WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Hati-Hati! Ini Dampak Buruk Korupsi yang Bisa Menghancurkan Hidupmu
Hati-Hati! Ini Dampak Buruk Korupsi yang Bisa Menghancurkan Hidupmu
Pernahkah terlintas di pikiran kita, mengapa ada orang yang sudah punya segalanya tapi masih merasa kurang? Mobil mewah sudah ada, rumah bak istana sudah berdiri tegak, jabatan pun mentereng. Tapi anehnya, hidupnya jauh dari kata tenang. Tidur tak nyenyak, dikejar rasa cemas, hingga akhirnya berakhir di balik jeruji besi. Inilah fenomena yang sering kita sebut dengan korupsi. Korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup, bukan hanya bagi si pelaku, tapi juga bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mari kita bedah lebih dalam, kenapa mengambil yang bukan hak kita itu adalah "bom waktu" yang siap meledak kapan saja. Mengapa Korupsi Adalah Musuh Terbesar Diri Sendiri? Banyak yang mengira korupsi adalah jalan pintas menuju kebahagiaan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Korupsi adalah jalan tol menuju kehancuran mental dan spiritual. Ketika seseorang mulai mengambil harta yang bukan haknya, ia sedang menanam benih ketidaktenangan. Dalam perspektif Islam, harta yang diperoleh dengan cara haram, seperti korupsi, tidak akan pernah membawa keberkahan. Harta tersebut mungkin terlihat banyak secara jumlah, namun nilai manfaatnya nol besar. Harta itu justru akan menjadi sumber masalah bisa berupa penyakit yang tak kunjung sembuh, anak-anak yang sulit diatur, atau keretakan rumah tangga. 1. Kehilangan Keberkahan dalam Hidup Keberkahan adalah ketika harta yang sedikit terasa cukup, dan yang banyak membawa manfaat. Sebaliknya, korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup karena ia menghapus keberkahan tersebut. Kamu mungkin punya uang milyaran, tapi entah kenapa uang itu habis begitu saja tanpa bekas yang bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat tegas mengenai hal ini: "Laknat Allah bagi penyuap dan penerima suap dalam hukum." (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi). Bayangkan, jika Allah sudah melaknat, lantas dari mana kita akan mendapatkan kedamaian? Laknat artinya dijauhkan dari rahmat kasih sayang Allah. Tanpa rahmat-Nya, hidup hanyalah rangkaian penderitaan yang dibungkus dengan kemewahan palsu. 2. Sanksi Sosial yang Menyakitkan Kita hidup di masyarakat yang sangat menjunjung tinggi integritas. Sekali seseorang ketahuan melakukan korupsi, label "koruptor" akan menempel seumur hidup. Bukan hanya pelaku yang menanggung malu, tapi juga anak, istri, dan orang tua. Anak-anak mungkin akan dirundung di sekolah, dan keluarga akan dikucilkan dari pergaulan sosial. Ini adalah bentuk kehancuran hidup yang nyata di dunia. 3. Penjara: Hilangnya Kebebasan Tentu saja, konsekuensi hukum adalah hal yang paling nyata. Bayangkan harus menghabiskan sisa umur di balik jeruji besi, jauh dari keluarga, dan kehilangan martabat. Kebebasan yang selama ini kita nikmati hilang begitu saja hanya demi tumpukan harta yang bahkan tidak bisa dinikmati di dalam sel. Korupsi dalam Pandangan Syariat: Ghulul yang Membakar Dalam istilah fiqih, korupsi sering dikaitkan dengan Ghulul (mengambil harta secara sembunyi-sembunyi yang bukan haknya). Bahayanya tidak main-main. Harta hasil korupsi akan menjadi beban yang sangat berat di hari kiamat kelak. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 161: "Barangsiapa yang berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang), maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan setimpal, sedang mereka tidak dianiaya." Ayat ini menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikorupsi akan dimintai pertanggungjawabannya secara detail. Tidak ada yang bisa bersembunyi. Kehancuran hidup akibat korupsi tidak berhenti saat nafas terakhir berhembus, tapi terus berlanjut hingga ke akhirat. 4. Menghalangi Terkabulnya Doa Ini adalah salah satu dampak yang paling mengerikan. Ketika tubuh kita tumbuh dari makanan yang haram, maka doa-doa kita akan tertolak. Rasulullah SAW pernah menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut, penuh debu, ia menengadahkan tangan ke langit sambil berdoa, "Ya Rabb, ya Rabb..." Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan? Bayangkan saat kamu benar-benar butuh pertolongan Tuhan, namun pintu langit tertutup hanya karena segelintir harta haram yang pernah kamu ambil. Itulah mengapa korupsi bisa menjerumuskan ke kehancuran hidup yang paling fatal. 5. Merusak Tatanan Bangsa Secara makro, korupsi merampas hak orang miskin. Jembatan yang harusnya kokoh jadi rubuh karena dana disunat. Rumah sakit kekurangan alat medis karena anggaran dikorupsi. Dengan melakukan korupsi, seseorang secara tidak langsung mendzolimi jutaan orang. Dosa kepada satu orang saja sulit dimaafkan, apalagi dosa kepada rakyat satu negara? Bagaimana Cara Menghindarinya? Syukuri yang Ada: Kebanyakan orang korupsi bukan karena butuh, tapi karena kurang rasa syukur. Pahami Konsekuensi: Selalu ingat bahwa ada akhirat setelah dunia ini. Lingkungan yang Baik: Bertemanlah dengan orang-orang yang jujur dan berintegritas. Bersihkan Harta: Pastikan setiap rupiah yang masuk ke kantong kita adalah hasil keringat yang halal. Ingatlah, hidup ini singkat. Jangan tukar ketenangan jiwa dan keselamatan akhirat dengan kenikmatan semu yang hanya sesaat. Kekayaan sejati adalah hati yang merasa cukup (qana'ah). Setelah memahami betapa bahayanya harta yang tidak berkah, langkah terbaik untuk menjaga diri adalah dengan rajin berinfaq dan bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi harta, justru ia akan menyucikan dan menjaganya dari hal-hal yang buruk. Ayo Bersihkan Harta dengan Berbagi! Mari salurkan infaq terbaik Anda melalui lembaga yang amanah dan transparan. BAZNAS Kota Sukabumi siap membantu Anda mendistribusikan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Dengan berinfaq, kita menjaga diri dari sifat serakah dan memastikan harta kita membawa manfaat dunia hingga akhirat. Bayar Infaq Sekarang via BAZNAS Kota Sukabumi Sucikan Harta, Tenangkan Jiwa. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-jusuka-34-jumat-suka-sedekah https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/antara-menjaga-perasaan-orang-lain-atau-kejujuran/31449
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Fakta Pahit! Jangan Terlalu Berharap pada Manusia, Kamu Akan Kecewa pada Akhirnya
Fakta Pahit! Jangan Terlalu Berharap pada Manusia, Kamu Akan Kecewa pada Akhirnya
Pernah nggak sih kamu merasa sudah memberikan segalanya buat seseorang, eh ujung-ujungnya malah ditinggalkan atau disepelekan? Rasanya sesak, kecewa, dan mungkin sedikit marah. Tenang, kamu nggak sendirian. Itu adalah pengingat dari semesta bahwa ada yang salah dengan tempat kita menaruh harapan. Jangan terlalu berharap pada manusia bukan berarti kita jadi antisosial atau nggak mau percaya orang lain. Tapi, ini soal menjaga kewarasan hati. Mari kita bahas kenapa berharap berlebihan pada sesama manusia adalah "tiket gratis" menuju kekecewaan. 1. Manusia Itu Tempatnya Salah dan Lupa Secara biologis dan psikologis, manusia itu dinamis. Hari ini mereka janji setia, besok bisa jadi keadaan berubah. Bukan karena mereka jahat (meski ada yang begitu), tapi karena keterbatasan. Manusia bisa lupa, bisa khilaf, dan punya kepentingan yang berubah-ubah. Dalam sebuah ungkapan yang sangat masyhur dari Imam Syafi'i, beliau pernah berkata: "Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atasmu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari orang tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya." 2. Ekspektasi Adalah Pencuri Kebahagiaan Seringkali yang menyakiti kita bukanlah perbuatan orang lain, melainkan ekspektasi kita sendiri. Kita berharap dibalas dengan kebaikan yang sama, kita berharap mereka mengerti kode-kode kita tanpa bicara. Padahal, isi kepala orang siapa yang tahu? Saat ekspektasi itu tidak terpenuhi, di situlah kekecewaan muncul. 3. Manusia Tidak Memiliki Kendali Atas Segala Sesuatu Kita sering lupa kalau orang yang kita harapkan itu juga sedang berjuang dengan masalahnya sendiri. Mereka bukan pahlawan super yang bisa menyelesaikan semua masalah kita. Jika kita menggantungkan nasib pada mereka, kita sebenarnya sedang bersandar pada dahan yang rapuh. 4. Belajar dari Pesan Ali bin Abi Thalib Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib RA, pernah memberikan peringatan yang sangat "ngena" buat kita semua: "Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." Kalau sosok sekelas Ali bin Abi Thalib saja menyebut ini sebagai kepahitan terdalam, masa kita masih mau coba-coba menaruh harapan setinggi langit pada manusia? 5. Hati Manusia Ada di Tangan Sang Pencipta Pernah lihat orang yang awalnya baik banget tiba-tiba jadi dingin? Itu karena hati manusia itu bolak-balik. Rasulullah SAW sering berdoa: "Ya Muqallibal quluub, thabbit qalbii 'ala diinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). Jika hatinya saja milik Allah, kenapa kamu malah meminta kepada "pemegang" sementara, bukan kepada Pemilik aslinya? 6. Hanya Allah Tempat Bergantung yang Hakiki Dalam Al-Qur'an Surat Al-Ikhlas ayat 2, ditegaskan: "Allahush-shamad" (Allah tempat meminta segala sesuatu). Ayat ini adalah kunci. Jangan terlalu berharap pada manusia karena porsi "berharap" itu hanya milik Allah. Ketika kita menaruh Allah di urutan pertama, manusia yang mengecewakan kita tidak akan membuat dunia kita runtuh. 7. Fokus pada Memberi, Bukan Menerima Cara terbaik agar tidak kecewa adalah mengubah pola pikir. Berbuat baiklah kepada manusia karena kamu ingin berbuat baik, bukan karena ingin dibalas. Jika dibalas, anggap itu bonus. Jika tidak, kamu tidak akan rugi karena niatmu sudah tercatat sebagai pahala di sisi-Nya. Kesimpulan: Kembalikan Harapan ke Tempat yang Benar Jangan terlalu berharap pada manusia adalah bentuk proteksi diri. Cintailah sewajarnya, percayalah secukupnya. Dengan begitu, saat mereka melakukan kesalahan (dan pasti akan terjadi), kamu tetap berdiri tegak. Kamu tahu bahwa sandaranmu yang sesungguhnya tidak pernah tidur dan tidak pernah ingkar janji. Dunia ini hanyalah jembatan. Jangan gantungkan beban yang terlalu berat pada pagar jembatannya, tapi tumpukanlah pada pondasinya yang kokoh, yaitu iman kepada Allah SWT. Salah satu cara untuk menenangkan hati dan membersihkan diri dari keterikatan duniawi adalah dengan berbagi. Jangan hanya berharap menerima dari manusia, mulailah memberi untuk kemanusiaan. Salurkan Kepedulianmu Melalui Infaq! Kami mengajak Anda untuk menyalurkan sebagian rezeki melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Infaq dan sedekah Anda akan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan di wilayah Sukabumi. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/alirkan-pahala-tak-terputus-dengan-sedekah-quran https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/mengapa-al-quran-disebut-sebagai-petunjuk-hidup-umat-manusia/41610
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Kisah Nyata Dahsyat: Janji Allah Itu Benar, Bikin Merinding!
Kisah Nyata Dahsyat: Janji Allah Itu Benar, Bikin Merinding!
Cerita Nyata Janji Allah Itu Benar Cerita nyata janji Allah itu benar bukan sekadar kisah motivasi, tapi bukti yang benar-benar terjadi dalam kehidupan banyak orang. Kadang kita ragu, kadang kita lelah, bahkan merasa doa tak kunjung dikabulkan. Padahal Allah sudah berjanji dalam Al-Qur'an: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluarnya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (QS. At-Talaq : 2-3) Janji ini bukan sekedar tulisan. Banyak orang sudah membuktikannya. 1. Sedekah di Saat Sulit, Justru Dibalas Berlipat Ada seorang ibu yang hidup serba kekurangan. Untuk makan saja kadang sulit. Namun suatu hari, ia tetap bersedekah kepada tetangganya yang lebih membutuhkan. Secara logika, itu tidak masuk akal. Namun keesokan harinya, dia mendapat rezeki tak terduga. Ada orang yang tiba-tiba memberikan bantuan dalam jumlah yang jauh lebih besar. Rasulullah ? bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR.Muslim) Cerita nyata janji Allah itu benar terlihat jelas di sini. Apa yang diberikan, tidak pernah benar-benar hilang. 2. Kehilangan yang Diganti Lebih Baik Seorang pria kehilangan pekerjaannya secara tiba-tiba. Ia merasa dunia runtuh. Namun di tengah kesulitannya, ia tetap menjalankan shalat dan memperbanyak infaq. Beberapa bulan kemudian, ia mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik, dengan gaji yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah : 216) Terkadang kehilangan adalah cara Allah memberi yang lebih baik. 3. Keajaiban Sedekah Subuh Banyak orang mulai membiasakan sedekah di waktu subuh. Dan hasilnya benar-benar luar biasa. Ada yang rezekinya lancar, utangnya dipermudah, bahkan urusan hidupnya terasa ringan. Rasulullah ? bersabda: “Setiap pagi dua malaikat turun, salah satunya berdoa: Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang bersedekah.” (HR. Bukhari & Muslim) Ini bukan sekadar teori. Kisah nyata janji Allah itu benar terus berulang dalam kehidupan orang-orang yang mengamalkannya. 4. Hutang Lunas Tanpa Disangka Seorang pedagang kecil mempunyai hutang yang cukup besar. Ia hampir putus asa. Namun ia memilih untuk tetap bersedekah, meskipun hanya sedikit. Keajaibannya, dalam beberapa waktu, usahanya meningkat drastis. Pelanggan datang silih berganti hingga akhirnya ia mampu melunasi utangnya. Allah berjanji: “Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.” (QS.Saba': 39) Janji ini benar-benar nyata. 5. Sakit yang Dipermudah Kesembuhannya Ada juga kisah seseorang yang sakit cukup lama. Ia kemudian memperbanyak sedekah dengan niat memohon kesembuhan. Perlahan, kondisinya membaik. Rasulullah ? bersabda: “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Baihaqi) Cerita nyata janji Allah itu benar bukan hanya soal harta, tapi juga kesehatan dan ketenangan hati. Hikmah Besar dari Cerita Nyata Janji Allah Itu Benar Dari berbagai kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran penting: Jangan pernah ragu dengan janji Allah Sedekah bukan mengurangi, tapi menambah Kesulitan hanyalah sementara Allah selalu punya cara yang tidak kita sangka Yang sering jadi masalah bukan janji Allah, tapi keyakinan kita. Saatnya Kita Membuktikan Sendiri Cerita nyata janji Allah itu benar sudah banyak terjadi. Pertanyaannya sekarang, apakah kita mau mencobanya? Tidak harus menunggu kaya. Tidak harus menunggu sempurna. Diberikan dari yang kecil. Yuk Ambil Bagian dalam Kebaikan ???? Jangan tunda lagi. Jadilah bagian dari kebaikan hari ini dengan menunaikan infaq terbaikmu melalui ???? BAZNAS Kota Sukabumi Dengan infaq, kamu bukan hanya membantu sesama, tapi juga sedang membuka pintu rezekimu sendiri. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: Masya Allah! Kisah Nyata Sedekah Ramadhan Paling Dahsyat, Dari Hidup Terpuruk dan Susah Jadi Berubah Seketika https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-subur-34-sedekah-subuh-berkah-makmur
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
7 Cara Ampuh Berdamai dengan Diri Sendiri agar Hidup Lebih Tenang
7 Cara Ampuh Berdamai dengan Diri Sendiri agar Hidup Lebih Tenang
Cara berdamai dengan diri sendiri agar hidup lebih tenang menurut Islam. Simak 7 cara ampuh lengkap dengan hadits dan tips menenangkan hati. Cara Berdamai dengan Diri Sendiri Cara berdamai dengan diri sendiri sering terdengar mudah, tapi kenyataannya sangat sulit. Banyak orang terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam hatinya penuh lelah, kecewa, bahkan menyalahkan diri sendiri. Tidak sedikit yang merasa hidupnya berat, bukan karena masalah besar, tetapi karena tidak bisa menerima keadaan diri. Selalu merasa kurang, selalu merasa gagal, dan selalu membandingkan dengan orang lain. Padahal dalam Islam, ketenangan hidup dimulai ketika kita bisa menerima diri sendiri dan bersyukur atas apa yang Allah berikan. Rasulullah ? bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan.”(HR. Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa ketenangan tidak datang dari banyaknya harta, tetapi dari hati yang bisa menerima. Kenapa Hidup Terasa Berat? Cara berdamai dengan diri sendiri menjadi penting karena banyak orang hidup dalam tekanan yang sebenarnya datang dari pikirannya sendiri. Beberapa penyebab hati tidak tenang: Terlalu sering menyalahkan diri Tidak bisa menerima kekurangan Terlalu memikirkan penilaian orang Ingin sempurna dalam segala hal Kurang bersyukur Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Artinya, setiap ujian yang kita alami sebenarnya sudah sesuai dengan kemampuan kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. 7 Cara Ampuh Berdamai dengan Diri Sendiri 1. Terima bahwa manusia tidak sempurna Tidak ada manusia yang selalu benar. Kesalahan adalah bagian dari hidup. 2. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain Rezeki dan jalan hidup setiap orang berbeda. 3. Belajar memaafkan diri sendiri Kesalahan masa lalu tidak harus terus dibawa. 4. Perbanyak bersyukur Semakin banyak bersyukur, semakin ringan hati. 5. Dekatkan diri kepada Allah Hati yang jauh dari Allah lebih mudah gelisah. 6. Kurangi overthinking Tidak semua harus dipikirkan berlebihan. 7. Biasakan berbuat baik kepada orang lain Kebaikan membuat hati lebih damai. Jika dilakukan, perlahan hati akan lebih tenang. Hadits Tentang Ketenangan Hati Rasulullah ? bersabda: “Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”(QS. Ar-Ra’d: 28) Ayat ini sangat jelas.Ketenangan tidak datang dari dunia, tetapi dari hati yang dekat dengan Allah. Orang yang tidak berdamai dengan dirinya sendiri biasanya juga sulit tenang dalam ibadah, sulit bersyukur, dan mudah kecewa. Bahaya Tidak Berdamai dengan Diri Sendiri Jika tidak belajar menerima diri, hidup bisa terasa berat walaupun sebenarnya baik-baik saja. Dampaknya: Mudah stres Mudah iri Sulit bahagia Tidak percaya diri Sering menyalahkan keadaan Padahal Allah tidak pernah salah dalam memberi takdir. Karena itu, cara berdamai dengan diri sendiri adalah kunci hidup lebih tenang. Sedekah Membuat Hati Lebih Tenang Salah satu cara paling cepat agar hati damai adalah dengan berbagi. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah 261: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai…” Sedekah membuat kita sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Ketika kita membantu orang lain, hati terasa lebih ringan dan lapang. Tanda-Tanda Kita Belum Berdamai dengan Diri Sendiri Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya belum berdamai dengan diri sendiri.Kelihatannya biasa saja, tetapi hatinya sering lelah, mudah marah, dan sulit merasa tenang. Beberapa tanda kita belum berdamai dengan diri sendiri: Mudah merasa tidak puas Sering menyalahkan keadaan Merasa hidup orang lain lebih enak Sulit menerima kekurangan Selalu merasa gagal Padahal setiap manusia punya ujian masing-masing.Allah tidak pernah salah dalam memberi jalan hidup. Dalam Islam, menerima diri bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima takdir sambil terus memperbaiki diri. Rasulullah ? bersabda: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi pada keduanya ada kebaikan.”(HR. Muslim) Hadits ini mengajarkan bahwa kita harus kuat, bukan dengan menyalahkan diri, tetapi dengan memperbaiki diri. Jika ingin melatih hati agar lebih tenang dan lebih mudah berdamai dengan diri sendiri, salah satu caranya adalah dengan rutin berinfak. Melalui BAZNAS Kota Sukabumiinfak yang kita keluarkan akan membantu fakir miskin, anak yatim, beasiswa, dan berbagai program kemanusiaan. untuk melihat artikel lainnya klik link dibawah ini : Hidup yang Lebih Tenang Dimulai dari Kata “Cukup” https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/bahagia-sejati-inilah-cara-islam-mengajarkan-hidup-penuh-kedamaian/40921
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Menyesal! Lalai Berinfak Bisa Merugikan, Padahal Pahalanya Sangat Besar
Jangan Sampai Menyesal! Lalai Berinfak Bisa Merugikan, Padahal Pahalanya Sangat Besar
Lalai berinfak bisa merugikan tanpa disadari. Simak keutamaan infak, dalil Al-Qur’an dan hadits, serta alasan mengapa jangan sampai menunda berinfak agar hidup lebih berkah dan tenang. Lalai Berinfak Bisa Merugikan, Jangan Sampai Menyesal Lalai berinfak sering dianggap hal kecil, padahal lalai berinfak bisa merugikan diri sendiri tanpa kita sadari. Banyak orang menunda infak karena merasa harta akan berkurang, padahal dalam Islam justru sebaliknya. Infak adalah amalan ringan, tetapi pahalanya sangat besar dan bisa menjadi penyelamat di dunia maupun akhirat. Allah SWT berfirman: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.”(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa infak bukan membuat miskin, justru melipatgandakan pahala dan keberkahan. Karena itu, lalai berinfak bisa merugikan, sebab kita melewatkan kesempatan pahala yang sangat besar. 1. Lalai Berinfak Bisa Membuat Hati Keras Salah satu dampak negatif dari lalai berinfak adalah hati menjadi keras dan sulit merasakan kepedulian. Rasulullah SAW bersabda: “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.”(HR. Baihaqi) Sedekah dan infak bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga melembutkan hati dan menenangkan jiwa. Orang yang jarang infak sering merasa gelisah, sementara orang yang rutin infak biasanya merasa lebih tenang. Ini bukti bahwa lalai berinfak bisa merugikan secara batin, bukan hanya secara pahala. 2. Takut Harta Berkurang, Padahal Infak Justru Menambah Masih banyak yang menunda infak karena takut uang berkurang. Padahal Rasulullah SAW bersabda: “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”(HR. Muslim) Hadits ini sangat jelas. Infak tidak membuat miskin, justru membuka pintu rezeki.Sebaliknya, lalai berinfak bisa merugikan, karena kita menutup pintu keberkahan sendiri. Sering kita melihat orang yang sederhana tapi hidupnya cukup, dan orang yang banyak harta tapi selalu merasa kurang. Salah satu sebabnya bisa jadi karena kebiasaan infak. 3. Infak Bisa Menolak Musibah Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa sedekah dan infak dapat menolak bala. Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah itu dapat memadamkan murka Allah dan menolak kematian yang buruk.”(HR. Tirmidzi) Ini menjadi pengingat kuat bahwa lalai berinfak bisa merugikan, karena kita melewatkan amalan yang bisa melindungi diri dari musibah. Tidak harus besar. Infak kecil tapi rutin lebih dicintai Allah daripada banyak tapi jarang. 4. Infak Adalah Bukti Syukur atas Nikmat Semua rezeki berasal dari Allah. Maka salah satu tanda syukur adalah berbagi. Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, pasti Aku tambah nikmat kepadamu.”(QS. Ibrahim: 7) Infak adalah bentuk syukur.Jika kita lalai berinfak, bisa jadi kita termasuk orang yang kurang bersyukur, dan itu bisa menjadi sebab berkurangnya keberkahan. Karena itu, lalai berinfak bisa merugikan, bukan hanya di akhirat, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. 5. Kesempatan Pahala Besar Jangan Disia-siakan Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berinfak. Ada yang ingin memberi tapi tidak punya. Kalau hari ini kita masih bisa infak, itu tanda Allah masih memberi peluang pahala. Jangan sampai kesempatan ini hilang hanya karena menunda. Orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan kesempatan pahala sebelum terlambat. 6. Infak Melalui Lembaga Resmi Lebih Aman dan Tepat Menyalurkan infak sebaiknya dilakukan melalui lembaga resmi yang amanah dan terpercaya. Dengan melalui lembaga yang memiliki pengelolaan jelas, infak yang kita keluarkan bisa sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan. Infak yang disalurkan secara teratur biasanya digunakan untuk berbagai program kebaikan, seperti membantu fakir miskin, pendidikan, kesehatan, bantuan bencana, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan cara ini, manfaat infak menjadi lebih luas dan tidak hanya dirasakan oleh satu orang saja. Selain itu, menyalurkan infak melalui lembaga resmi juga membuat kita lebih tenang, karena dana yang diberikan dikelola dengan tanggung jawab dan transparan. Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”(QS. At-Taubah: 103) Ayat ini menunjukkan bahwa pengelolaan harta di jalan Allah memang dianjurkan dilakukan dengan cara yang teratur agar manfaatnya lebih besar. 7. Jangan Sampai Menyesal Karena Lalai Berinfak Penyesalan sering datang terlambat.Saat sehat kita menunda, saat sempit kita ingin memberi tapi tidak mampu. Karena itu, jangan sampai lalai berinfak bisa merugikan, padahal pahalanya sangat besar dan manfaatnya nyata. Mulailah dari sekarang, dari yang kecil, dari yang mudah. 8. Infak Tidak Harus Banyak, yang Penting Ikhlas dan Rutin Masih banyak yang berpikir bahwa infak harus menunggu kaya. Padahal dalam Islam, infak tidak dilihat dari besar kecilnya, tetapi dari keikhlasan dan kesungguhan hati. Allah SWT juga berfirman: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit…”(QS. Ali Imran: 134) Ayat ini menjadi pengingat bahwa lalai berinfak bisa merugikan, karena kita menunda amalan yang sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Tidak harus menunggu gaji besar.Tidak harus menunggu punya banyak.Tidak harus menunggu waktu tertentu. Infak bisa dilakukan setiap hari, setiap minggu, atau setiap kali ada kesempatan. Jangan Sampai Lalai Berinfak Karena Ruginya Besar Dari penjelasan di atas, kita bisa memahami bahwa lalai berinfak bisa merugikan, baik di dunia maupun di akhirat.Infak bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga membuka pintu rezeki, menolak musibah, melembutkan hati, dan menjadi bukti syukur atas nikmat Allah. Banyak orang menyesal bukan karena tidak punya harta, tetapi karena tidak menggunakan hartanya di jalan kebaikan saat masih punya kesempatan. Jangan tunda kebaikan.Salurkan infak terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar lebih amanah, tepat sasaran, dan penuh berkah. Infak hari ini, pahala mengalir tanpa henti. untuk melihat artikel lainnya klik link di bawah ini : Pahala Sedekah Terancam Hilang, Waspada! 5 Niat Tersembunyi yang Bisa Menghapusnya https://baznaskotasukabumi.com/stop-bersedekah-demi-formalitas/
ARTIKEL18/03/2026 | BAZNAS
Bahagia Itu Sederhana: Sabar dan Syukur yang Sering Diabaikan!
Bahagia Itu Sederhana: Sabar dan Syukur yang Sering Diabaikan!
Pernah merasa hidup sudah punya banyak hal, tapi tetap gelisah? Atau justru saat hidup lagi sulit, kamu malah makin kehilangan arah? Hati-hati… bisa jadi kamu sedang melewatkan rahasia terbesar dalam hidup: bahagia itu sederhana: sabar dan syukur. Bahagia Itu Sederhana: Sabar dan Syukur sebagai Kunci Hidup Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur bukan hanya sekadar kalimat motivasi, tetapi prinsip hidup yang sangat dalam maknanya. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering terjebak dalam keinginan yang tidak ada habisnya. Ketika keinginan tidak terpenuhi, muncul rasa kecewa. Sebaliknya, saat mendapatkan nikmat, sering kali lupa bersyukur. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan bahwa kehidupan seorang mukmin itu luar biasa. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar dan itu juga menjadi kebaikan baginya. Dari sini jelas bahwa bahagia itu sederhana: sabar dan syukur adalah kunci keseimbangan hidup. 1. Sabar Saat Menghadapi Ujian Hidup Tidak ada hidup yang selalu berjalan mulus. Ujian adalah bagian dari perjalanan manusia. Sabar bukan berarti diam tanpa usaha, melainkan tetap berikhtiar sambil menjaga hati agar tidak dipenuhi keluhan. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur dimulai dari kemampuan menerima keadaan dengan lapang dada. Ketika seseorang mampu bersabar, ia tidak akan mudah putus asa. 2. Syukur atas Nikmat yang Sering Terlupakan Sering kali kita fokus pada apa yang belum dimiliki, sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada. Padahal nikmat kecil seperti kesehatan, waktu, dan keluarga adalah anugerah besar. Allah menjanjikan bahwa siapa yang bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur akan terasa ketika kita mulai menghargai hal-hal kecil dalam hidup. 3. Menghindari Perbandingan Sosial Membandingkan diri dengan orang lain adalah sumber ketidakbahagiaan. Kita hanya melihat kebahagiaan orang lain dari luar, tanpa tahu perjuangan di baliknya. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur akan sulit dirasakan jika kita terus merasa kurang dibandingkan orang lain. Fokuslah pada perjalanan diri sendiri. 4. Mengendalikan Emosi dengan Baik Emosi yang tidak terkendali dapat merusak kebahagiaan. Saat marah, seseorang bisa mengatakan atau melakukan hal yang disesali. Orang yang kuat adalah yang mampu menahan amarahnya. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur membantu seseorang untuk tetap tenang dalam menghadapi situasi sulit. 5. Memahami bahwa Semua Butuh Proses Segala sesuatu dalam hidup membutuhkan waktu. Tidak ada kesuksesan yang instan tanpa perjuangan. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur mengajarkan kita untuk menikmati setiap proses. Dengan begitu, kita tidak mudah gelisah atau terburu-buru dalam mencapai sesuatu. 6. Mendekatkan Diri kepada Allah Hati manusia akan merasa kosong jika jauh dari Sang Pencipta. Ketenangan sejati hanya datang dari mengingat Allah. Dengan memperbanyak dzikir, doa, dan ibadah, hati akan menjadi lebih tenang. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur akan tumbuh kuat ketika hati selalu terhubung dengan Allah. 7. Berbagi kepada Sesama Salah satu cara paling efektif untuk merasakan kebahagiaan adalah dengan berbagi. Memberi kepada orang lain tidak akan membuat kita kekurangan, justru sebaliknya, hati menjadi lebih lapang. Bahagia itu sederhana: sabar dan syukur akan terasa lebih nyata ketika kita membantu orang lain yang membutuhkan. Kesimpulan Pada akhirnya, bahagia itu sederhana: sabar dan syukur adalah dua hal yang harus selalu berjalan beriringan. Sabar menguatkan kita saat menghadapi ujian, sementara syukur menjaga kita tetap rendah hati saat mendapatkan nikmat. Jika keduanya dijaga dengan baik, maka hati akan selalu tenang dalam kondisi apa pun. Tidak mudah goyah oleh masalah, dan tidak mudah lupa diri saat bahagia datang. Yuk, mulai terapkan bahagia itu sederhana: sabar dan syukur dalam kehidupan sehari-hari. Jangan hanya diucapkan, tapi dibuktikan dengan tindakan nyata. Salah satu bentuk syukur yang bisa dilakukan adalah dengan berbagi kepada sesama melalui infaq. Dengan membantu orang lain, kita tidak hanya meringankan beban mereka, tetapi juga membersihkan hati kita sendiri. Mari salurkan infaq terbaik melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadilah bagian dari kebaikan yang terus mengalir. Karena sejatinya, bahagia itu sederhana: sabar dan syukur bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang memberi dengan ikhlas. untuk melihat artikel laiinya klik link di bawah ini : Belajar Bahagia dari Hal-Hal yang Tidak Sempurna https://baznaskotasukabumi.com/antara-wajib-dan-sunnah/
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Banyak Orang Tidak Sadar! Beratnya Tanggung Jawab Seorang Pemimpin Hingga di Akhirat
Banyak Orang Tidak Sadar! Beratnya Tanggung Jawab Seorang Pemimpin Hingga di Akhirat
Banyak orang berebut kursi jabatan, tapi sedikit yang sadar bahwa Tanggung Jawab Seorang Pemimpin itu bukan cuma soal fasilitas atau tanda tangan di atas materai. Di balik kewibawaan itu, ada beban yang sangat berat yang akan ditagih pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT kelak. Seringkali kita melihat kepemimpinan hanya dari sisi duniawi: gaji besar, ajudan di mana-mana, dan perintah yang selalu dituruti. Padahal, dalam kacamata Islam, menjadi pemimpin adalah sebuah ujian besar yang bisa menjadi jalan ke surga, atau justru sebaliknya, menjadi penyesalan yang tak berujung. 1. Setiap Kita Adalah Pemimpin Hal pertama yang harus disadari adalah bahwa Tanggung Jawab Seorang Pemimpin tidak hanya melekat pada Presiden, Gubernur, atau Wali Kota. Secara mikro, setiap individu memiliki wilayah kepemimpinannya masing-masing. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat populer: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya..." (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, baik Anda seorang ayah di rumah, manajer di kantor, atau bahkan memimpin diri sendiri, beban itu sudah ada di pundak Anda. 2. Penyesalan di Hari Kiamat Tahukah Anda bahwa banyak orang yang di dunia begitu berambisi mengejar jabatan, namun di akhirat mereka menangis? Rasulullah SAW pernah mengingatkan Abu Dzarr RA tentang sifat kepemimpinan. Beliau bersabda bahwa kepemimpinan adalah sebuah amanah, dan di hari kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajibannya. Tanggung Jawab Seorang Pemimpin menuntut keadilan yang mutlak. Satu keputusan yang salah dan merugikan rakyat atau bawahan, akan menjadi hutang yang harus dibayar di akhirat. 3. Bahaya Menutup Diri dari Rakyat Salah satu bentuk kegagalan dalam Tanggung Jawab Seorang Pemimpin adalah ketika ia sulit ditemui oleh rakyatnya yang sedang kesulitan. Islam mengancam pemimpin yang menutup pintu bagi orang-orang lemah. Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW menyebutkan bahwa siapa pun yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk mengurusi urusan kaum Muslimin, lalu ia menutup diri dari kebutuhan dan kemiskinan mereka, maka Allah akan menutup diri dari kebutuhannya di hari kiamat. Serem banget, kan? 4. Keadilan: Syarat Mutlak Masuk Surga Meskipun berat, Tanggung Jawab Seorang Pemimpin juga menawarkan "jalur VIP" menuju surga. Pemimpin yang adil termasuk dalam tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat, di saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Keadilan bukan berarti membagi rata, melainkan menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada yang berhak tanpa pandang bulu. 5. Amanah Bukan Untuk Gagah-gagahan Banyak orang lupa bahwa Tanggung Jawab Seorang Pemimpin adalah pelayan (khadimul ummah). Pemimpin yang sukses bukan yang paling banyak dilayani, tapi yang paling banyak melayani. Jika niatnya hanya untuk mencari status sosial, maka bersiaplah untuk menanggung beban yang tak sanggup dipikul saat hisab nanti. 6. Doa Rakyat Adalah Senjata Pemimpin yang dicintai adalah mereka yang didoakan oleh rakyatnya. Sebaliknya, pemimpin yang zalim akan mendapatkan kutukan dari mereka yang terzalimi. Rasulullah mengingatkan agar kita takut terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada hijab antara doa tersebut dengan Allah. 7. Persiapan Menuju Pertanggungjawaban Menyadari beratnya Tanggung Jawab Seorang Pemimpin, maka setiap keputusan harus diambil dengan landasan takwa. Jangan sampai demi kepentingan sesaat atau segelintir kelompok, kita mengabaikan maslahat orang banyak yang menjadi tanggung jawab kita. Kesimpulan Menjadi pemimpin memang terlihat mentereng di dunia, namun hakikatnya adalah beban yang sangat besar di akhirat. Mari kita doakan para pemimpin kita agar selalu amanah, dan jika kita sendiri yang sedang memimpin, mari perbaiki niat dan tingkatkan keadilan. Salah satu cara membersihkan harta dan melunakkan hati adalah dengan berbagi kepada sesama melalui lembaga yang terpercaya. Salurkan Infaq dan Sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi: Salurkan Infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap rupiah yang Anda berikan akan dikelola secara amanah untuk membantu kemaslahatan umat dan meringankan beban sesama. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-subur-34-sedekah-subuh-berkah-makmur https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/kisah-umar-bin-khattab-kepemimpinan-dan-kebijaksanaan-yang-mengagumkan/27405
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Kisah Menggetarkan! Saat Orang Lain Mengeluh, Ia Mengucap Alhamdulillah
Kisah Menggetarkan! Saat Orang Lain Mengeluh, Ia Mengucap Alhamdulillah
Saat Orang Lain Mengeluh: Sebuah Kebiasaan yang Umum Saat orang lain mengeluh, ia mengucap Alhamdulillah. Kalimat ini terdengar sederhana, namun tidak semua orang mampu melakukannya. Dalam kehidupan sehari- hari, kita sering mendengar keluhan. Tentang pekerjaan, rezeki, masalah keluarga, bahkan hal- hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting. Mengeluh seolah menjadi kebiasaan yang tanpa disadari terus terulang. Namun di tengah banyaknya keluhan itu, ada seseorang yang berbeda. Ia tidak ikut mengeluh. Ia justru memilih bersyukur. Ia Memilih Jalan yang Berbeda Orang ini hidup sederhana. Tidak bergelimang harta, tidak juga memiliki kehidupan yang sempurna. Apalagi jika dilihat dari luar, hidupnya penuh keterbatasan. Namun ada satu hal yang membuatnya berbeda: lisannya selalu mengucap &ldquo; Alhamdulillah.&rdquo; Ketika orang lain mengeluh tentang kekurangannya, ia bersyukur atas apa yang masih dimilikinya. Ketika orang lain fokus pada masalah, ia fokus pada kenikmatan yang masih ada. Bukan berarti hidup tanpa ujian. Ia juga merasakan lelah, sedih, bahkan kecewa. Tapi dia memilih untuk tidak larut dalam keluhannya. Alhamdulillah di Tengah Kekurangan Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya, &ldquo; Bagaimana kamu bisa tetap bersyukur dalam kondisi seperti ini?&rdquo; Ia tersenyum, lalu berkata, &ldquo; Karena aku masih punya banyak yang orang lain tidak punya.&rdquo; Ia masih bisa bernapas dengan lega, masih bisa makan meski sederhana, masih punya keluarga, dan yang paling penting, masih punya iman. Ia menyadari bahwa jika ia terus melihat apa yang kurang, hidupnya tidak akan pernah cukup. Tapi jika dia melihat apa yang ada, hidupnya selalu terasa cukup. Dalil tentang Syukur dalam Islam Allah SWT berfirman: " Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah ( nikmat) kamu." ( QS.Ibrahim : 7) Ayat ini menjadi kunci dari kehidupan. Ia percaya bahwa syukur bukan hanya bentuk ucapan, tapi juga cara yang berharga. Rasulullah SAW juga bersabda: &ldquo; Pandanglah orang yang berada di bawahmu ( dalam hal <
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Tidak Tahu! Rahasia Besar di Balik Pernikahan yang Disebut Ibadah dalam Islam
Jangan Sampai Tidak Tahu! Rahasia Besar di Balik Pernikahan yang Disebut Ibadah dalam Islam
Pernahkah kamu membayangkan sebuah aktivitas yang dilakukan seumur hidup, mulai dari membuka mata hingga memejamkannya kembali, dan semuanya dihitung sebagai pahala? Ya, jawabannya adalah pernikahan. Banyak dari kita mungkin sering mendengar ungkapan bahwa menikah adalah "ibadah terpanjang". Namun, apakah kita benar-benar memahami mengapa statusnya begitu istimewa dalam Islam? Bagi sebagian orang, pernikahan mungkin terlihat sebagai rutinitas domestik belaka&mdash;mengurus rumah, bekerja mencari nafkah, dan membesarkan anak. Tapi, jika kita membedahnya dengan kacamata iman, ada rahasia besar yang mengubah setiap lelah menjadi lillah. Mari kita kupas tuntas mengapa pernikahan bukan sekadar ikatan cinta, melainkan mesin pahala yang luar biasa. 1. Menyempurnakan Separuh Agama Ini adalah rahasia pertama yang paling fundamental. Menikah bukan hanya soal menemukan pasangan hidup, tapi soal mengokohkan pondasi spiritual kita. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat populer: "Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang lainnya." (HR. Al-Baihaqi). Bayangkan, hanya dengan satu akad yang sah, kamu sudah mengamankan 50% dari urusan agamamu. Mengapa demikian? Karena pernikahan membentengi seseorang dari fitnah syahwat, memberikan ketenangan batin (sakinah), dan menuntut tanggung jawab yang mendewasakan karakter seorang Muslim. 2. Ladang Pahala dari Aktivitas Sederhana Dalam Islam, kebaikan tidak selalu harus berupa shalat tahajud semalam suntuk atau puasa Daud. Dalam pernikahan, tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh kasih sayang pun bernilai sedekah. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa hubungan suami istri pun mengandung pahala. Ketika para sahabat bertanya keheranan, beliau menjawab bahwa jika syahwat disalurkan pada tempat yang haram maka berdosa, maka menyalurkannya pada tempat yang halal tentu berbuah pahala (HR. Muslim). Bahkan, sekadar menyuapkan makanan ke mulut istri atau memberikan senyuman hangat saat suami pulang kerja adalah investasi akhirat yang nyata. 3. Sekolah Kesabaran dan Syukur yang Tak Pernah Usai Pernikahan adalah tempat bertemunya dua kepala, dua latar belakang, dan dua ego yang berbeda. Di sinilah rahasia ibadah itu diuji. Saat pasangan melakukan kesalahan, ada ruang untuk bersabar. Saat pasangan memberikan kebahagiaan, ada ruang untuk bersyukur. Dua sifat ini, sabar dan syukur, adalah dua sayap utama keimanan. Islam memandang bahwa perjuangan menahan amarah demi keutuhan rumah tangga atau keikhlasan istri melayani suami adalah bentuk jihad di jalan Allah. Tidak ada sekolah yang lebih intensif dalam membentuk akhlak mulia selain di dalam rumah tangga. 4. Rezeki yang Dijanjikan Allah Banyak anak muda yang takut menikah karena alasan finansial. Padahal, salah satu rahasia besar pernikahan adalah terbukanya pintu rezeki. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu... Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya." (QS. An-Nur: 32). Janji Allah ini nyata. Pernikahan mendatangkan keberkahan karena adanya doa dari pasangan dan semangat untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Niat suci untuk menjaga kehormatan diri melalui jalan halal akan selalu mendapat pertolongan dari langit. 5. Mencetak Generasi Rabbani Pernikahan adalah satu-satunya institusi legal untuk menghasilkan keturunan. Namun dalam Islam, ini bukan sekadar soal menambah populasi. Ini adalah tentang mencetak kader-kader yang akan mendoakan kita saat kita sudah di liang lahat. Anak yang shalih adalah aset abadi. Setiap sujud yang dilakukan anak kita, setiap ayat yang mereka baca, pahalanya akan terus mengalir kepada orang tuanya yang telah mendidik mereka dalam ikatan pernikahan yang barakah. 6. Meneladani Sunnah Terbesar Rasulullah Islam sangat membenci gaya hidup membujang (selibat) jika tidak ada uzur syar'i. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa menikah adalah jalannya. "Menikah adalah sunnahku. Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan bagian dariku." (HR. Bukhari &amp; Muslim). Dengan menikah, kita secara otomatis sedang menyelaraskan gaya hidup kita dengan manusia paling mulia di muka bumi. Mengikuti sunnah bukan hanya soal teknis, tapi soal rasa cinta dan ketaatan kepada sang pembawa risalah. 7. Ketenangan Hati sebagai Modal Ibadah Sulit untuk fokus beribadah jika hati selalu merasa kesepian atau terganggu oleh godaan pandangan. Pernikahan memberikan sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta), dan warahmah (kasih sayang). Ketika hati tenang karena ada tempat untuk pulang dan berbagi cerita, maka kualitas ibadah ritual kita seperti shalat dan dzikir pun akan meningkat. Kesimpulan: Jadikan Rumah Tangga Sebagai Jalan Surga Memahami bahwa pernikahan adalah ibadah akan mengubah cara kita memandang konflik. Jika kita tahu bahwa bersabar menghadapi pasangan adalah pahala, maka kita tidak akan mudah mengeluh. Jika kita sadar bahwa mencari nafkah adalah sedekah, maka kita akan bekerja dengan lebih bersemangat. Pernikahan adalah perjalanan panjang menuju Allah. Jangan biarkan ia hanya menjadi status di KTP. Jadikan setiap detiknya sebagai tabungan untuk hari akhir nanti. Keberkahan dalam rumah tangga seringkali datang dari tangan-tangan yang ringan dalam memberi. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat keluarga yang sakinah, yuk bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan di wilayah Sukabumi. Sempurnakan Keberkahan Keluarga dengan Berbagi: Salurkan Infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Setiap rupiah yang Anda berikan akan dikelola secara amanah untuk membantu kemaslahatan umat dan meringankan beban sesama. Mari berinfaq sekarang, raih keberkahan tak terhingga untuk keluarga tercinta! Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/sedekah-tanda-syukur https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/masyaallah-rahasia-parenting-islami-untuk-menciptakan-keluarga-bahagia-dan-penuh-berkah/41607
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Subhanallah! Rahasia Dagang Berkah yang Diajarakan dalam Islam
Subhanallah! Rahasia Dagang Berkah yang Diajarakan dalam Islam
Siapa sih di sini yang nggak pengen usahanya maju, omzetnya meledak, tapi hatinya tetap tenang dan tidurnya nyenyak? Pasti mau banget, kan? Seringkali kita terjebak dalam pola pikir "yang penting untung gede, masa bodoh caranya." Padahal, dalam Islam, berdagang bukan sekadar aktivitas tukar barang dengan uang. Berdagang adalah ibadah, sebuah jalan untuk menjemput rezeki yang sudah Allah tebarkan di muka bumi. Pernah nggak sih kamu merasa, omzet bulanan sih gede, puluhan juta bahkan ratusan juta, tapi kok rasanya uangnya cepat banget habis? Nggak tahu lari ke mana, dan nggak meninggalkan bekas kebaikan. Bisa jadi, ada elemen penting yang hilang dari perniagaan kita: Keberkahan. Keberkahan (barokah) itu artinya ziyadatul khair, bertambahnya kebaikan. Kalau dagangan kita berkah, untung sedikit pun terasa cukup dan membawa ketenangan. Kalau untungnya banyak, manfaatnya meluber kemana-mana, baik untuk keluarga maupun orang lain. Lalu, gimana sih rahasia dagang biar berkah dan anti rugi? Jawabannya ada pada teladan terbaik kita, Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah seorang pedagang sukses bahkan sebelum diangkat menjadi nabi. Beliau dijuluki Al-Amin (yang terpercaya) karena kejujurannya di pasar. Yuk, kita bedah 7 Rahasia Dagang Berkah ala Rasulullah yang bisa langsung kamu praktikkan dalam bisnis kamu hari ini! 1. Niatkan karena Allah (Lillah) Segala sesuatu bermula dari niat. Kalau niat berdagang cuma buat pamer kekayaan atau beli mobil mewah, ya mungkin kamu akan dapat mobilnya, tapi pahala dan keberkahannya kosong. Jadikan dagang sebagai sarana ibadah. Niatkan untuk memberi nafkah halal bagi keluarga, membantu sesama, dan memperkuat ekonomi umat. Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya." (HR. Bukhari &amp; Muslim) Saat kamu membuka toko atau menyalakan dashboard marketplace di pagi hari, ucapkan Bismillah, dan luruskan niatmu. "Ya Allah, aku berikhtiar menjemput rezeki-Mu untuk menghidupi keluargaku, berkahilah usahaku hari ini." 2. Kejujuran Adalah Harga Mati (No Tipu-Tipu) Ini dia kuncinya! Jangan pernah, sekali-kali, menyembunyikan cacat barang. Kalau barangnya KW, bilang KW. Kalau expired-nya tinggal sebulan, kasih tahu pembeli. Jangan mengurangi timbangan atau ukuran. Islam sangat melarang kecurangan dalam hal ini. Dalam Al-Qur'an surah Al-Muthaffifin, Allah mengancam orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang dengan azab yang pedih. Sebaliknya, pedagang yang jujur mendapat kedudukan tinggi. "Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada." (HR. Tirmidzi) Bayangkan! Cuma karena jujur jualan, kedudukan kita disejajarkan dengan para nabi di akhirat nanti. Subhanallah! 3. Menjual Barang yang Halal dan Thayyib Pastikan produk yang kamu jual itu halal zatnya dan cara mendapatkannya. Jangan menjual barang-barang yang dilarang agama, seperti khamr, narkoba, atau barang hasil curian. Selain halal, pastikan juga thayyib (baik/berkualitas). Jangan menjual barang yang sudah rusak atau membahayakan konsumen. Menjual barang berkualitas adalah bentuk pemuliaan terhadap pelanggan. 4. Tidak Menimbun Barang (Ihtikar) Pernah lihat fenomena menimbun masker saat pandemi atau menimbun minyak goreng saat langka? Itu namanya ihtikar, dan hukumnya haram. Tujuannya adalah menumpuk barang agar nanti bisa dijual dengan harga sangat tinggi saat orang sangat membutuhkan. Nabi Muhammad SAW mengecam keras tindakan ini: "Barangsiapa yang menimbun barang makanan selama empat puluh hari, maka ia telah berlepas diri dari Allah dan Allah berlepas diri darinya." (HR. Ahmad) Rezeki sudah diatur, Sobat. Nggak perlu pakai cara licik yang menyengsarakan orang lain demi untung sesaat. 5. Murah Hati dan Tidak Kaku Berdaganglah dengan santai dan ramah. Jangan bermuka masam kalau ada pembeli yang nawar (meski nawarnya kebangetan). Kalau kamu bisa ngasih diskon sedikit tanpa merugikan usaha, kasihlah. Kemudahan yang kamu berikan kepada pembeli akan mendatangkan rahmat Allah. "Allah merahmati seseorang yang mudah (murah hati) ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih hak (piutang)." (HR. Bukhari) Senyum yang tulus, pelayanan yang responsif, dan sikap yang 'ngemong' pelanggan adalah kunci agar mereka repeat order. 6. Jauhkan Diri dari Riba Riba adalah dosa besar. Dalam bisnis modern, riba seringkali menyelinap dalam bentuk bunga pinjaman modal yang mencekik, atau denda keterlambatan yang berlipat ganda. Allah berfirman: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah." (QS. Al-Baqarah: 276) Kalau modal terbatas, carilah lembaga keuangan syariah yang menggunakan akad murabahah (jual beli) atau mudharabah (bagi hasil) yang sah, atau mintalah bantuan investor dengan cara yang halal. Modal yang didapat dengan cara riba hanya akan menghancurkan keberkahan usahamu. 7. Rahasia Pamungkas: Jangan Pernah Lupa Berinfak! Inilah rahasia terbesar dari pedagang-pedagang sukses Muslim sejak zaman sahabat. Mereka tidak pernah takut hartanya habis karena disedekahkan. Justru, mereka tahu kalau sedekah adalah cara terbaik untuk "memancing" rezeki yang lebih besar dan membersihkan harta. Banyak orang berpikir, "Kalau saya kasih uang ke orang lain, uang saya berkurang dong?" Matematika manusia mungkin begitu, tapi Matematika Allah berbeda. "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Sedekah dan infak tidak akan mengurangi harta, justru akan menjaganya dan menambah keberkahannya. Sobat Berkah, menerapkan prinsip dagang Islam mungkin terasa berat di awal, apalagi kalau kompetitor di sekitar kita menggunakan cara-cara yang "penting laku." Tapi percayalah, janji Allah itu pasti. Keuntungan materi bisa habis, tapi keberkahan akan terus mengalir. Ayo, kita jadikan bisnis kita sebagai ladang pahala. Mulai hari ini, mari kita perbaiki cara kita berdagang, bersihkan dari kecurangan, dan hiasi dengan kejujuran. Sudahkah Daganganmu Hari Ini Memberi Manfaat bagi Sesama? Lengkapi keberkahan usahamu dengan menyisihkan sebagian keuntungan untuk mereka yang membutuhkan. Melalui BAZNAS Kota Sukabumi, infak dan sedekahmu akan dikelola secara profesional dan disalurkan kepada yang berhak di wilayah Sukabumi, membantu mengentaskan kemiskinan dan memajukan umat. Mari Tunaikan Infak Anda Sekarang! Salurkan melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi atau datang langsung ke kantor layanan kami. Semoga Allah SWT memberkahi usaha kita semua dan menjadikan kita pedagang-pedagang yang jujur dan sukses di dunia maupun akhirat. Amin ya Rabbal &lsquo;Alamin. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/sedekah-jariyah-bantu-bangun-masjid-sukabumi https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/pengertian-jenis-dan-syarat-zakat-perdagangan/25931
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Tidak Tahu! Alasan Ibadah Haji Menjadi Rukun Islam yang Istimewa
Jangan Sampai Tidak Tahu! Alasan Ibadah Haji Menjadi Rukun Islam yang Istimewa
Assalamu'alaikum, Sahabat! Pernah nggak sih kamu merasa merinding atau terharu saat melihat tayangan ribuan orang berpakaian putih di sekitar Ka'bah? Ada perasaan rindu yang tiba-tiba muncul, padahal mungkin kita belum pernah ke sana. Itulah keajaiban ibadah haji. Ibadah haji bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah puncak dari rukun Islam, pilar kelima yang melengkapi keislaman seseorang. Berbeda dengan shalat yang kita lakukan setiap hari atau puasa yang kita jalani setiap tahun, haji hanya diwajibkan sekali seumur hidup bagi mereka yang mampu. Mengapa ibadah ini begitu istimewa dan selalu menjadi impian setiap Muslim? Mari kita ventilasi satu per satu. Jangan sampai tidak tahu, ya! 1. Panggilan Langsung dari Allah SWT Alasan pertama yang menjadikan ibadah haji begitu istimewa adalah kedudukannya sebagai undangan istimewa. Tidak semua orang, bahkan yang kaya raya sekalipun, bisa berangkat haji jika belum "dipanggil" oleh Allah SWT. Sebaliknya, ada orang dengan keterbatasan ekonomi yang secara ajaib bisa sampai ke tanah suci. Ketika seorang Muslim bermaksud haji, dia sedang memenuhi seruan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah untuk menyeru manusia mengerjakan haji. Keistimewaan ini diungkapkan dalam sebuah hadis: &ldquo;Orang yang berhaji di jalan Allah, orang yang berhaji, dan orang yang berumrah adalah tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya. Dan mereka memohon kepada Allah, lalu Allah mengabulkan permohonan mereka.&rdquo; (HR. Ibnu Majah) Menjadi tamu Allah adalah kehormatan tertinggi yang bisa diperoleh seorang hamba. 2. Penghapus Segala Dosa, Kembali Suci seperti Bayi Ini adalah alasan utama yang membuat banyak orang menangis haru di Padang Arafah. Ibadah haji menawarkan hadiah yang luar biasa: penghapusan dosa secara total. Tentu saja, ini berlaku bagi mereka yang menjalani haji dengan ikhlas dan sesuai syariat (haji mabrur). Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Siapa yang berhaji ke rumah ini (Ka&rsquo;bah), lalu dia tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka dia kembali suci seperti hari di mana ibunya melahirkannya.&rdquo; (HR. Bukhari dan Muslim) Bayangkan, kesempatan untuk menghapus semua lembaran hitam masa lalu dan memulai hidup baru dengan hati yang suci. Siapa yang tidak menginginkannya? 3. Puncak Ujian Keimanan dan Pengorbanan Ibadah haji adalah ibadah multidimensi. Ia tidak hanya menguji fisik (karena cuaca dan padatnya jamaah), tetapi juga menguji mental, emosi, dan harta. Seseorang harus menabung bertahun-tahun, meninggalkan keluarga, dan menghabiskan tenaga. Di sana, ego kita dihancurkan. Tidak ada jabatan, tidak ada kekayaan yang bisa dilihat. Semua orang sama di hadapan Allah, mengenakan pakaian ihram yang sederhana. Ini adalah latihan pamungkas untuk menjadi hamba yang tawadhu (rendah hati). 4. Gambaran Hari Kebangkitan (Yaumul Mahsyar) Saat jutaan manusia berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian putih yang sama, pemandangan ini adalah simulasi kecil dari Hari Kebangkitan. Di bawah terik matahari, semua manusia menunggu nasib mereka, memohon belas kasihan, tanpa memedulikan status sosial. Kondisi ini mengingatkan kita akan akhirat, membuat kita sadar betapa kecilnya dunia ini dan betapa pentingnya bekal takwa. 5. Jihad bagi Kaum Lemah dan Wanita Bagi wanita dan orang-orang yang secara fisik tidak mampu mengangkat senjata, Allah SWT memberikan jalan jihad yang luar biasa melalui ibadah haji. 'Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, kami melihat jihad adalah amalan yang paling afdhal. Apakah kami (wanita) tidak boleh berjihad?" Rasulullah SAW menjawab: &ldquo;Tidak, jihad yang paling afdhal bagi kalian adalah haji yang mabrur.&rdquo; (HR.Bukhari) Keistimewaan ini memberikan kesetaraan peluang pahala bagi seluruh umat Islam, apa pun kondisinya. 6. Persatuan Umat Islam Sedunia Ibadah haji adalah ajang Muktamar Akbar umat Islam global. Kita akan bertemu dengan saudara seiman dari berbagai negara, warna kulit, dan bahasa. Di sini terlihat jelas betapa indahnya persatuan Islam. Tidak ada sekat rasisme atau nasionalisme; semua dipersatukan dengan kalimat Laa Ilaha Illallah . 7. Balasannya Adalah Surga Ini adalah janji pamungkas dari Allah SWT. Tidak ada balasan yang pantas bagi ibadah yang penuh pengorbanan ini selain surga. Nabi Muhammad SAW bersabda: "...Dan haji mabrur tidak ada balasan kecuali surga." (HR. Bukhari dan Muslim) Mengingat keistimewaan ibadah ini, wajar jika rasa rindu ke tanah suci selalu bergejolak. Semoga kita semua dimampukan oleh Allah SWT untuk memenuhi panggilan-Nya. Amin. Sahabat, perjalanan menuju haji mabrur sering kali dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dicintai Allah, salah satunya adalah berinfaq dan bersedekah. Sedekah tidak akan mengurangi hartamu, justru akan membersihkan dan memberkahinya. Sambil Menunggu Antrean Haji, Yuk Sedekah Dulu! Sambil memupuk rindu dan menabung untuk berangkat haji, mari kita bersihkan harta dengan menyalurkan infaq terbaik melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Infaqmu akan sangat berarti untuk membantu sesama yang membutuhkan di sekitar kita. Mari berinfaq sekarang melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jemput keberkahan hidup! Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/fidyah https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/mana-yang-harus-didahulukan-haji-atau-umroh/31145
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Menyesal! Ini Dampak Tidak Puasa dengan Sengaja Tanpa Ada Halangan
Jangan Sampai Menyesal! Ini Dampak Tidak Puasa dengan Sengaja Tanpa Ada Halangan
Pernah kepikiran, &ldquo;Ah, bolong puasa sehari aja gak apa-apa&rdquo;?Hati-hati&hellip; keputusan kecil itu bisa membawa dampak besar yang sering diremehkan. Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bukan cuma soal lapar dan haus, tapi bisa menyentuh iman, pahala, bahkan kehidupan akhirat. Apa Itu Tidak Puasa Sengaja Tanpa Halangan? Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan terjadi ketika seseorang meninggalkan puasa di bulan Ramadhan tanpa alasan syar&rsquo;i, seperti sakit, safar, atau uzur lainnya. Padahal, puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang sudah baligh dan mampu. Dalam Al-Qur&rsquo;an disebutkan bahwa puasa adalah kewajiban yang harus dijalankan dengan penuh keimanan. 7 Dampak Mengerikan Tidak Puasa Sengaja Tanpa Halangan 1. Dosa Besar yang Tidak Bisa Diremehkan Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan termasuk dosa besar. Bahkan, para ulama sepakat bahwa meninggalkan puasa tanpa alasan yang sah adalah bentuk pelanggaran serius terhadap perintah Allah. 2. Pahala Tidak Bisa Diganti Sepenuhnya Rasulullah ? bersabda:&ldquo;Barang siapa yang berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah (keringanan) dan tanpa sakit, maka tidak akan bisa menggantinya walaupun ia berpuasa sepanjang tahun.&rdquo; (HR. Abu Dawud) Ini menunjukkan bahwa dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan tidak bisa dianggap sepele, karena kehilangan pahala yang sangat besar. 3. Hati Menjadi Keras dan Jauh dari Allah Salah satu dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan adalah hati menjadi kurang peka terhadap kebaikan. Ibadah yang ditinggalkan bisa membuat hubungan dengan Allah semakin renggang. 4. Kehilangan Keberkahan Hidup Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Ketika seseorang sengaja tidak berpuasa, ia juga kehilangan limpahan keberkahan yang seharusnya ia dapatkan. 5. Merusak Konsistensi Ibadah Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bisa membuat seseorang terbiasa meremehkan ibadah lain. Hari ini meninggalkan puasa, besok bisa jadi meninggalkan shalat. 6. Mendapat Ancaman Keras dalam Hadits Dalam sebuah hadits, Rasulullah ? menggambarkan siksa bagi orang yang meninggalkan puasa dengan sengaja. Ini menjadi peringatan serius bahwa dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bukan sekadar urusan dunia, tapi juga akhirat. 7. Penyesalan di Akhir Hayat Banyak orang baru sadar ketika waktu sudah terlambat. Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan sering kali berujung pada penyesalan yang tidak bisa diulang kembali. Sisi Positif: Masih Ada Kesempatan Taubat! Kabar baiknya, Allah Maha Pengampun. Selama kita masih hidup, pintu taubat selalu terbuka. Langkah yang bisa dilakukan: Segera bertaubat dengan sungguh-sungguh Mengqadha puasa yang ditinggalkan Memperbanyak amal kebaikan Allah berfirman bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertaubat. Jadi, jangan tunggu nanti! Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan juga bisa membuat seseorang kehilangan kesempatan mendapatkan syafaat (pertolongan) di hari kiamat. Artinya, orang yang menjaga puasanya akan mendapatkan pembelaan di akhirat. Sebaliknya, jika seseorang dengan sengaja meninggalkan puasa tanpa alasan, maka ia berisiko kehilangan keutamaan besar tersebut. Ini bukan hanya soal ibadah harian, tapi tentang keselamatan kita di akhirat nanti. Kenapa Kita Harus Peduli? Karena hidup bukan hanya soal hari ini. Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bisa berpengaruh panjang, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan menjaga puasa, kita: Melatih kesabaran Menguatkan iman Mendekatkan diri kepada Allah Kesimpulan Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bukan hal sepele. Dari dosa besar hingga penyesalan mendalam, semuanya bisa terjadi jika kita meremehkan ibadah ini. Selagi masih ada kesempatan, perbaiki diri, jaga puasa, dan lengkapi dengan amal kebaikan agar hidup lebih tenang dan penuh berkah. Tapi ingat, selalu ada jalan kembali. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari hanya karena keputusan yang sebenarnya bisa kita hindari. Jangan sampai kita termasuk orang yang menyesal karena meremehkan ibadah. Dampak tidak puasa sengaja tanpa halangan bukan hanya terasa sekarang, tapi bisa berlanjut hingga kehidupan setelah mati. Salurkan infaq terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi dan jadilah bagian dari kebaikan yang terus mengalir. ? Sedikit dari kita, besar manfaatnya untuk mereka. Yuk, mulai sekarang! untuk melihat artikel laiinya klik link di bawah ini : Hal-hal yang membatalkan puasa : pengetahuan penting untuk setiap muslim https://baznaskotasukabumi.com/hutang-puasa-dan-fidyah/
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Kisah Pahit yang Bikin Tersadar! Akibat Terlalu Cinta Dunia
Kisah Pahit yang Bikin Tersadar! Akibat Terlalu Cinta Dunia
Terlalu Cinta Dunia: Awal dari Masalah Kisah pahit akibat terlalu cinta dunia bukan sekadar cerita, namun kenyataan yang sering terjadi di sekitar kita. Banyak orang terjebak dalam gemerlap dunia, mengejar harta, jabatan, dan kesenangan tanpa henti. Tanpa sadar, hati menjadi keras. Ibadah mulai ditinggalkan. Waktu untuk Allah semakin sedikit. Padahal dunia hanyalah sementara. Namun, ketika cinta dunia sudah menguasai hati, semuanya terasa penting&hellip; kecuali akhirat. Kisah Seorang Pria yang Terlena Dunia Ada seorang pria sederhana yang dulunya taat beribadah. Ia rajin shalat, gemar bersedekah, dan dikenal baik oleh lingkungannya. Namun semuanya berubah ketika ia mulai sukses. Usahanya berkembang pesat. Hartanya bertambah. Kehidupannya menjadi lebih mewah. Dari situ, perlahan ia berubah. Ia mulai sibuk. Shalat sering ditunda. Sedekah yang dulu rutin, kini hampir tidak pernah dilakukan. Baginya, waktu adalah uang. Dan ibadah&hellip; dianggap bisa nanti saja. Saat Harta Jadi Segalanya Semakin hari, dia semakin tenggelam dalam dunia. Ia bekerja tanpa henti, bahkan melupakan keluarganya. Ia merasa bahagia dengan hartanya. Ia merasa cukup dengan pencapaiannya. Namun tanpa ia sadari, jantungnya kosong. Tidak ada ketenangan. Tidak ada rasa yang cukup. Selalu ingin lebih dan lebih lagi. Inilah ciri orang yang terlalu mencintai dunia. Rasulullah SAW bersabda: Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia akan mencari lembah ketiga . ( HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menggambarkan betapa manusia tidak akan pernah puas jika hanya mengejar dunia. Dalil tentang Bahaya Cinta Dunia Allah SWT berfirman: &ldquo; Pahamilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau&hellip;&rdquo; ( QS. Al- Hadid: 20) Ayat ini mengingatkan bahwa dunia bukanlah tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tempat tinggal selamanya. Rasulullah SAW juga bersabda: &ldquo; Cinta dunia adalah pangkal dari segala kesalahan.&rdquo; ( HR.Baihaqi ) Ketika seseorang terlalu mencintai dunia, ia bisa melupakan segalanya&mdash; termasuk tujuan hidupnya sendiri. Titik Balik yang Menyakitkan Suatu hari, pria itu jatuh sakit. Awalnya dia mengira itu <span class="BZ_Pyq_f
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Larangan saat Lebaran! Masih Banyak yang Melanggar!
Larangan saat Lebaran! Masih Banyak yang Melanggar!
Pernah nggak sih kamu ngerasa sudah menjalani Ramadhan dengan maksimal, tapi justru &ldquo;rusak&rdquo; di hari Lebaran? Tanpa sadar, banyak orang masih melakukan larangan saat lebaran yang sebenarnya bisa mengurangi nilai ibadahnya. Mirisnya, hal ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya cukup serius&mdash;bisa bikin pahala berkurang bahkan hilang! Di sisi lain, Lebaran adalah momen penuh kebahagiaan, silaturahmi, dan kemenangan. Nah, supaya kebahagiaan itu tetap bernilai ibadah, yuk pahami apa saja larangan saat lebaran yang wajib dihindari! 1. Berlebihan dalam Makan dan Minum Setelah sebulan berpuasa, wajar kalau ingin menikmati makanan. Tapi ingat, Islam melarang berlebih-lebihan. Allah berfirman: &ldquo;Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.&rdquo; (QS. Al-A&rsquo;raf: 31) Larangan saat lebaran ini sering banget dilanggar. Akibatnya bukan cuma kesehatan terganggu, tapi juga menghilangkan makna kesederhanaan yang diajarkan saat Ramadhan. 2. Pamer Kemewahan (Riya&rsquo;) Memakai baju baru itu sunnah, tapi kalau sampai pamer berlebihan, ini jadi masalah. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.&rdquo; (HR. Muslim) Salah satu larangan saat lebaran yang sering terjadi adalah ajang pamer di media sosial. Hati-hati, niat ibadah bisa berubah jadi riya&rsquo;. 3. Melupakan Shalat karena Sibuk Silaturahmi Silaturahmi itu bagus, tapi jangan sampai melalaikan kewajiban utama. Banyak orang sibuk keliling rumah saudara sampai lupa waktu shalat. Padahal ini termasuk larangan saat lebaran yang serius karena meninggalkan shalat adalah dosa besar. 4. Berjabat Tangan dengan Non-Mahram Tradisi saling bersalaman saat Lebaran memang sudah umum. Tapi tetap ada batasan dalam Islam. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Lebih baik ditusuk kepalanya dengan besi daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.&rdquo; (HR. Thabrani) Ini adalah larangan saat lebaran yang sering diabaikan karena alasan budaya. Padahal, syariat tetap harus diutamakan. 5. Mengumbar Aurat dengan Alasan Fashion Lebaran Tren baju Lebaran kadang justru menjauh dari syariat. Banyak yang lebih fokus pada gaya daripada menutup aurat. Padahal Allah memerintahkan: &ldquo;Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya...&rdquo; (QS. An-Nur: 31) Larangan saat lebaran ini sering dianggap biasa, padahal bisa mengurangi keberkahan hari kemenangan. 6. Bergosip Saat Berkumpul Lebaran identik dengan kumpul keluarga. Tapi sayangnya, obrolan sering berubah jadi ghibah. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Tahukah kalian apa itu ghibah?... menyebut sesuatu yang tidak disukai saudaramu.&rdquo; (HR. Muslim) Hati-hati, larangan saat lebaran ini bisa menghapus pahala puasa yang sudah susah payah kita kumpulkan. 7. Lupa Bersedekah dan Berbagi Lebaran bukan hanya tentang menerima, tapi juga memberi. Banyak orang lupa bahwa berbagi adalah inti kebahagiaan. Padahal Rasulullah ? adalah orang yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadhan dan setelahnya. Melupakan sedekah termasuk larangan saat lebaran secara tidak langsung, karena kita melewatkan peluang pahala besar. 8. Mengabaikan Takbir di Hari Raya Hari Lebaran identik dengan takbir yang menggema. Tapi sayangnya, banyak orang justru lebih sibuk dengan persiapan duniawi. Padahal Allah berfirman: &ldquo;Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir)...&rdquo; (QS. Al-Baqarah: 185) Larangan saat lebaran ini sering tidak terasa, karena kita lebih fokus pada baju baru, makanan, dan acara keluarga. Padahal memperbanyak takbir adalah sunnah yang sangat dianjurkan. 9. Berlebihan dalam Hiburan Menonton, bermain, atau hiburan saat Lebaran itu boleh. Tapi kalau sampai melalaikan ibadah atau mengandung hal yang tidak baik, itu jadi masalah. Rasulullah ? bersabda: &ldquo;Sesungguhnya setiap umat memiliki hari raya...&rdquo; (HR. Bukhari &amp; Muslim) Maknanya, Islam memang memberi ruang kebahagiaan, tapi tetap dalam batas syariat. Jadi, penting untuk menjaga agar hiburan tidak melanggar nilai-nilai Islam. 10. Tidak Saling Memaafkan dengan Tulus Lebaran identik dengan kata &ldquo;mohon maaf lahir dan batin&rdquo;. Tapi sayangnya, tidak semua orang benar-benar tulus memaafkan. Padahal Allah berfirman: &ldquo;Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada...&rdquo; (QS. An-Nur: 22) Ini termasuk larangan saat lebaran yang tersembunyi&mdash;yaitu masih menyimpan dendam. Hati yang tidak bersih bisa mengurangi makna kemenangan di hari raya. Kesimpulan Lebaran adalah momen kemenangan, tapi kemenangan itu harus dijaga. Jangan sampai kebiasaan buruk justru merusak amal ibadah yang sudah dibangun selama Ramadhan. Dengan menghindari larangan saat lebaran, kita bisa menjaga kemurnian hati, memperkuat keimanan, dan menjadikan hari raya benar-benar penuh berkah. Di hari yang penuh kemenangan ini, jangan lupa untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Mari salurkan infaq terbaikmu melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar bantuanmu tepat sasaran dan benar-benar bermanfaat bagi yang membutuhkan. ? Karena satu kebaikan kecil dari kita, bisa menjadi kebahagiaan besar bagi orang lain. untuk melihat artikel lainnya klik link dibawah ini : Lebaran bukan hanya soal baju baru dan THR! Ini cara agar Idul Fitri 2025 lebih berkah dan penuh makna! https://baznaskotasukabumi.com/campaign/34-subur-34-sedekah-subuh-berkah-makmur
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Dulu Pelit, Kini Dermawan yang Mengubah Hidup Secara Dahsyat
Dulu Pelit, Kini Dermawan yang Mengubah Hidup Secara Dahsyat
Dulu Pelit Kini Dermawan: Awal Perubahan Dulu pelit kini dermawan bukan sekadar cerita, tapi kenyataan yang benar- benar terjadi. Banyak orang yang awalnya sangat sulit berbagi, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Mereka takut hartanya berkurang, khawatir masa depan tidak terjamin, dan merasa bahwa memberi adalah kerugian. Namun, siapa sangka, justru dari perubahan kecil di hati, hidup mereka berubah drastis. Kisah ini dimulai dari seorang pria sederhana yang dikenal pelit oleh lingkungannya. Ia selalu menolak ketika diminta bantuan, bahkan untuk hal yang sangat ringan. Baginya, menyimpan lebih penting daripada memberi. Titik Balik Kehidupan Suatu hari, ia mendengar ceramah tentang sedekah. Dalam ceramah itu disebutkan bahwa: Sedekah tidak akan mengurangi harta . ( HR.Muslim ) Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Awalnya ia ragu, namun perlahan jantung mulai menyentuh. Ia mencoba memberi, meskipun hanya sedikit. Dan di situlah perubahan dimulai. Keajaiban Sedekah yang Nyata Setelah mulai bersedekah, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Hatinya menjadi lebih tenang, pikiran lebih lapang, dan yang paling mengejutkan, rezekinya justru semakin bertambah. Inilah bukti bahwa dulu pelit kini dermawan bisa menjadi jalan perubahan hidup. Allah SWT berfirman dalam Al- Qur'an: Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir . ( QS. Al- Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa sedekah bukan kerugian, tapi investasi yang dilipat gandakan. Dalil Hadis tentang Sedekah Rasulullah SAW juga bersabda: " Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." ( HR. Bukhari dan Muslim) Artinya, memberi jauh lebih mulia daripada menerima. Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa setiap pagi, dua malaikat turun dan berdoa: &ldquo; Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang bersedekah, dan berikanlah kehancuran bagi <span dir="auto"
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Sedekah: Tanda Syukur yang Menguatkan dan Memberdayakan, 7 Rahasia Dahsyat yang Wajib Kamu Tahu!
Sedekah: Tanda Syukur yang Menguatkan dan Memberdayakan, 7 Rahasia Dahsyat yang Wajib Kamu Tahu!
Pernah merasa rezeki seret, hati risih, dan hidup terasa berat? Atau justru ingin hidup makin berkah tapi bingung harus mulai dari mana? Jawabannya bisa jadi sederhana tapi sering diabaikan: sedekah . Ya, sedekah bukan cuma soal memberi, tapi tentang membuka pintu rezeki yang tak terduga! Apa Itu Sedekah? Sedekah adalah bentuk pemberian seorang muslim kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa mengharap balasan dari manusia. Sedekah tidak selalu berupa uang, bisa juga tenaga, ilmu, bahkan senyuman. Dalam Islam, sedekah menjadi bukti nyata rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Sedekah sebagai Tanda Syukur Sedekah adalah tanda syukur yang menguatkan dan memberdayakan. Ketika seseorang bersyukur, ia tidak hanya mengucapkan &ldquo;Alhamdulillah&rdquo;, tetapi juga berbagi dengan sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kamu." (QS.Ibrahim:7) Artinya, sedekah bukan mengurangi harta, justru menambah keberkahan. 7 Rahasia Dahsyat Sedekah 1. Membuka Pintu Rezeki Tak Terduga Sedekah adalah magnet rezeki. Banyak orang merasakan keajaiban setelah rutin bersedekah. 2. Menghapus Dosa Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air realisasi api.&rdquo; (HR. Tirmidzi) 3. Menenangkan Hati Sedekah membuat hati lebih lapang dan jauh dari kegelisahan. 4. Menolak Bala Sedekah diyakini dapat menjadi pelindung musik yang tidak terduga. 5. Melipatgandakan Pahala Allah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas. 6. Menguatkan Rasa Empati Sedekah membuat kita lebih peduli terhadap sesama. 7. Memberdayakan Umat Sedekah bukan hanya membantu momen sesaat, tapi bisa menjadi solusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Dalil Hadis tentang Sedekah Rasulullah SAW bersabda: &ldquo;Tidak akan berkurang harta karena sedekah.&rdquo; (HR.Muslim) Hadits ini menegaskan bahwa sedekah bukan kerugian, melainkan investasi akhirat dan dunia. Sedekah yang Memberdayakan Sedekah yang terbaik bukan hanya memberi makan hari ini, tapi juga membantu seseorang agar mandiri di masa depan. Misalnya: Membantu modal usaha kecil Memberikan pendidikan Mendukung program sosial Salah satu lembaga terpercaya untuk menyalurkan sedekah adalah BAZNAS Kota Sukabumi yang memiliki program pemberdayaan masyarakat. Keutamaan Sedekah di Waktu Sulit (Jangan Takut Miskin!) Banyak orang ragu untuk bersedekah saat kondisi ekonomi sedang sulit. Padahal justru di situlah letak keistimewaannya. Sedekah di saat sempit menunjukkan keimanan yang lebih tinggi dibandingkan saat lapang. Allah SWT berfirman: &ldquo;(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit&hellip;&rdquo; (QS. Ali Imran : 134) Ini menjadi bukti bahwa sedekah bukan soal jumlah, tetapi soal keikhlasan. Apalagi, sedekah kecil di saat sulit bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah yang tidak disangka-sangka. Jadi, jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Mulai saja dari sekarang, sekecil apa pun itu. Kesalahan Umum dalam Sedekah yang Harus Dihindari Meskipun sedekah adalah amalan mulia, masih banyak orang yang tanpa sadar melakukan kesalahan yang bisa mengurangi keuntungan. Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain: Riya (ingin dipuji) : Sedekah jadi tidak bernilai jika hanya untuk pamer Menunda sedekah : Padahal tidak ada jaminan kita masih punya kesempatan Memberi dari yang tidak halal : Sedekah harus dari harta yang baik Mengungkit pemberian : Ini bisa menghapus pahala sedekah Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an: &ldquo;Janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti&hellip;&rdquo; (QS. Al-Baqarah: 264) Dengan menghindari kesalahan ini, sedekah kita akan lebih bernilai di sisi Allah dan benar-benar menjadi tanda syukur yang menguatkan dan memberdayakan. Dampak Nyata Sedekah dalam Kehidupan Sehari-hari Sedekah bukan sekedar konsep spiritual, namun juga memiliki dampak nyata dalam kehidupan. Beberapa perubahan yang sering dirasakan oleh orang yang rutin bersedekah: Hidup terasa lebih tenang dan bahagia Rezeki datang dari arah yang tak disangka Hubungan sosial menjadi lebih baik Hati lebih lembut dan penuh empati Bahkan secara sosial, sedekah mampu mengurangi kesenjangan ekonomi dan membantu masyarakat yang membutuhkan untuk bangkit. Sedekah: Tanda Syukur yang Menguatkan dan Memberdayakan bukan sekadar amalan biasa, tetapi kunci penting untuk membuka keberkahan hidup, menenangkan hati, dan memperluas rezeki. Dengan memahami keutamaannya, menghindari kesalahan, serta menerapkannya secara konsisten, sedekah akan menjadi kekuatan besar yang tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memberdayakan orang lain. Maka dari itu, jangan tunda lagi mulai dari sekarang, sekecil apa pun, karena setiap sedekah yang ikhlas akan kembali dengan balasan yang jauh lebih besar. Melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi , sedekah yang kamu berikan dapat dikelola secara profesional untuk program pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi. untuk melihat artikel laiinya klik link di bawah ini : Bukan Menyerah, Hanya Memberi Diri Ruang untuk bergerak https://baznasjabar.org/sedekahtandasyukur
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Tak Ada yang Tahu Lukanya, Tapi Ia Tetap Kuat!
Tak Ada yang Tahu Lukanya, Tapi Ia Tetap Kuat!
Tak Ada yang Tahu Lukanya: Realita yang Sering Terjadi Tak ada yang tahu lukanya, tapi ia tetap kuat. Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, tapi bagi sebagian orang, ini adalah kenyataan hidup yang mereka jalani setiap hari. Di luar, dia terlihat biasa saja. Bahkan mungkin terlihat bahagia. Ia tetap tersenyum, tetap bekerja, tetap berinteraksi seperti tidak ada masalah. Namun di dalam hatinya, ada luka yang tidak pernah benar-benar sembuh . Banyak orang yang hidup seperti itu. Mereka memilih diam, bukan karena tidak ingin bercerita, tapi karena merasa tidak semua orang akan mengerti. Senyum yang Menyembunyikan Luka Ia adalah sosok yang dikenal ramah. Selalu menyapa, selalu membantu, dan jarang terlihat murung. Orang- orang menganggap hidupnya baik- baik saja. Padahal kenyataannya, dia sedang berjuang. Ia pernah kehilangan, pernah dikhianati, pernah merasa sendiri di tengah keramaian. Namun semua itu ia simpan rapat-rapat . Ia tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Ia percaya, tidak semua luka harus diceritakan. Ada luka yang diserahkan cukup kepada Allah. Sabar yang Tidak Terlihat Kesabaran yang ia miliki bukan kesabaran biasa. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak mengeluh, dan tidak mencari perhatian. Ia hanya bertahan. Dalam diam, ia belajar menerima. Dalam kesunyian, ia belajar menguatkan diri. Dan dalam doa, ia menggantungkan semua harapannya. Allah SWT berfirman: &ldquo; Sesungguhnya Allah bersama orang- orang yang sabar.&rdquo; ( QS. Al- Baqarah: 153) Ayat ini menjadi pegangan hidupnya. Ia yakin, meski tidak ada manusia yang memahami sepenuhnya, Allah selalu tahu. Dalil Hadits tentang Sabar Rasulullah SAW bersabda: " Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar dan itu juga baik baginya." ( HR.Muslim ) Hadits ini mengajarkan bahwa dalam setiap kondisi, selalu ada kebaikan. Ia mulai memahami bahwa ujian bukanlah tanda kebencian, tapi justru bentuk kasih sayang Allah. Kekuatan dari Dalam Hati Tak ada yang mengetahui lukanya, namun ia tetap kuat karena ia menemukan sumber kekuatan yang tidak terlihat: iman. Ia mulai mendekatkan diri kepada Allah. Shalatnya lebih khusyuk, doanya lebih panjang, dan hati lebih tenang. Ia tidak lagi bergantung pada manusia, tapi kepada Sang Pencipta. Dan dari situlah, kekuatan itu muncul. Bukan karena masalahnya hilang, tapi karena hatinya menjadi lebih kuat untuk menghadapinya. Pelajaran dari
ARTIKEL17/03/2026 | BAZNAS
Ramadhan Hampir Berakhir? Jangan Sampai Menyesal
Ramadhan Hampir Berakhir? Jangan Sampai Menyesal
Ramadhan hampir berakhir , dan tanpa terasa bulan penuh berkah ini akan segera meninggalkan kita. Banyak umat Muslim yang mulai merasa sedih karena kesempatan emas untuk meraih pahala besar hampir selesai. Bulan Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa dalam Islam. Di bulan ini, pintu surga terbuka, pintu neraka tertutup, dan setan- setan dibelenggu. Setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Oleh karena itu, ketika Ramadhan hampir berakhir , kita tidak boleh menyia -nyiakan waktu yang tersisa. Masih banyak amalan yang bisa dilakukan untuk meraih keberkahan dan ampunan dari Allah SWT . 1. Menghidupkan Malam dengan Ibadah Salah satu amalan yang paling dianjurkan ketika Ramadhan hampir berakhir adalah menghidupkan malam dengan ibadah. Rasulullah SAW bahkan meningkatkan ibadahnya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam sebuah hadits disebutkan: &ldquo; Rasulul SAW ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.&rdquo; ( HR. Bukhari dan Muslim) Menghidupkan malam bisa dilakukan dengan berbagai ibadah seperti shalat tahajud, membaca Al- Qur'an, berdzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. 2. Memperbanyak Doa dan Istighfar Ketika Ramadhan hampir berakhir , umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan istighfar. Ini adalah waktu yang sangat baik untuk memohon ampun kepada Allah SWT. Salah satu doa yang dianjurkan ketika mencari Lailatul Qadar adalah: &ldquo; Allahumma innaka &lsquo; afuwwun tuhibbul&rsquo; afwa fa&rsquo;fu &lsquo; anni.&rdquo; ( Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah aku.) Doa ini diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah RA ketika beliau bertanya tentang doa yang dibaca saat Lailatul Qadar. 3. Memperbanyak Sedekah dan Infaq Selain ibadah pribadi, Ramadhan yang hampir berakhir juga menjadi momen yang sangat baik untuk memperbanyak sedekah dan infaq. Rasulullah SAW dikenal sebagai orang yang paling dermawan, terutama di bulan Ramadhan. Dalam hadits disebutkan: &ldquo; Rasulul SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.&rdquo; ( HR.Bukhari ) Sedekah tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga membersihkan harta dan mendatangkan keberkahan dalam kehidupan. 4. Mencari Malam Lailatul Qadar Salah satu keistimewaan terbesar ketika Ramadhan hampir berakhir adalah adanya malam Lailatul Qadar. Allah SWT berfirman dalam Al- Qur'an: &ldquo; Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.&rdquo; ( QS. Al- Qadr : 3) Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut lebih baik daripada ibadah selama seribu <
ARTIKEL16/03/2026 | BAZNAS
MasyaAllah! Rahasia Parenting Islami untuk Menciptakan Keluarga Bahagia dan Penuh Berkah
MasyaAllah! Rahasia Parenting Islami untuk Menciptakan Keluarga Bahagia dan Penuh Berkah
Menjadi orang tua adalah perjalanan yang luar biasa, penuh tawa, kadang air mata, dan pastinya, tanggung jawab besar. Di tengah gempuran tren parenting modern yang seringkali membingungkan, Islam sebenarnya telah memberikan panduan yang begitu lengkap dan indah. Panduan ini bukan hanya bertujuan mencetak anak yang pintar secara akademis, tetapi anak yang saleh dan salehah, yang menjadi qurrota a&rsquo;yun (penyejuk mata) bagi orang tuanya dunia dan akhirat. Lantas, apa sih rahasia parenting Islami yang bisa kita terapkan sehari-hari agar rumah tangga kita terasa seperti surga sebelum surga yang sesungguhnya? Mari kita bedah 5 prinsip utamanya. 1. Fondasi Utama: Keteladanan (Uswah Hasanah) Rahasia parenting Islami yang paling pertama dan utama bukanlah pada apa yang kita katakan kepada anak, melainkan pada apa yang kita lakukan di depan mereka. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Sebelum kita menyuruh anak shalat tepat waktu, pastikan mereka melihat kita sudah bersiap-siap ketika azan berkumandang. Sebelum melarang anak berbohong, pastikan kita selalu jujur dalam ucapan dan tindakan. Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam hal ini. Beliau tidak pernah mengajarkan sesuatu kecuali beliau telah mengamalkannya terlebih dahulu. Parenting Islami menuntut kita untuk terus memperbaiki diri ( ishlahun nafs ) sebelum memperbaiki anak. 2. Jadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai "Buku Panduan" Di era digital ini, mudah sekali bagi orang tua untuk tersesat dalam berbagai teori parenting. Ada gentle parenting, tiger parenting, dan lain sebagainya. Meskipun ada hal baik yang bisa diambil dari teori-teori tersebut, bagi seorang Muslim, rujukan utamanya haruslah Al-Qur'an dan Sunnah. Parenting Islami mengajarkan kita untuk mengenalkan Allah SWT dan Rasul-Nya sejak dini. Ajarkan anak mencintai Al-Qur'an bukan sebagai beban, tetapi sebagai cahaya hidup. Rasulullah SAW bersabda: "Didiklah anak-anakmu atas tiga hal: mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur'an." (HR. Ad-Dailami). 3. Komunikasi Penuh Kasih Sayang dan Lemah Lembut Banyak yang salah kaprah menganggap parenting Islami itu kaku dan keras. Padahal, Islam sangat menekankan kasih sayang dan kelembutan. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan cucu-cucu beliau, Hasan dan Husain. Beliau sering memeluk, mencium, bahkan membiarkan mereka naik ke punggung beliau saat sedang shalat. Komunikasi yang efektif dalam parenting Islami adalah komunikasi yang didasari rasa hormat dan kasih sayang, bukan ancaman atau bentakan. Allah SWT berfirman mengenai lemah lembutnya Rasulullah: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu." (QS. Ali 'Imran: 159). 4. Doa Orang Tua yang Tiada Putus Ini adalah senjata rahasia parenting Islami yang seringkali dilupakan. Jangan pernah meremehkan kekuatan doa. Usaha kita sebagai manusia sangat terbatas, namun kekuasaan Allah tiada batas. Doakan anak-anak kita setiap saat, mintalah agar mereka dijaga imannya, dibaguskan akhlaknya, dan dilembutkan hatinya. Ingatlah hadits Rasulullah SAW: "Ada tiga doa yang mustajab, yang tidak diragukan lagi kepastiannya: doa orang yang terzalimi, doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya." (HR. Abu Dawud). 5. Mengajarkan Adab dan Akhlakul Karimah Parenting Islami sangat menekankan pembentukan karakter atau akhlak. Anak yang beradab akan tahu bagaimana menghormati orang tua, menyayangi yang lebih muda, dan bersikap sopan kepada sesama. Adab harus didahulukan sebelum ilmu. Tanpa adab, ilmu yang tinggi bisa membuat seseorang menjadi sombong. Mengajarkan adab mulai dari hal kecil, seperti mengucap salam saat masuk rumah, makan dengan tangan kanan, dan berterima kasih. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan membuat anak dicintai oleh Allah dan manusia. Kesimpulan Menerapkan parenting Islami memang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Ini bukan lari sprint, melainkan maraton. Namun, percayalah, kelelahan kita dalam mendidik anak sesuai syariat akan bernilai pahala jariah yang tidak akan terputus. Dengan menerapkan rahasia parenting Islami di atas, insyaAllah impian memiliki keluarga yang bahagia, tenang (sakinah), penuh cinta (mawaddah), dan rahmat akan terwujud. Ayah dan Bunda, mari kita terus belajar dan berbenah. Semoga Allah mempermudah langkah kita dalam mendidik generasi Rabbani. Amin. Sempurnakan Keberkahan Keluarga dengan Berinfaq Keberkahan dalam keluarga tidak hanya datang dari pola asuh yang benar, tetapi juga dari harta yang bersih. Salah satu cara membersihkan harta dan mengundang keberkahan Allah adalah dengan berinfaq. Infaq Anda akan sangat berarti untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan di wilayah Kota Sukabumi. Salurkan Infaq Anda Sekarang Juga Melalui BAZNAS Kota Sukabumi! Mari salurkan infaq terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Donasi Anda akan dikelola secara amanah dan profesional untuk program-program kemaslahatan umat. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/tunaikan-sedekah-rutin-seribu-sehari https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/bahagia-sejati-inilah-cara-islam-mengajarkan-hidup-penuh-kedamaian/40921
ARTIKEL16/03/2026 | BAZNAS
Banyak Orang Tidak Sadar! Hikmah Besar Mengetahui Tanda-Tanda Akhir Zaman
Banyak Orang Tidak Sadar! Hikmah Besar Mengetahui Tanda-Tanda Akhir Zaman
Pernahkah Anda merasa dunia sedang "tidak baik-baik saja"? Mulai dari cuaca yang makin tak menentu, teknologi yang melesat tanpa kendali, hingga pergeseran moral yang bikin geleng-geleng kepala. Banyak orang menganggap fenomena ini hanya siklus zaman biasa. Padahal, bagi kita umat Muslim, memahami tanda-tanda akhir zaman bukan sekadar bahan obrolan mistis, melainkan navigasi penting untuk menyelamatkan diri dan iman. Mengetahui tanda-tanda ini sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah SWT agar kita tidak tersesat dalam hiruk-pikuk dunia yang menipu. Berikut adalah ulasan mendalam mengenai hikmah besar di balik pengetahuan tentang fase akhir dunia ini. 1. Menumbuhkan Kesadaran Bahwa Dunia Hanyalah Persinggahan Seringkali kita terlalu ambisius mengejar harta dan takhta seolah-olah kita akan hidup selamanya. Dengan memahami tanda-tanda akhir zaman, mata hati kita dipaksa terbuka bahwa dunia ini memiliki masa kedaluwarsa. Rasulullah SAW bersabda: "Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat adalah seperti dua jari ini." (HR. Muslim). Beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah. Hikmahnya? Kita menjadi lebih proporsional dalam memandang dunia. Kita bekerja keras, namun tidak sampai menjual akhirat demi segenggam dunia yang sebentar lagi akan fana. 2. Memperkuat Benteng Iman dari Fitnah Akhir Zaman Salah satu tanda-tanda akhir zaman yang paling nyata adalah banyaknya fitnah (ujian iman) yang datang bertubi-tubi seperti potongan malam yang gelap. Tanpa ilmu, kita akan mudah terbawa arus tren yang ternyata bertentangan dengan syariat. Mengetahui tanda-tanda ini membuat kita lebih waspada. Kita jadi paham bahwa ketika kejujuran dianggap aneh dan pengkhianatan dianggap biasa, itu adalah sinyal untuk semakin merapat ke majelis ilmu dan memperdalam Al-Qur'an. 3. Memacu Semangat untuk Segera Bertaubat Siapa yang menjamin kita masih punya waktu besok? Mempelajari tanda-tanda akhir zaman memberikan rasa urgensi (sense of urgency) untuk tidak menunda taubat. Ketika kita melihat tanda-tanda kecil sudah hampir semuanya muncul seperti banyaknya gedung pencakar langit atau perzinahan yang dilakukan terang-terangan maka di situlah alarm iman kita seharusnya berbunyi kencang. "Ya Allah, kiamat sudah dekat, bekalku masih sedikit." Kesadaran ini adalah anugerah besar yang menuntun kita kembali ke jalan-Nya sebelum pintu taubat tertutup saat matahari terbit dari barat. 4. Menghargai Waktu dengan Amal Sholeh Rasulullah SAW sangat menekankan produktivitas meskipun kiamat sudah di depan mata. Beliau bersabda: "Sekiranya hari kiamat akan terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya." (HR. Ahmad). Hadits ini mengajarkan bahwa mengetahui tanda-tanda akhir zaman bukan untuk membuat kita malas dan berdiam diri di gua, melainkan untuk membuat kita lebih bersemangat menebar manfaat. Setiap detik menjadi sangat berharga untuk menabung pahala jariyah. 5. Memahami Urutan Peristiwa (Checklist Akhir Zaman) Islam adalah agama yang lengkap. Allah memberikan bocoran skenario masa depan bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar kita bersiap. Mulai dari munculnya Dukhan, Dajjal, turunnya Nabi Isa AS, hingga munculnya Ya'juj dan Ma'juj. Dengan mengetahui urutan tanda-tanda akhir zaman, kita tidak akan mudah tertipu oleh nabi palsu atau gerakan-gerakan ekstrem yang mengaku-ngaku sebagai pembebas akhir zaman. Pengetahuan ini adalah pelindung intelektual dan spiritual kita. 6. Melembutkan Hati dan Mengurangi Sifat Sombong Saat kita sadar bahwa seluruh alam semesta ini akan hancur dan hanya amal yang tersisa, rasa sombong dalam diri perlahan akan luruh. Jabatan, kekayaan, dan kecantikan fisik tidak ada harganya saat sangkakala ditiup. Hikmah ini membawa kita pada sifat tawadhu (rendah hati) dan lebih peduli pada sesama manusia. 7. Menjadi Pengingat untuk Memperbaiki Keturunan Mempelajari tanda-tanda akhir zaman membuat orang tua sadar bahwa tantangan anak cucu di masa depan akan jauh lebih berat. Ini memotivasi kita untuk membekali generasi mendatang dengan aqidah yang kokoh, bukan hanya warisan harta. Kita ingin mereka tetap menjadi hamba yang sujud meski dunia sedang hancur lebur di luar sana. Kesimpulan: Bekal yang Tak Boleh Tertinggal Memahami tanda-tanda akhir zaman adalah tentang mempersiapkan diri untuk pertemuan besar dengan Sang Pencipta. Salah satu cara terbaik untuk membuktikan keimanan dan mempersiapkan bekal di masa sulit adalah dengan memperbanyak sedekah dan infaq. Sedekah tidak hanya menolak bala, tetapi juga menjadi naungan kita di hari kiamat nanti. Ayo, mumpung masih ada waktu! Salurkan infaq terbaik Anda untuk membantu sesama dan memperkuat dakwah Islam di Sukabumi. Infaq melalui BAZNAS Kota Sukabumi: Mari bersama ringankan beban saudara kita dan jemput keberkahan di sisa umur dunia ini. Setiap rupiah yang Anda infaqkan adalah investasi abadi yang akan menemani Anda saat tanda-tanda besar kiamat mulai nyata. Untuk membaca artikel lainnya terkait ramadhan klik link di bawah ini: https://baznaskotasukabumi.com/campaign/bantu-korban-bencana-sumatera https://kotasukabumi.baznas.go.id/artikel/show/7-tanda-ngeri-kiamat-sudah-dekat-hubungan-konflik-iran-dan-nubuwat-akhir-zaman/39847
ARTIKEL16/03/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →