WhatsApp Icon
Bukan Tanpa Alasan, Setiap Ujian Datang Membawa Pelajaran Iman

Setiap manusia pasti pernah menghadapi ujian hidup. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, kehilangan orang tercinta, sakit yang berkepanjangan, hingga berbagai masalah yang terasa begitu berat. Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit orang yang bertanya, "Mengapa Allah memberikan ujian ini kepada saya?"

Padahal dalam Islam, setiap ujian yang Allah SWT berikan bukanlah tanpa alasan. Di balik setiap kesulitan terdapat hikmah, pelajaran, dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Ujian bukan tanda kebencian Allah kepada hamba-Nya, melainkan salah satu cara Allah mendidik, menguatkan, dan mendekatkan hamba kepada-Nya.

Mengapa Allah Menguji Hamba-Nya?

Ujian merupakan bagian dari sunnatullah yang pasti dialami oleh setiap manusia. Bahkan para nabi dan orang-orang saleh pun tidak luput dari berbagai cobaan.

Allah SWT berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"

(QS. Al-Ankabut: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah bukti kesungguhan iman seseorang. Melalui ujian, Allah SWT memperlihatkan siapa yang tetap teguh dan siapa yang mudah menyerah.

Ujian Adalah Bentuk Kasih Sayang Allah

Bukan Tanpa Alasan, Setiap Ujian Datang Membawa Pelajaran Iman

Sering kali manusia menganggap ujian sebagai musibah semata. Padahal, bisa jadi ujian tersebut adalah bentuk kasih sayang Allah yang ingin mengangkat derajat hamba-Nya.

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka."

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengajarkan bahwa ujian tidak selalu berarti murka Allah. Justru bisa menjadi tanda bahwa Allah sedang menyiapkan pahala dan kedudukan yang lebih tinggi bagi hamba-Nya.

Pelajaran Iman di Balik Setiap Ujian

Mengajarkan Kesabaran

Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim belajar untuk bersabar dan tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 155)

Kesabaran bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil meyakini bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu terbaik.

Menumbuhkan Tawakal

Ujian mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Pada akhirnya, hanya kepada Allah SWT tempat bergantung dan memohon pertolongan.

Saat segala pintu terasa tertutup, tawakal menjadi cahaya yang menguatkan hati untuk terus melangkah.

Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat

Tidak ada rasa sakit, kesedihan, atau kesulitan yang dialami seorang Muslim kecuali Allah menjadikannya sebagai penghapus dosa.

Rasulullah bersabda:

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Ujian Mengajarkan Kepedulian

Ada satu hikmah besar yang sering terlupakan dari sebuah ujian, yaitu tumbuhnya rasa empati terhadap sesama. Orang yang pernah merasakan kesulitan biasanya lebih mudah memahami penderitaan orang lain.

Ketika kita melihat saudara-saudara yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, pengobatan, atau kebutuhan pokok sehari-hari, kita menjadi sadar bahwa Allah telah memberikan amanah rezeki yang perlu dibagikan.

Menjadi Jalan Kebaikan untuk Sesama

Tidak semua orang diuji dengan kekurangan harta. Sebagian diuji dengan kelapangan rezeki. Pertanyaannya, apakah kita mampu mensyukuri nikmat tersebut dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan?

Sedekah Mengubah Ujian Menjadi Keberkahan

Banyak orang yang merasakan ketenangan hati setelah membantu sesama. Ketika kita meringankan beban orang lain, Allah SWT akan memudahkan urusan kita dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Sedekah bukan sekadar memberi, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang masih Allah titipkan kepada kita.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Ketika Dunia Tidak Sesuai Harapan, Iman Menjadi Penyelamat

Setiap orang pasti memiliki harapan. Ada yang berharap usahanya berhasil, kariernya berkembang, keluarganya harmonis, atau kehidupannya berjalan sesuai rencana. Namun kenyataannya, hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Terkadang doa belum terjawab, rezeki terasa sempit, kesehatan menurun, atau masalah datang silih berganti.

Pada saat-saat seperti itulah iman menjadi penyelamat. Iman membuat seseorang tetap teguh ketika dunia tidak berpihak kepadanya. Iman mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki hikmah, setiap kesulitan ada jalan keluar, dan setiap ketetapan Allah pasti mengandung kebaikan bagi hamba-Nya.

Mengapa Harapan dan Kenyataan Sering Berbeda?

Ketika Dunia Tidak Sesuai Harapan, Iman Menjadi Penyelamat

Sebagai manusia, kita hanya mampu merencanakan. Namun Allah SWT adalah sebaik-baik perencana yang mengetahui segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tidak kita ketahui.

Allah SWT berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan, dan tidak semua yang kita benci akan membawa keburukan. Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita.

Iman Menjadi Penopang Saat Ujian Datang

Ketika masalah datang bertubi-tubi, orang yang hanya mengandalkan kekuatan dirinya akan mudah putus asa. Sebaliknya, orang yang memiliki iman akan selalu memiliki tempat bersandar, yaitu Allah SWT.

Ujian Adalah Bagian dari Kehidupan

Allah SWT berfirman:

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapinya.

Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Hamba-Nya

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat ujian terasa berat, ayat ini menjadi penguat bahwa Allah tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya.

Tanda Kuatnya Iman Saat Menghadapi Kesulitan

Tetap Berprasangka Baik kepada Allah

Orang yang beriman yakin bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah. Meskipun belum memahami alasannya saat ini, ia percaya bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

Tidak Mudah Putus Asa

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya."

(HR. Muslim)

Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan musibah, ia bersabar. Keduanya bernilai kebaikan di sisi Allah SWT.

Tetap Dekat dengan Al-Qur'an dan Doa

Dalam kondisi sulit, Al-Qur'an menjadi penyejuk hati dan doa menjadi kekuatan yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Jangan Biarkan Kesulitan Menjauhkan Diri dari Allah

Banyak orang baru mendekat kepada Allah ketika tertimpa masalah. Padahal, semakin berat ujian yang datang, semakin besar kebutuhan kita untuk memperbanyak ibadah, dzikir, dan doa.

Ketika Membantu Orang Lain, Hati Menjadi Lebih Kuat

Salah satu cara menghadapi kesedihan adalah dengan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Ketika kita melihat masih banyak saudara yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, hati akan lebih mudah bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki.

Berbagi juga menjadi sarana membersihkan hati dari rasa kecewa yang berlebihan terhadap dunia. Sebab kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan kepada sesama.

Jadikan Ujian Sebagai Jalan Menuju Keberkahan

Jika hari ini hidup belum sesuai harapan, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kesabaran, memperkuat iman, atau mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Ingatlah bahwa dunia bukan tujuan akhir. Kesuksesan sejati adalah ketika hati tetap dekat dengan Allah dalam segala keadaan.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Tawakal Bukan Pasrah, Ini Makna yang Sering Disalah pahami

Banyak orang menganggap tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, masalah pekerjaan, atau ujian kehidupan, sebagian orang berkata, “Saya sudah tawakal,” padahal belum melakukan ikhtiar secara maksimal. Pemahaman seperti ini perlu diluruskan karena dalam Islam, tawakal bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha terbaik.

Memahami makna tawakal yang benar sangat penting agar seorang Muslim tidak terjebak dalam kemalasan atas nama agama. Justru tawakal adalah sumber kekuatan yang membuat seseorang tetap optimis, produktif, dan yakin akan pertolongan Allah SWT.

Apa Itu Tawakal?

Secara bahasa, tawakal berarti menyerahkan atau mempercayakan suatu urusan kepada pihak lain. Dalam Islam, tawakal adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar secara maksimal.

Artinya, seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, berusaha, berdoa, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal datang setelah adanya tekad dan usaha, bukan sebelum berbuat apa-apa.

Kesalahan Memahami Tawakal

Menganggap Tawakal Sama dengan Pasrah

Tawakal Bukan Pasrah, Ini Makna yang Sering Disalah pahami  

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap tawakal sebagai alasan untuk tidak berusaha.

Misalnya, seseorang berharap rezekinya lancar tetapi malas bekerja. Ada pula yang ingin berhasil dalam pendidikan tetapi tidak sungguh-sungguh belajar. Sikap seperti ini bukan tawakal, melainkan kelalaian.

Menjadikan Tawakal sebagai Alasan Bermalas-malasan

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang petani tetap harus menanam benih meskipun ia percaya bahwa hasil panen berasal dari Allah SWT.

Tanpa usaha, tawakal kehilangan maknanya.

Rasulullah Mengajarkan Ikhtiar dan Tawakal

Sebuah hadits yang sangat terkenal menjelaskan hubungan antara usaha dan tawakal.

Rasulullah bersabda:

“Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjadi prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim. Unta harus diikat terlebih dahulu agar tidak hilang, setelah itu barulah menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Tawakal Membuat Hati Lebih Tenang

Orang yang bertawakal tidak mudah putus asa ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Ia memahami bahwa Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini memberikan ketenangan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berusaha dan berserah diri kepada-Nya.

Ciri-Ciri Orang yang Bertawakal dengan Benar

Tetap Berusaha Secara Maksimal

Orang yang bertawakal tidak berhenti bekerja keras. Ia memahami bahwa usaha adalah bagian dari ibadah.

Tidak Mudah Putus Asa

Ketika gagal, ia tidak menyalahkan takdir. Sebaliknya, ia menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.

Selalu Berdoa kepada Allah

Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan, sedangkan doa tanpa ikhtiar adalah kelalaian. Keduanya harus berjalan seimbang.

Menerima Hasil dengan Lapang Dada

Setelah berusaha maksimal, seorang Muslim menerima hasilnya dengan hati yang tenang karena yakin bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik.

Tawakal dan Kepedulian Sosial

Tawakal yang benar juga mendorong seseorang untuk membantu sesama. Ia yakin bahwa harta yang dimiliki hanyalah titipan Allah SWT dan sebagian darinya terdapat hak orang lain yang membutuhkan.

Ketika seseorang berzakat, berinfak, dan bersedekah, ia sedang menunjukkan kepercayaan penuh kepada Allah bahwa berbagi tidak akan mengurangi rezeki.

Rasulullah bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”

(HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa orang yang bertawakal tidak takut miskin karena berbagi. Ia yakin Allah SWT akan mengganti dan melipatgandakan kebaikan yang diberikan kepada sesama.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Apa yang Hilang Saat Kita Menunda-Nunda Salat?

Salat adalah tiang agama dan ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Namun, di tengah kesibukan pekerjaan, aktivitas media sosial, hiburan digital, hingga urusan dunia lainnya, tidak sedikit orang yang terbiasa menunda-nunda salat. Awalnya hanya beberapa menit, lalu menjadi kebiasaan yang membuat hati semakin jauh dari kedisiplinan beribadah.

Padahal, menunda salat bukan sekadar soal waktu. Ada banyak keberkahan yang perlahan hilang tanpa kita sadari. Ketenangan hati berkurang, hubungan dengan Allah melemah, dan kesempatan meraih pahala terbaik pun terlewatkan.

Lalu, apa sebenarnya yang hilang saat kita menunda-nunda salat?

Salat di Awal Waktu adalah Amalan yang Dicintai Allah

Apa yang Hilang Saat Kita Menunda-Nunda Salat

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga salat tepat waktu. Bahkan, salat di awal waktu termasuk amalan yang paling dicintai Allah SWT.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Aku bertanya kepada Nabi, 'Amalan apakah yang paling dicintai Allah?' Beliau menjawab, 'Salat pada waktunya.'"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga waktu salat bukan perkara sepele, melainkan salah satu bentuk ketaatan yang sangat dicintai Allah SWT.

Keberkahan yang Hilang Saat Menunda Salat

Hilangnya Ketenangan Hati

Banyak orang mencari ketenangan melalui hiburan, liburan, atau berbagai kesenangan dunia. Padahal ketenangan sejati berasal dari mengingat Allah.

Allah SWT berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketika salat ditunda, hati kehilangan kesempatan untuk segera terhubung dengan Allah. Akibatnya, kegelisahan dan tekanan hidup sering kali terasa lebih berat.

Hilangnya Pahala Salat di Awal Waktu

Setiap detik yang berlalu setelah azan berkumandang adalah kesempatan yang terlewat untuk meraih keutamaan salat tepat waktu. Orang yang terbiasa menunda sering kehilangan pahala besar yang sebenarnya mudah diraih.

Hilangnya Disiplin dalam Kehidupan

Salat adalah sarana pendidikan karakter. Ketika seseorang disiplin menjaga waktu salat, ia juga akan lebih disiplin dalam pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab lainnya.

Sebaliknya, kebiasaan menunda salat dapat menumbuhkan kebiasaan menunda dalam berbagai aspek kehidupan.

Peringatan Al-Qur'an bagi Orang yang Lalai Salat

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur'an:

"Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya."

(QS. Al-Ma'un: 4-5)

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk kelalaian terhadap salat adalah menunda-nundanya tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Menunda Salat Membuka Pintu Kemalasan

Setan selalu berusaha membuat manusia menjauh dari ibadah. Salah satu caranya adalah membisikkan, "Nanti saja salatnya, masih ada waktu."

Kalimat sederhana ini sering membuat seseorang terlena hingga akhirnya salat dikerjakan di akhir waktu atau bahkan terlewat.

Mengapa Kita Sering Menunda Salat?

Terlalu Sibuk dengan Urusan Dunia

Pekerjaan, bisnis, sekolah, atau aktivitas media sosial sering menjadi alasan utama. Padahal semua aktivitas tersebut tidak akan membawa keberkahan jika membuat kita lalai dari perintah Allah.

Kurangnya Kesadaran Akan Pentingnya Salat

Sebagian orang memandang salat hanya sebagai rutinitas, bukan kebutuhan ruhani. Akibatnya, salat tidak lagi menjadi prioritas utama.

Tidak Segera Menyambut Panggilan Azan

Azan adalah panggilan langsung untuk menghadap Allah SWT. Ketika panggilan ini diabaikan, hati perlahan menjadi kurang peka terhadap kebaikan.

Biasakan Bergerak Saat Azan Terdengar

Salah satu cara efektif adalah segera menghentikan aktivitas ketika azan berkumandang. Jangan memberi ruang bagi rasa malas untuk mengambil alih.

Cara Melatih Diri Agar Tidak Menunda Salat

Ingat Bahwa Salat adalah Pertemuan dengan Allah

Jika kita rela meluangkan waktu untuk urusan pekerjaan atau bertemu orang penting, mengapa kita menunda pertemuan dengan Sang Pencipta?

Jadikan Salat sebagai Prioritas

Susun aktivitas harian berdasarkan jadwal salat, bukan sebaliknya.

Perbanyak Berdoa

Mintalah kepada Allah agar diberikan hati yang istiqamah dalam menjaga salat tepat waktu.

Salat Tepat Waktu Melahirkan Kepedulian Sosial

Salat yang benar tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Orang yang hatinya dekat dengan Allah akan lebih mudah tersentuh melihat kesulitan orang lain.

Karena itu, setelah menjaga salat, sempurnakan ibadah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

(HR. Thabrani)

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Dunia Boleh Dikejar, Tapi Jangan Sampai Iman Tertinggal

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba mengejar kesuksesan, karir, jabatan, bisnis, dan berbagai pencapaian duniawi. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras dan meraih impian. Islam bahkan mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat. Namun, ada satu hal yang tidak dapat dilupakan dalam perjalanan tersebut, yaitu iman.

Jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita lalai dari salat, lupa bersedekah, jarang membaca Al-Qur'an, atau bahkan menjauh dari Allah SWT. Sebab sejatinya, dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan yang abadi.

Ketika Dunia Menjadi Prioritas Utama

Banyak orang mengukur kebahagiaan dari jumlah harta, kendaraan, rumah mewah, atau popularitas di media sosial. Padahal, tidak sedikit orang yang terlihat sukses secara materi tetapi merasa hampa secara spiritual.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

(QS. Al-Hadid : 20)

Ayat ini bukan melarang kita mencari dunia, tetapi mengingatkan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Dunia Boleh Dikejar, Tapi Jangan Sampai Iman Tertinggal  

Islam adalah agama yang seimbang. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha mencari rezeki yang halal sekaligus mempersiapkan bekal akhirat.

Allah SWT berfirman:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu mencintai bagianmu di dunia.
(QS. Al-Qashash : 77)

Ayat ini menjadi pedoman bahwa dunia dan akhirat harus berjalan beriringan. Bekerja adalah ibadah, berbisnis adalah ibadah, dan mencari nafkah adalah ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.

Tanda Iman Mulai Tertinggal

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

  • Salat sering ditunda karena pekerjaan.
  • Lebih banyak waktu untuk media sosial daripada membaca Al-Qur'an.
  • Merasa berat untuk bersedekah tetapi mudah menghabiskan uang untuk hal yang tidak bermanfaat.
  • Jarang menghadiri majelis ilmu.
  • Hanya mengingat Allah saat menghadapi masalah.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, maka sudah saatnya melakukan evaluasi diri sebelum terlambat.

Cara Agar Dunia dan Iman Berjalan Seimbang

Awali Semua Aktivitas dengan Niat Ibadah

Ketika bekerja untuk menafkahi keluarga, membantu sesama, dan mencari rezeki halal, maka pekerjaan tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Jaga Salat di Tengah Kesibukan

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian dunia, tetapi juga kedekatan dengan Allah SWT. Jangan biarkan jadwal yang padat membuat kita meninggalkan salat.

Rasulullah bersabda:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kufur.”

(HR. Tirmidzi)

Sisihkan Rezeki untuk Berbagi

Harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita. Di dalamnya terdapat hak orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah Menjadi Bukti Keimanan

Ketika seseorang rela berbagi di saat dirinya juga memiliki kebutuhan, itulah salah satu tanda kuatnya iman. Sedekah bukan mengurangi harta, namun justru mendatangkan keberkahan.

Rasulullah bersabda:

Sedekah tidak akan mengurangi harta.

(HR.Muslim)

Dunia Akan Ditinggalkan, Amal Akan Menemani

Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir, rekening akan ditinggalkan, dan semua pencapaian dunia akan menjadi kenangan. Yang tersisa hanyalah amal saleh yang pernah kita lakukan.

Oleh karena itu, jangan hanya fokus mempercantik kehidupan dunia. Perindah juga catatan amal dengan salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, dan kepedulian kepada sesama.

Bayangkan jika sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita menjadi karena seorang anak dapat bersekolah, seorang dhuafa memperoleh bantuan pangan, atau seorang pasien mendapatkan layanan kesehatan. Semua itu akan menjadi investasi akhirat yang menghasilkan jauh lebih besar daripada keuntungan dunia yang bersifat sementara.

Saatnya Menjadikan Harta sebagai Jalan Menuju Surga

Kesuksesan dunia akan terasa lebih bermakna ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menjaga agar iman tetap hidup di tengah kesibukan dunia.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS

Artikel Terbaru

SEDEKAH MUDAH, AGAR LEBIH BERKAH
SEDEKAH MUDAH, AGAR LEBIH BERKAH
Sedekah tak melulu tentang harta loh sahabat. Amal atau perbuatan baik kepada orang lain juga sudah termasuk sedekah. Bahkan memberikan senyuman kepada sesama termasuk sedekah. Hal ini tercantum dalam hadis HR. Tirmidzi dan Abu Dzar. sedekah adalah amalan baik yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Sejalan dengan itu tak dipungkiri bila ada sebuah ungkapan tangan di atas lebih baik daripada tangan dibawah dan berlomba-lombalah dalam bersedekah. Kalimat tersebut merupakan motivasi untuk manusia, khususnya umat Islam selalu berbagi dalam keadaan suka maupun duka. Karena, Islam selalu mengajarkan umatnya untuk menyisihkan sebagian hartanya dengan cara bersedekah kepada orang lain yang membutuhkan. Selain untuk berbagi dan sebagai bekal amal di akhirat, sedekah bertujuan untuk menyucikan harta. Sedekah tak harus dilakukan pada saat membayar zakat ataupun infak. Dimana pun dan kapan pun kamu bisa bersedekah, yang terpenting niatkan hati baikmu. Besar kecilnya adalah urusan Allah SWT. Ganjarannya adalah amalan baik. Pada zaman digital saat ini, menyedekahkan Sebagian dari harta sahabat bisa lebih mudah. Karena sudah banyak platform digital yang mewadahi sahabat untuk beramal baik. lembaga-lembaga filantropi islam juga sudah memiliki platform digital untuk mempermudah sahabat berbuat kebaikan. Apapun bentuk dan model sedekahnya, baik online maupun offline pada intinya sedekah, zakat dan infak tersebut harus langsung sampai pada orang yang berhak menerima dan mendapatkan manfaatnya. Mungkin masih ada yang beranggapan bahwa dengan layanan sedekah online akan menciptakan jarak antara kita dengan penerima manfaat sedekah. Namun hal tersebut tidak berarti mengurangi nilai dari sedekah itu sendiri. Sebaliknya, kita melatih diri untuk memberi tanpa mengharap feedback, juga implementasi dari tangan kanan memberi tangan kiri tidak mengetahui. Apabila kamu menampakkan sedekahmu, maka itu merupakan baik sekali dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi mu.” [Al Baqarah ayat 271] Jadi, mari perbanyak sedekah agar hidup lebih berdekah di https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL23/09/2025 | Khoirunisa
Zakat : Kunci Merdeka dari Belenggu Kemiskinan
Zakat : Kunci Merdeka dari Belenggu Kemiskinan
Kemiskinan masih menjadi tantangan besar dari banyak negara termasuk Indonesia. kemiskinan itu tidak hanya tentang kekurangan uang, tapi lebih dari itu. Ini soal akses, kesempatan, dan masa depan. Nah, di tengah gempuran masalah ekonomi, ada satu solusi yang sudah ada sejak lama islam ajarkan. Solusi tersebut adalah : zakat. Zakat bisa menjadi kunci merdeka dari belenggu kemiskinan. Zakat sudah Allah perintahkan tertulis dalam Al-Quran QS. At-Taubah ayat 103 sebagai kewajiban untuk muslim dan muslimah yang memiliki kelebihan harta. Islam juga mengatur besaran zakat yang perlu dikeluarkan dan tidak memberatkan karena hanya 2,5% dari harta yang sudah mencapai nishab dan haul. Di zaman Rasulullah pengumpulan zakat dilakukan oleh pemerintah melalui Baitul maal. Bahkan saat di zaman Khalifah Umar Bin Abdul Aziz, zakat berlimpah ruah hingga petugas amil zakat cukup kesulitan mencari orang miskin yang membutuhkan. Umar bin Abdul Aziz mampu melakukan berbagai refromasi yang berdampak sangat signifikan bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya. Dampak Zakat untuk Ekonomi Dengan pengelolaan zakat yang baik, harta masyarakat akan didistribukan secara merata dan tepat sasaran untuk mereka yang membutuhkan. Ketika zakat dibagikan secara merata, orang-orang yang ada di garis kemiskinan bisa punya akses ke kebutuhan dasar seperti makan, tempat tinggal, dan pendidikan. Bahkan, ada juga yang bisa pakai dana zakat untuk mulai usaha kecil. Hal Ini membuat mereka punya kesempatan buat bangkit dari kemiskinan. Nggak cuma itu, zakat juga bisa menjaga stabilitas ekonomi. Ketika ada krisis ekonomi atau bencana, dana zakat bisa jadi penopang buat mereka yang terdampak. Jadi, zakat nggak cuma sekadar bantuan sementara, tapi juga jadi perlindungan sosial yang efektif. Apabila masyarakat sejahtera, kemungkinan kriminalitas seperti pencurian karena membutuhkan uang juga sangat memungkinkan untuk berkurang. Pemberdayaan Masyarakat Melalui Zakat Selain dampak langsung dalam mengurangi kemiskinan, zakat juga dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat. Misalnya, dengan mendirikan lembaga pendidikan, fasilitas kesehatan, atau program pelatihan keterampilan. Melalui pendekatan ini, zakat tidak hanya memberikan bantuan sementara, tetapi juga memberikan alat yang dibutuhkan untuk menciptakan perubahan jangka panjang. Misalnya, berbagai bantuan UMKM yang diinisiasi oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi, bantuan UMKM ini tidak hanya memberikan modal tapi juga membekali penerima manfaat dengan keterampilan dan pengetahuan. Dengan program ini, UMKM yang terlibat mengalami peningkatan pendapatan. Zakat adalah kunci untuk merdeka dari belenggu kemiskinan. Dengan pengelolaan dan distribusi yang baik, zakat dapat menjadi instrumen efektif dalam mengentaskan kemiskinan, memberdayakan masyarakat, dan menjaga stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim yang mampu untuk menunaikan zakat dan berperan aktif dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan sejahtera. Mari tunaikan zakat melaui https://baznaskotasukabumi.com/zakat/
ARTIKEL23/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ini dia tanaman yang diabadikan dalam al-quran
Ini dia tanaman yang diabadikan dalam al-quran
Al-Qur'an, kitab suci umat Islam, tak hanya kaya akan nilai spiritual dan tuntunan hidup, tetapi juga memuat kekayaan alam yang menakjubkan. Di balik ayat-ayatnya yang penuh hikmah, terselip berbagai jenis tanaman yang disebutkan dengan keistimewaan dan manfaatnya masing-masing. Mari kita telusuri beberapa tanaman dalam Al-Qur'an beserta ayat-ayat yang menyertainya: 1. Kurma: Buah Surgawi Penuh Manfaat (Al-Baqarah: 266) "Dan Dia menurunkan dari langit hujan, lalu menumbuhkan thereby tanaman-tanaman, lalu Dia mengeluarkan therefrom biji-bijian yang berlapis-lapis. Dan dari pohon kurma yang tinggi Dia mengeluarkan tandan-tandan buah yang tersusun rapi." Kurma, buah yang identik dengan bulan Ramadhan, ternyata memiliki kedudukan istimewa dalam Al-Qur'an. Disebutkan dalam 17 ayat, kurma dianalogikan sebagai rezeki yang berlimpah dan penuh berkah. Tak hanya lezat, kurma kaya nutrisi dan serat, menjadikannya camilan sehat dan bergizi. 2. Tin: Buah Manis Kaya Manfaat (Al-An-Nahl: 11) "Dan Dia menciptakan pula kebun-kebun kurma, anggur, dan zaitun, dan pisang, dan berbagai macam buah-buahan yang lezat." Tin atau buah ara, disebutkan dalam Al-An-Nahl ayat 11, digambarkan sebagai buah lezat dengan berbagai jenisnya. Rasanya yang manis dan manfaatnya bagi kesehatan menjadikannya salah satu anugerah Allah yang patut disyukuri. 3. Zaitun: Simbol Perdamaian dan Berkah (Al-Tin: 6) "Dan (Kami telah menciptakan) zaitun dan kurma, dan anggur dan inai, dan pisang, dan berbagai macam buah-buahan, dan yang lainnya." Zaitun, tanaman yang identik dengan perdamaian, disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 6 kali. Minyak zaitunnya pun memiliki banyak manfaat, baik untuk kesehatan maupun kecantikan. Dalam Al-Tin ayat 6, zaitun digambarkan sebagai tanaman yang diberkahi dan menjadi simbol perdamaian. 4. Anggur: Buah Lezat Penuh Nutrisi (Al-A'raf: 160) "Dan dari buah kurma dan anggur kamu buat minuman yang memabukkan dan minuman yang baik." Anggur, buah yang digemari banyak orang, disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 14 kali. Rasanya yang lezat dan menyegarkan menjadikannya minuman favorit banyak orang. Al-A'raf ayat 160 mengingatkan bahwa anggur dapat diolah menjadi minuman yang memabukkan, namun juga dapat diolah menjadi minuman yang menyehatkan. 5. Pisang: Tanaman Penuh Manfaat (Al-An-Nahl: 11) "Dan Dia menciptakan pula kebun-kebun kurma, anggur, dan zaitun, dan pisang, dan berbagai macam buah-buahan yang lezat." Pisang, tanaman yang mudah ditanam dan berbuah lebat, disebutkan dalam Al-An-Nahl ayat 11. Selain buahnya yang lezat, pisang juga memiliki banyak manfaat, seperti batangnya yang dapat diolah menjadi berbagai makanan dan daunnya yang bermanfaat untuk kesehatan. 6. Buah Bidara: Tanaman Kaya Manfaat dan Keberkahan (Al-Waqiah: 27-29) "Di dalam Jannah ada buah bidara dan pohon pisang." Buah bidara, yang identik dengan tradisi ruwatan, disebutkan dalam Al-Waqiah ayat 27-29. Daun bidara dipercaya memiliki banyak manfaat, seperti untuk mengobati gangguan kesehatan dan menangkal gangguan jin. 7. Lidah Buaya: Tanaman Berkhasiat dengan Segudang Manfaat (Al-Alaq: 1) "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah yang terpancar." Walaupun tidak secara eksplisit disebutkan, lidah buaya diyakini oleh beberapa ulama sebagai salah satu tanaman yang dimaksud dalam Al-Alaq ayat 1. Lidah buaya terkenal dengan khasiatnya untuk kesehatan kulit, rambut, dan pencernaan.
ARTIKEL22/09/2025 | Khoirunisa
Sejarah Nabi Muhammad saw : dari lahir hingga wafatnya sang Rasul
Sejarah Nabi Muhammad saw : dari lahir hingga wafatnya sang Rasul
Kelahiran Rasulullah SAW Rasulullah saw dilahirkan pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal bertepatan dengan tahun gajah. Bertepatan pada tanggal 21 April 571 M. Beliau dilahirkan dari suku Quraisy, yaitu suku paling terkenal dan sangat dihormati oleh masyarakat Arab pada waktu itu. Dari suku Quraisy tersebut, beliau berasal dari Bani Hasyim, anak suku yang sangat dihormati ditengah suku Qurasiy. Nabi Muhammad saw lahir dalam keaadan yatim. Karena ayahanda Rasulullah saw meninggal dunia sejak nabi berada dalam kandungan ibunda tercinta dalam usia 2 bulan. Setelah lahir Nabi Muhammad saw dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian diasuh serta disusui oleh Halimah Sa'diyah, seorang wanita yang dengan keikhlasannya, Allah karuniakan kelimpahan air susu saat menyusui Nabi kecil. Semasa kecil, Nabi Muhammad saw tumbuh sebagai anak yatim. Meskipun kehilangan ayah dan di usia 6 tahun ibunya meninggal, beliau tetap berada dalam asuhan kakeknya. Saat kakeknya wafat saat itu nabi berusia 8 tahun,lalu dibesarkan oleh pamannya yang bernama Abu Thalib, Pamannya mengambil alih tanggung jawab untuk merawatnya. Meskipun tumbuh dalam keterbatasan, Nabi menunjukkan sikap yang mulia sejak kecil, dikenal dengan kecerdasannya serta kejujurannya. Pada saat Rasulullah saw, Abu Thalib mengajaknya berdagang ke negeri Syam. Sesampainya di perkampungan Bushra mereka disambut oleh pendeta bernama Buhaira. Semua rombongan turun memenuhi jamuan dari sang pendeta kecuali Rasulullah SAW. Sang paman menceritakan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW kepada Buhaira, saat itu Buhaira mengatakan bahwasannya anak ini akan menjadi pemimpin yang besar di suatu hari nanti karena sang pendeta mengetahui ciri-cirinya dari kitab-kitab yang dikaji oleh sang pendeta. Maka pada saat itu Buhaira meminta kepada Abu Thalib untuk tidak membawa nya pergi ke negeri Syam karena khawatir kaum Yahudi yang berada disana akan mencelakai Nabi Muhammad SAW. Akhirnya Abu Thalib memerintahkan anak buahnya untuk membawa kembali Nabi Muhammad SAW ke Mekkah. Pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Khadijah Pada usia 25 tahun, Nabi Muhammad saw mulai berdagang bersama seorang wanita kaya raya bernama Khadijah. Khadijah memberikan modal kepada Nabi Muhammad saw dengan sistem bagi hasil. Mendengar kejujuran dan budi pekerti yang luhur, akhirnya melamar beliau melalui sahabatnya, Nafisah binti Umayyah. Pernikahan mereka menjadi simbol kebahagiaan dan cinta yang tulus, dengan Khadijah mendukung perjuangan dakwah Nabi hingga akhir hayatnya. Ketika usia Rasulullah saw mendekati 40 tahun, beliau mulai suka menyendiri dan menghindar dari hingar bingar kehidupan kaumnya yang penuh kesyirikan dan perbuatan nista. Berbekal sekantong makanan dan air secukupnya, beliau sering pergi menuju gua hira yang berjarak sekitar 2 mil dari kota Mekkah. Dalam kesendiriannya tersebut, nabi menghabiskan waktunya untuk beribadah dan merenungi kebesaran alam di sekelilingnya serta menyadari akan adanya kekuasaan yang agung dibalik semua penciptaan ini. Pada usia 40 tahun, saat Nabi Muhammad saw sedang beribadah di Gua Hira, beliau menerima wahyu pertama dari Allah melalui Malaikat Jibril. Ayat pertama yang diturunkan adalah Surah Al-'Alaq ayat 1-5, yang memulai peran beliau sebagai Rasul terakhir. Peristiwa ini menjadi titik awal dakwah Islam, yang kemudian disebarluaskan secara perlahan di kalangan keluarga terdekatnya. Setelah menerima wahyu, Nabi Muhammad saw mulai berdakwah secara terang-terangan. Meskipun mendapat dukungan dari sebagian kecil keluarga dan sahabat, dakwah beliau mendapat tantangan besar dari kaum Quraisy. Mereka menentang ajaran Islam karena khawatir hal tersebut akan merusak agama nenek moyang yang menyembah berhala. Abu Jahal dan Abu Lahab, dua tokoh Quraisy, termasuk yang paling vokal menentang Nabi, bahkan mereka tidak segan-segan menyebar fitnah dan melakukan kekerasan terhadap Nabi dan para pengikutnya. Karena tekanan yang semakin besar di Mekkah, Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya akhirnya melakukan hijrah ke Madinah pada tahun 622 M. Di sana, Nabi diterima dengan baik dan mulai membangun masyarakat Islam yang kuat. Pada tahun kedua Hijriah, perintah zakat dan kurban mulai disampaikan kepada umat Islam sebagai bagian dari ajaran untuk berbagi dan membantu sesama. Wafatnya Nabi Muhammad SAW Ketika dakwah sudah semakin sempurna, dan islam sudah mengendalikan keadaan, mulailah tampak tanda-tanda perpisahan Rasulullah saw. Hal tersebut tampak dari perasaan, ucapan maupun perbuatan beliau. Pada hari senin ketika kaum muslimin akan melaksanakan shalat shubuh diimami Abu Bakar, Rasulullah saw membuka tirai rumahnya untuk melihat mereka, beliau tersenyum. Abu Bakar mundur kebarisan shaff shalat, karena dia mengira bahwa Rasul akan menjadi imam shalat. Namun Rasulullah saw melambaikan tangannya dan memberikan isyarat agar mereka meneruskan shalatnya, kemudian beliau masuk kembali ke kamarnya dan menutup tirai rumahnya. Setelah kejadian itu waktu dhuha, hari senin 12 Rabi’ul Awwal, tahun 11 H, tepatnya usia Nabi Muhammad SAW 63 tahun. Nabi Muhammad saw wafat meninggalkan umatnya pada masa itu. Kesedihan pun saat itu memuncak karena ditinggalkan oleh sang kekasih tercinta yaitu Nabi Muhammad SAW. Semoga kita salah satu hamba Allah swt yang mendapatkan syaafatul ujma nanti di yaumil akhir aamiin ya rabbal ‘alamin.
ARTIKEL22/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Sedekah Menghapus Dosa
Sedekah Menghapus Dosa
Sebagaimana manusia tentunya kita tidak luput dengan dosa, namun Allah Maha Pengampun memberikan kita kesempatan untuk bertaubat dan menghapus dosa-dosanya dengan cara yang yang diridhai oleh Nya. Jika noda pada pakaian dibersihkan dengan sabun cuci atau detergen, dosa pada hati dapat dibersihkan salah satunya dengan sedekah. Dalam bersedekah terdapat banyak keutamaan yang akan menjadikan seseorang mendapatkan berbagai manfaat dan keutamaan, salah satunya sedekah bisa menghapus dosa. Benarkah dengan bersedekah bisa menghapus dosa ? Nabi SAW bersabda “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api ” (HR. At- Tirmidzi) Dan Allah Berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 271 “Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan” Dosa ibarat api yang akan padam dari pahala sedekah. Akan tetapi, bukan berarti dosa-dosa akan terhapuskan begitu saja tanpa disertai dengan perbuatan baik lainya. Sedekah bisa diberikan baik non materi seperti senyum, memberikan ilmu yang kita miliki, mengeluarkan tenaga untuk membantu orang lain, dll. Sedekah juga bisa diberikan secara materi dalam bentuk uang, barang, ataupun makanan. Untuk bersedekah sahabat tidak perku khawatir besar kecilnya jumlah sedekah yang kita berikan, yang terpenting adalah niat kita dalam mencari ridho Allah swt dan semoga bisa menjadi jalan penebusan dosa-dosa yang tanpa kita sadar sudah menumpuk. Jadi, ayo jangan lupa bersedekah lewat https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL22/09/2025 | Khoirunisa
Silsilah Nabi Muhammad saw : Menelusuri Garis Keturunan Rasulullah saw
Silsilah Nabi Muhammad saw : Menelusuri Garis Keturunan Rasulullah saw
Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang dipilih oleh Allah swt untuk membawa risalah Islam kepada umat manusia. Silsilah Nabi Muhammad merupakan garis keturunan yang menunjukkan asal-usul beliau hingga Nabi Ibrahim AS. Nabi Muhammad saw berasal dari kabilah Quraisy, suku terhormat di Jazirah Arab. Silsilah ini menunjukkan bahwa nabi Muhammad saw memiliki garis keturunan yang sangat dihormati serta dimuliakan diwilayah jazirah Arab. Kedua orang tua Nabi Muhammad saw, yaitu Abdullah dan Aminah, berasal dari keluarga yang dihormati. Abdullah, ayah beliau, adalah putra Abdul Muththalib, seorang pemimpin terkemuka suku Quraisy yang dikenal karena kebijaksanaannya. Sedangkan Aminah binti Wahab, ibunda Nabi, juga berasal dari keluarga yang mulia dan terpandang di kalangan Quraisy. Beliau adalah Abu al-Qasim Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdimanaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaima bin Mudrikah bin Ilyas bin bin Mudhar bin Nizar bin Maad bin Adnan bin Udad bin al-Muqawwam bin Nahur bin Tayrah bin Ya'rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismail bin Ibrahim "Kekasih Allah" (alaihima as-salam) bin Tarih atau Azar bin Nahur bin Saru’ bin Ra’u bin Falikh bin Aybir bin Syalikh bin bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh (alaihis salam) bin Lamk bin Mutusyalkh bin Akhnukh - yaitu Nabi Idris keturunan Nabi Adam yang pertama menjadi nabi dan yang menulis dengan pena – bin Yarda bin Mahlil bin Qinan bin Yanish bin Syits bin Adam alaihissalam. Nasab ini disebutkan oleh Muhammad bin Ishak bin Yasar al-Madani di salah satu riwayatnya. Nasab Rasulullah sampai Adnan disepakati oleh para ulama, sedangkan setelah Adnan terjadi perbedaan pendapat. Yang dimaksud Quraisy adalah putra Fihr bin Malik atau an-Nadhr bin Kinanah. Nasab Nabi Muhammad saw tidak hanya menjadi bukti kemuliaan silsilah beliau, tetapi juga menunjukkan bahwa Allah swt telah memilih seorang utusan dari garis keturunan yang terjaga kehormatannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw adalah teladan terbaik bagi umat manusia: “Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. Dengan nasab yang mulia ini, Nabi Muhammad saw tumbuh sebagai seorang pribadi yang dihormati bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul. Kejujuran, kebaikan, dan amanah yang melekat pada dirinya telah menjadikannya panutan sejak usia muda, hingga beliau diutus oleh Allah swt untuk menyampaikan ajaran Islam.
ARTIKEL22/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Cara Kreatif untuk Mengajarkan Anak Tentang Sedekah
Cara Kreatif untuk Mengajarkan Anak Tentang Sedekah
Mengajarkan anak tentang sedekah sejak dini adalah investasi kebaikan yang akan terus mengalir. Anak-anak yang terbiasa berbagi akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli dan empati terhadap sesama. Namun, bagaimana cara membuat mereka memahami pentingnya sedekah dengan cara yang menyenangkan? Berikut beberapa cara kreatif yang bisa diterapkan oleh orang tua dan guru dalam mendidik anak tentang sedekah : 1. Beri Contoh Langsung dalam Kehidupan Sehari-hari Anak-anak adalah peniru ulung. Jika mereka melihat orang tuanya bersedekah dengan tulus, mereka akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Ajak anak untuk ikut serta ketika Anda memberikan sedekah, baik itu dalam bentuk uang, makanan, atau barang. Misalnya, saat ke masjid, biarkan mereka memasukkan uang ke kotak amal atau membagikan makanan kepada yang membutuhkan. 2. Gunakan Celengan Sedekah Sediakan celengan khusus untuk sedekah dan ajak anak untuk mengisinya sedikit demi sedikit dari uang saku mereka. Beri pemahaman bahwa celengan ini akan digunakan untuk membantu teman-teman yang kurang mampu. Ketika sudah penuh, ajak anak untuk menyerahkan sedekahnya ke lembaga amil zakat terpercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi. 3. Cerita Inspiratif tentang Sedekah Gunakan cerita atau dongeng Islami yang mengisahkan tentang keutamaan sedekah. Banyak kisah dalam Al-Qur’an dan hadis yang bisa diceritakan kepada anak-anak, seperti kisah Rasulullah ? yang sangat dermawan atau kisah sahabat yang rela berbagi meskipun dalam keadaan sulit. Dengan cerita yang menarik, anak akan lebih mudah memahami nilai-nilai kebaikan dalam berbagi. 4. Ajak Anak untuk Berbagi di Momen Spesial Gunakan momen seperti bulan Ramadhan, hari ulang tahun, atau perayaan lainnya untuk mengajak anak berbagi. Misalnya, alih-alih hanya menerima hadiah, ajak mereka untuk memberikan hadiah kepada anak yatim atau berbagi makanan kepada tetangga yang membutuhkan. Ini akan mengajarkan mereka bahwa kebahagiaan sejati datang dari berbagi dengan orang lain. 5. Libatkan Anak dalam Kegiatan Sosial Mengajak anak untuk terjun langsung dalam kegiatan sosial akan memberikan pengalaman yang lebih berkesan. Dengan melihat langsung kondisi orang-orang yang membutuhkan, anak-anak akan lebih memahami pentingnya berbagi dan menumbuhkan rasa syukur dalam diri mereka. 6. Gunakan Permainan atau Aktivitas Menyenangkan Belajar sedekah bisa dibuat lebih menyenangkan dengan permainan edukatif. Misalnya, buat tantangan harian di rumah, seperti "Hari Ini Aku Berbagi" di mana anak harus menemukan satu hal yang bisa mereka berikan kepada orang lain, baik itu makanan, mainan, atau bahkan bantuan kecil seperti membantu teman atau saudara. 7. Tunjukkan Manfaat dan Keutamaan Sedekah Jelaskan kepada anak bahwa sedekah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membawa keberkahan bagi diri sendiri. Gunakan analogi sederhana seperti, “Jika kita menanam satu biji benih kebaikan, Allah akan membalasnya dengan pohon yang besar dan buah yang banyak.” Dengan cara ini, anak akan lebih termotivasi untuk bersedekah dengan hati yang tulus. Mulai Ajarkan Sedekah dari Sekarang! Mengajarkan anak tentang sedekah tidak harus dengan cara yang kaku atau membebani mereka. Dengan pendekatan yang kreatif dan menyenangkan, mereka akan tumbuh dengan kesadaran untuk selalu berbagi kepada sesama. Mari bersama membangun generasi dermawan sejak dini! Jika Anda ingin mendukung lebih banyak anak dalam belajar sedekah, yuk ikut serta dalam program kebaikan BAZNAS Kota Sukabumi. Tunaikan Sedekah Sekarang: https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah Semoga setiap sedekah yang kita ajarkan kepada anak-anak menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL19/09/2025 | Khoirunisa
Syarat, Ketentuan, dan Niat Mengganti Puasa Ramadhan dengan Tepat dan Benar
Syarat, Ketentuan, dan Niat Mengganti Puasa Ramadhan dengan Tepat dan Benar
Melakukan qodho adalah adalah kewajiban setiap muslim yang memiliki hutang puasa. Dalam perspektif puasa Ramadhan, pengertian qadha ini merujuk pada perbuatan mengganti hari ibadah puasa di waktu yang lain. Secara bahasa, qadha' artinya menyelesaikan, menunaikan, dan memutuskan hukum atau membuat suatu ketetapan. Seperti yang kita ketahui, bahwasannya saat tidak mampu menjalani ibadah puasa Ramadhan karena alasan tertentu, kita diwajibkan menggantinya dengan cara mengqadha dan atau membayar fidyah. Waktu mengqadha puasa Ramadhan boleh dilakukan dari Syawal hingga Syaban kecuali pada hari tasyrik dan hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, yakni pada Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal, dan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah. Syarat yang diwajibkannya mengqadha puasa Ramadhan adalah orang yang mampu berpuasa namun terhalang karena aktivitas tertentu sesuai ketentuan Allah swt. Misalnya, orang yang sedang sakit, orang yang sedang dalam perjalanan, atau wanita yang sedang haid. Dalil mengenai qadha ini tercantum dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 184 : “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. Syarat dan ketentuan mengganti puasa ramadhan dengan tepat dan benar adalah sebagai berikut : 1. Sahabat wajib mengganti puasa Ramadhan sesuai dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan 2. Niat qadha puasa ramadan “Nawaitu shauma ghadin ‘an qadaa’i fardhi syahri Ramadhaana lillaahi ta’aalaa.” Artinya: “Saya berniat mengganti (mengqadha) puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.” Efektifnya niat qadha puasa Ramadhan ini dibaca setelah selesai menunaikan shalat isya. Jika seseorang menunda niat hingga mendekati waktu subuh, ada kemungkinan lupa melakukannya karena terburu-buru atau terlelap tidur. Dengan membaca niat setelah salat isya, seseorang memastikan bahwa syarat sah puasa, yaitu niat, telah terpenuhi dengan baik. 3. Waktu mengqadha puasa Ramadhan boleh dilakukan dari Syawal hingga Syaban kecuali pada hari tasyrik dan hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa, yakni pada Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal, dan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah. 4. Puasa qadha ramadhan dapat dilakukan secara beruntun ataupun terpisah 5. Puasa qadha tidak boleh dibatalkan kecuali terdapat udzur yanqg dibenarkan secara syariah 6. Jika tidak membayar hutang puasa hingga tiba Ramadan berikutnya, menurut sebagian besar ulama, Sahabat tetap wajib menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tetapi, harus segera membayar hutang puasa tersebut setelah bulan Ramadan berikutnya selesai. Selain melaksanakan qadha puasa ada beberapa kriteria hutang puasa yang wajib dibayar dengan fidyah. Fidyah secara bahasa adalah tebusan, Menurut istilah syariat, fidyah adalah denda yang wajib ditunaikan karena meninggalkan kewajiban atau melakukan larangan. Fidyah merupakan keringanan bagi mereka yang benar-benar sudah tak mampu lagi melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dan tidak bisa mengqadha-nya di hari lain. Cara menunaikan fidyah adalah dengan memberi makan fakir miskin. ukuran fidyah adalah satu mud (makanan pokok) untuk satu hari dikali dengan jumlah hari puasa ramadhan yang ditinggalkan Berikut Kriteria orang yang wajib membayar fidyah: Wanita hamil yang takut membahayakan bayinya jika puasa Wanita menyusui yang takut membahayakan bayinya jika puasa Orang yang sudah tua dan tidak mampu untuk berpuasa Orang yang memiliki penyakit akut dan sulit untuk disembuhkan
ARTIKEL19/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Langkah Mudah Memulai Infak dan Sedekah Rutin Meski dengan Gaji Pas-Pasan
Langkah Mudah Memulai Infak dan Sedekah Rutin Meski dengan Gaji Pas-Pasan
Banyak orang merasa kesulitan memulai kebiasaan untuk berinfak dan bersedekah secara rutin, terutama jika penghasilan mereka pas-pasan. Padahal, infak dan sedekah bukan hanya sekadar memberi, tetapi juga salah satu cara untuk membersihkan harta, mendekatkan diri kepada Allah swt, dan membantu sesama. Infak dalam Islam diartikan sebagai tindakan memberikan harta atau benda yang dimiliki sebagai bagian dari kegiatan beribadah kepada Allah swt. Sedangkan sedekah dalam Islam merupakan bentuk amal yang ditujukan untuk memberikan manfaat atau bantuan kepada orang yang membutuhkan, baik dalam bentuk harta, tenaga, atau ilmu. Firman Allah swt dalam qur’an surat Al Baqarah ayat 267-268 menyuruh kita untuk berinfaq. “Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan, padahal kamu tidak mau mengambilnya, kecuali dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dan karunia-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. Berikut adalah langkah mudah yang dapat sahabat coba untuk memulai berinfak dan bersedekah secara rutin meski dengan kondisi finansial yang terbatas : 1. Pahami Pentingnya Infak dan Sedekah Langkah pertama adalah menyadari bahwa infak dan sedekah merupakan bentuk kebaikan yang membawa keberkahan dan amalan yang dianjurkan. Allah swt menjanjikan bahwa harta yang diinfakkan dan disedekahkan dengan ikhlas tidak akan berkurang, bahkan Allah swt menjanjikan akan dilipatgandakan. Keyakinan ini dapat memotivasi Sahabat untuk mulai berbagi, meski dalam jumlah yang kecil. 2. Menyisihkan uang gajian diawal Begitu menerima gaji, langsung sisihkan sejumlah kecil untuk infak dan sedekah sebelum mengalokasikan dana untuk kebutuhan lainnya. Sebagai contoh, Sahabat bisa memulai dengan menyisihkan 1-5% dari gaji Sahabat. Jika gaji Sahabat Rp3.000.000, mulailah dengan menyisihkan Rp30.000 hingga Rp50.000. 3. Tentukan Jumlah yang Konsisten Tidak perlu dengan nominal besar, yang penting adalah konsistensi. Sahabat bisa mulai dengan jumlah yang sesuai kemampuan. Misalnya, jika Rp10.000 per minggu terasa ringan, tetapkan itu sebagai jumlah infak dan sedekah rutin Sahabat. Seiring waktu, Sahabat bisa meningkatkannya sesuai rezeki yang diterima. 4. Manfaatkan Teknologi Diera digitalisasi saat ini, banyak aplikasi yang memudahkan Sahabat untuk berinfak atau bersedekah secara online. Sahabat bisa menjadwalkan transfer setiap bulan ke lembaga amal atau masjid terdekat. 5. Mulai dari Hal Kecil Infak dan sedekah tidak harus selalu berupa uang. Sahabat bisa menyumbangkan pakaian layak pakai, makanan, atau tenaga untuk berinfaq dan bersedekah. Dengan memulai dari hal kecil, Sahabat tetap bisa berbagi tanpa merasa terbebani secara finansial. Memulai infak rutin tidak memerlukan harta melimpah. Yang penting adalah niat yang ikhlas, konsistensi, dan usaha untuk berbagi sesuai kemampuan. Dengan langkah kecil ini, Sahabat tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membuka pintu rezeki dan keberkahan untuk diri sendiri. Ingat, dalam Islam, “Sebaik-baik sedekah adalah yang dilakukan secara rutin, meskipun kecil.” sahabat juga bisa rutinkan sedekah dengan lebih mudah disini https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah
ARTIKEL19/09/2025 | Khoirunisa
Emang Boleh Bersedekah Untuk Mengabulkan Hajat?
Emang Boleh Bersedekah Untuk Mengabulkan Hajat?
Sedekah adalah salah satu amalan mulia dalam agama islam yang tak jarang disebutkan dalam Al-Quran. Sedekah tidak hanya memberikan manfaat kepada yang menerima sedekah, tetapi juga memberikan kebahagiaan dan kedamaiam bagi yang memberi sedekah. Pertanyaan yang sering mucul adalah apakah kita boleh menggunakan sedekah untuk mengabulkan hajat atau keinginan? Para ulama sepakat bahwa melakukan amal soleh agar tujuan tercapai diperbolehkan. Hal ini disebut dengan dengan Tawasul yaitu mendekatkan diri dengan amal soleh, seperti sengaja melakukan sedekah dengan niat agar dikabulkan hajat atau keinginannya Agar hajat atau keinginan kita terkabul tentunya perlu diiringi dengan ikhtiar dan sabar memanjatkan doa, tapi tidak salah jika kita menempuh cara agar doa yang kita panjatkan cepat terkabul. Salah satu caranya adalah dengan sedekah Rasulullah memberitahukan cara agar doa lebih cepat terkabul dengan membantu orang lain Beliau bersabda, "Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain,” (HR. Ahmad) Jadi, ketika kita menginginkan sesuatu, ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitan maka caranya adalah dengan menyelesaikan kesulitan orang lain. Mengatasi kesulitan orang lain bisa dilakukan dengan bersedekah. Oleh karena itu, diperbolehkan bersedekah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt dan membantu mengatasi kesusahan orang lain lalu doa. Tata Cara Berdoa 1. Mengucapkan pujian kepada Allah Berikan sanjungan dan dan pengagungan kepada Allah swt. kita bisa juga sanjung Allah sesuai sifat Allah atau asmaul husna 2. Husnuzhon kepada Allah Merasa yakin dan percaya bahwa Allah dengan kemurahan-Nya dan karunia-Nya yang agung tidak akan mengecewakan seseorang yang berdo’a kepada-Nya apabila dipanjatkan dengan penuh pengharapan dan ikhlas yang sebenar-benarnya. 3. Bersungguh-sungguh dalam berdoa 4. Berdoa secara teratur Maksudnya adalah doa yang kita panjatkan jangan hanya sekali tapi kita harus meminta terus menerus kepada Allah 5. Bertaubat Saat berdoa juga sebaiknya diiringi dengan pengakuan dosa yang telah kita perbuat. Diriwayatkan oleh al-Hakim (II/98-99) dari Sahabat ‘Ali bin Rabi’ah. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1653), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah “Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata: ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah dosa-dosaku karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa itu kecuali Engkau.’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengetahui bahwa baginya ada Rabb yang mengampuni dosa dan menghukum” Waktu terbaik untuk berdoa Doa bisa kapan saja, namun ada beberapa waktu yang dianggap mustajab yaitu : Saat sepertiga malam Diantara adzan dan iqamah Saat sujud dalam shalat Saat berpuasa dan bebruka puasa Saat turun hujan Setelah shalat fardu Hari jumat Saat safar Waktu terbaik untuk bersedekah Saat hari jumat Saat subuh Saat gerhana matahari atau bulan, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Muslim, No. 901) Saat susah/sempit, Keadaan ini adalah ketika kita menghadapi kesulitan seperti dalam keadaan bencana, terlilit hutang, dan keadaan sulit lainnya. Saat lapang/sehat, Seseorang yang dalam kondisi sehat atau lapang, memiliki keluangan untuk melakukan banyak hal dan sedang sangat berambisi mengejar keuntungan duniawi, sangat dianjurkan untuk bersedekah. Jangan sampai nikmat sehat membuat kita lupa untuk senantiasa bersyukur.
ARTIKEL19/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Kapan Puasa Arafah Dilaksanakan? Ini Tata Cara dan Keutamaannya
Kapan Puasa Arafah Dilaksanakan? Ini Tata Cara dan Keutamaannya
Puasa menjadi salah satu ibadah utama dalam Islam. Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, ada pula berbagai puasa sunnah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, salah satunya adalah puasa Arafah. Puasa ini memiliki keutamaan luar biasa dan sayang untuk dilewatkan oleh umat muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Lalu, kapan puasa Arafah dilaksanakan? Bagaimana cara melakukannya? Dan apa saja keutamaannya? Kapan Puasa Arafah Dilaksanakan? Puasa Arafah dilakukan setiap tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan hari saat para jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Bagi umat muslim yang tidak berhaji, puasa ini sangat dianjurkan karena memiliki banyak keutamaan, salah satunya adalah pengampunan dosa. Tata Cara Puasa Arafah Pelaksanaan puasa Arafah secara umum tidak berbeda dengan puasa-puasa lainnya, yakni dimulai sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Berikut langkah-langkah pelaksanaannya: 1. Niat Puasa Arafah Niat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum fajar. Lafadz niatnya adalah: "Nawaitu shouma arofata sunnatan lillaahi ta’aalaa" Artinya: Saya niat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta’ala. 2. Makan Sahur Disunnahkan untuk sahur, meskipun hanya dengan air putih. Sahur menjadi energi dan pembeda antara puasa umat Islam dan puasa umat lain. 3. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa Seperti makan, minum, berhubungan suami istri, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa hingga waktu maghrib tiba. 4. Menyegerakan Berbuka Setelah matahari terbenam, disunnahkan untuk segera berbuka puasa. Ini termasuk sunnah Nabi yang mendatangkan pahala. Keutamaan Puasa Arafah Puasa Arafah dikenal sebagai salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa. Berdasarkan hadits-hadits sahih, berikut beberapa keutamaannya: 1. Menghapus Dosa Dua Tahun Rasulullah SAW bersabda, "Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim) 2. Membebaskan dari Api Neraka Nabi Muhammad SAW juga bersabda, "Tidak ada hari di mana Allah membebaskan lebih banyak hamba dari neraka selain Hari Arafah." (HR. Muslim) Sebagai umat Islam, momen puasa Arafah adalah kesempatan emas untuk memperbanyak amalan dan mendekatkan diri kepada Allah. Selain berpuasa, jangan lupakan pula Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) sebagai bentuk penyempurna ibadah. BAZNAS Kota Sukabumi hadir untuk memudahkan masyarakat dalam menunaikan kewajiban zakat dan menyebarkan manfaatnya kepada yang membutuhkan. Kami mengajak sahabat semua untuk berbagi kebaikan melalui zakat online yang bisa diakses kapan saja, di mana saja melalui https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Mari sempurnakan ibadah kita, raih pahala berlipat, dan wujudkan kesejahteraan bersama.
ARTIKEL18/09/2025 | Khoirunisa
Keutamaan Puasa Syawal
Keutamaan Puasa Syawal
Setelah 30 hari Ramadan dilalui, tibalah kita pada bulan syawal. Tapi apakah 30 hari yang sudah kita lalui berhasil membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik? Apakah amalan yang kita lakukan selama ramadan diterima oleh Allah swt ? Bulan syawal bisa menjadi tolak ukur apakah amalan puasa ramadan diterima oleh Allah swt. Jika Allah menerima amalan seorang hamba, Dia akan menunjuki pada amalan saleh selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Allah akan tunjuki untuk melakukan amalan saleh lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal Memang apa saja keutamaan Puasa Syawal ? 1. Puasa Syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh ?”Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim, no. 1164). 2. Puasa Syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa Syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. 3. Melakukan puasa Syawal merupakan tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan Ketika membicarakan faedah puasa Syawal, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan saleh setelah itu. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah diikutkan dengan kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.” 4. Melaksanakan puasa Syawal adalah sebagai bentuk syukur kepada Allah Nikmat apakah yang disyukuri? Yaitu nikmat ampunan dosa yang begitu banyak di bulan Ramadhan. Bukankah kita telah ketahui bahwa melalui amalan puasa dan shalat malam selama sebulan penuh adalah sebab datangnya ampunan Allah, begitu pula dengan amalan menghidupkan malam lailatul qadr di akhir-akhir bulan Ramadhan? Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Tidak ada nikmat yang lebih besar dari anugerah pengampunan dosa dari Allah.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 388).
ARTIKEL18/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Berhenti Berharap Pada Manusia
Berhenti Berharap Pada Manusia
Harapan memang hal yang tidak akan terpisahkan dari diri kita sebagai manusia. Kita tentu memiliki harapan ataupun keinginan yang ingin diwujudkan seperti sukses dalam pekerjaan, tambahan penghasilan, liburan sepuasnya, penerimaan rasa cinta, sampai support system yang kita rasa bisa terpenuhi dari manusia lain Namun ketika harapan tersebut kita gantungkan kepada manusia semata maka bersiaplah merasakan pahitnya rasa kecewa. Karena ketika berharap pada manusia secara berlebihan, kita akan menempatkan beban emosional dan ekspektasi kepada mereka. Sementara mereka entah itu kelaurga, kerabat, teman, maupun pasangan tidak bisa selalu meneuhi harapan kita. Mereka juga manusia yang tidak lepas dari kesalahan, dan bisa saja meninggalkan kita baik disebabkan oleh kematian atau hal lainnya. Padahal Allah sudah berfirman untuk hanya kepada-Nya lah kita berharap : “dan hanya kepada Rabb-mu hendaknya kamu berharap” (Q.S Al insyirah ayat 8) Apabila kita berharap pada Allah swt, sang pencipta yang tak mungkin menelantarkan ciptaanNya lagi Maha Mendengar insya Allah apapun hasilnya kita akan tenang. Terkadang kita lebih cenderung berfokus pada manusia daripada pada Allah. Kita mungkin berharap pada seseorang untuk kebahagiaan kita, mengandalkan seseorang untuk memenuhi semua kebutuhan kita, atau bahkan menilai nilai kita berdasarkan apa yang orang lain katakan atau pikirkan tentang kita. Ketika kita berbuat demikian, kita menempatkan manusia di atas Allah dalam hierarki harapan kita Kita harus ingat, jika manusia lain tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan atau kesuksesan kita. Kita harus mencari kebahagiaan dalam diri kita sendiri dengan cara mencari pertolongan serta mengikuti panduan dari Allah dalam menghadapi setiap aspek kehidupan kita. Semoga hati kita selalu penuh harap hanya kepada-Nya, semoga kita tidak pernah menyerah untuk selau berdoa dan berharap kepada Allah semata ya sahabat.
ARTIKEL18/09/2025 | Khoirunisa
Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur : Ini Jawaban Menurut Islam
Apakah Boleh Puasa Tanpa Sahur : Ini Jawaban Menurut Islam
Puasa adalah menahan nafsu dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, biasanya puasa diawali dengan makan sebelum terbit fajar yang dikenal dengan sahur. Namun, bagaiman jika berpuasa tanpa sahur ? Dalam Islam, sahur adalah sunnah yang sangat dianjurkan. tetapi apakah sahur menjadi syarat sahnya puasa? Artikel ini akan mengupas tuntas hukum, manfaat, dan dalil mengenai sahur dalam Islam. Hukum Sahur dalam Islam Banyak umat Muslim bertanya, apakah boleh puasa tanpa sahur? Dalam Islam, sahur bukanlah syarat sahnya puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: "Makan sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air." (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) Dari hadits tersebut, dapat disimpulkan bahwa apakah boleh puasa tanpa sahur? Jawabannya adalah boleh, tetapi sangat disayangkan jika melewatkan sahur karena banyaknya keberkahan yang terdapat di dalamnya. Allah SWT juga berfirman dalam potongan ayat Al-Qur'an yang berbunyi : "wa kuloo washraboo hattaa yatabaiyana lakumul khaitul abyadu minal khaitil aswadi minal fajri summa atimmus Siyaama ilal layl" Artinya : “ Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam..." ( Al - Baqarah : 187 ) Ayat ini menunjukkan bahwa sahur adalah waktu terakhir sebelum memulai puasa, tetapi tidak disebutkan sebagai syarat wajib dalam menjalankan puasa. Hukum dan Pendapat Ulama Sebagian ulama sepakat bahwa apakah boleh puasa tanpa sahur, jawabannya adalah boleh. Namun, mereka tetap menganjurkan sahur karena memiliki banyak manfaat. Berikut beberapa pendapat ulama: Mazhab Syafi'i dan Hambali Dalam pandangan Mazhab Syafi'i dan Hambali, sahur adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jika seseorang melewatkan sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keberkahan yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Mazhab Hanafi Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa apakah boleh puasa tanpa sahur, jawabannya tetap boleh. Namun, beliau menekankan bahwa sahur memiliki dampak besar dalam membantu seseorang menjalankan puasa dengan lebih baik. Mazhab Maliki Dalam Mazhab Maliki, sahur juga bukan syarat sah puasa, tetapi dianjurkan. Mereka menegaskan bahwa sunnah ini memiliki hikmah besar dalam menjaga ketahanan tubuh selama berpuasa. Pendapat Ulama Kontemporer Ulama modern seperti Syaikh Ibn Utsaimin juga menegaskan bahwa apakah boleh puasa tanpa sahur, jawabannya boleh, tetapi sangat dianjurkan untuk dilakukan. Manfaat Sahur dalam Puasa Meskipun apakah boleh puasa tanpa sahur diperbolehkan, sahur memiliki banyak manfaat, baik dari segi spiritual maupun kesehatan: Mendapat Keberkahan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa sahur adalah waktu penuh berkah. Dengan makan sahur, seseorang akan mendapatkan keberkahan dalam ibadah puasanya. Menjaga Stamina Selama Berpuasa Sahur membantu tubuh tetap memiliki energi sepanjang hari. Jika seseorang bertanya apakah boleh puasa tanpa sahur, mungkin bisa, tetapi tubuh bisa menjadi lebih lemah karena tidak ada asupan gizi sebelum puasa dimulai. Mengurangi Rasa Lapar dan Haus Dengan sahur, seseorang dapat mengurangi rasa lapar yang ekstrim selama puasa. Ini membantu menjaga fokus dalam beribadah dan aktivitas sehari-hari. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW Sahur adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Meskipun apakah boleh puasa tanpa sahur diperbolehkan, mengikuti sunnah Rasulullah SAW selalu membawa manfaat. Membantu Bangun Lebih Awal untuk Ibadah Sahur membuat seseorang terbiasa bangun lebih awal, sehingga bisa menunaikan shalat tahajud dan memperbanyak dzikir sebelum waktu subuh tiba. Setelah membahas berbagai aspek mengenai apakah boleh puasa tanpa sahur, dapat disimpulkan bahwa sahur bukanlah syarat sahnya puasa, tetapi merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Dalil dari hadits dan Al-Qur'an menunjukkan bahwa meskipun seseorang boleh berpuasa tanpa sahur, namun ia akan kehilangan keberkahan yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW. Bagi yang ingin menjalankan ibadah puasa dengan lebih baik, sebaiknya tetap melaksanakan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Dengan begitu, ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih maksimal dan penuh keberkahan.
ARTIKEL18/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Arti Alhamdulillah, keutamaannya, dan kapan saja penggunannya
Arti Alhamdulillah, keutamaannya, dan kapan saja penggunannya
Kita sering mengucapkan “Alhamdulillah" yang merupakan ungkapan syukur serta memiliki makna mendalam. Namun tidak hanya sekedar ungkapan untuk menyatakan rasa terima kasih dan pujian kepada Allah SWT. Arti Alhamdulillah Alahmdulillah memiliki arti “segala puji bagi Allah”. Dalam banyak ayat Al-Qur'an, kata syukur sering disandingkan dengan kata dzikir. Alhamdulillah juga memiliki beberapa keutamaan dalam kehidupan seorang Muslim diantaranya : Keutamaan Membaca Alhamdulillah 1. Diampuni Dosa Mengucap Alhamdulillah menjadi salah satu amalan yang dapat menggugurkan dosa walaupun banyaknya seperti buih di lautan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Umar RA, "Di antara amalan yang baik dan berharga kekal adalah ucapan Lâ ilâha illallah, Subhanallah, Allahu Akbar, Alhamdulillah, dan là haula wa la quwwata illâ billâhil 'aliyyil 'azhim (Tidak ada Tuhan selain Allah, Maha Suci Allah, Allah Maha Besar, Segala puji bagi Allah, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahaagung)." Kemudian Rasulullah SAW bersabda, Artinya: "Setiap orang yang mengucapkan kalimat dzikir sebagaimana tersebut di atas, niscaya akan diampuni dosa-dosanya, walaupun banyaknya seperti buih di lautan." 2. Mendapat Pahala Mengucapkan Alhamdulillah merupakan salah satu dzikir yang dapat memberikan balasan pahala. Allah swt dan Rasul-Nya memerintahkan untuk senantiasa berdzikir, mengingat Allah swt 3. Ditambah Rezeki Allah swt memberikan janji menambah rezeki untuk orang yang selalu bersyukur. Mengucapkan Alhamdulillah adalah kalimat yang bisa digunakan sebagai bentuk syukur kita atas nikmat yang telah Allah berikan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras." (Q.S Ibrahmi : 7) 4. Mendapatkan Ketenangan Saat mengucapkan Alhamdulillah, hati akan lebih qana’ah atau menerima semua hal dengan lapang dada. perasaan cukup ini membuat hati lebih tenang. “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28). Lalu kapan saja saat yang tepat kita mengucapkan Alhamdulillah? sebenarnya mengucapkan Alhamdulillah bisa kapan saja karena bacaan tersebut merupakan kalimat dzikir yang dianjurkan. Namun ada beberapa keadaan yang sebaiknya kita tidak luput untuk menngucapkan “Alhamdulillah” yaitu saat : Kapan Saat yang Tepat Menggunakan Alhamdulillah 1. Mengungkapkan Syukur Ketika merasa bersyukur atas nikmat atau kebaikan yang diterima, baik dalam hal kesehatan, rezeki, kesuksesan, atau keselamatan, kita dapat mengucapkan Alhamdulillah sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Ini adalah cara untuk mengingatkan diri sendiri bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu dan bahwa kita berhutang rasa syukur kepada-Nya atas semua nikmat dan kebaikan yang kita terima. 2. Memulai dan Mengakhiri Doa Ketika memulai doa, kita dapat memulainya dengan membaca Alhamdulillah sebagai kata pembuka sebelum kita mengucapkan pujian kepada Allah SWT. Begitupun setelah selesai mengucapkan permohonan atau pujian dalam doa, kita juga bisa menggunakan Ahamdulillah sebagai ungkapan penutup. 3. Mendengar Kabar Baik Ketika kita mendengar kabar baik, kita bisa mengucapkan Alhamdulillah sebagai bentuk syukur kita dan mengakui bahwa semua kebaikan berasal dari Allah SWT. 4. Menerima Kehendak Allah SWT Ketika seseorang menghadapi masalah atau kesulitan, mengucapkan Alhamdulillah dapat menjadi cara untuk mengubah pandangan kita tentang situasi tersebut. Ini sebagai bentuk kesabaran, penerimaan, dan rasa syukur dalam menerima takdir yang Allah tetapkan. 5. Setelah Bersin Alhamdulillah menjadi salah satu ucapan dalam etika atau adab ketika umat muslim bersin. Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, Alhamdulillah. Sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’, maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu)” (HR. Bukhari Muslim). Yang terpenting Alhamdulillah harus diucapkan dengan penuh ketulusan hati, mengingat bahwa segala kebaikan dan nikmat berasal dari Allah swt. Agar ucapan yang ringan diucapkan ini dapat mendatangkan pahala dan mengahpuskan dosa. Ungkapan ini juga membantu kita mengatasi cobaan dan kesulitan, mengingatkan kita tentang kemurahan Allah, dan menjaga hati yang bersyukur. Dengan mengucapkan Alhamdulillah, seorang Muslim dapat memperkuat iman dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna dalam kerelaan diri kepada Allah SWT.
ARTIKEL17/09/2025 | Khoirunisa
12 Keutamaan Ayat Kursi yang Luar Biasa dalam Kehidupan
12 Keutamaan Ayat Kursi yang Luar Biasa dalam Kehidupan
Keutamaan Membaca Ayat Kursi Sudah sepatutnya sebagai seorang muslim kita berzikir dan berdoa hanya kepada Allah SWT. Keutamaan membaca dan mengamalkan ayat kursi sungguh luar biasa, mulai dari kedudukan ayat ini sebagai pemimpin ayat Alquran, sebagai ayat paling agung, untuk mendapatkan balasan surga, pahala mati syahid, memohon perlindungan, hingga rezeki. Berikut keutamaan membaca ayat kursi dalam kehidupan. 1. Ayat Paling Agung dalam Alquran Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dari HR. Muslim yang berbunyi: “Dari Ubay bin Ka’ab, sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bertanya kepadanya tentang ayat apakah yang paling agung dalam Kitabullah, beliau menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau ulang pertanyaannya beberapa kali. Kemudian dia menjawab, “Ayat kursi.” Maka beliau mengatakan, “Selamat bagi anda wahai Abu Mundzir dengan ilmu anda. Demi yang jiwaku yang ada di tangan-Nya. Sesungguhnya (ayat Kursi) mempunyai mulut dan dua bibir yang disucikan para Malaikat di kaki Arsy.” (HR. Muslim). Umat muslim akan mendapatkan manfaat yang luar biasa dengan membaca dan mengamalkan ayat kursi. Karena di dalamnya terdapat nama Allah yang paling agung, yakni pada bait Alhayyu dan Alqayyum, ayat kursi disebut sebagai ayat yang paling agung dan menjadi raja dari sebagian ayat di dalam Alquran. 2. Membuka Pintu Hikmah dan Rezeki Umat muslim yang membaca Alquran akan dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Kemudian Allah akan membukakan pintu hikmah bagi siapapun yang membaca ayat kursi sebanyak 18 kali setiap harinya. Selain itu, barang siapa yang membacanya akan dinaikkan derajatnya dan dimudahkan rezekinya oleh Allah di dunia dan akhirat. Dengan membaca ayat kursi sebanyak 18 kali sehari, Allah akan memberikan pengaruh besar sehingga orang akan senantiasa menghormatimu. Allah juga akan menjaga orang tersebut dari segala bencana yang akan menimpanya pada hari itu. 3. Ayat Paling Diberkahi Dengan membaca dan mengamalkan ayat kursi, umat muslim akan diberkahi, dijauhkan dari kesulitan, disingkirkan dari bencana, dan kesedihan dengan cepat. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dari HR. Imam Abu Hamid bin Muhammad Al-Ghozali yang memiliki arti: “Ayat kursi merupakan ayat yang diberkahi, tidak ada yang membukakan kesulitan, menyingkirkan bencana dan menghilangkan kesedihan lebih cepat daripada ayat kursi.” (HR. Imam Abu Hamid Bin Muhammad Al-Gozhali). 4. Ayat Kursi sebagai Penghulu Alquran Keutamaan ayat kursi ialah sebagai surat yang paling unggul, paling, tinggi, dan penghulu ayat-ayat Alquran. Dengan membaca serta mengamalkan ayat kursi, Allah SWT akan menjaga umat muslim dari gangguan setan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Segala sesuatu pasti ada yang lebih unggul dan lebih tinggi. Sesungguhnya yang lebih unggul dan lebih tinggi dari Al-Quran adalah Surat Al-Baqarah. Dan di dalam Surat Al-Baqarah ada ayat yaitu Penghulu Ayat-Ayat Al-Quran, dialah Ayat Kursi.” 5. Ayat Pembuka bagi Segala Kesusahan Bagi umat muslim yang tidak pernah berhenti berzikir dengan ayat kursi akan memperoleh banyak kemenangan dan dibukakan pintu-pintu kemudahan. Allah akan mempermudah segala hajat yang dimilikinya agar dipermudah segala urusannya. Sesuai sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang belajar Ayat Kursi dan tahu hak-haknya Allah akan membuka 8 pintu syurga untuknya, masuk pintu yang mana saja dipersilahkan.” 6. Sebagai Pertolongan bagi Umat Muslim Keutamaan ayat kursi ialah sebagai pertolongan bagi umat muslim. Allah SWT akan mendatangkan pertolongan bagi seseorang yang sedang dalam kesulitan. Dengan mengamalkan atau membaca ayat kursi sesudah salat wajib atau salat sunah, segala kesulitan akan hilang. Allah juga akan melindungi dan membebaskan mereka dari segala hal yang tidak diinginkan dengan membaca ayat kursi. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau mendatangi tempat tidur (pada malam hari) maka bacalah ayat kursi, niscaya Allah SWT akan senantiasa menjagamu, dan setan t?dak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” (HR. Bukhari). 7. Memudahkan Sakaratul Maut Allah SWT akan mendatangkan sesuatu yang diinginkan dan yang sebelumnya tidak ada menjadi ada dengan mengamalkan ayat kursi. Bagi umat muslim yang membaca ayat kursi, akan Allah mudahkan sakaratul mautnya. 8. Terdapat Izmul Azham Ayat kursi sebagai ayat yang paling agung dalam Alquran mengandung izmul azham. Apabila kamu mengamalkannya, Allah akan mengabulkan segala doa yang diminta. Dalam memenuhi kebutuhan maupun hajat lainnya, ayat kursi menjadi senjata yang paling ampuh tiada tara. 9. Menghapus Keburukan Keutamaan lainnya dari ayat kursi ialah menghapus segala keburukan. Allah akan mengutus para malaikat untuk mencatat segala bentuk kebaikan dan menghapus semua keburukan umat muslim yang mengamalkan ayat kursi. 10. Pahala Mati Syahid Sesuai sabda Rasulullah SAW dari HR. Hakim yang berbunyi: “Barangsiapa membaca Ayat Kursi setiap selesai sholat, maka yang akan mencabut nyawanya adalah Allah sendiri dan ia bagaikan orang yang berperang bersama para nabi hingga mendapatkan mati syahid.” (HR. Hakim). Umat muslim yang rutin membaca dan mengamalkan ayat kursi setelah salat fardu akan mendapatkan pahala mati syahid. 11. Dilancarkan Perkara Jodohnya Memperoleh kelancaran dalam perkara mendapatkan jodoh bagi mereka yang belum menikan menjadi salah satu keutamaan dari ayat kursi. Allah akan mudahkan mereka mendapat jodoh yang baik dan saleh karena membaca dan mengamalkan ayat kursi. 12. Dihilangkan Kekafiran Bagi orang yang rutin membaca ayat kursi secara rutin, Allah akan mendatangkan keistimewaan atau keutamaan ayat kursi sebagai penghilang kekafiran. Dengan membaca ayat kursi, Allah akan senantiasa menghilangkan segala kekafiran yang di depan mata.
ARTIKEL17/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Manfaat Buah-Buahan yang Disebutkan dalam Al-Qur’an
Manfaat Buah-Buahan yang Disebutkan dalam Al-Qur’an
Di antara hamparan ayat-ayat suci Al-Quran, terselip mutiara hikmah yang tak hanya menuntun jiwa, tetapi juga mengantarkan pada gerbang kesehatan. Ya, Al-Quran, kitab suci umat Islam, bukan hanya berisi panduan hidup dan nilai-nilai spiritual, tetapi juga menyimpan khazanah ilmu pengetahuan, termasuk tentang kesehatan. Salah satu contohnya adalah uraian tentang berbagai buah-buahan yang memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan manusia. Berikut beberapa buah yang disebutkan dalam Al-Quran beserta manfaatnya: 1. Kurma (QS. Al-Baqarah: 266, An-Nahl: 69, Maryam: 25) • Kaya serat, membantu pencernaan dan mencegah sembelit. • Mengandung gula alami, sumber energi yang baik. • Tinggi zat besi, membantu mencegah anemia. • Mengandung kalium, baik untuk kesehatan jantung. • Kaya antioksidan, membantu melawan radikal bebas dan mencegah penyakit kronis. 2. Anggur (QS. An-Nahl: 11, Al-Isra': 26, Yasin: 34) • Kaya vitamin C, meningkatkan daya tahan tubuh. • Mengandung antioksidan, membantu melawan radikal bebas dan mencegah penyakit kronis. • Baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. • Membantu melancarkan pencernaan. • Meningkatkan fungsi otak dan memori. 3. Tin (QS. At-Tin: 1-3, Al-Anfal: 8) • Kaya serat, membantu pencernaan dan mencegah sembelit. • Mengandung kalium, baik untuk kesehatan jantung. • Sumber kalsium yang baik untuk kesehatan tulang dan gigi. • Mengandung zat besi, membantu mencegah anemia. • Kaya antioksidan, membantu melawan radikal bebas dan mencegah penyakit kronis. 4. Zaitun (QS. An-Nahl: 6, Al-Mu'minun: 20) • Kaya lemak tak jenuh tunggal, baik untuk kesehatan jantung dan kolesterol. • Mengandung vitamin E, antioksidan yang membantu melawan radikal bebas dan mencegah penyakit kronis. • Membantu menurunkan tekanan darah. • Meningkatkan fungsi otak dan memori. • Memiliki sifat anti-inflamasi yang membantu meredakan peradangan. 5. Pisang (QS. Al-Waqi'ah: 29) • Kaya kalium, baik untuk kesehatan jantung dan tekanan darah. • Sumber vitamin B6 yang baik untuk kesehatan saraf dan otak. • Mengandung serat, membantu pencernaan dan mencegah sembelit. • Kaya vitamin C, meningkatkan daya tahan tubuh. • Sumber energi yang baik karena mengandung gula alami. 6. Delima (QS. Ar-Rahman: 68, Al-An'am: 99) • Kaya antioksidan, membantu melawan radikal bebas dan mencegah penyakit kronis. • Membantu meningkatkan kesuburan dan kesehatan reproduksi. • Baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. • Membantu menurunkan kolesterol jahat (LDL). • Memiliki sifat anti-inflamasi yang membantu meredakan peradangan. Perlu diingat bahwa ayat-ayat Al-Quran tentang buah-buahan ini tidak hanya menjelaskan manfaatnya bagi kesehatan fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual yang mendalam. Buah-buahan tersebut merupakan nikmat Allah SWT yang patut disyukuri dan dikonsumsi dengan penuh kesadaran.
ARTIKEL17/09/2025 | Khoirunisa
Manfaat Gaya Hidup Sehat Menurut Islam
Manfaat Gaya Hidup Sehat Menurut Islam
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kesehatan sebagai bagian dari ibadah. Gaya hidup sehat tidak hanya mendatangkan manfaat fisik, tetapi juga membantu umat Muslim dalam menjalankan ibadah dengan baik dan penuh konsentrasi. Rasulullah SAW mencontohkan berbagai cara untuk menjaga kesehatan, baik melalui pola makan, menjaga kebersihan, hingga menghindari hal-hal yang bisa merusak tubuh. Berikut ini adalah beberapa manfaat dari menjalani gaya hidup sehat dalam perspektif Islam: 1. Meningkatkan Kualitas Ibadah Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang untuk menjalankan ibadah dengan sempurna, seperti shalat, puasa, dan haji. Sebaliknya, kesehatan yang terganggu dapat menjadi penghalang dalam menjalankan kewajiban agama. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 195, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” Ayat ini mengajarkan bahwa kita perlu menjaga tubuh kita agar bisa terus beribadah.2. Menjaga Kebersihan Jiwa dan Raga Gaya hidup sehat, yang mencakup menjaga kebersihan dan memelihara kesehatan mental, akan membantu seseorang hidup dengan lebih tenang. Dalam Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman, seperti yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW, “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” Dengan menjaga kebersihan tubuh, lingkungan, serta pikiran, seorang Muslim dapat merasakan ketenangan dalam menjalani kehidupan.3. Mencegah Penyakit Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan adalah dengan pola makan yang baik, seperti yang diajarkan Rasulullah SAW: tidak makan berlebihan, makan makanan yang halal dan baik, serta menghindari makanan yang membahayakan tubuh. Menerapkan gaya hidup sehat membantu tubuh terhindar dari berbagai penyakit kronis seperti diabetes, tekanan darah tinggi, hingga penyakit jantung.4. Meningkatkan Produktivitas Kesehatan yang optimal akan mendukung seseorang untuk menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih produktif. Dalam Islam, bekerja dengan baik dan produktif adalah bagian dari ibadah, terutama jika hasil kerja tersebut dapat memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Dengan tubuh yang sehat, seorang Muslim dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan baik dan berkontribusi lebih besar dalam kebaikan.5. Membentuk Mental dan Emosi yang Stabil Islam mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional. Gaya hidup sehat yang mencakup pola makan yang baik, olahraga teratur, serta menghindari kebiasaan buruk seperti marah dan stres berlebihan, akan membantu seseorang memiliki mental yang stabil. Rasulullah SAW juga menganjurkan untuk selalu bersabar dan berzikir agar hati menjadi tenang dan terhindar dari tekanan hidup.6. Mengikuti Sunnah Rasulullah Rasulullah SAW memberikan contoh gaya hidup sehat yang bisa diikuti, seperti makan secukupnya, menghindari makanan yang berlebihan, beristirahat yang cukup, dan menjaga kebersihan tubuh serta lingkungan. Mengikuti sunnah Rasulullah dalam menjaga kesehatan bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga membantu tubuh tetap bugar dan sehat.7. Memperkuat Hubungan Sosial Gaya hidup sehat tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga dengan hubungan sosial yang baik. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya menjaga silaturahmi, yang juga dapat berdampak positif pada kesehatan mental dan emosional. Studi menunjukkan bahwa memiliki hubungan sosial yang baik dapat mengurangi risiko depresi dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.8. Menjadi Lebih Bersyukur Kesehatan adalah nikmat yang sangat berharga, dan dengan menjaga kesehatan, seorang Muslim belajar untuk lebih bersyukur kepada Allah. Dengan kesehatan yang baik, ia dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan memberikan manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Dua nikmat yang kebanyakan manusia lalai darinya adalah nikmat kesehatan dan waktu luang.” Nikmat kesehatan ini perlu disyukuri dengan menjaga tubuh dan tidak merusaknya.
ARTIKEL17/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Menelan ludah dan batasan puasa : perspektif islam yang jelas
Menelan ludah dan batasan puasa : perspektif islam yang jelas
Pernahkah sahabat membuang ludah saat berpuasa karena khawatir hal tersebut dapat membatalkan puasa? Ibadah puasa dapat batal jika seseorang dengan sengaja memasukan makanan dan minuman ke dalam tubuhnya. Lalu bagaimana dengan air ludah? Menurut buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa”, karya Pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang Ahmad Mundzir menyatakan bahwa para ulama sepakat untuk hukum menelan air ludah atau liur tidak membatalkan puasa. Namun, hal ini hanya berlaku apabila air liur ini sering keluar karena sulit dihindari, dijelaskan dalam al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341) karya Imam an-Nawawi. Dikatakan bahwa: “Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.” Hukum Menelan Air Ludah bagi orang yang Berpuasa Seperti yang sudah dipaparkan diatas kebanyakan ulama sepakat air ludah atau air liur tidak membatalkan puasa, Berdasarkan paparan dari Imam an-Nawawi, mengenai hukum menelan air liur yang tidak membatalkan puasa jika memenuhi tiga syarat, yaitu: Air liur yang tidak tercampur dengan zat lain: Artinya air liur yang tertelan adalah air liur yang tidak tercampur dengan zat atau cairan lain, seperti darah akibat luka pada gusi. Air liur yang belum keluar dari bagian bibir luar: Dalam hal ini, air liur yang tertelan tidak boleh melewati batas bibir luas. Menelan ludah yang berada dalam rongga mulut tanpa keluar dari batas bibir luar tetap dianggap sah dan tidak membatalkan puasa. Air liur yang dengan sengaja ditampung oleh seseorang hingga banyak terlebih dahulu baru kemudian ditelan. Namun, ada pendapat yang termasyur mengatakan bahwa perbuatan tersebut selagi tidak sengaja, maka tidak akan membatalkan puasanya. Jadi menelan air ludah tidak akan membatalkan puasa seseorang, jika telah memenuhi ketiga syarat di atas dan selama perbuatan menelan ludah tersebut tidak disengaja Ibadah puasa juga bisa mendapatkan ganajran yang lebih besar dengan diiringi bersedekah. Bersedekah di BAZNAS Kota Sukabumi dapat dilakukan secara online melalui smartphone sehingga mempermudah sahabat untuk bersedekah dimanapun dan kapanpun Sebagai Lembaga Pemerintah Nonstruktural yang mengelola dana ZIS, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sukabumi saat ini dipercaya publik berkat komitmen dan program-programnya dalam menghimpun dan menyalurkan Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS). Klik link https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah untuk bersedekah dengaan mudah. Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan, bisa menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir pahalanya, Aamiin Yaa Rabbal 'Aalamiin.
ARTIKEL16/09/2025 | Khoirunisa
Adab-Adab Berpuasa yang Harus Diperhatikan
Adab-Adab Berpuasa yang Harus Diperhatikan
Salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh umat muslim adalah berpuasa di bulan Ramadan. puasa ramadan yaitu puasa yang dilakukan sebulan penuh untuk meraih gelar takwa sesuai dengan perintah Allah swt dalam surat Al-Baqarah : 183 Artinya : "Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. (Berpuasa) agar kamu bertakwa.” Dalam menjalankan ibadah puasa kita diharuskan menahan dahaga dan lapar dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Namun, tidak hanya hal itu saja yang perlu diperhatikan, ada adab-adab berpuasa yang harus sahabat ketahui agar puasa sahabat berkualitas dan tidak berkurang pahalanya. Adapun adab-adab puasa diantarannya sebagai berikut : 1. Sahur di Akhir Waktu Untuk menyipkan energi berpuasa seharian, tentu kita memerlukan asupan makanan. Oleh karena itu sahabat jangan sampai melewatkan sahur. Apalagi terdapat keberkahan dalam waktu sahur. Dan betapa baiknya Allah swt yang menjadikan sahur di penghunjung waktu sebagai sebuah keutamaann. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu sebagai berikut: Artinya:“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” Sementara untuk makanan sahur sebaik-baiknya adalah kurma. Sahur merupakan pembeda kita ummat muslim dengan ahli Kitab. "Dan sebaik-baik makanan sahur adalah kurma". (HR. Abu Dawud, no. 2345) . 2. Segerakan Berbuka Untuk sahur memang dianjurkan diakhirkan, tapi untuk bebuka puasa lebih utama disegerakan. Oleh karena itu, segeralah sahabat berbuka bila telah datang waktunya karena Rasulullah Saw bersabda : "orang-orang senantiasa tetap dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka". (HR. Bukhari, jilid 4, hal 198). Rasulullah Saw biasa berbuka dengan melakukan sholat, dengan makan beberapa biji kurma mengkal atau kurma matang, dan beberapa teguk air minum (HR. Tirmidzi, jilid 3, hal 79). Sunahnya memakan kurma terlebih dahulu dengan mengucapkan bismillah barulah meminum air. Dan membaca Artinya: "Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah. (HR. Abu Dawud, jilid 2, hal 765) . 3. Hindari Pembicaraan yang sia-sia Hindarilah pembicaraan yang sia-sia karena Rasulullah Saw bersabda "pada hari seseorang diantara kalian sedang berpuasa maka janganlah diantaran Kalian berbicara serono, berbicara sia-sia". (HR. Bukhari, No. 1904). hal Ini bisa bermakna jatuh pada perbuatan maksiat, seperti menggunjing, gibah, berkata jorok, dan dusta. karena perbuatan-perbuatan tersebut dapat menghapus seluruh perbuatan puasanya 4. Membentengi diri dari hawa nafsu Meski yang membatalkan puasa adalah makan dan minum, namun sejatinya puasa jugalah tentang menahan hawa nafsu. Usahakanlah untuk menghindari perbuatan yang membuat pertengkaran, dan bila ada yang hendak menyerang atau memaki katakanlah jika sahabat sedang berpuasa. Karena Rasulullah Saw bersabda "Dan jika seseorang menyerangnya atau memakinya maka hendaklah ia menghindari perbuatan tersebut, dan berkata, "aku sedang puasa, aku sedang puasa". (HR. Bukhari No.1894) 5. Tidak Makan Berlebihan Saat berpuasa memang terasa semua makanan dan minuman yang berseliwuran terlihat nikmat. Seringkali hal ini membuat kita kalap membeli ini itu dan ingin mencicipi banyak makanan. Rasulullah Saw bersabda "tidak ada bejana dipenuhi oleh manusia yang lebih buruk dari pada perutnya". (HR. Tirmidzi, No 2380). Sahabat usahakan mengonsumsi makanan yang cukup dan tidak menuruti hawa nafsu. Sebaiknya kita juga berhenti sebelum perut terasa kenyang. 6. Dermawan, gemar berbagi Salah satu yang dianjurkan saat berpuasa adalah perbanyak ibadah. Salah satu ibadah yang bisa sahabat lakuka adalah dengan memberi makan orang yang berpuasa atau berbagi satu sama lain. Rasulullah Saw bersabda "sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang bagian dari luarnya terlihat dari dalam, dan bagian luarnya tampak dari luar, yang disediakan oleh orang-orang yang memberi makan, memperlembut pembicaraan, senang berpuasa dan sholat di malam hari diwaktu manusia tertidur pulas". (HR. Ahmad, jilid 5, hal 343). Insya Allah ada kamar-kamar yang disediakan di surga untuk mereka yang memberi makan orang lain. Sahabat, itulah beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat berpuasa. Jangan sampai kita berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan lapar saja.
ARTIKEL16/09/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →