WhatsApp Icon
Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Ketika Harta Menjadi Ujian: Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Harta sering kali dianggap sebagai tanda keberhasilan. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa aman yang muncul. Namun dalam Islam, harta bukan sekadar kenikmatan. Harta juga merupakan amanah sekaligus ujian. Di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat ketika telah memenuhi syarat.

Pertanyaannya, ketika penghasilan bertambah, tabungan meningkat, dan kebutuhan hidup tercukupi, sudahkah kita menunaikan zakat?

Harta Bukan Sekadar Milik, tetapi Amanah

Ketika Harta Menjadi Ujian Sudahkah Kita Menunaikan Zakat 

Islam tidak melarang umatnya memiliki harta. Justru, bekerja, berusaha, dan mencari rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar. Namun, kepemilikan harta membawa tanggung jawab.

Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 103:

Zakat Membersihkan Harta dan Jiwa

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa zakat bukan sekadar mengurangi sebagian harta. Zakat menjadi sarana untuk membersihkan diri dari sifat kikir sekaligus menyucikan harta yang dimiliki.

Ketika Harta Justru Menjadi Ujian

Memiliki harta yang cukup seharusnya membuat seseorang semakin mudah berbagi. Namun terkadang, semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula rasa takut untuk kehilangan.

Apakah Kita Terlalu Sibuk Mengumpulkan?

Ada yang sibuk mengejar target pekerjaan, menambah tabungan, membeli aset, atau meningkatkan gaya hidup. Semua itu tidak salah selama dilakukan dengan cara yang halal.

Namun, jangan sampai kesibukan mengumpulkan harta membuat kita lupa bahwa sebagian harta memiliki hak yang harus ditunaikan.

Zakat mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu diukur dari berapa banyak yang berhasil kita simpan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Zakat Adalah Bagian dari Ibadah

Rasulullah SAW menempatkan zakat sebagai salah satu pilar penting dalam Islam.

“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji, dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari).

Karena itu, zakat bukan sekadar bentuk kedermawanan. Bagi muslim yang telah memenuhi ketentuan wajib zakat, menunaikannya merupakan bagian dari kewajiban agama.

Dari Harta Menjadi Manfaat

Zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Harta yang dikeluarkan oleh orang yang mampu dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Ada Kehidupan yang Bisa Berubah

Di balik zakat yang kita tunaikan, mungkin ada keluarga yang kembali memiliki makanan untuk hari ini. Ada anak yang dapat melanjutkan pendidikan. Ada orang sakit yang memperoleh bantuan pengobatan. Ada pula pelaku usaha kecil yang mendapatkan kesempatan untuk bangkit.

Inilah mengapa zakat tidak berhenti pada angka. Zakat mengubah sebagian harta menjadi harapan bagi orang lain.

Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa zakat diambil dari orang-orang yang berkecukupan dan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.

Jangan Menunggu Harta Berkurang untuk Berbagi

Sering kali seseorang berkata, “Nanti kalau sudah lebih banyak, saya akan berzakat.”

Padahal, pertanyaan yang lebih penting bukanlah kapan kita memiliki lebih banyak, melainkan apakah harta yang sudah Allah titipkan hari ini telah kita tunaikan haknya?

Jika harta telah memenuhi syarat wajib zakat, jangan menundanya. Periksa kembali kewajiban zakat atas harta yang dimiliki dan tunaikan melalui lembaga zakat yang amanah.

Sudahkah Kita Menunaikan Zakat?

Pada akhirnya, harta akan tetap menjadi ujian selama berada di tangan kita. Ia dapat menjadi jalan menuju keberkahan ketika digunakan sesuai ketentuan Allah, tetapi dapat pula menjadi beban ketika membuat kita lalai terhadap kewajiban.

Mari jangan hanya menghitung berapa banyak yang kita miliki. Hitung pula berapa banyak kebaikan yang bisa lahir dari harta tersebut.

Tunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya agar manfaatnya dapat dikelola dan disalurkan kepada para mustahik secara tepat sasaran. Sebab, mungkin bagi kita zakat adalah sebagian kecil dari harta, tetapi bagi penerimanya, zakat bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.

Jangan biarkan harta hanya menjadi angka dalam rekening. Jadikan ia jalan kebaikan, keberkahan, dan perubahan bagi sesama.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya tentang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di baliknya ada persoalan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, keterampilan, hingga akses terhadap modal dan kesempatan. Karena itu, bantuan untuk masyarakat miskin memang penting, tetapi bantuan saja tidak selalu cukup untuk mengatasi kemiskinan dalam jangka panjang.

Memberikan makanan, uang tunai, pakaian, atau kebutuhan pokok dapat meringankan beban hari ini. Namun, bagaimana dengan kebutuhan esok hari? Di sinilah pentingnya mengubah bantuan menjadi pemberdayaan agar masyarakat tidak hanya bertahan, tetapi memiliki kesempatan untuk mandiri.

Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup?

1. Bantuan Menjawab Kebutuhan Hari Ini

Bantuan sosial memiliki peran besar ketika seseorang berada dalam kondisi darurat. Ketika sebuah keluarga tidak memiliki makanan, bantuan pangan dapat menjadi penyelamat. Ketika seseorang sakit dan tidak mampu membayar pengobatan, bantuan kesehatan dapat memberikan harapan.

Namun, kebutuhan hidup akan terus berjalan.

Bantuan Perlu Dilanjutkan dengan Solusi

Jika bantuan hanya diberikan untuk memenuhi kebutuhan sesaat tanpa memperkuat kemampuan penerima, seseorang dapat kembali menghadapi persoalan yang sama setelah bantuan selesai.

Karena itu, bantuan perlu disertai program yang membantu penerima membangun kehidupan yang lebih stabil.

2. Kemiskinan Membutuhkan Akses terhadap Pendidikan

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk memutus rantai kemiskinan. Anak dari keluarga kurang mampu membutuhkan kesempatan belajar agar memiliki keterampilan dan peluang yang lebih baik di masa depan.

Allah SWT berfirman:

?????? ????? ??????? ???????

“Dan katakanlah, ‘Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’”
(QS. Taha: 114)

Membantu Anak Berarti Membantu Masa Depan

Donasi pendidikan bukan hanya tentang membayar biaya sekolah. Dukungan tersebut dapat menjadi investasi sosial agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan untuk mengubah masa depannya.

3. Penerima Bantuan Juga Membutuhkan Kesempatan Ekonomi

5 Alasan Mengapa Bantuan Saja Tidak Cukup untuk Mengatasi Kemiskinan 

Seseorang mungkin membutuhkan bantuan karena kehilangan pekerjaan atau tidak memiliki modal untuk menjalankan usaha. Memberikan bantuan konsumtif dapat membantu memenuhi kebutuhan sementara, tetapi memberikan pelatihan, alat usaha, atau modal produktif dapat membuka peluang kemandirian.

Inilah mengapa pemberdayaan ekonomi menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi kemiskinan.

Dari Mustahik Menjadi Mandiri

Zakat dan donasi dapat diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga mendukung usaha kecil, pelatihan keterampilan, hingga akses terhadap sarana produktif.

Harapannya, penerima bantuan tidak selamanya berada dalam posisi menerima, tetapi perlahan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

4. Kemiskinan Tidak Hanya Berdampak pada Satu Generasi

Kemiskinan dapat diwariskan ketika anak-anak tumbuh tanpa akses pendidikan, kesehatan, gizi, dan kesempatan yang memadai.

Memutus Rantai Kemiskinan Membutuhkan Kesabaran

Karena itu, penyelesaian kemiskinan membutuhkan proses. Bantuan hari ini penting, tetapi dampak jangka panjang membutuhkan pendampingan dan program yang berkelanjutan.

Allah SWT mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini mengajarkan pentingnya ikhtiar dan perubahan. Bantuan dapat menjadi pemantik, tetapi kesempatan untuk berkembang juga harus diberikan.

5. Kebaikan yang Terbaik Adalah yang Menghadirkan Dampak

Islam mengajarkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.”
(QS. Al-Insan: 8)

Memberi bantuan adalah kebaikan. Namun, akan semakin berarti ketika kebaikan tersebut mampu membuka jalan bagi penerima untuk memiliki kehidupan yang lebih baik.

Saatnya Mengubah Bantuan Menjadi Harapan

Setiap rupiah yang kita donasikan dapat memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menjadi makanan untuk hari ini, tetapi juga dapat menjadi modal usaha yang membantu keluarga memenuhi kebutuhan secara mandiri. Bukan hanya membantu membayar kebutuhan pendidikan, tetapi membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang memiliki cita-cita. Bukan hanya meringankan beban seseorang yang sedang berada dalam kesulitan, tetapi juga menjadi langkah awal agar mereka memiliki kekuatan untuk bangkit. Ketika bantuan diberikan dengan tepat dan disertai pendampingan, sebuah donasi dapat berubah menjadi kesempatan yang memberi dampak lebih panjang bagi kehidupan penerimanya.

Karena itu, mari melihat donasi bukan sekadar sebagai pemberian sesaat, melainkan sebagai bentuk kepedulian yang dapat menumbuhkan harapan. Dukungan yang kita salurkan hari ini mungkin membantu seorang ibu mengembangkan usaha kecil, seorang anak terus bersekolah, atau sebuah keluarga memenuhi kebutuhan dasar sambil perlahan membangun kehidupan yang lebih baik. Kebaikan tidak harus berhenti setelah bantuan diterima. Dengan zakat, infak, dan sedekah yang dikelola secara tepat, kita dapat ikut menghadirkan perubahan yang berkelanjutan dan membantu lebih banyak masyarakat keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mari Hadirkan Bantuan yang Berdampak

Kemiskinan tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kali pemberian. Dibutuhkan kepedulian yang berkelanjutan, program yang tepat sasaran, serta kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan mandiri.

Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Bersama, kita tidak hanya membantu mereka melewati hari ini, tetapi juga menghadirkan peluang untuk menyongsong hari esok.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan

Harta dan waktu adalah dua hal yang sering kita kejar dalam kehidupan. Kita bekerja untuk mendapatkan harta, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, untuk apa semua yang kita miliki jika waktu terus berkurang?

Dalam Islam, harta bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan, dan waktu bukan sekadar sesuatu yang dilewati. Keduanya adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Dari harta, kita belajar tentang berbagi. Dari waktu, kita belajar tentang kesempatan. Dari kehidupan, kita belajar bahwa tidak ada yang benar-benar abadi.

7 Pelajaran Berharga yang Perlu Kita Renungkan

7 Pelajaran Berharga tentang Harta, Waktu, dan Kehidupan 

1. Harta Bukan Tujuan Akhir Kehidupan

Memiliki harta bukanlah sebuah kesalahan. Kita membutuhkan harta untuk memenuhi kebutuhan, membantu keluarga, dan menjalani kehidupan. Namun, harta tidak seharusnya menjadi tujuan akhir.

Allah SWT berfirman:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takatsur: 1–2)

Harta Seharusnya Menghasilkan Manfaat

Nilai harta bukan hanya tentang jumlah yang tersimpan, tetapi juga tentang manfaat yang lahir darinya. Zakat, infak, dan sedekah menjadi cara untuk mengubah sebagian harta menjadi kebaikan bagi sesama.

2. Waktu Tidak Bisa Dibeli Kembali

Uang yang hilang mungkin dapat dicari kembali. Namun, satu menit yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.

Allah SWT bahkan bersumpah demi waktu:

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian.”
(QS. Al-'Asr: 1–2)

Waktu mengajarkan kita untuk tidak menunda kebaikan. Jika hari ini kita memiliki kesempatan untuk berbagi, jangan selalu menunggu hari esok.

3. Kesehatan dan Waktu Adalah Nikmat yang Sering Dilupakan

Rasulullah SAW bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai

Selama sehat, kita dapat bekerja dan membantu orang lain. Selama memiliki waktu, kita dapat melakukan kebaikan. Jangan sampai kesempatan itu baru terasa berharga ketika sudah tidak lagi kita miliki.

4. Harta Adalah Amanah

Apa yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan dari Allah SWT. Karena itu, ada tanggung jawab yang melekat pada setiap rezeki.

Allah SWT berfirman:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami jadikan kamu sebagai penguasanya.”
(QS. Al-Hadid: 7)

Zakat menjadi salah satu bentuk nyata dalam menjalankan amanah tersebut.

5. Berbagi Tidak Membuat Harta Kehilangan Makna

Ketika sebagian harta diberikan kepada mereka yang membutuhkan, kita sebenarnya tidak sedang sekadar mengurangi kepemilikan. Kita sedang mengubah harta menjadi manfaat.

Dari Angka Menjadi Harapan

Sebagian rezeki yang kita salurkan dapat membantu menyediakan makanan, biaya pendidikan, pengobatan, hingga pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang membutuhkan.

6. Kehidupan Tidak Selamanya Memberi Kesempatan

Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak menunda sampai kematian datang:

“Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, niscaya aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.”
(QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan beramal memiliki batas.

7. Kebaikan Hari Ini Bisa Menjadi Warisan Kehidupan

Tidak semua warisan berbentuk rumah, tanah, atau harta. Ada pula warisan berupa manfaat yang terus dirasakan orang lain.

Tinggalkan Jejak yang Bermakna

Sedekah, zakat, dan kepedulian yang kita salurkan hari ini dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang lebih panjang. Mungkin kita tidak mengetahui siapa saja yang kehidupannya berubah karena bantuan tersebut, tetapi Allah mengetahui setiap kebaikan yang dilakukan.

Jangan Tunggu Nanti untuk Berbuat Baik

Harta mengajarkan kita tentang amanah. Waktu mengajarkan kita tentang kesempatan. Kehidupan mengajarkan bahwa keduanya tidak akan selamanya berada di tangan kita.

Maka, selagi masih memiliki rezeki dan kesempatan, mari gunakan keduanya untuk menghadirkan manfaat. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah agar kebaikan yang kita titipkan dapat menjangkau mereka yang membutuhkan.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan atau berapa lama kita hidup, tetapi tentang berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.

 

10/09/2026 | Kontributor: BAZNAS
Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Kita bisa menghabiskan bertahun-tahun untuk belajar agama.

Kita belajar bagaimana salat yang benar, kapan harus berpuasa, bagaimana membaca Al-Qur’an, apa yang membatalkan ibadah, kapan zakat menjadi kewajiban, hingga berbagai aturan yang mengatur kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada satu pelajaran yang mungkin tidak pernah benar-benar selesai kita pelajari yakni bagaimana menjadi manusia yang baik bagi manusia lainnya.

Kita tahu bahwa berbohong itu salah. Namun, mengapa kita masih mudah mencari alasan ketika kejujuran merugikan diri sendiri?

Kita tahu bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik. Namun, mengapa lisan kita terkadang begitu ringan mengomentari kekurangan seseorang?

Kita tahu bahwa membantu orang lain adalah kebaikan. Tetapi apakah kita sudah mampu membantu tanpa membuat orang yang dibantu merasa lebih rendah?

Dari sini muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni jika agama sudah mengajarkan kita cara beribadah kepada Allah, mengapa kita masih harus terus belajar menjadi manusia?

Ketika Agama Berhenti pada Apa yang Terlihat

Ada bagian dari keberagamaan yang mudah dilihat orang lain.

Kita bisa terlihat sedang salat. Kita bisa terlihat membaca Al-Qur’an. Kita bisa terlihat mengenakan pakaian yang dianggap religius. Kita juga bisa berbicara tentang nasihat agama.

Namun ada bagian lain yang jauh lebih sulit dilihat.

Bagaimana kita bersikap ketika tidak ada yang memperhatikan?

Bagaimana kita memperlakukan orang yang tidak bisa memberikan keuntungan kepada kita?

Bagaimana kita berbicara kepada seseorang yang status sosialnya berada di bawah kita?

Bagaimana sikap kita ketika berhadapan dengan orang miskin, orang yang sedang melakukan kesalahan, atau seseorang yang tidak memiliki kemampuan untuk membalas kebaikan kita?

Di situlah agama mulai bertemu dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sebab keberagamaan tidak seharusnya hanya mengubah apa yang kita lakukan ketika beribadah, tetapi juga mengubah siapa diri kita setelah ibadah itu selesai.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-'Ankabut: 45)

Ayat ini menarik untuk direnungkan.

Salat memang merupakan kewajiban. Tetapi Allah juga menjelaskan pengaruh yang seharusnya lahir darinya. Artinya, ibadah tidak berhenti pada gerakan dan bacaan. Ada nilai yang seharusnya ikut tumbuh dalam diri seseorang.

Salat seharusnya membuat kita lebih mampu mengendalikan diri.

Lebih sadar sebelum menyakiti.

Lebih berhati-hati sebelum menghakimi.

Dan lebih malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang selama ini kita ucapkan di hadapan Allah.

Al-Qur’an Tidak Hanya Bertanya, “Sudahkah Kamu Beribadah?”

Salah satu surah yang sangat menarik untuk dibaca dengan perspektif ini adalah Surah Al-Ma’un.

Allah berfirman:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
(QS. Al-Ma’un: 1–3)

Perhatikan bagaimana Al-Qur’an menggambarkan persoalan keberagamaan.

Ketika membicarakan orang yang mendustakan agama, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang apa yang diyakini di dalam hati. Ia juga menunjukkan bagaimana seseorang memperlakukan manusia yang berada dalam posisi lemah.

Menghardik anak yatim.

Tidak peduli kepada orang miskin

Dua perilaku sosial tersebut menjadi bagian dari gambaran yang diberikan Al-Qur’an tentang orang yang mendustakan agama.

Ini memberikan pelajaran penting bahwa keimanan bukan hanya persoalan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah. Ia juga memiliki konsekuensi horizontal dalam hubungan kita dengan sesama.

Maka menjadi Muslim bukan hanya tentang bertanya, “Sudahkah aku melakukan kewajibanku kepada Allah?”

Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting tentang, “Apa yang terjadi pada orang lain karena kehadiranku sebagai seorang Muslim?”

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman?

Apakah mereka merasa tidak dipermalukan?

Apakah mereka merasakan keadilan?

Atau justru mereka merasa kecil ketika berada di hadapan kita?

Menjadi Manusia Bukan Berarti Mendahului Agama

Kalimat “belajar menjadi manusia” mungkin terdengar sederhana. Tetapi maksudnya bukan bahwa manusia harus menjadi baik terlebih dahulu baru kemudian beragama.

Justru sebaliknya.

Agama seharusnya membantu manusia menjadi lebih manusiawi.

Islam tidak meminta kita meninggalkan ibadah demi kemanusiaan. Islam justru mengajarkan bahwa ibadah kepada Allah seharusnya tercermin dalam akhlak kepada makhluk-Nya.

Nabi Muhammad ? bersabda:

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan kata yang digunakan yaitu beriman dan memuliakan.

Seolah-olah iman tidak hanya dibuktikan melalui apa yang kita yakini, tetapi juga melalui bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di sekitar kita.

Karena itu, menjadi manusia dalam perspektif Islam bukan sekadar memiliki rasa iba.

Lebih jauh dari itu, kita belajar menghormati martabat manusia.

Orang miskin bukan objek untuk membuat kita merasa menjadi orang baik.

Penerima bantuan bukan seseorang yang boleh dipermalukan karena sedang membutuhkan.

Orang yang melakukan kesalahan bukan berarti kehilangan seluruh harga dirinya.

Dan orang yang berbeda dari kita bukan otomatis lebih rendah daripada kita.

Kita mungkin memiliki kelebihan dalam satu hal, tetapi manusia lain mungkin memiliki kelebihan dalam hal yang tidak kita miliki.

Kesadaran seperti inilah yang membuat keberagamaan tidak berubah menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi.

Agama Mengajarkan Ibadah, Tapi Mengapa Kita Masih Harus Belajar Menjadi Manusia?

Jangan Sampai Ibadah Membuat Kita Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

Ada paradoks yang perlu kita waspadai.

Kita beribadah untuk mendekat kepada Allah, tetapi terkadang tanpa sadar justru menjauh dari manusia.

Kita belajar tentang kesalehan, tetapi menjadi mudah merendahkan orang yang dianggap kurang saleh.

Kita belajar tentang kebaikan, tetapi sulit memaafkan.

Kita belajar tentang kasih sayang, tetapi hanya memberikannya kepada orang yang kita sukai.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.

Apa gunanya pengetahuan agama jika ia hanya membuat kita pandai menilai orang lain, tetapi tidak membuat kita lebih pandai memperbaiki diri sendiri?

Mungkin salah satu tanda bahwa agama sedang benar-benar bekerja dalam diri kita bukanlah semakin seringnya kita merasa lebih baik dari orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin mengenal Allah, semestinya semakin kita menyadari keterbatasan diri.

Semakin banyak belajar, semakin kita berhati-hati dalam menghakimi.

Semakin dekat kepada-Nya, semakin kita sadar bahwa setiap manusia memiliki kehormatan yang harus dijaga.

Sebab kita semua, pada akhirnya, sama-sama manusia yang sedang belajar pulang kepada Allah.

Dari Nilai Agama Menjadi Tindakan Nyata

Lalu, bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari?

Tidak cukup hanya dengan merasa peduli.

Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi tindakan.

Di sinilah zakat, infak, dan sedekah memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas mengeluarkan sebagian harta.

Ketika seorang Muslim menunaikan zakat, ia sedang menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan Allah sekaligus menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar pada dirinya sendiri.

Ketika seseorang berinfak atau bersedekah, ia sedang melatih dirinya untuk melihat kebutuhan di luar kepentingan pribadi.

Dan ketika kepedulian itu dikelola melalui lembaga seperti BAZNAS Kota Sukabumi, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengelolaan ZIS yang lebih terarah sehingga manfaatnya dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Dengan demikian, ZIS tidak berhenti sebagai angka yang keluar dari rekening.

Di baliknya ada nilai yang lebih besar yaitu bagaimana keyakinan diterjemahkan menjadi kepedulian, dan bagaimana kepedulian diterjemahkan menjadi tindakan.

Karena masyarakat yang baik tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang rajin berbicara tentang kebaikan.

Ia dibangun oleh orang-orang yang bersedia menjadikan kebaikan sebagai bagian dari cara mereka memperlakukan manusia.

Mungkin Kita Memang Tidak Pernah Selesai Belajar Menjadi Manusia

Pada akhirnya, mungkin menjadi manusia bukanlah pelajaran yang selesai hanya karena kita telah mengenal agama.

Justru semakin kita memahami Islam, semakin kita sadar bahwa perjalanan untuk memperbaiki diri tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini kita mungkin belajar tentang kesabaran.

Besok kita belajar tentang keikhlasan.

Lusa kita belajar bagaimana menjaga lisan.

Di hari lain, kita belajar bagaimana membantu tanpa merendahkan, memberi tanpa menyakiti, memaafkan tanpa merasa lebih tinggi, dan memperlakukan manusia lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Sebab agama tidak seharusnya membuat kita hanya menjadi orang yang lebih banyak tahu tentang ibadah.

Agama seharusnya membuat kita menjadi orang yang lebih baik setelah beribadah.

Maka mungkin pertanyaan yang perlu kita bawa pulang bukan hanya tentang “Sudah berapa banyak ibadah yang aku lakukan?”

Tetapi juga, “Sudah menjadi manusia seperti apa aku setelah semua ibadah itu?”

Karena pada akhirnya, ibadah mengajarkan kita untuk tunduk kepada Allah.

Dan dari ketundukan itulah seharusnya lahir kerendahan hati untuk menghargai manusia.

Sebab keberagamaan bukan hanya tentang bagaimana kita berdiri di hadapan Allah, tetapi juga tentang bagaimana manusia lain merasa ketika berada di hadapan kita.

10/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi
Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu?

Pernahkah kita melihat seseorang meminta bantuan, lalu tanpa sadar muncul penilaian di kepala?

“Kayaknya dia memang pantas dibantu.”

Sebaliknya, ketika melihat orang lain, kita mungkin berpikir:

“Kenapa tidak berusaha sendiri?”
“Bukankah dia masih bisa bekerja?”
“Jangan-jangan bantuan itu malah disalahgunakan.”

Kita mungkin tidak pernah mengucapkannya.

Tetapi manusia memang sering membuat penilaian sebelum memutuskan apakah seseorang layak mendapatkan pertolongan.

Menariknya, kita juga sering merasa lebih mudah membantu orang yang ceritanya kita sukai. Anak kecil yang menangis terasa lebih menyentuh. Lansia yang hidup sendirian membuat kita iba. Korban bencana membuat kita tergerak. Sementara orang yang terlihat masih sehat, masih muda, atau pernah membuat kesalahan mungkin membuat kita berpikir dua kali.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan yang mungkin sedikit mengganggu yakni bolehkah kita memilih siapa yang layak ditolong hanya berdasarkan penilaian kita sendiri?

Kita Sering Menolong Berdasarkan Cerita, Bukan Kebutuhan

Ada satu hal menarik dalam cara manusia menunjukkan kepedulian.

Kita lebih mudah tersentuh oleh seseorang yang memiliki wajah, nama, dan cerita.

Ketika melihat seorang ibu yang kehilangan rumahnya, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur tanpa tempat yang aman.

Ketika melihat seorang anak yang tidak bisa sekolah karena keterbatasan biaya, kita dapat membayangkan masa depannya.

Namun, ketika masalah yang sama disampaikan dalam bentuk angka seperti seribu keluarga kehilangan tempat tinggal, ribuan anak mengalami kesulitan pendidikan, reaksi emosional kita sering berbeda.

Padahal kebutuhan mereka tetap nyata.

Artinya, keputusan kita untuk membantu tidak selalu murni berdasarkan kebutuhan seseorang. Kadang keputusan itu dipengaruhi oleh seberapa dekat, seberapa menarik, atau seberapa menyentuh cerita yang kita dengar.

Inilah salah satu alasan mengapa kita perlu berhati-hati dengan kalimat, “Dia lebih pantas dibantu.”

Sebab, pantas menurut siapa?

Ketika Kita Diam-Diam Menjadi Hakim

Masalahnya bukan pada memilih prioritas.

Dalam kondisi tertentu, tentu ada orang yang membutuhkan pertolongan lebih cepat dibandingkan yang lain. Korban bencana yang membutuhkan makanan hari ini tidak dapat disamakan dengan seseorang yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha beberapa bulan ke depan.

Memprioritaskan bukan berarti diskriminatif.

Yang menjadi masalah adalah ketika kita merasa memiliki kemampuan untuk menentukan nilai seseorang berdasarkan kesan yang kita lihat.

Kita melihat seseorang gagal mengelola uang, lalu menganggap ia tidak pantas dibantu.

Kita melihat seseorang pernah melakukan kesalahan, lalu merasa ia tidak layak mendapatkan kesempatan kedua.

Kita melihat seseorang masih mampu bekerja, lalu menyimpulkan bahwa ia tidak membutuhkan bantuan.

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupannya.

Kita tidak tahu seluruh utangnya.

Kita tidak tahu siapa yang sedang ia tanggung.

Kita tidak tahu penyakit yang sedang disembunyikannya.

Kita tidak tahu berapa kali ia sudah mencoba bangkit.

Dan yang paling penting, kita bukan hakim atas keseluruhan hidup seseorang.

Islam Mengajarkan Keadilan, Bahkan Ketika Kita Tidak Suka

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membantu secara membabi buta.

Islam justru mengajarkan kepedulian yang disertai keadilan.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini menarik karena Allah tidak hanya memerintahkan keadilan ketika kita menyukai seseorang.

Justru ada peringatan agar perasaan tidak membuat kita kehilangan keadilan.

Jika kebencian saja dapat membuat seseorang berlaku tidak adil, maka perasaan lain pun bisa memengaruhi penilaian kita.

Rasa suka.

Rasa kasihan.

Kedekatan.

Bahkan kesamaan pengalaman.

Kita bisa lebih mudah membantu orang yang terasa “seperti kita”, sementara orang yang berbeda dari kita terasa lebih jauh.

Padahal nilai kemanusiaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa dekat ia dengan kehidupan kita.

Bukan Berarti Semua Orang Harus Mendapat Bantuan yang Sama

Di sinilah kita perlu membedakan antara kesamaan dan keadilan.

Adil tidak selalu berarti semua orang mendapatkan hal yang sama.

Seseorang yang kehilangan rumah membutuhkan sesuatu yang berbeda dari anak yang kesulitan membayar sekolah.

Orang yang sakit membutuhkan layanan kesehatan.

Keluarga yang kehilangan sumber penghasilan mungkin membutuhkan dukungan ekonomi.

Korban bencana membutuhkan bantuan darurat.

Karena itu, bantuan yang baik bukan sekadar bertanya, “Siapa yang paling pantas?”

Tetapi juga, “Siapa yang paling membutuhkan, apa kebutuhannya, dan bantuan seperti apa yang benar-benar bermanfaat?”

Pertanyaan ini mengubah posisi kita.

Kita tidak lagi menjadi orang yang sekadar menilai apakah seseorang “layak dikasihani”.

Kita mulai belajar memahami persoalan sebelum mengambil keputusan.

Bolehkah Kita Memilih Siapa yang Layak Dibantu? 

Jangan Sampai Kita Hanya Menolong Orang yang Mudah Kita Sukai

Ada bentuk ketidakadilan yang sangat halus.

Kita mungkin tidak pernah berniat mendiskriminasi siapa pun.

Tetapi kita cenderung lebih mudah membantu orang yang:

  • ceritanya menyentuh,

  • terlihat tidak berdaya,

  • memiliki kesamaan dengan kita,

  • dekat dengan lingkungan kita,

  • atau membuat kita merasa menjadi “orang baik” ketika membantunya.

Sementara orang yang terlihat keras, tertutup, pernah gagal, atau tidak pandai menceritakan kesulitannya mungkin mendapatkan lebih sedikit simpati.

Padahal kesulitan hidup tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikasihani.

Ada orang yang tersenyum ketika sedang terlilit utang.

Ada orang yang tetap bekerja meskipun penghasilannya tidak cukup.

Ada orang yang tidak meminta bantuan karena malu.

Ada keluarga yang berusaha terlihat baik-baik saja karena tidak ingin anak-anaknya merasa kekurangan.

Karena itu, kemanusiaan membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada rasa kasihan yaitu kemampuan untuk melihat manusia secara utuh.

BAZNAS dan Pentingnya Bantuan yang Tidak Berdasarkan Perasaan Semata

Di sinilah pengelolaan zakat, infak, dan sedekah memiliki peran penting.

Jika bantuan hanya diberikan berdasarkan siapa yang paling menyentuh hati, maka orang yang memiliki cerita paling menarik akan selalu lebih mudah mendapatkan perhatian.

Padahal kebutuhan masyarakat jauh lebih luas daripada apa yang terlihat.

BAZNAS memiliki peran untuk membantu mengelola dana zakat, infak, dan sedekah agar dapat disalurkan kepada mereka yang membutuhkan berdasarkan ketentuan, kebutuhan, dan program yang telah ditetapkan.

Dengan begitu, kepedulian tidak hanya bergantung pada emosi sesaat.

Ada proses untuk melihat kebutuhan.

Ada pertimbangan dalam menentukan prioritas.

Ada upaya agar dana umat dapat memberikan manfaat yang tepat.

Hal ini penting karena kebaikan membutuhkan hati yang peka, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang bertanggung jawab.

Mungkin Kita Tidak Perlu Menentukan Siapa yang “Layak” Ditolong

Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang layak ditolong?” mungkin perlu kita ubah.

Bukan karena semua orang harus mendapatkan bantuan dalam bentuk dan jumlah yang sama.

Tetapi karena kita perlu menyadari bahwa manusia terlalu terbatas untuk mengukur seluruh kehidupan manusia lainnya hanya dari apa yang terlihat.

Kita boleh menentukan prioritas.

Kita boleh mempertimbangkan kebutuhan.

Kita boleh memastikan bantuan digunakan dengan tepat.

Tetapi jangan sampai kita mengubah kepedulian menjadi pengadilan.

Sebab bisa jadi seseorang yang hari ini kita anggap “tidak layak” justru sedang menghadapi perjuangan yang tidak pernah kita lihat.

Dan bisa jadi, suatu hari nanti, kita sendiri yang membutuhkan uluran tangan orang lain.

Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita menjadi pihak yang memberi, dan ada saat ketika kita mungkin menjadi pihak yang membutuhkan.

Maka, sebelum bertanya, “Apakah dia pantas mendapatkan bantuan?”

mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, “Apakah saya sudah cukup memahami keadaannya untuk menghakimi?”

Kemanusiaan bukan tentang menjadi orang yang mampu menolong semua orang.

Kemanusiaan adalah tentang tidak membiarkan penilaian pribadi membuat kita kehilangan keadilan dan kepedulian.

Melalui zakat, infak, dan sedekah, kita dapat mengubah kepedulian menjadi tindakan yang lebih terarah. Bukan sekadar membantu orang yang paling mudah membuat kita iba, tetapi ikut menghadirkan manfaat bagi mereka yang memang membutuhkan.

Karena pada akhirnya, tugas kita bukan menentukan siapa yang paling pantas dikasihani.

Tugas kita adalah memastikan bahwa ketika kita diberi kemampuan untuk membantu, kemampuan itu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Mari titipkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi agar kepedulian kita dapat dikelola dan disalurkan menjadi manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

09/09/2026 | Kontributor: Baznas Kota Sukabumi

Artikel Terbaru

Indahnya Memaafkan: Menjernihkan Hati dari Rasa Dengki
Indahnya Memaafkan: Menjernihkan Hati dari Rasa Dengki
Indahnya Memaafkan: Menjernihkan Hati dari Rasa Dengki Setiap manusia pasti pernah merasakan sakit hati, kecewa, atau tersinggung oleh perkataan maupun tindakan orang lain. Namun, tidak semua orang mampu mengelola perasaan tersebut dengan baik. Ada yang memilih memaafkan, tetapi ada pula yang terus menyimpan dendam hingga tumbuh menjadi rasa dengki dalam hati. Padahal, Islam mengajarkan bahwa memaafkan adalah salah satu jalan menuju ketenangan jiwa dan keberkahan hidup. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, melainkan membebaskan diri dari beban emosi yang mengotori hati. Ketika hati bersih dari dengki dan dendam, hidup terasa lebih ringan, damai, dan penuh syukur. Mengapa Rasa Dengki Berbahaya? Dengki atau hasad adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat, bahkan berharap nikmat tersebut hilang darinya. Penyakit hati ini sangat berbahaya karena dapat merusak amal kebaikan yang telah susah payah kita kumpulkan. Rasulullah ? bersabda: “Jauhilah sifat hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud) Hadits ini menjadi pengingat bahwa rasa dengki tidak hanya merusak hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga dapat menggerus pahala amal saleh. Tanda-Tanda Hati yang Masih Dipenuhi Dengki Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain: Sulit melihat orang lain sukses. Senang ketika orang lain mengalami kesulitan. Merasa iri terhadap rezeki atau pencapaian orang lain. Enggan mendoakan kebaikan bagi sesama. Sulit memaafkan kesalahan orang lain. Jika tanda-tanda tersebut masih ada dalam diri, maka saatnya membersihkan hati dengan memperbanyak istighfar, introspeksi, dan belajar memaafkan. Keutamaan Memaafkan dalam Islam Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang mampu memaafkan kesalahan orang lain. Allah Menjanjikan Ampunan bagi Orang yang Memaafkan Allah SWT berfirman: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22) Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat indah antara memaafkan sesama manusia dan memperoleh ampunan dari Allah SWT. Orang yang Memaafkan Dicintai Allah Allah SWT juga berfirman: “Yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 134) Memaafkan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan hati dan kematangan iman. Cara Menjernihkan Hati dari Dengki Mengingat Bahwa Semua Rezeki Berasal dari Allah Setiap manusia memiliki takdir, rezeki, dan jalan hidup yang berbeda. Ketika kita memahami bahwa Allah telah menetapkan bagian terbaik untuk setiap hamba-Nya, rasa iri akan berkurang dan digantikan oleh rasa syukur. Membiasakan Mendoakan Orang Lain Ketika muncul rasa iri, lawanlah dengan doa. Mintalah kepada Allah agar orang tersebut diberikan keberkahan dan kebaikan yang lebih banyak. Cara ini efektif untuk melatih keikhlasan hati. Memperbanyak Sedekah Sedekah memiliki kekuatan luar biasa dalam membersihkan hati dari sifat kikir, iri, dan dengki. Saat seseorang gemar berbagi, ia akan lebih fokus pada nikmat yang dimiliki daripada membandingkan dirinya dengan orang lain. Sedekah Menumbuhkan Empati dan Kepedulian Ketika kita membantu saudara yang sedang kesulitan, hati menjadi lebih lembut dan lapang. Kita menyadari bahwa masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan dan doa. Saatnya Mengubah Dendam Menjadi Kebaikan Bayangkan jika setiap luka yang pernah kita rasakan justru menjadi alasan untuk berbuat baik kepada sesama. Betapa damainya kehidupan ini. Memaafkan memang tidak mudah, tetapi setiap langkah menuju keikhlasan akan mendatangkan ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun. Salah satu cara membersihkan hati adalah dengan memperbanyak amal kebaikan, termasuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Saat tangan memberi, hati belajar untuk ikhlas. Saat membantu sesama, jiwa belajar untuk bersyukur. Mari Tebar Kebaikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Jangan biarkan hati dipenuhi dengki dan dendam. Mari gantikan dengan kepedulian dan kebermanfaatan bagi sesama. Melalui zakat, infak, dan sedekah yang Anda tunaikan di BAZNAS Kota Sukabumi, insya Allah banyak saudara yang terbantu; mulai dari program pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, dakwah, hingga pemberdayaan ekonomi umat. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL31/07/2026 | BAZNAS
Kunci Tenang Hati dengan Dzikir Harian: Rahasia Ketenangan yang Sering Dilupakan
Kunci Tenang Hati dengan Dzikir Harian: Rahasia Ketenangan yang Sering Dilupakan
Kunci Tenang Hati dengan Dzikir Harian: Rahasia Ketenangan yang Sering Dilupakan Di tengah kesibukan, tekanan pekerjaan, masalah ekonomi, hingga derasnya arus informasi di era digital, banyak orang mencari cara untuk mendapatkan ketenangan hati. Sebagian mencarinya melalui hiburan, liburan, atau berbagai aktivitas yang menyenangkan. Namun, tidak sedikit yang tetap merasa gelisah meskipun kebutuhan duniawinya telah terpenuhi. Islam telah memberikan solusi terbaik untuk memperoleh ketenangan batin, yaitu dengan memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Dzikir bukan sekadar rangkaian bacaan di lisan, melainkan sarana untuk menghubungkan hati dengan Sang Pencipta. Ketika hati dekat dengan Allah, maka ketenangan akan hadir meskipun berbagai ujian kehidupan datang silih berganti. Mengapa Dzikir Menjadi Kunci Ketenangan Hati? Allah SWT telah menjelaskan secara langsung dalam Al-Qur'an bahwa ketenangan hati hanya dapat diraih dengan mengingat-Nya. Jaminan Ketenangan dari Allah SWT Allah SWT berfirman: ????????? ??????? ????????????? ??????????? ???????? ??????? ? ????? ???????? ??????? ??????????? ?????????? “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra'd: 28) Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketenangan sejati tidak bergantung pada banyaknya harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT. Dzikir Menguatkan Hati Saat Menghadapi Ujian Setiap manusia pasti menghadapi masalah. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, kesehatan, keluarga, maupun pekerjaan. Dzikir membantu seseorang tetap kuat dan optimis karena ia menyadari bahwa Allah selalu bersamanya. Ketika hati dipenuhi dzikir, rasa cemas dan takut perlahan tergantikan oleh keyakinan dan harapan kepada Allah SWT. Keutamaan Dzikir dalam Hadits Rasulullah ? Rasulullah ? sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak dzikir dalam kehidupan sehari-hari. Beliau bersabda: ?????? ??????? ???????? ??????? ????????? ??? ???????? ??????? ?????? ???????? ???????????? “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan orang yang tidak berdzikir kepada Tuhannya adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari) Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya dzikir bagi kehidupan spiritual seorang Muslim. Hati yang jauh dari dzikir akan mudah diliputi kegelisahan, sedangkan hati yang selalu mengingat Allah akan dipenuhi cahaya dan ketenangan. Dzikir Harian yang Mudah Diamalkan Salah satu keindahan Islam adalah ajarannya yang mudah diamalkan oleh siapa saja. Berikut beberapa dzikir harian yang dapat menjadi kebiasaan baik: Membaca Istighfar ???????????? ??????? ??????????? “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung.” Istighfar membersihkan hati dari dosa dan kesalahan yang sering menjadi penyebab kegelisahan. Membaca Tasbih, Tahmid, dan Takbir ????????? ??????? (Maha Suci Allah) ????????? ??????? (Segala puji bagi Allah) ??????? ???????? (Allah Maha Besar) Dzikir ini membantu kita lebih bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Membaca Hauqalah ??? ?????? ????? ??????? ?????? ????????? “Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Bacaan ini sangat dianjurkan ketika menghadapi kesulitan atau merasa lemah. Jadikan Dzikir Sebagai Rutinitas Mulailah dengan target sederhana, misalnya berdzikir setelah salat fardu, saat perjalanan, sebelum tidur, atau ketika menunggu aktivitas lainnya. Sedikit tetapi rutin lebih baik daripada banyak namun jarang dilakukan. Hubungan Dzikir dan Kepedulian Sosial Dzikir yang benar tidak hanya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, tetapi juga mendorongnya untuk peduli terhadap sesama. Hati yang lembut karena dzikir akan lebih mudah tersentuh melihat kesulitan orang lain. Seseorang yang rajin berdzikir akan menyadari bahwa harta, kesehatan, dan segala nikmat yang dimilikinya adalah titipan Allah SWT. Kesadaran ini akan melahirkan rasa syukur yang diwujudkan melalui zakat, infak, dan sedekah. Sedekah Menjadi Bukti Syukur Ketika lisan sibuk berdzikir dan tangan ringan berbagi, maka kebahagiaan hidup akan semakin sempurna. Kita tidak hanya mendapatkan ketenangan hati, tetapi juga menjadi jalan kebahagiaan bagi orang lain. Wujudkan Dzikir dalam Aksi Kebaikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Ketenangan hati tidak hanya diperoleh dengan mengingat Allah, tetapi juga dengan menjalankan perintah-Nya untuk membantu sesama. Saat ini masih banyak saudara kita yang membutuhkan bantuan pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. untuk melihat artikel lainnya KLIK DISINI
ARTIKEL31/07/2026 | BAZNAS
Kebaikan Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari
Kebaikan Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari
Kebaikan Kamu Berikan Hari Ini Bisa Menyelamatkanmu Esok Hari Jangan Pernah Meremehkan Sebuah Kebaikan Pernahkah kita berbuat baik karena merasa apa yang kita miliki terlalu sedikit? Atau mungkin berpikir bahwa bantuan kecil yang kami berikan tidak akan membawa perubahan apa pun? Padahal, dalam Islam, tidak ada kebaikan yang sia-sia. Sekecil apa pun amal yang dilakukan dengan ikhlas, semuanya akan dicatat dan dibalas oleh Allah SWT. Bisa jadi, senyuman yang kita berikan hari ini, sedekah yang nilainya tidak seberapa, atau pertolongan sederhana kepada seseorang menjadi sebab datangnya pertolongan Allah ketika kita menghadapi kesulitan di masa depan. Oleh karena itu, jangan pernah kaya, punya waktu luang, atau merasa sempurna untuk mulai berbuat baik. Allah Tidak Pernah Melupakan Setiap Amal Kebaikan Sekecil Apa Pun Akan Mendapat Balasan Allah SWT menegaskan bahwa setiap amal, meskipun sangat kecil, akan diperhitungkan. Firman Allah SWT: "Maka barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8) Ayat ini menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah melewatkan satu pun amal manusia. Tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dihargai oleh-Nya. Kebaikan Adalah Investasi Terbaik Saat kita membantu orang lain, sesungguhnya kita sedang menabung amal untuk kehidupan yang akan datang. Balasan itu bisa Allah berikan dalam bentuk ketenangan hati, kesehatan, kemudahan rezeki, perlindungan dari musibah, hingga pahala yang terus mengalir di akhirat. Sering kali kita tidak langsung melihat hasil dari sebuah kebaikan. Namun, Allah mempunyai cara terbaik untuk membalasnya, bahkan pada saat yang tidak pernah kita duga. Menolong Orang Lain Berarti Membuka Pertolongan Allah Allah Akan Menolong Hamba yang Suka Menolong Rasulullah ? bersabda: “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim) Hadis ini memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang gemar membantu sesama. Ketika kita meringankan beban orang lain, Allah pun akan memudahkan urusan kita. Mungkin hari ini kita membantu seseorang yang sedang kesulitan biaya pendidikan, membantu tetangga yang membutuhkan makanan, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk fakir miskin. Semua itu bukan sekedar tindakan sosial, tapi juga bentuk ibadah yang pertolongan Allah. Jangan Menunggu Mampu untuk Berbuat Baik Banyak orang berkata, "Nanti kalau sudah kaya, saya akan lebih banyak bersedekah." Padahal, kesempatan berbuat baik ada setiap hari. Memberikan senyuman, mendoakan orang lain, membantu mengangkat barang, berbagi ilmu, atau menyisihkan sedikit rezeki adalah bentuk kebaikan yang sangat bernilai di sisi Allah. Yang dinilai bukan hanya besarnya pemberian, namun juga keikhlasan hati. Sedekah Dapat Menjadi Penyelamat di Dunia dan Akhirat Salah satu bentuk kebaikan yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah sedekah. Selain membantu sesama, sedekah juga menjadi sebab datangnya keberkahan hidup. Rasulullah ? bersabda: "Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) sebagian butir kurma." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan bahwa nilai sebuah sedekah tidak selalu diukur dari kuantitasnya. Yang paling utama adalah keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Bahkan, sedekah yang tampak kecil di mata manusia bisa menjadi penyelamat ketika seseorang berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat. Jadikan Hari Ini Kesempatan Menanam Kebaikan Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi esok hari. Bisa jadi, suatu saat nanti kitalah yang membutuhkan pertolongan orang lain. Bisa juga kita menghadapi ujian yang terasa begitu berat. Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan untuk berbuat baik hari ini. Tebarkan senyum, bantu mereka yang membutuhkan, dan sisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama. Percayalah, setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas tidak akan pernah hilang. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang gemar berbuat baik, meringankan urusannya di dunia, terselamatkan dari berbagai kesulitan, dan mendapatkan perlindungan rahmat-Nya di akhirat. Aamiin. Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Mari menyempurnakan ibadah kita, bukan hanya dengan memperbaiki tata cara shalat, wudu, dan amalan lainnya, tetapi juga dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi , lembaga resmi yang amanah dan profesional dalam mengelola dana umat. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan disalurkan untuk membantu fakir miskin, anak yatim, pendidikan, layanan kesehatan, program kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL27/07/2026 | BAZNAS
Satu Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Beribadah
Satu Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Beribadah
Satu Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Beribadah Setiap hari kita beribadah. Ada yang menunaikan salat tepat waktu, rajin membaca Al-Qur'an, berpuasa, bersedekah, hingga berlomba-lomba melakukan berbagai amal kebaikan. Semua itu tentu saja sangat mulia. Namun, ada satu pertanyaan penting yang sering terlupakan sebelum kita memulai setiap ibadah. "Untuk siapa sebenarnya ibadah ini yang saya lakukan?" Pertanyaan sederhana ini memiliki dampak yang sangat besar. Sebab, kualitas sebuah ibadah bukan hanya diukur dari banyaknya amal yang dilakukan, tetapi juga dari niat yang ada di dalam hati. Bisa jadi dua orang melakukan ibadah yang sama, dengan cara yang sama, namun balasan yang mereka terima di sisi Allah sangat berbeda karena niatnya tidak sama. Niat, Pondasi dari Setiap Amal Dalam Islam, niat bukan sekedar ucapan lisan, namun tekad yang lahir dari hati untuk mengharap ridha Allah semata. Niat menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan, antara amal yang bernilai pahala dan amal yang tidak bernilai di sisi Allah. Rasulullah ? bersabda: “Sejujurnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907) Hadis ini bahkan ditempatkan sebagai hadis pertama dalam Shahih Bukhari karena menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amal seorang muslim. Jangan Sampai Ibadah Hanya Menjadi Rutinitas Seiring berjalannya waktu, tidak sedikit orang yang beribadah hanya karena sudah menjadi suatu kebiasaan. Salat karena waktunya tiba, membaca Al-Qur'an karena target harian, atau bersedekah karena mengikuti orang lain. Padahal, Allah menginginkan hati yang hadir dalam setiap ibadah. Saat kita memperbarui niat sebelum beribadah, hati akan lebih tenang, lebih khusyuk, dan lebih merasakan kedekatan dengan Allah. Ibadah pun tidak lagi terasa sebagai beban, namun menjadi kebutuhan jiwa. Ikhlas Adalah Kunci Diterimanya Amal Allah SWT berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dengan menyampaikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah : 5) Ayat ini mengingatkan bahwa inti dari setiap ibadah adalah keikhlasan. Tidak peduli seberapa besar amal kita, jika dilakukan demi pujian atau pengakuan manusia, maka nilainya akan berkurang bahkan bisa menjadi sia-sia. Jangan Menunggu Sempurna untuk Memperbaiki Niat Banyak orang yang merasa niatnya belum sepenuhnya ikhlas, lalu malah enggan beribadah. Padahal, memperbaiki niat adalah proses yang terus dilakukan sepanjang hidup. Setiap kali hati mulai condong kepada pujian manusia, segeralah luruskan kembali niat tersebut. Allah Maha Mengetahui isi hati setiap hamba-Nya dan mencintai orang-orang yang terus berusaha memperbaiki dirinya. Ibadah yang Berdampak dalam Kehidupan Ibadah yang dilakukan dengan niat yang benar tidak hanya menghadirkan pahala, tetapi juga membentuk akhlak yang lebih baik. Orang yang ikhlas akan lebih mudah bersabar, lebih ringan membantu sesama, serta tidak mudah kecewa ketika kebaikannya tidak mendapat apresiasi. Begitu pula dengan zakat, infak, dan sedekah. Ketika dilakukan semata-mata karena Allah, setiap rupiah yang dikeluarkan akan menjadi investasi akhirat yang tak ternilai. Selain membantu saudara yang membutuhkan, amal tersebut juga membersihkan harta dan menumbuhkan rasa syukur dalam hati. Allah berjanji bahwa harta yang dikeluarkan di jalan-Nya tidak akan mengurangi rezeki, bahkan akan diganti dengan keberkahan yang lebih luas. penutup Jika pertanyaan itu dijawab dengan jujur ??dan disertai niat yang ikhlas, maka insya Allah setiap ibadah akan menjadi lebih bermakna, lebih menenangkan hati, dan lebih bernilai di sisi Allah SWT. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL27/07/2026 | BAZNAS
Jangan Pernah Merasa Rugi Saat Berbuat Baik, Karena Allah Tidak Pernah Salah Menghitung
Jangan Pernah Merasa Rugi Saat Berbuat Baik, Karena Allah Tidak Pernah Salah Menghitung
Jangan Pernah Merasa Rugi Saat Berbuat Baik, Karena Allah Tidak Pernah Salah Menghitung Pernahkah Anda merasa lelah karena sudah berbuat baik, tetapi justru dibalas dengan sikap yang mengecewakan? Mungkin Anda pernah membantu seseorang, memberi sedekah, atau meluangkan waktu untuk orang lain, namun balasannya tidak sesuai harapan. Jika iya, jangan buru-buru berhenti berbuat baik. Sebagai manusia, kita sering menghitung untung dan rugi berdasarkan apa yang terlihat. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki cara menghitung yang jauh lebih sempurna. Tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari perhitungan-Nya. Bahkan, sekecil apa pun amal yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan balasan terbaik, baik di dunia maupun di akhirat. Allah Selalu Menghitung Setiap Kebaikan Banyak orang mengira bahwa kebaikan harus selalu dibalas oleh manusia. Padahal, tujuan utama berbuat baik bukanlah mencari pujian atau balasan dari sesama, melainkan mengharap ridha Allah. Allah SWT berfirman: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya."(QS. Az-Zalzalah: 7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada amal baik yang sia-sia. Senyum yang tulus, membantu tetangga, menyantuni anak yatim, hingga bersedekah dengan nominal kecil sekalipun tetap memiliki nilai besar di sisi Allah. Berbuat Baik Tidak Akan Mengurangi Rezeki Sering kali muncul rasa khawatir, "Kalau saya memberi, nanti uang saya berkurang." Padahal Rasulullah ? justru mengajarkan hal yang sebaliknya. Sedekah Tidak Membuat Miskin Rasulullah ? bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah tidak menambah kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang bersikap rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim No. 2588) Hadis ini memberikan ketenangan bahwa sedekah bukanlah penyebab kemiskinan. Justru melalui sedekah, Allah membuka pintu rezeki yang sering kali datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Jangan Berbuat Baik Karena Ingin Dipuji Masyarakat Kebaikan akan terasa ringan jika dilakukan karena Allah. Sebaliknya, jika dilakukan demi pujian manusia, kita akan mudah kecewa ketika tidak mendapatkan apresiasi. Ikhlas adalah Kunci Orang yang ikhlas tidak sibuk menghitung berapa kali ia membantu orang lain. Ia yakin bahwa seluruh amal telah dicatat oleh Allah. Boleh jadi hari ini kita memberi makanan kepada seseorang, esok Allah menghadirkan pertolongan melalui orang yang bahkan tidak pernah kita kenal. Inilah indahnya balasan Allah yang sering kali datang dengan cara yang tidak terduga. Kebaikan yang Menular di Tengah Masyarakat Saat satu orang memulai kebaikan, semangat itu bisa menular kepada banyak orang. Senyum yang tulus, kepedulian kepada tetangga, membantu keluarga yang kesulitan, atau berbagi kepada fakir miskin dapat menciptakan lingkungan yang lebih hangat dan penuh kasih sayang. Masyarakat yang gemar berbagi akan menjadi masyarakat yang kuat. Bukan hanya karena memiliki banyak harta, tetapi karena memiliki rasa peduli dan saling menguatkan. Allah Melipatgandakan Balasan Kebaikan Salah satu keistimewaan dalam Islam adalah Allah tidak membalas kebaikan secara biasa-biasa saja. Bahkan satu amal baik dapat dilipatgandakan berkali-kali lipat. Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki."(QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menunjukkan bahwa keuntungan terbesar dari berbuat baik bukanlah balasan manusia, melainkan pahala yang terus berkembang di sisi Allah. Jangan Lelah Menjadi Orang Baik Mungkin ada saatnya Anda merasa lelah karena kebaikan tidak dihargai. Namun ingatlah, manusia bisa lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa. Teruslah membantu sesama, menebarkan senyum, memaafkan kesalahan orang lain, serta menyisihkan sebagian rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Semua itu adalah investasi terbaik yang hasilnya akan kita panen di dunia maupun di akhirat. Jadikan Sedekah sebagai Gaya Hidup Sedekah bukan hanya tentang nominal yang besar. Sedikit yang diberikan dengan ikhlas jauh lebih bernilai daripada banyak tetapi disertai riya'. Yang terpenting adalah konsisten dalam berbuat baik. Mulailah dari hal-hal sederhana. Berikan makanan kepada yang lapar, bantu biaya pendidikan anak yatim, dukung pelayanan kesehatan bagi dhuafa, atau sisihkan sebagian rezeki setiap bulan untuk membantu saudara-saudara yang membutuhkan. Ketika semakin banyak masyarakat yang menjadikan sedekah sebagai kebiasaan, maka keberkahan akan semakin terasa. Tidak hanya membantu penerima manfaat, tetapi juga membersihkan hati, melapangkan rezeki, dan mempererat ukhuwah di tengah kehidupan bermasyarakat. Mari Tebarkan Kebaikan Bersama BAZNAS Kota Sukabumi Jangan menunggu kaya untuk mulai berbagi. Berbuat baik bisa dimulai hari ini, dari apa yang kita miliki saat ini. Salurkan zakat, infak, dan sedekah Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, agar amanah yang Anda titipkan dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL27/07/2026 | BAZNAS
Kebaikan yang Kamu Anggap Biasa Bisa Sangat Besar di Sisi Allah
Kebaikan yang Kamu Anggap Biasa Bisa Sangat Besar di Sisi Allah
Kebaikan yang Kamu Anggap Biasa Bisa Sangat Besar di Sisi Allah Pernahkah kamu menahan pintu agar orang lain bisa lewat lebih dulu? Atau mungkin menyapa tetangga dengan senyum, membantu teman tanpa diminta, atau menyisihkan sedikit rezeki untuk mereka yang membutuhkan? Sekilas, semua itu tampak sederhana. Bahkan, mungkin kita menganggapnya sebagai hal biasa. Namun, tahukah kamu? Dalam pandangan Allah SWT, kebaikan-kebaikan kecil itu bisa memiliki nilai yang sangat besar. Islam mengajarkan bahwa Allah tidak hanya melihat besar atau kecilnya amal, tetapi juga keikhlasan hati di baliknya. Itulah mengapa satu kebaikan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi penyebab datangnya rahmat, ampunan, dan keberkahan hidup. Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan Sekecil Apa Pun Sering kali kita berpikir bahwa sedekah harus berupa uang dalam jumlah besar atau bantuan yang luar biasa. Padahal, Rasulullah ? mengajarkan bahwa setiap bentuk kebaikan memiliki nilai ibadah. Allah SWT berfirman: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya."(QS. Az-Zalzalah: 7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada satu pun amal baik yang sia-sia. Bahkan kebaikan yang mungkin terlupakan oleh manusia tetap tercatat dengan sempurna di sisi Allah. Kebaikan Itu Tidak Selalu Berupa Harta Banyak orang mengira bahwa sedekah hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki banyak harta. Padahal kenyataannya tidak demikian. Kamu bisa bersedekah dengan: Memberikan senyuman. Membantu orang tua. Menyingkirkan duri atau sampah dari jalan. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Memberi semangat kepada orang yang sedang berjuang. Mendoakan saudara sesama muslim. Semua itu adalah bentuk kebaikan yang dicintai Allah. Hadis Rasulullah ? Tentang Kebaikan Rasulullah ? bersabda: "Janganlah sekali-kali meremehkan suatu kebaikan, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria." (HR. Muslim No. 2626) Hadis ini menunjukkan bahwa senyum yang tulus sekalipun dapat bernilai sedekah. Sesuatu yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik ternyata dapat menjadi amal yang terus mengalir pahalanya di sisi Allah. Mengapa Kebaikan Kecil Bernilai Besar? Allah melihat apa yang tidak mampu dilihat manusia. Ketika seseorang memberi dengan ikhlas, meskipun sedikit, Allah mengetahui perjuangan, niat, dan ketulusannya. Allah Menilai Keikhlasan Tidak semua amal besar diterima, dan tidak semua amal kecil dianggap remeh. Nilai sebuah amal sangat ditentukan oleh niatnya. Rasulullah ? bersabda: "Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim) Karena itu, jangan pernah membandingkan amal kita dengan orang lain. Fokuslah untuk memperbaiki niat dan terus berbuat baik. Kebaikan Melahirkan Kebaikan Lainnya Satu kebaikan sering kali menjadi awal dari banyak kebaikan berikutnya. Senyum dapat mempererat silaturahmi. Sedekah dapat menguatkan harapan orang yang sedang kesulitan. Ilmu yang dibagikan bisa diamalkan oleh banyak orang selama bertahun-tahun. Itulah indahnya Islam. Kebaikan tidak berhenti pada satu orang, tetapi menyebar dan memberi manfaat kepada masyarakat luas. Sedekah: Kebaikan yang Tidak Pernah Merugi Di antara berbagai bentuk kebaikan, sedekah memiliki keistimewaan tersendiri. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang-orang yang gemar berbagi. Sedekah bukan hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga membersihkan harta, melembutkan hati, serta menghadirkan keberkahan dalam kehidupan. Bahkan ketika kita merasa rezeki sedang sempit, berbagi dengan ikhlas dapat menjadi salah satu jalan datangnya pertolongan Allah. Mulailah dari yang Mampu Dilakukan Tidak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. Mulailah dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Sisihkan sebagian rezeki, bantu tetangga yang membutuhkan, atau dukung program-program kemanusiaan yang terpercaya. Sedikit menurut kita, bisa jadi sangat berarti bagi orang lain. Dan sedikit menurut manusia, bisa menjadi sangat besar di sisi Allah. Penutup Jangan pernah menunda berbuat baik hanya karena merasa amalmu terlalu kecil. Bisa jadi, senyum yang kamu berikan hari ini, bantuan sederhana yang kamu ulurkan, atau sedekah yang kamu sisihkan dengan ikhlas menjadi alasan Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan dalam hidupmu. Yuk, salurkan zakat, infak, dan sedekah terbaik Anda melalui BAZNAS Kota Sukabumi, karena setiap kebaikan yang diniatkan karena Allah akan menjadi bekal terbaik untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL27/07/2026 | BAZNAS
99% Muslim Pernah Melakukan Kesalahan Ibadah Ini. Apakah Kamu Salah Satunya?
99% Muslim Pernah Melakukan Kesalahan Ibadah Ini. Apakah Kamu Salah Satunya?
99% Muslim Pernah Melakukan Kesalahan Ibadah Ini. Apakah Kamu Salah Satunya? "Saya sudah salat lima waktu, puasa Ramadhan, bahkan rutin bersedekah. Berarti ibadah saya sudah benar kan?" Belum tentu. Banyak umat Islam yang rajin beribadah, namun tanpa disadari masih melakukan beberapa kesalahan mendasar. Kesalahan ini bukan karena disengaja, melainkan karena kurangnya ilmu atau hanya mengikuti kebiasaan yang diwariskan dari lingkungan sekitar. Padahal, Rasulullah ? mengajarkan bahwa ibadah harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tutunan syariat . Apa Aja Sih Kesalahannya? [caption id="attachment_5293" align="alignnone" width="651"] BAZNAS Kota Sukabumi[/caption] 1. Beribadah Tanpa Ilmu Kesalahan pertama adalah melakukan ibadah hanya karena ikut-ikutan tanpa mengetahui dalil dan tata caranya. Misalnya, seseorang shalat sesuai yang diajarkan keluarganya tanpa pernah mempelajari rukun, syarat sah, maupun hal-hal yang membatalkan shalat. Allah SWT berfirman: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl : 43) Ayat ini mengajarkan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari ibadah itu sendiri. 2. Tidak Menyempurnakan Wudu Banyak orang terburu-buru ketika berwudu sehingga ada anggota tubuh yang tidak terkena udara secara sempurna, misalnya sela-sela jari, tumit, atau siku. Rasulullah ? pernah memperingatkan: “Celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air wudu karena akan terkena api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Hal ini menunjukkan bahwa kesempurnaan wudu sangat mempengaruhi sahnya shalat. 3. Salat Terburu-buru Sebagian orang salat seperti sedang mengejar sesuatu. Rukuk dan sujud dilakukan terlalu cepat sehingga tidak mencapai posisi yang sempurna (thuma'ninah). Padahal Rasulullah ? pernah memerintahkan seseorang untuk kembali shalatnya karena tidak melakukan thuma'ninah dengan benar. Beliau bersabda: “Ulangilah salatmu, karena sesungguhnya kamu belum salat.” (HR. Bukhari dan Muslim) Salat bukan lomba. Nikmatilah setiap gerakan dengan tenang dan penuh kekhusyukan. 4. Lalai Menghadirkan Keikhlasan Ibadah yang terlihat baik di hadapan manusia belum tentu bernilai di sisi Allah jika niatnya ingin dipuji atau mendapatkan pengakuan. Rasulullah ? bersabda: Layanan Pelanggan “Sejujurnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) Oleh karena itu, sebelum beribadah, tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya melakukannya karena Allah atau karena manusia? 5. Mengabaikan Hak Sesama Manusia Ada orang yang rajin salat dan puasa, tetapi mudah menyakiti orang lain dengan ucapan, menunda membayar hutang, atau tidak amanah. Rasulullah ? bersabda bahwa orang yang bangkrut pada hari berhenti adalah orang yang datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi pernah menzalimi orang lain sehingga pahala tersebut habis diberikan kepada mereka. Ibadah tidak hanya menghubungkan kita dengan Allah (hablum minallah), tetapi juga dengan sesama manusia (hablum minannas). 6. Menunda Zakat Padahal Sudah Wajib Tidak sedikit umat Islam yang rajin menjalankan ibadah sunnah, namun lalai menunaikan zakat yang hukumnya wajib ketika telah memenuhi syarat. Allah SWT berfirman: Perlindungan Lingkungan dan Perlindungan Lingkungan “Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.” (QS. Al-Baqarah : 43) Zakat bukan sekedar kewajiban, tapi juga cara membersihkan harta, membantu fakir miskin, dan memperkuat kepedulian sosial. Saatnya Memperbaiki Ibadah Jika Anda menemukan salah satu kesalahan di atas yang pernah dilakukan, jangan berkecil hati. Islam adalah agama yang membuka pintu taubat dan perbaikan. Teruslah belajar, perbaiki niat, sempurnakan tata cara ibadah, dan jangan pernah berhenti mencari ilmu. Ingat, Allah tidak hanya melihat banyaknya amal, tetapi juga kualitas dan ketulusannya. Jadikan Harta sebagai Ibadah yang Mengalir Pahalanya Salah satu cara menyempurnakan ibadah adalah dengan menunaikan zakat, infak, dan sedekah . Harta yang kita keluarkan dengan ikhlas akan menjadi penyuci jiwa, penolong bagi saudara yang membutuhkan, sekaligus investasi akhirat. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi , lembaga resmi yang amanah dan profesional dalam mengelola dana umat sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita, mengampuni kekurangan yang pernah dilakukan, serta menjadikan kita hamba yang senantiasa memperbaiki diri dan berlomba dalam kebaikan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL24/07/2026 | BAZNAS
sebelum Terlambat, Pelajari Tata Cara Wudu yang Sesuai Sunnah
sebelum Terlambat, Pelajari Tata Cara Wudu yang Sesuai Sunnah
Sebelum Terlambat, Pelajari Tata Cara Wudu yang Sesuai Sunnah "Wudu hanya membasuh muka, tangan, lalu selesai?" Jika Anda masih berpikir demikian, mungkin sudah saatnya mengecek kembali cara berwudu. Faktanya, masih banyak umat Islam yang melakukan kesalahan saat berwudu, mulai dari terburu-buru, tidak menyempurnakan basuhan, hingga melewatkan bagian tubuh yang wajib terkena air. Padahal, wudu adalah kunci sahnya salat. Jika wudu tidak sah, maka salat yang dikerjakan pun tidak sah. Karena itu, sebelum terlambat, mari pelajari kembali tata cara wudu yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah ?. Wudu adalah Perintah Langsung dari Allah SWT Allah SWT berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu, tanganmu sampai siku, usaplah kepalamu, dan basuh kakimu sampai kedua mata kaki." (QS. Al-Ma'idah: 6) Ayat ini menjadi dasar utama tata cara wudu yang wajib dipahami oleh setiap Muslim. Tata Cara Wudu yang Sesuai Sunnah Agar wudu menjadi sempurna, berikut urutannya sesuai sunnah Rasulullah ?: Membaca Bismillah. Mencuci kedua telapak tangan sebanyak tiga kali. Berkumur-kumur. Memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkannya. Membasuh seluruh wajah sebanyak tiga kali. Membasuh tangan kanan dan kiri hingga siku sebanyak tiga kali. Mengusap sebagian atau seluruh kepala. Mengusap kedua telinga. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki sebanyak tiga kali. Membaca doa setelah selesai berwudu. Urutan ini hendaknya dilakukan dengan tenang dan tidak terburu-buru agar setiap anggota tubuh benar-benar terkena air. Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Berwudu Banyak orang tidak menyadari bahwa ada beberapa kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaan bahkan membatalkan wudu, di antaranya: Terburu-buru sehingga ada bagian tubuh yang tidak terkena air. Tidak membasuh sela-sela jari tangan dan kaki. Tumit atau mata kaki tidak terkena air. Mengusap kepala hanya sekilas tanpa sempurna. Berlebihan menggunakan air, padahal Islam mengajarkan untuk tidak boros. Rasulullah ? bersabda: ?????? ????????????? ???? ???????? "Celakalah tumit-tumit yang tidak terkena air wudu karena akan terkena api neraka." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan betapa pentingnya menyempurnakan setiap bagian wudu. Keutamaan Menyempurnakan Wudu Wudu bukan hanya membersihkan tubuh dari hadas kecil, tetapi juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil "Apabila seorang Muslim berwudu lalu membasuh wajahnya, keluarlah dosa-dosa yang dilakukan oleh kedua matanya bersama tetesan air..." (HR. Muslim) Subhanallah, setiap tetes air wudu bukan hanya membersihkan anggota tubuh, tetapi juga menjadi jalan penghapus dosa dengan izin Allah SWT. Jadikan Wudu sebagai Awal Ibadah yang Berkualitas Salat yang khusyuk dimulai dari wudu yang benar. Oleh karena itu, jangan pernah menganggap remeh tata cara wudu. Luangkan waktu untuk mempelajari sunnah Rasulullah ?, ajarkan kepada keluarga, dan biasakan melakukannya dengan penuh kesadaran. Semakin baik wudu kita, semakin baik pula kualitas ibadah yang kita kerjakan. Lengkapi Ibadah dengan Zakat, Infak, dan Sedekah Selain memperbaiki kualitas wudu dan salat, Islam juga mengajarkan kita untuk menyucikan harta melalui zakat, infak, dan sedekah. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah bukanlah berkurang, tetapi menjadi sebab datangnya keberkahan, kelapangan rezeki, dan kebahagiaan bagi mereka yang membutuhkan. Mari salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi. Dana yang Anda titipkan akan dikelola secara amanah dan profesional untuk membantu fakir miskin, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, serta pemberdayaan ekonomi umat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT menerima setiap amal ibadah kita, menyempurnakan wudu dan salat kita, serta menjadikan setiap harta yang kita keluarkan sebagai pemberat timbangan amal di hari kiamat. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL24/07/2026 | BAZNAS
Ibadah yang Benar Bukan Soal Kebiasaan, Tapi Soal Mengikuti Tuntunan Rasulullah ?. Apakah Kamu Salah Satunya?
Ibadah yang Benar Bukan Soal Kebiasaan, Tapi Soal Mengikuti Tuntunan Rasulullah ?. Apakah Kamu Salah Satunya?
Ibadah yang Benar Bukan Soal Kebiasaan, Tapi Soal Mengikuti Tuntunan Rasulullah ?. Apakah Kamu Salah Satunya? Pertanyaan ini sangat penting. Sebab, dalam Islam, ibadah bukan sekadar rutinitas yang dilakukan setiap hari. Ibadah adalah bentuk penghambaan kepada Allah SWT yang harus dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi Muhammad ?. Niat yang baik saja belum cukup jika tata cara ibadah tidak sesuai dengan syariat yang telah diajarkan. Banyak orang rajin salat, berpuasa, membaca Al-Qur'an, bahkan bersedekah. Namun, tanpa disadari masih ada kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaannya karena kurangnya ilmu. Inilah mengapa Islam sangat menekankan pentingnya belajar sebelum beramal. Mengapa Ibadah Harus Mengikuti Tuntunan Rasulullah ?? Allah SWT tidak membiarkan manusia beribadah sesuai keinginannya masing-masing. Sebaliknya, Allah mengutus Rasulullah ? sebagai teladan agar umat Islam memiliki contoh yang benar dalam menjalankan agama. Allah SWT berfirman: "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21) Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah ? adalah contoh terbaik dalam seluruh aspek kehidupan, mulai dari akhlak, muamalah, hingga tata cara beribadah. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak cukup hanya berkata, "Saya sudah biasa melakukannya." Yang lebih penting adalah bertanya, "Apakah Rasulullah ? juga melakukannya seperti ini?" Kebiasaan Tidak Selalu Sama dengan Sunnah Di berbagai daerah terdapat tradisi keagamaan yang berkembang dari generasi ke generasi. Sebagian tradisi selaras dengan syariat, tetapi ada pula yang perlu dikaji kembali berdasarkan Al-Qur'an dan hadis. Misalnya, ada orang yang salat dengan gerakan yang terburu-buru karena sejak kecil melihat orang di sekitarnya seperti itu. Ada pula yang berwudu tanpa menyempurnakan basuhan karena menganggap cukup sekadar terkena air. Bahkan ada yang melaksanakan suatu amalan tertentu tanpa mengetahui dalilnya. Islam mengajarkan agar setiap amal memiliki landasan ilmu. Rasulullah ? tidak pernah melarang umatnya belajar, bahkan beliau mendorong umatnya untuk terus mencari ilmu hingga akhir hayat. Rasulullah ? Mengajarkan Tata Cara Ibadah Secara Detail Dalam urusan salat, Rasulullah ? memberikan petunjuk yang sangat jelas. Beliau bersabda: "Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat." (HR. Bukhari No. 631) Hadis ini menjadi prinsip utama bahwa tata cara salat harus mengikuti contoh Rasulullah ?, bukan mengikuti kebiasaan masyarakat semata. Begitu pula dalam wudu, puasa, zakat, haji, hingga adab sehari-hari. Rasulullah ? telah memberikan contoh yang lengkap sehingga umat Islam tidak perlu membuat tata cara baru yang tidak memiliki dasar. Tanda-Tanda Ibadah yang Perlu Diperbaiki Agar lebih mudah melakukan evaluasi diri, berikut beberapa tanda bahwa ibadah kita mungkin masih perlu diperbaiki: Beribadah hanya karena sudah terbiasa, bukan karena memahami ilmunya. Tidak mengetahui dalil atau dasar dari amalan yang dilakukan. Salat dilakukan terburu-buru tanpa thuma'ninah. Wudu tidak sempurna sehingga ada anggota tubuh yang tidak terkena air. Lebih sibuk memperhatikan amalan orang lain daripada memperbaiki diri sendiri. Jarang menghadiri majelis ilmu atau membaca referensi Islam yang terpercaya. Jika salah satu poin di atas pernah kita alami, jangan berkecil hati. Justru itulah kesempatan terbaik untuk memperbaiki kualitas ibadah. Ilmu adalah Pondasi Amal Para ulama menjelaskan bahwa ilmu harus didahulukan sebelum beramal. Dengan ilmu, seseorang mengetahui mana yang wajib, sunnah, makruh, bahkan mana yang harus dihindari. Allah SWT berfirman: "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43) Karena itu, jangan pernah malu untuk belajar. Mengikuti kajian, membaca buku-buku karya ulama yang terpercaya, serta mempelajari hadis-hadis sahih adalah langkah nyata untuk memperbaiki kualitas ibadah. Jangan Hanya Memperbanyak Amal, Perbaiki Juga Kualitasnya Sering kali seseorang berlomba-lomba memperbanyak ibadah sunnah, tetapi lupa memperbaiki kualitas ibadah wajibnya. Padahal, Allah SWT lebih mencintai amal yang benar daripada amal yang banyak tetapi tidak sesuai tuntunan. Mulailah dari hal-hal sederhana. Perbaiki wudu, sempurnakan salat, luruskan niat, perbanyak zikir, dan jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Dengan begitu, setiap ibadah yang dilakukan akan terasa lebih khusyuk dan bermakna. Mengikuti Sunnah Juga Berarti Peduli kepada Sesama Meneladani Rasulullah ? bukan hanya terlihat saat salat di masjid, tetapi juga dari kepedulian kepada orang lain. Rasulullah ? dikenal sebagai pribadi yang paling dermawan. Beliau tidak pernah menunda membantu fakir miskin, anak yatim, maupun orang yang sedang mengalami kesulitan. Karena itu, salah satu bentuk mengikuti sunnah adalah dengan menunaikan zakat, memperbanyak infak, dan membiasakan sedekah. Harta yang Allah titipkan kepada kita memiliki hak orang lain yang harus ditunaikan. Allah SWT berfirman: "Dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat." (QS. Al-Baqarah: 43) Salurkan Zakat, Infak, dan Sedekah Melalui BAZNAS Kota Sukabumi Mari sempurnakan ibadah kita, bukan hanya dengan memperbaiki tata cara salat, wudu, dan amalan lainnya, tetapi juga dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Salurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Kota Sukabumi, lembaga resmi yang amanah dan profesional dalam mengelola dana umat. Setiap rupiah yang Anda titipkan akan disalurkan untuk membantu fakir miskin, anak yatim, pendidikan, layanan kesehatan, program kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tunaikan Zakat, Infak, dan Sedekah sekarang melalui: ???? https://kotasukabumi.baznas.go.id/bayarzakat Semoga Allah SWT membimbing kita untuk selalu memperbaiki ibadah, menambah ilmu, mengikuti sunnah Rasulullah ?, dan menjadikan setiap amal yang kita lakukan sebagai bekal terbaik menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
ARTIKEL24/07/2026 | BAZNAS
Ibadah Bukan Sekadar Gerakan, Inilah Makna yang Sering Terlupakan
Ibadah Bukan Sekadar Gerakan, Inilah Makna yang Sering Terlupakan
Pernah Merasa Sudah Rajin Beribadah, Tapi Hati Masih Terasa Kosong? Banyak dari kita yang tidak pernah meninggalkan salat, rutin berpuasa, rajin membaca Al-Qur'an, bahkan gemar bersedekah. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri, apakah ibadah yang kita lakukan benar-benar telah menghadirkan perubahan dalam hati dan kehidupan? Di tengah kesibukan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menjalankan ibadah hanya sebagai rutinitas. Gerakannya dilakukan, bacaannya dilafalkan, tetapi hati dan pikiran justru melayang ke mana-mana. Padahal, dalam Islam, ibadah bukan hanya soal gerakan fisik, melainkan tentang menghadirkan hati yang tulus untuk mendekat kepada Allah SWT. Hakikat Ibadah Adalah Menghadirkan Hati kepada Allah Allah SWT tidak hanya melihat seberapa banyak ibadah yang kita lakukan, tetapi juga keikhlasan dan ketakwaan yang tumbuh di dalam hati. Salat, misalnya, bukan sekadar berdiri, rukuk, dan sujud. Salat adalah momen seorang hamba berbicara dengan Rabb-nya, memohon ampunan, mengadu, dan mencari ketenangan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-'Ankabut: 45) Ayat ini mengajarkan bahwa tanda ibadah yang berkualitas bukan hanya rajin mengerjakannya, tetapi juga terlihat dari perubahan akhlak dan perilaku sehari-hari. Ketika Ibadah Belum Mengubah Sikap Sering kali kita menemukan seseorang yang rajin beribadah, tetapi masih mudah marah, menyakiti orang lain, atau enggan membantu sesama. Ini menjadi pengingat bahwa ibadah yang dilakukan perlu terus diperbaiki kualitasnya. Ibadah yang benar akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih jujur, lebih penyayang, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Rasulullah SAW Mengajarkan Bahwa Amal Dinilai dari Niatnya Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis yang sangat masyhur ini menjadi pengingat bahwa ibadah yang tampak sama di mata manusia bisa memiliki nilai yang sangat berbeda di sisi Allah. Perbedaannya terletak pada niat dan keikhlasan. Keikhlasan Membuat Ibadah Menjadi Bernilai Seseorang mungkin salat hanya karena kebiasaan, sementara yang lain salat karena benar-benar ingin mendekat kepada Allah. Gerakannya mungkin sama, tetapi nilainya tidak sama. Begitu pula saat bersedekah. Ada yang memberi agar dipuji, ada pula yang memberi karena berharap ridha Allah semata. Keikhlasan inilah yang menjadi ruh dari setiap ibadah. Ibadah yang Baik Akan Melahirkan Kepedulian Orang yang benar-benar memahami makna ibadah akan terdorong untuk menebarkan manfaat kepada sesama. Ia sadar bahwa mencintai Allah juga berarti peduli terhadap ciptaan-Nya. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad, Ath-Thabrani, dan dinilai hasan oleh sebagian ulama) Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah. Nilainya akan semakin sempurna ketika diwujudkan dalam bentuk kepedulian, membantu yang membutuhkan, berbagi rezeki, dan meringankan beban orang lain. Jadikan Ibadah Sebagai Jalan Menjadi Pribadi yang Lebih Baik Setiap kali kita selesai salat, membaca Al-Qur'an, berzikir, atau bersedekah, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apakah hati saya menjadi lebih tenang? Apakah saya menjadi lebih sabar? Apakah saya lebih mudah memaafkan? Apakah saya semakin peduli kepada orang lain? Jika jawabannya "ya", maka insya Allah ibadah yang kita lakukan mulai membuahkan hasil. Namun jika belum, jangan putus asa. Teruslah memperbaiki niat, memahami makna setiap ibadah, dan memohon kepada Allah agar diberi hati yang khusyuk. Ibadah adalah proses seumur hidup untuk menjadi hamba yang lebih baik. Ibadah bukanlah sekadar rangkaian gerakan yang diulang setiap hari. Ibadah adalah perjalanan hati menuju Allah SWT. Ketika dilakukan dengan ikhlas, penuh kesadaran, dan disertai kepedulian kepada sesama, ibadah akan menghadirkan ketenangan, memperbaiki akhlak, serta menjadi cahaya dalam kehidupan. Maka, mari kita tidak hanya memperbanyak ibadah, tetapi juga memperbaiki kualitasnya. Semoga setiap sujud, doa, sedekah, dan amal kebaikan yang kita lakukan menjadi bekal terbaik untuk meraih ridha Allah SWT dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Satu Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Beribadah
Satu Pertanyaan yang Perlu Dijawab Sebelum Beribadah
Sudahkah Ibadah Kita Benar-Benar Karena Allah? Setiap hari, kita melaksanakan berbagai bentuk ibadah. Salat lima waktu, membaca Al-Qur'an, berzikir, berpuasa, bersedekah, hingga membantu sesama. Semua itu adalah amalan yang sangat mulia. Namun, sebelum melakukan semua ibadah tersebut, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita jawab dengan jujur: "Untuk siapa sebenarnya ibadah ini aku lakukan?" Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya menentukan apakah ibadah kita bernilai besar di sisi Allah atau justru tidak mendapatkan pahala sama sekali. Sebab, Allah tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi juga melihat niat yang ada di dalam hati. Pentingnya Niat dalam Setiap Amal Rasulullah mengajarkan bahwa setiap amal bergantung pada niatnya. Bahkan, niat menjadi pembeda antara ibadah yang diterima dan yang tertolak. Hadis tentang Niat Artinya: "Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."(HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi pengingat bahwa ibadah yang tampak sama di mata manusia bisa memiliki nilai yang sangat berbeda di sisi Allah. Ada orang yang salat karena ingin mendekat kepada Allah, ada pula yang salat karena ingin dipuji. Gerakannya mungkin sama, tetapi nilainya sangat berbeda. Hati-Hati dengan Riya Ketika Ibadah Berubah Menjadi Ajang Pujian Di era media sosial, godaan untuk mendapatkan pengakuan semakin besar. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar lebih memikirkan komentar, jumlah "like", atau pujian manusia daripada ridha Allah. Padahal, riya adalah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Ketika tujuan ibadah berubah dari mencari ridha Allah menjadi mencari perhatian manusia, maka pahala amal tersebut bisa hilang. Bukan berarti kita tidak boleh berbagi kebaikan. Islam justru menganjurkan saling menginspirasi dalam kebaikan. Namun, sebelum membagikan amal kita kepada orang lain, tanyakan kembali kepada hati: "Kalau tidak ada yang melihat, apakah aku tetap akan melakukannya?" Jika jawabannya "iya", insya Allah niat kita berada di jalan yang benar. Allah Melihat Hati, Bukan Sekadar Penampilan Sering kali kita sibuk memperbaiki penampilan luar saat beribadah, tetapi lupa membersihkan hati. Padahal, Allah lebih dahulu melihat hati sebelum melihat amal yang kita lakukan. Rasulullah bersabda: Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian."(HR. Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas hati menjadi salah satu penentu diterimanya amal. Hati yang ikhlas akan melahirkan ibadah yang penuh ketenangan dan keistiqamahan. Cara Menjaga Keikhlasan Keikhlasan memang tidak mudah dijaga, tetapi bukan berarti tidak bisa diusahakan. Beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan antara lain: Selalu memperbarui niat sebelum memulai ibadah. Tidak mengharapkan pujian atau pengakuan dari manusia. Memperbanyak doa agar diberikan hati yang ikhlas. Melakukan sebagian amal secara sembunyi-sembunyi yang hanya diketahui Allah. Semakin sering kita melatih keikhlasan, semakin ringan pula hati dalam beribadah. Jadikan Setiap Ibadah Lebih Bermakna Mulai hari ini, biasakan bertanya kepada diri sendiri sebelum melakukan ibadah: "Apakah aku melakukan ini demi ridha Allah atau demi penilaian manusia?" Pertanyaan sederhana ini akan membantu kita meluruskan niat dan menjaga hati agar tetap bersih. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ikhlas, meskipun terlihat kecil, bisa menjadi amal yang sangat besar di sisi Allah. Sebaliknya, ibadah yang tampak megah tetapi dipenuhi riya bisa kehilangan nilainya. Mari jadikan setiap salat, sedekah, tilawah, doa, dan setiap kebaikan sebagai persembahan terbaik hanya untuk Allah SWT. Semoga setiap langkah ibadah kita diterima, diampuni kekurangannya, dan menjadi bekal terbaik menuju kehidupan akhirat yang penuh rahmat. Aamiin. Kita sering bertanya, "Ibadah apa yang paling utama?" Namun, ada satu pertanyaan yang mungkin lebih penting untuk kita jawab: "Apakah ibadah kita sudah membawa manfaat bagi orang lain?" Shalat mengajarkan kepedulian, puasa melatih empati, dan zakat menjadi bukti bahwa keimanan tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Jangan Hanya Salat Wajib, Lengkapi Ibadahmu dengan Sholat Sunnah
Jangan Hanya Salat Wajib, Lengkapi Ibadahmu dengan Sholat Sunnah
Salat merupakan tiang agama dan ibadah yang paling utama setelah dua kalimat syahadat. Setiap Muslim diwajibkan melaksanakan salat lima waktu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Namun, tahukah kita bahwa salat wajib saja belum tentu sempurna? Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang salat yang kita kerjakan masih memiliki kekurangan, baik dari segi kekhusyukan, bacaan, maupun gerakan. Di sinilah pentingnya salat sunnah. Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk menyempurnakan kekurangan dalam salat wajib melalui berbagai salat sunnah. Selain menjadi pelengkap, salat sunnah juga merupakan amalan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan membuka pintu-pintu keberkahan dalam hidup. Mengapa Salat Sunnah Sangat Dianjurkan? Salat sunnah bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi merupakan bentuk kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT. Orang yang terbiasa melaksanakan salat sunnah menunjukkan bahwa ia tidak hanya menjalankan kewajiban, tetapi juga berusaha meraih keridaan Allah dengan ibadah yang lebih banyak. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Jika salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah berfirman kepada para malaikat: 'Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki salat sunnah? Maka salat sunnah itu digunakan untuk menyempurnakan kekurangan salat wajibnya.'" (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah) Hadis ini menjadi pengingat bahwa salat sunnah memiliki peran yang sangat besar dalam menyempurnakan ibadah kita. Keutamaan Melaksanakan Salat Sunnah Allah SWT menjanjikan banyak keutamaan bagi orang yang menjaga salat sunnah secara istiqamah. 1. Menyempurnakan Kekurangan Salat Wajib Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna dalam beribadah. Kadang kita kurang khusyuk, terburu-buru, atau lalai saat salat. Salat sunnah menjadi penyempurna atas kekurangan tersebut sehingga amal salat kita menjadi lebih sempurna di sisi Allah. 2. Mendekatkan Diri kepada Allah Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya." (HR. Bukhari) Ketika Allah telah mencintai seorang hamba, maka hidupnya akan dipenuhi pertolongan, keberkahan, dan kemudahan. 3. Mendapatkan Rumah di Surga Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang mengerjakan dua belas rakaat salat sunnah dalam sehari semalam, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim) Dua belas rakaat tersebut merupakan salat sunnah rawatib yang mengiringi salat wajib. Jenis-Jenis Salat Sunnah yang Dianjurkan Islam memberikan banyak pilihan salat sunnah yang dapat diamalkan sesuai kemampuan masing-masing. Salat Sunnah Rawatib Salat Tahajud Salat Dhuha Salat Witir Salat Taubat Salat Istikharah Cara Memulai Kebiasaan Salat Sunnah Banyak orang merasa berat untuk membiasakan salat sunnah. Padahal, kebiasaan baik dapat dimulai dari langkah yang sederhana. Mulailah dari yang Ringan Tidak perlu langsung mengerjakan semua salat sunnah. Cobalah memulai dengan dua rakaat sebelum Subuh atau salat Dhuha dua rakaat. Setelah terbiasa, tambahkan amalan lainnya secara bertahap. Jadikan Bagian dari Rutinitas Hubungkan salat sunnah dengan aktivitas harian. Misalnya, salat Dhuha setelah memulai pekerjaan atau salat Tahajud sebelum sahur jika terbiasa bangun malam. Fokus pada Keikhlasan Jangan menjadikan salat sunnah sebagai ajang untuk dipuji. Laksanakan dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT. Istiqamah Lebih Baik daripada Banyak tetapi Terputus Rasulullah menyukai amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun jumlahnya sedikit. Oleh karena itu, pilih salat sunnah yang mampu dijaga secara konsisten. Jangan Lewatkan Kesempatan Menambah Pahala Salat sunnah merupakan ladang pahala yang sangat luas. Setiap rakaat yang dikerjakan dengan ikhlas menjadi bukti cinta kepada Allah SWT. Selain memperbaiki kualitas ibadah, salat sunnah juga menenangkan hati, menghapus dosa, mengangkat derajat, serta menjadi bekal berharga di akhirat. Kesibukan dunia sering kali membuat seseorang merasa cukup dengan salat wajib. Padahal, meluangkan beberapa menit untuk salat sunnah dapat membawa perubahan besar dalam kehidupan. Hati menjadi lebih tenang, doa lebih sering dipanjatkan, dan hubungan dengan Allah semakin erat. Salat wajib adalah fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim, tetapi salat sunnah menjadi pelengkap yang menyempurnakan ibadah tersebut. Melalui salat sunnah, kita memiliki kesempatan untuk memperbaiki kekurangan salat wajib, mendekatkan diri kepada Allah SWT, serta meraih pahala dan kemuliaan yang besar. Jangan menunggu sampai memiliki waktu luang atau merasa sudah menjadi pribadi yang sempurna. Mulailah dari dua rakaat yang ringan, lakukan dengan penuh keikhlasan, lalu istiqamahlah. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang menjaga salat wajib dan menghiasi kehidupan dengan salat sunnah sebagai bentuk cinta kepada-Nya. Aamiin.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Inilah yang Terjadi Ketika Kepedulian Bertemu dengan Amanah
Inilah yang Terjadi Ketika Kepedulian Bertemu dengan Amanah
Di setiap sudut kehidupan, selalu ada dua hal yang berjalan berdampingan. Di satu sisi ada orang-orang yang ingin berbagi dan membantu sesama. Di sisi lain, ada mereka yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Sayangnya, niat baik saja belum tentu cukup. Kebaikan akan memberikan dampak yang jauh lebih besar ketika kepedulian bertemu dengan amanah. Banyak orang ingin bersedekah, berinfak, atau menunaikan zakat. Namun, tidak sedikit yang bertanya, "Apakah bantuan saya benar-benar sampai kepada yang membutuhkan?" Pertanyaan ini sangat wajar. Sebab, setiap harta yang kita keluarkan adalah titipan Allah yang harus disalurkan dengan penuh tanggung jawab. Di sinilah pentingnya amanah. Ketika kepedulian masyarakat dipadukan dengan pengelolaan yang profesional, transparan, dan tepat sasaran, lahirlah manfaat yang bukan hanya dirasakan oleh satu orang, tetapi oleh banyak keluarga sekaligus. Kepedulian Adalah Awal dari Perubahan Setiap perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil. Begitu pula dengan kepedulian. Sebungkus sembako, bantuan pendidikan, biaya pengobatan, hingga modal usaha mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi penerimanya, bantuan tersebut bisa menjadi awal kehidupan yang lebih baik. Islam mengajarkan bahwa sekecil apa pun kebaikan tidak akan pernah sia-sia. Allah SWT berfirman: "Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7) Ayat ini mengingatkan kita bahwa setiap bentuk kepedulian memiliki nilai di sisi Allah. Tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Justru kebiasaan memberi di saat lapang maupun sempit menjadi salah satu ciri orang yang bertakwa. Mengapa Amanah Sangat Penting dalam Berbagi? Memberi adalah ibadah. Namun, memastikan bantuan sampai kepada orang yang benar-benar membutuhkan juga merupakan bagian dari ibadah. Bayangkan jika ribuan orang memiliki kepedulian yang sama, lalu seluruh bantuan tersebut dikelola secara amanah. Dana zakat, infak, dan sedekah dapat diwujudkan menjadi berbagai program yang bermanfaat, seperti: Bantuan untuk keluarga dhuafa. Beasiswa bagi anak-anak kurang mampu. Layanan kesehatan gratis. Modal usaha untuk pelaku UMKM. Bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana. Renovasi rumah tidak layak huni. Program dakwah dan pembinaan umat. Inilah bukti bahwa amanah mampu mengubah kepedulian menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Amanah Membuat Kebaikan Menjadi Lebih Luas Mungkin kita hanya mampu membantu satu orang secara langsung. Namun, ketika mempercayakan zakat, infak, dan sedekah kepada lembaga yang amanah, manfaatnya bisa menjangkau ratusan bahkan ribuan penerima manfaat. Setiap rupiah yang disalurkan menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendidikan, memperkuat ekonomi umat, hingga menghadirkan harapan baru bagi mereka yang sedang diuji kehidupan. Inilah indahnya kolaborasi antara masyarakat yang peduli dan lembaga yang amanah. Rasulullah SAW Mengajarkan Pentingnya Amanah Amanah merupakan salah satu akhlak utama yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda: "Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Hadis ini menjadi pengingat bahwa amanah bukan sekadar tanggung jawab kepada manusia, tetapi juga kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap pengelolaan zakat, infak, dan sedekah harus dilakukan secara profesional, transparan, dan sesuai syariat agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga. Berbagi Bukan Hanya Mengubah Hidup Penerima Banyak orang mengira sedekah hanya bermanfaat bagi penerimanya. Padahal, yang pertama kali merasakan manfaatnya justru orang yang memberi. Hati Menjadi Lebih Tenang Saat membantu sesama, hati terasa lebih lapang karena kita menyadari bahwa sebagian rezeki yang Allah titipkan memiliki hak orang lain di dalamnya. Rezeki Semakin Berkah Keberkahan bukan selalu tentang jumlah harta, tetapi tentang rasa cukup, kesehatan, keluarga yang harmonis, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Menumbuhkan Kepedulian Sosial Semakin sering berbagi, semakin tumbuh rasa empati kepada sesama. Masyarakat pun menjadi lebih kuat karena saling membantu, bukan saling mengabaikan. Saat Kepedulian dan Amanah Bersatu, Harapan Pun Tumbuh Bayangkan jika semakin banyak masyarakat yang percaya untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui lembaga yang amanah. Akan semakin banyak anak yang bisa kembali bersekolah, keluarga yang memperoleh bantuan pangan, pelaku usaha kecil yang bangkit, hingga pasien yang mendapatkan layanan kesehatan. Kepedulian melahirkan harapan. Amanah menjaga agar harapan itu benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan. Inilah yang terjadi ketika kepedulian bertemu dengan amanah: kebaikan tidak berhenti sebagai niat, tetapi berubah menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Mari jadikan setiap zakat, infak, dan sedekah sebagai investasi kebaikan yang terus mengalir. Ketika kita berbagi melalui lembaga yang amanah, insya Allah setiap titipan yang kita keluarkan akan menjadi jalan hadirnya keberkahan, menguatkan ukhuwah, dan menghadirkan senyum bagi mereka yang membutuhkan
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Orang Terbaik Adalah yang Paling Bermanfaat bagi Sesama Masyarakat
Orang Terbaik Adalah yang Paling Bermanfaat bagi Sesama Masyarakat
Hidup Bukan Hanya Tentang Diri Sendiri Pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya ukuran seseorang disebut sebagai orang terbaik? Apakah karena hartanya yang melimpah, jabatannya yang tinggi, atau popularitasnya di media sosial? Dalam Islam, ukuran kemuliaan seseorang ternyata bukan hanya dilihat dari apa yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain. Semakin banyak manfaat yang kita tebarkan, semakin besar pula nilai kita di hadapan Allah SWT. Bayangkan jika setiap orang berlomba-lomba menolong tetangganya, membantu anak yatim, meringankan beban fakir miskin, atau sekadar memberikan senyuman yang tulus. Tentu masyarakat akan menjadi tempat yang lebih hangat, damai, dan penuh kasih sayang. Rasulullah SAW Mengajarkan Menjadi Manusia yang Bermanfaat Rasulullah SAW bersabda: Khairun n?si anfa'uhum linn?s. "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama) Hadis yang singkat ini mengandung pesan yang sangat dalam. Menjadi manusia terbaik ternyata tidak selalu harus melakukan hal-hal yang besar. Justru manfaat kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi amal yang sangat dicintai Allah SWT. Manfaat Tidak Selalu Berupa Uang Banyak orang mengira bahwa membantu sesama hanya bisa dilakukan oleh mereka yang kaya. Padahal, Islam mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat baik. Hal-Hal Sederhana yang Bernilai Besar Kita bisa menjadi pribadi yang bermanfaat dengan cara: Memberikan senyuman kepada orang lain. Menolong tetangga yang sedang kesulitan. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat. Menjadi pendengar yang baik. Mendoakan saudara kita tanpa sepengetahuannya. Membantu orang tua. Menjaga lingkungan tetap bersih. Memberikan semangat kepada mereka yang sedang berjuang. Semua itu mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup. Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2) Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan akan menjadi lebih indah ketika setiap orang saling membantu dalam kebaikan. Sedekah Adalah Salah Satu Bentuk Manfaat Terbaik Di antara cara paling nyata untuk memberi manfaat kepada masyarakat adalah melalui sedekah, infak, dan zakat. Mengapa Sedekah Begitu Istimewa? Saat kita bersedekah, bukan hanya kebutuhan orang lain yang terpenuhi. Sedekah juga mampu: Membersihkan harta. Menenangkan hati. Membuka pintu rezeki. Menghapus dosa. Menumbuhkan rasa syukur. Mempererat persaudaraan. Tidak sedikit orang yang merasakan bahwa setelah rutin berbagi, hidupnya terasa lebih lapang dan penuh keberkahan. Rasulullah SAW bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim) Ini adalah janji Rasulullah SAW yang memberikan keyakinan bahwa setiap kebaikan yang kita keluarkan tidak akan membuat kita miskin. Sebaliknya, Allah akan menggantinya dengan keberkahan yang mungkin tidak selalu berupa materi. Masyarakat yang Gemar Berbagi Akan Menjadi Lebih Kuat Kebaikan Menular kepada Banyak Orang Satu tindakan baik bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Misalnya, ketika seseorang membantu keluarga yang sedang kesulitan, orang lain yang melihatnya bisa terdorong untuk ikut membantu. Dari satu kebaikan lahirlah banyak kebaikan lainnya. Inilah mengapa Islam sangat mendorong budaya saling peduli. Sebab, masyarakat yang kuat bukan hanya dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi oleh hati-hati yang saling memperhatikan. Jadilah Bagian dari Solusi Hari ini mungkin kita belum mampu membangun sekolah atau rumah sakit. Namun, kita bisa memulai dari hal-hal kecil: Menyisihkan sebagian rezeki untuk yang membutuhkan. Mendukung pendidikan anak-anak kurang mampu. Membantu biaya kesehatan masyarakat dhuafa. Berkontribusi dalam program kemanusiaan. Menguatkan ekonomi keluarga yang sedang berjuang. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang menerimanya. Menjadi orang terbaik ternyata bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berpengaruh. Dalam pandangan Islam, orang terbaik adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi sesama. Mari jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk berbagi, menolong, dan menghadirkan harapan bagi orang lain. Tidak perlu menunggu memiliki segalanya untuk mulai berbuat baik. Justru dari langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, Allah SWT dapat menghadirkan perubahan besar. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang ringan tangan dalam membantu sesama, sehingga keberadaan kita selalu membawa manfaat, keberkahan, dan kebahagiaan bagi masyarakat di sekitar kita. Jadilah Pribadi yang Bermanfaat bagi Sesama Masyarakat Hidup yang paling bermakna bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Senyuman anak yatim, harapan keluarga dhuafa, hingga kebahagiaan mereka yang terbantu bisa menjadi amal yang terus mengalir pahalanya.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Bukan Soal Kaya atau Miskin, Tapi Soal Hati yang Pandai Bersyukur
Bukan Soal Kaya atau Miskin, Tapi Soal Hati yang Pandai Bersyukur
Kaya Bukan Jaminan Bahagia, Miskin Bukan Berarti Sengsara Pernahkah kita melihat seseorang yang hidupnya sederhana tetapi wajahnya selalu tampak tenang? Sebaliknya, ada juga orang yang memiliki harta melimpah, namun hidupnya dipenuhi kegelisahan. Dari sini kita belajar bahwa kebahagiaan ternyata bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki, melainkan oleh hati yang pandai bersyukur. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Melihat tetangga membeli rumah baru, teman berganti mobil, atau media sosial yang dipenuhi gaya hidup mewah, tanpa sadar kita merasa apa yang dimiliki saat ini belum cukup. Padahal, rasa cukup bukan berasal dari isi dompet, tetapi dari isi hati. Islam mengajarkan bahwa bersyukur adalah salah satu kunci hidup yang penuh keberkahan. Orang yang bersyukur akan lebih mudah merasakan nikmat Allah, sekecil apa pun itu. Apa Arti Bersyukur yang Sebenarnya? Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah setelah mendapatkan rezeki. Bersyukur adalah mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, kemudian menggunakan nikmat tersebut untuk hal-hal yang baik. Allah SWT berfirman: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'" (QS. Ibrahim: 7) Ayat ini memberikan kabar gembira bahwa rasa syukur bukan hanya membuat hati lebih tenang, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya nikmat dari Allah SWT. Tanda Orang yang Pandai Bersyukur Orang yang pandai bersyukur biasanya memiliki beberapa sikap berikut: Tidak mudah iri terhadap rezeki orang lain. Tetap berusaha tanpa banyak mengeluh. Senang berbagi meskipun tidak berlebihan. Selalu melihat sisi baik dalam setiap keadaan. Menjadikan nikmat sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah. Rasulullah SAW Mengajarkan Hidup dengan Rasa Syukur Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam bersyukur. Padahal beliau adalah manusia yang paling mulia, namun kehidupannya sangat sederhana. Bahkan beliau tetap memperbanyak ibadah hingga kedua kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau tetap beribadah sedemikian banyak padahal dosanya telah diampuni, Rasulullah SAW menjawab: "Tidakkah aku ingin menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini mengajarkan bahwa rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui ketaatan, ibadah, dan amal saleh. Kaya Hati Lebih Berharga daripada Kaya Harta Rasulullah SAW juga bersabda: "Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya hati." (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah pesan yang sangat relevan di zaman sekarang. Banyak orang mengejar kekayaan materi tanpa pernah merasa cukup. Akibatnya, hati terus merasa kurang. Sebaliknya, orang yang kaya hati akan tetap bersyukur, baik ketika memiliki banyak maupun sedikit. Bersyukur Membuka Pintu Kebaikan Bersyukur Membuat Hati Lebih Tenang Orang yang bersyukur tidak mudah stres karena ia lebih fokus pada nikmat yang dimiliki daripada kekurangan yang belum dimiliki. Bersyukur Mendorong Kita Gemar Berbagi Seseorang yang sadar bahwa hartanya hanyalah titipan Allah akan lebih ringan mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah. Ia memahami bahwa sebagian rezekinya adalah hak saudara-saudara yang membutuhkan. Bahkan, sering kali kebahagiaan terbesar bukan datang saat menerima, tetapi ketika mampu memberi manfaat kepada orang lain. Bersyukur Menumbuhkan Kepedulian Rasa syukur membuat kita lebih peka terhadap kondisi masyarakat di sekitar. Masih banyak saudara kita yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, membiayai pendidikan anak, memperoleh layanan kesehatan, hingga memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Di sinilah kepedulian kita sangat dibutuhkan. Setiap rupiah yang disalurkan melalui zakat, infak, dan sedekah dapat menjadi harapan baru bagi mereka yang sedang berjuang. Jadikan Rasa Syukur sebagai Jalan Berbagi Bersyukur bukan hanya menikmati nikmat yang Allah berikan, tetapi juga menjadikan nikmat itu bermanfaat bagi orang lain. Ketika kita berbagi, sejatinya kita sedang mensyukuri rezeki yang telah Allah titipkan. Tidak perlu menunggu menjadi kaya raya untuk membantu sesama. Justru, kebiasaan berbagi sejak sekarang adalah salah satu bentuk syukur yang paling nyata. Mari jadikan setiap nikmat sebagai jalan untuk memperbanyak amal kebaikan. Tunaikan zakat, sisihkan infak, dan perbanyak sedekah agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya. Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang pandai bersyukur, memiliki hati yang lapang, serta dimudahkan untuk terus berbagi kepada sesama. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukan diukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi dari seberapa besar rasa syukur yang tumbuh di dalam hati. Rasa syukur tidak selalu diukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi dari seberapa ikhlas kita berbagi. Zakat, infak, dan sedekah adalah wujud nyata rasa syukur atas setiap nikmat yang Allah titipkan kepada kita.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Pernah Berbuat Dosa? Sholat Taubat Bisa Menjadi Awal Perubahanmu
Pernah Berbuat Dosa? Sholat Taubat Bisa Menjadi Awal Perubahanmu
Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Setiap orang pernah melakukan dosa, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Ada yang merasa menyesal, tetapi bingung harus memulai dari mana untuk memperbaiki diri. Ada pula yang merasa dosanya terlalu besar sehingga menganggap dirinya sudah tidak pantas mendapatkan ampunan Allah SWT. Padahal, Islam mengajarkan bahwa pintu taubat selalu terbuka selama seseorang masih hidup dan matahari belum terbit dari arah barat. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan sebagai bentuk penyesalan dan permohonan ampun kepada Allah adalah Sholat Taubat. Ibadah ini bukan hanya menjadi sarana memohon ampunan, tetapi juga menjadi langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik. Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah Sebesar apa pun dosa yang pernah dilakukan, rahmat Allah selalu lebih luas. Allah SWT berfirman: Artinya: "Katakanlah (Muhammad), 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53) Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni selama seseorang benar-benar bertaubat dengan tulus. Apa Itu Sholat Taubat? Sholat Taubat adalah sholat sunnah yang dilakukan sebagai bentuk penyesalan atas dosa yang telah diperbuat, disertai tekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Ibadah ini menjadi salah satu cara seorang muslim mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memohon agar segala kesalahan diampuni. Sholat Taubat dapat dilakukan kapan saja selain pada waktu-waktu yang dilarang untuk melaksanakan sholat. Namun, waktu terbaik adalah pada sepertiga malam terakhir ketika suasana lebih tenang dan hati lebih mudah khusyuk. Mengapa Sholat Taubat Sangat Dianjurkan? Sholat Taubat bukan sekadar ritual, tetapi merupakan bentuk pengakuan seorang hamba bahwa dirinya membutuhkan pertolongan Allah. Ketika seseorang bersujud dengan penuh penyesalan, hatinya menjadi lebih lembut dan lebih siap menerima hidayah. Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, kemudian ia bersuci dengan baik, lalu mengerjakan sholat dua rakaat dan memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad) Hadis ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang mau kembali kepada-Nya. Tata Cara Sholat Taubat Sholat Taubat dilakukan sebanyak dua rakaat sebagaimana sholat sunnah pada umumnya. Niat Sholat Taubat Ushallii sunnatat-taubati rak'ataini lillaahi ta'aalaa. Artinya: "Saya niat sholat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta'ala." Langkah-Langkah Pelaksanaannya Berwudhu dengan sempurna. Berniat dalam hati. Melaksanakan sholat dua rakaat. Membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya. Menyempurnakan rukun-rukun sholat dengan khusyuk. Setelah salam, memperbanyak istighfar, doa, dan memohon ampun kepada Allah. Perbanyak Istighfar Setelah Sholat Salah satu doa yang dapat dibaca adalah: Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertaubat kepada-Nya." Tanda Taubat yang Diterima Allah Setelah melaksanakan Sholat Taubat, seseorang hendaknya tidak kembali kepada kebiasaan buruk yang sama. Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang benar memiliki beberapa tanda. 1. Menyesali Dosa dengan Tulus Penyesalan adalah inti dari taubat. Semakin besar penyesalan seseorang, semakin besar pula keinginannya untuk berubah. 2. Berhenti Melakukan Maksiat Taubat tidak cukup hanya dengan ucapan. Harus ada perubahan nyata dalam perilaku sehari-hari. 3. Bertekad Tidak Mengulanginya Tidak ada manusia yang sempurna, tetapi seorang yang bertaubat harus memiliki komitmen kuat untuk meninggalkan dosa tersebut. 4. Memperbanyak Amal Saleh Allah SWT berfirman: "Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh." (QS. Al-Furqan: 70) Ayat ini menunjukkan bahwa taubat sebaiknya diiringi dengan amal saleh sebagai bukti kesungguhan. Sholat Taubat Adalah Awal, Bukan Akhir Banyak orang mengira bahwa setelah Sholat Taubat semua masalah selesai. Padahal, Sholat Taubat adalah awal perjalanan menuju pribadi yang lebih baik. Mulailah memperbaiki sholat wajib, memperbanyak membaca Al-Qur'an, menjaga lisan, memilih lingkungan yang baik, serta memperbanyak sedekah dan amal kebajikan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Jangan biarkan masa lalu menghalangi masa depanmu. Allah tidak melihat seberapa kelam masa lalumu, tetapi melihat kesungguhanmu untuk kembali kepada-Nya. Setiap manusia pernah berbuat dosa. Namun, yang membedakan adalah bagaimana ia menyikapinya. Ada yang terus tenggelam dalam penyesalan, ada pula yang bangkit dan kembali kepada Allah dengan penuh harapan. Sholat Taubat adalah salah satu ibadah yang dapat menjadi titik balik kehidupan. Dengan hati yang tulus, penyesalan yang mendalam, serta tekad untuk berubah, seorang hamba dapat merasakan ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah SWT. Ingatlah, pintu ampunan Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali. Maka, jika hari ini kamu merasa pernah berbuat dosa, jangan tunda lagi. Ambillah air wudhu, dirikan Sholat Taubat, dan jadikan hari ini sebagai awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik, penuh keberkahan, dan diridhai Allah SWT. Setiap manusia pasti pernah berbuat salah dan dosa. Namun, sebesar apa pun dosa yang pernah kita lakukan, pintu taubat Allah SWT selalu terbuka bagi hamba-Nya yang sungguh-sungguh ingin kembali. Salah satu ikhtiar terbaik untuk memohon ampunan-Nya adalah dengan melaksanakan sholat taubat.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Jangan Sampai Terlewat! Ada Satu Sujud yang Sering Dilupakan Umat Islam
Jangan Sampai Terlewat! Ada Satu Sujud yang Sering Dilupakan Umat Islam
Sujud yang Sering Terlupakan, Padahal Pahalanya Sangat Besar Dalam kehidupan yang serba cepat, kita sering fokus pada ibadah-ibadah utama seperti salat lima waktu, puasa, atau membaca Al-Qur'an. Namun, tanpa disadari ada satu amalan yang sering terlewat oleh banyak umat Islam, yaitu sujud syukur. Padahal, sujud syukur adalah bentuk rasa terima kasih seorang hamba kepada Allah SWT ketika mendapatkan nikmat, kabar gembira, atau terhindar dari musibah. Sayangnya, tidak sedikit orang yang langsung merayakan keberhasilannya di media sosial, menghubungi teman, atau sekadar mengucapkan "Alhamdulillah", tetapi lupa bersujud kepada Sang Pemberi Nikmat. Padahal, sujud syukur hanya membutuhkan waktu beberapa saat, tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Ia menjadi bukti bahwa hati kita benar-benar menyadari bahwa semua keberhasilan berasal dari Allah SWT. Apa Itu Sujud Syukur? Ungkapan Syukur yang Dicontohkan Rasulullah SAW Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan ketika seseorang memperoleh nikmat besar atau terhindar dari sesuatu yang membahayakan. Amalan ini merupakan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Artinya: "Apabila Rasulullah mendapatkan sesuatu yang menggembirakan atau diberi kabar yang membuat beliau senang, maka beliau segera bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta'ala." (HR. Abu Dawud No. 2774, Ibnu Majah No. 1394, dinilai hasan oleh sebagian ulama.) Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak hanya mengucapkan syukur dengan lisan, tetapi juga mengekspresikannya melalui sujud kepada Allah. Mengapa Sujud Syukur Sering Terlupakan? Terlalu Sibuk Merayakan, Lupa Bersyukur Di era digital, ketika mendapatkan rezeki, lulus ujian, memperoleh pekerjaan, sembuh dari sakit, atau berhasil mencapai impian, banyak orang lebih dulu membuka kamera atau media sosial. Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan. Namun, akan jauh lebih indah jika kebahagiaan itu diawali dengan bersujud kepada Allah SWT. Sujud syukur mengingatkan kita bahwa: Kesuksesan bukan semata hasil usaha. Rezeki bukan hanya karena kepintaran. Keselamatan bukan karena keberuntungan. Semuanya adalah karunia Allah SWT. Keutamaan Sujud Syukur Mendekatkan Diri kepada Allah Semakin sering kita bersyukur, semakin dekat pula hubungan kita dengan Allah. Hati menjadi lebih tenang, tidak mudah sombong, dan selalu merasa cukup. Allah SWT berfirman: Artinya: "Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.'" (QS. Ibrahim: 7) Ayat ini menjadi pengingat bahwa rasa syukur bukan hanya bentuk ibadah, tetapi juga sebab bertambahnya nikmat. Menjaga Hati dari Sifat Sombong Ketika seseorang selalu mengingat Allah setiap memperoleh keberhasilan, ia akan menyadari bahwa semua pencapaiannya merupakan anugerah, bukan semata hasil kemampuannya. Inilah yang membuat sujud syukur menjadi benteng dari sifat ujub dan takabur. Kapan Sebaiknya Melakukan Sujud Syukur? Tidak harus menunggu mendapatkan rezeki yang sangat besar. Sujud syukur dapat dilakukan ketika: Dinyatakan lulus sekolah atau kuliah. Mendapat pekerjaan baru. Usaha berkembang. Terhindar dari kecelakaan. Sembuh dari penyakit. Memperoleh kabar baik. Hutang terlunasi. Memiliki keluarga yang sehat. Mendapat kesempatan untuk terus beribadah. Semua nikmat itu layak disambut dengan sujud kepada Allah SWT. Jadikan Sujud Syukur Sebagai Kebiasaan Jangan Hanya Mengingat Allah Saat Susah Banyak orang rajin berdoa ketika menghadapi kesulitan. Namun ketika doa dikabulkan, rasa syukur sering kali hanya berhenti di ucapan. Mulai hari ini, biasakan meluangkan beberapa detik untuk bersujud setiap kali Allah memberikan nikmat. Amalan sederhana ini dapat menjadi bukti bahwa kita benar-benar mengakui kebesaran-Nya. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, sehingga Allah terus melimpahkan keberkahan dalam setiap langkah kehidupan kita. Artinya: "Ya Allah, bantulah kami untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."(HR. Abu Dawud No. 1522 dan An-Nasa'i No. 1303) Semoga setelah membaca artikel ini, kita tidak lagi melewatkan sujud syukur setiap kali Allah SWT melimpahkan nikmat kepada kita. Karena terkadang, satu sujud yang dilakukan dengan penuh keikhlasan lebih bermakna daripada panjangnya ungkapan syukur yang hanya diucapkan di lisan.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Kesalahan Kecil dalam Ibadah yang Sering Dianggap Sepele
Kesalahan Kecil dalam Ibadah yang Sering Dianggap Sepele
Ibadah merupakan bentuk penghambaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Setiap amalan yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah SAW akan menjadi sebab datangnya pahala dan keridaan Allah. Namun, tanpa disadari, ada beberapa kesalahan kecil dalam beribadah yang sering dianggap sepele. Meskipun terlihat sederhana, jika terus dilakukan, kesalahan tersebut dapat mengurangi kesempurnaan ibadah, bahkan berpotensi menghilangkan pahala apabila dilakukan dengan sengaja. Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5) Ayat ini mengingatkan bahwa ibadah bukan hanya tentang melakukan suatu amalan, tetapi juga tentang keikhlasan dan kesesuaian dengan syariat. Mengapa Kesalahan Kecil dalam Ibadah Perlu Dihindari? Banyak orang menganggap bahwa selama mereka sudah salat, berpuasa, atau bersedekah, maka ibadahnya pasti diterima. Padahal, diterima atau tidaknya ibadah bergantung pada dua syarat utama, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ?. Rasulullah bersabda: "Barang siapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak." (HR. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menjadi pengingat agar setiap ibadah dilakukan sesuai ajaran Islam, bukan sekadar berdasarkan kebiasaan atau anggapan pribadi. Kesalahan Kecil dalam Ibadah yang Sering Dianggap Sepele 1. Tidak Menghadirkan Kekhusyukan dalam Salat Salat memang sah apabila rukun dan syaratnya terpenuhi. Namun, banyak orang melaksanakan salat dengan pikiran yang melayang ke mana-mana. Akibatnya, salat hanya menjadi rutinitas tanpa menghadirkan kedekatan kepada Allah. Cara Menghindarinya Memahami bacaan salat. Menjauhkan gangguan seperti ponsel. Mengingat bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah SWT. 2. Menunda Waktu Salat Tanpa Alasan Sebagian orang terbiasa menunda salat hingga mendekati habis waktu, padahal tidak ada uzur syar'i. Kebiasaan ini sering dianggap biasa, padahal Allah mencintai hamba yang bersegera dalam kebaikan. Cara Menghindarinya Segera salat ketika azan berkumandang. Susun aktivitas agar tidak mengganggu waktu salat. Gunakan pengingat waktu salat. 3. Beribadah karena Ingin Dipuji Riya merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Terkadang seseorang memperindah ibadahnya karena ingin mendapatkan pujian manusia. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya." (HR. Ahmad) Cara Menghindarinya Selalu memperbarui niat. Memperbanyak ibadah secara sembunyi-sembunyi. Mengingat bahwa hanya Allah yang berhak memberi balasan. 4. Terburu-buru dalam Salat Masih banyak orang yang rukuk dan sujud terlalu cepat sehingga tidak memberikan waktu tuma'ninah. Padahal Rasulullah pernah memerintahkan seseorang mengulangi salatnya karena belum melakukannya dengan benar. Cara Menghindarinya Tenang saat rukuk dan sujud. Tidak mengejar kecepatan. Menghayati setiap gerakan salat. 5. Mengabaikan Doa Setelah Ibadah Selesai salat atau membaca Al-Qur'an, sebagian orang langsung beranjak tanpa berzikir atau berdoa. Padahal doa setelah ibadah termasuk waktu yang sangat baik untuk memohon kepada Allah SWT. Cara Menghindarinya Biasakan membaca zikir pagi-petang, istigfar, tasbih, tahmid, takbir, dan doa sesuai tuntunan Rasulullah ?. Cara Menjaga Kualitas Ibadah Menjaga kualitas ibadah tidak hanya dilakukan saat berada di masjid, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Belajar Ilmu Agama Semakin memahami ilmu fikih dan tuntunan Rasulullah SAW, semakin kecil kemungkinan melakukan kesalahan dalam ibadah. Muhasabah Setelah Beribadah Biasakan mengevaluasi diri setelah selesai beribadah. Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah ibadah tadi dilakukan dengan ikhlas? Apakah sudah sesuai sunnah? Apakah masih ada hal yang bisa diperbaiki? Memohon Agar Ibadah Diterima Para sahabat dan ulama terdahulu sangat khawatir apabila amal mereka tidak diterima. Allah SWT berfirman: "...Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma'idah: 27) Karena itu, jangan hanya fokus pada banyaknya amal, tetapi juga pada kualitasnya. Kesalahan kecil dalam ibadah sering kali tidak disadari karena sudah menjadi kebiasaan. Padahal, ibadah yang diterima bukan hanya yang banyak, melainkan yang dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah ?. Mulailah memperbaiki hal-hal kecil, seperti menjaga kekhusyukan salat, tidak menunda waktu salat, menghindari riya, melaksanakan setiap gerakan dengan tuma'ninah, dan memperbanyak doa setelah ibadah. Langkah-langkah sederhana ini dapat menjadi sebab semakin sempurnanya amal yang kita persembahkan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk memperbaiki ibadah, menerima setiap amal saleh yang kita lakukan, serta menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istiqamah hingga akhir hayat.
ARTIKEL22/07/2026 | BAZNAS
Saat Kebaikan Bertemu Amanah, Hadirlah BAZNAS
Saat Kebaikan Bertemu Amanah, Hadirlah BAZNAS
Kebaikan Akan Lebih Bermakna Jika Sampai kepada yang Membutuhkan Pernahkah kita ingin membantu sesama, tetapi bingung harus menyalurkannya ke mana? Di sisi lain, masih banyak saudara kita yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari biaya pendidikan, pengobatan, modal usaha, hingga kebutuhan pangan sehari-hari. Di sinilah pentingnya sebuah lembaga yang tidak hanya mengumpulkan dana zakat, infak, dan sedekah, tetapi juga mengelolanya secara amanah, profesional, dan tepat sasaran. Ketika niat baik masyarakat bertemu dengan pengelolaan yang dapat dipercaya, lahirlah manfaat yang jauh lebih besar. Saat kebaikan bertemu amanah, hadirlah BAZNAS. BAZNAS hadir sebagai jembatan antara para muzakki yang ingin berbagi dengan para mustahik yang membutuhkan uluran tangan. Melalui pengelolaan yang transparan dan sesuai syariat, setiap rupiah yang dititipkan menjadi harapan baru bagi banyak orang. Mengapa Amanah Itu Sangat Penting? Dalam Islam, amanah bukan sekadar tanggung jawab, tetapi merupakan perintah Allah yang harus dijaga. Harta yang kita titipkan untuk zakat, infak, dan sedekah adalah hak yang harus disalurkan kepada mereka yang berhak menerimanya. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58) Ayat ini mengingatkan bahwa amanah adalah fondasi dalam setiap bentuk pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, memilih lembaga yang terpercaya untuk menyalurkan zakat, infak, dan sedekah menjadi bagian dari ikhtiar agar ibadah kita terlaksana dengan baik. BAZNAS, Mengelola Amanah Menjadi Manfaat BAZNAS bukan hanya tempat membayar zakat. Lebih dari itu, BAZNAS mengelola dana umat agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program yang Menyentuh Kehidupan Dana yang dihimpun dari masyarakat disalurkan melalui berbagai program, antara lain: Bantuan pendidikan bagi pelajar dan mahasiswa. Bantuan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Bantuan ekonomi produktif untuk pelaku usaha kecil. Bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana. Bantuan dakwah dan keagamaan. Santunan bagi fakir miskin, yatim, dan dhuafa. Artinya, setiap sedekah yang Anda titipkan bukan sekadar berpindah tangan, tetapi berubah menjadi senyuman, harapan, dan kesempatan hidup yang lebih baik. Amanah yang Dipertanggungjawabkan Mengelola dana umat membutuhkan integritas yang tinggi. Karena itu, BAZNAS berkomitmen menjalankan pengelolaan zakat sesuai syariat, prinsip profesionalitas, transparansi, dan akuntabilitas. Dengan pengelolaan yang baik, masyarakat tidak hanya merasa tenang ketika berbagi, tetapi juga yakin bahwa amanah mereka benar-benar sampai kepada orang yang membutuhkan. Keutamaan Membantu Sesama Islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling membantu. Bahkan Rasulullah ? menjelaskan bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. Hadis Rasulullah "Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim No. 2699) Hadis ini menjadi motivasi bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia. Saat kita membantu orang lain keluar dari kesulitannya, sesungguhnya Allah sedang membuka pintu pertolongan untuk kita. Berbagi Itu Mudah, Dampaknya Luar Biasa Sering kali kita berpikir sedekah harus dalam jumlah besar. Padahal, yang Allah lihat bukan hanya nominalnya, tetapi keikhlasan hati kita. Sedikit demi sedikit, jika dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi kekuatan besar untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat. Satu orang berbagi mungkin membantu satu keluarga. Ribuan orang berbagi melalui BAZNAS dapat membantu ribuan penerima manfaat di berbagai bidang kehidupan. Inilah indahnya kebersamaan. Kebaikan yang dilakukan secara kolektif mampu menghadirkan perubahan yang tidak bisa dilakukan sendirian.
ARTIKEL21/07/2026 | BAZNAS
Zakat yang Tepat Sasaran, Pahala yang Terus Mengalir
Zakat yang Tepat Sasaran, Pahala yang Terus Mengalir
Pernahkah kita berpikir, ke mana zakat yang kita tunaikan akhirnya disalurkan? Pertanyaan ini penting, karena zakat bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan rukun Islam, tetapi juga amanah yang harus sampai kepada mereka yang benar-benar berhak menerimanya. Ketika zakat disalurkan secara tepat sasaran, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh mustahik (penerima zakat), tetapi juga menjadi sumber pahala yang terus mengalir bagi muzaki (pemberi zakat). Bahkan, zakat yang dikelola secara profesional mampu mengubah kehidupan seseorang dari penerima bantuan menjadi pribadi yang mandiri dan produktif. Mengapa Zakat Harus Tepat Sasaran? Allah SWT telah menjelaskan secara tegas siapa saja yang berhak menerima zakat dalam Al-Qur'an. "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."(QS. At-Taubah: 60) Ayat ini menjadi pedoman bahwa zakat tidak boleh diberikan secara sembarangan. Penyaluran harus mengikuti ketentuan syariat agar tujuan zakat benar-benar tercapai, yaitu membantu mereka yang membutuhkan sekaligus menciptakan keadilan sosial di tengah masyarakat. Melalui lembaga pengelola zakat yang amanah dan profesional, proses pendataan, verifikasi, hingga pendistribusian dilakukan secara lebih terukur sehingga zakat dapat diterima oleh orang yang benar-benar berhak. Ketika Zakat Mengubah Kehidupan Banyak orang menganggap zakat hanya sebatas memberikan bantuan sesaat. Padahal, jika dikelola dengan baik, zakat mampu menjadi solusi jangka panjang. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Zakat membantu keluarga kurang mampu memperoleh kebutuhan pokok, biaya pendidikan, layanan kesehatan, hingga bantuan kemanusiaan ketika terjadi musibah. Memberdayakan Masyarakat Selain bantuan konsumtif, dana zakat juga dapat digunakan untuk program pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, hingga pendampingan usaha kecil. Dengan cara ini, penerima zakat memiliki kesempatan untuk bangkit dan menjadi lebih mandiri. Inilah makna zakat yang tepat sasaran: bukan hanya mengurangi kesulitan hari ini, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Pahala yang Terus Mengalir Setiap harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan mengurangi kekayaan seseorang. Sebaliknya, Allah menjanjikan keberkahan dan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah bersabda: "Sedekah tidak akan mengurangi harta." (HR. Muslim No. 2588) Walaupun hadis ini berbicara tentang sedekah, para ulama menjelaskan bahwa zakat sebagai bentuk sedekah wajib tentu lebih utama lagi. Harta yang dikeluarkan karena Allah akan diganti dengan keberkahan, ketenangan hati, dan pahala yang besar. Allah Melipatgandakan Balasan Allah SWT berfirman: "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Baqarah: 261) Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan dengan niat ikhlas tidak pernah sia-sia. Allah mampu membalasnya berkali-kali lipat, baik dalam bentuk rezeki, kesehatan, ketenangan, maupun pahala di akhirat.
ARTIKEL21/07/2026 | BAZNAS
Info Rekening Zakat

Info Rekening Zakat

Tunaikan zakat Anda melalui rekening resmi BAZNAS Kota Sukabumi.

Lihat Daftar Rekening →