WhatsApp Icon
Bukan Tanpa Alasan, Setiap Ujian Datang Membawa Pelajaran Iman

Setiap manusia pasti pernah menghadapi ujian hidup. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, kehilangan orang tercinta, sakit yang berkepanjangan, hingga berbagai masalah yang terasa begitu berat. Dalam kondisi seperti itu, tidak sedikit orang yang bertanya, "Mengapa Allah memberikan ujian ini kepada saya?"

Padahal dalam Islam, setiap ujian yang Allah SWT berikan bukanlah tanpa alasan. Di balik setiap kesulitan terdapat hikmah, pelajaran, dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Ujian bukan tanda kebencian Allah kepada hamba-Nya, melainkan salah satu cara Allah mendidik, menguatkan, dan mendekatkan hamba kepada-Nya.

Mengapa Allah Menguji Hamba-Nya?

Ujian merupakan bagian dari sunnatullah yang pasti dialami oleh setiap manusia. Bahkan para nabi dan orang-orang saleh pun tidak luput dari berbagai cobaan.

Allah SWT berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"

(QS. Al-Ankabut: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa ujian adalah bukti kesungguhan iman seseorang. Melalui ujian, Allah SWT memperlihatkan siapa yang tetap teguh dan siapa yang mudah menyerah.

Ujian Adalah Bentuk Kasih Sayang Allah

Bukan Tanpa Alasan, Setiap Ujian Datang Membawa Pelajaran Iman

Sering kali manusia menganggap ujian sebagai musibah semata. Padahal, bisa jadi ujian tersebut adalah bentuk kasih sayang Allah yang ingin mengangkat derajat hamba-Nya.

Rasulullah bersabda:

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka."

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini mengajarkan bahwa ujian tidak selalu berarti murka Allah. Justru bisa menjadi tanda bahwa Allah sedang menyiapkan pahala dan kedudukan yang lebih tinggi bagi hamba-Nya.

Pelajaran Iman di Balik Setiap Ujian

Mengajarkan Kesabaran

Ketika menghadapi kesulitan, seorang Muslim belajar untuk bersabar dan tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 155)

Kesabaran bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil meyakini bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktu terbaik.

Menumbuhkan Tawakal

Ujian mengingatkan manusia bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Pada akhirnya, hanya kepada Allah SWT tempat bergantung dan memohon pertolongan.

Saat segala pintu terasa tertutup, tawakal menjadi cahaya yang menguatkan hati untuk terus melangkah.

Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat

Tidak ada rasa sakit, kesedihan, atau kesulitan yang dialami seorang Muslim kecuali Allah menjadikannya sebagai penghapus dosa.

Rasulullah bersabda:

"Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, bahkan hingga tertusuk duri, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika Ujian Mengajarkan Kepedulian

Ada satu hikmah besar yang sering terlupakan dari sebuah ujian, yaitu tumbuhnya rasa empati terhadap sesama. Orang yang pernah merasakan kesulitan biasanya lebih mudah memahami penderitaan orang lain.

Ketika kita melihat saudara-saudara yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, biaya pendidikan anak, pengobatan, atau kebutuhan pokok sehari-hari, kita menjadi sadar bahwa Allah telah memberikan amanah rezeki yang perlu dibagikan.

Menjadi Jalan Kebaikan untuk Sesama

Tidak semua orang diuji dengan kekurangan harta. Sebagian diuji dengan kelapangan rezeki. Pertanyaannya, apakah kita mampu mensyukuri nikmat tersebut dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan?

Sedekah Mengubah Ujian Menjadi Keberkahan

Banyak orang yang merasakan ketenangan hati setelah membantu sesama. Ketika kita meringankan beban orang lain, Allah SWT akan memudahkan urusan kita dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Sedekah bukan sekadar memberi, tetapi juga bentuk rasa syukur atas nikmat yang masih Allah titipkan kepada kita.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Ketika Dunia Tidak Sesuai Harapan, Iman Menjadi Penyelamat

Setiap orang pasti memiliki harapan. Ada yang berharap usahanya berhasil, kariernya berkembang, keluarganya harmonis, atau kehidupannya berjalan sesuai rencana. Namun kenyataannya, hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Terkadang doa belum terjawab, rezeki terasa sempit, kesehatan menurun, atau masalah datang silih berganti.

Pada saat-saat seperti itulah iman menjadi penyelamat. Iman membuat seseorang tetap teguh ketika dunia tidak berpihak kepadanya. Iman mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki hikmah, setiap kesulitan ada jalan keluar, dan setiap ketetapan Allah pasti mengandung kebaikan bagi hamba-Nya.

Mengapa Harapan dan Kenyataan Sering Berbeda?

Ketika Dunia Tidak Sesuai Harapan, Iman Menjadi Penyelamat

Sebagai manusia, kita hanya mampu merencanakan. Namun Allah SWT adalah sebaik-baik perencana yang mengetahui segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tidak kita ketahui.

Allah SWT berfirman:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."

(QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak semua yang kita inginkan akan membawa kebaikan, dan tidak semua yang kita benci akan membawa keburukan. Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat kita.

Iman Menjadi Penopang Saat Ujian Datang

Ketika masalah datang bertubi-tubi, orang yang hanya mengandalkan kekuatan dirinya akan mudah putus asa. Sebaliknya, orang yang memiliki iman akan selalu memiliki tempat bersandar, yaitu Allah SWT.

Ujian Adalah Bagian dari Kehidupan

Allah SWT berfirman:

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapinya.

Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Hamba-Nya

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

(QS. Al-Baqarah: 286)

Saat ujian terasa berat, ayat ini menjadi penguat bahwa Allah tidak pernah memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hamba-Nya.

Tanda Kuatnya Iman Saat Menghadapi Kesulitan

Tetap Berprasangka Baik kepada Allah

Orang yang beriman yakin bahwa setiap ketetapan Allah mengandung hikmah. Meskipun belum memahami alasannya saat ini, ia percaya bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

Tidak Mudah Putus Asa

Rasulullah SAW bersabda:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya."

(HR. Muslim)

Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapatkan musibah, ia bersabar. Keduanya bernilai kebaikan di sisi Allah SWT.

Tetap Dekat dengan Al-Qur'an dan Doa

Dalam kondisi sulit, Al-Qur'an menjadi penyejuk hati dan doa menjadi kekuatan yang menghubungkan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Jangan Biarkan Kesulitan Menjauhkan Diri dari Allah

Banyak orang baru mendekat kepada Allah ketika tertimpa masalah. Padahal, semakin berat ujian yang datang, semakin besar kebutuhan kita untuk memperbanyak ibadah, dzikir, dan doa.

Ketika Membantu Orang Lain, Hati Menjadi Lebih Kuat

Salah satu cara menghadapi kesedihan adalah dengan membantu mereka yang sedang mengalami kesulitan. Ketika kita melihat masih banyak saudara yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, hati akan lebih mudah bersyukur atas nikmat yang masih dimiliki.

Berbagi juga menjadi sarana membersihkan hati dari rasa kecewa yang berlebihan terhadap dunia. Sebab kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari apa yang kita berikan kepada sesama.

Jadikan Ujian Sebagai Jalan Menuju Keberkahan

Jika hari ini hidup belum sesuai harapan, jangan terburu-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi Allah sedang mengajarkan kesabaran, memperkuat iman, atau mempersiapkan sesuatu yang lebih baik di masa depan.

Ingatlah bahwa dunia bukan tujuan akhir. Kesuksesan sejati adalah ketika hati tetap dekat dengan Allah dalam segala keadaan.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Tawakal Bukan Pasrah, Ini Makna yang Sering Disalah pahami

Banyak orang menganggap tawakal sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, masalah pekerjaan, atau ujian kehidupan, sebagian orang berkata, “Saya sudah tawakal,” padahal belum melakukan ikhtiar secara maksimal. Pemahaman seperti ini perlu diluruskan karena dalam Islam, tawakal bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan berserah diri kepada Allah SWT setelah melakukan usaha terbaik.

Memahami makna tawakal yang benar sangat penting agar seorang Muslim tidak terjebak dalam kemalasan atas nama agama. Justru tawakal adalah sumber kekuatan yang membuat seseorang tetap optimis, produktif, dan yakin akan pertolongan Allah SWT.

Apa Itu Tawakal?

Secara bahasa, tawakal berarti menyerahkan atau mempercayakan suatu urusan kepada pihak lain. Dalam Islam, tawakal adalah menyerahkan hasil akhir kepada Allah SWT setelah melakukan ikhtiar secara maksimal.

Artinya, seorang Muslim diperintahkan untuk bekerja, berusaha, berdoa, dan mempersiapkan segala sesuatu dengan baik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

(QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menunjukkan bahwa tawakal datang setelah adanya tekad dan usaha, bukan sebelum berbuat apa-apa.

Kesalahan Memahami Tawakal

Menganggap Tawakal Sama dengan Pasrah

Tawakal Bukan Pasrah, Ini Makna yang Sering Disalah pahami  

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap tawakal sebagai alasan untuk tidak berusaha.

Misalnya, seseorang berharap rezekinya lancar tetapi malas bekerja. Ada pula yang ingin berhasil dalam pendidikan tetapi tidak sungguh-sungguh belajar. Sikap seperti ini bukan tawakal, melainkan kelalaian.

Menjadikan Tawakal sebagai Alasan Bermalas-malasan

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang petani tetap harus menanam benih meskipun ia percaya bahwa hasil panen berasal dari Allah SWT.

Tanpa usaha, tawakal kehilangan maknanya.

Rasulullah Mengajarkan Ikhtiar dan Tawakal

Sebuah hadits yang sangat terkenal menjelaskan hubungan antara usaha dan tawakal.

Rasulullah bersabda:

“Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian bertawakallah.”

(HR. Tirmidzi)

Hadits ini menjadi prinsip penting dalam kehidupan seorang Muslim. Unta harus diikat terlebih dahulu agar tidak hilang, setelah itu barulah menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Tawakal Membuat Hati Lebih Tenang

Orang yang bertawakal tidak mudah putus asa ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan. Ia memahami bahwa Allah SWT memiliki rencana yang lebih baik.

Allah SWT berfirman:

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”

(QS. At-Talaq: 3)

Ayat ini memberikan ketenangan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berusaha dan berserah diri kepada-Nya.

Ciri-Ciri Orang yang Bertawakal dengan Benar

Tetap Berusaha Secara Maksimal

Orang yang bertawakal tidak berhenti bekerja keras. Ia memahami bahwa usaha adalah bagian dari ibadah.

Tidak Mudah Putus Asa

Ketika gagal, ia tidak menyalahkan takdir. Sebaliknya, ia menjadikan kegagalan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.

Selalu Berdoa kepada Allah

Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan, sedangkan doa tanpa ikhtiar adalah kelalaian. Keduanya harus berjalan seimbang.

Menerima Hasil dengan Lapang Dada

Setelah berusaha maksimal, seorang Muslim menerima hasilnya dengan hati yang tenang karena yakin bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik.

Tawakal dan Kepedulian Sosial

Tawakal yang benar juga mendorong seseorang untuk membantu sesama. Ia yakin bahwa harta yang dimiliki hanyalah titipan Allah SWT dan sebagian darinya terdapat hak orang lain yang membutuhkan.

Ketika seseorang berzakat, berinfak, dan bersedekah, ia sedang menunjukkan kepercayaan penuh kepada Allah bahwa berbagi tidak akan mengurangi rezeki.

Rasulullah bersabda:

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”

(HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa orang yang bertawakal tidak takut miskin karena berbagi. Ia yakin Allah SWT akan mengganti dan melipatgandakan kebaikan yang diberikan kepada sesama.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Apa yang Hilang Saat Kita Menunda-Nunda Salat?

Salat adalah tiang agama dan ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Namun, di tengah kesibukan pekerjaan, aktivitas media sosial, hiburan digital, hingga urusan dunia lainnya, tidak sedikit orang yang terbiasa menunda-nunda salat. Awalnya hanya beberapa menit, lalu menjadi kebiasaan yang membuat hati semakin jauh dari kedisiplinan beribadah.

Padahal, menunda salat bukan sekadar soal waktu. Ada banyak keberkahan yang perlahan hilang tanpa kita sadari. Ketenangan hati berkurang, hubungan dengan Allah melemah, dan kesempatan meraih pahala terbaik pun terlewatkan.

Lalu, apa sebenarnya yang hilang saat kita menunda-nunda salat?

Salat di Awal Waktu adalah Amalan yang Dicintai Allah

Apa yang Hilang Saat Kita Menunda-Nunda Salat

Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga salat tepat waktu. Bahkan, salat di awal waktu termasuk amalan yang paling dicintai Allah SWT.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Aku bertanya kepada Nabi, 'Amalan apakah yang paling dicintai Allah?' Beliau menjawab, 'Salat pada waktunya.'"

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa menjaga waktu salat bukan perkara sepele, melainkan salah satu bentuk ketaatan yang sangat dicintai Allah SWT.

Keberkahan yang Hilang Saat Menunda Salat

Hilangnya Ketenangan Hati

Banyak orang mencari ketenangan melalui hiburan, liburan, atau berbagai kesenangan dunia. Padahal ketenangan sejati berasal dari mengingat Allah.

Allah SWT berfirman:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketika salat ditunda, hati kehilangan kesempatan untuk segera terhubung dengan Allah. Akibatnya, kegelisahan dan tekanan hidup sering kali terasa lebih berat.

Hilangnya Pahala Salat di Awal Waktu

Setiap detik yang berlalu setelah azan berkumandang adalah kesempatan yang terlewat untuk meraih keutamaan salat tepat waktu. Orang yang terbiasa menunda sering kehilangan pahala besar yang sebenarnya mudah diraih.

Hilangnya Disiplin dalam Kehidupan

Salat adalah sarana pendidikan karakter. Ketika seseorang disiplin menjaga waktu salat, ia juga akan lebih disiplin dalam pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab lainnya.

Sebaliknya, kebiasaan menunda salat dapat menumbuhkan kebiasaan menunda dalam berbagai aspek kehidupan.

Peringatan Al-Qur'an bagi Orang yang Lalai Salat

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Al-Qur'an:

"Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya."

(QS. Al-Ma'un: 4-5)

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu bentuk kelalaian terhadap salat adalah menunda-nundanya tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Menunda Salat Membuka Pintu Kemalasan

Setan selalu berusaha membuat manusia menjauh dari ibadah. Salah satu caranya adalah membisikkan, "Nanti saja salatnya, masih ada waktu."

Kalimat sederhana ini sering membuat seseorang terlena hingga akhirnya salat dikerjakan di akhir waktu atau bahkan terlewat.

Mengapa Kita Sering Menunda Salat?

Terlalu Sibuk dengan Urusan Dunia

Pekerjaan, bisnis, sekolah, atau aktivitas media sosial sering menjadi alasan utama. Padahal semua aktivitas tersebut tidak akan membawa keberkahan jika membuat kita lalai dari perintah Allah.

Kurangnya Kesadaran Akan Pentingnya Salat

Sebagian orang memandang salat hanya sebagai rutinitas, bukan kebutuhan ruhani. Akibatnya, salat tidak lagi menjadi prioritas utama.

Tidak Segera Menyambut Panggilan Azan

Azan adalah panggilan langsung untuk menghadap Allah SWT. Ketika panggilan ini diabaikan, hati perlahan menjadi kurang peka terhadap kebaikan.

Biasakan Bergerak Saat Azan Terdengar

Salah satu cara efektif adalah segera menghentikan aktivitas ketika azan berkumandang. Jangan memberi ruang bagi rasa malas untuk mengambil alih.

Cara Melatih Diri Agar Tidak Menunda Salat

Ingat Bahwa Salat adalah Pertemuan dengan Allah

Jika kita rela meluangkan waktu untuk urusan pekerjaan atau bertemu orang penting, mengapa kita menunda pertemuan dengan Sang Pencipta?

Jadikan Salat sebagai Prioritas

Susun aktivitas harian berdasarkan jadwal salat, bukan sebaliknya.

Perbanyak Berdoa

Mintalah kepada Allah agar diberikan hati yang istiqamah dalam menjaga salat tepat waktu.

Salat Tepat Waktu Melahirkan Kepedulian Sosial

Salat yang benar tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah, tetapi juga menumbuhkan kepedulian kepada sesama. Orang yang hatinya dekat dengan Allah akan lebih mudah tersentuh melihat kesulitan orang lain.

Karena itu, setelah menjaga salat, sempurnakan ibadah dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan melalui zakat, infak, dan sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."

(HR. Thabrani)

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS
Dunia Boleh Dikejar, Tapi Jangan Sampai Iman Tertinggal

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang berlomba-lomba mengejar kesuksesan, karir, jabatan, bisnis, dan berbagai pencapaian duniawi. Tidak ada yang salah dengan bekerja keras dan meraih impian. Islam bahkan mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang produktif dan bermanfaat. Namun, ada satu hal yang tidak dapat dilupakan dalam perjalanan tersebut, yaitu iman.

Jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita lalai dari salat, lupa bersedekah, jarang membaca Al-Qur'an, atau bahkan menjauh dari Allah SWT. Sebab sejatinya, dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan yang abadi.

Ketika Dunia Menjadi Prioritas Utama

Banyak orang mengukur kebahagiaan dari jumlah harta, kendaraan, rumah mewah, atau popularitas di media sosial. Padahal, tidak sedikit orang yang terlihat sukses secara materi tetapi merasa hampa secara spiritual.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

(QS. Al-Hadid : 20)

Ayat ini bukan melarang kita mencari dunia, tetapi mengingatkan agar tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan.

Islam Mengajarkan Keseimbangan

Dunia Boleh Dikejar, Tapi Jangan Sampai Iman Tertinggal  

Islam adalah agama yang seimbang. Seorang Muslim diperintahkan untuk berusaha mencari rezeki yang halal sekaligus mempersiapkan bekal akhirat.

Allah SWT berfirman:

Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu mencintai bagianmu di dunia.
(QS. Al-Qashash : 77)

Ayat ini menjadi pedoman bahwa dunia dan akhirat harus berjalan beriringan. Bekerja adalah ibadah, berbisnis adalah ibadah, dan mencari nafkah adalah ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai syariat.

Tanda Iman Mulai Tertinggal

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

  • Salat sering ditunda karena pekerjaan.
  • Lebih banyak waktu untuk media sosial daripada membaca Al-Qur'an.
  • Merasa berat untuk bersedekah tetapi mudah menghabiskan uang untuk hal yang tidak bermanfaat.
  • Jarang menghadiri majelis ilmu.
  • Hanya mengingat Allah saat menghadapi masalah.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, maka sudah saatnya melakukan evaluasi diri sebelum terlambat.

Cara Agar Dunia dan Iman Berjalan Seimbang

Awali Semua Aktivitas dengan Niat Ibadah

Ketika bekerja untuk menafkahi keluarga, membantu sesama, dan mencari rezeki halal, maka pekerjaan tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Jaga Salat di Tengah Kesibukan

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian dunia, tetapi juga kedekatan dengan Allah SWT. Jangan biarkan jadwal yang padat membuat kita meninggalkan salat.

Rasulullah bersabda:

“Perjanjian antara kami dan mereka adalah salat. Barang siapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kufur.”

(HR. Tirmidzi)

Sisihkan Rezeki untuk Berbagi

Harta yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita. Di dalamnya terdapat hak orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah Menjadi Bukti Keimanan

Ketika seseorang rela berbagi di saat dirinya juga memiliki kebutuhan, itulah salah satu tanda kuatnya iman. Sedekah bukan mengurangi harta, namun justru mendatangkan keberkahan.

Rasulullah bersabda:

Sedekah tidak akan mengurangi harta.

(HR.Muslim)

Dunia Akan Ditinggalkan, Amal Akan Menemani

Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir, rekening akan ditinggalkan, dan semua pencapaian dunia akan menjadi kenangan. Yang tersisa hanyalah amal saleh yang pernah kita lakukan.

Oleh karena itu, jangan hanya fokus mempercantik kehidupan dunia. Perindah juga catatan amal dengan salat yang khusyuk, sedekah yang ikhlas, dan kepedulian kepada sesama.

Bayangkan jika sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita menjadi karena seorang anak dapat bersekolah, seorang dhuafa memperoleh bantuan pangan, atau seorang pasien mendapatkan layanan kesehatan. Semua itu akan menjadi investasi akhirat yang menghasilkan jauh lebih besar daripada keuntungan dunia yang bersifat sementara.

Saatnya Menjadikan Harta sebagai Jalan Menuju Surga

Kesuksesan dunia akan terasa lebih bermakna ketika mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menjaga agar iman tetap hidup di tengah kesibukan dunia.

05/08/2026 | Kontributor: BAZNAS

Artikel Terbaru

3 Ketentuan Kafarat Jima yang Wajib Dipahami di bulan Ramadhan
3 Ketentuan Kafarat Jima yang Wajib Dipahami di bulan Ramadhan
Kafarat jima adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh suami istri yang melakukan hubungan intim secara sengaja pada siang hari di bulan Ramadan saat sedang berpuasa. Perbuatan ini termasuk pelanggaran berat karena tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan qadha dan kafarat sebagai bentuk tebusan. Ramadan adalah bulan suci yang dimuliakan Allah SWT. Setiap Muslim diperintahkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Oleh karena itu, memahami hukum dan ketentuan kafarat jima menjadi penting agar tidak meremehkan kesucian ibadah puasa. Dalil Kafarat Jima dalam Hadis Kewajiban kafarat jima didasarkan pada hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Dikisahkan seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah binasa.” Rasulullah bertanya, “Apa yang membuatmu binasa?” Ia menjawab, “Aku berhubungan dengan istriku di siang hari Ramadan.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Apakah engkau memiliki budak untuk dimerdekakan?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Berilah makan enam puluh orang miskin.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi landasan utama dalam penetapan urutan kafarat jima yang bersifat wajib dan tidak boleh dipilih sembarangan. 3 Ketentuan Kafarat Jima yang Wajib Dipahami Berikut tiga ketentuan penting dalam kafarat jima: 1. Dilakukan dengan Sengaja Kafarat jima berlaku jika hubungan suami istri dilakukan secara sengaja dan sadar bahwa sedang berpuasa di siang hari Ramadan. Jika terjadi karena lupa atau tidak tahu hukumnya, sebagian ulama berpendapat tidak dikenakan kafarat, tetapi tetap wajib qadha. 2. Wajib Qadha dan Kafarat Orang yang melakukan jima di siang hari Ramadan tidak cukup hanya mengganti puasa (qadha), tetapi juga wajib membayar kafarat sesuai urutan yang telah ditetapkan Rasulullah SAW. 3. Urutan Pembayaran Tidak Boleh Dibalik Urutan kafarat jima adalah: Memerdekakan budak (tidak berlaku di masa sekarang) Berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa terputus Jika tidak mampu secara fisik, memberi makan 60 orang miskin Karena perbudakan sudah tidak ada, maka pilihan yang berlaku saat ini adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika benar-benar tidak mampu, barulah memberi makan 60 fakir miskin. Memberi makan dapat berupa makanan siap santap atau bahan pokok yang layak sesuai standar konsumsi harian. Hikmah Kafarat Jima Kewajiban kafarat jima mengandung banyak hikmah, di antaranya: Menjaga kesucian bulan Ramadan Memberikan efek jera agar tidak meremehkan puasa Menumbuhkan tanggung jawab spiritual Membantu fakir miskin melalui pemberian makanan Islam tidak semata-mata menghukum, tetapi juga mendidik umatnya agar lebih berhati-hati dalam menjaga ibadah. Siapa yang Wajib Membayar Kafarat Jima di Bulan Ramadan? Tidak semua orang otomatis terkena kewajiban Kafarat Jima di Bulan Ramadan. Para ulama menjelaskan bahwa kafarat wajib apabila memenuhi beberapa syarat berikut: Dilakukan dengan sengajaJika hubungan suami istri dilakukan karena lupa atau tidak tahu hukumnya, maka tidak dikenakan kafarat, tetapi tetap wajib mengganti puasanya (qadha). Terjadi di siang hari RamadanJika dilakukan pada malam hari setelah berbuka, maka tidak ada kafarat karena hal itu memang diperbolehkan dalam Islam sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah ayat 187. Dalam keadaan sadar dan tidak dipaksaJika salah satu pasangan dipaksa, maka yang menanggung kafarat adalah pihak yang memaksa. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa kafarat hanya wajib bagi suami sebagai pihak yang memulai, namun sebagian ulama lain berpendapat keduanya wajib jika sama-sama rela. Hikmah Spiritual di Balik Kafarat Jima Allah SWT menetapkan hukum jima di siang hari Ramadan bukan untuk memberatkan, tetapi untuk: Menjaga kehormatan bulan suci Melatih pengendalian hawa nafsu Menumbuhkan kepedulian sosial Membersihkan dosa melalui taubat dan amal kebajikan Kafarat juga menjadi bentuk tanggung jawab seorang Muslim atas kesalahan yang diperbuatnya. Tunaikan Kafarat Jima Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Bagi Anda yang memiliki kewajiban kafarat jima, penyalurannya kini dapat dilakukan secara mudah, amanah, dan sesuai syariat melalui lembaga resmi. ???? Salurkan kafarat Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi di link berikut:https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bayar-kafarat Dengan menunaikan kafarat melalui BAZNAS Kota Sukabumi, bantuan akan disalurkan kepada fakir miskin yang berhak secara tepat sasaran dan transparan. ? Jangan menunda kewajiban yang telah Allah tetapkan.? Sempurnakan taubat dan ibadah Anda dengan menunaikan kafarat jima hari ini. Semoga Allah SWT menerima taubat dan amal ibadah kita serta menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbaiki diri. Aamiin. untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini : Cara membayar kafarat jima https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bayar-kafarat https://baznaskotasukabumi.com/campaign/gerakan-cinta-rasul-sedekah-untuk-santri https://baznaskotasukabumi.com/masih-bingung-tentang-kafarat-puasa/
ARTIKEL11/02/2026 | BAZNAS
10 Poin Penting Kafarat Sumpah dalam Islam yang wajib Dipahami!
10 Poin Penting Kafarat Sumpah dalam Islam yang wajib Dipahami!
kafarat sumpah, kafarat sumpah dalam Islam, cara membayar kafarat sumpah, hukum kafarat sumpah, dalil kafarat sumpah, hikmah kafarat sumpah, sumpah yang dilaksanakan, QS Al-Ma'idah 89, hadits kafarat sumpah Dalam kehidupan sehari-hari, sumpah sering diucapkan sebagai penegasan janji atau komitmen. Namun, tidak sedikit orang yang akhirnya melanggar sumpah karena kondisi tertentu. Dalam Islam, pelanggaran sumpah bukanlah hal yang sepele, tetapi Allah SWT telah menyediakan jalan keluar penuh kebaikan yang disebut kafarat sumpah . Artikel ini akan membahas pengertian, hukum, dalil, hingga cara menunaikan kafarat sumpah sesuai syariat Islam. [caption id="attachment_2752" align="alignnone" width="613"] baznas kota sukabumi[/caption] 1. Pengertian Kafarat Sumpah Kafarat sumpah atau kafarat yamin adalah tebusan yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim ketika ia melanggar sumpah yang diucapkan dengan sengaja. Sumpah yang dimaksud adalah sumpah atas nama Allah SWT yang disertai niat dan kesadaran, bukan ucapan spontan tanpa maksud bersumpah. Allah SWT berfirman: “Allah tidak menghukum kamu karena sumpah-sumpahmu yang tidak disengaja, tetapi Dia menghukum kamu karena sumpah-sumpah yang kamu sengaja…” ???? (QS. Al-Ma'idah : 89) Ayat ini menjadi dasar utama kewajiban kafarat sumpah dalam Islam. 2. Kesalahan Melanggar Sumpah yang Perlu Diwaspadai Melanggar sumpah termasuk perbuatan yang mempunyai dampak negatif, di antaranya: Meremehkan nama Allah SWT Merusak kepercayaan orang lain Menumbuhkan kebiasaan ingkar janji Menambah dosa jika tidak disertai taubat Mengurangi keberkahan hidup Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga sumpah dan menunaikan kafarat jika terjadi pelanggaran. 3. Bentuk dan Cara Membayar Kafarat Sumpah Dalam QS. Al-Ma’idah ayat 89, Allah SWT menjelaskan bentuk kafarat sumpah yang boleh dipilih salah satu, sesuai kemampuan: Memberi makan 10 orang miskin Memberi pakaian 10 orang miskin Memerdekakan seorang budak Jika tidak mampu melaksanakan ketiga hal tersebut, maka alternatifnya adalah: Puasa selama 3 hari Kafarat ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang adil dan tidak memberatkan umatnya. 4. Hadits tentang Kafarat Sumpah Rasulullah ? bersabda: “Barang siapa bersumpah atas suatu p erkara, lalu ia melihat yang lain lebih baik, maka hendaklah ia melakukan yang lebih baik itu dan membayar kafarat sumpahnya.”???? (HR. Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa membatalkan sumpah demi kebaikan bukanlah dosa, asalkan diikuti dengan pembayaran kafarat sumpah. Perbedaan Sumpah yang Wajib dan Tidak Wajib Kafarat Penting untuk dipahami bahwa tidak semua sumpah mewajibkan kafarat. Dalam Islam, sumpah dibagi menjadi beberapa jenis. Pertama, sumpah yang tidak disengaja (laghw), yaitu ucapan sumpah yang keluar tanpa niat sungguh-sungguh, seperti kebiasaan berkata “demi Allah” dalam percakapan sehari-hari. Sumpah ini tidak mewajibkan kafarat, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ma’idah ayat 89. Kedua, sumpah yang disengaja dan dilanggar, inilah yang mewajibkan kafarat sumpah. Ketiga, sumpah untuk melakukan maksiat, seperti bersumpah untuk berbuat dosa. Sumpah jenis ini tidak boleh ditepati, namun tetap wajib membayar kafarat sebagai bentuk tanggung jawab atas ucapan yang telah diikrarkan. Waktu Pelaksanaan Kafarat Sumpah Kafarat sumpah boleh ditunaikan setelah sumpah dilanggar. Sebagian ulama juga membolehkan kafarat dibayarkan sebelum melanggar sumpah, jika seseorang telah yakin tidak mampu menepatinya dan memilih jalan yang lebih baik. Hal ini selaras dengan hadits Rasulullah ? yang menganjurkan memilih kebaikan dan membayar kafarat sumpah. Namun demikian, yang lebih utama adalah segera menunaikan kafarat tanpa menunda-nunda, agar tidak terus menanggung kewajiban dan dosa yang belum tertunaikan. Kafarat Sumpah sebagai Bentuk Taubat Membayar kafarat sumpah seharusnya disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT. Taubat dilakukan dengan menyesali perbuatan, memohon ampun, dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dengan demikian, kafarat tidak hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi juga sarana pembersihan hati dan perbaikan diri. Islam mengajarkan agar seorang muslim lebih berhati-hati dalam menjaga lisan. Rasulullah? bersabda bahwa keselamatan seseorang sangat ditentukan oleh bagaimana ia menjaga ucapannya. Oleh karena itu, sumpah tidak seharusnya diucapkan secara sembarangan. Hikmah dan Manfaat Kafarat Sumpah Kafarat sumpah bukan sekedar penghapus dosa, namun juga mempunyai banyak nilai positif, seperti: Melatih tanggung jawab atas ucapan Menumbuhkan ???????? sosial Membantu fakir miskin dan dhuafa Menjaga kehormatan sumpah atas nama Allah Dengan kafarat, kesalahan pribadi berubah menjadi amal kebaikan yang bermanfaat bagi sesama. Pentingnya Menunaikan Kafarat Sumpah Tepat Waktu Menunda kafarat sumpah berarti menjamin kewajiban. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan segera menunaikannya setelah melanggar sumpah, disertai taubat dan tekad untuk lebih menjaga lisan di masa depan. 10. Kafarat Sumpah sebagai Wujud Kepedulian Sosial Selain sebagai bentuk penebusan kesalahan, kafarat sumpah juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Dengan memberi makan atau pakaian kepada orang miskin, seorang muslim tidak hanya membersihkan kesalahannya, tetapi juga ikut membantu meringankan beban sesamanya. Hal ini sejalan dengan tujuan syariat Islam yang mendorong terciptanya keadilan, kepedulian, dan kesejahteraan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kafarat sumpah menjadi ibadah yang membawa manfaat pribadi sekaligus sosial. Tunaikan Kafarat Sumpah melalui BAZNAS Kota Sukabumi Di era digital, menunaikan kafarat sumpah kini semakin mudah dan aman melalui lembaga resmi dan terpercaya. BAZNAS Kota Sukabumi siap menyampaikan kafarat sumpah sesuai ketentuan syariat Islam dan tepat sasaran kepada mustahik. ???? Ayo tunaikan kafarat sumpah sekarang melalui BAZNAS Kota Sukabumi: Dengan menunaikan kafarat sumpah, kita tidak hanya memaafkan kesalahan, tetapi juga membuka pintu keberkahan dan kebaikan bagi banyak orang. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua. Aamiin???? Untuk membaca artikel lainnya klink link di bawah ini : Memahami Arti Kafarat dan Cara Membayarnya https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bayar-kafarat https://baznas.go.id/artikel-show/Mengenal-Arti-Kafarat/232
ARTIKEL11/02/2026 | BAZNAS
Masih Bingung Tentang Kafarat Puasa? Ini Penjelasan Lengkap dan Solusinya
Masih Bingung Tentang Kafarat Puasa? Ini Penjelasan Lengkap dan Solusinya
Pengertian Kafarat Puasa Masih banyak umat Muslim yang merasa bingung ketika mendengar istilah kafarat puasa. Kebingungan ini wajar, karena kafarat hanya berlaku pada kondisi tertentu dan tidak semua pembatal puasa mewajibkannya. Secara sederhana, kafarat puasa adalah bentuk tebusan atau denda yang diwajibkan bagi seseorang yang melanggar aturan puasa Ramadan secara sengaja dan berat. Dalam kajian fikih Islam, kafarat berfungsi sebagai penebus kesalahan sekaligus bentuk tanggung jawab ibadah atas pelanggaran yang dilakukan. Kafarat bukan sekadar hukuman, melainkan solusi syariat agar seorang Muslim dapat memperbaiki kesalahannya, membersihkan dosa, dan kembali menjalankan ibadah dengan tenang dan penuh kesadaran. Kafarat puasa hanya diwajibkan dalam kasus tertentu, yaitu ketika seseorang membatalkan puasa Ramadan dengan sengaja melalui hubungan suami istri di siang hari, tanpa adanya uzur syar’i. Sementara itu, pembatal puasa lain seperti makan atau minum dengan sengaja tetap merupakan dosa dan wajib mengganti puasa (qadha), namun tidak sampai mewajibkan kafarat. Dengan memahami pengertian kafarat puasa secara benar, umat Islam diharapkan tidak lagi bingung membedakan antara qadha, fidyah, dan kafarat, serta mampu mengambil solusi yang tepat sesuai tuntunan syariat Islam. Solusi Kafarat Puasa: Langkah Lengkap Sesuai Syariat Islam Setelah memahami pengertian dan penyebab wajibnya kafarat puasa, pertanyaan yang sering muncul adalah: apa solusi terbaik untuk menunaikan kafarat puasa secara benar, sah, dan tidak memberatkan? Islam sebagai agama yang penuh rahmat telah memberikan solusi yang jelas, terukur, dan realistis sesuai dengan kemampuan setiap Muslim. 1. Menyadari Kesalahan dan Bertaubat dengan Sungguh-sungguh Solusi pertama dan paling utama dalam menghadapi kewajiban kafarat puasa adalah taubat nasuha. Pelanggaran puasa Ramadan bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi berkaitan langsung dengan kehormatan ibadah wajib. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu: Menyesali perbuatan yang telah dilakukan Berjanji dalam hati untuk tidak mengulanginya Memohon ampunan kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran Taubat menjadi fondasi penting agar kafarat yang ditunaikan tidak hanya menggugurkan kewajiban hukum, tetapi juga membawa ketenangan batin dan perbaikan spiritual. 2. Mengganti Puasa (Qadha) yang Telah Dibatalkan Selain kafarat, seseorang yang membatalkan puasa Ramadan secara sengaja juga wajib mengganti puasa (qadha) di hari lain setelah Ramadan. Qadha puasa tidak dapat digantikan dengan sedekah atau bentuk ibadah lain, karena merupakan kewajiban pribadi yang harus ditunaikan sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Dengan menunaikan qadha, seorang Muslim menunjukkan kesungguhan dalam menjaga kewajiban ibadah yang telah ditetapkan Allah SWT. 3. Menunaikan Kafarat Sesuai Urutan yang Ditentukan Syariat Islam menetapkan kafarat puasa secara bertahap dan berurutan sesuai kemampuan, sebagai solusi yang adil dan manusiawi: Memerdekakan seorang budak, jika mampu (sudah tidak relevan di masa kini). Jika tidak mampu, maka berpuasa selama dua bulan berturut-turut tanpa terputus. Jika benar-benar tidak mampu menjalankan puasa dua bulan berturut-turut karena kondisi fisik, usia, atau alasan syar’i lainnya, maka solusi terakhir adalah memberi makan 60 orang miskin. Urutan ini tidak boleh dibolak-balik. Seorang Muslim baru boleh memilih solusi berikutnya jika benar-benar tidak mampu melaksanakan solusi sebelumnya. 4. Memberi Makan 60 Orang Miskin sebagai Solusi Paling Realistis Di masa sekarang, solusi memberi makan 60 orang miskin menjadi pilihan yang paling memungkinkan dan berdampak luas. Bentuknya dapat berupa: Makanan siap santap yang mengenyangkan Paket sembako setara satu porsi makan layak per orang Bantuan pangan yang sesuai standar konsumsi masyarakat setempat Solusi ini tidak hanya menyelesaikan kewajiban kafarat, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang nyata bagi kaum dhuafa. 5. Menyalurkan Kafarat Melalui Lembaga Resmi dan Amanah Agar kafarat puasa benar-benar sampai kepada yang berhak dan sesuai ketentuan syariat, menyalurkannya melalui lembaga resmi adalah solusi yang bijak. Lembaga resmi memiliki sistem pendataan mustahik, pengelolaan dana, serta mekanisme penyaluran yang transparan dan akuntabel. Di wilayah Sukabumi, BAZNAS Kota Sukabumi menjadi solusi terpercaya bagi masyarakat yang ingin menunaikan kafarat puasa dengan aman, mudah, dan sesuai syariat Islam. Melalui BAZNAS, kafarat disalurkan tepat sasaran kepada fakir miskin yang membutuhkan, sekaligus mendukung program sosial dan pemberdayaan umat. 6. Menjadikan Kafarat sebagai Momentum Perbaikan Diri Solusi kafarat puasa tidak berhenti pada penunaian kewajiban semata. Lebih dari itu, kafarat seharusnya menjadi titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan kehati-hatian dalam menjalankan puasa, serta memperkuat komitmen spiritual di bulan Ramadan dan seterusnya. Dengan pemahaman yang benar dan solusi yang tepat, kafarat puasa tidak lagi menjadi beban, melainkan jalan untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperluas manfaat bagi sesama. Salurkan kafarat Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan Ramadan lebih berkah. untuk baca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: /https://baznaskotasukabumi.com/menangis-membatalkan-puasa-2/ https://baznas.go.id/artikel-show/Mengenal-Arti-Kafarat/232
ARTIKEL10/02/2026 | BAZNAS
Kajian Kafarat Puasa Ramadan: Hukum, Bentuk, dan Implementasinya
Kajian Kafarat Puasa Ramadan: Hukum, Bentuk, dan Implementasinya
Kajian Kafarat Puasa Ramadan: Hukum, Bentuk, dan Implementasinya Kafarat di Bulan Puasa: Pengertian, Hukum, Jenis, dan Cara Menunaikannya Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Pada bulan inilah umat Islam diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menjaga kesucian dan kehormatan puasa menjadi kewajiban setiap muslim. Namun, Islam juga memberikan ketentuan khusus bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat dalam puasa Ramadan, yaitu melalui kewajiban kafarat. Pengertian Kafarat Puasa Kafarat di bulan puasa adalah denda atau tebusan yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim karena melakukan pelanggaran berat yang membatalkan puasa Ramadan dengan sengaja. Kafarat bertujuan sebagai bentuk penebusan dosa sekaligus pendidikan spiritual agar umat Islam lebih menjaga kesucian ibadah puasa. Dengan adanya kafarat, seorang muslim diajarkan untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat kepada Allah SWT. Dasar Hukum Kafarat di Bulan Ramadan Kafarat puasa memiliki dasar hukum yang kuat dalam hadis Nabi Muhammad ?. Diriwayatkan bahwa seorang sahabat datang mengadu kepada Rasulullah ? karena telah melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan. Rasulullah ? kemudian menjelaskan kewajiban kafarat yang harus ditunaikan sebagai bentuk taubat dan tanggung jawab atas pelanggaran tersebut. Hadis ini menjadi rujukan utama para ulama dalam menetapkan hukum kafarat puasa Ramadan hingga saat ini. Penyebab Wajib Kafarat Puasa Seseorang diwajibkan membayar kafarat apabila dengan sengaja melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan. Mayoritas ulama sepakat bahwa pelanggaran ini mewajibkan kafarat besar (kafarat kubra). Sementara itu, pelanggaran lain seperti makan atau minum dengan sengaja tetap membatalkan puasa dan berdosa, namun hanya diwajibkan mengganti puasa (qadha) tanpa kafarat menurut pendapat jumhur ulama. Hal ini menunjukkan bahwa kafarat hanya dikenakan pada pelanggaran tertentu yang dianggap paling berat. Jenis dan Urutan Kafarat Puasa Kafarat puasa Ramadan wajib ditunaikan secara berurutan sesuai kemampuan pelakunya. Urutan tersebut tidak boleh dilompati tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat, yaitu: Memerdekakan seorang budak, jika memungkinkan. Ketentuan ini berlaku pada masa ketika perbudakan masih ada. Berpuasa selama dua bulan berturut-turut tanpa terputus. Jika puasa terputus tanpa alasan syar’i, maka harus mengulang dari awal. Memberi makan enam puluh orang miskin, bagi yang tidak mampu menjalankan puasa dua bulan berturut-turut. Urutan ini menunjukkan bahwa Islam memberikan keringanan sesuai kemampuan, namun tetap menekankan kesungguhan dalam menunaikan kafarat. Hikmah dan Manfaat Kafarat Puasa Penerapan kafarat puasa mengandung hikmah yang sangat besar. Dari sisi spiritual, kafarat melatih kejujuran, kedisiplinan, dan kesungguhan dalam bertaubat kepada Allah SWT. Dari sisi sosial, kafarat menumbuhkan rasa kepedulian terhadap fakir miskin dan memperkuat solidaritas antarumat Islam. Dengan demikian, kafarat tidak hanya menebus kesalahan pribadi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Perbedaan Kafarat dan Fidyah Puasa Kafarat berbeda dengan fidyah. Kafarat dikenakan karena pelanggaran berat puasa Ramadan, sedangkan fidyah diberikan oleh orang yang tidak mampu berpuasa secara permanen, seperti lansia atau penderita penyakit kronis. Fidyah biasanya berupa pemberian makan kepada orang miskin sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Memahami perbedaan ini penting agar umat Islam tidak keliru dalam menjalankan kewajiban syariat. Cara Menunaikan Kafarat Melalui Lembaga Resmi Agar penyaluran kafarat tepat sasaran dan sesuai syariat, umat Islam dianjurkan menunaikannya melalui lembaga amil zakat resmi. Di Kota Sukabumi, masyarakat dapat menyalurkan kafarat melalui BAZNAS Kota Sukabumi yang terpercaya dan amanah dalam mengelola dana umat. Melalui lembaga resmi, kafarat dapat disalurkan secara profesional kepada fakir miskin yang benar-benar berhak menerimanya. Menunaikan kafarat melalui BAZNAS tidak hanya membantu menyempurnakan ibadah, tetapi juga mendukung program sosial dan pemberdayaan umat yang berkelanjutan. Ayo Tunaikan Kafarat Puasa Anda Sekarang Mari sempurnakan taubat dan ibadah Ramadan Anda dengan menunaikan kafarat puasa melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap kafarat yang Anda tunaikan akan disalurkan kepada fakir miskin yang berhak dan membutuhkan. ? Salurkan kafarat Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan Ramadan lebih berkah, penuh makna, dan bernilai ibadah. Untuk membaca artikel lainnya klil link di bawah ini: Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap http://absleman.baznas.go.id/artikel/show/kafarat-dalam-islam-pengertian-dalil-dan-cara-menunaikannya/37673
ARTIKEL10/02/2026 | BAZNAS
Masih Bingung Tentang Kafarat Puasa? Ini Penjelasan Lengkap dan Solusinya
Masih Bingung Tentang Kafarat Puasa? Ini Penjelasan Lengkap dan Solusinya
Meningkatkan Kesadaran tentang Manfaat Zakat bagi Kesejahteraan Umat Zakat merupakan salah satu pilar utama dalam ajaran Islam yang memiliki peran strategis dalam membangun kesejahteraan sosial dan ekonomi umat. Namun, hingga saat ini, kesadaran masyarakat tentang manfaat zakat masih perlu terus ditingkatkan. Banyak umat Muslim yang menunaikan zakat sebatas menggugurkan kewajiban, tanpa memahami dampak besar zakat jika dikelola dan disalurkan secara optimal melalui lembaga resmi. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesadaran tentang manfaat zakat menjadi sangat penting, khususnya dalam konteks pembangunan masyarakat yang berkeadilan. Pengertian dan Kedudukan Zakat dalam Islam Secara bahasa, zakat berarti bersih, suci, dan berkembang. Secara istilah, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim yang telah memenuhi syarat dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahik). Zakat tidak hanya berfungsi sebagai ibadah individual, tetapi juga sebagai instrumen sosial yang memiliki dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Dalam Al-Qur’an, perintah zakat seringkali disandingkan dengan perintah salat. Hal ini menunjukkan bahwa zakat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam, baik dari aspek spiritual maupun sosial. Zakat memiliki peran penting dalam membangun kesejahteraan umat dan memperkuat solidaritas sosial. Melalui zakat, harta tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga solusi nyata dalam mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dana zakat yang dikelola secara profesional dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Selain itu, zakat produktif mampu mendorong kemandirian ekonomi mustahik melalui pemberian modal usaha, pelatihan keterampilan, serta pendampingan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang amanah dan transparan, zakat dapat menciptakan pemerataan ekonomi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, serta memperkuat ketahanan sosial dalam jangka panjang. Manfaat Zakat bagi Individu Bagi individu (muzaki), zakat memberikan manfaat yang sangat besar. Dari sisi spiritual, zakat membersihkan harta dan jiwa dari sifat kikir serta menumbuhkan keikhlasan dan rasa syukur. Harta yang dizakati diyakini menjadi lebih berkah dan membawa ketenangan batin bagi pemiliknya. Dari sisi sosial, zakat menumbuhkan kepedulian dan empati terhadap sesama. Seorang Muslim yang rutin berzakat akan lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitarnya, sehingga tercipta hubungan sosial yang harmonis dan saling menguatkan. Manfaat Zakat bagi Masyarakat Manfaat Zakat bagi Masyarakat: Solusi Nyata Mewujudkan Kesejahteraan Dampak Nyata Manfaat Zakat bagi Masyarakat dan Kehidupan Sosial Manfaat Zakat bagi Masyarakat dalam Mengurangi Kemiskina Mengungkap Manfaat Zakat bagi Masyarakat Secara Sosial dan Ekonom Manfaat Zakat bagi Masyarakat: Pilar Keadilan dan Kepedulian Sosial Zakat memiliki peran penting dalam mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial. Dana zakat yang dikelola secara profesional dapat disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar mustahik, seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan. Lebih dari itu, zakat juga dapat dikembangkan dalam bentuk zakat produktif yang bertujuan memberdayakan ekonomi masyarakat. Melalui program pemberdayaan, mustahik tidak hanya menerima bantuan sementara, tetapi juga mendapatkan modal usaha, pelatihan keterampilan, dan pendampingan agar mampu mandiri secara ekonomi. Dengan demikian, zakat berkontribusi langsung dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berdaya. Pentingnya Meningkatkan Kesadaran Zakat Rendahnya literasi zakat menjadi salah satu tantangan utama dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Banyak masyarakat yang belum memahami jenis-jenis zakat, perhitungan zakat, serta pentingnya menyalurkan zakat melalui lembaga resmi. Padahal, pengelolaan zakat yang terorganisir akan memastikan penyaluran yang tepat sasaran, transparan, dan berkelanjutan. Peningkatan kesadaran zakat dapat dilakukan melalui edukasi berkelanjutan, dakwah, pemanfaatan media digital, serta keterlibatan aktif lembaga zakat dalam menyampaikan laporan dan dampak program kepada masyarakat. Peran BAZNAS dalam Pengelolaan Zakat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), termasuk BAZNAS Kota Sukabumi, memiliki peran strategis dalam menghimpun dan mengelola zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan amanah. Melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, BAZNAS berupaya menjadikan zakat sebagai solusi nyata bagi permasalahan umat. Dengan menyalurkan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi, masyarakat tidak hanya menunaikan kewajiban agama, tetapi juga turut berkontribusi dalam pembangunan dan kesejahteraan masyarakat lokal secara berkelanjutan. Ayo Tunaikan Zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi Meningkatkan kesadaran tentang manfaat zakat adalah langkah awal menuju perubahan besar. Zakat yang ditunaikan dengan benar dan disalurkan melalui lembaga terpercaya akan memberikan dampak nyata bagi kehidupan banyak orang. Mari bersama-sama wujudkan Kota Sukabumi yang lebih sejahtera dan berkeadilan dengan menunaikan zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap zakat yang Anda keluarkan adalah harapan baru bagi mereka yang membutuhkan dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Salurkan zakat Anda melalui BAZNAS kota sukabumi dan jadikan Ramadhan lebih berkah untuk baca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://kotasukabumi.baznas.go.id/berita/news-show/zakat--kunci-merdeka-dari-belenggu-kemiskinan/27423 https://kotasukabumi.baznas.go.id/sedekah https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-subur-34-sedekah-subuh-berkah-makmur
ARTIKEL10/02/2026 | BAZNAS
Fidyah dalam Islam: Pengertian, Hukum, Besaran, dan Cara Menunaikannya Melalui BAZNAS Kota Sukabumi
Fidyah dalam Islam: Pengertian, Hukum, Besaran, dan Cara Menunaikannya Melalui BAZNAS Kota Sukabumi
Fidyah dalam Islam: Pengertian, Hukum, Besaran, dan Cara Menunaikannya Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Fidyah merupakan salah satu bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan Allah SWT kepada umat Islam yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa Ramadhan karena kondisi tertentu. Islam sebagai agama yang penuh rahmat tidak memaksakan kewajiban di luar kemampuan hamba-Nya, namun tetap memberikan solusi agar tanggung jawab ibadah dapat ditunaikan dengan cara yang sesuai syariat. Salah satu solusi tersebut adalah fidyah. Secara bahasa, fidyah berasal dari kata fadaa yang berarti tebusan. Sedangkan secara istilah, kewajiban fidyah adalah memberikan makanan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan dan tidak mampu untuk diqadha. Fidyah berbeda dengan qadha puasa, karena fidyah dikenakan kepada orang yang tidak memiliki kemampuan atau harapan untuk berpuasa kembali di masa mendatang. Dasar hukum fidyah terdapat dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 184, yang menjelaskan bahwa bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa, maka wajib membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin. Ayat ini menjadi landasan bahwa fidyah adalah kewajiban syar'i, bukan sekedar pilihan atau sedekah biasa. Dengan demikian, fidyah memiliki kedudukan penting dalam pelaksanaan ibadah puasa. Adapun golongan yang wajib membayar fidyah antara lain orang tua lanjut usia yang sudah tidak mampu berpuasa secara permanen, orang yang menderita sakit kronis dan tidak ada harapan sembuh menurut keterangan medis, serta ibu hamil dan ibu menyusui yang khawatir akan keselamatan dirinya atau bayinya menurut pendapat sebagian ulama. Selain itu, seseorang yang mengadakan puasa qadha hingga datang Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar'i juga diwajibkan membayar fidyah sebagai bentuk tanggung jawab tambahan atas kelalaiannya. Bentuk fidyah yang dikeluarkan adalah makanan pokok yang biasa dikonsumsi di daerah setempat. Di Indonesia, fidyah umumnya berupa beras. Besaran fidyah yang harus dipenuhi adalah satu lumpur atau sekitar 0,6 hingga 0,75 kilogram beras untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Selain beras mentah, fidyah juga dapat diberikan dalam bentuk makanan siap santap kepada fakir miskin. Dalam praktik saat ini, sebagian ulama mebolehkan fidyah menjual dalam bentuk uang, dengan catatan nilainya setara dengan harga makanan pokok dan benar-benar disalurkan kepada yang berhak. Waktu pembayaran fidyah dapat dilakukan selama bulan Ramadhan atau setelahnya. Bahkan, fidyah bisa menyelesaikan sekaligus sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkan. Meski demikian, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda pembayaran fidyah agar kewajiban tersebut segera tertunaikan dan manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh fakir miskin. Penyaluran fidyah secara tepat dan amanah menjadi hal yang sangat penting. Oleh karena itu, menunaikan fidyah melalui lembaga resmi dan terpercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi merupakan pilihan yang bijak. Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah, BAZNAS Kota Sukabumi memastikan fidyah yang diterima disalurkan kepada mustahik yang benar-benar membutuhkan sesuai ketentuan syariat Islam. BAZNAS Kota Sukabumi juga mengelola fidyah secara profesional, transparan, dan akuntabel. Fidyah yang dititipkan akan disalurkan dalam bentuk bantuan pangan kepada fakir miskin, dhuafa, dan masyarakat rentan. Dengan sistem pengelolaan yang tertib dan terencana, fidyah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah individu, tetapi juga berperan dalam memperkuat solidaritas sosial dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, menunaikan fidyah melalui BAZNAS Kota Sukabumi juga mendukung program-program sosial kemanusiaan yang berkelanjutan. Setiap fidyah yang disalurkan menjadi bagian dari upaya kolektif dalam mengentaskan kemiskinan dan menghadirkan keadilan sosial di tengah masyarakat Kota Sukabumi. Mari tunaikan fidyah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kepedulian terhadap sesama. Dengan menyebarkan fidyah melalui lembaga resmi dan terpercaya, ibadah menjadi lebih tenang, tepat sasaran, dan penuh keberkahan. Bersama BAZNAS Kota Sukabumi, wujudkan fidyah yang bermanfaat dan berdampak nyata bagi umat. Salurkan kafarat Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadikan Ramadhan lebih berkah, penuh makna, dan bernilai ibadah. Untuk membaca artikel lainnya klink link di bawah ini : Tata Cara Melaksanakan Fidyah sesuai dengan Syariat Islam https://baznaskotasukabumi.com/tentang-fidyah-2/ https://baznaskotasukabumi.com/tata-cara-melaksanakan-fidyah/
ARTIKEL10/02/2026 | BAZNAS
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui
Menangis Bisa Membatalkan Puasa? : Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui
Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Simak penjelasan lengkap berdasarkan hukum Islam, pendapat ulama, serta mitos dan fakta agar tidak salah paham saat berpuasa. Menangis Membatalkan Puasa? Fakta Penting dan Penjelasan Ulama Emosi yang diekspresikan ketika sedih umumnya adalah menangis. Namun jika menangis saat puasa apakah akan membatalkan puasa? Karena saat berpuasa kita diharapkan dapat menahan diri dari emosi. Bahkan saat kecil, sering kita mendengar orang tua berkata kepada anaknya untuk jangan menangis agar puasa tidak batal. Sebelumnya, kamu tentu tahu beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum disengaja, berhubungan intim dengan sengaja, memasukkan sesuatu ke dalam lubang di tubuh, dan lain sebagainya yang bisa dibaca selengkpanya disini Jadi, apakah menangis bisa membatalkan puasa, mari simak mitos dan fakta yang perlu diketahui dalam artikel ini Apakah Menangis Membatalkan Puasa? [caption id="attachment_2652" align="alignnone" width="443"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Dilansir dari laman NU Online, menangis tidak membatalkan puasa sebab bukan termasuk dari memasukkan sesuatu sampai rongga bagian dalam tubuh (jauf). Dari suatu hadits riwayat Muslim diketahui bahwa Abu Bakar As Shiddiq sering menangis ketika sholat atau membaca Alquran. Walaupun tidak dijelaskan secara detail menangis dapat membuat puasa batal atau tidak, tetapi bukan hal yang mustahil jika beliau pernah menangis saat puasa. Ketika seseorang menangis, tidak terdapat sesuatu yang masuk ke dalam mata menuju arah tenggorokan. Hal ini ditegaskan dalam kitab Rawdah at Thalibin berikut: Artinya: "Cabang permasalahan. Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik ditemukan dalam tenggorokannya dari celak tersebut suatu rasa atau tidak. Sebab mata tidak termasuk jauf (bagian dalam) dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan" (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222). Tetapi, jika air mata dari tangisan seseorang tercampur dengan air liur dan kemudian tertelan ke dalam tenggorokan, hal tersebut dapat membatalkan puasa karena terjadinya penelanan air mata. Hal tersebut karena menangis tidak termasuk dalam salah satu dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa. Meski demikian, umat muslim tidak dianjurkan untuk menangis. Ibadah puasa hendaknya dijalankan dengan penuh suka cita, fokus memperbanyak ibadah, dan mengharapkan rida dari Allah Swt. Sementara itu, ada banyak ulama yang mengatakan bahwa menangis tidak membuat puasa batal kecuali mereka menelan air mata yang jatuh dengan sengaja. Seperti yang disampaikan oleh Husein Ja'far Al Hadar pada suatu konten di Youtube. “Tidak, nangis nggak membatalkan puasa yang membatalkan puasa itu masuknya makanan dan minuman ke dalam lubang di tubuh kita. Kalau ini kan bukan lobang dan malah keluar air mata. Mungkin orang tua zaman dulu mendidik biar ga cengeng jadi bilangnya jangan nangis nanti batal tapi ga kreatif masa sampai bohong untuk ngajarin anak-anak.” Jadi, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa pandangan umum yang menyatakan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru. Secara faktual, menangis tidak akan mengakibatkan pembatalan puasa kecuali jika air mata tersebut sengaja ditelan. Semoga penjelasan ini dapat memberikan jawaban terkait apakah menangis membatalkan puasa Dalil dan Penjelasan Ulama Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dikenal sering menangis ketika shalat dan membaca Al-Qur’an. Tidak ada keterangan bahwa tangisan beliau membatalkan ibadah puasanya. Hal ini menunjukkan bahwa menangis bukan perkara yang membatalkan puasa. Imam An-Nawawi dalam kitab Rawdah at-Thalibin menjelaskan: “Tidak dipermasalahkan bagi orang yang berpuasa untuk bercelak, baik terasa di tenggorokan atau tidak. Sebab mata bukan termasuk jauf dan tidak ada jalan dari mata menuju tenggorokan.”(Rawdah at-Thalibin, Juz 3, Hal. 222) Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa air mata yang keluar dari mata tidak membatalkan puasa, karena mata bukan jalan masuk menuju rongga dalam tubuh. Kapan Menangis Bisa Membatalkan Puasa? Walaupun menangis tidak membatalkan puasa, ada satu kondisi yang perlu diperhatikan. Jika air mata bercampur dengan air liur lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut bisa membatalkan puasa karena ada cairan yang masuk ke tenggorokan dengan kesengajaan. Namun, hal ini jarang terjadi dan tidak termasuk kondisi umum ketika seseorang menangis secara spontan karena sedih, terharu, atau takut kepada Allah SWT. Mitos Menangis Saat Puasa Masih banyak orang yang percaya bahwa menangis saat puasa bisa membatalkan puasa. Mitos ini kemungkinan berasal dari cara orang tua mendidik anak agar lebih kuat dan tidak cengeng. Pendakwah Husein Ja’far Al-Hadar pernah menjelaskan bahwa menangis tidak membatalkan puasa kecuali jika disertai dengan menelan air mata secara sengaja. Pernyataan ini memperkuat pandangan mayoritas ulama. Etika Menjaga Emosi Saat Puasa Meskipun tidak membatalkan puasa, umat Islam tetap dianjurkan untuk menjaga emosi. Puasa adalah sarana melatih kesabaran dan ketenangan jiwa. Menangis karena takut kepada Allah, tersentuh ayat Al-Qur’an, atau penyesalan atas dosa justru bernilai ibadah. Namun, menangis berlebihan karena emosi negatif sebaiknya dihindari agar puasa dijalani dengan hati lapang dan penuh harapan akan ridha Allah SWT. Kesimpulan Jawaban atas pertanyaan apakah menangis membatalkan puasa adalah tidak. Menangis tidak membatalkan puasa selama tidak ada air mata yang sengaja ditelan. Pandangan yang menyebutkan bahwa menangis bisa membatalkan puasa adalah keliru dan tidak memiliki dasar fiqih yang kuat. Dengan memahami hal ini, umat Islam tidak perlu ragu atau khawatir jika menangis saat berpuasa, terutama karena dorongan iman atau perasaan yang tidak disengaja. Semoga penjelasan ini meluruskan pemahaman dan menambah ketenangan dalam menjalankan ibadah puasa Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"] baznas kota sukabumi[/caption] Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261). Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Ketika Tubuh Berbicara: Pentingnya Menjaga Kesehatan sebagai Amanah dalam Islam
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap
Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap
Mimpi Basah Saat Puasa sering menimbulkan pertanyaan. Simak fakta, mitos, hukum Islam, dan penjelasan ilmiah lengkap agar tidak salah paham saat berpuasa. Mimpi Basah Saat Puasa: Fakta Penting, Mitos, dan Penjelasan Ilmiah Lengkap [caption id="attachment_2650" align="alignnone" width="438"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa ilmiah yang terjadi pada setiap laki-laki sebagai tanda kedewasaan. Biasanya mimpi basah terjadi ketika kantung sperma telah penuh dan akhirnya keluar saat sedang tidur karena sudah tidak bisa menampung lagi. Dalam islam, ketika ada seorang laki-laki mengalami mimpi basah maka dia diwajibkan untuk melaksanakan mandi wajib karena ketika mengalami mimpi basah dia dalam keadaan junub (mengeluarkan air mani) menjadikan dia tidak dalam keadaan suci. Namun terkadang timbul pertanyaan, ketika seorang laki-laki mengalami mimpi basah saat berpuasa apakah puasanya batal? Karena keluarnya air mani merupakan salah satu hal yang dapat membatalkan puasa. Di artikel ini, akan dibahas semua hal terkait mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Mitos Mimpi Basah [caption id="attachment_2616" align="alignnone" width="258"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Hal pertama yang akan dibahas terkait mimpi basah adalah mitosnya. Ada beberapa mitos yang muncul ketika berbicara tentang mimpi basah, dan tentu saja mitos-mitos dibawah ini tidak benar adanya karena tidak terbukti secara ilmiah. Beberapa mitos tersebut antara lain:1.Dapat mengurangi produksi spermaMuncul suatu keyakinan pada orang-orang bahwa ketika seorang pria terlalu sering mengalami mimpi basah, maka sperma yang dihasilkan akan semakin berkurang. Ini merupakan anggapan yang salah besar karena mimpi basah merupakan cara testikel untuk mengeluarkan sperma lama, dan menggantinya dengan sperma baru yang lebih sehat. 2. Dapat mengurangi sistem imunAda beberapa orang yang meyakini bahwa mimpi basah dapat membuat sistem imun seseorang menurun sehingga lebih rentan terkena penyakit seperti flu, ataupun penyakit lainnya. Padahal hal ini hanyalah mitos yang tidak pernah terbukti secara ilmiah kebenarannya.3. Membatalkan puasaMitos terakhir yang muncul dari mimpi basah adalah mimpi basah dapat membatalkan puasa. Banyak orang beranggapan seperti itu karena ketika mengalami mimpi basah, seorang pria akan mengeluarkan sperma dari kelamin nya dan keluarnya sperma atau air mani merupakan salah satu hal yang membatalkan puasa. Padahal, ketika seorang pria mengalami mimpi basah saat puasa, puasa yang dilakukannya tetap sah dan dia dapat melanjutkan puasanya karena keluarnya sperma disebabkan mimpi basah merupakan hal yang tidak disengaja, bukan hal yang disengaja sehingga puasa yang dilakukannya tetap sah.Fakta Mimpi BasahSetalah mengetahui mitos mimpi basah, kita juga harus mengetahui apa saja fakta tentang mimpi basah. Karena ternyata, ada beberapa fakta menarik yang perlu dan penting untuk kita ketahui tentang mimpi basah: 1. Mimpi basah tidak selalu terjadi karena mimpi erotis Menurut penelitian, hanya sebagian kecil atau sekitar empat persen saja mimpi basah yang terjadi karena mimpi erotis. Beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya mimpi basah selain karena mimpi erotis antara lain karena alat kelamin yang tidak sengaja bergesekan dengan seprai, selimut, atau guling saat tidur sehingga alat kelamin pun terangsang dan menyebabkan keluarnya sperma dari alat kelamin. 2. Mimpi basah bukan tanda penyakit Terjadinya mimpi basah bukanlah sebuah kelainan atau tanda penyakit, tapi mimpi basah merupakan kondisi normal yang dialami oleh seseorang dan bisa jadi merupakan tanda fungsi seksual yang masih sehat. 3. Tidak membatalkan puasa Seperti yang sudah dijelaskan diatas, mimpi basah saat puasa merupakan hal yang tidak membatalkan puasa. Karena mimpi basah merupakan suatu hal yang tidak disengaja sehingga ketika seorang pria mengalami mimpi basah, dia dapat tetap melanjutkan puasanya sampai akhir. Namun, seperti hukum yang berlaku dalam islam, seseorang yang mengalami mimpi basah tetap diwajibkan untuk melakukan mandi wajib untuk mensucikan tubuh mereka walaupun ketika sedang berpuasa sehingga mereka bisa tetap menjalankan ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, membaca al-quran, dsb.Dilansir dari islam.nu.or.id, Al-Khatib As-Syirbini dalam kitab Mughnil Muhtaj menjelaskan, yang artinya:“Dan wajib (menahan diri) dari onani, jika orang puasa melakukannya maka batal puasanya. Hal yang sama jika mani keluar akibat menyentuh, mencium, dan tidur bersamaan (dengan adanya sentuhan). Adapun hanya sebatas berpikir atau melihat dengan gairah maka (hukumnya) serupa dengan mimpi basah, (yaitu tidak membatalkan puasa).”(Al-Khatib As-Syirbini, Mughnil Muhtaj, , jilid I, halaman 630). Penjelasan Ilmiah Mimpi basah merupakan salah satu peristiwa alamiah yang terjadi kepada setiap orang, sehingga ada penjelasan ilmiah dibalik terjadinya mimpi basah. Jadi, mimpi basah terjadi ketika tubuh memproduksi lebih banyak hormon testosteron (hormon yang memproduksi cairan sperma) dan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi dan menampung sperma maka tubuh perlu untuk mengeluarkan nya sehingga terjadilah mimpi basah sebagai salah satu bentuk tubuh untuk mengeluarkan sperma tersebut.Dengan dikeluarkannya sperma yang lama tersebut, maka tubuh akan memproduksi sperma baru yang lebih sehat sebagai pengganti sperma lama yang sudah dikeluarkan.Frekuensi mimpi basah pada masing-masing individu berbeda satu sama lain tergantung pada hormon testosteron yang dimiliki masing-masing individu. Selain itu, frekuensi terjadinya mimpi basah juga bergantung pada usia. Biasanya, pria dengan usia produktif dari rentang usia remaja sampai usia 30-an lebih sering mengalami mimpi basah daripada pria berusia lanjut. Frekuensi terjadinya mimpi basah pada kebanyakan pria tidak bisa ditentukan waktu pastinya, tapi kebanyakan mimpi basah terjadi satu kali setiap 3-5 minggu, mirip dengan siklus menstruasi pada wanita.Sebagai salah satu hal alamiah dan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya, maka terjadinya mimpi basah merupakan hal yang wajar dan perlu disyukuri oleh setiap manusia karena dibalik hal tersebut, tersimpan fakta dan manfaat bagi setiap hamba yang mengalami nya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menjawab semua hal tentang mimpi basah saat puasa: mitos, fakta, dan penjelasan ilmiah. Dan bagi kalian yang mengalami mimpi basah, jangan lupa untuk melaksanakan mandi wajib agar ibadah yang kalian lakukan sah dan tetap dihitung sebagai amal ibadah. Wallahu alam. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Menghidupkan Kembali Empati: Tantangan Akhlak di Era Modern dalam Pandangan Islam Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="477"] baznas kota sukabumi[/caption] Bersedekah atau menunaikan zakat tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menambah pahala dan keberkahan bagi diri sendiri. Sebagaimana firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261).
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap
Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap
Menelan Air Ludah Saat Puasa sering membuat ragu. Simak fakta penting, hukum menurut ulama, syarat sah puasa, dan penjelasan lengkapnya di sini. Menelan Air Ludah Saat Puasa: Fakta Penting, Hukum Ulama, dan Penjelasan Lengkap Menelan Air Ludah Saat Puasa sering kali menjadi pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, terutama saat bulan Ramadhan. Tidak sedikit orang yang merasa ragu dan khawatir puasanya batal hanya karena menelan ludahnya sendiri. Bahkan, ada yang memilih membuang ludah berulang kali saat berpuasa karena takut melanggar aturan puasa. Lantas, bagaimana sebenarnya hukum menelan air ludah saat berpuasa menurut Islam? Puasa memang dapat batal apabila seseorang dengan sengaja memasukkan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui rongga tertentu. Namun, air ludah atau air liur merupakan sesuatu yang secara alami diproduksi oleh tubuh dan sangat sulit dihindari. Oleh karena itu, para ulama memberikan penjelasan khusus terkait hukum menelan air ludah saat puasa. Hukum Menelan Air Ludah Saat Puasa Menurut Ulama [caption id="attachment_2634" align="alignnone" width="398"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Dalam buku “Hukum Menelan Air Ludah bagi Orang yang Berpuasa” karya Ahmad Mundzir, seorang pengajar Pondok Pesantren Raudhatul Quran An-Nasimiyyah Semarang, dijelaskan bahwa para ulama sepakat menelan air ludah tidak membatalkan puasa. Kesepakatan ini didasarkan pada kenyataan bahwa air liur merupakan bagian alami dari tubuh manusia dan sulit untuk dihindari keberadaannya. Penjelasan ini juga ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab (Juz 6, halaman 341). Beliau menyatakan: “Menelan air liur itu tidak membatalkan puasa sesuai kesepakatan para ulama. Hal ini berlaku jika orang yang berpuasa tersebut memang biasa mengeluarkan air liur. Sebab susahnya memproteksi air liur untuk masuk kembali.” Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa Islam adalah agama yang memberikan kemudahan dan tidak memberatkan umatnya dalam menjalankan ibadah. Syarat Menelan Air Ludah Agar Tidak Membatalkan Puasa Meski menelan air ludah saat puasa pada dasarnya tidak membatalkan puasa, para ulama memberikan beberapa syarat penting yang perlu diperhatikan agar puasa tetap sah. Air Ludah Tidak Tercampur Zat Lain: Air ludah yang ditelan harus murni, tidak tercampur dengan zat lain seperti darah akibat luka gusi, sisa makanan, atau minuman. Jika air ludah bercampur dengan zat lain lalu sengaja ditelan, maka hal tersebut berpotensi membatalkan puasa. Air Ludah Tidak Keluar Melewati Bibir: Air ludah yang masih berada di dalam rongga mulut dan belum melewati batas bibir luar boleh ditelan dan tidak membatalkan puasa. Namun, jika air ludah sudah keluar dari mulut lalu dikumpulkan kembali dan ditelan dengan sengaja, sebagian ulama berpendapat hal ini dapat membatalkan puasa. Tidak Sengaja Menampung Ludah Berlebihan: Jika seseorang dengan sengaja menampung air ludah dalam jumlah banyak lalu menelannya, terdapat perbedaan pendapat ulama. Pendapat yang masyhur menyebutkan bahwa selama perbuatan tersebut tidak disengaja dan tidak ada unsur rekayasa, maka puasanya tetap sah. Dengan memenuhi ketiga syarat tersebut, menelan air ludah saat puasa tidak perlu dikhawatirkan dan puasa tetap dianggap sah. Mengapa Tidak Perlu Berlebihan Membuang Ludah? Membuang ludah secara berlebihan justru dapat mengganggu kenyamanan dan kekhusyukan ibadah puasa. Islam mengajarkan keseimbangan dan kemudahan dalam beribadah. Selama tidak ada unsur kesengajaan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh, puasa tetap sah dan bernilai ibadah. Menyempurnakan Puasa dengan Sedekah Selain menjaga sah atau tidaknya puasa, umat Islam dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah Ramadhan dengan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya bersedekah. Sedekah dapat melipatgandakan pahala puasa dan membantu sesama yang membutuhkan. Bersedekah kini semakin mudah melalui BAZNAS Kota Sukabumi secara online. Sebagai lembaga pemerintah nonstruktural yang mengelola dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS), BAZNAS Provinsi Jawa Barat telah dipercaya masyarakat luas. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim
Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib diketahui setiap Muslim. Simak penjelasan lengkap 8 perkara pembatal puasa beserta dalil Al-Qur’an dan hadits. Hal-Hal yang Membatalkan Puasa: Panduan Lengkap dan Penting bagi Muslim [caption id="attachment_2640" align="alignnone" width="430"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Hal-Hal yang Membatalkan Puasa merupakan pengetahuan penting yang wajib dipahami setiap Muslim agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan sempurna. Puasa adalah salah satu ibadah utama dalam Islam dan termasuk ke dalam rukun Islam. Hukumnya ada yang wajib dan ada pula yang sunnah. Puasa yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang telah baligh dan berakal adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan dilaksanakan selama 29 atau 30 hari pada bulan Ramadhan dan perintahnya disebutkan secara tegas dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjelaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman. Oleh karena itu, memahami hal-hal yang membatalkan puasa menjadi sangat penting agar ibadah yang dilakukan tidak sia-sia. Foto Berikut ini 8 hal yang membatalkan puasa seseorang menurut Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama. 1. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Tubuh dengan Sengaja Makan dan minum dengan sengaja merupakan pembatal puasa yang paling jelas. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 187: “Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.” Namun, jika seseorang makan atau minum karena lupa, maka puasanya tetap sah dan boleh dilanjutkan. 2. Memasukkan Sesuatu ke Dalam Kubul atau Dubur Memasukkan sesuatu melalui kubul atau dubur, meskipun untuk pengobatan, dapat membatalkan puasa. Contohnya seperti pemasangan kateter urin, obat ambeien, atau cairan tertentu yang masuk ke dalam tubuh dan dianalogikan sebagai makan atau minum oleh sebagian ulama. 3. Muntah dengan Sengaja Muntah yang disengaja membatalkan puasa. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya mengqadha puasanya. Dan barang siapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha puasanya.”(HR. Abu Daud) Jika muntah terjadi tanpa disengaja, maka puasa tetap sah. 4. Melakukan Hubungan Suami Istri Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan termasuk pembatal puasa yang paling berat. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 187 yang menjelaskan bahwa hubungan suami istri hanya dihalalkan pada malam hari di bulan puasa. Bagi yang melanggarnya, wajib menunaikan kafarat berat, yaitu: Memerdekakan budak mukmin Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut Jika tidak mampu juga, memberi makan 60 fakir miskin 5. Keluar Air Mani dengan Sengaja Keluar air mani dengan sengaja, baik melalui onani atau bercumbu tanpa jima’, membatalkan puasa dan wajib mengqadha tanpa kafarat. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari: “Ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum, dan syahwat karena-Ku.” Namun, jika mani keluar tanpa disengaja seperti mimpi basah, maka tidak membatalkan puasa. 6. Haid dan Nifas Wanita yang mengalami haid atau nifas saat berpuasa, meskipun menjelang waktu berbuka, puasanya batal dan wajib menggantinya di hari lain. Rasulullah SAW bersabda: “Bukankah jika wanita haid, ia tidak shalat dan tidak berpuasa?” (HR. Bukhari) 7. Gila atau Hilang Akal Salah satu syarat wajib puasa adalah berakal sehat. Jika seseorang mengalami gila atau hilang akal, maka puasanya batal karena tidak terpenuhinya syarat sah puasa. 8. Keluar dari Islam (Murtad) Keluar dari Islam, baik melalui perkataan maupun perbuatan, otomatis membatalkan seluruh ibadah, termasuk puasa. Jika seseorang mengingkari keesaan Allah saat berpuasa, maka puasanya batal. Kesimpulan Hal-Hal yang Membatalkan Puasa wajib dipahami agar ibadah Ramadhan dijalankan dengan benar sesuai syariat Islam. Dengan memahami pembatal puasa, setiap Muslim dapat lebih berhati-hati dan menjaga kesucian ibadahnya. Semoga artikel ini dapat membantu Sahabat BAZNAS menjalankan puasa dengan ilmu dan kesadaran yang benar. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="503"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Perlu Nggak Sih Kita Jadi Muzakki? Banyak yang Belum Tahu
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya
Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya
Puasa Tanpa Sahur sering menjadi pertanyaan umat Muslim. Simak hukum sahur dalam Islam, dalil Al-Qur’an dan hadits, pendapat ulama, serta manfaat sahur. Puasa Tanpa Sahur: Panduan Lengkap Hukum, Dalil, dan Manfaatnya Puasa Tanpa Sahur sering menjadi topik yang dipertanyakan oleh umat Islam, terutama ketika seseorang tertidur dan terlewat waktu sahur atau karena kondisi tertentu yang membuatnya tidak sempat makan sahur. Puasa sendiri adalah ibadah menahan diri dari makan, minum, dan hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Biasanya, puasa diawali dengan makan sebelum terbit fajar yang dikenal dengan sahur. Namun, bagaimana hukum puasa tanpa sahur dalam Islam? Apakah sahur merupakan syarat sahnya puasa, ataukah hanya sekadar anjuran? Artikel ini akan mengupas secara lengkap hukum, dalil, pendapat ulama, serta manfaat sahur dalam Islam. Hukum Sahur dalam Islam [caption id="attachment_2646" align="alignnone" width="515"] Baznas Kota Sukabumi[/caption] Banyak umat Muslim bertanya, apakah puasa tanpa sahur diperbolehkan? Dalam Islam, sahur bukanlah syarat sah puasa, melainkan amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Artinya, puasa tetap sah meskipun seseorang tidak melaksanakan sahur. Rasulullah SAW bersabda: “Makan sahur itu mengandung berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air.”(HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) Hadits ini menunjukkan bahwa sahur memiliki keutamaan dan keberkahan, meskipun tidak diwajibkan. Oleh karena itu, puasa tanpa sahur tetap sah, tetapi sangat disayangkan jika seseorang meninggalkan sahur tanpa alasan. Allah SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam…”(QS. Al-Baqarah: 187) Ayat ini menunjukkan batas waktu makan sebelum puasa dimulai, namun tidak menjadikan sahur sebagai syarat sah puasa. Puasa Tanpa Sahur Menurut Pendapat Ulama Para ulama sepakat bahwa puasa tanpa sahur hukumnya boleh, tetapi sahur tetap dianjurkan. Berikut beberapa pendapat ulama dari berbagai mazhab: Mazhab Syafi’i dan Hambali Dalam Mazhab Syafi’i dan Hambali, sahur dihukumi sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Jika seseorang berpuasa tanpa sahur, puasanya tetap sah, tetapi ia kehilangan keberkahan sahur. Mazhab Hanafi Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa puasa tanpa sahur diperbolehkan. Namun, beliau menekankan bahwa sahur membantu meringankan puasa dan menjaga kekuatan fisik selama berpuasa. Mazhab Maliki Mazhab Maliki juga berpendapat bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sunnah yang mengandung hikmah besar bagi pelaksana puasa. Pendapat Ulama Kontemporer Ulama kontemporer seperti Syaikh Ibnu Utsaimin menegaskan bahwa puasa tanpa sahur sah secara hukum, namun sahur sangat dianjurkan karena mengandung keberkahan dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Manfaat Sahur dalam Puasa [caption id="attachment_2647" align="alignnone" width="357"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] Meskipun puasa tanpa sahur diperbolehkan, sahur memiliki banyak manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan. Mendapat Keberkahan: Rasulullah SAW secara khusus menyebut sahur sebagai waktu yang penuh berkah. Keberkahan ini mencakup kekuatan fisik dan kemudahan dalam beribadah. Menjaga Stamina Selama Puasa: Sahur membantu tubuh memiliki cadangan energi. Tanpa sahur, tubuh lebih cepat lemas dan sulit fokus dalam aktivitas maupun ibadah. Mengurangi Rasa Lapar dan Haus: Dengan sahur, rasa lapar dan haus dapat ditekan sehingga puasa terasa lebih ringan dan nyaman. Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW: Sahur adalah salah satu bentuk meneladani sunnah Rasulullah SAW. Meskipun puasa tanpa sahur sah, mengikuti sunnah tentu lebih utama. Membantu Bangun Lebih Awal untuk Ibadah: Sahur membuat seseorang terbiasa bangun sebelum subuh, sehingga bisa dimanfaatkan untuk shalat malam, dzikir, dan doa. Kesimpulan Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa puasa tanpa sahur hukumnya sah dan diperbolehkan dalam Islam. Namun, sahur merupakan amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena mengandung banyak keberkahan dan manfaat. Dalil dari Al-Qur’an, hadits, dan pendapat para ulama menunjukkan bahwa sahur bukan syarat sah puasa, tetapi merupakan sarana untuk menyempurnakan ibadah puasa. Bagi umat Muslim yang ingin menjalankan puasa dengan lebih optimal, sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air. Dengan sahur, puasa akan terasa lebih ringan, ibadah lebih khusyuk, dan keberkahan pun lebih terasa. Bersedekah mudah melalui: Semoga setiap kebaikan yang kita keluarkan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="447"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Bantuan Pendidikan BAZNAS Kota Sukabumi: Solusi Ringan untuk Pelajar yang Membutuhkan
ARTIKEL15/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan
Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan agar Lebih Khusyuk dan Berkah: panduan niat, pola makan, ibadah, menjaga pahala puasa, hingga muhasabah diri agar Ramadhan lebih bermakna. Tips Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan Tips Puasa Ramadhan agar Lebih Khusyuk dan Berkah sangat penting dipahami oleh setiap muslim. Bulan Ramadhan adalah momen istimewa yang dinanti umat Islam di seluruh dunia. Selain menjadi bulan penuh ampunan dan rahmat, Ramadhan juga merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Agar ibadah puasa tidak hanya menjadi rutinitas menahan lapar dan haus, diperlukan persiapan mental, fisik, dan spiritual. Berikut beberapa tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 1. Niat yang Ikhlas dan Kuat Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu dan memperbanyak amal kebaikan. Pastikan niat Anda dalam berpuasa benar-benar karena Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim) 2. Menjaga Pola Makan Saat Sahur dan Berbuka Salah satu tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah adalah menjaga asupan makanan. Saat Sahur: Pilih makanan tinggi serat, protein, dan karbohidrat kompleks Perbanyak air putih agar terhindar dari dehidrasi Saat Berbuka: Awali dengan kurma dan air putih sesuai sunnah Rasulullah SAW Konsumsi makanan bergizi seimbang Hindari makanan berlemak dan terlalu manis secara berlebihan Pola makan yang baik akan membantu tubuh tetap bugar dan fokus beribadah. 3. Perbanyak Ibadah dan Amal Kebaikan Ramadhan adalah bulan dilipatgandakannya pahala. Manfaatkan waktu untuk: Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an Shalat sunnah dan shalat malam Berdzikir dan berdoa Memperbanyak sedekah Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin meningkat di bulan Ramadhan. 4. Istirahat yang Cukup Menjaga keseimbangan antara ibadah, aktivitas, dan istirahat adalah bagian dari tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah. Tidur yang cukup membantu tubuh tetap sehat dan konsentrasi ibadah terjaga. 5. Menghindari Hal yang Membatalkan atau Mengurangi Pahala Puasa Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan dan perbuatan. Hindari: Berkata kasar Ghibah dan fitnah Perbuatan sia-sia Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari) Puasa bukan alasan untuk bermalas-malasan, tetapi menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat sangat penting. Pastikan tidur yang cukup agar tubuh tetap segar untuk menjalankan ibadah dengan optimal. 6. Manfaatkan Ramadhan untuk Muhasabah Diri Ramadhan adalah waktu terbaik untuk introspeksi diri. Evaluasi: Kualitas ibadah Hubungan dengan Allah SWT Hubungan dengan sesama manusia Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama manusia. Evaluasi ibadah dan perbaiki kekurangan agar setelah Ramadhan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 7. Konsisten dalam Beribadah hingga Akhir Ramadhan Sering kali semangat ibadah di awal Ramadhan tinggi, tetapi menurun di pertengahan hingga akhir. Pastikan tetap istiqomah dalam beribadah hingga malam-malam terakhir Ramadhan, terutama di 10 malam terakhir yang memiliki keutamaan Lailatul Qadar. Dengan menerapkan tips di atas, semoga kita semua bisa menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan mendapatkan keberkahan dari Allah SWT. Mari manfaatkan bulan suci ini sebaik mungkin dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan. Semoga Allah SWT menerima ibadah kita semua. Aamiin. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap Bantu Sesama di Bulan Ramadhan Jangan lupa untuk berbagi dengan sesama melalui program donasi BAZNAS Jawa Barat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu mereka yang membutuhkan. Bersama kita raih keberkahan Ramadhan! Sebagai penutup dari tips puasa Ramadhan agar lebih khusyuk dan berkah, jangan lupa berbagi dengan sesama. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. Referens lainnya Rekening Donasi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="371"] baznas kota sukabumi[/caption]
ARTIKEL14/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Lengkap Ibadah Ramadhan
Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah: panduan doa bulan Rajab & Syaban, doa menyambut Ramadhan beserta terjemahan, amalan sunnah, dan ajakan sedekah/zakah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Ibadah Ramadhan Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dengan Penjelasan yang Penuh Keberkahan merupakan bentuk kesiapan spiritual seorang muslim dalam menyambut datangnya bulan suci yang sangat mulia. Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat ampunan dosa, pelipatgandaan pahala, dan kesempatan besar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan rasa gembira, tetapi juga perlu dibarengi dengan persiapan iman dan amal. Secara makna, amalan menyambut Ramadhan adalah segala bentuk ibadah sunnah yang dilakukan sebelum masuknya bulan Ramadhan dengan tujuan melatih diri dan membersihkan hati. Sementara doa menyambut Ramadhan merupakan ungkapan harapan, kerinduan, dan permohonan kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan sehat, beriman, dan mampu menjalankan ibadah secara maksimal. Amalan Menyambut Ramadhan Beberapa amalan utama yang sangat dianjurkan menjelang Ramadhan antara lain: Memperbanyak Puasa SunnahTerutama pada bulan Syaban, sebagaimana Rasulullah SAW memperbanyak puasa sebagai latihan sebelum Ramadhan Memperbanyak Istighfar dan TaubatMembersihkan diri dari dosa agar ibadah Ramadhan lebih khusyuk. Membaca dan Mentadabburi Al-Qur’anRamadhan adalah bulan Al-Qur’an, sehingga membiasakan membaca sejak awal sangat dianjurkan. Melatih Sedekah dan Kepedulian SosialKebiasaan ini akan sangat membantu saat Ramadhan tiba. Amalan-amalan tersebut merupakan bagian penting dari amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan yang tidak boleh diabaikan. Doa Menyambut Ramadhan Saat Bulan Rajab dan Syaban [caption id="attachment_2571" align="alignnone" width="396"] Baznas Kota Sukabumi[/caption] Doa ini mencerminkan harapan agar diberi umur panjang, kesehatan, dan kesempatan bertemu Ramadhan. Dalam konteks amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan, doa ini menjadi fondasi spiritual awal. Doa Menyambut Ramadhan dan Artinya Selain doa di atas, umat Islam juga dianjurkan membaca doa berikut saat mendekati Ramadhan: [caption id="attachment_2573" align="alignnone" width="399"] Baznas Kota Sukabumii[/caption] Berikut tabel qadha dan fidyah beserta keterangan siapa saja yang diperbolehkan meninggalkan puasa: [caption id="attachment_2593" align="alignnone" width="277"] BAZNAS KOTA SUKABUMI[/caption] Menunaikan hutang puasa bukan hanya kewajiban, tapi juga bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT dan diri sendiri agar hati tenang dan ibadah sah. Doa menyambut Ramadhan mencerminkan kerendahan hati seorang hamba. Salah satu doa yang paling dikenal adalah permohonan agar Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dan memberkahi waktu sebelum dan sesudahnya. Doa ini mengandung tiga makna besar: harapan umur panjang, kesehatan jasmani, dan kesiapan rohani. Dengan memperbanyak doa, seorang muslim menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya target waktu, tetapi karunia besar yang hanya bisa diraih dengan izin Allah SWT. Keutamaan Mengamalkan Doa Menyambut Ramadhan Mengamalkan doa-doa menyambut Ramadhan memberikan banyak manfaat, di antaranya: Menumbuhkan kerinduan terhadap ibadah Menyiapkan mental dan spiritual Memperkuat niat beramal Menjadikan Ramadhan lebih bermakna Untuk penjelasan keutamaan Ramadhan berdasarkan dalil, Anda juga dapat merujuk ke sumber tepercaya seperti BAZNAS Kota Sukabumi Hikmah Mengamalkan Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Hikmah utama dari mengamalkan amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan yang penuh keberkahan adalah terciptanya kesiapan menyeluruh—baik iman, mental, maupun sosial. Seorang muslim yang mempersiapkan diri sejak awal akan lebih khusyuk dalam ibadah, lebih sabar dalam ujian, dan lebih ringan dalam beramal selama Ramadhan. Selain itu, persiapan ini juga menumbuhkan rasa syukur dan kesadaran bahwa Ramadhan adalah kesempatan langka yang belum tentu bisa ditemui kembali di tahun berikutnya. Salurkan Zakat dan Sedekah Anda Sebagai penutup amalan dan doa menyambut Ramadhan lengkap dengan penjelasan, mari sempurnakan persiapan kita dengan memperbanyak sedekah dan menunaikan zakat. Sedekah yang ditunaikan sebelum dan saat Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya serta membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mari bersama-sama mendukung Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk pendidikan dan kesehatan umat. Kini, bersedekah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan terpercaya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi Berzakat & Bersedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Mari sambut Ramadhan dengan hati yang bersih, doa yang tulus, dan kepedulian sosial yang nyata. Semoga Allah SWT menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dan menerima seluruh amal ibadah kita. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="493"] baznas kota sukabumi[/caption] Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Amalan dan Doa Menyambut Ramadhan Lengkap dan Berkah – Panduan Ibadah Ramadhan
ARTIKEL13/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah
Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah
Hutang Puasa Masih Menumpuk, Tapi Puasa Tinggal Hitungan Hari : refleksi penting tentang tanggung jawab qadha dan fidyah, panduan menunaikan hutang puasa, serta kesadaran spiritual menjelang akhir Ramadhan. Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk menjadi pengingat bagi setiap muslim tentang pentingnya menunaikan kewajiban puasa yang tertunda. Hutang puasa, baik karena sakit, haid, atau alasan syar’i lainnya, harus diganti melalui qadha, dan jika tidak mampu, fidyah menjadi solusi. Sayangnya, banyak yang menunda atau bahkan mengabaikan tanggung jawab ini hingga akhir Ramadhan, padahal konsekuensi spiritual tetap ada. Mengapa Qadha dan Fidyah Sering Diabaikan? Banyak orang menunda qadha karena alasan kesibukan, kurang disiplin, atau tidak menyadari pentingnya. Sementara fidyah terkadang dianggap enteng, padahal hukumnya jelas bagi mereka yang tidak mampu berpuasa. Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur yang diperbolehkan, hendaklah ia menggantinya (qadha) pada hari lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Keterlambatan menunaikan qadha atau fidyah bisa membuat hati gelisah, karena menunda tanggung jawab ibadah kepada Allah SWT. Refleksi ini penting agar setiap muslim sadar dan bertindak. Refleksi Qadha Puasa dan Fidyah Dalam Islam, setiap kewajiban yang ditinggalkan harus ditunaikan. Puasa adalah rukun Islam yang keempat, sehingga meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan akan berdosa. Rasulullah SAW bersabda:"Barangsiapa yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur yang diperbolehkan, hendaklah ia menggantinya (qadha) pada hari lain." (HR. Bukhari dan Muslim) Qadha puasa dapat dilakukan kapan saja setelah Ramadhan, namun semakin cepat dilaksanakan, semakin baik. Sedangkan fidyah diberikan bagi yang tidak mampu berpuasa karena sakit kronis atau usia lanjut. Fidyah berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Dilema Banyaknya Hutang Puasa Sering kali menjelang akhir Ramadhan, banyak orang baru menyadari hutang puasanya menumpuk. Akibatnya, mereka bingung antara menunaikan qadha, membayar fidyah, atau bahkan menunda hingga Ramadhan berikutnya. Kondisi ini seharusnya menjadi pengingat agar setiap muslim lebih disiplin dalam menunaikan kewajiban puasa dan merencanakan qadha sejak awal. Fidyah: Solusi Bagi yang Tidak Mampu Puasa Fidyah diberikan bagi yang tidak mampu berpuasa karena sakit kronis, usia lanjut, atau kondisi yang melemahkan tubuh. Fidyah berupa memberi makan seorang miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an: [caption id="attachment_2581" align="alignnone" width="356"] baznas kota sukabumi[/caption] Memberikan fidyah bukan hanya kewajiban, tapi juga sarana membersihkan diri dari dosa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT Cara Menyelesaikan Hutang Puasa dengan Tepat Daftar Hutang Puasa – Catat jumlah hari yang tertunda agar tidak lupa. Tetapkan Jadwal Qadha – Pilih hari-hari tertentu untuk menunaikan qadha agar tidak menumpuk lagi. Konsultasi Jika Tidak Mampu – Jika sakit atau lemah, konsultasikan dengan ustadz atau lembaga resmi. Bayar Fidyah Jika Tidak Mampu Berpuasa – Fidyah bisa berupa memberi makan miskin melalui lembaga terpercaya seperti BAZNAS. Menunaikan hutang puasa bukan hanya kewajiban, tapi juga bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT dan diri sendiri agar hati tenang dan ibadah sah. Keutamaan Menyelesaikan Qadha dan Fidyah Mendapat pahala puasa yang tertunda. Membersihkan diri dari dosa karena meninggalkan puasa. Membiasakan disiplin dan tanggung jawab dalam ibadah. Mendapat keberkahan dan ridha Allah SWT. Kesimpulan Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk adalah pengingat bagi setiap muslim untuk menunaikan qadha dan fidyah sebelum Ramadhan berakhir. Mengabaikan tanggung jawab ini berarti menunda pahala dan menambah dosa. Dengan disiplin mencatat hutang puasa, menunaikan qadha, membayar fidyah jika tidak mampu, serta menyalurkan sedekah/zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi, setiap muslim bisa menutup Ramadhan dengan hati bersih, amal lengkap, dan keberkahan yang melimpah. Untuk referensi bacaan singkat lainnya kunjungi artikel BAZNAS Kota Sukabumi yang mengulas tema Puasa Tinggal Hitungan Hari, Tapi Hutang Puasa Masih Menumpuk – Refleksi Tanggung Jawab Qadha dan Fidyah Sedekah dan Zakat Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Selain menyelesaikan hutang puasa, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk berbagi dan menebar kebaikan. Mari menyalurkan sedekah atau zakat melalui BAZNAS Kota Sukabumi: BSI 4964964969 A/N Baznas Kota Sukabumi No. Pelayanan: 085721333351 Memberikan sedekah atau zakat membantu sesama yang membutuhkan dan menjadi penebus dosa bagi yang menunda kewajiban. Seperti firman Allah SWT:"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji." (QS. Al-Baqarah: 261) Melalui BAZNAS, sedekah lebih mudah, aman, dan tepat sasaran. [caption id="attachment_2552" align="alignnone" width="497"] baznas kota sukabumi[/caption]
ARTIKEL13/01/2026 | Baznas Kota Sukabumi
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan
Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS menjadi solusi strategis untuk meningkatkan akses pendidikan dan layanan kesehatan umat secara berkelanjutan dan tepat sasaran. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS: 7 Strategis untuk Pendidikan dan Kesehatan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS merupakan upaya strategis dalam menghadirkan solusi nyata bagi permasalahan umat, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen sosial dan ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola secara profesional dan amanah. Melalui pengelolaan yang terstruktur, BAZNAS berperan sebagai lembaga yang menjembatani kepedulian para muzakki dengan kebutuhan mustahik. Fokus pada sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas karena keduanya merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. 1. Peran Penting Dana ZIS bagi Umat Dana ZIS memiliki peran penting dalam mewujudkan keadilan sosial dan pemerataan ekonomi. Dalam Islam, zakat berfungsi untuk membersihkan harta sekaligus membantu delapan golongan yang berhak menerima. Ketika dana ZIS dihimpun secara optimal, potensi manfaatnya menjadi sangat besar bagi pembangunan umat. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS memungkinkan dana yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk bantuan konsumtif, tetapi juga diarahkan pada program-program produktif. Dengan pendekatan ini, mustahik tidak hanya terbantu secara sementara, tetapi juga didorong menuju kemandirian dan peningkatan kualitas hidup. 2. Peran BAZNAS dalam Optimalisasi Dana ZIS Sebagai lembaga resmi pengelola zakat di Indonesia, BAZNAS memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan dana ZIS dikelola sesuai syariat Islam dan regulasi negara. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS dilakukan melalui perencanaan program yang matang, pendataan mustahik yang akurat, serta sistem distribusi yang terukur. BAZNAS juga mengedepankan prinsip profesionalisme dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Sinergi dengan pemerintah, lembaga pendidikan, dan fasilitas kesehatan membuat program ZIS lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Inilah yang menjadikan BAZNAS sebagai pilar utama dalam pengelolaan zakat nasional. 3. Optimalisasi Dana ZIS untuk Pendidikan Di bidang pendidikan, Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS diwujudkan melalui berbagai program yang mendukung akses belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Pendidikan dipandang sebagai jalan utama untuk memutus rantai kemiskinan dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Dana ZIS disalurkan dalam bentuk beasiswa pendidikan, bantuan perlengkapan sekolah, serta dukungan biaya pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dhuafa. Tidak hanya itu, BAZNAS juga memberikan pembinaan karakter, pendampingan akademik, dan motivasi agar penerima manfaat mampu berkembang secara optimal. Melalui program pendidikan berbasis ZIS, BAZNAS berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. 4. Optimalisasi Dana ZIS untuk Kesehatan Sektor kesehatan menjadi perhatian penting dalam Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS. Banyak masyarakat yang masih kesulitan mengakses layanan kesehatan akibat keterbatasan biaya. Melalui dana ZIS, BAZNAS menghadirkan solusi bagi masyarakat dhuafa agar tetap mendapatkan layanan kesehatan yang layak. Program kesehatan meliputi bantuan biaya pengobatan, layanan kesehatan gratis, pendampingan pasien, hingga program promotif dan preventif seperti pemeriksaan kesehatan rutin. Dengan tubuh yang sehat, masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan lebih produktif dan mampu meningkatkan taraf hidupnya. Optimalisasi dana ZIS di bidang kesehatan merupakan bentuk nyata kepedulian Islam terhadap keselamatan dan kesejahteraan umat. 5. Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Kepercayaan muzakki merupakan kunci keberhasilan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS. Oleh karena itu, BAZNAS menerapkan sistem pengelolaan yang transparan dan akuntabel. Setiap dana yang diterima dan disalurkan dicatat secara rapi serta diaudit sesuai standar yang berlaku. Laporan keuangan dan program dipublikasikan secara berkala agar masyarakat mengetahui dampak dari zakat dan sedekah yang mereka tunaikan. Transparansi ini mendorong partisipasi yang lebih luas dan memperkuat kepercayaan publik terhadap BAZNAS. 6. Dampak Sosial dan Keberlanjutan Program Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS tidak hanya berorientasi pada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada dampak sosial jangka panjang. Pendidikan dan kesehatan yang didukung oleh dana ZIS akan melahirkan masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan berdaya saing. Dengan pendekatan berkelanjutan, mustahik diharapkan dapat bertransformasi menjadi muzakki di masa depan. Inilah tujuan besar pengelolaan ZIS, yaitu menciptakan siklus kebaikan yang terus berputar dalam kehidupan umat. 7. Mengapa Berzakat melalui BAZNAS? Menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS berarti turut berkontribusi dalam program yang terencana, tepat sasaran, dan berdampak luas. Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS memastikan bahwa setiap rupiah yang dititipkan menjadi sarana perubahan bagi pendidikan dan kesehatan masyarakat. Kesimpulan Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS merupakan langkah strategis untuk memaksimalkan manfaat zakat, infak, dan sedekah bagi masyarakat, khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan. Dengan pengelolaan yang transparan, profesional, dan tepat sasaran, dana ZIS tidak hanya membantu kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendorong kemandirian, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan kesejahteraan sosial yang berkelanjutan. Salurkan Zakat dan Sedekah Anda Mari bersama-sama mendukung Optimalisasi Dana ZIS melalui BAZNAS Kota Sukabumi untuk pendidikan dan kesehatan umat. Kini, bersedekah dapat dilakukan dengan lebih mudah dan terpercaya melalui lembaga resmi seperti BAZNAS Kota Sukabumi. Berzakat/Bersedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi:Bank: BSINo. Rekening: 4964964969Atas Nama: Baznas Kota SukabumiNo. Pelayanan: 085721333351 Semoga setiap zakat dan sedekah yang ditunaikan menjadi amal jariyah, membawa keberkahan, dan memberikan manfaat yang luas bagi umat.
ARTIKEL12/01/2026 | BAZNAS
Ketika Alam Rusak oleh Keserakahan, Islam Mengingatkan Peran Manusia sebagai Khalifah
Ketika Alam Rusak oleh Keserakahan, Islam Mengingatkan Peran Manusia sebagai Khalifah
Kerusakan alam yang semakin parah di berbagai penjuru dunia bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan krisis moral dan spiritual. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim merupakan dampak nyata dari perilaku manusia yang serakah, eksploitatif, dan mengabaikan nilai tanggung jawab. Islam, sebagai agama yang sempurna, sejak awal telah mengingatkan bahwa manusia bukanlah penguasa mutlak bumi, melainkan khalifah—pemimpin dan penjaga amanah Allah di muka bumi. Kerusakan Alam sebagai Krisis Moral dan Spiritual Kerusakan alam yang semakin nyata di berbagai belahan dunia bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga krisis moral dan spiritual manusia. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran air dan udara, hingga perubahan iklim ekstrem merupakan dampak dari perilaku manusia yang serakah dan abai terhadap tanggung jawabnya. Islam sejak awal menegaskan bahwa manusia bukan pemilik mutlak bumi, melainkan khalifah, yakni pemimpin dan penjaga amanah Allah di muka bumi. Alam dalam Keseimbangan Ciptaan Allah Dalam Islam, alam diciptakan dengan keseimbangan yang sempurna. Allah SWT berfirman, “Dan Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat” (QS. Al-Furqan: 2). Alam berjalan berdasarkan hukum keseimbangan (m?z?n). Ketika manusia merusaknya melalui eksploitasi berlebihan, dampaknya akan kembali kepada manusia sendiri, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 41. Makna Kekhalifahan Manusia di Bumi Islam memandang manusia sebagai khalifah, bukan penguasa yang bebas bertindak sesuka hati. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi” (QS. Al-Baqarah: 30). Menurut Imam Al-Qurthubi, kekhalifahan berarti amanah untuk mengelola bumi dengan keadilan. Ibnu Katsir menambahkan bahwa tugas khalifah mencakup menjaga kemaslahatan dan menghindari segala bentuk kerusakan (fas?d). Keserakahan sebagai Sumber Kerusakan Lingkungan Salah satu akar utama kerusakan lingkungan adalah keserakahan manusia. Islam melarang sikap berlebih-lebihan (isr?f) dan tamak. Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan” (QS. Al-A’raf: 31). Imam Al-Ghazali menyebut keserakahan sebagai penyakit hati yang menghilangkan kepedulian terhadap sesama dan alam. Dampak Sosial dari Kerusakan Alam Kerusakan lingkungan tidak hanya merusak alam fisik, tetapi juga melahirkan krisis kemanusiaan. Bencana ekologis sering kali paling berat dirasakan oleh masyarakat kecil. Islam menekankan keadilan dan kemaslahatan umum. Larangan berbuat kerusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56) menunjukkan bahwa Islam menolak segala bentuk eksploitasi yang merugikan banyak orang. Teladan Nabi ? dalam Menjaga Lingkungan Rasulullah ? memberikan teladan nyata dalam menjaga lingkungan. Beliau melarang penebangan pohon dan perusakan tanaman, bahkan dalam kondisi perang. Dalam hadits lain, Nabi ? menegaskan bahwa menanam kebaikan tetap bernilai pahala meskipun kiamat akan terjadi. Kesimpulan: Menjaga Alam sebagai Ibadah dan Amal Sosial Kerusakan alam adalah peringatan iman bagi manusia. Islam menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah kekhalifahan dan bentuk ibadah. Keserakahan hanya akan melahirkan penderitaan yang kembali menimpa manusia sendiri. Sebagai wujud nyata pengamalan nilai keimanan, Islam mendorong amal konkret yang membawa manfaat bagi sesama. Salah satunya adalah bersedekah, karena sedekah membantu meringankan beban mereka yang terdampak bencana dan krisis sosial akibat kerusakan lingkungan. Semoga dengan menjaga alam, menumbuhkan kepedulian sosial, dan memperbanyak sedekah, Allah SWT melimpahkan keberkahan serta pahala yang terus mengalir hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL02/01/2026 | Yessi Ade Lia Putri
Merusak atau Merawat? Etika Lingkungan Hidup dalam Pandangan Islam
Merusak atau Merawat? Etika Lingkungan Hidup dalam Pandangan Islam
Lingkungan sebagai Amanah Ilahi Lingkungan hidup bukan sekadar ruang tempat manusia berpijak, melainkan amanah besar yang Allah SWT titipkan kepada manusia. Dalam Islam, hubungan manusia dengan alam tidak bersifat eksploitatif, tetapi penuh tanggung jawab moral dan spiritual. Krisis lingkungan yang terjadi saat ini—seperti pencemaran, kerusakan hutan, dan perubahan iklim—menjadi pengingat bahwa manusia perlu kembali pada nilai-nilai ilahiah dalam memperlakukan bumi. Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30) Menurut Imam Al-Qurthubi, konsep khalifah mengandung makna kepemimpinan sekaligus amanah. Manusia diberi mandat untuk mengelola alam sesuai ketentuan Allah, bukan merusaknya demi kepentingan sesaat. Karena itu, segala bentuk perusakan lingkungan merupakan pengkhianatan terhadap amanah kekhalifahan. Larangan Merusak Alam dalam Al-Qur’an Al-Qur’an dengan tegas melarang tindakan perusakan lingkungan. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56) Ibnu Katsir menjelaskan bahwa larangan ini mencakup segala tindakan yang merusak keseimbangan alam, baik melalui pencemaran, pemborosan sumber daya, maupun eksploitasi berlebihan. Bahkan, Allah menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut banyak disebabkan oleh ulah manusia sendiri (QS. Ar-Rum: 41). Teladan Rasulullah ? dalam Menjaga Lingkungan Rasulullah ? memberikan teladan nyata dalam menjaga lingkungan. Beliau bersabda: “Jika terjadi kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.” (HR. Ahmad) Hadits ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah amal kebaikan yang bernilai ibadah. Bahkan, menanam pohon dan merawat tanaman disebut sebagai sedekah yang pahalanya terus mengalir (HR. Bukhari dan Muslim). Pandangan Ulama tentang Etika Lingkungan Para ulama menegaskan bahwa menjaga lingkungan termasuk tujuan syariat. Imam Al-Ghazali menekankan konsep maslahah, yaitu menjaga kemaslahatan seluruh makhluk. Sementara itu, Syekh Yusuf Al-Qaradawi menyatakan bahwa merusak lingkungan bertentangan dengan maqashid syariah karena membahayakan kehidupan manusia dan generasi mendatang. Prinsip Keseimbangan (Mizan) dalam Islam Islam mengajarkan prinsip keseimbangan (mizan). Allah SWT berfirman: “Dan Allah telah meletakkan neraca (keadilan), agar kamu tidak melampaui batas.” (QS. Ar-Rahman: 7–8) Ketika manusia melampaui batas melalui gaya hidup konsumtif dan eksploitasi berlebihan, keseimbangan alam pun rusak dan dampaknya kembali kepada manusia sendiri. Aksi Nyata Menjaga Lingkungan Islam tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga mendorong aksi nyata, seperti menghindari pemborosan, menjaga kebersihan, menanam pohon, serta menyebarkan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari amar ma’ruf. Kesimpulan Islam memandang lingkungan hidup sebagai amanah suci yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Merawat alam bukan hanya persoalan etika sosial, tetapi juga bagian dari iman dan ibadah. Setiap langkah kecil dalam menjaga lingkungan memiliki nilai pahala di sisi Allah SWT. Sebagai wujud pengamalan nilai-nilai Islam, umat diajak memperbanyak amal kebaikan dan sedekah untuk mendukung kemaslahatan bersama. Dengan kepedulian, sedekah, dan aksi nyata menjaga lingkungan, semoga kita menjadi hamba yang amanah dalam memelihara bumi serta memperoleh keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Aamiin.
ARTIKEL30/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Ketika Hidup Terasa Berat: Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Ujian dan Kekuatan Jiwa
Ketika Hidup Terasa Berat: Islam Mengajarkan Keseimbangan antara Ujian dan Kekuatan Jiwa
Hidup yang Terasa Berat adalah Bagian dari Perjalanan Manusia Setiap manusia pasti pernah merasakan fase hidup yang terasa berat. Hati diliputi kegelisahan, pikiran penuh beban, dan langkah seolah kehilangan arah. Masalah datang silih berganti, mulai dari urusan ekonomi, konflik keluarga, kegagalan rencana hidup, hingga luka batin yang sulit diungkapkan. Dalam kondisi seperti ini, tidak jarang manusia bertanya dalam diam, “Mengapa hidupku terasa begitu berat?” Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin tidak menutup mata terhadap realitas penderitaan manusia. Islam justru mengajarkan bahwa hidup memang penuh ujian, namun tidak pernah lepas dari pertolongan Allah. Ujian Hidup Bukan Tanda Kebencian Allah Dalam Islam, ujian bukanlah sesuatu yang datang tanpa tujuan. Allah ? berfirman: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155) Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ujian berfungsi sebagai sarana pendidikan ruhani agar manusia kembali bergantung kepada Allah dan tidak terikat sepenuhnya pada dunia. Allah Maha Adil dalam Menakar Beban Ujian Ketika hidup terasa berat, sering muncul rasa tidak sanggup. Namun Islam memberikan ketenangan melalui firman Allah ?: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286) Ayat ini menunjukkan kasih sayang dan keadilan Allah. Setiap ujian telah diukur sesuai kemampuan hamba-Nya, baik dari sisi fisik, mental, maupun kekuatan iman. Ujian sebagai Sarana Penghapus Dosa Rasulullah ? bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa penderitaan tidak pernah sia-sia. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa ujian adalah obat bagi jiwa, meskipun terasa pahit, karena mampu membersihkan hati dan menguatkan iman. Menjaga Keseimbangan antara Sabar, Ikhtiar, dan Tawakal Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan. Dalam menghadapi ujian, seorang Muslim diperintahkan untuk tetap berusaha, bersabar, dan bertawakal kepada Allah. Allah ? berfirman: “Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Keseimbangan inilah yang menjaga jiwa tetap kuat dan tidak mudah runtuh oleh tekanan hidup. Ketenangan Jiwa Bersumber dari Kedekatan dengan Allah Sering kali yang membuat hidup terasa berat bukanlah masalahnya, melainkan hati yang jauh dari Allah. Allah ? berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Dzikir, doa, dan ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi sumber ketenangan jiwa yang sejati. Kesimpulan: Menguatkan Jiwa dengan Iman dan Amal Nyata Ketika hidup terasa berat, Islam mengajarkan bahwa ujian adalah sarana pembentukan jiwa agar semakin kuat dan dewasa dalam iman. Selain memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, Islam juga mendorong umatnya untuk menghadirkan manfaat bagi sesama. Salah satu bentuk aksi nyata yang dianjurkan adalah bersedekah. Sedekah tidak hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga menjadi jalan untuk melapangkan hati, membersihkan jiwa, dan mendatangkan pertolongan Allah. Semoga dengan kesabaran, keteguhan iman, dan keikhlasan dalam berbagi, kita mampu menghadapi ujian hidup dengan hati yang lebih tenang dan penuh harapan.
ARTIKEL24/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap
Allah Membaca Air Mata yang Tak Terucap
Tidak semua kesedihan mampu diucapkan dengan kata-kata. Ada tangis yang disembunyikan, ada luka yang dipendam, dan ada doa yang hanya terucap di dalam hati. Manusia sering terlihat kuat di hadapan sesama, namun rapuh ketika sendiri. Dalam kondisi seperti inilah Islam menghadirkan keyakinan yang menenangkan jiwa: Allah Maha Mengetahui, bahkan terhadap air mata yang tak terucap. Keyakinan ini bukan sekadar penghiburan emosional, melainkan kebenaran yang ditegaskan oleh Al-Qur’an, hadits Nabi ?, serta penjelasan para ulama. Allah tidak hanya melihat apa yang tampak, tetapi juga memahami isi hati yang paling dalam. Allah Maha Mengetahui Isi Hati Manusia Salah satu sifat Allah yang menenangkan adalah Al-‘Al?m, Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah berfirman: “Katakanlah (Muhammad): jika kamu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menampakkannya, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. ?li ‘Imr?n: 29) Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun perasaan, niat, atau kesedihan yang luput dari pengetahuan Allah. Bahkan ketika manusia tidak sanggup menjelaskannya, Allah tetap mengetahuinya secara sempurna. Kesedihan yang dipendam, air mata yang jatuh dalam sunyi, semuanya berada dalam pengawasan-Nya. Air Mata dalam Perspektif Islam Dalam Islam, air mata bukan tanda kelemahan. Tangisan justru bagian dari fitrah manusia dan bisa menjadi tanda hidupnya iman. Rasulullah ? bersabda: “Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa kesadaran terhadap Allah, akhirat, dan tanggung jawab hidup akan melembutkan hati. Air mata yang muncul bukan karena putus asa, melainkan karena takut, harap, dan cinta kepada Allah. Pandangan Ulama tentang Tangisan Hamba Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa tangisan karena Allah adalah tanda hati yang hidup dan iman yang kuat. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menegaskan bahwa Allah memahami bahasa hati meskipun lisan terdiam. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa apa yang tersembunyi di dada manusia—termasuk kesedihan—sepenuhnya diketahui oleh Allah. Allah Maha Dekat Saat Hamba-Nya Terluka Allah berfirman: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186) Saat manusia merasa sendirian, Allah justru paling dekat. Tidak ada tangisan yang sia-sia, tidak ada kesedihan yang diabaikan. Bahkan Allah menyatakan bahwa Dia lebih dekat daripada urat leher manusia (QS. Qaf: 16). Aksi Nyata Menghadapi Kesedihan Keyakinan bahwa Allah membaca air mata yang tak terucap seharusnya mendorong seorang Muslim untuk: Membiasakan curhat kepada Allah dalam doa dan sujud Melatih sabar dan tawakal di tengah ujian Memperbanyak dzikir saat hati terasa berat Menjaga ibadah meski sedang terluka Menjadi pribadi yang lebih lembut kepada sesama Kesimpulan Air mata yang tak terucap bukan tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa hati masih berharap kepada Allah. Islam mengajarkan bahwa setiap kesedihan, tangisan, dan doa yang tersembunyi tidak pernah luput dari perhatian-Nya. Allah Maha Mengetahui isi hati, Maha Dekat saat hamba-Nya terluka, dan Maha Adil dalam membalas setiap air mata yang jatuh karena iman dan kesabaran. Dengan membawa kesedihan kepada Allah, seorang Muslim akan menemukan ketenangan, kekuatan, dan harapan baru. Air mata yang dipersembahkan kepada-Nya tidak akan sia-sia, melainkan menjadi bagian dari amal yang bernilai dan penuh keberkahan.
ARTIKEL23/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
Mencari Keuntungan Bisnis Tanpa Menghilangkan Keberkahan
Dalam dunia bisnis modern, keuntungan sering dijadikan satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Omzet besar, laba meningkat, dan pertumbuhan usaha yang cepat dianggap sebagai pencapaian utama. Namun dalam pandangan Islam, keuntungan materi saja belumlah cukup. Seorang Muslim dituntut untuk mencari keuntungan yang disertai keberkahan, karena keberkahanlah yang menjadikan harta membawa ketenangan, manfaat, dan kebaikan yang berkelanjutan. Islam tidak melarang umatnya untuk berbisnis. Bahkan Rasulullah ? dikenal sebagai pedagang yang jujur dan sukses sebelum diangkat menjadi nabi. Hal ini menunjukkan bahwa bisnis adalah aktivitas yang mulia, selama dijalankan sesuai dengan nilai-nilai syariat dan tidak menyimpang dari prinsip keadilan. Makna Keuntungan dan Keberkahan dalam Islam Keuntungan dalam bisnis adalah hasil yang diperoleh dari aktivitas jual beli atau usaha. Sementara keberkahan adalah tambahan kebaikan dari Allah yang tidak selalu diukur dengan jumlah, tetapi dirasakan melalui ketenangan, kecukupan, dan kebermanfaatan. Rasulullah ? bersabda: “Sesungguhnya keberkahan itu datang dari Allah.” (HR. Bukhari) Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa harta yang berkah akan membawa kebaikan meskipun jumlahnya tidak besar, sedangkan harta yang banyak tanpa keberkahan justru dapat menjadi sumber kegelisahan. Dalil Al-Qur’an tentang Bisnis yang Berkah Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa: 29) Ayat ini menegaskan bahwa bisnis yang dibenarkan adalah bisnis yang dijalankan secara jujur, adil, dan tanpa unsur penipuan. Praktik riba, kecurangan, dan ketidakjelasan transaksi merupakan sebab utama hilangnya keberkahan. Allah juga berfirman: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275) Teladan Rasulullah ? dan Pandangan Ulama Rasulullah ? bersabda: “Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi) Hadits ini menunjukkan bahwa kejujuran dan amanah adalah kunci utama keberkahan dalam bisnis. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa tujuan bekerja dan berbisnis bukan hanya mengumpulkan harta, tetapi untuk menjaga kehormatan diri, menafkahi keluarga, dan membantu sesama. Ibnu Taimiyah juga menekankan bahwa keadilan dalam muamalah menjadi sebab turunnya keberkahan. Ketika pelaku usaha menzalimi pihak lain, maka keuntungan materi tidak akan bernilai di sisi Allah. Langkah Nyata Mewujudkan Bisnis yang Berkah Beberapa langkah yang dapat diterapkan agar bisnis tetap menguntungkan dan berkah antara lain: Meluruskan niat bahwa bisnis adalah sarana ibadah Menjaga kehalalan produk dan proses Bersikap jujur dan transparan dalam transaksi Menunaikan hak karyawan dan mitra tepat waktu Menyisihkan harta untuk zakat dan sedekah Tidak melalaikan ibadah karena kesibukan usaha Kesimpulan Mencari keuntungan dalam bisnis adalah hal yang dibolehkan dalam Islam, namun keuntungan yang sejati adalah yang disertai keberkahan. Keberkahan lahir dari niat yang lurus, proses yang halal, kejujuran dalam transaksi, serta keadilan kepada semua pihak. Bisnis yang dijalankan dengan nilai-nilai Islam tidak hanya menghasilkan laba materi, tetapi juga menghadirkan ketenangan hati dan manfaat yang luas. Sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan, kita diajak untuk memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan bersedekah. Sedekah membersihkan harta, melapangkan rezeki, dan menjadi sebab bertambahnya keberkahan dalam usaha. Semoga setiap langkah bisnis yang kita jalani senantiasa diridhai Allah SWT dan menjadi jalan kebaikan hingga akhirat. Aamiin.
ARTIKEL19/12/2025 | Yessi Ade Lia Putri
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →