih ringan dan konsisten. Dengan membayar zakat profesi secara rutin, kami juga mempercepat distribusi manfaat kepada yang membutuhkan. Tantangan dan Kehormatan Umat Di era modern, potensi zakat profesi di Indonesia sangat besar. Namun realisasi pengumpulannya masih belum optimal. Padahal, jika seluruh umat Islam yang mampu menunaikan zakat profesi secara disiplin, angka kemiskinan dapat ditekan secara signifikan. Oleh karena itu, edukasi dan kemudahan pembayaran menjadi kunci. Ilustrasi Zakat Profesi dalam Kehidupan Nyata Bayangkan seorang karyawan dengan gaji Rp10.000.000 per bulan. Jika ia menunaikan zakat profesi 2,5%, maka: Rp10.000.000 × 2,5% = Rp250.000 per bulan. Dalam setahun, ia telah menyalurkan Rp3.000.000 untuk membantu sesama. Jumlah tersebut mungkin terasa kecil bagi pemberi, namun sangat berarti bagi penerima. Optimalisasi Zakat Profesi untuk Kesejahteraan Umat Dana zakat profesi yang dikumpulkan dapat dialokasikan untuk: Bantuan pendidikan Program kesehatan Modal usaha UMKM Santunan dhuafa Tanggap bencana Inilah bukti nyata bahwa zakat profesi bukan sekedar kewajiban, melainkan solusi sosial yang dahsyat. Kesimpulan: Sudahkah Anda Menunaikan Zakat Profesi Tahun Ini? Zakat profesi adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Dengan dasar Al-Qur'an dan hadits yang kuat, serta fatwa ulama kontemporer, kewajiban ini menjadi bagian dari tanggung jawab spiritual dan sosial setiap muslim. Menunda zakat profesi berarti mempertahankan hak orang lain yang ada dalam harta kita. Kini, membayar zakat profesi semakin mudah, aman, dan transparan melalui lembaga resmi. Saatnya Bertindak Sekarang Jangan tunggu nanti. Tunaikan kewajiban dan sempurnakan ibadah Anda hari ini. Jangan tunda kebaikan. Salurkan infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara mudah dan aman melalui link berikut: ???? https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bayar-infaq Mari bersama wujudkan Sukabumi yang lebih sejahtera melalui zakat profesi dan infaq yang amanah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan melimpahkan keberkahan dalam setiap rezeki yang kita peroleh. Aamiin. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Profesi Zakat: Apakah Gaji Anda Sudah Memenuhi Nisab?
ARTIKEL24/02/2026 | BAZNAS
Banyak yang Salah Sangka! MBG Ternyata Bukan Pakai Dana Zakat, Lho
Banyak yang Salah Sangka! MBG Ternyata Bukan Pakai Dana Zakat, Lho
Zakat bukan untuk MBG belakangan jadi topik yang ramai dibicarakan masyarakat. Banyak yang bertanya-tanya, apakah dana zakat benar-benar dipakai untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)? Pertanyaan ini wajar muncul, karena zakat memang berkaitan dengan bantuan sosial. Namun melalui klarifikasi resmi, Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan bahwa zakat bukan untuk MBG, dan pengelolaannya tetap berjalan sesuai syariat Islam serta aturan negara. Penjelasan ini penting agar umat Islam tidak salah paham dan tetap tenang dalam menunaikan ibadah zakat. Sebab, zakat bukan sekadar bantuan sosial biasa, melainkan ibadah yang memiliki aturan sangat jelas. 1. Zakat Itu Ibadah, Bukan Dana Sosial Umum Dalam Islam, zakat adalah rukun Islam yang ketiga. Artinya, zakat termasuk ibadah pokok yang kedudukannya sangat mulia. Rasulullah ? bersabda: “Islam dibangun atas lima perkara: cermin bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan menunaikan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menegaskan bahwa zakat bukanlah dana bebas yang bisa digunakan untuk semua program sosial. Oleh karena itu, ketika muncul isu zakat yang dikaitkan dengan MBG, Kemenag merasa perlu kebenarannya bahwa zakat bukan untuk MBG. 2. Penegasan Kemenag Soal Zakat dan MBG Kemenag secara tegas menyampaikan bahwa tidak ada kebijakan zakat untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG adalah program sosial pemerintah yang memiliki sumber pendanaan tersendiri. Sementara itu, zakat memiliki aturan penggunaan yang telah ditetapkan langsung oleh Allah SWT. Selain berdasarkan syariat, pengelolaan zakat di Indonesia juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat. Undang-undang ini menegaskan bahwa zakat harus disalurkan sesuai ketentuan agama dan diperuntukkan bagi pihak-pihak yang berhak menerimanya. 3. Siapa Saja yang Berhak Menerima Zakat? Islam telah menetapkan dengan sangat jelas siapa yang berhak menerima zakat. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus zakat, para mualaf, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang amal, untuk jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” (QS. At-Taubah : 60) Delapan golongan inilah yang dikenal sebagai asnaf zakat, yaitu: fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil. Karena sudah ditetapkan langsung dalam Al-Qur'an, maka penggunaannya tidak boleh keluar dari ketentuan ini. Inilah alasan utama mengapa zakat bukan untuk MBG. 4. Mengapa Isu Ini Perlu Diluruskan? Isu zakat dan MBG perlu diluruskan agar kepercayaan umat tetap terjaga. Jika zakat disalahpahami secara tidak sengaja, merugikan umat menjadi ragu atau bahkan enggan menunaikan zakat. Padahal zakat memiliki peran besar dalam mengurangi kemiskinan dan menciptakan keadilan sosial. Dengan penjelasan dari Kemenag, umat Islam diharapkan semakin yakin bahwa zakat mereka disalurkan secara amanah, tepat sasaran, dan sesuai syariat. 5. Zakat, Infaq, dan Sedekah Itu Berbeda Perlu dipahami juga bahwa zakat berbeda dengan infaq dan sedekah. Zakat memiliki aturan ketat, sementara infaq dan sedekah lebih fleksibel. Program-program sosial seperti MBG dapat didukung melalui infaq dan sedekah, bukan dari dana zakat. Allah SWT berfirman: “Perumamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir.” (QS. Al-Baqarah : 261) Ayat ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk terus berinfaq dan bersedekah dalam berbagai bentuk kebaikan sosial. yuk salurkan zakat dan infaq terbaikmu Dengan berinfaq melalui lembaga resmi, kami membantu ikut serta saudara-saudara yang membutuhkan sekaligus menjaga keberkahan harta yang kita miliki. Saatnya Berbagi dengan Tenang dan Penuh Keberkahan Kini sudah jelas bahwa zakat bukan untuk MBG, dan Kemenag telah memberikan penjelasan agar umat tidak salah paham. Zakat tetap berada di jalurnya sebagai ibadah yang suci dan amanah. Sementara itu, semangat berbagi untuk program sosial tetap bisa dilakukan melalui infaq dan sedekah. ???? Mari salurkan infaq terbaik kita melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Kemenag Tegaskan: Tidak Ada Kebijakan Zakat untuk Program MBG https://baznas.go.id/news-show/BAZNAS_RI_Tegaskan_Zakat_Tidak_Digunakan_untuk_Program_MBG/3774 https://lampung.baznas.go.id/berita/news-show/kemenag-tegaskan-dana-zakat-tidak-digunakan-untuk-program-mbg/38765 https://baznaskotasukabumi.com/zakat-profesi-dalam-islam/
ARTIKEL24/02/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →